Call Your Parents

Sudah merantau, jangan sampai lupa Call Your Parents, ya. Minimal bertanya kabar dan kesibukan. Apalagi teknologi sudah sangat mendukung.

Terinspirasi dari blogger sebelah yang tulisannya bisa dinikmati di sini.


call your parents

Dulu, saya biasa tuh merasa kesal sendiri kalau orang tua menelepon. Terutama telepon dari ayah saya.

Kesalnya ini, tatkala saya masih belum menikah dan dititipkan anak oleh Yang Punya.

Seringkali, saya merasa terganggu. Karena isi percakapannya “kurang penting”. Bukan sesuatu yang membutuhkan campur tangan saya, misalnya. Atau, bukan pula merencanakan (dan melakukan) sesuatu bersama saya.

Sebagai aktifis kampus dan jomblo kantor, saya memilih tenggelam dalam kesibukan.

Namun, semua berubah ketika negara api menyerang.

Pasca menikah dan dititipkan anak, saya jadi paham maksud dari Call from Parents tersebut.

Kan katanya, semua nasihat/pelajaran dari ayah kita baru terasa ketika kita sudah menjadi ayah, ya.

Jadi, bagaimana ayah saya ke saya tuh, paralel dengan hubungan saya ke Anak Dua.

Selama masih satu rumah kan, kita bisa lihat sendiri ya. Sudah makan atau belum, sudah mandi atau belum, mengerjakan tugas/pekerjaan apa, dst.

Saya pernah tinggal di Magelang, Jakarta, Surabaya, dan Bandung. Jelas sudah tidak terlihat lagi oleh orang tua, apa yang sedang saya lakukan.

Rupanya, segala pertanyaan tersebut memang basa-basi saja. Sebagai orang tua, kayaknya lega deh kalo sudah mendengar suara anaknya. Artinya kan, oh anaknya sehat-sehat saja.

Misalkan kita dalam perjalanan, menuju atau meninggalkan kotanya ortu, yang dikehendaki beliau berdua adalah kabar terbaru perihal posisi kita. Sedang menunggu di stasiun/bandara kah, dalam perjalanan kereta, atau sebentar lagi lepas landas, dan sebagainya.

Semuanya baru masuk akal di pikiran saya, dan terasa di hati saya, hanya setelah menjadi orang tua.

Dukungan Teknologi

Kakak-kakak saya kan sudah merantau sejak SMA ya. Jadi telepon belum secanggih sekarang. Saya pun masih mengalami.

Polanya begini. Ortu telepon dulu ke rumah kost. Kepada penjaga kost, dipesankan bahwa akan menelepon lagi 5 menit kemudian. Yang mau diajak bicara, diharapkan untuk bersiap-siap (stand by) di dekat telepon.

Empat tahun kemudian, pun masih sama polanya. Bedanya, karena sekolah saya meliputi perumahan guru juga, jadi terima teleponnya di rumah guru. Yang mana, terasa gak enak mengganggu yang punya rumah.

Lagipula, kitanya harus berpakaian rapi ala mau sekolah (padahal sudah malam hari). Itu lebih baik, daripada memakai pakaian training.

Akhirnya berlanjut pakai wartel di dalam kompleks sekolah. Tapi, masalahnya di harga siy. Interlokal itu mahal; kita gak bisa sering-sering telepon ke rumah. Saya lupa ya. Wartel bisa terima telepon atau tidak. Tolong dikoreksi.

Alhamdulillah, tahun 2004 sudah pegang handphone (HP). Masih monophonic alias satu macam nada suara saja. Namun, karena masih anak sekolah, gak boleh sembarangan menyimpan dan memakai HP. Bisa disita. Masih bisa berdalih dengan alasan untuk komunikasi ke orang tua perihal kelanjutan pendidikan demi menghindari penyitaan.

Di tahun-tahun tersebut, biaya roaming masih ada kali ya. Tolong koreksi misalnya keliru. Itu adalah biaya yang wajib dikeluarkan si pengguna karena ada perbedaan jaringan atau wilayah. Tentu dibebankan ke pulsa yang ketika itu masih didominasi pasca bayar.

Menurut bills.alterra.id, roaming adalah pergantian layanan dari home network ke other network.

Telepon Internet

Sebenarnya, sebelum telepon internet, ada era SMS. Pengecekan sinyal dari HP ke BTS (Base Transceiver Station) setiap 6 detik (CMIIW), bisa ditumpangi sama yang kita sebut SMS.

Setelah SMS, lalu eranya BlackBerry. Sudah seperti chatting dengan WhatsApp (WA) yang kita gunakan sekarang.

Namun, teleponnya masih lewat jalur biasa.

Telepon internet baru marak ya via WA. Sebelumnya hanya berupa call via aplikasi Skype di komputer.

Apalagi sekarang, call juga bisa via Zoom atau Google.

Di Indonesia ini, saya lihat masalahnya di harga. Karena di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Papua masih didominasi oleh Telkomsel. The thing is, harga paket datanya belum mengalami demokratisasi. Alias masih mahal.


Jadi, di atas sudah saya paparkan ya. Mengapa kita harus sebisa mungkin rutin Call Your Parents. Apalagi sudah ada dukungan teknologi berupa telepon internet kan.

Dan tidak harus membicarakan hal-hal serius semata. Sekadar bertanya kabar dan sedang sibuk (proyek) apa, itu sudah sangat sangat cukup.

Ada pengalaman menarik soal Call Your Parents? Share di kolom komentar, ya!


Baca juga artikel saya yang lain terkait FATHERING ya.

Samudera Manfaat Bermain Lego

Meski harganya tidak murah, tapi setidaknya ada 3 (tiga) manfaat bermain lego yang menunjang perkembangan anak-anak.

Impian Masa Kecil

Lego (akronim dr Leg Logd; Let’s Play) tuh impian masa kecil saya. yang sekarang ini, saya agak gak punya waktu untuk mengakomodasinya 😀

Jadi saya beli tuh lego di usia dewasa sekarang ini, karena waktu kecil dulu, gak punya dana untuk memilikinya.

Hanya bisa melambai-lambai dari luar toko mainan kalau melihat lego di rak-rak 😀

Dulu siy, hanya main bongkar pasang ya. Yang variasinya hanya satu macam (alias gak variatif). Itu lho, modelnya hanya 2 titik x 4 titik saja. If you can imagine what I mean.

Kenapa hanya punya yang satu macam begitu, jelas karena lego tuh mahal.

Tidak mungkin rasanya beli lego terus untuk menambal part-part yang kurang. Yah, kami hobi lego enggak segitunya mampu keluar duit.

Kedalaman dompet kami gak sedalam Palung Mariana 😀

Manfaat Bermain Lego

Meski termasuk mainan mahal, tapi saya yakin lego itu bermanfaat. Dari pengagum, saya berubah jadi pembeli. Nah, saya lihat, manfaat bermain lego setidaknya ada di 3 aspek: kognitif, motorik, dan sosial.

Kognitif – Seeing things differently

Sering membongkar pasang lego, melatih anak untuk trial and error. Di sinilah mereka membiasakan diri (baca: belajar) untuk melihat sesuatu secara berbeda (seeing things differently). Dengan kata lain, bermain lego melatih kreatifitas.

Motorik Halus

Manfaat bermain lego di antaranya adalah melatih syaraf dan otot di jari-jemari untuk bisa familiar dan sinkron bekerja sama. Otak berimajinasi; perintah dikirim via syaraf ke otot; lalu otot yang melaksanakannya. Dari konsep imajiner sampai ke tataran eksekusi semuanya aktif ketika bermain lego.

Sosial – Memaksa Berkomunikasi

Bermain lego tuh, ada aspek kerja samanya. Yakni kalau sedang menyusun sesuatu bersama-sama.

Di sisi lain, ada aspek penyelesaian masalah (problem solving) yaitu ketika masing-masing pemain sedang menyusun dan ‘terpaksa’ bersaing memperebutkan sumber daya (resources) lego yang terbatas jumlahnya itu.

Dukungan Ortu

Yang perlu kita ketahui, bermain lego itu tidak di ruang vakum, ya. Maksud saya, pra dan pasca bermain lego butuh dukungan orang di sekitar (salah satunya ya orang tua). Bukan sekedar dukungan uang untuk membeli, tapi juga support berupa diskusi tentang:

  • Rencana
    • Apa rencana esok hari kamu ketika bermain lego?
    • Apa yang mau kamu buat?
  • Desain/Rekayasa
    • Bagaimana/mengapa kamu mendesainnya seperti itu?
    • Fitur ini tujuannya apa?

Dengan bertanya, mengobrol soal karya mereka, akan timbul kepercayaan diri mereka. Terutama terhadap karya yang mereka buat dengan pikiran imajinatif dan tangan yang terampil.

manfaat bermain lego
Baru berapa hari lalu belanja ini. Harga Rp180ribu. Eh per hari ini sudah Rp210ribu aja. Alhamdulillah, kemarin lucky aja dapat yang diskon. Cek di sini.

Apa Harus Lego?

Sebagai pemimpin pasar, Lego lha yang menyetir harga. Dan mereka memilih posisi sebagai yang termahal. Harga tinggi tersebut diimbangi dengan variasi part-part yang sangat beragam.

Lagipula, Lego tidak hanya bermain di pasar generik saja via Lego Classic. Tetapi sudah fokus ke tema-tema semisal konstruksi, perkotaan (via Lego City), Lego Technic, dan sebagainya maupun tema-tema berbasis film: Star Wars, Batman, dll.

Tidak heran ‘kan kenapa harganya melangit?

Kembali ke pertanyaan. Apa harus lego? Jawabannya: tentu tidak.

Kini sudah banyak beredar merek-merek lain di pasar, yang harganya lebih terjangkau serta sudah bisa memenuhi part-part yang sifatnya wajib.

Dan tetap bisa memberikan setidaknya tiga manfaat yang sudah disebut di atas.


Baca juga artikel saya yang lain terkait FATHERING ya.

9 Elements of Digital Citizenship

Panduan 9 elemen Digital Citizenship ini pas banget sebagai pengantar sebelum dan sembari berinternet. Baik untuk digital native maupun digital immigrant.

Selisih usia saya dengan Anak Dua di rumah hampir 30 tahun. Banyak sekali yang berbeda.

Dulu, di usia mereka yang sekarang, hiburan saya hanya televisi; kami tidak bisa memilih konten yang kami tonton. Jadwalnya pun sudah ditetapkan. Kami hanya bisa manut.

Mereka sekarang ada YouTube; kontennya bisa dipilih dan menontonnya bisa kapan saja.

Sekarang saya bisa WFH dengan modal internet+komputer+ bahasa gado-gado Indonesia – English dengan rekan-rekan di Asia Tenggara.

Entah bagaimana 30 tahun lagi. Mungkin sudah Bahasa Cina/Mandarin dengan jam kerja yang tidak lagi 9-5. Tapi 24/7.

Yang jelas, dunia sekarang sudah sangat terkoneksi dan sangat ditentukan oleh teknologi digital.

Omong-omong soal mempersiapkan anak-anak menjadi warganegara digital, ada 9 elemen yang wajib kita tekuni bersama dengan mereka.

By definition, arti kewarganegaraan digital (Digital Citizenship) adalah kebisaan untuk menggunakan teknologi digital dengan cara-cara yang tepat. Salah satu ke-tepat-an tersebut, misalnya adalah dengan bijak.

As we know, semakin berkembang teknologi digital, maka semakin meluas pula potensi buruknya yang meliputi perundungan (bullying) maupun penyalahgunaan (abusing). Jadi, ya harus bijak saja.

Nah, ada elemen apa saja dalam Digital Citizenship? Mari bahas satu demi satu.

Digital Citizenship
https://francisjimtuscano.com/2017/10/19/why-digital-citizenship-matters/

Digital Access

Menemukan informasi yang aman dan bermanfaat.

Di internet ada pornografi dengan berbagai bentuknya di berbagai media. Pornografi adalah salah satu konten yang tidak aman dan tidak ada manfaatnya.

Digital Etiquette

Memperlakukan pengguna Internet lainnya dengan hormat dan menghindari perilaku yang tidak pantas.

Paling sering saya temui dari generasi Z, misalnya penggunaan emoticon atau kata-kata semacam “haha”, “hehe”, untuk memperhalus pernyataan. Supaya gak terkesan galak, gitu.

Hal buruk paling sering terjadi ya bullying atas seseorang di social media.

Paling dekat yang saya tahu adalah yang terjadi ke salah satu member JKT48. Dia jelas salah atas unggahannya, tetapi semestinya ada penanganan (treatment) yang lebih tepat daripada cyberbullying.

Digital Commerce

Perdagangan digital mengacu pada pembelian dan penjualan secara bertanggung jawab.

Sebagai penjual, tidak boleh menipu. Berikan deskripsi dan gambar yang memang nyata adanya.

Sebagai pembeli, tidak boleh sembarang membayar atau mentransfer sebelum memastikan keamanan pembayaran tersebut. Jangan sampai kita sudah keluar uang namun tidak mendapat barang.

Digital Rights and Responsibilities

Hak istimewa (privileges) yang dimiliki semua orang saat menggunakan internet, contohnya adalah kebebasan berbicara.

Untuk memastikan bahwa hak-hak ini tetap tersedia untuk semua orang adalah dengan memperlakukan pengguna digital lain secara adil dan menghormati privasi mereka.

Sebenarnya, Rights and Responsibilities ini masih beririsan ya dengan pencegahan bullying.

Digital Literacy

Kemampuan untuk mempelajari cara menggunakan teknologi dan mengakses informasi secara online.

Contoh literasi digital di antaranya termasuk mengetahui bagaimana menggunakan tetikus (mouse) atau bagaimana menemukan jawaban di mesin pencari. Tidak mudah lho merumuskan keyword yang tepat di mesin pencari. Itu contoh yang bisa diberikan oleh orang tua di rumah kepada anak.

Bagaimana dengan di sekolah? Tidak semua siswa memulai sekolah dengan kemampuan teknologi yang sama. Tidak semua punya komputer. Tidak semua punya kuota tak terbatas. Mengajar keterampilan berinternet di kelas dapat membantu menjembatani kesenjangan dalam literasi digital.

Ini mengapa pandemi covid-19 menjadi pendorong terjadinya digital literacy di sekolah-sekolah. Meskipun masih tergagap-gagap.

Berkait dengan ini, berita yang mengenaskan di masa pandemi ini misalnya ada orang tua yang sampai mencuri demi mendapatkan smartphone untuk anaknya gunakan belajar secara daring.

Digital Law

Aturan digital mencakup aturan atau pedoman yang ditetapkan untuk menggunakan Internet. Baik kebijakan yang tertulis maupun tidak tertulis.

Kalau di rumah/keluarga, misalnya aturan tentang screen time.

Di sekolah, kita dapat membuat aturan digital, misalnya untuk mencegah plagiarisme atau cara penggunaan ponsel di kelas.

Di perusahaan, sebagai contoh ada aturan soal implementasi aplikasi Manajemen Identitas dan Akses (Identity & Access Management, IAM).

Digital Communication

Rasanya sudah clear. Sebagian tentu beririsan dengan Digital Etiquette di atas.

Digital Health and Wellness

Melibatkan pengajaran kepada siswa bagaimana melindungi psikologis dan fisik mereka saat menggunakan Internet. Fisik, lagi-lagi screen time untuk melindungi mata. Baik karena paparan cahaya dari perangkat, maupun mencegah mata lelah, mata merah, penglihatan buram, mata kering, hingga iritasi ringan.

Contoh lain, termasuk berlatih cara duduk dengan benar di kursi saat menggunakan komputer dan menghindari terlalu banyak screen time. Jadi, gunakan meja dan kursi yang ergonomis tatkala berinternet.

Di referensi safesitter.org digital citizenship, ada yang disebut Digital Downtime. Supaya kita ga online terus, tetap berinteraksi dan menghabiskan waktu dengan makhluk riil.

Digital Security

Wajib tahu cara menghindari virus, penipuan, atau orang asing saat online. Ajarkan keamanan internet kepada anak-anak. Yang di antaranya meliputi kerahasiaan identitas (jangan gunakan password yang mudah ditebak), hingga bagaimana berinteraksi dengan orang asing maupun penindas daring. Phising: jangan sembarang menyebarkan pranala (link) di whatsapp, email, maupun SMS.


Dengan mengajarkan dan membiasakan praktik berinternet yang sehat, itu berarti kita juga menciptakan ruang yang lebih baik bagi setiap pengguna internet untuk berinteraksi satu sama lain.

Baca juga artikel saya yang lain terkait FATHERING ya.

Referensi:

Menjauhi Sikap dan Tindakan Ortu Toksik

Bertahun-tahun menganalisis dalam diam, saya berkesimpulan bahwa saya adalah anak dalam hubungan ortu-anak yang tidak sehat. Menyadari hal tersebut (dan sebagai bagian dari self-relief), saya coba tuangkan dalam tulisan ini.

Tidak semua hubungan keluarga yang tampak baik di permukaan, benar-benar baik, lho. Anak yang sabar dan penurut. Anak yang menjalani kehidupan apa-adanya; mengalir saja ibarat air dari mata air melalui sungai menuju laut. Contoh anak-anak seperti itu, belum tentu hubungannya baik-baik saja dengan orang tuanya. 

