Berapa fee untuk freelancer?

Pekerjaan freelance itu dilakukan oleh individu, bukan institusi. Namanya juga pekerja lepas ya. Selain individu, bisa juga mengajak sekelompok orang untuk menjadi freelancer pada suatu pekerjaan.

Intinya adalah sebuah pekerjaan dilakukan oleh pihak eksternal yang bukan merupakan institusi. Ikatan kerjasamanya pun bukan ikatan antara dua organisasi berbadan hukum. Sehingga perlakuan pajak di antara keduanya pun berbeda.

freelance bisa dari rumah
freelance bisa dari rumah

For some reason, orang-orang ini tidak diperlukan untuk memiliki visi, misi, dan nilai-nilai organisasi yang sama dengan people inside the organization. Alasan lain terkait pekerjaan lepas ini misalnya, pekerjaan ini tidak selalu ada. Sehingga tidak diperlukan orang khusus untuk mengisi posisi tertentu dengan job description yang spesifik pula.

Atau misalnya, sudah menjadi strategi perusahaan dalam menekan biaya gaji. Jadi untuk pekerjaan tertentu, mereka punya kebiasaan untuk meng-outsource pada pada freelancer. Padahal pekerjaan tersebut selalu ada di setiap waktu. Dengan demikian biaya gaji dan biaya lain-lain jadi tidak banyak.

Namun yang sering menjadi pertanyaan adalah, berapa fee yang layak saya (selaku pemberi pekerjaan) bayarkan? Atau sebaliknya, berapa fee yang pantas saya (selaku freelancer) ajukan? Urusan finansial ini kadang-kadang sering menjadi rumit.

Mungkin sebagian di antara pembaca blog ini pernah merasakan kegalauan serupa.

Freelancer pasang di harga tinggi, takut merusak relationship yang ada. Kalau belum kenal mungkin tidak masalah. Tapi kalau sudah langganan, pelanggan pasti bilang, “lha dulu ‘kan sekian aja, kok sekarang dinaikkan lagi?”.

Kalau sudah begini, freelancer tidak enak untuk tidak membantu.

Freelancer pasang di harga rendah? Takutnya lingkup pekerjaan berbeda dari bayangan. Sehingga potensi kerugian terbayang di depan mata. Kecuali sudah pernah melakukan yang sama persis. Kalau baru belajar kerja freelance, pasang harga rendah bisa ditujukan untuk membangun portfolio.

Pasang harga (lebih) rendah daripada sebagian besar freelancer lain berarti entry strategy dalam membangun hubungan bisnis dengan (calon) klien yang bersangkutan. Kalau sekali ini sudah berhasil, mudah-mudahan hubungan bisnisnya bisa berlanjut di waktu lain.

Kita coba telusuri dan analisis satu demi satu pilihan-pilihan yang tersedia. Yaitu bisa (1) berdasar waktu yang diperlukan, atau (2) berdasar target pekerjaan yang dibutuhkan oleh pemberi pekerjaan, dan atau kombinasi keduanya.

  • Dihitung berdasar waktu yang diperlukan

Basisnya adalah pengalaman. Jam terbang pastinya menentukan kualitas. Makin berpengalaman ya makin berkualitas dong. Makin berpengalaman maka freelancer dapat memasang harga yang lebih tinggi dibanding sebelumnya.

Tapi ya itu hak dia kalau dia tidak mau.

Pengalaman pekerjaan freelancer juga dipengaruhi oleh jenis klien dalam portfolio yang dia punya. Pernah memegang klien-klien yang rumit, berarti dia bisa menyelesaikan persoalan yang kompleks.

Kalau portfolio-nya adalah klien-klien yang tidak menghendaki spesifikasi yang susah, nilai rupiah per waktunya jadi berbeda.

Faktor penentu lain adalah berapa lama karya tersebut bisa diselesaikan oleh sang freelancer. Makin berpengalaman maka makin singkat waktu yang diperlukan kala menyelesaikan serangkaian proses pekerjaan.

Jadi memang lama pekerjaan ini sangat ditentukan oleh pengalaman pekerjaan si freelancer.

  • Dihitung berdasar target pekerjaan yang harus diselesaikan.

Kalau yang ini sedikit tidak memandang deadline. Kira-kira, si klien akan bilang seperti ini, “pekerjaannya seperti ini, spesifikasi seperti ini yang harus anda penuhi, fee yang saya tawarkan adalah sekian”.

Pastinya tetap ada kapan pekerjaan harus sudah selesai. Meski demikian, hal tersebut agak diabaikan. Semata kar=ena klien memprioritaskan kualitas pekerjaan yang dia inginkan.

Di sisi lain, ini bisa blunder bagi freelancer. Sebab ketika kualitas pekerjaan sesuai spesifikasi tidak kunjung tercapai, maka dia akan menghabiskan banyak waktu dengan klien tersebut untuk memperbaiki pekerjaan.

Atau kemungkinan lain, pembayaran pekerjaan menjadi telat. Biasanya karena klien emosi jiwa sedikit. Karena hasil kerja belum sesuai harapan tapi sudah minta pembayaran.

  • Kombinasi keduanya.

Target spesifikasi jelas. Deadline jelas. Mungkin freelancer akan sedikit keberatan dalam hal ini. namanya juga freelance, ‘kan? Dia harus membagi-bagi waktu untuk beberapa pekerjaan freelance yang dia ambil.

Karena freelance tidak setia dengan sebuah institusi pemberi kerja. Kalau setia itu sama dengan menjadi karyawan di sana. Kalau demikian, sekalian saja minta asuransi, COP, reimbursement, dll, hehe 😀

For some freelancer, mengalihkan konsentrasi dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain tidak lah semudah membalik telapak tangan. Kecepatan adaptasi tiap reelancer berbeda-beda. Ada unsur mood yang harus beralih, ada ingatan/dokumentasi terdahulu yang harus dipulihkan sesaat sebelum mulai bekerja lagi.

Sebagai penutup, mari ingat kembali bahwa freelancer itu bukan karyawan tetap. Jadi mestinya dia tidak menerima hak-hak para karyawan tetap. Semisal asuransi, reimbursement, dan lain-lain yang menjadi ketentuan di institusi tersebut. Ada proses rekrutmen, seleksi, training, dan sebagainya yang membedakan karyawan tetap dengan para freelancer. Freelance is project-based work. Freelancer hanya dibayar atas apa-apa yang dia kerjakan. Perhitungan bisa berdasar (1) lama pekerjaan, atau (2) target pekerjaan, atau (3) kombinasi keduanya.

5 Saran yang Tidak Bisa Diabaikan Freelancer Pemula

Di postingan sebelumnya saya sempat menyampaikan sedikit cerita tentang saya. Hehe. Sedikit narsis boleh dong ya 😀

Sekarang saya ceritakan terkait babak baru yang saya jalani. Terkait ini, artikel pendahuluannya adalah menghitung fee untuk freelance.

Bagi kamu para mahasiswa yang sudah membuka usaha jasa freelance bersama teman, ada baiknya untuk tidak melanjutkan usaha tersebut pasca lulus. Maksudnya adalah, tidak ada salahnya untuk ikut bekerja permanen lebih dulu di salah satu usaha yang sudah mapan.

Karena pengalaman kerja permanen itulah yang membentuk dan memperkaya diri kita. Sambil kita bisa membayangkan dan menyimpulkan, seberapa mampu kita bekerja/berbisnis secara mandiri.

Mari belajar dari mereka yang baru bekerja 3-5 tahun lalu sudah merasa bisa bekerja mandiri (freelance) & mengelola klien sendiri. Kenyataannya adalah hanya bisa bertahan sebentar, lalu terpaksa melamar kerja, kemudian bekerja kembali.

Akibatnya jadi lebih sulit karena usia sudah bertambah, harus menyesuaikan diri kembali, dan seterusnya.

Freelance memang tidak mudah. Sebab itu sebelum memulai freelance, pastikan kamu tahu tekanan mental dan finansial yang akan dihadapi. Freelance sudah pasti tidak sama dengan bekerja sebagai karyawan di perusahaan yang sudah mapan dengan pembagian tugas dan tanggung jawab yang jelas.

Untuk bertahan dari tekanan finansial, kamu harus punya cadangan dana. Ingat lho, belum tentu langsung mendapat dan punya proyek ketika memulai freelance. Di samping itu, belum tentu di setiap bulan-bulan awal akan penuh dengan proyek.

Skenario yang mungkin terjadi adalah: ada bulan-bulan yang ramai proyek, dengan bulan-bulan lain yang sepi proyek. Dalam jangka pendek, cadangan dana akan menolong kamu untuk bertahan. Dalam jangka panjang, perencanaan dan eksekusi pekerjaan/proyek, serta manajemen pelanggan adalah kunci untuk bertahan hidup.

Risk Management 

Belajar sesuatu yang baru adalah salah satu cara mengelola risiko yang mungkin terjadi berkait pekerjaan freelance. Di luar sana sudah banyak freelancer–thanks to digital technology and internet–yang belajar menguasai keterampilan kamu saat ini.

Cepat atau lambat, kamu pasti telah, sedang, dan akan berkompetisi dengan mereka. Pelajaran keterampilan yang baru akan membantu kamu memperoleh proyek yang berbeda.

Misalnya, web programming, software desain, dan sebagainya. Semuanya bisa kamu pelajari di mana saja, melalui laptop dengan spesifikasi yang relatif sama.

Standard hasil pekerjaan para freelancer juga beragam. Ada yang luar biasa –sudah berpengalaman, berkompeten, dan tahu persis deliverables-nya yang diberikan–, ada juga yang baru belajar—merasa bisa dan percaya diri setelah baru mampu mengoperasikan software pendukung pekerjaan.

Jadi sebagai freelance jangan merasa sudah jago. Merasa sudah bisa mengerjakan operasional pekerjaan sendiri, serta merasa sudah mampu sendirian menangani klien. Freelance harus terus belajar.

Tidak hanya belajar kemampuan yang baru dan berbeda. Tetapi juga belajar berani berkolaborasi dengan orang lain, dan mau mempelajari sesuatu yang baru.

Terkait belajar materi baru, bisa dikelompokkan ke dalam dua kategori besar. Yaitu belajar yang disuka saja. Artinya karena suka –dan belum tentu ada kliennya—maka materi tersebut dipelajari. Freelancer tipe ini suka menumpuk materi pembelajaran di computer kesayangannya. Hati-hati, jangan-jangan kamu termasuk freelancer tipe ini. Hehe 😀

Perilaku tersebut agak berisiko. Karena tidak siap dengan kebutuhan klien yang serba mendadak –dan cenderung baru—sehinggal gagal meraih kesempatan portfolio maupun laba yang baru.

Kategori kedua adalah freelancer yang belajar materi baru karena tuntutan pasar yang sedang booming –alias klien potensial yang mungkin datang—atau existing client yang menantang kamu dengan pekerjaan jenis baru yang belum pernah kamu kerjakan sebelumnya.

Tantangannya sudah jelas: belajar sesuatu yang belum kita sukai, alias tidak passion, dan mungkin berakibat pada menurunnya kualitas pekerjaan –karena tidak sesuai kata hati. Bagaimanapun juga, tantangan-tantangan ini harus diatasi sesegera mungkin.

Ingat yang dialami oleh Michaelangelo: dapat uang dari melukis, tetapi punya passion memahat patung. Beruntunglah mereka yang memiliki passion dan dapat memperoleh pendapatan darinya.

Belajar Operasional Bisnis

Karena ada dua aspek besar dalam pekerjaan freelance. Pertama, aspek operasional yang biasanya menuntut kreativitas tinggi supaya cipta karya-nya luar biasa. Kedua, aspek bisnis yang harus berjalan rapih dan sistematis.

Aspek pertama tidak perlu dijelaskan. Mungkin kamu lebih jago daripada saya. Hehe. Aspek kedua ini yang menuntut ketelitian terhadap detail. Mulai dari pembuatan proposal, presentasi rencana pekerjaan, closing penjualan, dan seterusnya.

Pokoknya segala yang terkait dengan cara-cara membuat pelanggan membayar kamu.

Juga ada administrasi semisal Surat Perintah Kerja (SPK) yang menjadi dokumen bahwa klien setuju mempekerjakan kamu. Bentuk lain dari SPK adalah dokumen Purchase Order (PO).

Ada pula dokumen penagihan (invoice) yang kamu kirimkan kepada klien setelah pekerjaan selesai. Klien biasanya tidak mengeluarkan sembarang uang begitu saja. Pengeluaran uang harus mengikuti invoice dari penerima pekerjaan.

Atau kwitansi setelah klien sudah membayar kamu. Kwitansi adalah dokumen bukti pembayaran klien kepada kamu.

Waktu dan Ruang Kerja

Pesan saya yang pertama, jangan bekerja di rumah. Minimal bekerja di dekat rumah. Kamu perlu keluar rumah, melihat jalan raya dan orang-orang setiap hari, serta kembali ke rumah untuk beristirahat dan bercengkrama dengan keluarga.

Penyatuan ruang kerja dan ruang berumah tangga/berkeluarga akan membuat kamu tidak fokus. Pekerjaan jadi tidak fokus, keluarga jadi berkurang perhatian. Remember the father-ing. Rumah dan keluarga adalah tempat kita “charge” psikis dan mental supaya bisa produktif bekerja.

Tentu waktu bekerja freelance pasti fleksibel. Kadang-kadang agak sepi pekerjaan, kadang-kadang harus mengejar deadline hingga malam hari atau bahkan pagi hari.

Yang jelas, harus alokasikan waktu untuk keluarga. Jangan sampai pekerjaan freelance malah mengabaikan keluarga. Padahal ‘kan kita ini bekerja demi keluarga.

Ada waktu untuk keluarga, ada juga waktu untuk bekerja. Jenis waktu kedua inilah yang namanya billable hours. Alias, waktu yang jelas-jelas kita pakai untuk bekerja –termasuk melaksanakan proses riset—dan bisa kita tagih man hour fee-nya kepada klien.

Sebab itu ketika menyusun proposal, anda harus mencantumkan (1) proses bekerja apa saja yang anda lakukan, (2) berapa waktu yang diperlukan, serta (3) berapa rupiah yang anda tawarkan atas setiap proses dan waktu tersebut.

Bagi freelance desain grafis atau arsitek –bahkan mungkin juga freelance yang lain–, proses ini yang seringkali tidak disadari oleh klien yang buta proses desain. Mereka pikir yang mereka bayar adalah hasil kerjanya.

Padahal tidak demikian adanya. Yang dibayar oleh klien adalah proses bekerjanya. Sebab itu pengalaman kerja atau portfolio klien atau portfolio produk yang menentukan seberapa besar fee seorang freelance—bukan produk akhirnya.

Yang ditentukan berupa man hour fee, atau man days fee.

Berlebihan dalam Idealisme 

Punya idealism terhadap pekerjaan dan standard hasil kerja itu penting. Tetapi harus tetap halus ketika dikomunikasikan dengan klien. Jangan terlihat merasa pintar di hadapan klien.

Meskipun sudah punya portfolio segudang, tetap harus respek dan hormat kepada klien—sebab mereka yang membayar kita.

Mudah tersinggung juga tidak baik. Perasaan harus digunakan, tetapi tidak di setiap waktu. Jangan kemana-mana malah baper (bawa perasaan). Baru ditolak klien sudah tersinggung. Harus tetap bersemangat. Cemunguuddhh kaka.. 😀

Perasaan seperti mudah tersinggung ini yang kurang baik bagi pekerja freelance. Akibatnya mungkin dan bisa fatal: klien tidak merekomendasikan kepada calon-calon klien yang lain.

Hati-Hati Soal Pembayaran

Skenarionya ada beberapa macam. Bayar DP dulu, sisanya belakangan. Sisa ini bisa 1 atau 2 kali pembayaran – yang kedua di tengah, yang terakhir setelah pekerjaan selesai. Jarang sekali klien yang membayar tuntas di depan.

Dari sisi waktu pembayaran, pekerjaa freelance harus berhati-hati. Sebab pembayaran bisa menunggak. Apalagi kalau banyak revisi yang harus dilakukan. Klien cenderung ingin pekerjaan selesai dahulu, baru dilakukan pembayaran.

Kalau sudah begini, para freelancer harus siaga. bukan siap antar jaga ya. Siap dengan dana cadangan untuk menopang jalannya usaha dan hidup keluarga. Tadi sudah dijelaskan tentang risk management apa saja yang harus dilakukan ya.

Atau siap dengan klien-klien lain yang memang biasa membayar dengan lancar. Ini termasuk risk management juga.

