Lima Kesalahan Pebisnis Kafe yang Harus Anda Ketahui Sebelum Membuka Kafe Baru

Kafe dengan desain interior yang menarik, mentarget anak muda, menyediakan makanan ringan, hingga beragam jenis kopi (espresso, americano, latte, cappucino, dll) sudah sangat biasa.

Bahkan kompetisinya pun terasa semakin ketat. Tempat tinggal saya di Tubagus Ismail, yang sekitar belasan tahun lalu masih termasuk daerah sepi, semakin ke sini semakin ramai dan komersil. Tidak terkecuali oleh kafe. Tipikal bisnis yang satu ini semakin merangsek ke “pedalaman”. Meski menjauhi kampus, namun tingkat keramaiannya tidak kalah dengan kafe yang bermukim di sekitar kampus.

Menurut asal Bahasa (Prancis)-nya, cafe (akar kata kafe) secara harafiah berarti minuman kopi. Sekarang ini kafe tidak lagi sekedar minuman kopi, melainkan sudah menjadi “wahana kuliner” yang menyediakan beragam kopi serta sekaligus makanan ringan. Tidak pula sekedar menjajakan makanan dan minuman, namun jual experience sekaligus event.

Kafe itu bisnis yang semakin menjamur seiring dengan membludaknya jumlah kelas menengah di Indonesia. Sebab, segmen ini punya kebiasaan “seen and to be seen” alias ingin melihat dan dilihat oleh orang lain. Pasti cool rasanya kalo terlihat punya komunitas, atau kelihatan sedang sibuk meeting membahas proyek bersama partner, dan seterusnya.

Kalau terlihat sendirian, entah masih disangka menunggu teman-teman datang, atau memang jomblo tulen yang hampir lumutan.

Bagaimana membuat bisnis kafe jadi luar biasa? Ada beberapa kesalahan yang kerap kurang diperhitungkan secara strategis oleh para pemilik kafe sehingga bisnis kafe-nya belum berumur panjang tetapi sudah harus ditutup.

Kesalahan pertama. Berharap traffic datang dengan sendirinya.

Baiknya, memang sudah ramai. Cara mengukur keramaian: menghitung berapa banyak sepeda motor dan kendaraan roda empat yang melalui jalan tersebut.

Traffic juga bisa kita perhitungkan secara strategis. Contoh: buka warung bakso bersebelahan dengan usaha cuci mobil. Warung bakso jadi punya captive market (pasar yang sudah jelas akan berbelanja di mana) ‘kan. Atau jual makanan ringan yang tepat untuk segmen usia SMP atau SMA. Dan outletnya dibuka persis di samping bimbingan belajar (bimbel).

Kesalahan kedua. Tidak membangun komunitas.

Bisa dikonsepkan sejak awal, bisa pula dibangun sambil jalan. Misalnya, kafe berbasis suporter klub bola dikesankan oleh sebagian orang adalah kafe yang menutup diri terhadap suporter lain. Tidak begitu juga. Karena dengan membangun kafe berbasis suporter, misalnya seperti Kafe Persib di Jalan Sulanjana Bandung, justru terbangun ketahanan usahanya karena pelanggan sekaligus evangelist-nya tersebut selalu mengunjungi dan berbelanja di sana.

Evangelist itu semacam pelanggan yang lebih dari pelanggan biasa. Alias pelanggan luar biasa. Karena selain berbelanja, dia juga ikut mempromosikan. Baik via word of mouth (WOM) atau social media miliknya.

Kesalahan ketiga. Tidak mengadakan event.

Bentuknya bisa apa saja. Mulai dari nonton bareng sepakbola (terutama liga eropa di akhir pekan), show dari band lokal, stand up comedy, dan lain sebagainya. Kalau nobar sepakbola, tolong buat jadwal yang jelas ya. Kapan mulai boleh datang –soalnya bisa jadi bentrok jadwal dengan pertandingan sebelumnya — sampai dengan kapan pertandingan dimulai (kick-off). Saya pernah abai sama informasi dari suatu kafe, sehingga harus berkeliling dahulu bersama teman, karena saya salah menangkap informasi waktu kick-off tersebut.

Event tidak selalu untuk menarik crowd sehingga omzet naik drastis ya. Namun omzet juga bisa direkayasa melalui kerjasama dengan sponsor yang bersedia untuk menyumbang. Yang diincar oleh para sponsor ini adalah event sebagai sebuah medium untuk berkomunikasi dengan segmen yang sudah sesuai dengan target mereka.

Kesalahan keempat. Ambience kafe yang kurang tepat.

Ambience is the character and feeling of a place. 

Desain kafe tidak hanya untuk mendapatkan penampilan yang ‘tepat’. Tetapi juga merancang pengalaman (experience) dari pengunjung. Betul-betul harus didesain sedemikian rupa sehingga tidak terasa sebagai minum air kopi saja. Melainkan benar-benar ada pengalaman yang diperoleh pelanggan.

Pelanggan yang puas dengan service yang diberikan, in shaa Allah akan kembali berbelanja di kita. Tidak mungkin kita selalu mengharap kedatangan pembeli baru, ‘kan?

Apakah kafe harus selalu indoor? Tidak juga. Yang penting tidak ada masalah dengan kafe yang memiliki area terbuka (outdoor) yang penting ada solusi untuk menghindarkan pengunjung manakala hujan turun.

Kesalahan kelima. Perwujudan efisiensi rantai suplai.

Ayolah, anda tidak hanya berharap kafe adalah satu-satunya bisnis anda, ‘kan? Kafe, sebagai sebuah bisnis hilir, sesungguhnya mempunya potensi lebih. Yaitu sebagai showroom dari produk atau layanan anda yang lain. Misalnya keluarga anda memiliki usaha katering yang sudah turun-temurun diwariskan dari nenek moyang. Sayang dong bila salah satu produk andalan dari katering tersebut tidak ditampilkan dan dipromosikan di kafe anda.

Sebagai sebuah hilir dari bisnis yang lain, ini adalah alternatif ‘curi start’ yang bisa dilakukan. Eksklusifitas dari brand (fesyen/kuliner, dll) milik anda semakin terjaga bila hanya didistribusikan di channel tertentu (baca: kafe milik anda) saja.

Visual merchandising-nya harus oke punya. Display-nya harus atraktif dan mengundang pembeli untuk berbelanja. Kata-kata yang ditampilkan harus mudah dipahami, harga tertera dengan jelas (menjadi jelas pula benefit yang ditawarkan), .

Simpulan. Sebagaimana bisnis-bisnis pada umumnya, masing-masing memiliki karakteristik risiko yang unik. Penanganan terhadap risiko bisnis kafe, sudah kita eksplorasi dengan jelas di atas.

Nah, bila kita tidak mampu mengelola risiko tersebut hingga benar-benar “jebol”, kapan kafe harus ditutup?

Ketika (1) pemilik kafe tidak lagi mendapatkan laba, kecuali kafe tersebut memang sarana berkumpul dengan sahabat-sahabat dekatnya (2) labanya tidak seberapa dibandingkan dengan tenaga, waktu, pikiran, dan uang yang keluar (3) sebelum kafe tersebut mengalami rugi yang lebih besar lagi.

Related Post:

Kapan Sebaiknya Kuliah S2?

(artikel ini saya sharing berdasar cerita kawan-kawan saya ketika mengambil program s2)

Lulus S1, bekerja, kuliah S2 reguler. Bosan dengan pekerjaan, jadi salah satu alasan para early jobber mengambil program s2. Alasan lain adalah kangen kembali ke kampus dan pergi belajar. Dan beberapa alasan lainnya. Yang intinya adalah, saat bekerja malah ingin belajar. Padahal ketika belajar malah ingin bekerja alias cari duit. Yang harus diperhatikan adalah syarat umur ketika lulus S2 dan ingin berkarir kembali. Beberapa perusahaan, terutama untuk program Management Trainee (MT) mensyaratkan maksimal usia adalah 28 tahun. Sudah sedikit sekali yang mensyaratkan 30 tahun.

Lulus S1, langsung S2. Untuk mereka yang belum bosan belajar, boleh mengambil cara ini. Keunggulannya adalah hemat waktu. Istilahnya, serba sekalian. Sekalian jadi Master, sekalian memperdalam bidang ilmu yang dulu ditekuni, sekalian meneruskan kost-kostan. Cara ini  kurang cocok untuk mereka yang langsung dianggap mandiri oleh ‘investor kuliah’ atau mungkin orang tua. Hehehe 😀 Alias kurang cocok untuk mereka yang harus bekerja dulu beberapa waktu menikmati gaji serta harus menabung sendiri untuk biaya S2.

Sambil bekerja, mengambil S2 di akhir pekan. Menurut pengamatan, cara ini melelahkan. Kuliah tapi kok ya engga fokus belajar. Kerja tapi koq engga bisa menikmati liburan di akhir pekan. Mereka yang kuliah di akhir pekan ternyata jarang menyentuh buku di malam-malam weekdays. Alasannya sederhana: CAPEK!! Giliran harus kerja kelompok, baru bisa di hari jumat atau sabtu. Jelas tidak optimal. Baik membaca maupun mengerjakan tugasnya. Dan cenderung minta dosen mempercepat pulang ketika kuliah di weekend. Hehehe 😀

Nikah dulu baru S2, apa S2 dulu baru nikah? Hehehe 😀 Sebenarnya sama-sama engga masalah, selama duitnya ada. Tah, eta tah! Justru di sini ternyata masalahnya. Bingung dengan duit yang belum banyak, mau mendahulukan yang mana 😀 Saran saya siy, kalau sudah ada calon dan sudah ada dana ya dahulukan saja menikah. Toh, menikah adalah ibadah. Ya kan? Kalau pun keburu ada tanggungan anak, tinggal mencari beasiswa saja. In shaa Allah, Maha Pemberi Rezeki akan mencukupkan kebutuhan hamba-hamba-Nya yang senantiasa berdoa memohon rezeki yang melimpah (Aamiin!!). Mau mengundur kuliah padahal satu semester sudah berjalan? Ya tidak apa, tho S2 bisa dilakukan kapan saja kan. Bagaimana dengan kasus sebaliknya? Jelas, dahulukan S2 dong daripada mau  menikah tapi belum ada calon #ehh. Disclaimer: tidak bermaksud menyindir oknum-oknum tertentu.

Pesan paling penting: jangan kuliah, karena mengejar gelar. jangan pula kuliah untuk menaikkan karir. Meski gelar pendidikan adalah syarat naik jabatan. Tapi bagaimanapun, berkuliahlah untuk belajar. Karena belajar adalah cara kita untuk menjadi lebih baik dari waktu ke waktu

Sales Supervisor

Kriteria penting untuk menjadi area sales manajer adalah mampu mengelola tim. Mampu berhubungan baik dengan anggota tim dan mampu memotivasi kinerja mereka. Sesekali harus menyediakan waktu untuk melakukan visit kepada customer. Di samping untuk mendengar langsung masukan dari pelanggan, serta untuk mengevaluasi kinerja anggota tim yang melayani pelanggan tersebut. Anggota tim belum tentu semuanya adalah sales yang turun ke lapangan. Salah satu anggota tim adalah Sales Administrator atau Sales Admin.

supervisor

Sales administrator. Day-to-day bekerja di kantor mengelola berbagai dokumen penjualan. Mengkoordinasikan sales manager, sales supervisor, dan tim sales lainnya dalam perihal laporan-laporan yang dibutuhkan. Alias menagih tim sales untuk membuat laporan. Bahkan mungkin membuat laporan penjualan untuk area yang dipimpin oleh sang Sales Manager. Di samping itu adalah menghimpun dan merangkum database pelanggan. Selain itu, bisa jadi menerima order/pesanan dari pelanggan via telepon.

Orang yg menghandle area di perusahaan adalah area sales manager. Jadi wilayah penjualan yang dipertanggung-jawabkan olehnya, dibagi-bagi lagi menjadi territory yang lebih kecil. Wilayah penjualan ‘kan tidak hanya soal menjual sebanyak-banyaknya. Tetapi juga bagaimana menjaga dan mempertahankan pelanggan. Masing-masing territory dipegang oleh Territory Sales Supervisor (TSS).

Kalau sedang melamar kerja, lalu ditawari posisi Sales Supervisor, coba dianalisis terlebih dahulu jabatan Sales Supervisor yang ditawarkan. Apakah di perusahaan pemilik produk (brand owner)? Atau dari perusahaan distributor?

Job desk sales supervisor

Bila bekerja di perusahaan brand owner.

  • Sebagai bagian dari perusahaan yang berhadapan langsung dengan distributor pelaksana
  • Sales supervisor melaksanakan sistem penjualan yang sudah dikembangkan oleh perusahaan
  • Sales supervisor sebagai perwakilan perusahaan, sehingga wajib menjaga citra perusahaan
  • Boleh berteman baik dengan orang dari distributor, tetapi tidak perlu curhat yang dapat menurunkan kredibilitas diri atau citra pribadi

Tugas Sales Supervisor

Apabila distribusi dilakukan oleh tim sendiri. Bukan oleh distributor yang ditunjuk.

  • Pemimpin tim kerja (tim nya ada driver, salesman taking order, merchandiser, sales admin, dll) sehingga harus membentuk tim kerja yang solid
  • Memotivasi, melatih, mengembangkan salesman serta mengevaluasi kinerja salesman
  • Memecahkan masalah tim
  • Mengontrol perubahan

Keterampilan TSS

  • keterampilan administratif
    • keterampilan mengelola dokumen
    • keterampilan mengkoordinasi laporan-laporan yang dibutuhkan
    • keterampilan mengelola berbagai hal yang berhubungan dengan administrasi penjualan
  • keterampilan human relation
    • komunikasi
    • konseling
    • pendelegasian
    • kepemimpinan
    • penyelesaian konflik
  • keterampilan teknis
    • pengetahuan produk sendiri, produk kompetitor, serta produk substitusi
    • keterampilan menjual dan negosiasi
    • pengetahuan pelanggan dan wilayah
    • pengetahuan pasar/industri

Tugas Penting Salesman

Menurut salah seorang pakar pemasaran, Kotler, seorang salesman juga memiliki beberapa tugas-tugas penting yang meliputi:

1. Prospecting (Mencari prospek).
2. Targeting (Menentukan alokasi waktu mereka diantara prospek dan para pelanggan).
3. Communicating (Menyampaikan berbagai informasi seputar produk yang telah dihasilkan oleh perusahaan).
4. Selling (Melakukan pendekatan, presentasi, menjawab pertanyaan/keberatan , dan menutup penjualannya).
5. Servicing (Memberikan layanan bagi pelanggan, mengatasi keluhan, memberikan bantuan teknis, mengatur keuangan, dan untuk mempercepat pengirimannya).
6. Information gathering (Melakukan riset terhadap pasar (meliputi pelanggan dan kompetitor) dan menentukan tindakan seperti apa yang paling tepat untuk permasalahan tersebut).
7. Allocating (Memutuskan pelanggan mana yang nantinya akan mendapatkan produk yang langka selama masa kehabisan barang).

Melakukan riset terhadap pelanggan dan melakukan competitor benchmarking. Mengetahui taktik-taktik yang dilakukan oleh kompetitor.

Maka dari sinilah peran sales yang sangat penting bagi perusahaan agar perusahaan mampu menghasilkan pendapatan yang kemudian akan dikelola lagi agar bisa menghasilkan produk.

Namun dengan perkembangan bisnis yang sudah semakin pesat dan semakin membludaknya produk-produk baru di pasaran, maka persaingan yang semakin ketatpun menjadi tidak mungkin bisa terhindarkan. Seorang salesman akan semakin dituntut untuk menjadi lebih kreatif dan harus memiliki inovasi agar bisa menjadi the smart salesman, dalam menghadapi kuatnya persaingan tersebut.

Smart Salesman 

Berikut ini merupakan beberapa tips dalam membuat strategi penjualan yang harus Anda coba agar dapat menjadi seorang the smart salesman:

  1. Melatih diri untuk menggali ide-ide baru.

Ide-ide baru seputar mendapatkan pembeli baru, mempertahankan pelanggan lama, menagih pelanggan, mengeluarkan lebih banyak barang dari gudang, dan lain sebagainya.

Ide-ide baru bisa didapatkan dari mana saja dan kapan saja. Dari sharing dengan sesama teman-teman salesman, atau pengamatan langsung pada saat berada di lapangan.

2. Menganalisis untuk mengeksekusi ide-ide tersebut.

Setelah mendapatkan ide baru, maka buatlah analisis untuk langkah-langkah seperti apa yang harus dilakukan untuk menjalankan ide-ide tersebut. Membuat analisis akan sangat membantu Anda untuk mereview kembali tentang apa saja kelebihan dan kekurangan dari ide-ide tersebut serta untuk menentukan bagaimana jalan keluar terbaiknya.

Dasar analisis ini adalah insight yang diperoleh dari pelanggan/pasar. Serta taktik penjualan yang dilakukan oleh kompetitor.

Anda bisa mengajukan pertanyaan tentang “ bagaimana Anda dalam melihat cara tersebut agar menjadi lebih efekti?, bagaimana orang lain yang dapat melihat jika cara tersebut bisa menjadi lebih efektif? Bagaimana para konsumen agar dapat dengan mudah untuk mengetahui strategi seperti apa yang ingin dijalankan? Bagaimana para kompetitor mampu menghadapi cara tersebut?”,  yang dapat membantu Anda untuk lebih mempermudah dalam memetakan langkah-langkah seperti apa yang harus bisa diambil.  Jangan pernah merasa ragu untuk membuat perubahan.

3. Memiliki mental yang cukup kuat.

Melakukan sebuah perubahan dan menjalankan hal-hal yang baru memang bukan sebuah perkara yang mudah untuk dilakukan. Dibutuhkan adanya mental dan komitmen yang cukup kuat dalam menjalankan hal-hal yang baru dapat memberikan tantangan tersendiri.

Seorang salesman harus tahan banting karena pasti sering ditolak oleh pelanggan.

Termasuk ketika memiliki ide baru. Belum tentu diterima oleh lingkungan. Sehingga dibutuhkan mental dan komitmen yang kuat dalam mengeksekusi ide baru tersebut.

4. Menjadi seorang pembelajar yang baik.

Belajar dari semua orang. Dari pelanggan, dari teman salesman, dari Sales Manager, dan seterusnya.

Kalau berhasil belajar dari teman-teman kantor –selain salesman–, mungkin bisa mendirikan usaha sendiri.

Untuk bisa menjadi seorang salesman yang lebih kreatif, maka Anda harus mulai untuk banyak belajar, baik secara langsung dari lapangan atau dari berbagai sumber terpercaya. Tetap terus untuk mengembangkan pengetahuan dan dari wawasan untuk meningkatkan kualitas Anda.

Dengan adanya kreatifitas dan inovasi dalam membuat strategi terbaru maka akan semakin membuat Anda dapat tampil semakin lebih berbeda, dimana ‘perbedaan’ seperti inilah yang nantinya akan mampu menarik para konsumen, sehingga semakin lebih memudahkan bagi Anda untuk mencapai target penjualan.

Jangan takut gagal mencapai target. Bisa jadi memang perusahaan mematok pertumbuhan yang berlebihan.

Referensi:

  • http://trainingpemasaransurabaya.com/?p=1823

Padi Reborn, Piyu, dan Jualan Musik Jaman Now

Tepat pada 10 November 2017 lalu, Band Padi dilahirkan kembali dengan nama Padi Reborn.

maxresdefault

Padi ini band masa kecil saya. Sekitar kelas 6 SD saya sering dengar lagu Sobat di radio. Waktu itu kami masih dengar musik dari kaset. Tapi Padi yang waktu itu belum ada kasetnya. Lalu Album Lain Dunia keluar. Saya suka dengan lagu-lagu selain Sobat juga.

Di album berikutnya, ternyata ada lagu berjudul “Lain Dunia”. Kayaknya judul album lama adalah salah satu lagu di album berikutnya. Padi ini pintar mengelola loyalitas fans-nya. Dan benar adanya di album kedua: Sesuatu yang tertunda. Intinya, hampir semua lagu-lagunya Padi saya suka.

Bagi saya, Padi Reborn tidak mengembalikan Padi yang dulu. Setidaknya belum. Saya memahami maksud mereka untuk menandai kembalinya mereka di industri musik tanah air. Instead of sekedar menggunakan nama awal atau nama asli, Piyu dkk menggunakan nama Padi Reborn.

Padi Reborn tampil pertama kali di sebuah konser yang disiarkan langsung oleh RCTI pada 10 November lalu. Selanjutnya mereka akan menjalankan tur konser mini mulai dari Palembang (11 November), Bandung (18 November), Yogyakarta (25 November), dan Makassar (9 Desember). Ada juga konser Padi Reborn di GTV. Saya lupa persisnya tanggal berapa.

Tidak mungkin Padi Reborn kembali hanya untuk bermusik tanpa memperhatikan aspek-aspek bisnisnya. Dapur harus terus mengepul, bukan?

  • Konser di GTV ada sponsor khususnya. Saya lupa brand apa saja. Yang jelas ada dua brand. Selain logo ditampilkan di panggung, TVC nya juga berulang kali ditayangkan ketika rehat iklan.
  • Tur konser mini, biasanya selain didanai oleh sponsor, juga ada dana masuk dari penjualan tiket. Sebagai band legendaris, tentu tiket konser Padi Reborn bisa dijual mahal.
  • Selanjutnya harus rajin bikin single/album baru. Sembari memikirkan strategi dan taktik bisnisnya lagi.

Kenapa Padi dulu vakum? Bahkan sampai 7 tahun. Seakan tidak akan pernah bangkit lagi. Saya tidak tahu persis jawabannya. Mungkin keduanya, atau satu, atau tidak sama sekali dari dua poin berikut ini ada yang benar.

  • Pastinya selera musik sudah bergeser. Secara konten mungkin musik-musik legendaris seperti Padi, Dewa, dll sudah mengecil pasarnya. Bukan di core fans-nya yang mengecil. Namun menambah prospective clients yang semakin sulit. Karena itu tadi, tren selera musik sudah bergeser.
  • Dari sisi bisnis, pembajakan tetap saja sulit diatasi. Sementara konten musik beralih ke digital. Berimbas pada dari mana datangnya duit, serta ke channel mana konten harus disalurkan. Mungkin Piyu khawatir dengan pembajakan? Jelas. Sebagaimana disampaikannya dalam Piyu: from Inside Out.

Sebagaimana kita tahu, KFC kini adalah salah satu saluran penjualan musik digital. KFC butuh added value bahwa restorannya bukan sekedar fastfood dengan ayam goreng tepung sebagai menu utama. KFC ingin lebih relevan dengan anak muda yang jelas-jelas target pasar mereka.

Dan bagi record label, distribusi CD via KFC lebih baik daripada ke toko CD. Bahkan CD-nya bisa bundling dengan paket makanan. Artinya, KFC sudah beli duluan ke record label-nya. Gerai KFC ada banyak sekali. Jualan CD dapat banyak duit dong. Bagi record label, iya. Belum tentu bagi musisinya.

Musikimia

FYI, Fadly, Rindra, Yoyo, bersama gitaris Stephan Santoso membentuk sebuah band bernama Musikimia. Kita sudah tahu tiga nama pertama ini pentolan Padi. Stephan Santoso ini tadinya orang label. Bekerjanya di belakang layar. Baru bersama Musikimia tampil sebagai pemain. Bisa dibilang Musikimia ini orang-orang experienced semua. Jual single dan albumnya jadi lebih mudah. Bukan beberapa anak muda yang sedang coba-coba. Apalagi gitaris Padi sendiri, Ari yang jadi manajernya. Saya suka dengan lagu Kolam Susu. Aransemennya oke punya.

Fadly sendiri pernah bikin dan menyanyikan dua lagu untuk anak-anak. Baca Bukumu dan Kakakku Sayang. Lagunya bagus, kok. Mata saya sampai berkaca-kaca mendengar lagu yang kedua. Untungnya air mataku tidak tumpah.

Brand Padi

Band Padi ini kuat karena punya karakter. berbeda terutama dalam hal alunan gitar yang begitu dominan, vokal si vokalis Fadly yang tidak ada samanya dengan vokalis manapun, serta drummer Yoyo yang punya karakter kuat dalam menabuh drum.

Satu lagi adalah lirik lagu yang dalam maknanya. Konon, Padi menciptakan liriknya dulu, baru menulis komposisi musik yang tepat untuk lirik-lirik tersebut. Dalam hal penulisan lirik, Piyu memang mendominasi. Terlepas cerita tersebut benar seluruhnya atau tidak, sepenggal konten tersebut memang jadi story yang berkali-kali diceritakan oleh Padi.

Piyu

Album Best Cuts of Piyu, menurut saya pribadi tidak lebih baik daripada lagu-lagu yang sama dan dinyanyikan oleh Padi. Album ini pernah dimainkan di NET TV dalam program Musik Everywhere. CMIIW.

Saya sendiri hanya suka lagu Firasat yang dibawakan bersama dengan Inna Kamarie. Dan satu lagu yang dinyanyikannya sendiri dengan piano: Sakit Hati.

Konten lagu yang dibuat Piyu memang berevolusi vokal dan aransemennya. Namun, menurut saya, tidak bisa menggantikan Padi. Karena memang, kebanyakan sudah dinyanyikan oleh Padi. Penyanyi-penyanyi tersebut tidak bisa menyajikannya berbeda tapi lebih baik daripada Padi. Bagaimana Fadly menyanyikannya, bagaimana Yoyok menabuh drumnya, bagaimana aransemen gitar dan bass dari Ari dan Rindra tidak terlupakan dan tidak tergantikan.

*berbeda dengan Sempurna-nya Gita Gutawa yang banyak orang bilang lebih baik daripada Sempurna-nya Andra and The Backbone

Lagu-lagu yang Piyu ciptakan untuk Padi penuh dengan semangat hidup dan optimisme. Setiap lagu yang bertema cinta dalam album-album Padi memberikan makna hidup baru dalam memahami cinta. Dari Piyu, kita tahu bahwa cinta bukan hanya sekadar kata dan cinta tak hanya diam — dari lirik lagu Tak Hanya Diam.

Lagu-lagu yang ia ciptakan untuk Padi punya spirit berbeda dari lagu-lagu yang ia ciptakan untuk para penyanyi lain. Lagu-lagu yang ia ciptakan sekarang penuh dengan lirik melankolis seolah-olah hidup itu selalu dibayang-bayangi depresi dan sakit hati.

Lagu-lagu Piyu yang ia ciptakan untuk Padi selalu hadir dengan konsep matang. Hal itu wajar bila kita melihat rentang waktu dari album pertama sampai kelima. Padi terkenal begitu lambat dalam mengeluarkan album, tapi dua tahun adalah waktu yang pas untuk merenungkan apa yang akan menjadi tema utama dalam setiap album.

