Menyoal Bunuh Diri di Kalangan Muda

Dari risetnya Benny Prawira Siauw, 34,5% mahasiswa di Jakarta yang berusia 18-24 tahun, ingin bunuh diri. Jumlah respondennya 284 orang. Disebutkan di artikel tirto.id di sini: skripsi, depresi, dan bunuh diri: everybody hurts 

Saya sudah beberapa bulan terakhir melihat fenomena ini. Kapan hari, teman desainer di kantor kami di Bandung, sempat ikut konseling psikolog gitu. Hanya ada lima orang. Tapi tiga di antaranya adalah mahasiswa.

Baru beberapa hari lalu, ada lagi mahasiswa Unpad suicide. Ternyata dalam 81 hari terakhir, ada tiga kejadian yang sama. Ini link beritanya di detik.

Menurut Benny, diwawancara oleh tirto, tren depresi di kalangan muda tidak hanya terjadi di Indonesia. Tapi memang telah terjadi di banyak negara. Contohnya Inggris, Amerika Serikat, Jepang dan Australia.

Setidaknya ada 95 mahasiswa di kampus Inggris yang memilih bunuh diri sepanjang 2016-2017. Di Jepang, ada 250 anak dan remaja yang tewas sepanjang rentang tahun yang sama.

Di Indonesia, sejak Mei 2016 sampai Desember 2018 saja, riset Tirto dari beragam pemberitaan online mencatat ada 20 kasus bunuh diri mahasiswa. Sebagian besar diduga karena tugas dan skripsi.

Dari infografisnya tirto, ada lima hal yang berkaitan dengan pemikiran suicidal. Salah satunya adalah masalah akademis.

Saya sudah lama enggak jadi mahasiswa. Jadi gak bisa merasakan langsung apa yang mereka alami. Tentu saya turut berempati.

Saya dulu juga bukan contoh mahasiswa yang baik. Diawali dengan ketidaksukaan dan ketidakcocokan dengan jurusan tersebut. Akibatnya, saya tidak berkembang di sana. Tapi saya kira, lebih mencari pelarian dengan organisasi mahasiswa saja. Yang kemudian menjadi penting, hanyalah asal lulus saja mata kuliahnya. Yang penting jadi sarjana.

Terus terang, saya gak mengejar nilai. IPK itu sesuatu yang “bisa diusahakan, tapi kadang juga gak bisa diapa-apakan lagi”. Belajar keras, bikin tim belajar, latihan soal akan memperbaiki nilai kita. Tapi ada titik di mana semua upaya itu mentok untuk mengejar nilai. Alias IPK mentok gak bisa dikatrol lagi. Kalau sudah mentok begitu, diambil pusing malah bikin jiwa kita tertekan. Kita akan stres sendiri. Karena pasti akan melakukan komparasi dengan teman-teman. Terutama mereka yang nilainya lebih bagus.

Dari pengalaman saya, kita memang harus menjaga “kewarasan” jiwa, sih. Salah satu yang selalu berhasil, untuk saya pribadi adalah dengan shalat lima waktu. Kurang satu aja, rasanya uring-uringan. Bukan tipe merasa bersalah atau berdosa, ya. Dulu sih kalau ada sholat yang terlupa, memang merasa bersalah/berdosa.

Jiwa yang uring-uringan ini indikasi kecil bahwa jiwa saya sedang tidak sehat. Solusi yang tokcer buat saya (dan mungkin untuk teman-teman pembaca) adalah kembali ke agama dan keyakinan dulu.

Dipicu Gadget dan Social Media

Gadget dan social media ternyata jadi pemicu bagi remaja juga. Universitas Gajah Mada (UGM) ternyata pernah membahas hal ini juga di sini. Satu poin yang dimunculkan adalah kemampuan menyeleksi dan menyaring (filtering) oleh remaja ternyata berbeda-beda. Gagal filtering yang negatif, jadi sebab eksposur negatif pada remaja kita.

Tentang hal ini, saya dan istri sempat berdiskusi panjang tentang kapan anak-anak sudah pantas memiliki akun socmed sendiri. Saya bikin akun facebook di usia 21 tahun. Sejak itu saya aktif main fesbuk. Istri di usia 18 tahun. Saya curious soal ini karena melihat fenomena sedari kecil sudah punya akun socmed. Bahkan beberapa ortu sudah membuat akun Instagram (IG) untuk anaknya. No problem sih, selama masih diamankan oleh ortunya. Tapi poin saya adalah, sooner or later anak-anak akan memegang socmed. Tapi seberapa cepat mereka diperbolehkan membuat akun tersebut? Pada usia berapa boleh memiliki akun sendiri?

Sebab, di IG banyak sekali visualisasi tentang gambaran ideal. Tubuh ideal, wajah ideal, pakaian bagus, tujuan wisata luar negeri, dlsb. Which is, gagal filtering bisa menyebabkan kita (terutama para remaja) gagal memprioritaskan things in life. Worst case nya di situ. Kalau tanda -tanda lain yang mengindikasikan depresi, ada semisal turunnya rasa percaya diri dan adanya kesulitan untuk berkonsentrasi. Sebagaimana disampaikan Prof. Sofia Retnowati dalam acara di UGM tersebut.

Pemberitaan Mengedepankan Humanisme

Bagi awak media, suicide perlu diberitakan. Bad news is a good news. Namun demikian, hendaknya perlu diberitakan secara positif, mengedepankan humanisme, serta membangun harapan. Sehingga lebih mengedukasi dan bersifat preventif terhadap tindakan suicidal itu sendiri. Ini link berita di mana Aliansi Jurnalis Independen (AJI) mengajak media massa untuk mengedepankan humanisme dalam pemberitaan suicidal.

Saya pribadi, sebagai yang pernah mendiagnosis diri sendiri pernah mengalami tekanan kejiwaan, merasakan kesedihan yang sama tatkala mendengar pemberitaan bunuh diri di media massa. Pasalnya, pemberitaan tersebut belum diiringi ajakan untuk menghubungi dan berdiskusi dengan pihak terkait seperti psikolog, psikiater, maupun klinik kesehatan jiwa.

Menulis Untuk Diri Sendiri

Yang baca tulisan ini mungkin seorang sarjana, mungkin juga sedang menempuh Pendidikan (alias masih mahasiswa/anak sekolah). Sudah biasa menulis, terutama di sekolah. Karena kita belasan tahun belajar (membaca dan menulis), sudah seharusnya menulis adalah sesuatu yang bisa kita lakukan. Logika umumnya begitu. Bahkan, banyak sekali anggapan bahwa semua orang bisa menulis.

Yang kedua adalah bahwa seakan-akan pembaca dari tulisan kita selalu orang-orang di luar kita. Hampir gak ada tuh yang namanya diri sendiri sebagai pembaca.

Saya, terus terang berada di pihak yang berseberangan dengan kedua pendapat tersebut.

Dan saya ada tiga alasan mengapa kita sesekali butuh untuk menjadikan diri kita sebagai pembaca dari tulisan kita sendiri.

menulis 1

Pertama, menulis itu menyembuhkan diri sendiri.

Kehidupan modern jaman now ini, banyak menyebabkan iri hati. Apalagi ada social media sebagai amplifier alias penguat message. Teman yang lanjut sekolah, lha. Kita belum ada waktu dan uang untuk meneruskan pendidikan. Teman yang jalan-jalan ke luar negeri, lha. Sama: belum ada waktu dan uangnya. Haha. Teman yang karirnya bagus, teman yang mengumumkan akad dan resepsi pernikahannya, teman yang keluarganya berbahagia dari kelahiran putra/putri pertama, kedua, dan seterusnya. Sementara kita masih single/jomblo/you name it. Semua itu bisa menyebabkan kegalauan. Memang sih, pilihannya kembali ke diri sendiri. Tergantung kamu mau memilih untuk galau atau tidak.

Salah satu cara menghindari kegalauan adalah dengan menulis. Menulis untuk diri sendiri. Mengapa menulis? Karena menulis itu menuangkan kegelisahan kita. Tapi kita tidak membuat diri sendiri malu, kok. Karena hanya kita seorang diri yang membaca. Menulisnya juga jangan di sembarang tempat. Kalau dulu -puluhan tahun yang lalu- ada namanya diary, sekarang diary-nya bisa digital. Bahkan di wordpress.com pun, bisa di-setting supaya tidak tayang.

Kedua, menulis itu untuk berekspresi.

Ada public area, ada private area. Orang-orang suka lupa membedakan keduanya. Apalagi di jaman socmed begini. Sering lupa juga dia berada di area yang mana. Atau, ada orang yang terlampau sering berada di public area. Sehingga lupa bahwa dia punya private area yang seharusnya menjadi tempat dia kembali ke dirinya sendiri. Saya menyebut orang-orang yang tidak punya hobi itu, sebagai tidak punya private area. Hahaha. Atau, terlampau asyik dengan dirinya sendiri sehingga lupa berbicara dengan para khalayak di public area.

Yang ingin saya sampaikan adalah menulislah untuk mengekspresikan perasaan (isi hati) maupun pikiran/pengetahuan (isi kepala) di area privat anda. Lagi-lagi, menulis untuk diri sendiri.

Social media itu ruang publik. Bisa menjadi sarana berekspresi. Kapan sebaiknya tidak berekspresi? Kalau yang kita ingin ekspresikan itu penuh dendam, memuat konten SARA, sesuatu yang membuat diri kita malu, dst.

Misalnya kamu seorang singlelillah atau jomblo fii sabilillah, mungkin kamu belum punya orang yang tepat untuk mendengarkan perasaan atau ekspresi kamu sendiri. Maka menulislah untuk mengekspresikan perasaan yang hanya akan didengarkan oleh dirimu sendiri.

Ketiga, menulis itu untuk merapikan pengetahuan.

Menulis itu cara lain, sih. Cara paling utama merapikan isi kepala itu adalah dengan tidur cukup dan tepat waktu. Cukup artinya, minimal enam (6) jam. Tepat waktu artinya, tidak tidur terlalu larut sehingga bisa bangun sebelum adzan subuh. Itu cara pertama mengorganisasikan dan menyusun ulang isi kepala kita. Di samping itu, tidur tepat waktu dan tepat jumlah adalah cara menetralisir racun-racun dalam tubuh. Memang, organ hati kita bekerja maksimal di malam hari.

Tidak harus kamu adalah siswa/mahasiswa yang belajar di sekolah/kampus sehingga kamu berkewajiban merapikan pemahaman kamu, mumpung ujian masih lama. Sehingga tidak SKS (sistem kebut semalam). Tidak harus juga kamu adalah karyawan di kantor yang learning by doing atau sedang dalam OJT (On Job Training) sehingga kamu harus mengelola ilmu/pengetahuan dengan baik.

Tapi simply karena segala aktivitas harian kita itu ada ilmu, ada renungan yang bisa kita ambil, maka menulislah. Menulis untuk diri sendiri. Terutama dalam bentuk diary, ya. Ketika kita sudah menulis, lalu flashback ke tulisan-tulisan sebelumnya kita jadi tahu kita pernah melakukan apa. Banyak orang tidak reflektif dalam hidupnya. Lupa dia pernah mengerjakan apa. Tidak tahu apa yang dia capai. Sehingga, dia lupa merencanakan apa-apa yang mau dia raih. You understand what I mean, didn’t you?

Bisa saya katakan, menuliskan ulang informasi atau pengetahuan yang kita dapat, itu sangat bermanfaat untuk karir kita ke depan. Bisa juga kita menuliskan angan-angan/rencana/mimpi-mimpi yang kita targetkan untuk bisa terwujud dalam beberapa waktu ke depan. Apakah kita pekarya atau pekerja, menulis tentang ilmu pekerjaan sendiri, pasti akan ada manfaatnya dalam pekerjaan/profesi yang kita geluti.