Dudin Abdurrahman

Tempatnya berkarya sebelum sekarang, rupanya kehilangan dirinya. Sebab, pemahamannya terhadap teknik-teknik produksi produk kriya (craft) berarti cukup mumpuni. Buktinya, tiga penghargaan kompetisi pernah dia raih.

Terbaru, adalah desain wastafel + tempat wudhu. Inspirasinya, berasal dari buku Gen M karya Shelina Janmohamed. Kontemplasinya terhadap naskah tersebut menyimpulkan satu kata: fleksibilitas. Menjadi seorang yang taat pada agama, tetapi harus beradaptasi pada modernitas dunia mendesak para muslim untuk bisa bersikap fleksibel di belahan dunia manapun. Tidak terkecuali di ruang kecil seperti kamar mandi (atau toilet). Demikianlah tantangan menjadi muslim zaman now.

(foto wudhu-wastafel https://www.behance.net/gallery/68333689/Wudhu-Wastafel)

Dudin berharap, suatu waktu nanti karyanya bisa diimplementasikan di negara-negara minoritas muslim yang menghormati perbedaan dan bersikap toleran terhadap muslim. Dudin merasakan betul dan berempati sekali terhadap para muslim yang minoritas di negara selain Indonesia.

Sebelum karya yang terakhir ini, adalah kemenangan yang membawanya ke Jepang. Berkat sayembara desain produk pula. Desainnya mengekspresikan kedaun-tehan suatu wadah berisi 10 kantong teh celup. Kita tahu betapa dekatnya Negeri Sakura dengan daun teh. Tea packaging buatannya “bercerita” bahwa teh bukan minuman biasa. Prosesnya rumit. Dari memetik ujung daun teh, sampai dengan pengemasan (packing), total ada 8 tahap wajib dilalui dengan tabah.

(foto produk tea packaging: https://www.behance.net/gallery/50949999/godong-tea-packaging)

Sebelumnya, Dudin ke Hongkong. Karya pemenangnya adalah jam tangan terbuat dari material kayu dengan teknik pembuatan ala wayang kulit. Disebut teknik tatah sungging, Dudin menyajikan storytelling yang mengangkat nilai tambah sebuah jam tangan. Dari sekedar penunjuk waktu, menjadi penentu kelas sosial-ekonomi seseorang. Di dua negara tersebut, Dudin merasakan betul sulitnya berwudhu di fasilitas (seperti wastafel) yang tidak dikehendaki untuk basah.

(foto jam tangan matoa kalanata https://www.behance.net/gallery/50949791/MATOA-Kalanata)

Seorang desainer produk biasanya lebih piawai mendesain dalam diam, lalu menampilkannya di pameran karya, sembari mempresentasikannya dengan gaya yang bertolak belakang daripada para penjaja (salesman) pada umumnya. Di situlah perbedaan seorang Dudin. Dia juga piawai dalam meramu kata guna menyajikan plot kisah pengembangan produknya. Mulai dari latar belakang masalah, pain point yang dialami user, hingga penyajian solusinya. Pendek kata, Dudin adalah desainer yang juga pandai menulis. Pergulatan pemikirannya bisa disimak di blog Dudin yang bisa diklasifikasikan ke dalam dua kategori besar berikut.

Empat tahun sebelumnya Dudin menghabiskan waktu di bangku kuliah di kota yang dinginnya tidak seperti dulu lagi. Dari sana, dia menginsyafi bahwa menjadi kreatif (being creative) tidak bisa dipisahkan dari seluruh dimensi kemanusiaan itu sendiri. Bahwa menjadi manusia, berarti menjadi kreatif. Begitupun sebaliknya.

Sehingga, berkarya adalah berarti memikirkan, merenungkan, hingga memahami proses-proses berpikir manusia itu sendiri. Bila sudah mencapai titik terhebat (ultimate) ini, berkarya bukan lagi menjalankan profesi seniman, desainer, atau apapun. Namun berkarya sebagai seorang manusia.

Enam tahun sebelum Dudin menentukan pertanyaan, bertanya, merenung dan berimajinasi soal desain, dia beruntung berkesempatan belajar tentang beriman terlebih dahulu. Di sebuah pondok pesantren pria paling populer di negeri. Selepas dari sana dia mengambil kesimpulan. Bahwa baginya, beriman bukanlah tanda berhentinya nalar dan akal di hadapan samudera pertanyaan hidup. Justru beriman adalah pangkal dari merumuskan pertanyaan-pertanyaan selanjutnya dalam hidup dan mendesain.

Perjalanan hidup seorang Dudin tersebut pada akhirnya menjadi “kacamata”-nya dalam memandang segala sesuatu. Bagaimana empatinya terhadap sesama muslim yang notabene minoritas di negeri orang –pada akhirnya menjadi inspirasi sebuah wastafel-wudhu–, kemudian bagaimana dirinya merenungkan bentuk visual dan fisik sebuah kotak amal di suatu masjid –yang mengkomunikasikan transendentalitas sebagai sesuatu yang justru bersifat mengingatkan secara halus, alih-alih menyeramkan bin menakutkan.

Selain sebagai muslim, seorang Dudin menyadari dirinya masih terus berproses sebagai desainer (designer in-process). Simpulannya sementara ini adalah, desainer harus cukup cerdik untuk dapat menghantarkan (to deliver) desain produk yang mengakumulasi berbagai faktor pertimbangan konsumen di pasar, serta melihat dan menemukan celah di mana produk tersebut mampu tampil dan konsisten hadir di tengah-tengah persaingan fungsionalitas, estetik dan kedalaman kantong konsumen.

Apalagi di tengah-tengah arus informasi yang sedemikian cepatnya seperti saat ini, produk kita (berikut desainnya) cenderung sulit untuk “tersangkut” pada satu momentum ruang dan waktu. Kebudayaan kita sudah sedemikian “licin”-nya. Meski demikian, tetap kita sebagai desainer, menurut Dudin, tidak boleh berpikir dan bersikap pragmatis. Harus tetap idealis meski itu sulit. Kuncinya ya, harus dicoba terus.

Apalagi dunia desain di Indonesia baru bangkit kembali belakangan ini. Desain, yang notebene merupakan anak kandung industrialisasi, di Indonesia justru kurang terserap –sekaligus kurang terdistribusikan—oleh industri-industri besar. Kurang lebih 10 tahun terakhir, desain produk menggeliat. Yang diidentikkan dengan peran para UX (user experience) designer di startup-startup kita. Tokopedia (menuju 11 tahun), Traveloka (8), Go-Jek (10), dan Bukalapak (10).

Fenomena tersebut memang masuk akal. Digital lahir dan besar nyaris bersama para milennial itu sendiri –baik sebagai produsen maupun penggunanya. Berbeda dengan teknik-teknik tradisional seperti teknik pembuatan wayang –yang diaplikasikan oleh Dudin dalam produk jam tangan—yang membutuhkan waktu lebih lama untuk penguasaannya –sekaligus dipengaruhi permintaan pasar yang tidak setinggi dahulu.

Akhir kata, congratulations to Dudin. Kita semua selalu menunggu cerita dan karya darimu.

Remembering My Time in Consulting

Habis baca consulting worklife, tiba-tiba teringat dengan masa saya jadi konsultan dulu.

Belum konsultan asli, karena masih analyst. Masih 2-3 level senioritas lagi untuk jadi konsultan sebenarnya. Saya dulu tiga tahun di kantor konsultan tersebut. Yang saya dapatkan lebih dari cukup. Meski saya mendapat berlebih, tapi mungkin saya tidak mau mengulanginya lagi. Mungkin lho, ya. Because I am raising my family now.

Sebagaimana dahulu saya belajar di SMA berasrama. Experience-nya luar biasa. Segala pengalaman buruk atau sedih, tergantikan dengan yang indah-indah. Ingin diulang? Tentu tidak. Dikurung mengajarkan saya arti kebebasan.

Baik, masuk ke topik utama. Ada tiga hal yang saya dapat di konsultan: pembelajaran, (sedikit) jejaring, dan jalan-jalan.

Pembelajaran (Learning)

Meski hanya di belakang layar laptop, bukan di hadapan audiens –ini peran bos saya yang sudah 15 tahun consulting ketika itu–, yang jabatannya bervariasi – mulai dari level direktur sampai salesman lapangan, tapi consulting memberikan pelajaran yang luar biasa banyak untuk saya. Karena yang saya pikirkan bukan lingkup pekerjaan yang se-kroco saya. Tapi masalah di tingkat perusahaan yang jadi beban pemikirannya direktur. Kita akan belajar untuk tidak memberikan solusi yang receh; alias solusi yang tidak kita pikirkan matang-matang plus dan minusnya.

Malah kita fokus memberikan solusi yang out of the box – ada dua alasannya sebenarnya: menjawab masalah klien sekaligus cari aman, hehe. Referensinya darimana? Ya dari buku-buku yang really deep thoughtful lha. Ditulis dalam bahasa Inggris oleh orang-orang bule Amerika. Ditambah utak-atik gathuk terhadap hasil searching di internet, hehe.

Karena saya konsultan di bidang strategic marketing, maka saya jadi cepat belajar tentang organisasi marketing and sales di beberapa perusahaan dan industri sekaligus. Pengetahuan ini membangun imajinasi saya tentang bagaimana proses bisnis yang mereka –seharusnya—lakukan, siapa target market mereka, siapa saja perusahaan kompetitornya, dan lain sebagainya.

Berjejaring (networking)

As former analyst in consulting office, I already know what is fun and how to be a fun person. Theoretically, at least. Tanpa menghilangkan karakter asli yang berhati-hati (baca: berpikir dua kali) sebelum berpendapat, alias thoughtful, saya sudah lebih “cair” dibanding sebelumnya. FYI, tidak mungkin donk kalau meminta data ke klien itu straight to the point. Kita butuh basa-basi dulu. Pembukaan yang fun and interesting ini juga perlu sebelum mewawancara orang lain. Harus bisa “menjual” diri. Sebagaimana teknik salesman yang paling kuno: cari kesamaan dengan lawan bicara, lalu mulailah perbincangan dari sana.

At that time, kantor tersebut juga membangun komunitasnya sendiri. Komunitas para pengusaha. Kecil-kecilan. Biar punya “massa” kalau bikin acara sendiri. Acara untuk meng-entertain para existing client yang lagi proyek sama kita. Plus, untuk menangkap “ikan-ikan” yang lebih baru. Nah, “massa” pendukung ini kita jadikan tamu-tamu dalam acara tersebut.

Traveling

Kantor konsultan tersebut tidak besar. Belum regional Asia Tenggara. Tapi cukup membuka kesempatan bagi saya untuk terbang –dengan alasan pekerjaan dan dibiayai oleh klien—ke beberapa kota di Indonesia. Palembang, Medan, Makassar, Surabaya, Yogyakarta. Pergi pagi pulang sore ke Jakarta. Kalau acara dua hari, berarti ada kesempatan kuliner malamnya.

Bukan hanya soal terbang. Namun jam kerja konsultan cukup fleksibel. Bukan berarti santai karena bekerja >40 jam seminggu. Masuk bisa lebih siang, tapi mungkin kamu akan pulang malam –bahkan menginap—dan tanpa uang lembur. Buat saya yang waktu itu belum lama menikah dan anak-anak sudah berusia beberapa bulan, tampaknya saya butuh rehat. I was burnout at that time. Di kantor konsultan yang lebih besar, duitnya lebih dari cukup untuk “mengobati” burnout-nya. Jadinya mereka bisa bekerja lagi; mencari uang untuk mengobati burnout sebelumnya. Hehehe.

See? Tidak semua orang cocok menjadi konsultan.

Takeaways

Mengalami roller-coaster kehidupan ala konsultan sangat menarik lho. Experienced and memorable. Saya sarankan kamu mencobanya. Tidak wajib lama. Cukup 2-3 tahun saja. Lebih awal mencobanya, lebih baik. Tapi seperti saya katakan di atas, ada tiga thread-off nya. Learning, networking, and travelling.

  • Tidak semua orang cocok menjadi learner ala konsultan di sepanjang hidup mereka. “Belajar” dari direktur, membaca dan membedah buku atau kasus-kasus bisnis, menulis di koran membangun personal brand, dan seterusnya.
  • Network itu ibarat buah. Selama masih di pohon, dia belum bermanfaat. “Menabung” network tapi tidak mengupayakan “memetik”-nya, rasanya kurang tepat juga. Ingat, semakin senior seorang konsultan, kerjanya hanya membangun relationship di sana-sini sebelum mengekstraknya sebagai proyek. At least, I know how to be fun and interesting person/friend when meeting someone new.
  • Travelling quite a lot itu prasyarat menjadi konsultan. Dalam kota, maupun antar kota antar provinsi (AKAP donk!). Dalam hal ini, kamu tidak akan menjadi ayah yang reguler. Pulang setelah anak kelelahan bermain seharian. Atau masih sibuk dengan pekerjaan tatkala mereka meminta weekend-mu untuk bermain bersama.

Jadi, apakah ini berarti saya benar-benar berhenti dari being a consultant? Maybe yes, maybe no. Kalau saya tidak bertemu dengan pekerjaan tetap yang sukses memaksa saya bertahan di situ, mungkin saya akan pindah. Dan satu-satunya jalan mungkin hanya konsultan.

Itu ceritaku. Apa kamu ada cerita tentang bekerja sebagai konsultan atau agensi? Kalau ada, mohon bagikan ceritamu di kolom komentar ya.

Reflection on my 2019 site analytics

Tahun 2019 adalah tahun pertama men-swasta-kan domain dan hosting. Tadinya masih negeri; alias menumpang ‘host’ di server gratis milik WordPress. Setelah setahun ini, ada sedikit angka, data, dan statistik lain yang bisa direfleksikan barang sejenak. Kita mulai ya.

Sepanjang tahun 2019 ada 44 post. Meningkat 7 post saja (19%, lumayan) dari tahun sebelumnya. Namun average words per post-nya menurun dari 927 ke 711 kata. Turun sebesar 23%. Signifikan juga ya. Namun, tidak terlalu masalah. target saya kalau menulis adalah minimal 800 kata. Saya bukan tipe yang mentarget minimal 1500 atau 2500 kata. Masih termaafkan lha ya kalau sekitar 700-an saja. 

Pernah rasanya saya share di suatu tempat di blog ini bahwa 300 kata, meski sudah layak secara SEO, namun terlampau pendek untuk menyajikan cerita. Di sisi lain, 2500 kata sudah oke banget untuk SEO. Tapi lebih baik dibelah saja untuk artikel di pekan berikutnya; ini menurut saya lho ya. 

Tahun 2019 itu ada 7,453 page views dari 4,677 visitors. Artinya, satu visitor melakukan 1,59 page views. Artinya tiap pengunjung rerata hanya melihat 1-2 post. Sumber traffic terbanyak dari search engine, yaitu sebesar 3,707 pageviews. Sementara yang datang dari facebook dan Instagram sebesar 195 dan 128 page views. Dapat disimpulkan, lebih banyak dari mesin pencari daripada followers-nya social media saya. Sepintas tadi menengok setting page, tampaknya ada error di social share-nya –share via facebook & linkedin. 

Dari list yang sudah menyetor tulisan di komunitas 1m1c, hanya ada 41 page views. Lumayan juga, karena keanggotaannya hanya sekitar 100 members. Dari komunitas yang sama –tetapi sumber link berbeda– ada 3 (tiga) tulisan saya yang sempat di-klik dari sana:

Di antara 10 tulisan dengan page view terbanyak, hanya ada dua yang ditulis di tahun 2019. Yaitu: Review Buku Filosofi Teras (441 views) dan Menyelami Filosofi Rumah Panggung Suku Bugis (120 views).

Tiga-puluh-tujuh (37) post di tahun 2018 sebenarnya copy paste dari blog saya yang lama: http://ikhwanalim.wordpress.com. Seingat saya, tidak banyak yang saya tuliskan di tahun tersebut. Sebab lebih sibuk migrasi konten daripada menulis baru. Alhamdulillah di tahun 2019 cukup banyak tulisan yang benar-benar baru. Bahkan, ada kategori personal journal dan blogging/writing yang cukup banyak saya tulis. Selain itu, ada sedikit dari kategori marriage/parenting/fathering.

Khittah-nya blog ini seharusnya membahas topik sales/marketing. Eh tapi kategorinya malah ke mana-mana, yah. Dilema ini sudah bertahun-tahun saya rasakan — selama 12 tahun nge-blog. Ragu untuk memilih fokus menulis ide yang muncul di pikiran, atau mau fokus di kategori tertentu yang kita kehendaki sebagai positioning/niche-nya kita.

At the end, I took my decision to not overthinking the branding part. Jadi, saya tuliskan saja pengalaman, pikiran dan gagasan yang ingin saya bagikan. Tanpa harus feeling guilty karena si blog ini entah mau dibawa ke mana (if you sing, then you lose). Hehehe.

Tahun 2019 tampak belum ada postingan juara yang view-nya tinggi. Karena yang tinggi berasal dari tahun sebelumnya: Posisi Kerja di Dealer Mobil. Post ini view-nya tinggi karena post sejenis sedikit sekali di jagat internet. Sementara di Indonesia, konsumen kendaraan bermotor seperti mobil dan sepeda motor tinggi sekali. Tidak heran lowongan kerjanya pun cukup melimpah, sehingga pertanyaan seputar posisi-posisi pekerjaan di dealer juga banyak:

  • jabatan di dealer mobil 
  • jabatan-jabatan kerja di diler mobil 
  • cara kerja dealer kendaraan
  • tugas marketing di dealer mobil honda 

Rencana 2020

Bagaimana dengan tahun 2020? Rencana saya adalah berusaha seproduktif mungkin dalam nge-blog. Kalau satu tahun ada 52 minggu, maka idealnya ada 52 post kali ya. Tahun 2019 sudah terwujud 85%-nya.

Mau produktif menulis topik/kategori apa? Seperti saya ceritakan tentang dilema di atas, maka topiknya akan bebas. Sebagai ortu, mungkin postingan seputar topik parenting akan hadir pula. Mengingat, yang bersangkutan mulai sekolah di tahun ini. Tentang strategic marketing, mungkin topik seputar milennial dan leisure bisa dieksplorasi lebih mendalam. Personal journal jangan ditanyakan lha, ya. Itu topik paling tidak terencana, tapi paling sering ditulis karena experience dan personal story-nya.

Itu sedikit refleksi dari saya seputar hikmah-hikmah yang bisa diambil dari analytic machine di situs blog ini. Bagaimana dengan refleksi dan rencana blogging kamu? Saya tunggu pendapatmu di kolom komentar, ya 🙂

Stay Away from Toxic Person

I used to be a toxic person. But I have been healed from it. Even more, I have takeaways for you.

Toxic people make relationship jadi toxic. Pastinya ada banyak sebab kali ya. Salah satunya adalah “belum selesai sama diri sendiri”. I am still wondering itu istilah yang tepat atau tidak. Singkat kata, yang bersangkutan (karena belum selesai dengan dirinya atau masa lalunya) berpotensi being negative person untuk orang lain. Misalnya, curhat atau mengeluh terus-menerus mengenai masalah yang sama. At first, orang mau berempati dan mendengar. Second time, orang mulai memberi saran solusi. Third time, orang mulai terganggu bila dikeluhi hal yang sama terus-menerus.

Nah, when we are being negative person for others, most likely kita akan merusak hubungan dengan orang tersebut. The relationship become toxic. That’s why se-galau, se-gundah, se-gulana apapun juga, we should control it, we should drive ourself. Mulai dari ekspresi, perkataan yang keluar dari lisan, postingan di socmed, dst. The positivity shall start from ourselves.

Kembali ke “belum selesai sama diri sendiri”. Yeah, ini term yang luas banget, tapi yang bisa kita kelompokkan ke dalam sini, adalah mereka yang belum menerima masa lalunya atau masih tidak mengenal dirinya sendiri. Terhadap hal-hal yang terjadi dalam hidupnya, cenderung menyalahkan (blaming) bahkan menghendaki supaya orang lain bertanggung jawab (be responsible). Bila perlu orang lain tersebut ikut mengatasi masalahnya (to solve problem).

Kalau kita cuma teman kan mudah saja ya? Cukup tinggalkan teman-teman yang seperti itu. Tapi bagaimana bila si toxic relationship ini terjadi di hubungan internal peers / genk-genk-an? Atau statusnya masih sama-sama pacar? Belum jadi pasangan resmi saja sudah toxic, apa jadinya kalau beneran jadi pasangan seumur hidup?

Let’s explore further. Bagaimana bila si toxic person adalah saudara/keluarga sendiri, bahkan suami/istri sendiri? Tentu jadi repot banget kan. Karena hubungan kita dengannya malah jadi toxic beneran.

Btw, ada juga atasan-atasan di kantor yang tidak capable dalam kepemimpinan dan manajerialnya. Kuncinya sama sih. Manipulatif, menyalahkan kita sebagai bawahan / anggota tim, menghendaki tanggung jawab lebih (padahal dia yang seharusnya paling bertanggung jawab), menuntut sumber daya kita secara berlebih untuk terlibat mengatasi masalah. Yeah, sabar aja ya. Di luar sana memang ada atasan-atasan yang belum waktunya menjadi atasan 😊. Healthy relationship at work shall makes us feel secure, happy, cared (by HR), respected for our capabilities, and free to be ourselves in doing our work.

Bayangkan apabila dia memanipulasi fakta yang ada. Membohongi kita. Mengelabui kita. Menganggap kita bertanggung jawab atas hidupnya (kalau anak mungkin masih bergantung ya, tapi mestinya berbeda dengan orang dewasa). Bahkan lebih buruk: kita yang harus menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi atas perbuatannya sendiri.

Indeed, I do reflect so much when I am the one who act as toxic person.

Later on, saya sebagai pribadi dewasa mulai memberikan batasan pada keluarga dan pasangan. Artinya, ada peran dan aktifitas riil terkait dengan batasan-batasan tersebut. Dari saya, maupun dari mereka. Karena mereka keluarga, saya merasa wajib untuk berbagi dan berkonsultasi dengan keluarga dekat tersebut. Saya meminta dan mendengar pendapat mereka. Barangkali ada pengalaman terkait, atau perspektif berbeda. Namun demikian, bagaimanapun juga, saya sendiri yang akan mengambil keputusan dan merasakan dampak dari keputusan tersebut. At the end, I become more responsible for my life.

Di kemudian hari, saya mendengar Om Manampiring mengulas konsep stoic dalam bukunya. Saya merasa ada kesamaan frekuensi antara bagaimana para filsuf stoa memandang kejadian-kejadian dalam hidup (sebagai mana diulas Om Piring) dengan beberapa peristiwa dalam hidup saya yang sungguh saya tidak punya kekuatan untuk memaksakan perubahan sesuai kehendak saya.

Skenario kedua. Bagaimana jika, sumber toksisitas bukan diri kita, melainkan the other side of the relationship? Yang jelas, semua relationship menghadapi tantangan. Tapi, toxic relationship tidak akan berhasil melalui tantangan-tantangan tersebut. Saya kira, ada dua hal yang bisa kita lakukan, ya:

  • Cegah lack of communication. Selalu ceritakan apa yang kita kehendaki. Di saat yang sama, cobalah untuk memahami apa yang dia inginkan. Cari jalan tengah di antara keduanya. As we already know, relationship itu dua arah: saling memberi dan menerima. Hanya memberi akan membuatmu kehabisan energi dalam menjalani hubungan tersebut.
  • Timbal-balik secara seimbang. Segala jenis hubungan yang menghabiskan energi kita tanpa meninggalkan timbal-balik di kita, hanya akan menyisakan negativity. Untuk mencegahnya, pastikan kita selalu “membalas” perlakuan si dia.

Take away (kayak makanan aja ya 😊) dari saya ada tiga:

1. Stop become a toxic person. Those who do manipulation, lying, blaming others, asking other responsibilities and problem solving.

2. Be more responsible for your life. You plan, design, take decision but you are the only person who get those output, outcome, and impact.

3. Tidak semua peristiwa dalam hidup bisa kita atur. Manusia berencana, tuhan menentukan. Dalam agama saya, percaya kepada takdir juga salah satu rukun keimanan. So, apapun takdir tersebut, bila sudah kejadian (pasca kita berikhtiar keras), maka kita hanya perlu menerimanya dengan ikhlas dan lapang dada. Yang terakhir ini, lebih mudah diucapkan daripada dilakukan.

Sementara itu dulu ulasan dari saya. Apakah teman-teman pernah mengalami toxic relationship? Boleh banget kalau sharing pengalamannya di kolom komentar di bawah.

Quarter-Life Crisis

QLC itu masa-masa di persimpangan pilihan-pilihan kehidupan. Yang mengalami biasanya berada di rentang usia dua puluh-an sampai tiga puluh-an.

Kalau saya dulu, mengalami sejak usia lulus S1 kali ya. Belum tahu mau aktif dan fokus di bidang apa. Bukannya belum tahu sama sekali, tetapi saya jelas berminat dengan bidang marketing. Yeah, karena masih bingung, jadinya ambil S2 dulu. Rencana bergelar master jelas ada. Tapi berhubung life plan (rencana hidup) masih kacau, jadilah S2 disegerakan pasca lulus S1.

Belakangan saya baru menyadari, mahasiswa S2 kekinian itu makin muda. Alias belum lama lulus dari S1-nya. Bahkan banyak yang langsung S2 setelah lulus S1. Salah satu sebabnya menempuh pendidikan master adalah karena belum tahu apa yang mau dilakukan dalam hidup. Sad, but it’s true.

S2 kelar, tapi sadar jiwa ini butuh otoritas tinggi, jadinya ngotot gak mau di big company yang team, culture and business process-nya jelas-jelas sudah established selama puluhan tahun. That’s why kemudian saya bergabung dengan sebuah strategic marketing consultant (paham ‘kan ya mengapa memilih marketing) yang baru berdiri satu tahun oleh seorang yang berpengalaman lebih dari lima belas tahun.

Lega sudah untuk urusan pekerjaan; meskipun masa depan karirnya belum jelas benar. Berisiko banget memang saat itu. Karena kalau company-nya tumbuh, maka saya mungkin akan jadi satu di antara para “Dewa”-nya (meski bukan founder).

Urusan kerjaan udah fixed (dengan gaji gak sebesar multinational company tentu saja) namun urusan pernikahan dan berkeluarga malah kacau alias mundur. Yang ditargetkan menjadi pasangan ternyata bukan yang ditakdirkan.

Ketemu dengan calon yang sekarang jadi istri, akhirnya kami menikah dengan pekerjaan saya yang gak stabil-stabil amat, career path gak jelas, pendapatan juga masih pas-pasan, QLC belum berakhir juga. Faktanya, kami masih LDM. Bagaimana tidak dag-dig-dug terus setiap hari.

Alhamdulillah akhirnya “kembali” ke karir yang dicari-cari. Hidup berumah-tangga juga semakin baik: peran sebagai suami dan ayah semakin bisa dijalankan. Waktu habis tidak hanya untuk pekerjaan utama. Alhamdulillah bisa menabung dengan lumayan.

Intinya, semakin menua umur ini dan semakin bijaknya diri ini, maka semakin mampu menyadari dan mensyukuri apa-apa yang dimiliki. Tanpa harus iri atas apa yang tidak menjadi milik sendiri. Syukur bila punya, tidak mengapa bila tak berpunya. Coba baca juga tentang filosofi Stoic.

Maaf, curhatnya kebablasan. Back to topic.

Biasanya quarter-life crisis dipicu permasalahan finansial, relasi, karier, serta nilai-nilai yang diyakini (salah satu nilai-nilai ini seputar religiusitas/spiritualitas). Intinya adalah anxiety (kegelisahan) yang bisa disebut berlebihan. Bawaannya galau terus. Banyak topik sekaligus yang menjadi sumber kegalauan. Yang mana, tiap topik malah terkait dan bersifat sebab-akibat dengan topik-topik lainnya.

Saya seorang milenial. Kalau kamu juga milenial, kemungkinan, QLC kamu disebabkan satu di antara dua yang berikut:

  • Aneka fasilitas dan pilihan kemungkinan yang tersedia menyebabkan orang justru stagnan. Jika dibandingkan generasi-generasi terdahulu, milenial dan generasi setelahnya tergolong beruntung karena dapat mengecap beragam kemudahan atau akses yang membuat hidup lebih baik: dari segi peluang kerja, pendidikan, akses kesehatan, keamanan, dan sebagainya.
  • Soal pekerjaan, seperti ditulis Forbes, generasi terdahulu boleh jadi memandang tujuan bekerja utamanya adalah untuk mendapat uang semata, sementara sebagian milenial merasa pekerjaan adalah sesuatu yang mesti memenuhi kebutuhan aktualisasinya, harus terkait hal yang disuka atau bisa mewujudkan mimpi-mimpinya. https://tirto.id/quarter-life-crisis-kehidupan-dewasa-datang-krisis-pun-menghadang-dkvU

Lalu, apa saja persoalan yang khas dengan Quarter-Life Crisis?

  • [KARIR] Galau soal personal development. Mau ambil S2 atau kursus di mana? Termasuk soal biayanya dari mana dan kapan sebaiknya S2.
  • [RELASI] Nikah sama siapa, dan kapan nikahnya. Nikah sama teman yang sudah kenal lama ya gimana gitu ya, tapi nikah lewat cara ta’aruf ya gimana juga gitu. Masing-masing ada plus-minusnya. Kita yang biasanya kelamaan pilih-memilihnya sehingga jadi galau sendiri.
  • [KARIR] Kerja kantoran atau jalani passion? Boro-boro memilih ya, seringkali apa passion juga belum tahu since Passion is Overrated. Topik ini termasuk gaya hidup dan pendapatan. Passion erat dengan freelance yang awal-awal dijalani terasa berat dan feel lonely gitu. Kalo cari duit besar, ya kerja di kantor besar, meski belum tentu happy dengan peran yang didapatkan.
  • [FINANSIAL] Teman sekolah atau kuliah sudah memiliki (setidaknya masih mencicil) tempat tinggal (rumah, apartemen, dll) atau kendaraan (mobil, motor). Sudah travelling ke sana kemari, dalam dan luar negeri.

Terus, apa yang bisa saya sarankan?

  • [RELIGI] Jalani hidup dengan syukur dan sabar. Syukur kalau sudah punya, sabar kalau belum kesampaian.
  • [KARIR] Miliki rencana. Apa targetnya, dan kapan dicapainya. Tapi jangan kelewat baper, kalau melenceng sedikit, hatimu (bukan hatinya) yang akan sakit. Plan for the best, Prepare for the worst, Be ready for surprise. Saran lain: Don’t overmanage your career.
  • [RELASI] Kendalikan eksposur dari konten-konten socmed yang ambis(ius). Setir dan kendalikan hidupmu sendiri. Jangan biarkan konten socmed yang menyetirmu.
  • [RELASI] Perbanyak silaturahmi. Bukan dengan geng kantor, keluarga, atau tetangga. Salah satu target silaturahmi adalah mereka yang sekitar 10 tahun lebih tua. Mungkin mereka punya pendapat/nasihat untuk dibagikan denganmu. Supaya sehat psikismu.
  • [FINANSIAL] Miliki rencana keuangan (finansial plan). Utamakan menabung, lalu investasi. Tidak semua orang butuh travelling. Introvert seperti saya, malah lebih happy di rumah daripada keliling-keliling di weekend atau hari libur.
  • Jangan biarkan orang lain mengambil keputusan untuk Anda. Tentu kita harus mengambil referensi seluas-luasnya, meminta pertimbangan sebanyak-banyaknya. Namun keputusan harus kita yang ambil. Karena hanya kita yang merasakan akibatnya sendiri (atau sendirian).

Demikian, sedikit yang bisa saya bagikan ttg Quarter-Life Crisis. Apa kamu ada cerita juga? Yuk, berbagi lewat kolom komentar di bawah ini ya.

