Aplikasi USBK Pinisi Edubox

Aplikasi Ujian Sekolah Berbasis Komputer (USBK) adalah aplikasi yang memungkinkan anda (sebagai guru) atau sekolah anda untuk menyelenggarakan ujian secara online.

Pinisi Edubox adalah perangkat server berukuran mini dengan performansi optimal untuk kebutuhan komputasi anda yang akan memberikan pengalaman mengajar (sekaligus ujian) yang tidak akan pernah dilupakan oleh siswa.

Pinisi Edubox terdiri dari sebuah aplikasi USBK dan perangkat fisik berupa jaringan yang dapat disambungkan dengan lab komputer atau jaringan komputer (computer network) di sekolah. Perangkat keras yang sama dapat digunakan secara intranet di dalam kelas.

Aplikasi USBK dalam perangkat Pinisi Edubox, tidak hanya dapat digunakan untuk ujian saja, yaitu ujian semester, ujian mata pelajaran, atau ujian sekolah. Perangkat ini juga dapat membantu guru dalam proses belajar-mengajar itu sendiri. Karena konten pembelajaran dapat disimpan di server atau cloud milik Pinisi, yang kemudian dapat diunduh oleh para siswa melalui perangkat laptop, smartphone, atau komputer masing-masing.

Ada dua produk dari Pinisi yang menyertakan aplikasi ujian berbasis komputer di dalamnya:

  • Edubox Smart Router, dan
  • Edubox Mini Server

Tentu saja aplikasi ini bukan aplikasi Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK). Namun aplikasi Pinisi ini dapat digunakan sebagai media latihan dalam menghadapi UNBK.

Bagaimana menggunakan aplikasi USBK Pinisi? Berikut adalah panduan langkah demi langkahnya:

Set Up Awal Aplikasi USBK Pinisi .

Set Up Awal. https://www.youtube.com/watch?v=JLG73-KYmJw

Anda dapat mengisi Nama Sekolah, Alamat Sekolah, dan nama Kepala Sekolah. Lalu kita isi kurikulum yang digunakan. Bisa kurikulum 2006 atau 2013. Pada awalnya hanya terdapat satu user. Dari sini, kita bisa menambahkan user-user yang lainnya. Tahun ajaran bisa kita pilih sendiri. Dengan format 2017/18, 2018/19, dan seterusnya.

Cara mendaftarkan kelas dimulai dari Jenjang Kelas. Aplikasi ini menyediakan pilihan jenjang kelas dari tingkat I sampai tingkat XII. Sedangkan ruang kelas adalah posisi ataupun urutan kelas, contohnya kelas X-1, X-2, X-A, X-B. Terakhir, kita bisa memasukkan nama wali kelas ke dalam masing-masing kategori kelas.

Guru dapat mengunggah data ke dalam sistem menggunakan file dengan format Excel. Tenang saja, kami sudah menyediakan cetakan (template) yang dapat digunakan dengan mudah. Sehingga pengisian data ke dalam cetakan tidak memakan waktu lama. Manfaatnya adalah proses unggahan (uploading) dapat dilakukan tanpa menghabiskan waktu dengan percuma.

Admin dapat memasukkan (input) soal ujian atau mengunggah (upload) dari cetakan format Excel yang sudah disediakan berdasarkan nama guru, jenjang kelas dan mata pelajaran yang diampu.

Untuk menampilkan hasil ujian, aplikasi USBK Pinisi dapat memperlihatkan nilai siswa berdasar semester, menurut kelas, atau per mata pelajaran dan memungkinkan untuk di-eksport ke format PDF, Excel maupun langsung dicetak (print) di atas kertas.

Pada menu ini juga guru dapat membuat soal atau melakukan impor soal (lagi-lagi dari cetakan berformat Excel) per mata pelajaran dan per jenis ujian.

Cara Membuat Ujian Baru di Aplikasi USBK Pinisi.

Anda dapat memulai pembuatan ujian baru di aplikasi USBK Pinisi ini dengan meng-klik tombol “Tambah Ujian”. Kemudian akan muncul form “Ujian Baru”. Silakan isikan nama ujian pada ujian anda yang baru. Pilih juga mata pelajarannya. Dalam contoh, adalah mata pelajaran Bahasa Indonesia. Cukup isi “Lama Ujian” dengan angka saja. Karena sudah diformat dalam satuan menit. Misalnya diisi 120 yang menandakan ujian akan berlangsung selama 120 menit.

Ada beberapa tipe ujian yang dapat dipilih dari menu Jenis Ujian. Guru dapat membuat jenis ujian seperti ujian harian, ujian tengah semester (UTS), atau ujian akhir semester (UAS).

Sebagai guru, Anda dapat melakukan pengacakan pada soal (melalui fitur “Acak Soal”) maupun pada jawaban (fitur “Acak Jawaban”). Mengenai nilai, bahkan dapat ditampilkan langsung segera setelah ujian selesai dilaksanakan; lewat fitur “Tampil Nilai Setelah Ujian”. Anda juga dapat memilih dan menentukan, apakah ujian tersebut akan direkap masuk ke dalam nilai (fitur “Masuk Rekap Nilai”). Apabila sudah selesai, silakan klik tombol “Buat Ujian”. Maka ujian Anda sudah jadi. Cukup mudah membuat ujian di aplikasi USBK Pinisi, bukan?  

Untuk mencegah ujian tidak tersebar sebelum atau sesudah waktu yang diinginkan, kami menyediakan tombol switch untuk mengaktifkan ujian.

Cara Membuat Soal di Aplikasi USBK Pinisi

Sekarang, kita sudah punya ujian. Nah, bagaimana mengisinya dengan soal-soal?

Cara Menambahkan User Baru di Aplikasi USBK Pinisi

User Baru yang dimaksud di sini adalah mereka yang berperan dan bertugas sebagai: Guru, Kepala Sekolah, atau Wali Kelas.

Pertama-tama, kita lihat ada menu utama di sebelah kiri. Menu ini seringkali muncul; karena itu kami menyebutnya menu utama. Terdapat beberapa menu sebagai berikut: Beranda, Pengguna, Pelajaran, Tugas, dan Ujian. Untuk menambahkan user baru, silakan klik tab “Pengguna”. Maka akan tampak “Daftar Pengguna” di halaman besar. Di sisi kanan atas, kita bisa melihat tombol “Unduh Data” dan “Tambah Pengguna”. Dengan mengklik  tombol terakhir, maka kita akan dapat menambahkan data dari user terbaru.

Apa saja kolom yang harus diisi sebagai data dari user terbaru? Berikut adalah data penting yang harus dimasukkan: NIK/NIP/NIS/NISN, Nama Lengkap, E-Mail, Role (bisa dipilih antara “Guru”, “Kepala Sekolah” atau “Wali Kelas”), dan Foto. Password wajib dimasukkan dua kali sebagai cara verifikasi. Klik “Buat Pengguna” untuk menyimpan data user yang baru. Kemudian profil user yang baru akan disimpan dan diperlihatkan di halaman selanjutnya. Di halaman inilah kita bisa melakukan “Sunting Pengguna” dan “Ganti Password”.

Cara Memberikan Penilaian di Aplikasi USBK Pinisi

Membuat Penilaian Offline https://www.youtube.com/watch?v=XVFt1d48LHI

Ujian untuk perbaikan nilai dan jenis-jenis ujian yang lain. Untuk menghadapi ujian tertentu (ujian nasional) maka guru juga dapat membuat jenis ujian latihan dari menu Jenis Ujian.

Bentuk penilaian: tugas, ulangan, praktik (offline), atau keterampilan. Pilih praktik (offline). Langkah 1: judul. Klik berikutnya. 2. Pilih kelas. 3. Isi tugas dan lampiran.

Cara Mengunduh Data Siswa per Kelas di Aplikasi USBK Pinisi

Untuk mengunduh data pengguna, yang harus dilakukan pertama adalah mencari kelompok data yang ingin diunduh melalui kolom pencarian. Apakah menurut NIK/NIP, Nama, Email atau Kelas. Misalkan kita ingin mengambil basis data (database) kelas XI MIPA 2, maka kita pilih Kelas. Dari database yang ditampilkan, kita lakukan copy pada “XI MIPA 2” lalu kita paste di kolom pencarian, kemudian tekan Enter. Maka aplikasi akan memilah dan menyajikan database siswa dari kelas XI MIPA 2.

Untuk memperoleh database tersebut dalam format Excel, silakan klik tombol “Unduh Data” untuk mengunduh database tersebut.

Termasuk di antaranya adalah hasil ujian. Tidak hanya hasil ulangan saja, tetapi juga mengkompilasi hasil-hasil ujian sebelumnya, sehingga para guru tinggal mengunduh rapor pendidikan para siswa saja. 

Mudah sekali melaksanakan ujian sekolah berbasis komputer, bukan? Sebab, segala proses ujian dapat kita lakukan dengan demikian mudah, otomatis, dan cepat.

Pinisi Edubox untuk Kegiatan Belajar-Mengajar (KBM)

Aplikasi USBK Pinisi berada di dalam perangkat yang kami sebut sebagai Pinisi Edubox. Selain menyimpan aplikasi USBK, di dalam Pinisi Edubox juga terdapat mini server. Komputer mini ini tidak hanya dapat digunakan untuk ujian saja, tetapi juga dapat digunakan sebagai alat bantu pengajaran di sekolah. Karena memiliki memori penyimpan sendiri, anda selaku guru dapat menyimpan materi pelajaran secara digital di dalam komputer server yang berukuran mini ini.

Untuk keperluan KBM yang melibatkan lebih banyak materi dan siswa, sudah ada komputasi awan (cloud computing) yang juga disediakan oleh tim Pinisi. Hal ini untuk mengatasi kelemahan mini server yang memang memiliki keterbatasan kapasitas.

Membuat Mata Pelajaran (Lesson) untuk Kelas di Aplikasi USBK Pinisi

Dari menu utama di sisi kiri, di mana terdapat beberapa pilihan menu: Beranda, Pengguna, Pelajaran, Ujian dan Tugas, maka pilih dan klik tab Pelajaran untuk “Membuat Pelajaran” (Lesson). Caranya adalah sebagai berikut:

  • Pilih mata pelajaran dari menu drop down yang muncul.
  • Kemudian, pilih kelas untuk pelajaran tersebut.
  • Centang lintas minat apabila pelajan dan kelas tersebut memang memenuhi syarat tersebut.
  • Pada kolom Guru Mata Pelajaran, ketikkan satu atau beberapa huruf pertama dari nama guru, sehingga muncul pilihan drop down yang memuat satu atau beberapa nama guru mata pelajaran. Tentukan nama guru.
  • Klik tombol Buat Pelajaran.

Maka akan muncul halaman mata pelajaran untuk kelas yang baru dengan menu yang terdiri dari:

Menambahkan Siswa ke Dalam Pelajaran

Ada dua cara untuk menambahkan siswa ke dalam mata pelajaran. Pertama adalah menambahkan nama dan NIS siswa secara manual. Kedua melalui daftar siswa yang sudah dibuat sebelumnya dan telah tersedia di dalam sistem.

Mulai dengan meng-klik menu pelajaran. Lalu pilih mata pelajaran yang akan ditambahkan siswanya. Sebagai contoh ada mata pelajaran bahasa indonesia. Mari coba cara manual dahulu. Yaitu menambahkan siswa dari data excel. Bisa kita copy-paste. Untuk format, sudah tersedia. Dari row selanjutnya, kita isikan nomor induk siswa lalu nama siswanya. Apabila semua list sudah masuk, anda bisa salin dengan sorot lalu klik kanan, lalu klik salin/copy kembali ke halaman data siswa, kita tempel (paste). Menekan tombol tambah. Apabila sudah selesai dengan data yang dimasukkan, bisa tekan simpan. Secara otomatis, maka siswa akan

Atau dari daftar siswa. Dari siswa terdaftar.

Kita juga bisa menambah atau memperpanjang daftar siswa. Jadi, siswa yang belum terdaftar, bisa kita masukkan ke dalam daftar siswa.

Menilai Tugas

Simpan Konten Pembelajaran

Penutup/Conclusion

Pinisi Edubox adalah aplikasi ujian sekolah berbasis komputer (USBK) dengan perangkat fisik yang dapat disambungkan ke jaringan komputer. Aplikasi Pinisi dapat digunakan untuk ujian, maupun proses belajar-mengajar.

Dengan demikian, pekerjaan administratif para guru tetap terselesaikan, namun dalam waktu sekejap mata saja. Diharapkan, keadaan ini akan memberikan kesempatan dan waktu yang lebih luang bagi guru untuk dapat meningkatkan kualitas pengajaran yang dapat dia berikan di depan kelas.

Open reseller

Kami mencari mitra reseller di seluruh Indonesia. Agar kita dapat menyelenggarakan ujian sekolah berbasis komputer di seluruh nusantara. Berminat? Silakan masukkan alamat email anda.

Mari Bicara Sastra Kontemporer

Raditya Dika

Novel Kambing Jantan. Sebuah Catatan Harian Pelajar Bodoh. Sesuai tagline-nya, sebenarnya ini hanyalah kehidupan anak sekolah biasa. Yang luar biasa adalah, bagaimana penceritaan oleh penulis sehinggal lucu, konyol, dan kocak.

Awalnya Kambing Jantan adalah sebuah blog yang kemudian dibukukan menjadi novel. Tahun 2009, novelnya diadaptasi menjadi film.

Sama pula dengan Manusia Setengah Salmon. Dari novel kemudian menjadi film berjudul sama yang dirilis pada tahun 2013. Dan tidak berhenti sampai di sana, masih ada:

  • Marmut Merah Jambu
  • Cinta Brontosaurus
  • Koala Kumal

Dari judul-judul tersebut, terlihat kan selling point Raditya Dika? Dia selalu menggunakan jenis-jenis binatang (kambing, marmut, brontosaurus, koala) yang kemudian diasosiakan dengan sifat-sifat manusia (kumal, perasaan cinta, warna merah jambu). Pengibaratan karakter yang diceritakan dalam novel dan filmnya, diasosiakan dengan binatang yang punya sifat tersebut.

Proses marketing dan selling sebuah film agak unik, memang. Ibarat menjual sesuatu yang hanya ada sekali itu saja. Risikonya tinggi. Kalau gagal, bisa rugi banyak. Kalau untung, juga bisa banyak. Ciri khas marketing and sales dari film sebagai sebuah produk:

  • Hanya sekali. Ini kaitannya dengan kelangkaan (scarcity). Makin langka, makin diburu. Tidak langka, kan bisa dicari di lain waktu dan kesempatan. Ibarat nasi, tidak makan hari ini gak apa-apa. Besok masih banyak warung nasi yang buka. Jadilah nasi (secara umum) sebagai komoditi yang tidak bisa diberikan bandrol price yang cukup tinggi.

Berawal dari blog, kemudian ke novel, video (youtube), kemudian ke layar lebar. Seiring dengan transformasi konten tersebut, Raditya Dika turut bertransformasi dari penulis, pemeran, penulis skenario, bahkan hingga menjadi sutradara.

Blog –> Novel –> Video –> Film

Serial Malam Minggu Miko termasuk film mockumentary. Adalah singkatan dari mock (pura-pura) dan documentary (dokumenter), jadi film mockumentary adalah film fiksi yang mirip dengan dokumenter. Menggunakan kamera atau handycam sebagai medianya, jadi seakan-akan penontonlah yang menjadi cameramannya. Karena proses recording-nya demikian, tidak heran Raditya Dika dan rekan-rekan mengawali promosinya di YouTube.

Stand Up Comedy

Sesuai judul, akhirnya memang jadi komedi. Karena kontennya komedi, Raditya Dika turut terjun dalam medium/format yang berbeda. Yaitu story telling secara tunggal (perorangan) yang tujuannya adalah memancing tawa penonton. Berikut adalah beberapa istilah terkait:

  • set up : pengkondisian penonton, sebelum diberi punchline
  • punchline : ‘kalimat pemukul’ yang memancing tawa penonton
  • callback : mengingatkan penonton terhadap set up yang sudah dibuat sebelumnya
  • riffing : mendapatkan perhatian penonton. biasanya terpaksa dibuat karena penonton gak fokus ke si comic.

Bakat dan kompetensi Raditya Dika dalam menulis dan membawakan materi-materi komedi, jadi kunci kesuksesannya di dunia Stand Up Comedy.

Komedi

Tentu tidak semuanya jujur. Meskipun banyak sekali mengangkat kisah-kisah dari keluarga Raditya Dika sendiri. Yang benar nyatanya adalah bahwa semuanya dilakukan demi memancing tawa penikmat komedi.

Kehidupan percintaan yang mengenaskan menjadi materi komedi yang dieksploitasi oleh Raditya Dika.

komedi jadi barang dagangan. Paling lucu, paling mahal harga jualnya.

Tantangan perkomedian memang di orisinalitasnya.

Raditya Dika vs Adhitya Mulya

Tidak terlalu tepat untuk dibandingkan kesastraan di antara keduanya. Sebab, masing-masing ada segmennya. Bagi Raditya Dika, komedi adalah barang dagangannya yang paling utama. Dia fokus di materi/konten ini.

Berbeda dengan Adhitya Mulya, yang karya sastranya berkembang seiring dengan pengalaman hidupnya.

Dimulai dari novel Jomblo, yang kemudian sama-sama difilmkan dengan judul yang sama, sesungguhnya merupakan awal dari topik yang belakangan menjadi laris ditulis-dikomentari-dibicarakan-berkembang sendiri di mana-mana.

Saya sendiri membahas fenomena jomblo ini dalam sudut pandang ekonomi bisnis dalam singlenomics. Selain jomblo, topik-topik satir ini antara lain adalah “mantan”. Kenapa ya “mantan” itu menyakitkan sekali?

Sabtu Bersama Bapak. Yang tidak lama lagi akan difilmkan. Biasanya kalau sudah difilmkan, akan ikut mendongkrak kembali penjualan novelnya. Jadi novel mengalami dua kali periode laris.

Nah, kesastraan dari abang Adhitya Mulya ini memang sesuai perjalanan hidupnya. Pasti dia pernah jomblo (alias single), ‘kan? Novel Jomblo adalah potret hidupnya. Semua pernah jomblo siy, tapi tidak semua jomblo melukiskan ke-jomblo-annya dengan baik dan menghasilkan karya komersil, ya.

Sabtu Bersama Bapak itu mendeskripsikan potretnya selaku Ayah dan Anak. Sebagai yang menjalani kedua peran tersebut, tentu saya juga belajar banyak dari perspektif bang Adhit ini. Pada dasarnya, peran sebagai Ayah justru mengingatkan kembali bahwa sebagian besar di antara kita semua, sesungguhnya masih anak dari ayah kita sendiri. Dan tanggung jawab kita belum selesai pasca kita menikah. Ringan di omongan, tapi berat di pelaksanaan.

eka kurniawan

seperti dendam, rindu harus dibayar tuntas

Dewi ‘Dee’ Lestari

Materinya sangat bervariasi.

science fiction.

Filosofi Kopi (filkop). Saya paling suka yang ini. Ada story-nya, ada film-nya, ada kafe-nya, dan seterusnya. Kafe-nya Filkop benar-benar ada.

Rectoverso. Tentang lima kisah cinta. Diberi nama rectoverso lebih karena dua format yang seiring sejalan antara lagu dan cerita. Masing-masing lirik lagu, ada ceritanya. Rectoverso adalah “hibrida” antara buku (cerita) dan musik (lagu). Setengah buku, setengah musik.

Handoko Hendroyono

Penulis brand gardener. Basic-nya beliau adalah advertising. Beliau ini melayani klien untuk mengkomunikasikan brand mereka kepada target audience. Which is tantangan saat ini adalah medium komunikasi semakin beragam. tidak melulu TVC. Apalagi untuk di medium 24/7 seperti social media (yang juga menantang karena formatnya yang beranekaragam: teks, foto, gambar, video).

Beliau juga menekankan pentingnya story telling. Nah, feeling saya kok kita harus kembali ke sastra, ya. Maka dari itu, story yang kuat (tokoh yang berkarakter, alur yang mengusik pikiran, dsb) banyak terdapat pada novel-novel. Tidak heran, ‘kan novel-novel tersebut menjadi film? Di mana, film sebagai sebuah karya adalah sebuah model bisnis. Juga, film sebagai sebuah medium merupakan model bisnis. Karena kemampuannya dalam menyedot para pengiklan.

http://pride.co.id/2015/09/belajar-strategi-bisnis-dari-sosok-handoko-hendroyono/

gotham and story telling

AADC

Why Join Community

Salah satu komunitas yang saya ikuti adalah komunitas blog SatuMingguSatuCerita Pernah nge-test ikut komunitas lain yang lebih offline. Namanya CSWC (CS Writer’s Club).  Setelah sekali datang, gak pengen datang lagi.

  • Pertama, karena akan pulang malam. At least jam 9 malam.
  • Kedua, karena rekan-rekan di sana pada menulis fiksi di tempat. Memang konsepnya gitu sih. Dikasi tema/topik, dan diberi waktu setengah jam. Otomatis, most of them menulis fiksi.
  • Ketiga, not entertaining enough. Sebab, kebanyakan pada tertunduk seakan berdoa ke layar smartphone membaca teks yang mereka tulis. Sementara, saya sukanya tampil mempresentasikan (alias public speaking) si teks yang saya tulis itu.

Ikut komunitas itu butuh waktu, energi, dan duit. Setidaknya, ada duit yang “tidak apa-apa” kalau dibelanjakan untuk komunitas tersebut. Misalnya, untuk kopi darat. Atau berbelanja sesuatu “buah karya” dari komunitas tersebut. Di 1M1C, kami pernah menulis antologi bersama-sama sih. Proyek kolaborasi gitu. Tentu hak komersil bukunya ada di penerbit ya. Para penulis bisa sebagai distributor. Tapi namanya reseller kan ya, tetap aja kami terima bukunya juga tidak gratis. Jadinya kami juga yang membeli.

Kalau ditanya berapa komunitas yang saya ikuti, rasanya cuma satu ini. Tidak sanggup waktu, energi dan uang untuk ikut banyak komunitas. Ini pun lebih banyak digital. Kalau yang lain, lebih pilih ikut grup WhatsApp aja. Monitor di situ. Jadi silent reader. Tidak hanya WAG, tetapi juga Grup Telegram, kadang-kadang ada. Karena grupnya sudah kelewat banyak, maka tidak semua juga berhasil dipantau. Hehehe. Padahal udah ada messaging app semacam LINE yak. Berhubung generasi saya kayaknya sedikit yang di situ, jadilah gak main yang dari korea itu. Hehehe.

Ikut Komunitas Digital

Ketika komunitasnya berupa digital saja, potensi pengembangannya jadi lebih besar. Tidak semata satu kota. Bahkan bisa sampai satu Indonesia. Nanti kopi darat (kopdar) saja yang khusus per kota.  Community-nya juga bisa lebih akrab via WhatsApp, facebook group, Telegram atau tagar-tagar Twitter/Instagram. Seingat saya, yang pernah kopdar di 1M1C baru Bandung dan Kendari saja.

Dengan ikut komunitas, jadi sadar di atas langit masih ada langit. Hehe. At least jadi tahu bahwa ternyata masih ada (dan masih banyak) yang lebih jago daripada gw. Dan gw harus bisa bertumbuh dan berkembang lagi. Gapapa ya, berniat dulu. Meskipun belum minat belajar atau mencoba, apalagi punya waktu dan kemampuan untuk melakukan. Hehe.

Jejaring

Network kayak begini di komunitas belum tentu worth it lho kalau cuma sebentar. Katakanlah setahun. Kata mentor saya dulu, berhubungan itu minimal 3 tahun kalau target kita ingin merasa akrab dengan orang lain (baca: teman kantor atau klien), misalnya. Yuk bahas sedikit.

Terlalu cepat pindah kantor, bisa berarti kita belum cukup akrab dengan orang-orang di dalamnya, lho. Kapan hari ngobrol sama teman. Insight-nya adalah dua tahun di suatu kantor itu adalah “cuma”. Alias “hanya”. Ekstrimnya, kalau kita minta tolong, akan terasa gak enak. Karena basically, kita belum akrab dan hangat sama yang bersangkutan.

Pindah kantor sampai 3 kali dalam 3 tahun juga enggak baik di mata orang-orang recruiter. Antara berkesan gak bisa membetahkan diri, atau malah mengesankan ini orang enggak bisa apa-apa. Agak subjektif sih, tapi emangnya udah menghasilkan prestasi apa kalau cuma setahun di sebuah company?

Demikian juga dengan klien. Belum tiga tahun, berarti belum akrab. Memang PR sih, bagaimana caranya supaya ada proyek terus selama tiga tahun pertama. Karena harus menambah kenalan terus dari proyek yang pertama. Apakah tim dari pelanggan yang bersangkutan, atau berkenalan dengan yang satu level posisi dari beliau, atau bahkan berkenalan dengan atasannya dia sendiri. Sambil berjalan mengenal nama demi nama, sembari memperkenalkan kompetensi diri/institusi yang kita mewakili.

Saya semakin yakin dengan parameter “tiga tahun” ini. Karena “teman yang sebenarnya teman” adalah yang non-formal seperti ini. Bukannya meremehkan pertemanan dari ruang kuliah (alias yang sejurusan), atau pertemanan di SMP-SMA, tetapi seringkali terasa terlalu kaku. Harus melalui birokrasi kantor lha, hanya di jam kantor, dan seterusnya. Karena dua hal tersebut, seringkali tidak bisa cepat dan gesit. Agile alias gesit, emang jadi kosakata yang makin penting belakangan ini. Kayak para pelaku freelance, kan. Pada high agility semua.

Pertemanan dari aktivitas kampus (di luar ruang kuliah) juga demikian. Aktivisme mahasiswa baru worth it ketika kita lebih dari setahun terjun di kemahasiswaan. Nah itu, angka “tiga tahun” berarti memang aktivis sejati, ‘kan. Sedari masuk kuliah sampai dengan (minimal) menjadi pengurus aktif di suatu himpunan/BEM/unit kegiatan mahasiswa (UKM). Lagi-lagi, kalau sudah berteman akrab yang demikian lha, maka kita bisa produktif dan cepat tatkala berkolaborasi kembali di kemudian hari.

From Sales Perspective

As a salesman, salah satu ukuran yang penting bagi saya adalah seberapa banyak orang baru yang saya kenal. Dari sebuah community, idealnya adalah ketemu dengan community yang lain lagi. Dengan kata lain, kalau saya duga sebuah acara/komunitas tidak mungkin mempertemukan saya dengan kenalan baru, saya pikir-pikir lagi untuk ikut atau bergabung dengan community tersebut. Bukan pilih-pilih berteman, lebih tepatnya udah umurnya untuk mulai lebih pintar mengelola waktu, konsentrasi dan network.

Closing: Kelebihan 1M1C

Balik lagi ke komunitas 1Minggu1Cerita. Komunitas blogger ini punya beberapa keunggulan, meskipun saya belum memaksimalkan keunggulan dan kelebihan tersebut. Di antaranya, adalah:

  • Tuntutan punya (minimal) sebuah cerita untuk diposting, mengubah kita menjadi blogger yang produktif. Meskipun kadang-kadang saya nge-post tulisan saya di di tempat lain, semisal dari modest.id
  • Tim admin rutin mengingatkan kita untuk menulis (lalu nge-post tulisan tsb) dalam pekan tersebut. Bila enam pekan berturut-turut enggak posting, maka bisa di-kick dari grup WA. Gak harus gabung WAG-nya, tetapi pertemanan bisa lebih intim ye kan, kalo join WAG-nya.
  • Ada polling tulisan favorite. Tapi saya gak selalu sempat ikut membaca lalu nge-vote, nih. Kalau masuk nominasi, at least kita jadi paham bahwa ada yang membaca post kita, hehehe. Rasanya happy banget tatkala ada postingan yang menang voting.
  • Tulisan harus disetor. Saya biasanya setor tulisan (lengkapnya adalah nama, nomor member, tanggal menulis/menyetor, serta link tulisan) di websitenya 1M1C. Tapi komunitas ini ada aplikasi mobile-nya sendiri. Jadi bisa posting dari sana juga. Sekarang kan era-nya apa-apa di-mobile-app-kan saja. Meskipun belum tentu si user punya memori yang cukup untuk ng-install-nya. Hehehe.
  • Ada challenge untuk menulis tema tertentu (yang sudah divoting oleh para member) sebanyak sekali dalam sebulan. Biasanya saya jarang ikutan menulis postingan bertema ini. Hahaha.

Sekian aja lha ya, postingan tentang community ini. Semoga bermanfaat.

Hierarki Pengelolaan Keuangan

Diskusi saya dengan teman SMA di weekend lalu berakhir pada pemodelan dalam artikel ini. Dia, sama seperti saya, sudah melewati masa-masa early jobber. Kami sudah lebih paham pengelolaan keuangan dibanding masa-masa awal bekerja dulu. Tentu, apa yang bagaimana pemahaman dan pengelolaan keuangan yang kami  lakukan sekarang sudah lebih advanced daripada saat masih sekolah/kuliah. Ada 5 tingkat hierarki pengelolaan keuangan. Kalau kamu sudah tahu posisi kamu di mana dalam hierarki tersebut, kamu sudah tahu kemana berikutnya harus melangkah.

hierarki pengelolaan keuangan

Belum mandiri, masih nebeng sama orang tua
Makan, tinggal, sekolah masih atas biaya orang tua. Atau hidup dari bantuan keluarga besar yang lain. Atau menerima beasiswa. Punya pendapatan sampingan lebih oke. Untuk kamu yang masih kuliah, oke banget kalau bisa sambil mengajar anak SMA. Atau bisa juga mendaftar sebagai asisten mata kuliah/laboratorium. Dulu waktu saya masih mengajar anak sekolah di Bandung, per pertemuan bisa dihargai Rp 50-60 ribu. Lumayan 😀

Sudah mandiri, lepas dari inang 
Kalau sudah mendapat pekerjaan dengan gaji yang layak, sudah waktunya lepas dari inang. Awal kerja, bolehlah merayakan sedikit mentraktir teman-teman dekat. Soal belanja, pastikan beli manfaat yang tepat. Karena pasti ada pengeluaran untuk tempat tinggal, transportasi, dan konsumsi. At least, di fase ini orang tua (atau inang yang lain) tidak lagi menanggung biaya kehidupan kamu.

Beberapa jenis pekerjaan menuntut penampilan prima di mata orang lain. Pakaian kerja yang update dengan tren fesyen. Mobil yang menaikkan gengsi, dll. Meski bergaji besar, adakalanya pendapatan malah pas-pasan dengan pengeluaran tersebut. Belum termasuk pengeluaran konsumtif seperti kehidupan sosial di restoran/kafe, kartu kredit, kredit peralatan rumah tangga, dan berbagai cicilan lainnya yang baru bisa menyematkan status “mandiri finansial” saja.

Punya tabungan dari hasil bekerja 
Secara umum, orang Indonesia itu sulit menabung. Berbagai gerakan sudah pernah dicanangkan pemerintah. Satu contoh: Ayo ke Bank. Orang Indonesia itu paling mudah tergoda untuk belanja, meski belum tentu dikonsumsi. Mudah juga untuk tergoda sama diskon. Padahal diskon ada sejak awal hingga akhir tahun. Ujung-ujungnya malah sulit menabung.

Tabungan, bagi saya, adalah cadangan dana yang belum pasti alokasinya untuk apa. Bisa untuk backup asuransi (bila diperlukan), tambahan biaya berobat (mekanisme reimbursement), dana darurat untuk bantu keluarga yang sekolah/menikah, dsb. Berapa besarnya? Biasanya bervariasi antara 3-6 kali dari pengeluaran bulanan.

Punya investasi yang memberikan cash-in
Setelah tabungan sudah cukup untuk menutupi kebutuhan ini itu. Sebagian di antaranya boleh dimasukkan ke produk investasi. Minimal deposito. Berikutnya ke instrumen keuangan lain yang memberikan return lebih besar daripada tabungan: reksa dana, saham, dll. Jangan lupa sesuaikan dengan profil investasi. Usahakan tabungan & investasi mencapai 30% dari pengeluaran bulanan.

Bisa juga titip modal ke teman pengusaha yang bisa dipercaya. Dan mau bekerja keras. Tapi tidak ada zero risk, lho. Jadi kenali betul plus-minus berinvestasi di teman pengusaha. Cash-in paling tinggi bisa berasal dari investasi ke bisnis yang dikelola sendiri. Dengan segala control di tangan sendiri, maka risiko bisa ditekan dan omzet bisa dimaksimalkan.

Hidup dari passive income 
Ini adalah mimpi kebanyakan middle class kita. Mimpi yang didorong dari berbagai seminar tentang “financial freedom“. Mungkin mereka lelah dengan pekerjaan yang mereka geluti saat ini. Sebab itu mereka mencari harapan-harapan lain yang bisa mereka kejar. Kalau pendapatan dari berbagai investasi (sawah/kebun, rumah kontrakan, atau kost-kostan), sudah melebihi pengeluaran keluarga, boleh saja resign dari pekerjaan untuk fokus di usaha keluarga.

Sudah tahu, posisi financial management kamu sekarang? Next, kamu bisa tentukan strategi dan langkah-langkah apa saja yang mau dilakukan untuk bisa naik hierarki 🙂

Related post:
Mewujudkan Mimpi Kebebasan Finansial
Tips Berinvestasi
Investasi dan Investor

Pilih Manajemen Keuangan atau Manajemen Pemasaran

Dalam artikel terdahulu, saya menyampaikan alasan-alasan mengapa memilih program studi manajemen. Lalu, setelah sudah di dalam, kamu mau fokus ke konsentrasi yang mana? Pertimbangannya bisa karena (1) apa yang kamu sukai, atau (2) bidang pekerjaan yang ingin kamu tekuni nanti.

Ada beragam pilihan, tergantung bagaimana kampus kamu memetakan konsentrasi-konsentrasi tersebut. Yang paling sering saya temui adalah pengelompokan konsentrasi berdasar: (a) marketing, (b) finance, (c) human resources, dan (d) operation. Bagi saya, human resources dan operation itu agak rumit. Jadi kita bahas yang konsentrasi marketing dan finance aja ya 😀

Kalau marketing, enak dipelajari. Apalagi studi-studi kasusnya itu, lho. Baik yang berhasil (bisa kita tiru dan modifikasi), atau yang gagal (supaya kita bisa hindari). Bidang pekerjaannya tentu saja di direktorat marketing dan sales. Dulu di kampus saya mata kuliah yang sering dibuka adalah brand management, service marketing, dan customer behavior.

Kalau finance, sebenarnya sama rumitnya. Tetapi saya kira ini penting untuk saya pahami (secara pribadi). Mata kuliah yang dibuka biasanya investment project analysis, risk management, dan capital market. Kalau tertarik berkarir di bidang keuangan, bisa berkarya di perbankan, asuransi, atau perusahaan investasi. Bisa juga bekerja di fungsi-fungsi tersebut, terutama treasurer (bendahara).

Lalu, bagaimana dengan saya? Saya menilai untuk marketing bisa saya pelajari sendiri. Sebab sejak bertahun-tahun sebelumnya saya sudah membaca tentang marketing, khususnya buku-buku populer mengenai marketing. Akhirnya saya mengambil 3 mata kuliah pilihan di konsentrasi finance dengan tugas akhir (tetap) di konsentrasi marketing.

Saat ini, saya sendiri sekarang aktif bekerja di sebuah konsultan pemasaran. Mudah-mudahan artikel pendek ini bermanfaat untuk kamu yang bimbang menentukan pilih manajemen keuangan atau manajemen pemasaran.

Related Post:
Alasan Memilih Prodi Manajemen
Biaya Kuliah MBA ITB

Alasan Memilih Manajemen Keuangan

Saya pernah bimbang ketika harus memilih salah satu di antara dua: manajemen keuangan atau manajemen pemasaran. Pada akhirnya saya memilih manajemen pemasaran, tapi sebelumnya saya galau dengan manajemen keuangan. Saya saat itu berpikir bahwa penting sekali mempelajari manajemen keuangan, dan tidak semua orang mampu mengajarkan manajemen keuangan dengan baik.

Ibarat mengendarai mobil atau motor, maka manajemen keuangan adalah kemampuan kamu untuk membaca panel yang berisi speedometer, jumlah bensin yang tersisa, tingkat perputara mesin, dan lain sebagainya. Hanya mampu menjalankan bisnis (memproduksi, lalu mempromosikan, kemudian menjual) saja tidak cukup tanpa pemahaman “apa yang sebenarnya terjadi dengan keuangan perusahaan/bisnis kita”. Ini mirip dengan bisa berkendara tapi tidak tahu kapan bensin akan habis dan harus masuk stasiun pom bensin. Berikut adalah beberapa contohnya:

  • Apakah untung dari bisnis kita benar-benar ada? Atau sekedar uang yang masuk > uang keluar?
  • Apakah likuiditas kita cukup untuk menjalankan perusahaan paling tidak selama 3 bulan ke depan? Jangan-jangan uang kontan kita habis untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran yang sifatnya mendesak (misal: gaji karyawan di bulan ini).
  • Berapa rupiah inventory yang kita miliki? Apa risikonya bila inventory tersebut tidak segera terjual? Dan berapa cepat kita bisa menjualnya?
  • Dst.

Sekarang, saya coba ingat-ingat kembali mengapa saya pernah tertarik dengan manajemen keuangan. Dan kalau kamu memiliki poin-poin yang sama seperti yang saya uraikan di bawah ini, mungkin akan membantu kamu dalam memprioritaskan manajemen keuangan dibandingkan dengan konsentrasi-konsentrasi yang lain di jurusan manajemen:

Tertarik dengan hal-hal berbau investasi dan pasar modal. Saya biasa menggolongkan investasi menjadi 2 kelompok, yaitu investasi konservatif dan investasi di instrumen finansial. Yang pertama, identik dengan emas (salah satunya yang berbentuk perhiasan) dan tanah (atau properti). Masih masuk dalam kelompok pertama, tapi konservatif dan perlu kerja keras, adalah investasi pada sektor riil. Termasuk beralih menjadi full-time entrepreneur. Yang kedua, adalah surat utang (termasuk sukuk), dan saham (dari pasar saham). Kombinasi surat utang dan saham, yang biasa kita kenal dengan sebutan “reksa dana” juga termasuk kategori kedua.

Feel challenging banget kalau merasa belum paham dan ingin bisa “menguasai” hal-hal berbau duit. Kalau minat kamu di keuangan yang seperti ini dan kamu ingin memiliki kemampuan untuk menguasainya, maka kamu cocok di manajemen keuangan. Ketika kamu seringkali tertantang untuk menguasai suatu permasalahan keuangan. ini berarti kamu sudah passion di financial management.

Suka ngutak-ngatik angka, tapi bukan seperti matematika yang terlalu science. Manajemen keuangan tidak sama dengan menurunkan suatu rumus diferensial dan integral pada kalkulus ketika kita mengambil kelas IPA di SMA dulu. Tidak serumit itu. Justru sederhana, tetapi ada (terlalu?) banyak yang sederhana. Intinya adalah kamu suka mengolah practical numbers. Yaitu rumus-rumus yang sederhana. Indikator-indikator sederhana yang bisa sangat mereleksikan kinerja suatu bisnis, dan hal-hal semacam itu.

Contoh indikator sederhana misalnya pada industri ritel adalah inventory turnover. Artinya adalah seberapa cepat inventory tersebut berubah menjadi rupiah. Saya kira bukti bahwa kamu suka ngutak-ngatik practical numbers ini adalah ketika kamu suka membaca neraca (balance sheet), laporan laba-rugi (income statement) dan laporan dari manajemen.

Manajemen risiko. Bisnis itu kental dengan risiko yang terukur. Kalau kita tidak bisa mengukur risikonya, lebih baik jangan terjun di bisnis itu. Dan justru di situlah seninya berbisnis: bagaimana kita mengukur dan melakukan treatment terhadap risiko tersebut dengan lebih baik daripada kompetitor kita melakukannya. Bagaimana cara mengukur risiko? Semua dasar-dasarnya di ajarkan di konsentrasi manajemen keuangan.

Jadi sudah saya paparkan beberapa alasan memilih manajemen keuangan. Tentu saja itu belum semua. Mungkin kamu punya alasan berbeda yang mendorong kamu memilih manajemen keuangan instead of konsentrasi-konsentrasi yang lain. Semoga sedikit uraian tersebut dapat membantu kamu memilih konsentrasi yang tepat untuk kamu saat ini dan karir kamu ke depan.

Related Post:
Pilih Manajemen Keuangan atau Manajemen Pemasaran
Alasan Memilih Prodi Manajemen

Lima Kesalahan Pebisnis Kafe yang Harus Anda Ketahui Sebelum Membuka Kafe Baru

Kafe dengan desain interior yang menarik, mentarget anak muda, menyediakan makanan ringan, hingga beragam jenis kopi (espresso, americano, latte, cappucino, dll) sudah sangat biasa.

Bahkan kompetisinya pun terasa semakin ketat. Tempat tinggal saya di Tubagus Ismail, yang sekitar belasan tahun lalu masih termasuk daerah sepi, semakin ke sini semakin ramai dan komersil. Tidak terkecuali oleh kafe. Tipikal bisnis yang satu ini semakin merangsek ke “pedalaman”. Meski menjauhi kampus, namun tingkat keramaiannya tidak kalah dengan kafe yang bermukim di sekitar kampus.

Menurut asal Bahasa (Prancis)-nya, cafe (akar kata kafe) secara harafiah berarti minuman kopi. Sekarang ini kafe tidak lagi sekedar minuman kopi, melainkan sudah menjadi “wahana kuliner” yang menyediakan beragam kopi serta sekaligus makanan ringan. Tidak pula sekedar menjajakan makanan dan minuman, namun jual experience sekaligus event.

Kafe itu bisnis yang semakin menjamur seiring dengan membludaknya jumlah kelas menengah di Indonesia. Sebab, segmen ini punya kebiasaan “seen and to be seen” alias ingin melihat dan dilihat oleh orang lain. Pasti cool rasanya kalo terlihat punya komunitas, atau kelihatan sedang sibuk meeting membahas proyek bersama partner, dan seterusnya.

Kalau terlihat sendirian, entah masih disangka menunggu teman-teman datang, atau memang jomblo tulen yang hampir lumutan.

Bagaimana membuat bisnis kafe jadi luar biasa? Ada beberapa kesalahan yang kerap kurang diperhitungkan secara strategis oleh para pemilik kafe sehingga bisnis kafe-nya belum berumur panjang tetapi sudah harus ditutup.

Kesalahan pertama. Berharap traffic datang dengan sendirinya.

Baiknya, memang sudah ramai. Cara mengukur keramaian: menghitung berapa banyak sepeda motor dan kendaraan roda empat yang melalui jalan tersebut.

Traffic juga bisa kita perhitungkan secara strategis. Contoh: buka warung bakso bersebelahan dengan usaha cuci mobil. Warung bakso jadi punya captive market (pasar yang sudah jelas akan berbelanja di mana) ‘kan. Atau jual makanan ringan yang tepat untuk segmen usia SMP atau SMA. Dan outletnya dibuka persis di samping bimbingan belajar (bimbel).

Kesalahan kedua. Tidak membangun komunitas.

Bisa dikonsepkan sejak awal, bisa pula dibangun sambil jalan. Misalnya, kafe berbasis suporter klub bola dikesankan oleh sebagian orang adalah kafe yang menutup diri terhadap suporter lain. Tidak begitu juga. Karena dengan membangun kafe berbasis suporter, misalnya seperti Kafe Persib di Jalan Sulanjana Bandung, justru terbangun ketahanan usahanya karena pelanggan sekaligus evangelist-nya tersebut selalu mengunjungi dan berbelanja di sana.

Evangelist itu semacam pelanggan yang lebih dari pelanggan biasa. Alias pelanggan luar biasa. Karena selain berbelanja, dia juga ikut mempromosikan. Baik via word of mouth (WOM) atau social media miliknya.

Kesalahan ketiga. Tidak mengadakan event.

Bentuknya bisa apa saja. Mulai dari nonton bareng sepakbola (terutama liga eropa di akhir pekan), show dari band lokal, stand up comedy, dan lain sebagainya. Kalau nobar sepakbola, tolong buat jadwal yang jelas ya. Kapan mulai boleh datang –soalnya bisa jadi bentrok jadwal dengan pertandingan sebelumnya — sampai dengan kapan pertandingan dimulai (kick-off). Saya pernah abai sama informasi dari suatu kafe, sehingga harus berkeliling dahulu bersama teman, karena saya salah menangkap informasi waktu kick-off tersebut.

Event tidak selalu untuk menarik crowd sehingga omzet naik drastis ya. Namun omzet juga bisa direkayasa melalui kerjasama dengan sponsor yang bersedia untuk menyumbang. Yang diincar oleh para sponsor ini adalah event sebagai sebuah medium untuk berkomunikasi dengan segmen yang sudah sesuai dengan target mereka.

Kesalahan keempat. Ambience kafe yang kurang tepat.

Ambience is the character and feeling of a place. 

Desain kafe tidak hanya untuk mendapatkan penampilan yang ‘tepat’. Tetapi juga merancang pengalaman (experience) dari pengunjung. Betul-betul harus didesain sedemikian rupa sehingga tidak terasa sebagai minum air kopi saja. Melainkan benar-benar ada pengalaman yang diperoleh pelanggan.

Pelanggan yang puas dengan service yang diberikan, in shaa Allah akan kembali berbelanja di kita. Tidak mungkin kita selalu mengharap kedatangan pembeli baru, ‘kan?

Apakah kafe harus selalu indoor? Tidak juga. Yang penting tidak ada masalah dengan kafe yang memiliki area terbuka (outdoor) yang penting ada solusi untuk menghindarkan pengunjung manakala hujan turun.

Kesalahan kelima. Perwujudan efisiensi rantai suplai.

Ayolah, anda tidak hanya berharap kafe adalah satu-satunya bisnis anda, ‘kan? Kafe, sebagai sebuah bisnis hilir, sesungguhnya mempunya potensi lebih. Yaitu sebagai showroom dari produk atau layanan anda yang lain. Misalnya keluarga anda memiliki usaha katering yang sudah turun-temurun diwariskan dari nenek moyang. Sayang dong bila salah satu produk andalan dari katering tersebut tidak ditampilkan dan dipromosikan di kafe anda.

Sebagai sebuah hilir dari bisnis yang lain, ini adalah alternatif ‘curi start’ yang bisa dilakukan. Eksklusifitas dari brand (fesyen/kuliner, dll) milik anda semakin terjaga bila hanya didistribusikan di channel tertentu (baca: kafe milik anda) saja.

Visual merchandising-nya harus oke punya. Display-nya harus atraktif dan mengundang pembeli untuk berbelanja. Kata-kata yang ditampilkan harus mudah dipahami, harga tertera dengan jelas (menjadi jelas pula benefit yang ditawarkan), .

Simpulan. Sebagaimana bisnis-bisnis pada umumnya, masing-masing memiliki karakteristik risiko yang unik. Penanganan terhadap risiko bisnis kafe, sudah kita eksplorasi dengan jelas di atas.

Nah, bila kita tidak mampu mengelola risiko tersebut hingga benar-benar “jebol”, kapan kafe harus ditutup?

Ketika (1) pemilik kafe tidak lagi mendapatkan laba, kecuali kafe tersebut memang sarana berkumpul dengan sahabat-sahabat dekatnya (2) labanya tidak seberapa dibandingkan dengan tenaga, waktu, pikiran, dan uang yang keluar (3) sebelum kafe tersebut mengalami rugi yang lebih besar lagi.

Related Post:

Kapan Sebaiknya Kuliah S2?

(artikel ini saya sharing berdasar cerita kawan-kawan saya ketika mengambil program s2)

Lulus S1, bekerja, kuliah S2 reguler. Bosan dengan pekerjaan, jadi salah satu alasan para early jobber mengambil program s2. Alasan lain adalah kangen kembali ke kampus dan pergi belajar. Dan beberapa alasan lainnya. Yang intinya adalah, saat bekerja malah ingin belajar. Padahal ketika belajar malah ingin bekerja alias cari duit. Yang harus diperhatikan adalah syarat umur ketika lulus S2 dan ingin berkarir kembali. Beberapa perusahaan, terutama untuk program Management Trainee (MT) mensyaratkan maksimal usia adalah 28 tahun. Sudah sedikit sekali yang mensyaratkan 30 tahun.

Lulus S1, langsung S2. Untuk mereka yang belum bosan belajar, boleh mengambil cara ini. Keunggulannya adalah hemat waktu. Istilahnya, serba sekalian. Sekalian jadi Master, sekalian memperdalam bidang ilmu yang dulu ditekuni, sekalian meneruskan kost-kostan. Cara ini  kurang cocok untuk mereka yang langsung dianggap mandiri oleh ‘investor kuliah’ atau mungkin orang tua. Hehehe 😀 Alias kurang cocok untuk mereka yang harus bekerja dulu beberapa waktu menikmati gaji serta harus menabung sendiri untuk biaya S2.

Sambil bekerja, mengambil S2 di akhir pekan. Menurut pengamatan, cara ini melelahkan. Kuliah tapi kok ya engga fokus belajar. Kerja tapi koq engga bisa menikmati liburan di akhir pekan. Mereka yang kuliah di akhir pekan ternyata jarang menyentuh buku di malam-malam weekdays. Alasannya sederhana: CAPEK!! Giliran harus kerja kelompok, baru bisa di hari jumat atau sabtu. Jelas tidak optimal. Baik membaca maupun mengerjakan tugasnya. Dan cenderung minta dosen mempercepat pulang ketika kuliah di weekend. Hehehe 😀

Nikah dulu baru S2, apa S2 dulu baru nikah? Hehehe 😀 Sebenarnya sama-sama engga masalah, selama duitnya ada. Tah, eta tah! Justru di sini ternyata masalahnya. Bingung dengan duit yang belum banyak, mau mendahulukan yang mana 😀 Saran saya siy, kalau sudah ada calon dan sudah ada dana ya dahulukan saja menikah. Toh, menikah adalah ibadah. Ya kan? Kalau pun keburu ada tanggungan anak, tinggal mencari beasiswa saja. In shaa Allah, Maha Pemberi Rezeki akan mencukupkan kebutuhan hamba-hamba-Nya yang senantiasa berdoa memohon rezeki yang melimpah (Aamiin!!). Mau mengundur kuliah padahal satu semester sudah berjalan? Ya tidak apa, tho S2 bisa dilakukan kapan saja kan. Bagaimana dengan kasus sebaliknya? Jelas, dahulukan S2 dong daripada mau  menikah tapi belum ada calon #ehh. Disclaimer: tidak bermaksud menyindir oknum-oknum tertentu.

Pesan paling penting: jangan kuliah, karena mengejar gelar. jangan pula kuliah untuk menaikkan karir. Meski gelar pendidikan adalah syarat naik jabatan. Tapi bagaimanapun, berkuliahlah untuk belajar. Karena belajar adalah cara kita untuk menjadi lebih baik dari waktu ke waktu

Padi Reborn, Piyu, dan Jualan Musik Jaman Now

Tepat pada 10 November 2017 lalu, Band Padi dilahirkan kembali dengan nama Padi Reborn.

maxresdefault

Padi ini band masa kecil saya. Sekitar kelas 6 SD saya sering dengar lagu Sobat di radio. Waktu itu kami masih dengar musik dari kaset. Tapi Padi yang waktu itu belum ada kasetnya. Lalu Album Lain Dunia keluar. Saya suka dengan lagu-lagu selain Sobat juga.

Di album berikutnya, ternyata ada lagu berjudul “Lain Dunia”. Kayaknya judul album lama adalah salah satu lagu di album berikutnya. Padi ini pintar mengelola loyalitas fans-nya. Dan benar adanya di album kedua: Sesuatu yang tertunda. Intinya, hampir semua lagu-lagunya Padi saya suka.

Bagi saya, Padi Reborn tidak mengembalikan Padi yang dulu. Setidaknya belum. Saya memahami maksud mereka untuk menandai kembalinya mereka di industri musik tanah air. Instead of sekedar menggunakan nama awal atau nama asli, Piyu dkk menggunakan nama Padi Reborn.

Padi Reborn tampil pertama kali di sebuah konser yang disiarkan langsung oleh RCTI pada 10 November lalu. Selanjutnya mereka akan menjalankan tur konser mini mulai dari Palembang (11 November), Bandung (18 November), Yogyakarta (25 November), dan Makassar (9 Desember). Ada juga konser Padi Reborn di GTV. Saya lupa persisnya tanggal berapa.

Tidak mungkin Padi Reborn kembali hanya untuk bermusik tanpa memperhatikan aspek-aspek bisnisnya. Dapur harus terus mengepul, bukan?

  • Konser di GTV ada sponsor khususnya. Saya lupa brand apa saja. Yang jelas ada dua brand. Selain logo ditampilkan di panggung, TVC nya juga berulang kali ditayangkan ketika rehat iklan.
  • Tur konser mini, biasanya selain didanai oleh sponsor, juga ada dana masuk dari penjualan tiket. Sebagai band legendaris, tentu tiket konser Padi Reborn bisa dijual mahal.
  • Selanjutnya harus rajin bikin single/album baru. Sembari memikirkan strategi dan taktik bisnisnya lagi.

Kenapa Padi dulu vakum? Bahkan sampai 7 tahun. Seakan tidak akan pernah bangkit lagi. Saya tidak tahu persis jawabannya. Mungkin keduanya, atau satu, atau tidak sama sekali dari dua poin berikut ini ada yang benar.

  • Pastinya selera musik sudah bergeser. Secara konten mungkin musik-musik legendaris seperti Padi, Dewa, dll sudah mengecil pasarnya. Bukan di core fans-nya yang mengecil. Namun menambah prospective clients yang semakin sulit. Karena itu tadi, tren selera musik sudah bergeser.
  • Dari sisi bisnis, pembajakan tetap saja sulit diatasi. Sementara konten musik beralih ke digital. Berimbas pada dari mana datangnya duit, serta ke channel mana konten harus disalurkan. Mungkin Piyu khawatir dengan pembajakan? Jelas. Sebagaimana disampaikannya dalam Piyu: from Inside Out.

Sebagaimana kita tahu, KFC kini adalah salah satu saluran penjualan musik digital. KFC butuh added value bahwa restorannya bukan sekedar fastfood dengan ayam goreng tepung sebagai menu utama. KFC ingin lebih relevan dengan anak muda yang jelas-jelas target pasar mereka.

Dan bagi record label, distribusi CD via KFC lebih baik daripada ke toko CD. Bahkan CD-nya bisa bundling dengan paket makanan. Artinya, KFC sudah beli duluan ke record label-nya. Gerai KFC ada banyak sekali. Jualan CD dapat banyak duit dong. Bagi record label, iya. Belum tentu bagi musisinya.

Musikimia

FYI, Fadly, Rindra, Yoyo, bersama gitaris Stephan Santoso membentuk sebuah band bernama Musikimia. Kita sudah tahu tiga nama pertama ini pentolan Padi. Stephan Santoso ini tadinya orang label. Bekerjanya di belakang layar. Baru bersama Musikimia tampil sebagai pemain. Bisa dibilang Musikimia ini orang-orang experienced semua. Jual single dan albumnya jadi lebih mudah. Bukan beberapa anak muda yang sedang coba-coba. Apalagi gitaris Padi sendiri, Ari yang jadi manajernya. Saya suka dengan lagu Kolam Susu. Aransemennya oke punya.

Fadly sendiri pernah bikin dan menyanyikan dua lagu untuk anak-anak. Baca Bukumu dan Kakakku Sayang. Lagunya bagus, kok. Mata saya sampai berkaca-kaca mendengar lagu yang kedua. Untungnya air mataku tidak tumpah.

Brand Padi

Band Padi ini kuat karena punya karakter. berbeda terutama dalam hal alunan gitar yang begitu dominan, vokal si vokalis Fadly yang tidak ada samanya dengan vokalis manapun, serta drummer Yoyo yang punya karakter kuat dalam menabuh drum.

Satu lagi adalah lirik lagu yang dalam maknanya. Konon, Padi menciptakan liriknya dulu, baru menulis komposisi musik yang tepat untuk lirik-lirik tersebut. Dalam hal penulisan lirik, Piyu memang mendominasi. Terlepas cerita tersebut benar seluruhnya atau tidak, sepenggal konten tersebut memang jadi story yang berkali-kali diceritakan oleh Padi.

Piyu

Album Best Cuts of Piyu, menurut saya pribadi tidak lebih baik daripada lagu-lagu yang sama dan dinyanyikan oleh Padi. Album ini pernah dimainkan di NET TV dalam program Musik Everywhere. CMIIW.

Saya sendiri hanya suka lagu Firasat yang dibawakan bersama dengan Inna Kamarie. Dan satu lagu yang dinyanyikannya sendiri dengan piano: Sakit Hati.

Konten lagu yang dibuat Piyu memang berevolusi vokal dan aransemennya. Namun, menurut saya, tidak bisa menggantikan Padi. Karena memang, kebanyakan sudah dinyanyikan oleh Padi. Penyanyi-penyanyi tersebut tidak bisa menyajikannya berbeda tapi lebih baik daripada Padi. Bagaimana Fadly menyanyikannya, bagaimana Yoyok menabuh drumnya, bagaimana aransemen gitar dan bass dari Ari dan Rindra tidak terlupakan dan tidak tergantikan.

*berbeda dengan Sempurna-nya Gita Gutawa yang banyak orang bilang lebih baik daripada Sempurna-nya Andra and The Backbone

Lagu-lagu yang Piyu ciptakan untuk Padi penuh dengan semangat hidup dan optimisme. Setiap lagu yang bertema cinta dalam album-album Padi memberikan makna hidup baru dalam memahami cinta. Dari Piyu, kita tahu bahwa cinta bukan hanya sekadar kata dan cinta tak hanya diam — dari lirik lagu Tak Hanya Diam.

Lagu-lagu yang ia ciptakan untuk Padi punya spirit berbeda dari lagu-lagu yang ia ciptakan untuk para penyanyi lain. Lagu-lagu yang ia ciptakan sekarang penuh dengan lirik melankolis seolah-olah hidup itu selalu dibayang-bayangi depresi dan sakit hati.

Lagu-lagu Piyu yang ia ciptakan untuk Padi selalu hadir dengan konsep matang. Hal itu wajar bila kita melihat rentang waktu dari album pertama sampai kelima. Padi terkenal begitu lambat dalam mengeluarkan album, tapi dua tahun adalah waktu yang pas untuk merenungkan apa yang akan menjadi tema utama dalam setiap album.

Padi sendiri tidak bubar, tapi Piyu sebagai rohnya sedang asyik dengan jalur yang ia tempuh dalam dunianya sendiri. Ia sibuk berbisnis dan menciptakan lagu-lagu untuk para penyanyi lain. Menurut Piyu, karya seni 20%, aspek bisnisnya 80%.

Apa yang dilakukan Piyu, menurut saya lumrah sekali. Realitanya adalah keluarganya butuh penghidupan. Anak istri butuh makan. Dan anak-anak harus bersekolah.

Mengingat kelahiran Padi, memang Piyu adalah single fighter yang berhasil menjual proyek single dan album baru, baru menemukan personil-personil Padi lainnya untuk menggarap proyek tersebut. Single-nya Sobat dengan album-nya Lain Dunia.

Mengingat kelahiran Padi, memang Piyu adalah single fighter yang berhasil menjual proyek single dan album baru, baru menemukan personil-personil Padi lainnya untuk menggarap proyek tersebut. Single-nya Sobat dengan album-nya Lain Dunia.

Piyu berhasil bertransformasi. Tidak mungkin selamanya menjadi pemain. Harus naik kelas, atau minimal berotasi karir. Entah jadi produser, manajemen artis, atau lainnya. Ari, gitaris Padi sendiri berotasi peran menjadi manajernya Musikimia. Bersama para penyanyi yang berbeda, Piyu seperti sedang kejar setoran dalam berkarya.

Kini kita sudah tahu, Piyu sebagai roh-nya Padi sudah kembali. Sekarang Padi Reborn sudah reborn, lantas mau hidup berapa lama lagi?

Referensi:

  • https://www.qureta.com/post/fadly-piyu-dan-padi
  • http://www.rollingstone.co.id/article/read/2017/11/10/140514434/1210010181/opini-jujur-piyu-padi-tentang-ahmad-dhani-stephan-santoso-andra-ramadhan-eross-candra

4 Masalah Pemasaran Usaha Kecil

Belum lama ini saya membantu beberapa UKM dalam menyusun rencana aktivitas branding mereka. Para peserta tersebut beruntung mengikuti Kelas Keterampilan milik Komunitas Memberi. Sekarang sudah ada 2 angkatan “Memberi Go Global”.

Teaser: 
Kamu bisa mendaftar ke website Komunitas Memberi untuk ikutan Kelas Keterampilan Batch ke-3. Selain Kelas Keterampilan, di Komunitas Memberi juga ada Kelas Inspirasi dan Kelas Pengetahuan.

Dari sisi pemasaran, saya memandang bahwa teman-teman UKM tersebut memang belum memahami how to build the brand. Berikut adalah beberapa permasalahan UKM kita (ini baru pandangan sederhana saya saja lho ya), khususnya terkait pemasaran:

Related Post:
On Becoming Marketing Company
Marketing: Branding and Selling

  1. Belum paham beda pemasaran (marketing) dan penjualan (sales

Pemasaran adalah upaya untuk menciptakan demand (permintaan konsumen) akan brand kita. Sedangkan penjualan adalah upaya memetik omzet atas demand tersebut. Dan seringkali UKM hanya mengurusi penjualan saja.

Ketika penjualan tiba-tiba merosot padahal ekonomi sedang tumbuh, kemungkinan terbesar adalah demand belum terbentuk lagi. Kemungkinan terbesar semata-mata karena kita belum melakukan upaya-upaya branding.

Padahal kompetitor sedang berusaha merebut demand konsumen agar beralih pada mereka. Siapa itu yang kita sebut sebagai kompetitor? Mereka adalah para value-provider, alias pemberi produk/layanan juga yang dapat memenuhi kebutuhan (needs) atau memuaskan keinginan (wants) dari para pelanggan.

Sebenarnya tidak ada peluang yang hilang, yang ada ialah peluang terambil oleh kompetitor. Baik kompetitor yang baru masuk ke pasar, maupun kompetitor lama yang menerapkan jurus-jurus baru. Tentu mereka tidak minta izin kepada anda ketika mengeluarkan jurus baru tersebut.

Untuk itulah UKM harus selalu membuat konsumen aware akan brand UKM itu sendiri. Salah satunya melalui pemanfaatan media-media komunikasi pemasaran. Cara lain adalah mengembangkan produk/layanan yang memberikan experience pada pelanggan.

Dengan kata lain, kompetitor itu produk/layanannya bisa jadi sangat berbeda dengan produk/layanan kita. Kita bisa ambil contoh bahwa Whatsapp/Telegram/Line adalah kompetitor bagi SMS provider.

sales and marketing
sales dengan marketing itu beda, lho

2.   Sering mengandalkan harga murah/terjangkau 

Persaingan harga adalah persaingan terakhir. Kalau sudah bersaing harga berarti si UKM gagal paham apa saja yang ditawarkan. Sekaligus gagal memberikan manfaat yang berbeda (dibanding kompetitor) untuk konsumen.

Yang sering ada dalam pikiran UKM adalah bagaimana cepat laku, dan tetap laku. Dan seakan satu-satunya pilihan adalah memberikan harga jual yang serendah-rendahnya. Kalau sudah demikian, yang menjadi PR berikut bagi teman-teman UKM adalah menekan cost menjadi serendah-rendahnya. Akibatnya, quality produk/layanan menjadi korban.

Mengenai hal ini, saya selalu mengingatkan teman-teman agar tidak pasrah dan mengkomunikasikan ‘harga terjangkau’ atau’paling murah’ kepada konsumen. Sebab harga murah/terjangkau bisa berimpak buruk.

Image ‘murahan‘ akan terasosiasi dengan brand yang dipegang oleh UKM dan diberikan harga terendah. Padahal tidak ada konsumen yang ingin diberi kualitas terendah — kecuali memang minim share of wallet. Alias konsumen yang semata mengutamakan 4P (price, price, price, and price).

Justru berikan harga setinggi-tingginya dan sesuai dengan fitur yang mampu kita berikan. Supaya ketika kita terpaksa mengalami kenaikan HPP (Harga Pokok Penjualan), tidak ada quality yang kita korbankan. Dan tetap ada marjin yang tersisa.

3.   Belum memberi service 

Teman-teman UKM juga seringkali merasa hanya menjual barang saja. Jadi tidak memberi service tambahan kepada pelanggan. Padahal seringkali adalah service yang membuat pelanggan tetap bertahan ketika produk yang ditawarkan nyaris menjadi komoditi — yaitu semua pemain di pasar menjual produk yang sama.

Saat ini hampir tidak ada pebisnis yang hanya menjual barang saja. Kalaupun di luar sana memang ada, mungkin dia kurang piknik. Atau dia baru mencoba. Jadi lengkapilah produk/layanan anda dengan service yang jelas serta dikomunikasikan dengan baik.

Atas service yang diberikan tersebut, berikanlah price yang tepat. Bila perlu, hitung dulu cost atas service tersebut. Setelah itu, standard-kan service tersebut lewat dokumen SLA (service level agreement). SLA sifatnya minimum. Pastikan semua anggota tim tahu dan bisa men-deliver service tersebut.

4.   Belum membangun positioning and differentiation

Beberapa teman-teman UKM ada yang sudah sadar bahwa di luar sana ada kompetitor yang menawarkan manfaat-manfaat produk/jasa yang relatif sama dengan yang mereka punya. Di antara mereka yang sadar, sebagian besar pasrah dengan keadaan tersebut. Lalu terjebak dalam perang harga (price war).

Yang harus dilakukan adalah mempertajam differentiation dari manfaat-manfaat yang ditawarkan, supaya berbeda dengan kompetitor. Tujuan besarnya adalah supaya memiliki positioning di pikiran dan hati masing-masing konsumen target.

Kalau sudah different dan punya positioning di pikiran/hati pembeli, maka mereka sudah punya opsi untuk kembali kepada brand tersebut. Sekaligus menjadi brand endorser yang mengkomunikasikan brand tersebut kepada keluarga atau kolega mereka.

Kesimpulan 

Sementara baru demikian yang bisa saya simpulkan mengenai teman-teman UKM kita. Apakah kamu sebagai pembaca blog ini sependapat? Atau ada komentar lain? Boleh share pendapat kamu di laman komentar di bawah ini.