Bisa jadi, di balik “yang baik-baik saja” tersebut ada racun yang diam-diam melumpuhkan. Pelan tapi pasti menjalar dan berakibat buruk ke hubungan-hubungan di luar rumah. Lebih dari itu, ternyata menghambat perkembangan emosional si anak. Yang tertanam semasa kecil, mulai tampak di usia remaja, dan fatal akibatnya baru tampak sesudah menjadi dewasa. 

Kita perlu memberi jarak terhadap anggota keluarga yang rentan memberi pengaruh buruk. Tatkala masih anak-anak, kita jelas kesulitan menegaskan batas-batas tersebut. Namun, seiring bertambahnya usia dan kedewasaan, kita semakin memiliki kekuatan untuk, setidaknya, menghindarinya. Sebagai buktinya, saya yang pernah ber-SMA di asrama yang jauh dari orang tua ini, menemukan bahwasanya salah satu alasan kami-kami ini memilih sekolah tersebut adalah, untuk menghindari interaksi yang intens dengan orang tua yang –sebut saja– toksik. . 

“Kengototan” yang mulai tampak di usia remaja tersebut, tiba di persimpangan jalan ketika usia benar-benar tiba di gerbang kedewasaan. Apakah memilih terjebak dengan masa lalu? Alias memilih menyalahkan masa lalu atas apa yang terjadi sekarang. Atau, memilih berkehendak untuk memutus mata rantai toksik dari generasi ke generasi tersebut? 

Saya yakin kita semua orang baik. Apabila ditanya, tentu kita menjawab dengan mantap akan memilih yang kedua. 

Jadi, bagaimana mencegah diri kita menjadi ortu yang toksik? Kita bisa memulai dengan bersikap awas terhadap hubungan antara kita sebagai orang tua (baik ayah maupun ibu) dengan anak. Jelas lebih mudah mengatakannya daripada melakukan. Sebab, orang-orang lain di luar keluarga kecil kita, semisal tetangga, kolega, maupun para guru di sekolah yang melihat dari permukaan, sangat mungkin tidak menemukan “racun” yang dimaksud. 

Sebab, toksik bukan sesuatu yang terlihat kasat mata. Sudah terpendam sejak lama; bahkan mungkin puluhan tahun dari keluarga kecil kita yang dulu. Dalam kondisi kebutuhan fisik (pangan, sandang, papan) telah terpenuhi dan berbagai materi yang kita peroleh, jelas kita menyangkal dan tidak menyadaari bahwa kita telah dilecehkan secara emosional. Tumbuh dalam pengasuhan yang tidak sebagaimana mestinya, kita mungkin tidak mengenali dan menyadarinya. Rasanya akrab dan normal. 

Berikut ini, saya menguraikan pendapat saya tentang hubungan ortu yang bersifat toksik terhadap anak. Refleksi ini penting bagi saya, karena saya sendiri juga seorang ayah. 

Pertama adalah, tidak menghormati (to respect) anak sebagai pribadi. Baik ketika anak masih kecil, maupun sudah dewasa. Tentunya bentuk respek kita kepada anak kecil maupun orang dewasa, berbeda ya. Kepada anak kecil, kita bisa berdiskusi sambil memberikan arah. Seiring menuanya usia mereka, anak mulai membuat target sendiri, ‘kan. Diskusi kita fokuskan pada realistis atau tidaknya target-target tersebut. Tentu saja, seninya adalah bagaimana mengarahhkan diskusi tersebut sesuai dengan usia maupun tingkat pendidikannya.

Kedua, tidak berkompromi dengan anak. Seiring waktu berjalan, anak mulai berkehendak. Mengikuti seluruhnya jelas tidak tepat, tidak dituruti juga berdampak kurang baik. Berkompromi adalah jalan tengahnya. 

Ketiga, tidak menyadari bahwa tiap tindakan akan menjadi contoh yang dilihat oleh anak. Berangkat dari ketidaktahuan anak, semua yang mereka lihat pada dasarnya dianggap boleh. Dalam pikirannya, anak menggumam, “Ortuku melakukan A, berarti A bukan hal buruk, aku pun boleh melakukannya”.

Keempat, tidak bereaksi secara berlebihan atau bertindak terlampau cepat. Menanggapi anak tentu suatu kewajiban ya. Hanya saja, kita perlu melihat dalam horizon yang lebih panjang. Beberapa hal perlu kita pertimbangkan sebelum menanggapi anak: apakah saya akan konsisten? Apakah ini berdampak kecil atau besar? Dan pertimbangan sejenis yang bersifat strategis. 

Kelima, tidak membandingkan anak dengan orang lain. Baik dengan saudara kandungnya, sepupunya, tetangganya, atau teman sekolahnya. Membandingkan anakhanya boleh dilakukan  secara proporsional. Misalnya dengan tujuan memotivasi dia. Sebab setiap anak manusia pasti unik. Penanganannya juga disesuaikan (be customised) dengan karakternya. Keunikan (dan kecerdasan) anak manusia itu berbeda-beda. Howard Gardner saja berhipotesis bahwa ada 8 jenis kecerdasan majemuk. 

Keenam, mengharap anak menjadi dewasa begitu saja dalam berpikir dan bertindak. Orang tua seharusnya menginisiasi kasih sayang, memberi maaf, atau sikap-sikap positif lainnya dalam hubungan ortu-anak. Mengapa kita mengharap dari ayah lebih dulu? Sebab sang ayah adalah individu yang lebih dewasa dan stabil sementara sang putra/putri masih mencari tahu apa yang berhasil dan apa yang tidak ada dalam hubungan tersebut.

Ketujuh, hanya menghendaki kesempurnaan dari diri sang anak. Ortu sepatutnya mengakui kelemahan dan berbagi atas kelemahan tersebut. Bahwasanya manusia menjadi dewasa dengan mengalami naik turunnya kehidupan. Baik dalam pekerjaan, hubungan percintaan, ekonomi, dan lain sebagainya. Membagikan hal-hal tersebut kepada anak akan membuatnya lebih bijaksana dalam mempertimbangkan berbagai alternatif dalam kehidupan. 

Terakhir, hanya memberi dukungan pada anak apabila sesuai dengan ego kita. Selayaknya ortu mendukung berbagai pilihan yang dia ambil. Idealnya, sebelum dia mengambil pilihan-pilihan tersebut, kita sudah mendiskusikan hasil potensial yang mungkin dia raih. Apapun pilihan tersebut, dan bagaimanapun berseberangan dengan kita, hendaknya kita tetap mendukungnya.

Demikian beberapa pergulatan ide dalam pikiran saya. Ekstrak dari bacaan maupun pengalaman.

Mendudukkan Sekolah dan Homeschooling Pada Kursinya Masing-Masing

Belajar di sekolah dengan di rumah seharusnya saling melengkapi. Dengan mengenali kelemahan sekolah, kita akan tahu harus mengharapkan apa dari sekolah.

Di suatu grup whatsapp yang rajin sekali berdiskusi, ada seorang rekan bertanya, pendidikan di rumah tuh, harusnya gimana sih? Yang bertanya tampak serius sekali mempersiapkan masa depannya. Padahal doi masih jomblo ngenes.

Kemudian ada yang menanggapi, Ibu sebagai guru dan bapak sebagai kepala sekolah.

Dibalas dengan kocak donk, jadi kalau ibu guru salah, maka tugas kepala sekolah untuk menghukum donk. Wakaka. Jadi lucu juga kalau dipikir.

Padahal, di mana salahnya? Sebab hal ini sejalan dengan apa yang diajarkan sering kita dengar, “Ibu adalah madrasah pertama bagi anak”. Kalimat ini kemudian diperjelas lagi oleh Ustadz Bendri Jaisyurrahman, “Dengan ayahnya sebagai kepala sekolahnya”.

Sekolah vs Homeschooling
Mendudukkan Sekolah dan Homeschooling Pada Kursinya Masing-Masing

Sekolah yang bagus adalah yang cocok untuk anaknya dan kemampuan keluarganya. Apa gunanya kalau anak sekolah di sekolah yang mahal tapi dia jadi stressed, misalnya. Men-terapi “kegilaan”-nya memaksa ortu merogoh kocek lebih dalam.

Atau malah orang tuanya yang terbebani membiayai sekolahnya. Ada lho temen SMA saya, sepertiga gaji ortunya kala itu, untuk membiayai si putra sulung ini. Padahal sekolahnya aja masih relatif murah. Duh mesakke.

Belum lagi berhadapan dengan gaya hidup orang-orang yang level ekonominya lebih tinggi. Kasian anaknya kan kalau dianggap “gak gaul” sama temannya -hanya- karena game atawa gadget-nya beda kelas.

