Concurrent Collaboration

Lagi mau tulis soal ini karena kerasa banget produktifitas jadi naik. Terutama berkat aplikasi di Google Drive.

Di kantor lama, progress rasanya lambat sekali berjalan. Review dan approval seringkali menghambat. Habisnya, kami semua bekerja dengan email. Kerjakan dulu, nanti di-email. Tunggu review, lalu kerjakan lagi. Kalau gak ada review lagi, berarti tinggal tunggu approval.

Berarti kan minimal ada tiga kali kirim email, tho? Belum termasuk si attachment yang harus diberi nama berbeda. Karena memang di-Save As dengan nama berbeda. namaclient-jenisdokumen-versi0.1 , namaclient-jenisdokumen-versi1.0 , namaclient-jenisdokument-finaltapieditpertama, dan seterusnya.

Salah satu yang menghambat adalah reviewer, approver, dan editornya harus menunggu selesai. Tidak bisa dia kerjakan bersamaan dengan dokumen-dokumen yang lain. Padahal, dia juga bekerja dengan beberapa analyst yang lain seperti saya ini.

Katanya sih, kalau mau cepat, pergi/kerjakan sendiri aja. If you want to go fast, go alone. Tapi jadi pikir-pikir juga, yah. Kuat berapa tahun mau seperti itu? Mending juga kerjakan bareng-bareng. If you want to go far, go together.

Jadi kaitan dengan judul di atas adalah, penggunaan Microsoft (Ms) Word, Excel, PowerPoint sudah jadoel BGT. Sekarang mah, mending pakai Google Drive aja. Itu lho, yang ada Google Docs/Sheet/Slides sebagai tools untuk melakukan online collaborative documentation.

Instead of terpaku pada satu dokumen saja, dan cenderung tertunda sama si atasan. Lebih baik pakai yang semacam ini. Beberapa dokumen bisa selesai dalam tempo yang lebih cepat.

Salah satu alasan mengapa concurrent collaboration memang sudah zaman now banget, adalah karena pesertanya adalah para milennial. You know, milennial lebih ambisius daripada generasi sebelumnya. Yakni masalah pekerjaan, lebih ingin menyelesaikan banyak hal dalam tempo yang lebih cepat.

Bersyukurnya, para milennials memang dianugerahi kelebihan tersebut. Terutama adalah kebiasaan multitasking-nya. Di sisi lain, milennial gak terlalu cocok dengan struktur yang terlalu vertikal yang hierarkis banget.

Jadi, instead of dibuat layer yang terlalu banyak (yang masing-masing jadi menganggur (idle) kalau harus menanti yang fase sebelumnya beres duluan), lebih baik dibuat tiga layer saja. Dalam hal dokumentasi, misalnya adalah ada yang menulis, ada yang mengedit, ada yang menyetujui (approval).

Dari sisi aplikasi digitalnya, ini terbukti mempengaruhi banget. Setelah beberapa tahun menggunakan Google Drive, lalu untuk suatu dokumen terpaksa harus memakai Ms Word lagi, terbukti kami kembali kelimpungan.

Bisa dikatakan, karakter si milennial dan Google Drive ini sudah klop banget. Satu melengkapi yang lainnya. Memang sudah ditakdirkan untuk bersama dalam generasinya di zaman now ini.

GD yang mengoptimalkan komputasi awan (cloud computing) ini, mengizinkan kita untuk mengakses file(s) tersebut lewat beberapa device. Jadi habis mengerjakan di komputer kantor, dengan mudah kita mengerjakannya kembali lewat smartphone kita sembari pulang ke rumah dengan KRL atau MRT.

Kemudahan akses dari beberapa aplikasi berbeda juga memberikan keamanan tersendiri. Contohnya, kita tidak perlu panic ketika laptop sedang rusak atau terjadinya peristiwa sejenis.

As you know, shared-file yang sama bisa kita buka lewat smartphone. Tinggal masuk ke drive-nya google kita. Cari dan klik untuk masuk ke shared file tersebut.

Document collaboration tools:

  • Increase productivity
  • Reduce (unnecessary) office politics
  • Decrease city-commuting
  • Faster execution of ideas
  • Make business process more efficient
  • In streamlining workflows.

If you’re familiar with Microsoft Word, Google Docs will feel familiar to you. It has a top bar filled with all of your editing and formating buttons that you’re familiar with.

Google Docs has collaboration built-in, making it easy for your team or clients to collaborate. Once you create a document it’s easy to sharing it with others via shareable link. Gak perlu lagi buka email untuk upload-download file.

You can work on a document with your teammates simultaneously over the cloud, give them access to edit or make it as a ‘view only’ doc, and leave comments in real-time.

Belum semua orang siap berperan sebagai atasan dengan para bawahan yang tidak dia lihat langsung –sebagaimana yang terjadi dengan remote working. Mindset-nya perlu digeser menjadi serba deliverables. Apa yang harus dibuat, dan kapan paling lambat diterima.

Confluence from Atlassian. Untuk knowledge management. Jadi kalau ada member/employee yang baru, tidak sulit untuk belajar dan beradaptasi dengan perkembangan kantor. Terutama, soal teknologi yang digunakan. Karena balik lagi ke generasi milennial yang langgas, cepat sekali berpindah company.

In Confluence, you create with pages and blog posts. Just like other documents you’ve used, you can fill pages and blog posts with text and tables, and format them to look pretty, funny, or professional.

Insomnia

Pertemuan dengan seorang teman menginspirasi kisah fiksi ini.

Sudah lama ku tidak berjumpa dengannya. Mungkin ada empat tahun. Belum pula dia duduk, sudah kulihat kelopak matanya menghitam.

Berdiri ku menyambutnya. Kusalami tangannya. Dia duduk. Tanpa basa-basi pada pelayan, sekedar bertanya menu apa paling favorit di kafe yg baru buka ini, dia langsung menyambar, “espresso ya. Single origin”.

Kutanya kabar. Katanya baik saja. Tidak pernah sebaik ini, bahkan. Aku tersenyum. Kuikut senang. Kalo itu memang benar.

Belum kulanjutkan, dia menyerocos. Kangen pula rupanya dia. Terutama di masa-masa kami menghabiskan kopi dan rokok hingga pagi di loteng kontrakan. Sebelum skripsi dan kewajiban lainnya memaksa kami menghentikan kebiasaan buruk itu.

Sekali waktu, beberapa semester setelah ku lulus dan bekerja di luar kota, kudengar ada juniorku yang menanyakan keberadaan. “Sudah lama tidak masuk”, katanya. “Dekan ingin menagih kelulusannya. Seperti yang dijanjikan terakhir kali.”

Tak kaget ku mendengarnya. Orang kalau kebanyakan begadang memang tak jelas akal pikirannya. Berjanji tapi tak sadar pada apa dia berkomitmen. Ingatannya pun pendek. Payah. Dia bahkan bisa lupa setengah jam lalu bicara apa.

No comment. Sudah waktunya mengurus diri sendiri. Selamatkan diri masing-masing. Toh aku punya utang pekerjaan pada pemberi beasiswaku. Belum lagi ortu di rumah sakit-sakitan. Ku harus membiayai mereka.

Bukan tak mau berempati. Tapi nanti dulu. Beri aku waktu. Empat-lima tahun lagi boleh lha kita bertemu lagi. Jawabku kala dia mengajak bertemu di kafe baru di bukit sebelah utara.

