Membersamai Anak-Anak

Lewat tulisan ini saya ingin berargumen bahwa anak-anak itu jangan diproteksi. Intinya, ada batas dalam memproteksi anak-anak. Daripada diproteksi habis-habisan, mungkin lebih baik kita membersamai anak-anak.

WhatsApp Image 2018-02-18 at 21.05.42

Kendali atas TV dan Smartphone

Kita mulai dengan yang punya pengaruh kuat di rumah-rumah: Televisi. Sebenarnya, kita punya kekuatan kok untuk mengendalikan TV. Namun yang sering saya lihat, banyak keluarga yang menyerah dengan TV. Merasa harus punya TV seperti tetangga. Tidak bisa tidak menyaksikan tayangan TV. Bahkan meskipun ada kesibukan di rumah dan tidak bisa menonton, TV tetap dinyalakan.

TV itu menyajikan beragam konten. Berita, sinetron, film, acara anak-anak, music, dan lain sebagainya. Engagement yang kuat dari TV itu menjaga anak-anak kita tetap duduk manis di hadapannya. Harus diakui, kami sebagai orang tua ini kalah dari TV yang mampu menyajikan beragam konten itu. Mungkin itu yang bikin saya ragu mempunyai TV ya. Tapi, saya tanyakan ke istri juga, sebenarnya pendapatnya dia tidak jauh berbeda dengan saya.

Kalau dibandingkannya dengan internet, TV jelas kalah. Internet justru membuka ruang yang lebih besar. Baik untuk entertainment (hiburan), maupun pendidikan, serta lain sebagainya. Internet juga punya sisi buruk seperti pornografi, game online, dan sebagainya. Internet bahkan lebih kuat daripada TV.

Namun bagi saya, internet jelas lebih bisa dikendalikan. Sudah ada aplikasi-aplikasi di tier-nya komputer atau browser yang bisa bantu kita menyaring (filtering) konten-konten tidak bermanfaat. Belum lagi aksesibilitas anak-anak yang bisa dibatasi sama kita selaku orang tua. Anak-anak menonton via smartphone, maka smartphone itu yang kita batasi. So far, via YouTube Anak Dua di rumah hanya menonton serial RoboCar Poli dan Cloud Bread.

Semua security itu tentu saja dapat di hack oleh anak-anak. Sooner or later. Because children will grow then they will find it. Karena itu semua hanya alat bantu. Karena manusia yang menciptakannya, maka yang manusia pula bisa mengatasinya. Segala security –dalam bentuk apapun– sifatnya hanya sementara.

(Baru berapa hari yang lalu, ada rekan yang cerita bahwa di kuliah tentang security, salah satu tugasnya adalah menemukan nomor handphone salah satu orang selebriti tertentu. PR ini bisa mudah bisa susah. Tergantung caranya. Nah, ternyata keahlian-keahlian di bidang security didasari dari kemampuan mengulik suatu celah keamanan tertentu.)

Bicara proteksi sekaligus mendidik anak-anak, saya kira kita bisa belajar dari sekolah berasrama.

Sekolah Berasrama

Sekolah-sekolah berasrama adalah produk-produk pendidikan yang mulai tren sejak tahun 1990-an. SMA saya sendiri bahkan didirikan persis di tahun 1990 tersebut. Saya dan orang tua, masing-masing punya alasan untuk bersekolah di sana. Saya, baru masuk 12 tahun sejak pendiriannya, memang melihat nama besar (pada tahun itu) sekolah tersebut. Sedangkan orang tua saya memandang sekolah berasrama –yang anti rokok, narkoba, dan minuman keras—sebagai institusi yang edukatif sekaligus protektif terhadap anak-anak; Dan menurut beliau itulah yang seharusnya diterima oleh saya.

Misalkan kita memproteksi anak-anak dengan menyekolahkan mereka di sekolah asrama. Di asrama, biasanya ada “proteksi” berupa media-media yang diperkenankan masuk di sekolah. Penayangan TV ada jamnya. Ada koran dinding dari surat kabar tertentu. Memang sih, tidak dilarang menerima informasi dari luar sama sekali; tetapi ya tidak bisa juga mendapat informasi sebebas-bebasnya.

Sekarang era internet, mosok gak ada akses ke internet? Tidak bisa dihalangi sama sekali, memang. Tapi kenyataannya proteksi itu tetap ada. Misalnya lewat pembatasan penggunaan handphone dan laptop.

Kita tambahkan syarat dan ketentuannya. Misalnya itu adalah sekolah berasrama berbasis agama dengan intensitas pengajaran seputar ibadah, fikih, muamalah, dan sebagainya hingga 10 jam seminggu. Di sini kita bisa menyebut bahwa kita memberikan lingkungan yang edukatif terhadap anak-anak. Sekaligus protektif sebagaimana berbagai fitur sekolah berasrama yang “mencegah dan mengatasi kenakalan remaja”.

Pasca kelulusannya, bisa jadi si anak akan “gagap” untuk sementara waktu. Gagap, alias kaget melihat lingkungan sekitarnya ternyata belum se-ideal di sekolah dahulu. Penerapan pengetahuan agama semisal hijab sebagai pakaian, atau hubungan antara lelaki dan perempuan yang bisa jadi tidak berjarak, dan lain sebagainya. Buruk-buruknya, si anak bisa terjerumus ke “kebebasan” tersebut. Saya sendiri menyaksikan langsung beberapa teman yang “berubah” tersebut. Contoh ini sekedar cuplikan kasus ekstrim ya. Statistiknya tentu tidak demikian.

Intinya begini, bagaimanapun kita memproteksi anak-anak, cepat atau lambat mereka akan terkena eksposurnya juga. Jadi daripada memproteksi berlebihan, lebih baik mereka terekspos dengan sepengetahuan kita. Sehingga kita bisa mengarahkan, minimal berdiskusi tentang interpretasi maupun perspektif mereka terhadap hal tersebut. 

That’s why I thought we should not just protect them, but we should accompany them to explain how the world outside you (children) is. The world may be bad, hard, competitive, egoistic, self-minded, etc. Those may be perceived by your children from their sight, school or from mainstream media. Or from the world that exposes to them. But, there are always many good things outside there. You just only need provide time and patience in showing that goodness to them. For example in praying.

Teaching children to be focus and patience with his praying really takes a lot of time. Mines are three years old now. They show more positive attitude towards “in the mosque” behaviours rather than a year ago. But still, they are not focused yet to start and finish their praying. Why? Since many disturbances for them. Wide area of mosque to be explored by running around, other children that persuade them to play together, etc. Un-exposing these to children is not good, I guess. But, what we should do is just accompany them and explain the circumstances itself together with the goodness and badness. That’s why I always do briefing to children before entering the mosque. 

We think positive that however, this is a good progress, compared to other older kids that still going around the praying area. They looks to disturb the “jamaah” while praying.

So far, I guess we as parents could influence our children when they already trust us. How to get their trust?

Being father means being trusted by children.

Bagaimana caranya supaya bisa trusted? Ada formula lama dari David Meister yang bisa diaplikasikan ke berbagai bidang. Termasuk parenting. Komponennya ada 4. Credibility, reliability, intimacy, dan self-orientation.

Kredibel artinya punya kemampuan di bidangnya. Tentu tidak semua bidang dikuasai oleh father. Tapi sebagai pembesar anak-anak, sudah sepatutnya kita turut “menguasai” lingkungan di sekitar kehidupan mereka. Lingkungan dalam rumah dan tetangga, mengenal teman dan guru di sekolah, hingga orang tua dari teman-teman mereka.

Sedangkan reliable berarti having children as our “primary customer”. Ibarat di perusahaan, tentu ada kategori customer yang sangat kita junjung tinggi kan. Logika yang sama kita gunakan dalam “melayani” anak-anak. Kita harus menjadi father yang bisa diandalkan (reliable) oleh anak-anak. Because children will realise out weakness/limit, sooner or later. Indeed, we’re not perfect at all.

Intimacy. Menjadi ayah bukan berarti menjadi orang galak. Tegas berlebihan bisa jadi galak. Tapi bukan di situ yang harus dicapai dalam fathering. Anak-anak butuh ketegasan, bukan butuh orang galak.

Kita perlu menghindari peran orang galak di rumah. Yang dibutuhkan anak-anak adalah orang tua yang bersikap dekat, hangat, dan akrab dengan mereka. Oke, mereka butuh ketegasan, butuh diajarkan menjadi tegas, tapi itu not all the time, sih.

Jangan sampai kepulangan kita ke rumah dari kantor, hanya memunculkan pikiran “satpam” atau polisi” dalam benak mereka.

Konsep terakhir, self-orientation, dalam model yang dikembangkan oleh David Meister, adalah sebuah pembagi. Sehingga, trust semakin besar kala self-orientation bisa ditekan sekecil-kecilnya. Anak-anak perlu dan harus menyadari bahwasanya dalam kehidupan kita bersama dengan mereka, kita tidak sepenuhnya hanya memikirkan diri sendiri. Tetapi kita memang sangat memprioritaskan mereka.

Mungkin saja terjadi, kita berusaha melakukan yang terbaik untuk mereka, karena mereka memang prioritas kita, namun mereka tidak menyadarinya. Nah, menjadi tugas kita mengkomunikasikan ke mereka, atau membuat mereka paham dan meyakini, bahwasanya kita memang berusaha memberikan yang terbaik kepada mereka. Konsep yang sama, sebenarnya berlaku di hubungan kita dengan pelanggan, ‘kan?

So? Accompanies, not protection.

Saya gak selalu bisa memberikan quality time kepada keluarga kecil saya. Namun saya yakin, seiring saya bisa menyediakan quantity time, maka quality time akan hadir dengan sendirinya. Sama seperti pelanggan kita ‘kan, susah bagi mereka untuk terus belanja lagi, lagi, dan lagi ke kita, kalau kita saja tidak menyediakan waktu yang banyak untuk bertemu dan berinteraksi dengan mereka.

Sama seperti menonton TV, kan ada tuh keterangan BO (Bimbingan Orang Tua). Maka anak-anak harus ditemani. Diberikan interpretasi tambahan dari kita. Dijawab pertanyaanya. Sebenarnya, menyelami pertanyaan anak-anak juga penting. Because we know they will grow into somebody. They will be somebody that we don’t know now. Could we direct their grow in goodness? Jadi mendalami pertanyaan anak-anak adalah bagian dari metode pengukuran oleh kita atas tumbuh kembangnya mereka.

Sama seperti kita menyelami pelanggan, ‘kan? Dengan mengenal lebih jauh dan lebih mendalam, maka kita akan mampu mengiringi mereka meningkatkan transaksinya bersama kita.

Tulisan ini diinspirasi kala pertama kali ke toko buku bersama anak-anak, excited banget si mereka. Karena ada banyak hal baru yang mereka lihat dan temukan. Namun, mereka masih kesulitan dalam menginterpretasikan segala yang mereka lihat. Mereka punya pertanyaan yang butuh dijawab, butuh ditemani di tempat yang sama sekali asing bagi mereka. Melihat hal yang berbeda dari yang ada di rumah dan di sekolah, dan lain sebagainya.

Saya selalu tertarik dengan buku. Tapi kali ini saya harus menekan ego saya. Instead of tenggelam dalam pilihan berbelanja di sana, saya memilih untuk menemani anak-anak, menyelami keingintahuan mereka, menjawab pertanyaannya untuk kemudian memberikan arahan-arahan kepada mereka. Saya harus berperan sebagai ayah yang benar dulu di sini.

Being father means being somebody that always be missed. We may do not have all the time to raise our family. We should work outside then bring resources to home. At that time, the children grow. But we should not lose our focus on them. When they aware that they always be loved, they will listen and grow as our expectation.

Bandung, 29 mei 2018.

Related Post(s):

Memosisikan Anak sebagai Pribadi Dewasa

komuniksdi-dengan-anak-520x265

Semalam, Muzakki bertanya ke saya. Kami masih di masjid “biru”. Bertiga dengan adiknya. Muzakki bertanya, “kok Pak Alim berdoanya, Waqinaa adzaa ban-naar?”

Alhamdulillah, ibunya rutin mengajak dan membiasakan berdoa sebelum makan. Mungkin Zakki heran dan bertanya, kok di masjid doanya sama dengan doa sebelum makan.

Cek dan ricek ke si mbah, ternyata “Waqinaa adzaa ban-naar” artinya kira-kira “Dan peliharalah kami dari siksa api neraka”.

Thanks to “Anak Dua“. Kami jadi belajar dari kalian yang lebih muda. Sudah seharusnya, sih. Belajar itu ke siapa saja. Kepada usia berapa saja. Alhamdulillah masih diberi legowo dan kerendahan hati untuk belajar dari siapa saja.

Itu pengantar deh. Berhubung ceritanya baru dapat tadi malam. Overall, tulisan kali ini sekedar catatan bagi kami saja. Kalau memang ada yang mendapat inspirasi dari sini, ya alhamdulillah. Mudah-mudahan bermanfaat, deh.

Berhubung di rangkaian acara pernikahan adik kami, ada yang nyeletuk, “Ngobrol ma anak dua itu kayak ngobrol sama orang dewasa”. Alhamdulillah, ini feedback positif bagi kami. At least, kami jadi tahu kami memberikan action yang tepat, sehingga Anak Dua turut membalas dengan reaction yang tepat pula.

Kalau kami bertanya ke diri kami sendiri, mengapa bisa begitu? Jawaban kami adalah, pada prinsipnya kami memandang dan menganggap anak-anak sebagai manusia dewasa. Terutama adalah, mereka berhak memutuskan sendiri dari pilihan-pilihan yang ada.

Pilihan-pilihannya bisa jadi berasal dari mereka kumpulkan sendiri. Atau mungkin juga dari yang kita sediakan. Bisa juga sih kita membatasi pilihan-pilihan buruk dari mereka dari apa yang mereka lihat atau dengar.

Di era informasi seperti sekarang ini, kontrol terhadap informasi itu berat banget. Kalau di era televisi, kita pemirsa akan terima-terima aja segala yang disodorkan. Namun sekarang, filtering-nya setengah mati. Butuh tiga hari untuk tahu apakah sebuah berita adalah hoax atau bukan. Bagi kami, YouTube masih mending. Anak-anak memang belum paham fitur search-nya. Namun, ke depannya history bisa kita awasi terus kan. Another problem kalau mereka sudah bisa menghapus history. Saat ini, at least saat ini kami sudah mulai dengan menghindari sinetron serta berita yang belum tentu terkait dengan keluar kecilkamu. Mungkin kapan-kapan saya bisa sharing perspektif saya tentang hal ini ya.

Jadi kita orang tua harus menganggap anak sebagai manusia dewasa yang punya pilihan. Jadi tanyakan misalnya, maunya apa? Menurut kamu lebih baik mana?

Orang dewasa ingin didengar. Apa pendapat mereka. Pun begitu pula dengan anak-anak yang kita anggap sebagai pribadi dewasa. Kalau kita “mengkerdilkan” anak-anak, termasuk dengan anggapan “namanya juga anak-anak”, maka sesungguhnya kita turut berkontribusi terhadap “perlambatan kedewasaan” mereka.

As we know, dalam islamic parenting tidak ada namanya remaja. Yaitu, usia biologis (yaitu fisik dewasa) yang lebih tua daripada usia psikologis (yaitu pemikiran anak-anak). Yang ada hanyalah aqil baligh. Dewasa secara fisik dan pemikiran.

Kami belajar dari anak itu seperti kami belajar dari orang dewasa. Kami positive thinking bahwa semua orang berusaha menjadi lebih baik; meski belum dan tidak akan sempurna. Anak-anak pun seperti itu. Mereka akan bertumbuh berkembang, memiliki kebisaan dan kemampuan tersendiri nantinya. Seiring sejalan dengan hal tersebut, kami berusaha mengenal mereka lebih mendalam.

Si W, ternyata pribadi yang tidak mau kalah, sulit mengalah, dan ingin menjadi nomor satu. Pribadinya memang introvert, sih. Dia menggali dari dalam dirinya sendiri kala ingin belajar/menjadi lebih baik. Dia ini kelihatannya excited soal menggambar/melukis. Inginnya sih, dia ada kesempatan ikut sanggar lukis yang gak terlalu jauh dari rumah.

Beda dengan Z, si kakaknya yang extrovert, senang dengan keramaian, selalu ingin diperhatikan orang lain, namun suka bertanya dan mengeluh kepada orang lain bila ada yang dia tidak bisa pelajari/kerjakan.

Tidak selamanya berguna yang namanya bersikap steril terhadap anak-anak. Semua serba dilarang juga tidak baik. Yang harus ada adalah pengawasan. Pun kala anak-anak memberikan feedback, kami harus menanggapi dengan masuk akal pula. Seiring tumbuh-kembangnya fisik dan pemikiran mereka, kami orang tua juga harus memberikan reasoning yang tepat pula.

Jadi orang tua itu berat. Tanggung jawabnya sedemikian besar. Tetapi pengajarannya relatif belum memadai. Alhamdulillah makin ramai topik tentang parenting dibahas, diajarkan, dan dilatih di mana-mana. Even di Gramedia, ada rak penjualan buku khusus untuk tema-tema parenting.

Kami yakin tidak ada manusia yang sempurna. Bagaimana orang tua kami menjalankan parenting juga tidak sempurna. Ada beberapa “kesalahan” yang mereka lakukan. Namun kembali ke diri kami apakah mau mengulangi kesalahan tersebut atau justru melakukan yang benar dan seharusnya.

PS: Anak-anak yang dititipkan oleh Allah kepada kami masih kecil-kecil. Kami bukan pelaku parenting yang sukses. Parenting yang sukses menurut kami baru bisa diukur pasca anak-anak tersebut sudah menikah dan menjadi orang tua pula. Catatan ini sekedar catatan pribadi saja. Bukan berbagi kebenaran. Mudah-mudahan memberikan manfaat bila memang cocok atau inspiratif bagi kamu yang membaca.

Belajar dari Sepuluh Cucu

Selama puluhan tahun hidup di dunia, saya pernah berkesimpulan dan berkeyakinan bahwa belajar itu harus dari expert-nya. Percuma, sama-sama belajar dari yang bahkan belum tahu sedikit pun. Alhamdulillah, belasan tahun sekolah bisa belajar di sekolah-sekolah yang fasilitasnya oke. Tahu sendiri, ‘kan, sekolah berfasilitas oke menunjang kita untuk bisa masuk ke sekolah yang sejenis. Minimal sekolah negeri dengan brand yang sudah oke punya.

Ibarat kata, anak Bandung mau masuk ITB itu harus melalui jalur sutera dulu. Ini secara umum saja ya. SD-nya SD yang itu, SMP-nya boleh pilih satu di antara dua SMP negeri tersebut, dan nanti SMA-nya yang satu itu. Supaya bisa ramai-ramai pindah dari SMA ke ITB. 

Tapi ternyata itu semua tidak cukup. Learn from the expert is one thing. Do (or execute) it seamlessly is another thing. Belajar dan menjadi pintar tidak akan pernah cukup, dong. Makanya kita belajar dan menjadi expert juga dalam eksekusi, ‘kan. Kenyataannya, eksekusi tidak semudah teori-nya. Materi-materi pelatihan tentang sales and distribution itu ya itu-itu aja. Almost nothing new. But the important one is how good you are in those execution. Unilever Indonesia beken banget tuh dengan execution-nya. Bahkan sampai seorang dirut Bank Mandiri pun menyadari pentingnya lalu menulis buku tersendiri mengenai execution. 

Saya belajar langsung dari anak-anak (sendiri maupun beberapa ponakan–cucunya orang tua sudah ada 10 orang saat ini) bahwasanya teori-teori sederhana yang kita ajarkan kepada mereka; tidak semudah itu dilaksanakan. Dalam hal ini, orang dewasa sama dengan anak-anak. Bahwa apa yang diketahui, alias teori, belum tentu dikerjakan dengan baik. Anak-anak diberi tahu bahwa menonton TV tidak boleh dekat-dekat. Tapi tetap saja mereka melakukannya. Sembari diiringi dengan gumaman khas anak-anak, yaitu merapal ulang teori yang pernah diajarkan berulang-ulang. Rasanya orang dewasa juga demikian ya.

Many times, they should be remind (again, again, and again) about it –and they keep doing it. Bukan masalah mengingatkannya. Tapi ternyata, mungkin begitu adanya ya, manusia itu perlu diingatkan, dan diingatkan terus. Manusia itu tempatnya lupa. Eh salah. Lupa itu mungkin memang tempatnya ya di manusia.

Dan tidak hanya itu, di samping terus-menerus direfleksikan ke teori-teorinya, expertise adalah sesuatu yang diraih karena rutinitas pelaksanaanya. Peribahasa manusia jadulnya, –ketahuan angkatannya–Alah bisa karena biasa. Bahasa kerennya persistent/perseverance/resilience.

Dua, manusia itu butuh dan ingin berkomunikasi.

Orang dewasa, jelas. Punya gagasan yang ingin disampaikan dan ingin mendengar pula opini dari orang lain. Bagaimana dengan anak-anak? Anak-anak butuh mendengar dari kita. Karena dari situlah kita dapat menegaskan hal-hal baik dan mencegah hal-hal buruk (Amar Ma’ruf Nahi Mungkar).

Anak-anak juga perlu belajar menyampaikan pendapat, ide, dan perasaannya. Karena di situlah terletak penghormatan dan penghargaan terhadap mereka. Dalam hal ini, tidak ada bedanya dengan saya dan semua teman-teman di SMA yang menjalani latihan pidato selama dua jam setiap jumat setelah makan siang.

Lagi-lagi, anak-anak sama dengan orang dewasa. Anak-anak pada umumnya memiliki pengetahuan yang lebih terbatas. Tapi itu bukan alasan untuk mengabaikan apa yang mereka sampaikan, maupun menutup-nutupi dari apa-apa yang ingin mereka dengar.

Key(s) Takeaway

Tulisan hari ini semata-mata pengingat bagi saya, untuk memperlakukan orang lain, baik anak-anak maupun dewasa, yaitu sebagaimana seharusnya. Bahwasanya, manusia itu ingin mendengar what we would like to say, di samping ingin didengar juga pendapatnya. Above all, manusia juga ingin dihormati (tidak disepelekan) dan dihargai (ikut dijunjung) atas apapun yang ada pada diri mereka. Sesedikit apapun itu.

Saya dulu abai terhadap pendapat orang lain. Dalam arti, you should prove it by yourself first, then I would like to consider your opinion. Banyak atau sedikit, ini adalah tempaan dari lingkungan semasa saya kecil dulu. 

Kedua, that’s what education should do. Treat the children and adults by the same principles. Penghormatan dan penghargaan pada tempatnya. Salah satunya, supaya anak-anak dapat menjadi pribadi yang dewasa. Sebagaimana quote senior saya, kurang lebih begini,

“Itulah sejatinya pendidikan karakter.. mematangkan dan menghilangkan ketergantungan prefrontal cortex terhadap immediate rewards (Dopamine dan Serotonin) oleh kesenangan sesaat.”

Jadi begini, maksud quote tersebut, orang dewasa yang kekanak-kanakan, salah satu cirinya adalah menghendaki apresiasi yang secepat mungkin. Yang di dalam otak kita, lebih tepatnya di bagian prefrontal cortex, itu distimulus oleh senyawa kimi yang diberi nama Dopamine, sama satu lagi Serotonin. Mengapa bisa demikian?

Kata saya sih, sebabnya adalah kita kurang membiasakan atau kurang menyamakan dari generasi ke generasi tentang yang saya sebut penghormatan dan penghargaan kepada anak-anak. Saya merasa banget lho, tidak mendapat hal yang saya maksud.

Akhirnya saya jadi sok-sok hanya melihat dan menghargai seseorang hanya dari ekspertise-nya saja atau hanya dari loe-itu-sejago-apa-sih. Belum termasuk kerendah-dirian yang saya bawa sejak kecil. Memang sih, kampus mengajarkan, meyakinkan, dan membentuk saya merasa lebih confidence. Namun ternyata itu hanyalah overconfidence yang tidak pada tempatnya. Bahkan cenderung merupakan sebuah kesombongan semata.

Konon, oleh Ki Suratman, Taman Siswa bernama “Taman” karena di sanalah, dengan proses pendidikan seperti itulah, seharusnya education itu dilakukan. Sebagai sebuah taman (unsur tanah, sinar matahari, dsb) tempat bertumbuh-kembang, tanggung jawab pendidikan adalah tanggung jawab semua orang–terutama orang tua si anak sendiri.

membangun-komunikasi-dengan-anak
ini bukan keluarga kecil saya, ya. jumlahnya sih sama. tapi itu bukan kami. hehehehe. dari parentinganak.com