Belajar dari Sepuluh Cucu

Selama puluhan tahun hidup di dunia, saya pernah berkesimpulan dan berkeyakinan bahwa belajar itu harus dari expert-nya. Percuma, sama-sama belajar dari yang bahkan belum tahu sedikit pun. Alhamdulillah, belasan tahun sekolah bisa belajar di sekolah-sekolah yang fasilitasnya oke. Tahu sendiri, ‘kan, sekolah berfasilitas oke menunjang kita untuk bisa masuk ke sekolah yang sejenis. Minimal sekolah negeri dengan brand yang sudah oke punya.

Ibarat kata, anak Bandung mau masuk ITB itu harus melalui jalur sutera dulu. Ini secara umum saja ya. SD-nya SD yang itu, SMP-nya boleh pilih satu di antara dua SMP negeri tersebut, dan nanti SMA-nya yang satu itu. Supaya bisa ramai-ramai pindah dari SMA ke ITB. 

Tapi ternyata itu semua tidak cukup. Learn from the expert is one thing. Do (or execute) it seamlessly is another thing. Belajar dan menjadi pintar tidak akan pernah cukup, dong. Makanya kita belajar dan menjadi expert juga dalam eksekusi, ‘kan. Kenyataannya, eksekusi tidak semudah teori-nya. Materi-materi pelatihan tentang sales and distribution itu ya itu-itu aja. Almost nothing new. But the important one is how good you are in those execution. Unilever Indonesia beken banget tuh dengan execution-nya. Bahkan sampai seorang dirut Bank Mandiri pun menyadari pentingnya lalu menulis buku tersendiri mengenai execution. 

Saya belajar langsung dari anak-anak (sendiri maupun beberapa ponakan–cucunya orang tua sudah ada 10 orang saat ini) bahwasanya teori-teori sederhana yang kita ajarkan kepada mereka; tidak semudah itu dilaksanakan. Dalam hal ini, orang dewasa sama dengan anak-anak. Bahwa apa yang diketahui, alias teori, belum tentu dikerjakan dengan baik. Anak-anak diberi tahu bahwa menonton TV tidak boleh dekat-dekat. Tapi tetap saja mereka melakukannya. Sembari diiringi dengan gumaman khas anak-anak, yaitu merapal ulang teori yang pernah diajarkan berulang-ulang. Rasanya orang dewasa juga demikian ya.

Many times, they should be remind (again, again, and again) about it –and they keep doing it. Bukan masalah mengingatkannya. Tapi ternyata, mungkin begitu adanya ya, manusia itu perlu diingatkan, dan diingatkan terus. Manusia itu tempatnya lupa. Eh salah. Lupa itu mungkin memang tempatnya ya di manusia.

Dan tidak hanya itu, di samping terus-menerus direfleksikan ke teori-teorinya, expertise adalah sesuatu yang diraih karena rutinitas pelaksanaanya. Peribahasa manusia jadulnya, –ketahuan angkatannya–Alah bisa karena biasa. Bahasa kerennya persistent/perseverance/resilience.

Dua, manusia itu butuh dan ingin berkomunikasi.

Orang dewasa, jelas. Punya gagasan yang ingin disampaikan dan ingin mendengar pula opini dari orang lain. Bagaimana dengan anak-anak? Anak-anak butuh mendengar dari kita. Karena dari situlah kita dapat menegaskan hal-hal baik dan mencegah hal-hal buruk (Amar Ma’ruf Nahi Mungkar).

Anak-anak juga perlu belajar menyampaikan pendapat, ide, dan perasaannya. Karena di situlah terletak penghormatan dan penghargaan terhadap mereka. Dalam hal ini, tidak ada bedanya dengan saya dan semua teman-teman di SMA yang menjalani latihan pidato selama dua jam setiap jumat setelah makan siang.

Lagi-lagi, anak-anak sama dengan orang dewasa. Anak-anak pada umumnya memiliki pengetahuan yang lebih terbatas. Tapi itu bukan alasan untuk mengabaikan apa yang mereka sampaikan, maupun menutup-nutupi dari apa-apa yang ingin mereka dengar.

Key(s) Takeaway

Tulisan hari ini semata-mata pengingat bagi saya, untuk memperlakukan orang lain, baik anak-anak maupun dewasa, yaitu sebagaimana seharusnya. Bahwasanya, manusia itu ingin mendengar what we would like to say, di samping ingin didengar juga pendapatnya. Above all, manusia juga ingin dihormati (tidak disepelekan) dan dihargai (ikut dijunjung) atas apapun yang ada pada diri mereka. Sesedikit apapun itu.

Saya dulu abai terhadap pendapat orang lain. Dalam arti, you should prove it by yourself first, then I would like to consider your opinion. Banyak atau sedikit, ini adalah tempaan dari lingkungan semasa saya kecil dulu. 

Kedua, that’s what education should do. Treat the children and adults by the same principles. Penghormatan dan penghargaan pada tempatnya. Salah satunya, supaya anak-anak dapat menjadi pribadi yang dewasa. Sebagaimana quote senior saya, kurang lebih begini,

“Itulah sejatinya pendidikan karakter.. mematangkan dan menghilangkan ketergantungan prefrontal cortex terhadap immediate rewards (Dopamine dan Serotonin) oleh kesenangan sesaat.”

Jadi begini, maksud quote tersebut, orang dewasa yang kekanak-kanakan, salah satu cirinya adalah menghendaki apresiasi yang secepat mungkin. Yang di dalam otak kita, lebih tepatnya di bagian prefrontal cortex, itu distimulus oleh senyawa kimi yang diberi nama Dopamine, sama satu lagi Serotonin. Mengapa bisa demikian?

Kata saya sih, sebabnya adalah kita kurang membiasakan atau kurang menyamakan dari generasi ke generasi tentang yang saya sebut penghormatan dan penghargaan kepada anak-anak. Saya merasa banget lho, tidak mendapat hal yang saya maksud.

Akhirnya saya jadi sok-sok hanya melihat dan menghargai seseorang hanya dari ekspertise-nya saja atau hanya dari loe-itu-sejago-apa-sih. Belum termasuk kerendah-dirian yang saya bawa sejak kecil. Memang sih, kampus mengajarkan, meyakinkan, dan membentuk saya merasa lebih confidence. Namun ternyata itu hanyalah overconfidence yang tidak pada tempatnya. Bahkan cenderung merupakan sebuah kesombongan semata.

Konon, oleh Ki Suratman, Taman Siswa bernama “Taman” karena di sanalah, dengan proses pendidikan seperti itulah, seharusnya education itu dilakukan. Sebagai sebuah taman (unsur tanah, sinar matahari, dsb) tempat bertumbuh-kembang, tanggung jawab pendidikan adalah tanggung jawab semua orang–terutama orang tua si anak sendiri.

membangun-komunikasi-dengan-anak
ini bukan keluarga kecil saya, ya. jumlahnya sih sama. tapi itu bukan kami. hehehehe. dari parentinganak.com

Bagaimana cara menghadapi kebiasaan menyebalkan pasangan?

Tidak semuanya yang menyebalkan itu buruk. Hanya saja kita membutuhkan waktu lebih lama untuk beradaptasi dengan kebiasaan tersebut. 

Kebiasaan nonton hiburan seperti Drakor (drama Korea) bukan kebiasaan buruk kok. Tapi ya menyebalkan aja seakan gak ada yang lebih produktif untuk dilakukan.

Lalu sudah tertebak jadinya gimana. Biasanya besok ngantuk dan tidur siangnya jadi panjang akibat semalam nonton drakor berepisode-episode hingga dini hari.

Saya juga candu sama bola sih. Mudah-mudahan pihak “sebelah sana” gak menganggap candu ini menyebalkan. Cek-cek skor terbaru, baca berita bola di koran langganan yang tidak saya bayar, sampai nonton ulang pertandingan di Bein (Grup Al Jazeera khusus sport) yang sebenarnya sudah berlangsung 5-6 hari yang lalu 😛

Alhamdulillah salah satu syarat hidup minimalis, yaitu tidak memiliki TV, sangat membantu saya supaya gak candu-candu amat sama sepakbola. Berita transfer Bakayoko kan bisa menyita perhatian banget. Lebay. Padahal enggak.

Jadi bagaimana cara supaya bisa beradaptasi dengan kebiasaan buruk milik partner hidup? Jawabannya adalah There is no special recipe, meminjam kata-kata bijak dari film Kungfu Panda.

Bangun pagi lihat dia, tidur malam lihat dia lagi, (#aih!) itulah yang membuat saya semakin bisa berdamai dengan kebiasaan-kebiasaan yang saya sebut menyebalkan itu.

Selain itu, kuncinya adalah sabar. Alhamdulillah saya cukup bisa bersabar sehingga tidak berbuah tampar. Haha. Bagaimana caranya bisa sabar begitu? Kejar terus jawabannya, yak. Hampir gak ada tips dari saya untuk bisa bersabar. Malah tips yang ada, adalah bagaimana mengalihkan perhatian diri dari hal-hal menyebalkan dari pasangan.

Sebagai lelaki, saya cukup biasa menyendiri. Ini membuat saya lebih tenang, kalau “masuk gua” dulu. Di mana menyendiri? Gak harus pergi jauh dari rumah naik sepeda motor keliling-keliling kota tidak jelas arah dan tujuan hanya untuk menyendiri. Dengan “get in the cave“, saya memberi jarak pada masalah saya, sehingga saya bisa secara objektif memberikan tanggapan/perlakuan terhadap masalah tersebut.

Sebalnya kita sama pasangan itu wajar. Sebal kan emosi juga ya. Tapi kalau emosi, terus melahirkan tindakan-tindakan –dari seorang suami– yang tidak kita pikir panjang, bisa menyesal di kemudian hari.

Jika ingin marah, maka marahlah. Tetapi marahlah pada sesuatu yang tepat. Tidak semua kebiasaan menyebalkan harus berakhir dengan kemarahan. Namun tetap harus diingatkan dengan emosi yang terkendali.

Inilah gunanya hidup minimalis. Problem potensial dari penuhnya rumah oleh barang-barangnya yang belum tentu berguna seumur hidup telah menjauh sekian ratus kilometer. Sehingga masalah-masalah kita enggak banyak-banyak amat.

Konflik dengan Pasangan

Yang menyebalkan belum tentu jadi konflik. Tapi konflik tidak bisa ditangani seperti menangani hal-hal menyebalkan. 

Keadaan mulai gak enak itu kalau kami sekeluarga enggak keluar rumah. Susahnya hidup di kota, seakan pilihan terdekat, termudah, dan tanpa perencanaan hanyalah pergi ke mall. Padahal mall kan gitu-gitu aja ya di mana-mana. Banyak miripnya, dengan tenant-tenant yang mostly itu-itu aja. Itu pendapat saya.

Jadi ingat beberapa waktu lalu, ngajak anak-anak makan di Gokana. Ternyata yang beda hanya suasananya dan es kopi blender-nya. Sebab anak-anak tetap hanya makan nasi telur + kuah kari. Hehehe. 

Tapi dari yang saya baca dan saya observasi langsung ke istri, ya mereka (kaum hawa) memang membutuhkan jalan-jalan ke luar rumah tersebut. Bagi perempuan, “pekerjaan utama” adalah mengurus dan membersihkan rumah. Sama dengan bekerja di kantor, rutinitasnya bisa membuat gila. Lelaki kebanyakan berpikir bahwa orang yang di rumah itu santai-santai aja. Padahal enggak sama sekali. Bahkan kesibukanya bisa 24×7.

Saya akui, kalau saya yang harus 24×7 di rumah, saya enggak akan bisa. Saya ini tipenya kudu keluar rumah tiap hari, melihat jalan raya setiap hari, ketemu orang baru setiap hari, dst. Kita harus mengapresiasi kaum wanita yang berperan mengelola rumah tangga.

Misalnya dengan membelikan lipstik seharga Rp500.000,- #eh

However, itu semua (termasuk pergi ke mall) gak akan cukup. Bibit-bibit konflik itu mulai bersemi kalau kita sudah lama tidak berduaan. Kudu ada waktu dan ruang di mana hanya ada kami berdua di sana. Sebagai suami, aku tuh gak bisa diginiin terus :p (hanya dibiarkan mengurus diri sendiri, maksudnya). Seakan hanya anak-anak yang diurus oleh istri. Dia pun, saya yakin dia tidak hanya ingin bertiga saja dengan anak-anak. Tentu dia membutuhkan ruang dan waktu di mana hanya ada dia dan suaminya. Ceilah, iya gitu? 😀 Saat ini, anak-anak masih membutuhkan perhatian yang teramat banyak dari kami. Keduanya masih berusia 2 tahun 4 bulan, saat ini.

