Hal-Hal yang Perlu Diketahui Sebelum Renovasi Rumah

Dalam dua tahun terakhir, kami merenovasi rumah. Bangunan ini sudah jadi ketika kami beli dari pemilik lama. Post ini memuat rencana dan persiapan apa saja sebelum renovasi rumah.

Disclaimer: Tidak membahas renovasi rumah yang dibeli dari pengembang (developer).

Seiring bertumbuhnya keluarga, anak-anak bertumbuh besar dan memerlukan ruang-ruang kamar dan bangunan rumah secara keseluruhan yang lebih besar, kami memutuskan merenovasi rumah supaya lebih aman (tadinya pagar kurang tinggi) dan nyaman (secara pencahayaan dan sirkulasi udara). Di samping, mengakomodasi perkembangan kebutuhan kami sebagai keluarga, ya.

Sekadar cerita saja, rumah yang kami tempati saat ini adalah rumah keluarga besar yang tidak ada penggunanya; kecuali saya sekeluarga berdomisili di kota yang sekarang ini. Kalau kami tidak cari makan dan mengebulkan dapur di kota ini, rumah tua sejak akhir 1980-an ini lebih baik dicarikan pemilik barunya saja.

Rumus-rumus bangunannya ya sama. Soal pondasi, beban, tiang/kolom, balok gantung, dll sama saja.

Perbedaannya pada “kejutan” yang diberikan. Karena rumah kami dibangun bukan oleh/bersama kami sendiri, maka kami belum tahu persis “dalaman” si tembok, pondasi, kolom, jaringan, jenis dan panjang kabel yg ditanam. Maksudnya, apakah jumlah dan ukuran materialnya sudah sesuai kebutuhan atau belum, implementasinya memudahkan kita untuk mengontrolnya atau tidak, saluran pembuangan air ada bak kontrolnya atau tidak, dan seterusnya.

Rumus pertama, start from your own biggest picture. Renovasi bisa dilakukan bertahap, sesuai keadaan kantong, hehehe. Tapi jangan sampai merombak hasil renovasi yang sebelumnya. Itu mencerminkan kegagalan kita dalam mengenali kebutuhan pengguna dan mendesain ruang untuk memenuhi fungsionalitas yang diinginkan. Jadi, gambaran besarnya harus matang sejak awal dan sebaiknya tertuang di atas kertas — supaya enak berdiskusi lagi untuk renovasi lanjutan.

BACA JUGA:  Lima Kesalahan Pebisnis Kafe yang Harus Anda Ketahui Sebelum Membuka Kafe Baru

Kedua adalah, tetap berperan sebagai pemilik si proyek. Alias project owner-nya adalah kita sendiri. Baik kita mengelola sendiri, maupun dibantu oleh PM (project manager) yang kita pekerjakan. PM yang saya maksud itu mengelola spesifikasi dan kualitas hasil pekerjaan, lama pekerjaan, dan biayanya. Tentu ini diawali oleh suatu mekanisme penawaran alias proposal ya. Yang diikuti dengan kesepakatan antara kedua pihak.

PM yang saya maksud, bahasa lokalnya adalah pemborong. Bedakan ya dengan kepala tukang.

Dalam perjalanan pekerjaan di lapangan, seperti sudah disebutkan di atas tentu akan menemui kendala yang mengejutkan, yang berbeda dengn perencanaan di awal. Sehingga, di antara kedua peran di atas wajib berkomunikasi dengan baik dan menemukan win-win solution.

Segitiga Manajemen Proyek.

Antara kualitas, waktu, dan harga saling terhubung satu sama lain. Hanya dua faktor yang bisa dipenuhi, dengan satu faktor lagi wajib kita maklumi.

  • Mau bertahan di kualitas dan waktu yang cepat, sangat mungkin biaya jadi membengkak,
  • Mau kualitas bagus dengan harga murah, pengerjaan akan lama,
  • Mau pengerjaan cepat dengan harga murah? Aspek keselamatan (safety) dari bangunan bisa dikorbankan. Ujung-ujungnya penghuni juga yang jadi korbannya.

Kalau saya, lebih mengutamakan kualitas dan waktu. Konsekuensinya di harga. Mahal tidak masalah selama harga tersebut masuk akal dibandingkan dengan harga pasarnya secara umum. Lebih baik terasa mahal sekarang, daripada kita mengorbankan uang lagi di masa depan karena memperbaiki kerusakan yang terjadi akibat renovasi kali ini.

BACA JUGA:  Memilih Olahraga yang Tepat

Di sisi lain, lebih baik mahal sedikit daripada mengulur-ulur si proyek itu sendiri. Kasihan kitanya sebagai penghuni, kalau berlama-lama tinggal dalam ketidaknyamanan karena rumahnya sedang direnovasi, hehehe.

Anggaran dan Realisasi

Dari desain arsitektur-interior yang sudah ada, diturunkan menjadi tahap-tahap renovasi. Yang perlu diprioritaskan adalah pembuatan/penambahan pondasi; karena merupakan tumpuan bangunan di atasnya serta biayanya lebih tinggi daripada komponen yang lain (tembok, kusen-kusen, dll).

Dari sisi letak-letak ruangan, yang terletak lebih belakang/dalam, didahulukan daripada yang di sisi depan bangunan. Untuk memudahkan pembuangan sampah bangunan (brangkal) melalui mobi pickup via jalan raya.

Soal biaya, jangan kaget kalau jebol/bertambah 30% dari yang dianggarkan. Jadi, siapkan saja buffer-nya.


Sedikit preview aja dari bangunan yang kami kerjakan:

Apakah kamu ada pengalaman lain soal merenovasi rumah? Silakan share di kolom komentar ya.

Leave a Reply