Perubahan Hidup Selama Pandemi

Bukan hanya bagaimana saya bekerja yang berubah; tetapi juga dimensi-dimensi lain dalam hidup. Dan bagaimana mengumpulkan keping-keping hikmah dari sana.

Kantor “merumahkan” separuh dari kami selama sepekan. Dan separuh lainnya di pekan berikutnya. Dan begitu seterusnya entah sampai kapan. Sampai pandemi ini berakhir, tentu saja. Tapi kapan itu? Belum ada yang tahu.

Satu yang saya yakini dari work-from-home adalah produktifitas kita tidak akan sama dengan berada di kantor. Bukan sekedar perbedaan ruang, namun juga suasana saling mendorong untuk produktif itulah yang ada di kantor. Di sanalah kita wajib menjawab tantangan bagaimana supaya tingkat performansi kita tetap sama.

Saya selalu mandi pagi sebelum bekerja. Mandi pagi adalah “ritual”. Bekerja sebelum mandi, rasanya bekerja kurang mantap. Sambil mandi, “merapal” apa-apa saja yang mau dikerjakan. Sembari me-review juga yang sudah dilakukan kemarin. Bagaimana melanjutkan pekerjaan kemarin dengan pekerjaan hari ini.

Yang jelas, tidak ada lagi ritual “melihat jalan raya” dalam perjalanan ke kantor. Percaya atau tidak, itulah yang membuat saya lebih betah di kantor daripada di rumah. Karena bekerja di rumah, sooner or later, akan membosankan.

Aktifkan tethering di HP, lalu membuka laptop harus diiringi dengan kesadaran “saya tidak bekerja sendiri”. Seseorang, atau beberapa orang rekan di kantor, sedang menunggu hasil dari yang saya kerjakan. Atau sebaliknya, saya menunggu seseorang menyerahkan sesuatu kepada saya untuk kemudian saya tindak-lanjuti. Karena saya tidak bekerja sendirian. Sama seperti di kantor, membuka youtube atau aplikasi hiburan yang lain tidak boleh lama-lama. Penulis seperti saya, malah lebih sering “terjebak” di blog-blog instead of socmed video-audio tersebut.

Anak-anak di rumah belum sekolah. Belum merasakan rutinitas belajar bersama guru di ruang kelas. Belum paham rasanya punya teman. Praktis, di rumah saya tidak terbebani untuk jadi guru sementara sebagaimana banyak orang tua yang lain. Banyak yang mengeluhkan, karena baru menyadari, bahwasanya menjadi guru itu berat ternyata. Seorang teman sampai bernyanyi, “hormati gurumu, sayangi temanmu” dst sembari mengajar anaknya di rumah. Yang baru paham setelah mempraktikkan betapa rumitnya menjadi seorang guru.

Tapi, berhubung mereka seumuran, mereka jadi teman satu sama lain. Sesekali, menjadi “musuh” bagi saudaranya. Terutama ketika jenuh melanda. Pelampiasannya ke hape tersebut di atas. Yang sedang dipakai tethering. Tidak jarang, hape dibawa pergi menjauh dari laptop sang pekerja. Sinyal menghilang, tiba-tiba luring (luar jaringan), alias offline. Usut punya usut. “pencuri” hape ternyata asyik-masyuk menikmati youtube pahlawan kesayangan yang sedang battle. Tidak lama, entah sebab yang mana -ada terlalu banyak sebab- tiba-tiba mereka “battle” sendiri. Tentu si pekerja harus meninggalkan layar, berubah peran menjadi pelerai.

Di momen lain yang tidak terjadi sekali dua kali, tiba-tiba si laptop offline. Setelah penelusuran oleh tim investigasi, ternyata hape kehabisan daya di tangan-tangan dua orang penonton (youtube). Jadilah hape di-charge. Sembari diberikan informasi, “jangan dicabut ya dari charger-nya”. Tidak lama kemudian (lagi), offline lagi. Ditengoklah ke charger. Hah?! Hapenya sudah tidak ada. Rupanya dua tersangka membawa pergi device youtube-nya “mereka”. Menonton (lagi) sampai habis daya (lagi).

Pandemi ini mengubah separuh pola makan saya. Yang sesekali jajan di warung, menjadi tidak jajan sama sekali. Harus menu rumahan. Pokoknya mengubah isi kulkas menjadi masakan aja. Sarapan nasi kuning atau kupat tahu petis terpaksa di-hold dulu. Jajan-jajan gorengan distop sama sekali. Waspada saja. Barangkali kang gorengannya termasuk OTG (orang tanpa gejala).

Belanja ke pasar ga boleh rame-rame. Cukup seorang saja. Dan perbanyak protein. Biar kuat menghadapi virus. Terpaksa merogoh kocek lebih dalam. Padahal koceknya saja enggak dalam-dalam amat. Sedapatnya saja. Sering pula belanja tahu di kang yang lewat. Kalau bukan untuk dimakan sendiri, setidaknya untuk snack dan lauk maksi-nya pak-pak tukang renov. Minimal, kami berniat supaya beliau berdua tidak ikut sakit juga. Repot kalau kami ketularan, atau mereka yang ditulari kami.

Sekian ratus menit terhemat akibat pandemi ini. Hidup jadi lebih efisien. Karena tidak menghabiskan sekian menit pergi-pulang kantor. Ambil minum beberapa langkah; bukan puluhan langkah. Meeting online, tidak di ruang meeting atau ke meja rekan. Sepatutnya jadi jalan memperbanyak amal ibadah yang ringan seperti membaca Al-Quran.

Seperti sempat saya singgung di atas, stay-at-home dan work-at-home itu membosankan. Bahkan membuat stress. Namun, ini worth it untuk dijalani dan it shall pass, too. Justru di momentum seperti inilah passion rebahan kita sedang diuji. Dunia membutuhkan kepahlawanan kita! Yaitu bagaimana kita bisa konsisten stay-at-home selama berhari-hari dan berminggu-minggu (mudah-mudahan tidak lebih dari dua bulan, ya) bersama dengan passion rebahan kita.

Hiburan saya di sabtu dan minggu malam. Kini tiada lagi. Mudah-mudahan sementara saja. Lebih baik bermain tanpa penonton di stadion di tanah-tanah Britania demi hadirnya konten sepakbola berkualitas di (layar-layar kaca) di tanah air. Sebenarnya, mereka sendiri juga tidak kuat menjalani keadaan demikian. Karena pengeluaran gaji, perawatan stadion, dan sebagainya juga jalan terus. Bisa bangkrut kalau tidak segera dijadwalkan dan dimainkan kembali partai-partai yang terhutang tersebut. Mungkin tidak semua jadwal pertandingan bisa direalisasikan, tapi setidaknya berilah kesempatan kepada para fans Liverpool untuk melihat timnya juara. Yeeaaahhhhh!!!!! (ikut lebay karena tidak juara selama 30 tahun).

Selalu ada hikmah di balik krisis. Pandemi ini memutar-balikkan kebiasaan-kebiasaan “jahiliyah” kita sebelumnya. Kumpul-kumpul yang tidak perlu. (padahal tidak ada wajah baru dalam perkumpulan tersebut. Tidak juga membicarakan proyek baru). Minum-minum gula yang berlebih via kopi dan teh di kafe. (padahal sudah minum satu di antara keduanya di rumah. Gulanya dua sdm, pula!). Ambil makanan atau pegang sesuatu tanpa cuci tangan (kini jadi lebih sering cuci tangan menggunakan sabun sampai ke punggung tangan yang dialiri air mengalir selama dua puluh detik).

Sebagai homo sapiens dan umat Nabi Muhammad, hendaknya kita menjadi manusia-manusia yang berpikir ya. Merenungi dan meresapi hikmah dari semua ini. Sulit memang membuktikan kaitan pandemi ini dengan kegagalan-kegagalan kita menjadi khalifah di muka bumi. Tapi setidaknya kita men-tafakkur-i dan berdiskusi dengan rekan maupun keluarga perihal hikmah-hikmah tersebut. Bukan mem-forward terus-terusan narasi yang sulit dibuktikan tersebut ke grup-grup WA kita. Justru, di sanalah yang membedakan kaum-kaum yang berpikir dengan yang tidak.

Talking to Strangers

Buku baru Om Malcolm Gladwell menginspirasi saya untuk berbagi kisah-kisah dengan si orang asing.

Mungkin kita, atau lebih tepatnya saya sendiri doank, berangkat dari asumsi bahwa orang asing adalah orang yang baik. Minimal, dia jujur.

Jelas sulit kalau kita memulai relationship dengan seseorang –bahkan hanya untuk sekedar mengobrol dengan orang asing di angkutan kota, ya—dengan negative thinking terus. Saya biasanya memberikan trust dulu. Bahwa ada harapan yang tidak terpenuhi –atau, pengkhianatan yang lebih ekstrim—itu lain hal dan itu urusan kemudian.

Asumsi tersebut di atas adalah yang dibawa pertama kali oleh Malcolm Gladwell di buku terbarunya: Talking to Strangers. So, not only me, tapi menurut penuturannya, kebanyakan orang memulai dengan menitipkan keyakinannya dulu. Namanya barang titipan ya kan, tentu bisa diambil kembali suatu waktu nanti.

Tampak bukan masalah besar, memang. Namun di sanalah kehebatan seorang penulis seperti Gladwell. Sebuah gagasan sederhana bisa diramu dan dikemas sedemikian rupa untuk membuktikan bahwa tidak semua asumsi terwujud seperti yang diasumsikan, atau bahkan hal-hal besar dan buruk –seperti Perang Dunia II—bisa terjadi. Beberapa pejabat tinggi Inggris pada masa tersebut, setidaknya dua kali berbicara langsung dengan Der Fuhrer Hitler. Keduanya merasa disambut baik dan hangat sembari menduga bahwa Jerman tidak akan memulai perang yang maha besar. Kenyataan pahitnya, kita sesekali salah dalam menilai orang asing dan itu bisa berakibat fatal.

==

Dalam hal trust, mungkin saya berbanding terbalik dengan ayah saya. Saya mudah menitipkan kepercayaan, sedang beliau tidak. Beliau cenderung periksa, periksa, dan periksa. Beliau mantan orang finance, memang. Sudah puluhan tahun berkarya di bidang tersebut. Di masa pensiunnya, tabiat periksa, periksa, dan periksa lagi masih terus dipelihara. Bukan sesuatu yang buruk, kok. Tapi tidak semua orang nyaman ditelepon atau dikunjungi tiba-tiba, kemudian ditanyakan/dikonfirmasi mengenai perkembangan suatu pekerjaan/proyek. Dari sudut pandang yang diberi pekerjaan, mereka menduga tidak-bisa-dipercaya. Dari sisi yang sama, ada ketidaknyamanan bila sidak dilakukan.

Mencoba mengenali lebih dalam, kita berhak mendukung dan melihat ayah saya sebagai pribadi dengan standard tinggi. Tidak hanya high-standard, tetapi juga menjaga dan mempertahankan standard tersebut. Demikian lah bila kita melihat semata dari hubungan transaksional saja. Pada kenyataannya manusia itu kompleks; terdiri dari beberapa peran sekaligus; bukan hanya peran ekonomi saja. Di luar peran-peran tersebut, homo sapiens ingin diperlakukan secara manusiawi; lewat tutur kata yang baik dan sopan adalah salah satunya saja.

Beberapa tahun lalu, kala Go-Car dan Grab-Car belum menjadi arus utama apalagi kekinian, saya berkendara dengan taksi bersama beliau. Cukup heran rupanya beliau itu. Karena, saya mengobrol dengan pak supir. Tatkala sudah sampai tujuan, beliau bertanya, “Kamu biasa kah ngobrol sama supir taksi kayak begitu?”. Saya tanggapi dengan santuy, “Biasa aja. Tidak ada masalah.”. Jelas, sopir taksi adalah orang asing bagi beliau. Dan mungkin persoalan dengan orang asing adalah kita tidak mudah berbagi informasi. Tapi jelas itu persoalannya. Ayah saya tidak ingin terjebak dengan tidak sengaja memberikan informasi yang bisa berakibat fatal.

Sebagaimana supir taksi, driver ojek online, baik sepeda motor ataupun mobil, adalah orang asing, ‘kan? Namun, itu tidak menghalangi kita untuk mendiskusikan sesuatu. Tapi, bukan berarti tidak ada rules-nya ya. Meski mengobrol, baik duluan memulai atau sebaliknya, saya cenderung tidak membuka informasi diri. Apa yang saya kerjakan sebagai penghidupan, saya berasal dari mana, dan seterusnya. Topik-topik saya biasanya hanya seputar driver ini tinggal di kelurahan/kecamatan mana, dan apakah hari ini (sabtu/minggu) beliau merasakan macet atau tidak. Di kota kami yang turut mengandalkan pariwisata, sabtu-minggu cenderung macet dengan tamu-tamu dari luar kota.  

Antara kita selaku penumpang dan para driver ada komitmen transaksi kan yah. Kita diantar sampai tujuan dengan selamat, dan kita membayar. Pihak ketiga seperti Go-Jek dan Grab sudah sangat membantu pelaksanaan transaksi tersebut. So, kedua pihak bermuamalah hanya sebatas transaksi tersebut. Di luar itu, kita harus berhati-hati. Karena kita adalah orang asing bagi satu sama lain. Bukan hanya kita penumpang bersikap waspada seperti yang saya ilustrasikan di paragraf sebelumnya. Namun juga bagaimana driver bertindak dan berkomunikasi dengan waspada pula kepada para customer-nya. Bukan tidak pernah lho driver dicelakai akibat ulah customer. Kita semua harus hati-hati karena kita Talking to Strangers.

Di antara kelahiran travel-travel Jakarta-Bandung pp dan trio Go-Jek, Grab, Uber ada usaha-usaha nebeng antara daerah di Jabodetabek, atau Jakarta-Bandung yang komunikasinya dibantu oleh Twitter. Nebengers, namanya. Nebengers mensyaratkan, semua komunikasi harus lewat twit, serta menyebut akun @nebengers dan/atau tag #nebengers sebagai manajemen risiko guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Namanya lewat twitter ya, komunikasi terbatas 140 karakter. Tidak heran muncul istilah semisal “share bentol” alias uang bensin dan uang tol dibebankan kepada semua.

Sekedar berbagi pengalaman pribadi, dalam suatu per-nebeng-an dari ibukota ke ibukota, kami dibebankan Rp50ribu/kepala. Di row kedua dan ketiga, peserta nebeng sengaja ditambah dua orang hingga melebihi kapasitas si roda empat. Untungnya, saya duduk di samping supir yang ternyata sedang dalam rangka ngapel ke perempuannya dan butuh modal. In total, dia mendapat “modal” sebesar Rp350ribu untuk pacaran. Hahaha.

Kini, nebengers sudah menggunakan mobile app tersendiri. Tentu harus sign-up untuk mendaftar, dan login tiap kali menggunakan. Identitas yang jelas antara pemberi dan penerima tebengan, memperkecil kecurigaan serta meningkatkan kepercayaan di antara kedua pihak.

Demikianlah kisah-kisah saya seputar berinteraksi dengan orang asing. Apakah kamu ada pengalaman serupa? Boleh share di kolom komentar, ya!

Mengapa Millennial Memilih Bekerja di Startup?

Nyata sekali millennial cenderung bekerja di startup. Tulisan kali ini coba otak-atik gathuk menjawab fenomena tersebut.

Saya termasuk millennial. Meski bukan core of the core-nya, tapi termasuk angkatan-angkatan awal. Sebagai angkatan awal, saya pernah lho nyoba warnet di mall. Saking belum menjadi magnet independen, warnet nya masih numpang di mall, lho. Itu juga banyak gagalnya buka web AC Milan. Lebih lama nunggunya daripada bacanya. Sempat juga merasakan internet di rumah sendiri. Tapi kalau internet menyala, telepon rumah gak bisa dihubungi. Dan habisnya bisa Rp500ribu per bulan. Pastinya angka segitu lebih bernilai daripada angka segitu saat ini. Wkwkwk.

Di tahun-tahun saya kuliah, internet sudah lebih terjangkau. Belum sampai di hape, memang. Tetapi warnet sudah banyak, harganya lebih ramah di kantong. Cuma, kontributor di internet yang belum banyak. Jadi mau cari apapun, banyak yang belum ada. Pernah punya akun Friendster, tapi saya lebih aktif di facebook (padahal lebih baru tapi lebih cool) karena mainnya lebih enak. Akhirnya saya juga lebih banyak “bersembunyi” di blog. Facebook maupun Twitter, terasa terlalu hingar-bingar.

Too much information, kayaknya. Oke, back to topic.

Instant dan Tidak Sabar.

Alasan pertama, Millennial itu suka yang instant. Teknologi digital menyebabkan user-nya tidak bisa sabar dan selalu ingin mendapat response cepat — seperti menerima response setelah melakukan satu kali klik beberapa milisecond yang lalu. Demikian pula dengan target-target dalam hidup—termasuk karir. Millennial ingin target karirnya segera terwujud. Tidak sabar menaiki tangga korporasi. Memilih bergabung dengan perusahaan yang masih kecil. Atau, mendirikan usaha sendiri. Kita tahu, kedua macamnya bisa disebut sebagai startup, ‘kan?

Social media berperan besar dalam hal ini. Kita millennial takut untuk ketinggalan. Ya ketinggalan mengkonsumsi/menikmati, maupun terlibat dalam ikut membuatnya. Sebutannya FOMO (Fear of Missing Out). Takut untuk tidak perform, tidak deliver dan membuat impact. Startup memberikan kemungkinan untuk mengelola banyak hal, menciptakan pertumbuhan, dan membuat impact yang bisa dipamerkan di social media.

Yang jelas, social media harus disikapi secara bijak. Segala konten dan cerita di dalamnya, mungkin memang terlihat bagus, baik, positif dan seterusnya. Namun kita harus terus mengingatkan diri kita bahwa everybody has their own struggle. Yang kita lihat di social media nya tentu yang indah-indah ya. Pastinya, dia juga punya perjuangannya sendiri.

Optimis

Mungkin, millennial merasa hebat? Yang jelas, millennial itu optimis. Pekerja tertua millennial sekalipun mungkin baru 20 tahun berkarya, ya. Sudah banyak yang experienced, tapi ada juga yang baru 2 tahun experienced (Millennial terakhir lahir tahun 1996).

Di era digital seperti sekarang, data, angka, dan fakta ada di semua lini kehidupan (dan bisa diakses, tentunya). Tidak seperti dulu, tidak semua orang tahu, karena tidak semua dibuka, disebar dan bisa diakses.

Sekarang, dua-tiga titik dalam grafik kecil sekalipun sudah memberikan informasi. Lebih banyak data malah sudah jadi insight. Data à Informasi à Insight. Millennial sudah bisa memilih untuk mau optimis di data-data yang sebelah mana.

Generasi sebelumnya, lebih mengandalkan insting dan lebih sabar menunggu. Mungkin, millennial tidak punya waktu untuk menunggu. Hehehe.

Flexibility

Wujudnya bermacam-macam. Jam masuk (dan jam pulang) yang bisa diplih, model kerja yang full-time atau part-time, kebolehan bekerja remote (ini memang priviledge yang tidak bisa disediakan oleh semua industri). Semuanya berkat kemudahan jaringan internet untuk mengirim dokumen, teknologi email dan cloud computing. Tinggal security-nya saja diatur.

Di sisi lain, memang sudah zamannya untuk bekerja berdasar deliverable. Empat puluh jam bekerja di kantor selama sepekan memang masih ada dan beberapa perusahaan/industri sulit untuk menghilangkan faktor tersebut (tidak harus dihilangkan sih, karena beberapa industri seperti manufaktur memang harus demikian). Deliverable adalah output dari aktifitas/proses yang dilakukan oleh si karyawan. Which is, sudah didefinisikan ‘kan dalam proses bisnisnya perusahaan. Millennial memang makin pintar kok memahami alur bisnis. Mereka sudah tahu mana yang jadi deliverable langsung (sehingga bisa jadi key performance indicator) maupun yang tidak langsung.

But, Milennial-Style Office is Overrated

Ini yang keempat. Kalau kata Samuel Amarta, seorang konsultan HR, interior maupun fasilitas kantor yang memenuhi selera millennial itu overrated. Permintaannya kan memang dari pekerja milennial. Namun, dari sisi HR yang aktifitasnya seputar recruitment, retention dan growing para karyawan, sebenarnya hal-hal tersebut tidak berpengaruh banyak. Retention rate-nya belum tentu jadi rendah. 

Malah banyak millennial yang berpikiran, mumpung masih single, berpindah sesering mungkin demi mendapat experience sebanyak-banyaknya. YOLO (You Only live Once) adalah mantra dalam berpindah-pindah perusahaan dan industri.

Menanggapi hal tersebut, saya, sebagai seorang millennial yang sudah berkeluarga dan memiliki anak, malah berorientasi pada benefit-benefit karyawan semisal BPJS, asuransi swasta, dan sebagainya yang memberikan manfaat pada keluarga kecil saya. Ada lebih banyak faktor yang harus dipertimbangkan oleh orang seperti saya sebelum memutuskan pindah perusahaan. Seiring dengan menuanya pekerja milennial kita, benefits tersebut terbukti valid. 

Lantas, bagaimana perusahaan-perusahaan yang bukan IT Startup seharusnya menanggapi fenomena tersebut?

Terlalu permukaan apabila sekedar mengikuti interior ruang kerja perusahaan IT Startup. Masih di tingkat permukaan juga apabila, sekedar memberikan fleksibilitas waktu dan tempat bekerja. Baik dalam bentuk remote working, part-time, masuk kantor boleh lebih siang, dan sebagainya. Sementara, terlalu fleksibel malah sedikit-banyak –tergantung orangnya– menurunkan produktifitas bahkan memperlemah koordinasi dan komunikasi antar anggota tim.

Inovasi

Menurut saya, di dunia yang semakin hypercompetitive dan menuntut kita untuk bergerak lincah ini, yang patut ditiru dari para startup IT adalah budaya inovasinya. Budaya untuk terus-menerus meriset, mencoba (trial), implementasi, solve new problem from that implementation, dan seterusnya.

Knowledge Management

Inovasi sendiri tidak bisa dipisahkan dari knowledge management, menurut saya. Kita tidak bisa mencoba inovasi baru, kalau kita tidak mengakses dokumen knowledge internal. Seseorang, secepatnya, sebelumnya harus sudah menulisnya untuk bisa kita akses hari ini. Jadi kebiasaan untuk mengelola data, informasi, dan insight secara tertulis ini juga makin penting untuk dibudayakan.

Mengapa semua ini penting untuk, setidaknya, kita pikirkan?

Sebab, generasi-generasi kita sedikit demi sedikit mulai berganti. Customer, supplier, vendor perlahan tapi pasti mulai regenerasi. Tidak ada salahnya memberikan posisi-posisi strategis kepada para millennial di perusahaan. Karena customer, supplier, vendor kita juga semakin diisi oleh para millennial.

Remembering My Time in Consulting

Habis baca consulting worklife, tiba-tiba teringat dengan masa saya jadi konsultan dulu.

Belum konsultan asli, karena masih analyst. Masih 2-3 level senioritas lagi untuk jadi konsultan sebenarnya. Saya dulu tiga tahun di kantor konsultan tersebut. Yang saya dapatkan lebih dari cukup. Meski saya mendapat berlebih, tapi mungkin saya tidak mau mengulanginya lagi. Mungkin lho, ya. Because I am raising my family now.

Sebagaimana dahulu saya belajar di SMA berasrama. Experience-nya luar biasa. Segala pengalaman buruk atau sedih, tergantikan dengan yang indah-indah. Ingin diulang? Tentu tidak. Dikurung mengajarkan saya arti kebebasan.

Baik, masuk ke topik utama. Ada tiga hal yang saya dapat di konsultan: pembelajaran, (sedikit) jejaring, dan jalan-jalan.

Pembelajaran (Learning)

Meski hanya di belakang layar laptop, bukan di hadapan audiens –ini peran bos saya yang sudah 15 tahun consulting ketika itu–, yang jabatannya bervariasi – mulai dari level direktur sampai salesman lapangan, tapi consulting memberikan pelajaran yang luar biasa banyak untuk saya. Karena yang saya pikirkan bukan lingkup pekerjaan yang se-kroco saya. Tapi masalah di tingkat perusahaan yang jadi beban pemikirannya direktur. Kita akan belajar untuk tidak memberikan solusi yang receh; alias solusi yang tidak kita pikirkan matang-matang plus dan minusnya.

Malah kita fokus memberikan solusi yang out of the box – ada dua alasannya sebenarnya: menjawab masalah klien sekaligus cari aman, hehe. Referensinya darimana? Ya dari buku-buku yang really deep thoughtful lha. Ditulis dalam bahasa Inggris oleh orang-orang bule Amerika. Ditambah utak-atik gathuk terhadap hasil searching di internet, hehe.

Karena saya konsultan di bidang strategic marketing, maka saya jadi cepat belajar tentang organisasi marketing and sales di beberapa perusahaan dan industri sekaligus. Pengetahuan ini membangun imajinasi saya tentang bagaimana proses bisnis yang mereka –seharusnya—lakukan, siapa target market mereka, siapa saja perusahaan kompetitornya, dan lain sebagainya.

Berjejaring (networking)

As former analyst in consulting office, I already know what is fun and how to be a fun person. Theoretically, at least. Tanpa menghilangkan karakter asli yang berhati-hati (baca: berpikir dua kali) sebelum berpendapat, alias thoughtful, saya sudah lebih “cair” dibanding sebelumnya. FYI, tidak mungkin donk kalau meminta data ke klien itu straight to the point. Kita butuh basa-basi dulu. Pembukaan yang fun and interesting ini juga perlu sebelum mewawancara orang lain. Harus bisa “menjual” diri. Sebagaimana teknik salesman yang paling kuno: cari kesamaan dengan lawan bicara, lalu mulailah perbincangan dari sana.

At that time, kantor tersebut juga membangun komunitasnya sendiri. Komunitas para pengusaha. Kecil-kecilan. Biar punya “massa” kalau bikin acara sendiri. Acara untuk meng-entertain para existing client yang lagi proyek sama kita. Plus, untuk menangkap “ikan-ikan” yang lebih baru. Nah, “massa” pendukung ini kita jadikan tamu-tamu dalam acara tersebut.

Traveling

Kantor konsultan tersebut tidak besar. Belum regional Asia Tenggara. Tapi cukup membuka kesempatan bagi saya untuk terbang –dengan alasan pekerjaan dan dibiayai oleh klien—ke beberapa kota di Indonesia. Palembang, Medan, Makassar, Surabaya, Yogyakarta. Pergi pagi pulang sore ke Jakarta. Kalau acara dua hari, berarti ada kesempatan kuliner malamnya.

Bukan hanya soal terbang. Namun jam kerja konsultan cukup fleksibel. Bukan berarti santai karena bekerja >40 jam seminggu. Masuk bisa lebih siang, tapi mungkin kamu akan pulang malam –bahkan menginap—dan tanpa uang lembur. Buat saya yang waktu itu belum lama menikah dan anak-anak sudah berusia beberapa bulan, tampaknya saya butuh rehat. I was burnout at that time. Di kantor konsultan yang lebih besar, duitnya lebih dari cukup untuk “mengobati” burnout-nya. Jadinya mereka bisa bekerja lagi; mencari uang untuk mengobati burnout sebelumnya. Hehehe.

See? Tidak semua orang cocok menjadi konsultan.

Takeaways

Mengalami roller-coaster kehidupan ala konsultan sangat menarik lho. Experienced and memorable. Saya sarankan kamu mencobanya. Tidak wajib lama. Cukup 2-3 tahun saja. Lebih awal mencobanya, lebih baik. Tapi seperti saya katakan di atas, ada tiga thread-off nya. Learning, networking, and travelling.

  • Tidak semua orang cocok menjadi learner ala konsultan di sepanjang hidup mereka. “Belajar” dari direktur, membaca dan membedah buku atau kasus-kasus bisnis, menulis di koran membangun personal brand, dan seterusnya.
  • Network itu ibarat buah. Selama masih di pohon, dia belum bermanfaat. “Menabung” network tapi tidak mengupayakan “memetik”-nya, rasanya kurang tepat juga. Ingat, semakin senior seorang konsultan, kerjanya hanya membangun relationship di sana-sini sebelum mengekstraknya sebagai proyek. At least, I know how to be fun and interesting person/friend when meeting someone new.
  • Travelling quite a lot itu prasyarat menjadi konsultan. Dalam kota, maupun antar kota antar provinsi (AKAP donk!). Dalam hal ini, kamu tidak akan menjadi ayah yang reguler. Pulang setelah anak kelelahan bermain seharian. Atau masih sibuk dengan pekerjaan tatkala mereka meminta weekend-mu untuk bermain bersama.

Jadi, apakah ini berarti saya benar-benar berhenti dari being a consultant? Maybe yes, maybe no. Kalau saya tidak bertemu dengan pekerjaan tetap yang sukses memaksa saya bertahan di situ, mungkin saya akan pindah. Dan satu-satunya jalan mungkin hanya konsultan.

Itu ceritaku. Apa kamu ada cerita tentang bekerja sebagai konsultan atau agensi? Kalau ada, mohon bagikan ceritamu di kolom komentar ya.

Reflection on my 2019 site analytics

Tahun 2019 adalah tahun pertama men-swasta-kan domain dan hosting. Tadinya masih negeri; alias menumpang ‘host’ di server gratis milik WordPress. Setelah setahun ini, ada sedikit angka, data, dan statistik lain yang bisa direfleksikan barang sejenak. Kita mulai ya.

Sepanjang tahun 2019 ada 44 post. Meningkat 7 post saja (19%, lumayan) dari tahun sebelumnya. Namun average words per post-nya menurun dari 927 ke 711 kata. Turun sebesar 23%. Signifikan juga ya. Namun, tidak terlalu masalah. target saya kalau menulis adalah minimal 800 kata. Saya bukan tipe yang mentarget minimal 1500 atau 2500 kata. Masih termaafkan lha ya kalau sekitar 700-an saja. 

Pernah rasanya saya share di suatu tempat di blog ini bahwa 300 kata, meski sudah layak secara SEO, namun terlampau pendek untuk menyajikan cerita. Di sisi lain, 2500 kata sudah oke banget untuk SEO. Tapi lebih baik dibelah saja untuk artikel di pekan berikutnya; ini menurut saya lho ya. 

Tahun 2019 itu ada 7,453 page views dari 4,677 visitors. Artinya, satu visitor melakukan 1,59 page views. Artinya tiap pengunjung rerata hanya melihat 1-2 post. Sumber traffic terbanyak dari search engine, yaitu sebesar 3,707 pageviews. Sementara yang datang dari facebook dan Instagram sebesar 195 dan 128 page views. Dapat disimpulkan, lebih banyak dari mesin pencari daripada followers-nya social media saya. Sepintas tadi menengok setting page, tampaknya ada error di social share-nya –share via facebook & linkedin. 

Dari list yang sudah menyetor tulisan di komunitas 1m1c, hanya ada 41 page views. Lumayan juga, karena keanggotaannya hanya sekitar 100 members. Dari komunitas yang sama –tetapi sumber link berbeda– ada 3 (tiga) tulisan saya yang sempat di-klik dari sana:

Di antara 10 tulisan dengan page view terbanyak, hanya ada dua yang ditulis di tahun 2019. Yaitu: Review Buku Filosofi Teras (441 views) dan Menyelami Filosofi Rumah Panggung Suku Bugis (120 views).

Tiga-puluh-tujuh (37) post di tahun 2018 sebenarnya copy paste dari blog saya yang lama: http://ikhwanalim.wordpress.com. Seingat saya, tidak banyak yang saya tuliskan di tahun tersebut. Sebab lebih sibuk migrasi konten daripada menulis baru. Alhamdulillah di tahun 2019 cukup banyak tulisan yang benar-benar baru. Bahkan, ada kategori personal journal dan blogging/writing yang cukup banyak saya tulis. Selain itu, ada sedikit dari kategori marriage/parenting/fathering.

Khittah-nya blog ini seharusnya membahas topik sales/marketing. Eh tapi kategorinya malah ke mana-mana, yah. Dilema ini sudah bertahun-tahun saya rasakan — selama 12 tahun nge-blog. Ragu untuk memilih fokus menulis ide yang muncul di pikiran, atau mau fokus di kategori tertentu yang kita kehendaki sebagai positioning/niche-nya kita.

At the end, I took my decision to not overthinking the branding part. Jadi, saya tuliskan saja pengalaman, pikiran dan gagasan yang ingin saya bagikan. Tanpa harus feeling guilty karena si blog ini entah mau dibawa ke mana (if you sing, then you lose). Hehehe.

Tahun 2019 tampak belum ada postingan juara yang view-nya tinggi. Karena yang tinggi berasal dari tahun sebelumnya: Posisi Kerja di Dealer Mobil. Post ini view-nya tinggi karena post sejenis sedikit sekali di jagat internet. Sementara di Indonesia, konsumen kendaraan bermotor seperti mobil dan sepeda motor tinggi sekali. Tidak heran lowongan kerjanya pun cukup melimpah, sehingga pertanyaan seputar posisi-posisi pekerjaan di dealer juga banyak:

  • jabatan di dealer mobil 
  • jabatan-jabatan kerja di diler mobil 
  • cara kerja dealer kendaraan
  • tugas marketing di dealer mobil honda 

Rencana 2020

Bagaimana dengan tahun 2020? Rencana saya adalah berusaha seproduktif mungkin dalam nge-blog. Kalau satu tahun ada 52 minggu, maka idealnya ada 52 post kali ya. Tahun 2019 sudah terwujud 85%-nya.

Mau produktif menulis topik/kategori apa? Seperti saya ceritakan tentang dilema di atas, maka topiknya akan bebas. Sebagai ortu, mungkin postingan seputar topik parenting akan hadir pula. Mengingat, yang bersangkutan mulai sekolah di tahun ini. Tentang strategic marketing, mungkin topik seputar milennial dan leisure bisa dieksplorasi lebih mendalam. Personal journal jangan ditanyakan lha, ya. Itu topik paling tidak terencana, tapi paling sering ditulis karena experience dan personal story-nya.

Itu sedikit refleksi dari saya seputar hikmah-hikmah yang bisa diambil dari analytic machine di situs blog ini. Bagaimana dengan refleksi dan rencana blogging kamu? Saya tunggu pendapatmu di kolom komentar, ya 🙂

Stay Away from Toxic Person

I used to be a toxic person. But I have been healed from it. Even more, I have takeaways for you.

Toxic people make relationship jadi toxic. Pastinya ada banyak sebab kali ya. Salah satunya adalah “belum selesai sama diri sendiri”. I am still wondering itu istilah yang tepat atau tidak. Singkat kata, yang bersangkutan (karena belum selesai dengan dirinya atau masa lalunya) berpotensi being negative person untuk orang lain. Misalnya, curhat atau mengeluh terus-menerus mengenai masalah yang sama. At first, orang mau berempati dan mendengar. Second time, orang mulai memberi saran solusi. Third time, orang mulai terganggu bila dikeluhi hal yang sama terus-menerus.

Nah, when we are being negative person for others, most likely kita akan merusak hubungan dengan orang tersebut. The relationship become toxic. That’s why se-galau, se-gundah, se-gulana apapun juga, we should control it, we should drive ourself. Mulai dari ekspresi, perkataan yang keluar dari lisan, postingan di socmed, dst. The positivity shall start from ourselves.

Kembali ke “belum selesai sama diri sendiri”. Yeah, ini term yang luas banget, tapi yang bisa kita kelompokkan ke dalam sini, adalah mereka yang belum menerima masa lalunya atau masih tidak mengenal dirinya sendiri. Terhadap hal-hal yang terjadi dalam hidupnya, cenderung menyalahkan (blaming) bahkan menghendaki supaya orang lain bertanggung jawab (be responsible). Bila perlu orang lain tersebut ikut mengatasi masalahnya (to solve problem).

Kalau kita cuma teman kan mudah saja ya? Cukup tinggalkan teman-teman yang seperti itu. Tapi bagaimana bila si toxic relationship ini terjadi di hubungan internal peers / genk-genk-an? Atau statusnya masih sama-sama pacar? Belum jadi pasangan resmi saja sudah toxic, apa jadinya kalau beneran jadi pasangan seumur hidup?

Let’s explore further. Bagaimana bila si toxic person adalah saudara/keluarga sendiri, bahkan suami/istri sendiri? Tentu jadi repot banget kan. Karena hubungan kita dengannya malah jadi toxic beneran.

Btw, ada juga atasan-atasan di kantor yang tidak capable dalam kepemimpinan dan manajerialnya. Kuncinya sama sih. Manipulatif, menyalahkan kita sebagai bawahan / anggota tim, menghendaki tanggung jawab lebih (padahal dia yang seharusnya paling bertanggung jawab), menuntut sumber daya kita secara berlebih untuk terlibat mengatasi masalah. Yeah, sabar aja ya. Di luar sana memang ada atasan-atasan yang belum waktunya menjadi atasan 😊. Healthy relationship at work shall makes us feel secure, happy, cared (by HR), respected for our capabilities, and free to be ourselves in doing our work.

Bayangkan apabila dia memanipulasi fakta yang ada. Membohongi kita. Mengelabui kita. Menganggap kita bertanggung jawab atas hidupnya (kalau anak mungkin masih bergantung ya, tapi mestinya berbeda dengan orang dewasa). Bahkan lebih buruk: kita yang harus menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi atas perbuatannya sendiri.

Indeed, I do reflect so much when I am the one who act as toxic person.

Later on, saya sebagai pribadi dewasa mulai memberikan batasan pada keluarga dan pasangan. Artinya, ada peran dan aktifitas riil terkait dengan batasan-batasan tersebut. Dari saya, maupun dari mereka. Karena mereka keluarga, saya merasa wajib untuk berbagi dan berkonsultasi dengan keluarga dekat tersebut. Saya meminta dan mendengar pendapat mereka. Barangkali ada pengalaman terkait, atau perspektif berbeda. Namun demikian, bagaimanapun juga, saya sendiri yang akan mengambil keputusan dan merasakan dampak dari keputusan tersebut. At the end, I become more responsible for my life.

Di kemudian hari, saya mendengar Om Manampiring mengulas konsep stoic dalam bukunya. Saya merasa ada kesamaan frekuensi antara bagaimana para filsuf stoa memandang kejadian-kejadian dalam hidup (sebagai mana diulas Om Piring) dengan beberapa peristiwa dalam hidup saya yang sungguh saya tidak punya kekuatan untuk memaksakan perubahan sesuai kehendak saya.

Skenario kedua. Bagaimana jika, sumber toksisitas bukan diri kita, melainkan the other side of the relationship? Yang jelas, semua relationship menghadapi tantangan. Tapi, toxic relationship tidak akan berhasil melalui tantangan-tantangan tersebut. Saya kira, ada dua hal yang bisa kita lakukan, ya:

  • Cegah lack of communication. Selalu ceritakan apa yang kita kehendaki. Di saat yang sama, cobalah untuk memahami apa yang dia inginkan. Cari jalan tengah di antara keduanya. As we already know, relationship itu dua arah: saling memberi dan menerima. Hanya memberi akan membuatmu kehabisan energi dalam menjalani hubungan tersebut.
  • Timbal-balik secara seimbang. Segala jenis hubungan yang menghabiskan energi kita tanpa meninggalkan timbal-balik di kita, hanya akan menyisakan negativity. Untuk mencegahnya, pastikan kita selalu “membalas” perlakuan si dia.

Take away (kayak makanan aja ya 😊) dari saya ada tiga:

1. Stop become a toxic person. Those who do manipulation, lying, blaming others, asking other responsibilities and problem solving.

2. Be more responsible for your life. You plan, design, take decision but you are the only person who get those output, outcome, and impact.

3. Tidak semua peristiwa dalam hidup bisa kita atur. Manusia berencana, tuhan menentukan. Dalam agama saya, percaya kepada takdir juga salah satu rukun keimanan. So, apapun takdir tersebut, bila sudah kejadian (pasca kita berikhtiar keras), maka kita hanya perlu menerimanya dengan ikhlas dan lapang dada. Yang terakhir ini, lebih mudah diucapkan daripada dilakukan.

Sementara itu dulu ulasan dari saya. Apakah teman-teman pernah mengalami toxic relationship? Boleh banget kalau sharing pengalamannya di kolom komentar di bawah.

Quarter-Life Crisis

QLC itu masa-masa di persimpangan pilihan-pilihan kehidupan. Yang mengalami biasanya berada di rentang usia dua puluh-an sampai tiga puluh-an.

Kalau saya dulu, mengalami sejak usia lulus S1 kali ya. Belum tahu mau aktif dan fokus di bidang apa. Bukannya belum tahu sama sekali, tetapi saya jelas berminat dengan bidang marketing. Yeah, karena masih bingung, jadinya ambil S2 dulu. Rencana bergelar master jelas ada. Tapi berhubung life plan (rencana hidup) masih kacau, jadilah S2 disegerakan pasca lulus S1.

Belakangan saya baru menyadari, mahasiswa S2 kekinian itu makin muda. Alias belum lama lulus dari S1-nya. Bahkan banyak yang langsung S2 setelah lulus S1. Salah satu sebabnya menempuh pendidikan master adalah karena belum tahu apa yang mau dilakukan dalam hidup. Sad, but it’s true.

S2 kelar, tapi sadar jiwa ini butuh otoritas tinggi, jadinya ngotot gak mau di big company yang team, culture and business process-nya jelas-jelas sudah established selama puluhan tahun. That’s why kemudian saya bergabung dengan sebuah strategic marketing consultant (paham ‘kan ya mengapa memilih marketing) yang baru berdiri satu tahun oleh seorang yang berpengalaman lebih dari lima belas tahun.

Lega sudah untuk urusan pekerjaan; meskipun masa depan karirnya belum jelas benar. Berisiko banget memang saat itu. Karena kalau company-nya tumbuh, maka saya mungkin akan jadi satu di antara para “Dewa”-nya (meski bukan founder).

Urusan kerjaan udah fixed (dengan gaji gak sebesar multinational company tentu saja) namun urusan pernikahan dan berkeluarga malah kacau alias mundur. Yang ditargetkan menjadi pasangan ternyata bukan yang ditakdirkan.

Ketemu dengan calon yang sekarang jadi istri, akhirnya kami menikah dengan pekerjaan saya yang gak stabil-stabil amat, career path gak jelas, pendapatan juga masih pas-pasan, QLC belum berakhir juga. Faktanya, kami masih LDM. Bagaimana tidak dag-dig-dug terus setiap hari.

Alhamdulillah akhirnya “kembali” ke karir yang dicari-cari. Hidup berumah-tangga juga semakin baik: peran sebagai suami dan ayah semakin bisa dijalankan. Waktu habis tidak hanya untuk pekerjaan utama. Alhamdulillah bisa menabung dengan lumayan.

