10 Cara Meningkatkan Penjualan Lewat Manajemen Penjualan Yang Lebih Baik

Apa saja yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan penjualan? Penjualan secara keseluruhan bisa naik, bila kita memasuki pasar dengan produk yang baru. Bisa juga dengan melakukan promosi pemasaran yang lebih gencar dan masif. Apalagi kalau kita bisa memasuki wilayah penjualan yang baru.

Semuanya benar. Semuanya bisa dilakukan. Tetapi sebelum ke sana, ada beberapa taktik-taktik yang bisa kita lakukan melalui manajemen penjualan yang lebih baik. Tujuannya adalah meningkatkan omzet, hanya melalui aspek penjualan saja.

Pertama, andalkan produk cash cow.

Lakukan analisis produk cash cow dulu. Apa itu cash cow? Baiknya kita pelajari dulu konsepnya dari BCG. Sebuah firma konsultan manajemen ternama di dunia. Secara keseluruhan, ada 4 macam isi dari growth-share matrix mereka: cash cow, star, question mark, dan dog.

“Cash Cow” adalah pangsa pasar tertinggi, dengan growth sudah stagnan. Tapi kita mendapat cash yang sangat banyak dari produk berkategori ini. Artinya berat untuk melakukan investasi tambahan, karena kita belum yakin apakah pasarnya masih bisa tumbuh lebih besar.

Kalau pangsa tinggi, dan masih grow, namanya “star” (karena dia “bintang” di antara produk-produk yang lain). Jadi kita tanamkan investasi secara bertahap juga pasti akan aman.

Pangsa rendah, tapi masih tumbuh, punya nama “question mark”. Karena kita saat ini bertanya-tanya apakah pangsanya akan membesar atau pertumbuhannya akan stagnan. Kita mungkin saja berusaha keras di sana, tho pasarnya masih tumbuh. Tetapi mungkin juga kita tidak perlu repot berinvestasi di sana, karena pangsa kita masih rendah. Jadi memang sebelum berusaha keras dan berinvestasi, perlu dihitung secara cermat apakah worth it atau tidak.

Satu lagi adalah “dog”. Sudah pangsanya rendah, dan sulit tumbuh. Bisa jadi, mematikan produk/kategori ini adalah lebih baik. Masih sedikit menguntungkan dan memberi kas tambahan apabila ada perusahaan lain yang mau membeli produk/kategori ini.

Matriks ini bernama Growth-Share Matrix.

Ada pertanyaan, ini kan produk. Bagaimana dengan proyek? Atau servis? Tidak ada cara lain, sih. Perbanyak dan perkuat dulu tim penjualan. Menangkan tender.

Related Post: Jualan Produk atau Jualan Proyek

Kedua, menaikkan marjin penjualan.

Ada beberapa cara. Pertama adalah menekan biaya pembelian. Ada beberapa cara untuk menekan biaya pembelian ini:

  • Beli saat murah (lagi diskon). Bisa stok barang/bahan baku. Supaya punya stok, milikilah gudang. Bisa sewa atau beli gudang. Supaya mendapat harga murah, belilah ketika supplier sedang memberikan diskon.
  • Naikkan harga jualnya. Ini sudah jelas menaikkan omzet, dan mempertebal marjin penjualan. Sebelum menaikkan harga jual, ada beberapa analisis yang harus kita lakukan. Dan keputusan tersebut, bergantung pada tiga kriteria berikut ini.

Ada tiga kriteria untuk mengetahui kemudahan menaikkan harga jual.

  • Kompetitor memang/makin sedikit
  • Penyedia barang memang/makin sedikit
  • Barang substitusi memang/makin sedikit

Ketiga, mempercepat perputaran transaksi.

Perputaran adalah leverage. Alias pengungkit terhadap modal yang kita miliki. Sebagai contoh. Modal usaha kuliner sebesar Rp10juta, bisa menghasilkan omzet beberapa kali lipat dibandingkan dengan modal usaha fesyen yang sama-sama sebesar Rp10juta. Berikut adalah beberapa cara mempercepat perputaran bisnis:

  • Promosikan bahwa persediaan terbatas (limited supply).
  • Jual lebih murah daripada kompetitor. Kita harus mempunyai keunggulan supply chain di sini. Apakah itu pemasok kita yang lebih efisien, atau penguasaan kita terhadap sumber bahan baku.

Indomie sukses menguasai pasar mie instant selama puluhan tahun karena hanya mereka yang memiliki akses ke terigu paling murah. Mungkin ada kompetitor yang bisa membuat mie instant, tapi mereka mengurungkan niat karena jumlahnya belum bisa sebanyak Indomie saat itu, harganya juga belum bisa lebih rendah daripada saat itu.

Makanya, brand Mie Sedaaap baru masuk ke pasar sekitar tahun 2004. Karena baru pasca reformasi lah mereka berhasil menemukan supply terigu dalam jumlah dan kuantitas yang memungkinkan mereka memasuki dan merebut pasar mie instant.

  • Jual ke orang yang sama. Eksposur, promosi, dan penjualan ke orang-orang yang pertama kali mau membeli ke kita, sesungguhnya memiliki biaya lebih tinggi daripada menjual ke orang yang sudah pernah membeli.

Bedanya di mana? Di eksposur dan promosi. Eksposur membuat konsumen tahu “ooh ada brand ini”. Alias awareness terhadap brand tersebut sudah meningkat. Promosi membuat konsumen tahu “ooh brand ini lebih xxxx daripada brand yang lain”.

Pembeli yang melakukan RO (repeat order) sudah mengalami proses eksposur dan promosi oleh brand. Ada dua cara.

  • Buat member of customer. Bikin komunitas juga bisa. Enggak heran, brand Tupperware sukses berat yak. Mereka menjual via komunitas. Yang sudah membeli, tidak enak untuk membeli (lagi) dari temannya. Padahal model atau warnanya sudah ada di rumah.
  • Dapatkan kontak pembeli. Bisa email (jadi di-follow up lewat email) atau nomor HP (broadcast via SMS, misalnya).
  • Jual paket. Paket Super Besar KFC mungkin hanya lebih murah sekitar 7-8ribu saja dibanding membelinya secara satuan. Lagipula, dengan menjual paket, maka KFC bisa menjual nasi lebih banyak daripada menjual nasi secara satuan. Pasti ada aja orang yang makan ayam tapi gak makan nasi. KFC pun mendapatkan keuntungan lain. Yaitu nilai rupiah per transaksi semakin membesar manakala menjual secara paket.

Memang mudah mempaketkan food and beverage. Mosok customer membeli makan tetapi tidak membayar minum?

  • Nonton sepak bola, enaknya sambil makan kacang. Maka paketnya kacang kulit + softdrink. Ini permisalan saja.
  • Di warung tegal (warteg), paket lele/ayam/bebek sudah sama nasi, lele/ayam/bebek goreng, sambal, dan es teh manis.

Keempat. Selling in the Crowd.

Ada empat cara menemukan keramaian.

  • Pertama, buka outlet di jalan yang memang sudah ramai. Makanya mall Kota Kasablanka (Kokas) dibuka di jalan Casablanca Raya yang memang sudah ada beberapa mall dan perkantoran. Kuningan City, Mall Ambassador, ITC Kuningan. Dari yang sudah macet, menjadi bertambah macet. Yang baru pulang kantor berpikir, “pulang nanti saja. masih macet. mari belanja dulu.”
  • Kalau jualan online. Kedua, bayar paid traffic supaya website ramai pengunjung. Bisa facebook ads, atau google adword. Keduanya juga membuat promosi kita lebih tertarget.
  • Ketiga. Bikin keramaian sendiri. Pancing pengunjung untuk datang meramaikan outlet. Bikin status di social media, “diskon sekian persen kalau bisa bawa teman-teman kamu sekian orang”.
  • Keempat. Bikin kesan bahwa outlet restoran kamu ramai. Pasang papan “already booked” pada meja yang kosong. Kan kesannya ramai karena sudah ada yg booking. Konsumen jadi berpikir untuk kembali ke outlet kamu karena brand resto ini food, beverage, and services-nya memuaskan banget.

Judul posting ini memang ada 10 cara menaikkan penjualan. Tapi sudah 10 belum ya? Hehe… Saya belum hitung ulang. Pokoknya di atas sudah tersedia beberapa cara untuk meningkatkan omzet penjualan kamu.

Silakan diterapkan, ya.

Semoga berhasil !!!

Related Post:

Positioning-Differentiation-Branding

pada tulisan sebelumnya, saya membahas tentang segmenting-targeting-positioning. silakan disimak.

sekarang tentang PDB (positioning, differentiation, branding). kalau menurut pak hermawan kartajaya, marketing itu ya dasarnya cuma tiga kata di atas: yang jadi judul artikel ini: positioning-differentiation-branding.

positioning artinya, bagaimana merek usaha/personal diposisikan dalam benak target pemasaran. contoh paling familiar yang tidak habis-habisnya diperbincangkan adalah beda lifebuoy dan lux. masing-masing punya positioning yang jelas berbeda satu sama lain. lifebuoy sebagai sabun kesehatan keluarga, sedangkan lux adalah sabun kecantikan untuk wanita.

differentiation artinya, ya pembeda. kalau positioning itu letaknya di benak target konsumen, maka differentiation itu adalah “beda” yang sebenarnya. beda yang benar-benar teknis, alias terlihat di lapangan. kalau positioning bisa dibentuk dengan strategi dan taktik komunikasi yang tepat, maka differentiation tidak demikian. diferensiasi harus benar-benar teraplikasikan dalam setiap produk/servis atau proses yang dilakukan oleh perusahaan. differentiation yang tepat dalam persaingan, akan memperkokoh positioning perusahaan/merek di dalam benak konsumen.

sedangkan branding adalah experience (pengalaman) dan promise (janji) yang disajikan oleh merek/perusahaan/individu. kira-kira seperti ini, dengan membeli dan menggunakan produk/jasa dari merek/perusahaan dengan brand “a”, maka pengalaman apa atau janji apa yang ingin dirasakan oleh konsumen. misal menjanjikan bahwa dengan memakai sabun “bersih” maka akan terasa benar kebersihannya. kebersihan di sini jadi satu contoh “pengalaman” yang disediakan, dan memang dijanjikan oleh sabun “bersih” 🙂

Pesantren Modern dan Cahaya Cinta Pesantren

Saya tidak cukup yakin bahwa kita semua yang bertempat tinggal di Indonesia, paham mengenai institusi pesantren, serta bagaimana sebenarnya pesantren sudah sangat dekat (tidak hanya kedekatan jarak) terhadap keseharian kita.

Berawal dari kebutuhan “cangkul-mencangkul” di “sawah”, akhirnya saya terdampar untuk melakukan riset sekunder mengenai sejarah dan keberadaan institusi pesantren. Sebelumnya saya memohon maaf karena tulisan ini tidak panjang-panjang amat, malah pendek sekali. Bahkan menyentuh ribuan kosakata pun tidak. Jadi mungkin belum cukup komprehensif.

gedung-serbaguna-pondok-pesantren-modern-ar-raudlatul-hasanah-medan

Sejarah Pesantren

Secara definitif, KH. Imam Zarkasyi (satu dari tiga pendiri Pondok Pesantren Modern Gontor bersama KH. Ahmad Sahal, dan KH. Zainuddin Fananie), mengartikan pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam dengan sistem asrama atau pondok, di mana kyai sebagai figur sentralnya, masjid sebagai pusat kegiatan yang menjiwainya, dan pengajaran agama Islam dibawah bimbingan kyai yang diikuti santri sebagai kegiatan utamanya.

Institusi pendidikan pesantren, berikut dengan alumninya, turut serta mengambil bagian dalam sejarah perjuangan dan pertahanan kemerdekaan Republik Indonesia. Untuk yang belum mengetahui, sesungguhnya peristiwa 10 November 1945 tidak lepas dari peran pesantren, santri, dan alumni. Betapa semangat berkobar-kobar memperjuangkan kebebasan dan kemerdekaan merupakan realisasi dari proses pembentukan karakter di institusi pesantren.

Namun demikian, dengan berbagai dinamika yang ada, bila dibandingkan dengan periode di mana pesantren Gontor baru berdiri, yaitu lebih dari satu abad yang lalu, (persisnya tahun 1926 Masehi) kini pesantren juga turut berbenah dan berubah demi mengikuti pesatnya perkembangan zaman. Alasannya jelas.

Modernisasi Pesantren

Dunia yang terus berevolusi menjadi semakin beragam dan bervariasi, menjadikan tantangan berdakwah semakin berat. Pesantren sudah sejak lama menyadari dan memahami betul bahwa sebagai institusi pendidikan, pesantren harus bisa ikut berselancar dalam gelombang perubahan-perubahan tersebut.

Perilaku dan pengetahuan seputar keagamaan saja tidak akan cukup untuk mengarungi derasnya kehidupan pasca pesantren. Akhirnya bertambahlah ilmu-ilmu seputar sains, teknologi, bisnis, bahasa, dan kewirausahaan ke dalam pola pendidikan dan kurikulum pesantren.

Sejak itu lahirlah terminologi pesantren modern.

Namun, jangan disalahartikan. Karakter berbasis keislaman tetap menjadi yang pertama dan utama, namun ilmu dan keterampilan seputar sains, teknologi, bisnis, bahasa, kewirausahaan menjadi ilmu dan keterampilan yang turut melengkapi profil alumni pesantren modern.

(Tanpa mengurangi rasa hormat pada pesantren-pesantren tradisional (yaitu yang hanya memfokuskan pada pendidikan keagamaan dan kehidupan), dikotomi pesantren modern dan pesantren tradisional ini sesungguhnya hanyalah perspektif sejarah saja. Jangan pula disimpulkan bahwa pesantren tradisional lebih buruk daripada pesantren modern.)

Bahkan santri turut mendapatkan berbagai program-program ekstrakulikuler berupa kegiatan pramuka, latihan berpidato dalam tiga bahasa (Bahasa Indonesia, Bahasa Arab, dan Bahasa Inggris) serta program-program lainnya.

Modernisasi pesantren sesungguhnya tidak hanya di tataran program, bahkan formalisasi pendidikan pesantren menjadi seperti SD, SMP, MTs, SMA, MA Plus Pesantren, tidak luput pula menjadi bagian dari agenda perubahan-perubahan internal di institusi pesantren.

Apa saja yang diperoleh dari pendidikan di Pesantren?

Pertama.

Iya, pastinya banyak belajar ilmu agama. Tapi ilmu apa aja yang dipelajari? Yaitu, pelajaran-pelajaran pokok, seperti bahasa arab, kitab, hadits, tafsir (cara menafsirkan), akhlak (budaya dan perilaku), siroh (sejarah Islam), ilmu alat, dan masih banyak lagi.

Metode yang digunakan tidak hanya melalui pembelajaran di kelas, tetapi juga melalui kegiatan dan pembiasaan. Misalnya shalat wajib di masjid, kegiatan belajar kelompok bersama ustadz, dan lain sebagainya. Tujuannya adalah melatih disiplin dan konsistensi dalam menjalankan amalan ibadah.

Selama menempuh pendidikan di pesantren, ada juga penekanan pada nilai-nilai kesederhanaan, keikhlasan, kemandirian, dan pengendalian diri dari hawa nafsu. Ini adalah pembentukan mental, yang biasanya dilakukan melalui bimbingan langsung pada kelompok belajar di malam hari.

Kedua. 

Pesantren telah, sedang, dan akan terus berperan sebagai wahana berinteraksi dengan banyak teman dari berbagai daerah dan suku. Tentu ini sangat menunjang kebutuhan para santri/santriwati akan jaringan atau relasi nanti ketika sudah lulus dari pesantren.

Dalam hal ini, santri — yang di kemudian hari akan menjadi alumni – akan banyak mempunyai jaringan atau relasi dari berbagai daerah, luar pulau bahkan dari luar negeri. Dan itulah yang di kemudian hari akan menjadi salah satu modal dalam menapaki tangga karir.

Sekedar contoh, Menteri Agama kita saat ini, yakni Bapak Lukman Hakim Saifuddin. Beliau adalah alumni dari pesantren Gontor di Ponorogo.

Atau Bapak Hidayat Nur Wahid. Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) yang ke-11, menjabat sejak Oktober 2004 sampai dengan Oktober 2009. Merupakan deklarator dan Presiden Kedua Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Sempat menjadi calon Gubernur DKI Jakarta pada Pilkada 2012.

Ketiga.

Secara singkat pesantren bisa juga dikatakan sebagai laboratorium kehidupan, tempat para santri belajar hidup dan bermasyarakat dalam berbagai segi dan aspeknya. Karena pesantren melatih hidup mandiri. Santri harus menyelesaikan urusan pribadinya sendiri. Menjadwal makannya sendiri. Cuci baju sendiri. Pendeknya, mengatur kehidupannya sendiri.

Tak lengkap rasanya membahas sejarah pesantren, tanpa mengulas satu contoh pesantren modern yang paling disegani dan dihormati. Yakni pesantren Gontor.

Afiliasi dan “Keturunan” Pesantren Gontor.

Mengapa Gontor?

Ditinjau dari perspektif marketing (pemasaran), Gontor telah menjadi sebuah brand yang memberikan promise (janji) akan kualitas proses dan hasil pendidikannya. Dan tidak hanya Gontor Ponorogo dan Ngawi yang demikian, namun berikut pula bersama afiliasi dan keturunannya.

Jadi, saat ini pesantren Gontor sudah berafiliasi dengan banyak sekali pesantren-pesantren baru yang lebih muda usianya.

Belum termasuk “keturunan-keturunan” Gontor, yakni pesantren-pesantren dengan “isi” dan “kemasan” yang relatif sama dengan Gontor itu sendiri. Tidak lain dan tidak bukan karena didirikan oleh alumni-alumni Gontor.

Misalnya ada pesantren La Tansa, yang pola pendidikan beserta kurikulumnya juga sudah sangat Gontor sekali. Atau di Medan ada Pondok Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah. Ponpes yang terakhir disebut ini menjadi tempat berlangsungnya syuting film Cahaya Cinta Pesantren (CCP).

Cahaya Cinta Pesantren

Film ini berangkat dari novel yang ditulis oleh guru matematika di ponpes tersebut. Yaitu, Ibu Ira Madan. Beliau menuangkan pengalaman, rasa cinta, dan kreativitasnya ke dalam sebuah novel yang diberi judul sama. Hanya satu dan satu-satunya yang menjadi motivasi beliau adalah kecintaan dan kebanggaan terhadap pesantren tempat beliau dulu belajar tentang agama dan kehidupan.

poster-film-cahaya-cinta-pesantren

Fokus cerita CCP ini ada pada tokoh Shila yang diperankan oleh artis Yuki Kato. Diceritakan bahwa dia bersahabat dekat dengan Manda (oleh Febby Blink), Asiyah (Silvia Blink), dan Icut (Vebby Palwinta) selama menempuh pendidikan di pesantren.