Saya berpandangan bahwa biaya sekolah doank tuh gak cukup untuk membesarkan anak. Biaya sekolah tuh mungkin idealnya 50%-70% dari total biaya pendidikannya kali ya. ‘kan anak juga butuh di-kursus-kan ini itu. Basic life skill semacam berenang, menyetir mobil (ini tanggung jawab ortu, menurut saya), mengaji al-qur’an, dan semacamnya.

Belum termasuk biaya peralatan, perlengkapan, maupun kursus yang menunjang bakat alamiahnya dia. Misalnnya Anak Dua di rumah secara rutin kami sediakan perlengkapan dan peralatan menggambar: buku gambar size A3, dan pensil warna. Kalau sudah jenuh, mereka mengisi waktu dengan menyusun balok menjadi suatu karya berupa bangunan, atau superhero andalan mereka: Ultraman. Saya sampai khawatir lho, mereka akan menjadi penggila tokusatsu beneran.

Teori Kecerdasan Majemuk

Howard Gardner, mengusulkan ada 8 kecerdasan majemuk (multiple intelligence), yang kata saya mah ya, perlu banget dipupuk oleh ortunya. Ada apa aja?

  • Linguistik
  • Logika matematika
  • Visual-spasial
  • Musik
  • Interpersonal
  • Intrapersonal
  • Kinestetik
  • Naturalis

Meskipun, ada yang menyanggah bahwa, dilihat dari infrastruktur maupun proses pembelajaran di sekolah, memandanganya berdasar 8 kecerdasan majemuk ini – tidak tepat.

Di sekolah-sekolah kita, ada beberapa jenis kecerdasan yang dinilai superior dan mendapat tempat lebih utama, yaitu kecerdasan matematika-logika dan kecerdasan berbahasa.

Anak-anak yang memiliki jenis kecerdasan tersebut biasanya menjadi juara kelas. Sementara itu, anak-anak yang memiliki jenis kecerdasan berbeda cenderung dilabeli dengan sebutan nakal atau bodoh.

Padahal, anak yang sering disebut nakal atau bodoh itu ternyata banyak berhasil berkarya di masyarakat dan menjadi orang yang sukses saat dewasa.

Nakal dan Bodoh

Kenakalan anak pada dasarnya adalah ekspresi pemberontakan yang dilakukannya ketika mereka merasa bosan/jenuh atau tidak nyaman dengan keadaan yang dialaminya. Ekspresi ini beragam pada setiap anak, sesuai dengan kecenderungan natural yang paling mencolok dalam dirinya.

Ada anak yang mengekspresikan pemberontakannya dengan asyik mengobrol dengan temannya (interpersonal), ada yang berlari-lari (fisik-kinestetis), ada yang mencoret-coret, ada yang melamun dan berkhayal, dan sebagainya.

Cara kedua untuk mengenali jenis kecerdasan anak adalah dengan mengamati bagaimana anak-anak mengisi waktu luang mereka. Ketika anak bosan dan tidak diperintah siapapun, apa yang mereka lakukan? Ketika anak diberi kebebasan untuk melakukan sesuatu tanpa sebuah perintah/tekanan, apa pilihan yang mereka lakukan?

Ada anak-anak yang mengisi waktu luang dengan mendengarkan musik, membaca, menulis, olahraga, jalan-jalan, dan sebagainya.

Itulah cermin dari hal-hal yang disukai dan menjadi minat alamiah anak. Dan dimungkinkan, itu merupakan salah satu jenis kecerdasan yang menonjol pada anak.

Harapan Kepada Sekolah

Namanya teori, tentu Kecerdasan Majemuk tidak lepas dari kelemahan-kelemahan. Ada apa saja?

  • Kontroversi terutama dalam pandangan ahli psikologi tradisional, antara lain mencampuradukkan pengertian kecerdasan, ketrampilan dan bakat.
  • Lebih bersifat personal/individual sehingga teori ini lebih efektif digunakan untuk mengembangkan pembelajaran orang per orang daripada mengembangkan pembelajaran massa/klasikal.
  • Membutuhkan fasilitas yang lengkap sehingga membutuhkan biaya besaruntuk operasional klasikal atau massal,
  • Tenaga kependidikan di Indonesia belum sepenuhnya siap melaksanakan teori ini dalam praktek di dalam kelas K‐12 ataupun juga pembelajaran yang melibat‐kan pembelajar dewasa, karena sudut pandang kebanyakan orang masih sudut pandang tradisional

Apabila dikomparasi dengan sekolah kekinian yang kita kenal, atau masih dalam pemahaman saya sebagaimana saya sekolah dahulu, maka mengharapkan sekolah akan memupuk dan menumbuhkembangkan anak-anak kita semua berdasar pada kecerdasannya masing-masing adalah hil yang mustahal.

Kita butuh reformasi pendidikan yang masif, bila memang itu yang kita mau lakukan. Tapi ini butuh energi yang besar dan cenderung high cost. Berikut rinciannya:

  1. pembelajar dijadikan subjek pendidikan dan pusat proses pembelajaran;
  2. teori aktivitas diri dan aktif‐positif merupakan dasar dari proses belajar;
  3. tujuan pendidikan dirumuskan berkaitan dengan pertumbuhan dan perkembangansi pembelajar daripada tekanan pada penguasaan materi pembelajaran;
  4. kurikulum sekolah disusun dalam kerangka kegiatan bersama atau kegiatan yang bersifat “proyek”;
  5. perlunya secara rutin kontrol informal di kelas dan sosialisasi mengajar dan belajar atau kegiatan bersama di tengah‐tengah arus deras individualisme;
  6. hendaknya banyak diterapkan keaktifan berpikir dan berargumentasi daripada sekedar menghafal atau mengingat‐ingat saja;
  7. pendidikan hendaknya mengembangkankreativitas siswa

Berat sekali PR kita kalau mau mereformasi pendidikan di sekolah, bukan?

Nah, maka dari itu, untuk saat ini, secara pragmatis, saya kira ada dua hal yang bisa kita lakukan:

  1. Berikan ekspektasi yang wajar saja kepada sekolah; mengingat sekolah adalah institusi pendidikan yang fokus di kecerdasan logika-matematika dan kecerdasan berbahasa,
  2. Mari fokus mengenali dan menumbuh-kembangkan anak-anak kita di rumah, berdasar pada pengamatan kita mengenai ciri-ciri kecerdasan yang menonjol dari mereka

Referensi:

Homeschooling sebagai Alternatif Pendidikan

Bedah singkat potensi homeschooling sebagai alternatif pendidikan.

Para orang tua kini sedang menimbang opsi homeschooling (HS), termasuk kami. Kalau tidak ada pandemi ini, seharusnya Anak Dua masuk TK. Sehingga dua tahun lagi bisa masuk SD. Namun, kami jadinya menghitung dan menimbang ulang kemungkinan untuk homsechooling dulu dan baru masuk TK di semester berikutnya.

homeschooling

FAQ Homeschooling

Beberapa pertanyaan yang sering diajukan mengenai HS adalah:

  • Adakah HS di kota saya? Di mana saya bisa mendaftar homeschooling?
  • Berapa biaya HS yang harus saya bayar?
  • Bagaimana ijazah anak HS? Apakah anak HS bisa melanjutkan ke Perguruan Tinggi?
  • Bagaimana sosialisasi anak HS?
  • Sejak usia berapa anak bisa HS?
  • Bagaimana standar dan kurikulum HS?
  • Apakah saya bisa melaksanakan HS sambil bekerja?
  • Bagaimana cara memulai HS?

Jawabannya ada di laman berikut: FAQ soal Homeschooling

Fyi, FAQ tersebut disusun oleh Rumah Inspirasi. Suatu komunitas HS yang mendokumentasi dan membagikan panduan dan pengalaman ber-HS. Format output-nya cukup lengkap, kok. Ada IG, email berlangganan, webminar, buku-buku, dan sebagainya.

Bukunya ada 2:

  • 55 Prinsip dan Gagasan Homeschooling
  • Pembelajar Mandiri (putra pertama keluarga Sumardiono)

Dapat dikatakan, Rumah Inspirasi bukanlah sekolah. Para orang tua praktisi HS berkumpul di sana. Saling berbagi online dan offline tentang apa masalah yang dihadapi, serta bagaimana solusinya. Untungnya, dokumentasi yang dibuat sudah ditata-ulang sedemikian rupa sehingga nyaman bagi kita mengkonsumsinya.

Konsumen Jasa Pendidikan

Dalam 5 tahun terakhir memang ada kenaikan pencarian search term atau topic HS. Artinya, banyak orang tua yang membutuhkan informasinya. Namun, apakah semua pencari tersebut mendapatkan informasi yang dibutuhkan, atau mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang dimiliki?