Dan sekarang ini yang terjadi.

Kantung matanya menghitam. Apa iya lebih hitam daripada dulu, demikian pikirku. Apa yang dia kerjakan sekarang?

“Hahaha. Aku tahu kau mau menceramahiku. Minimal kau akan bertanya, sibuk apa sekarang? ”

Aku ya tidak kaget. Mungkin dia benar 90%. Kalau bukan itu, palingan kutanya soal kopi single origin apa yang baru dia coba.

Tanpa babibu, dia nyerocos tanpa henti ibarat kereta. Yang baru bisa berhenti tatkala tuas remnya ditarik jauh sekilometer sebelumnya.

Dia memulai ceritanya dengan “aku sekarang bahagia. Punya pekerjaan. Begitu bahagia sampai aku kerja lupa waktu. Datang pagi, tahu-tahu sudah malam saja. Benar kata dosen psikologi positif kita itu, kalau sudah flow, lupa berhenti”.

Sebenarnya bukan dosen kami itu yang mengemukakan thesisnya. Beliau mengutip saja dari Mikhaly Cziktsenmihaly.

Tanpa kupotong, dia melanjutkan, “Aku kalau sudah kerja, sampai penasaran. Kuikuti rasa ingin tahu itu bahkan sampai tengah malam. Gak sekali, aku sampai gak tidur hingga pagi untuk menemukan algoritma yang tepat untuk program yang kubuat”.

Pantas dia sedikit kacau, dulu. Rupanya dia tak pernah senang dengan kuliah kami. Aku sedikit bersyukur, mudah-mudahan memang ini titik terang dalam hidupnya.

Dia melanjutkan, “Tapi dua-tiga tahun kujalani itu setelah lulus, eh badanku memburuk, tahu! “

Eh kau ingat tidak. Setelah kau selesai sidang, kau langsung kabur bersama perusahaan itu. Tak ingat lagi kau padaku, hah?! Bahkan kuundang datang ke wisudaku pun kau tak membalas. Hahahaha.

Aku ingat dan mengiyakan masa-masa itu. Baru bergabung dengan perusahaan sawit kan. Aku ditempatkan di kalimantan. Jam kerja seperti biasa. Tapi tidak ada rooster. Simpel. Kami bukan pegawai tambang batubara.

Dia melanjutkan, “SGOT-SGPT ku memprihatinkan, kata dokter. Aku kurang tidur, katanya. Jadilah aku harus minum obat tidur. Tidak nyaman rasanya, tapi mungkin itu yang terbaik. Sekarang aku bergantung sekali dengan obat tidur. Kalau gak minum itu, rasanya kepala mau pecah, jantung mau keluar dari dada”.

Masih kuingat jelas percakapan -percakapan barusan. Berikut cerita-cerita lama yang menyertainya. Untungnya, kafe sudah mau tutup. Memang, tidak sampai hati para pramusaji mengusir kami dengan lisannya. Namun, mereka memberi tanda-tanda. WiFi yang dimatikan, lampu-lampu dipadamkan. Bahkan sampai kursi-kursi diangkat ke atas meja kami pun belum menghiraukan. Sebagai pengidam insomnia yang lebih parah, mungkin dia masih kuat lanjut sampai pagi.

Tapi tidak, tidak denganku. Alhamdulillah tidak seburuk itu insomnia-ku. Buktinya, aku masih sadar diri. Dan daripada terjebak ke kafe 24 jam yang mungkin jadi persinggahan kami berikutnya, kuputuskan untuk stop saja. Anak istri menunggu di rumah.

Auto bubar lah kami kemudian

The secret recipe of being successful introvert

Nothing’s new. Sudah banyak artikel, jurnal, buku yang membahas seputar introvert. Kalau mau versi pendek, silakan baca post ini saja. One part talk about how we should behave to our self. Another part show how to extract the best from extrovert.

Kadang-kadang, blogger nge-blog karena ingin eksis. Ya, gak? Jadi latah aja mengikuti topik yang lagi trending. Berharap bisa menunggangi ke-viral-annya. Haha.

Padahal, beberapa orang (spesifiknya blogger) sudah merencanakan dan mempersiapkan topik-topik tertentu untuk di-post. Sudah diriset segala. Draft juga sudah dibikin. Tapi enggak jadi published, simply karena too personal. Won’t too viral. Haha. Bisa jadi itu saya doang. Mungkin memang saya sedang halu.

Anyway, being popular is not that comfortable for the introverts. Yeah, bukan gimana-gimana. Mungkin belum biasa saja. Atau, bagi introvert yang sudah biasa, jelas mereka sudah mengalokasikan waktu untuk menyendiri lagi, alias “masuk ke dalam gua; ruang privatnya”. Artis-artis yang populer itu, tentu banyak juga yang beneran seniman dan aslinya introvert.

Soal demikian itu, sudah jadi karakter, ya. Artinya, itulah kelebihan sekaligus kekurangannya para introvert. Kelebihan; karena di tengah-tengah semedinya itu, di sanalah power-nya terkumpul. Inspirasinya datang. Kreatifitasnya malah muncul. Di sisi lain, jadi kekurangan karena dunia saat ini kelewat menuntut ekstrovert dengan level tinggi (high-level extrovert).

That’s why beberapa orang malah tidak nyaman dengan social media. Lihat tuh, post IG-nya sedikit (eh ternyata lebih suka main story; kan dalam 24 jam hilang ditelan bumi). Follower-nya berapa sih; sedikit doang. Gitu lha kalo saya diibaratkan orang lain tipe extrovert yang menggunjing si introvert. Padahal punya followers banyak kan capek juga ya. Mesti menuntut perhatian lebih dari kitany. Ya, padahal socmed adalah sarana marketing-branding-selling diri, lho. Ok, ini mulai out-of-topic.

Tante Susan Cain di bukunya “Quiet” sendiri menyatakan hal yang sama. Haha. Sebenarnya saya mengutip dari beliau, sih. Bahwasanya dunia yang sudah kelewat extrovert ini akhirnya kelewat berkehendak akan popularitas: kamu kudu populer, harus kekinian, update socmed, bisa bicara beberapa bahasa (ngapak, planet bekasi, kota jaksel, and so on, and so on). Kalo loe gak memenuhi kriteria itu, maka loe gak gawl, atau apalah semacamnya.

Padahal ya, dunia harus memberi ruang pada mereka-mereka yang introvert dan pada pekerjaan-pekerjaan yang introvert. Banyak lho, pekerjaan yang butuh ketelitian, keheningan, kecermatan, deep thinking, etc. Contohnya: Developer, writer, designer, accountant, pengrajin, dsb. Mereka ini gak butuh popularitas. But believe me, the world needs their work. Karena merekalah yang dengan their emphaty and curiosity berkarya: merancang produk yang digunakan oleh banyak orang. Note: tanpa bermaksud menjelekkan, para developer itu akrab dalam tim kecil dan temannya di luaran relatif tidak banyak.

Lihat Jony Ive, dari Apple, yang selalu bertanya-tanya, mengapa (desainnya) begini, mengapa harus begitu, what will they think when facing this product, would this product transform their lives, and so on, and so on.

Because, as technical writer, saya juga begitu. Oiya, aku mengakui bahwa saya adalah seorang introvert. I do spend my time to read more and analyse further how to improve my writing and increase reader experience. Saya merenungkan dan berkontemplasi, apakah dokumen teknis ini cukup sederhana untuk dipahami oleh para user? Apakah saya menyampaikan informasi teknis ini dengan benar? Akankah mereka terganggu dengan tebal/banyaknya dokumen ini, lalu bisakah saya menyusunnya seringkas mungkin?

Ekstrovert

Dari perspektif yang lain, keterampilan public speaking adalah salah satu keterampilan yang semakin diperlukan. Tidak usah malu. Justru harus dilatih. Dan sebagai peserta latihan, introvert lha jagonya. Makin tahu di mana kelemahannya, dan bagaimana cara memperbaikinya.

Being salesman tidak harus ekstrovert dan pandai bergaul, lho. Dalam pengalaman saya berjualan proyek, keterampilan paling utama justru adalah mendengar dan berempati. Karena pembeli ingin membeli dari seorang teman yang mereka percayai (trusted). Bukan belanja dari seorang penjual yang bicara berbusa-busa yang memaksa banget closing-nya demi mengejar target semata.

Oke, introvert tidak suka pesta. Ekstrovert lha yang menyukainya. Namun demikian; pesta, arisan, reunian, kumpul keluarga, dan sejenisnya bukan lagi sesuatu yang buruk dan harus dihindari. Cukup lakukan yang harus dikerjakan: (1) make sure you have introduce yourself –kalau memang kesempatannya ada– dan (2) cukup ngobrol intense aja dengan orang-orang yang posisinya terdekat denganmu. Kamu tidak harus menjadi bintang –di mana kamu bicara paling banyak dan menjadi yang paling dikenal– di acara kumpul-kumpul tersebut.

Akhir kata, introvert vs ekstrovert ini bukan untuk dibanding-bandingkan. Bukan juga sekedar diketahui dan diamalkan. Melainkan, menurut saya, kelebihan sisi yang sebelah sana (yakni ekstrovert) juga harus kita pelajari dan kuasai.

Chelsea juara lagi dan teknik-teknik mengelola tim dalam institusi

Chelsea juara lagi. Hampir setiap tahun juara. Pelajaran apa yang bisa diambil dari bagaimana Chelsea mengelola timnya? Saya ulas sedikit dalam post kali ini.

Chelsea juara lagi. Di UEFA Europe League (UEL) edisi 2018/2019. Tahun lalu, juara FA Cup 2017/18. Tahun sebelumnya juara English Premier League (EPL) 2016/17. Dan masih ada juara-juara di tahun-tahun sebelumnya lagi. All-in-all, Chelsea adalah klub EPL yang paling banyak gelarnya di milenium baru (sejak tahun 2000).

Mengapa Chelsea bisa demikian sukses dalam hal prestasi olahraga (keuangannya sehat, meski bukan yang omzetnya paling besar.)?

Satu-satunya jawaban adalah perihal pengelolaan tim mereka. Bukan sekedar portfolio seimbang posisi pemain (komposisi pemain menyerang dan bertahan), variabilitas usia (yang muda lebih enerjik, yang tua lebih berpengalaman), melainkan culture yang dibangun dan dipertahankan. Kenapa harus culture? Because Culture Trumps Strategy, Every Time.

As you all know, pemain datang dan pergi di klub sepakbola. Pemain mulai menua –biasanya di atas 30 tahun– mulai menurunlah physicality-nya. Termasuk endurance, speed, agility dan beberapa aspek fisik lainnya. Sooner or later, mereka harus diganti dengan yang lebih muda. Sumber peremajaan tim ada dua: bisa dari akademi klub atau beli jadi.

Nurturing Talent

Tidak heran kan semua tim besar di lima besar liga eropa punya akademi klub. Mungkin ada faktor kewajiban ya, dari pengelola liga. Yang jelas, itu adalah salah satu sumber talenta juga –di samping sumber penghasilan dari usaha Sekolah Sepak Bola (SSB).

Sekedar statistik: pada masa jayanya, sekitar pertengahan 90-an sampai tengah 2000-an, rerata usia tim inti AC Milan adalah 28 tahun. Tidak tua, tapi berpengalaman.

Kalau kita ngomongin Chelsea, pemain-pemain dari akademi yang sudah waktunya rutin main di tim utama adalah: Ethan Ampadu, Tammy Abraham, James Reece, dan beberapa calon lainnya. Loftus-Cheek dan Hudson-Odoi kan udah mulai reguler mainnya ya.

Di MU-nya Sir Alex, story yang gak pernah habis dikupas adalah soal “Class of 92“-nya yang terdiri dari Ryan Giggs, Paul Scholes, David Beckham, Nicky Butt dan Neville bersaudara. Giggs dan Scholes bahkan pensiun di MU — hanya satu klub sepanjang karir bermain.

Talent Acquisition

Yang kedua tadi, kita bisa beri istilah: strategic talent acquisition. Sifatnya penting dan mendesak. Oleh sebab itu, harus sediakan budget besar. Karena yang dituntut dari pemain yang bersangkutan adalah hasil yang instant. Dan budget besar tersebut tidak untuk banyak posisi sekaligus. Melainkan hanya 1-2 orang saja. Makanya disebut stratejik.

Bicara strategic acquisition, adalah Michael Pulisic. Timing-nya pas. Karena sooner or later, Willian dan Pedro as winger akan pensiun. Apalagi Hazard juga beneran akan pergi. Lagian si Michael juga dari Amerika Serikat (AS). Lumayan lha untuk menambah pundi-pundi omzet dari jualan kaos di Amrik sono. Belum lama ini juga Chelsea baru event pertandingan persahabatan di sana kan.

Dalam kasus Sir Alex di tahun 1992, strategic talent aquisition yang beliau lakukan adalah menghadirkan Eric Cantona dari Leeds United pasca mengidentifikasi itulah “lubang” yang harus ditambal olehnya. Tidak hanya itu, akuisisi pemuda 18 tahun dalam wujud Wayne Rooney dan Cristiano Ronaldo adalah dua contoh lainnya.

Leadership

Nah, di sisi lain. Ada aspek team work, culture, dan leadership yang harus dipertahankan dalam tim. Pemain yang menokoh, kemudian dipertahankan, ya itulah alasannya. Contoh: Bambang Pamungkas di Persija, Fransesco Totti di AS Roma, Carragher di Liverpool. Kalau Chelsea, ya John Terry (dan arguably Frank Lampard), misalnya.

Yang kekinian adalah Gary Cahill dan suksesornya, Azpilicueta. Nama yang terakhir saya sebut, memang memberi teladan juga untuk tim secara keseluruhan. Sebab rasa hormatnya tetap ada pada sang Kapten (musim lalu) yang memang kehilangan waktu bermain regulernya. Disadari atau tidak, yang begini penting dan memang dijadikan contoh/teladan bagi anggota tim yang lain.

Performance Standard

Ada standard minimal proses dan hasil yang harus dipertahankan.

Kalau di Chelsea, salah satunya adalah ukuran juara. Gak juara bisa dipecat. Yang sudah berhasil memberi gelar sekalipun bisa saja dipecat (case: UCL-nya Roberto di Matteo dan UEL-nya Rafa Benitez).

Salah satu faktornya kinerja ini adalah siapa pelatih. Bukan sekedar peracik taktik (siapa aja yang main, dengan formasi apa), tetapi juga pelatih as motivator. Karena dengan motivasi yang tinggi hasil dicambuk-cambuk, para pemain juga akan memberikan high performance.

Pada masa Beckham dan Roy Keane malah memberi pengaruh buruk ke tim –David disebut lebih memilih jadi selebriti daripada pemain bola, Roy mulai mengkritik pelatih–, Sir Alex mempersilahkan keduanya pergi dari Old Trafford.

Salah satu “satpam” yang mengamankan dan mencambuk urusan kinerja ini memang si pelatih. The problem with Manchester United in last 6-7 years is budayanya soal performance belum setegak pas jamannya Sir Alex Ferguson. Yaitu, melempem saat Marcos Alonso (Chelsea) menyamakan kedudukan. Seri dan kalah dari dua tim yang pasti degradasi (salah satunya Huddersfield).

Kinerja Tinggi juga didorong dari masuk-keluar pemain dan kontrak-kontrak mereka. Sadar mereka gak selamanya di klub (dan bisa dilepas ke klub lain), wajar donk mereka berupaya maksimal.

Satu lagi adalah, budaya. Ini agak susah dijelaskan. Datangnya dari pelatih dan pemain-pemain yang jadi backbone-nya tim. Tapi terasa banget deh, kalau kita berusaha peka. Tanpa perlu deskripsi macam-macam, cek deh quote-nya Petr Cech sebelum final UEL 2019 ini.

Beberapa Kesimpulan, wabil khusus dikaitkan dengan komposisi tim/karyawan di perusahaan:

  • Kalau ingin sukses berkelanjutan, penting lho punya rencana suksesi. Sehingga talenta-talenta muda bisa menjadi pimpinan perusahaan di masa datang.
  • Ada masa di mana, bajak-membajak memang wajib dilakukan. Demi dapat insight dan strategi baru, moral booster for existing team, dan seterusnya.
  • Untuk mendapatkan proses dan hasil terbaik dari tim, sangat krusial untuk mengelola mereka (sebagai tim dan individu) lewat program performance management yang memberikan mereka motivasi berkarya. Meski demikian, tetap ada semangat kolektif yang harus dijaga dan dipertahankan.

Reference:

Jangan Fokus

Saya tidak antitesis dengan fokus ya. Bukunya Daniel Goleman saja belum dibaca. But, I have my own understanding about focus itself. It is: to not focus.

Dalam sejarah hidup saya yang pastinya pendek ini, rasanya gak pernah tuh saya fokus. Yaitu, hanya nge-spotlight hal yang itu-itu aja. Seakan targeting yang itu-itu aja adalah boring. Jadinya saya melakukan beberapa aktifitas sekaligus. Not in one time, ya. Tapi dalam time range yang lebih panjang, saya coba achieve beberapa hal. That’s why I told my self to jangan fokus. Karena kalau fokus beneran, mungkin hanya dapat 1-2 target dalam setahun.

Doing several categories itu kayak jadi kebutuhan (needs). Bukan lagi keinginan (wants). Karena many times ‘kan kita butuh perspektif baru ya. Untuk memahami atau mengeksekusi hal baru. Ibarat marketer yang butuh benchmark ke industri lain, seperti itulah yang saya lakukan. Habis mengobservasi bagaimana cara mereka melakukan, di situlah saya bertanya ke diri sendiri, bisa gak ya metode mereka tersebut diterapkan di sini?

Ke-tidak-fokus-an itu kemudian jadi cara menemukan referensi. Bahwa dalam dimensi lain kehidupan (dan pekerjaan), ada lho teknik/metode/taktik lain menyelesaikan sesuatu atau solving the problem. Tentu tidak pernah persis sama, ya. Tapi di situlah kita dapat menemukan persamaan dan perbedaannya. As u already know, persamaan dan perbedaan ‘kan hanya salah dua tools aja untuk mengklasifikasikan sesuatu relatif terhadp sesuatu yang lainnya.

Apalagi tatkala saya mengenakan “topi” technical writer, memahami persamaan (sekaligus perbedaan) antar topik/kategori, malah memudahkan saya untuk menyampaikan hal-hal teknikal dengan lebih sederhana. Baik lewat definisi, maupun lewat analogi.

Sebagai editor, tatkala melihat materi/konten, kita malah bisa “melihat” ada part-part yang seharusnya ada lho, tetapi ternyata belum tersedia. Nah, di situlah kita bisa menambahkan atau ask the respective writer untuk melengkapi “kekosongan” tersebut.

Atau, referensi-referensi tersebut bisa kita lihat hubungannya satu sama lain dalam perspektif upstream (hulu) dan downstream (hilir). Dalam konteks usaha, yang hulu kaitannya dengan produksi/manufaktur/rantai suplai, dll. Hilir berarti dekat dengan konsumen, buyer, brand, channel (outlet), dll.

Lebih lanjut, ke-tidak-fokus-an malah memberi ide pada terjadinya inovasi bisnis. Inovasi-inovasi baru dalam bisnis ‘kan sebenarnya banyak terjadi dengan metode ATM (amati-tiru-modifikasi) yang melakukan copy-paste-edit dari industri lain. Contohnya apa, ya? Haha. Sebenarnya ada banyak banget.

Contohnya inovasi gojek yang instead of mengakuisisi dan menguasai segala aset fisik yang mungkin mereka miliki, yang dilakukan adalah membangun ekosistem bisnis berbasis layanan sepeda motor yang menjadi inisiatif perdana mereka. Tidak hanya go-ride, ekosistem tersebut kini terdiri dari go-food, go-car, dan go-life (go-massage, go-clean, dsb).

Perusahaan Apple, di periode kedua leadership-nya almarhum om Steve Jobs, juga tidak fokus. Setuju, ‘kan? Instead of fokus di satu produk, beliau mengarahkan untuk fokus mengeksplorasi brand Apple nya itu sendiri yang nyata-nyata bermain di market yang high-end. Yakni pasar dengan spesifikasi tercanggih, dengan harga tertinggi. Fokusnya pada brand, tidak fokus pada variasi produk. Justru produknya sangat bervariasi mulai dari smartphone, laptop, desktop, hingga ritel berupa toko.

Balik ke gagasan awal tulisan ini. Actually, saya gak meng-antitesis-kan ide Focus-nya pakdhe Daniel Goleman. Writer yang ini, judul buku terbarunya adalah Focus: Hidden Driver of Excellence. Saya belum pernah memahami basic gagasannya beliau. Bisa jadi saya menentang atau malah sepaham dengan beliau.

Yang pernah saya baca, salah satunya adalah The Power of Habit dari Charles Duhigg. Dia berargumen bahwa segala fokus kita harus terealisasi ke dalam suatu kebiasaan (habit). Jadi, fokusnya bukan semata soal thinking or to concentrate. Tapi fokus harus dibawa dan diangkat hingga menjadi kebiasaan.

Buku tentang focus yang lain ada Deep Work dari Cal Newport. Belum pernah saya baca. Tapi beliau thinker and writer yang oke. Karyanya yang bagus itu So Good; They Can’t Ignore You. So, Deep Work mestinya termasuk kategori must-read juga.

Ah iya, satu lagi judul yang popularitasnya nyaris sepanjang masa, Flow: The Psychology of Optimal Experience. Dari Mikhaly Csikzentmihalyi. Fokus yang beliau maksud, dideskripsikan dengan kenikmatan bekerja yang tidak kenal waktu. Ibarat pagi-pagi datang kantor, eh tahu-tahu sudah malam saja. Mengindikasikan kita sudah sedemikian “tenggelam” dalam pekerjaan. Ke-tenggelam-an tersebut adalah indikasi fokus.

Kalau fokus dan tidak fokus ini kita lakukan pemodelan ke dalam model spesialisasi–dengan satu ujung adalah being generalist dan ujung satunya adalah being specialist–maka tidak fokus berarti menjadi seorang generalis. Dan fokus berarti being specialist in something-specific profession. Yeah, masing-masing ada plus-minusnya, sih.

Menjadi full-stack (sebagaimana terdeskripsikan oleh posisi full-stack developer) alias generalis berarti punya kemampuan serba bisa yang tentu saja sepaket dengan tidak memiliki kemampuan yang difokuskan. Instead of mencari pihak ketiga yang bisa membantu (masalah harga dan ketersediaan biasanya), ada masanya korporat senang dengan karyawan yang tipe full-stack ini. Tapi seorang generalis kan tidak fokus, ya?

Being specialist (alias fokus) juga ada plus-minusnya. Plusnya adalah branding/positioning kita akan kuat. For certain period of time, kita akan menjadi yang pertama diingat –dan diberi pekerjaan–untuk kategori tersebut. Minus yang sepaket dengan plus tersebut adalah, tidak semua pekerjaan/proyek/bisnis bisa kita garap.

Pertanyaan seputar generalist-specialist ini tidak ada habisnya. Sebagaimana labilnya manusia pada umumnya, ada masanya ingin jadi spesialis; ada pula saat lain ingin menjadi generalis. Naiknya posisi pekerjaan ke tangga manajemen, berarti mengindikasikan kita menjadi generalis. Actually, tidak semua orang mempersepsikan karirnya seperti itu. Ada juga yang memilih untuk menjadi lebih spesifik di bidang pekerjaannya sekarang ini.

Ajari Anak Berdagang Sejak Kecil

Post ini gak berisi tips-tips menjadikan anak seorang pengusaha. Sekedar menanamkan salah satu aspeknya saja, yaitu berjualan.

Post ini tidak muluk-muluk. Bukan tentang kaya dalam sekejap. Bukan juga soal membandingkan profesi karyawan, self-employee, dengan pengusaha. As simply as, mengajarkan kepada anak-anak (atau diri sendiri) tentang caranya berjualan.

As you know, usaha mikro, kecil, menengah hingga besar tidak bisa lepas dari jualan (selling). Pembeli tidak datang dengan sendirinya. Yang sudah datang pun, tidak juga ujug-ujug membeli. Kalau usaha mikro macam nasi goreng, mie ayam, warung tegal mungkin pembeli sudah jelas intensi belanjanya ya. Tinggal pelayanan (service) aja yang harus dijaga terus.

Namun bisnis skala korporat tetap butuh penjaja (salesman). Apalagi tipe proyek yang barang/layanannya belum jadi (made-by-order). Mencari dan “menangkap” calon pembeli (tentu dengan kedalaman dompet / daya beli tertentu) yang sesuai dengan produk/layanan kita — adalah seni tersendiri.

Tanpa basa-basi lebih lanjut, yuk kita coba ulas satu per satu.

  1. .Libatkan anak ketemu calon pembeli. Minimal, mereka melihat kita berinteraksi dengan si calon. Syukur kalo kita punya toko ritel. Bisa dimulai dari store keeper dulu. Yaitu yang berjaga di sekitar etalase. Tugasnya menanyakan kebutuhan orang yang datang, dan melakukan tindak lanjut (follow-up).
  2. Jadi aktifis kampus. Actually, mahasiswa itu gak punya produk/layanan. Secara inventori, tidak punya barang. Secara keahlian (skill) belum ada yang layak dijual — statusnya masih belajar. Namun, organisasi mahasiswa adalah kesempatan bagi yang bersangkutan untuk menjual ide. Iya, ‘kan? Sebelum semua jadi barang, layanan, atau acara, semuanya adalah ide. Dan di era ekonomi kreatif seperti sekarang, ide yang brilian bisa mendatangkan marjin laba yang lebih besar, lho. Nah, selama jadi mahasiswa yang aktif di kampus, sesungguhnya kita adalah pedagang ide: merancang dan menjual acara supaya acara tersebut ramai dihadiri oleh peserta, ataupun supaya acara tersebut memiliki dukungan sponsor. All-in-all, dagangannya mahasiswa secara umum adalah acara. Sederhananya, mahasiswa sebenarnya adalah event-organiser.
  3. Belajar soal product-knowledge. Kita sih gak akan bisa menguasai seluruh produk, ya. Tapi penting untuk kita memiliki penguasaan atas kategori tertentu. Misalkan, untuk remaja perempuan, paham kualitas suatu kosmetik. Persamaan dan perbedaan dengan antara merek yang satu dengan merek yang lain. Untuk remaja pria, misalnya spesifikasi smartphone atau komputer. Bila dikaitkan dengan dunia kuliah, maka sesungguhnya kuliah (terutama kuliah teknik, tanpa menyepelekan jurusan-jurusan sosial) adalah cara kita untuk memahami product-knowledge. Di antaranya: aspek-aspek fungsional paling dasar yang bisa diberikan oleh produk/layanan tersebut, material yang digunakan sebagai bahan baku, teknik yang digunakan untuk produksi, dan lain sebagainya. Yang bisa jadi konten kita dalam menjajakan produk/layanan kita kepada calon pembeli/pengguna.
  4. Belajar psikis orang lain. Di sinilah pentingnya empati, kemampuan mendengarkan, dan kemampuan berkomunikasi. Konon, salesman yang lebih bisa mendengarkan itu lebih disukai lho daripada salesman yang banyak bicara saja. Pada dasarnya kan kita menjual kepada orang juga. Jadi yang paling utama adalah kita bisa jadi teman bagi dia. Kalau kita sudah asyik dijadikan teman, sebenarnya produk apa saja bisa kita jual kepada kawan kita tersebut. Sekali lagi, di sinilah pentingnya bagi anak untuk bergaul dengan anggota keluarga besar (om, tante, ponakan, sepupu, kakek, nenek, dan lain sebagainya), terlibat dengan lingkungan (tempat tinggal / sekolah / kampus). Aktif di kampus bukan segalanya, tapi kalau terlambat memulai, setidaknya bisa memilih untuk aktif di kemahasiswaan.
  5. Belajar menulis penawaran. Menjual berarti menawarkan tetapi secara lisan. Ada kalanya jualan kita harus bisa tetap berlangsung tanpa keberadaan kita. Di sinilah pentingnya penawaran tertulis. Bentuknya macam-macam. Mulai dari brosur produk/layanan untuk yang sudah jelas penawarannya sampai yang berwujud proposal. Mulai dari proposal kegiatan (ingat mahasiswa as event organiser), proposal investasi (business plan), sampai general proposal (belum spesifik layanannya, tapi mirip portfolio atau company profile, lha). Kalau ada proposal, biasanya diikuti dengan laporan perkembangan (progress report) atau laporan akhir (final report). Jadi, bisa bikin penawaran tertulis juga penting. Dan di sinilah pentingnya copywriting.
  6. Ajarkan anak-anak pentingnya berteman (dan networking). Dulu, saya kira sekolah untuk pintar saja. Ternyata sekolah lebih penting untuk berteman. Lebih lanjut, adalah networking. Bukan sekadar teman untuk genk-genk bermain atau belajar semata, melainkan juga membangun pertemanan yang prospektif. Meski demikian, penting untuk bersikap baik kepada semua orang dan mempertahankan silaturahmi. Sambil tetap menumbuhkan jejaring (network) yang baru.
  7. Terakhir, tapi tidak bisa diabaikan betapa krusialnya yang satu ini. Adalah seni menjual diri sendiri. Bagaimana menjadi pribadi yang ramah, punya keahlian, bisa direkomendasikan oleh orang lain, punya kredibilitas, dan seterusnya. Ingat, kita manusia tidak sempurna. Pasti ada saja kelemahan kita. Sesungguhnya kita berlindung kepada Allah (subhanahu wa ta’ala) agar keburukan-keburukan kita tidak ditampakkan dan hanya kita sendiri yang mengetahui. Supaya, bukan keburukan personal tersebut yang menghalangi orang lain untuk bertransaksi dengan kita.

Bisnis itu tidak semudah dan sesederhana yang bisa diimajinasikan. Tapi kalau boleh dibikin klasifikasi lebih kecil, ada aspek pemasaran, aspek rantai suplai, dan penjualan. Semua usaha butuh peran penjualan; sekecil apapun perannya. Bahkan kita sebagai karyawan di perusahaan pun, kita perlu skill menjual. Minimal menjual ide kepada atasan untuk diimplementasikan di perusahaan. As simple as that the importance of selling skill.

Bacaan lain:

Menyikapi Informasi Penting Milik Pribadi

Bagaimana menyikapi begitu banyaknya informasi/data/konten penting yang harus jaga kerahasiaan atau keamanannya? Post kali ini mengulas beberapa hal yang bisa kita lakukan terkait konten dan informasi digital yang penting dan harus kita jaga.

Beberapa waktu lalu, salah satu anggota keluarga kami ingin mengaktifkan nomor telepon yang sudah sekian lama (kurang lebih 6 bulan) tidak aktif. Tidak masuk ke mana-mana ya, tatkala kami menelepon ke nomor tersebut. Artinya ‘kan nomor tersebut (mungkin) belum di-recycle, atau sudah di-recycle tapi belum laku. Dugaan kami seperti itu.

Waktu kami cek di outlet maintenance and support milik provider tersebut, kami diberikan perkiraan biaya sekitar Rp600-900ribu untuk pengaktifan kembali nomor tersebut. Entah seperti apa penjelasan atas angka yang terlampau besar itu. Sebab, waktu searching-searching sebelumnya, kami menemukan harganya hanya sekitar Rp35-50ribu.

Bahkan kata teman yang bekerja di salah satu provider, ada outlet mereka yang bisa jadi memberikan gratis, karena memang omzetnya dari penjualan pulsa, kan. Jadi logika mereka, tak apa lha berkorban sedikit demi membuat customer kembali berlangganan.

Kami ingin mengaktifkan nomor tersebut, simply karena masih banyak customer yang hanya mengetahui nomor tersebut untuk melakukan pemesanan. Kalau mereka menghubungi, lalu tidak ada tanggapan dari kami, maka hilang lha potensi penjualan.

Peristiwa ini membuat kami berefleksi bahwa data-data penting, seperti database customer, harus kita upayakan back-up nya di tempat lain. Minimal ada Excel-nya lha untuk informasi sepenting ini.

Dan sebagai mana data, informasi, bahkan konten lain yang kita anggap penting, mindset backup-membackup ini wajib kita berlakukan juga.

Misalnya username dan password untuk login ke aplikasi. Nowadays ‘kan kita banyak sekali punya aplikasi. Mulai dari e-mail, blog, social media (Instagram, Facebook, Twitter, you name it lha), dan aplikasi-aplikasi lainnya. Even gmail aja, untuk generasi saya, rasanya jarang yang hanya punya satu. Ada yang punya sampai tiga e-mail –seperti saya.

Sekarang ‘kan sudah ada tuh, aplikasi-aplikasi penyimpan beberapa password sekaligus. Semisal KeePass, 1 Password, dan sebagainya.

Konten-konten saya di blog, saya juga back-up di suatu file Ms Word. Ada juga yang saya taruh di cloud. Ibarat mengerjakan thesis, jangan simpan di satu server saja, yaitu laptop kita. Tapi simpan juga di cloud service seperti Dropbox atau Google Drive.

Apalagi sekarang sudah bisa sinkronisasi ya. Apa yang ada di laptop, ada jg di GDrive. Penambahan atau pengurangan di satu file, akan tersinkronisasi dengan yang di server satunya. Sudah bisa sampai seperti itu. Dari sisi konten, bukan mana yang paling benar. Tetapi mana yang paling baru (alias updated); versi yang lebih baru atau lebih lama.

Nge-blog di WordPress (WP) jaman now juga begitu. Kalau lagi connect sama internet, draft-nya langsung di-save. Keliru sedikit, atau gak sengaja terhapus, langsung dianggap versi terbaru sama WP. Dan kita gak bisa retrieve lagi ke versi yang sebelumnya. Nah, di sinilah pentingnya bikin draft atau simpan hasil akhirnya di aplikasi word processor seperti Ms Word.

Kenapa sampai buat back-up seperti itu? Karena kita gak tahu sampai kapan kita nge-host di hosting provider yang sekarang kita pakai. Kali aja tahun depan kita mau pindah host ke yang lagi mengadakan diskon promo . Jadi lebih easy dan lebih secure pindahan (rumah blog)-nya.

Menyikapi informasi penting milik pribadi ini, dikembalikan ke kita selaku pemilik data. Pentingnya mentalitas mengadakan back-up, membuat password yang sulit diduga oleh orang lain (misalnya bukan tanggal lahir), menyimpan password-password di password manager, dan lain sebagainya yang penting untuk kita implementasikan segera.

Kesimpulan

Kasusnya tidak aktifnya nomor telepon dari anggota keluarga kami ini jadi pelajaran utk kita peduli sama konten/data-data milik kita: database pelanggan, password utk login, konten yg kita post di social media, dlsb.

Menjawab Pertanyaan dari Email

Ada pertanyaan yang datang dari email. Bagaimana pindah ke bagian branding, setelah lama di fungsi sales? Jawaban saya ada 6 poin. Silakan disimak di post ini.

Ada pertanyaan yang datang via email:

Jakarta 13 Desember 2017

Dear Pak Ikhwan Alim ,

Salam kenal Pak Ikhwan Alim , saya ****, pria kelahiran maret 19**.
Saya lulusan S1 Teknik. S2 saya Management Marketing.

Saya tahu Pak Ikhwan Alim dari blog / website Pak Ikhwan Alim , tentang Marketing.

Riwayat pekerjaan saya: 
Dua tahun sebagai Area Sales Supervisor PT ****** Indonesia (Susu, dll) , karyawan principle nya.
Tiga tahun sebagai Area Sales Supervisor PT ******** Indonesia (Sabun, dll), karyawan principle nya.

Saya punya permasalahan “pribadi”. Sebetulnya saya minat sekali mencari posisi “Brand Manager” , atau setidaknya diawali dari Brand Executive , ataupun Assistant Brand Manager..
Namun Sejak 2012 sampai 2017 , saya coba lamar di beberapa perusahaan untuk posisi tersebut hasilnya saya gagal..
Gagal di interview user. Alasannya :  belum punya pengalaman mengembangkan brand.

Padahal saya “merasa” sudah paham tentang bagaimana mengembangkan brand khususnya consumer goods.
Mulai dari Segmentasi, strategi pricing , ATL-BTL , Brand funnel , Brand equity , consumer centricity, budgeting, dsb.

Pertanyaan saya :

  1. Apa yang harus saya lakukan ???
  2. Bagaimana dengan CV dan lamaran saya ? apa yg harus saya sampaikan saat interview user ?

Jawaban/Pendapat saya:

  1. Melihat experience dan lama kerja Bapak, tentunya Bapak (mohon maaf) dianggap belum berpengalaman untuk mengisi posisi-posisi semisal Assistant Brand Manager, apalagi Brand Manager itu sendiri. Bukan tidak mungkin memang bergabung dengan tim brand, namun harus memulai dari brand executive. Which is, secara remunerasi (gaji+bonus+dll) hampir tidak mungkin untuk memulai dari nol.
  2. Tim brand management jumlahnya sangat kecil dibanding tim sales. Sehingga kompetisi untuk bergabung ke tim brand management itu berat.
  3. Saya kira, managing the brand is about optimising the branding and distribution medium. Di mana kita sudah tahu, bahwa hampir di setiap medium selalu ada merek lain dari kompetitor. Mudah-mudahan link ini bisa membantu: https://ikhwanalim.wordpress.com/2016/06/24/kreatif-mengoptimalkan-medium-pemasaran/
  4. Kalau tim sales and distribution itu eksekusinya di distribution channel, maka tim brand management itu eksekusinya di medium-medium pemasaran (meskipun bukan tidak mungkin menggunakan perangkat-perangkat merchandise juga).
  5. Ukuran optimal/maksimal dalam mengukur kinerja brand adalah: apakah brand tersebut sudah berada di hatinya konsumen. Di sinilah tim brand management harus kreatif dengan program-program komunikasi pemasarannya serta bekerja sama dengan tim sales guna mencapai target tersebut. Tentu saja harus diukur dengan riset yang proper. Biasanya menggunakan jasa riset semacam AC Nielsen.
  6. Karena yg perlu diketahui adalah: berapa banyak konsumen yang aware? Berapa banyak konsumen yang sedang membandingkan dan mengevaluasi merek kita terhadap merek-merek kompetitor? Berapa banyak lagi konsumen yang membeli? Berapa banyak yang berlangganan?

Tugas brand management (BM), adalah meningkatkan porsi dan persentase dari masing-masing jenis konsumen tersebut. Berikut ini gambar yang bagus untuk mendeskripsikan tugas BM.  

Gambar sisip 1

  Intinya, eksekusi di medium pemasaran, sangat melibatkan konten dan konteks. ada konten untuk awareness, konten utk evaluation, dan konten utk purchase. tiap-tiap konten, kadang-kadang perlu mediumnya masing-masing.   Gambar di atas berasal dari link berikut. http://panduanim.com/konten-untuk-meningkatkan-penjualan/   2) Cobalah menjual “visi brand” Anda terhadap brand tempat anda bergabung. Nyatakan bahwa Anda sudah melakukan analisis pendahuluan terhadap brand tersebut dan industri yang dinaunginya. Nyatakan pendapat anda tentang kompetior-kompetitor dari brand tersebut. Tunjukkan “celah” atau “lubang” yang anda lihat belum dilakukan oleh brand tersebut. Tawarkan rencana aktivitas-aktivitas (branding plan) yang kira-kira akan Anda programkan sehubungan dengan menutup celah atau lubang yang ada.   Tujuannya adalah Anda menawarkan visi brand yang outstanding, yaitu visi yang menghantarkan merek memiliki positioning yang tiada duanya di benak dan hati para pelanggan.   Hanya dua itu saja yang bisa saya sampaikan. Terima kasih atas perhatiannya.   Salam,

Teknologi untuk Penulis. Yay or Nay?

Teknologi berkembang pesat. Developer harus catch up terus. Sementara teknologi digital yang berkembang cenderung mudah digunakan oleh penulis. Padahal, pasar penulis kode berkembang lebih cepat dan besar. Bagaimana penulis sungguhan menyikapi ini?

Di perusahaan-perusahaan IT (information technology), baik berupa perusahaan system integrator yang mainnya proyek-proyek temporer IT maupun perusahaan rintisan (start-up) yang fokus ke produk-produk IT (name it Go-Jek, Tokopedia, Bukalapak, Traveloka, dlsb) saya mengamati sesungguhnya teman-teman developer (pengembang) berjuang mati-matian untuk beradaptasi dengan teknologi.

Artinya, dua-tiga tahun saja tidak menyentuh teknologi-teknologi tersebut, maka akan sulit untuk catch-up. Why? Simply karena versioning-nya berkembang terus. Sederhananya, dari 1.0 bergerak terus menuju 2.0, 3.0 hingga 4.0. Itu baru satu versioning.

Belum termasuk lahirnya bahasa-bahasa pemrograman yang baru. Yang terbaru saya dengar Go Languange (Bahasa Go) alias Go-Lang yang notabene dibesut oleh Go(ogle). Itu satu jenis bahasa Back-End ya. Belum bahasa Front-End engineering (untuk transisi, animasi, static content, dll), maupun teknologi-teknologi DevOps.

Framework (kategori yang relatif lebih easy-peasy lemon-squeezy daripada bahasa karena lebih siap pakai) juga demikian. Ada framework ini dan itu yang berkembang sedemikian rupa. CMS (Content Management System) juga begitu. CMS ini lebih siap pakai lagi. Namun, perkembangan manajemen konten menuntut penggunaan CMS yang part-partnya bisa dikoding di sana dan di sini. Demi statistik-nya lha, untuk diimplementasi search engine lha, and so on, and so on.

Intinya, semua tidak jauh beda dengan programming language yang terus-menerus berkembang namun tidak mau berhenti barang sejenak.

Intinya, bagi developer (dan system engineer) teknologi berkembang sedemikian cepat hingga sulit dikejar. Tidak heran, kebanyakan programmer yang sudah senior, mulai stop being programmer. Instead of mengikuti perkembangan teknologi yang begitu cepat, mereka memilih menjadi business/system analyst (pembuat requirement) atau project manager (PM; manusia yes-man yang running implementasi proyek di situs klien).

Sementara, para penulis (writer) kita cenderung bisa mengikuti teknologi yang ada. Mulai dari aplikasi Microsoft Word, CMS (yang populer ada Blogspot dan WordPress —Sitefinity lebih susah sedikit) lalu Google Docs (yang menuntut kita bisa kerja bareng dengan penulis lain di laman yang sama; karena mekanisme automated saving-nya; thanks to internet).

Bagi yang lebih teknikal sedikit, berurusan dengan ClickHelp atau Flare (dari MadCap) atau sejenisnya dalam rangka mengembangkan online documentation atau sejenis-jenis User Manual. Level kesulitan kategori ini hanya satu level di atas CMS-CMS blog, ceuk saya mah ya. Haha.

Because being writer is more like artist rather than scientist or engineers.

Kita penulis mah lebih dekat dengan urusan selera daripada printilan-printilan logika yang sekuensial ala-ala developer.

Ada kalanya kita penulis berpikir beda (dan cenderung kreatif) terhadap suatu produk tulisan. Sementara kreativitas engineer diuji dengan desain dan implementasi suatu algoritma yang cocok untuk fungsi yang dikehendaki oleh requirement-nya client.

Kalau penulis harus berpikir urut semata karena plot yang disajikan kepada pemirsa. Sementara di sisi lain, kedua jenis makhluk (scientist dan engineer) harus berpikir runtut sedemikian rupa; tidak heran karena mereka menulis kode yang wajib bisa dibaca oleh mesin (dan oleh manusia juga).

Siklus seorang penulis, bisa jadi akan lebih panjang daripada developer ya. Simply karena di atas 35, 40, atau bahkan 50 tahun, kurasa para penulis masih bisa mengikuti tren-tren teknologi kekinian.

At the end, the conclusion is… technology is quite easy for writer to adapt.

Tapi Tuhan itu adil, kok.

Job market for developer is much bigger (and grow faster) than writer 🙂

Simpulan saya, “jatah”-nya penulis adalah berpindah dari satu medium ke medium lain. Dari blog (yang notabene artikel) menjadi buku. Lalu beralih ke caption Instagram (berhubung skill desain/ilustrasi yang ala kadar, jadinya pakai Canva, deh), kalo wajahnya tjakep dikit boleh lha beralih ke Vlogger (YouTuber). Kalo pede suara gak cempreng, main Podcast.

That’s all. Kalau ada insight menarik dari kamu, silakan komen di bawah ya! Cheers 😀

Cara Mengoptimalkan Hashtag di Instagram

Masih banyak yang asal-asalan dalam menggunakan hashtag. Di post kali ini, saya coba elaborasi bagaimana seharusnya hashtag digunakan untuk branding dan targeting.

Hashtag berawal dari Twitter. Kurang mantul di facebook. Namun di Instagram (IG), menurut saya penggunaan hashtag jadi lebih powerful. Hanya dengan menambahkan tagar (#) kita bisa membuat sebuah kata menjadi topik yang bisa diklik (dan ditelusuri) lebih lanjut.

Kita butuh hashtag dengan reach yang tinggi, untuk menjangkau pemirsa yang lebih luas. Namun, kita juga butuh hashtag dengan reach yang rendah –bahkan hashtag yang kita buat sendiri– untuk membedakan diri dengan kompetitor.

Salah satu perilaku user di Instagram adalah mencari dan mengikuti (follow) suatu topik berdasarkan hashtag. Selain merekomendasikan user lain untuk di-follow, IG juga merekomendasikan hashtag untuk kita follow.

Bagi pelaku bisnis, ini adalah salah satu cara untuk mengekspansi konten-konten bisnis mereka agar menjangkau lebih banyak pengguna IG.

Sejauh ini, saya kira ada empat (4) macam hashtag yang bisa kita implementasikan ke dalam post IG kita guna meningkatkan reach dan engagement yang ujung-ujungnya bisa menaikkan jumlah followers kita juga. Yaitu:

  • Branded hashtag
  • Contest hashtag,
  • Niche-specific hashtag,
  • General appeal hashtag, dan
  • Timely hashtag

Branded Hashtag

Branded hashtag ini dipasang di profil dan di setiap post IG. Bisa meliputi nama brand, bisa juga berupa value proposition yang ditawarkan oleh brand anda. Karena hashtag ini dikembangkan oleh kita sendiri, tentu hashtag ini tidak populer. Dan, pada masa awal pengembangan brand, penggunaannya bisa jadi baru hanya oleh kita sendiri.

Contest hashtag.

Sesuai namanya, ini adalah tipe-tipe hashtag yang digunakan tatkala mengadakan kontes. Contohnya adalah #instacontest dan #giveaway.

General appeal hashtag

Ini adalah tag-tag yang populer digunakan; saking populernya, penggunaannya sudah sangat familiar oleh pemirsa (audiens) yang beragam. Hashtag jenis inilah yang akan memberikan kita reach yang signifikan. Hashtag ini dicirikan dengan penggunaannya yang setidaknya mencapai ratusan ribu kali. Bisa terlihat kok ketika kita mencari hashtag.

Niche-specific hashtag

Tiap industri memiliki frase dan kata kunci khas yang relevan dengan pemirsa yang ditargetkan. Nilai reach-nya tentu saja berbeda dengan general-appeal hashtags, tapi traffic yang hadir akan relevan dengan niche yang dibidik. Sebagai contoh, tagar #harrypotter bisa digunakan bila kita menjual merchandise yang diinspirasi dari serial Harry Potter.

Timely hashtag

Peristiwa (event) atau liburan tertentu dapat digunakan juga hashtag-nya. Semisal #indonesiamemilih seperti pada 17 April lalu. Atau, untuk ramadhan dan lebaran nanti, bisa pakai hashtag #ramadhan #tarawih #lebaran #idulfitri.

Yang Perlu Dilakukan:

Untuk hasil terbaik, selalu sediakan waktu dan kesempatan untuk melakukan riset terhadap hashtag. Dan gunakan kombinasi terbaik dari kelima jenis hashtag tersebut untuk meraih jangkauan (reach) terbanyak, relevansi dengan pemirsa yang ditargetkan (targeted audience/niche), dan konteks yang paling tepat (secara waktu dan momentum peristiwa). Ini semua akan mengoptimalkan proses branding dan targeting.

Tidak setiap hashtag bisa diukur efektifitasnya. Namun, itu bukan alasan untuk berhenti mencoba-coba kombinasi hashtag demi hashtag.

Saya melihat, penggunaan hashtag ini penting banget. Signifikan hasil yang diberikan, kalau dioptimalkan. Kalau tidak diapa-apakan, malah gak dapat hasil apa-apa. Jadi, ya optimasi hashtag harus terus dilakukan.

  • Pasang branded hashtag di profil IG.
  • Pastikan tiap post nya ada branded hashtag tersebut.
  • Tiga puluh (30) hashtag bisa dipakai untuk setiap post. Namun, riset menemukan bahwa antara 8-11 hashtag saja yang optimal untuk dilihat oleh pemirsa.
  • Sirkulasi hashtag secara bergantian. Selain mengekspos ke pemirsa yang lebih luas, juga mencegah akun IG kita dinilai sebagai spam oleh IG.
  • Sediakan waktu untuk meriset hashtag. Minimal, seminggu sekali untuk menemukan hashtag-hashtag baru yang bisa digunakan. Artinya, hashtag tersebut kontekstual dengan pesan yang dibawa di post IG anda. Bukan sekedar menggunakan tanpa mengetahui konteksnya.

Semoga sukses diimplementasikan, ya. Dan kalau kamu merasa post ini bermanfaat, mohon berikan komentar. Terima kasih 🙂

Referensi: