Passion is Overrated

Kurang lebih beberapa belas tahun lalu, passion dipandang sangat penting. Bahkan, nyaris segalanya dalam berkarya. Lewat tulisan ini, mari pelajari cara memvalidasi passion supaya kita tidak terjebak dengan eutopia olehnya.

Katanya sih begitu. Passion is overrated. Tapi kini saya setuju. Awalnya saya sangat mendewa-dewakan passion. Bukan apa-apa. Kita menghabiskan berjam-jam waktu untuk bekerja (dan mencari uang), bagaimana bisa kita tidak bahagia setelah menghambur-hamburkan sekian jam tersebut setiap harinya? So, I conclude that passion is important for me, at least for my own happiness.

Sampai akhirnya kemudian saya mulai menyadari bahwa saya harus tumbuh. Bukan sekadar pribadi saya sendiri, tetapi juga menumbuhkan istri dan anak-anak saya. Dengan kata lain, menumbuhkan keluarga saya. Ada kewajiban-kewajiban sangat mendasar yang mereka butuhkan. Pangan, sandang, papan. Di sisi lain, ada kebutuhan maupun keinginan lain dari mereka yang datang kepada saya dengan nominal label harga tertentu. Bukan sekedar tertentu, melainkan harga mati yang tidak bisa ditawar lagi. Yang saya harus membayarnya.

Akhirnya, bagi saya sendiri, saya juga harus memiliki target kuantitatif yang jelas dan transparan. Untuk menutupi dan mencukupi berbagai kebutuhan dan keinginan tersebut tadi. Di sisi lain, mengakomodasi aspirasi keluarga kecil saya juga berarti bertumbuh dan berkembang bersama mereka secara sosial (dengan siapa kami berteman dan berhubungan) maupun ekonomi (bagaimana kami memperoleh uang dan mempertahankan gaya hidup).

Itulah alasan pertama passion is overrated. Karena bila kita egois hanya memikirkan passion dan kebahagiaan kita sendiri saja, maka kita sudah memberi nilai yang berlebihan (overrated) pada passion. Padahal, selaku suami dan ayah yang –katanya– bertanggung jawab, kita tidak boleh egois. Keluarga kita adalah pelanggan utama (prime customer) kita, yang harus kita rawat dan tumbuhkan. Dan passion tidak melakukan keduanya. Karya dan hasil nyata –berupa uang– yang mampu melakukannya.

Alasan kedua, adalah kita terlampau cepat menilai apa sebenarnya passion kita. Terlalu instant dalam menentukan dan memutuskan aktifitas/hobi apa yang ingin kita jalani. Terutama yang menghasilkan uang. Passion yang kira-kira menghabiskan banyak waktu, baik waktu sibuk maupun waktu senggang dan tetap menghasilkan.

Validasi Passion

Padahal validasi wajib dilakukan terhadap yang kita sebut “passion”. Beberapa periksa ulang yang harus dikerjakan:

  • Apakah ini passion sesaat (1-2 tahun saja) atau benar-benar yang ingin kita lakukan berpuluh-puluh tahun dalam hidup kita?
  • Apakah kita hanya ingin tampak keren (cool) dengan apa yang kita kerjakan, atau bahkan tidak ada masalah bila orang lain memandang dengan sebelah mata?
  • Apakah ini benar-benar menghasilkan uang yang lebih dari cukup –yang bisa membayar tagihan-tagihan kita– bila ditekuni terus-menerus?
  • Apakah kita benar-benar bahagia mengerjakan ini, atau apabila sedang dikejar tenggat waktu (deadline) atau sedang tertekan (stressed) kita akan tetap meneruskan passion ini?

Bila mengamati dan membandingkan Gen-X dan Gen-Y, saya menemukan bahwa Gen-X itu tidak ambil pusing dengan apa yang terjadi di tempat kerja mereka. Berbeda dengan Gen-Y yang bersikap sangat emosional terhadap segala yang dikerjakan. Sehingga, di mana saja dan kapan saja terus-menerus memikirkan apa yang sudah/sedang/akan dikerjakan. Gen-Y sangat terkoneksi dengan apa yang mereka kerjakan. Tidak heran Gen-Y benar-benar memilih apa yang ingin dikerjakan dalam hidup. Salah memilih sama artinya dengan melempar bumerang –yang kembali ke diri sendiri.

Salah satu sebabnya mungkin adalah betapa terkoneksinya kita dengan dunia digital, terutama social media. Dengannya, kita selalu membandingkan hidup kita dengan hidup orang lain. Seakan rumput tetangga selalu lebih hijau. Padahal, konten bisa direkayasa, ‘kan? Hanya yang indah-indah yang ditampilkan. Kita harus tahu dan yakin bahwasanya setiap orang memiliki masalah dan perjuangannya masing-masing. Di antaranya:

  • Ada yang sudah menemukan dan bekerja sesuai passion, ternyata hasil uangnya belum cukup untuknya. Apalagi sampai memuaskan keinginan ekonominya dan mengangkat gaya hidupnya.
  • Ada yang punya harta lebih dari cukup. Tapi jauh di dalam hatinya, tidak senang dengan apa yang dikerjakan.

Beruntunglah mereka yang sedang menjalani passion dan menghasilkan uang yang bisa membayar tagihan-tagihan mereka sendiri. Apalagi jika mereka menemukannya sudah sejak muda. Mudah-mudahan anda termasuk di dalamnya.

Dalam mencari dan menemukan passion itu kita harus menyediakan waktu yang banyak. Bertahun-tahun, bahkan. Tidak heran ada yang baru mantap menjalani passion-nya di atas usia 30 tahun. Berapa persisnya itu? 8 tahun setelah lulus kuliah. Atau malah 12 tahun sejak lulus SMA/SMK.

Simpulan

Sebagai kesimpulan, apa saja yang harus dikerjakan?

  • Fokus untuk memvalidasi sedikitnya 4 hal yang sudah disebut di pointer-pointer pertama.
  • Menyediakan waktu membangun keterampilan (skill) di bidang tersebut. Ini aspek internal, sebenarnya.

Silaturahmi dan berjejaring (networking). Selain sebagai bagian dari proses validasi, keduanya membantu kita mengembangkan pelanggan dan pasar kita. Di sinilah aspek eksternalnya.

Menyelami filosofi rumah panggung milik Suku Bugis

Desain rumah adat bukan sekadar karakteristik pembeda atau ciri khas semata. Melainkan ada fungsi-fungsi yang disediakan olehnya serta ada pula kebutuhan akan kecocokan dengan tipe aktifitas masyarakat setempat itu sendiri. Berikut ulasan saya mengenai rumah adat suku bugis.

Beberapa suku bangsa di Indonesia memiliki karakteristrik rumah adat tradisional masing-masing. Berhubung saya sedang berpariwisata sekaligus bersilaturahmi ke keluarga besar di tanah Sulawesi Selatan (Sulsel), izinkan saya mengulas filosofi dari rumah-rumah panggung yang menjadi tempat menginap kami selama beberapa hari. Sebisa mungkin saya lengkapi dengan referensi dari luar. Namun, sebagian besar tulisan ini merupakan eksplorasi dan eksploitasi saya pada fungsionalitas dari desain rumah-rumah panggung tersebut.

Rumah ini lumayan banyak betonnya. Padahal ya rumah panggung juga. Dinding rumahnya pun masih didominasi kayu. Bagian depannya saja yang diberi dak beton.

Namanya rumah panggung, penghuni maupun para tamu langsung “disambut” oleh tangga –yang terletak di depan rumah– menuju ke lantai dua. Beberapa rumah panggung bahkan memiliki dua tangga. Satu di depan, satu di samping. Jadi, rata-rata ruang tamunya berada di “panggung”-nya tersebut. Bagian kolong rumah menjadi gudang, kebun, kandang ayam, kamar mandi, dan lain-lain. Saya duga, rumah panggung ini didesain demikian karena suatu alasan khusus. Namun bukan alasan semisal banyaknya binatang buas, sehingga penghuninya harus diamankan dari binatang buas tersebut.