Tanpa bermaksud mengurangi upaya untuk mencari tahu, sejauh ini Rumah Inspirasi sepertinya yang paling konsisten dalam membagikan masalah dan solusi dalam HS.

Saya sendiri bersama istri, masih belum menemukan framework yang tepat untuk merumuskan jawaban apakah homeschooling merupakan alternatif yang benar-benar cocok untuk keluarga kami. Mengapa demikian?

Karena selama empat belas tahun bersekolah dari TK hingga SMA, ada dua hal yang tampaknya membuat kita, mewajibkan diri menjadi “konsumen” institusi pendidikan yang bernama sekolah:

  • Kita belum menemukan solusi lain atas kebutuhan bersosialisasi dan keinginan untuk berjejaring di usia sekolah
  • Bila tidak belajar di sekolah, maka kita tidak/belum mengikuti trend dunia soal “belajar di mana”

Sebagai konsumen jasa pendidikan, sekaligus orang tua yang (berusaha) responsible, tentu kita ingin donk mengetahui needs and wants-nya kita, lalu menetapkan ekspektasi kita terhadap jasa pendidikan yang akan diterima oleh anak-anak kita sebagai peserta didik.

Hal tersebut mendesak untuk kita pahami, demi mengoptimalkan best value dari pendidikan oleh guru di sekolah dan pendidikan oleh ortu di rumah.

Responsible, Accountable, and Consulted

Sejak menjadi orang tua, saya menginsyafi bahwa tanggung jawab (responsibilities) pendidikan –terutama karakter– berada di tangan dan pundak orang tua. Dalam hal ini, ortu bisa mengalihdayakan (to oursource) ke pihak-pihak lain:

  • Sekolah formal
  • Lembaga kursus
  • Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA),
  • Pengajar privat, dll

Keempatnya maupun sejenisnya, merupakan lembaga-lembaga yang bisa diandalkan (accountable) dalam melaksanakan kebutuhan si peserta didik.

Ada pula pribadi maupun lembaga yang bisa dijadikan rujukan atau tempat berkonsultasi mengenai pendidikan anak-anak. Sebutan umumnya Psikolog Pendidikan. Butuh berkonsultasi? Silakan tanya mbah Google, misalnya dengan format “Psikolog Pendidikan” + nama kotamu.

Untuk pendidikan strata satu maupun yang lebih tinggi, ada lembaga Konsultan Pendidikan. Perannya lebih kepada menghubungkan kampus di luar negeri dengan calon pesertanya.

Dengan keberadaan kedua jenis lembaga tersebut, kita sebagai orang tua sekaligus konsumen jasa pendidikan, sebenarnya bisa berkonsultasi mengenai pendidikan yang tepat untuk putra-putri kita.

Mengingat, tanggung jawab kita bukan sekedar menyediakan pendidikan. Tetapi juga meramu dengan cermat jasa-jasa pendidikan tersebut, agar anak-anak dapat menemukan fitrahnya.

Kalau kita benar akan menerapkan HS, bagaimana mengevaluasinya? Sebagaimana jasa-jasa pendidikan dari eksternal pun turut melakukan evaluasi.

Evaluasi Homeschooling

Evaluasi HS juga mengacu pada Standard Nasional Pendidikan.

Bila kita ingin mengacu kepada standard pendidikan di masyarakat, pertanyaan para ortu adalah, kalau tidak belajar di sekolah, lantas bagaimana mengevaluasi proses belajarnya? Via sekolah atau bukan sekolah, tentunya adalah standard minimal yang idealnya bisa dipenuhi para peserta didik, dong?

Jawabannya sudah tersedia di Ujian Paket. Ada tiga macam: Ujian Paket A (setara SD), Ujian Paket B (setara SMP), dan Ujian Paket C (setara SMA). Ujian-ujian ini melengkapi Kejar (Kelompok belajar) untuk masing-masing paket. Modul-modul Kejar bisa diakses di sini.

Apakah peserta kejar (kelompok belajar) paket C tidak ada yang kuliah di kampus ternama? Subjek di buku “Pembelajar Mandiri” di atas, kuliahnya di Universitas Indonesia (UI), kok. Ada juga rekan saya tahun 2004 lalu, kuliah di ITB sampai lulus. Beliau juga lulus dari paket C. Jadi, bukan berarti peserta kejar paket tidak bisa menempuh pendidikan tinggi.

Okay, kembali ke konteks pandemi yang membuat kita mempertimbangkan ulang pendidikan anak-anak di paruh kedua tahun 2020 ini. Yang mana, kita sudah 2-3 bulan terakhir melaksanakan secara jarak jauh (remote) dengan bantuan berbagai aplikasi online.

Tren Online Education

Pandemi Covid-19 ini mendorong kita pada percepatan 4.0 yang memungkinkan segala aktifitas kehidupan bisa dilakukan serba online. Termasuk pendidikan, berikut beberapa bentuknya yang sudah new normal:

  • Sebelum memulai kelas, pengajar bisa berbagi materi bacaan terlebih dahulu. Format bisa docs, pdf, slides, dsb. Peserta sebaiknya mempelajarinya dahulu sebelum mendengarkan penjelasannya.
  • Segala bentuk ceramah, presentasi, penjelasan, dsb. bisa direkam dan diunggah di Youtube, atau podcast. Peserta pendidikan tinggal mendengarkan/menonton.
  • Diskusi atau tanya jawab seputar topik yang dipresentasikan, bisa diselenggarakan di WhatApp Group (WAG), Zoom, atau Google Meet. Bukan sekedar ada siswa bertanya kemudian dijawab oleh guru. Yang tidak kalah pentingnya adalah keberadaan siswa lain dalam tanya-jawab tersebut. Fungsinya, untuk memaksimalkan tanya-jawab guna memahamkan siswa-siswa yang tidak bertanya, serta mengefisienkan peran guru agar tidak menjawab yang sama berkali-kali atas pertanyaan yang sama. Intensitas tertinggi dari interaksi antara guru dan siswa, idealnya terjadi di fase ini.
  • Evaluasi pengajaran kekinian pun sudah bisa dilakukan secara online, lho. Guru bisa menggunakan Google Form, atau sekolah bisa berlangganan aplikasi ujian semisal Edubox.

Penutup.

Pada awalnya, saya bimbang terhadap potensi HS sebagai alternatif pendidikan. Saya yakin, pendidikan bukan hanya untuk anak sebagai peserta didik saja. Pendidikan juga untuk orang tua si peserta. Dan poin terakhir ini yang menghadirkan keraguan saya terhadap konsep HS. Karena waktu orang tua sudah tersita untuk bekerja maupun aktifitas lainya.

Seiring berjalannya saya meriset dan menulis artikel ini, saya menemukan bahwa HS bukan sekedar alternatif biasa, setidaknya untuk saya. Yaitu, HS memang sangat mungkin untuk menggantikan peran sekolah sebagai institusi pendidikan.

The devil is in detail. Tinggal bagaimana menemukan dan meramu eksekusi/pelaksanaan HS yang memang tepat dengan situasi dan kondisi si orang tua, sekaligus bentuk dan metode pendidikan yang mengarahkan si anak (sebagai peserta) untuk menemukan fitrahnya.

Being a Husband

Being a husband is not only to work and bring money to your home for your wife and children (if any). But other than working, what else?

Being a husband is not just about going to work and bring money to your home for your wife and children (if any).

But also to be the head of family (Kepala Keluarga). Meaning, as the leader of the family. You know, being leader is know the way, show the way, but also goes the way. So as the head, we should have stated our goal and direction. Many times, just a small steps into the right direction means more than big step but direct to wrong/bad goal.

From men-women literature, men tends to be more logic (rational) and consistent in his behavior. That’s why men being the family head. But not lower the role of women in family, we need kindness and other positive emotions from women. Which is, women are the more expressive one than men.

In Finance

In financial dimension, men are the salesman. The one who search and find more money, revenue, or even profit. At the same time, men needs to understand a bit about the bookeeping and budgeting. For last two topics, I thought women are more appropriate in the administrative role. So, men as the salesman and women as the accountant.

Last discussion with my wife, we conclude the significant role of liabilities in form of payable (hutang) and receiveable (piutang). In either side you may lies at the particular time, both of them representing the unstability of cashflow and revenue/spending. This needs to be managed and controlled. The one we often missing in financial management for family is: do spending with current money while thinking that we must receive the exact amount of money from our receiveables. In reality, it is not happen as our wants right? The money we need may not come at the expected time and amount.

So, there are three (3) roles of a husband, at least: (1) head of family (2) salesman (3) father (if has any children).

Roles of Father

According to ustadz Bendri, there are several hats should be father’s hat each time he face his children:

  • Father must engage and make bonding with children’s heart
  • Always provide time (quantitatively and qualitatively) for children. Every morning before go to work or every night before sleep for daily engagement and for certain occasions, such as week end, or something that last once in a month, or others.
  • Father has to execute his role as “charger” for his children. Like a low-battery smartphone need to be charged, then a child also need to be charged or enlightened by his/her father.
  • Father needs to be an entertainer for his children. Make them laugh.
  • Father not only push children to learn, study, or work hard. But also to play (harder) together. By the end of life, I guess children will remember more about happy things such as playing together rather than things as studying with father as teacher.
  • Father must tell stories to children. Stories means there is a premis that consist of three things: character, goal, and obstacle. These three (3) things will generate the plot (flow of the story).
  • Father must seems as a knowledgeable person. Not only to answer his/her child question, but also to deep dive and explore the curiosity of the respective child.
  • Every child activities/project/initiative must need a “booster” in form of donation. It must not a money, but as important as time, support, spirit, etc. So, father comes as first donatur for every child needs.
  • Father must “promote” each child of his own. Because there lies the strength and weakness of each child. And our assignment is to promote the strength of our children.

Conclusion

I conclude three (3) important things from every life of being a husband. They are:

  • Husband as “Salesman” of the family. To get adequate resources in fulfiling the needs of passanger.
  • Husband as head of the family. Husband set the direction where the family want to fo. What their’s core values to be followed and implemented.
  • Husband becomes father when having child to be raised. Not only take the happiness from “making a family” activities, but also to provide responsibility in handling the further consequence of that “making a family” things.

Membawa Anak Ke Kantor

Hari kemarin, anak-anak ikut ke kantor ayahnya. Kebetulan ibunya sedang butuh me-time sekalian bertemu teman lamanya. Bagaimana seharusnya perihal ajak-mengajak anak ke kantor ini?

Sewaktu kecil, saya yang belum lama sekolah, bertanya ke Ayah saya, “Ayah di kantor mengerjakan apa? Tugas dari bosnya ayah, ya?”. Beliau tidak menjawab, seingat saya. Atau mungkin, jawabannya tidak saya pahami.

Saya bertanya demikian, karena di sekolah saya merasakan, bahwasanya menjadi siswa itu mengerjakan tugas-tugas yang diperintahkan oleh guru. Atau, guru memberikan PR (Pekerjaan Rumah) kepada siswa untuk dikerjakan di rumah.

Tidak mungkin rasanya, seorang atasan mengajari pekerjanya (sebagaimana guru mengajari murid), atau atasan memberikan PR kepada stafnya untuk dikerjakan di rumah. Setidaknya, tidak dengan ayah saya. Belakangan saya baru tahu itu namanya lembur atau in English: Over Time (OT).

Sepertinya banyak anak juga curious dengan apa yang dikerjakan oleh orang tuanya di kantor. Tidak hanya saya seorang. Bahkan di usia 23-24, waktu saya tanya rekan yang seusia, dia juga bahkan tidak tahu apa yang dikerjakan oleh ayahnya di sebuah perusahaan consumer goods pada saat itu.

Kalau dari sisi keuangan perusahaan, punya karyawan kan berarti biaya ya. Sepanjang karyawan tersebut berkontribusi terhadap pendapatan perusahaan, tidak masalah donk punya karyawan di posisi-posisi tersebut. Sampai dengan suatu hari saya menyadari bahwa ada konsep dan analisis proses bisnis dahulu sebelum menetapkan suatu posisi pekerjaan berikut dengan deskripsi pekerjaannya (position & job description).

Dari sisi employment, mempertahankan karyawan juga tidak mudah. Kaitan dengan keluarga (pasangan & anak) karyawan, manfaat-manfaat (benefits) juga harus diberikan oleh perusahaan. Kantor sendiri. memfasilitasi kebutuhan keluarga karyawan dalam wujud program seperti asuransi (termasuk BPJS & BPJSTK), family outing, dan lain sebagainya yang berupaya menyenangkan keluarga karyawan.

Sebuah contoh dari Maybank Indonesia ajak karyawan bawa anak ke kantor ketika pra dan pasca lebaran di tahun 2018 sekaligus mengenalkan kepada anak-anak karyawan perihal apa-apa yang dikerjakan oleh orang tuanya selama berada di kantor.

Irvandi Ferizal, Direktur Human Capital Maybank Indonesia mengatakan, melalui inisiatif ini, perseroan mewujudkan kepedulian kepada karyawan beserta keluarga dengan ikut hadir di tengah keluarga karyawan, termasuk menekan beban biaya yang timbul dari pelaksanaan daycare dengan memberikan solusi yang dapat langsung membantu karyawan dalam menangani anak-anak, yang terkena dampak libur Hari Raya, terutama karena ditinggal mudik asisten rumah tangga.

Lewat pergulatan pemikiran tatkala pillow talks (..ceilah..) saya dan istri tampak bersepakat bahwa penting bagi anak-anak untuk tahu dan engage dengan apa yang dikerjakan oleh orang tuanya. Ini bagian dari parenting/fathering juga.

Bukan sekadar menjawab curiosity nya anak-anak semata, tetapi juga menunjukkan bagaimana sebenarnya hidup itu dijalankan (..berat euy!..). Maksudnya begini, di usia-usia sebelum balita ‘kan mulai ada yang bertanya tuh, “Ayah kerja nggak hari ini?”, atau “Ayah pergi ke kantor jam berapa?”. Kita bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut sembari menceritakan kepada anak-anak bahwa pergi bekerja ke kantor di hari senin-jumat itu berkorelasi dengan apa-apa yang mereka belanjakan. Baik di minimarket, pasar tradisional, toko buku, mall, dan beberapa lokasi lainnya.

Intensitas pengajaran dari kami masih seputar topik-topik tersebut. Belum masuk ke bagaimana mengajarkan soal keuangan kepada anak-anak. Celengan untuk belajar menabung sudah ada, tapi belum rutin mengisinya. Apalagi sampai merencanakan isi tabungan akan dipakai untuk berbelanja apa di masa depan.

Sebelum menjalani yang berat-berat, kami mulai menunjukkan kepada anak-anak apa yang dilakukan oleh orang tuanya di kantor. Mereka melihat bagaimana dalamnya kantor yang dipenuhi para pekerja itu. Sebelumnya mereka sudah berkunjung pula ketika weekend. Di kunjungan pertama, tentu hanya bisa menemui bapak-bapak security.

Ikut “kerja” ke kantor. Bekalnya mainan, HVS + crayon. Ikut jumatan, ngisi kotak amal, jajan ke “Si Merah”, order jejepangan food, tegur sapa dengan beberapa om dan tante. Sempat nyari si ibu, end up exhausted, but happy. From 10 AM to 5 PM.

Selanjutnya banyak bertegur sapa dengan para pekerja lain yang relatif satu usia dengan ortunya. Ketika di rumah, sudah dikasih briefing bahwa kalau bertemu orang dewasa di kantor untuk di-“salim”, penggunaan kamar mandi mungkin ada antrian, dan hal-hal lainnya yang jelas berbeda dengan di rumah.

Sebagai kesimpulan, anak-anak tidak perlu diproteksi sedemikian rupa. Misalnya secara sengaja, “Anak-anak di rumah saja. Gak perlu ikut ke kantor”. Padahal sesekali ke kantor ya tidak apa. Namanya juga membersamai anak-anak, ‘kan? Demikian pendapat saya.

Bagaimana, apakah ada teman-teman pembaca yang membawa anak ke tempat bekerja? Ditunggu komentarnya di bawah, ya.

Meramal Masa Depan Pengasuhan Kita

Bagaimana dunia digital dan dunia kerja kekinian akan mempengaruhi pengasuhan kita di masa datang?

Saya meyakini bahwa pendidikan anak-anak kita adalah tanggung jawab kita, yakni para orang tua. Maksud saya, tanggung jawab tersebut di masa sekarang ini (tahun 2019 dan seterusnya) lebih berat pada orang tua daripada 20-30 tahun yang lalu.

Saya sendiri termasuk produk pendidikan ala orang tua yang meyakini bahwa sekolah adalah pihak ketiga dalam proses pendidikan anak, di mana apa yang dilakukan atau diberikan oleh sekolah pada anak semata wewenang dan ruang lingkup sekolah yang tidak perlu dicampur-tangani oleh orang tua. Saya ingat di suatu masa, ayah saya bilang malah senang kalau guru menghukum saya. Maksud beliau, saya pernah salah dan hukuman tersebut akan membuat saya mengenali kesalahan tersebut untuk tidak terulang.

Pola Asuh Populer di Indonesia: Pilih yang Mana?

Alhamdulillah, pada masa-masa sekolah tersebut, saya dimasukkan di tempat-tempat yang baik. Secara proses pendidikan maupun sosio-kultural masyarakat sekolah tersebut.

Namun belakangan ini, kesadaran dan perhatian orang tua akan ‘parenting’ terasa semakin nyata. By language structuring, parenting kan proses mem-parent-kan si anak-anak secara terus-menerus (continous). Alias proses pengasuhan itu sendiri. Institusi sekolah di mata para orang tua, bukan lagi pihak ketiga di mana para orang tua menitipkan anak-anak, lalu membebaskan proses pendidikan pada si sekolah tersebut – tentu ada proses ‘pengambilan keputusan pembelian’ di awal di mana orang tua menyeleksi sekolah berdasar fitur-fitur yang ditawarkan. Misalnya kurikulum tambahan yang digunakan, materi-materi lain yang diajarkan selain yang diwabijkan, makan siang atau snack, antar jemput anak, dan lain sebagainya.

Pendek kata, kesadaran orang tua akan pengasuhan semakin meninggi, ditunjang oleh berbagai konten digital dari berita, website maupun media sosial dalam topik-topik #parenting. Sehingga sekolah kekinian berperan sebagai partner bagi orang tua dalam proses pendidikan dan pengasuhan yang keterlibatannya sudah dalam orde harian atau mingguan; bukan lagi pelaporan kuartal.

Mari lihat dunia kerja kita sekarang ini.

Digitalisasi dan Robotisasi

Karena dunia kita tidak lagi sama seperti dulu, 20-30 tahun yang lalu atau lebih ke belakang lagi. Sekarang eranya 4.0 Semakin ke sini, hidup kita akan semakin otonom (autonomous). Simply karena sekarang dan ke depan, adalah era digitalisasi dan robotisasi. Kalau bisa digital, ya digital saja. Pangkas jarak dan waktu. Termasuk mengurangi penggunaan kertas. Kalau bisa dilakukan oleh robot (dengan segala terminologi apa itu robot), ya dilakukan saja oleh robot (alias bukan oleh manusia).

Terus di mana peran manusia? Saya berpendapat, manusia akan menjadi semakin manusia – setelah peran-peran yang bisa dijalankan secara digital oleh robot mulai diambil alih oleh mereka. Dan mulai dari sanalah pendidikan kita secara perlahan-lahan mulai harus berubah—atau diubah.

Sebab, tantangan kehidupan dan pekerjaan anak manusia ke depan, akan berjalan sedemikian cepatnya yang bahkan belum pernah terjadi dalam sejarah manusia itu sendiri. Manusia akan merancang (to design) sistem yang cepat atau lambat akan bisa dijalankan secara digital oleh manusia, yang selanjutnya akan dieksekusi oleh robot secara otomatis – selanjutnya, manusia hanya diberikan peran sebagai pengawasnya. Bahkan, pengawas dari pengawas robot.

Tantangan demi tantangan berubah sedemikian cepatnya, sehingga anak-anak manusia yang akan bertahan (to survive) adalah mereka yang mampu bergerak lincah (agile) dari sistem ke sistem dalam peran sebagai designer (termasuk engineer) maupun controller.

Agility

Siklus lama dalam proses pendidikan adalah belajar, lalu ujian. Bahkan begitu seriusnya ujian sebagai mekanisme pengujian, hingga semua pemangku kepentingan (stakeholder) pendidikan, baik orang tua maupun guru, mewajibkan para siswa untuk belajar menjelang ujian. Hingga ujian menjadi momok yang sedemikian menakutkan bagi para siswa: (sebagai contoh) bahwa gagal Ujian Nasional (UN) maka hidup akan terasa hampa. Tidak lulus SBMPTN untuk memasuki Perguruan Tinggi Negeri (PTN) berarti musnah sudah separuh jalan hidup. Di masa saya Ujian Nasional (UN) SMA, ancaman tidak lulus membayangi sedemikian rupa. Karena, harus mengulangi ujian via Paket C bila gagal lulus UN.

Padahal di era baru, yang semakin ditengok adalah portfolio and pengalaman (experience). Bukan lagi ijazah atau asal sekolah. Beberapa perusahaan multinasional mulai memandang rekrutmen karyawan baru (yang fresh graduate) dalam perspektif seperti ini. Meskipun fresh graduate dari SMA/SMK/PT, experience semakin dipertimbangkan. Di sisi lain, begitu diperhatikannya pengalaman (dalam waktu tertentu) oleh dunia kerja yang baru, sehingga stuck terlalu lama di suatu perusahaan, bisa dipersepsi kurang lincah (less agile) oleh para rekruter dalam mencari karyawan berpengalaman.

Demikian pula dengan portfolio. Sebagai akumulasi karya, portfolio menunjukkan how well you perform as an artist. Baik secara kualitas, maupun produktifitas. Di era digitalisasi dan robotisasi, yang tidak tersentuh oleh keduanya adalah manusia sebagai seniman (human as an artist).

Jadi sejak masa sekarang, kita harus melihat setiap pekerjaan kita sebagai sebuah karya. Karya yang seperti apa? Karya yang tidak berulang (atau tidak akan terulang). Mengapa demikian? Karena segala yang akan dan bisa berulang, cepat atau lambat, akan diotomatisasi secara digital oleh para robot. Setuju atau tidak?

Education for Being an Artist

Dari beberapa uraian di atas, semakin tampak bahwa kita umat manusia semakin menjauhi yang namanya industrialisasi, revolusi industri, dan berbagai tetek-bengek manufakturisasi lainnya. Bukan akan hilang sama sekali, namun peran dan posisi manusia di dalamnya akan semakin berkurang. Sebagaimana pabrik yang semakin banyak dioperasikan oleh mesin dan robot, instead of manusia. Atau proyek-proyek konstruksi yang tenaga-tenaga buruh bangunannya semakin berkurang seiring dengan penggunaan material-material siap pakai semisal beton-beton precast.

Maka pendidikan di masa depan, adalah pendidikan yang membawa anak-anak kita menjadi seniman. Atau minimal memandang setiap pekerjaannya dalam perspektif karya yang customised (sesuai kebutuhan pengguna) dan sophisticated (kerumitannya juga mengikuti keperluan pengguna).  

Untuk mudahnya, saya tuliskan dalam format bullet point yang mudah dipahami, dieksekusi dan diukur sebagai berikut:

  • Jangan berpatokan sama ujian. Apalagi ujian yang harus belajar dulu baru ujian. Karena ujian itu tidak autentik. Yang autentik itu adalah karya.
  • Tidak belajar dan berkarya sendirian. Kenyataannya, di dunia kekinian, karya tidak dibuat sendirian. Ada proses usaha atau proses yang mengiringi pembuatan sebuah karya. Baik di fase sebelumnya maupun sesudahnya. Berkawanlah dengan mereka yang bisa berperan sebagai ‘hulu’ atau ‘hilir’ dari karyamu.
  • Perbanyak kolaborasi sejak kecil. Bukan dengan yang sejenis, melainkan yang berbeda jenis (profesi, hobi, kompetensi, dll). Ini adalah kelanjutan dari poin dua. Program-program magang untuk anak SMP/SMA itu termasuk kolaborasi, lho.
  • Ajarkan anak mengenai proyek. Judulnya ya manajemen proyek. Mulai dari perencanaan (termasuk desain), pelaksanaan, kontrol/kendali, sampai evaluasi. Karena segala karya akan dikerjakan dalam perspektif manajemen proyek. Sampaikan dengan bahasa anak-anak, ya.

Sementara demikian dahulu renungan ini. Mudah-mudahan memberi manfaat.

Kalau kamu ada pendapat lain, boleh share di kolom komentar, ya 🙂

Tiga Sejarah yang Perlu Kita Ketahui terkait Sistem Per-Sekolah-an

Perihal sejarah sistem per-sekolah-an, yaitu playground, tes IQ dan homeschooling

PlayGroup (PG) atau lazimnya disebut Kelompok Bermain (KB)

Menurut sejarah, memasukkan anak ke playgroup adalah pilihan keterpaksaan daripada anak diasuh oleh pengasuh yang tidak berpengalaman dan terlatih. Latar belakangnya begini: Tahun 1960-an, Alvin Toffler pernah meramalkan bahwa nanti di Amerika akan terjadi Future Shock! Para ibu yang sebelumnya memiliki waktu untuk  mengasuh anak di rumah, akan menjadi ibu-ibu bekerja (Working Mom) seingga anak-anak tidak lagi ada yang mengasuh di rumah.

Oleh sebab itu, (mungkin kejadiannya di Amerika Serikat sana), perlu dibuat (dan diregulasikan) suatu institusi yang bisa “menggantikan” peran ibu – terutama ketika si ibu sedang bekerja. Jika tidak, akan terjadi generasi yang hilang (Lost Generation) karena perubahan gaya hidup di tingkat masyarakat tersebut. Pemerintah kemudian bereaksi. Dibuatlah sekolah untuk anak-anak batita (bawah tiga tahun, atau toddler). Yang tujuan utamanya sebagai langkah antisipasi agar tidak terjadi Lost Generation karena masa batita dan balita (bawah lima tahun) adalah masa emas pertumbuhan otak anak.

Komentar saya: mungkin fenomena ibu bekerja dan playgroup ini baru beberapa tahun terakhir masif terjadi di Indonesia secara umum, ya (kalau Jakarta jelas sudah lebih lama). Bermunculanlah banyak playgroup, termasuk yang franchise dari luar negeri. Kembali ke sejarah tersebut, jadi sesungguhnya playgroup hanyalah sebuah alternatif saja. Bukan keharusan di mana stay-at-home mom juga harus menitipkan putra-putrinya di Playground. Rekan-rekan saya yang pasutri bekerja pun menitipkan putra/putrinya di PG karena belum trust dengan ART/pengasuh mereka. Saya setuju dengan ustadz Bendri Jaisyurrahman yang menyatakan bahwa ibu adalah guru pertama bagi anak-anaknya dengan ayahnya sebagai kepala sekolahnya.

Tes IQ untuk penerimaan siswa sekolah.

Menurut sejarah, pada saat terjadi Perang Dunia I, Alfred Binet seorang psikolog berkebangsaan Prancis, diminta oleh pemerintahnya membuat tes untuk proses rekrutmen calon tentara. Tes ini memberikan legitimasi atau alasan siapa yang diterima dan tidak diterima sebagai calon prajurit.

Pada masa itu, belum ada riset mengenai otak dan cara kerja otak. Basis dalam mengukur kecerdasan bukan didasarkan pada cara otak manusia bekerja, melainkan data/fakta “Bell Curve”, alias kurva lonceng. Bahwa dengan tes IQ tersebut dan hasil kurva loncengnya, maka dapat dijadikan dasar memisahkan atau mengklasifikasikan kegagalan atau keberhasilan seseorang yang asumsinya akan turut menentukan kesuksesan karir seseorang. Put simply, kalau IQ-nya tinggi maka dia akan sukses sebagai tentara. Hhmmm, kayaknya gak gitu juga deh, ya? 🙂

Tes IQ untuk rekrutmen calon tentara tersebut dirasa berhasil (padahal mungkin belum ada tes pembanding yang sepadan dalam hal mengukur cara kerja otak), sehingga perlahan-lahan diujicobakan untuk penerimaan karyawan di dekade-dekade berikutnya. Tidak hanya di ketentaraan, maupun kepegawaian secara umum, namun juga mindset kurva lonceng tersebut juga terinstalasi di sekolah-sekolah kita.

Komentar saya: mereka yang mengalami proses pendidikan dan pencerahan pikiran lewat sekolah (termasuk saya) menyadari dan mengakui bahwasanya sekolah bukanlah tempat berkompetisi. Dalam kisah mengenai tes IQ di atas, bahkan “kompetisi” tersebut sudah dimulai sebelum masuk sekolah. Pasca proses pembelajaran berlangsung, hasil evaluasi kumulatifnya para siswa dengan nilai terbaik (biasanya tiga besar) diurutkan di antara 30-an siswa di kelasnya. Makin kental lah unsur kompetisi di sekolah. Padahal minat, bakat, serta cara kerja otak antara siswa yang satu dengan siswa lainnya bisa jadi sangat berbeda. Kita mengkompetisikan mereka pada bidang yang start-nya saja tidak sama, bagaimana bisa? Menurut Howard Gardner, ada 9 tipe kecerdasan. Dan siswa-siswa kita, sebagaimana kita semua, memiliki dua atau tiga kecerdasan di antaranya yang berkembang jauh lebih baik dibandingkan dengan kecerdasan-kecerdasan lainnya. Fokus pendidikan kita via sistem sekolah, (mungkin) seharusnya didasarkan pada dua atau tiga kecerdasan utama tersebut.

Homeschooling.

Awalnya, homeschooling lahir di Eropa, sekitar tahun 1980-an, ketika sebagian orangtua di Inggris kecewa dengan sistem sekolah yang ada. Menurut mereka, sistem pendidikan yang ada tidak mengakomodasikan keunikan masing-masing anak. Tidak semua pandai Matematika atau Fisika. Ada yang berminat dan berbakat di bidang menulis, menggambar, musik, menari atau lainnya.

Kalau sistem sekolah masih mengagungkan anak-anak yang pandai Matematika, Fisika, dan sejenisnya itu, bagaimana nasib anak-anak lain? Apakah mereka akan terpinggirkan atau dianggap gagal?

Dari sana, muncullah ide membuat sekolah di rumah (school at home) yang diajarkan oleh orangtua sendiri. Jadi, di Eropa, homeschooling justru dipelopori oleh kaum intelektual yang sudah berpengalaman di sekolah, memiliki waktu luang cukup banyak, mampu secara keuangan, tetapi kurang percaya dengan sistem sekolah yang ada.

Dipengaruhi Revolusi Mesin Cetak

Sebelum mesin cetak ditemukan, pendidikan adalah privilige dan keberadaannya eksklusif. Sebab, ruang kelas tidak mudah multiplikasi. Bahan ajar sulit diduplikasi — karena harus ditulis satu demi satu. Sehingga, siswa yang lulus, kemudian menjadi guru juga tidak banyak jumlahnya.

Semua berubah ketika negara api menyerang mesin cetak datang. Memperbanyak bahan ajar menjadi lebih mudah. Lebih banyak yang bisa mengajar, lebih banyak yang bisa jadi siswa. Ruang kelas –yang kita sebut sekolah– adalah institusi pendidikan yang lahir dan berkembang sebagai tren baru.

Sekolah kemudian menjadi “kewajiban” sebelum memasuki dunia kerja. Yang bersekolah adalah yang disebut “anak-anak”. Tadinya, klasifikasi anak-dewasa tidak ada. Semua berjuang bersama. Ya berperang, bekerja, berdagang, dsb. Model pengajaran kepada manusia muda –sebelum disebut anak-anak sejak ada sekolah– lewat otodidak, magang, on-job training (OJT), you name it. Intinya belajar sambil bekerja. Semua bentuk komunikasi, termasuk pengajaran, dilakukan secara lisan — sebelum ada meisn cetak.

Bagaimana di tahun 2020? Kalau sebelum ada mesin cetak (dan kemudian radio-televisi) tadinya ilmu pengetahuan dan guru bersifat eksklusif, kini informasi bisa diakses anak maupun dewasa berkat keberadaan internet. Mesin cetak, radio, televisi, dan internet sebenarnya adalah teknologi yang relatif sama, ‘kan. Bagaimana teknologi ini merevolusi cara berkomunikasi, manfaat dan mudhorot-nya itu yang perlu kita kaji bersama bagaimana penggunaan dan perlakuannya.

Referensi: https://kurangpiknik.tumblr.com/post/161809708267/menyerahkan-anak-anak-kepada-dunia

Flash Back

Kami ada putra-putra usia 4,5 tahun di rumah. Bila dibandingkan yang seusia dengan mereka, ada yang sudah sekolah sejak PG, ada yang baru memulai sekolah dengan TK di tahun ini, ada pula yang seperti mereka–masih belum sekolah.

Beberapa bulan lalu, kami galau soal kapan sebaiknya menyekolahkan mereka ke TK. Sempat kami merencanakan untuk tahun ini memulai TK-nya. Pada akhirnya, dengan berbagai pertimbangan kami menetapkan bahwa TK-nya tahun depan saja. Dalam beberapa bulan ini memang kami jadi semakin memahami dan mengakui aspek-aspek perkembangan mental dan sosial mereka serta kapan dan bagaimana seharusnya pihak eksternal seperti sekolah harus mulai dilibatkan dalam proses pendidikan yang akan mereka jalani.

Yeah, dalam pada itu, diskursus seputar playground (PG, alias Kelompok Bermain, atau KB), 9 kecerdasan ala Howard Gardner, dan Homeschooling (sebagaimana sudah disebut-sebut dan dijelaskan di atas) menjadi ranah riset, diskusi dan perdebatan kami selaku orang tua.

Apalagi beberapa desas-desus menyatakan bahwa sekolah dasar (SD) negeri wajib menerima siswa di atas 7 tahun. Kalau kami menyekolah TK-kan sekarang, maka nanti TK B nya perlu diulang lagi sembari menunggu 7 tahun. Di sisi lain, seseorang (yah, banyak dari kita mengalami) yang mulai sekolah, tidak akan berhenti –atau rehat sejenak– dari sekolah sampai dengan lulus kuliah.