Week-End

Akhir pekan (week end) adalah sesuatu yang ditunggu-tunggu oleh hampir semua orang. Tidak terkecuali saya. Namun, bagaimana saya menghabiskannya sangat berbeda dengan orang kebanyakan. Simak di tulisan akhir pekan ini.

Week end is end of the week. Yeah, it should be like that. At the end of certain period (like a week), what should we do?

Family Time

Waktunya berkumpul dengan anggota keluarga yang lain. Waktunya quality time. Tiap pagi dan malam sih ketemu. Tapi kuantitasnya kurang banyak, jadilah kurang berkualitas.

Satu cara saya (dan kami) supaya waktunya berkualitas adalah …. mengurangi keluar rumah. Terlalu lama di jalan tidak baik untuk kesehatan jiwa. Begitu pun dengan terlalu lama di tempat tujuan.

Hampir tidak bisa itu “enggak keluar rumah”. Di akhir pekan, memang waktunya untuk ke mall, belanja, atau sekedar makan. Ke taman kota atau bahkan ke toko buku (iya euy, langganan majalah anak saja masih kurang. Suplemen bacaan dan aktifitas mereka harus ditambah tiap bulannya).

Alhamdulillah kami juga baru pekan lalu liburan bersama keluarga besar. Kalau hanya berempat, dalam kota saja lebih baik. Kalau ke luar kota, mungkin sama keluarga besar ya lebih enak. Perjalanan tersebut bertajuk “Explore Sul-Sel 2019” yang berbuah tulisan ini lengkap dengan gambar-gambarnya.

Me Time

Terlalu banyak waktu untuk kantor, maupun untuk keluarga, bisa menyedot waktu untuk diri sendiri (Me Time).

Padahal mengabaikan Me Time berarti menurunkan produktifitas kita untuk perusahaan dan untuk keluarga.

Saya penganut work-life balance. Empat puluh (40) jam seminggu untuk kantor. Kalau kurang, berarti lembur. Tapi lembur hanyalah tambahan. Yang di-“tambah”-kan bila memang dirasa “kurang”.

Saya pernah bela-belain kerja di atas 8 jam sehari. Many times, it is not worth it. Kampeni-nya gak tumbuh. Organisasi tidak membesar. Posisi tidak naik. Untuk apa menaikkan gaji? Apa pantas kita berkorban satu sumber daya, demi mendapat target lain (yang belum tentu berhasil didapat)?

Bukan menyuruh tarik tangan dari taruhan. Gambling is ok. But be smart with your risk management. Do not risk your time to only one activity. As you don’t put your eggs in one basket.

Hidup bukan soal mencapat satu target saja, ‘kan? Bagi saya, mereka yang sukses adalah yang bisa meraih beberapa target sekaligus dalam waktu berdekatan. Sementara tidak semua target soal karir atau soal uang.

Balik ke me-time. Saya senang menghabiskan waktu dengan mengenali diri saya sendiri. Seperti sekarang ini. Berpikir, berkontemplasi, sambil menulis. Blogging is adventuring and exploring your thought through writing. And that is quite relieving.

Sebagaimana saya menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga (ehm, untung rumah saya beneran ada tangganya, ya) semisal belanja ke pasar, mencuci baju dan piring kotor, menjemur pakaian, atau memasak. Iya, kami mengerjakan belanja dan masaknya sendiri. Karena ini rumah tangga, bukan rumah makan. Taraktakdungces!

Dan itu semua, cukup melegakan dan memberi energi untuk kembali ke hari Senin-Jumat di pekan berikutnya.

Do Your Hobby

Pulang kantor itu lelah fisik dan mental. Bahkan setelah mandi air dingin (atau panas) sekalipun, lelah mental masih ada. Setelah bermain dengan anak-anak, capeknya juga masih ada. Mental, bukan fisik. Jadi, waktu optimalnya adalah at the end of the week. Lagi, lagi dan lagi.

Karena itu kita wajib mengoptimalkannya untuk mengerjakan hobi. Namanya hobi, lebih baik daripada tidur. Karena tidur bukan hobi.

Satu hobi saya membaca. Seperti nge-blog, dengan membaca maka perasaan saya lebih lega. Pikiran saya pun lebih rileks, karena peregangan (stretching) dengan topik lain. Bukan mentok lagi dengan teknikalitas-nya technical writing.

Topik yang saya baca belakangan ini adalah parenting (because I’m a parent and a father), history (bukan segala sejarah, tapi yang berkaitan dengan sejarah hidup saya sendiri selaku muslim dan atribut lainnya semisal sekolah maupun kota asal saya).

Sembari membaca, saya jadinya memutar ulang memori-memori tentang buku atau tulisan yang pernah saya baca. Misalkan saya jadi ingat topik introvert yang beberapa kali saya tuliskan di sini dan di sini.

Evaluate and Plan

Jangan habiskan waktu dengan menjalani hidup begitu saja dan datar-datar saja. Setidaknya saya sedang berbicara kepada dan mengingatkan diri sendiri. Evaluasi seminggu terakhir melakukan apa saja. Rencanakan seminggu ke depan mau ngapain aja.

Journalling juga bagus banget. Karena sambil ditulis, ‘kan? Sudah bikin apa aja, mana yang belum sempat, atau belum beres. Planning juga mau dilanjutkan/diulangi lagi atau tunda dulu, dst.

Watch Chelsea

Si Biru yang dulu saya suka karena warnanya. Namun sekarang, semakin saya mengidolakan karna banyak kesamaan dengan diri saya.

Chelsea tidak hanya main di akhir pekan sih. Tengah pekan juga. Namun, yang paling tepat untuk disaksikan memang yang English Premier League itu.

Kabar terbarunya, mereka menjembatani kesuksesan masa lalu (past achievement) via Frank Lampard (manajer tim) dan Petr Cech (Performance and Technical Advisor) dengan pemuda-pemuda 18-22 tahun yang berasal dari akademi mereka. Sukses juara Piala Eropa tengah tahun ini menginspirasi tulisan yang ini.

Mulai low-battery nih laptop. Mendekati akhir. Sudah waktunya juga untuk mengakhiri.

I’m happy to have activities outside the house at the weekend. But as far as I know myself, the outdoor activities just getting better when I have finished my personal and family processes inside the home. And then, I’m ready to face my Monday to Friday.

Passion is Overrated

Kurang lebih beberapa belas tahun lalu, passion dipandang sangat penting. Bahkan, nyaris segalanya dalam berkarya. Lewat tulisan ini, mari pelajari cara memvalidasi passion supaya kita tidak terjebak dengan eutopia olehnya.

Katanya sih begitu. Passion is overrated. Tapi kini saya setuju. Awalnya saya sangat mendewa-dewakan passion. Bukan apa-apa. Kita menghabiskan berjam-jam waktu untuk bekerja (dan mencari uang), bagaimana bisa kita tidak bahagia setelah menghambur-hamburkan sekian jam tersebut setiap harinya? So, I conclude that passion is important for me, at least for my own happiness.

Sampai akhirnya kemudian saya mulai menyadari bahwa saya harus tumbuh. Bukan sekadar pribadi saya sendiri, tetapi juga menumbuhkan istri dan anak-anak saya. Dengan kata lain, menumbuhkan keluarga saya. Ada kewajiban-kewajiban sangat mendasar yang mereka butuhkan. Pangan, sandang, papan. Di sisi lain, ada kebutuhan maupun keinginan lain dari mereka yang datang kepada saya dengan nominal label harga tertentu. Bukan sekedar tertentu, melainkan harga mati yang tidak bisa ditawar lagi. Yang saya harus membayarnya.

Akhirnya, bagi saya sendiri, saya juga harus memiliki target kuantitatif yang jelas dan transparan. Untuk menutupi dan mencukupi berbagai kebutuhan dan keinginan tersebut tadi. Di sisi lain, mengakomodasi aspirasi keluarga kecil saya juga berarti bertumbuh dan berkembang bersama mereka secara sosial (dengan siapa kami berteman dan berhubungan) maupun ekonomi (bagaimana kami memperoleh uang dan mempertahankan gaya hidup).

Itulah alasan pertama passion is overrated. Karena bila kita egois hanya memikirkan passion dan kebahagiaan kita sendiri saja, maka kita sudah memberi nilai yang berlebihan (overrated) pada passion. Padahal, selaku suami dan ayah yang –katanya– bertanggung jawab, kita tidak boleh egois. Keluarga kita adalah pelanggan utama (prime customer) kita, yang harus kita rawat dan tumbuhkan. Dan passion tidak melakukan keduanya. Karya dan hasil nyata –berupa uang– yang mampu melakukannya.

Alasan kedua, adalah kita terlampau cepat menilai apa sebenarnya passion kita. Terlalu instant dalam menentukan dan memutuskan aktifitas/hobi apa yang ingin kita jalani. Terutama yang menghasilkan uang. Passion yang kira-kira menghabiskan banyak waktu, baik waktu sibuk maupun waktu senggang dan tetap menghasilkan.

Validasi Passion

Padahal validasi wajib dilakukan terhadap yang kita sebut “passion”. Beberapa periksa ulang yang harus dikerjakan:

  • Apakah ini passion sesaat (1-2 tahun saja) atau benar-benar yang ingin kita lakukan berpuluh-puluh tahun dalam hidup kita?
  • Apakah kita hanya ingin tampak keren (cool) dengan apa yang kita kerjakan, atau bahkan tidak ada masalah bila orang lain memandang dengan sebelah mata?
  • Apakah ini benar-benar menghasilkan uang yang lebih dari cukup –yang bisa membayar tagihan-tagihan kita– bila ditekuni terus-menerus?
  • Apakah kita benar-benar bahagia mengerjakan ini, atau apabila sedang dikejar tenggat waktu (deadline) atau sedang tertekan (stressed) kita akan tetap meneruskan passion ini?

Bila mengamati dan membandingkan Gen-X dan Gen-Y, saya menemukan bahwa Gen-X itu tidak ambil pusing dengan apa yang terjadi di tempat kerja mereka. Berbeda dengan Gen-Y yang bersikap sangat emosional terhadap segala yang dikerjakan. Sehingga, di mana saja dan kapan saja terus-menerus memikirkan apa yang sudah/sedang/akan dikerjakan. Gen-Y sangat terkoneksi dengan apa yang mereka kerjakan. Tidak heran Gen-Y benar-benar memilih apa yang ingin dikerjakan dalam hidup. Salah memilih sama artinya dengan melempar bumerang –yang kembali ke diri sendiri.

Salah satu sebabnya mungkin adalah betapa terkoneksinya kita dengan dunia digital, terutama social media. Dengannya, kita selalu membandingkan hidup kita dengan hidup orang lain. Seakan rumput tetangga selalu lebih hijau. Padahal, konten bisa direkayasa, ‘kan? Hanya yang indah-indah yang ditampilkan. Kita harus tahu dan yakin bahwasanya setiap orang memiliki masalah dan perjuangannya masing-masing. Di antaranya:

  • Ada yang sudah menemukan dan bekerja sesuai passion, ternyata hasil uangnya belum cukup untuknya. Apalagi sampai memuaskan keinginan ekonominya dan mengangkat gaya hidupnya.
  • Ada yang punya harta lebih dari cukup. Tapi jauh di dalam hatinya, tidak senang dengan apa yang dikerjakan.

Beruntunglah mereka yang sedang menjalani passion dan menghasilkan uang yang bisa membayar tagihan-tagihan mereka sendiri. Apalagi jika mereka menemukannya sudah sejak muda. Mudah-mudahan anda termasuk di dalamnya.

Dalam mencari dan menemukan passion itu kita harus menyediakan waktu yang banyak. Bertahun-tahun, bahkan. Tidak heran ada yang baru mantap menjalani passion-nya di atas usia 30 tahun. Berapa persisnya itu? 8 tahun setelah lulus kuliah. Atau malah 12 tahun sejak lulus SMA/SMK.

Simpulan

Sebagai kesimpulan, apa saja yang harus dikerjakan?

  • Fokus untuk memvalidasi sedikitnya 4 hal yang sudah disebut di pointer-pointer pertama.
  • Menyediakan waktu membangun keterampilan (skill) di bidang tersebut. Ini aspek internal, sebenarnya.

Silaturahmi dan berjejaring (networking). Selain sebagai bagian dari proses validasi, keduanya membantu kita mengembangkan pelanggan dan pasar kita. Di sinilah aspek eksternalnya.

Menyelami filosofi rumah panggung milik Suku Bugis

Desain rumah adat bukan sekadar karakteristik pembeda atau ciri khas semata. Melainkan ada fungsi-fungsi yang disediakan olehnya serta ada pula kebutuhan akan kecocokan dengan tipe aktifitas masyarakat setempat itu sendiri. Berikut ulasan saya mengenai rumah adat suku bugis.

Beberapa suku bangsa di Indonesia memiliki karakteristrik rumah adat tradisional masing-masing. Berhubung saya sedang berpariwisata sekaligus bersilaturahmi ke keluarga besar di tanah Sulawesi Selatan (Sulsel), izinkan saya mengulas filosofi dari rumah-rumah panggung yang menjadi tempat menginap kami selama beberapa hari. Sebisa mungkin saya lengkapi dengan referensi dari luar. Namun, sebagian besar tulisan ini merupakan eksplorasi dan eksploitasi saya pada fungsionalitas dari desain rumah-rumah panggung tersebut.

Rumah ini lumayan banyak betonnya. Padahal ya rumah panggung juga. Dinding rumahnya pun masih didominasi kayu. Bagian depannya saja yang diberi dak beton.

Namanya rumah panggung, penghuni maupun para tamu langsung “disambut” oleh tangga –yang terletak di depan rumah– menuju ke lantai dua. Beberapa rumah panggung bahkan memiliki dua tangga. Satu di depan, satu di samping. Jadi, rata-rata ruang tamunya berada di “panggung”-nya tersebut. Bagian kolong rumah menjadi gudang, kebun, kandang ayam, kamar mandi, dan lain-lain. Saya duga, rumah panggung ini didesain demikian karena suatu alasan khusus. Namun bukan alasan semisal banyaknya binatang buas, sehingga penghuninya harus diamankan dari binatang buas tersebut.

Bagian depan rumah panggung. Di sisi kiri, terlihat tangga depan ya. Biasanya tiap rumah ada dua tangga. Depan-samping atau depan-belakang. Lihat, semuanya didominasi kayu: lantai, tangga, plafon. Atap depan saja yang sudah menggunakan genteng metal + rangka baja ringan.

Kalau versi ‘mistis’ dari desain dan rancangan rumah panggung konon sebagai berikut ini. Dahulu, nenek moyang kita percaya dengan kekuatan-kekuatan alam. Di mana, ‘atas’ adalah alam Tuhan, ‘tengah’ adalah alam manusia, dan alam ‘bawah’. Tidak heran, hewan-hewan diternakkan di bawah panggung rumah, manusia di ‘tengah’ alias di panggung-nya, dengan bagian atap berperan sebagai lumbung padi perlambang anugerah pemberian Tuhan.

Struktur dan lantainya didominasi oleh kayu pohon ulin. Jadi bisa dikatakan, rumah-rumah panggung di sini didominasi oleh kayu dan perkayuan. Jangan meremehkan karakter kayu sebagai bahan dasar pembangunan rumah ya. Karena kayu memiliki kelebihan pada kelenturannya. Jadi meski dihuni oleh banyak orang, rumah panggung berbahan kayu pun tidak ambruk. Sebab, berbagai tekanan maupun getaran yang ditimbulkan akan diserap oleh kelenturan material kayu tersebut. Terasa sekali dari langkah-langkah kaki kita di atas rumah panggung, namun tanpa perlu diliputi oleh rasa kekhawatiran akan kemungkinan ‘terjeblosnya’ kita ke bawah.

(Mungkin foto kurang jelas) Di seberang sana ada mobil terlihat, ‘kan? Nah itu memang jalan raya. Jadi di perbatasan Parepare-Barru memang ada lembah sedikit di kanan-kiri jalan raya. Di lembah itulah rumah panggung dibangun. Memang dekat dengan pantai dan banyak sungai ya, jadi gak heran tanah tempat berdirinya rumah lebih rendah dari jalan raya.

Untuk cuci piring, kebanyakan melakukannya di lantai keramik (kira-kira luasnya 2×1 meter) yang diisolasi oleh dinding bata berkeramik setinggi kurang lebih 10-15 cm. Jadi ada keran di sini yang menarik air dari bawah ditemani dengan beberapa buah ember/waskom. Hanya sebagian kecil rumah panggung yang memiliki bak cuci (washtank).

Sebagaimana sudah disebut di atas, kamar mandi banyak pula yang berada di bagian bawah rumah. Alias dari ‘panggung’ harus menuruni tangga-tangga kayu menuju kamar mandi atau toilet; yang bila masih sangat tradisional, mengandalkan air dari sumur. Lebih canggih sedikit, akan menggunakan pompa air dan keran.

Wah, ini sebenarnya masih di rumah yg gambar pertama di atas. Rumah dominasi beton yg di seberang sana. Kalau dari tempat saya memotret ini, masih 95% kayu. Tuh, terlihat kan ya, tiang-tiang dari kayu ulin di rumah seberang. Ada pondasi kecilnya juga. Pondasinya gak disembunyikan di tanah. Jadi pondasinya memang terlihat begitu.

Di daerah keluarga saya banyak bertempat tinggal (dekat Kota Parepare tapi masih wilayah Barru, sudah cukup modern secara pengetahuan dan relatif mapan ekonomi masyarakat setempat. Meskipun rumah berbahan kayu, namun memiliki kendaraan pribadi (didominasi sepeda motor, sebagian kecil memiliki mobil) dan pemuda-pemudanya banyak yang sarjana –dari kota Makassar.

Karena hampir 100% didominasi oleh kayu –saya pakai kata ‘hampir’ karena saya gak yakin sepenuhnya rumah-rumah panggung ini benar-benar 100% kayu—maka bisa dikatakan rumah ini relatif ringan. Dan oleh sebab itu, rumah panggung tersebut dapat dipindahkan!

Dan ternyata pemindahan rumah panggung memang pernah terjadi di keluarga besar kami. Yaitu ketika nenek saya menjual bangunan rumahnya kepada seorang tetangga. Jadi bangunan tersebut dipindahkan oleh banyak warga masyarakat (tentu didominasi oleh tetangga setempat, ya) ke tanah milik tetangga tersebut yang berjarak hanya puluhan meter. Jadi, transaksi yang terjadi bukan jual beli tanah dan bangunan –seperti yang umum terjadi—namun, hanya meliputi bangunannya saja.

Berikut ini contoh pemindahan bangunan rumah panggung –yang ternyata ada upacaranya segala. https://www.youtube.com/watch?v=uXrzpGCebKw

Berhubung kebanyakan kota-kota di Sulsel masih didominasi oleh kabupaten (hanya tiga kotamadya, yaitu Makassar selaku Ibukota Provinsi, Parepare serta Palopo) yang mencerminkan pula tingkat perekonomian secara umum, maka bisa dikatakan harga tanah relatif belum mahal di kabupaten-kabupaten tersebut. Sehingga kepemilikan tanah pun relatif luas (di atas 150 meter persegi) yang berakibat pada luasnya bangunan rumah-rumah panggung tersebut di atas.

Nah, dalam pada tingkat keakraban antar warga yang masih kental, diikuti dengan aktifitas warga masyarakat yang tidak terlalu commute seperti di Jabodetabek, maka bangunan rumah panggung berfungsi ganda. Tidak hanya sekedar tempat tinggal, namun juga sebagai lokasi penyelenggaraan acara-acara besar keluarga seperti akad nikah, sunatan, dan acara-acara monumental lainnya.

Bangunan yang luas, didukung dengan keakraban dan bantuan dari tetangga-tetangga dalam penyelenggaraan acara, semakin mengokohkan posisi rumah panggung sebagai (1) tempat tinggal yang cocok untuk lingkungan kabupaten dengan jarak antar rumah yang tidak saling menempel, dan sebagai (2) infrastruktur yang menopang kokohnya kehidupan bermasyarakat warga bugis di Sulsel.

Sekedar perbandingan, semakin memasuki pusat Kota Parepare, maka kita akan semakin jarang menemukan keberadaan rumah panggung. Kurang lebih, perkiraan kasar hasil observasi saya, rumah panggung sudah berkurang hingga 20%-25% saja. Di dalam lingkungan perkotaan yang padat penduduk, dengan harga tanah relatif lebih mahal, maka rumah panggung bukan lagi solusi tempat tinggal yang wajib mendapat prioritas utama. Masih tetap ada yang mempertahankan rumah panggung di Kota Parepare, namun keberadaannya tidak sebanding dengan dominasi rumah batu (bata).

Demikian observasi kasar saya selama dua hari di Kabupaten Barru dan dua hari di Kota Parepare ini. Besok pagi kami akan menempuh perjalanan menuju Kota Makassar. Yang tentunya, dinamika tempat tinggalnya lebih tinggi daripada dua daerah tingkat II yang sudah disebutkan sebelumnya.

Dunia Berubah Setiap 30 Tahun, Lalu Apa Yang Harus Dilakukan?

Tiga puluh tahun yang lalu jelas berbeda dengan yang sekarang. Yang sekarang pun, jelas akan berbeda dengan yang terjadi 30 tahun lagi. Bagaimana menyikapinya?

Waktu kecil dahulu, saya jarang ke luar kota. Keluar kota pertama yang benar-benar saya ingat adalah ikut lomba matematika mewakili sekolah. Ke Samarinda. Ikut lomba, kalah, menangis, jalan-sore-makan-malam-kembali-ke-asrama. Esoknya pulang tanpa memahami bahwa si Samarinda ini (demikian pula dengan Balikpapan) sebenarnya hidup dari mana. Lebih tepatnya, hidup dari industri apa.

Long-story short, saya end-up dengan memahami bahwa tidak semua orang/keluarga/kota memiliki keberuntungan ekonomi. Saya pikir, semua kota itu seperti Bontang. Dibangun oleh perusahaan instead of penduduknya. FYI, Bontang itu menghasilkan gas alam. So, pemerintah kita bangun industri pupuk berbahan baku si gas alam tersebut. Jadi keramaian penduduknya, maupun ekonominya, termasuk fasilitas umum di kota tersebut ya dibangun oleh si dua perusahaan tersebut.

Actually, seumur-umur mungkin hanya 1-2 kali saya ke Bontang. Tapi berhubung pernah sepedaan di kompleksnya Petrokimia Gresik, kebayang lha, seperti apa kotanya. Industrinya sedemikian besar sehingga pabrik, kantor, perumahan semua berada dalam satu kawasan besar.

Kembali ke Balikpapan, di tahun di mana Donald Trump dilantik dan bersamaan dengan Pilkada DKI, satu di antara tiga perusahaan asing sudah habis kontraknya dengan negara. Jadi, lapangan minyaknya dikembalikan ke negara (via Pertamina), tentu saja. Setahun kemudian, satu big company lagi menyusul. Simply karena kontrak berdurasi 30 tahun tersebut sudah habis.

Kata rekan-rekan sekolah, ekonomi turun signifikan. Apalagi 1-2 tahun sebelumnya harga batu bara demikian rendahnya. FYI, ada titik harga tertentu pada batubara, yang sedemikian tingginya sehingga kamu bisa menyekop sendiri batu bara, memasukkan ke dalam karung, lalu menjualnya.

Pasca harga batu bara kembali membaik, hanya mereka company yang punya backup politik dan kemampuan modal yang mampu melanjutkan operasinya: mengupas kulit bumi dan “menyekop” batubara.

Sekarang, di Balikpapan praktis mengandalkan “sisa-sisa” perusahaan minyak tersebut, industri batubara, serta ritel yang semakin berkembang. Alfamidi mendominasi di sana. Setidaknya, ada dua brand lokal dengan beberapa cabang. Lalu, sebagai kota yang disinggahi untuk menuju daerah Kaltim lainnya, Balikpapan punya industri MICE yang lumayan.

Yang Sekarang Berkembang

As you know, sekarang industri yang berkembang adalah yang terkait IT startup. Kota yang “beruntung” tentu jakarta. Hampir semua berawal di sana dan masih bermarkas besar di sana. Sebagian kecil mulai memasuki Bandung sebagai R&D Center. Lalu, mulai buka kantor cabang operasional di kota-kota besar di Indonesia. Gojek sudah di 167 kota dan kabupaten. Konon, Tokopedia akan ekspansi berupa warehouse di sedikit kota besar di Indonesia. Mereka yang berjualan dengan Go-Food akan naik 150% dibanding yang hanya buka offline saja. Mereka yang pakai MokaPos akan dapat insight terkait bisnis yang mereka geluti.

Intinya adalah dunia terus berubah. Perubahan tidak bisa dilawan, tapi bisa diajak berkawan. Memang ini lagi zamannya IT, maka memasuki IT-related industry mestinya sudah pilihan yang tepat. Tapi bagaimana dengan 30 tahun lagi? Seiring berjalannya waktu, tentu kita harus terus mengobservasi, melakukan beberapa testing, sembari menyimak apa kata konsultan.

Simpulan

Kita tidak bisa menjamin bahwa anak-anak kita akan menjalani industri yang sama dengan kita hari ini. Namun, kita perlu menanamkan kepada mereka bahwasanya dunia terus berubah dan mereka wajib mempersiapkan diri dengan apa yang akan terjadi 30 tahun dari sekarang.

How to Control and Drive Your Introvertness?

Contents: 1. Do your own meditation 2. It’s oke to not climbing the corporate ladder 3. Never Eat Alone.

Sewaktu istri dan adik perempuan saya dengar dari saya sendiri bahwa saya seorang introvert, mereka kaget. Awalnya, mereka duga saya adalah seorang ekstrovert. Tapi saya tidak mau bertanya lebih lanjut, saat itu.

Ada dua kemungkinan memang. Pertama, spektrum introvert-ekstrovert yang mereka kenal, mungkin berbeda dengan yang saya ketahui. Kemungkinan lainnya adalah saya sudah berubah menjadi lebih ekstrovert daripada yang bahkan saya pernah duga.

Saya mau bahas topik ini, simply karena ternyata banyak introvert ini merasa tidak nyaman dengan weakness yang secara umum disematkan kepada para introvert. Misalnya, karakter seperti pendiam, tidak mau bergaul, dan sebagainya.

Saya mengakui saya cukup pendiam, memilih-milih dengan siapa saya berinteraksi, mencari inspirasi dari dalam diri saya sendiri, dst. Beberapa menilai saya “lemah” karena demikian.

Padahal, namanya juga karakter kan, ada strength dan weakness-nya. Demikian juga dalam karakter introvert. Pasti ada keduanya. Tidak mungkin cuma punya strength. Pasti ada wekness-nya juga. Oleh sebab itu, dengan bijak saya pikir dan simpulkan, jangan bahas weakness-nya seseorang saja. Itu tidak nyaman dan sesungguhnya tidak sopan.

Lihat yang saya temukan di quora. Pertanyaannya berbunyi, “Mengapa introvert sering dipandang rendah?” Hal ini tentu mengindikasikan temuan-temuan di lapangan yang notabene memang demikian adanya.

Daripada bertanya demikian, menurut hemat saya, lebih baik pikirkan tentang strength orang tersebut dan apa yang bisa kamu lakukan bersama dengannya. Jadi, berikut ini tanggapan saya terhadap pertanyaan tersebut.

Menurut saya, karena lingkungan kita terlalu mengidolakan para extrovert.

Padahal, kita sebagai individu maupun kelompok, membutuhkan keduanya secara seimbang. Berikut beberapa kasusnya:

Orang-orang ekstrovert jago menjual apa saja. Bahkan untuk hal sederhana seperti makan di mana, pergi ke mana. Kita introvert tidak harus seperti itu. Namun, harap diingat kewajiban kita juga: kita wajib bisa “menjual” gagasan, produk, bahkan karya kita.

Orang-orang ekstrovert tampak berteman dengan semua orang. Untuk introvert, kita cuma harus melakukan filter lalu berhubungan dengan orang-orang yang tepat: para pengambil keputusan, orang berkantong tebal, dll.

Lingkungan kita juga kelewat memberi penilaian lebih pada leadership dan team work. Padahal, hal-hal semacam fokus, konsistensi, perhatian pada detil juga tidak kalah penting.

Introvert dipandang rendah karena tidak bisa memimpin. Terhadap perspektif tersebut, menurut saya, ada dua hal yg bisa dilakukan oleh intovert:

Jadi anggota tim yg baik. Tidak membebani tim, supportif dan melakukan coaching kepada anggota tim yg lain, proaktif terhadap pekerjaan, dst. Jangan lupa sesekali ikut makan siang bareng atau ngopi sore/malam bersama anggota tim yang lain.

Be the best in your area of specialist area. Jadilah yg terbaik, sampai mereka sangat berharap pada anda. Seperti sebuah judul buku, “Be so good, They Can’t Ignore You“.

Dalam dunia kerja, kerja tim (team work) dan kepemimpinan (leadership) adalah dua aspek kepribadian yang dipantau, dinilai dan dianggap signifikan dalam perjalanan perusahaan sebagai sebuah institusi bisnis. Baik sebagai subordinat (bawahan) atau superordinat (atasan).

Ambil contoh resign-nya seorang karyawan. Dari sisi HR (Human Resources) hal tersebut dapat dijadikan sebagai umpan balik (feedback) perihal compensation and benefit. Dari sisi leadership, hal tersebut bisa jadi karena karyawan yang bersangkutan merasa tidak nyaman dalam bekerja. Dalam hal memberikan situasi dan kondisi yang optimal terhadap masing-masing karyawan, memang merupakan seni tersendiri. Seni kepemimpinan. Since, leadership is an art.

Tapi, persoalannya adalah tidak semua introvert mampu memberikan lingkungan yang kondusif bagi tiap pribadi yang menjadi bawahannya, bukan?

Bagaimana kita sebagai introvert memandang hal ini?

Menurut saya, strength-nya introvert itu terletak pada fokus, konsistensi, dan perhatian pada detil. Tentu ini sekilas menurut pandangan saya semata. Sebagaimana tersampaikan dalam jawaban Quora di atas.

Kaitan dengan hubungan terhadap orang lain, introvert secara umum tidak menyerap ide, inspirasi, aspirasi dari orang lain. Introvert malah menemukan ketiganya dari dalam diri sendiri. Tidak heran, introvert yang lelah berada di keramaian kemudian harus memberikan “penawar” yang seimbang berupa meditasi/perenungan/refleksi di kesendirian kepada dirinya,

Leadership and team work seakan domainnya para ekstrovert. Tidak heran hampir seluruh perusahaan menuntut keduanya dari tiap karyawannya. Yang secara tidak langsung menuntut mereka semua berperan dan berkarakter sebagai ekstrovert di perusahaan.

Padahal, dalam tiap pekerjaan masing-masing, terutama yang berkaitan dengan teknis (technique), seni (art), karya (craft) harus diberikan porsi ke-introvert-an (introvertness) yang cukup. Sehingga kita terus-menerus melakukan perbaikan berkelanjutan (continous improvement) pada pekerjaan kita.

Tidak semua pekerja harus naik ke level manajemen. Sebagian karyawan harus didorong untuk menjadi professional yang paling expert di bidangnya masin-masing. Dan sebagai introvert, boleh lho kita memilih untuk masuk ke kategori kedua.

Kaitan dengan pertemanan, ada sebuah buku dengan judul yang sangat provokatif “Never Eat Alone”. Awalnya tidak percaya. Tapi lama-lama terasa benar dan saya selalu berusaha mempraktikkan di setiap waktu. Itu baru satu tips dalam buku tersebut (yang kemudian menjadi judul bukunya, yah). Tapi tips-tips sejenis dari buku tersebut juga sangat bermanfaat dan applicable untuk dipraktikkan.

Demikian renungan hari ini.