Pokoknya, urusan-urusan terkait anak-anak kudu kelar, tapi juga jangan sampai menciptakan jarak (apalagi konflik) antar kedua orang tuanya. Teorinya sih begitu. Tapi pelaksanaannya memang masih jauh panggang dari api. Pernikahan kami seumur jagung pun belum ada. Kami masih terus belajar. Doakan kami ya supaya survive 🙂

Tentang Maaf Memaafkan; Belajar dari ZaWa

Keduanya sama-sama ganteng. Masing-masing punya fans tersendiri. Ibarat penggemar musik, mungkin ada fans yang suka dua atau lebih sekaligus. Tapi tentu saja hanya ada satu musisi/band yang selalu di hati.

Zakki itu gempal. Tampak lebih besar dengan pipi yang chubby. Gondrong sedikit, maka rambutnya akan terlihat seperti gelandang pencetak gol terbanyak Chelsea sepanjang masa: Frank Lampard.

Zakki itu ganteng dan kalem. Hatinya selembut gula-gula kapas, Lumayan gampang berkaca-kaca bila dimarahi atau diingatkan.

Zakki itu gak mudah menyerah. Beliau bisa mengucapkan hingga belasan kali kalimat seperti “Pa’, ndong nana..” (papa gendong ke sana). Pertanda bahwa beliau tidak berhenti sampai keinginannya terwujud. Padahal siapapun yang menggendong pasti rasanya sama saja kan.

Wakif punya wajah yang lebih cekung. Dengan tinggi badan semampai.

Wakif. Kukuh berlapis baja, selalu ceria, imajinatif, ekspresif, tapi kurang peka. Apabila dimarahi malah cengengesan. Jarang nangis beneran (catat ya, nangis beneran. Jadi kalau sok-sokan nangis sih seriiing). Kalau kata teteh, “loba gaya teuing”.

Siapa teteh? Tidak lain tidak bukan adalah perempuan teguh dengan pengalaman hidup puluhan tahun yang menempa keuletan bekerja dan menguji ketulusan hatinya. Tidak hanya mengurus dan membesarkan darah dagingnya sendiri, melainkan juga beberapa anak-anak manusia lain yang kekurangan kasih sayang dan belaian hangat dari seorang Ibu.

Imajinatif dan ekspresinya WKF terlihat dari caranya berlari. Dengan sebelah kaki, kiri kalau tidak salah, diangkat hingga setinggi paha. Padahal kaki kanan diangkat seperlunya saja. Dengan tangan yang bergerak ke samping secara berlebihan. Keceriaanya selalu mengundang orang lain untuk memperhatikan. Artis ibukota satu ini selalu ingin semua pandangan tertuju kepadanya. Halah.

Kalau di kota asal saya, orang seperti Wakif ini bisa disebut mucil. Sebuah kosa kata dari tempatnya “pasar terapung”. Artinya kira-kira semacam gak jera-jera, atau bandel. Dengan istilah lain, pas diberikan untuk mereka yang tidak bisa diberi tahu. Tapi bisa diberi tempe #garing ah!

Kala memasuki dunia fana ini beberapa puluh purnama lalu, keduanya hanya berselang tidak sampai lima menit. Bila menemukan teman adalah perjuangan, keduanya tidak perlu berusaha barang sedikit. Sudah ada dengan sendirinya. Berbaring bersama di satu bantal kepala yang sama.

Lihat bagaimana mereka berinteraksi satu sama lain.

Tidak jarang ada yang duluan mengasari. Misalnya, merebut paksa apa-apa yang sudah dipegang oleh “tetangga sebelah”. Lucunya, yang merebut kemudian pergi dan berlari. Satunya tidak tinggal diam. Dia akan mengejar hingga dapat, lalu membalas perlakuan yang baru saja diterima.

Tidak lama kemudian keduanya kembali berpelukan dan berangkulan. Apalagi kalau sudah dibilang, “disayang..disayang..”.

Another example. “nana..nana..” sana..sana.., maksudnya. Kalau salah satu pihak cemburu dan ingin mengusir “musuh perang” yang satunya, itulah ungkapan khas yang biasa diungkapkan. Tidak hanya sekedar ucapan, melainkan disertai dengan tangan yang mendorong-dorong.

Sudah sifat manusia memperebutkan sesuatu yang scarce (langka). Ibu yang hanya ada satu, diperebutkan oleh dua manusia sekaligus. Alhasil sang Ibu harus menggendong dua sekaligus. Tentu saja, satu di kanan, yang satunya di kiri. Sama-sama dapat apa yang diinginkan, lalu keduanya diam.

Homo Ludens

Istilah ini dirilis oleh Johan Huizinga. Seorang professor, merangkap teoritisi budaya, menyambi pula sebagai sejarawan Belanda. Tahun 1938 beliau pertama kali menyampaikan ungkapan tersebut.

Artinya, manusia adalah makhluk bermain. Dalam diri anak Adam dan Hawa, tersimpan hasrat bermain yang tidak terkira. Bahkan tidak mengenal pengelompokan usia, perbedaan jenis kelamin, bahkan lingkungan sosial dan budaya. Pokoknya main, main, dan selalu bermain!

Sebab itu kosakata “main” adalah yang paling banyak digunakan dalam obrolan warung kopi maupun diskusi berat antar pengusaha. Sebab pekerjaan mengusahakan sebisa mungkin, dalam aktivitas detilnya adalah membeli dan menjual, selayaknya adalah sebuah permainan. Dipikirkan secara serius, diupayakan dengan seksama, namun hasil belum tentu sama. Ada faktor keberuntungan yang turut bermain. Karena pasar tidak selalu berlaku sesuai prediksi. Kadang untung, kadang rugi. Alhamdulillah bisnis yang baik akumulasi untung lebih besar daripada penjumlahan rugi. Maka dari itu lebih pantas disebut “bermain” di bisnis/produk apa.

Zakki dan Wakif punya hobi yang sama. Keduanya suka menghibur diri dengan menonton kartun di Youtube. Tema besarnya adalah nursery rhymes. Baru sekedar menonton, belum mau bersenandung menirukan yang ditonton. Paling sebatas permintaan semisal “yayo yayo” untuk lagu “old mcdonald had a farm”. Atau “reyn reyn” sebagai sebutan “rain rain go away”. Mereka ini berlaku serius, belajar berbahasa asing dari negara yang mengaku tidak pernah mengalami matahari terbenam.

Benar kata pepatah bahwa rumput sebelah memang selalu hijau. Tak jarang, mengintip “tetangga” selalu dilakukan. Sambil membandingkan atraksi yang tampil di layar kaca device sendiri, dengan device sebelah. Ya namanya kehidupan “bertetangga” ‘kan. Banyak mirip dengan “Tetangga Masa Gitu” banget lho. Menjaga perasaan, tapi kok “tetangga” sebelah keknya keterlaluan banget. Terlewat sedikit aja, “rumput” sendiri diambil dan dibawa kabur. Siapa lagi pelakunya kalau bukan “tetangga”.

There’s nothing too serious in this world.

Zakki pernah mengganggu Wakif. Demikian pula sebaliknya. Bahkan mungkin dalam batas yang tidak wajar. Namun, berkali-kali terbukti bahwa keduanya bisa kembali bersama. Tetap berinteraksi satu sama lain. Seakan-akan lupa bahwa baru saja terjadi sesuatu yang begitu menyakitkan.

Betapapun buruknya keadaan yang terjadi, selalu tersisa jiwa pemaaf dalam diri anak-anak manusia. Keikhlasan dan ketulusan mengharu biru di sanubari yang memohon maaf dan yang memberi maaf.

Keterlaluan sekali kita manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan, bila kita tidak memohon dan memberi maaf yang tulus ikhlas dari lubuk hati paling dalam. Sebab, bukankah Tuhan sendiri adalah Sang Pemberi Ampunan? Sudah tersebut dalam 99 ‘Asmaul Husna, yaitu satu di antaranya adalah ‘Al Ghoffar. Yaitu Maha Pengampun.

Dari Zakki dan Wakif, kita bisa mempelajari, memahami dan menyimpulkan bahwasanya anak-anak manusia itu punya sifat bawaan. Tidak selalu baik, bisa jadi sifat yang buruk. Bukan karakter yang memang diturunkan dari orang tuanya, melainkan memang dipunyai oleh sang anak manusia sejak lahir. Tugas kita adalah memberikan arahan, panduan, serta regulasi yang tepat agar mereka menjadi manusia dewasa. Memohon dan memberi maaf bila ada salah-salah kata atau perbuatan. Agar kemudian dapat dilanjutkan kembali “permainan-permainan”-nya.

Apa Iya Kamu Mau Menikah?

