Strategi Marketing Instagram 2019

Instagram (IG) makin mantap menempati posisinya sebagai social media yang paling engaging, menurut saya. Hootsuite menyatakan 1 milyar orang di dunia memiliki akun IG. Lima ratus juta di antaranya menggunakan IG setiap hari. Bagaimana dengan Indonesia? Pengguna aktifnya ada 59 juta orang, per Oktober 2018. 72% dari pengguna menyatakan pernah membeli produk yang mereka lihat di IG. No more statistics ya. Too much analysis only give brain paralysis.

Istri saya, disamping main di IG pribadinya, juga mengelola akun bisnis. Makanya tidak bisa lepas dari IG. Mulai dari riset, strategi dan perencanaan detil konten, sampai eksekusi posting.

Saya juga melakukan hal yang sama, actually. Di kantor dan untuk beberapa klien. As you may guess, gak semua orang sanggup pegang akun social media — di luar akun personal dia. Salah satunya adalah, beda jenis social media, maka treatment-nya juga berbeda. Gak mengejutkan, because social media is social. It is really human things.

Salah satu contohnya, teknik mendapat likes-nya jadi bermacam-macam. Di kantor, makin banyak wajah yang nongol di post IG kantor, maka likes-nya juga akan makin tinggi.

Tantangan lainnya adalah mengelola konten. Ada banyak aspek. Perencanaan, pengorganisasian (termasuk penyimpanan), riset terus-menerus, sampai dengan penerbitan (publishing), dan pasca-penerbitan. Tidak semua orang bisa menekuni ini. Kuncinya adalah harus selalu bisa come up with new insight(s).

Bijak Menggunakan Hashtag

Banyak pakai hashtag kurang tepat, sih. Seperlunya saja. Yang penting asli relevan dan “kena” sama konteksnya. Bila perlu, lakukan riset tentang hashtag baru apa saja yang bisa ditambahkan. Simply karena selalu ada orang yang search dari kolom explore. Dan dia cari berdasar hashtag.

Hanya memakai hashtag yang follower-nya tinggi? Benar saja. Tapi, tentu saja kompetisinya juga tinggi. Beda dengan hashtag follower rendah. Kita ibarat berenang di Blue Ocean. Positifnya adalah, kompetitornya masih minim.

Seorang rekan di kantor sekarang sempat cerita bahwa misinya perusahaan IG adalah membuat kita user agar tidak tidur. Daripada tidur, mereka berkehendak kita main IG terus.

Alasan pertama dan paling utama menggunakan IG adalah: sekarang hampir semua orang menggunakan IG. Jadi, bisnis dan brand kita juga harus masuk ke sana.

Alasan kedua, IG sebagai part of facebook, memiliki keunggulan dalam hal beriklan. Dengan melakukan pengaturan facebook ads, iklan kita juga bisa ditampilkan di IG. Baik dalam bentuk post, maupun story.

Konsisten Posting

Makin banyak follower, makin wajib berbagi update. Lewat story atau post. Follower kamu masih sedikit? Ayo lebih sering posting. Intinya apa? The point is keep posting consistently.

Biar apa? Membangun ekspektasi dari para follower. Branding is building and deliver expectation (or promise).

Timing posting juga penting. Makin kontekstual si timing ini dengan follower, makin oke. Ada yang oke di jam 12-13 Senin sampai Jumat. Ada juga yang akan optimal di antara jam 6-7 malam.

Filter IG yang paling banyak digunakan adalah Clarendon.

Bisa dicek di sini untuk statistik lebih lengkap mengenai IG yang telah dihimpun dan diringkas oleh SproutSocial.

A note to myself.

Saya membatasi main personal IG.

Yang biasanya saya lakukan: mengecek apa-apa yang dilakukan oleh orang-orang yang saya follow. Konten siapa yang di-like, siapa yang mereka follow. Kategori baru yang belakangan jadi interest saya adalah seputar bullet journal. Saya perhatikan juga tuh, ada post apa perihal BuJo yang baru di-like atau siapa yang baru di-follow, sehingga saya bisa lihat feed-nya. Apakah worth untuk saya follow atau tidak.

Kemudian, saya cek explore. Biasanya mendatangi akun yang bagi saya paling penting: Chelsea FC. Ada post baru apa, ada story baru apa. Intensitasnya cenderung meningkat di hari pertandingan sih. Sabtu/Minggu untuk Premier League, atau Selasa/Rabu di Champions/Europe League. Itu yang resmi dari klub. Informasinya sebatas yang resmi saja. Kalau gosip soal transfer, pemain muda dalam tim, pemain senior yang akan pensiun, banyaknya di akun-akun (tidak resmi) terkait Chelsea.

Habis itu, baru lihat story dari teman-teman yang di-follow. Dilanjutkan dengan post-post di feed. Simpulannya, selalu penasaran, tapi dari story atau post yang dilihat, ternyata tidak juga mengobati rasa penasaran. Daripada menghabiskan sepanjang malam dengan begadang bersama IG –dan tentu saja 5 hari dalam 7 besok adalah hari kerja — lebih baik saya beranjak saja menuju “pulau impian”.

6 Cara Riset Content Marketing yang Akan Membuat Pengunjung Betah Berlama-lama di Web Anda

Di artikel yang lalu, entah yang mana saya tidak ingat lagi 😀 sudah saya tuliskan bahwa proses menulis adalah (1)riset-(2)draft-(3)produksi-(4)revisi. Bagi saya ini berlaku untuk segala jenis tulisan: (a)opini yang dikirim ke koran, (b)artikel untuk majalah dwimingguan, dan lain sebagainya.

Untuk di internet, prosesnya ditambahkan satu lagi, yaitu (5)promosi (ke social media). Agar para pengguna sosial media berbondong-bondong menuju blog/web milik kamu.

Demikian pentingnya riset sebelum menulis, sebab riset adalah (1) proses pertama yang harus dilakukan serta (2) menjadi fondasi atas kualitas suatu tulisan.

Jadi makin banyak riset, maka kualitas tulisan cenderung membaik. Jangan heran banyak penulis tersohor yang mengingatkan agar kita membaca buku lebih banyak supaya kita dapat menjadi penulis yang semakin baik dari waktu ke waktu.

Bagaimana riset penulisan memandang perilaku plagiarisme? Simak dulu quote yang berikut ini:

If you steal from one author, it’s plagiarism; if you steal from many, it’s research (Wilson Mizner)

Dengan kata lain, menulis dengan hanya satu sumber itu mencontek. At least akan terasa bahwa gagasannya kurang kuat/banyak. Tapi kalau kamu menulis setelah membaca banyak referensi, itu berarti kamu sudah melakukan riset.

Makin bagus riset kamu, makin berkelas tulisan kamu.

Nah, mungkin kemudian kamu bertanya, (1) Riset apa yang harus dilakukan? (2) Bagaimana cara melakukan riset?

Sebagai jawaban atas pertanyaan tersebut, berikut adalah beberapa hal yang bisa saya rangkumkan.

(1) Riset dari blog orang lain. Temukan informasi-informasi penting dari blog tersebut. Tidak harus berupa data, inspirasi untuk menulis juga bisa datang dari blogger lain.

Inspirasi tersebut bisa jadi bahan untuk tulisan kamu. Tentu saja harus ditambahkan sudut pandang, pendapat, dan pengalaman pribadi supaya menjadi berbeda dibanding inspirasi dari blogger tersebut.

Dalam setiap niche, ada blogger-blogger berkualitas yang layak kita jadikan sebagai mahaguru. Bagaimana cara supaya tidak terlupa untuk berkunjung ke blog tersebut?

Yaitu berlangganan email marketing. Beberapa waktu lalu saya sudah menyarankan untuk berlangganan beberapa email marketing sekaligus terkait dengan bidang-bidang yang ingin kamu pelajari.

(2) Riset di www.quora.com Dari sana bisa terbayang seputar detil-detil yang dikehendaki oleh (calon) pembaca dari topik yang ingin kita tulis.

Cari pertanyaan yang begitu sulit sehingga tidak seorang pun menyediakan jawabannya di internet. Mungkin ada pertanyaan di www.quora.com yang kamu sukai, tapi tidak ada jawaban yang berhasil memuaskan rasa ingin tahu kamu.

