Digital Minimalism Versi Saya

Digital itu ibarat pisau. Bermanfaat atau membahayakan kembali pada penggunanya. Demi manfaat maksimal, kita eksekusi “Digital Minimalism”

Sebagai imigran di dunia digital -yang baru mengenal digital ketika remaja- saya merasakan betul “keterhisapan” diri saya ke dunia digital lewat “jendela” smartphone. Mungkin sejak socmed mungkin diinstal di smartphone ya.

Sempat tuh saya instal mobile app-nya Twitter. Tapi karena terlalu mendistraksi kehidupan, uninstall-lah itu barang. Meskipun, karena “kejujuran” adalah karakter Twitter, maka saya tidak bisa lepas dari Twitter yang “apa-adanya” itu. Alhasil saya tetap rutin membukanya, namun kali ini lewat mobile browser.

Beli buku yang asli ya. Demi menghargai penulis, penerbit, distributor dan toko buku.

Alhamdulillah saya belum pernah benar-benar buruk dalam ber-socmed. Masih bijak lah, hahaha.

Adik saya tuh, pada suatu masa, sangat hobi bersambat-ria secara masif lewat Twitter. Sudah dua puluhan ribu twit lah ketika dia stop memakai socmed yg satu itu.

Saya tidak bisa protes banyak-banyak ke adik. Karena faktanya digital kini sudah menjadi dunia kita. Saya menginsyafi bahwa digital sebagai dunia kita tidak berarti meninggalkan realitas yang ada di dunia nyata.

Digital tuh sudah seharusnya support dunia riil kita. Bukan sebaliknya kita “menyerahkan” waktu dan perhatian kita sepenuhnya ke dunia digital.

Iya, presence di socmed perlu dan semakin menjadi kebutuhan kan ya. Misalnya, bikin profil LinkedIn demi bisa ditemukan oleh recruiter. Di sisi lain, over-presence jangan sampai menjauhkan kita dari keluarga dan bestie(s) kita.

Sudah jamak terjadi kan ya komunikasi yang kelewat intens via socmed atau chat app, tapi lupa meminta pendapat dari mereka yang fisiknya ada di sekitar kita.

Jadinya kita judging bahwa yang secara fisik dekat sama kita malah tidak peduli. Sepengetahuan saya, hal-hal semacam ini di tahun 2022 adakalanya berujung pada “spilling the tea” di Twitter. Maksud saya, semacam membuka aib keluarga atau pertemanan ke socmed yang notabene berisi lebih banyak orang asing yang tidak paham konteks keluarga kita.

Soal following other accounts di Instagram, saya baru follow kalau posts-nya sudah lebih dari 100. Haha. Itu adalah cara saya memfilter siapa saja yg berhak “mengganggu” kehidupan saya ketika scrolling the timeline.

Pernah juga tuh saya komitmen tidak install chatting app-nya kantor di smartphone saya. As simple as agar tidak mengikuti perkembangan pekerjaan di luar jam kerja. Kemudian saya berubah. Saya sadari bahwa hal tersebut penting juga dan akhirnya saya install juga app tersebut lalu membukanya secara reguler di luar jam kantor.

Saya mengamati, sekali dalam beberapa hari ibu saya pun biasa wondering (alias bertanya-tanya) tentang apa yang sedang dirasakan seseorang tatkala beliau menyimak WA stories dari yang bersangkutan (ybs). Maksud saya, ndak perlu lah kita kepo lebih lanjut dengan curhatnya seseorang di WA/IG story. Kepo tetap perlu, apalagi jika ybs secara tersurat menyatakan ingin bunuh diri, misalnya. Itu kan ke-kepo-an yg perlu demi mencegah hal lebih buruk jangan sampai terjadi.

Poin saya adalah, do filtering aja. How much do we want ourselves to be sucked in into that digital things? While we have so many things to do right here and right now?

Yeah, tidak bisa dibantah juga sih godaan-godaan syaithon semacam flexing or expressing emotion through stories. Hahaha.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.