Cara Menjadi Blogger Profesional dan Menjadi Bos Diri Sendiri

Kayaknya kedengaran keren ya kalau jadi professional blogger. Sudah keren, dibayar pula. Namun, menjadi blogger profesional itu tidak gampang dan tidak akan pernah mudah.

Alasan pertama adalah, mendapatkan uang dari blog tidak semudah dulu lagi. Sebabnya adalah kompetisi semakin ketat. Konten berwujud blog tidak lagi menjadi satu-satunya konten. Social media selain blog seperti Twitter, Facebook, Instagram (IG), dll justru menggerogoti pangsa pasar pembaca blog. 

Contohnya sebagai berikut. Di waktu yang bersamaan sekarang ini, sedang ada gerakan #30haribercerita di IG. Mirip nge-blog, tapi di caption IG. Dari judul, jelas setidaknya satu cerita per hari selama 30 hari. Dan gerakan ini begitu diterima oleh netizen. Konon, ada enam ribuan tagar #30haribercerita masuk setiap harinya. Bisa dikatakan sebagai blog tetapi di platform IG. Ini “penggerogotan” dari sisi pembuat konten.  

Dari sisi pembayar konten, mereka lebih memilih untuk mendistribusikan anggarannya ke beberapa tipe social media. Sekian untuk blog, berapa untuk IG, sejumlah uang untuk facebook, dan seterusnya. Sebab masing-masing social media punya pengguna setia. 

Balik lagi ke topik professional blogger. 

Saya lihat sih, kebanyakan teman-teman blogger mengambil segmen dari 3F-nya dulu, yaitu friends/fans/followers dari akun social media. As u may already know, caranya adalah dengan membagikan link artikel blog (terutama yang baru saja dirilis) ke berbagai jenis sosial media yang dimiliki. Seiring waktu dan konsistensi nge-blog, lingkaran 3F kita akan semakin membesar. Kita bisa memulai profesi blogger dengan cara ini. 

Dan ini sama seperti pekerjaan pada umumnya: harus ditekuni dengan serius, supaya menghasilkan dan makin terpercaya (trusted).

Berikut ini beberapa hal yang saya kira, perlu diperhatikan supaya blog kita bisa menghasilkan income terus-menerus.

Niche Content 

Namun, professional blogger berbeda. Harus menunjukkan area of expertise-nya. Kalau sudah memulai dengan 3F, berarti harus mulai fokus dengan konten di niche-niche tertentu. Namanya juga professional. Berasal dari bahasa latin, yaitu proficio. Yang artinya, kira-kira adalah to make/to advance. Kita kan gak bisa jadi advanced di semua topik blog. Jadi harus memilih niche konten kita sendiri. 

Dua niche content dengan penghasilan paling lumayan, setahu saya adalah food blogging dan travel blogging.  

Bagaimana dengan penempatan konten; di mana konten tersebut dipasang? Placement tidak harus di blog sendiri ya. Blog sendiri itu jadi etalase (showcase) saja. Proyeknya bisa dari mana saja. Baik perorangan, institusi non-profit, atau korporat. Placement kontennya tidak harus di web institusinya, bisa saja ada media lain. Saya sendiri berperan sebagai content manager untuk satu institusi non-profit dan satu produk elektronik untuk pendidikan.

Mempromosikan Konten 

Menulis konten sesuai niche yang dipilih saja tidak cukup. Professional blogger harus smart dalam memasarkan kontennya. Alias promosi. Mindset yang seringkali salah adalah melakukan promosi hanya sekali di awal rilis konten. Cara paling sederhana ya share di social media masing-masing. Namun demikian, promosi konten sebaiknya dilakukan beberapa kali untuk sebuah konten. Tidak ada salahnya memasang iklan (facebook ads, google adwords) bagi si konten agar terekspos ke pembaca yang lebih banyak. 

Ikut Community 

Bangun kehadiran anda secara online. Karena kita pembuat konten ini tidak hidup dalam ruang hampa. Alias ruang angkasa galaksi lain seperti Bekasi. Apa sih. Gagasan  itu sudah seharusnya dinamis dan berinteraksi dengan ide-ide dari orang lain. Meminjam kata Dewi ‘Dee’ Lestari, “Hakikat sebuah gagasan adalah hidup di alam bebas” atau quote lain, “Tulisan yang sempurna adalah tulisan yang tidak dipublikasikan”. Mungkin tidak sama persis, tapi intinya gagasan itu ditumbuh-kembangkan via komunitas. 

Semakin intens kita menghadirkan diri, berarti semakin kuat pula personal branding yang kita bangun di sana. 

Kalau niche content kita itu serieus banget nget semisal soal pekerjaan kantor, cocok tuh kalo ikut community di LinkedIn. Saya sendiri masih ngulik ya, bagaimana supaya bisa sukses di sana. Tapi saya yakin pasti ada caranya. 

Cari Proyek 

Tidak sepanjang waktu proyek berjalan terus. Adakalanya klien sedang sepi, sehingga kita harus mencari proyek yang baru. Bisa menghubungi atau menemui klien lama, atau bertanya-tanya di network yang sudah terjalin (ini pentingnya ikut komunitas!). Di sinilah pentingnya belajar menulis proposal dan menjual/menawarkan pekerjaan. 

Tunjukkan Nilai Tambah 

Professional blogger harus membuat konten yang bermanfaat tapi tidak usang bagi pembacanya. Di samping itu, dia harus terlihat atau dikenal berwawasan di topik tersebut. Demonstrasikan bahwa dengan merekrut anda, atau memberikan anda sebuah proyek lepas (dahulu), maka anda akan memberikan nilai tambah pada keseluruhan pekerjaan klien. 

Be Professional. 

Jadi profesional (saja). Buktikan dengan memiliki kualitas (berupa nilai tambah untuk klien) dan tepat memenuhi tenggat waktu. Manajemen pekerjaan/proyek dan waktu. Latihan dan berkarya terus untuk melatih kualitas pekerjaan kita. Salah satu ukuran penulis profesional juga bisa dilihat dari penggunaan tanda baca. Apakah dia teliti terhadap penggunaan tanda baca seperti titik, koma, titik koma, garis miring, dan lain sebagainya. 

Konklusinya adalah professional blogger itu berat jadi biar aku saja. Tapi kalau personal brand dan niche content-nya sudah dapat, maka semua upaya, latihan, uang dan waktu yang dilakukan akan terbayar lunas. 

Apa Itu Profesional Blogger

Akan datang saat di mana media massa tidak lagi dikonsumsi sebagai sumber berita yang paling dominan. Saat di mana surat kabar mengalami penurunan jumlah cetak produksi per harinya. Saat di mana berita televisi mengalami penurunan jumlah penontonnya. Saat di mana berita radio dan sumber berita yang lain mengalami penurunan jumlah konsumennya.

Karena sumber berita dan media itu semakin banyak, dan siapa saja bisa mengakses informasi (khususnya yang melalui internet). Media massa tidak akan hilang sama sekali, tetapi berita di media massa menjadi konten conversation di social media. Dan berita baru di social media bisa saja ikut di-publish oleh media massa karena popularitasnya. Di-retweet, di-share, hingga re-blog oleh banyak pengguna social media.

Akan datang saat di mana profesi wartawan tidak lagi dihargai seperti sekarang. Saat di mana profesi wartawan menemukan titik lemahnya. Titik lemah profesi wartawan yang tanpa kompetensi jelas di satu bidang tertentu, yang menulis berita tanpa dilatarbelakangi satu disiplin ilmu tertentu. Menuliskan berita secara umum saja, tidak mendetail hingga tataran filosofis.

Di era internet seperti sekarang, kecepatan pemberitaan semakin dituntut. Persoalan hadir manakala kecepatan pemberitaan berakibat pada kesalahan pemberitaan. Sebabnya adalah minimnya verifikasi terhadap informasi yang dituangkan sebagai berita. Wartawan sebagai pencari dan penulis berita terdesak waktu sehingga gagal menghasilkan berita yang benar, detil, dan mendalam.

Jurnalisme 2.0 adalah ketika aktivitas-aktivitas jurnalis dapat dilakukan dalam bentuk 2.0, atau melalui internet. Antarmuka (interface) web yang kini memungkinkan pengguna internet merilis konten jurnalisme dalam bentuk video, gambar atau tulisan. Anggota masyarakat yang semakin pintar tentu ingin menuangkan gagasan-gagasannya dalam ketiga bentuk konten di atas, ke dunia maya. Dan ini melahirkan para profesional dengan jenis aktivitas yang baru: aktivitas jurnalisme 2.0

Passion terhadap profesi yang ditekuni adalah satu dari sekian banyak alasan yang paling banyak dikemukakan oleh mereka, ketika kita menanyakan hal ini. Rasa cinta terhadap pekerjaan yang ditekuni mendorong mereka untuk berbagi. Forum/event rutin mungkin tidak selalu ada. Sebab itu mereka memaksimalkan media yang ada. Bisa lewat blog seperti wordpress atau blogspot. Atau situs microblogging seperti twitter, atau bisa hanya lewat notes facebook.

Yang hadir sekarang adalah para profesional di bidang masing-masing yang mengeksplorasi bidang pengetahuan yang dikuasainya untuk :

  • Menganalisis permasalahan yang ditemui di sekitarnya,
  • Memberikan solusi atas permasalahan yang terjadi, ataupun hanya sekedar
  • Memberikan komentar sesuai dengan latar belakang pengetahuannya.

Knowledge Worker. Saat ini adalah era dimana pekerja pengetahuan sangat diandalkan di bidangnya masing-masing. Mereka menjadi pencari berita dan penulis berita itu sendiri. Khususnya di bidang yang mereka tekuni. Media yang mereka gunakan adalah blog internet. Blog mereka dikunjungi banyak orang yang ingin mengetahui secara mendalam tentang bidang yang mereka kuasai. Mereka disebut Professional Blogger.

Personal Branding. Di samping memberi dan berbagi mengenai passion sekaligus karir/profesi, mereka juga membangun personal branding di ranah maya. Sebagaimana kita tahu, penetrasi internet yang semakin tinggi menjadikan dunia maya sebagai “dunia nyata” juga sebagaimana yang dunia yang sudah ada. Maya dan nyata semakin tidak ada bedanya dan eksistensi pribadi di dua dunia tersebut semakin penting. Lewat eksistensi di dunia maya, maka personal brand juga ikut terangkat.

Berikut adalah dua contoh fenomenal yang mungkin menginspirasi kita semua. Romi Satria Wahono adalah profesional di bidang komputer dan informatika. Situs pribadinya, http://www.romisatriawahono.net, berisi wawasannya tentang berbagai hal di dunia komputer dan informatika : internet business, knowledge management, opensource, dll. Triharyo “Hengky” Susilo adalah profesional di bidang rancang pabrik industri kimia. Kebetulan beliau juga CEO PT. Rekayasa Industri. Tulisan-tulisannya dapat dibaca di http://www.triharyo.com

romi-hengky

Mau jadi professional blogger? 🙂