Padi sendiri tidak bubar, tapi Piyu sebagai rohnya sedang asyik dengan jalur yang ia tempuh dalam dunianya sendiri. Ia sibuk berbisnis dan menciptakan lagu-lagu untuk para penyanyi lain. Menurut Piyu, karya seni 20%, aspek bisnisnya 80%.

Apa yang dilakukan Piyu, menurut saya lumrah sekali. Realitanya adalah keluarganya butuh penghidupan. Anak istri butuh makan. Dan anak-anak harus bersekolah.

Mengingat kelahiran Padi, memang Piyu adalah single fighter yang berhasil menjual proyek single dan album baru, baru menemukan personil-personil Padi lainnya untuk menggarap proyek tersebut. Single-nya Sobat dengan album-nya Lain Dunia.

Mengingat kelahiran Padi, memang Piyu adalah single fighter yang berhasil menjual proyek single dan album baru, baru menemukan personil-personil Padi lainnya untuk menggarap proyek tersebut. Single-nya Sobat dengan album-nya Lain Dunia.

Piyu berhasil bertransformasi. Tidak mungkin selamanya menjadi pemain. Harus naik kelas, atau minimal berotasi karir. Entah jadi produser, manajemen artis, atau lainnya. Ari, gitaris Padi sendiri berotasi peran menjadi manajernya Musikimia. Bersama para penyanyi yang berbeda, Piyu seperti sedang kejar setoran dalam berkarya.

Kini kita sudah tahu, Piyu sebagai roh-nya Padi sudah kembali. Sekarang Padi Reborn sudah reborn, lantas mau hidup berapa lama lagi?

Referensi:

  • https://www.qureta.com/post/fadly-piyu-dan-padi
  • http://www.rollingstone.co.id/article/read/2017/11/10/140514434/1210010181/opini-jujur-piyu-padi-tentang-ahmad-dhani-stephan-santoso-andra-ramadhan-eross-candra

Mengapa Memilih Marketing

Tulisan ini dilatarbelakangi oleh teman-teman yang bertanya-tanya mengenai karir di bidang pemasaran (marketing). Dan dia membutuhkan pandangan yang komprehensif sehingga yang bersangkutan dapat mengambil keputusan dengan bijak.

Yang berwarna merah saya tambahkan pada tanggal 25 november 2017. 

Ada tiga pihak yang biasanya bingung.

  • Pertama, adalah mereka yang mendapat penugasan untuk membuat esai terkait manajemen.
  • Kedua, adalah mahasiswa strata satu yang bingung ingin mengambil konsentrasi yang akan didalami sekaligus sebagai bidang tugas akhirnya.
  • Ketiga, mirip dengan yang kedua, adalah mahasiswa master bisnis dan manajemen yang ingin menentukan konsentrasi yang tepat untuk dirinya.

Kali ini, saya ingin mengulas tentang konsentrasi manajemen pemasaran saja.

Penyebutan ‘pemasaran’ rasanya kurang gimana gitu ya. Kalau disebut ‘marketing’ rasanya lebih keren. Makanya judulnya jadi begitu.

Kalau sudah kelihatan lebih keren, boleh dong minta ‘argo’-nya dinaikkan sedikit.

Sama seperti ‘kopi susu pake es’ paling harganya Rp5.000, tapi kalau ‘iced coffee milk’ atau ‘frappucino’, atau ‘frappe’ harganya paling murah Rp25.000. Karena pakai bahasa internasional, jadi sudah lebih keren, boleh dong argo naik.

That’s the power of copywriting. (mudah-mudahan ada kesempatan untuk membahas ini kapan-kapan). Tagih saya ya kalau belum dirilis juga 😀

Bicara marketing, berarti bicara branding. Semua alasan yang saya kemukakan di bawah ini berkait dengan branding. Kecuali saya sebutkan mengenai sales (penjualan), atau omzet.

Branding. Bagi saya, branding artinya cuma ada tiga.

  • Pertama, membuat yang belum tahu menjadi tahu.
  • Kedua, membuat yang sudah tahu menjadi mencoba.
  • Ketiga, membuat membuat yang sudah mencoba untuk kemudian membeli banyak lagi. Jangan khawatir, eksekusinya bisa dipisah-pisah, kok.

Salah satu elemen branding adalah pricing. Jadi dengan pricing, kita bisa mem-branding-kan lebih berbeda dibandingkan dengan brand kompetitor.

Pricing Strategy

Price itu harus ada polanya dah harus menjawab pertanyaan ‘mengapa harganya segitu?’ atau pertanyaan lain ‘apa saja produk/layanan yang didapat dengan harga segitu?’ Dengan bahasa lain, gw dapat fitur apa aja kalau bayar segitu? Alias, SLA-nya bagaimana ketika harganya segitu? Service Level Agreement.

Pricing tidak bisa main-main. Ada caranya. Penetapan harga harus melalui beberapa tahap. Pertama daya beli pelanggan. Ini masuk di ranah segmentasi dan targeting. Kedua, penyusunan definisi benefit and cost. Cara penetapan harga yang seperti ini, berarti tidak memandang dari berapa persen marjin laba yang ingin diambil, atau berapa rupiah yang akan diperoleh.

Value (=benefit/cost) yang diterima oleh pelanggan adalah hasil bagi antara benefit dengan cost. Konsumen pasti membanding-bandingkan. Makanya, hati-hati dengan kebiasaan pelanggan yang suka cek toko sebelah.

Contoh. Di supplier A, barang ini harga sekian. Di toko B, barang yang sama persis harganya lebih mahal. Tapi toko B, komitmennya 24 jam sehari 7 hari seminggu. Lebih baik dibanding toko A yang hanya melayani di jam kerja.

Nah, terus bagaimana? Di satu sisi, harga harus cukup tetap (fixed). Supaya tidak membingungkan konsumen. Di sisi lain, konsumen (terutama B2B) suka minta turun harga. Maka solusinya adalah  penawaran kita harus memiliki rentang harga.

Ini lain hal ya, kalau harga sudah kaku banget di pasar. 

Ono rego, ono rupo (pepatah Jawa). Ada harga, ada rupa.

Channel.

Channel adalah tempat terjadinya transaksi dengan konsumen. Jadi buyer membeli dari kita. Pembayaran bisa kontan, cicil, atau tempo. Jadi channel ini berfungsi sebagai pemetik omzet. Bentuknya bisa berupa usaha distribusi (wholesaler, sub distributor, agen, reseller, dsb), bisa juga kantor cabang. Atau retail (minimarket, supermarket, hypermarket, dll).

Teman-teman di marketing/branding berperan dalam menciptakan demand (permintaan). Tim Branding yang terutama bekerja dari kantor pusat, tidak sekedar menghambur-hamburkan anggaran komunikasi. Yang harus mereka lakukan adalah mempromosikan barang atau jasa tersebut sehingga tercipta demand atas keduanya.

Selain menjadi ‘lokasi peperangan’ sesungguhnya, channel adalah lokasi di mana brand juga harus dibangun fondasinya dan dikembangkan lebih lanjut.

Bila berperan sebagai distributor atau retailer, rantai suplai (supply chain) adalah sangat penting. Ini adalah ilmu yang tidak kalah penting. Semisal untuk mengetahui berapa banyak stok yang harus tersedia, atau sebaliknya, berapa minimum inventory yang harus disediakan, dan seterusnya.

Jangan bangga dengan stok yang habis. Bukan berarti anda berhasil menjual. Hikmah sebenarnya adalah anda gagal mengelola stok — stock management.

Seriously, supply chain does matter. Even more matters than branding

Alasan ketiga.

Dunia marketing itu sangat dinamis dan kompetitif.

Mengapa? Hampir setiap saat lahir produk baru. Semua pemain, baik baru atau lama, berlomba-lomba merilis produk baru. Entah itu sebagai pesaing produk yang sudah ada, atau itu mengambil celah sebagai produk/layanan substitusi, dst.

Namun di saat yang sama, ada beberapa brand yang tidak bisa lagi diterima pasar, atau memang sengaja dimatikan oleh produsennya. Sebab kebutuhan atau keinginan pasar sudah berubah. Sehingga brand-nya jadi irrelevant.

Tugas marketer adalah membuat brand selalu relevant dengan keadaan pasar. Relevan di sini, memiliki dua arti:

  • Mampu memenuhi kebutuhan/keinginan pelanggan. Marketer harus bersikap awas terhadap tren yang terjadi. Apakah terjadi pergeseran tren, atau munculnya barang atau layanan substitusi.
  • Tetap kompetitif dibandingkan dengan kompetitor. Baik harga maupun fitur yang ditawarkan.

Oleh sebab itulah, produk baru semakin sulit memasuki pasar dan bertahan di dalamnya.

Tahun 2015 yang lalu, saya dengar dari seorang direktur di industri consumer goods. Katanya tingkat keberhasilan produk baru saat itu adalah 16%. Dengan kata lain, hanya 1 di antara 6 produk baru yang akan berhasil bertahan hidup di pasar.

Dunia bisnis dan utamanya penjualan tidak pernah semudah sebelumnya. Lingkungan bisnis semakin kompetitif. Tidak hanya kehadiran produk substitusi, tetapi juga situasi-situasi baru yang bersifat disruptif, seperti internet misalnya. Bagaimana mengintegrasikan internet menjadi sebuah channel tempat konsumen bertransaksi atau media membangun brand (misalnya pengembangan konten khusus untuk brand itu sendiri).

Untuk brand yang sudah lama di pasar dan seakan-akan tidak tergoyahkan, harus tetap berhati-hati. Jangan seperti Kodak yang sadar bahwa perubahan teknologi suatu saat akan mengirimkan tsunami yang berbahaya bagi perusahaan — namun tetap tidak mengeksekusi suatu inisiatif yang berdampak signifikan.

Kisah seputar marketing.

Alasan keempat. Narasi yang menyertai marketing itu sendiri.

Siapa yang pernah melupakan kisah peperangan pemasaran antara Indomie versus Mie Sedaaap?

Atau bagaimana Barrack Obama memenangkan pemilu amerika serikat? Dan seterusnya.

Ada banyak sekali masalah (dan problem solving) dalam strategi marketing yang menyampaikan cerita yang menarik dan secara tersirat mengajarkan kita tentang ilmu yang bermanfaat.

Alasan kelima. Senang bertemu orang lain. 

Kalau tidak senang berkenalan dengan orang baru, cocoknya bekerja di office saja. Hanya berteman dan bekerja dengan orang-orang yang itu saja. Saya garis bawahi ya, bahwa ini bukan hal yang buruk sama sekali. Setiap pekerjaan memiliki karakteristiknya, dan tidak semua orang cocok untuk semua pekerjaan. Tuntutan bekerja sebagai sales/marketing adalah harus senang berkenalan dengan orang baru. 

Sebab, tidak mungkin hanya menjual ke orang yang itu-itu saja. Alhamdulillah bila mereka membeli kembali. Itu namanya pembeli sudah menjadi langganan. Alhamdulillah lagi bila pembelanjaan mereka bertambah. Itu artinya langganan sudah naik kelas. Misalnya dari kelas reseller naik kelas menjadi wholeseller.

Namun, pasti belanja pasti ada batasnya ‘kan? Di sinilah pentingnya mencari dan menemukan orang-orang baru untuk menjadi pembeli produk dan layanan dari kita.  

Alasan keenam. Closing adalah prestasi. 

Tiap orang punya perspektif berbeda terhadap apa itu prestasi. Bagi seorang sales/marketing, berhasil menjual berarti prestasi bagi dirinya. Kalau malu berjualan, tidak ingin menutup (closing) penjualan berarti tidak cocok menjadi sales/marketing. 

Link

Kerja Efisien dengan Digital Tools

Kalau sebelumnya saya menulis soal produktifitas, sekarang ingin menulis soal efisiensi.

Belakangan ini pikiran saya selalu soal efisiensi. Jadi, tetap mengejar target-target yang sudah direncanakan/ditetapkan. Hanya saja, berusaha meminimkan sumber daya yang ada.

Minimkan Sumber Daya

Target semisal di toko online, yaitu pasang iklan dan launch produk baru. Iklan saya pasang dengan anggaran terendah. Nanti kalau sudah habis, baru diisi lagi. Indikator kedua yang saya pakai, misalnya anggaran iklan itu harus sekian persen dari omzet. Kalau sudah lebih dari itu, berarti kita gagal. Mengantisipasi hal ini, makanya iklan selalu saya tweak terus. Selalu ada iklan baru yang saya coba, serta iklan-iklan lama saya optimalkan lagi. Yang gagal performa nya, saya matikan. Daripada menghabiskan anggaran. Yang sudah berhasil, saya tambah terus keyword-nya.

Batas Bawah Anggaran Iklan

Meskipun di sisi lain, mindset biaya nol untuk pemasaran sudah hampir saya tinggalkan. Ini saya kasi batas juga. Jangan sampai mengharap ada order, tanpa melakukan aktivitas pemasaran via iklan. Memang ada yang namanya word-of-mouth (WOM). Tapi ternyata itu lebih pas disebut kebetulan daripada berhasil. Yang berhasil tentu saja yang dirancang matang, beneran dieksekusi, diukur sejak awal, dan di-tweak terus-menerus. Sama gak boleh kapok juga, barangkali waktu itu kebetulan aja gak mujur sama sekali. Kali lain harus dicoba lagi. Apalagi ketika teman-teman kompetitor ternyata masih berhasil menggunakan medium iklan yang sama.

Zero Inventory

Dulu saya itu mindset-nya, “Gapapa dianggarkan banyak-banyak. Toh pasti habis juga”. Pikiran yang sama berlaku di inventori, “Toh ini bukan makanan. Gak akan busuk. Gapapa beli banyak juga. Meski belum ada yang order. In shaa Allah laku.” Dua tiga tahun yang lalu saya berpikir seperti. Padahal ya gak juga, kenyataannya belum habis juga itu barang sampai saat ini.

Pakai Alat Digital

Enaknya digital itu, apa-apa terukur. Seperti saya bilang di atas, bisa diukur sejak awal. Karena hasil ukurnya cepat didapat, maka bisa di-tweak kapan saja begitu sudah terasa enggak berhasil. Setidaknya itu yang saya lakukan dengan iklan. Di blog juga bisa begitu. Kelihatan kan keyword-nya apa aja yang selanjutnya bisa dipakai. Kelihatan kan view hari ini berapa. Bahkan dalam sehari, wawasan (insight) sudah bisa kita terima.

Kalau untuk catat-mencatat, saya pakai Trello. Efisien karena bisa dibuka di smartphone, saya pakai mobile app-nya. Sudah disinkronisasi dengan trello.com. Jadi tiap kali memperbaharui (update) to do, on going, sama done-nya sudah langsung sikronisasi satu sama lain. Bedanya dengan tools dari Google semisal Docs, Sheet, Slide yang ini tanpa versioning sama sekali.

Ingat banget di jaman kantor lama. Harus pakai Word/Excel/PowerPoint. Jadinya cuma dikerjain berdua sama boss. Itu pun, harus save dulu, lalu di-attach ke email, baru bisa dikirim. Efisien banget memang kalo kolaborasi pakai Google Docs/Sheet/Slide ini. Apa yang di-update, langsung kelihatan hasilnya di layar si rekan kerja. Bisa back ke version yang sebelumnya, kalau diperlukan. Dikeroyok sampai sepuluh orang pun, masih tetap oke. Minimal, udah peningkatan 5x lipat daripada di kantor dulu.

Support dengan Manual

Saya lagi terjun ke bullet journal nih. Buat yang belum mengerti, bisa main ke web bulletjournal.com. Atau visualnya bisa dilihat di akun IG @bulletjournal. Jadi begini nih. Kalau semacam Google Docs/Sheet/Slide, Trello, Evernote saya lihatnya lebih cocok untuk pekerjaan. Sifatnya detil, bisa kolaborasi sama yang lain, dan time frame-nya relatif pendek. Fix kalo yang digital, menurut saya, di situ perannya.

Beda dengan yang manual note ala ala bullet journal ini. Bisa memang difungsikan untuk pekerjaan. Malah cocok banget untuk business owner atau blogger gitu. Atau profesi lainnya yang berkutat dengan kreatifitas.

Kalau di saya, bullet journal ini saya pakai untuk catatan pribadi perihal pekerjaan dalam sudut pandang yang lebih strategic: bigger vision. Tentu teman-teman di kantor gak bisa melihat perihal pekerjaan kantor di sini ya. Karena hanya pekerjaan pribadi yang saya masukkan di sini. Jadi bukan yang berkolaborasi dengan teman lain. Sehingga yang bersangkutan, tidak perlu menengok catatan pribadi ini.

Ketiga adalah soal time frame. Perspektif yang saya pakai lebih panjang: tiga tahun ke depan. Jadi bullet journal tidak menggantikan trello. Tidak juga sebaliknya. Malah melengkapi satu sama lain. Karena di antara keduanya, saya lakukan penyelarasan (alignment). Trello ada di part-part yang detilnya. BuJo menyediakan part-part strategic-nya (bigger/longer). Berikut ini pola-pola pemakaiannya:

  • Rencana-rencana dalam tiga tahun ada di BuJo, detil eksekusinya ada di Trello
  • Ada yang lagi dikerjain di Trello sekarang ini, saya bikin ekstensinya di BuJo. Kira-kira, hal tersebut bisa dipanjangkan atau seperti apa bisa dibuat lebih besar lagi.

Tren digitalisasi ini ternyata bisa kita manfaatkan untuk melakukan efisiensi lebih terhadap pekerjaan-pekerjaan.

4 Masalah Pemasaran Usaha Kecil

Belum lama ini saya membantu beberapa UKM dalam menyusun rencana aktivitas branding mereka. Para peserta tersebut beruntung mengikuti Kelas Keterampilan milik Komunitas Memberi. Sekarang sudah ada 2 angkatan “Memberi Go Global”.

Teaser: 
Kamu bisa mendaftar ke website Komunitas Memberi untuk ikutan Kelas Keterampilan Batch ke-3. Selain Kelas Keterampilan, di Komunitas Memberi juga ada Kelas Inspirasi dan Kelas Pengetahuan.

Dari sisi pemasaran, saya memandang bahwa teman-teman UKM tersebut memang belum memahami how to build the brand. Berikut adalah beberapa permasalahan UKM kita (ini baru pandangan sederhana saya saja lho ya), khususnya terkait pemasaran:

Related Post:
On Becoming Marketing Company
Marketing: Branding and Selling

  1. Belum paham beda pemasaran (marketing) dan penjualan (sales

Pemasaran adalah upaya untuk menciptakan demand (permintaan konsumen) akan brand kita. Sedangkan penjualan adalah upaya memetik omzet atas demand tersebut. Dan seringkali UKM hanya mengurusi penjualan saja.

Ketika penjualan tiba-tiba merosot padahal ekonomi sedang tumbuh, kemungkinan terbesar adalah demand belum terbentuk lagi. Kemungkinan terbesar semata-mata karena kita belum melakukan upaya-upaya branding.

Padahal kompetitor sedang berusaha merebut demand konsumen agar beralih pada mereka. Siapa itu yang kita sebut sebagai kompetitor? Mereka adalah para value-provider, alias pemberi produk/layanan juga yang dapat memenuhi kebutuhan (needs) atau memuaskan keinginan (wants) dari para pelanggan.

Sebenarnya tidak ada peluang yang hilang, yang ada ialah peluang terambil oleh kompetitor. Baik kompetitor yang baru masuk ke pasar, maupun kompetitor lama yang menerapkan jurus-jurus baru. Tentu mereka tidak minta izin kepada anda ketika mengeluarkan jurus baru tersebut.

Untuk itulah UKM harus selalu membuat konsumen aware akan brand UKM itu sendiri. Salah satunya melalui pemanfaatan media-media komunikasi pemasaran. Cara lain adalah mengembangkan produk/layanan yang memberikan experience pada pelanggan.

Dengan kata lain, kompetitor itu produk/layanannya bisa jadi sangat berbeda dengan produk/layanan kita. Kita bisa ambil contoh bahwa Whatsapp/Telegram/Line adalah kompetitor bagi SMS provider.

sales and marketing
sales dengan marketing itu beda, lho

2.   Sering mengandalkan harga murah/terjangkau 

Persaingan harga adalah persaingan terakhir. Kalau sudah bersaing harga berarti si UKM gagal paham apa saja yang ditawarkan. Sekaligus gagal memberikan manfaat yang berbeda (dibanding kompetitor) untuk konsumen.

Yang sering ada dalam pikiran UKM adalah bagaimana cepat laku, dan tetap laku. Dan seakan satu-satunya pilihan adalah memberikan harga jual yang serendah-rendahnya. Kalau sudah demikian, yang menjadi PR berikut bagi teman-teman UKM adalah menekan cost menjadi serendah-rendahnya. Akibatnya, quality produk/layanan menjadi korban.

Mengenai hal ini, saya selalu mengingatkan teman-teman agar tidak pasrah dan mengkomunikasikan ‘harga terjangkau’ atau’paling murah’ kepada konsumen. Sebab harga murah/terjangkau bisa berimpak buruk.

Image ‘murahan‘ akan terasosiasi dengan brand yang dipegang oleh UKM dan diberikan harga terendah. Padahal tidak ada konsumen yang ingin diberi kualitas terendah — kecuali memang minim share of wallet. Alias konsumen yang semata mengutamakan 4P (price, price, price, and price).

Justru berikan harga setinggi-tingginya dan sesuai dengan fitur yang mampu kita berikan. Supaya ketika kita terpaksa mengalami kenaikan HPP (Harga Pokok Penjualan), tidak ada quality yang kita korbankan. Dan tetap ada marjin yang tersisa.

3.   Belum memberi service 

Teman-teman UKM juga seringkali merasa hanya menjual barang saja. Jadi tidak memberi service tambahan kepada pelanggan. Padahal seringkali adalah service yang membuat pelanggan tetap bertahan ketika produk yang ditawarkan nyaris menjadi komoditi — yaitu semua pemain di pasar menjual produk yang sama.

Saat ini hampir tidak ada pebisnis yang hanya menjual barang saja. Kalaupun di luar sana memang ada, mungkin dia kurang piknik. Atau dia baru mencoba. Jadi lengkapilah produk/layanan anda dengan service yang jelas serta dikomunikasikan dengan baik.

Atas service yang diberikan tersebut, berikanlah price yang tepat. Bila perlu, hitung dulu cost atas service tersebut. Setelah itu, standard-kan service tersebut lewat dokumen SLA (service level agreement). SLA sifatnya minimum. Pastikan semua anggota tim tahu dan bisa men-deliver service tersebut.

4.   Belum membangun positioning and differentiation

Beberapa teman-teman UKM ada yang sudah sadar bahwa di luar sana ada kompetitor yang menawarkan manfaat-manfaat produk/jasa yang relatif sama dengan yang mereka punya. Di antara mereka yang sadar, sebagian besar pasrah dengan keadaan tersebut. Lalu terjebak dalam perang harga (price war).

Yang harus dilakukan adalah mempertajam differentiation dari manfaat-manfaat yang ditawarkan, supaya berbeda dengan kompetitor. Tujuan besarnya adalah supaya memiliki positioning di pikiran dan hati masing-masing konsumen target.

Kalau sudah different dan punya positioning di pikiran/hati pembeli, maka mereka sudah punya opsi untuk kembali kepada brand tersebut. Sekaligus menjadi brand endorser yang mengkomunikasikan brand tersebut kepada keluarga atau kolega mereka.

Kesimpulan 

Sementara baru demikian yang bisa saya simpulkan mengenai teman-teman UKM kita. Apakah kamu sebagai pembaca blog ini sependapat? Atau ada komentar lain? Boleh share pendapat kamu di laman komentar di bawah ini.

10 Cara Meningkatkan Penjualan Lewat Manajemen Penjualan Yang Lebih Baik

Apa saja yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan penjualan? Penjualan secara keseluruhan bisa naik, bila kita memasuki pasar dengan produk yang baru. Bisa juga dengan melakukan promosi pemasaran yang lebih gencar dan masif. Apalagi kalau kita bisa memasuki wilayah penjualan yang baru.

Semuanya benar. Semuanya bisa dilakukan. Tetapi sebelum ke sana, ada beberapa taktik-taktik yang bisa kita lakukan melalui manajemen penjualan yang lebih baik. Tujuannya adalah meningkatkan omzet, hanya melalui aspek penjualan saja.

Pertama, andalkan produk cash cow.

Lakukan analisis produk cash cow dulu. Apa itu cash cow? Baiknya kita pelajari dulu konsepnya dari BCG. Sebuah firma konsultan manajemen ternama di dunia. Secara keseluruhan, ada 4 macam isi dari growth-share matrix mereka: cash cow, star, question mark, dan dog.

“Cash Cow” adalah pangsa pasar tertinggi, dengan growth sudah stagnan. Tapi kita mendapat cash yang sangat banyak dari produk berkategori ini. Artinya berat untuk melakukan investasi tambahan, karena kita belum yakin apakah pasarnya masih bisa tumbuh lebih besar.

Kalau pangsa tinggi, dan masih grow, namanya “star” (karena dia “bintang” di antara produk-produk yang lain). Jadi kita tanamkan investasi secara bertahap juga pasti akan aman.

Pangsa rendah, tapi masih tumbuh, punya nama “question mark”. Karena kita saat ini bertanya-tanya apakah pangsanya akan membesar atau pertumbuhannya akan stagnan. Kita mungkin saja berusaha keras di sana, tho pasarnya masih tumbuh. Tetapi mungkin juga kita tidak perlu repot berinvestasi di sana, karena pangsa kita masih rendah. Jadi memang sebelum berusaha keras dan berinvestasi, perlu dihitung secara cermat apakah worth it atau tidak.

Satu lagi adalah “dog”. Sudah pangsanya rendah, dan sulit tumbuh. Bisa jadi, mematikan produk/kategori ini adalah lebih baik. Masih sedikit menguntungkan dan memberi kas tambahan apabila ada perusahaan lain yang mau membeli produk/kategori ini.

Matriks ini bernama Growth-Share Matrix.

Ada pertanyaan, ini kan produk. Bagaimana dengan proyek? Atau servis? Tidak ada cara lain, sih. Perbanyak dan perkuat dulu tim penjualan. Menangkan tender.

Related Post: Jualan Produk atau Jualan Proyek

Kedua, menaikkan marjin penjualan.

Ada beberapa cara. Pertama adalah menekan biaya pembelian. Ada beberapa cara untuk menekan biaya pembelian ini:

  • Beli saat murah (lagi diskon). Bisa stok barang/bahan baku. Supaya punya stok, milikilah gudang. Bisa sewa atau beli gudang. Supaya mendapat harga murah, belilah ketika supplier sedang memberikan diskon.
  • Naikkan harga jualnya. Ini sudah jelas menaikkan omzet, dan mempertebal marjin penjualan. Sebelum menaikkan harga jual, ada beberapa analisis yang harus kita lakukan. Dan keputusan tersebut, bergantung pada tiga kriteria berikut ini.

