Gotham and Storytelling

Belakangan ini saya rajin mengunduh dan menonton serial “Gotham“. Sekarang sudah 9 episodes. Ratingnya lumayan lho, 8.2 dari total 10. Artinya, banyak yang suka. Terkait hal ini, saya punya duga-dugaan yang belum terkonfirmasi ke para pemirsa yang sebenarnya. Yah, tapi minimal udah terkonfirmasi ke saya gitulah, hehe 😀

http://teniesonline.ucoz.com/_ld/100/33384397.jpg

Jadi serial ini berlatar belakang kota Gotham (ya, Gotham yang Batman itu lho) sebelum Batman lahir, hadir, dan “menjaga” kota tersebut. Di serial ini, Bruce Wayne kecil selalu curious alias kepo banget mengenai bagaimana kota tersebut “bekerja”. Terlebih banyak peristiwa-peristiwa janggal (sekaligus menarik) yang menjadi lakon utama di tiap episodenya pasca kematian pasangan Wayne di hadapan Bruce kecil.

Protagonisnya adalah James (Jim) Gordon, alias pak komisaris polisi di film-film Batman. Di sini diceritakan bahwa karakter ini masih rookie di GCPD. Baru gabung di kepolisian, tapi masih punya idealisme tinggi. Sehingga sisi idealisme-nya (dan itu yang selalu menjadi bawaan khas di perannya) dapat dieksplorasi besar-besaran oleh produser dan sutradara yang bersangkutan di serial ini.

Di samping ketokohan protagonis, masing-masing antagonis juga dideskripsikan detil. Lihat bagaimana Oswald “Penguin” Cobblepot mampu tampil cengengesan dan lemah, tapi di saat lain pandai menipu, bahkan menjadi sadis. Ada juga Selina Kyle, tokoh yang mestinya jadi Cat Woman di versi film. Tindak-tanduk dan kelakuannya udah sama cem Cat Woman yang asli. Gerakan lincah, badan lentur, dengan mata yang bisa melihat dalam kegelapan malam.

Jadi, ternyata.. –eh, kasi tau gak ya; kasi tau gak ya; spoiler dikit nih soale 😀 — warga kota Gotham itu menaruh harapan pada “pahlawan terselubung” yang “beraksi” membasmi orang-orang jahat –semisal letnan yang korup atau pengusaha yang filantropi-nya cuma pura-pura. Tidak lain karena GCPD tidak selalu bisa diharapkan. Sebab itu ada sebagian warga yang main hakim sendiri. Pola seperti ini yang kemudian dilakukan secara persis oleh The Dark Knight seperti Batman.

Lewat serial Gotham ini, produser dan sutradara jadi mampu mengeksplorasi dan mengeksploitasi ruang-ruang cerita di kehidupan pra-Batman. Which is, selama ini hanya era-nya Batman yang kita tahu. Pola ini mirip dengan trilogi “Lord of The Ring” yang diikuti dengan prekuel trilogi “The Hobbits“. Trilogi kedua (yang berkisah mengenai para hobbit) adalah pemberi penjelasan behind the story why there was “Lord of The Ring“. Ada story, ada demand. kalau demand berlanjut? Baru kita teruskan story-nya 🙂

The storytelling part
Sengaja atau tidak sengaja, selalu ada cerita yang tersirat di balik setiap word of mouth (WOM) yang tersaji. Demikian pula di setial “Gotham” ini. Batman sebagai sebuah legenda yang menemani kisah-kisah generasi saya di masa kecil dulu, adalah salah satu di antaranya. Dan kini, ketika “potret” kehidupan di kota Gotham disajikan secara epik melalui rangkaian episode ke episode, nostalgia tersebut terulang kembali.

Dan dalam setiap nostalgia tersebut, selalu ada cerita-cerita tertentu di dalamnya. Inilah yang biasa kita sebut “storytelling” alias story to be told. Cerita-cerita yang menjadi konten dalam setiap getok tular yang kita sebarluaskan. Di sini saya juga menjadi salah satu storyteller alias customer-marketer atas serial Gotham ini. Yang membuat anda penasaran, turut men-download, hingga ikut menyaksikan.

Storytelling juga yang mendasari tersebarnya Mini Drama AADC yang menjadi konten dari promo fitur “Find Alumni” yang lalu dari brand Line. Jadi bukan asal “film laris tentang hubungan asmara”. Melainkan ada headline “Rangga dan Cinta yang sudah 12 tahun gak ketemu” diikuti story “CLBK-nya Rangga ma Cinta”. Keduanya membuat videonya jadi ditonton, meme-nya di-retweet and di-share kemana-mana. Ini enelan lho, ada riset yang menyatakan bahwa di Indonesia, social media itu dipakai untuk CLBK-an. Hehe.. 😀 Jadi ngerti kan, kenapa mini drama tersebut tersebut dan meluas dalam waktu singkat? Hehe.. There is always story to be told, that’s why we call it storytelling 🙂

7 skill yang diperlukan profesi PR sejak sekarang

http://www.prezly.com/frontend/img/landing/public_relations_quotes/pr-quote-seth-godin.png

Digital revolution yang terjadi di sekitar kita, menuntut kita untuk sadar, mempelajari, dan beradaptasi dengan perubahan. Termasuk para pelaku public relations (PR) yang harus sadar, mempelajari dan beradaptasi agar tetap relevan dalam bidangnya. Saya merumuskan ada 7 skill yang harus dimiliki praktisi PR saat ini.

1. Advertising Copywriting
Skill ini maksudnya adalah kemampuan menulis editorial, press release, bahkan merumuskan pilihan kata-kata untuk materi iklan (advertising). Social media kita sangat menuntut kemampuan tersebut dalam era terkini. Kecepatan delivery dan keakuratan materi harus jadi kemampuan karena kita bersaing dengan banyak pihak berebutperhatian target audience.

2. Foto dan Video Production/Editing
Kadangkala jenuh dengan tulisan, target audience perlu kita kirimi juga dengan format yang lain. Misal foto/gambar atau video. Skill yang diperlukan adalah production sekaligus editing kedua jenis materi tersebut. Aplikasi seperti camera 360 bisa sangat membantu editing materi foto untuk keperluan PR kita.

3. Mobile
So far, kebutuhan target audience kita baru sebatas informasi paling real time dan langsung dari tempat kejadian. Sejauh ini, punya akun twitter sudah cukup mengakomodasi kebutuhan tersebut. Tweet mampu memuat gambar dan link dalam space yang relatif cukup (160 karakter) untuk kita sampaikan ke target audience.

4. Storytelling
Bombardir 1 pesan khusus (apalagi sekedar jualan) bukan jamannya lagi. Keutuhan cerita jadi kebutuhan target audience. Pertanyaan seperti kenapa, mengapa, bagaimana dst justru semakin relevan di era digital ini. Storytelling skill ini adalah salah satu skill tradisional yang makin dibutuhkan dari profesi PR saat ini.

5. Analytics
Minimal, ketahuilah apa yang menyebabkan pengunjung website menjadi tinggi? Atau apa yang menyebabkan jumlah follower/friend meningkat pesat? Website dan social media adalah marketing channel terkini yang tidak bisa lagi kita abaikan. Selain harus rajin buat dan posting konten, kita wajib mampu melakukan analisis di balik hasil akhirnya.

Critical Thinking merupakan skill yang belakangan ini semakin diperlukan. Sesuai konteks digital media yang mampu menyediakan data, maka kita insan pengguna media harus selalu berpikir kritis dalam melakukan analisis. 

6. SEO
Menulis di internet jelas berbeda dengan menulis di media tradisional seperti koran. Pengunjung website atau akun socmed cenderung tidak membaca banyak. Mereka perlu yang singkat dan padat, serta punya keyword yang relevan. That’s it. Sebab itu menulis yang search-able di internet jadi penting.

7. Blogger Relation
Jumlah blog semakin bertambah. Meski ada yang kemudian sirna, jumlahnya tetap lebih sedikit dari yang dilahirkan. Dan masing-masing seringkali fokus ke kategori tertentu. Misal blog ini yang lebih banyak fokus ke marketing strategy. Maka dari itu relasi dengan para blogger akan meningkatkan relationship with brand yang lebih baik lagi dengan target audience.

Ilustrasi gambar dari http://prezly.com

Related Post:
Gotham and Storytelling
Apa itu Public Relation

6 Cara Riset Content Marketing yang Akan Membuat Pengunjung Betah Berlama-lama di Web Anda

Di artikel yang lalu, entah yang mana saya tidak ingat lagi 😀 sudah saya tuliskan bahwa proses menulis adalah (1)riset-(2)draft-(3)produksi-(4)revisi. Bagi saya ini berlaku untuk segala jenis tulisan: (a)opini yang dikirim ke koran, (b)artikel untuk majalah dwimingguan, dan lain sebagainya.

Untuk di internet, prosesnya ditambahkan satu lagi, yaitu (5)promosi (ke social media). Agar para pengguna sosial media berbondong-bondong menuju blog/web milik kamu.

Demikian pentingnya riset sebelum menulis, sebab riset adalah (1) proses pertama yang harus dilakukan serta (2) menjadi fondasi atas kualitas suatu tulisan.

Jadi makin banyak riset, maka kualitas tulisan cenderung membaik. Jangan heran banyak penulis tersohor yang mengingatkan agar kita membaca buku lebih banyak supaya kita dapat menjadi penulis yang semakin baik dari waktu ke waktu.

Bagaimana riset penulisan memandang perilaku plagiarisme? Simak dulu quote yang berikut ini:

If you steal from one author, it’s plagiarism; if you steal from many, it’s research (Wilson Mizner)

Dengan kata lain, menulis dengan hanya satu sumber itu mencontek. At least akan terasa bahwa gagasannya kurang kuat/banyak. Tapi kalau kamu menulis setelah membaca banyak referensi, itu berarti kamu sudah melakukan riset.

Makin bagus riset kamu, makin berkelas tulisan kamu.

Nah, mungkin kemudian kamu bertanya, (1) Riset apa yang harus dilakukan? (2) Bagaimana cara melakukan riset?

Sebagai jawaban atas pertanyaan tersebut, berikut adalah beberapa hal yang bisa saya rangkumkan.

(1) Riset dari blog orang lain. Temukan informasi-informasi penting dari blog tersebut. Tidak harus berupa data, inspirasi untuk menulis juga bisa datang dari blogger lain.

Inspirasi tersebut bisa jadi bahan untuk tulisan kamu. Tentu saja harus ditambahkan sudut pandang, pendapat, dan pengalaman pribadi supaya menjadi berbeda dibanding inspirasi dari blogger tersebut.

Dalam setiap niche, ada blogger-blogger berkualitas yang layak kita jadikan sebagai mahaguru. Bagaimana cara supaya tidak terlupa untuk berkunjung ke blog tersebut?

Yaitu berlangganan email marketing. Beberapa waktu lalu saya sudah menyarankan untuk berlangganan beberapa email marketing sekaligus terkait dengan bidang-bidang yang ingin kamu pelajari.

(2) Riset di www.quora.com Dari sana bisa terbayang seputar detil-detil yang dikehendaki oleh (calon) pembaca dari topik yang ingin kita tulis.

Cari pertanyaan yang begitu sulit sehingga tidak seorang pun menyediakan jawabannya di internet. Mungkin ada pertanyaan di www.quora.com yang kamu sukai, tapi tidak ada jawaban yang berhasil memuaskan rasa ingin tahu kamu.

Masih belum yakin dengan Quora? Mungkin kamu bisa re-ask pertanyaan How has Quora affected your life?” 😀

quora-logo

(3) Riset dari membaca buku yang terkait. Bagaimanapun lengkapnya internet sebagai sumber, kadangkala referensinya tidak terlalu kokoh. Satu sumber di internet bisa ditimpa dengan sumber yang lain.

Bagaimana mendapat sumber yang robust (kokoh)? Salah satunya dengan membaca buku yang tepat. Yaitu buku dengan referensi yang lengkap dan saling mendukung satu sama lain.

Biasanya buku-buku seperti ini dibaca dan dirujuk oleh banyak orang. Dan biasanya juga, memang merupakan hasil riset, analisis, dan penulisan secara mendalam.

Mas Yodhia Antariksa belum lama ini merekomendasikan 3 judul buku bisnis terbaik tahun 2015 (menurut beliau) untuk dibaca oleh kita semua. Setiap tahun, beliau membuat postingan dengan tema tersebut.

Ada lagi cara lain untuk mengetahui buku yang tepat: bertanya pada konsultan/dosen di bidangnya untuk mengetahui referensi paling baik mengenai topik tersebut.

Btw, kebetulan lagi ngomong konsultan, ada blog yang khusus membahas pekerjaan konsultan. Beberapa jenis pekerjaan konsultan bisa dibaca di www.pekerjaankonsultan.com

Atau kamu bisa lakukan 6 cara yang telah saya praktikkan agar bisa konsisten ngeblog.

(4) Riset kepada salah seorang pengunjung blog kamu. Bisa dengan interview langsung atau ngobrol-ngobrol sembari makan siang. Sekalian copy darat dan silaturahim, ‘kan.

Sebagai fans berat kamu, tentu dia mampu memberikan usul mengenai ide-ide artikel blog yang pantas masuk dalam content plan kamu.

Atau dia akan merasa beruntung karena sedang ingin bertanya tentang sesuatu hal — yang sekaligus kamu bisa gunakan sebagai topik untuk menulis artikel blog yang paling baru.

Cari tahu apa yang ingin diketahui oleh para blog readers (biasanya melalui comments),  lalu jawab pertanyaan tersebut melalui artikel anda.

(5) Riset Keyword. Ini ditujukan untuk SEO Copywriting. Tembak sebanyak-banyaknya keyword yang masih terkait satu sama lain dalam satu kategori/topik penulisan.

Lebih baik long tail keyword (LTK) daripada keyword yang hanya terdiri dari 2-3 kata. Penggunaan beragam LTK dalam satu artikel, akan memperkuat posisi artikel di hadapan sang mesin pencari.

Tulisan yang lebih condong pada kualitas, menuntut riset yang lebih intens daripada tulisan yang condong pada frekuensi rilis/publish. Tidak usah memaksa setiap hari membuat postingan dengan mengorbankan kualitas.

Lebih baik menerbitkan satu artikel dalam satu pekan tapi dengan proses dan kualitas yang terbaik. 

Blog seperti www.waitandwhy.com tidak banyak menerbitkan artikel baru, namun setiap artikelnya ditulis sepanjang 1500-2000 kata. Panjang artikel inilah yang menyebabkan blog ini kuat sekali di search engine result page (SERP).

(6) Riset dari pengalaman pribadi. Akan bermanfaat untuk gaya postingan life/reality blogging. Ini adalah salah satu gaya di antara 20 gaya posting blog.

Perspektif dan pengalaman pribadi akan memberi warna baru untuk topik yang pernah dibahas oleh penulis lain. Tidak hanya warna baru, tetapi juga memperkuat storytelling.

Yang mana, hanya kamu sendiri yang tahu dan merasakan langsung pengalaman kamu. Jadi ketika diceritakan oleh kamu sebagai pelaku sejarah itu sendiri, maka cerita tersebut akan menjadi lebih hebat.

Simpulan. Sudah dibedah di atas beberapa cara riset yang mungkin kita lakukan:

(1) Riset di blog orang lain
(2) Riset di Quora
(3) Riset dari buku yang direkomendasikan
(4) Riset pengunjung blog
(5) Riset keyword
(6) Riset dari pengalaman pribadi

Sebab riset merupakan tulang punggung proses-proses penulisan. Dengan berbagai metode riset tersebut, semestinya kita bisa mengembangkan tulisan yang lebih berbobot.

Semoga tulisan singkat ini tepat memberi manfaat 🙂

Related Post(s):

Beberapa Tips Marketing Lewat Instagram Yang Dapat Anda Terapkan Di Bisnis Anda

Kenapa harus Instagram?

Pelanggan yang sesuai dengan format konten gambar, tidak boleh dipaksakan berkomunikasi dalam bahasa tulisan (teks). Itu salah satu alasan memakai Instagram.

Marketer yang sudah terbiasa membuat dan mendistribusikan konten dalam bentuk tulisan, tidak boleh demikian egois untuk hanya menuruti keinginannya semata. Harus kreatif menggunakan medium yang cocok dengan perilaku pelanggan.

Idealnya, marketer itu peduli pada pelanggannya. Sehingga akan berupaya maksimal untuk membangun komunikasi dan engagement dengan pelanggan. Yaitu dalam semua bahasa dan medium yang dikehendaki oleh target market.

Saat ini, Instagram sudah memiliki pengguna aktif bulanan sebesar 400 juta pengguna (users) di seluruh dunia. Ini adalah potensi besar yang jadi alasan utama mengapa kita harus memakai instagram.

Tapi, bagaimana memaksimalkan Instagram?

Seperti misalnya, tipe apa gambar apa yang paling tepat untuk pelanggan kita? Beda segmen yang ditarget, tentu berbeda tipe. Jualan tas untuk perempuan yang sudah berkeluarga, sudah pasti berbeda dengan jualan produk-produk kuliner.

Kita harus coba dan eksplorasi terus, hingga kita menemukan winning campaign-nya.

Dalam eksplorasi, kita bisa lakukan 2-5 percobaan sekaligus dalam waktu bersamaan. Tinggal kita lihat dan bandingkan hasilnya, pada indikator-indikator yang sudah kita tetapkan sebelumnya. Ini yang dinamakan split testing.

Ada dua kelompok besar, mengenai kesimpulan yang bisa kita buat. Apakah ada –yang pertama–jenis campaign yang harus kita stop dan hindari, atau justru–kedua adalah–winning campaign yang bisa kita ulang dan optimalkan lebih lanjut.

Kenali Perilaku (Behavior) Pengguna Instagram

Minat (interest) pengguna Instagram bisa kita eksplorasi dari beragam hashtag yang ada. Jadi ketika kita mengamati kualitas suatu gambar, perhatikan juga apa saja hashtag yang dipakai. Sebab di sisi lain, hashtag tersebut juga yang akan digunakan oleh pengguna lain untuk mencari gambar-gambar yang sesuai minat mereka.

Instagram dengan gambarnya itu bisa dianalogikan dengan mesin pencari Google yang mencari berdasar relevansi teks. Jadi ketika pengguna Instagram ingin menemukan gambar sesuai minat, mereka akan mengetik sesuai hashtag yang mereka tahu pasti akan menggambarkan kebutuhan mereka.

Sebagai contoh. Andaikan saya adalah seorang yang tinggal di Jogja, atau sedang berkunjung ke Jogja. Kemudian saya ingin wisata kuliner di Jogja. Maka saya akan mencari gambar-gambar dengan hashtag #kulinerjogja. Atau misalnya seseorang yang dalam kunjungan kerja ke Semarang akan memakai #kulinersemarang.

Hal ini sangat berkait dengan produk atau layanan yang berada di atau ditawarkan di Instagram. Beda produk/layanan, beda pula perilaku user. Tipe kuliner, terutama yang dimakan di tempat, secara sengaja diidentikkan atau diasosiasikan dengan kota tertentu.

Segmen berbeda, semisal penyuka, pembeli, dan kolektor tas wanita, tidak akan menggunakan hastag semisal #tasjogja. Sebab, produk jenis ini tidak identik dengan wilayah tertentu serta dapat dikirim antarkota tanpa mengalami kerusakan atau basi.

Selain melihat hashtag berdasar jenisnya, kita juga perlu mengetahui seberapa banyak image yang dirilis (published) terkait dengan hastag tersebut. Sebaiknya tidak terlalu banyak atau terlalu sedikit. Terlalu banyak berarti foto/gambar anda akan bersaing ketat dengan yang lain. Terlalu sedikit bisa dimaknai bahwa hashtag tersebut kurang diketahui orang sehingga masih sedikit yang mem-posting gambar dengan hashtag tersebut.

Penting pula untuk tidak sekedar ikut arus. Ciptakan sendiri brand positioning sehingga timbul perbedaan dengan kompetitor. Gunakan hastag yang sama sekali berbeda dengan para pemain yang sudah berada di Instagram lebih dulu.

Seiring dengan pertumbuhan Instagram user, kesempatan kita untuk menciptakan awareness akan terus tumbuh pula. Dengan kata lain, makin banyak yang akan mengetahui mengenai brand yang kita garap. Namun demikian, best way to use Instagram adalah dengan menjadikan medium ini sebagai plaftorm untuk menciptakan engagement dengan pelanggan.

Coba kita simak hasil riset berikut. Bahwasanya Instagram memiliki tingkat engagement tiap pengikut (per-follower engagement rate) yang 58 kali lebih baik daripada facebook dan 120 kali lebih baik daripada twitter. Datanya berasal dari sini.

Platform paling oke untuk melakukan kontes mengenai brand

Ini mirip dengan twitter dan blog sebagai platform untuk membuat kontes dengan hashtag tertentu. Hanya, keduanya dalam bentuk teks saja ‘kan? Instagram sebagai image-based apps sedang ‘di atas angin’ karena memang image (yang lebih cepat ditangkap dan dicerna oleh indera penglihatan) lebih unggul dibanding text yang harus dibaca. Apalagi produk dan services juga lebih mudah dideskripsikan lewat gambar/foto.

Model user-generated content (UGC) seperti di kontes yang sudah dijelaskan di atas, engagement rate-nya lebih baik daripada sekedar meminta like dari para user. Kelebihan lain dari kontes menggunakan medium Instagram adalah sebagai berikut:

  • Ketika user yang bersangkutan meng-upload image, tentu para follower mereka juga terekspos akan hashtag yang kita tetapkan
  • Ada koneksi emosional (dari yang merasa biasa saja, sampai dengan yang merasa excited banget) antara user dengan brand kita dalam campaign ini
  • Rangkaian konten tercipta dengan sendirinya dan dapat dikonsumsi dengan mudah oleh mereka yang men-search hashtag yang sedang dikampanyekan
  • Bila hastag kita mengandung brand name kita, kampanye ini telah memaksimalkan potensi dari pelanggan selaku produsen dan konsumen gambar/foto yang terkait dengan brand kita.

Medium untuk mentarget anak muda

Mayoritas anak muda Indonesia (usia 18-35 tahun) yang secara aktif menggunakan Instagram, banyak mem-follow akun-akun retailers. Sebanyak 56.2% mengakui dirinya mem-follow brand-brand retailers.

Jenis retailer yang paling banyak diikuti adalah ritel fashion/apparel/clothes sebanyak 67.5%.

205168

Oleh lembaga riset yang sama, JakPat, menemukan bahwa mendekati 7 dari 10 pengguna mobile internet di Indonesia usia 18-35 tahun menggunakan Instagram secara rutin setiap pekan.

Setinggi 73.8% responden yang berusia 20-25 tahun mengaku menggunakan Instagram. Reach ini jauh lebih baik daripada kategori usia 30-35 tahun yang hanya sebesar 55.8%. Dapat kita simpulkan bahwa medium Instagram sangat oke dalam mentarget segmen berusia muda.

Daripada meng-upload image di akun milik sendiri, users lebih suka melihat-lihat akun-akun yang terkait dengan belanja online. Itu yang utama –sebesar 53.0%. Kedua-utama adalah lelucon yang banyak disampaikan oleh akun-akun yang berfokus dengan materi yang memancing tawa tersebut (51.6%). Coba deh, follow dan pelajari akun-akun seperti @bikinnyengir atau @dagelan.

Screen shot 2016-05-15 at AM 11.05.15

Peringkat ketiga dari aktivitas-aktivitas Instagram user di Indonesia adalah adalah posting image seputar travelling (48.4%). Tentu saja hal ini terkait dengan kelahiran dan keberadaan kelas menengah yang telah berperan selaku konsumen dan endorser di industri travelling kita yang terus tumbuh setiap tahunnya.

Lebih lengkap bisa dilihat di riset eMarketer di sini.

204304

Akuisisi Instagram oleh Facebook

Saya kira, akuisisi perusahaan Instagram oleh perusahaan Facebook, merupakan satu langkah strategis Facebook dalam memperbaiki algoritma image di facebook. Facebook sangat-sangat mengutamakan pengalaman pengguna (user experience) dalam bermain facebook.

Facebook tidak akan membombardir pengguna dengan berbagai iklan sekaligus. Melainkan satu demi satu, selama selang detik-detik tertentu.

Sehingga, penting bagi facebook untuk dapat menemukan gambar yang memang relevan dengan tiap-tiap user. Tidak heran kan mereka menempuh jalan tersebut lewat akuisisi Instagram. Logika yang sama berlaku untuk pembelian WhatsApp oleh Facebook.

Sebab jual beli perusahaan tidak selalu seperti membeli lalu menjual aset. Perusahaan tidak selalu bisa dibandingkan dengan rumah atau tanah yang harganya cenderung naik. Perusahaan punya karakteristik khusus. Yakni, perusahaan adalah tempat di mana paten-paten bertebaran.

Jadi dengan membeli perusahaannya, maka paten-paten di dalamnya juga akan ikut dimiliki oleh perusahaan pembelinya. Dan itulah yang telah dilakukan oleh perusahaan Facebook.

6 Saluran Internet Marketing yang Harus Anda Ketahui

Tips internet marketing adalah tips-tips yang anda butuhkan untuk melakukan pemasaran dan penjualan (marketing and selling) via internet. Di internet, kita bisa melakukan marketing and selling melalui beragam saluran (channel). Mulai dari website kita sendiri, yang bentuknya bisa berupa toko online, blog, berita, dan lain sebagainya. Atau melalui akun social media – yang kita tahu sangat beragam – twitter, facebook, path, youtube, pinterest, dan lain sebagainya.

Oiya, jangan keliru dan tertukar antara maksud dan pengertian dari marketing dan selling. Marketing adalah aktivitas-aktivitas untuk membangun keinginan membeli dalam diri konsumen. Bahasa kerennya: creating demand. Sedangkan selling adalah “memetik” keinginan tersebut dengan cara membuat konsumen membayar lalu menerima manfaat produk/layanan yang sudah kita janjikan.

Pada tulisan kali ini, kami akan elaborasi sedikit saja dan secara sekilas apa saja tips-tips untuk melakukan pemasaran dan penjualan via internet. Di antaranya ada email marketing, social media marketing, search engine optimization (SEO). Masing-masing saluran ini punya kelebihan dan kekurangan, tentu saja.

Email marketing. Tentu saja berarti mengirim pesan-pesan marketing kepada email konsumen yang ada dalam database kita. Darimana database ini bisa anda dapatkan? Pertama, anda harus membuat konten yang fokus dan menarik untuk pengunjung website anda. Kedua, pancing mereka untuk mendaftarkan email mereka melalui website anda. Caranya adalah dengan berjanji mengirimkan file berisi materi yang menarik dan bermanfaat bagi mereka (secara gratis), sehingga mereka mendaftarkan alamat email mereka, lalu tugas anda adalah – ini langkah ketiga — mengirim materi tersebut ke email mereka.

Social media marketing untuk melengkapi website anda. Jadi akun (account) anda di social media facebook, twitter, linkedin, youtube, dsb mengunjungi website anda. Tentu saja, di masing-masing akun tersebut followers/friends-nya selalu diperbanyak. Anda bisa mengadakan kuis – dengan syarat follow dulu–, atau diskon sekian persen apabila melakukan share/re-tweet, dan seterusnya. Tipsnya adalah harus kreatif dan inovatif dalam membuat program taktikal seperti ini. Sebab, umur program ini tidak panjang dan efek penambahan friends/followers-nya pasti akan mencapai titik jenuh.

Search Engine Optimization. Saya ceritakan dahulu proses kedatangan calon konsumen ke lapak anda di website. Jadi perilaku online dari (calon) konsumen adalah mencari tahu siapa yang memiliki dan menjual produk/jasa yang dia butuhkan. Dia akan mengetik “jual barang xxx”, atau “Cari jasa xxx”, dan seterusnya. Dan hasil pencarian dia akan muncul dalam beberapa halaman. Tapi kemungkinan besar dia hanya mengecek 3 halaman pertama kan? Atau mungkin hanya halaman pertama? Bahkan sangat mungkin dia hanya membuka link dari 4 teratas hasil pencarian. Jadi, proses marketing yang harus anda lakukan adalah bersaing dengan sejumlah kompetitor anda untuk merebut 4 teratas hasil pencarian. Syukur Alhamdulillah apabila anda berhasil meraih peringkat pertama dan konsisten berada di sana.

Affiliate marketing. Ini adalah layanan “bantu menjualkan” yang semakin berkembang di internet. Dengan kode programan tertentu, maka penjualan yang berhasil dilakukan dapat ditelusuri siapakah affiliate marketer-nya. Affiliate marketer (pelaku affiliate marketing) ini kemudian mendapat komisi sekian persen dari omzet yang diperolehnya. Keuntungan model affiliate marketing ini adalah affiliate marketer tidak perlu menanggung inventory, dia hanya bermodal personal computer (PC) dan koneksi internet. Sebagai pemilik barang, anda pun tidak perlu memberikan stok barang anda untuk dijual oleh para “dropshipper” ini. Jadi kira-kira, affiliate marketer itu bisa kita analogikan dengan para dropshipper. Bedanya, affiliate marketer bekerja dengan modal link URL dari pemilik barang. Sekarang anda tinggal memilih, mau menjual produk/jasa anda dengan bantuan para affiliate marketer, atau anda mau menjadi affiliate marketer itu sendiri? Jawabannya terserah anda.

Marketing through social chatting. Brandnya ada Whatsapp, Line, KakaoTalk, BlackBerry Messenger, dan lain-lain. Social chatting menggunakan kanal internet juga, sebab itu bisa kita kategorikan ke dalam internet marketing. Ada dua fungsi yang bisa kita optimalkan. Pertama adalah broadcasting. Jadi sekali dalam beberapa waktu – saya kira yang masih sopan dan tidak akan di-remove adalah broadcast sekali dalam sepekan – kita lakukan promosi tembak massal. Ini sekaligus untuk mengingatkan konsumen akan brand kita. Syukur Alhamdulillah bila ada yang tertarik beli. Kedua adalah fungsi social chatting sebagai customer service (CS) alias fungsi yang langsung berhadapan dengan (calon) konsumen. Mulai dari menjawab pertanyaan mengenai produk/jasa, melakukan penutupan (closing) penjualan, hingga menerima keluhan dari konsumen yang sudah pernah membeli atau sudah menjadi pelanggan.

• Marketing through blog. Jadi produk/jasa anda dipasarkan melalui kalimat-kalimat deskriptif yang menjelaskan dan meyakinkan konsumen akan produk/jasa tersebut. Di samping itu, dapat menggunakan video dan gambar untuk memberikan tampilan visual dan audio juga dapat anda gunakan. Tantangannya adalah membuat banyak artikel dengan panjang minimal 300 kata, maksimal 1000 kata. Antar artikel harus terhubung satu sama lain dan jangan ada pengulangan konten pada artikel yang lain.

Selain yang sudah disebutkan, dari mana lagi kita bisa belajar saluran-saluran internet marketing? Saya yakin, buku BOM (Bisnis Online Milyaran) bisa jadi salah satu referensi anda. Berminat? Silakan klik di sini.   

Demikian tips internet marketing kali ini. Semoga klasifikasi dan teknik pemanfaatan secara sederhana ini bermanfaat bagi anda dalam meningkatkan penjualan serta menumbuhkan usaha bisnis yang anda geluti.

Related Post:
Internet: Static vs Mobile
Internet: Kini dan Akan Datang

Area Sales Champion

Pertumbuhan usaha bisnis lewat pengembangan dan perluasan wilayah pemasaran tidak selamanya berjalan mulus. Salah satu kuncinya ada di tangan para Area Manager. Posisi inilah yang menjadi ujung tombak pemasaran dan penjualan di wilayah-wilayah. Bisa dikatakan, mereka adalah segelintir orang yang sangat menentukan naik turunnya keberjalanan dan pertumbuhan perusahaan tahun demi tahun.

Supaya berhasil, posisi area manager haruslah diisi oleh mereka yang “Juara”. Area Manager yang juara akan menghadirkan omzet dan profit dari tangan dingin mereka. Mau ditempatkan di manapun, area manager yang “Juara” akan berhasil mengelola dan memimpin pasukannya untuk meraih kejayaan pemasaran dan penjualan. Area Manager yang “Juara” mampu memberdayakan beragam infrastruktur yang telah diberikan oleh kantor pusat.

Selama kami melakukan training Area Manager di beberapa perusahaan dalam 2-3 tahun terakhir, akhirnya kami menemukan beberapa peran yang masih dan akan relevan dengan fungsi dan posisi Area Manager selaku penanggung jawab target penjualan di wilayah-wilayah. Ke depannya, 4 peran yang diharapkan dari Area Manager berikut ini adalah enabler ketika berhadapan dan bersiasat dengan pasar yang bertumbuh dan kompetisi yang kian sengit.

Leader
Area Manager harus berperan sebagai leader (pemimpin) dalam mengelola internal kantor cabang untuk menghadapi kekuatan eksternal (kompetitor & pasar). Rekan-rekan salesman yang dipimpinnya merupakan sumber daya yang harus dikelola secara benar dan efektif. Maklum saja, ujung tombak penjualan dari waktu ke waktu adalah para salesman yang harus dimotivasi dengan teknik yang tepat, sekaligus pengembangan budaya salesmanship yang kondusif.

Di samping itu, kinerja penjualan tiap-tiap salesman harus terus-menerus diawasi bersama dengan dukungan remunerasi yang memberikan dorongan positif. Kompensasi dan insentif yang diramu sedemikian rupa merupakan kunci menuju produktivitas penjualan. Mereka yang sukses menjalankan perannya ketika customer visit lalu membukukan penjualan, tentunya harus diganjar dengan kompensasi dan insentif yang setmpal.

Marketer
Area manager memiliki mindset sebagai seorang marketer yang menguasai strategi-strategi marketing. Di antaranya adalah Integrated Marketing Communication (IMC) untuk meningkatkan brand equity di wilayah tersebut, serta teknik-teknik sales promotion yang berujung pada naiknya hasil penjualan. Termasuk bila harus bersinergi dengan brand lain untuk mengeksekusi program-program Co-Marketing.

Marketer yang hebat itu seperti sniper (penembak jitu), bukan Rambo yang menghambur-hamburkan amunisi (budget) marketing. Makanya marketing sniper yang tangguh juga harus mampu melakukan SWOT Analysis keadaan di pasar/lapangan secara tepat. Dari analisis yang sudah tajam, baru diturunkan menjadi teknik-teknik IMC dan sales promotion yang relevan di area tersebut.

Salesman
Area Manager memiliki pemahaman dan kemampuan mengenai teknik-teknik sales (penjualan) untuk memenangkan pertempuran di lapangan. Sebab, medan pertarungan sesungguhnya adalah melalui penguasaan produk di ceruk-ceruk pasar yang tersedia. Sehingga, penguasaan ilmu Territory Management menjadi relevan dalam memenangkan kompetisi. Penggarapan wilayah penjualan menjadi lebih efektif dengan ilmu tersebut.

Secara vertikal, salesman “Juara” selalu mampu membangun dan menjaga hubungan dengan para pelanggan. Konsumen yang sudah dekat berakibat lahirnya loyalitas pembelian-pembelian berikutnya. Selama harga masih “masuk”, konsumen akan berpikir dua kali untuk pindah dari salesman yang sudah dikenal sejak lama. Lebih lanjut, biaya marketing dan penjualan akan lebih rendah dengan adanya pelanggan tetap.

Servant
Area Manager memiliki mindset sebagai servant (pelayan), sehingga dapat menjalankan fungsi “pelayanan” dengan baik kepada para salesman yang dipimpinnya maupun para pelanggan. Sebabnya tidak lain dan tidak bukan adalah persaingan yang semakin kompetitif. Bertarung di level fitur sudah sulit, karena semua pemain kini sudah mampu. Sehingga layanan menjadi alat baru untuk berbuat berbeda (different) sehingga tetap survive di pasar.

Para “Servant” biasanya memang memiliki niat yang tulus nan ikhlas untuk melayani berbagai kebutuhan pelanggan di internal (salesman) maupun eksternal (klien). Servant yang “Juara” itu seperti walikota Bandung, Ridwan Kamil. Pengabdiannya tidak kenal jabatan. Baik pegawai internal kantor walikota, maupun masyarakat umum dilayani olehnya dengan tulus ikhlas tanpa harap pamrih yang beraneka rupa.

Dari peran-peran yang sudah terurai di atas, semakin kita pahami dan yakin bahwa Area Manager adalah tulang punggung perusahaan. Keberadaan mereka semakin krusial dengan pasar ASEAN yang tumbuh besar dan kompetitif mulai tahun 2015. Dan dengan memahami dan menghayati keempat peran di atas, Area Manager kini dapat memenuhi tanggung jawabnya serta mencapai targetnya: Area Sales Champion. Bravo, Area Manager Indonesia!!

Related Post(s)

Jenis-Jenis Pemasaran

Sejumlah mahasiswa bertanya pada dosennya tentang arti dari beberapa istilah dalam dunia marketing. Agar lebih mudah dipahami ia menjelaskannya dengan sejumlah analogi:

1. Ada gadis cantik di sebuah pesta. Kamu mendatanginya dan langsung bilang, “Saya orang kaya. Nikah sama saya, yuk!”
Itu namanya Direct Marketing.

2. Ada gadis cantik di sebuah pesta. Salah satu temanmu menghampirinya. Sambil menunjuk ke arah kamu, temanmu itu berkata, “Dia orang kaya, nikah sama dia, ya!”
Itu namanya Advertising.

3. Ada gadis cantik di sebuah pesta. Kamu menghampirinya, lalu minta nomor HP. Esok harinya kamu telepon dia dan langsung bilang, “Saya orang kaya. Nikah sama saya, yuk!”
Itu namanya Telemarketing.

4. Ada gadis cantik di sebuah pesta. Kamu menghampirinya, lalu tanya akun facebook-nya. Esok harinya kamu DM dan langsung bilang, “Saya orang kaya. Nikah sama saya, yuk!” Itu namanya Online Marketing.

5. Kamu melihat gadis cantik di sebuah pesta. Kamu merapikan diri, lalu menuangkan minuman buat dia, dan membukakan pintu buat dia. Sambil mengantarnya pulang, kamu bilang, “By the way, saya orang kaya nih. Nikah sama saya, yuk!”
Itu namanya Public Relations.

6. Kamu melihat gadis cantik di sebuah pesta. Dia menghampiri kamu dan berkata, “Kamu orang kaya, kan? Nikah sama saya, yuk!’
Itu namanya Brand Recognition.

7. Ada gadis cantik di sebuah pesta. Kamu mendatanginya dan langsung bilang, “Saya orang kaya. Nikah sama saya, yuk!”, tapi dia malah menampar kamu.
Itu namanya Customer Feedback.

8. Ada gadis cantik di sebuah pesta. Kamu mendatanginya dan langsung bilang, “Saya orang kaya. Nikah sama saya, yuk!”, terus dia memperkenalkan kamu ke suaminya.
Itu namanya Demand and Supply Gap.

9. Kamu melihat gadis cantik di sebuah pesta. Kamu menghampirinya, tapi belum juga kamu sempat bilang apa-apa, ada pria lain datang dan
langsung berkata, “Saya orang kaya nih. Nikah sama saya, yuk!’ Lalu sang gadis pergi dengan pria tersebut.
Itu namanya Losing Market Share.

10. Kamu melihat gadis cantik di sebuah pesta. Kamu menghampirinya, tapi belum juga kamu sempat bilang, “Saya orang kaya nih. Nikah sama saya, yuk!’…. tiba-tiba istri kamu nongol!
Itu namanya Barrier to New Market Entry.

hahaha.. simple kan? jadi udah paham doong..

Related Post:
7 Skills of Modern PR

Sales for Dummies

Pertumbuhan omzet usaha ditentukan dua hal: (1) brand asset dan (2) sales management-nya. Untuk meraih keduanya, fungsi tersebut dijalankan oleh (1) marketing dan (2) sales. Aktivitas yang harus dilakukan namanya (1) branding dan (2) selling.

Sudah sedikit diulas juga di tulisan prekuel di “Usual Marketing: Branding and Selling”.

Beda marketing dengan sales. Marketing menciptakan demand –lewat berbagai aktivitas branding. Sales memetik omzet dari demand yang sudah tercipta. Secara struktural dan hierarki organisasi ada yang mengelompokkannya menjadi direktorat “sales and marketing“, ada pula yang memisahkan jadi direktorat “sales” dan direktorat “marketing“.

Kesimpulannya, marketing mendapat peran dan fungsi yang dimensinya lebih jangka panjang. Jadi output pekerjaannya pun terkait dengan hal-hal yang sifatnya stratejik: positioning, differentiation, branding (PDB). Eksekusi aktivitas branding –terutama yang berskala nasional– juga diserahkan kepada tim marketing.

Meski demikian, sales pun tidak kalah pentingnya karena omzet datangnya dari para salesman yang menjalankan fungsi sales. Mulai dari (1) menawarkan produk dan melakukan closing –yang dilakukan oleh para salesman, (2) melakukan manajemen stok agar retail tidak kehabisan inventory –oleh distributor, hingga (3) menyusun dan mengeksekusi program promosi penjualan (sales promotion).

Contoh konflik yang umum terjadi di antara kedua fungsi tersebut: (1) fungsi sales menyalahkan tim marketing yang belum optimal membangun brand –sehingga produk kurang laku di pasar. Sementara (2) tim marketing, menyalahkan tim sales yang closing-nya masih rendah karena belum optimal melakukan “push” terhadap produk ke pasar –padahal tim marketing merasa bahwa segala daya upaya sudah dilakukan untuk membangun brand.

tuh, ada yg mau daftar jadi tim sales ente… 😀

Alasan berkarir di bidang penjualan. (1) Membangun network, khususnya dengan para pelanggan. Terutama agar pelanggan tersebut dapat ditawarkan produk-produk yang lain. Syukur alhamdulillah apabila dapat membangun bisnis bersama –namun tidak etis apabila pindah ke perusahaan kompetitor berikut dengan pelanggan.

(2) Mengejar komisi. Fungsi organisasi bisnis yang paling mampu memberikan bonus adalah fungsi penjualan. Karena bersentuhan langsung dengan pelanggan, komisinya pun lebih besar daripada mereka yang menjalankan fungsi marketing. (3) Belajar mengelola penjualan (distribusi, stok, retail, dsb). Sebelum membangun bisnis sendiri di bidang distribusi, retail, dan sejenisnya.

(3) Mengejar karir. Salah satu fungsi dalam perusahaan yang paling cepat naik karir adalah bagian penjualan. Mulai dari jadi salesman, naik ke sales supervisor, sales manager, seterusnya sampai direktur sales. Tidak heran ganjaran naik karir begitu nyata, karena para pengisi fungsi pengejar omzet adalah mereka yang berkarir di bidang sales.

Sales Supervisor. Dibawahi oleh branch manager yang bertanggung jawab atas pengembangan penjualan di wilayah. Berkantor di kantor cabang yang merupakan “markas” dari segala kegiatan operasional penjualan, inventory, hingga administrasi.

Related Post: 
Area Sales Champion  

Sales supervisor mulai memiliki tim dalam menjalankan berbagai fungsi penjualan. Lebih sering disebut sebagai tim, dengan pola kerja yang lebih bersifat kerja sama daripada sekedar menerima dan menjalankan perintah atasan. Karakter pekerjaannya juga menuntut lebih banyak kreativitas dalam membangun hubungan dan melakukan closing penjualan.

Tidak hanya mengurusi masuk keluarnya barang ke klien, menjaga stok/buffer di customer, tetapi juga berbagai program branding dan promosi penjualan. Tugas utamanya memang pengembangan berbagai variasi distribution channel.

Salah satu yang dikerjakan adalah penetapan rute dan frekuensi kunjungan ke klien-klien. Kalau di industri B2C (FMCG, retail pharmaceutical, dll), contoh klien adalah outlet-outlet ritel semisal minimarket, supermarket, hypermarket, dsb, Apotek termasuk di antara jenis outlet ritel. Sebisa mungkin, seluruh outlet tersebut harus bisa dimasuki oleh produk.

Peran Supervisor Penjualan
Tentu harus bisa menjadi (1) leader. Alias seorang yang berkompeten dalam menjual, bisa memotivasi tim penjualan, serta bisa dicontoh oleh anggota tim.  Harus pula menjadi (2) manager. Yaitu pengelola saluran distribusi dan penjualan. Bisa menyusun rencana penjualan beberapa waktu ke depan. Mampu menjaga dan meningkatkan kinerja penjualan yang diukur dengan parameter tertentu (sales call, leads, key account, dsb).

(3) Problem solver. Alias membantu para salesman dalam memecahkan masalah di lapangan. Seringkali salesman seorang diri tidak mampu menjawab permasalah tersebut –sehingga salesman banyak berjanji kepada customer-nya tanpa mampu merealisasikan janji-janji tersebut.

Mengingat berbagai solusi yang ada harus dikoordinasikan dengan berbagai elemen lain di perusahaan. Peran supervisor penjualan adalah turut membantu penyelesaian masalah tersebut melalui komunikasi, mediasi, negosiasi dengan fungsi-fungsi lain dalam perusahaan.

Area-based Distribution. Seorang marketing sales harus menguasai area pasar. Tentu saja karena pertanggungjawaban pekerjaannya kepada atasan dan direksi adalah berdasar pembagian wilayah.

Apa KPI yang harus dikejar? Yaitu berapa omzet atau laba yang berhasil diraup dari daerah tersebut. Seiring waktu berjalan omzet harus bertumbuh mengikuti target yang diberikan oleh perusahaan.

Apa yang terjadi ketika omzet stagnan bahkan minus? Berarti kompetitor tumbuh lebih cepat daripada perusahaan kita –di wilayah tersebut. Sesungguhnya tidak ada peluang yang hilang. Yang ada adalah peluang tersebut diambil oleh kompetitor kita.

Pembagian berdasar area tidak selalu tepat. Tergantung jenis industri yang digeluti dan strategi bisnis perusahaan secara umum. Sebab itu ada yang membaginya berdasar kontribusi omzet dari masing-masing kategori customer.

Customer-Centric Approach. Kategori customer yang memberi omzet paling besar diberikan service yang terbaik –misalnya segala kebutuhannya dipenuhi. Pelayanan dilakukan oleh sales team yang berdedikasi khusus untuk mereka. Tipe ini biasanya lebih cocok untuk industri dengan tipe B2B.

Segala keperluan mereka ditangani dengan segera. Intinya diberikan fokus dan perhatian yang paling besar. Customer yang pembeliannya masih rendah bukan diabaikan sama sekali. Tetap diberikan service, supaya tetap bertahan sebagai pelanggan. Makin meningkat pembeliannya, maka makin ditingkatkan pula prioritas layanan yang diberikan kepadanya.

Alasan memilih manajemen pemasaran. Di banyak jurusan manajemen, saya perhatikan hampir selalu ada konsentrasi pemasaran. Ada kurikulum tentang branding, service, dsb. Tapi jarang ada materi yang spesifik membahas tentang penjualan (sales).

Materi sales ini sebenarnya materi yang sangat tua dan lambat sekali perkembangannya –materinya hanya itu-itu saja. Berbeda dengan aspek marketing lain yang berkembang relatif lebih cepat –dengan fenomena terbaru dan berkembang cepat adalah social media.

Tentang Pendidikan MBA
Mungkin di antara pembaca blog ini ada yang bertanya, “Saya yang lulusan engineering sekarang banyak berkutat di fungsi operasional perusahaan. Misalnya saya mengambil jurusan MBA, apakah saya kemudian jadi lebih jago bisnis?”

Harus diketahui bahwa program MBA hanya mengambil sedikit dari masing-masing konsentrasi. Sedikit dari finance, sedikit dari marketing, sedikit dari operation, dst. Jadi ilmunya memang sangat di permukaan –sangat tipis.

Apalagi di banyak kampus penyelenggara program MBA, tidak banyak yang mengajarkan tentang sales & distribution management. Padahal setelah ilmu-ilmu semacam STP (Segmenting, Targeting, and Positioning) dan 4P-nya strategic marketing sudah dikuasai, maka yang harus menjadi “urat dan otot” perusahaan adalah distribusi dan penjualan.

Why Join Community

Salah satu komunitas yang saya ikuti adalah komunitas blog SatuMingguSatuCerita Pernah nge-test ikut komunitas lain yang lebih offline. Namanya CSWC (CS Writer’s Club).  Setelah sekali datang, gak pengen datang lagi.

  • Pertama, karena akan pulang malam. At least jam 9 malam.
  • Kedua, karena rekan-rekan di sana pada menulis fiksi di tempat. Memang konsepnya gitu sih. Dikasi tema/topik, dan diberi waktu setengah jam. Otomatis, most of them menulis fiksi.
  • Ketiga, not entertaining enough. Sebab, kebanyakan pada tertunduk seakan berdoa ke layar smartphone membaca teks yang mereka tulis. Sementara, saya sukanya tampil mempresentasikan (alias public speaking) si teks yang saya tulis itu.

Ikut komunitas itu butuh waktu, energi, dan duit. Setidaknya, ada duit yang “tidak apa-apa” kalau dibelanjakan untuk komunitas tersebut. Misalnya, untuk kopi darat. Atau berbelanja sesuatu “buah karya” dari komunitas tersebut. Di 1M1C, kami pernah menulis antologi bersama-sama sih. Proyek kolaborasi gitu. Tentu hak komersil bukunya ada di penerbit ya. Para penulis bisa sebagai distributor. Tapi namanya reseller kan ya, tetap aja kami terima bukunya juga tidak gratis. Jadinya kami juga yang membeli.

Kalau ditanya berapa komunitas yang saya ikuti, rasanya cuma satu ini. Tidak sanggup waktu, energi dan uang untuk ikut banyak komunitas. Ini pun lebih banyak digital. Kalau yang lain, lebih pilih ikut grup WhatsApp aja. Monitor di situ. Jadi silent reader. Tidak hanya WAG, tetapi juga Grup Telegram, kadang-kadang ada. Karena grupnya sudah kelewat banyak, maka tidak semua juga berhasil dipantau. Hehehe. Padahal udah ada messaging app semacam LINE yak. Berhubung generasi saya kayaknya sedikit yang di situ, jadilah gak main yang dari korea itu. Hehehe.

Ikut Komunitas Digital

Ketika komunitasnya berupa digital saja, potensi pengembangannya jadi lebih besar. Tidak semata satu kota. Bahkan bisa sampai satu Indonesia. Nanti kopi darat (kopdar) saja yang khusus per kota.  Community-nya juga bisa lebih akrab via WhatsApp, facebook group, Telegram atau tagar-tagar Twitter/Instagram. Seingat saya, yang pernah kopdar di 1M1C baru Bandung dan Kendari saja.

Dengan ikut komunitas, jadi sadar di atas langit masih ada langit. Hehe. At least jadi tahu bahwa ternyata masih ada (dan masih banyak) yang lebih jago daripada gw. Dan gw harus bisa bertumbuh dan berkembang lagi. Gapapa ya, berniat dulu. Meskipun belum minat belajar atau mencoba, apalagi punya waktu dan kemampuan untuk melakukan. Hehe.

Jejaring

Network kayak begini di komunitas belum tentu worth it lho kalau cuma sebentar. Katakanlah setahun. Kata mentor saya dulu, berhubungan itu minimal 3 tahun kalau target kita ingin merasa akrab dengan orang lain (baca: teman kantor atau klien), misalnya. Yuk bahas sedikit.

Terlalu cepat pindah kantor, bisa berarti kita belum cukup akrab dengan orang-orang di dalamnya, lho. Kapan hari ngobrol sama teman. Insight-nya adalah dua tahun di suatu kantor itu adalah “cuma”. Alias “hanya”. Ekstrimnya, kalau kita minta tolong, akan terasa gak enak. Karena basically, kita belum akrab dan hangat sama yang bersangkutan.

Pindah kantor sampai 3 kali dalam 3 tahun juga enggak baik di mata orang-orang recruiter. Antara berkesan gak bisa membetahkan diri, atau malah mengesankan ini orang enggak bisa apa-apa. Agak subjektif sih, tapi emangnya udah menghasilkan prestasi apa kalau cuma setahun di sebuah company?

Demikian juga dengan klien. Belum tiga tahun, berarti belum akrab. Memang PR sih, bagaimana caranya supaya ada proyek terus selama tiga tahun pertama. Karena harus menambah kenalan terus dari proyek yang pertama. Apakah tim dari pelanggan yang bersangkutan, atau berkenalan dengan yang satu level posisi dari beliau, atau bahkan berkenalan dengan atasannya dia sendiri. Sambil berjalan mengenal nama demi nama, sembari memperkenalkan kompetensi diri/institusi yang kita mewakili.

Saya semakin yakin dengan parameter “tiga tahun” ini. Karena “teman yang sebenarnya teman” adalah yang non-formal seperti ini. Bukannya meremehkan pertemanan dari ruang kuliah (alias yang sejurusan), atau pertemanan di SMP-SMA, tetapi seringkali terasa terlalu kaku. Harus melalui birokrasi kantor lha, hanya di jam kantor, dan seterusnya. Karena dua hal tersebut, seringkali tidak bisa cepat dan gesit. Agile alias gesit, emang jadi kosakata yang makin penting belakangan ini. Kayak para pelaku freelance, kan. Pada high agility semua.

Pertemanan dari aktivitas kampus (di luar ruang kuliah) juga demikian. Aktivisme mahasiswa baru worth it ketika kita lebih dari setahun terjun di kemahasiswaan. Nah itu, angka “tiga tahun” berarti memang aktivis sejati, ‘kan. Sedari masuk kuliah sampai dengan (minimal) menjadi pengurus aktif di suatu himpunan/BEM/unit kegiatan mahasiswa (UKM). Lagi-lagi, kalau sudah berteman akrab yang demikian lha, maka kita bisa produktif dan cepat tatkala berkolaborasi kembali di kemudian hari.

From Sales Perspective

As a salesman, salah satu ukuran yang penting bagi saya adalah seberapa banyak orang baru yang saya kenal. Dari sebuah community, idealnya adalah ketemu dengan community yang lain lagi. Dengan kata lain, kalau saya duga sebuah acara/komunitas tidak mungkin mempertemukan saya dengan kenalan baru, saya pikir-pikir lagi untuk ikut atau bergabung dengan community tersebut. Bukan pilih-pilih berteman, lebih tepatnya udah umurnya untuk mulai lebih pintar mengelola waktu, konsentrasi dan network.

Closing: Kelebihan 1M1C

Balik lagi ke komunitas 1Minggu1Cerita. Komunitas blogger ini punya beberapa keunggulan, meskipun saya belum memaksimalkan keunggulan dan kelebihan tersebut. Di antaranya, adalah:

  • Tuntutan punya (minimal) sebuah cerita untuk diposting, mengubah kita menjadi blogger yang produktif. Meskipun kadang-kadang saya nge-post tulisan saya di di tempat lain, semisal dari modest.id
  • Tim admin rutin mengingatkan kita untuk menulis (lalu nge-post tulisan tsb) dalam pekan tersebut. Bila enam pekan berturut-turut enggak posting, maka bisa di-kick dari grup WA. Gak harus gabung WAG-nya, tetapi pertemanan bisa lebih intim ye kan, kalo join WAG-nya.
  • Ada polling tulisan favorite. Tapi saya gak selalu sempat ikut membaca lalu nge-vote, nih. Kalau masuk nominasi, at least kita jadi paham bahwa ada yang membaca post kita, hehehe. Rasanya happy banget tatkala ada postingan yang menang voting.
  • Tulisan harus disetor. Saya biasanya setor tulisan (lengkapnya adalah nama, nomor member, tanggal menulis/menyetor, serta link tulisan) di websitenya 1M1C. Tapi komunitas ini ada aplikasi mobile-nya sendiri. Jadi bisa posting dari sana juga. Sekarang kan era-nya apa-apa di-mobile-app-kan saja. Meskipun belum tentu si user punya memori yang cukup untuk ng-install-nya. Hehehe.
  • Ada challenge untuk menulis tema tertentu (yang sudah divoting oleh para member) sebanyak sekali dalam sebulan. Biasanya saya jarang ikutan menulis postingan bertema ini. Hahaha.

Sekian aja lha ya, postingan tentang community ini. Semoga bermanfaat.

Menulis Untuk Diri Sendiri

Yang baca tulisan ini mungkin seorang sarjana, mungkin juga sedang menempuh Pendidikan (alias masih mahasiswa/anak sekolah). Sudah biasa menulis, terutama di sekolah. Karena kita belasan tahun belajar (membaca dan menulis), sudah seharusnya menulis adalah sesuatu yang bisa kita lakukan. Logika umumnya begitu. Bahkan, banyak sekali anggapan bahwa semua orang bisa menulis.

Yang kedua adalah bahwa seakan-akan pembaca dari tulisan kita selalu orang-orang di luar kita. Hampir gak ada tuh yang namanya diri sendiri sebagai pembaca.

Saya, terus terang berada di pihak yang berseberangan dengan kedua pendapat tersebut.

Dan saya ada tiga alasan mengapa kita sesekali butuh untuk menjadikan diri kita sebagai pembaca dari tulisan kita sendiri.

menulis 1

Pertama, menulis itu menyembuhkan diri sendiri.

Kehidupan modern jaman now ini, banyak menyebabkan iri hati. Apalagi ada social media sebagai amplifier alias penguat message. Teman yang lanjut sekolah, lha. Kita belum ada waktu dan uang untuk meneruskan pendidikan. Teman yang jalan-jalan ke luar negeri, lha. Sama: belum ada waktu dan uangnya. Haha. Teman yang karirnya bagus, teman yang mengumumkan akad dan resepsi pernikahannya, teman yang keluarganya berbahagia dari kelahiran putra/putri pertama, kedua, dan seterusnya. Sementara kita masih single/jomblo/you name it. Semua itu bisa menyebabkan kegalauan. Memang sih, pilihannya kembali ke diri sendiri. Tergantung kamu mau memilih untuk galau atau tidak.

Salah satu cara menghindari kegalauan adalah dengan menulis. Menulis untuk diri sendiri. Mengapa menulis? Karena menulis itu menuangkan kegelisahan kita. Tapi kita tidak membuat diri sendiri malu, kok. Karena hanya kita seorang diri yang membaca. Menulisnya juga jangan di sembarang tempat. Kalau dulu -puluhan tahun yang lalu- ada namanya diary, sekarang diary-nya bisa digital. Bahkan di wordpress.com pun, bisa di-setting supaya tidak tayang.

Kedua, menulis itu untuk berekspresi.

Ada public area, ada private area. Orang-orang suka lupa membedakan keduanya. Apalagi di jaman socmed begini. Sering lupa juga dia berada di area yang mana. Atau, ada orang yang terlampau sering berada di public area. Sehingga lupa bahwa dia punya private area yang seharusnya menjadi tempat dia kembali ke dirinya sendiri. Saya menyebut orang-orang yang tidak punya hobi itu, sebagai tidak punya private area. Hahaha. Atau, terlampau asyik dengan dirinya sendiri sehingga lupa berbicara dengan para khalayak di public area.

Yang ingin saya sampaikan adalah menulislah untuk mengekspresikan perasaan (isi hati) maupun pikiran/pengetahuan (isi kepala) di area privat anda. Lagi-lagi, menulis untuk diri sendiri.

Social media itu ruang publik. Bisa menjadi sarana berekspresi. Kapan sebaiknya tidak berekspresi? Kalau yang kita ingin ekspresikan itu penuh dendam, memuat konten SARA, sesuatu yang membuat diri kita malu, dst.

Misalnya kamu seorang singlelillah atau jomblo fii sabilillah, mungkin kamu belum punya orang yang tepat untuk mendengarkan perasaan atau ekspresi kamu sendiri. Maka menulislah untuk mengekspresikan perasaan yang hanya akan didengarkan oleh dirimu sendiri.

Ketiga, menulis itu untuk merapikan pengetahuan.

Menulis itu cara lain, sih. Cara paling utama merapikan isi kepala itu adalah dengan tidur cukup dan tepat waktu. Cukup artinya, minimal enam (6) jam. Tepat waktu artinya, tidak tidur terlalu larut sehingga bisa bangun sebelum adzan subuh. Itu cara pertama mengorganisasikan dan menyusun ulang isi kepala kita. Di samping itu, tidur tepat waktu dan tepat jumlah adalah cara menetralisir racun-racun dalam tubuh. Memang, organ hati kita bekerja maksimal di malam hari.

Tidak harus kamu adalah siswa/mahasiswa yang belajar di sekolah/kampus sehingga kamu berkewajiban merapikan pemahaman kamu, mumpung ujian masih lama. Sehingga tidak SKS (sistem kebut semalam). Tidak harus juga kamu adalah karyawan di kantor yang learning by doing atau sedang dalam OJT (On Job Training) sehingga kamu harus mengelola ilmu/pengetahuan dengan baik.

Tapi simply karena segala aktivitas harian kita itu ada ilmu, ada renungan yang bisa kita ambil, maka menulislah. Menulis untuk diri sendiri. Terutama dalam bentuk diary, ya. Ketika kita sudah menulis, lalu flashback ke tulisan-tulisan sebelumnya kita jadi tahu kita pernah melakukan apa. Banyak orang tidak reflektif dalam hidupnya. Lupa dia pernah mengerjakan apa. Tidak tahu apa yang dia capai. Sehingga, dia lupa merencanakan apa-apa yang mau dia raih. You understand what I mean, didn’t you?

Bisa saya katakan, menuliskan ulang informasi atau pengetahuan yang kita dapat, itu sangat bermanfaat untuk karir kita ke depan. Bisa juga kita menuliskan angan-angan/rencana/mimpi-mimpi yang kita targetkan untuk bisa terwujud dalam beberapa waktu ke depan. Apakah kita pekarya atau pekerja, menulis tentang ilmu pekerjaan sendiri, pasti akan ada manfaatnya dalam pekerjaan/profesi yang kita geluti.