Tentu saja filmnya tidak hanya berpusat pada kehidupan Shila berikut dengan tiga sahabat karibnya selama di pesantren. Melainkan betul-betul mengeksplorasi kehidupan maupun pendidikan di pesantren.

Misalnya program belajar berpidato, kegiatan kepramukaan, belajar bahasa di kelas formal, sampai dengan latihan beladiri, dan lain sebagainya.

Mulai awal November 2016 nanti, film ini bisa kita saksikan di bioskop-bioskop langganan di kota tempat kita tinggal.

Produser, sutradara, dan penulis novel CCP, punya harapan tersendiri akan film ini.

Ketiganya berharap agar  film ini sedikit menjawab keingintahuan dan ketidaktahuan masyarakat kita mengenai kehidupan di pesantren. Sebagaimana dipaparkan di awal, bahwa sepertinya masih banyak sekali di masyarakat kita yang belum cukup mengetahui seperti apa jalannya pendidikan di pesantren. Terutama bahwa pesantren tidak lagi mengungkung para santri/santriwati dari perkembangan zaman.

Itu adalah satu segmen, masih ada satu segmen yang menjadi target. Yakni, para alumni dari berbagai pondok pesantren di seluruh penjuru Indonesia. Lewat film ini, juga berharap kenangan dan kerinduan akan kehidupan pesantren yang dahulu pernah dijalani dengan segala suka dan dukanya, segera tuntas terjawab.

Sumber Inspirasi 

(NB: Saya banyak mengacu pada artikel-artikel di kompasiana. Tadinya saya juga ingin publish di sana. Namun, saya tidak bisa melakukan registrasi. Pada siapapun anda yang memiliki akun kompasiana dan berkenan untuk merilis artikel ini di kompasiana, saya mohonkan bantuannya dengan sangat. Cukup dengan mencantumkan link asli artikel ini di kompasiana).

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/persisbenda/metode-pendidikan-di-pondok-pesantren-modern_54f357fc745513942b6c721e

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/syafii_nur/nilai-lebih-sekolah-di-pesantren_55172dc3a333118107b6592a

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/heryani_nenkhiuu/sekilas-tentang-pondok-pesantren_55113c4a813311593bbc72d1

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/heryani_nenkhiuu/sekilas-tentang-pondok-pesantren_55113c4a813311593bbc72d1

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/heryani_nenkhiuu/sekilas-tentang-pondok-pesantren_55113c4a813311593bbc72d1

Alasan Memilih (Program) Manajemen, Bagi Kamu yang Bingung Mau Kuliah Apa

Sebelumnya saya sudah pernah menulis artikel dengan judul yang sama.

Banyak traffic yang datang ke artikel tersebut. Kemudian saya kulik-kulik lagi, mengapa banyak yang mencari jawabnya.

Jadi berikut ini adalah hasil kulikan saya tersebut.

Banyaknya bidang perusahaan yang bisa dipilih pasca lulus dari manajemen.

Semua perusahaan menjalankan fungsi-fungsi bisnis. Ada keuangan, pemasaran, operasional, SDM, dan lain-lain. Sebagai lulusan manajemen, kamu bisa memilih fungsi manajemen apa saja untuk dimasuki. Dan di bidang industri apapun, keempat fungsi tersebut pasti ada.

Namun, kelemahan lulusan manajemen yaitu kompetensi yang kurang spesifik. Berbeda dengan para insinyur telekomunikasi, informatika, dan lain sebagainya. Tantangan yang harus kamu hadapi yaitu bagaimana membuat diri kamu sebagai lulusan manajemen yang berbeda dari lulusan manajemen yang lain.

Tahu tidak kenapa harus begitu? Lulusan manajemen itu banyak sekali. Tidak sulit bagi suatu kampus untuk mendirikan program studi manajemen. Infrastruktur laboratoriumnya tidak berat dan memakan anggaran besar seperti jurusan sains dan enjinering pada umumnya.

Kembali ke kenapa harus tampil berbeda.

Mungkin kamu punya sertifikasi khusus, semisal sertifikat menyelam? Atau mungkin kamu pernah mengikuti program pertukaran pelajar ke luar negeri? Apa saja bisa.

Tidak semua yang -hanya kamu yang melakukan tapi jarang sekali dilakukan oleh orang lain- akan membuat kamu semakin bernilai. Misalnya nilai TOEFL. Skor tinggi belum tentu membuat dirimu distinctive (berbeda). Yang jelas, nilai tinggi seperti IPK atau TOEFL memudahkan kamu untuk lulus seleksi berkas.

Cari tahu, apa yang kira-kira relevan di mata pemberi kerja (employer) sehingga kamu dapat diterima bekerja di sana? Sertifikat menyelam atau pertukaran pelajar hanya dua contoh saja.

Simpulannya adalah, lapangan kerja bagi lulusan manajemen masih sangat beragam dibandingkan mereka dengan latar belakang enjiner atau sains.

Secara umum, S1 biasanya dinilai belum berpengalaman. Sehingga lulusan S1 masih bisa bekerja di mana saja. Mereka masih muda, baru memulai karir, serta lebih mampu belajar dan menyerap ilmu baru. Better than para lulusan SMA/SMK.

Itu salah satu kelebihan sarjana. Tentu saja pengeluaran perusahaan untuk gajinya lebih besar daripada lulusan SMA/SMK.

Alasan kedua adalah kamu ingin terjun langsung sebagai enterpreneur pasca lulus.

Dengan pernah kuliah di manajemen, berarti kamu pernah mempelajari keempat fungsi manajemen tersebut, serta mendalami satu di antaranya melalui tugas akhir/skripsi.

  • Pemasaran
  • Keuangan
  • Operasional
  • SDM

Jadi kamu punya bekal untuk menjadi nahkoda di perusahaan yang kamu pimpin.

Tentu saja kelemahan kamu adalah kamu mungkin belum tahu aspek-aspek teknis dari bisnis yang kamu kelola.

Misalnya kamu membangun usaha restoran, pasti kamu tidak tahu resep dan racikan yang tepat kan? Karena kamu bukan lulusan sekolah/kampus pariwisata. Tapi kamu bisa melakukan pencatatan keuangan yang baik serta punya strategi medium untuk merebut dan mempertahankan pasar, misalnya.

Atau kamu mau mengembangkan apotek?

Kamu bukan apoteker yang jeli menginformasikan bagaimana pasien dapat menggunakan obatnya dengan tepat dan benar.

Mengatasi ini, kamu bisa melakukan rekrutmen apoteker yang tepat.

Kekuatan kamu adalah kemampuan mengelola portfolio produk yang bisa berjumlah hingga ribuan jenis. Serta mengkombinasikan marjin tipis tetapi berfrekuensi tinggi, dengan marjin besar yang membutuhkan inventori besar, dan seterusnya. Ini supply chain banget.

Itu untuk pilihan menjadi Sarjana Manajemen (S1). Bagaimana dengan Master Manajemen (S2)?

Kondisinya adalah kamu sudah bekerja beberapa tahun. Bila kamu beruntung, dalam 2-3 tahun sudah menginjak anak tangga karir yang lebih tinggi. Tanggung jawab yang lebih besar, sudah ada staf yang membantu pekerjaan, dukungan fasilitas perusahaan dalam mencapai target.

Kamu bisa jadi perlu peningkatan kapasitas lebih lanjut. Pendidikan magister adalah salah satu caranya. 

Namun, MBA atau MM tidak fokus di salah satu fungsi. Sensasi pendidikan S2-nya kurang terasa. Perguruan tinggi berlomba-lomba mendirikan S2 Manajemen masing-masing.

Akibatnya, gelar MBA itu sudah mengalami inflasi. Banyak sekali lulusan MBA/MM saat ini.

Mungkin dulu, menjadi MBA itu keren. Namun, sekarang ini sudah terjadi inflasi.

Pertanyaannya masih sama, apa yang membedakan kamu yang lulusan MBA dengan lulusan MBA yang lain?

Beda dengan S2 pada umumnya. Katakanlah pengajaran fisika. Ada microteaching, selain tentang fisika itu sendiri. Sehingga kedalaman dan pendalaman ilmunya lebih terasa dibandingkan dengan S1.

S2 MBA atau MM, banyak mengkombinasikan ilmu-ilmu di permukaan dari keempat fungsi manajemen: keuangan, operasional, pemasaran, dan manajemen SDM.

Bagi lulusan akuntansi, seakan mengulang (secara cepat) kuliah akuntansi dan corporate finance secara cepat.

Kalau S1 manajemen ada mata kuliah tentang pemasaran, nah ada perulangan kembali di MBA pada umumnya.

Karena banyak yang di permukaan, maka hasilnya ada lulusan MBA yang belum tentu punya satu kompetensi teknis di suatu fungsi SDM/keuangan/operasional/pemasaran.

Kan ada tuh pekerjaan konsultan manajemen. Baik internasional, maupun lokal. Apakah harus pernah sekolah di S1/S2 manajemen?