Bisnis jasa (service business) yang digeluti pekerja freelance memang nature-nya demikian. Kerja dulu, produksi dulu, baru dibayar. Hampir semua bisnis service memang seperti itu.

Namun demikian, kamu sebagai freelance dapat saja memiliki suatu produk yang sudah jadi dan diproduksi massal—cenderung tidak customized. Sehingga pembayaran mungkin dilakukan secara cepat oleh pembeli pra atau pasca penyerahan produk.

Kesulitan Kerja Remote

Blogpost ini diinspirasi dari blogpost Pak BR tempo hari. Linknya di sini. Habis ngasi komen di sana, langsung kepikiran untuk bikin blogpost sejenis.

So, kesulitan kerja remote tersebut masih ada hubungannya dengan produktivitas. Kapan hari sempat saya ulas di sini juga. Produktifitas juga ada hubungannya dengan punya teman-teman yang sepemikiran dan punya kesamaan minat.

Scale-of-remote-working-2

Disiplin

Setuju banget dengan perihal disiplin ini, Pak. Sebagai pemberi kerja, maupun pekerja, saya gak sepenuhnya yakin 100% dengan konsep remote working ini.

Salah satu yang melatarbelakanginya adalah kenyataan bahwa budaya kita dikenal sebagai low-trust society. Simply put, kita belum bisa meletakkan trust kepada orang lain sebelum kontrak tertulis atau uang muka proyek, dan bentuk-bentuk sejenisnya. Bukan sekedar si pemberi kerja belum percaya kepada pekerja, tapi juga sebaliknya: si pekerja belum yakin si pemberi kerja akan komitmen terhadap janji-janjinya. Termasuk di antaranya adalah pembayaran yang on-time.

Sebagai pekerja tatkala melakukan kerja remote, saya sudah yakin gak bisa sepenuhnya tidak diawasi atau tidak dikontrol oleh atasan. Baik berupa keikutsertaan di meeting, laporan yang ontime, maupun deliverables pekerjaan yang tidak melebihi deadline. Belum lagi, tatkala jenuh kita orang Indonesia cenderung buka social media (facebook, instagram, twitter, dlsb).

Remote dari rumah jelas menurun produktifitasnya. Istilah kerja 8 jam, mungkin efektif 7 jam. Ambil minum lha, chat sebentar sama ortu lha, dst. Belum termasuk ketidakpercayaan generasi ortu terhadap kita, yang tatkala ketak-ketik di laptop, disangka malah main game. Yang demikian jelas duduk nyaman di kursi dan komputer di atas meja saja menurun produktifitasnya, apalagi yang duduk bekerja sekenanya di karpet.

Coworking Space

Di sinilah coworking space jadi bermanfaat. Sewa ruang kerja dengan harga Rp50-100ribu per hari dijamin lebih produktif. At least, karena sesama rekan juga bekerja, maka kecenderungan ngobrol dengan juga akan berkurang. Apalagi kalo bisa berkolaborasi sesama desainer-fotografer-penulis-developer, dlsb.

Riset dari https://www.visualcapitalist.com/visualizing-rise-co-working-spaces/ bilang bahwa:

  • 25% responden menyatakan coworking space menghasilkan kolaborasi spontan (apalagi kalo ada orang sales yang mau jualan, makin mantap)
  • 22% memberikan networking/personal growth.
  • 18% menyatakan soal lingkugnan kerja yang lebih produktif.

Tidak heran pertumbuhannya coworking space-nya juga ada. Di UK (United Kingdom) saja sekitar 10% growth-nya per tahun lalu.

Tulisan dari Mas Zulkaida Akbar di bawah akan menceritakan betapa tidak efisiennya si Indonesia. Sebab di antara sekian jam kerja yang seharusnya dipakai bekerja, juga ada untuk YouTube-an maupun Facebook-an. Tidak heran orang Indonesia, seperti saya, masih juga membuka laptop dan bekerja di akhir pekan. Looks hard work, but actually not that efficient. Kalau sudah hard work plus efficient, kita pasti bisa rock the world juga, mestinya.

Balik lagi ke kerjaan remote. Kalau saya memberikan pekerjaan kepada orang lain, sebisa mungkin saya memberikan kepada yang saya tahu betul track-recordnya.

Atau, rekomendasi orang yang saya percayai. Terkadang, yg terakhir ini pun gak selalu berhasil. Atau minimal, saya bisa bertemu dengannya. Jadi, bisa kita rencanakan atau evaluasi bersama lewat offline meeting.

Berikut saya kutipkan status facebook dari seorang rekan, Zulkaida Akbar. Masih seputar fokus dan produktivitas. Sekarang menjalani profesi peneliti (fisikawan) di sebuah kampus di Amerika Serikat. Yang bisa saya ceritakan tentang beliau adalah, beliau orangnya fokus. Kebetulan, sudah menggeluti fisika sejak jadi peserta Olimpiade Fisika. Kemudian dibimbing Prof Yohanes Surya, lalu berlomba fisika (lagi) hingga tingkat internasional. Sempat menjadi aktivis kampus, tapi kembali lagi ke core-nya dia sendiri, yaitu Fisika. Sudah master, sudah pula doktoral. Sekarang menjadi fisikawan.

Fokus

Namanya Kathrina, seorang Jerman yang sempat singgah di Florida selama satu bulan untuk riset dibawah bimbingan Prof. Saya (yang juga seorang Jerman.)

Kathrina selalu datang jam 8 pagi, lantas menghidupkan komputernya dan mulai bekerja. Yang istimewa adalah detik mulai Ia bekerja, kepalanya seakan terpatri kuat pada layar monitor, jarang sekali terlihat menengok ke kanan dan ke kiri. Seluruh perhatiannya tersedot untuk pekerjaannya.

Kawan-kawan di kantor pun jadi segan untuk menyapanya.

Kathrina memang berbeda dengan kawan-kawan sekantor saya atau kolega satu group. Brad sering kedapatan membuka Channel olahraga saat bekerja. Chris si Veteran Iraq menyelingi pekerjaanya dengan me”Like” berita-berita republikan, atau berdebat tentang Israel-Palestina dengan Hussein. Sementara Hiram si Puertoriqan selalu terlihat tidur di sudut kantor.

Bagaimana dengan Si Indonesian? Mudah diterka, karena  bisa dipastikan tab Facebook dan Youtube-nya selalu terbuka. Terkadang ia juga menyempatkan untuk bergosip dengan kawan-kawannya di group WA.

Jam 12 teng Kathrina beranjak menuju Microwave, kemudian menghangatkan makan siangnya. Selepas santap siang, dia akan bekerja hingga jam 5 teng, lalu pulang.

Beberapa saat kemudian, ketika kami sama-sama menghadiri suatu pesta, baru saya sadari bahwa Kathrina ternyata manusia “normal” juga. Bagi dia, jamnya kerja ya harus kerja. Jamnya pesta ya pesta. Merupakan sebuah aib bagi dia jika Ia melakukan hal Non-kerja saat jamnya bekerja atau sebaliknya ; bekerja ketika jamnya untuk berpesta.
…………..

Sebut saja namanya H, si Tukang mabok tapi papernya bejibun ini mendapat gelar masternya di Stratsbourg (perbatasan Jerman-Prancis). Dia berangkat kerja di waktu normal, pulang juga di waktu normal.

Namun yang menarik adalah meskipun H perokok berat, tapi H tidak pernah membawa rokoknya ke Kantor, melainkan menggantinya dengan permen Nikotin. Alasannya sederhana, H tidak ingin membuang waktu kerjanya sekedar untuk keluar ruangan dan merokok. Sama seperti Kathrina, bagi H jam kerja ya harus dilalui dengan Full bekerja.

Bagaimana dengan Si Indonesian? Dia sering bekerja siang dan malam, belasan jam perhari. Weekday juga weekend. Ketika si Indonesian bertemu dengan H, dengan penuh kekaguman H berkata :”If I can work as hard as you, I will rock the world.” Si Indonesian kemudian menjawab :”If I can work as efficient as you, I  will also rock the world.”

Mengapa Si Indonesian menjawab demikian? Karena si Indonesian ini sadar, bahwa diantara belasan jam yang ia “klaim”, terdapat sekian jam untuk FaceBookan, Youtubean dan an an yang lainnya.

Apakah efek akhirnya sama dengan si Jerman?

Nyatanya tidak. Karena si Indonesian ini meski sudah 3 tahun ngaji kepada Prof. Jerman, tetap belum bisa memenuhi standar beliau : paling lambat satu minggu sebelum conference, slide sudah siap (juga sudah berlatih). Hampir 1 tahun sebelum menyelenggarakan konferensi, web sudah dibikin, lantas kami dminta untuk mengirim email dan abstrak hanya untuk memastikan bahwa sistem web berjalan. Juga printilan2 lain seperti Tas, map dll. Semuanya betul2 dipersiapkan sejak dini.

Saya yang terbiasa dengan kepanitiaan raksasa saat dikampus (OSKM=2000 panitia) terkejut bahwa satu gawe konferensi internasional yg diselenggarakan FSU nyatanya bisa dimanage dengan baik hanya oleh seuprit orang.

Kata2 Favorit Prof. Saya : Check List, prioritas, Be Carefull with your promise! Give me reasonable time estimation!

Diantara Negara2 dgn GDP terbesar seperti US, China; Orang Jerman paling sedikit jam kerjanya. Namun mereka sangat efisien dan terukur. Semua serba well organized. Weekend bagi Prof. Saya adalah family time, saat email tidak disentuh dan saat berlatih irish trap dance bersama istri dan anaknya.

Pilih Manajemen Keuangan atau Manajemen Pemasaran

Dalam artikel terdahulu, saya menyampaikan alasan-alasan mengapa memilih program studi manajemen. Lalu, setelah sudah di dalam, kamu mau fokus ke konsentrasi yang mana? Pertimbangannya bisa karena (1) apa yang kamu sukai, atau (2) bidang pekerjaan yang ingin kamu tekuni nanti.

Ada beragam pilihan, tergantung bagaimana kampus kamu memetakan konsentrasi-konsentrasi tersebut. Yang paling sering saya temui adalah pengelompokan konsentrasi berdasar: (a) marketing, (b) finance, (c) human resources, dan (d) operation. Bagi saya, human resources dan operation itu agak rumit. Jadi kita bahas yang konsentrasi marketing dan finance aja ya 😀

Kalau marketing, enak dipelajari. Apalagi studi-studi kasusnya itu, lho. Baik yang berhasil (bisa kita tiru dan modifikasi), atau yang gagal (supaya kita bisa hindari). Bidang pekerjaannya tentu saja di direktorat marketing dan sales. Dulu di kampus saya mata kuliah yang sering dibuka adalah brand management, service marketing, dan customer behavior.

Kalau finance, sebenarnya sama rumitnya. Tetapi saya kira ini penting untuk saya pahami (secara pribadi). Mata kuliah yang dibuka biasanya investment project analysis, risk management, dan capital market. Kalau tertarik berkarir di bidang keuangan, bisa berkarya di perbankan, asuransi, atau perusahaan investasi. Bisa juga bekerja di fungsi-fungsi tersebut, terutama treasurer (bendahara).

Lalu, bagaimana dengan saya? Saya menilai untuk marketing bisa saya pelajari sendiri. Sebab sejak bertahun-tahun sebelumnya saya sudah membaca tentang marketing, khususnya buku-buku populer mengenai marketing. Akhirnya saya mengambil 3 mata kuliah pilihan di konsentrasi finance dengan tugas akhir (tetap) di konsentrasi marketing.

Saat ini, saya sendiri sekarang aktif bekerja di sebuah konsultan pemasaran. Mudah-mudahan artikel pendek ini bermanfaat untuk kamu yang bimbang menentukan pilih manajemen keuangan atau manajemen pemasaran.

Related Post:
Alasan Memilih Prodi Manajemen
Biaya Kuliah MBA ITB

Alasan Memilih Manajemen Keuangan

Saya pernah bimbang ketika harus memilih salah satu di antara dua: manajemen keuangan atau manajemen pemasaran. Pada akhirnya saya memilih manajemen pemasaran, tapi sebelumnya saya galau dengan manajemen keuangan. Saya saat itu berpikir bahwa penting sekali mempelajari manajemen keuangan, dan tidak semua orang mampu mengajarkan manajemen keuangan dengan baik.

Ibarat mengendarai mobil atau motor, maka manajemen keuangan adalah kemampuan kamu untuk membaca panel yang berisi speedometer, jumlah bensin yang tersisa, tingkat perputara mesin, dan lain sebagainya. Hanya mampu menjalankan bisnis (memproduksi, lalu mempromosikan, kemudian menjual) saja tidak cukup tanpa pemahaman “apa yang sebenarnya terjadi dengan keuangan perusahaan/bisnis kita”. Ini mirip dengan bisa berkendara tapi tidak tahu kapan bensin akan habis dan harus masuk stasiun pom bensin. Berikut adalah beberapa contohnya:

  • Apakah untung dari bisnis kita benar-benar ada? Atau sekedar uang yang masuk > uang keluar?
  • Apakah likuiditas kita cukup untuk menjalankan perusahaan paling tidak selama 3 bulan ke depan? Jangan-jangan uang kontan kita habis untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran yang sifatnya mendesak (misal: gaji karyawan di bulan ini).
  • Berapa rupiah inventory yang kita miliki? Apa risikonya bila inventory tersebut tidak segera terjual? Dan berapa cepat kita bisa menjualnya?
  • Dst.

Sekarang, saya coba ingat-ingat kembali mengapa saya pernah tertarik dengan manajemen keuangan. Dan kalau kamu memiliki poin-poin yang sama seperti yang saya uraikan di bawah ini, mungkin akan membantu kamu dalam memprioritaskan manajemen keuangan dibandingkan dengan konsentrasi-konsentrasi yang lain di jurusan manajemen:

Tertarik dengan hal-hal berbau investasi dan pasar modal. Saya biasa menggolongkan investasi menjadi 2 kelompok, yaitu investasi konservatif dan investasi di instrumen finansial. Yang pertama, identik dengan emas (salah satunya yang berbentuk perhiasan) dan tanah (atau properti). Masih masuk dalam kelompok pertama, tapi konservatif dan perlu kerja keras, adalah investasi pada sektor riil. Termasuk beralih menjadi full-time entrepreneur. Yang kedua, adalah surat utang (termasuk sukuk), dan saham (dari pasar saham). Kombinasi surat utang dan saham, yang biasa kita kenal dengan sebutan “reksa dana” juga termasuk kategori kedua.

Feel challenging banget kalau merasa belum paham dan ingin bisa “menguasai” hal-hal berbau duit. Kalau minat kamu di keuangan yang seperti ini dan kamu ingin memiliki kemampuan untuk menguasainya, maka kamu cocok di manajemen keuangan. Ketika kamu seringkali tertantang untuk menguasai suatu permasalahan keuangan. ini berarti kamu sudah passion di financial management.

Suka ngutak-ngatik angka, tapi bukan seperti matematika yang terlalu science. Manajemen keuangan tidak sama dengan menurunkan suatu rumus diferensial dan integral pada kalkulus ketika kita mengambil kelas IPA di SMA dulu. Tidak serumit itu. Justru sederhana, tetapi ada (terlalu?) banyak yang sederhana. Intinya adalah kamu suka mengolah practical numbers. Yaitu rumus-rumus yang sederhana. Indikator-indikator sederhana yang bisa sangat mereleksikan kinerja suatu bisnis, dan hal-hal semacam itu.

Contoh indikator sederhana misalnya pada industri ritel adalah inventory turnover. Artinya adalah seberapa cepat inventory tersebut berubah menjadi rupiah. Saya kira bukti bahwa kamu suka ngutak-ngatik practical numbers ini adalah ketika kamu suka membaca neraca (balance sheet), laporan laba-rugi (income statement) dan laporan dari manajemen.

Manajemen risiko. Bisnis itu kental dengan risiko yang terukur. Kalau kita tidak bisa mengukur risikonya, lebih baik jangan terjun di bisnis itu. Dan justru di situlah seninya berbisnis: bagaimana kita mengukur dan melakukan treatment terhadap risiko tersebut dengan lebih baik daripada kompetitor kita melakukannya. Bagaimana cara mengukur risiko? Semua dasar-dasarnya di ajarkan di konsentrasi manajemen keuangan.

Jadi sudah saya paparkan beberapa alasan memilih manajemen keuangan. Tentu saja itu belum semua. Mungkin kamu punya alasan berbeda yang mendorong kamu memilih manajemen keuangan instead of konsentrasi-konsentrasi yang lain. Semoga sedikit uraian tersebut dapat membantu kamu memilih konsentrasi yang tepat untuk kamu saat ini dan karir kamu ke depan.

Related Post:
Pilih Manajemen Keuangan atau Manajemen Pemasaran
Alasan Memilih Prodi Manajemen

Freelance Marketing

Is she/he a freelance marketing? 

Tanyakan saja dia terikat kontrak/pekerjaan dengan pemberi produk/jasa yang harus dia jual. Kalau dia terikat, berarti dia bukan freelance. Biasa disebut juga sebagai pegawai organik.

Keuntungan paling utama di perusahaan dalam mempekerjakan para freelancer marketing adalah punya karyawan sales saat dibutuhkan dan tidak punya saat tidak dibutuhkan.

Maksudnya bagaimana? Maksudnya begini. Ada masa di mana produk sedang melimpah dan (tentu saja) harus dibuat laku sesegera mungkin. Misalnya, perumahan tapak atau rumah susun yang baru saja selesai dibangun. Produknya sudah tersedia, semestinya bisa laku dengan cepat. Untuk mengantisipasi demand atau kedatangan calon buyer yang membludak, maka diberdayakanlah para freelance marketing tadi.

Dalam contoh ini, tiada gaji tetap pun tak apa. Karena calon pembeli sudah banyak yang datang ‘kan? Tinggal di-closing-kan saja, maka pendapatan untuk freelance marketing akan berupa komisi penjualan.

Pilih Niche

Tidak semua produk bisa dijajakan oleh freelance marketing. Bukan karena freelance marketing-nya tidak jago, melainkan tiap produk dan jasa memiliki karakteristik masing-masing. Sehingga kala meng-hire freelance marketing, harus diketahui pula pengalamannya dalam menjajakan barang tersebut.

Apakah barang fast moving?
Bayar di tempat atau transfer?
Cash atau credit? Dst.

Konsekuensinya adalah freelance marketing harus memilih dia akan fokus di industri/produk apa. Freelance marketing di industri properti, harus kompeten menjajakan rumah tapak, apartemen, kontrakan, dsb. Karena sifatnya seringkali kredit, dia harus membantu pula perusahaan dalam melakukan pengecekan terhadap kemampuan mencicil si pembeli. Jangan sampai sudah akad, ternyata yang bersangkutan malah gagal bayar/melunasi properti yang dia beli.

Apalagi nilai pembeliannya besar. Calon pembeli harus terus di-follow up. Sebab banyak hal yang harus dia diskusikan. Dengan pasangan suami/istrinya, dengan orang tua dan mertua, jarak dengan lokasi pekerjaan atau sekolah anak-anak, dst. Untuk buyer yang belum nyata yes/no pembeliannya, hukumnya wajib ditindaklanjuti. Minimal ditanyakan, kapan ada waktu untuk melihat purwarupa/contoh dari produk properti yang ditawarkan.

Freelance / Agency?

Freelance itu bagus untuk mengawali karir. Terutama pasca lulus atau resign dari tempat kerja lama. Tapi apa mau selamanya freelance? Mestinya tidak.

Kita semua pasti mau tumbuh dong. Tumbuh omzetnya, pekerjanya juga bertumbuh alias bertambah, dan tumbuh pada hal-hal lainnya juga. Tidak mungkin rasanya semua stuck dengan status freelance. Selain capek dan bosan mengerjakan end-to-end seluruh pekerjaan (dari cari klien, sampai dengan mengeksekusi pekerjaan tersebut sendirian), kita tentunya ingin fokus pada aspek tertentu pada pekerjaan kita sehingga kita bisa fokus pada dimensi-dimensi lain dalam kehidupan kita (baca: rumah tangga, parenting, kegiatan sosial, dan sebagainya).

Mungkin awalnya jadi outsource untuk mengerjakan online marketing. Mulai dari membuat desain diskon promosi, membuat copywriting iklan, sampai dengan menanggapi engagement (comment, message, etc). Tetapi lama-lama bisa menerima dan mengerjakan lebih banyak proyek dari banyak klien. Dari awalnya bekerja sendirian, kini sudah bisa bercerita ke calon-calon klien yang lain bahwa sudah mempunyai tim dan memiliki agensi sendiri.

(digital/online agency ini, sekedar contoh saja ya).

Value = Benefit/Cost

Kalau sudah mulai grow, tentu harus bisa mengkomunikasikan secara jelas value yang didapat oleh buyer kita. Value = Benefit/Cost. Artinya adalah benefit (manfaat) apa yang dia dapatkan atas kebutuhan/keinginan dia. Dibandingkan dengan cost (biaya) yang harus dia keluarkan untuk mendapat benefit tersebut. Tidak hanya berupa uang ya, melainkan juga waktu, tenaga, dan sebagainya yang harus dia korbankan.

Inilah yang namanya standard produk/layanan. Sebagai contoh. Bayar sekian, dapatnya ini, ini, dan ini. Mungkin bayar ke kita lebih tinggi dibanding yang dia bayar ke toko/lapak/kompetitor sebelah, tetapi dengan manfaat yang lebih besar tentunya. Contohnya seperti itu. Selanjutnya silakan dikembalikan kepada anda, ingin memposisikan produk/layanan anda seperti apa.

Ada yang namanya SLA (Service Level Agreement). Service adalah layanan-layanan yang melengkapi produk yang dihantarkan kepada klien. Jadi klien tidak hanya mendapat benefit produk saja, melainkan juga layanan yang meliputi dan melingkupi produk tersebut. Namanya saja agreement, jadi semacam standardisasi yang harus diberikan karena sudah disepakati dengan si pembeli.

Bagaimana jika sudah berjanji macam-macam, terus minta harga jual yang tinggi, ternyata gagal menghantarkan benefit-nya? Ini namanya over promise under deliver.

Bahas yang lain lagi, yuk.

Freelance Social Media Manager

Pengelolaan sosial media tidak hanya taktik semata. Tetapi juga stratejik. Artinya, kalau mau jadi freelance sosial media manager yang sukses, harus bisa menguasai keduanya.

Taktik, artinya dengan skill yang kamu miliki, kamu sukses mengeksekusi pekerjaan terkait social media. Kita buat list-nya dulu:

Pekerjaan:

  • Mengelola keberadaan brand produk atau institusi di social media
  • Mengukur dan menganalisis perubahan persepsi produk/institusi ini menggunakan alat-alat pengukuran yang tersedia
  • Berinteraksi dengan pelanggan sesuai dengan standard institusi/brand
  • Membuat materi promosi dan iklan yang mewujudkan target jangka pendek dari institusi/brand
  • Mengukur perubahan persepsi publik mengenai brand produk/institusi
  • Mendistribusikan materi promosi dan iklan ke berbagai saluran social media

Skill:

  • Menulis: manajer social media harus tahu dan bisa membuat materi iklan yang efektif. Lebih baik bila menguasai Search Engine Optimization (SEO)
  • Riset: update dengan tren di internet dan social media
  • Problem solving: mempu menjadi representasi brand/institusi yang mampu menangani permasalahan, mengkomunikasikan secara baik kepada stakeholder internal dan external, terutama kepada audiens social media
  • Organizational: berkomunikasi efektif dengan pelanggan dan pihak yang bertanggung jawab terhadap brand (biasanya product manager/brand manager) atau institusi (divisi hubungan masyarakat)

Karena terkait dengan saluran yang tidak mengenal waktu, yaitu 24 jam sehari dan 7 hari seminggu, tentu saja freelance social media manager harus selalu bisa diakses dari manapun dan kapanpun. Sehingga bisa sekedar menghimpun informasi terkait masalah yang terjadi, maupun menanggapi masalah tersebut dengan cepat.

Meski social media bukan tempat di mana transaksi biasa terjadi, namun social media harus mampu mengarahkan audiens atau pelanggan agar bertransaksi. Di sinilah kepiawaian manajer social media dituntut, bahwa tugasnya tidak melulu menghabiskan dana untuk membangun brand. Melainkan juga menjadikan aktivitas social media tersebut turut berimpak pada pendapatan institusi/brand.

Dan sebagai bagian dari fungsi pemasaran, hendaknya manajer social media juga mampu mewujudkan fungsi-fungsi Segmenting and Targeting secara tepat. Jadi bukan menghambur-hamburkan anggaran secara percuma, melainkan perlahan-lahan mampu mengefektifkan penggunaan budget. Melalui pemahaman yang semakin mendalam terhadap segmen-segmen yang ada di pasar berikut tren dan dinamikanya (segmenting) serta penetapan target yang semakin tajam seperti laser (targeting).

(22/07/2018) Semakin ke sini, saya semakin meyakini bahwa pengelolaan social media sebaiknya dilakukan oleh tim di internal alias karyawan tetap atau pegawai organik. Mengapa demikian? Karena dinamika di dalam internal organisasi (konteks: employer branding) atau dinamika di brand management merupakan bahan baku paling berharga dalam menstrategikan konten-konten yang salah satu saluran komunikasinya adalah social media.

Related Post:

  • https://ikhwanalim.wordpress.com/2015/11/16/freelance/
  • https://ikhwanalim.wordpress.com/2015/09/18/berapa-fee-untuk-freelancer/

Segmenting-Targeting-Positioning

Salah satu yang mencirikan ilmu manajemen sebagai ilmu pengelolaan adalah bagaimana meningkatkan efisiensi dalam proses. Salah satu yang biasa didengung-dengungkan adalah fokus pada apa yang dilakukan saja. Contohnya perusahaan distribusi seperti PT. Tigaraksa Satria. Agar bisa mengembangkan usaha distribusi produknya, perusahaan ini akhirnya memutuskan untuk melepas salah satu Strategic Business Unit-nya, yang berupa produksi barang. Tujuannya jelas, supaya bisa berkembang lebih besar, perusahaan ini memilih fokus dalam proses yang dilakukannya.

Pindah ke topik marketing. Agar fokus dalam membidik target pasar yang diinginkan, muncul konsep Segmentation, Targeting and Positioning yang biasa disebut STP. Konsep ini digunakan oleh para perusahaan untuk meningkatkan volume penjualan, terutama dengan cara memunculkan customer loyalty dari pasar yang ditargetkan. Sekali lagi, hanya dari pasar yang ditargetkan.

Segmentation adalah proses mengkelompok-kelompokkan pasar yang besar ke dalam bagian-bagian lebih kecil. Dimana, setiap bagian pasar tersebut, yang dapat kita sebut sebagai target pasar, memiliki ciri khas tersendiri, sebagai identitas bagian pasar tersebut. Contohnya, kita bicara tentang pasar yang berukuran besar seperti pasar susu. Di dalamnya terdapat pasar-pasar yang lebih kecil lagi seperti: pasar susu bayi, pasar susu balita, dan pasar susu kalsium. Dan setiap kategori target pasar ini, memiliki karakteristiknya masing-masing.

Targeting adalah proses memilih target pasar, dari kategori-kategori target pasar yang sudah ada. Tahap ini relatif lebih mudah, karena dari data yang sudah ditemukan tentang pembagian pasar yang ada dalam tahap segmentation, kemudian diikuti besarnya nilai pasar tersebut (ada yang menyebut sebagai besar “kue pasar”) dalam mata uang rupiah misalkan, selanjutnya tinggal dilakukan pemilihan saja. Pemilihan target pasar didasarkan pada apa, itu tergantung strategi perusahaan.

Positioning adalah pertempuran untuk merebut sebuah kavling di benak konsumen. Hal ini penting dilakukan, karena bisnis bisa tidak jalan ketika, perusahaan anda dan perusahaan kompetitor membagi-bagi pasar ke dalam segmen-segmen yang sama, kemudian memilih target pasar yang sama, tapi perusahaan anda tidak membedakan diri dengan kompetitor. Keadaan terburuk yang bisa terjadi adalah, pangsa pasar kita akan digerus oleh kompetitor yang lebih mampu menempatkan produknya di dalam benak konsumen dengan lebih baik dibanding kita.

Contoh paling sederhana adalah dua sabun dari unilever : lifebuoy dan lux. sama-sama sabun, tetapi menempati positioning yang berbeda di benak konsumen : yang satu sabun kesehatan untuk keluarga, yang satunya sabun kecantikan untuk wanita.

Bagaimana kita dapat menancapkan positioning produk/jasa kita, dapat kita awali dengan menganalisis lebih lanjut karakteristik target pasar, yang sudah kita ketahui sejak tahap segmenting. Kita tentu dapat memperkirakan aktivitas-aktivitas target pasar kita apa saja, dimana biasanya mereka berada, apa saja media yang dapat menjangkau mereka, dan seterusnya dan seterusnya.

Kemudian kita beranjak ke bagaimana positioning strategy yang bisa kita lakukan. Pertama, merancang marketing mix yang tepat, yaitu mencakup product, price, place, and promotion (4Ps), yang krira-kira akan mewakili positioning yang dikehendaki. Selanjutnya, dalam promosi yang kita lakukan, harus memuat pernyataan manfaat produk/jasa untuk konsumen. Dan pernyataan ini harus cukup kuat untuk menciptakan pembelian, serta merupakan sesuatu yang unik, seakan-akan belum pernah ada di dunia periklanan sebelumnya. Pernyataan ini dapat berupa positioning statement saja yang digaungkan di internal tim pemasaran, atau bisa berupa tagline yang diketahui oleh calon maupun existing target market.

Jadi, tagline adalah salah satu cara bagi brand untuk mengkomunikasikan positioning-nya. Yaitu, perbedaan manfaat yang dia tawarkan dibandingkan dengan brand lain yang memberi manfaat sejenis.

Konsep segmenting-targeting-positioning adalah konsep manajemen pemasaran yang memfokuskan produk/jasa kita untuk target pasar tertentu, dengan pola komunikasi promosi yang juga tertentu. Mudah-mudahan sedikit penjelasan di atas dapat bermanfaat bagi anda dalam memasarkan produk anda.

Lima Kesalahan Pebisnis Kafe yang Harus Anda Ketahui Sebelum Membuka Kafe Baru

Kafe dengan desain interior yang menarik, mentarget anak muda, menyediakan makanan ringan, hingga beragam jenis kopi (espresso, americano, latte, cappucino, dll) sudah sangat biasa.

Bahkan kompetisinya pun terasa semakin ketat. Tempat tinggal saya di Tubagus Ismail, yang sekitar belasan tahun lalu masih termasuk daerah sepi, semakin ke sini semakin ramai dan komersil. Tidak terkecuali oleh kafe. Tipikal bisnis yang satu ini semakin merangsek ke “pedalaman”. Meski menjauhi kampus, namun tingkat keramaiannya tidak kalah dengan kafe yang bermukim di sekitar kampus.

Menurut asal Bahasa (Prancis)-nya, cafe (akar kata kafe) secara harafiah berarti minuman kopi. Sekarang ini kafe tidak lagi sekedar minuman kopi, melainkan sudah menjadi “wahana kuliner” yang menyediakan beragam kopi serta sekaligus makanan ringan. Tidak pula sekedar menjajakan makanan dan minuman, namun jual experience sekaligus event.

Kafe itu bisnis yang semakin menjamur seiring dengan membludaknya jumlah kelas menengah di Indonesia. Sebab, segmen ini punya kebiasaan “seen and to be seen” alias ingin melihat dan dilihat oleh orang lain. Pasti cool rasanya kalo terlihat punya komunitas, atau kelihatan sedang sibuk meeting membahas proyek bersama partner, dan seterusnya.

Kalau terlihat sendirian, entah masih disangka menunggu teman-teman datang, atau memang jomblo tulen yang hampir lumutan.

Bagaimana membuat bisnis kafe jadi luar biasa? Ada beberapa kesalahan yang kerap kurang diperhitungkan secara strategis oleh para pemilik kafe sehingga bisnis kafe-nya belum berumur panjang tetapi sudah harus ditutup.

Kesalahan pertama. Berharap traffic datang dengan sendirinya.

Baiknya, memang sudah ramai. Cara mengukur keramaian: menghitung berapa banyak sepeda motor dan kendaraan roda empat yang melalui jalan tersebut.

Traffic juga bisa kita perhitungkan secara strategis. Contoh: buka warung bakso bersebelahan dengan usaha cuci mobil. Warung bakso jadi punya captive market (pasar yang sudah jelas akan berbelanja di mana) ‘kan. Atau jual makanan ringan yang tepat untuk segmen usia SMP atau SMA. Dan outletnya dibuka persis di samping bimbingan belajar (bimbel).

Kesalahan kedua. Tidak membangun komunitas.

Bisa dikonsepkan sejak awal, bisa pula dibangun sambil jalan. Misalnya, kafe berbasis suporter klub bola dikesankan oleh sebagian orang adalah kafe yang menutup diri terhadap suporter lain. Tidak begitu juga. Karena dengan membangun kafe berbasis suporter, misalnya seperti Kafe Persib di Jalan Sulanjana Bandung, justru terbangun ketahanan usahanya karena pelanggan sekaligus evangelist-nya tersebut selalu mengunjungi dan berbelanja di sana.

Evangelist itu semacam pelanggan yang lebih dari pelanggan biasa. Alias pelanggan luar biasa. Karena selain berbelanja, dia juga ikut mempromosikan. Baik via word of mouth (WOM) atau social media miliknya.

Kesalahan ketiga. Tidak mengadakan event.

Bentuknya bisa apa saja. Mulai dari nonton bareng sepakbola (terutama liga eropa di akhir pekan), show dari band lokal, stand up comedy, dan lain sebagainya. Kalau nobar sepakbola, tolong buat jadwal yang jelas ya. Kapan mulai boleh datang –soalnya bisa jadi bentrok jadwal dengan pertandingan sebelumnya — sampai dengan kapan pertandingan dimulai (kick-off). Saya pernah abai sama informasi dari suatu kafe, sehingga harus berkeliling dahulu bersama teman, karena saya salah menangkap informasi waktu kick-off tersebut.

Event tidak selalu untuk menarik crowd sehingga omzet naik drastis ya. Namun omzet juga bisa direkayasa melalui kerjasama dengan sponsor yang bersedia untuk menyumbang. Yang diincar oleh para sponsor ini adalah event sebagai sebuah medium untuk berkomunikasi dengan segmen yang sudah sesuai dengan target mereka.

Kesalahan keempat. Ambience kafe yang kurang tepat.

Ambience is the character and feeling of a place. 

Desain kafe tidak hanya untuk mendapatkan penampilan yang ‘tepat’. Tetapi juga merancang pengalaman (experience) dari pengunjung. Betul-betul harus didesain sedemikian rupa sehingga tidak terasa sebagai minum air kopi saja. Melainkan benar-benar ada pengalaman yang diperoleh pelanggan.

Pelanggan yang puas dengan service yang diberikan, in shaa Allah akan kembali berbelanja di kita. Tidak mungkin kita selalu mengharap kedatangan pembeli baru, ‘kan?

Apakah kafe harus selalu indoor? Tidak juga. Yang penting tidak ada masalah dengan kafe yang memiliki area terbuka (outdoor) yang penting ada solusi untuk menghindarkan pengunjung manakala hujan turun.

Kesalahan kelima. Perwujudan efisiensi rantai suplai.

Ayolah, anda tidak hanya berharap kafe adalah satu-satunya bisnis anda, ‘kan? Kafe, sebagai sebuah bisnis hilir, sesungguhnya mempunya potensi lebih. Yaitu sebagai showroom dari produk atau layanan anda yang lain. Misalnya keluarga anda memiliki usaha katering yang sudah turun-temurun diwariskan dari nenek moyang. Sayang dong bila salah satu produk andalan dari katering tersebut tidak ditampilkan dan dipromosikan di kafe anda.

Sebagai sebuah hilir dari bisnis yang lain, ini adalah alternatif ‘curi start’ yang bisa dilakukan. Eksklusifitas dari brand (fesyen/kuliner, dll) milik anda semakin terjaga bila hanya didistribusikan di channel tertentu (baca: kafe milik anda) saja.

Visual merchandising-nya harus oke punya. Display-nya harus atraktif dan mengundang pembeli untuk berbelanja. Kata-kata yang ditampilkan harus mudah dipahami, harga tertera dengan jelas (menjadi jelas pula benefit yang ditawarkan), .

Simpulan. Sebagaimana bisnis-bisnis pada umumnya, masing-masing memiliki karakteristik risiko yang unik. Penanganan terhadap risiko bisnis kafe, sudah kita eksplorasi dengan jelas di atas.

Nah, bila kita tidak mampu mengelola risiko tersebut hingga benar-benar “jebol”, kapan kafe harus ditutup?

Ketika (1) pemilik kafe tidak lagi mendapatkan laba, kecuali kafe tersebut memang sarana berkumpul dengan sahabat-sahabat dekatnya (2) labanya tidak seberapa dibandingkan dengan tenaga, waktu, pikiran, dan uang yang keluar (3) sebelum kafe tersebut mengalami rugi yang lebih besar lagi.

Related Post:

Kapan Sebaiknya Kuliah S2?

(artikel ini saya sharing berdasar cerita kawan-kawan saya ketika mengambil program s2)

Lulus S1, bekerja, kuliah S2 reguler. Bosan dengan pekerjaan, jadi salah satu alasan para early jobber mengambil program s2. Alasan lain adalah kangen kembali ke kampus dan pergi belajar. Dan beberapa alasan lainnya. Yang intinya adalah, saat bekerja malah ingin belajar. Padahal ketika belajar malah ingin bekerja alias cari duit. Yang harus diperhatikan adalah syarat umur ketika lulus S2 dan ingin berkarir kembali. Beberapa perusahaan, terutama untuk program Management Trainee (MT) mensyaratkan maksimal usia adalah 28 tahun. Sudah sedikit sekali yang mensyaratkan 30 tahun.

Lulus S1, langsung S2. Untuk mereka yang belum bosan belajar, boleh mengambil cara ini. Keunggulannya adalah hemat waktu. Istilahnya, serba sekalian. Sekalian jadi Master, sekalian memperdalam bidang ilmu yang dulu ditekuni, sekalian meneruskan kost-kostan. Cara ini  kurang cocok untuk mereka yang langsung dianggap mandiri oleh ‘investor kuliah’ atau mungkin orang tua. Hehehe 😀 Alias kurang cocok untuk mereka yang harus bekerja dulu beberapa waktu menikmati gaji serta harus menabung sendiri untuk biaya S2.

Sambil bekerja, mengambil S2 di akhir pekan. Menurut pengamatan, cara ini melelahkan. Kuliah tapi kok ya engga fokus belajar. Kerja tapi koq engga bisa menikmati liburan di akhir pekan. Mereka yang kuliah di akhir pekan ternyata jarang menyentuh buku di malam-malam weekdays. Alasannya sederhana: CAPEK!! Giliran harus kerja kelompok, baru bisa di hari jumat atau sabtu. Jelas tidak optimal. Baik membaca maupun mengerjakan tugasnya. Dan cenderung minta dosen mempercepat pulang ketika kuliah di weekend. Hehehe 😀

Nikah dulu baru S2, apa S2 dulu baru nikah? Hehehe 😀 Sebenarnya sama-sama engga masalah, selama duitnya ada. Tah, eta tah! Justru di sini ternyata masalahnya. Bingung dengan duit yang belum banyak, mau mendahulukan yang mana 😀 Saran saya siy, kalau sudah ada calon dan sudah ada dana ya dahulukan saja menikah. Toh, menikah adalah ibadah. Ya kan? Kalau pun keburu ada tanggungan anak, tinggal mencari beasiswa saja. In shaa Allah, Maha Pemberi Rezeki akan mencukupkan kebutuhan hamba-hamba-Nya yang senantiasa berdoa memohon rezeki yang melimpah (Aamiin!!). Mau mengundur kuliah padahal satu semester sudah berjalan? Ya tidak apa, tho S2 bisa dilakukan kapan saja kan. Bagaimana dengan kasus sebaliknya? Jelas, dahulukan S2 dong daripada mau  menikah tapi belum ada calon #ehh. Disclaimer: tidak bermaksud menyindir oknum-oknum tertentu.

Pesan paling penting: jangan kuliah, karena mengejar gelar. jangan pula kuliah untuk menaikkan karir. Meski gelar pendidikan adalah syarat naik jabatan. Tapi bagaimanapun, berkuliahlah untuk belajar. Karena belajar adalah cara kita untuk menjadi lebih baik dari waktu ke waktu

Sales Supervisor

Kriteria penting untuk menjadi area sales manajer adalah mampu mengelola tim. Mampu berhubungan baik dengan anggota tim dan mampu memotivasi kinerja mereka. Sesekali harus menyediakan waktu untuk melakukan visit kepada customer. Di samping untuk mendengar langsung masukan dari pelanggan, serta untuk mengevaluasi kinerja anggota tim yang melayani pelanggan tersebut. Anggota tim belum tentu semuanya adalah sales yang turun ke lapangan. Salah satu anggota tim adalah Sales Administrator atau Sales Admin.

supervisor

Sales administrator. Day-to-day bekerja di kantor mengelola berbagai dokumen penjualan. Mengkoordinasikan sales manager, sales supervisor, dan tim sales lainnya dalam perihal laporan-laporan yang dibutuhkan. Alias menagih tim sales untuk membuat laporan. Bahkan mungkin membuat laporan penjualan untuk area yang dipimpin oleh sang Sales Manager. Di samping itu adalah menghimpun dan merangkum database pelanggan. Selain itu, bisa jadi menerima order/pesanan dari pelanggan via telepon.

Orang yg menghandle area di perusahaan adalah area sales manager. Jadi wilayah penjualan yang dipertanggung-jawabkan olehnya, dibagi-bagi lagi menjadi territory yang lebih kecil. Wilayah penjualan ‘kan tidak hanya soal menjual sebanyak-banyaknya. Tetapi juga bagaimana menjaga dan mempertahankan pelanggan. Masing-masing territory dipegang oleh Territory Sales Supervisor (TSS).

Kalau sedang melamar kerja, lalu ditawari posisi Sales Supervisor, coba dianalisis terlebih dahulu jabatan Sales Supervisor yang ditawarkan. Apakah di perusahaan pemilik produk (brand owner)? Atau dari perusahaan distributor?

Job desk sales supervisor

Bila bekerja di perusahaan brand owner.

  • Sebagai bagian dari perusahaan yang berhadapan langsung dengan distributor pelaksana
  • Sales supervisor melaksanakan sistem penjualan yang sudah dikembangkan oleh perusahaan
  • Sales supervisor sebagai perwakilan perusahaan, sehingga wajib menjaga citra perusahaan
  • Boleh berteman baik dengan orang dari distributor, tetapi tidak perlu curhat yang dapat menurunkan kredibilitas diri atau citra pribadi

Tugas Sales Supervisor

Apabila distribusi dilakukan oleh tim sendiri. Bukan oleh distributor yang ditunjuk.

  • Pemimpin tim kerja (tim nya ada driver, salesman taking order, merchandiser, sales admin, dll) sehingga harus membentuk tim kerja yang solid
  • Memotivasi, melatih, mengembangkan salesman serta mengevaluasi kinerja salesman
  • Memecahkan masalah tim
  • Mengontrol perubahan

Keterampilan TSS

  • keterampilan administratif
    • keterampilan mengelola dokumen
    • keterampilan mengkoordinasi laporan-laporan yang dibutuhkan
    • keterampilan mengelola berbagai hal yang berhubungan dengan administrasi penjualan
  • keterampilan human relation
    • komunikasi
    • konseling
    • pendelegasian
    • kepemimpinan
    • penyelesaian konflik
  • keterampilan teknis
    • pengetahuan produk sendiri, produk kompetitor, serta produk substitusi
    • keterampilan menjual dan negosiasi
    • pengetahuan pelanggan dan wilayah
    • pengetahuan pasar/industri

Tugas Penting Salesman

Menurut salah seorang pakar pemasaran, Kotler, seorang salesman juga memiliki beberapa tugas-tugas penting yang meliputi:

1. Prospecting (Mencari prospek).
2. Targeting (Menentukan alokasi waktu mereka diantara prospek dan para pelanggan).
3. Communicating (Menyampaikan berbagai informasi seputar produk yang telah dihasilkan oleh perusahaan).
4. Selling (Melakukan pendekatan, presentasi, menjawab pertanyaan/keberatan , dan menutup penjualannya).
5. Servicing (Memberikan layanan bagi pelanggan, mengatasi keluhan, memberikan bantuan teknis, mengatur keuangan, dan untuk mempercepat pengirimannya).
6. Information gathering (Melakukan riset terhadap pasar (meliputi pelanggan dan kompetitor) dan menentukan tindakan seperti apa yang paling tepat untuk permasalahan tersebut).
7. Allocating (Memutuskan pelanggan mana yang nantinya akan mendapatkan produk yang langka selama masa kehabisan barang).

Melakukan riset terhadap pelanggan dan melakukan competitor benchmarking. Mengetahui taktik-taktik yang dilakukan oleh kompetitor.

Maka dari sinilah peran sales yang sangat penting bagi perusahaan agar perusahaan mampu menghasilkan pendapatan yang kemudian akan dikelola lagi agar bisa menghasilkan produk.

Namun dengan perkembangan bisnis yang sudah semakin pesat dan semakin membludaknya produk-produk baru di pasaran, maka persaingan yang semakin ketatpun menjadi tidak mungkin bisa terhindarkan. Seorang salesman akan semakin dituntut untuk menjadi lebih kreatif dan harus memiliki inovasi agar bisa menjadi the smart salesman, dalam menghadapi kuatnya persaingan tersebut.

Smart Salesman 

Berikut ini merupakan beberapa tips dalam membuat strategi penjualan yang harus Anda coba agar dapat menjadi seorang the smart salesman:

  1. Melatih diri untuk menggali ide-ide baru.

Ide-ide baru seputar mendapatkan pembeli baru, mempertahankan pelanggan lama, menagih pelanggan, mengeluarkan lebih banyak barang dari gudang, dan lain sebagainya.

Ide-ide baru bisa didapatkan dari mana saja dan kapan saja. Dari sharing dengan sesama teman-teman salesman, atau pengamatan langsung pada saat berada di lapangan.

2. Menganalisis untuk mengeksekusi ide-ide tersebut.

Setelah mendapatkan ide baru, maka buatlah analisis untuk langkah-langkah seperti apa yang harus dilakukan untuk menjalankan ide-ide tersebut. Membuat analisis akan sangat membantu Anda untuk mereview kembali tentang apa saja kelebihan dan kekurangan dari ide-ide tersebut serta untuk menentukan bagaimana jalan keluar terbaiknya.

Dasar analisis ini adalah insight yang diperoleh dari pelanggan/pasar. Serta taktik penjualan yang dilakukan oleh kompetitor.

Anda bisa mengajukan pertanyaan tentang “ bagaimana Anda dalam melihat cara tersebut agar menjadi lebih efekti?, bagaimana orang lain yang dapat melihat jika cara tersebut bisa menjadi lebih efektif? Bagaimana para konsumen agar dapat dengan mudah untuk mengetahui strategi seperti apa yang ingin dijalankan? Bagaimana para kompetitor mampu menghadapi cara tersebut?”,  yang dapat membantu Anda untuk lebih mempermudah dalam memetakan langkah-langkah seperti apa yang harus bisa diambil.  Jangan pernah merasa ragu untuk membuat perubahan.

3. Memiliki mental yang cukup kuat.

Melakukan sebuah perubahan dan menjalankan hal-hal yang baru memang bukan sebuah perkara yang mudah untuk dilakukan. Dibutuhkan adanya mental dan komitmen yang cukup kuat dalam menjalankan hal-hal yang baru dapat memberikan tantangan tersendiri.

Seorang salesman harus tahan banting karena pasti sering ditolak oleh pelanggan.

Termasuk ketika memiliki ide baru. Belum tentu diterima oleh lingkungan. Sehingga dibutuhkan mental dan komitmen yang kuat dalam mengeksekusi ide baru tersebut.

4. Menjadi seorang pembelajar yang baik.

Belajar dari semua orang. Dari pelanggan, dari teman salesman, dari Sales Manager, dan seterusnya.

Kalau berhasil belajar dari teman-teman kantor –selain salesman–, mungkin bisa mendirikan usaha sendiri.

Untuk bisa menjadi seorang salesman yang lebih kreatif, maka Anda harus mulai untuk banyak belajar, baik secara langsung dari lapangan atau dari berbagai sumber terpercaya. Tetap terus untuk mengembangkan pengetahuan dan dari wawasan untuk meningkatkan kualitas Anda.

Dengan adanya kreatifitas dan inovasi dalam membuat strategi terbaru maka akan semakin membuat Anda dapat tampil semakin lebih berbeda, dimana ‘perbedaan’ seperti inilah yang nantinya akan mampu menarik para konsumen, sehingga semakin lebih memudahkan bagi Anda untuk mencapai target penjualan.

Jangan takut gagal mencapai target. Bisa jadi memang perusahaan mematok pertumbuhan yang berlebihan.

Referensi:

  • http://trainingpemasaransurabaya.com/?p=1823