Jangan-jangan lebih menarik S2 daripada menikah?

Saya ini orangnya suka membanding-bandingkan. Bukan untuk tujuan menilai negatif pada orang lain. Sekedar hobi meriset saja. Memikirkan yang mungkin belum tentu dipikirkan oleh orang lain.

Kaitannya dengan menikah, judul di atas hanya untuk provokasi saja. Tentu saja kita semua mau menikah. Jadi bukan soal mau atau tidak mau. Bukan pula soal kapan. Ada yang sudah tahu kapan akan melangsungkan prosesi akad. Seperti saya bilang, tulisan ini bukan untuk memprovokasi supaya tidak menikah. Hampir tidak mungkin ‘kan ya. Karena saya sendiri menikah. Tapi tulisan ini soal “dengan siapa kamu akan menikah?”.

Jadi buah dari pertanyaan saya ini kadang-kadang melampaui batas juga. Saya tidak bermaksud melangkahi konsep jodoh sebagai takdir yang sudah ditetapkan jauh-jauh hari itu. Melainkan jawaban dari pertanyaan ini mungkin bisa jadi rujukan untuk kamu yang mungkin belum ada calon suami/istri. Sehingga bisa merumuskan dan menetapkan kriteria-kriteria untuk calon partner hidup kamu.

Kalau sudah punya calon? Ya diteruskan dong. Disegerakan menikahnya. Apalagi ketika menikah sudah menjadi kewajiban. Yaitu sudah dewasa, sudah memiliki pendapatan sendiri (sesuai target), serta untuk menghindari fitnah dan kekejian lain yang mungkin timbul manakala belum menikah (juga).

Oke, cukup putar-putar tidak jelasnya, hehe. Mari langsung ke intinya saja.

Sejauh ini kesimpulan saya adalah bahwa pasangan calon suami istri tersebut, setidaknya memiliki kesetaraan dalam tiga hal. Yaitu (tingkat) pendidikan, (kelas) ekonomi, dan keagamaan. Saya pilih kata kesetaraan karena memang yang dihindari adalah kesenjangan (gap). Memang bisa dilakukan bridging the gap, tapi you know lha kalau semua ada batas-batas kemampuannya.

Pendidikan

Kalau tingkat pendidikan yang ditempuh tidak sama, salah satu bisa meremehkan pendapat pasangannya. Kasusnya baru terjadi ketika ada yang sarjana, dan ada yang tidak sarjana. Kalau satunya sarjana, terus yang satunya master, doktor, bahkan profesor, saya kira tidak akan terjadi. Tapi harus diakui bahwa terjadi kesenjangan lebar akibat dari proses pendidikan yang berbeda 4 tahun tersebut.

Finansial

Laki-laki itu pada dasarnya egois. Maunya menang sendiri dan menang terus. Suatu fase dalam hidupnya, misalnya, istrinya berpendapatan lebih tinggi, kemudian harga dirinya akan terusik. Namanya manusia sebagai makhluk emosional, ya bukan mencari jalan keluar supaya income-nya lebih besar, eh malah sibuk mengekspresikan gap (kesenjangan) tersebut melalui kemarahan dan kegelisahan.

Tentu tidak semuanya seperti itu. Ini ada contoh lain.

Yang satu, terlalu takut berinvestasi, karena merasa belum sanggup membeli rumah. Yang satunya berpikir, kita beli rumah sekarang saja, meski membebani pengeluaran, setidaknya kita sudah mengunci harga di depan. Daripada membiarkan harga rumah membumbung tinggi tidak terkejar oleh kenaikan gaji.

Masih banyak contoh-contoh lain yang berakar dari kesenjangan pola pikir terkait finansial.

Agama

Dalam Islam, kita itu ada batasnya mengamalkan ajaran-ajaran agama. Yaitu sampai dengan wafat. Setelahnya, tidak lagi bisa mendapat pahala lewat amalan ibadah. Kecuali tiga hal.

  1. Shodaqoh jariyah,
  2. Ilmu yang bermanfaat, dan
  3. Anak yang shalih.

Kita semua butuh yang nomor tiga, sebagaimana kita butuh dua nomor yang lainnya. Namun mendidik yang nomor tiga, tidak pernah mudah. Karena pendidiknya tidak bisa seorang diri. Minimal berdua. Nah, sulit kalau di antara keduanya ada kesenjangan yang signifikan.

Kalau salah satu adalah kurang atau terlalu shalih/shalihah dibandingkan dengan yang satunya, bisa jadi kita akan kasihan sama dia atau sama pasangannya. Kesenjangannya bikin salah satu atau keduanya menjadi tidak nyaman.

Kira-kira begitu ya. Jadi kesenjangan dalam hal agama juga jangan terlalu jauh.

Selanjutnya, mari bicarakan yang lain, yuk.

Kita ini manusia. Kita punya pikiran dan perasaan. Kalau menikah hanya untuk senang-senang seksual dan meneruskan keturunan, kita tidak ada bedanya dengan (maaf) binatang. Itu sangat primary. Padahal kita manusia perlu lebih dari itu. Perlu tambahan pikiran dan perasaan. Sebab itu harus ada cinta dalam pernikahan. Bukan cinta sebagai sebuah kata benda. Melainkan cinta sebagai sebuah kata kerja.

Misalnya, harus ada yang mengalah. tidak melulu si istri sih. ini di pernikahan orang tua saya, si istri (ibu saya) lebih banyak mengalah. kalau tidak mengalah, bukan tidak mungkin (istilah yg banyak dipakai komentator sepak bola) bubar. Alhamdulillah ibu tetap dan selalu sabar. Mudah-mudahan saya bisa banyak meniru beliau.

Kalau kamu tidak mau mengalah, bahkan merasa terpaksa, mungkin kamu perlu mempertanyakan apakah kamu masih cinta atau tidak?

Sebagai suami, saya juga jadi belajar untuk mengalah. Bahasa Inggrisnya, sing waras ngalah (hehehe). Ini adalah strategi jangka panjang para suami, biasanya. Kalau kita berusaha memenangkan adu ngotot saat ini, kita bisa kalah (baca: berpisah) ujung-ujungnya.

Ini ada quote bagus. Quote-nya mendeskripsikan banget bahwa jangan mengejar menang sesaat saja. Tadinya saya tidak tahu ini quote siapa. Tapi ternyata ini adalah quote dia si bapak Presiden Amerika Serikat yang terpilih di pemilihan umum tahun ini (tahun 2016).

Sometimes by losing a battle, you find a way to win the war.

Menikah itu dengan trust. Tapi bukan sembarang trust. Which is, trust with clear expectation.

trust without clear expectation = failed. Supaya tidak failed, lakukan komunikasi. Aku maunya begini. Kamu maunya bagaimana. Apa bisa kita komunikasikan dan sinkronisasikan. Mari kita setting ekspektasi kita supaya tidak melukai satu sama lain, dst. Trust bukan berarti kita berharap begitu saja. Melainkan ada tingkat ekspektasi yang harus kita atur juga. Supaya kalau kecewa, ya tidak kecewa-kecewa amat lha. Pun kita juga tahu harus melakukan apa bila ekspektasi tidak terwujud.

Menikah untuk bahagia? Tentu saja. Jangan (dulu) menikah bila malah sengsara yang engkau dapat. Lebih baik tunda (sementara) menikahnya. Kita tetap bisa bahagia kok, meski belum/tanpa menikah.

Teman saya ada cerita tentang rasanya menikah. Dia dahulu hanya tahu, peduli, dan suka sama namanya sepakbola. Semua tentang sepakbola. Main game Winning Eleven di Playstation. Main futsal. Main sepakbola di lapangan besar. Nonton klub kesayangan, domestik atau internasional. Dan seterusnya, dan sebagainya. Pokoknya semua yang berkait sama sepakbola adalah sangat-sangat menyenangkan.

Ternyata dia menyesal waktu dia menikah. Kenapa menyesal? Karena ternyata menikah itu lebih menyenangkan daripada segala hal yang terkait dengan sepakbola. Dia menyesal, karena memang menyenangkan, mengapa tidak menikah dari dulu? Hehehe.

Until Both Your Head and Your Heart Say “Yes”

Untuk kamu para pria, saya ingatkan kembali. Cinta itu kata kerja. Jadi memang harus selalu dilakukan dan diperjuangkan. Bukannya selesai begitu kita sudah salaman sama si bapak Mertua di akad pernikahan. Justru, kita para pria harus setidaknya memberikan kehidupan yang (minimal) persis sama dengan apa yang dialami oleh sang putri. Baik dimensi finansialnya, keagamaannya, dan dimensi-dimensi lainnya.

Mudah-mudahan bermanfaat.

Related Post(s):

Perempuan Pekerja

Belakangan saya mengalami diskursus tentang perempuan (yang) bekerja. Memang wacana ini memang sedang sering hinggap di telinga saya. Ada banyak sebab dan alasan yang bisa kita diskusikan bersama. Tentang mengapa dan bagaimana fenomena ini terjadi.

  • Memang mau berkarir. Biasanya ini tipe pengejar prestasi. Bekerja di perusahaan bonafide. Syukur-syukur kalau bisa Multi National Company (MNC). Jadi yang dikejar memang bukan sembarang pekerjaan, seperti bendahara atau sekretaris.  Tapi yang memiliki prestise, ada bawahan, serta gaji tinggi. Salah satu bentuk prestise adalah paparan media massa terhadap dirinya. Indikator lain adalah soal bajak-membajak. Bangga bila dibajak oleh perusahaan lain, dengan tawaran remunerasi yang lebih tinggi.
  • Engga mau merepotkan suami. Kalau kategori yang ini, disebabkan tingginya biaya gaya hidup. Mulai dari makanan (siap saji atau tidak), transportasi (kendaraan sendiri atau tidak), pendidikan anak, asuransi jiwa, cicilan KPR dan lain sebagainya. Biaya hidup yang tinggi, menuntut pendapatan yang tinggi juga. Karena pendapatan dari suami bisa jadi kurang, maka istri memilih bekerja.
  • Aktualisasi  ilmu. Sekolah sudah tinggi-tinggi, sampai kuliah bahkan. Investasi dari orang tua ini, dirasa tidak terbayar bila sang anak perempuan tidak bekerja.  Mungkin tidak untuk  dikembalikan langsung kepada orang tua, at least ada Return on Investment, begitu pikir mereka. Ada uang yang masuk dari pekerjaan, setelah uang keluar untuk sekolah dan kuliah. Jadi, gelar pendidikan memang jadi alat transaksi ekonomi  untuk menyambung nyawa.
  • Cadangan hari tua. Khawatir suami  meninggal lebih dulu, dengan atau tanpa cicilan yang masih harus dibayar, sementara dirasa tidak mungkin bila tiba-tiba memiliki sumber pendapatan lain maka perempuan memilih  bekerja. Wajar, punya pendapatan ‘kan tidak bisa asal-asalan dapat saja. Minimal punya kemampuan atau pengalaman. Maka dari itu  perempuan kategori ini memilih bekerja sejak sekarang.

Saya pribadi lebih mendukung perempuan yang bekerja di rumah ya. Ini karena saya melihat ibu saya yang membuka dan menjaga toko, tapi pada saat yang sama sukses  juga sebagai istri dan sebagai ibu rumah tangga. Sukses sebagai istri karena berhasil mendampingi suami dalam keadaan apapun, termasuk ketika ayah saya sakit berat dua tahun yang lalu. Sukses sebagai ibu rumah tangga, salah satunya karena beliau dikagumi oleh keluarga yang lain dalam hal membesarkan anak-anaknya.

Tentang ibu rumah tangga, mari kita simak quote berikut ini, dari film yang sedang tren saat ini “Habibie dan Ainun”:

Mengapa saya tidak bekerja? Bukankah saya dokter? Memang. Dan sangat mungkin bagi saya untuk bekerja pada waktu itu. Namun, saya pikir buat apa uang tambahan dan kepuasan batin yang barangkali cukup banyak itu jika akhirnya diberikan pada seorang perawat pengasuh anak bergaji tinggi dengan risiko kami sendiri kehilangan kedekatan pada anak sendiri? Apa artinya tambahan uang dan kepuasan profesional jika akhirnya anak saya tidak dapat saya timang dan saya bentuk sendiri pribadinya? Anak saya akan tidak mempunyai ibu. Seimbangkah anak kehilangan ibu bapak? Seimbangkah orangtua kehilangan anak dengan uang dan kepuasan pribadi tambahan karena bekerja? Itulah sebabnya saya memutuskan menerima hidup pas-pasan. Tiga setengah tahun kami bertiga hidup begitu. (Ainun Habibie, Tahun-tahun Pertama)

Untuk menyempurnakan tulisan sesederhana ini, silakan yang perempuan dan akan/masih bekerja, untuk mengisi polling berikut: