Menyikapi Informasi Penting Milik Pribadi

Bagaimana menyikapi begitu banyaknya informasi/data/konten penting yang harus jaga kerahasiaan atau keamanannya? Post kali ini mengulas beberapa hal yang bisa kita lakukan terkait konten dan informasi digital yang penting dan harus kita jaga.

Beberapa waktu lalu, salah satu anggota keluarga kami ingin mengaktifkan nomor telepon yang sudah sekian lama (kurang lebih 6 bulan) tidak aktif. Tidak masuk ke mana-mana ya, tatkala kami menelepon ke nomor tersebut. Artinya ‘kan nomor tersebut (mungkin) belum di-recycle, atau sudah di-recycle tapi belum laku. Dugaan kami seperti itu.

Waktu kami cek di outlet maintenance and support milik provider tersebut, kami diberikan perkiraan biaya sekitar Rp600-900ribu untuk pengaktifan kembali nomor tersebut. Entah seperti apa penjelasan atas angka yang terlampau besar itu. Sebab, waktu searching-searching sebelumnya, kami menemukan harganya hanya sekitar Rp35-50ribu.

Bahkan kata teman yang bekerja di salah satu provider, ada outlet mereka yang bisa jadi memberikan gratis, karena memang omzetnya dari penjualan pulsa, kan. Jadi logika mereka, tak apa lha berkorban sedikit demi membuat customer kembali berlangganan.

Kami ingin mengaktifkan nomor tersebut, simply karena masih banyak customer yang hanya mengetahui nomor tersebut untuk melakukan pemesanan. Kalau mereka menghubungi, lalu tidak ada tanggapan dari kami, maka hilang lha potensi penjualan.

Peristiwa ini membuat kami berefleksi bahwa data-data penting, seperti database customer, harus kita upayakan back-up nya di tempat lain. Minimal ada Excel-nya lha untuk informasi sepenting ini.

Dan sebagai mana data, informasi, bahkan konten lain yang kita anggap penting, mindset backup-membackup ini wajib kita berlakukan juga.

Misalnya username dan password untuk login ke aplikasi. Nowadays ‘kan kita banyak sekali punya aplikasi. Mulai dari e-mail, blog, social media (Instagram, Facebook, Twitter, you name it lha), dan aplikasi-aplikasi lainnya. Even gmail aja, untuk generasi saya, rasanya jarang yang hanya punya satu. Ada yang punya sampai tiga e-mail –seperti saya.

Sekarang ‘kan sudah ada tuh, aplikasi-aplikasi penyimpan beberapa password sekaligus. Semisal KeePass, 1 Password, dan sebagainya.

Konten-konten saya di blog, saya juga back-up di suatu file Ms Word. Ada juga yang saya taruh di cloud. Ibarat mengerjakan thesis, jangan simpan di satu server saja, yaitu laptop kita. Tapi simpan juga di cloud service seperti Dropbox atau Google Drive.

Apalagi sekarang sudah bisa sinkronisasi ya. Apa yang ada di laptop, ada jg di GDrive. Penambahan atau pengurangan di satu file, akan tersinkronisasi dengan yang di server satunya. Sudah bisa sampai seperti itu. Dari sisi konten, bukan mana yang paling benar. Tetapi mana yang paling baru (alias updated); versi yang lebih baru atau lebih lama.

Nge-blog di WordPress (WP) jaman now juga begitu. Kalau lagi connect sama internet, draft-nya langsung di-save. Keliru sedikit, atau gak sengaja terhapus, langsung dianggap versi terbaru sama WP. Dan kita gak bisa retrieve lagi ke versi yang sebelumnya. Nah, di sinilah pentingnya bikin draft atau simpan hasil akhirnya di aplikasi word processor seperti Ms Word.

Kenapa sampai buat back-up seperti itu? Karena kita gak tahu sampai kapan kita nge-host di hosting provider yang sekarang kita pakai. Kali aja tahun depan kita mau pindah host ke yang lagi mengadakan diskon promo . Jadi lebih easy dan lebih secure pindahan (rumah blog)-nya.

Menyikapi informasi penting milik pribadi ini, dikembalikan ke kita selaku pemilik data. Pentingnya mentalitas mengadakan back-up, membuat password yang sulit diduga oleh orang lain (misalnya bukan tanggal lahir), menyimpan password-password di password manager, dan lain sebagainya yang penting untuk kita implementasikan segera.

Kesimpulan

Kasusnya tidak aktifnya nomor telepon dari anggota keluarga kami ini jadi pelajaran utk kita peduli sama konten/data-data milik kita: database pelanggan, password utk login, konten yg kita post di social media, dlsb.

Menjawab Pertanyaan dari Email

Ada pertanyaan yang datang dari email. Bagaimana pindah ke bagian branding, setelah lama di fungsi sales? Jawaban saya ada 6 poin. Silakan disimak di post ini.

Ada pertanyaan yang datang via email:

Jakarta 13 Desember 2017

Dear Pak Ikhwan Alim ,

Salam kenal Pak Ikhwan Alim , saya ****, pria kelahiran maret 19**.
Saya lulusan S1 Teknik. S2 saya Management Marketing.

Saya tahu Pak Ikhwan Alim dari blog / website Pak Ikhwan Alim , tentang Marketing.

Riwayat pekerjaan saya: 
Dua tahun sebagai Area Sales Supervisor PT ****** Indonesia (Susu, dll) , karyawan principle nya.
Tiga tahun sebagai Area Sales Supervisor PT ******** Indonesia (Sabun, dll), karyawan principle nya.

Saya punya permasalahan “pribadi”. Sebetulnya saya minat sekali mencari posisi “Brand Manager” , atau setidaknya diawali dari Brand Executive , ataupun Assistant Brand Manager..
Namun Sejak 2012 sampai 2017 , saya coba lamar di beberapa perusahaan untuk posisi tersebut hasilnya saya gagal..
Gagal di interview user. Alasannya :  belum punya pengalaman mengembangkan brand.

Padahal saya “merasa” sudah paham tentang bagaimana mengembangkan brand khususnya consumer goods.
Mulai dari Segmentasi, strategi pricing , ATL-BTL , Brand funnel , Brand equity , consumer centricity, budgeting, dsb.

Pertanyaan saya :

  1. Apa yang harus saya lakukan ???
  2. Bagaimana dengan CV dan lamaran saya ? apa yg harus saya sampaikan saat interview user ?

Jawaban/Pendapat saya:

  1. Melihat experience dan lama kerja Bapak, tentunya Bapak (mohon maaf) dianggap belum berpengalaman untuk mengisi posisi-posisi semisal Assistant Brand Manager, apalagi Brand Manager itu sendiri. Bukan tidak mungkin memang bergabung dengan tim brand, namun harus memulai dari brand executive. Which is, secara remunerasi (gaji+bonus+dll) hampir tidak mungkin untuk memulai dari nol.
  2. Tim brand management jumlahnya sangat kecil dibanding tim sales. Sehingga kompetisi untuk bergabung ke tim brand management itu berat.
  3. Saya kira, managing the brand is about optimising the branding and distribution medium. Di mana kita sudah tahu, bahwa hampir di setiap medium selalu ada merek lain dari kompetitor. Mudah-mudahan link ini bisa membantu: https://ikhwanalim.wordpress.com/2016/06/24/kreatif-mengoptimalkan-medium-pemasaran/
  4. Kalau tim sales and distribution itu eksekusinya di distribution channel, maka tim brand management itu eksekusinya di medium-medium pemasaran (meskipun bukan tidak mungkin menggunakan perangkat-perangkat merchandise juga).
  5. Ukuran optimal/maksimal dalam mengukur kinerja brand adalah: apakah brand tersebut sudah berada di hatinya konsumen. Di sinilah tim brand management harus kreatif dengan program-program komunikasi pemasarannya serta bekerja sama dengan tim sales guna mencapai target tersebut. Tentu saja harus diukur dengan riset yang proper. Biasanya menggunakan jasa riset semacam AC Nielsen.
  6. Karena yg perlu diketahui adalah: berapa banyak konsumen yang aware? Berapa banyak konsumen yang sedang membandingkan dan mengevaluasi merek kita terhadap merek-merek kompetitor? Berapa banyak lagi konsumen yang membeli? Berapa banyak yang berlangganan?

Tugas brand management (BM), adalah meningkatkan porsi dan persentase dari masing-masing jenis konsumen tersebut. Berikut ini gambar yang bagus untuk mendeskripsikan tugas BM.  

Gambar sisip 1

  Intinya, eksekusi di medium pemasaran, sangat melibatkan konten dan konteks. ada konten untuk awareness, konten utk evaluation, dan konten utk purchase. tiap-tiap konten, kadang-kadang perlu mediumnya masing-masing.   Gambar di atas berasal dari link berikut. http://panduanim.com/konten-untuk-meningkatkan-penjualan/   2) Cobalah menjual “visi brand” Anda terhadap brand tempat anda bergabung. Nyatakan bahwa Anda sudah melakukan analisis pendahuluan terhadap brand tersebut dan industri yang dinaunginya. Nyatakan pendapat anda tentang kompetior-kompetitor dari brand tersebut. Tunjukkan “celah” atau “lubang” yang anda lihat belum dilakukan oleh brand tersebut. Tawarkan rencana aktivitas-aktivitas (branding plan) yang kira-kira akan Anda programkan sehubungan dengan menutup celah atau lubang yang ada.   Tujuannya adalah Anda menawarkan visi brand yang outstanding, yaitu visi yang menghantarkan merek memiliki positioning yang tiada duanya di benak dan hati para pelanggan.   Hanya dua itu saja yang bisa saya sampaikan. Terima kasih atas perhatiannya.   Salam,

Teknologi untuk Penulis. Yay or Nay?

Teknologi berkembang pesat. Developer harus catch up terus. Sementara teknologi digital yang berkembang cenderung mudah digunakan oleh penulis. Padahal, pasar penulis kode berkembang lebih cepat dan besar. Bagaimana penulis sungguhan menyikapi ini?

Di perusahaan-perusahaan IT (information technology), baik berupa perusahaan system integrator yang mainnya proyek-proyek temporer IT maupun perusahaan rintisan (start-up) yang fokus ke produk-produk IT (name it Go-Jek, Tokopedia, Bukalapak, Traveloka, dlsb) saya mengamati sesungguhnya teman-teman developer (pengembang) berjuang mati-matian untuk beradaptasi dengan teknologi.

Artinya, dua-tiga tahun saja tidak menyentuh teknologi-teknologi tersebut, maka akan sulit untuk catch-up. Why? Simply karena versioning-nya berkembang terus. Sederhananya, dari 1.0 bergerak terus menuju 2.0, 3.0 hingga 4.0. Itu baru satu versioning.

Belum termasuk lahirnya bahasa-bahasa pemrograman yang baru. Yang terbaru saya dengar Go Languange (Bahasa Go) alias Go-Lang yang notabene dibesut oleh Go(ogle). Itu satu jenis bahasa Back-End ya. Belum bahasa Front-End engineering (untuk transisi, animasi, static content, dll), maupun teknologi-teknologi DevOps.

Framework (kategori yang relatif lebih easy-peasy lemon-squeezy daripada bahasa karena lebih siap pakai) juga demikian. Ada framework ini dan itu yang berkembang sedemikian rupa. CMS (Content Management System) juga begitu. CMS ini lebih siap pakai lagi. Namun, perkembangan manajemen konten menuntut penggunaan CMS yang part-partnya bisa dikoding di sana dan di sini. Demi statistik-nya lha, untuk diimplementasi search engine lha, and so on, and so on.

Intinya, semua tidak jauh beda dengan programming language yang terus-menerus berkembang namun tidak mau berhenti barang sejenak.

Intinya, bagi developer (dan system engineer) teknologi berkembang sedemikian cepat hingga sulit dikejar. Tidak heran, kebanyakan programmer yang sudah senior, mulai stop being programmer. Instead of mengikuti perkembangan teknologi yang begitu cepat, mereka memilih menjadi business/system analyst (pembuat requirement) atau project manager (PM; manusia yes-man yang running implementasi proyek di situs klien).

Sementara, para penulis (writer) kita cenderung bisa mengikuti teknologi yang ada. Mulai dari aplikasi Microsoft Word, CMS (yang populer ada Blogspot dan WordPress —Sitefinity lebih susah sedikit) lalu Google Docs (yang menuntut kita bisa kerja bareng dengan penulis lain di laman yang sama; karena mekanisme automated saving-nya; thanks to internet).

Bagi yang lebih teknikal sedikit, berurusan dengan ClickHelp atau Flare (dari MadCap) atau sejenisnya dalam rangka mengembangkan online documentation atau sejenis-jenis User Manual. Level kesulitan kategori ini hanya satu level di atas CMS-CMS blog, ceuk saya mah ya. Haha.

Because being writer is more like artist rather than scientist or engineers.

Kita penulis mah lebih dekat dengan urusan selera daripada printilan-printilan logika yang sekuensial ala-ala developer.

Ada kalanya kita penulis berpikir beda (dan cenderung kreatif) terhadap suatu produk tulisan. Sementara kreativitas engineer diuji dengan desain dan implementasi suatu algoritma yang cocok untuk fungsi yang dikehendaki oleh requirement-nya client.

Kalau penulis harus berpikir urut semata karena plot yang disajikan kepada pemirsa. Sementara di sisi lain, kedua jenis makhluk (scientist dan engineer) harus berpikir runtut sedemikian rupa; tidak heran karena mereka menulis kode yang wajib bisa dibaca oleh mesin (dan oleh manusia juga).

Siklus seorang penulis, bisa jadi akan lebih panjang daripada developer ya. Simply karena di atas 35, 40, atau bahkan 50 tahun, kurasa para penulis masih bisa mengikuti tren-tren teknologi kekinian.

At the end, the conclusion is… technology is quite easy for writer to adapt.

Tapi Tuhan itu adil, kok.

Job market for developer is much bigger (and grow faster) than writer 🙂

Simpulan saya, “jatah”-nya penulis adalah berpindah dari satu medium ke medium lain. Dari blog (yang notabene artikel) menjadi buku. Lalu beralih ke caption Instagram (berhubung skill desain/ilustrasi yang ala kadar, jadinya pakai Canva, deh), kalo wajahnya tjakep dikit boleh lha beralih ke Vlogger (YouTuber). Kalo pede suara gak cempreng, main Podcast.

That’s all. Kalau ada insight menarik dari kamu, silakan komen di bawah ya! Cheers 😀

Cara Mengoptimalkan Hashtag di Instagram

Masih banyak yang asal-asalan dalam menggunakan hashtag. Di post kali ini, saya coba elaborasi bagaimana seharusnya hashtag digunakan untuk branding dan targeting.

Hashtag berawal dari Twitter. Kurang mantul di facebook. Namun di Instagram (IG), menurut saya penggunaan hashtag jadi lebih powerful. Hanya dengan menambahkan tagar (#) kita bisa membuat sebuah kata menjadi topik yang bisa diklik (dan ditelusuri) lebih lanjut.

Kita butuh hashtag dengan reach yang tinggi, untuk menjangkau pemirsa yang lebih luas. Namun, kita juga butuh hashtag dengan reach yang rendah –bahkan hashtag yang kita buat sendiri– untuk membedakan diri dengan kompetitor.

Salah satu perilaku user di Instagram adalah mencari dan mengikuti (follow) suatu topik berdasarkan hashtag. Selain merekomendasikan user lain untuk di-follow, IG juga merekomendasikan hashtag untuk kita follow.

Bagi pelaku bisnis, ini adalah salah satu cara untuk mengekspansi konten-konten bisnis mereka agar menjangkau lebih banyak pengguna IG.

Sejauh ini, saya kira ada empat (4) macam hashtag yang bisa kita implementasikan ke dalam post IG kita guna meningkatkan reach dan engagement yang ujung-ujungnya bisa menaikkan jumlah followers kita juga. Yaitu:

  • Branded hashtag
  • Contest hashtag,
  • Niche-specific hashtag,
  • General appeal hashtag, dan
  • Timely hashtag

Branded Hashtag

Branded hashtag ini dipasang di profil dan di setiap post IG. Bisa meliputi nama brand, bisa juga berupa value proposition yang ditawarkan oleh brand anda. Karena hashtag ini dikembangkan oleh kita sendiri, tentu hashtag ini tidak populer. Dan, pada masa awal pengembangan brand, penggunaannya bisa jadi baru hanya oleh kita sendiri.

Contest hashtag.

Sesuai namanya, ini adalah tipe-tipe hashtag yang digunakan tatkala mengadakan kontes. Contohnya adalah #instacontest dan #giveaway.

General appeal hashtag

Ini adalah tag-tag yang populer digunakan; saking populernya, penggunaannya sudah sangat familiar oleh pemirsa (audiens) yang beragam. Hashtag jenis inilah yang akan memberikan kita reach yang signifikan. Hashtag ini dicirikan dengan penggunaannya yang setidaknya mencapai ratusan ribu kali. Bisa terlihat kok ketika kita mencari hashtag.

Niche-specific hashtag

Tiap industri memiliki frase dan kata kunci khas yang relevan dengan pemirsa yang ditargetkan. Nilai reach-nya tentu saja berbeda dengan general-appeal hashtags, tapi traffic yang hadir akan relevan dengan niche yang dibidik. Sebagai contoh, tagar #harrypotter bisa digunakan bila kita menjual merchandise yang diinspirasi dari serial Harry Potter.

Timely hashtag

Peristiwa (event) atau liburan tertentu dapat digunakan juga hashtag-nya. Semisal #indonesiamemilih seperti pada 17 April lalu. Atau, untuk ramadhan dan lebaran nanti, bisa pakai hashtag #ramadhan #tarawih #lebaran #idulfitri.

Yang Perlu Dilakukan:

Untuk hasil terbaik, selalu sediakan waktu dan kesempatan untuk melakukan riset terhadap hashtag. Dan gunakan kombinasi terbaik dari kelima jenis hashtag tersebut untuk meraih jangkauan (reach) terbanyak, relevansi dengan pemirsa yang ditargetkan (targeted audience/niche), dan konteks yang paling tepat (secara waktu dan momentum peristiwa). Ini semua akan mengoptimalkan proses branding dan targeting.

Tidak setiap hashtag bisa diukur efektifitasnya. Namun, itu bukan alasan untuk berhenti mencoba-coba kombinasi hashtag demi hashtag.

Saya melihat, penggunaan hashtag ini penting banget. Signifikan hasil yang diberikan, kalau dioptimalkan. Kalau tidak diapa-apakan, malah gak dapat hasil apa-apa. Jadi, ya optimasi hashtag harus terus dilakukan.

  • Pasang branded hashtag di profil IG.
  • Pastikan tiap post nya ada branded hashtag tersebut.
  • Tiga puluh (30) hashtag bisa dipakai untuk setiap post. Namun, riset menemukan bahwa antara 8-11 hashtag saja yang optimal untuk dilihat oleh pemirsa.
  • Sirkulasi hashtag secara bergantian. Selain mengekspos ke pemirsa yang lebih luas, juga mencegah akun IG kita dinilai sebagai spam oleh IG.
  • Sediakan waktu untuk meriset hashtag. Minimal, seminggu sekali untuk menemukan hashtag-hashtag baru yang bisa digunakan. Artinya, hashtag tersebut kontekstual dengan pesan yang dibawa di post IG anda. Bukan sekedar menggunakan tanpa mengetahui konteksnya.

Semoga sukses diimplementasikan, ya. Dan kalau kamu merasa post ini bermanfaat, mohon berikan komentar. Terima kasih 🙂

Referensi:

Cara Menulis Proposal Proyek

Bikin proposal proyek itu gampang-gampang susah. Ada dua faktor yang harus diantisipasi: customisation factor dan customer intimacy factor yang perlu kita ukur dan nilai sebelum memutuskan mau mengejar proyek tersebut atau tidak.

Yang tidak saya bahas dalam artikel ini adalah proposal untuk mendatangkan investasi. Artikel ini juga tidak membahas rencana bisnis (business plan).

Alhamdulillah, selama 7 (tujuh) tahun berkarir, selalu kebagian yang namanya membuat proposal proyek. Saya coba tuangkan dalam post ini, bukan berarti saya dan tim selalu sukses memenangkan proyek. Setidaknya, saya bisa berbagi di mana saja “lubang-lubang” yang harus diwaspadai. Meskipun, setelah semua ranjau-ranjau darat berhasil dihindari dan kita sampai di tujuan (baca: semua usaha sudah dilakukan), mungkin saja proyek tersebut bukan rejeki kita. Hehe.

Namanya takdir kan gak bisa dilawan, ya. Kita fokus saja dengan apa yang berada dalam kendali kita.

Ok, kita mulai. Premis awalnya adalah proposal yang mendatangkan bisnis itu gampang-gampang susah.

Gampang karena, ada saja contoh proposal yang bisa ditiru. Dan semakin kita bergelut di suatu bidang produk atau jasa, maka wujudnya proposal akan semakin begitu-gitu saja. Misalnya, proyek kontraktor bangunan, struktur proposalnya cenderung kaku. Atau proyek sistem informasi. Isinya kurang lebih akan sama dari waktu ke waktu.

Namun demikian, proposal yang menjual tidak mudah juga. Namanya proyek ya, cenderung customized ‘kan. Alias, proyek yang satu tidak benar-benar sama dengan proyek-proyek sebelumnya. Ada saja spesifikasi produk yang tidak sama, menyebabkan harga yang ditawarkan menjadi berbeda. Atau produk yang persis sama, namun karena calon klien yang meminta ternyata berbeda industri dengan yang sebelumnya, maka produk dan harganya menjadi tidak sama lagi.

Singkat cerita, di awal penyusunan proposal proyek akan terasa gampang. Mendekati deadline penyerahan proposal, semakin terasa kesulitan dalam detil-detil yang perlu kita konfirmasikan kembali ke calon klien, atau harus kita pikirkan masak-masak. Baik spesifikasi maupun harga. Belum termasuk skenario-skenario yang perlu kita perjelas dan deskripsikan lebih lanjut. Sehingga transparan bagi kedua pihak.

Customisation

Kustomisasi ini terbagi dalam tiga hal. Product/Service Management, Delivery Management dan Cash Management. Yang pertama meliputi produk/layanan itu sendiri. Terutama adalah kesesuaian/ketepatan dengan kebutuhan (requirement) dari klien. Ini teknis banget lha ya, sesuai bidang bisnis masing-masing. Tentu anda lebih memahami daripada saya.

Yang kedua menyangkut ekspektasi dan keterpenuhan dari apa yang kita janjikan. Yaitu, how to deliver the product/service and related documentation. Kerapihan dan keteraturan administrasi (termasuk dokumentasi) yang menjadi kunci di sini. Kapan presentasi, apa yang dipresentasikan, dokumen teknis apa yang harus dilengkapi, bagaimana dengan laporan kemajuan (progress report), meeting apa yang harus ada, dan seterusnya.

Ketiga, soal keuangan. Ini ada kaitannya dengan pertama dan kedua. Mana keuangan yang kita harus mendanainya terlebih dahulu, apa yang bisa dilakukan dengan uang muka dari klien, bagaimana cara menekan biaya material/teknologi/proses tanpa mengurangi kualitas yang sudah ditetapkan di requirement, dan lain sebagainya. Mengapa demikian? Simply karena project-based business (terutama yang di-tender-kan) itu omzetnya sudah ketahuan di depan (dan tidak ada invoice tambahan). Kalau proyek non tender, kita sendiri harus pintar pasang harga karena (bisa jadi) cost-nya tidak fleksibel-fleksibel banget.

Seni main proyek adalah merancang biaya produksi serendah-rendahnya sejak awal.

Tidak mahir main proyek bisa menyebabkan rugi, nombok, bahkan bangkrut.

Jam terbang tentu mempengaruhi kemampuan tersebut, ya. Penguasaan proses/teknologi/material ikut menentukan “how low can you go with the cost“.

Customer Intimacy

Kesuksesan proyek kita akan ditentukan oleh hubungan kita dengan klien/pelanggan. Kenali dulu pelanggan kita ini: hard/easy customer? Seberapa dalam “kantong”-nya? Kalau kita sukses di proyek ini, seberapa mungkin kita dapat proyek lain dari mereka (langsung maupun tidak langsung)? Kerjasama tim kita dengan tim mereka akan “semanis” apa?

Meskipun kita sedang membahas bisnis berbasis proyek, namun tetap saja keberhasilannya tergantung dari manusianya juga. Karena manusia yang membelinya, dan manusia juga yang akan menggunakannya. Jadi hubungan antar manusia ini harus bisa kita berikan observasi/penilaian sejak awal.

Conclusion

All in all, kesimpulan core of the core-nya adalah tetapkan di “medan juang” mana kita ingin bertarung. How worth it or profit a project seharusnya sudah bisa diprediksi dan ketahuan bahkan sejak proposalnya ditulis.

Setengah bercanda: cara meningkatkan persentase kemenangan proposal yang diserahkan kepada klien adalah dengan mengurangi pengumpulan proposal itu sendiri. Dark jokes for me, but it is really true.

Bagaimana caranya? Sudah dibahas di atas: Customization and Customer Intimacy.

Majalah, Riwayatmu Kini

Sembari mengenang masa silam perihal majalah-majalah yang pernah menyertai jalan hidup saya. Dan bagaimana majalah semakin menghilang dari hidup saya.

Waktu kecil di-langgan-kan majalah Bobo sama ortu. Di saat yang sama, juga langganan koran Suara Karya. Korannya sampai di rumah sore, tapi koran pagi. Jadi agak basi juga beritanya, hehe. Masa-masa non-digital dulu. Namanya anak kecil ketemu koran, ‘kan ya. Ya saling lihat doang. Kagak saling sapa sama sekali. Si anak kecil lebih berminat sama Bobo yang berkaos merah berinisial ‘b’, Bona, Rongrong dan Nirmala. Ada beberapa teaser atau spoiler juga untuk serial yang akan tayang di TV. Alhamdulillah, serial Ksatria Baja Hitam RX tersebut hanya tayang di RCTI. Daannnn, RCTI nya juga belum masuk di wilayah kami. Hahahahaha…. (ketawa miris).

Di rumah juga ada majalah hidayatullah. Entah dibeli, atau dapat gratis karena member. Majalah dari pesantren ternama dengan nama yang sama di Balikpapan. Ternama-nya pun saya baru tahu di kemudian hari. Bahwa pusatnya, pesantren terbesarnya itu ya di Balikpapan. Pas tinggal di Surabaya, baru tahu ada minimarket lokal dengan merek “Sakinah” yang ternyata termasuk grupnya Hidayatullah juga. Sakinah ini sebagian besar size-nya minimarket. Tapi ada juga yang berformat supermarket di dekat ITS (Institut Teknologi Sepuluh November, bukan Institut Teknologi Surabaya, ya).

Selama “penjara” SMA, konten yang diekspos ke kami sangat dibatasi. TV hanya ada di ruang baca kelas. Satu TV untuk seluruh angkatan. Dan hanya boleh ditonton setelah jam belajar malam. Wicis wicis, itu sudah jam 9 malam. Demikian pula dengan kording (koran dinding). Tiap hari diganti, tapi satu koran untuk satu angkatan. Hehehe. Alhamdulillah jadi fokus belajar (iya, gitu?).

Jadinya, urusan majalah-majalah ini pinjam-baca ke teman. Ada majalah M2 (Movie Monthly), Cinemagz, tapi paling sering ya Majalah Hai. Maklum kami-kami dulu kan remaja tanggung yang lagi cari panduan tampil Masteng (mas-mas sok ganteng) di depan Mbatik (mbak-mbak sok cantik). Dua majalah pertama yang disebut, ya cuxtaw ajalah, ya. ‘Kan nonton bioskopnya juga entah kapan (palingan pas libur semester). Harap maklum, di kota tersebut belum ada mall. Urusan novel, yang paling diingat adalah Eiffel, I’m in Love dulu yang kami sempat baca bergiliran. Sampai ada yang fotokopi segala (padahal ‘kan gak boleh, ya?).

Pas pindah sekolah ke Bandung, interest-nya mulai bergeser. Awal-awal sukanya baca Majalah MIX. Yang satu grup sama Majalah SWA (dulu namanya SWASEMBADA). MIX ini fokusnya di komunikasi pemasaran. Pemasaran, tapi terbatas di komunikasinya saja. Bukan meliputi urusan distribusi dan channel penjualan gitu. Kalau lagi bosan sama MIX, pindah ke lain hati eh majalah bentar deh: SWA. Si ortu-nya MIX ini bahasannya lebih beragam. Tidak hanya pemasaran. Tetapi juga finance, supply chain, dan lain sebagainya.

Namun, saya kemudian menyadari bahwa bagaimanapun juga, MIX dan SWA adalah majalah. Selalu mengkaver soal berita yang kemudian dikemas dalam wujud cerita. Kalau cari ilmu, bukan di majalah tempatnya. Bukan tidak bisa sama sekali, tetapi harus baca puluhan edisi dulu baru (kira-kira) understanding (pemahaman) dan framework-nya akan terbentuk. Sejak itu, saya mulai stop membaca majalah dan mulai membaca buku.

Yang saya ingat, buku-buku pertama yang saya baca adalah: Toyota Way, Change-nya RK (Rhenald Kasali, bukan Ridwan Kamil). Shorten long story, ternyata buku adalah pergulatan ilmu dalam horizon yang lebih panjang daripada publikasi, majalah, apalagi artikel. Kalau sebuah fenomena dalam rentang sebulan bisa di-frame dalam sebuah artikel, maka buku adalah versi 5-10 tahunnya. Sehingga dalam satu dekade berikutnya, bisa jadi sebuah buku malah usang karena teori-teorinya  tergantikan oleh teori/hipotesis baru (yang juga diturunkan dari fenomena-fenomena yang lebih baru).

Artikel-artikel  di majalah Harvard Business Review (HBR) oke punya. Relatif lebih long-lasting karena analisis yang mendalam membuat artikel tersebut punya positioning (posisi) yang lebih stabil terhadap satu-sama-lain. Buktinya, masih sering disitasi (eh, benar ini bukan Bahasa Indonesianya, ya?) dan jadi rujukan di sekolah-sekolah bisnis di dunia.

Terus, masih baca majalah, enggak?

Sudah tidak lagi. Perubahan zaman, terutama internet dan digitalisasi, menggilas industri media yang menerbitkan majalah. Sudah bertahun-tahun yang lalu, iklan di majalah tidak lagi jadi sumber pendapatan. Media kini lebih mengandalkan dari pelaksanaan training (jatuhnya memang mirip event organizer, sih), event lain, atau sumber lain seperti pengelolaan media internal suatu perusahaan.

Aktivitas membaca majalah yang saya lakukan dahulu sewaktu kecil sampai kuliah kini bergeser menjadi membaca artikel-artikel di website kenamaan. Bukan website media/berita, tetapi versi blog dari suatu website. Pola belanjanya juga bukan lagi belanja per eksmplar majalah/koran. Melainkan jadi berlangganan per waktu tertentu. Yang biasa ditawarkan adalah bulanan, tetapi ada diskon tambahan kalau langsung satu tahun.

Review SewaKamar.id Solusi Sewa Property

Review bisnis digital kali ini mengulas situs sewakamar.id yang mengklaim sebagai solusi sewa properti. Simak kemudahan-kemudahan dalam mencari kost/apartemen/rumah dan menyewakan aset properti anda bersama sewakamar.id

Punya properti itu susah-susah gampang.

Susah, karena namanya properti, mau bentuknya rumah, kios, ruko (rumah toko), apartemen, rumah/kamar kost, dan lain sebagainya itu harus dirawat. Namanya perawatan, ya jelas keluar biaya donk. Tidak hanya biaya bersih-bersih, seperti menyapu dan mengepel. Tapi juga mengelap kaca jendela yang kotor berdebu. Sampai dengan biaya-biaya perbaikan kalau ada kerusakan yang macam-macamnya juga ada banyak. Mulai dari genteng /talang yang bocor. Warna dinding yang mulai kusam dan minta dicat kembali. Lantai keramik yang harus dibersihkan dengan jenis pembersih tertentu. Karena kuatnya kotoran yang menempel. Dan lain sebagainya.

Susah juga, karena mendapat penyewa yang tidak pernah mudah. Jangan berharap, sekali datang, lihat-lihat, kemudian langsung sepakat harga dan jangka waktu penyewaan. Ada kalanya, harus sabar menanti beberapa calon penyewa dahulu melakukan proses penyewaan. Mulai dari membuat janji pertemuan, memperlihatkan fitur-fitur bangunan, sampai dengan negosiasi harga dan termin.

Mau dapat penyewa atau tidak, biaya-biaya perawatan harus tetap dikeluarkan. Kalau biaya rutin adalah pembayaran listrik dan air, maka biaya tetap setiap tahun (atau per dua tahun) adalah perbaikan rutin. Intinya, lebih baik dapat penyewa yang bersikeras bernegosiasi, daripada propertinya kosong sama sekali (tatkala tidak tercapainya kesepakatan harga dan termin).

Gampangnya, karena sudah ada solusi internet digital dari https://sewakamar.id. Apapun jenis properti anda, apakah rumah tinggal (dekat kampus atau di pusat kota), kios di pusat perbelanjaan, ruko (baik di pusat kota maupun di lingkungan terminal atau pasar tradisional), sampai dengan apartemen atau rumah/kamar kost.

contoh kamar kost yang disewakan di https://sewakamar.id

hSesuai komitmennya, sewakamar.id adalah solusi sewa-menyewakan properti. Tidak hanya bisa mencari properti yang sedang disewakan oleh pemiliknya. Namun Anda juga dapat menitipkan properti Anda untuk ditawarkan di situs sewakamar.id tersebut. Tidak diragukan lagi, menyewakan properti di portal Sewakamar.id merupakan cara efektif dalam mengiklankan hunian sewa apartemen, kost, maupun rumah.

Mencari properti di sewakamar.id bisa dilakukan dengan cepat dan mudah. Karena ada dua fitur utama yang akan membantu anda menemukan properti idaman. Yaitu filter dan search. Dengan fitur filter, Anda dapat melakukan klasifikasi berdasar:

  • Jenis properti (kost, apartemen, atau rumah)
  • Area yang dikehendaki
  • Gender (khusus pria, khusus wanita, atau boleh campur)
  • Jangka waktu (harian, mingguan, bulanan, atau tahunan)
  • Fasilitas kost
  • Harga

Untuk Anda yang tidak mempromosikan properti Anda, maka anda dapat menggunakan fitur “Iklan Eksklusif”. Tersedia paket Rp50.000,- yang akan ditayangkan selama tiga bulan.

Beriklan di sewakamar.id tidak repot, kok. Hanya dengan tiga langkah:

  1. Registrasi/login
  2. Mendaftarkan properti milik Anda
  3. Konfirmasi pembayaran
contoh apartemen yang disewakan di https://sewakamar.id

Tuh, benar-benar mudah, ‘kan? Cari sewa kamar kost/apartemen/rumah, gampang. Mau menyewakan dan mengiklankan properti juga sama mudahnya. Semua tinggal dilakukan dengan situs http://sewakamar.id.

Review Buku Filosofi Teras

Buku ini bagus banget untuk dibaca. Sudah cetak ulang 5-6 kali hanya dalam beberapa bulan sejak terbit perdana. Karena buku ini mengulas prinsip-prinsip sederhana perihal Filosofi Teras alias filosofi stoic.

Ada dua alasan saya tertarik sama buku ini. Pertama adalah Henry Manampiring-nya sendiri. Beliau suka nge-twit di @newsplatter. Tapi pertama saya tahu beliau dari blognya “The Laughing Phoenix“. Entah ya kenapa blognya dikasi nama demikian. As we know, Phoenix itu kan burung yang bangkit hidup kembali dari api kematian. Paradox karena si Phoenix ini tertawa (laughing). Yang membuat saya mampir pertama kali ke blog tersebut adalah survey dan hasil surveynya yang insightful (penuh wawasan), lucu, namun ya miris juga. Sebab, surveynya seputar LDR (Long-Distance Relationship), ke-jomblo-an, dan hal-hal sejenisnya.

Oiya, Om Piring ini lulus kuliahnya dari Akuntansi Unpad. Tapi sekitar dua puluh tahun karirnya dihabiskan di industri periklanan. Peran dia, as strategic planner. Which is, memahami target audience dari suatu brand (ya secara demografi, psikografi, dan perilaku) sampai dengan objective dari kampanye si brand itu sendiri. Nah, keluar-an dari pekerjaan dan peran dia adalah rencana penggunaan budget si brand terhadap media-media yang sudah dipetakan sebelumnya. Tentu tidak hanya plan-nya doang, donk. Tetapi juga laporan-nya, analisisnya, insight-nya, dan seterusnya.

Yang kedua, adalah dari rasa prihatin saya –sebagaimana sudah saya tuangkan di artikel sebelumnya di sini— mengenai tingginya angka bunuh diri generasi muda kita saat ini. Eling, yang kebetulan saya gak sengaja ketemu dia pas bedah buku Filosofi Teras ini Gramedia Bandung –yang jalan Merdeka, bukan yang baru di Jalan Supratman–berpendapat bahwa, generasi kami dulu ya tough aja sama ujian-ujian hidup semacam putus cinta dan skripsi yang tak kunjung usai.

Ok, masuk ke review buku ya.

Om Piring ini banyak mengutip pendapat filsuf-filsuf stoic kenamaan yang quote-nya sudah sedjak dua ribu-an tahun lalu, kemudian memberikan interpretasi kekinian terhadap pendapat-pendapat filsuf tersebut. Which is, namanya umat manusia, ya. Biar kata era internet nya juga sudah 4G, industrialisasi juga sampai 4.0, social media yang sudah sedemikian rupa ini, ternyata masalah-masalah hidup dan takdir manusia ya masih ada juga.

Interpretasi perdana yang saya kutip di sini perihal bahwasanya tidak semua hal dalam hidup bisa kita atur. Iya sih, ada yang bisa kita atur, tetapi banyak juga yang tidak. Termasuk dengan fakta-fakta seperti mantan beserta dengan kenangan masa lalu kita bersamanya. Yang bisa kita atur itu hal-hal semacam masa depan yang masih kita bisa rencanakan, perilaku dan persepsi pribadi yang masih bisa kita kendalikan, dan hal-hal semacamnya.

Nilai kuliah dan IP, di semester-semester berikutnya masih bisa kita ikhtiarkan. Kita masih bisa memperbaiki dan merencanakan ulang perkuliahan kita di semester depan. Tapi ikhtiar ada batasnya juga, yaitu takdir. Hal-hal semacam dosen killer, kebagian asisten praktikum yang tidak mengenal kompromi, termasuk hal-hal yang tidak bisa kita atur seenak djidat. Menurut para filsuf stoic, hal-hal terlingkupi takdir ini tidak usah terlalu dipikirkan. Toh kita juga tidak bisa berbuat apa-apa terhadapnya.

Misalnya, hal-hal semacam lahir tahun berapa –apakah masuk generasi baby boomers, X, Y, Milennial, atau Z–, lahir dari orang tua seperti apa –berbakat secara akademik atau punya warisan aset-aset perusahaan atau keturunan ningrat, dst– adalah termasuk kepada hal-hal yang tidak bisa kita atur. Oleh sebab itu, jangan sampai yang demikian ini malah ikut menentukan perasaan-perasaan kita sendiri. Yang wujudnya bisa berupa: tidak bahagia, sikap menyalahkan orang lain, dst.

Perihal hal-hal yang bisa kita kendalikan ini, memang menancap banget di saya. Karena memang, baru beberapa minggu lalu mendiskusikan hal ini dengan istri. Dan kesimpulan diskusi kami adalah –persis sama dengan buku Filosofi Teras ini– bahwasanya jangan sampai hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan justru mengontrol ketat pikiran dan persepsi kita terhadap sesuatu. Mari fokus saja pada apa yang bisa kita kendalikan.

Somehow, pesan-pesan dari para filsuf stoic –yang dirangkum dengan sangat baik oleh Om Piring dalam buku ini–sangat beririsan dengan pesan-pesan dari kepercayaan yang saya anut.

  • Misalnya, bahwa manusia itu kendalinya pada ikhtiar, sisanya diserahkan kepada alam (atau kepada Sang Pencipta–kalau kita meyakini teori penciptaan).
  • Contoh lain, bahwasanya masa lalu adalah sesuatu yang sangat jauh. Begitu jauh hingga dia tidak pernah kembali (silakan koreksi ya, kalau tidak salah ini adalah hadist).
  • Hidup ini bukannya tidak pernah berakhir. Masih ada kehidupan setelah kematian. Tidak perlu terlalu ditakuti atau dikhawatirkan. Justru karena hidup ini ada batasnya, maka kita wajib menjalani peran kita selaku manusia, yaitu berupaya maksimal memaksimalkan hidup yang terbatas ini.
  • Harta kekayaan orang lain. Tidak perlu dibanding-bandingkan dengan milik pribadi. Cuxtaw (cukup tahu saja) ya. Saya berpandangan demikian –dan diafirmasi oleh buku ini– karena toh kita juga gak lihat balance sheet-nya; kita gak tahu sebanyak apa laba dia tahun lalu, apakah mobilnya sudah selesai dicicil atau belum, dst. Apalagi, di ujung hidup kita dan dia, ternyata kita akan sama-sama menggunakan bilik kecil berukuran 2x2x1 meter.

Filosofi Teras juga membahas terkait parenting, lho. Parenting ini memang isu yang semakin seksi, ya. Semakin dibahas dimana-mana. Para orang tua juga semakin peduli, mencari tahu dan belajar mengenai parenting. Di sisi lain, para penggiat-nya –dan termasuk public speaker-nya– juga semakin banyak. Tidak heran, Om Piring juga mengkaitkan dengan topik parenting tersebut. Daaann, prinsipnya relatif sama bila dihubungkan ke kita selaku orang tua: do the best, let god do the rest. Serta, jangan ambil pusing, terhadap hal-hal yang memang di luar kendali kita selaku orang tua.

Overall, saya kira memang dua itu inti dari Filosofi Teras, yang sudah beberapa tahun terakhir saya pribadi coba terapkan.

Ulas sedikit soal bedah buku yang lalu, ya. Kita sebagai generasi Y atau Milenial yang beda tipis-tipis sama generasi yang sedikit di bawah kita –mungkin masih termasuk milenial juga– perlu untuk memahami dan berempati terhadap kesusahan-kesusahan yang mereka alami. Buktinya, dalam sesi Q&A, lebih banyak curhatan ketimbang diskusi ilmiah mengenai buku Filosofi Teras-nya. Curhatan semisal pekerjaan yang berbeda dengan jurusan sewaktu kuliah. Baru dua bulan kerja sudah ingin resign –padahal probation tiga bulan; tinggal gak usah lanjut setelah probation, kan? Dan banyak contoh lainnya yang saya yakin jumlahnya tidak sedikit.

Menyoal Bunuh Diri di Kalangan Muda

Dari risetnya Benny Prawira Siauw, 34,5% mahasiswa di Jakarta yang berusia 18-24 tahun, ingin bunuh diri. Jumlah respondennya 284 orang. Disebutkan di artikel tirto.id di sini: skripsi, depresi, dan bunuh diri: everybody hurts 

Saya sudah beberapa bulan terakhir melihat fenomena ini. Kapan hari, teman desainer di kantor kami di Bandung, sempat ikut konseling psikolog gitu. Hanya ada lima orang. Tapi tiga di antaranya adalah mahasiswa.

Baru beberapa hari lalu, ada lagi mahasiswa Unpad suicide. Ternyata dalam 81 hari terakhir, ada tiga kejadian yang sama. Ini link beritanya di detik.

Menurut Benny, diwawancara oleh tirto, tren depresi di kalangan muda tidak hanya terjadi di Indonesia. Tapi memang telah terjadi di banyak negara. Contohnya Inggris, Amerika Serikat, Jepang dan Australia.

Setidaknya ada 95 mahasiswa di kampus Inggris yang memilih bunuh diri sepanjang 2016-2017. Di Jepang, ada 250 anak dan remaja yang tewas sepanjang rentang tahun yang sama.

Di Indonesia, sejak Mei 2016 sampai Desember 2018 saja, riset Tirto dari beragam pemberitaan online mencatat ada 20 kasus bunuh diri mahasiswa. Sebagian besar diduga karena tugas dan skripsi.

Dari infografisnya tirto, ada lima hal yang berkaitan dengan pemikiran suicidal. Salah satunya adalah masalah akademis.

Saya sudah lama enggak jadi mahasiswa. Jadi gak bisa merasakan langsung apa yang mereka alami. Tentu saya turut berempati.

Saya dulu juga bukan contoh mahasiswa yang baik. Diawali dengan ketidaksukaan dan ketidakcocokan dengan jurusan tersebut. Akibatnya, saya tidak berkembang di sana. Tapi saya kira, lebih mencari pelarian dengan organisasi mahasiswa saja. Yang kemudian menjadi penting, hanyalah asal lulus saja mata kuliahnya. Yang penting jadi sarjana.

Terus terang, saya gak mengejar nilai. IPK itu sesuatu yang “bisa diusahakan, tapi kadang juga gak bisa diapa-apakan lagi”. Belajar keras, bikin tim belajar, latihan soal akan memperbaiki nilai kita. Tapi ada titik di mana semua upaya itu mentok untuk mengejar nilai. Alias IPK mentok gak bisa dikatrol lagi. Kalau sudah mentok begitu, diambil pusing malah bikin jiwa kita tertekan. Kita akan stres sendiri. Karena pasti akan melakukan komparasi dengan teman-teman. Terutama mereka yang nilainya lebih bagus.

Dari pengalaman saya, kita memang harus menjaga “kewarasan” jiwa, sih. Salah satu yang selalu berhasil, untuk saya pribadi adalah dengan shalat lima waktu. Kurang satu aja, rasanya uring-uringan. Bukan tipe merasa bersalah atau berdosa, ya. Dulu sih kalau ada sholat yang terlupa, memang merasa bersalah/berdosa.

Jiwa yang uring-uringan ini indikasi kecil bahwa jiwa saya sedang tidak sehat. Solusi yang tokcer buat saya (dan mungkin untuk teman-teman pembaca) adalah kembali ke agama dan keyakinan dulu.

Dipicu Gadget dan Social Media

Gadget dan social media ternyata jadi pemicu bagi remaja juga. Universitas Gajah Mada (UGM) ternyata pernah membahas hal ini juga di sini. Satu poin yang dimunculkan adalah kemampuan menyeleksi dan menyaring (filtering) oleh remaja ternyata berbeda-beda. Gagal filtering yang negatif, jadi sebab eksposur negatif pada remaja kita.

Tentang hal ini, saya dan istri sempat berdiskusi panjang tentang kapan anak-anak sudah pantas memiliki akun socmed sendiri. Saya bikin akun facebook di usia 21 tahun. Sejak itu saya aktif main fesbuk. Istri di usia 18 tahun. Saya curious soal ini karena melihat fenomena sedari kecil sudah punya akun socmed. Bahkan beberapa ortu sudah membuat akun Instagram (IG) untuk anaknya. No problem sih, selama masih diamankan oleh ortunya. Tapi poin saya adalah, sooner or later anak-anak akan memegang socmed. Tapi seberapa cepat mereka diperbolehkan membuat akun tersebut? Pada usia berapa boleh memiliki akun sendiri?

Sebab, di IG banyak sekali visualisasi tentang gambaran ideal. Tubuh ideal, wajah ideal, pakaian bagus, tujuan wisata luar negeri, dlsb. Which is, gagal filtering bisa menyebabkan kita (terutama para remaja) gagal memprioritaskan things in life. Worst case nya di situ. Kalau tanda -tanda lain yang mengindikasikan depresi, ada semisal turunnya rasa percaya diri dan adanya kesulitan untuk berkonsentrasi. Sebagaimana disampaikan Prof. Sofia Retnowati dalam acara di UGM tersebut.

Pemberitaan Mengedepankan Humanisme

Bagi awak media, suicide perlu diberitakan. Bad news is a good news. Namun demikian, hendaknya perlu diberitakan secara positif, mengedepankan humanisme, serta membangun harapan. Sehingga lebih mengedukasi dan bersifat preventif terhadap tindakan suicidal itu sendiri. Ini link berita di mana Aliansi Jurnalis Independen (AJI) mengajak media massa untuk mengedepankan humanisme dalam pemberitaan suicidal.

Saya pribadi, sebagai yang pernah mendiagnosis diri sendiri pernah mengalami tekanan kejiwaan, merasakan kesedihan yang sama tatkala mendengar pemberitaan bunuh diri di media massa. Pasalnya, pemberitaan tersebut belum diiringi ajakan untuk menghubungi dan berdiskusi dengan pihak terkait seperti psikolog, psikiater, maupun klinik kesehatan jiwa.

Cara Menetapkan Tarif Freelance

Mungkin topik tarif freelance ini paling ditunggu-tunggu, ya. Haha.

Saya pribadi, as penjual dan pembeli juga memberi bobot tinggi sama pricing ini. Sebagai konsumen, mau cocoknya kayak apa juga, kalo gak sesuai budget bisa batal beli. As penjual, saya juga gak mau dibayar murah. Apalagi dianggap murahan. Makanya topik ini penting banget untuk saya share.

Pertama-tama, bisa dimulai dengan tarif mandays dulu sewaktu masih kerja kantoran. Itu kalau anda pernah kerja kantoran. Misal dulu gaji Rp4,4juta. Berarti mandays anda Rp200ribu. Karena sebulan kerja itu sekitar 21-22 hari. Dengan catatan anda kerja senin-jumat. Kalau kerjanya senin-sabtu bergaji Rp2,5juta maka per harinya sekitar Rp100ribu. Tapi yang terakhir ini gak yakin ada deh. Itu cuma permisalan aja untuk menghitung tarif harian.

Bisa juga mulai dari harga di pasar freelance. Seperti di sribulancer.com, freelancer.co.id, dan sejenisnya. Harus diingat bahwa yang menyodorkan jasa pertama kali di sana, memulainya dengan angka yang menyedihkan. Misalnya, desain logo Rp50ribu. Penulisan artikel Rp20ribu. Lucunya, ada saja yang berani membayar. Tapi bagaimana lagi, demikian kan hukum supply-demand bekerja.

Harga supply-demand sebenarnya harga berdasar pada produk/layanannya. Ini kategori kedua.

Kalau sukses mulai dari pasar freelance, bisa lha menaikkan harga sedikit demi sedikit. Intinya, naikkan harga setelah dapat trust (kepercayaan) dari klien yang sama. Jangan mudah pindah klien. Lebih susah dapat klien daripada mengerjakan proyek baru dari klien lama. Jadi lebih baik sama klien lama, dengan harga yang dia tawar sedikit, dan pembayaran lancar. Daripada harus cari klien baru terus. Bukannya melarang sama sekali, ya. Tapi ada kombinasi sehat yang mesti kita pelihara. Misal 4-5 klien lama + 1 klien baru.

Bicara soal content, untuk klien lama atau baru sebenarnya jelas banget bedanya. Ini kaitan sama kerjaan fotografi, desain, menulis, dsb ya. Makin lama kita bareng dia, maka makin kenal juga kita sama mereka. Makin dalam pula pemahaman (understanding) kita terhadap mereka. Pastinya ini memudahkan kita untuk menemukan deep insight (wawasan mendalam) tentang konsumen/user/reader mereka. Dari sisi mereka, makin betah mereka sama kita, berarti semakin minim upaya mereka untuk mengurus kita dari waktu ke waktu. Simply karena mereka sudah engage banget sama kita.

Harga bisa lebih tinggi, kalau kita menawarkan proses kerja yang sistematis, jelas dan mudah dimengerti. Contoh, freelance yang mantan jurnalis biasanya jelas banget tuh cara kerjanya. Turun ke lapangan ambil data, atau cari referensi sekunder dari buku, artikel (termasuk googling), dsb. Baru menyusun tulisan, editing, review sampai proses rilis. Jadi, temukan metodologi kerja kita, sempurnakan (alias buktikan) dengan latihan dan proyek terus-menerus. Kemudian jadikan metodologi tersebut sebagai nilai jual kita. Sehingga kita bisa memasang tarif yang lebih tinggi dari sekitar kita.

Faktor ke sekian, perhatikan isi kantong calon pembayar. Kalau kantongnya dalam, maka bisa lha kita kalikan 2-3 kali lipat. Saya perhatikan, ini orang tertentu saja. Kebanyakan klien saya, gak di kategori seperti ini. Mungkin ini merefleksikan pasar besarnya ya. Bahwa hanya 5%-10% aja yang bisa membayar lebih.

Pendekatan mandays itu satu hal. Semua yang disebut di atas itu manhour/mandays/manmonths. Karena sudah ada proses yang jelas, berikut dengan waktu (dan proposinya) yang kita upayakan. Sementara itu, pendekatan dari produk/service-nya sendiri itu lain pendekatan. Nah, dari kedua kategori harga tersebut, saya ambil harga tengahnya. Demikian pengalaman saya.

Terakhir, jangan lupa sediakan ruang untuk negosiasi. Kalau saya, dialokasikan sampai 30% untuk dinego. Jangan terlalu rapat ruang negonya. Bahkan dari harga yang saya kehendaki, itulah yang saya naikkan sampai 30%. Sambil berharap, akan deal di harga sekitar 85%-90%. Hehe. Misal, kita harap deal di Rp700ribu. Maka sebut harga pertama di Rp1juta.

Hahaha. At the end, saya gak akan mengeluarkan angka, ya. Balik lagi ke anda pribadi. Mau merilis di nilai berapa. Intinya, hati-hati dalam memasang harga. Harga yang ketinggian masih bisa diturunkan. Harga yang udah kelewat rendah, susah dikatrol naik.