7 Prinsip Mengelola Keuangan Rumah Tangga

Menyisihkan uang dari pengelolaan keuangan rumah tangga untuk ditabung bukan perkara sulit. Tetapi membangun kebiasaannya yang berat. Berikut ini 7 saran untuk mengelola uang keluarga dengan lebih baik.

Uang bukan segalanya. Tapi segalanya butuh uang.

Keluarga adalah salah satu bentuk institusi juga ‘kan? Namanya institusi, harus pintar mengelola sumber daya donk ya. Supaya survive dan bisa achieve tujuan-tujuannya. Salah satu sumber daya tersebut adalah uang.

Gak sedikit yang bangkrut, atau tidak bisa mengakomodasi kebutuhan anak-anaknya, atau bahkan ‘bubar jalan masing-masing’ karena gagal merencanakan dan mengelola keuangan.

Nah, bagaimana prinsip-prinsip mengelola keuangan untuk keluarga? Berikut ini kita ulas satu-satu, yuk.

1. Fokus ke Biaya makan

Ini saya masukkan ke nomor satu, karena banyak yang bisa kita ubah dari kategori ini.

Meskipun harga bahan pokok atau makanan jadi terasa murah, tetapi faktor kali yang membuat biaya makan selalu tinggi. Dikalikan terhadap jumlah anggota keluarga, berapa kali makan, dan di mana makannya, bisa membuat total biaya makan menjadi selangit, lho.

Makanya untuk menaikkan ROI makan di luar, lebih penting “makan sama siapa” daripada “makan pakai apa”. Hehehe.

Puasa itu selain berpahala dan menyehatkan tubuh kita, juga membantu kita menghemat biaya makan lho, teman-teman.

Beli makanan jadi selalu lebih mahal daripada memasak sendiri. Beli snack selalu lebih boros daripada tidak jajan. Fokus juga pada frekuensi. Sekali seminggu tentu lebih hemat daripada setiap hari. Hehe.

2. Kendalikan biaya ulang tahun

Biaya ulang tahun itu perlu, bahkan wajib. Tetapi tidak usah berlebihan. Jangan terlalu pelit juga untuk memperingati berapa tahun kita hidup di dunia. Sembari merefleksikan apa yang sudah kita lakukan. Lagipula, kalau anggota keluarga sendiri yang ingin ulang tahun kita dirayakan, kita tidak bisa menolak, bukan?

Sehemat-hematnya ulang tahun, menurut saya beli kue saja secara online. Dirayakan di rumah, sembari mengucap syukur dan memanjatkan doa.

3. Gunakan barang bekas

Berburu barang bekas pakai, terutama fesyen menjadi tren di tahun 2020. Artinya, kita tidak perlu ragu dan malu dalam menggunakan produk-produk preloved. Apalagi jika produk tersebut termasuk kategori branded.

Beli kendaraan juga tidak harus baru. Baik sepeda, sepeda motor, maupun mobil. Karena pemilik pertamanya juga tidak menjual kendaraannya dalam keadaan performa yang sudah turun.

4. Pilih Kesenangan yang Tidak Menghabiskan Uang

Main ke taman kota saja. Bukan main ke mall terus. Duduk saja bayar, apalagi bermain di wahana. Selain hanya ada belanja dan ajakan untuk mengeluarkan uang, habisnya uang belum tentu membuat bahagia.

5. Jangan Liburan Asal-Asalan

Asal-asalan dalam hal waktu, itinerary, dan anggaran (budget).

Secara jadwal, jangan liburan mendadak. Rencanakan cuti setahun itu mau dipakai ke mana saja.

Untuk itinerary, lebih baik ke destinasi baru demi mendapat pengalaman baru. Daripada nongkrong dan mager di destinasi yang modal hype doank.

Tetapkan batas maksimal seluruh pengeluaran liburan: tiket, penginapan, oleh-oleh, dan lain sebagainya. Masing-masing pos pengeluaran harus dianggarkan maksimalnya berapa.

Hindari pembayaran dengan kartu kredit. Bukan melarang, tetapi cara pembayaran tersebut bisa membuat kita tak terkendali dalam hal uang.

6. Potong Biaya Rumah yang Rutin

Bila memungkinkan, ganti PDAM dengan air tanah. Di Bandung Raya, biaya mengebor sumur bisa sampai Rp500.000,- tetapi sekali bayar. Biaya rutinnya adalah listriknya pompa air.

Renovasi rumah supaya lebih banyak bukaan (jendela, ventilasi, void, dll) untuk mengurangi penggunaan AC maupun kipas angin. Untuk mensirkulasi udara dan panas, jenis renovasi yang mahal adalah meninggikan bangunan. Harapannya, biaya listrik bisa ditekan.

Supaya rumah bisa lebih terang sembari mengurangi penggunaan listrik, kita bisa memasang glass block dan mengganti sedikit atap dengan yang berwarna transparan.

7. Bicarakan anggaran dan tabungan dengan anak-anak

Anak-anak itu manusia dewasa yang belum sepenuhnya paham soal keuangan. Mulai dari uang sebagai alat tukar, adanya pemasukan rumah tangga, serta alternatif produk atau jasa yang lebih murah untuk dibeli.

Apa saja yang harus dilakukan?

Membuat tabungan khusus anak-anak. Tentu saja tabungan tersebut untuk masa depan mereka: sekolah dan kuliah.

Mengajarkan anak untuk membuat rencana dan anggaran. Tidak melulu berupa uang, ya. Anggaran bisa berarti jatah buku gambar A3 dalam satu pekan.

Saya yakin teman-teman di sini bisa membuat contoh-contoh lain dari analogi buku gambar tersebut.

Yang perlu kita ingat, di sekolah tidak ada kurikulum tentang perencanaan dan pengelolaan keuangan. Jadi, kita sendiri yang perlu belajar dan mengajari anak-anak kita tentang keuangan.

Demikian dari saya tentang tips mengatur keuangan rumah tangga supaya bisa menabung untuk masa depan. Dari teman-teman barangkali ada pengalaman serupa? Boleh dituangkan di kolom komentar ya.

Pentingnya Financial Planning

Lama berkutat mempelajari dengan financial planning, masih aja bingung ini-itunya. Akhirnya ambil online course dari rekan. Insight lengkap di post ini.

Financial Planning ini kelas online kedua yang saya ikuti tahun ini. Baru tadi pagi “graduation“, alias wisuda.

Karena upgrade diri kan penting, ya. Budget-nya untuk setahun sudah diadakan. Tinggal prioritasnya aja. Karena ada training untuk karir profesional, ada juga untuk keluarga (misalnya materi ke-ayah-an).

https://tirto.id/menghindar-kena-jebakan-dompet-bokek-di-awal-tahun-cCYN

Selama ini saya kontinyu belajar soal financial management. Tapi secara otodidak. Baru yang 2 pekan terakhir ini saya berguru. Target saya adalah memvalidasi apa yang sudah kita ketahui, sekaligus update wawasan yang sifatnya baru. Khususnya kasus-kasus yang muncul karena buruknya pengelolaan keuangan. Karena,

Resource is limited.

Sumberdaya (salah satunya uang) itu sifatnya terbatas. Dan perlu dikelola (to be managed) dengan tepat.

Pada satu titik, ketika kita semakin dewasa (baca: menjadi lebih tua), peran kita semakin banyak. Menjadi suami, orang tua, hingga turut membantu keuangan orang tua yang sudah pensiun. Jadi, tidak hanya financial management yang harus dilakukan. Tapi juga financial planning.

Apa target perencanaan keuangan? Yaitu adalah menyiapkan sumber daya keuangan guna mendukung tercapainya tujuan-tujuan hidup kita. Tujuan kita bukan lagi sekedar beli permen di warung depan, beli pulpen di toko alat tulis, tetapi sudah jauh lebih besar: daftar ibadah haji, menabung untuk kuliah anak, dan lain sebagainya.

Berdasar waktunya, tujuan-tujuan tersebut bisa kita klasifikasikan ke dalam tiga jenis: pendek, menengah, dan panjang. Mewujudkannya tidak mudah. Selain karena sumber daya tidak terbatas, juga adanya inflasi dan hambatan/risiko keuangan lainnya.

Masalah Keuangan Kekinian

Fakta umum perihal keuangan keluarga di masyarakat Indonesia, ada dalam daftar berikut ini:

  • 46% orang Indonesia memiliki Dana Darurat hanya untuk seminggu ke depan (Survei OECD tahun 2020). Seharusnya, minimum 6 bulan.
  • 28,2% penyebab perceraian adalah faktor ekonomi (Badan Peradilan Agama, Mahkamah Agung, 2016-2018),
  • Indeks literasi keuangan Indonesia 38% (sementara Singapura 96%),

Itu yang kuantitasnya terukur, ya. Untuk kualitatifnya ada fenomena ini di sekitar kita:

  • Generasi Sandwich, tidak hanya bekerja untuk anak sendiri, melainkan juga masih berjuang demi orang tua yang sudah pensiun
  • Fenomena YOLO (You Only Live Once) dan FOMO (Fear of Missing Out) yang cenderung menghabiskan isi dompet para milennial.
  • Terjerat pinjaman online. Bahkan ada yang sampai meminjam di 141 aplikasi.
  • Imbal produk keuangan yang tidak sesuai ekspektasi. Seringnya akibat kesalahan dalam pembelian jenis produk keuangan, yaitu asuransi atau investasi.

Inflasi vs Compound Interest

Pemahaman saya, ada dua asumsi paling mendasar yang mendasari financial planning kita: inflasi dan compound interest.

Pertama adalah adanya inflasi. Bukan sekedar inflasi yang tiap bulan dan tahun dirilis oleh Biro Pusat Statistik (BPS). Namun juga inflasi pada kategori tertentu, misal pendidikan. Contoh: kuliah tahun 2005, per semesternya masih Rp1.850.000,-. Sementara tahun 2020 sudah Rp12.500.000,-. Dalam financial planning untuk dana pendidikan anak, asumsinya tidak lebih rendah dari 10%. Bahkan seringnya 15% atau 20%.

Nah, inflasi ini harus dilawan dengan investasi ber-compound interest. Kenapa harus investasi? Karena saving dalam bentuk uang saja tidak cukup. Masih akan dimakan oleh inflasi. Compound interest dalam deposito, reksadana, maupun saham menyebabkan nilai investasi dapat berlipat-lipat. Itulah dahsyatnya compund interest (bunga yang dapat berbunga-bunga lagi).

Jadi, segala kebutuhan kita di masa depan (naik haji, uang kuliah anak, uang pensiun, dll) angka uangnya akan tidak sama dengan hari ini. Akan naik seiring dengan inflasi. Untuk “mengejar”-nya, kita gunakan produk investasi ber-compound interest.

Emas

Bagaimana dengan emas? Apakah emas memiliki compound interest? Apakah emas bisa berlipat ganda? Nyatanya tidak. Lima gram emas yang disimpan akan tetap 5 gram.

Namun, kelebihan emas adalah sifatnya yang bisa melindungi daya beli suatu nilai uang. Dengan menyimpan emas, maka nilainya akan naik seiring inflasi.

Apalagi emas 5 gram atau 10 gram mudah sekali diuangkan. Berbeda dengan properti yang tidak bisa langsung laku.

Jangka Waktu dan Likuiditas

Sudah disebutkan di atas, ada 2 atau 3 jangka waktu realisasi kebutuhan. Sehingga, investasi juga ada jangka waktunya. Bisa pendek (<1 tahun), menengah(1-3 tahun, atau 1-5 tahun), maupun panjang (3-10 tahun, atau 5-10 tahun). Ada juga siy mengklasifikasikan jadi “pendek” dan “panjang” saja.

Misal butuh uang ratusan juta untuk salah satu kebutuhan. Tidak bisa serta-merta kita menjual properti (tanah, atau tanah dan bangunan di atasnya). Paling tidak, 2 tahun sebelumnya sudah mulai kita jual.

Jadi, properti itu likuiditasnya rendah. Berbeda dengan emas, reksadana, atau saham yang bisa diuangkan kapan saja. Namun, kelebihan properti adalah kenaikan harganya yang cukup baik untuk berinvestasi.

80% Kebiasaan

Financial planning, sebagaimana planning yang lain adalah hal stratejik. Artinya, hal-hal besar yang direncanakan hari ini untuk jangka 3, 5, bahkan 10 tahun ke depan.

Namun, yang stratejik ini hanya 20%-nya saja. Delapan puluh persen sisanya berakar pada kebiasaan keuangan kita. Yang terutama berakar pada dua hal: pencatatan pengeluaran dan penganggaran (budgeting).

Mengapa pengeluaran perlu dicatat? Karena es kopi-susu-gula merah setiap hari selama 30 hari itu bisa senilai Rp600.000,-. Jumlah yang lumayan untuk dibelikan reksadana atau saham, ‘kan?

Kalau sudah dicatat terus-menerus, kita bisa menelusuri (to track) dan mengevaluasi (to evaluate) ke mana larinya uang-uang kita. Bermanfaat atau tidak, boros atau tidak, sesuai anggaran atau tidak.

Nah, di sinilah peran budgeting. Supaya segala kegiatan kita jelas maksimal uang keluarnya berapa. Bukan hanya angkanya, tapi juga perbandingan terhadap pengeluaran/pemasukan keseluruhan.

Sebagai contoh, ada lho parameter maksimal kita membayar cicilan. Yakni maksimal 30%-35% dari total pemasukan.

Monitoring

Setelah budgeting, pencatatan pengeluaran, sesungguhnya kesehatan keuangan kita bisa kita monitor (to monitor) terus lho, kakak-kakak. Selain satu yang sudah saya sebut di atas, lainnya ada Rasio Likuiditas, mengukur kemampuan harta lancar kita dalam menutupi pengeluaran. Lainnya ada Debt to Asset Ratio, Saving/Investment Ratio, dan Solvency Ratio.


Pemahaman atas rasio-rasio dan produk keuangan penting sekali untuk mencegah kita terjebak ke dalam masalah-masalah keuangan seperti yang terjerat oleh 141 aplikasi pinjaman online.

Demikian uraian singkat dari saya mengenai pentingnya dan mendesaknya (urgent) perencanaan keuangan. Ada pengalaman pribadi soal perencanaan keuangan? Boleh banget share di kolom komentar, ya 🙂

Baca juga tulisan JOURNAL saya yang lain, ya.

Cara Mengelola Uang Supaya Hutang Hampir Nol

Hutang ini tidak diinginkan, tapi sulit dihindari. Inginnya nol, tapi susah sekali. Jadinya hampir nol saja.

Kalau harus berhutang, mau berapa, ke mana, dan berapa lama? Untuk diri saya, pertanyaannya saya balik: berapa lama, berapa kemampuan saya mencicil, dan dari keduanya baru akan ketahuan: berapa banyak? 

Lama Pinjaman 

Kita kan tidak tahu ya, kita akan hidup berapa lama. Jadi durasi hutang menurut saya harus sesingkat mungkin. Dari sana, baru dikalikan dengan kemampuan kita membayar cicilan. Akan ketemu berapa nilai uang yang layak kita pinjam. 

Kemampuan Mencicil 

Dalam persentase, ada yang menyarankan 30% untuk cicilan. Atau sepertiga, alias 33.33%. Dengan 33% yang lain untuk pengeluaran rutin, dan sepertiga sisanya tabungan dan investasi. 

Serba sepertiga ini hanya salah satu aliran pengelolaan keuangan, ya. Masih banyak aliran yang lainnya. Yang saya berikan contoh, hanya aliran yang saya praktikkan saja. 

Di suatu bank, pernah ada yang promo ke kantor kami, untuk gaji di atas 15 juta, cicilan KPR-nya dibolehkan hingga 50%. 

Jumlah Hutang 

Dari sini, dapat kita hitung, berapa jumlah uang yang layak kita pinjam, yaitu hutang yang mampu kita lunasi. Yaitu, mengalikan lama pinjaman dengan kemampuan mencicil tersebut. Sebagai catatan, mengambil hutang di Bank itu bisa jadi dikenakan biaya tambahan semacam biaya provisi (secara bahasa, provisi berarti pengadaan ya), biaya administrasi (urusan hitam di atas putih ini dikenakan biaya), dan lain sebagainya. 

Cara menagih hutang kepada teman

Kalau dari saya, prinsip saya memberi piutang, saya harus melihat kemampuan saya dulu. Artinya, berapa banyak yang bisa saya ikhlaskan, andaikan uang tersebut tidak kembali sama sekali. Jadi memang, niat memberi pinjaman untuk menolong. Bukan untuk mendapat keuntungan. Sependek pemahaman saya, untung dari pinjaman adalah riba. Dan itu yang dilarang dalam agama saya. Saya berusaha istiqomah menjalankan hal tersebut. 

Raditya Dika, dalam salah satu konten YouTube-nya, pernah menyatakan bahwa dirinya merasa lebih baik berjual-beli sesuatu dari si teman, daripada harus meminjamkan uang kepada teman. Paham, tidak? Ilustrasinya begini. Misal si teman butuh satu juta rupiah. Instead of meminjamkan, Bang Radit merasa lebih baik memberi pekerjaan kepada si teman senilai satu juta rupiah. 

Kembali ke soal teman yang punya hutang kepada kita. Tentu kita tagih dengan seramah mungkin. Tidak perlu galak. Bila dia membutuhkan tambahan waktu, sebaiknya kita berikan. Sudah seharusnya dia akan mengembalikan yang dipinjam, ‘kan? 

Soal ini, sependek pemahaman saya, mereka yang membebaskan hutang, akan mendapatkan naungan ‘Arsy di hari kiamat. Baca juga: memudahkan orang yang berhutang

Supaya lebih ikhlas perihal hutang yang tidak dibayar, saya biasanya mengingatkan diri saya untuk bekerja lebih keras. Di antaranya adalah bersilaturahmi dengan wajah-wajah baru. Barangkali dari hubungan tersebut ada rezeki yang bisa menggantikan nilai hutang yang tak terbayar. Selain itu, juga “mempertajam” penawaran (offering) barang/jasa ke pelanggan. 

Sebelum memberi pinjaman, boleh donk kita berpikir seperti Bank. Ada prinsip 5C yang biasanya diagung-agungkan: character, capacity, capital, collateral, condition. Untuk hutang pribadi, saya lihatnya dua saja. Karakter: orangnya bertanggung-jawab (amanah) atau tidak. Orangnya juga harus bisa kita hubungi/temui. Jadi kita tahu rumahnya. Kolateral, tidak mesti barang fisik sebagai jaminan ya. Tapi kestabilan pendapatan dan nilai pendapatannya. 

Utamakan Hutang Produktif 

Hindari hutang konsumtif. Ini aplikasinya beda-beda ya di setiap orang. Kalau saya, rasanya adalah dengan tidak menggunakan kartu kredit (CC). Karena belanja mudah sekali dengan menggunakan CC. Bisa lupa batas (limit) anggaran. Lagipula, saya bukan yang detil soal diskon, cashback, dan sejenisnya itu. “Pancingan” memakai CC kan promo potongan tersebut, ya. Kalau saya butuh/ingin, ya langsung saya bayar, hehe. 

Hutang pribadi atau rumah tangga yang produktif, mungkin hutang KPR ya. Karena harga tanah dan bangunan -biasanya- naik terus. Tapi produktif atau tidak sebenarnya case-by-case, siy. Salah beli tanah/bangunan, ekstrimnya bisa rugi juga. Lagipula, benar-benar menghasilkan kan kalau tanah tersebut dijual lagi. Which is, dalam kebanyakan kasus di wilayah yang sudah ramai penduduknya, harga tanah sudah sedemikian tinggi sehingga calon pembeli semakin sedikit. Alias, nilai di atas kertas doang yang tinggi, tapi menjualnya ya susah, hehehe. 

Konon, investor macam Robert Kiyosaki -selain game Cashflow Quadrant, dia ada perusahaan properti– hanya membeli satu dari seribu tanah/bangunan yang dia tengok. 

Bagaimana dengan hutang untuk usaha/bisnis? Mengambil hutang begini tidak boleh untuk sembarang belanja modal (capital expenditure) atau belanja rutin (operational expenditure, opex). Karena harus dihitung benar efeknya terhadap pertumbuhan (growth) omzet, klien, dsb. Kalau cuma tambal sulam, lebih baik tidak hutang sekalian. 

Simpulan menurut saya siy, kalau mau hutang produktif, sekalian aja bikin tim, bikin badan hukum (PT/CV), rencana yang detil, target yang terukur, eksekusi yang mantap, dan seterusnya. 

Baca juga: Hierarki Pengelolaan Keuangan

Hierarki Pengelolaan Keuangan

Diskusi saya dengan teman SMA di weekend lalu berakhir pada pemodelan dalam artikel ini. Dia, sama seperti saya, sudah melewati masa-masa early jobber. Kami sudah lebih paham pengelolaan keuangan dibanding masa-masa awal bekerja dulu. Tentu, apa yang bagaimana pemahaman dan pengelolaan keuangan yang kami  lakukan sekarang sudah lebih advanced daripada saat masih sekolah/kuliah. Ada 5 tingkat hierarki pengelolaan keuangan. Kalau kamu sudah tahu posisi kamu di mana dalam hierarki tersebut, kamu sudah tahu kemana berikutnya harus melangkah.

Belum mandiri, masih nebeng sama orang tua
Makan, tinggal, sekolah masih atas biaya orang tua. Atau hidup dari bantuan keluarga besar yang lain. Atau menerima beasiswa. Punya pendapatan sampingan lebih oke. Untuk kamu yang masih kuliah, oke banget kalau bisa sambil mengajar anak SMA. Atau bisa juga mendaftar sebagai asisten mata kuliah/laboratorium. Dulu waktu saya masih mengajar anak sekolah di Bandung, per pertemuan bisa dihargai Rp 50-60 ribu. Lumayan 😀

Sudah mandiri, lepas dari inang 
Kalau sudah mendapat pekerjaan dengan gaji yang layak, sudah waktunya lepas dari inang. Awal kerja, bolehlah merayakan sedikit mentraktir teman-teman dekat. Soal belanja, pastikan beli manfaat yang tepat. Karena pasti ada pengeluaran untuk tempat tinggal, transportasi, dan konsumsi. At least, di fase ini orang tua (atau inang yang lain) tidak lagi menanggung biaya kehidupan kamu.

Beberapa jenis pekerjaan menuntut penampilan prima di mata orang lain. Pakaian kerja yang update dengan tren fesyen. Mobil yang menaikkan gengsi, dll. Meski bergaji besar, adakalanya pendapatan malah pas-pasan dengan pengeluaran tersebut. Belum termasuk pengeluaran konsumtif seperti kehidupan sosial di restoran/kafe, kartu kredit, kredit peralatan rumah tangga, dan berbagai cicilan lainnya yang baru bisa menyematkan status “mandiri finansial” saja.

Punya tabungan dari hasil bekerja 
Secara umum, orang Indonesia itu sulit menabung. Berbagai gerakan sudah pernah dicanangkan pemerintah. Satu contoh: Ayo ke Bank. Orang Indonesia itu paling mudah tergoda untuk belanja, meski belum tentu dikonsumsi. Mudah juga untuk tergoda sama diskon. Padahal diskon ada sejak awal hingga akhir tahun. Ujung-ujungnya malah sulit menabung.

Tabungan, bagi saya, adalah cadangan dana yang belum pasti alokasinya untuk apa. Bisa untuk backup asuransi (bila diperlukan), tambahan biaya berobat (mekanisme reimbursement), dana darurat untuk bantu keluarga yang sekolah/menikah, dsb. Berapa besarnya? Biasanya bervariasi antara 3-6 kali dari pengeluaran bulanan.

Punya investasi yang memberikan cash-in
Setelah tabungan sudah cukup untuk menutupi kebutuhan ini itu. Sebagian di antaranya boleh dimasukkan ke produk investasi. Minimal deposito. Berikutnya ke instrumen keuangan lain yang memberikan return lebih besar daripada tabungan: reksa dana, saham, dll. Jangan lupa sesuaikan dengan profil investasi. Usahakan tabungan & investasi mencapai 30% dari pengeluaran bulanan.

Bisa juga titip modal ke teman pengusaha yang bisa dipercaya. Dan mau bekerja keras. Tapi tidak ada zero risk, lho. Jadi kenali betul plus-minus berinvestasi di teman pengusaha. Cash-in paling tinggi bisa berasal dari investasi ke bisnis yang dikelola sendiri. Dengan segala control di tangan sendiri, maka risiko bisa ditekan dan omzet bisa dimaksimalkan.

Hidup dari passive income 
Ini adalah mimpi kebanyakan middle class kita. Mimpi yang didorong dari berbagai seminar tentang “financial freedom“. Mungkin mereka lelah dengan pekerjaan yang mereka geluti saat ini. Sebab itu mereka mencari harapan-harapan lain yang bisa mereka kejar. Kalau pendapatan dari berbagai investasi (sawah/kebun, rumah kontrakan, atau kost-kostan), sudah melebihi pengeluaran keluarga, boleh saja resign dari pekerjaan untuk fokus di usaha keluarga.

Sudah tahu, posisi financial management kamu sekarang? Next, kamu bisa tentukan strategi dan langkah-langkah apa saja yang mau dilakukan untuk bisa naik hierarki 🙂

Related post:
Mewujudkan Mimpi Kebebasan Finansial
Tips Berinvestasi
Investasi dan Investor