Strategi Marketing Instagram 2019

Instagram (IG) makin mantap menempati posisinya sebagai social media yang paling engaging, menurut saya. Hootsuite menyatakan 1 milyar orang di dunia memiliki akun IG. Lima ratus juta di antaranya menggunakan IG setiap hari. Bagaimana dengan Indonesia? Pengguna aktifnya ada 59 juta orang, per Oktober 2018. 72% dari pengguna menyatakan pernah membeli produk yang mereka lihat di IG. No more statistics ya. Too much analysis only give brain paralysis.

Istri saya, disamping main di IG pribadinya, juga mengelola akun bisnis. Makanya tidak bisa lepas dari IG. Mulai dari riset, strategi dan perencanaan detil konten, sampai eksekusi posting.

Saya juga melakukan hal yang sama, actually. Di kantor dan untuk beberapa klien. As you may guess, gak semua orang sanggup pegang akun social media — di luar akun personal dia. Salah satunya adalah, beda jenis social media, maka treatment-nya juga berbeda. Gak mengejutkan, because social media is social. It is really human things.

Salah satu contohnya, teknik mendapat likes-nya jadi bermacam-macam. Di kantor, makin banyak wajah yang nongol di post IG kantor, maka likes-nya juga akan makin tinggi.

Tantangan lainnya adalah mengelola konten. Ada banyak aspek. Perencanaan, pengorganisasian (termasuk penyimpanan), riset terus-menerus, sampai dengan penerbitan (publishing), dan pasca-penerbitan. Tidak semua orang bisa menekuni ini. Kuncinya adalah harus selalu bisa come up with new insight(s).

Bijak Menggunakan Hashtag

Banyak pakai hashtag kurang tepat, sih. Seperlunya saja. Yang penting asli relevan dan “kena” sama konteksnya. Bila perlu, lakukan riset tentang hashtag baru apa saja yang bisa ditambahkan. Simply karena selalu ada orang yang search dari kolom explore. Dan dia cari berdasar hashtag.

Hanya memakai hashtag yang follower-nya tinggi? Benar saja. Tapi, tentu saja kompetisinya juga tinggi. Beda dengan hashtag follower rendah. Kita ibarat berenang di Blue Ocean. Positifnya adalah, kompetitornya masih minim.

Seorang rekan di kantor sekarang sempat cerita bahwa misinya perusahaan IG adalah membuat kita user agar tidak tidur. Daripada tidur, mereka berkehendak kita main IG terus.

Alasan pertama dan paling utama menggunakan IG adalah: sekarang hampir semua orang menggunakan IG. Jadi, bisnis dan brand kita juga harus masuk ke sana.

Alasan kedua, IG sebagai part of facebook, memiliki keunggulan dalam hal beriklan. Dengan melakukan pengaturan facebook ads, iklan kita juga bisa ditampilkan di IG. Baik dalam bentuk post, maupun story.

Konsisten Posting

Makin banyak follower, makin wajib berbagi update. Lewat story atau post. Follower kamu masih sedikit? Ayo lebih sering posting. Intinya apa? The point is keep posting consistently.

Biar apa? Membangun ekspektasi dari para follower. Branding is building and deliver expectation (or promise).

Timing posting juga penting. Makin kontekstual si timing ini dengan follower, makin oke. Ada yang oke di jam 12-13 Senin sampai Jumat. Ada juga yang akan optimal di antara jam 6-7 malam.

Filter IG yang paling banyak digunakan adalah Clarendon.

Bisa dicek di sini untuk statistik lebih lengkap mengenai IG yang telah dihimpun dan diringkas oleh SproutSocial.

A note to myself.

Saya membatasi main personal IG.

Yang biasanya saya lakukan: mengecek apa-apa yang dilakukan oleh orang-orang yang saya follow. Konten siapa yang di-like, siapa yang mereka follow. Kategori baru yang belakangan jadi interest saya adalah seputar bullet journal. Saya perhatikan juga tuh, ada post apa perihal BuJo yang baru di-like atau siapa yang baru di-follow, sehingga saya bisa lihat feed-nya. Apakah worth untuk saya follow atau tidak.

Kemudian, saya cek explore. Biasanya mendatangi akun yang bagi saya paling penting: Chelsea FC. Ada post baru apa, ada story baru apa. Intensitasnya cenderung meningkat di hari pertandingan sih. Sabtu/Minggu untuk Premier League, atau Selasa/Rabu di Champions/Europe League. Itu yang resmi dari klub. Informasinya sebatas yang resmi saja. Kalau gosip soal transfer, pemain muda dalam tim, pemain senior yang akan pensiun, banyaknya di akun-akun (tidak resmi) terkait Chelsea.

Habis itu, baru lihat story dari teman-teman yang di-follow. Dilanjutkan dengan post-post di feed. Simpulannya, selalu penasaran, tapi dari story atau post yang dilihat, ternyata tidak juga mengobati rasa penasaran. Daripada menghabiskan sepanjang malam dengan begadang bersama IG –dan tentu saja 5 hari dalam 7 besok adalah hari kerja — lebih baik saya beranjak saja menuju “pulau impian”.

Mari Bicara Sastra Kontemporer

Raditya Dika

Novel Kambing Jantan. Sebuah Catatan Harian Pelajar Bodoh. Sesuai tagline-nya, sebenarnya ini hanyalah kehidupan anak sekolah biasa. Yang luar biasa adalah, bagaimana penceritaan oleh penulis sehinggal lucu, konyol, dan kocak.

Awalnya Kambing Jantan adalah sebuah blog yang kemudian dibukukan menjadi novel. Tahun 2009, novelnya diadaptasi menjadi film.

Sama pula dengan Manusia Setengah Salmon. Dari novel kemudian menjadi film berjudul sama yang dirilis pada tahun 2013. Dan tidak berhenti sampai di sana, masih ada:

  • Marmut Merah Jambu
  • Cinta Brontosaurus
  • Koala Kumal

Dari judul-judul tersebut, terlihat kan selling point Raditya Dika? Dia selalu menggunakan jenis-jenis binatang (kambing, marmut, brontosaurus, koala) yang kemudian diasosiakan dengan sifat-sifat manusia (kumal, perasaan cinta, warna merah jambu). Pengibaratan karakter yang diceritakan dalam novel dan filmnya, diasosiakan dengan binatang yang punya sifat tersebut.

Proses marketing dan selling sebuah film agak unik, memang. Ibarat menjual sesuatu yang hanya ada sekali itu saja. Risikonya tinggi. Kalau gagal, bisa rugi banyak. Kalau untung, juga bisa banyak. Ciri khas marketing and sales dari film sebagai sebuah produk:

  • Hanya sekali. Ini kaitannya dengan kelangkaan (scarcity). Makin langka, makin diburu. Tidak langka, kan bisa dicari di lain waktu dan kesempatan. Ibarat nasi, tidak makan hari ini gak apa-apa. Besok masih banyak warung nasi yang buka. Jadilah nasi (secara umum) sebagai komoditi yang tidak bisa diberikan bandrol price yang cukup tinggi.

Berawal dari blog, kemudian ke novel, video (youtube), kemudian ke layar lebar. Seiring dengan transformasi konten tersebut, Raditya Dika turut bertransformasi dari penulis, pemeran, penulis skenario, bahkan hingga menjadi sutradara.

Blog –> Novel –> Video –> Film

Serial Malam Minggu Miko termasuk film mockumentary. Adalah singkatan dari mock (pura-pura) dan documentary (dokumenter), jadi film mockumentary adalah film fiksi yang mirip dengan dokumenter. Menggunakan kamera atau handycam sebagai medianya, jadi seakan-akan penontonlah yang menjadi cameramannya. Karena proses recording-nya demikian, tidak heran Raditya Dika dan rekan-rekan mengawali promosinya di YouTube.

Stand Up Comedy

Sesuai judul, akhirnya memang jadi komedi. Karena kontennya komedi, Raditya Dika turut terjun dalam medium/format yang berbeda. Yaitu story telling secara tunggal (perorangan) yang tujuannya adalah memancing tawa penonton. Berikut adalah beberapa istilah terkait:

  • set up : pengkondisian penonton, sebelum diberi punchline
  • punchline : ‘kalimat pemukul’ yang memancing tawa penonton
  • callback : mengingatkan penonton terhadap set up yang sudah dibuat sebelumnya
  • riffing : mendapatkan perhatian penonton. biasanya terpaksa dibuat karena penonton gak fokus ke si comic.

Bakat dan kompetensi Raditya Dika dalam menulis dan membawakan materi-materi komedi, jadi kunci kesuksesannya di dunia Stand Up Comedy.

Komedi

Tentu tidak semuanya jujur. Meskipun banyak sekali mengangkat kisah-kisah dari keluarga Raditya Dika sendiri. Yang benar nyatanya adalah bahwa semuanya dilakukan demi memancing tawa penikmat komedi.

Kehidupan percintaan yang mengenaskan menjadi materi komedi yang dieksploitasi oleh Raditya Dika.

komedi jadi barang dagangan. Paling lucu, paling mahal harga jualnya.

Tantangan perkomedian memang di orisinalitasnya.

Raditya Dika vs Adhitya Mulya

Tidak terlalu tepat untuk dibandingkan kesastraan di antara keduanya. Sebab, masing-masing ada segmennya. Bagi Raditya Dika, komedi adalah barang dagangannya yang paling utama. Dia fokus di materi/konten ini.

Berbeda dengan Adhitya Mulya, yang karya sastranya berkembang seiring dengan pengalaman hidupnya.

Dimulai dari novel Jomblo, yang kemudian sama-sama difilmkan dengan judul yang sama, sesungguhnya merupakan awal dari topik yang belakangan menjadi laris ditulis-dikomentari-dibicarakan-berkembang sendiri di mana-mana.

Saya sendiri membahas fenomena jomblo ini dalam sudut pandang ekonomi bisnis dalam singlenomics. Selain jomblo, topik-topik satir ini antara lain adalah “mantan”. Kenapa ya “mantan” itu menyakitkan sekali?

Sabtu Bersama Bapak. Yang tidak lama lagi akan difilmkan. Biasanya kalau sudah difilmkan, akan ikut mendongkrak kembali penjualan novelnya. Jadi novel mengalami dua kali periode laris.

Nah, kesastraan dari abang Adhitya Mulya ini memang sesuai perjalanan hidupnya. Pasti dia pernah jomblo (alias single), ‘kan? Novel Jomblo adalah potret hidupnya. Semua pernah jomblo siy, tapi tidak semua jomblo melukiskan ke-jomblo-annya dengan baik dan menghasilkan karya komersil, ya.

Sabtu Bersama Bapak itu mendeskripsikan potretnya selaku Ayah dan Anak. Sebagai yang menjalani kedua peran tersebut, tentu saya juga belajar banyak dari perspektif bang Adhit ini. Pada dasarnya, peran sebagai Ayah justru mengingatkan kembali bahwa sebagian besar di antara kita semua, sesungguhnya masih anak dari ayah kita sendiri. Dan tanggung jawab kita belum selesai pasca kita menikah. Ringan di omongan, tapi berat di pelaksanaan.

eka kurniawan

seperti dendam, rindu harus dibayar tuntas

Dewi ‘Dee’ Lestari

Materinya sangat bervariasi.

science fiction.

Filosofi Kopi (filkop). Saya paling suka yang ini. Ada story-nya, ada film-nya, ada kafe-nya, dan seterusnya. Kafe-nya Filkop benar-benar ada.

Rectoverso. Tentang lima kisah cinta. Diberi nama rectoverso lebih karena dua format yang seiring sejalan antara lagu dan cerita. Masing-masing lirik lagu, ada ceritanya. Rectoverso adalah “hibrida” antara buku (cerita) dan musik (lagu). Setengah buku, setengah musik.

Handoko Hendroyono

Penulis brand gardener. Basic-nya beliau adalah advertising. Beliau ini melayani klien untuk mengkomunikasikan brand mereka kepada target audience. Which is tantangan saat ini adalah medium komunikasi semakin beragam. tidak melulu TVC. Apalagi untuk di medium 24/7 seperti social media (yang juga menantang karena formatnya yang beranekaragam: teks, foto, gambar, video).

Beliau juga menekankan pentingnya story telling. Nah, feeling saya kok kita harus kembali ke sastra, ya. Maka dari itu, story yang kuat (tokoh yang berkarakter, alur yang mengusik pikiran, dsb) banyak terdapat pada novel-novel. Tidak heran, ‘kan novel-novel tersebut menjadi film? Di mana, film sebagai sebuah karya adalah sebuah model bisnis. Juga, film sebagai sebuah medium merupakan model bisnis. Karena kemampuannya dalam menyedot para pengiklan.

http://pride.co.id/2015/09/belajar-strategi-bisnis-dari-sosok-handoko-hendroyono/

gotham and story telling

AADC

10 Bulan Sejak Rilis AADC?2

Sudah 10 bulan sejak AADC 2 dirilis. Dan saya masih terlalu takut untuk menonton AADC?2. Sebab saya terlalu takut untuk kecewa. Karena segala tentang film ini sudah melekat di benak dan perasaan saya. Mulai dari karakter Rangga yang cuek, introvert, tapi tetap cool. Owh jadi cowok keren di mata cewek-cewek itu begitu tho. Sampai dengan dialog-dialog yang tidak terlupakan.

Basi! madingnya udah siap terbit!”

atau,

“Barusan saya ngelempar pulpen ke orang gara-gara ada yang berisik di ruangan ini. Saya gak mau itu pulpen balik ke muka saya gara-gara saya berisik sama kamu.”

atau,

Salah gw? Salah temen-temen gw?

Yang saya rasakan, adalah brand AADC? itu seperti itu, dan sudah seharusnya tetap seperti itu. Saya tidak mau brand ini berubah menjadi sesuatu yang berbeda, atau tidak sesuai dengan ekspektasi saya. Jadi, saya sangat berkeberatan untuk menonton film ini, apalagi sampai menerima ajakan teman-teman. Lebih baik saya menutup mata dan telinga dari segala pembicaraan tentang AADC? Apalagi review-review tentang film AADC 2.

Oke, mungkin saya berlebihan. Lebih baik kita lanjutkan saja tulisannya.

Arti AADC? yang Sesungguhnya

Ada Apa Dengan Cinta? (AADC?) adalah salah satu peristiwa bersejarah dalam hidup saya dan remaja-remaja generasi saya. Dulu, kami kelas 3 SMP sewaktu film tersebut rilis perdana di bioskop. Emosi kami betul-betul teraduk-aduk akibat film tersebut. Produser dan Sutradaranya betul-betul memahami gejolak perasaan anak-anak muda Indonesia saat itu.

Masalah yang seberat-beratnya masa SMA saat itu mungkin adalah pilihan antara teman atau pacar, atau persaingan si populer dengan si penyendiri (seperti Cinta vs Rangga sebelum saling mengenal), atau mungkin kompetisi untuk menjadi yang paling eksis di sekolah –salah satunya melalui status sangat terhormat sebagai anak paskibraka, misalnya–, dst.

Mudahnya, film ini adalah “kita” banget. Namun demikian, mari lompat sedikit tentang situasi dan kondisi di seputar rilisnya brand film ini.

Lingkungan industri perfilman Indonesia saat itu memang sedang lesu pula. Film yang dirilis lebih banyak bertemakan horor yang (anehnya?) malah menyerempet paha-dada paha-dada (ini bukan tentang ayam goreng tepung dengan sekian belas bumbu rahasia ya) perempuan demi kelarisan film itu sendiri. Which is the problem is, film-film tersebut miskin dengan alur cerita dan karakteristik para tokoh-tokoh di dalamnya. Bahkan peran yang diberikan tidak sulit dan rumit hingga tidak menantang aktor dan aktris kita untuk memainkan film-film horor yang tidak menyeramkan tersebut.

Pendek kata, film-film tersebut hanya mengejar laba dan marjin keuntungan, namun lupa untuk memberikan kesan yang mendalam. Alih-alih pesan yang bermanfaat.

Bersama dengan Petualangan Sherina (1999), AADC menjadi tonggak sejarah perfilman Indonesia yang mulai bangkit kembali lewat alur cerita yang berkualitas dan tokoh-tokoh yang berkarakter kuat. Apa yang akan terjadi apabila si mantan datang kembali ke kehidupan kita salah satu film bersejarah seperti AADC dirilis kembali?

Yang dihadapi oleh Sekuel AADC2

Tantangan besar dihadapi oleh duet maut Riri Riza dan Mira Lesmana. As a product (and as a business, too) sekuel AADC pastinya harus memuaskan existing customer. Ya itu tadi, remaja-remaja tanggung sekitar tahun 2002-an. Para “pencinta” AADC ini tentu sudah punya experience terhadap tokoh-tokoh AADC: Rangga yang pendiam tetapi tajam di setiap dialognya, Cinta yang memiliki kepribadian penuh percaya diri, serta grup remaja perempuan dengan Cinta sebagai center of attention-nya.

Pastinya, menggarap sekuel penuh dengan tantangan dari penonton yang menuntut kepuasan lebih. Kudu lebih memuaskan dari prekuel-nya. Kalau lebih jelek? Ya yang jelek itu yang lebih akan diingat sama penonton.

Nah, sebagaimana seharusnya, persoalan yang diangkat di AADC 2 jadi lebih mendalam, yaitu pilihan antara berkutat di masa lalu atau melangkah ke apa yang disebut kehidupan mapan. Wajar, setelah 14 tahun, dengan para karakter yang sekarang diperkirakan berusia 30-32 tahun. Bukan masanya lagi untuk menye-menye, atau mempertimbangkan sekolah maupun pekerjaan. Melainkan menjalani kehidupan yang mapan lewat karir bersama dengan partner hidup.

AADC 2, harus diakui, adalah film nostalgia. Deskripsi, narasi, dan musik yang dikemas sedemikian rupa untuk mengingatkan kita kembali tentang AADC itu sendiri. Mira Lesmana dan Riri Riza sadar betul bahwa mereka ingin mempersembahkan film AADC 2 ini kepada penonton AADC 1. Musik yang konsisten bersama Melly dan Anto Hoed, serta pemain inti yang nyaris tidak berganti adalah penanda itu. Eksplorasi kedekatan brand dengan existing customer ini yang menjadi amunisi utama Miles Film dalam mengolah sekuel ini.

Btw, pernah dengar Galih & Ratna?

Rangga & Cinta ini analog dengan Galih & Ratna. Filmnya berjudul Gita Cinta dari SMA yang dirilis pada tahun 1979. Pemain utamanya adalah Rano Karno, (cagub Banten 2017) dan Yessi Gusman. Kedua karakter ini analog banget dengan Rangga & Cinta: (1)mewakili aspirasi remaja saat itu mengenai kehidupan romansa yang mereka idam-idamkan, sekaligus (2)menjadi ikon yang tersimpan erat di memori masing-masing generasi.

Soft Promotion

Sponsorship ini komponen penting untuk menambah omzet. Berat kalau hanya mengandalkan jumlah penonton di bioskop. Berikut beberapa adegan yang (menurut saya) berhasil mempromosikan brand-nya tidak secara hard selling.

  • Hape kebanting.
  • Minum air putih yang banyak.
  • Bingung dandan dengan kosmetik apa.

Yang (Masih) Mengganjal dari AADC?2

However, saya yang tidak ingin kehilangan sosok Rangga dan Cinta dalam benak dan kalbu (halah!) pada akhirnya ‘memaksakan’ diri saya untuk tetap menyaksikan film tersebut. Meski bukan di layar lebar, melainkan di layar televisi. Dan saya sangat mengagumi eksekusi pembuatan film ini. Namun, bagaimana pun juga ada jiwa sastrawan abal-abal yang menggelora dan menggelegak ingin mengkritik film ini.

Karakter Trian, kurang kuat diceritakan dalam film ini. Siapa sih Trian itu, yang berhasil ‘masuk’ ke dalam kehidupan Cinta, menjalin hubungan dengan Cinta, bahkan telah bertunangan dengan Cinta? Apa perbedaan sekaligus kelebihan karakter ini sehingga bisa membuat Cinta ‘melupakan’ Rangga? Si Trian ini kurang banyak dieksplorasinya.

Memang sih, pada akhirnya, semua sesuai dengan ekspektasi existing customer: Cinta kembali pada Rangga.

Tentu saja Cinta mengernyitkan dahi kita semua (mungkin saya aja, sih) dong bila dia meninggalkan Trian yang mapan, sang pengusaha muda dengan masa depan cerah. Trian yang tajir, gak suka seni, dan enggak puitis seperti Rangga. Memangnya puisi bisa dimakan? Makan tuh puisi! 😀 

Di sisi Cinta, tentulah karakter ini seharusnya mengalami konflik wanita modern. Cinta bukan lagi anak SMA. Dia adalah wanita dewasa usia 30-an awal yang sudah mempunyai pekerjaan tetap. Aspirasinya adalah berkontribusi terhadap bidang yang digelutinya, yaitu seni. Apalagi pekerjaannya selaku pemilik galeri seni udah menunjang banget. Duit dapat, passion juga dapat kalau kata anak sekarang.

Dalam dimensi lain kehidupannya, dia juga sudah bertunangan. Bayangkan kalau sudah bayar uang muka ke beberapa vendor pernikahan? Udah icip-icip menu prasmanan di beberapa pernikahan yang ditunjuk sama vendor? Apalagi kalau sudah kirim-mengirim undangan ke banyak teman, kolega, dan sanak-saudara? Terus pertunangannya batal? Anak-anak (dan orang tuanya) zaman sekarang mungkin akan berpikir seperti,

“Apa kata dunia?”

Ini yang saya gak suka dari jadi mantan. Harus mengirim undangan ke mantan. Daripada jadi mantan, lebih baik kita jadi alumni aja deh. Siapa yang tahu kalau kita bisa reuni.

Sebagai sebuah brand (yang seharusnya memang memprioritaskan existing customer, instead of new customers), saya kira AADC2 tidak mengkhianati kedekatan yang sudah terbangun dengan para penontonnya, mungkin malah justru makin merekatkannya. Di poin ini, produser dan sutradara sudah sangat berhasil. Apalagi brand ini berhasil mendatangkan banyak sponsor dari brand-brand ternama.

Bagaimana dengan new customer?

Ternyata, film ini juga berhasil menggaet para penggemar AADC yang baru.

Customer yang menyaksikan film ini tidak sepenuhnya yang 14 tahun lalu adalah remaja-remaja tanggung. Tidak sedikit para penonton yang baru. Ada juga yang saat ini sudah menjadi bapak-bapak dan ibu-ibu, kira-kira usia pertengahan 40-an, yang turut menjadi saksi sejarah romantisme Cinta dan Rangga.

======

related post:

referensi:

Cek 4 Elemen Berikut Untuk Memeriksa Kualitas Brand Story Kamu

We’ll love story. Especially story about hero inside us whom be brave enough overcome his/her challenge to pursue his/her dreams.

Lihat bagaimana serial gotham membangun koneksi lalu mengaduk-aduk emosi penontonnya melalui cerita-cerita yang mereka sampaikan dalam setiap episode.

Gotham yang sekarang sudah masuk ke season 2. Ada karakter Theo Galavan yang jadi antagonis sentral di season terbaru ini. Nyaris semua antagonis di semua episode yang sudah berlangsung, pasti terkait dengan Galavan yang satu ini. Dugaan saya, Galavan adalah musuh terberat dari Jim Gordon di season 2.

Ups, too much information, jadi tidak fokus ke creme de la creme-nya ya 😀

Nah, cerita mengenai Batman, dan segala yang dikait-kaitkan dengan second identity-nya Bruce Wayne tersebut, selalu tampak bagus. Apa yang membuat sebuah cerita –seperti Batman– selalu bagus? Apa saja yang menjadi kesamaan di antara semua cerita tersebut?

Sebagaimana headline di atas, ternyata ada empat elemen yang membuat sebuah cerita menjadi bagus.

(1) Setting. Where is this story happening? Di mana cerita ini mengambil latar belakang? Waktu, tempat, dan seterusnya.

(2) Character. Who’s the story about. Apakah tentang kelompok/komunitas/perusahaan/institusi tertentu? Siapa yang menjadi frontman-nya? Atau cerita ini berkisar seputar seorang protagonis saja?

(3) Plot: Action. How character respond the setting? What are your characters doing? Atau bagaimana karakter mewujudkan tujuan/misi besarnya?

Sebab akan selalu ada penghalang (bencana alam, ketidakberuntungan, tokoh antagonis) yang menentang tokoh utama dalam mengejar tujuan/misi tersebut.

Biasanya, semakin kuat penghalangnya, dan semakin protagonis berusaha mengatasinya, maka semakin bagus ceritanya. Kita bedah satu kasus yang bagus.

globe

Anita Roddick jadi kisah superhero yang luar biasa. Bagaimana dia bersama Body Shop menggalang misi untuk menciptakan lingkungan hidup yang lebih baik.

Core values seperti against animal testing adalah idenya yang dia eksekusi dengan sangat baik. Jadi pembeda yang signifikan di saat kompetitor belum mampu melakukan inisiatif tersebut.

Jadi semua elemen brand Body Shop dikonsep, digagas, dan dieksekusi hingga menghasilkan citra yang begitu positif, tapi tetap engaged dengan pelanggannya lewat satu fokus tema: lingkungan.

Dengan demikian, Body Shop sukses being different to standout from the crowds. Hal ini tidak pernah mudah. Sebab tantangan industri telah dan akan selalu menghalangi.

Luar biasa apa yang dilakukan oleh beliau, mengingat Body Shop adalah perusahaan kosmetik. 

Jadi, rumusnya adalah semakin lakon “mengalami apes, tapi bersikap ngeyel” maka akan semakin bagus ceritanya.

Keyword tersebut saya dapat dari Mas Yusuf, seorang strategist and executor di www.smuufy.com

(4) Detail: which specific things should your audience notice. Monolog, dialog, deskripsi (dari apa yang dia dengar, lihat, sentuh, rasakan), narasi, backstory (apa yang sebelumnya terjadi), dan lain-lain.

Tiga elemen yang pertama sebenarnya sudah cukup untuk menghasilkan brand story yang bagus. Tapi tanpa pendetilan (yakni elemen ke-4) yang luar biasa, maka storytelling-nya bisa jadi hambar. Eksekusi konsep adalah titik kritis dalam implementasi strategi pemasaran ini.

Kesimpulan:
(1) Saya kira storytelling adalah salah satu skill yang harus dimiliki para pemasar saat ini. Terlebih profesi PR (Public Relation). Cek apakah kamu sudah punya 7 skill praktisi PR masa kini.

(2) Brand story dapat dirancang melalui konsep dan implementasi dari 4 elemen yang telah kita bahas di atas.

Semestinya dia bisa membantu kamu, seperti dia sudah membantu saya 🙂

Related Post(s):

Gotham and Storytelling

Belakangan ini saya rajin mengunduh dan menonton serial “Gotham“. Sekarang sudah 9 episodes. Ratingnya lumayan lho, 8.2 dari total 10. Artinya, banyak yang suka. Terkait hal ini, saya punya duga-dugaan yang belum terkonfirmasi ke para pemirsa yang sebenarnya. Yah, tapi minimal udah terkonfirmasi ke saya gitulah, hehe 😀

http://teniesonline.ucoz.com/_ld/100/33384397.jpg

Jadi serial ini berlatar belakang kota Gotham (ya, Gotham yang Batman itu lho) sebelum Batman lahir, hadir, dan “menjaga” kota tersebut. Di serial ini, Bruce Wayne kecil selalu curious alias kepo banget mengenai bagaimana kota tersebut “bekerja”. Terlebih banyak peristiwa-peristiwa janggal (sekaligus menarik) yang menjadi lakon utama di tiap episodenya pasca kematian pasangan Wayne di hadapan Bruce kecil.

Protagonisnya adalah James (Jim) Gordon, alias pak komisaris polisi di film-film Batman. Di sini diceritakan bahwa karakter ini masih rookie di GCPD. Baru gabung di kepolisian, tapi masih punya idealisme tinggi. Sehingga sisi idealisme-nya (dan itu yang selalu menjadi bawaan khas di perannya) dapat dieksplorasi besar-besaran oleh produser dan sutradara yang bersangkutan di serial ini.

Di samping ketokohan protagonis, masing-masing antagonis juga dideskripsikan detil. Lihat bagaimana Oswald “Penguin” Cobblepot mampu tampil cengengesan dan lemah, tapi di saat lain pandai menipu, bahkan menjadi sadis. Ada juga Selina Kyle, tokoh yang mestinya jadi Cat Woman di versi film. Tindak-tanduk dan kelakuannya udah sama cem Cat Woman yang asli. Gerakan lincah, badan lentur, dengan mata yang bisa melihat dalam kegelapan malam.

Jadi, ternyata.. –eh, kasi tau gak ya; kasi tau gak ya; spoiler dikit nih soale 😀 — warga kota Gotham itu menaruh harapan pada “pahlawan terselubung” yang “beraksi” membasmi orang-orang jahat –semisal letnan yang korup atau pengusaha yang filantropi-nya cuma pura-pura. Tidak lain karena GCPD tidak selalu bisa diharapkan. Sebab itu ada sebagian warga yang main hakim sendiri. Pola seperti ini yang kemudian dilakukan secara persis oleh The Dark Knight seperti Batman.

Lewat serial Gotham ini, produser dan sutradara jadi mampu mengeksplorasi dan mengeksploitasi ruang-ruang cerita di kehidupan pra-Batman. Which is, selama ini hanya era-nya Batman yang kita tahu. Pola ini mirip dengan trilogi “Lord of The Ring” yang diikuti dengan prekuel trilogi “The Hobbits“. Trilogi kedua (yang berkisah mengenai para hobbit) adalah pemberi penjelasan behind the story why there was “Lord of The Ring“. Ada story, ada demand. kalau demand berlanjut? Baru kita teruskan story-nya 🙂

The storytelling part
Sengaja atau tidak sengaja, selalu ada cerita yang tersirat di balik setiap word of mouth (WOM) yang tersaji. Demikian pula di setial “Gotham” ini. Batman sebagai sebuah legenda yang menemani kisah-kisah generasi saya di masa kecil dulu, adalah salah satu di antaranya. Dan kini, ketika “potret” kehidupan di kota Gotham disajikan secara epik melalui rangkaian episode ke episode, nostalgia tersebut terulang kembali.

Dan dalam setiap nostalgia tersebut, selalu ada cerita-cerita tertentu di dalamnya. Inilah yang biasa kita sebut “storytelling” alias story to be told. Cerita-cerita yang menjadi konten dalam setiap getok tular yang kita sebarluaskan. Di sini saya juga menjadi salah satu storyteller alias customer-marketer atas serial Gotham ini. Yang membuat anda penasaran, turut men-download, hingga ikut menyaksikan.

Storytelling juga yang mendasari tersebarnya Mini Drama AADC yang menjadi konten dari promo fitur “Find Alumni” yang lalu dari brand Line. Jadi bukan asal “film laris tentang hubungan asmara”. Melainkan ada headline “Rangga dan Cinta yang sudah 12 tahun gak ketemu” diikuti story “CLBK-nya Rangga ma Cinta”. Keduanya membuat videonya jadi ditonton, meme-nya di-retweet and di-share kemana-mana. Ini enelan lho, ada riset yang menyatakan bahwa di Indonesia, social media itu dipakai untuk CLBK-an. Hehe.. 😀 Jadi ngerti kan, kenapa mini drama tersebut tersebut dan meluas dalam waktu singkat? Hehe.. There is always story to be told, that’s why we call it storytelling 🙂

7 skill yang diperlukan profesi PR sejak sekarang

http://www.prezly.com/frontend/img/landing/public_relations_quotes/pr-quote-seth-godin.png

Digital revolution yang terjadi di sekitar kita, menuntut kita untuk sadar, mempelajari, dan beradaptasi dengan perubahan. Termasuk para pelaku public relations (PR) yang harus sadar, mempelajari dan beradaptasi agar tetap relevan dalam bidangnya. Saya merumuskan ada 7 skill yang harus dimiliki praktisi PR saat ini.

1. Advertising Copywriting
Skill ini maksudnya adalah kemampuan menulis editorial, press release, bahkan merumuskan pilihan kata-kata untuk materi iklan (advertising). Social media kita sangat menuntut kemampuan tersebut dalam era terkini. Kecepatan delivery dan keakuratan materi harus jadi kemampuan karena kita bersaing dengan banyak pihak berebutperhatian target audience.

2. Foto dan Video Production/Editing
Kadangkala jenuh dengan tulisan, target audience perlu kita kirimi juga dengan format yang lain. Misal foto/gambar atau video. Skill yang diperlukan adalah production sekaligus editing kedua jenis materi tersebut. Aplikasi seperti camera 360 bisa sangat membantu editing materi foto untuk keperluan PR kita.

3. Mobile
So far, kebutuhan target audience kita baru sebatas informasi paling real time dan langsung dari tempat kejadian. Sejauh ini, punya akun twitter sudah cukup mengakomodasi kebutuhan tersebut. Tweet mampu memuat gambar dan link dalam space yang relatif cukup (160 karakter) untuk kita sampaikan ke target audience.

4. Storytelling
Bombardir 1 pesan khusus (apalagi sekedar jualan) bukan jamannya lagi. Keutuhan cerita jadi kebutuhan target audience. Pertanyaan seperti kenapa, mengapa, bagaimana dst justru semakin relevan di era digital ini. Storytelling skill ini adalah salah satu skill tradisional yang makin dibutuhkan dari profesi PR saat ini.

5. Analytics
Minimal, ketahuilah apa yang menyebabkan pengunjung website menjadi tinggi? Atau apa yang menyebabkan jumlah follower/friend meningkat pesat? Website dan social media adalah marketing channel terkini yang tidak bisa lagi kita abaikan. Selain harus rajin buat dan posting konten, kita wajib mampu melakukan analisis di balik hasil akhirnya.

Critical Thinking merupakan skill yang belakangan ini semakin diperlukan. Sesuai konteks digital media yang mampu menyediakan data, maka kita insan pengguna media harus selalu berpikir kritis dalam melakukan analisis. 

6. SEO
Menulis di internet jelas berbeda dengan menulis di media tradisional seperti koran. Pengunjung website atau akun socmed cenderung tidak membaca banyak. Mereka perlu yang singkat dan padat, serta punya keyword yang relevan. That’s it. Sebab itu menulis yang search-able di internet jadi penting.

7. Blogger Relation
Jumlah blog semakin bertambah. Meski ada yang kemudian sirna, jumlahnya tetap lebih sedikit dari yang dilahirkan. Dan masing-masing seringkali fokus ke kategori tertentu. Misal blog ini yang lebih banyak fokus ke marketing strategy. Maka dari itu relasi dengan para blogger akan meningkatkan relationship with brand yang lebih baik lagi dengan target audience.

Ilustrasi gambar dari http://prezly.com

Related Post:
Gotham and Storytelling
Apa itu Public Relation

6 Cara Riset Content Marketing yang Akan Membuat Pengunjung Betah Berlama-lama di Web Anda

Di artikel yang lalu, entah yang mana saya tidak ingat lagi 😀 sudah saya tuliskan bahwa proses menulis adalah (1)riset-(2)draft-(3)produksi-(4)revisi. Bagi saya ini berlaku untuk segala jenis tulisan: (a)opini yang dikirim ke koran, (b)artikel untuk majalah dwimingguan, dan lain sebagainya.

Untuk di internet, prosesnya ditambahkan satu lagi, yaitu (5)promosi (ke social media). Agar para pengguna sosial media berbondong-bondong menuju blog/web milik kamu.

Demikian pentingnya riset sebelum menulis, sebab riset adalah (1) proses pertama yang harus dilakukan serta (2) menjadi fondasi atas kualitas suatu tulisan.

Jadi makin banyak riset, maka kualitas tulisan cenderung membaik. Jangan heran banyak penulis tersohor yang mengingatkan agar kita membaca buku lebih banyak supaya kita dapat menjadi penulis yang semakin baik dari waktu ke waktu.

Bagaimana riset penulisan memandang perilaku plagiarisme? Simak dulu quote yang berikut ini:

If you steal from one author, it’s plagiarism; if you steal from many, it’s research (Wilson Mizner)

Dengan kata lain, menulis dengan hanya satu sumber itu mencontek. At least akan terasa bahwa gagasannya kurang kuat/banyak. Tapi kalau kamu menulis setelah membaca banyak referensi, itu berarti kamu sudah melakukan riset.

Makin bagus riset kamu, makin berkelas tulisan kamu.

Nah, mungkin kemudian kamu bertanya, (1) Riset apa yang harus dilakukan? (2) Bagaimana cara melakukan riset?

Sebagai jawaban atas pertanyaan tersebut, berikut adalah beberapa hal yang bisa saya rangkumkan.

(1) Riset dari blog orang lain. Temukan informasi-informasi penting dari blog tersebut. Tidak harus berupa data, inspirasi untuk menulis juga bisa datang dari blogger lain.

Inspirasi tersebut bisa jadi bahan untuk tulisan kamu. Tentu saja harus ditambahkan sudut pandang, pendapat, dan pengalaman pribadi supaya menjadi berbeda dibanding inspirasi dari blogger tersebut.

Dalam setiap niche, ada blogger-blogger berkualitas yang layak kita jadikan sebagai mahaguru. Bagaimana cara supaya tidak terlupa untuk berkunjung ke blog tersebut?

Yaitu berlangganan email marketing. Beberapa waktu lalu saya sudah menyarankan untuk berlangganan beberapa email marketing sekaligus terkait dengan bidang-bidang yang ingin kamu pelajari.

(2) Riset di www.quora.com Dari sana bisa terbayang seputar detil-detil yang dikehendaki oleh (calon) pembaca dari topik yang ingin kita tulis.

Cari pertanyaan yang begitu sulit sehingga tidak seorang pun menyediakan jawabannya di internet. Mungkin ada pertanyaan di www.quora.com yang kamu sukai, tapi tidak ada jawaban yang berhasil memuaskan rasa ingin tahu kamu.

Masih belum yakin dengan Quora? Mungkin kamu bisa re-ask pertanyaan How has Quora affected your life?” 😀

quora-logo

(3) Riset dari membaca buku yang terkait. Bagaimanapun lengkapnya internet sebagai sumber, kadangkala referensinya tidak terlalu kokoh. Satu sumber di internet bisa ditimpa dengan sumber yang lain.

Bagaimana mendapat sumber yang robust (kokoh)? Salah satunya dengan membaca buku yang tepat. Yaitu buku dengan referensi yang lengkap dan saling mendukung satu sama lain.

Biasanya buku-buku seperti ini dibaca dan dirujuk oleh banyak orang. Dan biasanya juga, memang merupakan hasil riset, analisis, dan penulisan secara mendalam.

Mas Yodhia Antariksa belum lama ini merekomendasikan 3 judul buku bisnis terbaik tahun 2015 (menurut beliau) untuk dibaca oleh kita semua. Setiap tahun, beliau membuat postingan dengan tema tersebut.

Ada lagi cara lain untuk mengetahui buku yang tepat: bertanya pada konsultan/dosen di bidangnya untuk mengetahui referensi paling baik mengenai topik tersebut.

Btw, kebetulan lagi ngomong konsultan, ada blog yang khusus membahas pekerjaan konsultan. Beberapa jenis pekerjaan konsultan bisa dibaca di www.pekerjaankonsultan.com

Atau kamu bisa lakukan 6 cara yang telah saya praktikkan agar bisa konsisten ngeblog.

(4) Riset kepada salah seorang pengunjung blog kamu. Bisa dengan interview langsung atau ngobrol-ngobrol sembari makan siang. Sekalian copy darat dan silaturahim, ‘kan.

Sebagai fans berat kamu, tentu dia mampu memberikan usul mengenai ide-ide artikel blog yang pantas masuk dalam content plan kamu.

Atau dia akan merasa beruntung karena sedang ingin bertanya tentang sesuatu hal — yang sekaligus kamu bisa gunakan sebagai topik untuk menulis artikel blog yang paling baru.

Cari tahu apa yang ingin diketahui oleh para blog readers (biasanya melalui comments),  lalu jawab pertanyaan tersebut melalui artikel anda.

(5) Riset Keyword. Ini ditujukan untuk SEO Copywriting. Tembak sebanyak-banyaknya keyword yang masih terkait satu sama lain dalam satu kategori/topik penulisan.

Lebih baik long tail keyword (LTK) daripada keyword yang hanya terdiri dari 2-3 kata. Penggunaan beragam LTK dalam satu artikel, akan memperkuat posisi artikel di hadapan sang mesin pencari.

Tulisan yang lebih condong pada kualitas, menuntut riset yang lebih intens daripada tulisan yang condong pada frekuensi rilis/publish. Tidak usah memaksa setiap hari membuat postingan dengan mengorbankan kualitas.

Lebih baik menerbitkan satu artikel dalam satu pekan tapi dengan proses dan kualitas yang terbaik. 

Blog seperti www.waitandwhy.com tidak banyak menerbitkan artikel baru, namun setiap artikelnya ditulis sepanjang 1500-2000 kata. Panjang artikel inilah yang menyebabkan blog ini kuat sekali di search engine result page (SERP).

(6) Riset dari pengalaman pribadi. Akan bermanfaat untuk gaya postingan life/reality blogging. Ini adalah salah satu gaya di antara 20 gaya posting blog.

Perspektif dan pengalaman pribadi akan memberi warna baru untuk topik yang pernah dibahas oleh penulis lain. Tidak hanya warna baru, tetapi juga memperkuat storytelling.

Yang mana, hanya kamu sendiri yang tahu dan merasakan langsung pengalaman kamu. Jadi ketika diceritakan oleh kamu sebagai pelaku sejarah itu sendiri, maka cerita tersebut akan menjadi lebih hebat.

Simpulan. Sudah dibedah di atas beberapa cara riset yang mungkin kita lakukan:

(1) Riset di blog orang lain
(2) Riset di Quora
(3) Riset dari buku yang direkomendasikan
(4) Riset pengunjung blog
(5) Riset keyword
(6) Riset dari pengalaman pribadi

Sebab riset merupakan tulang punggung proses-proses penulisan. Dengan berbagai metode riset tersebut, semestinya kita bisa mengembangkan tulisan yang lebih berbobot.

Semoga tulisan singkat ini tepat memberi manfaat 🙂

Related Post(s):

Beberapa Tips Marketing Lewat Instagram Yang Dapat Anda Terapkan Di Bisnis Anda

Kenapa harus Instagram?

Pelanggan yang sesuai dengan format konten gambar, tidak boleh dipaksakan berkomunikasi dalam bahasa tulisan (teks). Itu salah satu alasan memakai Instagram.

Marketer yang sudah terbiasa membuat dan mendistribusikan konten dalam bentuk tulisan, tidak boleh demikian egois untuk hanya menuruti keinginannya semata. Harus kreatif menggunakan medium yang cocok dengan perilaku pelanggan.

Idealnya, marketer itu peduli pada pelanggannya. Sehingga akan berupaya maksimal untuk membangun komunikasi dan engagement dengan pelanggan. Yaitu dalam semua bahasa dan medium yang dikehendaki oleh target market.

Saat ini, Instagram sudah memiliki pengguna aktif bulanan sebesar 400 juta pengguna (users) di seluruh dunia. Ini adalah potensi besar yang jadi alasan utama mengapa kita harus memakai instagram.

Tapi, bagaimana memaksimalkan Instagram?

Seperti misalnya, tipe apa gambar apa yang paling tepat untuk pelanggan kita? Beda segmen yang ditarget, tentu berbeda tipe. Jualan tas untuk perempuan yang sudah berkeluarga, sudah pasti berbeda dengan jualan produk-produk kuliner.

Kita harus coba dan eksplorasi terus, hingga kita menemukan winning campaign-nya.

Dalam eksplorasi, kita bisa lakukan 2-5 percobaan sekaligus dalam waktu bersamaan. Tinggal kita lihat dan bandingkan hasilnya, pada indikator-indikator yang sudah kita tetapkan sebelumnya. Ini yang dinamakan split testing.

Ada dua kelompok besar, mengenai kesimpulan yang bisa kita buat. Apakah ada –yang pertama–jenis campaign yang harus kita stop dan hindari, atau justru–kedua adalah–winning campaign yang bisa kita ulang dan optimalkan lebih lanjut.

Kenali Perilaku (Behavior) Pengguna Instagram

Minat (interest) pengguna Instagram bisa kita eksplorasi dari beragam hashtag yang ada. Jadi ketika kita mengamati kualitas suatu gambar, perhatikan juga apa saja hashtag yang dipakai. Sebab di sisi lain, hashtag tersebut juga yang akan digunakan oleh pengguna lain untuk mencari gambar-gambar yang sesuai minat mereka.

Instagram dengan gambarnya itu bisa dianalogikan dengan mesin pencari Google yang mencari berdasar relevansi teks. Jadi ketika pengguna Instagram ingin menemukan gambar sesuai minat, mereka akan mengetik sesuai hashtag yang mereka tahu pasti akan menggambarkan kebutuhan mereka.

Sebagai contoh. Andaikan saya adalah seorang yang tinggal di Jogja, atau sedang berkunjung ke Jogja. Kemudian saya ingin wisata kuliner di Jogja. Maka saya akan mencari gambar-gambar dengan hashtag #kulinerjogja. Atau misalnya seseorang yang dalam kunjungan kerja ke Semarang akan memakai #kulinersemarang.

Hal ini sangat berkait dengan produk atau layanan yang berada di atau ditawarkan di Instagram. Beda produk/layanan, beda pula perilaku user. Tipe kuliner, terutama yang dimakan di tempat, secara sengaja diidentikkan atau diasosiasikan dengan kota tertentu.

Segmen berbeda, semisal penyuka, pembeli, dan kolektor tas wanita, tidak akan menggunakan hastag semisal #tasjogja. Sebab, produk jenis ini tidak identik dengan wilayah tertentu serta dapat dikirim antarkota tanpa mengalami kerusakan atau basi.

Selain melihat hashtag berdasar jenisnya, kita juga perlu mengetahui seberapa banyak image yang dirilis (published) terkait dengan hastag tersebut. Sebaiknya tidak terlalu banyak atau terlalu sedikit. Terlalu banyak berarti foto/gambar anda akan bersaing ketat dengan yang lain. Terlalu sedikit bisa dimaknai bahwa hashtag tersebut kurang diketahui orang sehingga masih sedikit yang mem-posting gambar dengan hashtag tersebut.

Penting pula untuk tidak sekedar ikut arus. Ciptakan sendiri brand positioning sehingga timbul perbedaan dengan kompetitor. Gunakan hastag yang sama sekali berbeda dengan para pemain yang sudah berada di Instagram lebih dulu.

Seiring dengan pertumbuhan Instagram user, kesempatan kita untuk menciptakan awareness akan terus tumbuh pula. Dengan kata lain, makin banyak yang akan mengetahui mengenai brand yang kita garap. Namun demikian, best way to use Instagram adalah dengan menjadikan medium ini sebagai plaftorm untuk menciptakan engagement dengan pelanggan.

Coba kita simak hasil riset berikut. Bahwasanya Instagram memiliki tingkat engagement tiap pengikut (per-follower engagement rate) yang 58 kali lebih baik daripada facebook dan 120 kali lebih baik daripada twitter. Datanya berasal dari sini.

Platform paling oke untuk melakukan kontes mengenai brand

Ini mirip dengan twitter dan blog sebagai platform untuk membuat kontes dengan hashtag tertentu. Hanya, keduanya dalam bentuk teks saja ‘kan? Instagram sebagai image-based apps sedang ‘di atas angin’ karena memang image (yang lebih cepat ditangkap dan dicerna oleh indera penglihatan) lebih unggul dibanding text yang harus dibaca. Apalagi produk dan services juga lebih mudah dideskripsikan lewat gambar/foto.

Model user-generated content (UGC) seperti di kontes yang sudah dijelaskan di atas, engagement rate-nya lebih baik daripada sekedar meminta like dari para user. Kelebihan lain dari kontes menggunakan medium Instagram adalah sebagai berikut:

  • Ketika user yang bersangkutan meng-upload image, tentu para follower mereka juga terekspos akan hashtag yang kita tetapkan
  • Ada koneksi emosional (dari yang merasa biasa saja, sampai dengan yang merasa excited banget) antara user dengan brand kita dalam campaign ini
  • Rangkaian konten tercipta dengan sendirinya dan dapat dikonsumsi dengan mudah oleh mereka yang men-search hashtag yang sedang dikampanyekan
  • Bila hastag kita mengandung brand name kita, kampanye ini telah memaksimalkan potensi dari pelanggan selaku produsen dan konsumen gambar/foto yang terkait dengan brand kita.

Medium untuk mentarget anak muda

Mayoritas anak muda Indonesia (usia 18-35 tahun) yang secara aktif menggunakan Instagram, banyak mem-follow akun-akun retailers. Sebanyak 56.2% mengakui dirinya mem-follow brand-brand retailers.

Jenis retailer yang paling banyak diikuti adalah ritel fashion/apparel/clothes sebanyak 67.5%.

205168

Oleh lembaga riset yang sama, JakPat, menemukan bahwa mendekati 7 dari 10 pengguna mobile internet di Indonesia usia 18-35 tahun menggunakan Instagram secara rutin setiap pekan.

Setinggi 73.8% responden yang berusia 20-25 tahun mengaku menggunakan Instagram. Reach ini jauh lebih baik daripada kategori usia 30-35 tahun yang hanya sebesar 55.8%. Dapat kita simpulkan bahwa medium Instagram sangat oke dalam mentarget segmen berusia muda.

Daripada meng-upload image di akun milik sendiri, users lebih suka melihat-lihat akun-akun yang terkait dengan belanja online. Itu yang utama –sebesar 53.0%. Kedua-utama adalah lelucon yang banyak disampaikan oleh akun-akun yang berfokus dengan materi yang memancing tawa tersebut (51.6%). Coba deh, follow dan pelajari akun-akun seperti @bikinnyengir atau @dagelan.

Screen shot 2016-05-15 at AM 11.05.15

Peringkat ketiga dari aktivitas-aktivitas Instagram user di Indonesia adalah adalah posting image seputar travelling (48.4%). Tentu saja hal ini terkait dengan kelahiran dan keberadaan kelas menengah yang telah berperan selaku konsumen dan endorser di industri travelling kita yang terus tumbuh setiap tahunnya.

Lebih lengkap bisa dilihat di riset eMarketer di sini.

204304

Akuisisi Instagram oleh Facebook

Saya kira, akuisisi perusahaan Instagram oleh perusahaan Facebook, merupakan satu langkah strategis Facebook dalam memperbaiki algoritma image di facebook. Facebook sangat-sangat mengutamakan pengalaman pengguna (user experience) dalam bermain facebook.

Facebook tidak akan membombardir pengguna dengan berbagai iklan sekaligus. Melainkan satu demi satu, selama selang detik-detik tertentu.

Sehingga, penting bagi facebook untuk dapat menemukan gambar yang memang relevan dengan tiap-tiap user. Tidak heran kan mereka menempuh jalan tersebut lewat akuisisi Instagram. Logika yang sama berlaku untuk pembelian WhatsApp oleh Facebook.

Sebab jual beli perusahaan tidak selalu seperti membeli lalu menjual aset. Perusahaan tidak selalu bisa dibandingkan dengan rumah atau tanah yang harganya cenderung naik. Perusahaan punya karakteristik khusus. Yakni, perusahaan adalah tempat di mana paten-paten bertebaran.

Jadi dengan membeli perusahaannya, maka paten-paten di dalamnya juga akan ikut dimiliki oleh perusahaan pembelinya. Dan itulah yang telah dilakukan oleh perusahaan Facebook.

6 Saluran Internet Marketing yang Harus Anda Ketahui

Tips internet marketing adalah tips-tips yang anda butuhkan untuk melakukan pemasaran dan penjualan (marketing and selling) via internet. Di internet, kita bisa melakukan marketing and selling melalui beragam saluran (channel). Mulai dari website kita sendiri, yang bentuknya bisa berupa toko online, blog, berita, dan lain sebagainya. Atau melalui akun social media – yang kita tahu sangat beragam – twitter, facebook, path, youtube, pinterest, dan lain sebagainya.

Oiya, jangan keliru dan tertukar antara maksud dan pengertian dari marketing dan selling. Marketing adalah aktivitas-aktivitas untuk membangun keinginan membeli dalam diri konsumen. Bahasa kerennya: creating demand. Sedangkan selling adalah “memetik” keinginan tersebut dengan cara membuat konsumen membayar lalu menerima manfaat produk/layanan yang sudah kita janjikan.

Pada tulisan kali ini, kami akan elaborasi sedikit saja dan secara sekilas apa saja tips-tips untuk melakukan pemasaran dan penjualan via internet. Di antaranya ada email marketing, social media marketing, search engine optimization (SEO). Masing-masing saluran ini punya kelebihan dan kekurangan, tentu saja.

Email marketing. Tentu saja berarti mengirim pesan-pesan marketing kepada email konsumen yang ada dalam database kita. Darimana database ini bisa anda dapatkan? Pertama, anda harus membuat konten yang fokus dan menarik untuk pengunjung website anda. Kedua, pancing mereka untuk mendaftarkan email mereka melalui website anda. Caranya adalah dengan berjanji mengirimkan file berisi materi yang menarik dan bermanfaat bagi mereka (secara gratis), sehingga mereka mendaftarkan alamat email mereka, lalu tugas anda adalah – ini langkah ketiga — mengirim materi tersebut ke email mereka.

Social media marketing untuk melengkapi website anda. Jadi akun (account) anda di social media facebook, twitter, linkedin, youtube, dsb mengunjungi website anda. Tentu saja, di masing-masing akun tersebut followers/friends-nya selalu diperbanyak. Anda bisa mengadakan kuis – dengan syarat follow dulu–, atau diskon sekian persen apabila melakukan share/re-tweet, dan seterusnya. Tipsnya adalah harus kreatif dan inovatif dalam membuat program taktikal seperti ini. Sebab, umur program ini tidak panjang dan efek penambahan friends/followers-nya pasti akan mencapai titik jenuh.

Search Engine Optimization. Saya ceritakan dahulu proses kedatangan calon konsumen ke lapak anda di website. Jadi perilaku online dari (calon) konsumen adalah mencari tahu siapa yang memiliki dan menjual produk/jasa yang dia butuhkan. Dia akan mengetik “jual barang xxx”, atau “Cari jasa xxx”, dan seterusnya. Dan hasil pencarian dia akan muncul dalam beberapa halaman. Tapi kemungkinan besar dia hanya mengecek 3 halaman pertama kan? Atau mungkin hanya halaman pertama? Bahkan sangat mungkin dia hanya membuka link dari 4 teratas hasil pencarian. Jadi, proses marketing yang harus anda lakukan adalah bersaing dengan sejumlah kompetitor anda untuk merebut 4 teratas hasil pencarian. Syukur Alhamdulillah apabila anda berhasil meraih peringkat pertama dan konsisten berada di sana.

Affiliate marketing. Ini adalah layanan “bantu menjualkan” yang semakin berkembang di internet. Dengan kode programan tertentu, maka penjualan yang berhasil dilakukan dapat ditelusuri siapakah affiliate marketer-nya. Affiliate marketer (pelaku affiliate marketing) ini kemudian mendapat komisi sekian persen dari omzet yang diperolehnya. Keuntungan model affiliate marketing ini adalah affiliate marketer tidak perlu menanggung inventory, dia hanya bermodal personal computer (PC) dan koneksi internet. Sebagai pemilik barang, anda pun tidak perlu memberikan stok barang anda untuk dijual oleh para “dropshipper” ini. Jadi kira-kira, affiliate marketer itu bisa kita analogikan dengan para dropshipper. Bedanya, affiliate marketer bekerja dengan modal link URL dari pemilik barang. Sekarang anda tinggal memilih, mau menjual produk/jasa anda dengan bantuan para affiliate marketer, atau anda mau menjadi affiliate marketer itu sendiri? Jawabannya terserah anda.

Marketing through social chatting. Brandnya ada Whatsapp, Line, KakaoTalk, BlackBerry Messenger, dan lain-lain. Social chatting menggunakan kanal internet juga, sebab itu bisa kita kategorikan ke dalam internet marketing. Ada dua fungsi yang bisa kita optimalkan. Pertama adalah broadcasting. Jadi sekali dalam beberapa waktu – saya kira yang masih sopan dan tidak akan di-remove adalah broadcast sekali dalam sepekan – kita lakukan promosi tembak massal. Ini sekaligus untuk mengingatkan konsumen akan brand kita. Syukur Alhamdulillah bila ada yang tertarik beli. Kedua adalah fungsi social chatting sebagai customer service (CS) alias fungsi yang langsung berhadapan dengan (calon) konsumen. Mulai dari menjawab pertanyaan mengenai produk/jasa, melakukan penutupan (closing) penjualan, hingga menerima keluhan dari konsumen yang sudah pernah membeli atau sudah menjadi pelanggan.

• Marketing through blog. Jadi produk/jasa anda dipasarkan melalui kalimat-kalimat deskriptif yang menjelaskan dan meyakinkan konsumen akan produk/jasa tersebut. Di samping itu, dapat menggunakan video dan gambar untuk memberikan tampilan visual dan audio juga dapat anda gunakan. Tantangannya adalah membuat banyak artikel dengan panjang minimal 300 kata, maksimal 1000 kata. Antar artikel harus terhubung satu sama lain dan jangan ada pengulangan konten pada artikel yang lain.

Selain yang sudah disebutkan, dari mana lagi kita bisa belajar saluran-saluran internet marketing? Saya yakin, buku BOM (Bisnis Online Milyaran) bisa jadi salah satu referensi anda. Berminat? Silakan klik di sini.   

Demikian tips internet marketing kali ini. Semoga klasifikasi dan teknik pemanfaatan secara sederhana ini bermanfaat bagi anda dalam meningkatkan penjualan serta menumbuhkan usaha bisnis yang anda geluti.

Related Post:
Internet: Static vs Mobile
Internet: Kini dan Akan Datang

Area Sales Champion

Pertumbuhan usaha bisnis lewat pengembangan dan perluasan wilayah pemasaran tidak selamanya berjalan mulus. Salah satu kuncinya ada di tangan para Area Manager. Posisi inilah yang menjadi ujung tombak pemasaran dan penjualan di wilayah-wilayah. Bisa dikatakan, mereka adalah segelintir orang yang sangat menentukan naik turunnya keberjalanan dan pertumbuhan perusahaan tahun demi tahun.

Supaya berhasil, posisi area manager haruslah diisi oleh mereka yang “Juara”. Area Manager yang juara akan menghadirkan omzet dan profit dari tangan dingin mereka. Mau ditempatkan di manapun, area manager yang “Juara” akan berhasil mengelola dan memimpin pasukannya untuk meraih kejayaan pemasaran dan penjualan. Area Manager yang “Juara” mampu memberdayakan beragam infrastruktur yang telah diberikan oleh kantor pusat.

Selama kami melakukan training Area Manager di beberapa perusahaan dalam 2-3 tahun terakhir, akhirnya kami menemukan beberapa peran yang masih dan akan relevan dengan fungsi dan posisi Area Manager selaku penanggung jawab target penjualan di wilayah-wilayah. Ke depannya, 4 peran yang diharapkan dari Area Manager berikut ini adalah enabler ketika berhadapan dan bersiasat dengan pasar yang bertumbuh dan kompetisi yang kian sengit.

Leader
Area Manager harus berperan sebagai leader (pemimpin) dalam mengelola internal kantor cabang untuk menghadapi kekuatan eksternal (kompetitor & pasar). Rekan-rekan salesman yang dipimpinnya merupakan sumber daya yang harus dikelola secara benar dan efektif. Maklum saja, ujung tombak penjualan dari waktu ke waktu adalah para salesman yang harus dimotivasi dengan teknik yang tepat, sekaligus pengembangan budaya salesmanship yang kondusif.

Di samping itu, kinerja penjualan tiap-tiap salesman harus terus-menerus diawasi bersama dengan dukungan remunerasi yang memberikan dorongan positif. Kompensasi dan insentif yang diramu sedemikian rupa merupakan kunci menuju produktivitas penjualan. Mereka yang sukses menjalankan perannya ketika customer visit lalu membukukan penjualan, tentunya harus diganjar dengan kompensasi dan insentif yang setmpal.

Marketer
Area manager memiliki mindset sebagai seorang marketer yang menguasai strategi-strategi marketing. Di antaranya adalah Integrated Marketing Communication (IMC) untuk meningkatkan brand equity di wilayah tersebut, serta teknik-teknik sales promotion yang berujung pada naiknya hasil penjualan. Termasuk bila harus bersinergi dengan brand lain untuk mengeksekusi program-program Co-Marketing.

Marketer yang hebat itu seperti sniper (penembak jitu), bukan Rambo yang menghambur-hamburkan amunisi (budget) marketing. Makanya marketing sniper yang tangguh juga harus mampu melakukan SWOT Analysis keadaan di pasar/lapangan secara tepat. Dari analisis yang sudah tajam, baru diturunkan menjadi teknik-teknik IMC dan sales promotion yang relevan di area tersebut.

Salesman
Area Manager memiliki pemahaman dan kemampuan mengenai teknik-teknik sales (penjualan) untuk memenangkan pertempuran di lapangan. Sebab, medan pertarungan sesungguhnya adalah melalui penguasaan produk di ceruk-ceruk pasar yang tersedia. Sehingga, penguasaan ilmu Territory Management menjadi relevan dalam memenangkan kompetisi. Penggarapan wilayah penjualan menjadi lebih efektif dengan ilmu tersebut.

Secara vertikal, salesman “Juara” selalu mampu membangun dan menjaga hubungan dengan para pelanggan. Konsumen yang sudah dekat berakibat lahirnya loyalitas pembelian-pembelian berikutnya. Selama harga masih “masuk”, konsumen akan berpikir dua kali untuk pindah dari salesman yang sudah dikenal sejak lama. Lebih lanjut, biaya marketing dan penjualan akan lebih rendah dengan adanya pelanggan tetap.

Servant
Area Manager memiliki mindset sebagai servant (pelayan), sehingga dapat menjalankan fungsi “pelayanan” dengan baik kepada para salesman yang dipimpinnya maupun para pelanggan. Sebabnya tidak lain dan tidak bukan adalah persaingan yang semakin kompetitif. Bertarung di level fitur sudah sulit, karena semua pemain kini sudah mampu. Sehingga layanan menjadi alat baru untuk berbuat berbeda (different) sehingga tetap survive di pasar.

Para “Servant” biasanya memang memiliki niat yang tulus nan ikhlas untuk melayani berbagai kebutuhan pelanggan di internal (salesman) maupun eksternal (klien). Servant yang “Juara” itu seperti walikota Bandung, Ridwan Kamil. Pengabdiannya tidak kenal jabatan. Baik pegawai internal kantor walikota, maupun masyarakat umum dilayani olehnya dengan tulus ikhlas tanpa harap pamrih yang beraneka rupa.

Dari peran-peran yang sudah terurai di atas, semakin kita pahami dan yakin bahwa Area Manager adalah tulang punggung perusahaan. Keberadaan mereka semakin krusial dengan pasar ASEAN yang tumbuh besar dan kompetitif mulai tahun 2015. Dan dengan memahami dan menghayati keempat peran di atas, Area Manager kini dapat memenuhi tanggung jawabnya serta mencapai targetnya: Area Sales Champion. Bravo, Area Manager Indonesia!!

Related Post(s)