Mereka tidak harus lulusan manajemen lho. Bahkan utk global consultant office seperti McKinsey, BCG, mereka hanya menerima dari UI, ITB, atau UGM.

McKinsey mengistilahkannya dengan insecure overachiever.

Bahkan pasca “lulus” dari kantor konsultan ternama & mendunia tersebut, dengan mudahnya mereka diterima bekerja di perusahaan-perusahaan startup. Mengapa? Mantan konsultan bisa melihat dan menyusun problem solving secara terstruktur.

Conclusion

Apakah saya tampak merekomendasikan jurusan manajemen untuk kuliah S1?

Sesungguhnya tidak. Justru sebaliknya. Lebih baik mengambil jurusan teknik dan diwisuda sebagai enjiner.

Kalau tidak berminat kerja teknis ala insinyur? Tidak apa.

Silakan saja bergabung di fungsi promosi/komunikasi, distribusi, brand management, pengembangan produk, dan sebagainya.

Setelah 2-3 tahun bekerja, berarti sudah saatnya untuk mengambil S2. Apa saja, tidak harus manajemen. Ada beberapa posisi manajerial yang menuntut pengisinya memiliki gelar master manajemen.

Salah satu kenyataannya adalah mereka yang lulusan teknik, biasanya, karirnya melesat cepat. Lebih daripada mereka yang kuliah di jurusan-jurusan IPS.

Cara Membuat Marketing/Sales Plan Pada Produk/Bisnis yang Sudah Berjalan

Tahun baru 2019 akan dipenuhi persaingan yang lebih ketat. Marketing Plan dan Sales Plan berguna jadi panduan agar tujuan pemasaran dan penjualan tetap tercapai.

Perkembangan dunia bisnis seringkali tidak terduga. Kalau bisa beradaptasi dengan cepat sih tidak apa-apa, tetapi kalau tidak? Kehilangan omset dan pelanggan adalah resiko yang selalu mengintai.

Cara Pembuatan Marketing Plan atau Sales Plan di akhir tahun seperti saat ini (November-Desember 2018) dilakukan dengan menjalankan beberapa tahap berikut:

  • Evaluasi
  • Sales Pipeline
  • Retention Strategy yang baru
  • Cek kesehatan USP
  • Branding
  • Tulis Executive Summary

Evaluasi

Evaluasi program-program yang sudah pernah dilakukan. Mana yang berhasil, mana yang tidak. Lalu evaluasinya di mana. Sebenarnya, secara taktik tentu tiap-tiap program sudah dilakukan analisis, evaluasi dan rekomendasi. Dokumennya sudah ada. Dalam rangka pembuatan dan pengembangan marketing/sales plan, dokumen-dokumen yang sudah ada tersebut hanya perlu kita kompilasikan.

Lalu, evaluasinya bagaimana? Nah, evaluasi yang dimaksud di sini tentu saja dalam perspektif yang lebih luas. Misalnya, berhubung sekarang ini sudah memasuki akhir tahun, maka yang dievaluasi adalah setahun ke belakang. Bisa juga menggunakan perspektif tiga tahun. Evaluasi tiga tahun ke depan, atau membuat marketing/sales plan untuk tiga tahun ke depan.

Perlu ditekankan bahwa perspektif jangka menengah seperti 3-5 tahun ke depan ini memiliki kelebihan pada aspek objektifitas. Sehingga, overlapping program tidak terjadi. Tidak ada program yang saling tumpang tindih; ketika memiliki tujuan program yang sama, menyasar segmen pasar yang sama, tetapi dilakukan oleh dua entitas berbeda dari dalam company kita dengan mekanisme penganggaran yang berbeda pula.

Eksekusinya pun lebih efektif karena tujuannya terang dan jelas. Ibarat gelas bening, semua anggota tim bisa melihat tujuan marketing/sales dengan terang-benderang.

Sales Pipeline

Cek sales pipeline. Dalam evaluasi dan planningnya, coba jawab pertanyaan berikut ini:

  • Channel mana yang paling mendatangkan omzet?
  • Channel mana yang paling menguntungkan?
  • Channel mana yang paling viral atau mendatangkan awareness paling banyak?
  • Channel mana yang banyak pelanggan kita? (Ini untuk menjawab retention strategy).

Retention Strategy

Hukum Pareto berlaku. Akan ada 80% pembeli/pelanggan yang menunjang 20% penjualan kita. Begitu pula, ada 20% pelanggan yang terus-menerus membeli dari kita hingga total pembelian mereka mencapai 80%. Kita harus fokus dan memprioritaskan yang 20% database ini saja. Supaya, planning dan eksekusi kita worth it.

Mendapat perhatian calon pembeli tidak pernah mudah dan murah. Cenderung mahal dengan efektifitasnya yang rendah. Sulit sekali memecahkan telor (dari angka nol menjadi satu). Sebaliknya dengan program-program pemasaran yang mengkonversi pembeli (baru belanja pertama) menjadi pelanggan (sudah belanja beberapa kali). Relatif lebih mudah, meskipun lebih mahal sedikit daripada yang pertama.

Yang paling worth it (berharga) untuk dilakukan justru adalah mempertahankan pelanggan yang sudah ada. Nah, tiap industri dan kategori produk memiliki keunikan retention strategy masing-masing. Bagaimana evaluasi terhadap retention strategy yang lalu, dan apa strategi retensi kamu yang baru?

Cek Kesehatan Unique Selling Proposition (USP).

Evaluasi program pemasaran pada dasarnya adalah evaluasi USP. Apakah merek atau usaha sudah menawarkan proposi penjualan yang unik/berbeda. Dalam positioning statement, bisa saja USP sudah sangat berbeda daripada USP milik kompetitor. Namun yang perlu diwaspadai adalah sebagus apa (how well) eksekusi USP tersebut pada medium-medium pemasaran (above the line, below the line, social media, dsb.) dan penjualan (misalnya lewat merchandising).

Di sinilah peran marketer yang harus selalu memantau (monitor) dinamika program, medium, dan USP dari berbagai merek-merek di pasar yang saling bersaing dan menyubstitusi satu sama lain.

Brand-ing

Kalau kontennya banget adalah USP, maka konteks yang menyertai konten tersebut selalu berbeda-beda. Evaluasi dan planning mutlak kita lakukan pada branding-nya. Terutama program dan medium branding.

Evaluasi program dan medium branding. Program mana yang memberikan impak signifikan. Medium apa yang baru-baru ini menjadi saluran (channel) baru bagi segmen target kita.

Ingat, branding adalah brand-ing. Yakni suatu upaya tanpa henti untuk membangun brand. Mulai dari membuat konsumen sadar (aware), sampai dengan setia (loyal) terhadap merek tersebut. Ultimate goal-nya adalah membuat pelanggan menjadi evangelist yang senantiasa menjadi pembela (dan tentu saja pengguna paling setia) dari suatu merek.

Seni dari brand-ing adalah seni menggunakan dan mengoptimalkan berbagai medium yang ada demi tercapainya suatu ekuitas merek. Sebagaimana makna ekuitas dalam akuntansi, demikian pula dengan ekuitas merek sebagai suatu “asset” intangible milik perusahaan.

Ambil contoh, baru beberapa pekan lalu ada event festival bertajuk Hijrahfest (IG @hijrahfest). Secara sekilas, saya melihat event ini luar biasa sukses. Terutama dalam menyasar segmen pasar yang hampir satu dekade ini terus-menerus “naik daun”, yaitu kelas menengah muslim (middle class muslim) yang hidup dan memadati perkotaan.

Mengambil studi kasus event tersebut, bisa nih kita melakukan evaluasi, apakah medium event hijrah festival tersebut (yang secara terangan-terangan telah menyatakan di profil akun Instagram-nya bahwa akan menyelenggarakan event sejenis di tahun depan), layak untuk menjadi saluran perkenalan (introduction) dan engagement.

Tentu saja event festival tidak kita pandang sebagai event semata. Tetapi efek viral dari pra-event maupun pasca-event-nya tidak boleh kita abaikan. Perlu perencanaan matang bagaimana mengelola dan memberdayakan pra dan pasca event itu sendiri. Apalagi ‘kan sekarang era social media yang setiap story-nya bisa kita gulirkan di stream-stream social media itu sendiri.

Executive Summary

Setelah berbagai tahapan di atas, baru masuk ke Executive Summary. Hendaknya memuat story yang meyakinkan. Why-nya harus ada. Mengapa/kenapa kita akan melakukan hal tersebut? Tidak lain dan tidak bukan adalah supaya teman-teman dalam tim memahami dan memiliki alasan untuk bergerak mengeksekusi program-program pemasaran (marketing) dan penjualan (sales).

Di samping untuk internal tim marketing dan sales, Executive Summary juga bisa dipakai untuk meyakinkan stakeholder lain seperti manajemen, direksi, dan pemilik (company owner). Investor dan kreditur bisa kita kelompokkan juga ke dalam target audience dari Executive Summary ini. Barangkali ‘kan ada inisiatif-inisiatif baru perihal marketing dan sales yang membutuhkan suntikan dana baru.

Closing: Stay Flexible

Pada akhrinya, plan hanya tinggal plan. Itu adalah sebuah panduan. Basically, semuanya harus dieksekusi. Mengapa? Karena plan kan dibuat dengan pertimbangan-pertimbangan yang matang. Kalau event seperti Bulan Ramadhan dan Lebaran tentu saja harus sudah ada dalam planning marketing/sales.

Bila ada resource berlebih (waktu, tim, anggaran) tentu boleh saja berbuat lebih dari yang sudah direncanakan dan dituliskan di marketing plan atau sales plan. Ini yang namanya stay flexible.

Bagaimana bila ada peluang penjualan atau celah pemasaran yang kita temukan di tengah perjalanan tahun atau tiga tahun? Tentu harus kita kejar. Resources bisa kita alokasikan ulang bila kita menemukan momentum-momentum yang bagus. Misalnya, kompetitor melakukan blunder yang menyebabkan mereka masuk ke dalam pusaran krisis kepercayaan oleh konsumen. Celah seperti ini bisa kita manfaatkan dan maksimalkan.

Demikian panduan di akhir tahun 2018 ini, semoga teman-teman sukses menggapai target pemasaran dan penjualan untuk tahun 2019 dan ke depannya lagi.

Reference and image source:

  • https://salesmaster.co.id/pedoman-sales-plan-buat-yang-ingin-jadi-pemenang-di-2018/

Seluk-Beluk Freelance Marketing

Institusi bisnis mempekerjakan freelance marketing tentu ada latar belakang dan tujuannya. Baik itu yang berfungsi untuk menjual (yaitu, sales) maupun membangun brand (marketing).

Tentu saja, pengisi posisi freelance marketing tersebut harus menjawab tujuan dan tantangan pemberi kerjanya. Dia harus berkompeten/jago dalam menjalankan fungsi penjualan atau pemasaran.

Sedikit saja gambaran mengenai contoh-contoh freelance marketing:

  • Property freelance. Kategori produk yang tidak diproduksi dan dipasarkan terus-menerus, salah satunya adalah properti. Terutama properti perumahan. Pengembang tidak mungkin mempekerjakan secara tetap tenaga penjualan, kecuali mereka memiliki land bank (tanah tanpa bangunan yang menjadi tabungan pengembang untuk proyek properti berikutnya) yang banyak. Posisi ini bekerja di kantor pemasaran kompleks perumahan yang masih baru, atau ikut pameran perumahan yang biasanya berlokasi di mall-mall. Strategi marketing perusahaan properti utamanya dua itu, on site melalui kantor pemasaran, atau ikut pameran yang crowd-nya sudah jelas ada. Sebagian kecil beriklan di media seperti koran.
  • Social media freelancer. Contoh jenis usaha yang memerlukan freelancer dalam mengelola akun-akun media sosial: restoran, atau makanan (kebab, pie, dll) yang bisa di-delivery. Ini adalah salah satu bisnis freelance yang bisa dikerjakan dari rumah serta relatif mudah untuk para pemula. Tahun 2017, siapa coba yang tidak mengelola akun social media? Paling tidak, dia mengelola akun pribadinya ‘kan 🙂
  • Sales freelance kredit elektronik

Kalau Sales Promotion Girl (SPG), saya kira tidak termasuk freelance ya. Sebab pekerjaannya dihitung dalam paket per sekian hari dengan gaji sekian. Untuk SPG+Supervisor kategori produk rokok, di samping ada nilai gaji yang tetap, ada juga bonus kinerja bila mencapai target penjualan tertentu. Menjual produk yang baru diluncurkan, dan tentu saja belum dikenal, itu tidak mudah lho.

SPG yang membantu eksekusi program promosi di lapangan. Biasanya para SPG + supervisor, paling sering membantu pengenalan sebuah consumer brand yang baru diluncurkan.

Berapa gaji (fee) untuk seorang marketing freelance? Atau Bagaimana Perhitungannya?

  • Property freelancer, tidak ada gaji tetap. Yang ada adalah komisi. Kalau berhasil menjual produk berharga tinggi seperti rumah, tentu komisinya tidak sedikit ‘kan. Apalagi menjual rumah sangat memerlukan keterampilan membujuk calon pembeli. Karena pada dasarnya database calon pembeli relatif lebih sedikit dibandingkan dengan kategori-kategori produk lain.
  • Untuk SPG, tentu sudah ada standard tetap dari agensi penyedia SPG. Harganya sudah terbentuk mengingat ada banyak para buyer (yaitu perusahaan yang memerlukan SPG untuk memperkenalkan brand baru mereka) dan ada banyak agensi yang menyediakan jasa tersebut. Agensi-agensi sudah memperhitungkan fee yang tepat untuk mereka yang butuh/ingin menjadi SPG: butuh uang di tengah ketatnya kompetisi tenaga kerja, serta para mahasiswi yang ingin mengisi waktu luang di sela-sela kuliah.
  • Freelance akun media sosial. Terserah anggaran dari yang mau memberikan pekerjaan. Banyak sekali kemudahan dalam menjalankan profesi ini, sehingga dibayar tidak tinggi pun tidak apa-apa. Bisa dikerjakan dari rumah, merilis konten juga tidak sulit dilakukan. Yang penting akunnya aktif, ‘kan.

Sebagai freelance social media account, Sekedar aktif menerbitkan konten memang mudah. Namun menjalankannya sebagai sebuah fungsi bisnis yang signifikan itulah yang tidak mudah.

Fungsi bisnis yang dimaksud:

  1. Menghimpun 3F (friends, fans, followers)  baru yang potensial menjadi calon pembeli. Kenaikan jumlah 3F adalah target paling utama.
  2. Membangun engagement dengan 3F –> melakukan riset, menganalisis hasil, membuat konten yang disukai (like), dibagikan (share), atau ditanggapi (comment). Jumlah 3F yang tinggi tidak akan berarti apa-apa bila engagement level-nya ternyata rendah.
  3. Menjadi saluran penjualan. Tidak semua produk bisa bertransaksi via social media. Tetapi menjadi salah satu saluran penjualan, adalah salah satu objektif paling menarik dalam mengelola akun-akun tersebut.
  4. Terlibat dalam proses-proses bisnis secara keseluruhan. Pengembangan produk, pemberian diskon promosi, dan lain sebagainya.

Dalam industri consumer goods, ada rule of thumb (yaitu 5% dari omzet) yang bisa kita jadikan benchmark terkait anggaran komunikasi. Termasuk anggaran untuk social media yang di dalamnya meliputi fee marketing media sosial. Bisa digunakan dalam dua cara:

  • Misal, target Rp1 miliar, maka owner harus bersedia “membuang uang” sebesar Rp50 juta. Atau,
  • Target penjualan yang terealisasi tahun lalu adalah 2 miliar, maka untuk tahun ini boleh dianggarkan sebesar 100 juta.

Patut dicatat bahwa terkait pengelolaan akun social media, anggaran tidak hanya untuk fee freelance saja, melainkan juga untuk riset pembuatan konten (mungkin harus terjun observasi langsung ke lapangan), membayar freelance visual designer/video maker, budget diskon promosi, dan seterusnya.

Misal target penjualan sebuah restoran adalah 100 juta, maka total anggarannya adalah 5 juta. Nilai tersebut misalnya adalah 3 juta untuk fee, dengan 2 juta sisanya untuk keperluan pengembangn konten. Tentu saja harus dievaluasi. Misal target omzet belum tercapai, maka anggaran dikecilkan. Atau sebaliknya, ketika realisasi melebih target, maka anggaran ditambah.

Strategi Perekrutan Marketing Freelance

Ada kalanya perusahaan bukannya bertujuan memasarkan atau menjual, melainkan sekedar menekan biaya gaji dari anggota tim marketing dan sales. Bisa saja dilakukan. Dengan contoh mempekerjakan mahasiswa magang. Untuk desain komunikasi visual, atau pengembangan konten website. Atau menerima freelance dari mereka yang baru saja lulus dari perguruan tinggi sembari dalam proses penerimaan kerja tetap di perusahaan lain.

Dengan strategi demikian, maka anggaran bisa ditekan. Tanpa perlu mengkhawatirkan “cabut”-nya salah seorang anggota tim. Sebab perusahaan akan dapat dengan mudah menemukan tenaga magang atau tenaga freelance yang lain.

Ini adalah pandangan pemberi pekerjaan freelance. Bagaimana pendapat para freelancer?

Tidak ada yang mau menjadi tenaga freelancer selamanya. Cepat atau lambat, pekerjaan freelance akan berakhir. Ada beberapa skenario yang mungkin terjadi:

  • Pekerjaan freelance sebagai tambahan atau sampingan semata. Terutama oleh ibu rumah tangga yang punya suami dengan pekerjaan tetap.
  • Freelance hanya sementara sampai dengan mendapat pekerjaan yang lebih permanen. Semisal menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), atau pekerjaan lain di kantor swasta yang terjamin hingga masa pensiun tiba.
  • Begitu banyaknya order freelance, sehingga sang freelance sendiri bisa menaikkan status sosial dan ekonominya. Dari sekedar freelance, menjadi business owner. Sehingga dia mulai membangun tim, serta membagi-bagi tanggung jawab menurut proses bisnisnya.

===

Related Post:

Kunci Sukses Area Sales Manager

Kunci sukses adalah key of success. Hehehe. Guyonan lama.

Dalam bahasan kita kali ini, industri paling ekstrim yang kita jadikan kiblat adalah FMCG (Fast Moving Consumer Goods). Beda produk, maka detil-detil kunci suksesnya akan berbeda lagi.

Area Sales Manager

Mari kita coba uraikan seperti apa aktivitas harian dari seorang ASM sehingga kita bisa pula merumuskan kunci-kunci seorang ASM yang sukses. Salah satu di antaranya customer visit.

  • Hands-on Approach. ASM tentu harus melakukan joint visit juga, alias turun tangan terjun ke lapangan bersama Territory Sales Supervisor (Territory SS). Dalam bab leadership, ini termasuk coaching. Saya sebut ini sebagai bimbingan teknis. Ada satu lagi manfaatnya, yaitu kontrol terhadap proses kerja TSS. Harus diingat bahwa sebagai ASM tidak bisa hanya sesekali turun ke lapangan. Harus sesering mungkin dalam rangka mengunjungi outlet atau bertemu dengan distributors/dealers. FYI, separuh gaji dari mereka yang bekerja di bidang penjualan adalah untuk membangun hubungan dengan distributor/reseller. Termasuk di antaranya adalah dimarahi oleh pelanggan.
  • Needs Daily Motivation. Menjual itu pekerjaan yang berat. Karena KPI-nya tidak 100% di tangan kita. Sebagian di tangan pembeli. Which is, ada kalanya pembeli sedang tidak mau membeli dari kita. Ditolak pembeli dan tidak mencapai target penjualan itu bisa sangat menurunkan motivasi kerja kita. Sebab itu, seorang ASM selalu/kadang-kadang memberikan pelatihan yang sifatnya mengembangkan keterampilan pekerjaan sehari-hari atau menyemangati anggota tim penjualan lewat kata-kata motivasi.
  • Lead by Example. ASM yang kinerjanya bagus akan mempengaruhi kinerja para TSS-nya. Dan sebaliknya, buruknya performa ASM akan turut menurunkan tingkat penjualan para TSS yang dinaungi. Meskipun bila tadinya para TSS ini adalah para salesman jempolan. Sebagai leader, ASM harus memberi contoh yang baik dalam menjalankan profesi salesman.

Mari kita ingat kembali bahwasanya tugas utama kantor cabang adalah perpanjangan tangan penjualan dari markas pusat. Maka dari itu wilayah penjualan dibagi-bagi. Supaya tim penjualan fokus menangani wilayah masing-masing. Namun untuk menyukseskan penjualan tersebut, ada beberapa fungsi yang harus dijalankan oleh kantor cabang.

Kantor Cabang Prinsipal

Apa saja peran dan posisi yang ada di kantor cabang?

Kantor cabang ada beberapa fungsi. Yaitu fungsi (1) pergudangan, mengelola inventory. Fungsi (2) keuangan, yang mencatat pemasukan (masih berupa piutang ketika transaksi terjadi) dan pengeluaran produk (berapa rupiah, berapa banyak, dikirim ke mana, dst). Pada batas berapa rupiah, piutang suatu toko/outlet tidak boleh ditambah lagi, dst. Penagihan juga harus dilakukan dalam frekuensi yang teratur. Selain mencegah bertumpuknya piutang outlet, juga untuk memenangkan perebutan uang kontan yang dimiliki oleh toko.

Serta yang paling utama tentu saja adalah fungsi (3) penjualan itu sendiri. Di sinilah pemegang posisi jabatan ASM dan TSS bekerja. Ukurannya adalah Purchase Order (PO). Dokumen yang mencatat jenis, jumlah, dan nilai pemesanan/pembelian dari pelanggan. Berikut adalah gambaran lebih detil:

Territory Sales Supervisor (TSS)

Posisi ini ada di prinsipal, alias perusahaan/pabrik yang memproduksi barang serta membangun brand produk. Fungsi dan aktivitas kerja sales marketing adalah bersama-sama dengan distributor dalam menggarap wilayah penjualan yang telah ditetapkan. Bisa dikatakan, tugas TSS adalah menekan perusahaan distributor untuk membeli sebanyak-banyaknya (distributor kemudian juga menekan outlet untuk mengambil order sebanyak mungkin). Namun, seorang TSS juga harus bijak dalam menghentikan purchase order (PO) tersebut. Jangan sampai, order-order tersebut tidak bisa ditagih uangnya, karena tidak cukup terserap oleh pasar.

Tingkat pertumbuhan penjualan tertentu, yang jauh di atas rata-rata prediksi dan rencana penjualan yang disusun di awal tahun, tidak bisa dicapai dengan memaksimalkan promosi diskon semata, atau merenggut pangsa pasar (market share) milik kompetitor saja. Melainkan juga perlu membuka daerah baru yang belum terjamah sama sekali oleh tim penjualan kita.

Selling Skill

Ada beberapa alasan/kemampuan untuk menjadi seorang territory sales supervisor/area sales manager.

  • Misalnya, suka menjual kepada orang lain. Kalau kamu termasuk tipe yang bangga dan senang apabila berhasil menjual sesuatu kepada orang lain, kemudian menganggap hal tersebut sebagai kesuksesan, maka kamu akan cocok menjadi sales supervisor.
  • Ketika proses interview penerimaan karyawan di bidang penjualan, sebaiknya tidak menjawab “Saya mau jadi salesman karena saya tidak menyukai bekerja di laboratorium”, ya. Jawaban tersebut belum tentu membuktikan bahwa kamu akan menjadi salesman yang bisa diandalkan. Masih ada beberapa indikator lain yang harus kamu buktikan.,
  • Menjadi salesman harus fleksibel dalam membangun dan mempertahankan hubungan dengan pelanggan. Mampu menganalisis profil lawan bicara, sehingga tahu harus memberi tanggapan yang tepat. Ibarat kata, menjadi salesman tetapi kaku dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain, hanya menggali lubang sendiri. Karena bisa membawa kegagalan pada proses penjualan.
  • Manajemen persediaan (stock management). Jangan bangga dengan produk yang laku terjual hingga stoknya kosong. Justru itu artinya adalah kita masih belum mampu mengelola persediaannya dengan tepat.
  • Sepertinya lebih banyak urusan berkomunikasi dan membangun hubungan dengan pelanggan. Namun yang sering dilupakan adalah bahwasanya pekerjaan ini menuntut kemampuan berhitung pula. Tidak asal menjual, tapi menjual hanya kepada mereka yang bisa membayar manakala ditagih. Pekerjaan ini merupakan bauran antara urusan dengan makhluk hidup dan urusan dengan angka-angka.

Dalam berbagai proses konsultasi penjualan yang saya tangani sendiri, ada kalanya proses yang sudah maksimal pun belum tentu membuahkan hasil sesuai harapan. Namanya saja berbisnis dan berjualan, di satu waktu kita berhasil menghasilkan pundi-pundi rupiah dalam jumlah besar. Di waktu yang lain kita gagal mencetak omzet. Dengan kata lain, bisa dikatakan bahwa produk yang gagal terjual di pasar, tidak melulu menjadi kesalahan tim penjualan.

Penyebab Produk Tidak Laku

Ada beberapa kendala mengapa pasar tidak menyerap produk yang telah kita buat (baca: produk tidak laku). Dan hal ini tidak melulu salah tim penjualan. Berikut beberapa kemungkinan kesalahan yang perlu diperbaiki.

  • Pasar belum mencoba. Sehingga pasar harus dibuat mencoba produk tersebut. Masukilah pasar misalnya dengan diskon 50%. Atau free trial. Bisa juga metode lain yang diujicobakan. Intinya pasar bisa menilai dengan lebih objektif setelah merasakan sendiri.
  • Komunikasi belum tepat. Produk/layanan belum dikomunikasikan dengan tepat kepada segmen target. Bisa jadi konten atau konteks komunikasi yang harus diubah, atau segmen target-nya yang diubah.
  • Channel-nya belum tepat. Tidak hanya komunikasi kepada segmen yang tepat penargetannya, tetapi juga bagaimana channel-nya supaya segmen tersebut bersedia mendatangi channel yang telah ditentukan sehingga melakukan pembelian di sana.

Tiga poin yang baru saja tersampaikan bukan merupakan ranah pekerjaan tim penjualan. Ketiganya merupakan tanggung jawab brand management atau product management.

Demikian bahasan singkat mengenai titik-titik krusial dalam mencatatkan keberhasilan penjualan. Semoga uraian pendek ini bermanfaat bagi teman-teman yang berkarir di bidang penjualan.

Posisi Kerja di Dealer Mobil

Ada beberapa hasil pencarian di google yang mengarahkan ke blog saya ini, namun belum terpuaskan jawabannya.

Keywords nya adalah:

  • bagian kerja di dealer
  • jabatan kerja di dealer
  • bagian-bagian kerja di dealer mobil
  • bagian-bagian kerja di dealer
  • posisi pekerjaan yang ada di dealer mobil
  • fungsi marketing support di dealer
  • posisi kerja di dealer motor

Saya coba mencari tahu jawabannya dan menuliskan secara rapi kepada teman-teman pembaca, ya 🙂

Image result for car dealer

Salesman

Pastinya adalah Salesman. Tentu fokus utama salesman adalah menutup penjualan (closing). Pasti ada target yang terukur. Misalnya, kurang lebih tahun 2008 saya mendengar bahwa salesman sepeda motor di Dealer Honda Jalan Merdeka Kota Bandung, setidaknya harus menjual satu unit sepeda motor per pekan. Itu adalah target minimal mereka.

Ada yang pernah menjadi salesman mobil BMW, kehilangan pekerjaannya kurang lebih setelah 6 bulan bekerja. Setahu saya, beliau setidaknya tiga bulan berturut-turut gagal mencapai target.

Sebuah dealer mobil di Jalan Pasteur Kota Bandung, boleh menjual hingga ke seluruh wilayah Jawa Barat demi memenuhi target penjualannya.

Posisi-posisi salesman ini ada gaji tetapnya. Tetapi tidak terlalu besar. Take home pay (THP)-nya lebih didominasi oleh bonus penjualan. Bonus bisa per tiga bulan; bisa juga per tahun. Tunjangan juga ada. Pastinya Tunjangan Hari Raya, THR.

Ada kalanya dealer membuat atau mengikuti pameran mobil. Sulit untuk mengejar penjualan di event seperti ini. Target paling realistis adalah mengumpulkan database calon pembeli sebanyak-banyaknya.

Saya pribadi, ketika menjaga toko milik keluarga, juga pernah dihampiri oleh salesman. Targetnya beliau sama: mendapat nama dan nomor telepon saya selaku calon pembeli mobil.

Nah, database calon pembeli ini adalah “asset” yang bisa dihubungi kembali manakalan salesman yang bersangkutan sedang kehabisan calon prospek.

Marketing Support

Karyawan yang termasuk di kedua bidang itu antara lain melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan sales riteltelemarketing, analisis pasar, product marketingdigital marketing, serta customer relationship management (CRM).

Pelayanan seperti apa yang dimaksud? pelayanan ini berupa bantuan pada persiapan produk, proposal, presentasi, demo produk, riset produk, riset tender dan masih banyak lagi.Dari banyaknya tugas mereka, yang paling umum dilakukan marketing support adalah membantu pada bagian advertising dan Customer Service. Ini karena bagian pengiklanan dan CS memerlukan banyak tenaga dengan skill mumpuni. Analisis Pasar, meliputi:

  • Pembeli potensial. Baik perorangan, komunitas, maupun pembeli korporat
  • Aktivitas kompetitor: aktivitas pameran, produk yang sedang fokus dijual, dsb.
  • Produk yang sedang tren, berikut nilai penjualan
  • Produk yang akan tren, nantinya

Konsumen mobil dan sepeda motor itu cenderung memilih dan membeli model atau fitur baru. Terutama yang sesuai dengan isi kantongnya. Toyota Avanza menjadi mobil sejuta umat karena fiturnya (terutama kapasitas penumpang) dan harganya yang memang sesuai dengan isi kantong pembeli.

Sepeda motor Yamaha Nmax adalah trend baru yang menyajikan kenyamanan berkendara jarak jauh karena fitur desain ergonomi yang menghindari pengendara dari cepat lelah.

Finance

Tugasnya mencatat pemasukan dan pengeluaran dealer. Pemasukan berupa uang DP, cicilan pembayaran, dll. Pengeluaran berupa operasional harian dan bulanan dari dealer, gaji para pegawai, dan sebagainya.

Pembayaran atas keikutsertaan dealer dalam pameran mobil yang berlangsung di mall-mall tentu juga menjadi tanggung jawabnya.

Branch Manager

Sebutan lainnya kepala cabang. Target utamanya memimpin tim dealer meraih penjualan; khususnya memimpin para salesman dalam mencapai target penjualan.

Yang dilaporkan kepada kantor pusat: posisi pangsa pasar saat ini, ketercapaian target penjualan, database pelanggan, dan sebagainya.

Database pelanggan juga menjadi salah satu Key Performance Indicator (KPI) posisi kepala cabang. Macam-macam pelanggan:

  • Pelanggan tetap
  • Baru membeli sekali
  • Calon pembeli (salah satunya didapat dari pameran otomotif)
  • dll

Wilayah Penjualan

Dealer mobil itu, sepengamatan saya jarang yang lebih dari satu unit per kota. Sebab, wilayah penjualan yang dikelola biasanya memang seukuran kota tersebut. Bahkan, luasnya bisa sampai satu provinsi sendiri.

Kecuali kota-kota Jabodetabek ya. Kebutuhan dan daya beli mobilnya sudah tinggi sekali. Bisa ada 2-3 unit dealer per kota.

Namun, dealer berbeda dengan gudang ya. Tidak semua yang dikehendaki oleh konsumen sudah tersedia di dealer. Seringkali masih disimpan di gudang — tentu saja berbeda lokasi dengan dealer yang biasanya berada di pusat kota atau di jalur-jalur utama/protokol.

Bahkan beberapa produk tertentu harus indent (pesan) terlebih dahulu. Ini semua karena pabrik, gudang, dan dealer menghindari over supply yang mungkin menyebabkan menumpuknya stok kendaraan.

Salah satu tugas marketing support juga mengelola catatan penjualan dengan rapi:

  • Stok yang akan datang dari pabrik dan tanggal berapa akan datang
  • Stok yang berada di gudang
  • Stok yang ada di dealer
  • Daftar produk yang di-indent oleh pelanggan–terutama yang sudah dibayarkan down payment (DP)-nya.
  • dst.

Referensi:

Beberapa Posisi/Jabatan Pekerjaan Terkait Marketing

Semoga tulisan ini bermanfaat untuk kamu yang masih bingung memilih karir, atau belum paham tentang job description dari berbagai lowongan pekerjaan yang berseliweran di sekitar kamu.

Pertama, ada dua hal yang harus dipahami mengenai marketing-related jobs. Ada marketing, ada sales. Marketing itu fungsi besarnya. Salah satu sub fungsinya adalah sales.

Tugas marketing (and sales) adalah menciptakan demand terhadap produk/jasa yang ditawarkan perusahaan, untuk kemudian memetik demand tersebut, yaitu berupa omzet.

Apa saja objective dari creating demand yang merupakan tugas marketing? Ini adalah beberapa contoh

  • menciptakan awareness terhadap brand
  • membangun interaksi (engagement) dengan customer
  • menghadirkan customer experience, sehingga customer melakukan repeat buying 
  • dst

Penting bagi fungsi marketing adalah untuk menciptakan dan tetap mempertahankan relevansi merek bagi customer-nya. Jadi merek harus memberikan value (=benefit/cost) terhadap customer, di samping juga survive, bahkan grow dari tekanan kompetitor.

Lalu, apa objective dari harvesting the demand yang merupakan tugas sales?

  • Mengelola wilayah pemasaran
  • Membangun hubungan dekat dengan pelanggan
  • Melakukan penagihan dan menerima pembayaran
  • Menghimpun insight dari saluran-saluran penjualan
  • dst

Direktoratnya biasa diberi nama Marketing and Sales.

Namun di antara marketing and sales, ada beberapa perbedaan:

  • Marketing biasanya heavy on budget. Sales punya sales people yang banyak.
  • Marketing berurusan dengan medium. Kalau sales memperbanyak kunjungan dengan channel penjualan.
  • dst.

Itu sebagai pancingan. Kita masuk ke inti dari tulisan ini.

Eksekutor fungsi marketing ini bisa dibedakan berdasar produk, target segmen, atau wilayah.

Product Manager/Brand Manager/Product Executive. 

Ini adalah posisi yang sifatnya product-based. Tanggung jawabnya seputar brand dan omzet. Penjualan tidak langsung ditanganinya. Biasanya melalui sales people. Apakah itu partner distributor, atau sales people dari internal di perusahaan.

Tapi kalau ada penurunan revenue, tentu yang harus bertanggung jawab adalah orang ini.

Dia juga memegang anggaran komunikasi. Bisa disalurkan menjadi iklan, diskon, event, dan sebagainya. Bila ada hal yang ditanyakan terkait brand tersebut, semua orang akan menghubungi dia.

Anggarannya selalu dihabiskan bersama vendor? Tidak juga. Pastinya tergantung ketersediaan budget. Bisa saja karena budget minim, maka dikerjakan sendiri. Lagipula, budget komunikasi tergantung dengan target omzet yang mau diraih. Bisa juga dihitung berdasar performa penjualan periode sebelumnya (tahun lalu, misalnya). Biasanya, seperti itu pendekatan terhadap anggaran komunikasi. Acuan anggaran yang dipakai biasanya sekitar 5%. Lima persen dari target omzet, atau 5% dari omzet periode sebelumnya.

Ada brand manager yang hanya mengelola marketing, tetapi ada juga brand manager yang mengelola marketing + supply chain dari produk tersebut di pabrik (suplai bahan baku, kuantitas yang harus diproduksi di periode mendatang, dst).

Posisi yang kedua adalah berbasis pelanggan.

Community Manager/Engagement Manager  

Meskipun namanya manager, belum tentu dia punya staf. Setidaknya staf langsung.

Tugasnya adalah membangun hubungan dengan para customer. Khususnya apabila customer tersebut dikelompokkan berdasar segmen masing-masing.

Karena posisinya lebih dekat ke customer daripada dengan jenis produk/layanan tertentu, maka produk/layanan apapun bisa ditawarkan kepada pelanggannya.

Indikator yang dikejar adalah revenue/customer.

Posisi berikutnya terkait wilayah yang digarap.

Area manager

Peran ini lebih banyak urusan sales-nya daripada marketing-nya. Biasanya brand sudah dibangun lewat bombardir iklan via media massa secara masif. Jadi “tinggal” memetik omzet di pasar sekaligus troubleshooting masalah-masalah di lapangan.

ASM (area sales manager). Di atasnya ada RSM (regional sales manager). RSM –biasanya– di bawah direktur sales nasional. Ada juga SPV (sales supervisor).

Masalah-masalah yang biasa dihadapi:

  • Stok kosong. Ini bukan berarti barangnya laku. Ini artinya adalah demand-nya tinggi tetapi kita belum mampu menyuplai sesuai kebutuhan. Kuncinya adalah manajemen stok.
  • Toko malas mengambil barang dari kita. Entah karena dia belum yakin barang kita pasti laku, atau mungkin dia sudah pakai duitnya untuk bayar supplier lain, dan seterusnya
  • However, tugas kita adalah membuat toko membeli sebanyak-banyaknya dari kita. Misalkan, kita selesaikan lewat program diskon kepada end consumer, sehingga barang dicari dan toko mau mengambil lebih banyak. Atau lewat program lain yang bertujuan sama.
  • dst.

Project manager 

Tugasnya meng-handle project, tentu saja. Namun, pra dan pasca project pastinya ada aktivitas-aktivitas yang dilakukan dong. Bangun hubungan dengan (calon) klien, persiapan proposal tender (dan berbagai detil-detilnya), memastikan revenue stream dari next project, dan seterusnya.

Eksekusi teknisnya bukan oleh dia — tentu saja. Tapi dia harus paham spesifikasi proyek juga. Latar belakang teknikal pastinya sangat menunjang.

Sebagai contoh project manager di bidang IT. Dia punya pengalaman sebagai programmer, maupun sebagai analyst. Jadi dia tahu apa yang bisa dilakukan perusahaannya (oleh tim programmer di back office), serta dia juga tahu customer needs serta what kind of solution to solve their problem.

Tanggung jawab marketing-nya agak kurang sih, atau bisa dikatakan cukup rendah untuk penggunaan medium komunikasi. Levelnya bukan awareness lagi, melainkan sudah engagement. Via bertemu langsung, lewat meeting, melalui kerja bareng, dst.

Posisi seperti ini bisa jadi jarang berada di kantor pusat (headquarter, HQ). Lebih sering pergi keluar. Bahkan seperti pindah kantor ke klien ketika proyek sedang berjalan. Tapi tetap harus ke kantor membuat laporan, dan dokumentasi lainnya. Terutama adalah laporan perkembangan (progress report) yang memuat informasi apakah proyek berjalan sesuai waktu (time) dan sumber daya (resources) yang direncanakan.

Account Manager 

Kalau project manager itu membangun dan menjaga relationship dengan klien, sekaligus memimpin pekerjaan, ada juga yang memastikan relationship (dan order, tentu saja) terus-menerus berlangsung.

Semisal agensi periklanan, agensi public relation, dan sejenisnya ada account manager yang selalu mudah untuk dihubungi oleh klien. Sekaligus menjadi satu-satunya pintu komunikasi antara klien dengan agensi tersebut.

Eksekusi dan delivery pekerjaan bukan dilakukan oleh dia. Sebab dia tidak memimpin produksi (syuting iklan, misalnya). Namun dia harus memastikan argo-nya jalan terus. Ibarat taksi, mobil harus jalan terus dan argonya bergerak maju menghasilkan omzet untuk si agensi. Selanjutnya tinggal penagihan dilakukan oleh bagian keuangan.

Seorang Account Manager bisa saja dibantu seorang atau beberapa orang Account Executive.

Market analyst 

Sebagai support brand manager, ada fungsi-fungsi yang bertugas menghimpun, mengolah, menganalisis data dari market. Hasilnya kemudian menjadi landasan untuk brand manager mengambil keputusan, baik strategik maupun taktikal, terkait brand yang dia kelola ini mau dibawa ke mana.

Apakah brand tersebut layak diangkat memasuki kelas pasar yang lebih premium. Atau cukup menjadi second brand yang memberi barrier bagi pemain baru untuk masuk. Apakah brand tersebut bisa dibawa memasuki wilayah distribusi yang baru, dan seterusnya.

Analyst tentu saja harus merencanakan data apa saja yang akan digunakan, bagaimana menggunakan dan menganalisis data-data tersebut. Bisa saja datanya memang data internal perusahaan, atau membeli dari vendor riset di Indonesia, semisal AC Nielsen.

Salesman Canvas 

Membawa, menawarkan, menyampaikan, dan menerima uang penjualan dari pelanggan toko. Biasanya mengendarai mobil box. Jadi harus punya sim A. Barang-barang jualan diletakkan di box mobil. Dibantu oleh seorang helper.

Ditambahkan pada 24/09/2018: Karir sebagai Sales Kanvas

Salesman Taking Order (Salesman TO) 

Tugasnya berkeliling ke toko-toko menawarkan pelanggan untuk mengorder produk yang dia tawarkan. Membangun hubungan juga dengan pelanggan. Mengamati pesaing. Melakukan penagihan. Membatasi piutang pelanggan toko. Pengiriman dilakukan oleh tim yang bertugas khusus untuk mengirim.

Jadi fungsi-fungsinya memang tidak harus sama dari satu perusahaan ke perusahaan yang lain. Bisa saja penawaran dan pengiriman dilakukan oleh orang yang sama (Salesman Canvas) namun bisa saja keduanya dipisahkan (Saleman TO).

Ditambahkan pada 24/09/2018:

Merchandiser 

Menata tampilan produk di modern market: minimaket, supermarket, wholeseller, hypermarket, dan lainnya. Tampilan di mana saja yang harus dikelola dengan baik, agar memunculkan pembelian tak terencana dari konsumen: rak-rak penjualan, rak-rak dekat kasir, display di floor, display di shelf (rak), dan lain sebagainya.

Baru kemarin (19/07/2018) berdiskusi dengan seorang trade marketing yang mengerjakan hal tersebut di sebuah minimarket. Dia berkunjung ke minimarket tersebut hanya sekali dalam sepekan. Tugasnya men-display produk-produk yang dikirim oleh gudang perusahaan tempat dia bekerja. Di toko tersebut, dia tidak membawa barang sama sekali. Sudah ada tim yang mengirim barang tersebut. Dalam sehari, dia mengunjungi 15 toko yang berbeda. Jadi, kalau bekerja 5 hari seminggu, maka harus ada 75 toko berbeda yang dia kelola merchandise-nya.

Ditambahkan pada (24/09/2018): Apa itu merchandiser display (MD), dan apa saja tugasnya?

Telesales/Telemarketing 

Sesuai judulnya, tugasnya menghubungi dan menawarkan pelanggan untuk melakukan order. Atau menjawab telepon dari pelanggan yang akan mengorder.

Sales Promotion Girl (SPG) 

Ditambahkan pada (24/09/2018): Cerita di balik kecantikan SPG

Sales/Marketing/Distributor Admin 

Tugas dan Deskripsi Kerja Distributor Admin.

Key Account Executive 

Semacam account executive, tapi yang mengelola retail-retail sekelas hypermarket, wholeseller, supermarket. Jadi seorang diri bertanggung jawab menyediakan segala yang bisa dia suplai dari Principal tempat dia bekerja kepada retail yang dikelolanya. Tidak hanya menyediakan dan menjaga stok, tetapi juga mengelola piutang pelanggan supaya tidak melewati batas.

Copywriter

Awalnya merupakan posisi yang biasa ada di agensi iklan. Tetapi semakin ke sini, profesi penulis juga diperlukan di perusahaan berbasis teknologi informasi.

Copywriter di advertising agency: http://enda.goblogmedia.com/pages/copywriter-faq-apa-itu-copywriter.html

Copywriter di software house: https://ikhwanalim.wordpress.com/2017/12/23/copy-writer-software-house/

Strategic/Media Planner

Memahami media behavior (perilaku penggunaan media) dari target komunikasi dan pesan-pesan yang akan diberikan oleh brand yang melakukan advertising. Sehingga bisa merancang penggunaan media (planning the media), terutama kuantitasnya, berapa lama, serta anggaran yang harus dikeluarkan oleh klien.

Art Director

Video Maker

Graphic Designer

Manager On Duty (MOD) di Superindo

Baca Juga:

Untuk membentuk organisasi sales yang kuat, dibutuhkan:

  • Daily huddle: untuk melakukan update seputar challenge yang dihadapi, update market, keluhan dan input dari (calon) pelanggan
  • Weekly huddle: untuk melakukan update sejauh mana performance yang telah dilakukan, dan merumuskan kegiatan tambahan yang harus dilakukan untuk memastikan target tercapai
  • Monthly meeting: untuk melakukan update pencapaian pada bulan sebelumnya dan ‘lesson learned’ yang bisa didapatkan

Conclusion 

Ada fungsi creating demand dan harvesting demand di perusahaan. Tergantung industri ya, ada yang menggabungkan, ada juga yang memisahkan. Seperti FMCG, brand manager lebih fokus mengelola brand, urusan penjualan diserahkan kepada distributor. Yang penting cash diangkut setiap hari.

Ada banyak fungsi marketing and sales di perusahaan. Kamu bisa bergabung dengan salah satu posisi di sana.

Beberapa fakta job description di atas sekedar kulit-kulitnya saja. Tentu pendetilannya berbeda di setiap industri dan organisasi perusahaan.

Dan pastinya, proses bisnis di setiap perusahaan juga berbeda-beda. Tergantung apakah itu product-based atau project-based. Itu akan menentukan lingkup pekerjaan untuk posisi-posisi yang sudah tersebut di atas.

Reference: