Evolusi Komedi di Indonesia

Cara komedian memancing tawa memang berbeda-beda. Bukan karena orangnya saja. Tetapi dari waktu ke waktu pun juga berbeda. Tulisan kali ini membahas bagaimana komedi berevolusi dari satu bentuk ke bentuk lainnya.

Pada sharing session 1M1C yang terakhir, si narasumber, Mas Dimas Abi sempat menyinggung soal tren buku komedi bertahun-tahun yang lalu. Satu nama yang ketika itu populer adalah Hilman, yang terkenal karena “Lupus”-nya. Lupus adalah seorang anak muda (siswa SMA) dengan rambut berjambul yang suka memakan permen karet.

Justru bukan soal komedi, bahasan di sharing session tersebut adalah bagaimana kita memahami selera penerbit mayor. Kalau benar mau tahu soal tersebut, simak saja diskusinya di link YouTube berikut ini. Jangan lupa like, comment dan subscribe ya.

Maaf, maaf. Pembukaan posting ini kok ya gitu sih ya. Haha . Balik ke soal komedi.

Yang dulunya berupa novel ringan penuh canda ala Lupus, pelan-pelan berevolusi menjadi komedi dalam grup. Alias grup (me)lawak.

Sejauh bisa saya ingat, ada Bagito (Miing, Didin, Unang) dengan Ba-Sho (Bagito Show)-nya di layar kaca. Ada pula Empat Sekawan (Derry, Ginanjar, Eman, Komar) yang nama programnya saya lupa, tapi ditayangkan sore hari. Grup-grup layak ini lebih sering dilahirkan dari pertemanan sekaligus kontes (lomba) lawak. Dengan konsep konten/cerita dari mereka, kemudian dieksekusi oleh mereka pula.

Di tahun-tahun selanjutnya, masih menggunakan medium televisi. Belum layar kaca YouTube kamu yang rekomendasinya itu-itu saja Tapi grup lawak tersebut ‘berguguran’. Lebih karena para talenta di serial komedi (semisal Jin dan Jun, Tuyul dan Mba’ Yul) sudah diseleksi dan ditentukan. Penulis cerita yang sekaligus membuat set-up dan punch line, berasal dari Production House-nya.

Jadi di masa grup lawak, konsep dan eksekusi oleh mereka sendiri. Sementara di serial komedi di televisi, konseptor dan eksekutor adalah dua pihak yang berbeda.

Isi, format, dan pelaku adalah tiga komponen yang menyusun sekaligus menentukan arah tren komedi. Dinamika yang terjadi di ketiga komponen tersebut –selain selera pasar– ikut menyebabkan bentuk-bentuk akhir komedi jadi berbeda.

Di tahun-tahun berikutnya ada EXTRAVAGANZA yang mengambil format ‘sketsa’. Yang dibintangi Tora Sudiro, Mieke Amalia (kalian mungkin tahu apa yang terjadi dengan mereka berdua), Indra Birowo, Tike Priatnakusumah, Sogi Indra Dhuaja, Virnie Ismail, Aming, Ronal Surapradja, dll.

Sketsa adalah komedi yang identik dengan set-up yang berbeda-beda tergantung alur ceritanya.

Kalau Jin dan Jun, Tuyul dan Mba’ Yul ceritanya cenderung begitu-begitu saja dengan fokus dan detil pada punchline — sehingga membosankan karena pakem background and goal ceritanya ya itu-itu lagi. Maka di format sketsa, konsep dan alur cerita lebih beragam. Durasi tiap sketsa kurang dari 10 menit. Maka dari itu, dalam satu kali penayangan/episode, biasanya terdiri dari beberapa sketsa.

Sketsa yang belum lama ini ‘ditarik’ dari peredaran adalah PERISTAWA. Bintangnya ada Cak Lontong dan Denny Chandra. Konsep ‘sketsa’-nya sama dengan EXTRAVAGANZA.

Keduanya memang sering tampil bareng. Selain PERISTAWA, mereka juga join bersama di Indonesia Lawak Klub (ILK) dan Waktu Indonesia Bercanda (WIB). Konsep komedi di antara ketiga program tersebut berbeda-beda, meski dengan tokoh utama yang sama. Ya, Cak Lontong selain eksekutor, juga berperan sebagai konseptornya.

Dalam suatu podcast, Cak Lontong pernah membagikan masa lalunya di mana beliau sudah capek-capek membuat konsep, eh ternyata konsepnya diambil tetapi dirinya tidak ikut main. Belajar dari pengalaman yang mengenaskan tersebut, beliau berprinsip bahwa kalau ide programnya dari dia, maka eksekusinya juga harus melibatkan dia.

Baca Juga: Sang Penghibur

Stand Up Comedy

Nah, tipikal konseptor-eksekutor ini membawa kita lagi pada konsep komedi yang baru. Namanya Stand Up Comedy.

Saya senang dengan bentukan yang baru ini, karena kontennya segar dan autentik. Tiap komika (sebutan pelakunya) menghadirkan konten dan pengalaman pribadi. Jadi lebih orisinil. Tapi dengan ciri khas (atau personal branding) masing-masing.

Secara umum, terasanya lebih banyak dan beragam aja bagi kita penonton. Misal, kita menonton David Nurbianto yang banyak membahas per-ayah-an (tadinya per-betawi-an). Kemudian pindah ke Mongol Stress yang sering mengulas per-cucok-an. Kalau mau tau maksud “cucok”-nya gimana, lihat langsung penampilannya, deh. Hahaha

Jadi, konten komedinya tidak saling memakan, malah saling “melengkapi”. Maksudnya, memberi kesempatan bagi penikmat stand-up untuk memilah dan memilih tontonan komedi stand-up yang diinginkan.

Yang Tidak Berubah

Dari dulu sampai sekarang, yang belum berubah dari komedi adalah seninya dalam memancing tawa.

Kalau di Stand Up, istilahnya set-up, set-up, punch line. Correct me if I am wrong ya, haha.

Begitu pula di bentuk-bentuk komedi pra-Stand Up. Dan semua “setting-an” tersebut tentu dalam rencana. Eksekusinya yang kembali ke bakat dan jam terbang masing-masing komedian.

Intinya sih, kalau bagi kita belum lucu, mungkin ya memang konsep komedinya aja yang belum kita pahami. Seperti belum pahamnya penonton dengan komedi slapstick. Itu lho yang baru lucu ketika mulai lempar-lemparan atau pukul-pukulan dengan properti di panggung

Kalau ada opini soal komedi, boleh banget dibagikan di kolom komentar. Membecandai paragraf-paragraf yang sudah saya set-up di atas juga boleh. Hahaha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.