Bagian depan rumah panggung. Di sisi kiri, terlihat tangga depan ya. Biasanya tiap rumah ada dua tangga. Depan-samping atau depan-belakang. Lihat, semuanya didominasi kayu: lantai, tangga, plafon. Atap depan saja yang sudah menggunakan genteng metal + rangka baja ringan.

Kalau versi ‘mistis’ dari desain dan rancangan rumah panggung konon sebagai berikut ini. Dahulu, nenek moyang kita percaya dengan kekuatan-kekuatan alam. Di mana, ‘atas’ adalah alam Tuhan, ‘tengah’ adalah alam manusia, dan alam ‘bawah’. Tidak heran, hewan-hewan diternakkan di bawah panggung rumah, manusia di ‘tengah’ alias di panggung-nya, dengan bagian atap berperan sebagai lumbung padi perlambang anugerah pemberian Tuhan.

Struktur dan lantainya didominasi oleh kayu pohon ulin. Jadi bisa dikatakan, rumah-rumah panggung di sini didominasi oleh kayu dan perkayuan. Jangan meremehkan karakter kayu sebagai bahan dasar pembangunan rumah ya. Karena kayu memiliki kelebihan pada kelenturannya. Jadi meski dihuni oleh banyak orang, rumah panggung berbahan kayu pun tidak ambruk. Sebab, berbagai tekanan maupun getaran yang ditimbulkan akan diserap oleh kelenturan material kayu tersebut. Terasa sekali dari langkah-langkah kaki kita di atas rumah panggung, namun tanpa perlu diliputi oleh rasa kekhawatiran akan kemungkinan ‘terjeblosnya’ kita ke bawah.

(Mungkin foto kurang jelas) Di seberang sana ada mobil terlihat, ‘kan? Nah itu memang jalan raya. Jadi di perbatasan Parepare-Barru memang ada lembah sedikit di kanan-kiri jalan raya. Di lembah itulah rumah panggung dibangun. Memang dekat dengan pantai dan banyak sungai ya, jadi gak heran tanah tempat berdirinya rumah lebih rendah dari jalan raya.

Untuk cuci piring, kebanyakan melakukannya di lantai keramik (kira-kira luasnya 2×1 meter) yang diisolasi oleh dinding bata berkeramik setinggi kurang lebih 10-15 cm. Jadi ada keran di sini yang menarik air dari bawah ditemani dengan beberapa buah ember/waskom. Hanya sebagian kecil rumah panggung yang memiliki bak cuci (washtank).

Sebagaimana sudah disebut di atas, kamar mandi banyak pula yang berada di bagian bawah rumah. Alias dari ‘panggung’ harus menuruni tangga-tangga kayu menuju kamar mandi atau toilet; yang bila masih sangat tradisional, mengandalkan air dari sumur. Lebih canggih sedikit, akan menggunakan pompa air dan keran.

Wah, ini sebenarnya masih di rumah yg gambar pertama di atas. Rumah dominasi beton yg di seberang sana. Kalau dari tempat saya memotret ini, masih 95% kayu. Tuh, terlihat kan ya, tiang-tiang dari kayu ulin di rumah seberang. Ada pondasi kecilnya juga. Pondasinya gak disembunyikan di tanah. Jadi pondasinya memang terlihat begitu.

Di daerah keluarga saya banyak bertempat tinggal (dekat Kota Parepare tapi masih wilayah Barru, sudah cukup modern secara pengetahuan dan relatif mapan ekonomi masyarakat setempat. Meskipun rumah berbahan kayu, namun memiliki kendaraan pribadi (didominasi sepeda motor, sebagian kecil memiliki mobil) dan pemuda-pemudanya banyak yang sarjana –dari kota Makassar.

Karena hampir 100% didominasi oleh kayu –saya pakai kata ‘hampir’ karena saya gak yakin sepenuhnya rumah-rumah panggung ini benar-benar 100% kayu—maka bisa dikatakan rumah ini relatif ringan. Dan oleh sebab itu, rumah panggung tersebut dapat dipindahkan!

Dan ternyata pemindahan rumah panggung memang pernah terjadi di keluarga besar kami. Yaitu ketika nenek saya menjual bangunan rumahnya kepada seorang tetangga. Jadi bangunan tersebut dipindahkan oleh banyak warga masyarakat (tentu didominasi oleh tetangga setempat, ya) ke tanah milik tetangga tersebut yang berjarak hanya puluhan meter. Jadi, transaksi yang terjadi bukan jual beli tanah dan bangunan –seperti yang umum terjadi—namun, hanya meliputi bangunannya saja.

Berikut ini contoh pemindahan bangunan rumah panggung –yang ternyata ada upacaranya segala. https://www.youtube.com/watch?v=uXrzpGCebKw

Berhubung kebanyakan kota-kota di Sulsel masih didominasi oleh kabupaten (hanya tiga kotamadya, yaitu Makassar selaku Ibukota Provinsi, Parepare serta Palopo) yang mencerminkan pula tingkat perekonomian secara umum, maka bisa dikatakan harga tanah relatif belum mahal di kabupaten-kabupaten tersebut. Sehingga kepemilikan tanah pun relatif luas (di atas 150 meter persegi) yang berakibat pada luasnya bangunan rumah-rumah panggung tersebut di atas.

Nah, dalam pada tingkat keakraban antar warga yang masih kental, diikuti dengan aktifitas warga masyarakat yang tidak terlalu commute seperti di Jabodetabek, maka bangunan rumah panggung berfungsi ganda. Tidak hanya sekedar tempat tinggal, namun juga sebagai lokasi penyelenggaraan acara-acara besar keluarga seperti akad nikah, sunatan, dan acara-acara monumental lainnya.

Bangunan yang luas, didukung dengan keakraban dan bantuan dari tetangga-tetangga dalam penyelenggaraan acara, semakin mengokohkan posisi rumah panggung sebagai (1) tempat tinggal yang cocok untuk lingkungan kabupaten dengan jarak antar rumah yang tidak saling menempel, dan sebagai (2) infrastruktur yang menopang kokohnya kehidupan bermasyarakat warga bugis di Sulsel.

Sekedar perbandingan, semakin memasuki pusat Kota Parepare, maka kita akan semakin jarang menemukan keberadaan rumah panggung. Kurang lebih, perkiraan kasar hasil observasi saya, rumah panggung sudah berkurang hingga 20%-25% saja. Di dalam lingkungan perkotaan yang padat penduduk, dengan harga tanah relatif lebih mahal, maka rumah panggung bukan lagi solusi tempat tinggal yang wajib mendapat prioritas utama. Masih tetap ada yang mempertahankan rumah panggung di Kota Parepare, namun keberadaannya tidak sebanding dengan dominasi rumah batu (bata).

Demikian observasi kasar saya selama dua hari di Kabupaten Barru dan dua hari di Kota Parepare ini. Besok pagi kami akan menempuh perjalanan menuju Kota Makassar. Yang tentunya, dinamika tempat tinggalnya lebih tinggi daripada dua daerah tingkat II yang sudah disebutkan sebelumnya.

Tiga Sejarah yang Perlu Kita Ketahui terkait Sistem Per-Sekolah-an

Perihal sejarah sistem per-sekolah-an, yaitu playground, tes IQ dan homeschooling

PlayGroup (PG) atau lazimnya disebut Kelompok Bermain (KB)

Menurut sejarah, memasukkan anak ke playgroup adalah pilihan keterpaksaan daripada anak diasuh oleh pengasuh yang tidak berpengalaman dan terlatih. Latar belakangnya begini: Tahun 1960-an, Alvin Toffler pernah meramalkan bahwa nanti di Amerika akan terjadi Future Shock! Para ibu yang sebelumnya memiliki waktu untuk  mengasuh anak di rumah, akan menjadi ibu-ibu bekerja (Working Mom) seingga anak-anak tidak lagi ada yang mengasuh di rumah.

Oleh sebab itu, (mungkin kejadiannya di Amerika Serikat sana), perlu dibuat (dan diregulasikan) suatu institusi yang bisa “menggantikan” peran ibu – terutama ketika si ibu sedang bekerja. Jika tidak, akan terjadi generasi yang hilang (Lost Generation) karena perubahan gaya hidup di tingkat masyarakat tersebut. Pemerintah kemudian bereaksi. Dibuatlah sekolah untuk anak-anak batita (bawah tiga tahun, atau toddler). Yang tujuan utamanya sebagai langkah antisipasi agar tidak terjadi Lost Generation karena masa batita dan balita (bawah lima tahun) adalah masa emas pertumbuhan otak anak.

Komentar saya: mungkin fenomena ibu bekerja dan playgroup ini baru beberapa tahun terakhir masif terjadi di Indonesia secara umum, ya (kalau Jakarta jelas sudah lebih lama). Bermunculanlah banyak playgroup, termasuk yang franchise dari luar negeri. Kembali ke sejarah tersebut, jadi sesungguhnya playgroup hanyalah sebuah alternatif saja. Bukan keharusan di mana stay-at-home mom juga harus menitipkan putra-putrinya di Playground. Rekan-rekan saya yang pasutri bekerja pun menitipkan putra/putrinya di PG karena belum trust dengan ART/pengasuh mereka. Saya setuju dengan ustadz Bendri Jaisyurrahman yang menyatakan bahwa ibu adalah guru pertama bagi anak-anaknya dengan ayahnya sebagai kepala sekolahnya.

Tes IQ untuk penerimaan siswa sekolah.

Menurut sejarah, pada saat terjadi Perang Dunia I, Alfred Binet seorang psikolog berkebangsaan Prancis, diminta oleh pemerintahnya membuat tes untuk proses rekrutmen calon tentara. Tes ini memberikan legitimasi atau alasan siapa yang diterima dan tidak diterima sebagai calon prajurit.

Pada masa itu, belum ada riset mengenai otak dan cara kerja otak. Basis dalam mengukur kecerdasan bukan didasarkan pada cara otak manusia bekerja, melainkan data/fakta “Bell Curve”, alias kurva lonceng. Bahwa dengan tes IQ tersebut dan hasil kurva loncengnya, maka dapat dijadikan dasar memisahkan atau mengklasifikasikan kegagalan atau keberhasilan seseorang yang asumsinya akan turut menentukan kesuksesan karir seseorang. Put simply, kalau IQ-nya tinggi maka dia akan sukses sebagai tentara. Hhmmm, kayaknya gak gitu juga deh, ya? 🙂

Tes IQ untuk rekrutmen calon tentara tersebut dirasa berhasil (padahal mungkin belum ada tes pembanding yang sepadan dalam hal mengukur cara kerja otak), sehingga perlahan-lahan diujicobakan untuk penerimaan karyawan di dekade-dekade berikutnya. Tidak hanya di ketentaraan, maupun kepegawaian secara umum, namun juga mindset kurva lonceng tersebut juga terinstalasi di sekolah-sekolah kita.

Komentar saya: mereka yang mengalami proses pendidikan dan pencerahan pikiran lewat sekolah (termasuk saya) menyadari dan mengakui bahwasanya sekolah bukanlah tempat berkompetisi. Dalam kisah mengenai tes IQ di atas, bahkan “kompetisi” tersebut sudah dimulai sebelum masuk sekolah. Pasca proses pembelajaran berlangsung, hasil evaluasi kumulatifnya para siswa dengan nilai terbaik (biasanya tiga besar) diurutkan di antara 30-an siswa di kelasnya. Makin kental lah unsur kompetisi di sekolah. Padahal minat, bakat, serta cara kerja otak antara siswa yang satu dengan siswa lainnya bisa jadi sangat berbeda. Kita mengkompetisikan mereka pada bidang yang start-nya saja tidak sama, bagaimana bisa? Menurut Howard Gardner, ada 9 tipe kecerdasan. Dan siswa-siswa kita, sebagaimana kita semua, memiliki dua atau tiga kecerdasan di antaranya yang berkembang jauh lebih baik dibandingkan dengan kecerdasan-kecerdasan lainnya. Fokus pendidikan kita via sistem sekolah, (mungkin) seharusnya didasarkan pada dua atau tiga kecerdasan utama tersebut.

Homeschooling.

Awalnya, homeschooling lahir di Eropa, sekitar tahun 1980-an, ketika sebagian orangtua di Inggris kecewa dengan sistem sekolah yang ada. Menurut mereka, sistem pendidikan yang ada tidak mengakomodasikan keunikan masing-masing anak. Tidak semua pandai Matematika atau Fisika. Ada yang berminat dan berbakat di bidang menulis, menggambar, musik, menari atau lainnya.

Kalau sistem sekolah masih mengagungkan anak-anak yang pandai Matematika, Fisika, dan sejenisnya itu, bagaimana nasib anak-anak lain? Apakah mereka akan terpinggirkan atau dianggap gagal?

Dari sana, muncullah ide membuat sekolah di rumah (school at home) yang diajarkan oleh orangtua sendiri. Jadi, di Eropa, homeschooling justru dipelopori oleh kaum intelektual yang sudah berpengalaman di sekolah, memiliki waktu luang cukup banyak, mampu secara keuangan, tetapi kurang percaya dengan sistem sekolah yang ada.

Flash Back

Kami ada putra-putra usia 4,5 tahun di rumah. Bila dibandingkan yang seusia dengan mereka, ada yang sudah sekolah sejak PG, ada yang baru memulai sekolah dengan TK di tahun ini, ada pula yang seperti mereka–masih belum sekolah.

Beberapa bulan lalu, kami galau soal kapan sebaiknya menyekolahkan mereka ke TK. Sempat kami merencanakan untuk tahun ini memulai TK-nya. Pada akhirnya, dengan berbagai pertimbangan kami menetapkan bahwa TK-nya tahun depan saja. Dalam beberapa bulan ini memang kami jadi semakin memahami dan mengakui aspek-aspek perkembangan mental dan sosial mereka serta kapan dan bagaimana seharusnya pihak eksternal seperti sekolah harus mulai dilibatkan dalam proses pendidikan yang akan mereka jalani.

Yeah, dalam pada itu, diskursus seputar playground (PG, alias Kelompok Bermain, atau KB), 9 kecerdasan ala Howard Gardner, dan Homeschooling (sebagaimana sudah disebut-sebut dan dijelaskan di atas) menjadi ranah riset, diskusi dan perdebatan kami selaku orang tua.

Apalagi beberapa desas-desus menyatakan bahwa sekolah dasar (SD) negeri wajib menerima siswa di atas 7 tahun. Kalau kami menyekolah TK-kan sekarang, maka nanti TK B nya perlu diulang lagi sembari menunggu 7 tahun. Di sisi lain, seseorang (yah, banyak dari kita mengalami) yang mulai sekolah, tidak akan berhenti –atau rehat sejenak– dari sekolah sampai dengan lulus kuliah.

Dunia Berubah Setiap 30 Tahun, Lalu Apa Yang Harus Dilakukan?

Tiga puluh tahun yang lalu jelas berbeda dengan yang sekarang. Yang sekarang pun, jelas akan berbeda dengan yang terjadi 30 tahun lagi. Bagaimana menyikapinya?

Waktu kecil dahulu, saya jarang ke luar kota. Keluar kota pertama yang benar-benar saya ingat adalah ikut lomba matematika mewakili sekolah. Ke Samarinda. Ikut lomba, kalah, menangis, jalan-sore-makan-malam-kembali-ke-asrama. Esoknya pulang tanpa memahami bahwa si Samarinda ini (demikian pula dengan Balikpapan) sebenarnya hidup dari mana. Lebih tepatnya, hidup dari industri apa.

Long-story short, saya end-up dengan memahami bahwa tidak semua orang/keluarga/kota memiliki keberuntungan ekonomi. Saya pikir, semua kota itu seperti Bontang. Dibangun oleh perusahaan instead of penduduknya. FYI, Bontang itu menghasilkan gas alam. So, pemerintah kita bangun industri pupuk berbahan baku si gas alam tersebut. Jadi keramaian penduduknya, maupun ekonominya, termasuk fasilitas umum di kota tersebut ya dibangun oleh si dua perusahaan tersebut.

Actually, seumur-umur mungkin hanya 1-2 kali saya ke Bontang. Tapi berhubung pernah sepedaan di kompleksnya Petrokimia Gresik, kebayang lha, seperti apa kotanya. Industrinya sedemikian besar sehingga pabrik, kantor, perumahan semua berada dalam satu kawasan besar.

Kembali ke Balikpapan, di tahun di mana Donald Trump dilantik dan bersamaan dengan Pilkada DKI, satu di antara tiga perusahaan asing sudah habis kontraknya dengan negara. Jadi, lapangan minyaknya dikembalikan ke negara (via Pertamina), tentu saja. Setahun kemudian, satu big company lagi menyusul. Simply karena kontrak berdurasi 30 tahun tersebut sudah habis.

Kata rekan-rekan sekolah, ekonomi turun signifikan. Apalagi 1-2 tahun sebelumnya harga batu bara demikian rendahnya. FYI, ada titik harga tertentu pada batubara, yang sedemikian tingginya sehingga kamu bisa menyekop sendiri batu bara, memasukkan ke dalam karung, lalu menjualnya.

Pasca harga batu bara kembali membaik, hanya mereka company yang punya backup politik dan kemampuan modal yang mampu melanjutkan operasinya: mengupas kulit bumi dan “menyekop” batubara.

Sekarang, di Balikpapan praktis mengandalkan “sisa-sisa” perusahaan minyak tersebut, industri batubara, serta ritel yang semakin berkembang. Alfamidi mendominasi di sana. Setidaknya, ada dua brand lokal dengan beberapa cabang. Lalu, sebagai kota yang disinggahi untuk menuju daerah Kaltim lainnya, Balikpapan punya industri MICE yang lumayan.

Yang Sekarang Berkembang

As you know, sekarang industri yang berkembang adalah yang terkait IT startup. Kota yang “beruntung” tentu jakarta. Hampir semua berawal di sana dan masih bermarkas besar di sana. Sebagian kecil mulai memasuki Bandung sebagai R&D Center. Lalu, mulai buka kantor cabang operasional di kota-kota besar di Indonesia. Gojek sudah di 167 kota dan kabupaten. Konon, Tokopedia akan ekspansi berupa warehouse di sedikit kota besar di Indonesia. Mereka yang berjualan dengan Go-Food akan naik 150% dibanding yang hanya buka offline saja. Mereka yang pakai MokaPos akan dapat insight terkait bisnis yang mereka geluti.

Intinya adalah dunia terus berubah. Perubahan tidak bisa dilawan, tapi bisa diajak berkawan. Memang ini lagi zamannya IT, maka memasuki IT-related industry mestinya sudah pilihan yang tepat. Tapi bagaimana dengan 30 tahun lagi? Seiring berjalannya waktu, tentu kita harus terus mengobservasi, melakukan beberapa testing, sembari menyimak apa kata konsultan.

Simpulan

Kita tidak bisa menjamin bahwa anak-anak kita akan menjalani industri yang sama dengan kita hari ini. Namun, kita perlu menanamkan kepada mereka bahwasanya dunia terus berubah dan mereka wajib mempersiapkan diri dengan apa yang akan terjadi 30 tahun dari sekarang.

How to Control and Drive Your Introvertness?

Contents: 1. Do your own meditation 2. It’s oke to not climbing the corporate ladder 3. Never Eat Alone.

Sewaktu istri dan adik perempuan saya dengar dari saya sendiri bahwa saya seorang introvert, mereka kaget. Awalnya, mereka duga saya adalah seorang ekstrovert. Tapi saya tidak mau bertanya lebih lanjut, saat itu.

Ada dua kemungkinan memang. Pertama, spektrum introvert-ekstrovert yang mereka kenal, mungkin berbeda dengan yang saya ketahui. Kemungkinan lainnya adalah saya sudah berubah menjadi lebih ekstrovert daripada yang bahkan saya pernah duga.

Saya mau bahas topik ini, simply karena ternyata banyak introvert ini merasa tidak nyaman dengan weakness yang secara umum disematkan kepada para introvert. Misalnya, karakter seperti pendiam, tidak mau bergaul, dan sebagainya.

Saya mengakui saya cukup pendiam, memilih-milih dengan siapa saya berinteraksi, mencari inspirasi dari dalam diri saya sendiri, dst. Beberapa menilai saya “lemah” karena demikian.

Padahal, namanya juga karakter kan, ada strength dan weakness-nya. Demikian juga dalam karakter introvert. Pasti ada keduanya. Tidak mungkin cuma punya strength. Pasti ada wekness-nya juga. Oleh sebab itu, dengan bijak saya pikir dan simpulkan, jangan bahas weakness-nya seseorang saja. Itu tidak nyaman dan sesungguhnya tidak sopan.

Lihat yang saya temukan di quora. Pertanyaannya berbunyi, “Mengapa introvert sering dipandang rendah?” Hal ini tentu mengindikasikan temuan-temuan di lapangan yang notabene memang demikian adanya.

Daripada bertanya demikian, menurut hemat saya, lebih baik pikirkan tentang strength orang tersebut dan apa yang bisa kamu lakukan bersama dengannya. Jadi, berikut ini tanggapan saya terhadap pertanyaan tersebut.

Menurut saya, karena lingkungan kita terlalu mengidolakan para extrovert.

Padahal, kita sebagai individu maupun kelompok, membutuhkan keduanya secara seimbang. Berikut beberapa kasusnya:

Orang-orang ekstrovert jago menjual apa saja. Bahkan untuk hal sederhana seperti makan di mana, pergi ke mana. Kita introvert tidak harus seperti itu. Namun, harap diingat kewajiban kita juga: kita wajib bisa “menjual” gagasan, produk, bahkan karya kita.

Orang-orang ekstrovert tampak berteman dengan semua orang. Untuk introvert, kita cuma harus melakukan filter lalu berhubungan dengan orang-orang yang tepat: para pengambil keputusan, orang berkantong tebal, dll.

Lingkungan kita juga kelewat memberi penilaian lebih pada leadership dan team work. Padahal, hal-hal semacam fokus, konsistensi, perhatian pada detil juga tidak kalah penting.

Introvert dipandang rendah karena tidak bisa memimpin. Terhadap perspektif tersebut, menurut saya, ada dua hal yg bisa dilakukan oleh intovert:

Jadi anggota tim yg baik. Tidak membebani tim, supportif dan melakukan coaching kepada anggota tim yg lain, proaktif terhadap pekerjaan, dst. Jangan lupa sesekali ikut makan siang bareng atau ngopi sore/malam bersama anggota tim yang lain.

Be the best in your area of specialist area. Jadilah yg terbaik, sampai mereka sangat berharap pada anda. Seperti sebuah judul buku, “Be so good, They Can’t Ignore You“.

Dalam dunia kerja, kerja tim (team work) dan kepemimpinan (leadership) adalah dua aspek kepribadian yang dipantau, dinilai dan dianggap signifikan dalam perjalanan perusahaan sebagai sebuah institusi bisnis. Baik sebagai subordinat (bawahan) atau superordinat (atasan).

Ambil contoh resign-nya seorang karyawan. Dari sisi HR (Human Resources) hal tersebut dapat dijadikan sebagai umpan balik (feedback) perihal compensation and benefit. Dari sisi leadership, hal tersebut bisa jadi karena karyawan yang bersangkutan merasa tidak nyaman dalam bekerja. Dalam hal memberikan situasi dan kondisi yang optimal terhadap masing-masing karyawan, memang merupakan seni tersendiri. Seni kepemimpinan. Since, leadership is an art.

Tapi, persoalannya adalah tidak semua introvert mampu memberikan lingkungan yang kondusif bagi tiap pribadi yang menjadi bawahannya, bukan?

Bagaimana kita sebagai introvert memandang hal ini?

Menurut saya, strength-nya introvert itu terletak pada fokus, konsistensi, dan perhatian pada detil. Tentu ini sekilas menurut pandangan saya semata. Sebagaimana tersampaikan dalam jawaban Quora di atas.

Kaitan dengan hubungan terhadap orang lain, introvert secara umum tidak menyerap ide, inspirasi, aspirasi dari orang lain. Introvert malah menemukan ketiganya dari dalam diri sendiri. Tidak heran, introvert yang lelah berada di keramaian kemudian harus memberikan “penawar” yang seimbang berupa meditasi/perenungan/refleksi di kesendirian kepada dirinya,

Leadership and team work seakan domainnya para ekstrovert. Tidak heran hampir seluruh perusahaan menuntut keduanya dari tiap karyawannya. Yang secara tidak langsung menuntut mereka semua berperan dan berkarakter sebagai ekstrovert di perusahaan.

Padahal, dalam tiap pekerjaan masing-masing, terutama yang berkaitan dengan teknis (technique), seni (art), karya (craft) harus diberikan porsi ke-introvert-an (introvertness) yang cukup. Sehingga kita terus-menerus melakukan perbaikan berkelanjutan (continous improvement) pada pekerjaan kita.

Tidak semua pekerja harus naik ke level manajemen. Sebagian karyawan harus didorong untuk menjadi professional yang paling expert di bidangnya masin-masing. Dan sebagai introvert, boleh lho kita memilih untuk masuk ke kategori kedua.

Kaitan dengan pertemanan, ada sebuah buku dengan judul yang sangat provokatif “Never Eat Alone”. Awalnya tidak percaya. Tapi lama-lama terasa benar dan saya selalu berusaha mempraktikkan di setiap waktu. Itu baru satu tips dalam buku tersebut (yang kemudian menjadi judul bukunya, yah). Tapi tips-tips sejenis dari buku tersebut juga sangat bermanfaat dan applicable untuk dipraktikkan.

Demikian renungan hari ini.

Apa Saja Pertanyaan Umum tentang Blog?

Tulisan kali ini membahas frequently asked questions (FAQ) seputar blogging

Artikel kali ini membahas pertanyaan-pertanyaan yang sering ditanyakan (namun masih di area permukaan) tentang blog.

Bagaimana cara mulai ngeblog?

Ya mulai saja dengan bikin akun. Di wordpress.com, blogspot.com atau yang belakangan lagi naik daun: medium.com.

  • Kalau sudah punya akun, akan sayang kalau akunnya tidak dipakai mengisi blog.
  • Kalau sudah ada sedikit artikel, akan sayang untuk tidak diteruskan hingga menjadi banyak.
  • Kalau sudah mulai banyak tulisannya, akan sayang untuk tidak dilakukan secara konsisten,
  • dan seterusnya.

Dari mana ide datang?

Pastinya bisa dari mana saja. Habis baca buku, bisa jadi ide ulasan (review) buku. Ke toko buku, bisa dapat ide tulisan juga. Lakukan aktivitas yang baru sama sekali bisa jadi ide juga: mulai dari mengapa dilakukan, perencanaan seperti apa, pengalaman (experience) bagaimana, hasil apa yang didapat, dan seterusnya.

Platform blog apa yang cocok?

Saya pertama sekali membuat blog di blogspot.com. Entah bagaimana ceritanya, saya hijrah ke wordpress.com. Setelah 10 tahun bersama wordpress.com sekarang saya gunakan mesin WordPress berbayar dengan domain berakhiran .com. Target saya dengan blog baru https://ikhwanalim.com ini setidaknya akan saya gunakan selama 10 tahun ke depan.

Bisa dikatakan, saya cocoknya dengan WordPress. Tapi belakangan ini mulai ada CMS (Content Management System) baru bermerek Medium. Cukup menarik juga. Tapi tidak cukup membuat saya hijrah dari WP.

Bagaimana supaya blognya rame?

  • Perbanyak tulisannya.
  • Menulis yang panjang di setiap artikelnya.
  • Bikin pancingan di tiap akhir paragraf, supaya reader tidak stop membaca dan meneruskan ke paragraf yang baru.
  • Lakukan promosi ke akun social media (facebook, instagram, fan page). Saya bikin fan page Authentic Marketing di sini. Tolong di-follow ya 🙂
  • Pelajari statistiknya. Kenali siapa yang datang, dia datang karena kata kunci (keyword) yang mana, artikel (post) apa yang paling sering dikunjungi?
  • Bikin perencanaan konten. Terutama berdasarkan wawasan (insight) dari statistik yang sudah dipelajari. Riset Content Marketing ini bisa kamu pelajari.

Bagaimana caranya supaya bisa konsisten?

Bagaimana cara mulai menghasilkan dari blog?

  • Mulai menulis
  • Fokus di niche tertentu
  • Bermain Google AdSense
  • Membuat halaman profil dengan kontak email yang bisa dihubungi
  • Rutin gerilya mencari dan menawarkan kepada calon pembeli/pembayar, yaitu jasa paid/sponsorship content. Yakni kontennya di blog kita, dengan mereka mensponsori konten tersebut.

Anyway, saya meyakini tiap orang punya jalannya sendiri untuk sukses di dunia online. Terus terang, saya tidak menjalankan strategi tersebut. Blogging adalah cara saya membangun kompetensi menulis dan branding selaku penulis. Dan itu dengan sendirinya membangun channel untuk menghasilkan uang.

Gimana caranya supaya blog saya tampak keren?

  • Cari dan pilih theme yang bagus. Tidak heran, yang bagus biasanya berbayar.
  • Belajar teknologi Front-End (FE). Di antaranya adalah HTML, JavaScript, dan terutama CSS.

Ide tulisan dicatat di mana biar gampang dilihat lagi?

Kalau sudah publish, gimana cara terbaik untuk promosi kontennya? Saya pengin dapat PV banyak.

  • Lakukan promosi ke akun social media (facebook, instagram, fan page). Saya bikin fan page Authentic Marketing di sini. Tolong di-follow ya 🙂
  • Congkak juga di komunitas menulis kamu. Saya ikut 1minggu1cerita.

Lifestyle atau niche?

Lifestyle boleh, niche boleh. Masing-masing ada plus minusnya. Dengan strategi lifestyle berarti topik kita cenderung luas dan tidak terlalu sulit untuk bisa konsisten. Tapi ya itu, sulit berbeda dari kebanyakan blogger lain. Menurut pengamatan, saya melihat banyak emak-emak yang nge-blog tidak memiliki perbedaan yang signifikan di antara mereka. Jadi, proses diferensiasi yang dilakukan lewat personal experience-nya maupun teknik stroytelling-nya (penguatan karakter, plot cerita, dll).

Dengan strategi niche, maka konsisten akan lebih sulit. Karena segala prosesnya harus benar-benar kita pikirkan. Mulai dari perencanaan konten, penelusuran target pembaca, pendalaman kata kunci (keywords), dan lain sebagainya. Namun dari sisi pemasaran (marketing), strategi STP-nya sudah benar. Segmenting, Targeting, dan Positioning. STP yang benar dan konsisten, akan membawa kita pada kesuksesan. Cepat atau lambat.

From Brand Writer to Technical Editor

Metamorfosis (sesuai pekan ber tema dari komunitas blog yang saya ikuti) dari penulis pemasaran menjadi penyunting teknis.

Waktu saya masih culun dulu, saya meminati topik management dan marketing. How to manage and how to market something. Keduanya seperti dua hal yang sangat powerful. Selemah-lemahnya hal yang dikelola, selama dikelola (to be managed) dan dipasarkan (to be marketed) dengan tepat, maka akan berhasil.

Demikian keyakinan saya, hingga saya lebih sering mempelajari (dan menulis) topik-topik tersebut daripada pelajaran-pelajaran kuliah saya sendiri. Apalagi dulu saya kuliah di kampus teknik, ya. Tentu saja materi-materi tersebut sangat jauh berbeda –dan ada human factor-nya juga. Kalau di sains dan rekayasa (science and engineering) kita cenderung untuk mengeliminasi sama sekali faktor manusia, maka khusus topik manajemen dan pemasaran faktor tersebut sama sekali tidak bisa diabaikan. Bahkan cenderung, berpusat pada si manusia (dan organisasinya) itu sendiri.

Jadi kedua topik tersebut, wabil khusus topik pemasaran semakin saya pelajari dengan tekun. Bagaimana cara melakukan riset pasar, bagaimana mempelajari permasalahan klien lalu menyusun rekomendasi yang tokcer untuk mereka implementasikan, sampai menyusun materi pelatihan guna memberi inspirasi dan technical how-to bagi para peserta training.

Brand-ing

Dan satu irisan besar dengan marketing adalah branding. Bicara marketing, ya topiknya pasti branding. Wacana branding juga membahas marketing. Apa itu brand-ing? Yaitu, suatu upaya tanpa henti (continous process) dalam membangun merek. Sebagai penulis di bidang per-merek-an (brand writer), wajib hukumnya untuk mempelajari siapa calon pelanggan dari suatu merek.

Empathy: Putting our feet into their shoes.

Modal dasarnya adalah empati. Yaitu menempatkan diri ke dalam personal si pelanggan, untuk dapat memahami kebutuhan (needs) dan keinginan (wants) mereka. Keduanya dapat berwujud macam-macam dalam psikologi manusia. Salah dua di antaranya adalah kegelisahan (anxiety) dan hasrat (desire). Sederhananya: penuhi anxiety dan desire mereka, maka merek kita akan sukses dalam menepati komitmen yang sudah dijanjikan serta mungkin berhasil menjadi nomor satu di pikiran atau hati pelanggan. Itu contoh algoritma umum dari brand writer.

Persoalan dengan pelanggan sebagai “partner” kita dalam membangun merek adalah: pelanggan itu moving target. Target bidikan yang selalu bergerak. Dinamika produk dan layanan dari merek kompetitor yang memberikan opsi berbeda dari merek kita, dan dari pelanggan itu sendiri yang seringkali “galau”, “resah”, “bingung” menjadikan pekerjaan brand writer selalu dinamis. Kalau tidak mau disebut demikian, bisa dilihat sebagai tidak ada resep yang selalu berhasil. Dengan kata lain, semua kunci sukses bersifat temporer. Sehingga, kesuksesan tersebut bergantung pada kreatifitas kita dalam memandang, mempersepsikan dan mengeksekusi layanan-layanan riset, konsultasi dan pelatihan.

Internet Era

Di atas tahun 2010, kreatifitas yang saya sebutkan diatas ditantang lagi oleh medium yang namanya internet. Sejak internet semakin menjadi-jadi, semua informasi ada di dalamnya. Dengan kecanggihan dan perkembangan robot Google dalam menyajikan hasil pencarian, hampir semua (saya belum berani bilang “semua”, ya) ilmu pengetahuan ada di internet. Konsekuensinya, kliennya para konsultan bertambah pintar dibanding sebelumnya. Dengan kata kunci (keyword) dan kecenderungan (intention) yang tepat, klien akan menemukan wawasan (insight) yang mereka cari.

Berakhir di kantor konsultan sebagai penyedia layanan. Jasa konsultasi, sebagai layanan “meminjamkan otak” untuk berpikir, tidak lagi semudah dahulu dalam menghantarkan layanannya. Sederhananya, klien telah mengambil kesimpulan bahwa tidak semua proses berpikir perlu dialihdayakan (be outsourced) kepada konsultan.

Technical Documentation

Dahulu, dokumen teknis semisal “User Guide” atau “Manual Guide” sangat berpusat pada pengguna (user-centric). Term ini analog dengan konsep customer-centric (berpusat pada pelanggan) yang digaungkan para konsultan, khususnya konsultan pemasaran. Yang menarik pada saat itu adalah, pengguna adalah mereka yang memiliki literasi pemrograman atau literasi teknikal di atas rata-rata. Sebab, aplikasi digital masih banyak digunakan oleh mereka yang menjalankan fungsi-fungsi bisnis di perusahaan. Akuntansi, rantai suplai, dan lain sebagainya. Jadi, Manual/Guide yang dibuat masih sangat teknikal. Untung bagi saya, tatkala saya bergabung dengan sebuah IT company, saya tidak lagi bersentuhan dengan detil-detil yang sangat kental kerekayasaannya ini.

Manual/Guide yang sangat teknis tidak mungkin diberikan kepada dan digunakan oleh masyarakat umum seperti sekarang ini yang sudah sangat familiar dengan mobile application dari iOS/Android, seperti aplikasi Tokopedia, Bukalapak, Traveloka, dan Go-Jek.

Keberadaan para perusahaan unicorn tersebut lha dan ribuan perusahaan rintisan (start-up) lainnya, yang mulai menggeser dan menspesifikasi bidang dokumentasi teknis menjadi hanya pada pengoperasi-pengguna (user-operator) dengan suatu bidang yang kini kita sebut UX (user experience). Topik ini bisa kita bahas lain kali ya.

Being Editor

Alih-alih menjadi penulis dokumen-dokumen teknis tersebut, saya menjadi penyunting. Tidak hanya menyeragamkan penggunaan bahasanya, namun saya juga menyusun topik-topik yang wajib ada di setiap jenis dokumen. Mengingat dokumennya sendiri sangat beragam, mulai dari dokumen yang memetakan kebutuhan klien, dokumen yang menspesifikasi aspek-aspek teknis dari aplikasi yang akan dihantarkan, dokumen perencanaan proyek, dokumen-dokumen penunjang keberjalanan proyek, dan sebagainya.

Sebagai yang pernah belajar di kampus teknik, ternyata masa mendayagunakan kembali logika-logika sains dan rekayasa telah datang kembali pada diri saya. Tentu tidak sepenuhnya sama, karena dulu saya lebih banyak belajar material dari sisi saintifiknya, bukan dari sisi kerekayasaannya. Namun demikian, saya bergabung dengan nyaris tanpa cacat (seamless). Mungkin karena saya sedikit teknikal tapi mengerti bahasa. Atau banyak paham tentang bahasa (dan penulisan), tapi bisa nyambung kalau bicara teknikal.

Pamer

Pamer pencapaian di social media malah bikin pertemanan jadi berjarak, benar gak sih?

Sekarang ini, pamer makin gampang, yah. Berkat social media. Terutama instagram (IG). Itu yang paling kekinian. Dulu ada facebook dengan fitur post with image dan photos. Sekarang, facebook jadi serba ada. Akun personal, fan page, grup, dan sebagainya sampai fesbuk nya sendiri bingung mau menjadi apa. Semacam politisi di tahun 2009, 2014, 2019 ya. Berubah sana, berubah sini. Hanya dalam rentang 5 tahun.

Akhirnya orang-orang lebih fokus ke IG. Fokusnya user pada visual yang disajikan. Caption ibarat gula. Pemanisnya aja. Tapi bahan dasarnya ya si post utamanya itu. Caption bisa aja di-halus-kan. Atau dibikin beda sedikit lha, dari impresi pertama si follower. Yang jelas, sublime message-nya dapat dari visual post-nya. Yeah, tapi gak semua user IG kayak begitu, siy.

Ah ya, sekarang ada story. Tidak cuma gambar diam. Namun juga gamger (gambar bergerak). Namanya video kan, ada audionya pula lha, ya. Dengan teks dan suara yang bisa ditambahkan, makin lengkap racikan koki si owner akun IG tersebut. Story ini main “scarcity“. Alias ke-jarang-an. Makin jarang, makin terbatas, makin berharga. Hanya 24 jam saja, lho.

Pergi ke tempat-tempat wisata yang lagi hits. Restoran atau kafe yang baru. Yang instagrammable.

Bikin para followers makin gak mau ketinggalan. FOMO. Fear of Missing Out. Atau gak mau sampai kelewatan dengan alasan YOLO. You Only Live Once.

“Pokoknya gue harus ikutan. Gue gak boleh kudet (kurang updet). “

Habis kena di-pamer-in, pokoknya kudu pamer balik.

Toh pamer juga makin gampang karena ada beragam cara pembayaran.

Dulu, pamer itu disponsori kartu kredit (CC, Credit Card). Tinggal gesek, gak harus ke ATM ambil uang tunai. CC disangka sebagai dewa baru. Mendatangkan uang kontan di saat paling tidak dibutuhkan: belanja yang tidak diperlukan.

Alhamdulillah masih ada yang sadar. CC sebagai pemberi utangan aja. Kalau sudah masanya (tagihan) datang ya dibayarlah. Harus disiplin. Entah yang seperti ini mungkin makin langka juga. Sebagian yang lain hanya bayar minimalnya aja. Masih sekitar 10%, kan? Ada juga yang bayar pokok dulu, bunganya enggak.

Habis CC, terbitlah KTA. Kalau bikin CC diawali dengan memiliki penghasilan (atau saya salah?) sebagai bukti bahwa mampu membayar, maka KTA adalah Kredit Tanpa Agunan. Tanpa ukuran, bukti, apalagi jaminan bahwa yang bersangkutan memang mampu membayar si kredit tersebut.

Nah, di era serba online macam begini. Apalagi, online nya bukan level browser lagi, maka lahir lah KTA versi mobile application. Ini ya ngeri, pake akun socmed lho, si pinjol (pinjaman online) ini.

Default di pinjol pertama, maka bikin akun baru di pinjol kedua, untuk menutupi gagal bayar yang pertama. Gali lubang tutup lubang. Begitu terus sampai sudah lebih dari 20 jenis pinjol digunakan. Yang karena gak menemukan pinjol yang baru lagi, maka si penagih utang mulai menggunakan jurus-jurus kasar: merusak nama baik si peminjam dengan cerita yang buruk-buruk ke kolega di social media.

Padahal ya, gak semua friends/followers di social media adalah keluarga atau teman dekat, ‘kan? Bayangkan betapa malunya bila dicitrakan buruk di hadapan orang-orang yang sekedar tahu aja, bukan kenal.

Itulah, karena pamer, pertemanan bisa rusak juga.

Beberapa orang ternyata sungkan bertemu dengan teman-temannya yang dulu akrab. Baik memang karena satu geng, atau berteman dan bekerja bersama dalam suatu organisasi. Kenapa sungkan? Karena di social media pada “memamerkan” pencapaian masing-masing.

Ya pencapaian harta, ya pencapaian karya.

Dari jauh, saya melihat pamer-pameran via socmed ini bikin pertemanan malah jadi berjarak ya. Entah karena sibuk, kemudian lupa meluangkan waktu untuk silaturahmi dengan kawan lama. Atau mungkin menghindari pertemuan demi menghindari topik soal pencapaian? Entah lha. Metode validasi apapun takkan bisa membuktikannya.

Concurrent Collaboration

Lagi mau tulis soal ini karena kerasa banget produktifitas jadi naik. Terutama berkat aplikasi di Google Drive.

Di kantor lama, progress rasanya lambat sekali berjalan. Review dan approval seringkali menghambat. Habisnya, kami semua bekerja dengan email. Kerjakan dulu, nanti di-email. Tunggu review, lalu kerjakan lagi. Kalau gak ada review lagi, berarti tinggal tunggu approval.

Berarti kan minimal ada tiga kali kirim email, tho? Belum termasuk si attachment yang harus diberi nama berbeda. Karena memang di-Save As dengan nama berbeda. namaclient-jenisdokumen-versi0.1 , namaclient-jenisdokumen-versi1.0 , namaclient-jenisdokument-finaltapieditpertama, dan seterusnya.

Salah satu yang menghambat adalah reviewer, approver, dan editornya harus menunggu selesai. Tidak bisa dia kerjakan bersamaan dengan dokumen-dokumen yang lain. Padahal, dia juga bekerja dengan beberapa analyst yang lain seperti saya ini.

Katanya sih, kalau mau cepat, pergi/kerjakan sendiri aja. If you want to go fast, go alone. Tapi jadi pikir-pikir juga, yah. Kuat berapa tahun mau seperti itu? Mending juga kerjakan bareng-bareng. If you want to go far, go together.

Jadi kaitan dengan judul di atas adalah, penggunaan Microsoft (Ms) Word, Excel, PowerPoint sudah jadoel BGT. Sekarang mah, mending pakai Google Drive aja. Itu lho, yang ada Google Docs/Sheet/Slides sebagai tools untuk melakukan online collaborative documentation.

Instead of terpaku pada satu dokumen saja, dan cenderung tertunda sama si atasan. Lebih baik pakai yang semacam ini. Beberapa dokumen bisa selesai dalam tempo yang lebih cepat.

Salah satu alasan mengapa concurrent collaboration memang sudah zaman now banget, adalah karena pesertanya adalah para milennial. You know, milennial lebih ambisius daripada generasi sebelumnya. Yakni masalah pekerjaan, lebih ingin menyelesaikan banyak hal dalam tempo yang lebih cepat.

Bersyukurnya, para milennials memang dianugerahi kelebihan tersebut. Terutama adalah kebiasaan multitasking-nya. Di sisi lain, milennial gak terlalu cocok dengan struktur yang terlalu vertikal yang hierarkis banget.

Jadi, instead of dibuat layer yang terlalu banyak (yang masing-masing jadi menganggur (idle) kalau harus menanti yang fase sebelumnya beres duluan), lebih baik dibuat tiga layer saja. Dalam hal dokumentasi, misalnya adalah ada yang menulis, ada yang mengedit, ada yang menyetujui (approval).

Dari sisi aplikasi digitalnya, ini terbukti mempengaruhi banget. Setelah beberapa tahun menggunakan Google Drive, lalu untuk suatu dokumen terpaksa harus memakai Ms Word lagi, terbukti kami kembali kelimpungan.

Bisa dikatakan, karakter si milennial dan Google Drive ini sudah klop banget. Satu melengkapi yang lainnya. Memang sudah ditakdirkan untuk bersama dalam generasinya di zaman now ini.

GD yang mengoptimalkan komputasi awan (cloud computing) ini, mengizinkan kita untuk mengakses file(s) tersebut lewat beberapa device. Jadi habis mengerjakan di komputer kantor, dengan mudah kita mengerjakannya kembali lewat smartphone kita sembari pulang ke rumah dengan KRL atau MRT.

Kemudahan akses dari beberapa aplikasi berbeda juga memberikan keamanan tersendiri. Contohnya, kita tidak perlu panic ketika laptop sedang rusak atau terjadinya peristiwa sejenis.

As you know, shared-file yang sama bisa kita buka lewat smartphone. Tinggal masuk ke drive-nya google kita. Cari dan klik untuk masuk ke shared file tersebut.

Document collaboration tools:

  • Increase productivity
  • Reduce (unnecessary) office politics
  • Decrease city-commuting
  • Faster execution of ideas
  • Make business process more efficient
  • In streamlining workflows.

If you’re familiar with Microsoft Word, Google Docs will feel familiar to you. It has a top bar filled with all of your editing and formating buttons that you’re familiar with.

Google Docs has collaboration built-in, making it easy for your team or clients to collaborate. Once you create a document it’s easy to sharing it with others via shareable link. Gak perlu lagi buka email untuk upload-download file.

You can work on a document with your teammates simultaneously over the cloud, give them access to edit or make it as a ‘view only’ doc, and leave comments in real-time.

Belum semua orang siap berperan sebagai atasan dengan para bawahan yang tidak dia lihat langsung –sebagaimana yang terjadi dengan remote working. Mindset-nya perlu digeser menjadi serba deliverables. Apa yang harus dibuat, dan kapan paling lambat diterima.

Confluence from Atlassian. Untuk knowledge management. Jadi kalau ada member/employee yang baru, tidak sulit untuk belajar dan beradaptasi dengan perkembangan kantor. Terutama, soal teknologi yang digunakan. Karena balik lagi ke generasi milennial yang langgas, cepat sekali berpindah company.

In Confluence, you create with pages and blog posts. Just like other documents you’ve used, you can fill pages and blog posts with text and tables, and format them to look pretty, funny, or professional.

Insomnia

Pertemuan dengan seorang teman menginspirasi kisah fiksi ini.

Sudah lama ku tidak berjumpa dengannya. Mungkin ada empat tahun. Belum pula dia duduk, sudah kulihat kelopak matanya menghitam.

Berdiri ku menyambutnya. Kusalami tangannya. Dia duduk. Tanpa basa-basi pada pelayan, sekedar bertanya menu apa paling favorit di kafe yg baru buka ini, dia langsung menyambar, “espresso ya. Single origin”.

Kutanya kabar. Katanya baik saja. Tidak pernah sebaik ini, bahkan. Aku tersenyum. Kuikut senang. Kalo itu memang benar.

Belum kulanjutkan, dia menyerocos. Kangen pula rupanya dia. Terutama di masa-masa kami menghabiskan kopi dan rokok hingga pagi di loteng kontrakan. Sebelum skripsi dan kewajiban lainnya memaksa kami menghentikan kebiasaan buruk itu.

Sekali waktu, beberapa semester setelah ku lulus dan bekerja di luar kota, kudengar ada juniorku yang menanyakan keberadaan. “Sudah lama tidak masuk”, katanya. “Dekan ingin menagih kelulusannya. Seperti yang dijanjikan terakhir kali.”

Tak kaget ku mendengarnya. Orang kalau kebanyakan begadang memang tak jelas akal pikirannya. Berjanji tapi tak sadar pada apa dia berkomitmen. Ingatannya pun pendek. Payah. Dia bahkan bisa lupa setengah jam lalu bicara apa.

No comment. Sudah waktunya mengurus diri sendiri. Selamatkan diri masing-masing. Toh aku punya utang pekerjaan pada pemberi beasiswaku. Belum lagi ortu di rumah sakit-sakitan. Ku harus membiayai mereka.

Bukan tak mau berempati. Tapi nanti dulu. Beri aku waktu. Empat-lima tahun lagi boleh lha kita bertemu lagi. Jawabku kala dia mengajak bertemu di kafe baru di bukit sebelah utara.

Dan sekarang ini yang terjadi.

Kantung matanya menghitam. Apa iya lebih hitam daripada dulu, demikian pikirku. Apa yang dia kerjakan sekarang?

“Hahaha. Aku tahu kau mau menceramahiku. Minimal kau akan bertanya, sibuk apa sekarang? ”

Aku ya tidak kaget. Mungkin dia benar 90%. Kalau bukan itu, palingan kutanya soal kopi single origin apa yang baru dia coba.

Tanpa babibu, dia nyerocos tanpa henti ibarat kereta. Yang baru bisa berhenti tatkala tuas remnya ditarik jauh sekilometer sebelumnya.

Dia memulai ceritanya dengan “aku sekarang bahagia. Punya pekerjaan. Begitu bahagia sampai aku kerja lupa waktu. Datang pagi, tahu-tahu sudah malam saja. Benar kata dosen psikologi positif kita itu, kalau sudah flow, lupa berhenti”.

Sebenarnya bukan dosen kami itu yang mengemukakan thesisnya. Beliau mengutip saja dari Mikhaly Cziktsenmihaly.

Tanpa kupotong, dia melanjutkan, “Aku kalau sudah kerja, sampai penasaran. Kuikuti rasa ingin tahu itu bahkan sampai tengah malam. Gak sekali, aku sampai gak tidur hingga pagi untuk menemukan algoritma yang tepat untuk program yang kubuat”.

Pantas dia sedikit kacau, dulu. Rupanya dia tak pernah senang dengan kuliah kami. Aku sedikit bersyukur, mudah-mudahan memang ini titik terang dalam hidupnya.

Dia melanjutkan, “Tapi dua-tiga tahun kujalani itu setelah lulus, eh badanku memburuk, tahu! “

Eh kau ingat tidak. Setelah kau selesai sidang, kau langsung kabur bersama perusahaan itu. Tak ingat lagi kau padaku, hah?! Bahkan kuundang datang ke wisudaku pun kau tak membalas. Hahahaha.

Aku ingat dan mengiyakan masa-masa itu. Baru bergabung dengan perusahaan sawit kan. Aku ditempatkan di kalimantan. Jam kerja seperti biasa. Tapi tidak ada rooster. Simpel. Kami bukan pegawai tambang batubara.

Dia melanjutkan, “SGOT-SGPT ku memprihatinkan, kata dokter. Aku kurang tidur, katanya. Jadilah aku harus minum obat tidur. Tidak nyaman rasanya, tapi mungkin itu yang terbaik. Sekarang aku bergantung sekali dengan obat tidur. Kalau gak minum itu, rasanya kepala mau pecah, jantung mau keluar dari dada”.

Masih kuingat jelas percakapan -percakapan barusan. Berikut cerita-cerita lama yang menyertainya. Untungnya, kafe sudah mau tutup. Memang, tidak sampai hati para pramusaji mengusir kami dengan lisannya. Namun, mereka memberi tanda-tanda. WiFi yang dimatikan, lampu-lampu dipadamkan. Bahkan sampai kursi-kursi diangkat ke atas meja kami pun belum menghiraukan. Sebagai pengidam insomnia yang lebih parah, mungkin dia masih kuat lanjut sampai pagi.

Tapi tidak, tidak denganku. Alhamdulillah tidak seburuk itu insomnia-ku. Buktinya, aku masih sadar diri. Dan daripada terjebak ke kafe 24 jam yang mungkin jadi persinggahan kami berikutnya, kuputuskan untuk stop saja. Anak istri menunggu di rumah.

Auto bubar lah kami kemudian