Blog Analytics

Hasil mengobservasi rekan-rekan blogger, dikombinasikan dengan memahami parameter yang diberikan oleh Google Analytics, dan sedikit refleksi diri.

Beberapa waktu lalu, saya bertanya-tanya (wondering) soal parameter apa ya (blog analytics) yang cocok untuk kita pakai dalam nge-blog.

Nge-blog itu kan hobi ya. Apa iya yang namanya hobi perlu diukur? Pikiran ini pernah saya tuangkan di Betapa tidak pentingnya nge-blog itu ya, gaez. Ada beberapa pros and cons di sana.

Sebagai awal mula pembahasan, mari lihat grafik di bawah ini yang berasal dari SEMrush.com mengenai faktor-faktor apa saja yang paling penting dalam Search Engine Result Page (SERP). Simak urut-urutannya.

blog analytics
https://neilpatel.com/blog/bounce-rate-analytics/

Domain Authority (DA)

Tidak ada DA dalam daftar di atas.

Akan tetapi, teman-teman blogger di komunitas, paling hobi mengukur pakai DA/PA. Somehow, saya kurang berminat memakai parameter tersebut. Kenyataannya, angka-angka tersebut lebih banyak diacu oleh blogger yang menjual sponsored content atau placement content. Ya karena para pemberi sponsor juga sudah jamak menggunakan DA/PA.

Kalau kita mengacu ke referensi Niagahoster, dapat disimpulkan bahwa DA/PA adalah parameter yang mendeskripsikan seberapa searchengine-friendly si website tersebut. Skalanya 1-100; makin dekat 100 maka makin ramah ke google.com. Begitulah menurut si pengembang DA/PA, yaitu Moz.com.

Kira-kira kenapa Moz ini mengembangkan mesin digital tersebut? Tentu karena mereka menjual jasa yang terkait dengan parameter itu sendiri. Hehehe. Yaitu, jasa konsultasi supaya lebih terlihat (visible) di mata mesin pencari sehingga traffic dan ranking si website tersebut bisa naik.

Oke, selain Moz dengan DA/PA, ada siapa lagi? Ada Domain Rank dari ahrefs, CitationFlow dan TrustFlow. Demikian kata Moz selaku market leader di industri website analytic ini.

Bounce Rate

Untuk web secara umum, saya lihat banyak juga yang mengacu ke bounce rate. Yang mengukur bounce rate adalah Google Analytic. Kalau begitu, kita pakai definisi GA donk…

A website’s bounce rate is calculated by dividing the number of single-page sessions by the number of total sessions on the site.

https://www.hotjar.com/google-analytics/glossary/bounces/

Berarti, bounce rate adalah skor perbandingan antara jumlah pengunjung (visitor) yang langsung ‘cabut’ (alias satu page saja dalam satu session) dibandingkan dengan jumlah visitor yang melakukan kunjungan ke beberapa page dalam satu session.

Berapa bounce rate yang baik? Dari riset saya, tidak ada jawaban pasti yang berlaku untuk semua. Bergantung jenis web Anda. Ini satu yang bisa dijadikan acuan (dari gorocketfuel.com):

  • Bounce rates from 25% to 30% are most likely as low as you’ll see them with everything working correctly
  • The bounce rate for the average website is more likely to dance to the tune of 40 to 55 per cent.
  • Even a bounce rate of over 60% might not be bad. It all depends on the website, which is why it is important to set your own baseline.
  • A bounce rate below 20% or over 90% is usually a bad sign.

Time on site

Anything under 20 seconds is a major red flag, as that’s barely enough time for a visitor to look at the page, much less read its content. 40-50 seconds is a great start, as it means you have their attention. In general, anything over 2 minutes is the accepted standard for websites.

https://rankmonsters.org/website-analytics-benchmarks/

Page per session

Satu session itu satu kali kedatangan ke suatu website. Pengguna yang sama, datang dua kali ke suatu website, akan dihitung dua kali session. Jadi, page per session adalah angka rata-rata dari jumlah page yang dikunjungi di setiap session-nya.

The unofficial industry standard is 2 pages per session.

https://www.spinutech.com/digital-marketing/analytics/analysis/7-website-analytics-that-matter-most/

Lebih banyak halaman per sesi menunjukkan bahwa pengguna Anda sangat terlibat dan ingin menjelajahi lebih banyak situs Anda.

Di sinilah pentingnya memberikan beberapa internal link dalam 2 bentuk: SEO internal link dan plugin Inline Related Posts.


Jadi, apa kesimpulannya? Apa blog analytics yang paling pas dipakai? Tergantung tujuan blognya.

  • Kalau tujuannya cari sponsor, menaikkan DA/PA adalah segalanya. Sudah jadi acuan industri, baik pemain maupun sponsor.
  • Kalau ingin jadi blogger biasa saja, atau menjadi penulis yang lebih baik, saya kira adalah Page/Session dan Session Duration.
Catatan: Di “one year”, Bounce Rate-nya sebesar 62.72%.

Reflection on 2019 site analytics

Tahun 2019 adalah tahun pertama men-swasta-kan domain dan hosting. Tadinya masih negeri; alias menumpang ‘host’ di server gratis milik WordPress. Setelah setahun ini, ada sedikit angka, data, dan statistik lain yang bisa direfleksikan barang sejenak. Kita mulai ya.

Sepanjang tahun 2019 ada 44 post. Meningkat 7 post saja (19%, lumayan) dari tahun sebelumnya. Namun average words per post-nya menurun dari 927 ke 711 kata. Turun sebesar 23%. Signifikan juga ya. Namun, tidak terlalu masalah. target saya kalau menulis adalah minimal 800 kata. Saya bukan tipe yang mentarget minimal 1500 atau 2500 kata. Masih termaafkan lha ya kalau sekitar 700-an saja. 

Pernah rasanya saya share di suatu tempat di blog ini bahwa 300 kata, meski sudah layak secara SEO, namun terlampau pendek untuk menyajikan cerita. Di sisi lain, 2500 kata sudah oke banget untuk SEO. Tapi lebih baik dibelah saja untuk artikel di pekan berikutnya; ini menurut saya lho ya. 

Tahun 2019 itu ada 7,453 page views dari 4,677 visitors. Artinya, satu visitor melakukan 1,59 page views. Artinya tiap pengunjung rerata hanya melihat 1-2 post. Sumber traffic terbanyak dari search engine, yaitu sebesar 3,707 pageviews. Sementara yang datang dari facebook dan Instagram sebesar 195 dan 128 page views. Dapat disimpulkan, lebih banyak dari mesin pencari daripada followers-nya social media saya. Sepintas tadi menengok setting page, tampaknya ada error di social share-nya –share via facebook & linkedin. 

Dari list yang sudah menyetor tulisan di komunitas 1m1c, hanya ada 41 page views. Lumayan juga, karena keanggotaannya hanya sekitar 100 members. Dari komunitas yang sama –tetapi sumber link berbeda– ada 3 (tiga) tulisan saya yang sempat di-klik dari sana:

Di antara 10 tulisan dengan page view terbanyak, hanya ada dua yang ditulis di tahun 2019. Yaitu: Review Buku Filosofi Teras (441 views) dan Menyelami Filosofi Rumah Panggung Suku Bugis (120 views).

Tiga-puluh-tujuh (37) post di tahun 2018 sebenarnya copy paste dari blog saya yang lama: http://ikhwanalim.wordpress.com. Seingat saya, tidak banyak yang saya tuliskan di tahun tersebut. Sebab lebih sibuk migrasi konten daripada menulis baru. Alhamdulillah di tahun 2019 cukup banyak tulisan yang benar-benar baru. Bahkan, ada kategori personal journal dan blogging/writing yang cukup banyak saya tulis. Selain itu, ada sedikit dari kategori marriage/parenting/fathering.

Khittah-nya blog ini seharusnya membahas topik sales/marketing. Eh tapi kategorinya malah ke mana-mana, yah. Dilema ini sudah bertahun-tahun saya rasakan — selama 12 tahun nge-blog. Ragu untuk memilih fokus menulis ide yang muncul di pikiran, atau mau fokus di kategori tertentu yang kita kehendaki sebagai positioning/niche-nya kita.

At the end, I took my decision to not overthinking the branding part. Jadi, saya tuliskan saja pengalaman, pikiran dan gagasan yang ingin saya bagikan. Tanpa harus feeling guilty karena si blog ini entah mau dibawa ke mana (if you sing, then you lose). Hehehe.

Tahun 2019 tampak belum ada postingan juara yang view-nya tinggi. Karena yang tinggi berasal dari tahun sebelumnya: Posisi Kerja di Dealer Mobil. Post ini view-nya tinggi karena post sejenis sedikit sekali di jagat internet. Sementara di Indonesia, konsumen kendaraan bermotor seperti mobil dan sepeda motor tinggi sekali. Tidak heran lowongan kerjanya pun cukup melimpah, sehingga pertanyaan seputar posisi-posisi pekerjaan di dealer juga banyak:

  • jabatan di dealer mobil 
  • jabatan-jabatan kerja di diler mobil 
  • cara kerja dealer kendaraan
  • tugas marketing di dealer mobil honda 

Rencana 2020

Bagaimana dengan tahun 2020? Rencana saya adalah berusaha seproduktif mungkin dalam nge-blog. Kalau satu tahun ada 52 minggu, maka idealnya ada 52 post kali ya. Tahun 2019 sudah terwujud 85%-nya.

Mau produktif menulis topik/kategori apa? Seperti saya ceritakan tentang dilema di atas, maka topiknya akan bebas. Sebagai ortu, mungkin postingan seputar topik parenting akan hadir pula. Mengingat, yang bersangkutan mulai sekolah di tahun ini. Tentang strategic marketing, mungkin topik seputar milennial dan leisure bisa dieksplorasi lebih mendalam. Personal journal jangan ditanyakan lha, ya. Itu topik paling tidak terencana, tapi paling sering ditulis karena experience dan personal story-nya.

Itu sedikit refleksi dari saya seputar hikmah-hikmah yang bisa diambil dari analytic machine di situs blog ini. Bagaimana dengan refleksi dan rencana blogging kamu? Saya tunggu pendapatmu di kolom komentar, ya 🙂