Cara Menulis Proposal Proyek

Bikin proposal proyek itu gampang-gampang susah. Ada dua faktor yang harus diantisipasi: customisation factor dan customer intimacy factor yang perlu kita ukur dan nilai sebelum memutuskan mau mengejar proyek tersebut atau tidak.

Yang tidak saya bahas dalam artikel ini adalah proposal untuk mendatangkan investasi. Artikel ini juga tidak membahas rencana bisnis (business plan).

Alhamdulillah, selama 7 (tujuh) tahun berkarir, selalu kebagian yang namanya membuat proposal proyek. Saya coba tuangkan dalam post ini, bukan berarti saya dan tim selalu sukses memenangkan proyek. Setidaknya, saya bisa berbagi di mana saja “lubang-lubang” yang harus diwaspadai. Meskipun, setelah semua ranjau-ranjau darat berhasil dihindari dan kita sampai di tujuan (baca: semua usaha sudah dilakukan), mungkin saja proyek tersebut bukan rejeki kita. Hehe.

Namanya takdir kan gak bisa dilawan, ya. Kita fokus saja dengan apa yang berada dalam kendali kita.

Ok, kita mulai. Premis awalnya adalah proposal yang mendatangkan bisnis itu gampang-gampang susah.

Gampang karena, ada saja contoh proposal yang bisa ditiru. Dan semakin kita bergelut di suatu bidang produk atau jasa, maka wujudnya proposal akan semakin begitu-gitu saja. Misalnya, proyek kontraktor bangunan, struktur proposalnya cenderung kaku. Atau proyek sistem informasi. Isinya kurang lebih akan sama dari waktu ke waktu.

Namun demikian, proposal yang menjual tidak mudah juga. Namanya proyek ya, cenderung customized ‘kan. Alias, proyek yang satu tidak benar-benar sama dengan proyek-proyek sebelumnya. Ada saja spesifikasi produk yang tidak sama, menyebabkan harga yang ditawarkan menjadi berbeda. Atau produk yang persis sama, namun karena calon klien yang meminta ternyata berbeda industri dengan yang sebelumnya, maka produk dan harganya menjadi tidak sama lagi.

Singkat cerita, di awal penyusunan proposal proyek akan terasa gampang. Mendekati deadline penyerahan proposal, semakin terasa kesulitan dalam detil-detil yang perlu kita konfirmasikan kembali ke calon klien, atau harus kita pikirkan masak-masak. Baik spesifikasi maupun harga. Belum termasuk skenario-skenario yang perlu kita perjelas dan deskripsikan lebih lanjut. Sehingga transparan bagi kedua pihak.

Customisation

Kustomisasi ini terbagi dalam tiga hal. Product/Service Management, Delivery Management dan Cash Management. Yang pertama meliputi produk/layanan itu sendiri. Terutama adalah kesesuaian/ketepatan dengan kebutuhan (requirement) dari klien. Ini teknis banget lha ya, sesuai bidang bisnis masing-masing. Tentu anda lebih memahami daripada saya.

Yang kedua menyangkut ekspektasi dan keterpenuhan dari apa yang kita janjikan. Yaitu, how to deliver the product/service and related documentation. Kerapihan dan keteraturan administrasi (termasuk dokumentasi) yang menjadi kunci di sini. Kapan presentasi, apa yang dipresentasikan, dokumen teknis apa yang harus dilengkapi, bagaimana dengan laporan kemajuan (progress report), meeting apa yang harus ada, dan seterusnya.

Ketiga, soal keuangan. Ini ada kaitannya dengan pertama dan kedua. Mana keuangan yang kita harus mendanainya terlebih dahulu, apa yang bisa dilakukan dengan uang muka dari klien, bagaimana cara menekan biaya material/teknologi/proses tanpa mengurangi kualitas yang sudah ditetapkan di requirement, dan lain sebagainya. Mengapa demikian? Simply karena project-based business (terutama yang di-tender-kan) itu omzetnya sudah ketahuan di depan (dan tidak ada invoice tambahan). Kalau proyek non tender, kita sendiri harus pintar pasang harga karena (bisa jadi) cost-nya tidak fleksibel-fleksibel banget.

Seni main proyek adalah merancang biaya produksi serendah-rendahnya sejak awal.

Tidak mahir main proyek bisa menyebabkan rugi, nombok, bahkan bangkrut.

Jam terbang tentu mempengaruhi kemampuan tersebut, ya. Penguasaan proses/teknologi/material ikut menentukan “how low can you go with the cost“.

Customer Intimacy

Kesuksesan proyek kita akan ditentukan oleh hubungan kita dengan klien/pelanggan. Kenali dulu pelanggan kita ini: hard/easy customer? Seberapa dalam “kantong”-nya? Kalau kita sukses di proyek ini, seberapa mungkin kita dapat proyek lain dari mereka (langsung maupun tidak langsung)? Kerjasama tim kita dengan tim mereka akan “semanis” apa?

Meskipun kita sedang membahas bisnis berbasis proyek, namun tetap saja keberhasilannya tergantung dari manusianya juga. Karena manusia yang membelinya, dan manusia juga yang akan menggunakannya. Jadi hubungan antar manusia ini harus bisa kita berikan observasi/penilaian sejak awal.

Conclusion

All in all, kesimpulan core of the core-nya adalah tetapkan di “medan juang” mana kita ingin bertarung. How worth it or profit a project seharusnya sudah bisa diprediksi dan ketahuan bahkan sejak proposalnya ditulis.

Setengah bercanda: cara meningkatkan persentase kemenangan proposal yang diserahkan kepada klien adalah dengan mengurangi pengumpulan proposal itu sendiri. Dark jokes for me, but it is really true.

Bagaimana caranya? Sudah dibahas di atas: Customization and Customer Intimacy.

Majalah, Riwayatmu Kini

Sembari mengenang masa silam perihal majalah-majalah yang pernah menyertai jalan hidup saya. Dan bagaimana majalah semakin menghilang dari hidup saya.

Waktu kecil di-langgan-kan majalah Bobo sama ortu. Di saat yang sama, juga langganan koran Suara Karya. Korannya sampai di rumah sore, tapi koran pagi. Jadi agak basi juga beritanya, hehe. Masa-masa non-digital dulu. Namanya anak kecil ketemu koran, ‘kan ya. Ya saling lihat doang. Kagak saling sapa sama sekali. Si anak kecil lebih berminat sama Bobo yang berkaos merah berinisial ‘b’, Bona, Rongrong dan Nirmala. Ada beberapa teaser atau spoiler juga untuk serial yang akan tayang di TV. Alhamdulillah, serial Ksatria Baja Hitam RX tersebut hanya tayang di RCTI. Daannnn, RCTI nya juga belum masuk di wilayah kami. Hahahahaha…. (ketawa miris).

Di rumah juga ada majalah hidayatullah. Entah dibeli, atau dapat gratis karena member. Majalah dari pesantren ternama dengan nama yang sama di Balikpapan. Ternama-nya pun saya baru tahu di kemudian hari. Bahwa pusatnya, pesantren terbesarnya itu ya di Balikpapan. Pas tinggal di Surabaya, baru tahu ada minimarket lokal dengan merek “Sakinah” yang ternyata termasuk grupnya Hidayatullah juga. Sakinah ini sebagian besar size-nya minimarket. Tapi ada juga yang berformat supermarket di dekat ITS (Institut Teknologi Sepuluh November, bukan Institut Teknologi Surabaya, ya).

Selama “penjara” SMA, konten yang diekspos ke kami sangat dibatasi. TV hanya ada di ruang baca kelas. Satu TV untuk seluruh angkatan. Dan hanya boleh ditonton setelah jam belajar malam. Wicis wicis, itu sudah jam 9 malam. Demikian pula dengan kording (koran dinding). Tiap hari diganti, tapi satu koran untuk satu angkatan. Hehehe. Alhamdulillah jadi fokus belajar (iya, gitu?).

Jadinya, urusan majalah-majalah ini pinjam-baca ke teman. Ada majalah M2 (Movie Monthly), Cinemagz, tapi paling sering ya Majalah Hai. Maklum kami-kami dulu kan remaja tanggung yang lagi cari panduan tampil Masteng (mas-mas sok ganteng) di depan Mbatik (mbak-mbak sok cantik). Dua majalah pertama yang disebut, ya cuxtaw ajalah, ya. ‘Kan nonton bioskopnya juga entah kapan (palingan pas libur semester). Harap maklum, di kota tersebut belum ada mall. Urusan novel, yang paling diingat adalah Eiffel, I’m in Love dulu yang kami sempat baca bergiliran. Sampai ada yang fotokopi segala (padahal ‘kan gak boleh, ya?).

Pas pindah sekolah ke Bandung, interest-nya mulai bergeser. Awal-awal sukanya baca Majalah MIX. Yang satu grup sama Majalah SWA (dulu namanya SWASEMBADA). MIX ini fokusnya di komunikasi pemasaran. Pemasaran, tapi terbatas di komunikasinya saja. Bukan meliputi urusan distribusi dan channel penjualan gitu. Kalau lagi bosan sama MIX, pindah ke lain hati eh majalah bentar deh: SWA. Si ortu-nya MIX ini bahasannya lebih beragam. Tidak hanya pemasaran. Tetapi juga finance, supply chain, dan lain sebagainya.

Namun, saya kemudian menyadari bahwa bagaimanapun juga, MIX dan SWA adalah majalah. Selalu mengkaver soal berita yang kemudian dikemas dalam wujud cerita. Kalau cari ilmu, bukan di majalah tempatnya. Bukan tidak bisa sama sekali, tetapi harus baca puluhan edisi dulu baru (kira-kira) understanding (pemahaman) dan framework-nya akan terbentuk. Sejak itu, saya mulai stop membaca majalah dan mulai membaca buku.

Yang saya ingat, buku-buku pertama yang saya baca adalah: Toyota Way, Change-nya RK (Rhenald Kasali, bukan Ridwan Kamil). Shorten long story, ternyata buku adalah pergulatan ilmu dalam horizon yang lebih panjang daripada publikasi, majalah, apalagi artikel. Kalau sebuah fenomena dalam rentang sebulan bisa di-frame dalam sebuah artikel, maka buku adalah versi 5-10 tahunnya. Sehingga dalam satu dekade berikutnya, bisa jadi sebuah buku malah usang karena teori-teorinya  tergantikan oleh teori/hipotesis baru (yang juga diturunkan dari fenomena-fenomena yang lebih baru).

Artikel-artikel  di majalah Harvard Business Review (HBR) oke punya. Relatif lebih long-lasting karena analisis yang mendalam membuat artikel tersebut punya positioning (posisi) yang lebih stabil terhadap satu-sama-lain. Buktinya, masih sering disitasi (eh, benar ini bukan Bahasa Indonesianya, ya?) dan jadi rujukan di sekolah-sekolah bisnis di dunia.

Terus, masih baca majalah, enggak?

Sudah tidak lagi. Perubahan zaman, terutama internet dan digitalisasi, menggilas industri media yang menerbitkan majalah. Sudah bertahun-tahun yang lalu, iklan di majalah tidak lagi jadi sumber pendapatan. Media kini lebih mengandalkan dari pelaksanaan training (jatuhnya memang mirip event organizer, sih), event lain, atau sumber lain seperti pengelolaan media internal suatu perusahaan.

Aktivitas membaca majalah yang saya lakukan dahulu sewaktu kecil sampai kuliah kini bergeser menjadi membaca artikel-artikel di website kenamaan. Bukan website media/berita, tetapi versi blog dari suatu website. Pola belanjanya juga bukan lagi belanja per eksmplar majalah/koran. Melainkan jadi berlangganan per waktu tertentu. Yang biasa ditawarkan adalah bulanan, tetapi ada diskon tambahan kalau langsung satu tahun.

Review Buku Filosofi Teras

Buku ini bagus banget untuk dibaca. Sudah cetak ulang 5-6 kali hanya dalam beberapa bulan sejak terbit perdana. Karena buku ini mengulas prinsip-prinsip sederhana perihal Filosofi Teras alias filosofi stoic.

Ada dua alasan saya tertarik sama buku ini. Pertama adalah Henry Manampiring-nya sendiri. Beliau suka nge-twit di @newsplatter. Tapi pertama saya tahu beliau dari blognya “The Laughing Phoenix“. Entah ya kenapa blognya dikasi nama demikian. As we know, Phoenix itu kan burung yang bangkit hidup kembali dari api kematian. Paradox karena si Phoenix ini tertawa (laughing). Yang membuat saya mampir pertama kali ke blog tersebut adalah survey dan hasil surveynya yang insightful (penuh wawasan), lucu, namun ya miris juga. Sebab, surveynya seputar LDR (Long-Distance Relationship), ke-jomblo-an, dan hal-hal sejenisnya.

Oiya, Om Piring ini lulus kuliahnya dari Akuntansi Unpad. Tapi sekitar dua puluh tahun karirnya dihabiskan di industri periklanan. Peran dia, as strategic planner. Which is, memahami target audience dari suatu brand (ya secara demografi, psikografi, dan perilaku) sampai dengan objective dari kampanye si brand itu sendiri. Nah, keluar-an dari pekerjaan dan peran dia adalah rencana penggunaan budget si brand terhadap media-media yang sudah dipetakan sebelumnya. Tentu tidak hanya plan-nya doang, donk. Tetapi juga laporan-nya, analisisnya, insight-nya, dan seterusnya.

Yang kedua, adalah dari rasa prihatin saya –sebagaimana sudah saya tuangkan di artikel sebelumnya di sini— mengenai tingginya angka bunuh diri generasi muda kita saat ini. Eling, yang kebetulan saya gak sengaja ketemu dia pas bedah buku Filosofi Teras ini Gramedia Bandung –yang jalan Merdeka, bukan yang baru di Jalan Supratman–berpendapat bahwa, generasi kami dulu ya tough aja sama ujian-ujian hidup semacam putus cinta dan skripsi yang tak kunjung usai.

Ok, masuk ke review buku ya.

Om Piring ini banyak mengutip pendapat filsuf-filsuf stoic kenamaan yang quote-nya sudah sedjak dua ribu-an tahun lalu, kemudian memberikan interpretasi kekinian terhadap pendapat-pendapat filsuf tersebut. Which is, namanya umat manusia, ya. Biar kata era internet nya juga sudah 4G, industrialisasi juga sampai 4.0, social media yang sudah sedemikian rupa ini, ternyata masalah-masalah hidup dan takdir manusia ya masih ada juga.

Interpretasi perdana yang saya kutip di sini perihal bahwasanya tidak semua hal dalam hidup bisa kita atur. Iya sih, ada yang bisa kita atur, tetapi banyak juga yang tidak. Termasuk dengan fakta-fakta seperti mantan beserta dengan kenangan masa lalu kita bersamanya. Yang bisa kita atur itu hal-hal semacam masa depan yang masih kita bisa rencanakan, perilaku dan persepsi pribadi yang masih bisa kita kendalikan, dan hal-hal semacamnya.

Nilai kuliah dan IP, di semester-semester berikutnya masih bisa kita ikhtiarkan. Kita masih bisa memperbaiki dan merencanakan ulang perkuliahan kita di semester depan. Tapi ikhtiar ada batasnya juga, yaitu takdir. Hal-hal semacam dosen killer, kebagian asisten praktikum yang tidak mengenal kompromi, termasuk hal-hal yang tidak bisa kita atur seenak djidat. Menurut para filsuf stoic, hal-hal terlingkupi takdir ini tidak usah terlalu dipikirkan. Toh kita juga tidak bisa berbuat apa-apa terhadapnya.

Misalnya, hal-hal semacam lahir tahun berapa –apakah masuk generasi baby boomers, X, Y, Milennial, atau Z–, lahir dari orang tua seperti apa –berbakat secara akademik atau punya warisan aset-aset perusahaan atau keturunan ningrat, dst– adalah termasuk kepada hal-hal yang tidak bisa kita atur. Oleh sebab itu, jangan sampai yang demikian ini malah ikut menentukan perasaan-perasaan kita sendiri. Yang wujudnya bisa berupa: tidak bahagia, sikap menyalahkan orang lain, dst.

Perihal hal-hal yang bisa kita kendalikan ini, memang menancap banget di saya. Karena memang, baru beberapa minggu lalu mendiskusikan hal ini dengan istri. Dan kesimpulan diskusi kami adalah –persis sama dengan buku Filosofi Teras ini– bahwasanya jangan sampai hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan justru mengontrol ketat pikiran dan persepsi kita terhadap sesuatu. Mari fokus saja pada apa yang bisa kita kendalikan.

Somehow, pesan-pesan dari para filsuf stoic –yang dirangkum dengan sangat baik oleh Om Piring dalam buku ini–sangat beririsan dengan pesan-pesan dari kepercayaan yang saya anut.

  • Misalnya, bahwa manusia itu kendalinya pada ikhtiar, sisanya diserahkan kepada alam (atau kepada Sang Pencipta–kalau kita meyakini teori penciptaan).
  • Contoh lain, bahwasanya masa lalu adalah sesuatu yang sangat jauh. Begitu jauh hingga dia tidak pernah kembali (silakan koreksi ya, kalau tidak salah ini adalah hadist).
  • Hidup ini bukannya tidak pernah berakhir. Masih ada kehidupan setelah kematian. Tidak perlu terlalu ditakuti atau dikhawatirkan. Justru karena hidup ini ada batasnya, maka kita wajib menjalani peran kita selaku manusia, yaitu berupaya maksimal memaksimalkan hidup yang terbatas ini.
  • Harta kekayaan orang lain. Tidak perlu dibanding-bandingkan dengan milik pribadi. Cuxtaw (cukup tahu saja) ya. Saya berpandangan demikian –dan diafirmasi oleh buku ini– karena toh kita juga gak lihat balance sheet-nya; kita gak tahu sebanyak apa laba dia tahun lalu, apakah mobilnya sudah selesai dicicil atau belum, dst. Apalagi, di ujung hidup kita dan dia, ternyata kita akan sama-sama menggunakan bilik kecil berukuran 2x2x1 meter.

Filosofi Teras juga membahas terkait parenting, lho. Parenting ini memang isu yang semakin seksi, ya. Semakin dibahas dimana-mana. Para orang tua juga semakin peduli, mencari tahu dan belajar mengenai parenting. Di sisi lain, para penggiat-nya –dan termasuk public speaker-nya– juga semakin banyak. Tidak heran, Om Piring juga mengkaitkan dengan topik parenting tersebut. Daaann, prinsipnya relatif sama bila dihubungkan ke kita selaku orang tua: do the best, let god do the rest. Serta, jangan ambil pusing, terhadap hal-hal yang memang di luar kendali kita selaku orang tua.

Overall, saya kira memang dua itu inti dari Filosofi Teras, yang sudah beberapa tahun terakhir saya pribadi coba terapkan.

Ulas sedikit soal bedah buku yang lalu, ya. Kita sebagai generasi Y atau Milenial yang beda tipis-tipis sama generasi yang sedikit di bawah kita –mungkin masih termasuk milenial juga– perlu untuk memahami dan berempati terhadap kesusahan-kesusahan yang mereka alami. Buktinya, dalam sesi Q&A, lebih banyak curhatan ketimbang diskusi ilmiah mengenai buku Filosofi Teras-nya. Curhatan semisal pekerjaan yang berbeda dengan jurusan sewaktu kuliah. Baru dua bulan kerja sudah ingin resign –padahal probation tiga bulan; tinggal gak usah lanjut setelah probation, kan? Dan banyak contoh lainnya yang saya yakin jumlahnya tidak sedikit.

Menyoal Bunuh Diri di Kalangan Muda

Dari risetnya Benny Prawira Siauw, 34,5% mahasiswa di Jakarta yang berusia 18-24 tahun, ingin bunuh diri. Jumlah respondennya 284 orang. Disebutkan di artikel tirto.id di sini: skripsi, depresi, dan bunuh diri: everybody hurts 

Saya sudah beberapa bulan terakhir melihat fenomena ini. Kapan hari, teman desainer di kantor kami di Bandung, sempat ikut konseling psikolog gitu. Hanya ada lima orang. Tapi tiga di antaranya adalah mahasiswa.

Baru beberapa hari lalu, ada lagi mahasiswa Unpad suicide. Ternyata dalam 81 hari terakhir, ada tiga kejadian yang sama. Ini link beritanya di detik.

Menurut Benny, diwawancara oleh tirto, tren depresi di kalangan muda tidak hanya terjadi di Indonesia. Tapi memang telah terjadi di banyak negara. Contohnya Inggris, Amerika Serikat, Jepang dan Australia.

Setidaknya ada 95 mahasiswa di kampus Inggris yang memilih bunuh diri sepanjang 2016-2017. Di Jepang, ada 250 anak dan remaja yang tewas sepanjang rentang tahun yang sama.

Di Indonesia, sejak Mei 2016 sampai Desember 2018 saja, riset Tirto dari beragam pemberitaan online mencatat ada 20 kasus bunuh diri mahasiswa. Sebagian besar diduga karena tugas dan skripsi.

Dari infografisnya tirto, ada lima hal yang berkaitan dengan pemikiran suicidal. Salah satunya adalah masalah akademis.

Saya sudah lama enggak jadi mahasiswa. Jadi gak bisa merasakan langsung apa yang mereka alami. Tentu saya turut berempati.

Saya dulu juga bukan contoh mahasiswa yang baik. Diawali dengan ketidaksukaan dan ketidakcocokan dengan jurusan tersebut. Akibatnya, saya tidak berkembang di sana. Tapi saya kira, lebih mencari pelarian dengan organisasi mahasiswa saja. Yang kemudian menjadi penting, hanyalah asal lulus saja mata kuliahnya. Yang penting jadi sarjana.

Terus terang, saya gak mengejar nilai. IPK itu sesuatu yang “bisa diusahakan, tapi kadang juga gak bisa diapa-apakan lagi”. Belajar keras, bikin tim belajar, latihan soal akan memperbaiki nilai kita. Tapi ada titik di mana semua upaya itu mentok untuk mengejar nilai. Alias IPK mentok gak bisa dikatrol lagi. Kalau sudah mentok begitu, diambil pusing malah bikin jiwa kita tertekan. Kita akan stres sendiri. Karena pasti akan melakukan komparasi dengan teman-teman. Terutama mereka yang nilainya lebih bagus.

Dari pengalaman saya, kita memang harus menjaga “kewarasan” jiwa, sih. Salah satu yang selalu berhasil, untuk saya pribadi adalah dengan shalat lima waktu. Kurang satu aja, rasanya uring-uringan. Bukan tipe merasa bersalah atau berdosa, ya. Dulu sih kalau ada sholat yang terlupa, memang merasa bersalah/berdosa.

Jiwa yang uring-uringan ini indikasi kecil bahwa jiwa saya sedang tidak sehat. Solusi yang tokcer buat saya (dan mungkin untuk teman-teman pembaca) adalah kembali ke agama dan keyakinan dulu.

Dipicu Gadget dan Social Media

Gadget dan social media ternyata jadi pemicu bagi remaja juga. Universitas Gajah Mada (UGM) ternyata pernah membahas hal ini juga di sini. Satu poin yang dimunculkan adalah kemampuan menyeleksi dan menyaring (filtering) oleh remaja ternyata berbeda-beda. Gagal filtering yang negatif, jadi sebab eksposur negatif pada remaja kita.

Tentang hal ini, saya dan istri sempat berdiskusi panjang tentang kapan anak-anak sudah pantas memiliki akun socmed sendiri. Saya bikin akun facebook di usia 21 tahun. Sejak itu saya aktif main fesbuk. Istri di usia 18 tahun. Saya curious soal ini karena melihat fenomena sedari kecil sudah punya akun socmed. Bahkan beberapa ortu sudah membuat akun Instagram (IG) untuk anaknya. No problem sih, selama masih diamankan oleh ortunya. Tapi poin saya adalah, sooner or later anak-anak akan memegang socmed. Tapi seberapa cepat mereka diperbolehkan membuat akun tersebut? Pada usia berapa boleh memiliki akun sendiri?

Sebab, di IG banyak sekali visualisasi tentang gambaran ideal. Tubuh ideal, wajah ideal, pakaian bagus, tujuan wisata luar negeri, dlsb. Which is, gagal filtering bisa menyebabkan kita (terutama para remaja) gagal memprioritaskan things in life. Worst case nya di situ. Kalau tanda -tanda lain yang mengindikasikan depresi, ada semisal turunnya rasa percaya diri dan adanya kesulitan untuk berkonsentrasi. Sebagaimana disampaikan Prof. Sofia Retnowati dalam acara di UGM tersebut.

Pemberitaan Mengedepankan Humanisme

Bagi awak media, suicide perlu diberitakan. Bad news is a good news. Namun demikian, hendaknya perlu diberitakan secara positif, mengedepankan humanisme, serta membangun harapan. Sehingga lebih mengedukasi dan bersifat preventif terhadap tindakan suicidal itu sendiri. Ini link berita di mana Aliansi Jurnalis Independen (AJI) mengajak media massa untuk mengedepankan humanisme dalam pemberitaan suicidal.

Saya pribadi, sebagai yang pernah mendiagnosis diri sendiri pernah mengalami tekanan kejiwaan, merasakan kesedihan yang sama tatkala mendengar pemberitaan bunuh diri di media massa. Pasalnya, pemberitaan tersebut belum diiringi ajakan untuk menghubungi dan berdiskusi dengan pihak terkait seperti psikolog, psikiater, maupun klinik kesehatan jiwa.

Kapan Sebaiknya Kuliah S2?

(artikel ini saya sharing berdasar cerita kawan-kawan saya ketika mengambil program s2)

Lulus S1, bekerja, kuliah S2 reguler. Bosan dengan pekerjaan, jadi salah satu alasan para early jobber mengambil program s2. Alasan lain adalah kangen kembali ke kampus dan pergi belajar. Dan beberapa alasan lainnya. Yang intinya adalah, saat bekerja malah ingin belajar. Padahal ketika belajar malah ingin bekerja alias cari duit. Yang harus diperhatikan adalah syarat umur ketika lulus S2 dan ingin berkarir kembali. Beberapa perusahaan, terutama untuk program Management Trainee (MT) mensyaratkan maksimal usia adalah 28 tahun. Sudah sedikit sekali yang mensyaratkan 30 tahun.

Lulus S1, langsung S2. Untuk mereka yang belum bosan belajar, boleh mengambil cara ini. Keunggulannya adalah hemat waktu. Istilahnya, serba sekalian. Sekalian jadi Master, sekalian memperdalam bidang ilmu yang dulu ditekuni, sekalian meneruskan kost-kostan. Cara ini  kurang cocok untuk mereka yang langsung dianggap mandiri oleh ‘investor kuliah’ atau mungkin orang tua. Hehehe  Alias kurang cocok untuk mereka yang harus bekerja dulu beberapa waktu menikmati gaji serta harus menabung sendiri untuk biaya S2.

Sambil bekerja, mengambil S2 di akhir pekan. Menurut pengamatan, cara ini melelahkan. Kuliah tapi kok ya engga fokus belajar. Kerja tapi koq engga bisa menikmati liburan di akhir pekan. Mereka yang kuliah di akhir pekan ternyata jarang menyentuh buku di malam-malam weekdays. Alasannya sederhana: CAPEK!! Giliran harus kerja kelompok, baru bisa di hari jumat atau sabtu. Jelas tidak optimal. Baik membaca maupun mengerjakan tugasnya. Dan cenderung minta dosen mempercepat pulang ketika kuliah di weekend. Hehehe 

Nikah dulu baru S2, apa S2 dulu baru nikah? Hehehe  Sebenarnya sama-sama engga masalah, selama duitnya ada. Tah, eta tah! Justru di sini ternyata masalahnya. Bingung dengan duit yang belum banyak, mau mendahulukan yang mana  Saran saya siy, kalau sudah ada calon dan sudah ada dana ya dahulukan saja menikah. Toh, menikah adalah ibadah. Ya kan? Kalau pun keburu ada tanggungan anak, tinggal mencari beasiswa saja. In shaa Allah, Maha Pemberi Rezeki akan mencukupkan kebutuhan hamba-hamba-Nya yang senantiasa berdoa memohon rezeki yang melimpah (Aamiin!!). Mau mengundur kuliah padahal satu semester sudah berjalan? Ya tidak apa, tho S2 bisa dilakukan kapan saja kan. Bagaimana dengan kasus sebaliknya? Jelas, dahulukan S2 dong daripada mau  menikah tapi belum ada calon #ehh. Disclaimer: tidak bermaksud menyindir oknum-oknum tertentu.

Pesan paling penting: jangan kuliah, karena mengejar gelar. jangan pula kuliah untuk menaikkan karir. Meski gelar pendidikan adalah syarat naik jabatan. Tapi bagaimanapun, berkuliahlah untuk belajar. Karena belajar adalah cara kita untuk menjadi lebih baik dari waktu ke waktu

Tugas Staff Administrator IT di Sekolah

Ada tiga bidang yang harus dikuasai oleh admin IT di sekolah. Yaitu software, hardware, dan network.

Software berarti perangkat lunak yang biasa diinstal di hampir semua komputer di sekolah. Termasuk komputer-komputer di lab komputer atau lab UNBK (Ujian Nasional Berbasis Komputer). Paling utama adalah Microsoft Office atau sejenisnya. Misalnya ada Open Office dari Linux yang sifatnya opensource (terbuka untuk dikembangkan dan didistribusikan oleh siapa saja).

Sedangkan hardware, adalah perangkat-perangkat keras yang di antaranya meliputi CPU (Central Processing Unit, alias otaknya si komputer), monitor dan keyboard. Untuk keperluan sekolah, tidak diperlukan komputer yang canggih-canggih amat. Untuk Lab UNBK saja, cukup komputer dengan teknologi dual-core.

Satu lagi adalah jaringan (network). Yaitu jejaring yang menghubungkan antar komputer di sekolah. Lab UNBK maupun lab komputer biasa, butuh untuk terhubung satu sama lain dengan sebuah komputer server berperan sebagai sentral/pusat/induk dari komputer-komputer yang lain. Setidaknya, mendistribusikan data atau file menjadi lebih mudah karena cukup satu kali melalui komputer server tersebut. Tidak perlu satu demi satu melalui flash disc atau semacamnya. Bahkan di era serba Google ini, pengiriman file dapat dilakukan melalui email.

Peran sebagai troubleshooter

Ada kalanya software di komputer-komputer lab komputer kurang berfungsi dengan baik. Staf admin IT di sekolah dapat berperan sebagai lapisan pertama dalam menangani masalah (trouble shooting) tersebut. Misalnya sekedar instal ulang, me-recovery file yang hilang, dan sebagainya.

Di saat yang lain, hardware komputer ada yang tidak berfungsi dengan baik. Sehingga perlu ditukar dengan perangkat yang lain. Misalnya, keyboard yang rusak harus diganti dengan keyboard cadangan. Nah, selain melakukan penukaran tersebut, staff admin IT perlu mempersiapkan cadangan perangkat juga. Dengan cara melakukan pengajuan pengadaan perangkat komputer (CPU, monitor, keyboard) kepada kepala sekolah atau fungsi lain yang melaksanakan pengadaan barang dan jasa di sekolah.

Terkait jaringan komputer di lab komputer. Jaringan tidak selalu mulus menghubungkan satu komputer dengan komputer yang lain. Untuk masalah jaringan yang cukup berat, perlu mengundang vendor untuk melakukan troubleshooting. Namun, tatkala terjadi problem ringan staff admin IT perlu mengetahui troubleshooting ringan apa saja yang bisa dilakukan. Misalnya ketika jaringan internet sedang down (turun kecepatan dan kapasitasnya), apa saja yang bisa dilakukan oleh staff admin IT. Misalnya ketika loading sedang lambat, apa solusi yang mungkin disediakan oleh staff admin IT.

Jaringan di lab komputer maupun lab UNBK pada dasarnya bersifat intranet. Jadi tidak terhubung dengan dunia luar (baca: internet). Ini akan menyulitkan apabila menggunakan suatu referensi langsung dari internet untuk didistribusikan ke 30-40 komputer sekaligus di lab komputer / lab UNBK.

Untuk mengatasi hal ini, sudah ada aplikasi dan hardware bernama Pinisi Edubox. Aplikasinya akan membantu pelaksanaan pengajaran maupun ujian. Staff admin IT dapat mengajarkan kepada guru bagaimana cara membuat soal di aplikasi Pinisi. Termasuk juga cara menyimpan dan menggunakan konten pembelajaran yang disimpan di dalam perangkat Pinisi. Hardware Pinisi (baik Smart Router, maupun Mini Server) dapat membantu guru dalam melaksanakan pengajaran maupun ujian.

Bahkan untuk lab UNBK, Mini Server dapat difungsikan bersama dengan komputer server. Sehingga distribusi materi pengajaran atau soal ujian dapat dilakukan dengan mudah. Tanpa mengalami server down atau tidak bisa ter-connect.

Demikian uraian mengenai tugas staff admin IT di sekolah. Semoga mencerahkan.

Pinisi Mobile App, simulasi ujian nasional berbasis android

Browser adalah penemuan teknologi informasi (information technology, IT) yang sangat mencengangkan sekaligus memudahkan para penggunanya. Bersama browser, kita tidak bergantung sepenuhnya kepada aplikasi-aplikasi berbasis perangkat. Baik perangkat komputer pribadi (personal computer, PC) maupun telepon genggam (handphone). Lewat browser, kita bisa mengakses dan menggunakan banyak sekali aplikasi berbasis website (web-based) tanpa harus memiliki atau mempertahankannya di perangkat kita. Penggunaanya hanya ketika kita membutuhkannya. Tinggal buka browser, kemudian kita akses dan gunakan. Bila sudah selesai, tab browsernya tinggal kita tutup. Demikianlah aplikasi berbasis web memberikan kemudahan pada kita hanya ketika kita membutuhkannya.

Ujian berbasis komputer (computer-based test, CBT) semakin mudah dan luas penggunaannya tatkala dipertemukan dengan teknologi IT berbasis browser. Tadinya, CBT menggunakan aplikasi-aplikasi berbasis komputer pribadi. Sehingga aplikasi tersebut harus diinstal dan terus berada di dalam PC tersebut meskipun tidak sedang digunakan. Dengan browser sebagai medium akses, teknologi IT yang web-based mempersilahkan kita sebagai pengembang perangkat lunak (software developer) untuk merancang dan mengembangkan perangkat lunak untuk ujian. Pintu masuknya adalah sebuah alamat situs (yang lazim kita sebut URL) yang kita masukkan di dalam tab browser kita.

Sebagai software developer, Pinisi telah mantap menetapkan URL http://edubox.pinisi.io sebagai cara untuk memasuki aplikasi ujian berbasis android yang bisa pula digunakan untuk simulasi ujian nasional berbasis android. Tidak hanya aplikasi ujian berbasis android di web, tetapi tim Pinisi juga telah mengembangkan mobile application (lazim disebut mobile app) yang juga berbasis Android. Mobile app ini gratis alias tidak dipungut bayaran. Screenshot-nya berikut ini, agar anda tidak salah dalam mencari, menemukan, dan mengunduh mobile app Pinisi yang dikembangkan oleh software developer Pinisi Dev Team.

Sedangkan URL http://pinisi.io adalah landing page di mana anda bisa melakukan pemesanan sekaligus transaksi untuk produk Edubox Mini Server. Kami juga sedang mencari para reseller yang berkenan untuk turut mendistribusikan produk ini ke seluruh penjuru nusantara.

Mengapa harus android?

Tingkat kepemilikan siswa terhadap perangkat (gadget) dengan sistem operasi (operation system, OS) android jauh lebih tinggi daripada laptop. Smartphone android bahkan tersedia pada harga yang relatif terjangkau dengan kualitas yang bisa diandalkan. Berbeda dengan kompetitornya, yaitu iOS dari perusahaan Apple yang perangkat-perangkatnya berharga mahal. Dengan menggunakan perangkat dan aplikasi berbasis android, sekolah maupun para guru relatif tidak menemui hambatan tatkala meminta para siswa untuk membawa perangkat yang bisa digunakan untuk ujian berbasis android. Berbeda dengan laptop yang tidak semua keluarga memilikinya. Apabila sekolah menugaskan masing-masing siswa untuk membawa laptop, tentu tidak akan mudah. Malah sebaliknya, membebani siswa dan keluarganya.

Android juga mudah digunakan. Seiring dengan perkembangan wawasan (insight) para developer dalam merancang mobile app yang “mengerti” kebutuhan para pengguna (user). Pengalaman pengguna (user experience, UX) adalah prioritas pengembang. Dalam proses pengembangan mobile app, user tidak perlu lagi membaca petunjuk manual (manual guidance) yang biasanya berisi cara-cara bagaimana menggunakan suatu aplikasi. Berkat wawasan pengembangan UX, user akan mendapati betapa mudahnya menggunakan mobile app yang memang khusus dirancang untuknya.

Dalam hal ini, Pinisi Dev Team melakukan riset khusus berupa wawancara mendalam (in-depth interview) dan diskusi grup (focused-grups discussion) guna mengetahui pain points (suatu kebutuhan dari user, yang terasa “menyakitkan” bila tidak terpenuhi oleh aplikasi atau perangkat yang dia gunakan) dari para user. Dalam hal ini, para user adalah guru (selaku pembuat soal dan pelaksana ujian) dan siswa (selaku user yang mengerjakan soal).

Kami mendapati para guru terbebani dengan proses-proses administratif yang menyertai pelaksanaan ujian. Terutama bila ujian dilakukan menggunakan kertas. Mulai dari menyiasati kemungkinan siswa berbagi jawaban, memperbanyak lembar soal dan lembar jawaban lewat mesin photocopy, memeriksa jawaban para siswa di puluhan –bahkan ratusan– lembar jawaban, memasukkan nilai ke dalam buku raport, dan lain sebaginya. Yang cenderung menjemukan –sehingga mungkin menghilangkan konsentrasi guru—dan menghabiskan waktu. Seringkali, para guru harus menggunakan waktunya di luar jam kerja maupun jam sekolah. Yang nyata-nyata merenggut waktu untuk keluarga, maupun waktu untuk aktifitas pribadi lainnya.

Dengan aplikasi ujian berbasis android seperti Pinisi, yang bisa pula digunakan sebagai aplikasi simulasi ujian nasional berbasis android, maka para guru tidak lagi merasakan pain points tersebut.   Jadi, kemajuan teknologi digital telah membawa angin segar yang sangat berarti bagi pendidikan kita di Indonesia. Tidak hanya di perkotaan, namun juga pedesaan maupun daerah-daerah terpencil. Di mana kita sudah bisa menyelenggarakan ujian dengan lebih mudah, lebih cepat bahkan dengan biaya yang relatif terjangkau. Ya, ujian nasional berbasis android memang memberikan beberapa kemudahan bila dibandingkan dengan CBT biasa, apalagi bila dikomparasi dengan ujian berbasis kertas (paper-based test) biasa.

Aplikasi USBK Pinisi Edubox

Aplikasi Ujian Sekolah Berbasis Komputer (USBK) adalah aplikasi yang memungkinkan anda (sebagai guru) atau sekolah anda untuk menyelenggarakan ujian secara online.

Pinisi Edubox adalah perangkat server berukuran mini dengan performansi optimal untuk kebutuhan komputasi anda yang akan memberikan pengalaman mengajar (sekaligus ujian) yang tidak akan pernah dilupakan oleh siswa.

Pinisi Edubox terdiri dari sebuah aplikasi USBK dan perangkat fisik berupa jaringan yang dapat disambungkan dengan lab komputer atau jaringan komputer (computer network) di sekolah. Perangkat keras yang sama dapat digunakan secara intranet di dalam kelas.

Aplikasi USBK dalam perangkat Pinisi Edubox, tidak hanya dapat digunakan untuk ujian saja, yaitu ujian semester, ujian mata pelajaran, atau ujian sekolah. Perangkat ini juga dapat membantu guru dalam proses belajar-mengajar itu sendiri. Karena konten pembelajaran dapat disimpan di server atau cloud milik Pinisi, yang kemudian dapat diunduh oleh para siswa melalui perangkat laptop, smartphone, atau komputer masing-masing.

Ada dua produk dari Pinisi yang menyertakan aplikasi ujian berbasis komputer di dalamnya:

  • Edubox Smart Router, dan
  • Edubox Mini Server

Tentu saja aplikasi ini bukan aplikasi Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK). Namun aplikasi Pinisi ini dapat digunakan sebagai media latihan dalam menghadapi UNBK.

Bagaimana menggunakan aplikasi USBK Pinisi? Berikut adalah panduan langkah demi langkahnya:

Set Up Awal Aplikasi USBK Pinisi .

Set Up Awal. https://www.youtube.com/watch?v=JLG73-KYmJw

Anda dapat mengisi Nama Sekolah, Alamat Sekolah, dan nama Kepala Sekolah. Lalu kita isi kurikulum yang digunakan. Bisa kurikulum 2006 atau 2013. Pada awalnya hanya terdapat satu user. Dari sini, kita bisa menambahkan user-user yang lainnya. Tahun ajaran bisa kita pilih sendiri. Dengan format 2017/18, 2018/19, dan seterusnya.

Cara mendaftarkan kelas dimulai dari Jenjang Kelas. Aplikasi ini menyediakan pilihan jenjang kelas dari tingkat I sampai tingkat XII. Sedangkan ruang kelas adalah posisi ataupun urutan kelas, contohnya kelas X-1, X-2, X-A, X-B. Terakhir, kita bisa memasukkan nama wali kelas ke dalam masing-masing kategori kelas.

Guru dapat mengunggah data ke dalam sistem menggunakan file dengan format Excel. Tenang saja, kami sudah menyediakan cetakan (template) yang dapat digunakan dengan mudah. Sehingga pengisian data ke dalam cetakan tidak memakan waktu lama. Manfaatnya adalah proses unggahan (uploading) dapat dilakukan tanpa menghabiskan waktu dengan percuma.

Admin dapat memasukkan (input) soal ujian atau mengunggah (upload) dari cetakan format Excel yang sudah disediakan berdasarkan nama guru, jenjang kelas dan mata pelajaran yang diampu.

Untuk menampilkan hasil ujian, aplikasi USBK Pinisi dapat memperlihatkan nilai siswa berdasar semester, menurut kelas, atau per mata pelajaran dan memungkinkan untuk di-eksport ke format PDF, Excel maupun langsung dicetak (print) di atas kertas.

Pada menu ini juga guru dapat membuat soal atau melakukan impor soal (lagi-lagi dari cetakan berformat Excel) per mata pelajaran dan per jenis ujian.

Cara Membuat Ujian Baru di Aplikasi USBK Pinisi.

Anda dapat memulai pembuatan ujian baru di aplikasi USBK Pinisi ini dengan meng-klik tombol “Tambah Ujian”. Kemudian akan muncul form “Ujian Baru”. Silakan isikan nama ujian pada ujian anda yang baru. Pilih juga mata pelajarannya. Dalam contoh, adalah mata pelajaran Bahasa Indonesia. Cukup isi “Lama Ujian” dengan angka saja. Karena sudah diformat dalam satuan menit. Misalnya diisi 120 yang menandakan ujian akan berlangsung selama 120 menit.

Ada beberapa tipe ujian yang dapat dipilih dari menu Jenis Ujian. Guru dapat membuat jenis ujian seperti ujian harian, ujian tengah semester (UTS), atau ujian akhir semester (UAS).

Sebagai guru, Anda dapat melakukan pengacakan pada soal (melalui fitur “Acak Soal”) maupun pada jawaban (fitur “Acak Jawaban”). Mengenai nilai, bahkan dapat ditampilkan langsung segera setelah ujian selesai dilaksanakan; lewat fitur “Tampil Nilai Setelah Ujian”. Anda juga dapat memilih dan menentukan, apakah ujian tersebut akan direkap masuk ke dalam nilai (fitur “Masuk Rekap Nilai”). Apabila sudah selesai, silakan klik tombol “Buat Ujian”. Maka ujian Anda sudah jadi. Cukup mudah membuat ujian di aplikasi USBK Pinisi, bukan?  

Untuk mencegah ujian tidak tersebar sebelum atau sesudah waktu yang diinginkan, kami menyediakan tombol switch untuk mengaktifkan ujian.

Cara Membuat Soal di Aplikasi USBK Pinisi

Sekarang, kita sudah punya ujian. Nah, bagaimana mengisinya dengan soal-soal?

Cara Menambahkan User Baru di Aplikasi USBK Pinisi

User Baru yang dimaksud di sini adalah mereka yang berperan dan bertugas sebagai: Guru, Kepala Sekolah, atau Wali Kelas.

Pertama-tama, kita lihat ada menu utama di sebelah kiri. Menu ini seringkali muncul; karena itu kami menyebutnya menu utama. Terdapat beberapa menu sebagai berikut: Beranda, Pengguna, Pelajaran, Tugas, dan Ujian. Untuk menambahkan user baru, silakan klik tab “Pengguna”. Maka akan tampak “Daftar Pengguna” di halaman besar. Di sisi kanan atas, kita bisa melihat tombol “Unduh Data” dan “Tambah Pengguna”. Dengan mengklik  tombol terakhir, maka kita akan dapat menambahkan data dari user terbaru.

Apa saja kolom yang harus diisi sebagai data dari user terbaru? Berikut adalah data penting yang harus dimasukkan: NIK/NIP/NIS/NISN, Nama Lengkap, E-Mail, Role (bisa dipilih antara “Guru”, “Kepala Sekolah” atau “Wali Kelas”), dan Foto. Password wajib dimasukkan dua kali sebagai cara verifikasi. Klik “Buat Pengguna” untuk menyimpan data user yang baru. Kemudian profil user yang baru akan disimpan dan diperlihatkan di halaman selanjutnya. Di halaman inilah kita bisa melakukan “Sunting Pengguna” dan “Ganti Password”.

Cara Memberikan Penilaian di Aplikasi USBK Pinisi

Membuat Penilaian Offline https://www.youtube.com/watch?v=XVFt1d48LHI

Ujian untuk perbaikan nilai dan jenis-jenis ujian yang lain. Untuk menghadapi ujian tertentu (ujian nasional) maka guru juga dapat membuat jenis ujian latihan dari menu Jenis Ujian.

Bentuk penilaian: tugas, ulangan, praktik (offline), atau keterampilan. Pilih praktik (offline). Langkah 1: judul. Klik berikutnya. 2. Pilih kelas. 3. Isi tugas dan lampiran.

Cara Mengunduh Data Siswa per Kelas di Aplikasi USBK Pinisi

Untuk mengunduh data pengguna, yang harus dilakukan pertama adalah mencari kelompok data yang ingin diunduh melalui kolom pencarian. Apakah menurut NIK/NIP, Nama, Email atau Kelas. Misalkan kita ingin mengambil basis data (database) kelas XI MIPA 2, maka kita pilih Kelas. Dari database yang ditampilkan, kita lakukan copy pada “XI MIPA 2” lalu kita paste di kolom pencarian, kemudian tekan Enter. Maka aplikasi akan memilah dan menyajikan database siswa dari kelas XI MIPA 2.

Untuk memperoleh database tersebut dalam format Excel, silakan klik tombol “Unduh Data” untuk mengunduh database tersebut.

Termasuk di antaranya adalah hasil ujian. Tidak hanya hasil ulangan saja, tetapi juga mengkompilasi hasil-hasil ujian sebelumnya, sehingga para guru tinggal mengunduh rapor pendidikan para siswa saja. 

Mudah sekali melaksanakan ujian sekolah berbasis komputer, bukan? Sebab, segala proses ujian dapat kita lakukan dengan demikian mudah, otomatis, dan cepat.

Pinisi Edubox untuk Kegiatan Belajar-Mengajar (KBM)

Aplikasi USBK Pinisi berada di dalam perangkat yang kami sebut sebagai Pinisi Edubox. Selain menyimpan aplikasi USBK, di dalam Pinisi Edubox juga terdapat mini server. Komputer mini ini tidak hanya dapat digunakan untuk ujian saja, tetapi juga dapat digunakan sebagai alat bantu pengajaran di sekolah. Karena memiliki memori penyimpan sendiri, anda selaku guru dapat menyimpan materi pelajaran secara digital di dalam komputer server yang berukuran mini ini.

Untuk keperluan KBM yang melibatkan lebih banyak materi dan siswa, sudah ada komputasi awan (cloud computing) yang juga disediakan oleh tim Pinisi. Hal ini untuk mengatasi kelemahan mini server yang memang memiliki keterbatasan kapasitas.

Membuat Mata Pelajaran (Lesson) untuk Kelas di Aplikasi USBK Pinisi

Dari menu utama di sisi kiri, di mana terdapat beberapa pilihan menu: Beranda, Pengguna, Pelajaran, Ujian dan Tugas, maka pilih dan klik tab Pelajaran untuk “Membuat Pelajaran” (Lesson). Caranya adalah sebagai berikut:

  • Pilih mata pelajaran dari menu drop down yang muncul.
  • Kemudian, pilih kelas untuk pelajaran tersebut.
  • Centang lintas minat apabila pelajan dan kelas tersebut memang memenuhi syarat tersebut.
  • Pada kolom Guru Mata Pelajaran, ketikkan satu atau beberapa huruf pertama dari nama guru, sehingga muncul pilihan drop down yang memuat satu atau beberapa nama guru mata pelajaran. Tentukan nama guru.
  • Klik tombol Buat Pelajaran.

Maka akan muncul halaman mata pelajaran untuk kelas yang baru dengan menu yang terdiri dari:

Menambahkan Siswa ke Dalam Pelajaran

Ada dua cara untuk menambahkan siswa ke dalam mata pelajaran. Pertama adalah menambahkan nama dan NIS siswa secara manual. Kedua melalui daftar siswa yang sudah dibuat sebelumnya dan telah tersedia di dalam sistem.

Mulai dengan meng-klik menu pelajaran. Lalu pilih mata pelajaran yang akan ditambahkan siswanya. Sebagai contoh ada mata pelajaran bahasa indonesia. Mari coba cara manual dahulu. Yaitu menambahkan siswa dari data excel. Bisa kita copy-paste. Untuk format, sudah tersedia. Dari row selanjutnya, kita isikan nomor induk siswa lalu nama siswanya. Apabila semua list sudah masuk, anda bisa salin dengan sorot lalu klik kanan, lalu klik salin/copy kembali ke halaman data siswa, kita tempel (paste). Menekan tombol tambah. Apabila sudah selesai dengan data yang dimasukkan, bisa tekan simpan. Secara otomatis, maka siswa akan

Atau dari daftar siswa. Dari siswa terdaftar.

Kita juga bisa menambah atau memperpanjang daftar siswa. Jadi, siswa yang belum terdaftar, bisa kita masukkan ke dalam daftar siswa.

Menilai Tugas

Simpan Konten Pembelajaran

Penutup/Conclusion

Pinisi Edubox adalah aplikasi ujian sekolah berbasis komputer (USBK) dengan perangkat fisik yang dapat disambungkan ke jaringan komputer. Aplikasi Pinisi dapat digunakan untuk ujian, maupun proses belajar-mengajar.

Dengan demikian, pekerjaan administratif para guru tetap terselesaikan, namun dalam waktu sekejap mata saja. Diharapkan, keadaan ini akan memberikan kesempatan dan waktu yang lebih luang bagi guru untuk dapat meningkatkan kualitas pengajaran yang dapat dia berikan di depan kelas.

Open reseller

Kami mencari mitra reseller di seluruh Indonesia. Agar kita dapat menyelenggarakan ujian sekolah berbasis komputer di seluruh nusantara. Berminat? Silakan masukkan alamat email anda.

Mari Bicara Sastra Kontemporer

Raditya Dika

Novel Kambing Jantan. Sebuah Catatan Harian Pelajar Bodoh. Sesuai tagline-nya, sebenarnya ini hanyalah kehidupan anak sekolah biasa. Yang luar biasa adalah, bagaimana penceritaan oleh penulis sehinggal lucu, konyol, dan kocak.

Awalnya Kambing Jantan adalah sebuah blog yang kemudian dibukukan menjadi novel. Tahun 2009, novelnya diadaptasi menjadi film.

Sama pula dengan Manusia Setengah Salmon. Dari novel kemudian menjadi film berjudul sama yang dirilis pada tahun 2013. Dan tidak berhenti sampai di sana, masih ada:

  • Marmut Merah Jambu
  • Cinta Brontosaurus
  • Koala Kumal

Dari judul-judul tersebut, terlihat kan selling point Raditya Dika? Dia selalu menggunakan jenis-jenis binatang (kambing, marmut, brontosaurus, koala) yang kemudian diasosiakan dengan sifat-sifat manusia (kumal, perasaan cinta, warna merah jambu). Pengibaratan karakter yang diceritakan dalam novel dan filmnya, diasosiakan dengan binatang yang punya sifat tersebut.

Proses marketing dan selling sebuah film agak unik, memang. Ibarat menjual sesuatu yang hanya ada sekali itu saja. Risikonya tinggi. Kalau gagal, bisa rugi banyak. Kalau untung, juga bisa banyak. Ciri khas marketing and sales dari film sebagai sebuah produk:

  • Hanya sekali. Ini kaitannya dengan kelangkaan (scarcity). Makin langka, makin diburu. Tidak langka, kan bisa dicari di lain waktu dan kesempatan. Ibarat nasi, tidak makan hari ini gak apa-apa. Besok masih banyak warung nasi yang buka. Jadilah nasi (secara umum) sebagai komoditi yang tidak bisa diberikan bandrol price yang cukup tinggi.

Berawal dari blog, kemudian ke novel, video (youtube), kemudian ke layar lebar. Seiring dengan transformasi konten tersebut, Raditya Dika turut bertransformasi dari penulis, pemeran, penulis skenario, bahkan hingga menjadi sutradara.

Blog –> Novel –> Video –> Film

Serial Malam Minggu Miko termasuk film mockumentary. Adalah singkatan dari mock (pura-pura) dan documentary (dokumenter), jadi film mockumentary adalah film fiksi yang mirip dengan dokumenter. Menggunakan kamera atau handycam sebagai medianya, jadi seakan-akan penontonlah yang menjadi cameramannya. Karena proses recording-nya demikian, tidak heran Raditya Dika dan rekan-rekan mengawali promosinya di YouTube.

Stand Up Comedy

Sesuai judul, akhirnya memang jadi komedi. Karena kontennya komedi, Raditya Dika turut terjun dalam medium/format yang berbeda. Yaitu story telling secara tunggal (perorangan) yang tujuannya adalah memancing tawa penonton. Berikut adalah beberapa istilah terkait:

  • set up : pengkondisian penonton, sebelum diberi punchline
  • punchline : ‘kalimat pemukul’ yang memancing tawa penonton
  • callback : mengingatkan penonton terhadap set up yang sudah dibuat sebelumnya
  • riffing : mendapatkan perhatian penonton. biasanya terpaksa dibuat karena penonton gak fokus ke si comic.

Bakat dan kompetensi Raditya Dika dalam menulis dan membawakan materi-materi komedi, jadi kunci kesuksesannya di dunia Stand Up Comedy.

Komedi

Tentu tidak semuanya jujur. Meskipun banyak sekali mengangkat kisah-kisah dari keluarga Raditya Dika sendiri. Yang benar nyatanya adalah bahwa semuanya dilakukan demi memancing tawa penikmat komedi.

Kehidupan percintaan yang mengenaskan menjadi materi komedi yang dieksploitasi oleh Raditya Dika.

komedi jadi barang dagangan. Paling lucu, paling mahal harga jualnya.

Tantangan perkomedian memang di orisinalitasnya.

Raditya Dika vs Adhitya Mulya

Tidak terlalu tepat untuk dibandingkan kesastraan di antara keduanya. Sebab, masing-masing ada segmennya. Bagi Raditya Dika, komedi adalah barang dagangannya yang paling utama. Dia fokus di materi/konten ini.

Berbeda dengan Adhitya Mulya, yang karya sastranya berkembang seiring dengan pengalaman hidupnya.

Dimulai dari novel Jomblo, yang kemudian sama-sama difilmkan dengan judul yang sama, sesungguhnya merupakan awal dari topik yang belakangan menjadi laris ditulis-dikomentari-dibicarakan-berkembang sendiri di mana-mana.

Saya sendiri membahas fenomena jomblo ini dalam sudut pandang ekonomi bisnis dalam singlenomics. Selain jomblo, topik-topik satir ini antara lain adalah “mantan”. Kenapa ya “mantan” itu menyakitkan sekali?

Sabtu Bersama Bapak. Yang tidak lama lagi akan difilmkan. Biasanya kalau sudah difilmkan, akan ikut mendongkrak kembali penjualan novelnya. Jadi novel mengalami dua kali periode laris.

Nah, kesastraan dari abang Adhitya Mulya ini memang sesuai perjalanan hidupnya. Pasti dia pernah jomblo (alias single), ‘kan? Novel Jomblo adalah potret hidupnya. Semua pernah jomblo siy, tapi tidak semua jomblo melukiskan ke-jomblo-annya dengan baik dan menghasilkan karya komersil, ya.

Sabtu Bersama Bapak itu mendeskripsikan potretnya selaku Ayah dan Anak. Sebagai yang menjalani kedua peran tersebut, tentu saya juga belajar banyak dari perspektif bang Adhit ini. Pada dasarnya, peran sebagai Ayah justru mengingatkan kembali bahwa sebagian besar di antara kita semua, sesungguhnya masih anak dari ayah kita sendiri. Dan tanggung jawab kita belum selesai pasca kita menikah. Ringan di omongan, tapi berat di pelaksanaan.

eka kurniawan

seperti dendam, rindu harus dibayar tuntas

Dewi ‘Dee’ Lestari

Materinya sangat bervariasi.

science fiction.

Filosofi Kopi (filkop). Saya paling suka yang ini. Ada story-nya, ada film-nya, ada kafe-nya, dan seterusnya. Kafe-nya Filkop benar-benar ada.

Rectoverso. Tentang lima kisah cinta. Diberi nama rectoverso lebih karena dua format yang seiring sejalan antara lagu dan cerita. Masing-masing lirik lagu, ada ceritanya. Rectoverso adalah “hibrida” antara buku (cerita) dan musik (lagu). Setengah buku, setengah musik.

Handoko Hendroyono

Penulis brand gardener. Basic-nya beliau adalah advertising. Beliau ini melayani klien untuk mengkomunikasikan brand mereka kepada target audience. Which is tantangan saat ini adalah medium komunikasi semakin beragam. tidak melulu TVC. Apalagi untuk di medium 24/7 seperti social media (yang juga menantang karena formatnya yang beranekaragam: teks, foto, gambar, video).

Beliau juga menekankan pentingnya story telling. Nah, feeling saya kok kita harus kembali ke sastra, ya. Maka dari itu, story yang kuat (tokoh yang berkarakter, alur yang mengusik pikiran, dsb) banyak terdapat pada novel-novel. Tidak heran, ‘kan novel-novel tersebut menjadi film? Di mana, film sebagai sebuah karya adalah sebuah model bisnis. Juga, film sebagai sebuah medium merupakan model bisnis. Karena kemampuannya dalam menyedot para pengiklan.

http://pride.co.id/2015/09/belajar-strategi-bisnis-dari-sosok-handoko-hendroyono/

gotham and story telling

AADC

Why Join Community

Salah satu komunitas yang saya ikuti adalah komunitas blog SatuMingguSatuCerita Pernah nge-test ikut komunitas lain yang lebih offline. Namanya CSWC (CS Writer’s Club).  Setelah sekali datang, gak pengen datang lagi.

  • Pertama, karena akan pulang malam. At least jam 9 malam.
  • Kedua, karena rekan-rekan di sana pada menulis fiksi di tempat. Memang konsepnya gitu sih. Dikasi tema/topik, dan diberi waktu setengah jam. Otomatis, most of them menulis fiksi.
  • Ketiga, not entertaining enough. Sebab, kebanyakan pada tertunduk seakan berdoa ke layar smartphone membaca teks yang mereka tulis. Sementara, saya sukanya tampil mempresentasikan (alias public speaking) si teks yang saya tulis itu.

Ikut komunitas itu butuh waktu, energi, dan duit. Setidaknya, ada duit yang “tidak apa-apa” kalau dibelanjakan untuk komunitas tersebut. Misalnya, untuk kopi darat. Atau berbelanja sesuatu “buah karya” dari komunitas tersebut. Di 1M1C, kami pernah menulis antologi bersama-sama sih. Proyek kolaborasi gitu. Tentu hak komersil bukunya ada di penerbit ya. Para penulis bisa sebagai distributor. Tapi namanya reseller kan ya, tetap aja kami terima bukunya juga tidak gratis. Jadinya kami juga yang membeli.

Kalau ditanya berapa komunitas yang saya ikuti, rasanya cuma satu ini. Tidak sanggup waktu, energi dan uang untuk ikut banyak komunitas. Ini pun lebih banyak digital. Kalau yang lain, lebih pilih ikut grup WhatsApp aja. Monitor di situ. Jadi silent reader. Tidak hanya WAG, tetapi juga Grup Telegram, kadang-kadang ada. Karena grupnya sudah kelewat banyak, maka tidak semua juga berhasil dipantau. Hehehe. Padahal udah ada messaging app semacam LINE yak. Berhubung generasi saya kayaknya sedikit yang di situ, jadilah gak main yang dari korea itu. Hehehe.

Ikut Komunitas Digital

Ketika komunitasnya berupa digital saja, potensi pengembangannya jadi lebih besar. Tidak semata satu kota. Bahkan bisa sampai satu Indonesia. Nanti kopi darat (kopdar) saja yang khusus per kota.  Community-nya juga bisa lebih akrab via WhatsApp, facebook group, Telegram atau tagar-tagar Twitter/Instagram. Seingat saya, yang pernah kopdar di 1M1C baru Bandung dan Kendari saja.

Dengan ikut komunitas, jadi sadar di atas langit masih ada langit. Hehe. At least jadi tahu bahwa ternyata masih ada (dan masih banyak) yang lebih jago daripada gw. Dan gw harus bisa bertumbuh dan berkembang lagi. Gapapa ya, berniat dulu. Meskipun belum minat belajar atau mencoba, apalagi punya waktu dan kemampuan untuk melakukan. Hehe.

Jejaring

Network kayak begini di komunitas belum tentu worth it lho kalau cuma sebentar. Katakanlah setahun. Kata mentor saya dulu, berhubungan itu minimal 3 tahun kalau target kita ingin merasa akrab dengan orang lain (baca: teman kantor atau klien), misalnya. Yuk bahas sedikit.

Terlalu cepat pindah kantor, bisa berarti kita belum cukup akrab dengan orang-orang di dalamnya, lho. Kapan hari ngobrol sama teman. Insight-nya adalah dua tahun di suatu kantor itu adalah “cuma”. Alias “hanya”. Ekstrimnya, kalau kita minta tolong, akan terasa gak enak. Karena basically, kita belum akrab dan hangat sama yang bersangkutan.

Pindah kantor sampai 3 kali dalam 3 tahun juga enggak baik di mata orang-orang recruiter. Antara berkesan gak bisa membetahkan diri, atau malah mengesankan ini orang enggak bisa apa-apa. Agak subjektif sih, tapi emangnya udah menghasilkan prestasi apa kalau cuma setahun di sebuah company?

Demikian juga dengan klien. Belum tiga tahun, berarti belum akrab. Memang PR sih, bagaimana caranya supaya ada proyek terus selama tiga tahun pertama. Karena harus menambah kenalan terus dari proyek yang pertama. Apakah tim dari pelanggan yang bersangkutan, atau berkenalan dengan yang satu level posisi dari beliau, atau bahkan berkenalan dengan atasannya dia sendiri. Sambil berjalan mengenal nama demi nama, sembari memperkenalkan kompetensi diri/institusi yang kita mewakili.

Saya semakin yakin dengan parameter “tiga tahun” ini. Karena “teman yang sebenarnya teman” adalah yang non-formal seperti ini. Bukannya meremehkan pertemanan dari ruang kuliah (alias yang sejurusan), atau pertemanan di SMP-SMA, tetapi seringkali terasa terlalu kaku. Harus melalui birokrasi kantor lha, hanya di jam kantor, dan seterusnya. Karena dua hal tersebut, seringkali tidak bisa cepat dan gesit. Agile alias gesit, emang jadi kosakata yang makin penting belakangan ini. Kayak para pelaku freelance, kan. Pada high agility semua.

Pertemanan dari aktivitas kampus (di luar ruang kuliah) juga demikian. Aktivisme mahasiswa baru worth it ketika kita lebih dari setahun terjun di kemahasiswaan. Nah itu, angka “tiga tahun” berarti memang aktivis sejati, ‘kan. Sedari masuk kuliah sampai dengan (minimal) menjadi pengurus aktif di suatu himpunan/BEM/unit kegiatan mahasiswa (UKM). Lagi-lagi, kalau sudah berteman akrab yang demikian lha, maka kita bisa produktif dan cepat tatkala berkolaborasi kembali di kemudian hari.

From Sales Perspective

As a salesman, salah satu ukuran yang penting bagi saya adalah seberapa banyak orang baru yang saya kenal. Dari sebuah community, idealnya adalah ketemu dengan community yang lain lagi. Dengan kata lain, kalau saya duga sebuah acara/komunitas tidak mungkin mempertemukan saya dengan kenalan baru, saya pikir-pikir lagi untuk ikut atau bergabung dengan community tersebut. Bukan pilih-pilih berteman, lebih tepatnya udah umurnya untuk mulai lebih pintar mengelola waktu, konsentrasi dan network.

Closing: Kelebihan 1M1C

Balik lagi ke komunitas 1Minggu1Cerita. Komunitas blogger ini punya beberapa keunggulan, meskipun saya belum memaksimalkan keunggulan dan kelebihan tersebut. Di antaranya, adalah:

  • Tuntutan punya (minimal) sebuah cerita untuk diposting, mengubah kita menjadi blogger yang produktif. Meskipun kadang-kadang saya nge-post tulisan saya di di tempat lain, semisal dari modest.id
  • Tim admin rutin mengingatkan kita untuk menulis (lalu nge-post tulisan tsb) dalam pekan tersebut. Bila enam pekan berturut-turut enggak posting, maka bisa di-kick dari grup WA. Gak harus gabung WAG-nya, tetapi pertemanan bisa lebih intim ye kan, kalo join WAG-nya.
  • Ada polling tulisan favorite. Tapi saya gak selalu sempat ikut membaca lalu nge-vote, nih. Kalau masuk nominasi, at least kita jadi paham bahwa ada yang membaca post kita, hehehe. Rasanya happy banget tatkala ada postingan yang menang voting.
  • Tulisan harus disetor. Saya biasanya setor tulisan (lengkapnya adalah nama, nomor member, tanggal menulis/menyetor, serta link tulisan) di websitenya 1M1C. Tapi komunitas ini ada aplikasi mobile-nya sendiri. Jadi bisa posting dari sana juga. Sekarang kan era-nya apa-apa di-mobile-app-kan saja. Meskipun belum tentu si user punya memori yang cukup untuk ng-install-nya. Hehehe.
  • Ada challenge untuk menulis tema tertentu (yang sudah divoting oleh para member) sebanyak sekali dalam sebulan. Biasanya saya jarang ikutan menulis postingan bertema ini. Hahaha.

Sekian aja lha ya, postingan tentang community ini. Semoga bermanfaat.