Talking to Strangers

Buku baru Om Malcolm Gladwell menginspirasi saya untuk berbagi kisah-kisah dengan si orang asing.

Mungkin kita, atau lebih tepatnya saya sendiri doank, berangkat dari asumsi bahwa orang asing adalah orang yang baik. Minimal, dia jujur.

Jelas sulit kalau kita memulai relationship dengan seseorang –bahkan hanya untuk sekedar mengobrol dengan orang asing di angkutan kota, ya—dengan negative thinking terus. Saya biasanya memberikan trust dulu. Bahwa ada harapan yang tidak terpenuhi –atau, pengkhianatan yang lebih ekstrim—itu lain hal dan itu urusan kemudian.

Asumsi tersebut di atas adalah yang dibawa pertama kali oleh Malcolm Gladwell di buku terbarunya: Talking to Strangers. So, not only me, tapi menurut penuturannya, kebanyakan orang memulai dengan menitipkan keyakinannya dulu. Namanya barang titipan ya kan, tentu bisa diambil kembali suatu waktu nanti.

Tampak bukan masalah besar, memang. Namun di sanalah kehebatan seorang penulis seperti Gladwell. Sebuah gagasan sederhana bisa diramu dan dikemas sedemikian rupa untuk membuktikan bahwa tidak semua asumsi terwujud seperti yang diasumsikan, atau bahkan hal-hal besar dan buruk –seperti Perang Dunia II—bisa terjadi. Beberapa pejabat tinggi Inggris pada masa tersebut, setidaknya dua kali berbicara langsung dengan Der Fuhrer Hitler. Keduanya merasa disambut baik dan hangat sembari menduga bahwa Jerman tidak akan memulai perang yang maha besar. Kenyataan pahitnya, kita sesekali salah dalam menilai orang asing dan itu bisa berakibat fatal.

Finance Person: Check, Check, and Recheck

Dalam hal trust, mungkin saya berbanding terbalik dengan ayah saya. Saya mudah menitipkan kepercayaan, sedang beliau tidak. Beliau cenderung periksa, periksa, dan periksa ulang. Beliau mantan orang finance, memang. Sudah puluhan tahun berkarya di bidang tersebut. Di masa pensiunnya, tabiat periksa, periksa, dan periksa lagi masih terus dipelihara. Bukan sesuatu yang buruk, kok. Tapi tidak semua orang nyaman ditelepon atau dikunjungi tiba-tiba, kemudian ditanyakan/dikonfirmasi mengenai perkembangan suatu pekerjaan/proyek. Dari sudut pandang yang diberi pekerjaan, mereka menduga tidak-bisa-dipercaya. Dari sisi yang sama, ada ketidaknyamanan bila sidak dilakukan.

Mencoba mengenali lebih dalam, kita berhak mendukung dan melihat ayah saya sebagai pribadi dengan standard tinggi. Tidak hanya high-standard, tetapi juga menjaga dan mempertahankan standard tersebut. Demikian lah bila kita melihat semata dari hubungan transaksional saja. Pada kenyataannya manusia itu kompleks; terdiri dari beberapa peran sekaligus; bukan hanya peran ekonomi saja. Di luar peran-peran tersebut, homo sapiens ingin diperlakukan secara manusiawi; lewat tutur kata yang baik dan sopan adalah salah satunya saja.

Talking to Ojek Online

Beberapa tahun lalu, kala Go-Car dan Grab-Car belum menjadi arus utama apalagi kekinian, saya berkendara dengan taksi bersama beliau. Cukup heran rupanya beliau itu. Karena, saya mengobrol dengan pak supir. Tatkala sudah sampai tujuan, beliau bertanya, “Kamu biasa kah ngobrol sama supir taksi kayak begitu?”. Saya tanggapi dengan santuy, “Biasa aja. Tidak ada masalah.”. Jelas, sopir taksi adalah orang asing bagi beliau. Dan mungkin persoalan dengan orang asing adalah kita tidak mudah berbagi informasi. Tapi jelas itu persoalannya. Ayah saya tidak ingin terjebak dengan tidak sengaja memberikan informasi yang bisa berakibat fatal.

Sebagaimana supir taksi, driver ojek online, baik sepeda motor ataupun mobil, adalah orang asing, ‘kan? Namun, itu tidak menghalangi kita untuk mendiskusikan sesuatu. Tapi, bukan berarti tidak ada rules-nya ya. Meski mengobrol, baik duluan memulai atau sebaliknya, saya cenderung tidak membuka informasi diri. Apa yang saya kerjakan sebagai penghidupan, saya berasal dari mana, dan seterusnya. Topik-topik saya biasanya hanya seputar driver ini tinggal di kelurahan/kecamatan mana, dan apakah hari ini (sabtu/minggu) beliau merasakan macet atau tidak. Di kota kami yang turut mengandalkan pariwisata, sabtu-minggu cenderung macet dengan tamu-tamu dari luar kota.  

Antara kita selaku penumpang dan para driver ada komitmen transaksi kan yah. Kita diantar sampai tujuan dengan selamat, dan kita membayar. Pihak ketiga seperti Go-Jek dan Grab sudah sangat membantu pelaksanaan transaksi tersebut. So, kedua pihak bermuamalah hanya sebatas transaksi tersebut. Di luar itu, kita harus berhati-hati. Karena kita adalah orang asing bagi satu sama lain. Bukan hanya kita penumpang bersikap waspada seperti yang saya ilustrasikan di paragraf sebelumnya. Namun juga bagaimana driver bertindak dan berkomunikasi dengan waspada pula kepada para customer-nya. Bukan tidak pernah lho driver dicelakai akibat ulah customer. Kita semua harus hati-hati karena kita Talking to Strangers.

Nebengers

Di antara kelahiran travel-travel Jakarta-Bandung pp dan trio Go-Jek, Grab, Uber ada usaha-usaha nebeng antara daerah di Jabodetabek, atau Jakarta-Bandung yang komunikasinya dibantu oleh Twitter. Nebengers, namanya. Nebengers mensyaratkan, semua komunikasi harus lewat twit, serta menyebut akun @nebengers dan/atau tag #nebengers sebagai manajemen risiko guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Namanya lewat twitter ya, komunikasi terbatas 140 karakter. Tidak heran muncul istilah semisal “share bentol” alias uang bensin dan uang tol dibebankan kepada semua.

Sekedar berbagi pengalaman pribadi, dalam suatu per-nebeng-an dari ibukota ke ibukota, kami dibebankan Rp50ribu/kepala. Di row kedua dan ketiga, peserta nebeng sengaja ditambah dua orang hingga melebihi kapasitas si roda empat. Untungnya, saya duduk di samping supir yang ternyata sedang dalam rangka ngapel ke perempuannya dan butuh modal. In total, dia mendapat “modal” sebesar Rp350ribu untuk pacaran. Hahaha.

Kini, nebengers sudah menggunakan mobile app tersendiri. Tentu harus sign-up untuk mendaftar, dan login tiap kali menggunakan. Identitas yang jelas antara pemberi dan penerima tebengan, memperkecil kecurigaan serta meningkatkan kepercayaan di antara kedua pihak.

Cek juga tag saya soal “Review Buku” http://ikhwanalim.com/tag/review-buku/

Demikianlah kisah-kisah saya seputar berinteraksi dengan orang asing (“Talking to Strangers”). Apakah kamu ada pengalaman serupa? Boleh share di kolom komentar, ya!