Lima Kesalahan Pebisnis Kafe yang Harus Anda Ketahui Sebelum Membuka Kafe Baru

Kafe dengan desain interior yang menarik, mentarget anak muda, menyediakan makanan ringan, hingga beragam jenis kopi (espresso, americano, latte, cappucino, dll) sudah sangat biasa.

Bahkan kompetisinya pun terasa semakin ketat. Tempat tinggal saya di Tubagus Ismail, yang sekitar belasan tahun lalu masih termasuk daerah sepi, semakin ke sini semakin ramai dan komersil. Tidak terkecuali oleh kafe. Tipikal bisnis yang satu ini semakin merangsek ke “pedalaman”. Meski menjauhi kampus, namun tingkat keramaiannya tidak kalah dengan kafe yang bermukim di sekitar kampus.

Menurut asal Bahasa (Prancis)-nya, cafe (akar kata kafe) secara harafiah berarti minuman kopi. Sekarang ini kafe tidak lagi sekedar minuman kopi, melainkan sudah menjadi “wahana kuliner” yang menyediakan beragam kopi serta sekaligus makanan ringan. Tidak pula sekedar menjajakan makanan dan minuman, namun jual experience sekaligus event.

Kafe itu bisnis yang semakin menjamur seiring dengan membludaknya jumlah kelas menengah di Indonesia. Sebab, segmen ini punya kebiasaan “seen and to be seen” alias ingin melihat dan dilihat oleh orang lain. Pasti cool rasanya kalo terlihat punya komunitas, atau kelihatan sedang sibuk meeting membahas proyek bersama partner, dan seterusnya.

Kalau terlihat sendirian, entah masih disangka menunggu teman-teman datang, atau memang jomblo tulen yang hampir lumutan.

Bagaimana membuat bisnis kafe jadi luar biasa? Ada beberapa kesalahan yang kerap kurang diperhitungkan secara strategis oleh para pemilik kafe sehingga bisnis kafe-nya belum berumur panjang tetapi sudah harus ditutup.

BACA JUGA:  The secret recipe of being successful introvert

Kesalahan pertama. Berharap traffic datang dengan sendirinya.

Baiknya, memang sudah ramai. Cara mengukur keramaian: menghitung berapa banyak sepeda motor dan kendaraan roda empat yang melalui jalan tersebut.

Traffic juga bisa kita perhitungkan secara strategis. Contoh: buka warung bakso bersebelahan dengan usaha cuci mobil. Warung bakso jadi punya captive market (pasar yang sudah jelas akan berbelanja di mana) ‘kan. Atau jual makanan ringan yang tepat untuk segmen usia SMP atau SMA. Dan outletnya dibuka persis di samping bimbingan belajar (bimbel).

Kesalahan kedua. Tidak membangun komunitas.

Bisa dikonsepkan sejak awal, bisa pula dibangun sambil jalan. Misalnya, kafe berbasis suporter klub bola dikesankan oleh sebagian orang adalah kafe yang menutup diri terhadap suporter lain. Tidak begitu juga. Karena dengan membangun kafe berbasis suporter, misalnya seperti Kafe Persib di Jalan Sulanjana Bandung, justru terbangun ketahanan usahanya karena pelanggan sekaligus evangelist-nya tersebut selalu mengunjungi dan berbelanja di sana.

Evangelist itu semacam pelanggan yang lebih dari pelanggan biasa. Alias pelanggan luar biasa. Karena selain berbelanja, dia juga ikut mempromosikan. Baik via word of mouth (WOM) atau social media miliknya.

Kesalahan ketiga. Tidak mengadakan event.

Bentuknya bisa apa saja. Mulai dari nonton bareng sepakbola (terutama liga eropa di akhir pekan), show dari band lokal, stand up comedy, dan lain sebagainya. Kalau nobar sepakbola, tolong buat jadwal yang jelas ya. Kapan mulai boleh datang –soalnya bisa jadi bentrok jadwal dengan pertandingan sebelumnya — sampai dengan kapan pertandingan dimulai (kick-off). Saya pernah abai sama informasi dari suatu kafe, sehingga harus berkeliling dahulu bersama teman, karena saya salah menangkap informasi waktu kick-off tersebut.

BACA JUGA:  Majalah, Riwayatmu Kini

Event tidak selalu untuk menarik crowd sehingga omzet naik drastis ya. Namun omzet juga bisa direkayasa melalui kerjasama dengan sponsor yang bersedia untuk menyumbang. Yang diincar oleh para sponsor ini adalah event sebagai sebuah medium untuk berkomunikasi dengan segmen yang sudah sesuai dengan target mereka.

Kesalahan keempat. Ambience kafe yang kurang tepat.

Ambience is the character and feeling of a place. 

Desain kafe tidak hanya untuk mendapatkan penampilan yang ‘tepat’. Tetapi juga merancang pengalaman (experience) dari pengunjung. Betul-betul harus didesain sedemikian rupa sehingga tidak terasa sebagai minum air kopi saja. Melainkan benar-benar ada pengalaman yang diperoleh pelanggan.

Pelanggan yang puas dengan service yang diberikan, in shaa Allah akan kembali berbelanja di kita. Tidak mungkin kita selalu mengharap kedatangan pembeli baru, ‘kan?

Apakah kafe harus selalu indoor? Tidak juga. Yang penting tidak ada masalah dengan kafe yang memiliki area terbuka (outdoor) yang penting ada solusi untuk menghindarkan pengunjung manakala hujan turun.

Kesalahan kelima. Perwujudan efisiensi rantai suplai.

Ayolah, anda tidak hanya berharap kafe adalah satu-satunya bisnis anda, ‘kan? Kafe, sebagai sebuah bisnis hilir, sesungguhnya mempunya potensi lebih. Yaitu sebagai showroom dari produk atau layanan anda yang lain. Misalnya keluarga anda memiliki usaha katering yang sudah turun-temurun diwariskan dari nenek moyang. Sayang dong bila salah satu produk andalan dari katering tersebut tidak ditampilkan dan dipromosikan di kafe anda.

BACA JUGA:  Menyikapi Informasi Penting Milik Pribadi

Sebagai sebuah hilir dari bisnis yang lain, ini adalah alternatif ‘curi start’ yang bisa dilakukan. Eksklusifitas dari brand (fesyen/kuliner, dll) milik anda semakin terjaga bila hanya didistribusikan di channel tertentu (baca: kafe milik anda) saja.

Visual merchandising-nya harus oke punya. Display-nya harus atraktif dan mengundang pembeli untuk berbelanja. Kata-kata yang ditampilkan harus mudah dipahami, harga tertera dengan jelas (menjadi jelas pula benefit yang ditawarkan), .

Simpulan. Sebagaimana bisnis-bisnis pada umumnya, masing-masing memiliki karakteristik risiko yang unik. Penanganan terhadap risiko bisnis kafe, sudah kita eksplorasi dengan jelas di atas.

Nah, bila kita tidak mampu mengelola risiko tersebut hingga benar-benar “jebol”, kapan kafe harus ditutup?

Ketika (1) pemilik kafe tidak lagi mendapatkan laba, kecuali kafe tersebut memang sarana berkumpul dengan sahabat-sahabat dekatnya (2) labanya tidak seberapa dibandingkan dengan tenaga, waktu, pikiran, dan uang yang keluar (3) sebelum kafe tersebut mengalami rugi yang lebih besar lagi.

Related Post:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *