Memosisikan Anak sebagai Pribadi Dewasa

komuniksdi-dengan-anak-520x265

Semalam, Muzakki bertanya ke saya. Kami masih di masjid “biru”. Bertiga dengan adiknya. Muzakki bertanya, “kok Pak Alim berdoanya, Waqinaa adzaa ban-naar?”

Alhamdulillah, ibunya rutin mengajak dan membiasakan berdoa sebelum makan. Mungkin Zakki heran dan bertanya, kok di masjid doanya sama dengan doa sebelum makan.

Cek dan ricek ke si mbah, ternyata “Waqinaa adzaa ban-naar” artinya kira-kira “Dan peliharalah kami dari siksa api neraka”.

Thanks to “Anak Dua“. Kami jadi belajar dari kalian yang lebih muda. Sudah seharusnya, sih. Belajar itu ke siapa saja. Kepada usia berapa saja. Alhamdulillah masih diberi legowo dan kerendahan hati untuk belajar dari siapa saja.

Itu pengantar deh. Berhubung ceritanya baru dapat tadi malam. Overall, tulisan kali ini sekedar catatan bagi kami saja. Kalau memang ada yang mendapat inspirasi dari sini, ya alhamdulillah. Mudah-mudahan bermanfaat, deh.

Berhubung di rangkaian acara pernikahan adik kami, ada yang nyeletuk, “Ngobrol ma anak dua itu kayak ngobrol sama orang dewasa”. Alhamdulillah, ini feedback positif bagi kami. At least, kami jadi tahu kami memberikan action yang tepat, sehingga Anak Dua turut membalas dengan reaction yang tepat pula.

Kalau kami bertanya ke diri kami sendiri, mengapa bisa begitu? Jawaban kami adalah, pada prinsipnya kami memandang dan menganggap anak-anak sebagai manusia dewasa. Terutama adalah, mereka berhak memutuskan sendiri dari pilihan-pilihan yang ada.

Pilihan-pilihannya bisa jadi berasal dari mereka kumpulkan sendiri. Atau mungkin juga dari yang kita sediakan. Bisa juga sih kita membatasi pilihan-pilihan buruk dari mereka dari apa yang mereka lihat atau dengar.

Di era informasi seperti sekarang ini, kontrol terhadap informasi itu berat banget. Kalau di era televisi, kita pemirsa akan terima-terima aja segala yang disodorkan. Namun sekarang, filtering-nya setengah mati. Butuh tiga hari untuk tahu apakah sebuah berita adalah hoax atau bukan. Bagi kami, YouTube masih mending. Anak-anak memang belum paham fitur search-nya. Namun, ke depannya history bisa kita awasi terus kan. Another problem kalau mereka sudah bisa menghapus history. Saat ini, at least saat ini kami sudah mulai dengan menghindari sinetron serta berita yang belum tentu terkait dengan keluar kecilkamu. Mungkin kapan-kapan saya bisa sharing perspektif saya tentang hal ini ya.

Jadi kita orang tua harus menganggap anak sebagai manusia dewasa yang punya pilihan. Jadi tanyakan misalnya, maunya apa? Menurut kamu lebih baik mana?

Orang dewasa ingin didengar. Apa pendapat mereka. Pun begitu pula dengan anak-anak yang kita anggap sebagai pribadi dewasa. Kalau kita “mengkerdilkan” anak-anak, termasuk dengan anggapan “namanya juga anak-anak”, maka sesungguhnya kita turut berkontribusi terhadap “perlambatan kedewasaan” mereka.

As we know, dalam islamic parenting tidak ada namanya remaja. Yaitu, usia biologis (yaitu fisik dewasa) yang lebih tua daripada usia psikologis (yaitu pemikiran anak-anak). Yang ada hanyalah aqil baligh. Dewasa secara fisik dan pemikiran.

Kami belajar dari anak itu seperti kami belajar dari orang dewasa. Kami positive thinking bahwa semua orang berusaha menjadi lebih baik; meski belum dan tidak akan sempurna. Anak-anak pun seperti itu. Mereka akan bertumbuh berkembang, memiliki kebisaan dan kemampuan tersendiri nantinya. Seiring sejalan dengan hal tersebut, kami berusaha mengenal mereka lebih mendalam.

Si W, ternyata pribadi yang tidak mau kalah, sulit mengalah, dan ingin menjadi nomor satu. Pribadinya memang introvert, sih. Dia menggali dari dalam dirinya sendiri kala ingin belajar/menjadi lebih baik. Dia ini kelihatannya excited soal menggambar/melukis. Inginnya sih, dia ada kesempatan ikut sanggar lukis yang gak terlalu jauh dari rumah.

Beda dengan Z, si kakaknya yang extrovert, senang dengan keramaian, selalu ingin diperhatikan orang lain, namun suka bertanya dan mengeluh kepada orang lain bila ada yang dia tidak bisa pelajari/kerjakan.

Tidak selamanya berguna yang namanya bersikap steril terhadap anak-anak. Semua serba dilarang juga tidak baik. Yang harus ada adalah pengawasan. Pun kala anak-anak memberikan feedback, kami harus menanggapi dengan masuk akal pula. Seiring tumbuh-kembangnya fisik dan pemikiran mereka, kami orang tua juga harus memberikan reasoning yang tepat pula.

Jadi orang tua itu berat. Tanggung jawabnya sedemikian besar. Tetapi pengajarannya relatif belum memadai. Alhamdulillah makin ramai topik tentang parenting dibahas, diajarkan, dan dilatih di mana-mana. Even di Gramedia, ada rak penjualan buku khusus untuk tema-tema parenting.

Kami yakin tidak ada manusia yang sempurna. Bagaimana orang tua kami menjalankan parenting juga tidak sempurna. Ada beberapa “kesalahan” yang mereka lakukan. Namun kembali ke diri kami apakah mau mengulangi kesalahan tersebut atau justru melakukan yang benar dan seharusnya.

PS: Anak-anak yang dititipkan oleh Allah kepada kami masih kecil-kecil. Kami bukan pelaku parenting yang sukses. Parenting yang sukses menurut kami baru bisa diukur pasca anak-anak tersebut sudah menikah dan menjadi orang tua pula. Catatan ini sekedar catatan pribadi saja. Bukan berbagi kebenaran. Mudah-mudahan memberikan manfaat bila memang cocok atau inspiratif bagi kamu yang membaca.

Belajar dari Sepuluh Cucu

Selama puluhan tahun hidup di dunia, saya pernah berkesimpulan dan berkeyakinan bahwa belajar itu harus dari expert-nya. Percuma, sama-sama belajar dari yang bahkan belum tahu sedikit pun. Alhamdulillah, belasan tahun sekolah bisa belajar di sekolah-sekolah yang fasilitasnya oke. Tahu sendiri, ‘kan, sekolah berfasilitas oke menunjang kita untuk bisa masuk ke sekolah yang sejenis. Minimal sekolah negeri dengan brand yang sudah oke punya.

Ibarat kata, anak Bandung mau masuk ITB itu harus melalui jalur sutera dulu. Ini secara umum saja ya. SD-nya SD yang itu, SMP-nya boleh pilih satu di antara dua SMP negeri tersebut, dan nanti SMA-nya yang satu itu. Supaya bisa ramai-ramai pindah dari SMA ke ITB. 

Tapi ternyata itu semua tidak cukup. Learn from the expert is one thing. Do (or execute) it seamlessly is another thing. Belajar dan menjadi pintar tidak akan pernah cukup, dong. Makanya kita belajar dan menjadi expert juga dalam eksekusi, ‘kan. Kenyataannya, eksekusi tidak semudah teori-nya. Materi-materi pelatihan tentang sales and distribution itu ya itu-itu aja. Almost nothing new. But the important one is how good you are in those execution. Unilever Indonesia beken banget tuh dengan execution-nya. Bahkan sampai seorang dirut Bank Mandiri pun menyadari pentingnya lalu menulis buku tersendiri mengenai execution. 

Saya belajar langsung dari anak-anak (sendiri maupun beberapa ponakan–cucunya orang tua sudah ada 10 orang saat ini) bahwasanya teori-teori sederhana yang kita ajarkan kepada mereka; tidak semudah itu dilaksanakan. Dalam hal ini, orang dewasa sama dengan anak-anak. Bahwa apa yang diketahui, alias teori, belum tentu dikerjakan dengan baik. Anak-anak diberi tahu bahwa menonton TV tidak boleh dekat-dekat. Tapi tetap saja mereka melakukannya. Sembari diiringi dengan gumaman khas anak-anak, yaitu merapal ulang teori yang pernah diajarkan berulang-ulang. Rasanya orang dewasa juga demikian ya.

Many times, they should be remind (again, again, and again) about it –and they keep doing it. Bukan masalah mengingatkannya. Tapi ternyata, mungkin begitu adanya ya, manusia itu perlu diingatkan, dan diingatkan terus. Manusia itu tempatnya lupa. Eh salah. Lupa itu mungkin memang tempatnya ya di manusia.

Dan tidak hanya itu, di samping terus-menerus direfleksikan ke teori-teorinya, expertise adalah sesuatu yang diraih karena rutinitas pelaksanaanya. Peribahasa manusia jadulnya, –ketahuan angkatannya–Alah bisa karena biasa. Bahasa kerennya persistent/perseverance/resilience.

Dua, manusia itu butuh dan ingin berkomunikasi.

Orang dewasa, jelas. Punya gagasan yang ingin disampaikan dan ingin mendengar pula opini dari orang lain. Bagaimana dengan anak-anak? Anak-anak butuh mendengar dari kita. Karena dari situlah kita dapat menegaskan hal-hal baik dan mencegah hal-hal buruk (Amar Ma’ruf Nahi Mungkar).

Anak-anak juga perlu belajar menyampaikan pendapat, ide, dan perasaannya. Karena di situlah terletak penghormatan dan penghargaan terhadap mereka. Dalam hal ini, tidak ada bedanya dengan saya dan semua teman-teman di SMA yang menjalani latihan pidato selama dua jam setiap jumat setelah makan siang.

Lagi-lagi, anak-anak sama dengan orang dewasa. Anak-anak pada umumnya memiliki pengetahuan yang lebih terbatas. Tapi itu bukan alasan untuk mengabaikan apa yang mereka sampaikan, maupun menutup-nutupi dari apa-apa yang ingin mereka dengar.

Key(s) Takeaway

Tulisan hari ini semata-mata pengingat bagi saya, untuk memperlakukan orang lain, baik anak-anak maupun dewasa, yaitu sebagaimana seharusnya. Bahwasanya, manusia itu ingin mendengar what we would like to say, di samping ingin didengar juga pendapatnya. Above all, manusia juga ingin dihormati (tidak disepelekan) dan dihargai (ikut dijunjung) atas apapun yang ada pada diri mereka. Sesedikit apapun itu.

Saya dulu abai terhadap pendapat orang lain. Dalam arti, you should prove it by yourself first, then I would like to consider your opinion. Banyak atau sedikit, ini adalah tempaan dari lingkungan semasa saya kecil dulu. 

Kedua, that’s what education should do. Treat the children and adults by the same principles. Penghormatan dan penghargaan pada tempatnya. Salah satunya, supaya anak-anak dapat menjadi pribadi yang dewasa. Sebagaimana quote senior saya, kurang lebih begini,

“Itulah sejatinya pendidikan karakter.. mematangkan dan menghilangkan ketergantungan prefrontal cortex terhadap immediate rewards (Dopamine dan Serotonin) oleh kesenangan sesaat.”

Jadi begini, maksud quote tersebut, orang dewasa yang kekanak-kanakan, salah satu cirinya adalah menghendaki apresiasi yang secepat mungkin. Yang di dalam otak kita, lebih tepatnya di bagian prefrontal cortex, itu distimulus oleh senyawa kimi yang diberi nama Dopamine, sama satu lagi Serotonin. Mengapa bisa demikian?

Kata saya sih, sebabnya adalah kita kurang membiasakan atau kurang menyamakan dari generasi ke generasi tentang yang saya sebut penghormatan dan penghargaan kepada anak-anak. Saya merasa banget lho, tidak mendapat hal yang saya maksud.

Akhirnya saya jadi sok-sok hanya melihat dan menghargai seseorang hanya dari ekspertise-nya saja atau hanya dari loe-itu-sejago-apa-sih. Belum termasuk kerendah-dirian yang saya bawa sejak kecil. Memang sih, kampus mengajarkan, meyakinkan, dan membentuk saya merasa lebih confidence. Namun ternyata itu hanyalah overconfidence yang tidak pada tempatnya. Bahkan cenderung merupakan sebuah kesombongan semata.

Konon, oleh Ki Suratman, Taman Siswa bernama “Taman” karena di sanalah, dengan proses pendidikan seperti itulah, seharusnya education itu dilakukan. Sebagai sebuah taman (unsur tanah, sinar matahari, dsb) tempat bertumbuh-kembang, tanggung jawab pendidikan adalah tanggung jawab semua orang–terutama orang tua si anak sendiri.

membangun-komunikasi-dengan-anak
ini bukan keluarga kecil saya, ya. jumlahnya sih sama. tapi itu bukan kami. hehehehe. dari parentinganak.com

Bagaimana cara menghadapi kebiasaan menyebalkan pasangan?

Tidak semuanya yang menyebalkan itu buruk. Hanya saja kita membutuhkan waktu lebih lama untuk beradaptasi dengan kebiasaan tersebut. 

Kebiasaan nonton hiburan seperti Drakor (drama Korea) bukan kebiasaan buruk kok. Tapi ya menyebalkan aja seakan gak ada yang lebih produktif untuk dilakukan.

Lalu sudah tertebak jadinya gimana. Biasanya besok ngantuk dan tidur siangnya jadi panjang akibat semalam nonton drakor berepisode-episode hingga dini hari.

Saya juga candu sama bola sih. Mudah-mudahan pihak “sebelah sana” gak menganggap candu ini menyebalkan. Cek-cek skor terbaru, baca berita bola di koran langganan yang tidak saya bayar, sampai nonton ulang pertandingan di Bein (Grup Al Jazeera khusus sport) yang sebenarnya sudah berlangsung 5-6 hari yang lalu 😛

Alhamdulillah salah satu syarat hidup minimalis, yaitu tidak memiliki TV, sangat membantu saya supaya gak candu-candu amat sama sepakbola. Berita transfer Bakayoko kan bisa menyita perhatian banget. Lebay. Padahal enggak.

Jadi bagaimana cara supaya bisa beradaptasi dengan kebiasaan buruk milik partner hidup? Jawabannya adalah There is no special recipe, meminjam kata-kata bijak dari film Kungfu Panda.

Bangun pagi lihat dia, tidur malam lihat dia lagi, (#aih!) itulah yang membuat saya semakin bisa berdamai dengan kebiasaan-kebiasaan yang saya sebut menyebalkan itu.

Selain itu, kuncinya adalah sabar. Alhamdulillah saya cukup bisa bersabar sehingga tidak berbuah tampar. Haha. Bagaimana caranya bisa sabar begitu? Kejar terus jawabannya, yak. Hampir gak ada tips dari saya untuk bisa bersabar. Malah tips yang ada, adalah bagaimana mengalihkan perhatian diri dari hal-hal menyebalkan dari pasangan.

Sebagai lelaki, saya cukup biasa menyendiri. Ini membuat saya lebih tenang, kalau “masuk gua” dulu. Di mana menyendiri? Gak harus pergi jauh dari rumah naik sepeda motor keliling-keliling kota tidak jelas arah dan tujuan hanya untuk menyendiri. Dengan “get in the cave“, saya memberi jarak pada masalah saya, sehingga saya bisa secara objektif memberikan tanggapan/perlakuan terhadap masalah tersebut.

Sebalnya kita sama pasangan itu wajar. Sebal kan emosi juga ya. Tapi kalau emosi, terus melahirkan tindakan-tindakan –dari seorang suami– yang tidak kita pikir panjang, bisa menyesal di kemudian hari.

Jika ingin marah, maka marahlah. Tetapi marahlah pada sesuatu yang tepat. Tidak semua kebiasaan menyebalkan harus berakhir dengan kemarahan. Namun tetap harus diingatkan dengan emosi yang terkendali.

Inilah gunanya hidup minimalis. Problem potensial dari penuhnya rumah oleh barang-barangnya yang belum tentu berguna seumur hidup telah menjauh sekian ratus kilometer. Sehingga masalah-masalah kita enggak banyak-banyak amat.

Konflik dengan Pasangan

Yang menyebalkan belum tentu jadi konflik. Tapi konflik tidak bisa ditangani seperti menangani hal-hal menyebalkan. 

Keadaan mulai gak enak itu kalau kami sekeluarga enggak keluar rumah. Susahnya hidup di kota, seakan pilihan terdekat, termudah, dan tanpa perencanaan hanyalah pergi ke mall. Padahal mall kan gitu-gitu aja ya di mana-mana. Banyak miripnya, dengan tenant-tenant yang mostly itu-itu aja. Itu pendapat saya.

Jadi ingat beberapa waktu lalu, ngajak anak-anak makan di Gokana. Ternyata yang beda hanya suasananya dan es kopi blender-nya. Sebab anak-anak tetap hanya makan nasi telur + kuah kari. Hehehe. 

Tapi dari yang saya baca dan saya observasi langsung ke istri, ya mereka (kaum hawa) memang membutuhkan jalan-jalan ke luar rumah tersebut. Bagi perempuan, “pekerjaan utama” adalah mengurus dan membersihkan rumah. Sama dengan bekerja di kantor, rutinitasnya bisa membuat gila. Lelaki kebanyakan berpikir bahwa orang yang di rumah itu santai-santai aja. Padahal enggak sama sekali. Bahkan kesibukanya bisa 24×7.

Saya akui, kalau saya yang harus 24×7 di rumah, saya enggak akan bisa. Saya ini tipenya kudu keluar rumah tiap hari, melihat jalan raya setiap hari, ketemu orang baru setiap hari, dst. Kita harus mengapresiasi kaum wanita yang berperan mengelola rumah tangga.

Misalnya dengan membelikan lipstik seharga Rp500.000,- #eh

However, itu semua (termasuk pergi ke mall) gak akan cukup. Bibit-bibit konflik itu mulai bersemi kalau kita sudah lama tidak berduaan. Kudu ada waktu dan ruang di mana hanya ada kami berdua di sana. Sebagai suami, aku tuh gak bisa diginiin terus :p (hanya dibiarkan mengurus diri sendiri, maksudnya). Seakan hanya anak-anak yang diurus oleh istri. Dia pun, saya yakin dia tidak hanya ingin bertiga saja dengan anak-anak. Tentu dia membutuhkan ruang dan waktu di mana hanya ada dia dan suaminya. Ceilah, iya gitu? 😀 Saat ini, anak-anak masih membutuhkan perhatian yang teramat banyak dari kami. Keduanya masih berusia 2 tahun 4 bulan, saat ini.

Pokoknya, urusan-urusan terkait anak-anak kudu kelar, tapi juga jangan sampai menciptakan jarak (apalagi konflik) antar kedua orang tuanya. Teorinya sih begitu. Tapi pelaksanaannya memang masih jauh panggang dari api. Pernikahan kami seumur jagung pun belum ada. Kami masih terus belajar. Doakan kami ya supaya survive 🙂

Tentang Maaf Memaafkan; Belajar dari ZaWa

Keduanya sama-sama ganteng. Masing-masing punya fans tersendiri. Ibarat penggemar musik, mungkin ada fans yang suka dua atau lebih sekaligus. Tapi tentu saja hanya ada satu musisi/band yang selalu di hati.

Zakki itu gempal. Tampak lebih besar dengan pipi yang chubby. Gondrong sedikit, maka rambutnya akan terlihat seperti gelandang pencetak gol terbanyak Chelsea sepanjang masa: Frank Lampard.

Zakki itu ganteng dan kalem. Hatinya selembut gula-gula kapas, Lumayan gampang berkaca-kaca bila dimarahi atau diingatkan.

Zakki itu gak mudah menyerah. Beliau bisa mengucapkan hingga belasan kali kalimat seperti “Pa’, ndong nana..” (papa gendong ke sana). Pertanda bahwa beliau tidak berhenti sampai keinginannya terwujud. Padahal siapapun yang menggendong pasti rasanya sama saja kan.

Wakif punya wajah yang lebih cekung. Dengan tinggi badan semampai.

Wakif. Kukuh berlapis baja, selalu ceria, imajinatif, ekspresif, tapi kurang peka. Apabila dimarahi malah cengengesan. Jarang nangis beneran (catat ya, nangis beneran. Jadi kalau sok-sokan nangis sih seriiing). Kalau kata teteh, “loba gaya teuing”.

Siapa teteh? Tidak lain tidak bukan adalah perempuan teguh dengan pengalaman hidup puluhan tahun yang menempa keuletan bekerja dan menguji ketulusan hatinya. Tidak hanya mengurus dan membesarkan darah dagingnya sendiri, melainkan juga beberapa anak-anak manusia lain yang kekurangan kasih sayang dan belaian hangat dari seorang Ibu.

Imajinatif dan ekspresinya WKF terlihat dari caranya berlari. Dengan sebelah kaki, kiri kalau tidak salah, diangkat hingga setinggi paha. Padahal kaki kanan diangkat seperlunya saja. Dengan tangan yang bergerak ke samping secara berlebihan. Keceriaanya selalu mengundang orang lain untuk memperhatikan. Artis ibukota satu ini selalu ingin semua pandangan tertuju kepadanya. Halah.

Kalau di kota asal saya, orang seperti Wakif ini bisa disebut mucil. Sebuah kosa kata dari tempatnya “pasar terapung”. Artinya kira-kira semacam gak jera-jera, atau bandel. Dengan istilah lain, pas diberikan untuk mereka yang tidak bisa diberi tahu. Tapi bisa diberi tempe #garing ah!

Kala memasuki dunia fana ini beberapa puluh purnama lalu, keduanya hanya berselang tidak sampai lima menit. Bila menemukan teman adalah perjuangan, keduanya tidak perlu berusaha barang sedikit. Sudah ada dengan sendirinya. Berbaring bersama di satu bantal kepala yang sama.

Lihat bagaimana mereka berinteraksi satu sama lain.

Tidak jarang ada yang duluan mengasari. Misalnya, merebut paksa apa-apa yang sudah dipegang oleh “tetangga sebelah”. Lucunya, yang merebut kemudian pergi dan berlari. Satunya tidak tinggal diam. Dia akan mengejar hingga dapat, lalu membalas perlakuan yang baru saja diterima.

Tidak lama kemudian keduanya kembali berpelukan dan berangkulan. Apalagi kalau sudah dibilang, “disayang..disayang..”.

Another example. “nana..nana..” sana..sana.., maksudnya. Kalau salah satu pihak cemburu dan ingin mengusir “musuh perang” yang satunya, itulah ungkapan khas yang biasa diungkapkan. Tidak hanya sekedar ucapan, melainkan disertai dengan tangan yang mendorong-dorong.

Sudah sifat manusia memperebutkan sesuatu yang scarce (langka). Ibu yang hanya ada satu, diperebutkan oleh dua manusia sekaligus. Alhasil sang Ibu harus menggendong dua sekaligus. Tentu saja, satu di kanan, yang satunya di kiri. Sama-sama dapat apa yang diinginkan, lalu keduanya diam.

Homo Ludens

Istilah ini dirilis oleh Johan Huizinga. Seorang professor, merangkap teoritisi budaya, menyambi pula sebagai sejarawan Belanda. Tahun 1938 beliau pertama kali menyampaikan ungkapan tersebut.

Artinya, manusia adalah makhluk bermain. Dalam diri anak Adam dan Hawa, tersimpan hasrat bermain yang tidak terkira. Bahkan tidak mengenal pengelompokan usia, perbedaan jenis kelamin, bahkan lingkungan sosial dan budaya. Pokoknya main, main, dan selalu bermain!

Sebab itu kosakata “main” adalah yang paling banyak digunakan dalam obrolan warung kopi maupun diskusi berat antar pengusaha. Sebab pekerjaan mengusahakan sebisa mungkin, dalam aktivitas detilnya adalah membeli dan menjual, selayaknya adalah sebuah permainan. Dipikirkan secara serius, diupayakan dengan seksama, namun hasil belum tentu sama. Ada faktor keberuntungan yang turut bermain. Karena pasar tidak selalu berlaku sesuai prediksi. Kadang untung, kadang rugi. Alhamdulillah bisnis yang baik akumulasi untung lebih besar daripada penjumlahan rugi. Maka dari itu lebih pantas disebut “bermain” di bisnis/produk apa.

Zakki dan Wakif punya hobi yang sama. Keduanya suka menghibur diri dengan menonton kartun di Youtube. Tema besarnya adalah nursery rhymes. Baru sekedar menonton, belum mau bersenandung menirukan yang ditonton. Paling sebatas permintaan semisal “yayo yayo” untuk lagu “old mcdonald had a farm”. Atau “reyn reyn” sebagai sebutan “rain rain go away”. Mereka ini berlaku serius, belajar berbahasa asing dari negara yang mengaku tidak pernah mengalami matahari terbenam.

Benar kata pepatah bahwa rumput sebelah memang selalu hijau. Tak jarang, mengintip “tetangga” selalu dilakukan. Sambil membandingkan atraksi yang tampil di layar kaca device sendiri, dengan device sebelah. Ya namanya kehidupan “bertetangga” ‘kan. Banyak mirip dengan “Tetangga Masa Gitu” banget lho. Menjaga perasaan, tapi kok “tetangga” sebelah keknya keterlaluan banget. Terlewat sedikit aja, “rumput” sendiri diambil dan dibawa kabur. Siapa lagi pelakunya kalau bukan “tetangga”.

There’s nothing too serious in this world.

Zakki pernah mengganggu Wakif. Demikian pula sebaliknya. Bahkan mungkin dalam batas yang tidak wajar. Namun, berkali-kali terbukti bahwa keduanya bisa kembali bersama. Tetap berinteraksi satu sama lain. Seakan-akan lupa bahwa baru saja terjadi sesuatu yang begitu menyakitkan.

Betapapun buruknya keadaan yang terjadi, selalu tersisa jiwa pemaaf dalam diri anak-anak manusia. Keikhlasan dan ketulusan mengharu biru di sanubari yang memohon maaf dan yang memberi maaf.

Keterlaluan sekali kita manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan, bila kita tidak memohon dan memberi maaf yang tulus ikhlas dari lubuk hati paling dalam. Sebab, bukankah Tuhan sendiri adalah Sang Pemberi Ampunan? Sudah tersebut dalam 99 ‘Asmaul Husna, yaitu satu di antaranya adalah ‘Al Ghoffar. Yaitu Maha Pengampun.

Dari Zakki dan Wakif, kita bisa mempelajari, memahami dan menyimpulkan bahwasanya anak-anak manusia itu punya sifat bawaan. Tidak selalu baik, bisa jadi sifat yang buruk. Bukan karakter yang memang diturunkan dari orang tuanya, melainkan memang dipunyai oleh sang anak manusia sejak lahir. Tugas kita adalah memberikan arahan, panduan, serta regulasi yang tepat agar mereka menjadi manusia dewasa. Memohon dan memberi maaf bila ada salah-salah kata atau perbuatan. Agar kemudian dapat dilanjutkan kembali “permainan-permainan”-nya.

Apa Iya Kamu Mau Menikah?

Jangan-jangan lebih menarik S2 daripada menikah?

Saya ini orangnya suka membanding-bandingkan. Bukan untuk tujuan menilai negatif pada orang lain. Sekedar hobi meriset saja. Memikirkan yang mungkin belum tentu dipikirkan oleh orang lain.

Kaitannya dengan menikah, judul di atas hanya untuk provokasi saja. Tentu saja kita semua mau menikah. Jadi bukan soal mau atau tidak mau. Bukan pula soal kapan. Ada yang sudah tahu kapan akan melangsungkan prosesi akad. Seperti saya bilang, tulisan ini bukan untuk memprovokasi supaya tidak menikah. Hampir tidak mungkin ‘kan ya. Karena saya sendiri menikah. Tapi tulisan ini soal “dengan siapa kamu akan menikah?”.

Jadi buah dari pertanyaan saya ini kadang-kadang melampaui batas juga. Saya tidak bermaksud melangkahi konsep jodoh sebagai takdir yang sudah ditetapkan jauh-jauh hari itu. Melainkan jawaban dari pertanyaan ini mungkin bisa jadi rujukan untuk kamu yang mungkin belum ada calon suami/istri. Sehingga bisa merumuskan dan menetapkan kriteria-kriteria untuk calon partner hidup kamu.

Kalau sudah punya calon? Ya diteruskan dong. Disegerakan menikahnya. Apalagi ketika menikah sudah menjadi kewajiban. Yaitu sudah dewasa, sudah memiliki pendapatan sendiri (sesuai target), serta untuk menghindari fitnah dan kekejian lain yang mungkin timbul manakala belum menikah (juga).

Oke, cukup putar-putar tidak jelasnya, hehe. Mari langsung ke intinya saja.

Sejauh ini kesimpulan saya adalah bahwa pasangan calon suami istri tersebut, setidaknya memiliki kesetaraan dalam tiga hal. Yaitu (tingkat) pendidikan, (kelas) ekonomi, dan keagamaan. Saya pilih kata kesetaraan karena memang yang dihindari adalah kesenjangan (gap). Memang bisa dilakukan bridging the gap, tapi you know lha kalau semua ada batas-batas kemampuannya.

Pendidikan

Kalau tingkat pendidikan yang ditempuh tidak sama, salah satu bisa meremehkan pendapat pasangannya. Kasusnya baru terjadi ketika ada yang sarjana, dan ada yang tidak sarjana. Kalau satunya sarjana, terus yang satunya master, doktor, bahkan profesor, saya kira tidak akan terjadi. Tapi harus diakui bahwa terjadi kesenjangan lebar akibat dari proses pendidikan yang berbeda 4 tahun tersebut.

Finansial

Laki-laki itu pada dasarnya egois. Maunya menang sendiri dan menang terus. Suatu fase dalam hidupnya, misalnya, istrinya berpendapatan lebih tinggi, kemudian harga dirinya akan terusik. Namanya manusia sebagai makhluk emosional, ya bukan mencari jalan keluar supaya income-nya lebih besar, eh malah sibuk mengekspresikan gap (kesenjangan) tersebut melalui kemarahan dan kegelisahan.

Tentu tidak semuanya seperti itu. Ini ada contoh lain.

Yang satu, terlalu takut berinvestasi, karena merasa belum sanggup membeli rumah. Yang satunya berpikir, kita beli rumah sekarang saja, meski membebani pengeluaran, setidaknya kita sudah mengunci harga di depan. Daripada membiarkan harga rumah membumbung tinggi tidak terkejar oleh kenaikan gaji.

Masih banyak contoh-contoh lain yang berakar dari kesenjangan pola pikir terkait finansial.

Agama

Dalam Islam, kita itu ada batasnya mengamalkan ajaran-ajaran agama. Yaitu sampai dengan wafat. Setelahnya, tidak lagi bisa mendapat pahala lewat amalan ibadah. Kecuali tiga hal.

  1. Shodaqoh jariyah,
  2. Ilmu yang bermanfaat, dan
  3. Anak yang shalih.

Kita semua butuh yang nomor tiga, sebagaimana kita butuh dua nomor yang lainnya. Namun mendidik yang nomor tiga, tidak pernah mudah. Karena pendidiknya tidak bisa seorang diri. Minimal berdua. Nah, sulit kalau di antara keduanya ada kesenjangan yang signifikan.

Kalau salah satu adalah kurang atau terlalu shalih/shalihah dibandingkan dengan yang satunya, bisa jadi kita akan kasihan sama dia atau sama pasangannya. Kesenjangannya bikin salah satu atau keduanya menjadi tidak nyaman.

Kira-kira begitu ya. Jadi kesenjangan dalam hal agama juga jangan terlalu jauh.

Selanjutnya, mari bicarakan yang lain, yuk.

Kita ini manusia. Kita punya pikiran dan perasaan. Kalau menikah hanya untuk senang-senang seksual dan meneruskan keturunan, kita tidak ada bedanya dengan (maaf) binatang. Itu sangat primary. Padahal kita manusia perlu lebih dari itu. Perlu tambahan pikiran dan perasaan. Sebab itu harus ada cinta dalam pernikahan. Bukan cinta sebagai sebuah kata benda. Melainkan cinta sebagai sebuah kata kerja.

Misalnya, harus ada yang mengalah. tidak melulu si istri sih. ini di pernikahan orang tua saya, si istri (ibu saya) lebih banyak mengalah. kalau tidak mengalah, bukan tidak mungkin (istilah yg banyak dipakai komentator sepak bola) bubar. Alhamdulillah ibu tetap dan selalu sabar. Mudah-mudahan saya bisa banyak meniru beliau.

Kalau kamu tidak mau mengalah, bahkan merasa terpaksa, mungkin kamu perlu mempertanyakan apakah kamu masih cinta atau tidak?

Sebagai suami, saya juga jadi belajar untuk mengalah. Bahasa Inggrisnya, sing waras ngalah (hehehe). Ini adalah strategi jangka panjang para suami, biasanya. Kalau kita berusaha memenangkan adu ngotot saat ini, kita bisa kalah (baca: berpisah) ujung-ujungnya.

Ini ada quote bagus. Quote-nya mendeskripsikan banget bahwa jangan mengejar menang sesaat saja. Tadinya saya tidak tahu ini quote siapa. Tapi ternyata ini adalah quote dia si bapak Presiden Amerika Serikat yang terpilih di pemilihan umum tahun ini (tahun 2016).

Sometimes by losing a battle, you find a way to win the war.

Menikah itu dengan trust. Tapi bukan sembarang trust. Which is, trust with clear expectation.

trust without clear expectation = failed. Supaya tidak failed, lakukan komunikasi. Aku maunya begini. Kamu maunya bagaimana. Apa bisa kita komunikasikan dan sinkronisasikan. Mari kita setting ekspektasi kita supaya tidak melukai satu sama lain, dst. Trust bukan berarti kita berharap begitu saja. Melainkan ada tingkat ekspektasi yang harus kita atur juga. Supaya kalau kecewa, ya tidak kecewa-kecewa amat lha. Pun kita juga tahu harus melakukan apa bila ekspektasi tidak terwujud.

Menikah untuk bahagia? Tentu saja. Jangan (dulu) menikah bila malah sengsara yang engkau dapat. Lebih baik tunda (sementara) menikahnya. Kita tetap bisa bahagia kok, meski belum/tanpa menikah.

Teman saya ada cerita tentang rasanya menikah. Dia dahulu hanya tahu, peduli, dan suka sama namanya sepakbola. Semua tentang sepakbola. Main game Winning Eleven di Playstation. Main futsal. Main sepakbola di lapangan besar. Nonton klub kesayangan, domestik atau internasional. Dan seterusnya, dan sebagainya. Pokoknya semua yang berkait sama sepakbola adalah sangat-sangat menyenangkan.

Ternyata dia menyesal waktu dia menikah. Kenapa menyesal? Karena ternyata menikah itu lebih menyenangkan daripada segala hal yang terkait dengan sepakbola. Dia menyesal, karena memang menyenangkan, mengapa tidak menikah dari dulu? Hehehe.

Until Both Your Head and Your Heart Say “Yes”

Untuk kamu para pria, saya ingatkan kembali. Cinta itu kata kerja. Jadi memang harus selalu dilakukan dan diperjuangkan. Bukannya selesai begitu kita sudah salaman sama si bapak Mertua di akad pernikahan. Justru, kita para pria harus setidaknya memberikan kehidupan yang (minimal) persis sama dengan apa yang dialami oleh sang putri. Baik dimensi finansialnya, keagamaannya, dan dimensi-dimensi lainnya.

Mudah-mudahan bermanfaat.

Related Post(s):

Perempuan Pekerja

Belakangan saya mengalami diskursus tentang perempuan (yang) bekerja. Memang wacana ini memang sedang sering hinggap di telinga saya. Ada banyak sebab dan alasan yang bisa kita diskusikan bersama. Tentang mengapa dan bagaimana fenomena ini terjadi.

  • Memang mau berkarir. Biasanya ini tipe pengejar prestasi. Bekerja di perusahaan bonafide. Syukur-syukur kalau bisa Multi National Company (MNC). Jadi yang dikejar memang bukan sembarang pekerjaan, seperti bendahara atau sekretaris.  Tapi yang memiliki prestise, ada bawahan, serta gaji tinggi. Salah satu bentuk prestise adalah paparan media massa terhadap dirinya. Indikator lain adalah soal bajak-membajak. Bangga bila dibajak oleh perusahaan lain, dengan tawaran remunerasi yang lebih tinggi.
  • Engga mau merepotkan suami. Kalau kategori yang ini, disebabkan tingginya biaya gaya hidup. Mulai dari makanan (siap saji atau tidak), transportasi (kendaraan sendiri atau tidak), pendidikan anak, asuransi jiwa, cicilan KPR dan lain sebagainya. Biaya hidup yang tinggi, menuntut pendapatan yang tinggi juga. Karena pendapatan dari suami bisa jadi kurang, maka istri memilih bekerja.
  • Aktualisasi  ilmu. Sekolah sudah tinggi-tinggi, sampai kuliah bahkan. Investasi dari orang tua ini, dirasa tidak terbayar bila sang anak perempuan tidak bekerja.  Mungkin tidak untuk  dikembalikan langsung kepada orang tua, at least ada Return on Investment, begitu pikir mereka. Ada uang yang masuk dari pekerjaan, setelah uang keluar untuk sekolah dan kuliah. Jadi, gelar pendidikan memang jadi alat transaksi ekonomi  untuk menyambung nyawa.
  • Cadangan hari tua. Khawatir suami  meninggal lebih dulu, dengan atau tanpa cicilan yang masih harus dibayar, sementara dirasa tidak mungkin bila tiba-tiba memiliki sumber pendapatan lain maka perempuan memilih  bekerja. Wajar, punya pendapatan ‘kan tidak bisa asal-asalan dapat saja. Minimal punya kemampuan atau pengalaman. Maka dari itu  perempuan kategori ini memilih bekerja sejak sekarang.

Saya pribadi lebih mendukung perempuan yang bekerja di rumah ya. Ini karena saya melihat ibu saya yang membuka dan menjaga toko, tapi pada saat yang sama sukses  juga sebagai istri dan sebagai ibu rumah tangga. Sukses sebagai istri karena berhasil mendampingi suami dalam keadaan apapun, termasuk ketika ayah saya sakit berat dua tahun yang lalu. Sukses sebagai ibu rumah tangga, salah satunya karena beliau dikagumi oleh keluarga yang lain dalam hal membesarkan anak-anaknya.

Tentang ibu rumah tangga, mari kita simak quote berikut ini, dari film yang sedang tren saat ini “Habibie dan Ainun”:

Mengapa saya tidak bekerja? Bukankah saya dokter? Memang. Dan sangat mungkin bagi saya untuk bekerja pada waktu itu. Namun, saya pikir buat apa uang tambahan dan kepuasan batin yang barangkali cukup banyak itu jika akhirnya diberikan pada seorang perawat pengasuh anak bergaji tinggi dengan risiko kami sendiri kehilangan kedekatan pada anak sendiri? Apa artinya tambahan uang dan kepuasan profesional jika akhirnya anak saya tidak dapat saya timang dan saya bentuk sendiri pribadinya? Anak saya akan tidak mempunyai ibu. Seimbangkah anak kehilangan ibu bapak? Seimbangkah orangtua kehilangan anak dengan uang dan kepuasan pribadi tambahan karena bekerja? Itulah sebabnya saya memutuskan menerima hidup pas-pasan. Tiga setengah tahun kami bertiga hidup begitu. (Ainun Habibie, Tahun-tahun Pertama)

Untuk menyempurnakan tulisan sesederhana ini, silakan yang perempuan dan akan/masih bekerja, untuk mengisi polling berikut:

Hierarki Pengelolaan Keuangan

Diskusi saya dengan teman SMA di weekend lalu berakhir pada pemodelan dalam artikel ini. Dia, sama seperti saya, sudah melewati masa-masa early jobber. Kami sudah lebih paham pengelolaan keuangan dibanding masa-masa awal bekerja dulu. Tentu, apa yang bagaimana pemahaman dan pengelolaan keuangan yang kami  lakukan sekarang sudah lebih advanced daripada saat masih sekolah/kuliah. Ada 5 tingkat hierarki pengelolaan keuangan. Kalau kamu sudah tahu posisi kamu di mana dalam hierarki tersebut, kamu sudah tahu kemana berikutnya harus melangkah.

hierarki pengelolaan keuangan

Belum mandiri, masih nebeng sama orang tua
Makan, tinggal, sekolah masih atas biaya orang tua. Atau hidup dari bantuan keluarga besar yang lain. Atau menerima beasiswa. Punya pendapatan sampingan lebih oke. Untuk kamu yang masih kuliah, oke banget kalau bisa sambil mengajar anak SMA. Atau bisa juga mendaftar sebagai asisten mata kuliah/laboratorium. Dulu waktu saya masih mengajar anak sekolah di Bandung, per pertemuan bisa dihargai Rp 50-60 ribu. Lumayan 😀

Sudah mandiri, lepas dari inang 
Kalau sudah mendapat pekerjaan dengan gaji yang layak, sudah waktunya lepas dari inang. Awal kerja, bolehlah merayakan sedikit mentraktir teman-teman dekat. Soal belanja, pastikan beli manfaat yang tepat. Karena pasti ada pengeluaran untuk tempat tinggal, transportasi, dan konsumsi. At least, di fase ini orang tua (atau inang yang lain) tidak lagi menanggung biaya kehidupan kamu.

Beberapa jenis pekerjaan menuntut penampilan prima di mata orang lain. Pakaian kerja yang update dengan tren fesyen. Mobil yang menaikkan gengsi, dll. Meski bergaji besar, adakalanya pendapatan malah pas-pasan dengan pengeluaran tersebut. Belum termasuk pengeluaran konsumtif seperti kehidupan sosial di restoran/kafe, kartu kredit, kredit peralatan rumah tangga, dan berbagai cicilan lainnya yang baru bisa menyematkan status “mandiri finansial” saja.

Punya tabungan dari hasil bekerja 
Secara umum, orang Indonesia itu sulit menabung. Berbagai gerakan sudah pernah dicanangkan pemerintah. Satu contoh: Ayo ke Bank. Orang Indonesia itu paling mudah tergoda untuk belanja, meski belum tentu dikonsumsi. Mudah juga untuk tergoda sama diskon. Padahal diskon ada sejak awal hingga akhir tahun. Ujung-ujungnya malah sulit menabung.

Tabungan, bagi saya, adalah cadangan dana yang belum pasti alokasinya untuk apa. Bisa untuk backup asuransi (bila diperlukan), tambahan biaya berobat (mekanisme reimbursement), dana darurat untuk bantu keluarga yang sekolah/menikah, dsb. Berapa besarnya? Biasanya bervariasi antara 3-6 kali dari pengeluaran bulanan.

Punya investasi yang memberikan cash-in
Setelah tabungan sudah cukup untuk menutupi kebutuhan ini itu. Sebagian di antaranya boleh dimasukkan ke produk investasi. Minimal deposito. Berikutnya ke instrumen keuangan lain yang memberikan return lebih besar daripada tabungan: reksa dana, saham, dll. Jangan lupa sesuaikan dengan profil investasi. Usahakan tabungan & investasi mencapai 30% dari pengeluaran bulanan.

Bisa juga titip modal ke teman pengusaha yang bisa dipercaya. Dan mau bekerja keras. Tapi tidak ada zero risk, lho. Jadi kenali betul plus-minus berinvestasi di teman pengusaha. Cash-in paling tinggi bisa berasal dari investasi ke bisnis yang dikelola sendiri. Dengan segala control di tangan sendiri, maka risiko bisa ditekan dan omzet bisa dimaksimalkan.

Hidup dari passive income 
Ini adalah mimpi kebanyakan middle class kita. Mimpi yang didorong dari berbagai seminar tentang “financial freedom“. Mungkin mereka lelah dengan pekerjaan yang mereka geluti saat ini. Sebab itu mereka mencari harapan-harapan lain yang bisa mereka kejar. Kalau pendapatan dari berbagai investasi (sawah/kebun, rumah kontrakan, atau kost-kostan), sudah melebihi pengeluaran keluarga, boleh saja resign dari pekerjaan untuk fokus di usaha keluarga.

Sudah tahu, posisi financial management kamu sekarang? Next, kamu bisa tentukan strategi dan langkah-langkah apa saja yang mau dilakukan untuk bisa naik hierarki 🙂

Related post:
Mewujudkan Mimpi Kebebasan Finansial
Tips Berinvestasi
Investasi dan Investor

Freelance Penerjemah dan Editor Lepas

Tidak seperti yang disangka oleh kebanyakan orang, dunia penerjemahan sebenarnya sangat luas. Industri penerjemahan tidak hanya ada dalam industri penerbitan buku, melainkan juga di bidang lain seperti televisi, film layar lebar, dokumen hukum dan perusahaan, sebagai juru bahasa (interpreter), dan banyak lagi. Pekerjaan-pekerjaan semacam itu tentu tidak harus dilakukan sebagai karyawan tetap perusahaan. Banyak juga yang berstatus pekerja lepas (freelancer) di masing-masing bidang penerjemahan tadi. Tidak hanya offline, tetapi ada juga freelance penerjemah online.

www.ikhwanalim.wordpress.com

Profesi penerjemah di Indonesia sebenarnya juga sudah ada organisasinya sendiri. Namanya HPI (Himpunan Penerjemah Indonesia). Didirikan pada 1974, organisasi ini sempat “mati suri” cukup lama sebelum kemudian pada tahun 2000 kembali dihidupkan. Siapa pun yang ingin berkecimpung penuh di dunia penerjemahan di Indonesia ada baiknya bergabung menjadi anggota HPI. Keuntungan bergabung dengan wadah para penerjemah ini adalah para anggota bisa memiliki jejaring berisi orang-orang profesional di bidangnya masing-masing, mendapatkan informasi tentang peluang kerja atau tarif standar terjemahan, kesempatan mengikuti acara-acara pelatihan yang terstruktur, dan banyak lagi.

Berhubung saya hanya berkutat di industri penerbitan buku, khususnya sebagai penerjemah dan editor lepas (freelance translator and editor), saya tidak akan membicarakan bidang lain di industri penerjemahan di dalam tulisan ini karena memang bukan kapasitas saya dan karena akan membuat tulisan ini terlalu panjang.

Pertama-tama, harus diketahui bahwa penerbit buku (baik besar maupun kecil) tidak bisa lepas dari para pekerja lepas dalam aktivitas kesehariannya. Mereka yang mengerjakan pekerjaan-pekerjaan keredaksian hingga siap naik cetak—misalnya editor, penerjemah, pemeriksa aksara (proofreader), penata letak (layouter)—sebagian besar justru berstatus pekerja lepas (freelancer).

Dan semakin banyak yang bekerja secara online saja. Istilah freelance penerjemah online malah semakin terasa relevansinya.

Tentu saja penerbit punya karyawan sendiri. Di bagian redaksi, editor penerbit biasanya disebut editor in-house. Lalu kenapa penerbit masih membutuhkan tenaga lepas? Sebab tidak mungkin editor in-house menangani semua naskah sendiri. Berapa pun jumlah editor di penerbit, mereka akan selalu membutuhkan tenaga lepas. Lebih efisien begitu, memang. Karena naskah yang masuk tentu jumlahnya naik dan turun alias musiman.

Sebuah naskah membutuhkan waktu dan konsentrasi tersendiri dalam proses penggarapannya. Sementara itu, dalam sebulan, penerbit sudah pasti menerbitkan banyak sekali naskah. Seandainya hanya para editor in-house yang menggarap naskah-naskah itu, tidak mungkin target terbit terkejar. Di sinilah para pekerja lepas yang saya sebutkan di atas tadi berperan. Dari sini kita akan membicarakan dua jenis pekerjaan penting dalam lingkup keredaksian itu.

Sebelum menjalani karier sebagai penerjemah dan editor lepas, saya pernah bekerja di sebuah penerbit umum selama tujuh tahun lebih sebagai editor in-house. Dalam kurun waktu tersebut, sesekali saya juga menerjemahkan naskah buku untuk penerbit saya sendiri maupun penerbit lain. Perlu diketahui juga bahwa seorang editor juga idealnya mempunyai keterampilan menerjemahkan dan menulis, di samping keterampilan standar seperti bahasa Indonesia dan bahasa asing, wawasan tentang dunia buku, dan pengetahuan umum lain atau bidang tertentu lain secara luas dan mendalam.

Untuk menjadi penerjemah bagi penerbit, jalan yang ditempuh sama sekali tidak bisa dibilang gampang. Jalur standarnya adalah mengirim lamaran biasa disertai contoh hasil terjemahan. Contoh hasil terjemahan ini bisa diambil dari buku yang pernah kita terjemahkan, atau kalau kita belum punya karya terjemahan, bisa mengambil sumber teks dari artikel majalah atau buku-buku yang sudah berstatus public domain. Jika mengambil jalur terakhir ini, sering kali memang panggilan dari penerbit bisa sangat lama datangnya, atau malah tidak ada panggilan sama sekali, yang artinya penerbit menganggap kualitas kita belum mumpuni untuk standar mereka atau mungkin mereka sedang tidak membutuhkan tenaga penerjemah tambahan karena sudah cukup.

Tidak perlu berputus asa jika memang hal itu yang terjadi. Ada banyak yang bisa dilakukan untuk “menjual diri” atau “cari muka” di hadapan penerbit. Harap diketahui, para editor in-house adalah orang-orang yang “kepo”. Mereka gemar sekali browsing atau main di media sosial dan mengunjungi blog-blog pribadi. Maka ada baiknya orang yang ingin menjadi penerjemah atau editor lepas juga rajin menulis (agak) panjang, entah di blog atau di medsos. Editor in-house menilai kemampuan menulis dan wawasan kita dari situ juga.

Lagi pula, jumlah penerbit ada cukup banyak. Kalau mau, kita juga bisa mulai melamar ke penerbit kecil dulu. Sebab, penerbit besar punya kecenderungan untuk memakai jasa para penerjemah (atau editor) lepas yang sudah mereka kenal baik atau mereka anggap konsisten kualitasnya. Tidak jarang para penerjemah atau editor lepas itu dulunya adalah mantan editor in-house mereka sendiri.

Editor in-house dan editor lepas tidak bisa dibilang mempunyai tugas yang sama persis, walaupun sama-sama editor. Editor in-house punya tugas yang lebih banyak dan lebih kompleks daripada sekadar mengoreksi naskah. Editor in-house membuat konsep kover dan kemasan buku serta membuat cover checklist berisi blurb (atau sering disalahpahami sebagai sinopsis), judul, subjudul, endorsement, berburu naskah atau penulis, mendampingi penulis dalam acara-acara peluncuran buku, mengunjungi pameran buku di dalam dan luar negeri, dan banyak lagi.

Sementara itu, editor lepas hanya fokus pada satu tugas: mengoreksi naskah. Kecuali kalau dia diminta oleh penerbit untuk melakukan beberapa detail lain walaupun tidak sejauh desc-job editor in-house. Yang dimaksud dengan mengoreksi naskah di sini tidak semata mengoreksi salah ketik (typo), melainkan juga memastikan apakah ejaan sudah baku atau sesuai dengan gaya naskah dan apakah kalimat sudah mengalir mulus dan lancar. Jika yang dikoreksi adalah naskah terjemahan, editor harus memastikan hasil terjemahan sudah tepat dan “pas”. Singkatnya, tugas editor lepas itu lebih fokus.

Kebanyakan penerbit buku menawarkan tarif per karakter tanpa spasi untuk pekerjaan penyuntingan (editing) dan penerjemahan. Tarif penerjemahan jelas lebih tinggi daripada penyuntingan. Pasangan bahasa sumber dan target juga menentukan. Tarif terjemahan bahasa Indonesia-Inggris bisa jauh lebih tinggi dibandingkan terjemahan Inggris-Indonesia. Jika penyuntingan atau penerjemahan bahasa Inggris-Indonesia saja berkisar pada angka belasan rupiah per karakter, penerjemahan dari bahasa Indonesia ke bahasa asing bisa mencapai angka puluhan rupiah per karakter. Ini masih bisa bergantung pada negosiasi juga. Oya, bahasa asing selain Inggris punya tarif lebih tinggi disebabkan jumlah penerjemahnya lebih sedikit.

Angka tarifnya sendiri bisa didapatkan misalnya dari HPI atau hasil berdiskusi dengan rekan-rekan seprofesi. Jangan pernah ragu bernegosiasi dengan penerbit dalam hal menentukan tarif. Syaratnya cuma satu: kita yakin bahwa kualitas terjemahan kita memang baik dan konsisten pula hasilnya. Semakin bagus hasilnya, semakin ringan tugas editor in-house dan dia akan terus memberikan order terjemahan kepada kita secara rutin. Sebab, biasanya penerbit juga punya daftar penerjemah yang menjadi langganan mereka. Itulah sebabnya sangat sulit bagi pemain baru untuk menembus deretan penerjemah langganan penerbit. Tapi, hal itu juga tidak mustahil. Lagi pula, dunia penerjemahan masih sangat luas, seperti yang jelas di paragraf-paragraf awal tadi.

– Indradya S.P.

Penerjemah & editor lepas. Tinggal di Bandung.

Mengenal Freelance Marketing dan Seluk-Beluknya

freelance marketing 1

Meta deskripsi: Istilah freelance marketing bukan hal asing di dunia digital. Tapi tidak banyak yang benar-benar tahu, apa freelance marketing sebenarnya.

Beberapa dekade silam, istilah freelance marketing mungkin tidak terlalu bergaung di Indonesia. Tetapi sejak tingkat pengetahuan soal teknologi dan internet meningkat di masyarakat, istilah tersebut mulai muncul dan menjadi salah satu pilihan karir yang populer. Meskipun begitu, masih banyak yang belum benar-benar mengerti dan mengenal profesi freelance marketing.

Freelance sendiri merupakan istilah dari Bahasa Inggris untuk menyebut seorang pekerja lepas. Pekerja lepas merupakan seseorang yang bekerja pada sebuah perusahaan atau instansi tetapi tidak terikat. Artinya mereka memiliki kewajiban untuk menyelesaikan tugas yang diambil, tetapi memiliki hak penuh untuk memilih mengerjakan suatu pekerjaan atau tidak.

Istilah freelance pertama kali diperkenalkan oleh Sir Walter Scott melalui buku fiksinya yang berjudul “Ivanhoe.” Istilah tersebut digunakan untuk menyebut tentara bayaran pada abad pertengahan. Kata freelance sendiri berasal dari “free” (bebas) dan “lance” (tombak). Artinya pekerja lepas merupakan metaforan dari sebuah tombak yang bisa bekerja bebas tanpa majikan tertentu dan tidak bisa didapatkan secara gratis.

Meskipun dilihat dari sejarahnya penggunaan istilah ini merupakan paduan bahasa dan sejarah yang rumit, tetapi banyak yang sepakat menggunakan istilah freelance untuk menyebut pekerja lepas. Secara teknis, pekerja lepas bisa bekerja di bidang apapun yang mereka sukai. Tapi hanya ada beberapa bidang yang sering menggunakan pekerja lepas sebagai tenaga.

Yaitu, jurnalisme, penerbitan buku, segala pekerjaan yang berhubungan dengan tulisan, editor, programer komputer, desain grafis, konsultan, hingga penerjemah.Di era digital seperti saat ini, jangkauan pekerja lepas tentu saja semakin luas. Cukup dengan akses internet, mereka mampu mendapatkan berbagai macam pekerjaan freelance yang sesuai dengan keahlian tanpa harus meninggalkan rumah.

Dari sinilah fenomena freelance marketing muncul dan berkembang. Lalu, apakah freelance marketing itu?

Freelance marketing merupakan istilah untuk menyebut kegiatan para tenaga lepas dalam mencari klien atau perusahaan yang membutuhkan kemampuan mereka. Setidaknya ada beberapa tugas yang harus bisa dilakukan oleh para freelance marketer agar dapat mempromosikan sebuah merek atau perusahaan, yaitu:

  1. Membuat suatu promosi yang semenarik mungkin
  2. Menciptakan sebuah website atau bisnis yang dapat meningkatkan potensi klien
  3. Dan meyakinkan sebuah perusahaan untuk membeli produk yang dijual

Sudah menjadi rahasia umum bahwa sebuah badan usaha memerlukan strategi pemasaran dalam bentuk baru dan semenarik mungkin. Mengingat hal tersebut tidak seluruhnya bisa dilakukan oleh pemilik perusahaan, dari sinilah peluang untuk para freelance marketer bermula.

Jadi jika Anda seseorang yang kreatif dan sedang mencari peluang untuk memaksimalkan potensi tersebut dan mendapatkan penghasilan, menjadi pekerja lepas merupakan pilihan yang tepat. Secara umum, ada beberapa bidang yang bisa menjadi peluang bagi para pekerja lepas untuk menunjukkan potensi mereka. Yaitu melalui media sosial, bisnis properti, dan segala usaha yang berbasis digital.

Freelance Marketing di Media Sosial

freelance marketing 2

Beberapa dekade belakangan, media sosial telah berkembang menjadi salah satu platform untuk mempromosikan suatu merek atau perusahaan. Penggunaan media sosial dianggap efektif mengingat jumlah pengguna internet yang juga memiliki medsos semakin lama semakin meningkat.

Selain itu media sosial juga tidak memiliki batasan usia, selama memiliki akses internet, setiap orang bisa melihat media sosial dan segala konten di dalamnya dengan bebas. Potensi inilah yang membuat berpromosi melalui medsos dianggap efektif dan efisien. Biaya produksinya pun bisa dipangkas serendah mungkin untuk meningkatkan keuntungan.

Tidak heran jika saat ini, banyak sekali klien dan perusahaan yang memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan barang atau produk mereka. Meskipun kelihatannya efektif, tetapi membuat sebuah promosi di media sosial ternyata tidak bisa dilakukan secara asal-asalan.

Sama seperti ikan konvensional di televisi, dibutuhkan konsep yang mampu meningkatkan awareness terhadap produk yang dijual. Di sinilah peran freelance marketing social media dibutuhkan. Selain kreativitas, pekerja lepas di bidang ini dituntut agar dapat membuat iklan yang seunik mungkin sehingga bisa menarik perhatian para pengguna media sosial.

Setidaknya ada beberapa tugas yang harus bisa dikuasai oleh para pekerja lepas di media sosial, yaitu:

  1. Mampu mengelola berbagai akun media sosial
  2. Memahami setiap platform media sosial yang dikelola secara menyeluruh
  3. Membuat konten iklan semenarik mungkin sesuai konsep media sosial yang digunakan
  4. Mengikuti perkembangan zaman dan tren (hal-hal yang sedang viral di media sosial)

Menarik bukan? Mengingat betapa besarnya pengaruh media sosial di kehidupan masyarakat zaman now, tidak heran jika selain freelance marketing social media, ada berbagai profesi baru yang muncul dan populer seperti influencer, selebgram, dan selebtwitt. Orang-orang yang menyandang titel tersebut dianggap mampu meningkatkan awareness terhadap sebuah produk melalui akun media sosial mereka masing-masing.

Tapi jika ingin konten yang berkualitas dan berpotensi untuk viral, tidak ada salahnya untuk memanfaatkan kemampuan para freelance marketing social media. Agar potensi sebuah konten bisa maksimal, kombinasikan kreativitas para pekerja lepas ini dengan popularitas para selebritis media sosial.

Freelance Marketing Properti

freelance marketing 3 property

Salah satu bisnis yang sering memanfaatkan media sosial untuk memasarkan produk mereka adalah properti. Jika dulu iklan jual beli atau sewa rumah hanya bisa ditemukan di koran, saat ini promosi properti juga bisa kita temukan di berbagai platform media sosial.

Seperti yang kita tahu, perkembangan bisnis di bidang ini cukup pesat dan cepat. Apalagi nilai jual properti berbeda dengan barang mewah lainnya seperti mobil atau emas. Nilai jual tanah dan bangunan cenderung meningkat setiap tahun, seberapa buruk pun kondisi ekonomi suatu negara.

Tidak heran jika investasi di bidang ini dianggap sangat menguntungkan. Melihat potensi bisnis properti tersebut, bukan hal yang aneh jika banyak sekali orang yang tertarik untuk terjun di bidang ini. Banyak developer yang berlomba-lomba untuk membuat kawasan hunian dengan fasilitas lengkap, lokasi strategis, dan harga semenarik mungkin.

Sayangnya, meski memiliki kemampuan membuat hunian yang apik, tidak semua developer mampu memasarkan produknya dengan baik. Mereka membutuhkan bantuan para marketing properti untuk memasarkan hunian agar bisnisnya semakin berkembang.

Karena saat ini penggunaan media sosial untuk mempromosikan sebuah produk dianggap efektif, peluang untuk menjadi freelance marketing di bidang ini pun cukup besar. Jika tertarik terjun di bidang ini, setidaknya ada beberapa kualitas yang harus dimiliki. Di antaranya:

  1. Memiliki pengetahuan mumpuni tentang properti

Tidak hanya menguasai media sosial, seorang freelance marketing property juga dituntut untuk memahami berbagai sistem dalam bisnis properti seperti: status dan kondisi tanah, dokumen-dokumen terkait properti, proses kredit bank, nilai investasi, hingga potensi produk yang dijual.

  1. Mampu membuat website dan mengelola akun media sosial

Selain pengetahuan di bidang properti, seorang freelance marketing juga dituntut untuk dapat membuat sebuah website yang bisa memaksimalkan promosi produk properti. Pembuatannya pun tidak bisa dilakukan secara asal-asalan, karena website merupakan nilai jual yang dapat menarik kepercayaan konsumen.

Selain website, para freelance marketer juga dituntut dapat mengelola akun dan menggunakan berbagai platform media sosial. Sehingga pemasaran properti tidak hanya dilakukan melalui website tetapi juga media sosial agar cakupan konsumennya lebih luas dan beragam.

  1. Menguasai teknik negoisasi

Seperti halnya penjual kebanyakan, seorang freelance marketing property juga diharapkan mampu menguasai teknik negoisasi yang baik. Teknik tersebut termasuk penggunaan bahasa yang tepat, kemampuan untuk memikat calon konsumen, hingga pemberian penawaran yang tidak merugikan kedua belah pihak. Meskipun kelihatannya sulit, kemampuan tersebut biasanya akan kita miliki seiring bertambahnya pengalaman dalam bidang properti.

  1. Telaten dan tekun

Meskipun secara teknis tugas seorang freelance marketer property sama dengan agen penjualan lain. Tetapi profesi ini membutuhkan tingkat ketelatenan dan ketekunan yang lumayan tinggi. Karena selain menggunakan cara klasik, pemasaran yang dilakukan juga memanfaatkan teknologi masa kini. Hal tersebut bukanlah sesuatu yang bisa disepelekan.

Membuat konten seunik mungkin sehingga dapat menarik konsumen di media sosial dan website bukanlah hal mudah. Dibutuhkan ketekunan dan kesabaran lebih agar penjualan yang dilakukan bisa mendapatkan hasil maksimal. Jadi, tertarik untuk terjun di bidang ini?

Honor Freelance Marketing

freelance marketing 4 honor

Sebagaimana yang telah Anda baca pada artikel lain di situs Freelancer ini, perhitungan honor atau fee freelance marketing ditentukan berdasarkan 3 hal, yaitu:

  1. Lama pekerjaan
  2. Target pekerjaan dan,
  3. Kombinasi keduanya

Berbeda dengan karyawan konvensional, pekerja lepas tidak terikat tanggung jawab terhadap suatu perusahaan dan tidak berhak menuntut fasilitas yang biasanya diberikan pada karyawan tetap, seperti asuransi, tunjangan, insentif, atau bahkan pesangon. Meskipun begitu, bukan berarti menjadi seorang freelance marketer tidak menguntungkan.

Ada banyak aspek lain yang membuat bekerja di bidang ini terasa lebih seru dan menjanjikan dibanding menjadi karyawan biasa. Mulai dari fleksibilitas waktu kerja, minimnya tuntutan dari atasan, hingga kreativitas yang tidak terbatas. Menarik bukan? Bahkan jika kita memiliki kualitas di atas rata-rata, bukan tidak mungkin, banyak klien yang bersedia menggunakan jasa freelance marketer meskipun fee-nya sedikit di atas rata-rata.

Inilah mengapa sebelum memutuskan untuk terjun di bidang ini, pastikan kita memiliki beberapa kualitas yang dapat menaikkan harga jual jasa di hadapan konsumen. Karena meskipun tidak mengikat atau terikat perusahaan manapun, menjadi freelancer bukanlah hal mudah.

Lingkup yang terbatas justru membuat profesi ini memiliki nilai kompetisi dan persaingan yang cukup tinggi. Jika tidak didukung oleh kemampuan dan kualitas yang mumpuni, para freelance marketing tidak akan bisa bertahan dan mendapatkan penghasilan yang menjanjikan dari profesi ini.

Selain kualitas, ada beberapa faktor lain yang dapat meningkatkan harga jual seorang pekerja lepas di hadapan klien. Di antaranya:

  1. Memiliki spesialisasi di bidang tertentu (Niche)

Sah-sah saja menjadi seorang pekerja lepas yang ahli dalam berbagai bidang. Tetapi untuk menjaga kualitas dan mendapatkan keuntungan lebih, kita membutuhkan keahlian khusus dalam satu atau dua bidang. Misalnya, kita tertarik pada segala hal yang berbau properti. Jika ingin ketertarikan tersebut mendatangkan keuntungan, fokuslah pada bidang properti.

Pelajari segala hal tentang sistem jual beli tanah dan bangunan, bagaimana membuat akta dan dokumen terkait, mengetahui proses kredit KPR di bank, hingga memiliki pengetahuan luas tentang status dan potensi suatu properti. Selain itu, kita juga harus memiliki kemampuan penjualan dan negoisasi yang baik.

Sehingga klien tidak segan untuk menaikkan fee atau komisi, karena hasil yang diberikan cukup maksimal. Hal ini juga berlaku jika Anda tertarik untuk terjun di bidang freelance marketing lainnya. Pilihlah bidang yang membuat Anda nyaman dan tertarik agar hasil yang didapatkan pun tidak kalah menarik.

  1. Mampu bersaing

Meskipun lingkupnya tidak seluas pekerjaan konvensional, bukan berarti menjadi freelance marketing tidak memiliki saingan. Untuk meningkatkan fee dan mendapatkan penghasilan lebih, seorang pekerja lepas juga harus memiliki kemampuan bersaing yang baik.

Tawarkan kualitas yang mampu membuat klien tertarik dan bersedia membayar dengan harga mahal. Seperti kemampuan mengelola media sosial, mengoperasikan aplikasi atau software tertentu, dan soft skill khusus yang tidak banyak dimiliki orang (misal: menulis, menggambar, atau mendesain).

  1. Fleksibel dalam menentukan harga

Dalam menentukan tarif, seorang freelance marketing harus memiliki kemampuan untuk mengukur keahlian mereka. Jangan sampai harga yang kita tawarkan atau ditentukan oleh klien di bawah standar dan tidak sesuai dengan kualitas yang diberikan. Jangan sampai pula, harga yang ditetapkan tergolong tinggi sehingga membuat konsumen ragu bahkan enggan untuk menggunakan jasa kita.

Fleksibilitas merupakan kunci untuk bertahan di industri freelance marketing. Sebagai panduan penentuan tarif, ada beberapa poin yang harus dipertimbangkan. Di antaranya:

  • Waktu pengerjaan (per jam, per hari, per minggu, atau per bulan)
  • Kuantitas proyek (per-slide, per kata, per karakter, atau per menit)
  • Tingkat kesulitan proyek, dan
  • Kualitas klien (perusahaan besar atau perorangan)

Untuk mendukung kualitas hasil pekerjaan dan stabilitas penghasilan, sebagai freelancer hendaknya kita lebih bijaksana dalam memilih proyek dan bidang yang akan dikerjakan. Jangan sampai hanya gara-gara tergiur dengan fee freelance marketing yang menggiurkan, kualitas pekerjaan kita menurun sehingga kehilangan klien potensial.

Freelance Digital Marketing

freelance marketing 5 digital

Pada dasarnya apapun bidang yang kita pilih saat terjun di dunia freelance marketing, selama hal tersebut berhubungan dengan teknologi dan internet, maka kita bisa disebut pelaku freelance digital marketing. Jika tertarik untuk berkutat di bidang ini, setidaknya ada beberapa hal yang harus dipersiapkan. Di antaranya:

  1. Membangun jaringan

Tidak seperti karyawan konvensional, seorang pekerja lepas harus membangun jaringannya sendiri agar mendapatkan pekerjaan dan penghasilan yang diinginkan. Mulailah dari menghubungi teman-teman atau kerabat lama untuk membangun jaringan, dan terbuka dengan berbagai kesempatan untuk terhubung dengan jaringan baru. Karena semakin luas jaringan yang dimiliki, kesempatan untuk menawarkan jasa sebagai freelance marketing pun semakin berkembang.

  1. Kumpulkan portofolio

Saat pertama kali terjun di bidang freelance marketing, kita harus sedikit “rakus.” Lakukan setiap pekerjaan yang ditawarkan tanpa pandang bulu untuk menambah pengalaman dan mengumpulkan portofolio. Karena di masa yang akan datang, pengalaman dan portofolio tersebut bisa menjadi poin penting yang akan menaikkan nilai jual di hadapan klien.

  1. Aktif di media sosial

Karena berhubungan dengan dunia digital, menjadi aktif atau bahkan menguasai berbagai media sosial merupakan sebuah keharusan. Selain dapat digunakan sebagai platform promosi, kemampuan mengelola media sosial juga bisa menjadi poin yang membuat klien tertarik untuk menggunakan jasa kita.

  1. Rajin menghadiri acara dan seminar terkait

Dari acara tersebut, biasanya kita bisa belajar banyak hal tentang dunia digital marketing, tips, bahkan trik untuk menggaet klien. Selain itu, kita juga dapat bertemu banyak orang baru yang disadari atau tidak, dapat membantu memperluas jaringan. Menarik bukan?

Jadi, tertarik untuk terjun di dunia freelance marketing? Semoga informasi di atas bermanfaat, dan jangan lupa untuk membaca artikel lain di situs Freelance ini.

Haruskah Pekerjaan Freelance Diteruskan?

Sekarang ini, di waktu reguler saya bekerja di kantor. You know, lha. Pagi sampai sore. Senin sampai Jumat. So, I can do the father-ing activities pretty much.

HARUSKAH PEKERJAAN FREELANCE DITERUSKAN_

Sebelum di kantor sini, saya sempat bekerja freelance. Cukup lama, kalau saya bandingkan dengan teman-teman yang lain di kantor sini. Ada yang beberapa bulan. Paling lama setahun. Karena saya bekerja freelance sampai 25 bulan.

Sebenarnya, sampai sekarang juga saya masih mengerjakan beberapa pekerjaan freelance. Kalau teman-teman yang tadi saya ceritakan, mostly mereka web developer. Sementara saya seorang penulis konten. Ada juga buku yang saya tulis.

FYI, beberapa orang menjadikan profesi “freelance” sebagai alibi. Beneran jadi alibi? Maybe yes, maybe no. Mungkin mereka sedang mencari kerja kantoran, tapi belum dapat. Jadinya yes, alibi. Soalnya belum dapat kerjaan freelance yang baru, jadi iseng-iseng buka toko online lha, buka layanan desain grafis, social media administrator, content writer, dst.

Kecuali memang, freelance adalah makanan mereka sehari-hari. Berarti freelance-ing bukan alasan. The very big NO. Studi kasusnya memang ada nih. Teman saya sendiri. Setelah sekitar 10 tahun freelance sebagai web developer, akhirnya direkrut bekerja sebagai karyawan tetap. Tapi perusahaanya di eropa timur sana. Dia kerja remote dari Bandung. Mulai kerja jam 11 pagi mengikuti waktu bekerja employer-nya di sana.

Freelance is BAU

Kenyataan yang cukup sering dilupakan orang adalah, freelance-ing is really business as usual (BAU). When you think and talk about BAU, it is not necessary as sales and operation only. But also marketing (branding and promotion), finance management, network development, product/service research and development, etc.

For example: 

  • Branding: establish personal blog/social media, search new audience, and put content frequently 
  • Promotion: do some discount, cashback, etc to attract a new buyer or retain customer 
  • Product/service research: searching/creating “the next big things”
  • Network development: routinely attend the communities meeting, actively participate in creating communities event, etc 

So, the BAU’s problem of freelance-ing (if you really want to be serious in it) is it really takes so much of your personal resource.

Kita ambil contoh freelance writer deh, ya:

  • Branding: bikin dan mengisi profesional blog. Tulisan yang sama bisa juga dirilis di facebook fan page. Bikin Instagram, tiap link konten baru diposting di sana. Menulis buku sendiri supaya dipajang di toko buku, dll
  • Promotion: bikin penawaran harga diskon untuk calon pemberi kerja yang baru, kalau perlu kasih contoh gratis, dll
  • Product research: cari topik baru yang lagi tren: misalnya, parenting, islam, komedi satir para jomblo, kuliner, wisata, dll
  • Network development: cari referensi brand yang suka bikin product review, ikutan komunitas blogger, dst

So, If you just wanna operate with limit resource, then it may not getting any bigger.

Mau besar? Harus bangun tim, menetapkan business process, berbagi fungsi, harus sedia uang kontan dulu di depan (dari pinjaman atau investor), bikin dan mengejar target, dst.

Tentang Harga

Perspektif lain adalah soal harga.

Harga mulai bisa menyenangkan, kalau kinerja kamu sudah bagus. Syarat performance dan service yang setidaknya good, bisa dilihat dari portfolio dan jam terbang. Itulah persoalan dengan situs-situs semacam freelancer, upwork, dll. Pasar freelance seperti itu terlalu banyak dimasuki oleh para pemain baru.

You know, pemain baru selalu masuk dengan harga rendah supaya bisa dapat pekerjaan. Sementara, kualitas pekerjaannya sendiri masih di tahap belajar. Jadinya, pemberi kerja juga belum mau membayar tinggi. Mengapa demikian? Pemberi kerja juga berpikir, daripada saya bayar lebih mahal, lebih baik saya kerjakan sendiri saja. Kalau cost-nya masih terjangkau, tidak apa saya outsource. Klop sudah, penyedia jasanya ya begitu, jadinya yang meminta jasa juga begitu.

Itulah yang menjadi dasar lahirnya pertanyaan sekaligus judul di atas. Dalam perspektif freelancer, untuk apa saya ngoyo mengerjakan proyek kalau angkanya cuma segitu (karena mengikuti harga pasar yang banyak diterjuni oleh pemain baru berharga murah)? Pun saya memberikan lebih baik, belum tentu pemberi kerja mau menaikkan tawarannya.

Ini adalah pikiran dari pekarya (meminjam istilah Pandji) yang percaya diri dengan kualitas karyanya.

Beberapa teman di komunitas blogger, yang mostly perempuan itu, cukup sering menyebutkan diri mereka sebagai freelance. Saya menduga-duga, freelance-ing satu ini adalah aktivitas lain mereka selain peran utama sebagai Ibu Rumah Tangga. Saya tidak sedang mendiskreditkan IRT ya. I mean, mungkin belum mengambil waktu se-massive pekerjaan kantor yang 40 jam seminggu. Actually, pekerjaan rumah tangga itu lebih menyita waktu, tenaga, dan pikiran. Cukup stressful, pula.

Sebagai istri dan Ibu Rumah Tangga, saya rasa mereka masih ada Suami yang menjadi tulang punggung ekonomi dan keluarga. Jadi aktivitas mencari dana adalah aktivitas sekunder yang bervariasinya pendapatan (antara banyak dan banyak sekali, hehe) belum mendatangkan masalah. Sebab, ada suami yang memiliki pekerjaan (dan gaji) tetap.

Beda banget kalau suami dan/atau istri, sama-sama hidup dari menyediakan jasa yang sifatnya freelance. Pastinya bukan hal yang mudah hidup dengan ketidakpastian pekerjaan (dan penghasilan). Bagaimana dengan saya sendiri?

Saya lebih memilih punya pekerjaan tetap dan menolak proyek kalau harganya tidak memuaskan bagi saya. Saya punya metodologi dalam bekerja, serta standard tertentu yang harus saya capai. Atas keduanya, saya tidak ingin memberi sembarang price tag.

Dari teman-teman pembaca, mungkin ada pendapat? Ditunggu komentarnya di bawah ya 🙂