Masih belum yakin dengan Quora? Mungkin kamu bisa re-ask pertanyaan How has Quora affected your life?” 😀

quora-logo

(3) Riset dari membaca buku yang terkait. Bagaimanapun lengkapnya internet sebagai sumber, kadangkala referensinya tidak terlalu kokoh. Satu sumber di internet bisa ditimpa dengan sumber yang lain.

Bagaimana mendapat sumber yang robust (kokoh)? Salah satunya dengan membaca buku yang tepat. Yaitu buku dengan referensi yang lengkap dan saling mendukung satu sama lain.

Biasanya buku-buku seperti ini dibaca dan dirujuk oleh banyak orang. Dan biasanya juga, memang merupakan hasil riset, analisis, dan penulisan secara mendalam.

Mas Yodhia Antariksa belum lama ini merekomendasikan 3 judul buku bisnis terbaik tahun 2015 (menurut beliau) untuk dibaca oleh kita semua. Setiap tahun, beliau membuat postingan dengan tema tersebut.

Ada lagi cara lain untuk mengetahui buku yang tepat: bertanya pada konsultan/dosen di bidangnya untuk mengetahui referensi paling baik mengenai topik tersebut.

Btw, kebetulan lagi ngomong konsultan, ada blog yang khusus membahas pekerjaan konsultan. Beberapa jenis pekerjaan konsultan bisa dibaca di www.pekerjaankonsultan.com

Atau kamu bisa lakukan 6 cara yang telah saya praktikkan agar bisa konsisten ngeblog.

(4) Riset kepada salah seorang pengunjung blog kamu. Bisa dengan interview langsung atau ngobrol-ngobrol sembari makan siang. Sekalian copy darat dan silaturahim, ‘kan.

Sebagai fans berat kamu, tentu dia mampu memberikan usul mengenai ide-ide artikel blog yang pantas masuk dalam content plan kamu.

Atau dia akan merasa beruntung karena sedang ingin bertanya tentang sesuatu hal — yang sekaligus kamu bisa gunakan sebagai topik untuk menulis artikel blog yang paling baru.

Cari tahu apa yang ingin diketahui oleh para blog readers (biasanya melalui comments),  lalu jawab pertanyaan tersebut melalui artikel anda.

(5) Riset Keyword. Ini ditujukan untuk SEO Copywriting. Tembak sebanyak-banyaknya keyword yang masih terkait satu sama lain dalam satu kategori/topik penulisan.

Lebih baik long tail keyword (LTK) daripada keyword yang hanya terdiri dari 2-3 kata. Penggunaan beragam LTK dalam satu artikel, akan memperkuat posisi artikel di hadapan sang mesin pencari.

Tulisan yang lebih condong pada kualitas, menuntut riset yang lebih intens daripada tulisan yang condong pada frekuensi rilis/publish. Tidak usah memaksa setiap hari membuat postingan dengan mengorbankan kualitas.

Lebih baik menerbitkan satu artikel dalam satu pekan tapi dengan proses dan kualitas yang terbaik. 

Blog seperti www.waitandwhy.com tidak banyak menerbitkan artikel baru, namun setiap artikelnya ditulis sepanjang 1500-2000 kata. Panjang artikel inilah yang menyebabkan blog ini kuat sekali di search engine result page (SERP).

(6) Riset dari pengalaman pribadi. Akan bermanfaat untuk gaya postingan life/reality blogging. Ini adalah salah satu gaya di antara 20 gaya posting blog.

Perspektif dan pengalaman pribadi akan memberi warna baru untuk topik yang pernah dibahas oleh penulis lain. Tidak hanya warna baru, tetapi juga memperkuat storytelling.

Yang mana, hanya kamu sendiri yang tahu dan merasakan langsung pengalaman kamu. Jadi ketika diceritakan oleh kamu sebagai pelaku sejarah itu sendiri, maka cerita tersebut akan menjadi lebih hebat.

Simpulan. Sudah dibedah di atas beberapa cara riset yang mungkin kita lakukan:

(1) Riset di blog orang lain
(2) Riset di Quora
(3) Riset dari buku yang direkomendasikan
(4) Riset pengunjung blog
(5) Riset keyword
(6) Riset dari pengalaman pribadi

Sebab riset merupakan tulang punggung proses-proses penulisan. Dengan berbagai metode riset tersebut, semestinya kita bisa mengembangkan tulisan yang lebih berbobot.

Semoga tulisan singkat ini tepat memberi manfaat 🙂

Related Post(s):

Beberapa Tips Marketing Lewat Instagram Yang Dapat Anda Terapkan Di Bisnis Anda

Kenapa harus Instagram?

Pelanggan yang sesuai dengan format konten gambar, tidak boleh dipaksakan berkomunikasi dalam bahasa tulisan (teks). Itu salah satu alasan memakai Instagram.

Marketer yang sudah terbiasa membuat dan mendistribusikan konten dalam bentuk tulisan, tidak boleh demikian egois untuk hanya menuruti keinginannya semata. Harus kreatif menggunakan medium yang cocok dengan perilaku pelanggan.

Idealnya, marketer itu peduli pada pelanggannya. Sehingga akan berupaya maksimal untuk membangun komunikasi dan engagement dengan pelanggan. Yaitu dalam semua bahasa dan medium yang dikehendaki oleh target market.

Saat ini, Instagram sudah memiliki pengguna aktif bulanan sebesar 400 juta pengguna (users) di seluruh dunia. Ini adalah potensi besar yang jadi alasan utama mengapa kita harus memakai instagram.

Tapi, bagaimana memaksimalkan Instagram?

Seperti misalnya, tipe apa gambar apa yang paling tepat untuk pelanggan kita? Beda segmen yang ditarget, tentu berbeda tipe. Jualan tas untuk perempuan yang sudah berkeluarga, sudah pasti berbeda dengan jualan produk-produk kuliner.

Kita harus coba dan eksplorasi terus, hingga kita menemukan winning campaign-nya.

Dalam eksplorasi, kita bisa lakukan 2-5 percobaan sekaligus dalam waktu bersamaan. Tinggal kita lihat dan bandingkan hasilnya, pada indikator-indikator yang sudah kita tetapkan sebelumnya. Ini yang dinamakan split testing.

Ada dua kelompok besar, mengenai kesimpulan yang bisa kita buat. Apakah ada –yang pertama–jenis campaign yang harus kita stop dan hindari, atau justru–kedua adalah–winning campaign yang bisa kita ulang dan optimalkan lebih lanjut.

Kenali Perilaku (Behavior) Pengguna Instagram

Minat (interest) pengguna Instagram bisa kita eksplorasi dari beragam hashtag yang ada. Jadi ketika kita mengamati kualitas suatu gambar, perhatikan juga apa saja hashtag yang dipakai. Sebab di sisi lain, hashtag tersebut juga yang akan digunakan oleh pengguna lain untuk mencari gambar-gambar yang sesuai minat mereka.

Instagram dengan gambarnya itu bisa dianalogikan dengan mesin pencari Google yang mencari berdasar relevansi teks. Jadi ketika pengguna Instagram ingin menemukan gambar sesuai minat, mereka akan mengetik sesuai hashtag yang mereka tahu pasti akan menggambarkan kebutuhan mereka.

Sebagai contoh. Andaikan saya adalah seorang yang tinggal di Jogja, atau sedang berkunjung ke Jogja. Kemudian saya ingin wisata kuliner di Jogja. Maka saya akan mencari gambar-gambar dengan hashtag #kulinerjogja. Atau misalnya seseorang yang dalam kunjungan kerja ke Semarang akan memakai #kulinersemarang.

Hal ini sangat berkait dengan produk atau layanan yang berada di atau ditawarkan di Instagram. Beda produk/layanan, beda pula perilaku user. Tipe kuliner, terutama yang dimakan di tempat, secara sengaja diidentikkan atau diasosiasikan dengan kota tertentu.

Segmen berbeda, semisal penyuka, pembeli, dan kolektor tas wanita, tidak akan menggunakan hastag semisal #tasjogja. Sebab, produk jenis ini tidak identik dengan wilayah tertentu serta dapat dikirim antarkota tanpa mengalami kerusakan atau basi.

Selain melihat hashtag berdasar jenisnya, kita juga perlu mengetahui seberapa banyak image yang dirilis (published) terkait dengan hastag tersebut. Sebaiknya tidak terlalu banyak atau terlalu sedikit. Terlalu banyak berarti foto/gambar anda akan bersaing ketat dengan yang lain. Terlalu sedikit bisa dimaknai bahwa hashtag tersebut kurang diketahui orang sehingga masih sedikit yang mem-posting gambar dengan hashtag tersebut.

Penting pula untuk tidak sekedar ikut arus. Ciptakan sendiri brand positioning sehingga timbul perbedaan dengan kompetitor. Gunakan hastag yang sama sekali berbeda dengan para pemain yang sudah berada di Instagram lebih dulu.

Seiring dengan pertumbuhan Instagram user, kesempatan kita untuk menciptakan awareness akan terus tumbuh pula. Dengan kata lain, makin banyak yang akan mengetahui mengenai brand yang kita garap. Namun demikian, best way to use Instagram adalah dengan menjadikan medium ini sebagai plaftorm untuk menciptakan engagement dengan pelanggan.

Coba kita simak hasil riset berikut. Bahwasanya Instagram memiliki tingkat engagement tiap pengikut (per-follower engagement rate) yang 58 kali lebih baik daripada facebook dan 120 kali lebih baik daripada twitter. Datanya berasal dari sini.

Platform paling oke untuk melakukan kontes mengenai brand

Ini mirip dengan twitter dan blog sebagai platform untuk membuat kontes dengan hashtag tertentu. Hanya, keduanya dalam bentuk teks saja ‘kan? Instagram sebagai image-based apps sedang ‘di atas angin’ karena memang image (yang lebih cepat ditangkap dan dicerna oleh indera penglihatan) lebih unggul dibanding text yang harus dibaca. Apalagi produk dan services juga lebih mudah dideskripsikan lewat gambar/foto.

Model user-generated content (UGC) seperti di kontes yang sudah dijelaskan di atas, engagement rate-nya lebih baik daripada sekedar meminta like dari para user. Kelebihan lain dari kontes menggunakan medium Instagram adalah sebagai berikut:

  • Ketika user yang bersangkutan meng-upload image, tentu para follower mereka juga terekspos akan hashtag yang kita tetapkan
  • Ada koneksi emosional (dari yang merasa biasa saja, sampai dengan yang merasa excited banget) antara user dengan brand kita dalam campaign ini
  • Rangkaian konten tercipta dengan sendirinya dan dapat dikonsumsi dengan mudah oleh mereka yang men-search hashtag yang sedang dikampanyekan
  • Bila hastag kita mengandung brand name kita, kampanye ini telah memaksimalkan potensi dari pelanggan selaku produsen dan konsumen gambar/foto yang terkait dengan brand kita.

Medium untuk mentarget anak muda

Mayoritas anak muda Indonesia (usia 18-35 tahun) yang secara aktif menggunakan Instagram, banyak mem-follow akun-akun retailers. Sebanyak 56.2% mengakui dirinya mem-follow brand-brand retailers.

Jenis retailer yang paling banyak diikuti adalah ritel fashion/apparel/clothes sebanyak 67.5%.

205168

Oleh lembaga riset yang sama, JakPat, menemukan bahwa mendekati 7 dari 10 pengguna mobile internet di Indonesia usia 18-35 tahun menggunakan Instagram secara rutin setiap pekan.

Setinggi 73.8% responden yang berusia 20-25 tahun mengaku menggunakan Instagram. Reach ini jauh lebih baik daripada kategori usia 30-35 tahun yang hanya sebesar 55.8%. Dapat kita simpulkan bahwa medium Instagram sangat oke dalam mentarget segmen berusia muda.

Daripada meng-upload image di akun milik sendiri, users lebih suka melihat-lihat akun-akun yang terkait dengan belanja online. Itu yang utama –sebesar 53.0%. Kedua-utama adalah lelucon yang banyak disampaikan oleh akun-akun yang berfokus dengan materi yang memancing tawa tersebut (51.6%). Coba deh, follow dan pelajari akun-akun seperti @bikinnyengir atau @dagelan.

Screen shot 2016-05-15 at AM 11.05.15

Peringkat ketiga dari aktivitas-aktivitas Instagram user di Indonesia adalah adalah posting image seputar travelling (48.4%). Tentu saja hal ini terkait dengan kelahiran dan keberadaan kelas menengah yang telah berperan selaku konsumen dan endorser di industri travelling kita yang terus tumbuh setiap tahunnya.

Lebih lengkap bisa dilihat di riset eMarketer di sini.

204304

Akuisisi Instagram oleh Facebook

Saya kira, akuisisi perusahaan Instagram oleh perusahaan Facebook, merupakan satu langkah strategis Facebook dalam memperbaiki algoritma image di facebook. Facebook sangat-sangat mengutamakan pengalaman pengguna (user experience) dalam bermain facebook.

Facebook tidak akan membombardir pengguna dengan berbagai iklan sekaligus. Melainkan satu demi satu, selama selang detik-detik tertentu.

Sehingga, penting bagi facebook untuk dapat menemukan gambar yang memang relevan dengan tiap-tiap user. Tidak heran kan mereka menempuh jalan tersebut lewat akuisisi Instagram. Logika yang sama berlaku untuk pembelian WhatsApp oleh Facebook.

Sebab jual beli perusahaan tidak selalu seperti membeli lalu menjual aset. Perusahaan tidak selalu bisa dibandingkan dengan rumah atau tanah yang harganya cenderung naik. Perusahaan punya karakteristik khusus. Yakni, perusahaan adalah tempat di mana paten-paten bertebaran.

Jadi dengan membeli perusahaannya, maka paten-paten di dalamnya juga akan ikut dimiliki oleh perusahaan pembelinya. Dan itulah yang telah dilakukan oleh perusahaan Facebook.

6 Saluran Internet Marketing yang Harus Anda Ketahui

Tips internet marketing adalah tips-tips yang anda butuhkan untuk melakukan pemasaran dan penjualan (marketing and selling) via internet. Di internet, kita bisa melakukan marketing and selling melalui beragam saluran (channel). Mulai dari website kita sendiri, yang bentuknya bisa berupa toko online, blog, berita, dan lain sebagainya. Atau melalui akun social media – yang kita tahu sangat beragam – twitter, facebook, path, youtube, pinterest, dan lain sebagainya.

Oiya, jangan keliru dan tertukar antara maksud dan pengertian dari marketing dan selling. Marketing adalah aktivitas-aktivitas untuk membangun keinginan membeli dalam diri konsumen. Bahasa kerennya: creating demand. Sedangkan selling adalah “memetik” keinginan tersebut dengan cara membuat konsumen membayar lalu menerima manfaat produk/layanan yang sudah kita janjikan.

Pada tulisan kali ini, kami akan elaborasi sedikit saja dan secara sekilas apa saja tips-tips untuk melakukan pemasaran dan penjualan via internet. Di antaranya ada email marketing, social media marketing, search engine optimization (SEO). Masing-masing saluran ini punya kelebihan dan kekurangan, tentu saja.

Email marketing. Tentu saja berarti mengirim pesan-pesan marketing kepada email konsumen yang ada dalam database kita. Darimana database ini bisa anda dapatkan? Pertama, anda harus membuat konten yang fokus dan menarik untuk pengunjung website anda. Kedua, pancing mereka untuk mendaftarkan email mereka melalui website anda. Caranya adalah dengan berjanji mengirimkan file berisi materi yang menarik dan bermanfaat bagi mereka (secara gratis), sehingga mereka mendaftarkan alamat email mereka, lalu tugas anda adalah – ini langkah ketiga — mengirim materi tersebut ke email mereka.

Social media marketing untuk melengkapi website anda. Jadi akun (account) anda di social media facebook, twitter, linkedin, youtube, dsb mengunjungi website anda. Tentu saja, di masing-masing akun tersebut followers/friends-nya selalu diperbanyak. Anda bisa mengadakan kuis – dengan syarat follow dulu–, atau diskon sekian persen apabila melakukan share/re-tweet, dan seterusnya. Tipsnya adalah harus kreatif dan inovatif dalam membuat program taktikal seperti ini. Sebab, umur program ini tidak panjang dan efek penambahan friends/followers-nya pasti akan mencapai titik jenuh.

Search Engine Optimization. Saya ceritakan dahulu proses kedatangan calon konsumen ke lapak anda di website. Jadi perilaku online dari (calon) konsumen adalah mencari tahu siapa yang memiliki dan menjual produk/jasa yang dia butuhkan. Dia akan mengetik “jual barang xxx”, atau “Cari jasa xxx”, dan seterusnya. Dan hasil pencarian dia akan muncul dalam beberapa halaman. Tapi kemungkinan besar dia hanya mengecek 3 halaman pertama kan? Atau mungkin hanya halaman pertama? Bahkan sangat mungkin dia hanya membuka link dari 4 teratas hasil pencarian. Jadi, proses marketing yang harus anda lakukan adalah bersaing dengan sejumlah kompetitor anda untuk merebut 4 teratas hasil pencarian. Syukur Alhamdulillah apabila anda berhasil meraih peringkat pertama dan konsisten berada di sana.

Affiliate marketing. Ini adalah layanan “bantu menjualkan” yang semakin berkembang di internet. Dengan kode programan tertentu, maka penjualan yang berhasil dilakukan dapat ditelusuri siapakah affiliate marketer-nya. Affiliate marketer (pelaku affiliate marketing) ini kemudian mendapat komisi sekian persen dari omzet yang diperolehnya. Keuntungan model affiliate marketing ini adalah affiliate marketer tidak perlu menanggung inventory, dia hanya bermodal personal computer (PC) dan koneksi internet. Sebagai pemilik barang, anda pun tidak perlu memberikan stok barang anda untuk dijual oleh para “dropshipper” ini. Jadi kira-kira, affiliate marketer itu bisa kita analogikan dengan para dropshipper. Bedanya, affiliate marketer bekerja dengan modal link URL dari pemilik barang. Sekarang anda tinggal memilih, mau menjual produk/jasa anda dengan bantuan para affiliate marketer, atau anda mau menjadi affiliate marketer itu sendiri? Jawabannya terserah anda.

Marketing through social chatting. Brandnya ada Whatsapp, Line, KakaoTalk, BlackBerry Messenger, dan lain-lain. Social chatting menggunakan kanal internet juga, sebab itu bisa kita kategorikan ke dalam internet marketing. Ada dua fungsi yang bisa kita optimalkan. Pertama adalah broadcasting. Jadi sekali dalam beberapa waktu – saya kira yang masih sopan dan tidak akan di-remove adalah broadcast sekali dalam sepekan – kita lakukan promosi tembak massal. Ini sekaligus untuk mengingatkan konsumen akan brand kita. Syukur Alhamdulillah bila ada yang tertarik beli. Kedua adalah fungsi social chatting sebagai customer service (CS) alias fungsi yang langsung berhadapan dengan (calon) konsumen. Mulai dari menjawab pertanyaan mengenai produk/jasa, melakukan penutupan (closing) penjualan, hingga menerima keluhan dari konsumen yang sudah pernah membeli atau sudah menjadi pelanggan.

• Marketing through blog. Jadi produk/jasa anda dipasarkan melalui kalimat-kalimat deskriptif yang menjelaskan dan meyakinkan konsumen akan produk/jasa tersebut. Di samping itu, dapat menggunakan video dan gambar untuk memberikan tampilan visual dan audio juga dapat anda gunakan. Tantangannya adalah membuat banyak artikel dengan panjang minimal 300 kata, maksimal 1000 kata. Antar artikel harus terhubung satu sama lain dan jangan ada pengulangan konten pada artikel yang lain.

Selain yang sudah disebutkan, dari mana lagi kita bisa belajar saluran-saluran internet marketing? Saya yakin, buku BOM (Bisnis Online Milyaran) bisa jadi salah satu referensi anda. Berminat? Silakan klik di sini.   

Demikian tips internet marketing kali ini. Semoga klasifikasi dan teknik pemanfaatan secara sederhana ini bermanfaat bagi anda dalam meningkatkan penjualan serta menumbuhkan usaha bisnis yang anda geluti.

Related Post:
Internet: Static vs Mobile
Internet: Kini dan Akan Datang