How to Control and Drive Your Introvertness?

Contents: 1. Do your own meditation 2. It’s oke to not climbing the corporate ladder 3. Never Eat Alone.

Sewaktu istri dan adik perempuan saya dengar dari saya sendiri bahwa saya seorang introvert, mereka kaget. Awalnya, mereka duga saya adalah seorang ekstrovert. Tapi saya tidak mau bertanya lebih lanjut, saat itu.

Ada dua kemungkinan memang. Pertama, spektrum introvert-ekstrovert yang mereka kenal, mungkin berbeda dengan yang saya ketahui. Kemungkinan lainnya adalah saya sudah berubah menjadi lebih ekstrovert daripada yang bahkan saya pernah duga.

Saya mau bahas topik ini, simply karena ternyata banyak introvert ini merasa tidak nyaman dengan weakness yang secara umum disematkan kepada para introvert. Misalnya, karakter seperti pendiam, tidak mau bergaul, dan sebagainya.

Saya mengakui saya cukup pendiam, memilih-milih dengan siapa saya berinteraksi, mencari inspirasi dari dalam diri saya sendiri, dst. Beberapa menilai saya “lemah” karena demikian.

Padahal, namanya juga karakter kan, ada strength dan weakness-nya. Demikian juga dalam karakter introvert. Pasti ada keduanya. Tidak mungkin cuma punya strength. Pasti ada wekness-nya juga. Oleh sebab itu, dengan bijak saya pikir dan simpulkan, jangan bahas weakness-nya seseorang saja. Itu tidak nyaman dan sesungguhnya tidak sopan.

Lihat yang saya temukan di quora. Pertanyaannya berbunyi, “Mengapa introvert sering dipandang rendah?” Hal ini tentu mengindikasikan temuan-temuan di lapangan yang notabene memang demikian adanya.

Daripada bertanya demikian, menurut hemat saya, lebih baik pikirkan tentang strength orang tersebut dan apa yang bisa kamu lakukan bersama dengannya. Jadi, berikut ini tanggapan saya terhadap pertanyaan tersebut.

Menurut saya, karena lingkungan kita terlalu mengidolakan para extrovert.

Padahal, kita sebagai individu maupun kelompok, membutuhkan keduanya secara seimbang. Berikut beberapa kasusnya:

Orang-orang ekstrovert jago menjual apa saja. Bahkan untuk hal sederhana seperti makan di mana, pergi ke mana. Kita introvert tidak harus seperti itu. Namun, harap diingat kewajiban kita juga: kita wajib bisa “menjual” gagasan, produk, bahkan karya kita.

Orang-orang ekstrovert tampak berteman dengan semua orang. Untuk introvert, kita cuma harus melakukan filter lalu berhubungan dengan orang-orang yang tepat: para pengambil keputusan, orang berkantong tebal, dll.

Lingkungan kita juga kelewat memberi penilaian lebih pada leadership dan team work. Padahal, hal-hal semacam fokus, konsistensi, perhatian pada detil juga tidak kalah penting.

Introvert dipandang rendah karena tidak bisa memimpin. Terhadap perspektif tersebut, menurut saya, ada dua hal yg bisa dilakukan oleh intovert:

Jadi anggota tim yg baik. Tidak membebani tim, supportif dan melakukan coaching kepada anggota tim yg lain, proaktif terhadap pekerjaan, dst. Jangan lupa sesekali ikut makan siang bareng atau ngopi sore/malam bersama anggota tim yang lain.

Be the best in your area of specialist area. Jadilah yg terbaik, sampai mereka sangat berharap pada anda. Seperti sebuah judul buku, “Be so good, They Can’t Ignore You“.

Dalam dunia kerja, kerja tim (team work) dan kepemimpinan (leadership) adalah dua aspek kepribadian yang dipantau, dinilai dan dianggap signifikan dalam perjalanan perusahaan sebagai sebuah institusi bisnis. Baik sebagai subordinat (bawahan) atau superordinat (atasan).

Ambil contoh resign-nya seorang karyawan. Dari sisi HR (Human Resources) hal tersebut dapat dijadikan sebagai umpan balik (feedback) perihal compensation and benefit. Dari sisi leadership, hal tersebut bisa jadi karena karyawan yang bersangkutan merasa tidak nyaman dalam bekerja. Dalam hal memberikan situasi dan kondisi yang optimal terhadap masing-masing karyawan, memang merupakan seni tersendiri. Seni kepemimpinan. Since, leadership is an art.

Tapi, persoalannya adalah tidak semua introvert mampu memberikan lingkungan yang kondusif bagi tiap pribadi yang menjadi bawahannya, bukan?

Bagaimana kita sebagai introvert memandang hal ini?

Menurut saya, strength-nya introvert itu terletak pada fokus, konsistensi, dan perhatian pada detil. Tentu ini sekilas menurut pandangan saya semata. Sebagaimana tersampaikan dalam jawaban Quora di atas.

Kaitan dengan hubungan terhadap orang lain, introvert secara umum tidak menyerap ide, inspirasi, aspirasi dari orang lain. Introvert malah menemukan ketiganya dari dalam diri sendiri. Tidak heran, introvert yang lelah berada di keramaian kemudian harus memberikan “penawar” yang seimbang berupa meditasi/perenungan/refleksi di kesendirian kepada dirinya,

Leadership and team work seakan domainnya para ekstrovert. Tidak heran hampir seluruh perusahaan menuntut keduanya dari tiap karyawannya. Yang secara tidak langsung menuntut mereka semua berperan dan berkarakter sebagai ekstrovert di perusahaan.

Padahal, dalam tiap pekerjaan masing-masing, terutama yang berkaitan dengan teknis (technique), seni (art), karya (craft) harus diberikan porsi ke-introvert-an (introvertness) yang cukup. Sehingga kita terus-menerus melakukan perbaikan berkelanjutan (continous improvement) pada pekerjaan kita.

Tidak semua pekerja harus naik ke level manajemen. Sebagian karyawan harus didorong untuk menjadi professional yang paling expert di bidangnya masin-masing. Dan sebagai introvert, boleh lho kita memilih untuk masuk ke kategori kedua.

Kaitan dengan pertemanan, ada sebuah buku dengan judul yang sangat provokatif “Never Eat Alone”. Awalnya tidak percaya. Tapi lama-lama terasa benar dan saya selalu berusaha mempraktikkan di setiap waktu. Itu baru satu tips dalam buku tersebut (yang kemudian menjadi judul bukunya, yah). Tapi tips-tips sejenis dari buku tersebut juga sangat bermanfaat dan applicable untuk dipraktikkan.

Demikian renungan hari ini.

From Brand Writer to Technical Editor

Metamorfosis (sesuai pekan ber tema dari komunitas blog yang saya ikuti) dari penulis pemasaran menjadi penyunting teknis.

Waktu saya masih culun dulu, saya meminati topik management dan marketing. How to manage and how to market something. Keduanya seperti dua hal yang sangat powerful. Selemah-lemahnya hal yang dikelola, selama dikelola (to be managed) dan dipasarkan (to be marketed) dengan tepat, maka akan berhasil.

Demikian keyakinan saya, hingga saya lebih sering mempelajari (dan menulis) topik-topik tersebut daripada pelajaran-pelajaran kuliah saya sendiri. Apalagi dulu saya kuliah di kampus teknik, ya. Tentu saja materi-materi tersebut sangat jauh berbeda –dan ada human factor-nya juga. Kalau di sains dan rekayasa (science and engineering) kita cenderung untuk mengeliminasi sama sekali faktor manusia, maka khusus topik manajemen dan pemasaran faktor tersebut sama sekali tidak bisa diabaikan. Bahkan cenderung, berpusat pada si manusia (dan organisasinya) itu sendiri.

Jadi kedua topik tersebut, wabil khusus topik pemasaran semakin saya pelajari dengan tekun. Bagaimana cara melakukan riset pasar, bagaimana mempelajari permasalahan klien lalu menyusun rekomendasi yang tokcer untuk mereka implementasikan, sampai menyusun materi pelatihan guna memberi inspirasi dan technical how-to bagi para peserta training.

Brand-ing

Dan satu irisan besar dengan marketing adalah branding. Bicara marketing, ya topiknya pasti branding. Wacana branding juga membahas marketing. Apa itu brand-ing? Yaitu, suatu upaya tanpa henti (continous process) dalam membangun merek. Sebagai penulis di bidang per-merek-an (brand writer), wajib hukumnya untuk mempelajari siapa calon pelanggan dari suatu merek.

Empathy: Putting our feet into their shoes.

Modal dasarnya adalah empati. Yaitu menempatkan diri ke dalam personal si pelanggan, untuk dapat memahami kebutuhan (needs) dan keinginan (wants) mereka. Keduanya dapat berwujud macam-macam dalam psikologi manusia. Salah dua di antaranya adalah kegelisahan (anxiety) dan hasrat (desire). Sederhananya: penuhi anxiety dan desire mereka, maka merek kita akan sukses dalam menepati komitmen yang sudah dijanjikan serta mungkin berhasil menjadi nomor satu di pikiran atau hati pelanggan. Itu contoh algoritma umum dari brand writer.

Persoalan dengan pelanggan sebagai “partner” kita dalam membangun merek adalah: pelanggan itu moving target. Target bidikan yang selalu bergerak. Dinamika produk dan layanan dari merek kompetitor yang memberikan opsi berbeda dari merek kita, dan dari pelanggan itu sendiri yang seringkali “galau”, “resah”, “bingung” menjadikan pekerjaan brand writer selalu dinamis. Kalau tidak mau disebut demikian, bisa dilihat sebagai tidak ada resep yang selalu berhasil. Dengan kata lain, semua kunci sukses bersifat temporer. Sehingga, kesuksesan tersebut bergantung pada kreatifitas kita dalam memandang, mempersepsikan dan mengeksekusi layanan-layanan riset, konsultasi dan pelatihan.

Internet Era

Di atas tahun 2010, kreatifitas yang saya sebutkan diatas ditantang lagi oleh medium yang namanya internet. Sejak internet semakin menjadi-jadi, semua informasi ada di dalamnya. Dengan kecanggihan dan perkembangan robot Google dalam menyajikan hasil pencarian, hampir semua (saya belum berani bilang “semua”, ya) ilmu pengetahuan ada di internet. Konsekuensinya, kliennya para konsultan bertambah pintar dibanding sebelumnya. Dengan kata kunci (keyword) dan kecenderungan (intention) yang tepat, klien akan menemukan wawasan (insight) yang mereka cari.

Berakhir di kantor konsultan sebagai penyedia layanan. Jasa konsultasi, sebagai layanan “meminjamkan otak” untuk berpikir, tidak lagi semudah dahulu dalam menghantarkan layanannya. Sederhananya, klien telah mengambil kesimpulan bahwa tidak semua proses berpikir perlu dialihdayakan (be outsourced) kepada konsultan.

Technical Documentation

Dahulu, dokumen teknis semisal “User Guide” atau “Manual Guide” sangat berpusat pada pengguna (user-centric). Term ini analog dengan konsep customer-centric (berpusat pada pelanggan) yang digaungkan para konsultan, khususnya konsultan pemasaran. Yang menarik pada saat itu adalah, pengguna adalah mereka yang memiliki literasi pemrograman atau literasi teknikal di atas rata-rata. Sebab, aplikasi digital masih banyak digunakan oleh mereka yang menjalankan fungsi-fungsi bisnis di perusahaan. Akuntansi, rantai suplai, dan lain sebagainya. Jadi, Manual/Guide yang dibuat masih sangat teknikal. Untung bagi saya, tatkala saya bergabung dengan sebuah IT company, saya tidak lagi bersentuhan dengan detil-detil yang sangat kental kerekayasaannya ini.

Manual/Guide yang sangat teknis tidak mungkin diberikan kepada dan digunakan oleh masyarakat umum seperti sekarang ini yang sudah sangat familiar dengan mobile application dari iOS/Android, seperti aplikasi Tokopedia, Bukalapak, Traveloka, dan Go-Jek.

Keberadaan para perusahaan unicorn tersebut lha dan ribuan perusahaan rintisan (start-up) lainnya, yang mulai menggeser dan menspesifikasi bidang dokumentasi teknis menjadi hanya pada pengoperasi-pengguna (user-operator) dengan suatu bidang yang kini kita sebut UX (user experience). Topik ini bisa kita bahas lain kali ya.

Being Editor

Alih-alih menjadi penulis dokumen-dokumen teknis tersebut, saya menjadi penyunting. Tidak hanya menyeragamkan penggunaan bahasanya, namun saya juga menyusun topik-topik yang wajib ada di setiap jenis dokumen. Mengingat dokumennya sendiri sangat beragam, mulai dari dokumen yang memetakan kebutuhan klien, dokumen yang menspesifikasi aspek-aspek teknis dari aplikasi yang akan dihantarkan, dokumen perencanaan proyek, dokumen-dokumen penunjang keberjalanan proyek, dan sebagainya.

Sebagai yang pernah belajar di kampus teknik, ternyata masa mendayagunakan kembali logika-logika sains dan rekayasa telah datang kembali pada diri saya. Tentu tidak sepenuhnya sama, karena dulu saya lebih banyak belajar material dari sisi saintifiknya, bukan dari sisi kerekayasaannya. Namun demikian, saya bergabung dengan nyaris tanpa cacat (seamless). Mungkin karena saya sedikit teknikal tapi mengerti bahasa. Atau banyak paham tentang bahasa (dan penulisan), tapi bisa nyambung kalau bicara teknikal.

Pamer

Pamer pencapaian di social media malah bikin pertemanan jadi berjarak, benar gak sih?

Sekarang ini, pamer makin gampang, yah. Berkat social media. Terutama instagram (IG). Itu yang paling kekinian. Dulu ada facebook dengan fitur post with image dan photos. Sekarang, facebook jadi serba ada. Akun personal, fan page, grup, dan sebagainya sampai fesbuk nya sendiri bingung mau menjadi apa. Semacam politisi di tahun 2009, 2014, 2019 ya. Berubah sana, berubah sini. Hanya dalam rentang 5 tahun.

Akhirnya orang-orang lebih fokus ke IG. Fokusnya user pada visual yang disajikan. Caption ibarat gula. Pemanisnya aja. Tapi bahan dasarnya ya si post utamanya itu. Caption bisa aja di-halus-kan. Atau dibikin beda sedikit lha, dari impresi pertama si follower. Yang jelas, sublime message-nya dapat dari visual post-nya. Yeah, tapi gak semua user IG kayak begitu, siy.

Ah ya, sekarang ada story. Tidak cuma gambar diam. Namun juga gamger (gambar bergerak). Namanya video kan, ada audionya pula lha, ya. Dengan teks dan suara yang bisa ditambahkan, makin lengkap racikan koki si owner akun IG tersebut. Story ini main “scarcity“. Alias ke-jarang-an. Makin jarang, makin terbatas, makin berharga. Hanya 24 jam saja, lho.

Pergi ke tempat-tempat wisata yang lagi hits. Restoran atau kafe yang baru. Yang instagrammable.

Bikin para followers makin gak mau ketinggalan. FOMO. Fear of Missing Out. Atau gak mau sampai kelewatan dengan alasan YOLO. You Only Live Once.

“Pokoknya gue harus ikutan. Gue gak boleh kudet (kurang updet). “

Habis kena di-pamer-in, pokoknya kudu pamer balik.

Toh pamer juga makin gampang karena ada beragam cara pembayaran.

Dulu, pamer itu disponsori kartu kredit (CC, Credit Card). Tinggal gesek, gak harus ke ATM ambil uang tunai. CC disangka sebagai dewa baru. Mendatangkan uang kontan di saat paling tidak dibutuhkan: belanja yang tidak diperlukan.

Alhamdulillah masih ada yang sadar. CC sebagai pemberi utangan aja. Kalau sudah masanya (tagihan) datang ya dibayarlah. Harus disiplin. Entah yang seperti ini mungkin makin langka juga. Sebagian yang lain hanya bayar minimalnya aja. Masih sekitar 10%, kan? Ada juga yang bayar pokok dulu, bunganya enggak.

Habis CC, terbitlah KTA. Kalau bikin CC diawali dengan memiliki penghasilan (atau saya salah?) sebagai bukti bahwa mampu membayar, maka KTA adalah Kredit Tanpa Agunan. Tanpa ukuran, bukti, apalagi jaminan bahwa yang bersangkutan memang mampu membayar si kredit tersebut.

Nah, di era serba online macam begini. Apalagi, online nya bukan level browser lagi, maka lahir lah KTA versi mobile application. Ini ya ngeri, pake akun socmed lho, si pinjol (pinjaman online) ini.

Default di pinjol pertama, maka bikin akun baru di pinjol kedua, untuk menutupi gagal bayar yang pertama. Gali lubang tutup lubang. Begitu terus sampai sudah lebih dari 20 jenis pinjol digunakan. Yang karena gak menemukan pinjol yang baru lagi, maka si penagih utang mulai menggunakan jurus-jurus kasar: merusak nama baik si peminjam dengan cerita yang buruk-buruk ke kolega di social media.

Padahal ya, gak semua friends/followers di social media adalah keluarga atau teman dekat, ‘kan? Bayangkan betapa malunya bila dicitrakan buruk di hadapan orang-orang yang sekedar tahu aja, bukan kenal.

Itulah, karena pamer, pertemanan bisa rusak juga.

Beberapa orang ternyata sungkan bertemu dengan teman-temannya yang dulu akrab. Baik memang karena satu geng, atau berteman dan bekerja bersama dalam suatu organisasi. Kenapa sungkan? Karena di social media pada “memamerkan” pencapaian masing-masing.

Ya pencapaian harta, ya pencapaian karya.

Dari jauh, saya melihat pamer-pameran via socmed ini bikin pertemanan malah jadi berjarak ya. Entah karena sibuk, kemudian lupa meluangkan waktu untuk silaturahmi dengan kawan lama. Atau mungkin menghindari pertemuan demi menghindari topik soal pencapaian? Entah lha. Metode validasi apapun takkan bisa membuktikannya.

Concurrent Collaboration

Lagi mau tulis soal ini karena kerasa banget produktifitas jadi naik. Terutama berkat aplikasi di Google Drive.

Di kantor lama, progress rasanya lambat sekali berjalan. Review dan approval seringkali menghambat. Habisnya, kami semua bekerja dengan email. Kerjakan dulu, nanti di-email. Tunggu review, lalu kerjakan lagi. Kalau gak ada review lagi, berarti tinggal tunggu approval.

Berarti kan minimal ada tiga kali kirim email, tho? Belum termasuk si attachment yang harus diberi nama berbeda. Karena memang di-Save As dengan nama berbeda. namaclient-jenisdokumen-versi0.1 , namaclient-jenisdokumen-versi1.0 , namaclient-jenisdokument-finaltapieditpertama, dan seterusnya.

Salah satu yang menghambat adalah reviewer, approver, dan editornya harus menunggu selesai. Tidak bisa dia kerjakan bersamaan dengan dokumen-dokumen yang lain. Padahal, dia juga bekerja dengan beberapa analyst yang lain seperti saya ini.

Katanya sih, kalau mau cepat, pergi/kerjakan sendiri aja. If you want to go fast, go alone. Tapi jadi pikir-pikir juga, yah. Kuat berapa tahun mau seperti itu? Mending juga kerjakan bareng-bareng. If you want to go far, go together.

Jadi kaitan dengan judul di atas adalah, penggunaan Microsoft (Ms) Word, Excel, PowerPoint sudah jadoel BGT. Sekarang mah, mending pakai Google Drive aja. Itu lho, yang ada Google Docs/Sheet/Slides sebagai tools untuk melakukan online collaborative documentation.

Instead of terpaku pada satu dokumen saja, dan cenderung tertunda sama si atasan. Lebih baik pakai yang semacam ini. Beberapa dokumen bisa selesai dalam tempo yang lebih cepat.

Salah satu alasan mengapa concurrent collaboration memang sudah zaman now banget, adalah karena pesertanya adalah para milennial. You know, milennial lebih ambisius daripada generasi sebelumnya. Yakni masalah pekerjaan, lebih ingin menyelesaikan banyak hal dalam tempo yang lebih cepat.

Bersyukurnya, para milennials memang dianugerahi kelebihan tersebut. Terutama adalah kebiasaan multitasking-nya. Di sisi lain, milennial gak terlalu cocok dengan struktur yang terlalu vertikal yang hierarkis banget.

Jadi, instead of dibuat layer yang terlalu banyak (yang masing-masing jadi menganggur (idle) kalau harus menanti yang fase sebelumnya beres duluan), lebih baik dibuat tiga layer saja. Dalam hal dokumentasi, misalnya adalah ada yang menulis, ada yang mengedit, ada yang menyetujui (approval).

Dari sisi aplikasi digitalnya, ini terbukti mempengaruhi banget. Setelah beberapa tahun menggunakan Google Drive, lalu untuk suatu dokumen terpaksa harus memakai Ms Word lagi, terbukti kami kembali kelimpungan.

Bisa dikatakan, karakter si milennial dan Google Drive ini sudah klop banget. Satu melengkapi yang lainnya. Memang sudah ditakdirkan untuk bersama dalam generasinya di zaman now ini.

GD yang mengoptimalkan komputasi awan (cloud computing) ini, mengizinkan kita untuk mengakses file(s) tersebut lewat beberapa device. Jadi habis mengerjakan di komputer kantor, dengan mudah kita mengerjakannya kembali lewat smartphone kita sembari pulang ke rumah dengan KRL atau MRT.

Kemudahan akses dari beberapa aplikasi berbeda juga memberikan keamanan tersendiri. Contohnya, kita tidak perlu panic ketika laptop sedang rusak atau terjadinya peristiwa sejenis.

As you know, shared-file yang sama bisa kita buka lewat smartphone. Tinggal masuk ke drive-nya google kita. Cari dan klik untuk masuk ke shared file tersebut.

Document collaboration tools:

  • Increase productivity
  • Reduce (unnecessary) office politics
  • Decrease city-commuting
  • Faster execution of ideas
  • Make business process more efficient
  • In streamlining workflows.

If you’re familiar with Microsoft Word, Google Docs will feel familiar to you. It has a top bar filled with all of your editing and formating buttons that you’re familiar with.

Google Docs has collaboration built-in, making it easy for your team or clients to collaborate. Once you create a document it’s easy to sharing it with others via shareable link. Gak perlu lagi buka email untuk upload-download file.

You can work on a document with your teammates simultaneously over the cloud, give them access to edit or make it as a ‘view only’ doc, and leave comments in real-time.

Belum semua orang siap berperan sebagai atasan dengan para bawahan yang tidak dia lihat langsung –sebagaimana yang terjadi dengan remote working. Mindset-nya perlu digeser menjadi serba deliverables. Apa yang harus dibuat, dan kapan paling lambat diterima.

Confluence from Atlassian. Untuk knowledge management. Jadi kalau ada member/employee yang baru, tidak sulit untuk belajar dan beradaptasi dengan perkembangan kantor. Terutama, soal teknologi yang digunakan. Karena balik lagi ke generasi milennial yang langgas, cepat sekali berpindah company.

In Confluence, you create with pages and blog posts. Just like other documents you’ve used, you can fill pages and blog posts with text and tables, and format them to look pretty, funny, or professional.

The secret recipe of being successful introvert

Nothing’s new. Sudah banyak artikel, jurnal, buku yang membahas seputar introvert. Kalau mau versi pendek, silakan baca post ini saja. One part talk about how we should behave to our self. Another part show how to extract the best from extrovert.

Kadang-kadang, blogger nge-blog karena ingin eksis. Ya, gak? Jadi latah aja mengikuti topik yang lagi trending. Berharap bisa menunggangi ke-viral-annya. Haha.

Padahal, beberapa orang (spesifiknya blogger) sudah merencanakan dan mempersiapkan topik-topik tertentu untuk di-post. Sudah diriset segala. Draft juga sudah dibikin. Tapi enggak jadi published, simply karena too personal. Won’t too viral. Haha. Bisa jadi itu saya doang. Mungkin memang saya sedang halu.

Anyway, being popular is not that comfortable for the introverts. Yeah, bukan gimana-gimana. Mungkin belum biasa saja. Atau, bagi introvert yang sudah biasa, jelas mereka sudah mengalokasikan waktu untuk menyendiri lagi, alias “masuk ke dalam gua; ruang privatnya”. Artis-artis yang populer itu, tentu banyak juga yang beneran seniman dan aslinya introvert.

Soal demikian itu, sudah jadi karakter, ya. Artinya, itulah kelebihan sekaligus kekurangannya para introvert. Kelebihan; karena di tengah-tengah semedinya itu, di sanalah power-nya terkumpul. Inspirasinya datang. Kreatifitasnya malah muncul. Di sisi lain, jadi kekurangan karena dunia saat ini kelewat menuntut ekstrovert dengan level tinggi (high-level extrovert).

That’s why beberapa orang malah tidak nyaman dengan social media. Lihat tuh, post IG-nya sedikit (eh ternyata lebih suka main story; kan dalam 24 jam hilang ditelan bumi). Follower-nya berapa sih; sedikit doang. Gitu lha kalo saya diibaratkan orang lain tipe extrovert yang menggunjing si introvert. Padahal punya followers banyak kan capek juga ya. Mesti menuntut perhatian lebih dari kitany. Ya, padahal socmed adalah sarana marketing-branding-selling diri, lho. Ok, ini mulai out-of-topic.

Tante Susan Cain di bukunya “Quiet” sendiri menyatakan hal yang sama. Haha. Sebenarnya saya mengutip dari beliau, sih. Bahwasanya dunia yang sudah kelewat extrovert ini akhirnya kelewat berkehendak akan popularitas: kamu kudu populer, harus kekinian, update socmed, bisa bicara beberapa bahasa (ngapak, planet bekasi, kota jaksel, and so on, and so on). Kalo loe gak memenuhi kriteria itu, maka loe gak gawl, atau apalah semacamnya.

Padahal ya, dunia harus memberi ruang pada mereka-mereka yang introvert dan pada pekerjaan-pekerjaan yang introvert. Banyak lho, pekerjaan yang butuh ketelitian, keheningan, kecermatan, deep thinking, etc. Contohnya: Developer, writer, designer, accountant, pengrajin, dsb. Mereka ini gak butuh popularitas. But believe me, the world needs their work. Karena merekalah yang dengan their emphaty and curiosity berkarya: merancang produk yang digunakan oleh banyak orang. Note: tanpa bermaksud menjelekkan, para developer itu akrab dalam tim kecil dan temannya di luaran relatif tidak banyak.

Lihat Jony Ive, dari Apple, yang selalu bertanya-tanya, mengapa (desainnya) begini, mengapa harus begitu, what will they think when facing this product, would this product transform their lives, and so on, and so on.

Because, as technical writer, saya juga begitu. Oiya, aku mengakui bahwa saya adalah seorang introvert. I do spend my time to read more and analyse further how to improve my writing and increase reader experience. Saya merenungkan dan berkontemplasi, apakah dokumen teknis ini cukup sederhana untuk dipahami oleh para user? Apakah saya menyampaikan informasi teknis ini dengan benar? Akankah mereka terganggu dengan tebal/banyaknya dokumen ini, lalu bisakah saya menyusunnya seringkas mungkin?

Ekstrovert

Dari perspektif yang lain, keterampilan public speaking adalah salah satu keterampilan yang semakin diperlukan. Tidak usah malu. Justru harus dilatih. Dan sebagai peserta latihan, introvert lha jagonya. Makin tahu di mana kelemahannya, dan bagaimana cara memperbaikinya.

Being salesman tidak harus ekstrovert dan pandai bergaul, lho. Dalam pengalaman saya berjualan proyek, keterampilan paling utama justru adalah mendengar dan berempati. Karena pembeli ingin membeli dari seorang teman yang mereka percayai (trusted). Bukan belanja dari seorang penjual yang bicara berbusa-busa yang memaksa banget closing-nya demi mengejar target semata.

Oke, introvert tidak suka pesta. Ekstrovert lha yang menyukainya. Namun demikian; pesta, arisan, reunian, kumpul keluarga, dan sejenisnya bukan lagi sesuatu yang buruk dan harus dihindari. Cukup lakukan yang harus dikerjakan: (1) make sure you have introduce yourself –kalau memang kesempatannya ada– dan (2) cukup ngobrol intense aja dengan orang-orang yang posisinya terdekat denganmu. Kamu tidak harus menjadi bintang –di mana kamu bicara paling banyak dan menjadi yang paling dikenal– di acara kumpul-kumpul tersebut.

Akhir kata, introvert vs ekstrovert ini bukan untuk dibanding-bandingkan. Bukan juga sekedar diketahui dan diamalkan. Melainkan, menurut saya, kelebihan sisi yang sebelah sana (yakni ekstrovert) juga harus kita pelajari dan kuasai.

Chelsea juara lagi dan teknik-teknik mengelola tim dalam institusi

Chelsea juara lagi. Hampir setiap tahun juara. Pelajaran apa yang bisa diambil dari bagaimana Chelsea mengelola timnya? Saya ulas sedikit dalam post kali ini.

Chelsea juara lagi. Di UEFA Europe League (UEL) edisi 2018/2019. Tahun lalu, juara FA Cup 2017/18. Tahun sebelumnya juara English Premier League (EPL) 2016/17. Dan masih ada juara-juara di tahun-tahun sebelumnya lagi. All-in-all, Chelsea adalah klub EPL yang paling banyak gelarnya di milenium baru (sejak tahun 2000).

Mengapa Chelsea bisa demikian sukses dalam hal prestasi olahraga (keuangannya sehat, meski bukan yang omzetnya paling besar.)?

Satu-satunya jawaban adalah perihal pengelolaan tim mereka. Bukan sekedar portfolio seimbang posisi pemain (komposisi pemain menyerang dan bertahan), variabilitas usia (yang muda lebih enerjik, yang tua lebih berpengalaman), melainkan culture yang dibangun dan dipertahankan. Kenapa harus culture? Because Culture Trumps Strategy, Every Time.

As you all know, pemain datang dan pergi di klub sepakbola. Pemain mulai menua –biasanya di atas 30 tahun– mulai menurunlah physicality-nya. Termasuk endurance, speed, agility dan beberapa aspek fisik lainnya. Sooner or later, mereka harus diganti dengan yang lebih muda. Sumber peremajaan tim ada dua: bisa dari akademi klub atau beli jadi.

Nurturing Talent

Tidak heran kan semua tim besar di lima besar liga eropa punya akademi klub. Mungkin ada faktor kewajiban ya, dari pengelola liga. Yang jelas, itu adalah salah satu sumber talenta juga –di samping sumber penghasilan dari usaha Sekolah Sepak Bola (SSB).

Sekedar statistik: pada masa jayanya, sekitar pertengahan 90-an sampai tengah 2000-an, rerata usia tim inti AC Milan adalah 28 tahun. Tidak tua, tapi berpengalaman.

Kalau kita ngomongin Chelsea, pemain-pemain dari akademi yang sudah waktunya rutin main di tim utama adalah: Ethan Ampadu, Tammy Abraham, James Reece, dan beberapa calon lainnya. Loftus-Cheek dan Hudson-Odoi kan udah mulai reguler mainnya ya.

Di MU-nya Sir Alex, story yang gak pernah habis dikupas adalah soal “Class of 92“-nya yang terdiri dari Ryan Giggs, Paul Scholes, David Beckham, Nicky Butt dan Neville bersaudara. Giggs dan Scholes bahkan pensiun di MU — hanya satu klub sepanjang karir bermain.

Talent Acquisition

Yang kedua tadi, kita bisa beri istilah: strategic talent acquisition. Sifatnya penting dan mendesak. Oleh sebab itu, harus sediakan budget besar. Karena yang dituntut dari pemain yang bersangkutan adalah hasil yang instant. Dan budget besar tersebut tidak untuk banyak posisi sekaligus. Melainkan hanya 1-2 orang saja. Makanya disebut stratejik.

Bicara strategic acquisition, adalah Michael Pulisic. Timing-nya pas. Karena sooner or later, Willian dan Pedro as winger akan pensiun. Apalagi Hazard juga beneran akan pergi. Lagian si Michael juga dari Amerika Serikat (AS). Lumayan lha untuk menambah pundi-pundi omzet dari jualan kaos di Amrik sono. Belum lama ini juga Chelsea baru event pertandingan persahabatan di sana kan.

Dalam kasus Sir Alex di tahun 1992, strategic talent aquisition yang beliau lakukan adalah menghadirkan Eric Cantona dari Leeds United pasca mengidentifikasi itulah “lubang” yang harus ditambal olehnya. Tidak hanya itu, akuisisi pemuda 18 tahun dalam wujud Wayne Rooney dan Cristiano Ronaldo adalah dua contoh lainnya.

Leadership

Nah, di sisi lain. Ada aspek team work, culture, dan leadership yang harus dipertahankan dalam tim. Pemain yang menokoh, kemudian dipertahankan, ya itulah alasannya. Contoh: Bambang Pamungkas di Persija, Fransesco Totti di AS Roma, Carragher di Liverpool. Kalau Chelsea, ya John Terry (dan arguably Frank Lampard), misalnya.

Yang kekinian adalah Gary Cahill dan suksesornya, Azpilicueta. Nama yang terakhir saya sebut, memang memberi teladan juga untuk tim secara keseluruhan. Sebab rasa hormatnya tetap ada pada sang Kapten (musim lalu) yang memang kehilangan waktu bermain regulernya. Disadari atau tidak, yang begini penting dan memang dijadikan contoh/teladan bagi anggota tim yang lain.

Performance Standard

Ada standard minimal proses dan hasil yang harus dipertahankan.

Kalau di Chelsea, salah satunya adalah ukuran juara. Gak juara bisa dipecat. Yang sudah berhasil memberi gelar sekalipun bisa saja dipecat (case: UCL-nya Roberto di Matteo dan UEL-nya Rafa Benitez).

Salah satu faktornya kinerja ini adalah siapa pelatih. Bukan sekedar peracik taktik (siapa aja yang main, dengan formasi apa), tetapi juga pelatih as motivator. Karena dengan motivasi yang tinggi hasil dicambuk-cambuk, para pemain juga akan memberikan high performance.

Pada masa Beckham dan Roy Keane malah memberi pengaruh buruk ke tim –David disebut lebih memilih jadi selebriti daripada pemain bola, Roy mulai mengkritik pelatih–, Sir Alex mempersilahkan keduanya pergi dari Old Trafford.

Salah satu “satpam” yang mengamankan dan mencambuk urusan kinerja ini memang si pelatih. The problem with Manchester United in last 6-7 years is budayanya soal performance belum setegak pas jamannya Sir Alex Ferguson. Yaitu, melempem saat Marcos Alonso (Chelsea) menyamakan kedudukan. Seri dan kalah dari dua tim yang pasti degradasi (salah satunya Huddersfield).

Kinerja Tinggi juga didorong dari masuk-keluar pemain dan kontrak-kontrak mereka. Sadar mereka gak selamanya di klub (dan bisa dilepas ke klub lain), wajar donk mereka berupaya maksimal.

Satu lagi adalah, budaya. Ini agak susah dijelaskan. Datangnya dari pelatih dan pemain-pemain yang jadi backbone-nya tim. Tapi terasa banget deh, kalau kita berusaha peka. Tanpa perlu deskripsi macam-macam, cek deh quote-nya Petr Cech sebelum final UEL 2019 ini.

Beberapa Kesimpulan, wabil khusus dikaitkan dengan komposisi tim/karyawan di perusahaan:

  • Kalau ingin sukses berkelanjutan, penting lho punya rencana suksesi. Sehingga talenta-talenta muda bisa menjadi pimpinan perusahaan di masa datang.
  • Ada masa di mana, bajak-membajak memang wajib dilakukan. Demi dapat insight dan strategi baru, moral booster for existing team, dan seterusnya.
  • Untuk mendapatkan proses dan hasil terbaik dari tim, sangat krusial untuk mengelola mereka (sebagai tim dan individu) lewat program performance management yang memberikan mereka motivasi berkarya. Meski demikian, tetap ada semangat kolektif yang harus dijaga dan dipertahankan.

Reference:

Jangan Fokus

Saya tidak antitesis dengan fokus ya. Bukunya Daniel Goleman saja belum dibaca. But, I have my own understanding about focus itself. It is: to not focus.

Dalam sejarah hidup saya yang pastinya pendek ini, rasanya gak pernah tuh saya fokus. Yaitu, hanya nge-spotlight hal yang itu-itu aja. Seakan targeting yang itu-itu aja adalah boring. Jadinya saya melakukan beberapa aktifitas sekaligus. Not in one time, ya. Tapi dalam time range yang lebih panjang, saya coba achieve beberapa hal. That’s why I told my self to jangan fokus. Karena kalau fokus beneran, mungkin hanya dapat 1-2 target dalam setahun.

Doing several categories itu kayak jadi kebutuhan (needs). Bukan lagi keinginan (wants). Karena many times ‘kan kita butuh perspektif baru ya. Untuk memahami atau mengeksekusi hal baru. Ibarat marketer yang butuh benchmark ke industri lain, seperti itulah yang saya lakukan. Habis mengobservasi bagaimana cara mereka melakukan, di situlah saya bertanya ke diri sendiri, bisa gak ya metode mereka tersebut diterapkan di sini?

Ke-tidak-fokus-an itu kemudian jadi cara menemukan referensi. Bahwa dalam dimensi lain kehidupan (dan pekerjaan), ada lho teknik/metode/taktik lain menyelesaikan sesuatu atau solving the problem. Tentu tidak pernah persis sama, ya. Tapi di situlah kita dapat menemukan persamaan dan perbedaannya. As u already know, persamaan dan perbedaan ‘kan hanya salah dua tools aja untuk mengklasifikasikan sesuatu relatif terhadp sesuatu yang lainnya.

Apalagi tatkala saya mengenakan “topi” technical writer, memahami persamaan (sekaligus perbedaan) antar topik/kategori, malah memudahkan saya untuk menyampaikan hal-hal teknikal dengan lebih sederhana. Baik lewat definisi, maupun lewat analogi.

Sebagai editor, tatkala melihat materi/konten, kita malah bisa “melihat” ada part-part yang seharusnya ada lho, tetapi ternyata belum tersedia. Nah, di situlah kita bisa menambahkan atau ask the respective writer untuk melengkapi “kekosongan” tersebut.

Atau, referensi-referensi tersebut bisa kita lihat hubungannya satu sama lain dalam perspektif upstream (hulu) dan downstream (hilir). Dalam konteks usaha, yang hulu kaitannya dengan produksi/manufaktur/rantai suplai, dll. Hilir berarti dekat dengan konsumen, buyer, brand, channel (outlet), dll.

Lebih lanjut, ke-tidak-fokus-an malah memberi ide pada terjadinya inovasi bisnis. Inovasi-inovasi baru dalam bisnis ‘kan sebenarnya banyak terjadi dengan metode ATM (amati-tiru-modifikasi) yang melakukan copy-paste-edit dari industri lain. Contohnya apa, ya? Haha. Sebenarnya ada banyak banget.

Contohnya inovasi gojek yang instead of mengakuisisi dan menguasai segala aset fisik yang mungkin mereka miliki, yang dilakukan adalah membangun ekosistem bisnis berbasis layanan sepeda motor yang menjadi inisiatif perdana mereka. Tidak hanya go-ride, ekosistem tersebut kini terdiri dari go-food, go-car, dan go-life (go-massage, go-clean, dsb).

Perusahaan Apple, di periode kedua leadership-nya almarhum om Steve Jobs, juga tidak fokus. Setuju, ‘kan? Instead of fokus di satu produk, beliau mengarahkan untuk fokus mengeksplorasi brand Apple nya itu sendiri yang nyata-nyata bermain di market yang high-end. Yakni pasar dengan spesifikasi tercanggih, dengan harga tertinggi. Fokusnya pada brand, tidak fokus pada variasi produk. Justru produknya sangat bervariasi mulai dari smartphone, laptop, desktop, hingga ritel berupa toko.

Balik ke gagasan awal tulisan ini. Actually, saya gak meng-antitesis-kan ide Focus-nya pakdhe Daniel Goleman. Writer yang ini, judul buku terbarunya adalah Focus: Hidden Driver of Excellence. Saya belum pernah memahami basic gagasannya beliau. Bisa jadi saya menentang atau malah sepaham dengan beliau.

Yang pernah saya baca, salah satunya adalah The Power of Habit dari Charles Duhigg. Dia berargumen bahwa segala fokus kita harus terealisasi ke dalam suatu kebiasaan (habit). Jadi, fokusnya bukan semata soal thinking or to concentrate. Tapi fokus harus dibawa dan diangkat hingga menjadi kebiasaan.

Buku tentang focus yang lain ada Deep Work dari Cal Newport. Belum pernah saya baca. Tapi beliau thinker and writer yang oke. Karyanya yang bagus itu So Good; They Can’t Ignore You. So, Deep Work mestinya termasuk kategori must-read juga.

Ah iya, satu lagi judul yang popularitasnya nyaris sepanjang masa, Flow: The Psychology of Optimal Experience. Dari Mikhaly Csikzentmihalyi. Fokus yang beliau maksud, dideskripsikan dengan kenikmatan bekerja yang tidak kenal waktu. Ibarat pagi-pagi datang kantor, eh tahu-tahu sudah malam saja. Mengindikasikan kita sudah sedemikian “tenggelam” dalam pekerjaan. Ke-tenggelam-an tersebut adalah indikasi fokus.

Kalau fokus dan tidak fokus ini kita lakukan pemodelan ke dalam model spesialisasi–dengan satu ujung adalah being generalist dan ujung satunya adalah being specialist–maka tidak fokus berarti menjadi seorang generalis. Dan fokus berarti being specialist in something-specific profession. Yeah, masing-masing ada plus-minusnya, sih.

Menjadi full-stack (sebagaimana terdeskripsikan oleh posisi full-stack developer) alias generalis berarti punya kemampuan serba bisa yang tentu saja sepaket dengan tidak memiliki kemampuan yang difokuskan. Instead of mencari pihak ketiga yang bisa membantu (masalah harga dan ketersediaan biasanya), ada masanya korporat senang dengan karyawan yang tipe full-stack ini. Tapi seorang generalis kan tidak fokus, ya?

Being specialist (alias fokus) juga ada plus-minusnya. Plusnya adalah branding/positioning kita akan kuat. For certain period of time, kita akan menjadi yang pertama diingat –dan diberi pekerjaan–untuk kategori tersebut. Minus yang sepaket dengan plus tersebut adalah, tidak semua pekerjaan/proyek/bisnis bisa kita garap.

Pertanyaan seputar generalist-specialist ini tidak ada habisnya. Sebagaimana labilnya manusia pada umumnya, ada masanya ingin jadi spesialis; ada pula saat lain ingin menjadi generalis. Naiknya posisi pekerjaan ke tangga manajemen, berarti mengindikasikan kita menjadi generalis. Actually, tidak semua orang mempersepsikan karirnya seperti itu. Ada juga yang memilih untuk menjadi lebih spesifik di bidang pekerjaannya sekarang ini.

Menyikapi Informasi Penting Milik Pribadi

Bagaimana menyikapi begitu banyaknya informasi/data/konten penting yang harus jaga kerahasiaan atau keamanannya? Post kali ini mengulas beberapa hal yang bisa kita lakukan terkait konten dan informasi digital yang penting dan harus kita jaga.

Beberapa waktu lalu, salah satu anggota keluarga kami ingin mengaktifkan nomor telepon yang sudah sekian lama (kurang lebih 6 bulan) tidak aktif. Tidak masuk ke mana-mana ya, tatkala kami menelepon ke nomor tersebut. Artinya ‘kan nomor tersebut (mungkin) belum di-recycle, atau sudah di-recycle tapi belum laku. Dugaan kami seperti itu.

Waktu kami cek di outlet maintenance and support milik provider tersebut, kami diberikan perkiraan biaya sekitar Rp600-900ribu untuk pengaktifan kembali nomor tersebut. Entah seperti apa penjelasan atas angka yang terlampau besar itu. Sebab, waktu searching-searching sebelumnya, kami menemukan harganya hanya sekitar Rp35-50ribu.

Bahkan kata teman yang bekerja di salah satu provider, ada outlet mereka yang bisa jadi memberikan gratis, karena memang omzetnya dari penjualan pulsa, kan. Jadi logika mereka, tak apa lha berkorban sedikit demi membuat customer kembali berlangganan.

Kami ingin mengaktifkan nomor tersebut, simply karena masih banyak customer yang hanya mengetahui nomor tersebut untuk melakukan pemesanan. Kalau mereka menghubungi, lalu tidak ada tanggapan dari kami, maka hilang lha potensi penjualan.

Peristiwa ini membuat kami berefleksi bahwa data-data penting, seperti database customer, harus kita upayakan back-up nya di tempat lain. Minimal ada Excel-nya lha untuk informasi sepenting ini.

Dan sebagai mana data, informasi, bahkan konten lain yang kita anggap penting, mindset backup-membackup ini wajib kita berlakukan juga.

Misalnya username dan password untuk login ke aplikasi. Nowadays ‘kan kita banyak sekali punya aplikasi. Mulai dari e-mail, blog, social media (Instagram, Facebook, Twitter, you name it lha), dan aplikasi-aplikasi lainnya. Even gmail aja, untuk generasi saya, rasanya jarang yang hanya punya satu. Ada yang punya sampai tiga e-mail –seperti saya.

Sekarang ‘kan sudah ada tuh, aplikasi-aplikasi penyimpan beberapa password sekaligus. Semisal KeePass, 1 Password, dan sebagainya.

Konten-konten saya di blog, saya juga back-up di suatu file Ms Word. Ada juga yang saya taruh di cloud. Ibarat mengerjakan thesis, jangan simpan di satu server saja, yaitu laptop kita. Tapi simpan juga di cloud service seperti Dropbox atau Google Drive.

Apalagi sekarang sudah bisa sinkronisasi ya. Apa yang ada di laptop, ada jg di GDrive. Penambahan atau pengurangan di satu file, akan tersinkronisasi dengan yang di server satunya. Sudah bisa sampai seperti itu. Dari sisi konten, bukan mana yang paling benar. Tetapi mana yang paling baru (alias updated); versi yang lebih baru atau lebih lama.

Nge-blog di WordPress (WP) jaman now juga begitu. Kalau lagi connect sama internet, draft-nya langsung di-save. Keliru sedikit, atau gak sengaja terhapus, langsung dianggap versi terbaru sama WP. Dan kita gak bisa retrieve lagi ke versi yang sebelumnya. Nah, di sinilah pentingnya bikin draft atau simpan hasil akhirnya di aplikasi word processor seperti Ms Word.

Kenapa sampai buat back-up seperti itu? Karena kita gak tahu sampai kapan kita nge-host di hosting provider yang sekarang kita pakai. Kali aja tahun depan kita mau pindah host ke yang lagi mengadakan diskon promo . Jadi lebih easy dan lebih secure pindahan (rumah blog)-nya.

Menyikapi informasi penting milik pribadi ini, dikembalikan ke kita selaku pemilik data. Pentingnya mentalitas mengadakan back-up, membuat password yang sulit diduga oleh orang lain (misalnya bukan tanggal lahir), menyimpan password-password di password manager, dan lain sebagainya yang penting untuk kita implementasikan segera.

Kesimpulan

Kasusnya tidak aktifnya nomor telepon dari anggota keluarga kami ini jadi pelajaran utk kita peduli sama konten/data-data milik kita: database pelanggan, password utk login, konten yg kita post di social media, dlsb.

Cara Mengoptimalkan Hashtag di Instagram

Masih banyak yang asal-asalan dalam menggunakan hashtag. Di post kali ini, saya coba elaborasi bagaimana seharusnya hashtag digunakan untuk branding dan targeting.

Hashtag berawal dari Twitter. Kurang mantul di facebook. Namun di Instagram (IG), menurut saya penggunaan hashtag jadi lebih powerful. Hanya dengan menambahkan tagar (#) kita bisa membuat sebuah kata menjadi topik yang bisa diklik (dan ditelusuri) lebih lanjut.

Kita butuh hashtag dengan reach yang tinggi, untuk menjangkau pemirsa yang lebih luas. Namun, kita juga butuh hashtag dengan reach yang rendah –bahkan hashtag yang kita buat sendiri– untuk membedakan diri dengan kompetitor.

Salah satu perilaku user di Instagram adalah mencari dan mengikuti (follow) suatu topik berdasarkan hashtag. Selain merekomendasikan user lain untuk di-follow, IG juga merekomendasikan hashtag untuk kita follow.

Bagi pelaku bisnis, ini adalah salah satu cara untuk mengekspansi konten-konten bisnis mereka agar menjangkau lebih banyak pengguna IG.

Sejauh ini, saya kira ada empat (4) macam hashtag yang bisa kita implementasikan ke dalam post IG kita guna meningkatkan reach dan engagement yang ujung-ujungnya bisa menaikkan jumlah followers kita juga. Yaitu:

  • Branded hashtag
  • Contest hashtag,
  • Niche-specific hashtag,
  • General appeal hashtag, dan
  • Timely hashtag

Branded Hashtag

Branded hashtag ini dipasang di profil dan di setiap post IG. Bisa meliputi nama brand, bisa juga berupa value proposition yang ditawarkan oleh brand anda. Karena hashtag ini dikembangkan oleh kita sendiri, tentu hashtag ini tidak populer. Dan, pada masa awal pengembangan brand, penggunaannya bisa jadi baru hanya oleh kita sendiri.

Contest hashtag.

Sesuai namanya, ini adalah tipe-tipe hashtag yang digunakan tatkala mengadakan kontes. Contohnya adalah #instacontest dan #giveaway.

General appeal hashtag

Ini adalah tag-tag yang populer digunakan; saking populernya, penggunaannya sudah sangat familiar oleh pemirsa (audiens) yang beragam. Hashtag jenis inilah yang akan memberikan kita reach yang signifikan. Hashtag ini dicirikan dengan penggunaannya yang setidaknya mencapai ratusan ribu kali. Bisa terlihat kok ketika kita mencari hashtag.

Niche-specific hashtag

Tiap industri memiliki frase dan kata kunci khas yang relevan dengan pemirsa yang ditargetkan. Nilai reach-nya tentu saja berbeda dengan general-appeal hashtags, tapi traffic yang hadir akan relevan dengan niche yang dibidik. Sebagai contoh, tagar #harrypotter bisa digunakan bila kita menjual merchandise yang diinspirasi dari serial Harry Potter.

Timely hashtag

Peristiwa (event) atau liburan tertentu dapat digunakan juga hashtag-nya. Semisal #indonesiamemilih seperti pada 17 April lalu. Atau, untuk ramadhan dan lebaran nanti, bisa pakai hashtag #ramadhan #tarawih #lebaran #idulfitri.

Yang Perlu Dilakukan:

Untuk hasil terbaik, selalu sediakan waktu dan kesempatan untuk melakukan riset terhadap hashtag. Dan gunakan kombinasi terbaik dari kelima jenis hashtag tersebut untuk meraih jangkauan (reach) terbanyak, relevansi dengan pemirsa yang ditargetkan (targeted audience/niche), dan konteks yang paling tepat (secara waktu dan momentum peristiwa). Ini semua akan mengoptimalkan proses branding dan targeting.

Tidak setiap hashtag bisa diukur efektifitasnya. Namun, itu bukan alasan untuk berhenti mencoba-coba kombinasi hashtag demi hashtag.

Saya melihat, penggunaan hashtag ini penting banget. Signifikan hasil yang diberikan, kalau dioptimalkan. Kalau tidak diapa-apakan, malah gak dapat hasil apa-apa. Jadi, ya optimasi hashtag harus terus dilakukan.

  • Pasang branded hashtag di profil IG.
  • Pastikan tiap post nya ada branded hashtag tersebut.
  • Tiga puluh (30) hashtag bisa dipakai untuk setiap post. Namun, riset menemukan bahwa antara 8-11 hashtag saja yang optimal untuk dilihat oleh pemirsa.
  • Sirkulasi hashtag secara bergantian. Selain mengekspos ke pemirsa yang lebih luas, juga mencegah akun IG kita dinilai sebagai spam oleh IG.
  • Sediakan waktu untuk meriset hashtag. Minimal, seminggu sekali untuk menemukan hashtag-hashtag baru yang bisa digunakan. Artinya, hashtag tersebut kontekstual dengan pesan yang dibawa di post IG anda. Bukan sekedar menggunakan tanpa mengetahui konteksnya.

Semoga sukses diimplementasikan, ya. Dan kalau kamu merasa post ini bermanfaat, mohon berikan komentar. Terima kasih 🙂

Referensi:

Cara Menulis Proposal Proyek

Bikin proposal proyek itu gampang-gampang susah. Ada dua faktor yang harus diantisipasi: customisation factor dan customer intimacy factor yang perlu kita ukur dan nilai sebelum memutuskan mau mengejar proyek tersebut atau tidak.

Yang tidak saya bahas dalam artikel ini adalah proposal untuk mendatangkan investasi. Artikel ini juga tidak membahas rencana bisnis (business plan).

Alhamdulillah, selama 7 (tujuh) tahun berkarir, selalu kebagian yang namanya membuat proposal proyek. Saya coba tuangkan dalam post ini, bukan berarti saya dan tim selalu sukses memenangkan proyek. Setidaknya, saya bisa berbagi di mana saja “lubang-lubang” yang harus diwaspadai. Meskipun, setelah semua ranjau-ranjau darat berhasil dihindari dan kita sampai di tujuan (baca: semua usaha sudah dilakukan), mungkin saja proyek tersebut bukan rejeki kita. Hehe.

Namanya takdir kan gak bisa dilawan, ya. Kita fokus saja dengan apa yang berada dalam kendali kita.

Ok, kita mulai. Premis awalnya adalah proposal yang mendatangkan bisnis itu gampang-gampang susah.

Gampang karena, ada saja contoh proposal yang bisa ditiru. Dan semakin kita bergelut di suatu bidang produk atau jasa, maka wujudnya proposal akan semakin begitu-gitu saja. Misalnya, proyek kontraktor bangunan, struktur proposalnya cenderung kaku. Atau proyek sistem informasi. Isinya kurang lebih akan sama dari waktu ke waktu.

Namun demikian, proposal yang menjual tidak mudah juga. Namanya proyek ya, cenderung customized ‘kan. Alias, proyek yang satu tidak benar-benar sama dengan proyek-proyek sebelumnya. Ada saja spesifikasi produk yang tidak sama, menyebabkan harga yang ditawarkan menjadi berbeda. Atau produk yang persis sama, namun karena calon klien yang meminta ternyata berbeda industri dengan yang sebelumnya, maka produk dan harganya menjadi tidak sama lagi.

Singkat cerita, di awal penyusunan proposal proyek akan terasa gampang. Mendekati deadline penyerahan proposal, semakin terasa kesulitan dalam detil-detil yang perlu kita konfirmasikan kembali ke calon klien, atau harus kita pikirkan masak-masak. Baik spesifikasi maupun harga. Belum termasuk skenario-skenario yang perlu kita perjelas dan deskripsikan lebih lanjut. Sehingga transparan bagi kedua pihak.

Customisation

Kustomisasi ini terbagi dalam tiga hal. Product/Service Management, Delivery Management dan Cash Management. Yang pertama meliputi produk/layanan itu sendiri. Terutama adalah kesesuaian/ketepatan dengan kebutuhan (requirement) dari klien. Ini teknis banget lha ya, sesuai bidang bisnis masing-masing. Tentu anda lebih memahami daripada saya.

Yang kedua menyangkut ekspektasi dan keterpenuhan dari apa yang kita janjikan. Yaitu, how to deliver the product/service and related documentation. Kerapihan dan keteraturan administrasi (termasuk dokumentasi) yang menjadi kunci di sini. Kapan presentasi, apa yang dipresentasikan, dokumen teknis apa yang harus dilengkapi, bagaimana dengan laporan kemajuan (progress report), meeting apa yang harus ada, dan seterusnya.

Ketiga, soal keuangan. Ini ada kaitannya dengan pertama dan kedua. Mana keuangan yang kita harus mendanainya terlebih dahulu, apa yang bisa dilakukan dengan uang muka dari klien, bagaimana cara menekan biaya material/teknologi/proses tanpa mengurangi kualitas yang sudah ditetapkan di requirement, dan lain sebagainya. Mengapa demikian? Simply karena project-based business (terutama yang di-tender-kan) itu omzetnya sudah ketahuan di depan (dan tidak ada invoice tambahan). Kalau proyek non tender, kita sendiri harus pintar pasang harga karena (bisa jadi) cost-nya tidak fleksibel-fleksibel banget.

Seni main proyek adalah merancang biaya produksi serendah-rendahnya sejak awal.

Tidak mahir main proyek bisa menyebabkan rugi, nombok, bahkan bangkrut.

Jam terbang tentu mempengaruhi kemampuan tersebut, ya. Penguasaan proses/teknologi/material ikut menentukan “how low can you go with the cost“.

Customer Intimacy

Kesuksesan proyek kita akan ditentukan oleh hubungan kita dengan klien/pelanggan. Kenali dulu pelanggan kita ini: hard/easy customer? Seberapa dalam “kantong”-nya? Kalau kita sukses di proyek ini, seberapa mungkin kita dapat proyek lain dari mereka (langsung maupun tidak langsung)? Kerjasama tim kita dengan tim mereka akan “semanis” apa?

Meskipun kita sedang membahas bisnis berbasis proyek, namun tetap saja keberhasilannya tergantung dari manusianya juga. Karena manusia yang membelinya, dan manusia juga yang akan menggunakannya. Jadi hubungan antar manusia ini harus bisa kita berikan observasi/penilaian sejak awal.

Conclusion

All in all, kesimpulan core of the core-nya adalah tetapkan di “medan juang” mana kita ingin bertarung. How worth it or profit a project seharusnya sudah bisa diprediksi dan ketahuan bahkan sejak proposalnya ditulis.

Setengah bercanda: cara meningkatkan persentase kemenangan proposal yang diserahkan kepada klien adalah dengan mengurangi pengumpulan proposal itu sendiri. Dark jokes for me, but it is really true.

Bagaimana caranya? Sudah dibahas di atas: Customization and Customer Intimacy.