How I’ve learned to be better Writer

Rutin menulis di platform online seperti blog melatih kemampuan menulis: mencari referensi, mengambangkan naskah, menyunting, dll

Saya itu belajar menulis secara otodidak. Paling sering, lewat nge-blog ini.

Mereka yang kuliah ilmu komunikasi (ilkom), mungkin lebih beruntung ya. Dapat asupan teori yang cukup untuk memulai pekerjaannya sebagai penulis di berbagai ruang kepenulisan. Para mahasiswa ilkom setahu saya lebih banyak mempraktikkan peran-peran jurnalis di ruang-ruang kampus.

Berikut di antaranya yang mereka lakukan: Mencari sumber berita dan mewawancarai narasumber. Melakukan desk research. Menulis berita berdasar kerangka 5W+1H. Menulis feature, dan lain sebagainya.

Tempat lain untuk belajar mempraktikkan (sekaligus diajarkan berteori) adalah unit kegiatan mahasiswa (UKM) jurnalistik. Hampir tiap kampus punya UKM jenis tersebut. Secara nasional, yang paling dikenal adalah Balairung-nya UGM.

Memasuki kehidupan pasca kampus, saya mendapati bahwa self-learning menulis lewat blogging saja gak cukup, gaez. Ya nggak, sih? Rajin dan fokus itu gak kalah pentingnya. Sudah sering kita dengar mereka yang cinta dengan bidangnya, sekalipun bukan di sana pendidikannya, nyatanya bukan sekedar survive aja, tapi juga bisa memberi makan keluarganya.

Selingan: Youtuber yang populer tuh seringkali bukan jurnalis yang baik. Produk videonya pun bukan produk jurnalisme yang baik. Khususnya yang lebih fokus pada isu-isu kehidupan pribadi selebriti (bukan pada karyanya).

Saya mengapresiasi karya/konten di internet yang telah menerapkan kaidah-kaidah jurnalistik yang baik.

Mengapa ini bisa terjadi?

Saya berpendapat, seringkali kampus-kampus sekarang tuh mentok dalam menyambungkan rantai nilai di industri. Banyak banget posisi pekerjaan yang ternyata hanya menerapkan ilmu kuliah sebanyak 20% atau bahkan kurang. Tidak heran gak harus kuliah di jurusan tersebut untuk bisa bekerja di bidang itu. Mungkin ini fenomena global ya. Di negara yang pendidikannya lebih baik seperti Amerika Serikat, “salah jurusan” lebih sering terjadi.

(Ini agak kurang berlaku untuk mereka yang kuliah kedokteran lanjut menjadi dokter, kuliah farmasi meneruskan sebagai apoteker, dan profesi-profesi lain dengan kode etik dan harus disumpah, ya. Tidak lama lagi profesi insinyur yang merupakan kelanjutan dari sarjana teknik juga akan ditegakkan melalui penerapan sertifikasi, pendidikan keinsinyuran, dan lain sebagainya)

Mungkin karena jurusannya kurang sering mengadakan lokakarya (workshop) bersama para pelaku industri ya. Untuk menemukan insight terbaru mengenai industri tersebut. Kalau kita zoom out dan menengok 20-30 tahun ke belakang, perubahannya telah terjadi secara signifikan.

Sesekali melakukan lokakarya (workshop) jelas diperlukan ya. Mungkin bukan 2-3 tahun sekali. Tetapi per 5 tahun, saya rasa sudah cukup.

Wah, malah OOT, deh. Back to topic.

Blogging itu langkah yang tepat untuk mulai belajar menulis ya. Ada dua kata kunci: memulai dan belajar. Kenapa “memulai”? Karena platformnya bersifat personal. Kita bisa mengekspresikan isi kepala dan hati. Analisis hasil overthinking semalaman mungkin menarik untuk dituangkan dan dibaca orang lain. Hehehe.

Dikatakan “belajar” karena lambat laun tiap tulisan (dan penulis) akan menemukan pembacanya sendiri. Sekian persen di antara pembaca kemudian bertransformasi menjadi commentator atau bahkan fans setia yang menunggu rilisan terbaru.

Fakta sekaligus “kelemahan” dari blogging, di sisi yang berlawanan, adalah dia bukan media massa. Tidak ada standard yang harus dipenuhi oleh rilisan blog, sebagaimana suatu opini/gagasan harus lolos dari editor di media massa.

Blog jadi sangat bervariasi kan. Yang ancur-ancuran ada. Yang rilis (posting) semau gue ya, ada. Yang gak mau fokus di topik-topik tertentu (niche) ya ada juga. Alias sagala aya (semua ada).

Di titik ini, kita sebagai blogger perlu mengecek perkembangan dan relevansinya terhadap kita sebagai blogger terus-menerus ya. Mesin blog berkembang terus. Google selaku mesin pencari juga terus memperbaharui algoritmanya. Secara konten, terus muncul topik dan niche yang baru. Alat bantu nge-blog juga semakin beragam; mulai dari social media sampai piranti pendukung seperti canva.

Beruntungnya (atau kurangnya?), saya tidak belajar menjadi penulis dari berkuliah S1 di Ilkom, bukan juga aktif di UKM jurnalistik. Melainkan tatkala bekerja di kantor konsultan, dan kini sebagai writer di IT company. Dan yang paling utama adalah dari nge-blog.

Karena blogging sudah terbukti, saya berkomitmen untuk melanjutkan aktifitas setidaknya sampai 10 tahun ke depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.