Intinya, semakin menua umur ini dan semakin bijaknya diri ini, maka semakin mampu menyadari dan mensyukuri apa-apa yang dimiliki. Tanpa harus iri atas apa yang tidak menjadi milik sendiri. Syukur bila punya, tidak mengapa bila tak berpunya. Coba baca juga tentang filosofi Stoic.

Maaf, curhatnya kebablasan. Back to topic.

Biasanya quarter-life crisis dipicu permasalahan finansial, relasi, karier, serta nilai-nilai yang diyakini (salah satu nilai-nilai ini seputar religiusitas/spiritualitas). Intinya adalah anxiety (kegelisahan) yang bisa disebut berlebihan. Bawaannya galau terus. Banyak topik sekaligus yang menjadi sumber kegalauan. Yang mana, tiap topik malah terkait dan bersifat sebab-akibat dengan topik-topik lainnya.

Saya seorang milenial. Kalau kamu juga milenial, kemungkinan, QLC kamu disebabkan satu di antara dua yang berikut:

  • Aneka fasilitas dan pilihan kemungkinan yang tersedia menyebabkan orang justru stagnan. Jika dibandingkan generasi-generasi terdahulu, milenial dan generasi setelahnya tergolong beruntung karena dapat mengecap beragam kemudahan atau akses yang membuat hidup lebih baik: dari segi peluang kerja, pendidikan, akses kesehatan, keamanan, dan sebagainya.
  • Soal pekerjaan, seperti ditulis Forbes, generasi terdahulu boleh jadi memandang tujuan bekerja utamanya adalah untuk mendapat uang semata, sementara sebagian milenial merasa pekerjaan adalah sesuatu yang mesti memenuhi kebutuhan aktualisasinya, harus terkait hal yang disuka atau bisa mewujudkan mimpi-mimpinya. https://tirto.id/quarter-life-crisis-kehidupan-dewasa-datang-krisis-pun-menghadang-dkvU

Lalu, apa saja persoalan yang khas dengan Quarter-Life Crisis?

  • [KARIR] Galau soal personal development. Mau ambil S2 atau kursus di mana? Termasuk soal biayanya dari mana dan kapan sebaiknya S2.
  • [RELASI] Nikah sama siapa, dan kapan nikahnya. Nikah sama teman yang sudah kenal lama ya gimana gitu ya, tapi nikah lewat cara ta’aruf ya gimana juga gitu. Masing-masing ada plus-minusnya. Kita yang biasanya kelamaan pilih-memilihnya sehingga jadi galau sendiri.
  • [KARIR] Kerja kantoran atau jalani passion? Boro-boro memilih ya, seringkali apa passion juga belum tahu since Passion is Overrated. Topik ini termasuk gaya hidup dan pendapatan. Passion erat dengan freelance yang awal-awal dijalani terasa berat dan feel lonely gitu. Kalo cari duit besar, ya kerja di kantor besar, meski belum tentu happy dengan peran yang didapatkan.
  • [FINANSIAL] Teman sekolah atau kuliah sudah memiliki (setidaknya masih mencicil) tempat tinggal (rumah, apartemen, dll) atau kendaraan (mobil, motor). Sudah travelling ke sana kemari, dalam dan luar negeri.

Terus, apa yang bisa saya sarankan?

  • [RELIGI] Jalani hidup dengan syukur dan sabar. Syukur kalau sudah punya, sabar kalau belum kesampaian.
  • [KARIR] Miliki rencana. Apa targetnya, dan kapan dicapainya. Tapi jangan kelewat baper, kalau melenceng sedikit, hatimu (bukan hatinya) yang akan sakit. Plan for the best, Prepare for the worst, Be ready for surprise. Saran lain: Don’t overmanage your career.
  • [RELASI] Kendalikan eksposur dari konten-konten socmed yang ambis(ius). Setir dan kendalikan hidupmu sendiri. Jangan biarkan konten socmed yang menyetirmu.
  • [RELASI] Perbanyak silaturahmi. Bukan dengan geng kantor, keluarga, atau tetangga. Salah satu target silaturahmi adalah mereka yang sekitar 10 tahun lebih tua. Mungkin mereka punya pendapat/nasihat untuk dibagikan denganmu. Supaya sehat psikismu.
  • [FINANSIAL] Miliki rencana keuangan (finansial plan). Utamakan menabung, lalu investasi. Tidak semua orang butuh travelling. Introvert seperti saya, malah lebih happy di rumah daripada keliling-keliling di weekend atau hari libur.
  • Jangan biarkan orang lain mengambil keputusan untuk Anda. Tentu kita harus mengambil referensi seluas-luasnya, meminta pertimbangan sebanyak-banyaknya. Namun keputusan harus kita yang ambil. Karena hanya kita yang merasakan akibatnya sendiri (atau sendirian).

Demikian, sedikit yang bisa saya bagikan ttg Quarter-Life Crisis. Apa kamu ada cerita juga? Yuk, berbagi lewat kolom komentar di bawah ini ya.

Week-End

Akhir pekan (week end) adalah sesuatu yang ditunggu-tunggu oleh hampir semua orang. Tidak terkecuali saya. Namun, bagaimana saya menghabiskannya sangat berbeda dengan orang kebanyakan. Simak di tulisan akhir pekan ini.

Week end is end of the week. Yeah, it should be like that. At the end of certain period (like a week), what should we do?

Family Time

Waktunya berkumpul dengan anggota keluarga yang lain. Waktunya quality time. Tiap pagi dan malam sih ketemu. Tapi kuantitasnya kurang banyak, jadilah kurang berkualitas.

Satu cara saya (dan kami) supaya waktunya berkualitas adalah …. mengurangi keluar rumah. Terlalu lama di jalan tidak baik untuk kesehatan jiwa. Begitu pun dengan terlalu lama di tempat tujuan.

Hampir tidak bisa itu “enggak keluar rumah”. Di akhir pekan, memang waktunya untuk ke mall, belanja, atau sekedar makan. Ke taman kota atau bahkan ke toko buku (iya euy, langganan majalah anak saja masih kurang. Suplemen bacaan dan aktifitas mereka harus ditambah tiap bulannya).

Alhamdulillah kami juga baru pekan lalu liburan bersama keluarga besar. Kalau hanya berempat, dalam kota saja lebih baik. Kalau ke luar kota, mungkin sama keluarga besar ya lebih enak. Perjalanan tersebut bertajuk “Explore Sul-Sel 2019” yang berbuah tulisan ini lengkap dengan gambar-gambarnya.

Me Time

Terlalu banyak waktu untuk kantor, maupun untuk keluarga, bisa menyedot waktu untuk diri sendiri (Me Time).

Padahal mengabaikan Me Time berarti menurunkan produktifitas kita untuk perusahaan dan untuk keluarga.

Saya penganut work-life balance. Empat puluh (40) jam seminggu untuk kantor. Kalau kurang, berarti lembur. Tapi lembur hanyalah tambahan. Yang di-“tambah”-kan bila memang dirasa “kurang”.

Saya pernah bela-belain kerja di atas 8 jam sehari. Many times, it is not worth it. Kampeni-nya gak tumbuh. Organisasi tidak membesar. Posisi tidak naik. Untuk apa menaikkan gaji? Apa pantas kita berkorban satu sumber daya, demi mendapat target lain (yang belum tentu berhasil didapat)?

Bukan menyuruh tarik tangan dari taruhan. Gambling is ok. But be smart with your risk management. Do not risk your time to only one activity. As you don’t put your eggs in one basket.

Hidup bukan soal mencapat satu target saja, ‘kan? Bagi saya, mereka yang sukses adalah yang bisa meraih beberapa target sekaligus dalam waktu berdekatan. Sementara tidak semua target soal karir atau soal uang.

Balik ke me-time. Saya senang menghabiskan waktu dengan mengenali diri saya sendiri. Seperti sekarang ini. Berpikir, berkontemplasi, sambil menulis. Blogging is adventuring and exploring your thought through writing. And that is quite relieving.

Sebagaimana saya menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga (ehm, untung rumah saya beneran ada tangganya, ya) semisal belanja ke pasar, mencuci baju dan piring kotor, menjemur pakaian, atau memasak. Iya, kami mengerjakan belanja dan masaknya sendiri. Karena ini rumah tangga, bukan rumah makan. Taraktakdungces!

Dan itu semua, cukup melegakan dan memberi energi untuk kembali ke hari Senin-Jumat di pekan berikutnya.

Do Your Hobby

Pulang kantor itu lelah fisik dan mental. Bahkan setelah mandi air dingin (atau panas) sekalipun, lelah mental masih ada. Setelah bermain dengan anak-anak, capeknya juga masih ada. Mental, bukan fisik. Jadi, waktu optimalnya adalah at the end of the week. Lagi, lagi dan lagi.

Karena itu kita wajib mengoptimalkannya untuk mengerjakan hobi. Namanya hobi, lebih baik daripada tidur. Karena tidur bukan hobi.

Satu hobi saya membaca. Seperti nge-blog, dengan membaca maka perasaan saya lebih lega. Pikiran saya pun lebih rileks, karena peregangan (stretching) dengan topik lain. Bukan mentok lagi dengan teknikalitas-nya technical writing.

Topik yang saya baca belakangan ini adalah parenting (because I’m a parent and a father), history (bukan segala sejarah, tapi yang berkaitan dengan sejarah hidup saya sendiri selaku muslim dan atribut lainnya semisal sekolah maupun kota asal saya).

Sembari membaca, saya jadinya memutar ulang memori-memori tentang buku atau tulisan yang pernah saya baca. Misalkan saya jadi ingat topik introvert yang beberapa kali saya tuliskan di sini dan di sini.

Evaluate and Plan

Jangan habiskan waktu dengan menjalani hidup begitu saja dan datar-datar saja. Setidaknya saya sedang berbicara kepada dan mengingatkan diri sendiri. Evaluasi seminggu terakhir melakukan apa saja. Rencanakan seminggu ke depan mau ngapain aja.

Journalling juga bagus banget. Karena sambil ditulis, ‘kan? Sudah bikin apa aja, mana yang belum sempat, atau belum beres. Planning juga mau dilanjutkan/diulangi lagi atau tunda dulu, dst.

Watch Chelsea

Si Biru yang dulu saya suka karena warnanya. Namun sekarang, semakin saya mengidolakan karna banyak kesamaan dengan diri saya.

Chelsea tidak hanya main di akhir pekan sih. Tengah pekan juga. Namun, yang paling tepat untuk disaksikan memang yang English Premier League itu.

Kabar terbarunya, mereka menjembatani kesuksesan masa lalu (past achievement) via Frank Lampard (manajer tim) dan Petr Cech (Performance and Technical Advisor) dengan pemuda-pemuda 18-22 tahun yang berasal dari akademi mereka. Sukses juara Piala Eropa tengah tahun ini menginspirasi tulisan yang ini.

Mulai low-battery nih laptop. Mendekati akhir. Sudah waktunya juga untuk mengakhiri.

I’m happy to have activities outside the house at the weekend. But as far as I know myself, the outdoor activities just getting better when I have finished my personal and family processes inside the home. And then, I’m ready to face my Monday to Friday.

Passion is Overrated

Kurang lebih beberapa belas tahun lalu, passion dipandang sangat penting. Bahkan, nyaris segalanya dalam berkarya. Lewat tulisan ini, mari pelajari cara memvalidasi passion supaya kita tidak terjebak dengan eutopia olehnya.

Katanya sih begitu. Passion is overrated. Tapi kini saya setuju. Awalnya saya sangat mendewa-dewakan passion. Bukan apa-apa. Kita menghabiskan berjam-jam waktu untuk bekerja (dan mencari uang), bagaimana bisa kita tidak bahagia setelah menghambur-hamburkan sekian jam tersebut setiap harinya? So, I conclude that passion is important for me, at least for my own happiness.

Sampai akhirnya kemudian saya mulai menyadari bahwa saya harus tumbuh. Bukan sekadar pribadi saya sendiri, tetapi juga menumbuhkan istri dan anak-anak saya. Dengan kata lain, menumbuhkan keluarga saya. Ada kewajiban-kewajiban sangat mendasar yang mereka butuhkan. Pangan, sandang, papan. Di sisi lain, ada kebutuhan maupun keinginan lain dari mereka yang datang kepada saya dengan nominal label harga tertentu. Bukan sekedar tertentu, melainkan harga mati yang tidak bisa ditawar lagi. Yang saya harus membayarnya.

Akhirnya, bagi saya sendiri, saya juga harus memiliki target kuantitatif yang jelas dan transparan. Untuk menutupi dan mencukupi berbagai kebutuhan dan keinginan tersebut tadi. Di sisi lain, mengakomodasi aspirasi keluarga kecil saya juga berarti bertumbuh dan berkembang bersama mereka secara sosial (dengan siapa kami berteman dan berhubungan) maupun ekonomi (bagaimana kami memperoleh uang dan mempertahankan gaya hidup).

Itulah alasan pertama passion is overrated. Karena bila kita egois hanya memikirkan passion dan kebahagiaan kita sendiri saja, maka kita sudah memberi nilai yang berlebihan (overrated) pada passion. Padahal, selaku suami dan ayah yang –katanya– bertanggung jawab, kita tidak boleh egois. Keluarga kita adalah pelanggan utama (prime customer) kita, yang harus kita rawat dan tumbuhkan. Dan passion tidak melakukan keduanya. Karya dan hasil nyata –berupa uang– yang mampu melakukannya.

Alasan kedua, adalah kita terlampau cepat menilai apa sebenarnya passion kita. Terlalu instant dalam menentukan dan memutuskan aktifitas/hobi apa yang ingin kita jalani. Terutama yang menghasilkan uang. Passion yang kira-kira menghabiskan banyak waktu, baik waktu sibuk maupun waktu senggang dan tetap menghasilkan.

Validasi Passion

Padahal validasi wajib dilakukan terhadap yang kita sebut “passion”. Beberapa periksa ulang yang harus dikerjakan:

  • Apakah ini passion sesaat (1-2 tahun saja) atau benar-benar yang ingin kita lakukan berpuluh-puluh tahun dalam hidup kita?
  • Apakah kita hanya ingin tampak keren (cool) dengan apa yang kita kerjakan, atau bahkan tidak ada masalah bila orang lain memandang dengan sebelah mata?
  • Apakah ini benar-benar menghasilkan uang yang lebih dari cukup –yang bisa membayar tagihan-tagihan kita– bila ditekuni terus-menerus?
  • Apakah kita benar-benar bahagia mengerjakan ini, atau apabila sedang dikejar tenggat waktu (deadline) atau sedang tertekan (stressed) kita akan tetap meneruskan passion ini?

Bila mengamati dan membandingkan Gen-X dan Gen-Y, saya menemukan bahwa Gen-X itu tidak ambil pusing dengan apa yang terjadi di tempat kerja mereka. Berbeda dengan Gen-Y yang bersikap sangat emosional terhadap segala yang dikerjakan. Sehingga, di mana saja dan kapan saja terus-menerus memikirkan apa yang sudah/sedang/akan dikerjakan. Gen-Y sangat terkoneksi dengan apa yang mereka kerjakan. Tidak heran Gen-Y benar-benar memilih apa yang ingin dikerjakan dalam hidup. Salah memilih sama artinya dengan melempar bumerang –yang kembali ke diri sendiri.

Salah satu sebabnya mungkin adalah betapa terkoneksinya kita dengan dunia digital, terutama social media. Dengannya, kita selalu membandingkan hidup kita dengan hidup orang lain. Seakan rumput tetangga selalu lebih hijau. Padahal, konten bisa direkayasa, ‘kan? Hanya yang indah-indah yang ditampilkan. Kita harus tahu dan yakin bahwasanya setiap orang memiliki masalah dan perjuangannya masing-masing. Di antaranya:

  • Ada yang sudah menemukan dan bekerja sesuai passion, ternyata hasil uangnya belum cukup untuknya. Apalagi sampai memuaskan keinginan ekonominya dan mengangkat gaya hidupnya.
  • Ada yang punya harta lebih dari cukup. Tapi jauh di dalam hatinya, tidak senang dengan apa yang dikerjakan.

Beruntunglah mereka yang sedang menjalani passion dan menghasilkan uang yang bisa membayar tagihan-tagihan mereka sendiri. Apalagi jika mereka menemukannya sudah sejak muda. Mudah-mudahan anda termasuk di dalamnya.

Dalam mencari dan menemukan passion itu kita harus menyediakan waktu yang banyak. Bertahun-tahun, bahkan. Tidak heran ada yang baru mantap menjalani passion-nya di atas usia 30 tahun. Berapa persisnya itu? 8 tahun setelah lulus kuliah. Atau malah 12 tahun sejak lulus SMA/SMK.

Simpulan

Sebagai kesimpulan, apa saja yang harus dikerjakan?

  • Fokus untuk memvalidasi sedikitnya 4 hal yang sudah disebut di pointer-pointer pertama.
  • Menyediakan waktu membangun keterampilan (skill) di bidang tersebut. Ini aspek internal, sebenarnya.

Silaturahmi dan berjejaring (networking). Selain sebagai bagian dari proses validasi, keduanya membantu kita mengembangkan pelanggan dan pasar kita. Di sinilah aspek eksternalnya.

Menyelami filosofi rumah panggung milik Suku Bugis

Desain rumah adat bukan sekadar karakteristik pembeda atau ciri khas semata. Melainkan ada fungsi-fungsi yang disediakan olehnya serta ada pula kebutuhan akan kecocokan dengan tipe aktifitas masyarakat setempat itu sendiri. Berikut ulasan saya mengenai rumah adat suku bugis.

Beberapa suku bangsa di Indonesia memiliki karakteristrik rumah adat tradisional masing-masing. Berhubung saya sedang berpariwisata sekaligus bersilaturahmi ke keluarga besar di tanah Sulawesi Selatan (Sulsel), izinkan saya mengulas filosofi dari rumah-rumah panggung yang menjadi tempat menginap kami selama beberapa hari. Sebisa mungkin saya lengkapi dengan referensi dari luar. Namun, sebagian besar tulisan ini merupakan eksplorasi dan eksploitasi saya pada fungsionalitas dari desain rumah-rumah panggung tersebut.

Rumah ini lumayan banyak betonnya. Padahal ya rumah panggung juga. Dinding rumahnya pun masih didominasi kayu. Bagian depannya saja yang diberi dak beton.

Namanya rumah panggung, penghuni maupun para tamu langsung “disambut” oleh tangga –yang terletak di depan rumah– menuju ke lantai dua. Beberapa rumah panggung bahkan memiliki dua tangga. Satu di depan, satu di samping. Jadi, rata-rata ruang tamunya berada di “panggung”-nya tersebut. Bagian kolong rumah menjadi gudang, kebun, kandang ayam, kamar mandi, dan lain-lain. Saya duga, rumah panggung ini didesain demikian karena suatu alasan khusus. Namun bukan alasan semisal banyaknya binatang buas, sehingga penghuninya harus diamankan dari binatang buas tersebut.

Bagian depan rumah panggung. Di sisi kiri, terlihat tangga depan ya. Biasanya tiap rumah ada dua tangga. Depan-samping atau depan-belakang. Lihat, semuanya didominasi kayu: lantai, tangga, plafon. Atap depan saja yang sudah menggunakan genteng metal + rangka baja ringan.

Kalau versi ‘mistis’ dari desain dan rancangan rumah panggung konon sebagai berikut ini. Dahulu, nenek moyang kita percaya dengan kekuatan-kekuatan alam. Di mana, ‘atas’ adalah alam Tuhan, ‘tengah’ adalah alam manusia, dan alam ‘bawah’. Tidak heran, hewan-hewan diternakkan di bawah panggung rumah, manusia di ‘tengah’ alias di panggung-nya, dengan bagian atap berperan sebagai lumbung padi perlambang anugerah pemberian Tuhan.

Struktur dan lantainya didominasi oleh kayu pohon ulin. Jadi bisa dikatakan, rumah-rumah panggung di sini didominasi oleh kayu dan perkayuan. Jangan meremehkan karakter kayu sebagai bahan dasar pembangunan rumah ya. Karena kayu memiliki kelebihan pada kelenturannya. Jadi meski dihuni oleh banyak orang, rumah panggung berbahan kayu pun tidak ambruk. Sebab, berbagai tekanan maupun getaran yang ditimbulkan akan diserap oleh kelenturan material kayu tersebut. Terasa sekali dari langkah-langkah kaki kita di atas rumah panggung, namun tanpa perlu diliputi oleh rasa kekhawatiran akan kemungkinan ‘terjeblosnya’ kita ke bawah.

(Mungkin foto kurang jelas) Di seberang sana ada mobil terlihat, ‘kan? Nah itu memang jalan raya. Jadi di perbatasan Parepare-Barru memang ada lembah sedikit di kanan-kiri jalan raya. Di lembah itulah rumah panggung dibangun. Memang dekat dengan pantai dan banyak sungai ya, jadi gak heran tanah tempat berdirinya rumah lebih rendah dari jalan raya.

Untuk cuci piring, kebanyakan melakukannya di lantai keramik (kira-kira luasnya 2×1 meter) yang diisolasi oleh dinding bata berkeramik setinggi kurang lebih 10-15 cm. Jadi ada keran di sini yang menarik air dari bawah ditemani dengan beberapa buah ember/waskom. Hanya sebagian kecil rumah panggung yang memiliki bak cuci (washtank).

Sebagaimana sudah disebut di atas, kamar mandi banyak pula yang berada di bagian bawah rumah. Alias dari ‘panggung’ harus menuruni tangga-tangga kayu menuju kamar mandi atau toilet; yang bila masih sangat tradisional, mengandalkan air dari sumur. Lebih canggih sedikit, akan menggunakan pompa air dan keran.

Wah, ini sebenarnya masih di rumah yg gambar pertama di atas. Rumah dominasi beton yg di seberang sana. Kalau dari tempat saya memotret ini, masih 95% kayu. Tuh, terlihat kan ya, tiang-tiang dari kayu ulin di rumah seberang. Ada pondasi kecilnya juga. Pondasinya gak disembunyikan di tanah. Jadi pondasinya memang terlihat begitu.

Di daerah keluarga saya banyak bertempat tinggal (dekat Kota Parepare tapi masih wilayah Barru, sudah cukup modern secara pengetahuan dan relatif mapan ekonomi masyarakat setempat. Meskipun rumah berbahan kayu, namun memiliki kendaraan pribadi (didominasi sepeda motor, sebagian kecil memiliki mobil) dan pemuda-pemudanya banyak yang sarjana –dari kota Makassar.

Karena hampir 100% didominasi oleh kayu –saya pakai kata ‘hampir’ karena saya gak yakin sepenuhnya rumah-rumah panggung ini benar-benar 100% kayu—maka bisa dikatakan rumah ini relatif ringan. Dan oleh sebab itu, rumah panggung tersebut dapat dipindahkan!

Dan ternyata pemindahan rumah panggung memang pernah terjadi di keluarga besar kami. Yaitu ketika nenek saya menjual bangunan rumahnya kepada seorang tetangga. Jadi bangunan tersebut dipindahkan oleh banyak warga masyarakat (tentu didominasi oleh tetangga setempat, ya) ke tanah milik tetangga tersebut yang berjarak hanya puluhan meter. Jadi, transaksi yang terjadi bukan jual beli tanah dan bangunan –seperti yang umum terjadi—namun, hanya meliputi bangunannya saja.

Berikut ini contoh pemindahan bangunan rumah panggung –yang ternyata ada upacaranya segala. https://www.youtube.com/watch?v=uXrzpGCebKw

Berhubung kebanyakan kota-kota di Sulsel masih didominasi oleh kabupaten (hanya tiga kotamadya, yaitu Makassar selaku Ibukota Provinsi, Parepare serta Palopo) yang mencerminkan pula tingkat perekonomian secara umum, maka bisa dikatakan harga tanah relatif belum mahal di kabupaten-kabupaten tersebut. Sehingga kepemilikan tanah pun relatif luas (di atas 150 meter persegi) yang berakibat pada luasnya bangunan rumah-rumah panggung tersebut di atas.

Nah, dalam pada tingkat keakraban antar warga yang masih kental, diikuti dengan aktifitas warga masyarakat yang tidak terlalu commute seperti di Jabodetabek, maka bangunan rumah panggung berfungsi ganda. Tidak hanya sekedar tempat tinggal, namun juga sebagai lokasi penyelenggaraan acara-acara besar keluarga seperti akad nikah, sunatan, dan acara-acara monumental lainnya.

Bangunan yang luas, didukung dengan keakraban dan bantuan dari tetangga-tetangga dalam penyelenggaraan acara, semakin mengokohkan posisi rumah panggung sebagai (1) tempat tinggal yang cocok untuk lingkungan kabupaten dengan jarak antar rumah yang tidak saling menempel, dan sebagai (2) infrastruktur yang menopang kokohnya kehidupan bermasyarakat warga bugis di Sulsel.

Sekedar perbandingan, semakin memasuki pusat Kota Parepare, maka kita akan semakin jarang menemukan keberadaan rumah panggung. Kurang lebih, perkiraan kasar hasil observasi saya, rumah panggung sudah berkurang hingga 20%-25% saja. Di dalam lingkungan perkotaan yang padat penduduk, dengan harga tanah relatif lebih mahal, maka rumah panggung bukan lagi solusi tempat tinggal yang wajib mendapat prioritas utama. Masih tetap ada yang mempertahankan rumah panggung di Kota Parepare, namun keberadaannya tidak sebanding dengan dominasi rumah batu (bata).

Demikian observasi kasar saya selama dua hari di Kabupaten Barru dan dua hari di Kota Parepare ini. Besok pagi kami akan menempuh perjalanan menuju Kota Makassar. Yang tentunya, dinamika tempat tinggalnya lebih tinggi daripada dua daerah tingkat II yang sudah disebutkan sebelumnya.