Ada tiga kriteria untuk mengetahui kemudahan menaikkan harga jual.

  • Kompetitor memang/makin sedikit
  • Penyedia barang memang/makin sedikit
  • Barang substitusi memang/makin sedikit

Ketiga, mempercepat perputaran transaksi.

Perputaran adalah leverage. Alias pengungkit terhadap modal yang kita miliki. Sebagai contoh. Modal usaha kuliner sebesar Rp10juta, bisa menghasilkan omzet beberapa kali lipat dibandingkan dengan modal usaha fesyen yang sama-sama sebesar Rp10juta. Berikut adalah beberapa cara mempercepat perputaran bisnis:

  • Promosikan bahwa persediaan terbatas (limited supply).
  • Jual lebih murah daripada kompetitor. Kita harus mempunyai keunggulan supply chain di sini. Apakah itu pemasok kita yang lebih efisien, atau penguasaan kita terhadap sumber bahan baku.

Indomie sukses menguasai pasar mie instant selama puluhan tahun karena hanya mereka yang memiliki akses ke terigu paling murah. Mungkin ada kompetitor yang bisa membuat mie instant, tapi mereka mengurungkan niat karena jumlahnya belum bisa sebanyak Indomie saat itu, harganya juga belum bisa lebih rendah daripada saat itu.

Makanya, brand Mie Sedaaap baru masuk ke pasar sekitar tahun 2004. Karena baru pasca reformasi lah mereka berhasil menemukan supply terigu dalam jumlah dan kuantitas yang memungkinkan mereka memasuki dan merebut pasar mie instant.

  • Jual ke orang yang sama. Eksposur, promosi, dan penjualan ke orang-orang yang pertama kali mau membeli ke kita, sesungguhnya memiliki biaya lebih tinggi daripada menjual ke orang yang sudah pernah membeli.

Bedanya di mana? Di eksposur dan promosi. Eksposur membuat konsumen tahu “ooh ada brand ini”. Alias awareness terhadap brand tersebut sudah meningkat. Promosi membuat konsumen tahu “ooh brand ini lebih xxxx daripada brand yang lain”.

Pembeli yang melakukan RO (repeat order) sudah mengalami proses eksposur dan promosi oleh brand. Ada dua cara.

  • Buat member of customer. Bikin komunitas juga bisa. Enggak heran, brand Tupperware sukses berat yak. Mereka menjual via komunitas. Yang sudah membeli, tidak enak untuk membeli (lagi) dari temannya. Padahal model atau warnanya sudah ada di rumah.
  • Dapatkan kontak pembeli. Bisa email (jadi di-follow up lewat email) atau nomor HP (broadcast via SMS, misalnya).
  • Jual paket. Paket Super Besar KFC mungkin hanya lebih murah sekitar 7-8ribu saja dibanding membelinya secara satuan. Lagipula, dengan menjual paket, maka KFC bisa menjual nasi lebih banyak daripada menjual nasi secara satuan. Pasti ada aja orang yang makan ayam tapi gak makan nasi. KFC pun mendapatkan keuntungan lain. Yaitu nilai rupiah per transaksi semakin membesar manakala menjual secara paket.

Memang mudah mempaketkan food and beverage. Mosok customer membeli makan tetapi tidak membayar minum?

  • Nonton sepak bola, enaknya sambil makan kacang. Maka paketnya kacang kulit + softdrink. Ini permisalan saja.
  • Di warung tegal (warteg), paket lele/ayam/bebek sudah sama nasi, lele/ayam/bebek goreng, sambal, dan es teh manis.

Keempat. Selling in the Crowd.

Ada empat cara menemukan keramaian.

  • Pertama, buka outlet di jalan yang memang sudah ramai. Makanya mall Kota Kasablanka (Kokas) dibuka di jalan Casablanca Raya yang memang sudah ada beberapa mall dan perkantoran. Kuningan City, Mall Ambassador, ITC Kuningan. Dari yang sudah macet, menjadi bertambah macet. Yang baru pulang kantor berpikir, “pulang nanti saja. masih macet. mari belanja dulu.”
  • Kalau jualan online. Kedua, bayar paid traffic supaya website ramai pengunjung. Bisa facebook ads, atau google adword. Keduanya juga membuat promosi kita lebih tertarget.
  • Ketiga. Bikin keramaian sendiri. Pancing pengunjung untuk datang meramaikan outlet. Bikin status di social media, “diskon sekian persen kalau bisa bawa teman-teman kamu sekian orang”.
  • Keempat. Bikin kesan bahwa outlet restoran kamu ramai. Pasang papan “already booked” pada meja yang kosong. Kan kesannya ramai karena sudah ada yg booking. Konsumen jadi berpikir untuk kembali ke outlet kamu karena brand resto ini food, beverage, and services-nya memuaskan banget.

Judul posting ini memang ada 10 cara menaikkan penjualan. Tapi sudah 10 belum ya? Hehe… Saya belum hitung ulang. Pokoknya di atas sudah tersedia beberapa cara untuk meningkatkan omzet penjualan kamu.

Silakan diterapkan, ya.

Semoga berhasil !!!

Related Post:

Positioning-Differentiation-Branding

pada tulisan sebelumnya, saya membahas tentang segmenting-targeting-positioning. silakan disimak.

sekarang tentang PDB (positioning, differentiation, branding). kalau menurut pak hermawan kartajaya, marketing itu ya dasarnya cuma tiga kata di atas: yang jadi judul artikel ini: positioning-differentiation-branding.

positioning artinya, bagaimana merek usaha/personal diposisikan dalam benak target pemasaran. contoh paling familiar yang tidak habis-habisnya diperbincangkan adalah beda lifebuoy dan lux. masing-masing punya positioning yang jelas berbeda satu sama lain. lifebuoy sebagai sabun kesehatan keluarga, sedangkan lux adalah sabun kecantikan untuk wanita.

differentiation artinya, ya pembeda. kalau positioning itu letaknya di benak target konsumen, maka differentiation itu adalah “beda” yang sebenarnya. beda yang benar-benar teknis, alias terlihat di lapangan. kalau positioning bisa dibentuk dengan strategi dan taktik komunikasi yang tepat, maka differentiation tidak demikian. diferensiasi harus benar-benar teraplikasikan dalam setiap produk/servis atau proses yang dilakukan oleh perusahaan. differentiation yang tepat dalam persaingan, akan memperkokoh positioning perusahaan/merek di dalam benak konsumen.

sedangkan branding adalah experience (pengalaman) dan promise (janji) yang disajikan oleh merek/perusahaan/individu. kira-kira seperti ini, dengan membeli dan menggunakan produk/jasa dari merek/perusahaan dengan brand “a”, maka pengalaman apa atau janji apa yang ingin dirasakan oleh konsumen. misal menjanjikan bahwa dengan memakai sabun “bersih” maka akan terasa benar kebersihannya. kebersihan di sini jadi satu contoh “pengalaman” yang disediakan, dan memang dijanjikan oleh sabun “bersih” 🙂

Pesantren Modern dan Cahaya Cinta Pesantren

Saya tidak cukup yakin bahwa kita semua yang bertempat tinggal di Indonesia, paham mengenai institusi pesantren, serta bagaimana sebenarnya pesantren sudah sangat dekat (tidak hanya kedekatan jarak) terhadap keseharian kita.

Berawal dari kebutuhan “cangkul-mencangkul” di “sawah”, akhirnya saya terdampar untuk melakukan riset sekunder mengenai sejarah dan keberadaan institusi pesantren. Sebelumnya saya memohon maaf karena tulisan ini tidak panjang-panjang amat, malah pendek sekali. Bahkan menyentuh ribuan kosakata pun tidak. Jadi mungkin belum cukup komprehensif.

gedung-serbaguna-pondok-pesantren-modern-ar-raudlatul-hasanah-medan

Sejarah Pesantren

Secara definitif, KH. Imam Zarkasyi (satu dari tiga pendiri Pondok Pesantren Modern Gontor bersama KH. Ahmad Sahal, dan KH. Zainuddin Fananie), mengartikan pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam dengan sistem asrama atau pondok, di mana kyai sebagai figur sentralnya, masjid sebagai pusat kegiatan yang menjiwainya, dan pengajaran agama Islam dibawah bimbingan kyai yang diikuti santri sebagai kegiatan utamanya.

Institusi pendidikan pesantren, berikut dengan alumninya, turut serta mengambil bagian dalam sejarah perjuangan dan pertahanan kemerdekaan Republik Indonesia. Untuk yang belum mengetahui, sesungguhnya peristiwa 10 November 1945 tidak lepas dari peran pesantren, santri, dan alumni. Betapa semangat berkobar-kobar memperjuangkan kebebasan dan kemerdekaan merupakan realisasi dari proses pembentukan karakter di institusi pesantren.

Namun demikian, dengan berbagai dinamika yang ada, bila dibandingkan dengan periode di mana pesantren Gontor baru berdiri, yaitu lebih dari satu abad yang lalu, (persisnya tahun 1926 Masehi) kini pesantren juga turut berbenah dan berubah demi mengikuti pesatnya perkembangan zaman. Alasannya jelas.

Modernisasi Pesantren

Dunia yang terus berevolusi menjadi semakin beragam dan bervariasi, menjadikan tantangan berdakwah semakin berat. Pesantren sudah sejak lama menyadari dan memahami betul bahwa sebagai institusi pendidikan, pesantren harus bisa ikut berselancar dalam gelombang perubahan-perubahan tersebut.

Perilaku dan pengetahuan seputar keagamaan saja tidak akan cukup untuk mengarungi derasnya kehidupan pasca pesantren. Akhirnya bertambahlah ilmu-ilmu seputar sains, teknologi, bisnis, bahasa, dan kewirausahaan ke dalam pola pendidikan dan kurikulum pesantren.

Sejak itu lahirlah terminologi pesantren modern.

Namun, jangan disalahartikan. Karakter berbasis keislaman tetap menjadi yang pertama dan utama, namun ilmu dan keterampilan seputar sains, teknologi, bisnis, bahasa, kewirausahaan menjadi ilmu dan keterampilan yang turut melengkapi profil alumni pesantren modern.

(Tanpa mengurangi rasa hormat pada pesantren-pesantren tradisional (yaitu yang hanya memfokuskan pada pendidikan keagamaan dan kehidupan), dikotomi pesantren modern dan pesantren tradisional ini sesungguhnya hanyalah perspektif sejarah saja. Jangan pula disimpulkan bahwa pesantren tradisional lebih buruk daripada pesantren modern.)

Bahkan santri turut mendapatkan berbagai program-program ekstrakulikuler berupa kegiatan pramuka, latihan berpidato dalam tiga bahasa (Bahasa Indonesia, Bahasa Arab, dan Bahasa Inggris) serta program-program lainnya.

Modernisasi pesantren sesungguhnya tidak hanya di tataran program, bahkan formalisasi pendidikan pesantren menjadi seperti SD, SMP, MTs, SMA, MA Plus Pesantren, tidak luput pula menjadi bagian dari agenda perubahan-perubahan internal di institusi pesantren.

Apa saja yang diperoleh dari pendidikan di Pesantren?

Pertama.

Iya, pastinya banyak belajar ilmu agama. Tapi ilmu apa aja yang dipelajari? Yaitu, pelajaran-pelajaran pokok, seperti bahasa arab, kitab, hadits, tafsir (cara menafsirkan), akhlak (budaya dan perilaku), siroh (sejarah Islam), ilmu alat, dan masih banyak lagi.

Metode yang digunakan tidak hanya melalui pembelajaran di kelas, tetapi juga melalui kegiatan dan pembiasaan. Misalnya shalat wajib di masjid, kegiatan belajar kelompok bersama ustadz, dan lain sebagainya. Tujuannya adalah melatih disiplin dan konsistensi dalam menjalankan amalan ibadah.

Selama menempuh pendidikan di pesantren, ada juga penekanan pada nilai-nilai kesederhanaan, keikhlasan, kemandirian, dan pengendalian diri dari hawa nafsu. Ini adalah pembentukan mental, yang biasanya dilakukan melalui bimbingan langsung pada kelompok belajar di malam hari.

Kedua. 

Pesantren telah, sedang, dan akan terus berperan sebagai wahana berinteraksi dengan banyak teman dari berbagai daerah dan suku. Tentu ini sangat menunjang kebutuhan para santri/santriwati akan jaringan atau relasi nanti ketika sudah lulus dari pesantren.

Dalam hal ini, santri — yang di kemudian hari akan menjadi alumni – akan banyak mempunyai jaringan atau relasi dari berbagai daerah, luar pulau bahkan dari luar negeri. Dan itulah yang di kemudian hari akan menjadi salah satu modal dalam menapaki tangga karir.

Sekedar contoh, Menteri Agama kita saat ini, yakni Bapak Lukman Hakim Saifuddin. Beliau adalah alumni dari pesantren Gontor di Ponorogo.

Atau Bapak Hidayat Nur Wahid. Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) yang ke-11, menjabat sejak Oktober 2004 sampai dengan Oktober 2009. Merupakan deklarator dan Presiden Kedua Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Sempat menjadi calon Gubernur DKI Jakarta pada Pilkada 2012.

Ketiga.

Secara singkat pesantren bisa juga dikatakan sebagai laboratorium kehidupan, tempat para santri belajar hidup dan bermasyarakat dalam berbagai segi dan aspeknya. Karena pesantren melatih hidup mandiri. Santri harus menyelesaikan urusan pribadinya sendiri. Menjadwal makannya sendiri. Cuci baju sendiri. Pendeknya, mengatur kehidupannya sendiri.

Tak lengkap rasanya membahas sejarah pesantren, tanpa mengulas satu contoh pesantren modern yang paling disegani dan dihormati. Yakni pesantren Gontor.

Afiliasi dan “Keturunan” Pesantren Gontor.

Mengapa Gontor?

Ditinjau dari perspektif marketing (pemasaran), Gontor telah menjadi sebuah brand yang memberikan promise (janji) akan kualitas proses dan hasil pendidikannya. Dan tidak hanya Gontor Ponorogo dan Ngawi yang demikian, namun berikut pula bersama afiliasi dan keturunannya.

Jadi, saat ini pesantren Gontor sudah berafiliasi dengan banyak sekali pesantren-pesantren baru yang lebih muda usianya.

Belum termasuk “keturunan-keturunan” Gontor, yakni pesantren-pesantren dengan “isi” dan “kemasan” yang relatif sama dengan Gontor itu sendiri. Tidak lain dan tidak bukan karena didirikan oleh alumni-alumni Gontor.

Misalnya ada pesantren La Tansa, yang pola pendidikan beserta kurikulumnya juga sudah sangat Gontor sekali. Atau di Medan ada Pondok Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah. Ponpes yang terakhir disebut ini menjadi tempat berlangsungnya syuting film Cahaya Cinta Pesantren (CCP).

Cahaya Cinta Pesantren

Film ini berangkat dari novel yang ditulis oleh guru matematika di ponpes tersebut. Yaitu, Ibu Ira Madan. Beliau menuangkan pengalaman, rasa cinta, dan kreativitasnya ke dalam sebuah novel yang diberi judul sama. Hanya satu dan satu-satunya yang menjadi motivasi beliau adalah kecintaan dan kebanggaan terhadap pesantren tempat beliau dulu belajar tentang agama dan kehidupan.

poster-film-cahaya-cinta-pesantren

Fokus cerita CCP ini ada pada tokoh Shila yang diperankan oleh artis Yuki Kato. Diceritakan bahwa dia bersahabat dekat dengan Manda (oleh Febby Blink), Asiyah (Silvia Blink), dan Icut (Vebby Palwinta) selama menempuh pendidikan di pesantren.

Tentu saja filmnya tidak hanya berpusat pada kehidupan Shila berikut dengan tiga sahabat karibnya selama di pesantren. Melainkan betul-betul mengeksplorasi kehidupan maupun pendidikan di pesantren.

Misalnya program belajar berpidato, kegiatan kepramukaan, belajar bahasa di kelas formal, sampai dengan latihan beladiri, dan lain sebagainya.

Mulai awal November 2016 nanti, film ini bisa kita saksikan di bioskop-bioskop langganan di kota tempat kita tinggal.

Produser, sutradara, dan penulis novel CCP, punya harapan tersendiri akan film ini.

Ketiganya berharap agar  film ini sedikit menjawab keingintahuan dan ketidaktahuan masyarakat kita mengenai kehidupan di pesantren. Sebagaimana dipaparkan di awal, bahwa sepertinya masih banyak sekali di masyarakat kita yang belum cukup mengetahui seperti apa jalannya pendidikan di pesantren. Terutama bahwa pesantren tidak lagi mengungkung para santri/santriwati dari perkembangan zaman.

Itu adalah satu segmen, masih ada satu segmen yang menjadi target. Yakni, para alumni dari berbagai pondok pesantren di seluruh penjuru Indonesia. Lewat film ini, juga berharap kenangan dan kerinduan akan kehidupan pesantren yang dahulu pernah dijalani dengan segala suka dan dukanya, segera tuntas terjawab.

Sumber Inspirasi 

(NB: Saya banyak mengacu pada artikel-artikel di kompasiana. Tadinya saya juga ingin publish di sana. Namun, saya tidak bisa melakukan registrasi. Pada siapapun anda yang memiliki akun kompasiana dan berkenan untuk merilis artikel ini di kompasiana, saya mohonkan bantuannya dengan sangat. Cukup dengan mencantumkan link asli artikel ini di kompasiana).

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/persisbenda/metode-pendidikan-di-pondok-pesantren-modern_54f357fc745513942b6c721e

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/syafii_nur/nilai-lebih-sekolah-di-pesantren_55172dc3a333118107b6592a

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/heryani_nenkhiuu/sekilas-tentang-pondok-pesantren_55113c4a813311593bbc72d1

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/heryani_nenkhiuu/sekilas-tentang-pondok-pesantren_55113c4a813311593bbc72d1

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/heryani_nenkhiuu/sekilas-tentang-pondok-pesantren_55113c4a813311593bbc72d1