Lupa Lapar

Begitu melimpahnya makanan (di semua ruang dan waktu) sampai lupa bahwa ada mekanisme di mana menurunnya volume makanan di dalam perut yang kemudian mengirim sinyal ke otak bahwa kita sedang lapar. Ada juga sejarah awal mula lahirnya Lunch dibahas di sini.

Makanan (rasanya) ada di mana-mana. Di kantor banyak snack+minuman sachet. Pulang dari masjid (dekat kantor) melewati minimarket merah. Karena di jalan raya besar penghubung bagian utara-selatan kota, maka jalur tersebut ramai pedagang makanan. Tenda maupun warung makan. Paling banyak tentu yang gerobak-an. Mereka cari nafkah di sana, salah satunya karena ada Rumah Sakit negeri yang menopang warga satu provinsi berjumlah penduduk terbesar di negeri ini.

Di rumah juga ada makanan. Di kulkas, hampir selalu ada bahan makanan. Minimal telur ayam, deh. Alhamdulillah selalu ada rezeki untuk dibelanjakan bahan pangan. Di meja makan setidaknya ada abon (daging) sapi. Stok beras ada terus.

Pasar relatif dekat dari rumah. Bolak-balik lima ratus meter. Saya gak pintar masak. Tapi untuk tumis-menumis bisa lha. Apalagi hanya sekedar masak nasi (kan sudah ada rice cooker) dan goreng-menggoreng. Bosan sama lauk? ada toko frozen food dekat rumah. Kami sendiri beli/produksi-jual kebab, siomay, dan batagor. Semuanya frozen.

Begitu mudahnya menemui makanan; sampai lupa rasanya lapar ๐Ÿ˜€ Bahkan angka timbangan pun lupa juga untuk turun ๐Ÿ˜€ ๐Ÿ˜€

Fasting

Padahal kalau mengingat mereka –yang seharusnya kita teladani segala perkataan dan perbuatannya– memberi contoh intermittent fasting dua kali sepekan. Konon katanya, malaikat nge-jurnal amal perbuatan kita di tiap dua hari tersebut. Jadi pas banget jurnal amal tersebut mau di-submit, pas ada catatan bahwa kita sedang berpuasa. Ada lagi yang beratus tahun sebelumnya, mencontohkan sehari makan sehari tidak.

BACA JUGA:  The secret recipe of being successful introvert

Dari kedua manusia yang sangat mulia akal dan perbuatannya tersebut, tentunya berarti puasa adalah suatu aktifitas yang sangat mendatangkan kesehatan pada kita. Ini pengingat juga ya, karena Ramadhan 1441 Hijriyah tinggal 21 hari lagi. Simak kesimpulan suatu penelitian berikut ini:

Puasa merupakan cara yang terbaik untuk membersihkan racun yang tertumpuk di dalam tubuh ataupun racun yang baru masuk melalui makanan yang terkontaminasi. Karena ketika berpuasa, zat beracun yang tersimpan berpindah ke hati dalam jumlah besar. Disanalah zat-zat tersebut mengalami oksidasi (peristiwa pelepasan elektron, baik melibatkan oksigen ataupun tidak) dan bisa dimanfaatkan dengan mengeluarkan unsur racun dari zat-zat tersebut. Maka hilanglah racun yang ada dan langsung dikeluarkan dari tubuh melalui saluran pembuangan.

Ulfah, Zakiah. 2016. Manfaat Puasa dalam Perspektif Sunnah dan Kesehatan. Medan: Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam Universitas Islam Negeri Sumatera Utara.

Dalam agama saya, disyariatkan bahwa puasa hendaknya dilakukan sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Karena ini merupakan waktu-waktu di mana seseorang sangat aktif โ€“jadi bukan berpuasa di malam hari ya– dimana proses kerja tenaga yang tersimpan dalam bentuk lemak dan glikogen juga terjadi di siang hari. Terus, otak diberi makan dari mana? Dari pemecahan dan penaikkan glukosa dalam darah hasil pemecahan di organ hati.

Lunch

Bicara soal timeline makan yang pagi-siang-malam itu, konon makan siang itu baru ada di sejak masa revolusi industri, lho. Produksi massal mulai jadi bisnis yang baru dan membutuhkan mass employee juga. Jadwal dibuat: jam masuk, lama kerja, jam pulang. Tidak terkecuali kuota waktu khusus makan siang. Jadi, makan siang sebenarnya baru ada sejak revolusi industri.

BACA JUGA:  Pilih Manajemen Keuangan atau Manajemen Pemasaran

Saya sebisa mungkin menuruti suara hati perut. Tatkala lapar, baru cari makan siang. Namun, tidak semudah itu, Ferguso. Seringkali, lelah dan jenuh dengan pekerjaan sejak pagi, yang kita cari adalah obrolan hangat dengan rekan-rekan. Dan itu adanya sembari makan siang. Jadilah, dengan pura-pura sangat terpaksa, ikut beli dan makan siang bersama rekan-rekan XD. Sambil mengelus perut yang tidak kunjung mengempis.

Ada satu filosofi makan yang menarik dari teman saya. Masih di kantor yang sama. Bahwasanya mengusahakan untuk makan mengikuti jadwal. Kalau ditanya kenapa, orang-orang yang saya temui biasanya akan menjawab ada sakit maag, menghindari munculnya maag, dan seterusnya. Berbeda dengan filosofi si teman yang ternyata โ€œsekedarโ€ mengusahakan keteraturan saja. You know ya, beberapa orang memfokuskan pikiran dan energinya untuk hal-hal lain yang lebih dia prioritaskan. Sehingga, di luar itu, dia berusaha seadanya saja, sekedarnya saja, atau ikuti saja jadwal yang ada.

Paradoks

Di tahun 2016-2018, menurut riset ADB dan IFPRI, ternyata 22 juta orang di Indonesia menderita kelaparan kronis. Jumlah penduduk 2018 secara data Ditjen Dukcapil pada Triwulan II 2018 mencapai 263,9 juta jiwa. Jadi ada sekitar 8% penduduk yang menderita kelaparan kronis.

Mari bersyukur apabila kita tidak termasuk satu di antaranya.

Dari sisi ketahanan pangan, akses tidak merata terjadi di Indonesia. Dan kerawanan pangan tetap menjadi masalah. Sebab, Indonesia menempati urutan ke-65 di antara 113 negara dalam Indeks Keamanan Pangan Global (GFSI) yang diterbitkan oleh EIU [Economist Intelligence Unit]. Untuk diketahui, GFSI ini terdiri dari 3 (tiga) komponen: keberdayaan konsumen untuk menjangkau/memperoleh makanan (affordability), ketersediaan suplai pangan secara nasional (availability), dan kualitas serta keselamatan (quality & safety) pangan itu sendiri.

BACA JUGA:  Menyoal Bunuh Diri di Kalangan Muda

Key Take Away

Balik ke cerita awal. (Gedung) kantor saya sekarang berpindah ke daerah yang lebih sepi. Daerah pabrik. Praktis, warung makan maupun toko/minimarket yang terjangkau sama kami, berkurang drastis. Mau keluar pikir-pikir dulu, karena jaraknya gak dekat. Jajan jadi lebih terkendali. Dompet jadi lebih sehat.

Apalagi di tengah-tengah pandemi corona seperti sekarang ini. Saya menuruti ibu direktur keuangan dan pembelanjaan (finance and purchasing) di rumah soal apa dan di mana beli makan. Beliau berprinsip untuk (sementara) menahan diri dulu dari belanja yang-siap-makan (readytoeat). Lebih baik beli dari katering yang mengirim bahan mentah saja, atau ke pasar tradisional sekalian.

Ini ceritaku tentang Lupa Lapar. Kalau kamu ada cerita apa? Share di kolom komentar, ya.

Reference:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *