Anak Ketiga

Kami baru saja melahirkan anak ketiga – di persalinan yang baru kedua kalinya ini.

Saya anak ketiga dari 4 bersaudara. Namanya juga sudah anak ke-sekian, jarak usia dengan orang tua saya tidak lagi di kisaran 20-an pertengahan tahun. Waktu saya dilahirkan, ayah saya berusia 31 tahun dan ibu saya 29 tahun.

Dalam membesarkan saya, tentu orang tua saya tidak belajar otodidak dari nol. Sudah ada dua kakak sebelum saya. Tapi bukan berarti tinggal mereplikasi apa-apa yang udah terbukti ‘it works’.

Ada bakat atau karakter bawaan orok dari saya yang tentu saja tidak sama dengan kakak-kakak saya. Dan itulah yang membuat parenting selalu menarik ya. Treatment yang sama belum tentu memberikan hasil yang sama pada anak berbeda.

Sekarang, saya juga sudah ada anak ketiga. Dari lahiran yang kedua kali.

Praktis, kami “baru” membesarkan seorang anak. Si nomor 1 dan 2 ‘kan kembar ya. Ibaratnya, sekali mengasuh, jadilah dua anak yang tumbuh besar. Baik fisik maupun mentalnya.

Baca juga: Mitos dan Fakta Anak Kembar.

Si baby newborn ini dengan kakaknya berjarak usia setidaknya 6 tahun. Dengan jarak sesignifikan itu, tentu kami pun berharap agar kakak-kakak ini dapat terberdayakan guna turut mengasuh si anak bungsu ini.

Saya sendiri berjarak 34 tahun dengan yang nomor tiga ini. Artinya, pada usia yang sama antara saya dengan dia, pasti ada perbedaan yang signifikan dan dia tidak mungkin memberikan tanggapan yang sama seperti saya.

Baca juga: Dunia Terasa Berbeda Setiap 30 Tahun Sekali.

Di satu sisi, beban sebagai orang tua terasa berat. Bagaimana kita menjelaskan dan menunjukkan dunia kepada mereka. Karena dunia itu selalu berubah. Dengan kata-kata semisal:

“Ini lho dunia. Dunia itu bekerja dengan mekanisme seperti ini lho. Untuk bisa survive bahkan menang, ini lho beberapa hal yang harus kamu lakukan. Bla bla bla.”

Jadi itu adalah keresahan (anxiety) seorang ayah seperti saya.

Dari awalnya sebagai anak yang kemudian menjadi orang dewasa, lalu menjadi orang tua, ada kalanya (tidak selalu) saya merasakan ketiadaan bimbingan dari ayah saya.

Saya pun mengkhawatirkan hal yang sama. Either tidak bisa membimbing (memberikan arah) kepada anak, ataupun tidak bisa menjadi rekan diskusi yang sepadan –karena gagap membaca perubahan dunia yang terjadi.

Sisi yang Menguntungkan

Di sisi lain, kita sebagai orang tua tidak bisa memilih ingin anak yang seperti apa. Instead of memilih, kita hanya bisa berdoa agar diberikan yang terbaik.

Untuk bayi yang baru lahir, sehat wal ‘afiat dengan organ-organ yang lengkap adalah suatu nikmat yang tak terukur — karena kita tidak bisa mengukur segala waktu dan usaha andaikata lahir tidak normal ‘kan.

Kita pun tidak bisa menjamin hidupnya 1000% persen. Sesederhana sudah ada Dzat Maha Kuasa yang mengatur berbagai rezekinya pasca lahir ke dunia. Orang tua hanya bisa mengusahakan dan mudah-mudahan dipertemukan dengan kesempatan tersebut. Supaya bisa menjadi jalan rezeki si anak.

Meskipun demikian, kami sebagai orang tua sudah memberikan suatu cap (english: brand), yaitu nama lengkap kepada si anak ketiga ini yang mudah-mudahan memberikan kebaikan baginya, bertahan hingga akhir hayatnya, serta tidak rumit dalam penulisan maupun pengucapannya: Akmal Insan Salim.

Pengalaman Melahirkan di RSIA Grha Bunda Tahun 2021

Pengalaman personal seperti ini jarang saya bagikan. Namun, demi memperkaya varisi konten di blog ini dan membangun kedekatan dengan para pembaca, akhirnya saya tuangkan juga.

Istri saya memilih RSIA ini setelah riset dan komparasi dengan setidaknya 2 RS ternama di Kota Bandung. Yaitu, RS Borromeus dan RS Melinda 2. Soal biaya persalinan secara Sectio Caesarea (SC) berada di kisaran 36-38 juta. Ini biaya tahun 2021 ya.

RSIA Grha Bunda

Untuk RSIA Grha Bunda sendiri di kisaran 26-28 juta. Kami sendiri bayarnya 28+ juta.

Harga detail dan aktual (updated) ada di brosur harga dari RS yang secara periodik mereka perbaharui. Bukan dari blog ini atau blog yang lain. Haha.

Tentu saja, price-nya SC lebih mahal ya daripada lahiran biasa. Ono rego ono rupo. Ada harga ada rupa.

Secara jarak, tidak terlampau masalah untuk kami. Baik RS Melinda 2, maupun Grha Bunda keduanya sama-sama berjarak sekitar 4 km. Relatif dekat ya. Keduanya dan RS Borromeus terletak di jantung Kota Bandung.

Berkali-kali pemeriksaan, kami memang lebih banyak di RS Melinda 2. Dengan dokter Oky Haribudiman. Beliau bagus, kok. Ramah dan mampu menjelaskan dengan bahasa yang sederhana.

Sementara pemeriksaan kehamilan di Grha Bunda praktis hanya 3 kali sebelum lahiran. Sekali di bulan Mei, sekali Juni, dan sekali lagi di bulan Juli. Yang terakhir ini hanya berselang 2 minggu dari pemeriksaan sebelumnya, dan berjarak 1 minggu dari hari melahirkan. FYI, SC ini dilakukan di usia kehamilan 38 weeks.

Satu dan lain hal membuat kami memutuskan untuk lahiran di RSIA Grha Bunda saja. Kami mendaftar untuk proses persalinan pada dua hari sebelum tanggal yang disepakati dengan si dokter kandungan, dr. Leri Septiani. Beliau ini juga oke, kok. Ramah dan mampu menjelaskan dengan sederhana.

Sebaiknya memang begitu, karena registrasi ini memakan waktu yang relatif lama. Sekitar 2-3 jam. Kasus ini tentu saja banyak di lahiran spontan ya.

Rupanya SC pun termasuk normal, lho. Ini saya baru tahu. Jadi persalinan normal itu ada normal SC dan normal spontan.

Alhamdulillah proses berjalan lancar. Pasca menitipkan Anak Dua di rumah tantenya, esok harinya kita menuju Grha Bunda. Registrasi ulang dulu sebentar saja, lalu “dititipkan” di UGD untuk pemeriksaan awal oleh para perawat, sebelum dimasukkan ke kamar inap.

Yes, sempat masuk kamar inap sebelum proses persalinan.

Pertanyaan yang berulang dari beberapa ‘lapis’ perawat tersebut di antaranya adalah

  • Ada alergi obat apa saja?
  • Ini lahiran ke berapa?

Dari jadwal yang ditetapkan, proses dimulai lebih cepat 45 menit. Pindah dari kamar inap ke kamar operasi, pemberian anestesi dan lain sebagainya. Sehingga, adek bayi bahkan lahir hanya 15 menit terhitung dari jam-J yang telah disepakati sebelumnya.

Observasi kepada ibu yang melahirkan berlangsung kurang lebih 2 jam. Sebelum “dikembalikan” ke kamar inap. Sementara adek bayi sendiri, setelah observasi kurang lebih 2 jam juga, akhirnya masuk ke kamar perawatan intensif. Yang biasa disebut “perinatologi” juga.

Nah, “pemisahakan” tersebut ada backstory-nya juga.

Hanya 7 hari sebelum persalinan, rupanya ketahuan bahwa istri terinfeksi varicella-zoster. Alias cacar air. Kondisi ini berbahaya bagi si bayi. Dokter dan kami terpaksa menempuh proses SC. Padahal, tadinya kami ingin normal-spontan saja. ‘Kan lahiran sebelumnya sudah SC juga.

SC ternyata hanya satu fase saja demi menghindarkan adek bayi dari infeksi cacar air. Pasca persalinan pun, ibu dan bayi harus dipisahkan. Ibu di kamar inap, sementara adek bayi dirawat intensif di ruang perina di bawah pengawasan dokter anak, yaitu dr.Vidi Permatagalih.

Kami rasa, dokter anak yang satu ini sama ramah dan komunikatifnya dengan dua dokter yang kami sebutkan sebelumnya. Honestly, Ini memang kriteria yang kami tetapkan dalam pemilihan dokter.

In total, ibu dirawat selama 3 hari 2 malam. Sementara adek bayi yang terpisah ini, dirawat 4 hari 3 malam.

Hingga hari ke-7 ini pun, adek bayi masih “diisolasi” dari kakak-kakaknya. Karena salah satu kakak masih punya kemungkinan menularkan cacar tersebut kepada adek bayi.

Biaya Persalinan

Pemisahan yang tidak terelakkan ini berimbas pada biaya yang tidak bisa di-reimburse ke asuransi kantor. Si adek kan dirawat dengan bill (tagihan) yang terpisah dari ibunya. Jadi tidak bisa ke dalam tagihan melahirkan.

Untuk 4 hari 3 malam saja di ruang perina, total cost yang harus kami bayarkan (berikut dengan ucapan terima kasih kepada RS) adalah sekitar Rp 6 juta.

Secara umum, kami terkesan dengan pelayanan RS Grha Bunda. Meski baru berdiri sejak 2015, namun pengalaman dan profesionalitasnya terasa banget.

Demikian informasi dan cerita dari kami. Mudah-mudahan bermanfaat, ya.

Mengatasi Anak Kecanduan Gadget

Di zaman saya sebagai anak-anak, tantangan tersulit mungkin TV ya. Tetapi, di zaman now, tantangan dalam parenting datang setidaknya dari empat hal: TV, komputer, smartphone dan internet.

Bagaimana menumbuhkan minat baca pada anak?

Pertanyaannya mungkin kurang tepat kali ya. Menurut saya, pertanyaan yang tepat adalah, “Topik apa yang diminati oleh anak untuk dieksplorasi lebih lanjut?”

Pada dasarnya anak sudah punya rasa ingin tahu (curiosity) secara alami. Salah satu cara memenuhi keingintahuan tersebut bisa dengan membaca. Nah, orang tua perlu menyelami si anak, untuk mengetahui topik apa yang ingin didalami. Cara yang selalu berhasil adalah dengan bertanya terlebih dahulu kepada yang bersangkutan.

Pengalaman pribadi saya, topik-topik yang pernah melintasi pikiran dan kemudian dieksplorasi oleh Anak Dua di antaranya adalah: dinosaurus (berikut perkembangan zaman), tata surya (planet, satelit, dll), negara (bendera, bahasa, dll)). Tentu ini contoh saja. Karena ‘pancingan’ dari orang tua berbeda-beda, dan apa yang terpapar kepada masing-masing anak juga tidak sama.

Jadi yang bisa orang tua lakukan adalah memberikan sumber atau referensi yang bisa mereka eksplorasi lebih lanjut — di antaranya buku yang bisa dibaca. Kita perlu mengingat juga bahwasanya buku bukanlah satu-satunya sumber. Di era internet ini, banyak sekali sumber pengetahuan. Kenyataan bahwa kita harus bisa melakukan penapisan (filtering) itu adalah sebuah keahlian yang akan saya bahas di pertanyaan lainnya.

Bagaimana membatasi waktu anak untuk menonton TV?

Televisi (TV) bukan lagi satu-satunya alat informasi dan hiburan. Sekarang semua konten tersebut bisa terakses lewat komputer maupun handphone. Yang notebene, ketiganya sudah dimiliki oleh sebagian besar di antara kita, khususnya kelas menengah kita di Indonesia.

Nah, Bagaimana membatasi waktu anak dalam mengakses satu atau ketiga macam perangkat tersebut?

Namun, kuncinya adalah dengan menyampaikan pengantar (brief) kepada anak bahwa mengakses perangkat tersebut bukan satu-satunya hal yang bisa mereka lakukan.

Masih banyak aktifitas lain yang bisa dieksplor. Untuk anak balita, mengasah motorik halus dan kasar merupakan kewajiban orang tua. Anak-anak yang lebih besar bisa kita arahkan untuk mengeksplorasi kegiatan ekstrakurikuler yang memancing minat mereka, semisal musik, olahraga, bela diri, dan sebagainya.

Adakah batasan waktu bagi anak untuk bermain game di komputer atau internet?

Bermain adalah satu bentuk rekreasi. Tujuan rekreasi adalah menghilangkan kepenatan. Cara lain menghilangkan kelelahan/kejenuhan adalah memaparkan diri pada hiburan (entertainment).

Lagi-lagi, TV, komputer, internet, smartphone adalah alat hiburan (selain alat informasi). Seyogyanya, tidak perlu berlama-lama. Antara 2-4 jam saja per hari seharusnya sudah cukup.

Anak-anak yang menghabiskan waktu di luar kewajaran, karena merasa engaged dengan gamifikasi oleh game, lalu mencapai prestasi tertentu yang ditargetkan oleh permainan tersebut, perlu kita berikan tantangan lebih sulit untuk mereka capai.

Bagaimana mengawasi perilaku anak di rumah agar tidak tergantung pada TV, internet, ataupun handphone?

Semua bentuk hiburan rekreatif tujuannya adalah menghilangkan kepenatan. Selama penatnya sudah hilang, maka anak tidak perlu lagi bergantung pada TV, internet, maupun handphone.

Nah, yang perlu kita sadari, produktifitas pun bisa dilakukan dari barang sekecil smartphone. Merekam video, menyunting gambar, mendesain visual sudah bisa dilakukan dari handphone dengan ribuan aplikasi digital yang tersedia.

Yang perlu kita tekankan kepada anak-anak kita di rumah adalah pencarian hiburan dari ketiga perangkat di atas sifatnya sementara saja. Kalau sudah tidak lelah secara psikis, anak-anak harus didukung untuk sibuk menghabiskan waktu dan produktif membuat sesuatu karya.

Untuk beberapa hal, internet juga diperlukan. Bagaimana pendapat Ayah dan Ibu?

Internet adalah ‘pisau’. Tergantung penggunanya dan untuk apa alat tersebut digunakan. Digunakan untuk mencari dan menggunakan informasi jelas bisa. Seperti banyak video-video DIY (Do It Yourself) di YouTube. Ulasan (review) produk atau jasa. Namun keburukan, kejahatan, pornografi ya juga ada di internet.

Baca juga: 9 Elemen Kewargaan Digital

Salah satu cara mengatasi pornografi adalah dengan mengarahkan diskusi pornografi ke ranah yang lebih ilmiah dan pendidikan gender (sex education). Di antaranya adalah topik reproduksi, mengapa manusia berkembang biak, pembagian peran dan kewajiban di antara lelaki dan perempuan, dst.

Saya kira, hal serupa juga berlaku untuk anak-anak yang terlanjur keranjingan main game online.

Kapan waktu yang tepat untuk memberikan handphone kepada anak?

Dalam konteks orang tua memberikan handphone kepada anak, fungsi handphone adalah alat berkomunikasi antara anak dan orang tua. Fungsi utama ini yang harus dijalankan. Misalnya, mengabari orang tua bahwa sekolah sudah usai dan minta dijemput atau menginformasikan si anak mau berangkat ke tempat les sehingga terlambat pulang ke rumah.

Di sisi lain, handphone bisa memberikan hiburan lewat media sosial seperti YouTube, Instagram, Tiktok itu adalah fungsi sekunder yang tentu saja tidak boleh menyalahi fungsi utamanya.

Nah, seiring dengan akses anak kepada media sosial, kita juga perlu mengingatkan bahwa identitas kita dengan sendirinya terekspos ke dunia luar. Oleh sebab itu, kita wajib menekankan secara berkala bahwasanya identitas kita harus dijaga kerahasiaannya. Mulai dari password, informasi pribadi dan keluarga yang tidak perlu diungkap ke publik, dan lain sebagainya.

Anak dan Interaksi Sosial

Beberapa lapis orang di luar keluarga inti, menuntut interaksi sosial yang berbeda dengan anak-anak. Kita perlu mengajarkan dan mencontohkan bagaimana kita bisa membangun hubungan dengan lapisan-lapisan keluarga besar maupun anggota masyarakat tersebut.

Sejak bayi, anak itu mengenali orang-orang mana yang dekat dengannya. Mana yang dia temui sejak membuka mata (bangun tidur), sering berada di sekitarnya, hingga dia menutup mata (tidur) kembali.

Karena ‘terlalu’ sering bertemu, maka nyaris tiada batas dalam berhubungan/berkomunikasi. Namanya juga orang tua dengan anak ‘kan. Apa saja bisa dilakukan oleh anak dengan orang tuanya; apa saja bisa disampaikan oleh si anak kepada orang tuanya.

Seiring dengan semua interaksi tersebut, kewajiban orang tua malah meningkat –sebagaimana seharusnya– yaitu menjadi madrasah (guru) pertama bagi si anak.

Tetangga

Di lingkaran yang lebih luas dari rumah, ada tetangga kanan-kiri dan depan-belakang. Mereka ini adalah orang terdekat yang berada di sekitar kita di tempat kita biasa tinggal. Yang karena kedekatannya secara fisik, memungkinkan kita bisa saling menolong satu sama lain.

Yang biasa saya dan istri lakukan, adalah berbagi makanan –yang biasa kami makan– dengan para tetangga tersebut. Sooner or later, pasti akan ada bantuan yang sangat mungkin kami request dari mereka. Sebelum kebutuhan tersebut ada, kami memastikan bahwa kami sudah membangun hubungan terlebih dulu.

Saudara / Keluarga

Secara ikatan darah, ada namanya om-tante dan pakdhe-budhe yang kami perkenalkan kepada Anak Dua. Namun, secara fisik belum tentu mereka ini dekat dan bisa dijangkau dengan mudah. Takdir rezeki menuntun kami untuk berjauhan satu sama lain.

Yang biasa kami lakukan, apalagi pandemi begini, adalah rutin video call dengan mereka. Supaya ‘pertemanan’-nya tetap terasa. Kalau sebelum pandemi, masih ada kesempatan untuk saling berkunjung –tidak lupa membawa panganan. Yang paling utama di antara Anak Dua dengan para sepupunya adalah berinteraksi atau bermain bersama.

Sekolah

Di sekolah, ada guru dan teman-teman. Yakni pengajar dan rekan-rekan satu institusi yang sebenarnya, mungkin tidak akan benar-benar lama dan panjang. TK 2 tahun, SMP-SMA masing-masing 3 tahun. Yang benar-benar panjang adalah SD: 6 tahun. Tapi perasaan saya, tidak banyak memori dengan rekan-rekan dari SD yang sama.

Meskipun masih pandemi dan jarang bertemu langsung dengan Bu Guru, kami tetap menekankan untuk menghormati para guru. Ucapkan salam ketika bertemu di sekolah. Izin untuk pamit ke WC ketika sedang pertemuan video call. Dan lain sebagainya. Tentang teman-teman mereka, pesan kami supaya mengingat wajah dan panggilannya.

Observasi kami ya, karena masih pandemi, jadi belum bisa berteman dan bermain dengan rekan-rekannya yang lain. Ketika bertemu langsung pun, mereka masih saling melihat dan menilai situasinya dulu. Bisa dikatakan, mereka masih bermain sendiri-sendiri di tempat yang sama; belum bermain bersama-sama. Catatan: Anak Dua masih TK saat ini.

Ada berlapis-lapis hubungan dengan orang-orang di luar rumah. Sehingga wujud interaksi sosialnya pun beragam. Tipe-tipenya ditentukan oleh kedekatan fisik, hubungan darah, dan kesamaan institusi. Klasifikasi demikian memudahkan kita untuk mengenali dan berinteraksi secara sosial dengan tepat dan sewajarnya.

Evolusi Minat Anak

Kesukaan anak-anak pada sesuatu itu berevolusi terus. Kita orang dewasa melihatnya kok enggak fokus ya. Apakah anak-anak memang alamiah seperti itu, ataukah kita orang dewasa yang terlampau serius menyikapi fenomena tersebut?

Sejauh ingatan saya, Anak Dua itu awalnya berminat pada Ultraman. Iya, Ultraman yang produksinya relatif lebih murah tetapi lebih populer daripada Kamen Rider itu. Dari mereka, aktifitasnya seputar ‘menirukan pertarungan’ dan menonton serialnya di YouTube.

Baca juga : Mitos dan Fakta Anak Kembar.

Lebih lanjut, ibunya pernah membelikan satu set kartu Ultraman. Yang abal-abal tentu saja, karena yang asli harganya tidak worth it untuk yang bukan pehobi seperti kami.

FYI, kartu-kartu ini rupanya diperuntukkan bermain game di console yang ada di mal-mal. Console tersebut juga ikut mengeluarkan kartu kalau berhasil menang. Pertanyaannya, ‘modal’ kartu untuk main di mal itu, dapatnya darimana? Ternyata produsernya Ultraman sudah punya ritel khusus yang menjual kartu tersebut juga. Hehehe. Jadi kita sudah tahu cara main bisnisnya ya 😀

Minat dan kesukaan pada Ultraman ini, seingat saya bukan yang terbaru. Setelah Ultraman, ada lagi kok yang mereka sukai. Yang baru bisa kami lakukan hanyalah sebatas ‘memfasilitasi’. Sekilas, terlihat ‘konsumtif’ dan belum jelas arah produktifnya ke mana. Namun, kami masih trial dan observasi terus.

Pada suatu titik, yang diminati tersebut memang tidak lagi bisa memberikan apa-apa lagi. Anak Dua jenuh dengan hobi tersebut – mereka gak pernah mengekspresikannya – dan kami baru menyadari kemudian ketika mereka sudah berpindah ke minat yang lain.

Timbul pertanyaan, “Apakah mereka tidak fokus? Mau jadi apa kalau berpindah-pindah terus?”

Ada masa di mana mereka ‘rajin’ menonton Sisi Terang atau Bright Side di YouTube. Suatu channel yang secara saintifik berusaha menjelaskan fenomena alam berikut dengan data faktanya. Pasca menonton, atau kapanpun mereka tiba-tiba teringat dengan data fakta yang disajikan sebelumnya, mereka menyampaikan ulang kepada kami. Berlanjut menjadi diskusi yang durasinya bisa sebentar atau lama. Berlaku sama dengan channel lain yang mereka tonton, semisal Dunia Binatang Liar.

Di antara hobi yang terus berevolusi tersebut, satu yang konsisten selama ini adalah mereka merefleksikan dan mengekspresikan di atas kertas gambar. Jumat adalah hari di mana masing-masing dari mereka mendapat satu eksmplar baru yang lembar demi lembarnya masih kosong: bersiap memulai petualangan imajiner yang baru.

Kenapa tiap Jumat? Karena kami cinta lingkungan. Menggunakan kertas berarti menebang pohon dan itu merusak daya dukung lingkungan. Bukan, itu alasan idealisnya saja. Hehehehe. Alasan pragmatisnya hanyalah high cost kalau frekuensinya lebih tinggi daripada itu.

Sekarang ini, mereka sedang getol menggeluti olahraga sepak bola dan catur. Main catur iya – kami membelikan papannya – tendang-tendang bola di halaman depan juga iya. Nonton pertandingan catur di YouTube juga dilakukan. Soal sepakbola, biasanya nonton highlight bareng saya. Mereka mulai tahu yang namanya Chelsea, Manchester City, N’golo Kante, dan lain sebagainya tentang sepakbola. Sebagaimana mereka mulai tahu Daniil Dubov, Ali Reza, dan para pecatur dunia lainnya.

minat anak
Catur: olahraga yang sedang diminati Anak Dua saat ini.

Sooner or later, ini mungkin akan berakhir ya. Evolusi minat melanjutkan tugasnya.

Dari saya selaku orang tua, saya masih belum tahu ini akan membawa kami ke mana. Apakah yang kami lakukan ini benar, dari perspektif teori maupun filosofi parenting?

Sebagai sebuah ‘petualangan’, pastinya kami akan melanjutkan dulu perjalanan ini. Sambil terus mengobservasi dan menemukan sesuatu yang baru untuk dipelajari. Ada kalanya kami akan berhenti untuk sejenak menikmati ‘hidangan’ yang disediakan. Bila sudah waktunya, kami akan bersiap-siap memulai petualangan yang baru.

Mudah-mudahan kami akan sampai juga di tujuan. Pada saatnya Anak Dua sudah dewasa, mereka sudah menemukan minat yang akan mereka tekuni dan menjadi produktif atas hobinya tersebut.

Demikian cerita saya. Barangkali kamu ada pengalaman serupa? Boleh dibagikan di kolom komentar, ya.

Mitos dan Fakta Anak Kembar

Sejak mereka bayi, seiring waktu berjalan, kami mendengar dan dikonfirmasi beberapa mitos seputar anak kembar.

Anak Dua sekarang sudah sekolah TK. Sudah bertahun-tahun bertumbuh bersama kami. Sejak mereka bayi, seiring waktu berjalan, kami mendengar dan dikonfirmasi oleh kolega kami, mengenai beberapa mitos seputar anak kembar.

Berikut adalah beberapa tanggapan ‘fakta-fakta’ dari kami, perihal mitos-mitos tersebut.

Mitos 1: Anak Kembar Bisa Lahir Beda Waktu

Fakta 1: Tentu tidak ‘rilis’ bersamaan ke dunia ya. Anak Dua, sebagaimana kami biasa menyebutnya, berjarak 5 menit antara satu dengan yang lain.

Mitos 2: Lahir Duluan Berarti Jadi Kakak.

Fakta 2: Itulah yang kami lakukan. Kami panggilnya ‘Mas’ dan ‘Adek’. Kebiasaan Jawa yang menyatakan, lahir belakangan disebut ‘kakak’ karena mempersilakan ‘adek’-nya duluan rilis. Kami tidak sependapat dengan kebiasaan tersebut.

Mitos 3: Jika yang satu sakit, maka lainnya akan sakit.

Fakta 3: Iya. Dan kata yang lebih tepat adalah ‘menyusul sakit’. Tapi bukan karena kembar. Melainkan karena makan, tidur, mandi, dan bermain nyaris selalu bersama-sama. Jadi karena intensitas dan frekuensi ke-bersamaan-nya sangat tinggi. Bagaimana dengan kakak-adik selisih kurang dari satu tahun, yang segala aktifitasnya selalu ber-barengan? Peluangnya kira-kira akan mirip.

Mitos 4: Anak kembar punya sidik jari yang sama.

Fakta 4: Tentu saja tidak. Bukan hanya sidik jari yang tidak sama. Seluruh manusia pun, menurut info dari salah satu dokter anak yang kami dengar langsung, tidak ada telinga yang sama.

Mitos 5: Harus memakai pakaian yang sama.

Fakta 5: Kenyataannya, kami sebagai orang tua dan berbagai kerabat atau keluarga yang lain, selalu membelikan model atau warna yang sama. Bukan karena preferensi si anak. Melainkan preferensi dari pembelinya. Sebenarnya, lebih sering satu model daripada satu model-satu warna ya.

Mitos 6: Lahiran harus operasi sesar.

Fakta 6: Yang kami dengar dari dokter anak, dua dari tiga kelahiran kembar adalah lewat operasi sesar.

Mitos 7: Punya anak kembar itu orang tuanya akan double effort.

Fakta 7: Berlaku selama awal kelahiran saja ya. Selanjutnya, anak akan punya ‘teman’ belajar dan bermain. Sehingga ortunya ‘relatif lebih ringan’ dalam meluangkan waktu untuk menemani anak-anak belajar dan bermain.

Fakta-fakta dari kami ini juga diinspirasi oleh mitos-mitos yang terdapat dalam: https://www.klikdokter.com/info-sehat/read/3648719/mitos-seputar-anak-kembar-yang-tak-perlu-dipercaya

Call Your Parents

Sudah merantau, jangan sampai lupa Call Your Parents, ya. Minimal bertanya kabar dan kesibukan. Apalagi teknologi sudah sangat mendukung.

Terinspirasi dari blogger sebelah yang tulisannya bisa dinikmati di sini.


call your parents

Dulu, saya biasa tuh merasa kesal sendiri kalau orang tua menelepon. Terutama telepon dari ayah saya.

Kesalnya ini, tatkala saya masih belum menikah dan dititipkan anak oleh Yang Punya.

Seringkali, saya merasa terganggu. Karena isi percakapannya “kurang penting”. Bukan sesuatu yang membutuhkan campur tangan saya, misalnya. Atau, bukan pula merencanakan (dan melakukan) sesuatu bersama saya.

Sebagai aktifis kampus dan jomblo kantor, saya memilih tenggelam dalam kesibukan.

Namun, semua berubah ketika negara api menyerang.

Pasca menikah dan dititipkan anak, saya jadi paham maksud dari Call from Parents tersebut.

Kan katanya, semua nasihat/pelajaran dari ayah kita baru terasa ketika kita sudah menjadi ayah, ya.

Jadi, bagaimana ayah saya ke saya tuh, paralel dengan hubungan saya ke Anak Dua.

Selama masih satu rumah kan, kita bisa lihat sendiri ya. Sudah makan atau belum, sudah mandi atau belum, mengerjakan tugas/pekerjaan apa, dst.

Saya pernah tinggal di Magelang, Jakarta, Surabaya, dan Bandung. Jelas sudah tidak terlihat lagi oleh orang tua, apa yang sedang saya lakukan.

Rupanya, segala pertanyaan tersebut memang basa-basi saja. Sebagai orang tua, kayaknya lega deh kalo sudah mendengar suara anaknya. Artinya kan, oh anaknya sehat-sehat saja.

Misalkan kita dalam perjalanan, menuju atau meninggalkan kotanya ortu, yang dikehendaki beliau berdua adalah kabar terbaru perihal posisi kita. Sedang menunggu di stasiun/bandara kah, dalam perjalanan kereta, atau sebentar lagi lepas landas, dan sebagainya.

Semuanya baru masuk akal di pikiran saya, dan terasa di hati saya, hanya setelah menjadi orang tua.

Dukungan Teknologi

Kakak-kakak saya kan sudah merantau sejak SMA ya. Jadi telepon belum secanggih sekarang. Saya pun masih mengalami.

Polanya begini. Ortu telepon dulu ke rumah kost. Kepada penjaga kost, dipesankan bahwa akan menelepon lagi 5 menit kemudian. Yang mau diajak bicara, diharapkan untuk bersiap-siap (stand by) di dekat telepon.

Empat tahun kemudian, pun masih sama polanya. Bedanya, karena sekolah saya meliputi perumahan guru juga, jadi terima teleponnya di rumah guru. Yang mana, terasa gak enak mengganggu yang punya rumah.

Lagipula, kitanya harus berpakaian rapi ala mau sekolah (padahal sudah malam hari). Itu lebih baik, daripada memakai pakaian training.

Akhirnya berlanjut pakai wartel di dalam kompleks sekolah. Tapi, masalahnya di harga siy. Interlokal itu mahal; kita gak bisa sering-sering telepon ke rumah. Saya lupa ya. Wartel bisa terima telepon atau tidak. Tolong dikoreksi.

Alhamdulillah, tahun 2004 sudah pegang handphone (HP). Masih monophonic alias satu macam nada suara saja. Namun, karena masih anak sekolah, gak boleh sembarangan menyimpan dan memakai HP. Bisa disita. Masih bisa berdalih dengan alasan untuk komunikasi ke orang tua perihal kelanjutan pendidikan demi menghindari penyitaan.

Di tahun-tahun tersebut, biaya roaming masih ada kali ya. Tolong koreksi misalnya keliru. Itu adalah biaya yang wajib dikeluarkan si pengguna karena ada perbedaan jaringan atau wilayah. Tentu dibebankan ke pulsa yang ketika itu masih didominasi pasca bayar.

Menurut bills.alterra.id, roaming adalah pergantian layanan dari home network ke other network.

Telepon Internet

Sebenarnya, sebelum telepon internet, ada era SMS. Pengecekan sinyal dari HP ke BTS (Base Transceiver Station) setiap 6 detik (CMIIW), bisa ditumpangi sama yang kita sebut SMS.

Setelah SMS, lalu eranya BlackBerry. Sudah seperti chatting dengan WhatsApp (WA) yang kita gunakan sekarang.

Namun, teleponnya masih lewat jalur biasa.

Telepon internet baru marak ya via WA. Sebelumnya hanya berupa call via aplikasi Skype di komputer.

Apalagi sekarang, call juga bisa via Zoom atau Google.

Di Indonesia ini, saya lihat masalahnya di harga. Karena di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Papua masih didominasi oleh Telkomsel. The thing is, harga paket datanya belum mengalami demokratisasi. Alias masih mahal.


Jadi, di atas sudah saya paparkan ya. Mengapa kita harus sebisa mungkin rutin Call Your Parents. Apalagi sudah ada dukungan teknologi berupa telepon internet kan.

Dan tidak harus membicarakan hal-hal serius semata. Sekadar bertanya kabar dan sedang sibuk (proyek) apa, itu sudah sangat sangat cukup.

Ada pengalaman menarik soal Call Your Parents? Share di kolom komentar, ya!


Baca juga artikel saya yang lain terkait FATHERING ya.

Samudera Manfaat Bermain Lego

Meski harganya tidak murah, tapi setidaknya ada 3 (tiga) manfaat bermain lego yang menunjang perkembangan anak-anak.

Impian Masa Kecil

Lego (akronim dr Leg Logd; Let’s Play) tuh impian masa kecil saya. yang sekarang ini, saya agak gak punya waktu untuk mengakomodasinya 😀

Jadi saya beli tuh lego di usia dewasa sekarang ini, karena waktu kecil dulu, gak punya dana untuk memilikinya.

Hanya bisa melambai-lambai dari luar toko mainan kalau melihat lego di rak-rak 😀

Dulu siy, hanya main bongkar pasang ya. Yang variasinya hanya satu macam (alias gak variatif). Itu lho, modelnya hanya 2 titik x 4 titik saja. If you can imagine what I mean.

Kenapa hanya punya yang satu macam begitu, jelas karena lego tuh mahal.

Tidak mungkin rasanya beli lego terus untuk menambal part-part yang kurang. Yah, kami hobi lego enggak segitunya mampu keluar duit.

Kedalaman dompet kami gak sedalam Palung Mariana 😀

Manfaat Bermain Lego

Meski termasuk mainan mahal, tapi saya yakin lego itu bermanfaat. Dari pengagum, saya berubah jadi pembeli. Nah, saya lihat, manfaat bermain lego setidaknya ada di 3 aspek: kognitif, motorik, dan sosial.

Kognitif – Seeing things differently

Sering membongkar pasang lego, melatih anak untuk trial and error. Di sinilah mereka membiasakan diri (baca: belajar) untuk melihat sesuatu secara berbeda (seeing things differently). Dengan kata lain, bermain lego melatih kreatifitas.

Motorik Halus

Manfaat bermain lego di antaranya adalah melatih syaraf dan otot di jari-jemari untuk bisa familiar dan sinkron bekerja sama. Otak berimajinasi; perintah dikirim via syaraf ke otot; lalu otot yang melaksanakannya. Dari konsep imajiner sampai ke tataran eksekusi semuanya aktif ketika bermain lego.

Sosial – Memaksa Berkomunikasi

Bermain lego tuh, ada aspek kerja samanya. Yakni kalau sedang menyusun sesuatu bersama-sama.

Di sisi lain, ada aspek penyelesaian masalah (problem solving) yaitu ketika masing-masing pemain sedang menyusun dan ‘terpaksa’ bersaing memperebutkan sumber daya (resources) lego yang terbatas jumlahnya itu.

Dukungan Ortu

Yang perlu kita ketahui, bermain lego itu tidak di ruang vakum, ya. Maksud saya, pra dan pasca bermain lego butuh dukungan orang di sekitar (salah satunya ya orang tua). Bukan sekedar dukungan uang untuk membeli, tapi juga support berupa diskusi tentang:

  • Rencana
    • Apa rencana esok hari kamu ketika bermain lego?
    • Apa yang mau kamu buat?
  • Desain/Rekayasa
    • Bagaimana/mengapa kamu mendesainnya seperti itu?
    • Fitur ini tujuannya apa?

Dengan bertanya, mengobrol soal karya mereka, akan timbul kepercayaan diri mereka. Terutama terhadap karya yang mereka buat dengan pikiran imajinatif dan tangan yang terampil.

manfaat bermain lego
Baru berapa hari lalu belanja ini. Harga Rp180ribu. Eh per hari ini sudah Rp210ribu aja. Alhamdulillah, kemarin lucky aja dapat yang diskon. Cek di sini.

Apa Harus Lego?

Sebagai pemimpin pasar, Lego lha yang menyetir harga. Dan mereka memilih posisi sebagai yang termahal. Harga tinggi tersebut diimbangi dengan variasi part-part yang sangat beragam.

Lagipula, Lego tidak hanya bermain di pasar generik saja via Lego Classic. Tetapi sudah fokus ke tema-tema semisal konstruksi, perkotaan (via Lego City), Lego Technic, dan sebagainya maupun tema-tema berbasis film: Star Wars, Batman, dll.

Tidak heran ‘kan kenapa harganya melangit?

Kembali ke pertanyaan. Apa harus lego? Jawabannya: tentu tidak.

Kini sudah banyak beredar merek-merek lain di pasar, yang harganya lebih terjangkau serta sudah bisa memenuhi part-part yang sifatnya wajib.

Dan tetap bisa memberikan setidaknya tiga manfaat yang sudah disebut di atas.


Baca juga artikel saya yang lain terkait FATHERING ya.

9 Elements of Digital Citizenship

Panduan 9 elemen Digital Citizenship ini pas banget sebagai pengantar sebelum dan sembari berinternet. Baik untuk digital native maupun digital immigrant.

Selisih usia saya dengan Anak Dua di rumah hampir 30 tahun. Banyak sekali yang berbeda.

Dulu, di usia mereka yang sekarang, hiburan saya hanya televisi; kami tidak bisa memilih konten yang kami tonton. Jadwalnya pun sudah ditetapkan. Kami hanya bisa manut.

Mereka sekarang ada YouTube; kontennya bisa dipilih dan menontonnya bisa kapan saja.

Sekarang saya bisa WFH dengan modal internet+komputer+ bahasa gado-gado Indonesia – English dengan rekan-rekan di Asia Tenggara.

Entah bagaimana 30 tahun lagi. Mungkin sudah Bahasa Cina/Mandarin dengan jam kerja yang tidak lagi 9-5. Tapi 24/7.

Yang jelas, dunia sekarang sudah sangat terkoneksi dan sangat ditentukan oleh teknologi digital.

Omong-omong soal mempersiapkan anak-anak menjadi warganegara digital, ada 9 elemen yang wajib kita tekuni bersama dengan mereka.

By definition, arti kewarganegaraan digital (Digital Citizenship) adalah kebisaan untuk menggunakan teknologi digital dengan cara-cara yang tepat. Salah satu ke-tepat-an tersebut, misalnya adalah dengan bijak.

As we know, semakin berkembang teknologi digital, maka semakin meluas pula potensi buruknya yang meliputi perundungan (bullying) maupun penyalahgunaan (abusing). Jadi, ya harus bijak saja.

Nah, ada elemen apa saja dalam Digital Citizenship? Mari bahas satu demi satu.

Digital Citizenship
https://francisjimtuscano.com/2017/10/19/why-digital-citizenship-matters/

Digital Access

Menemukan informasi yang aman dan bermanfaat.

Di internet ada pornografi dengan berbagai bentuknya di berbagai media. Pornografi adalah salah satu konten yang tidak aman dan tidak ada manfaatnya.

Digital Etiquette

Memperlakukan pengguna Internet lainnya dengan hormat dan menghindari perilaku yang tidak pantas.

Paling sering saya temui dari generasi Z, misalnya penggunaan emoticon atau kata-kata semacam “haha”, “hehe”, untuk memperhalus pernyataan. Supaya gak terkesan galak, gitu.

Hal buruk paling sering terjadi ya bullying atas seseorang di social media.

Paling dekat yang saya tahu adalah yang terjadi ke salah satu member JKT48. Dia jelas salah atas unggahannya, tetapi semestinya ada penanganan (treatment) yang lebih tepat daripada cyberbullying.

Digital Commerce

Perdagangan digital mengacu pada pembelian dan penjualan secara bertanggung jawab.

Sebagai penjual, tidak boleh menipu. Berikan deskripsi dan gambar yang memang nyata adanya.

Sebagai pembeli, tidak boleh sembarang membayar atau mentransfer sebelum memastikan keamanan pembayaran tersebut. Jangan sampai kita sudah keluar uang namun tidak mendapat barang.

Digital Rights and Responsibilities

Hak istimewa (privileges) yang dimiliki semua orang saat menggunakan internet, contohnya adalah kebebasan berbicara.

Untuk memastikan bahwa hak-hak ini tetap tersedia untuk semua orang adalah dengan memperlakukan pengguna digital lain secara adil dan menghormati privasi mereka.

Sebenarnya, Rights and Responsibilities ini masih beririsan ya dengan pencegahan bullying.

Digital Literacy

Kemampuan untuk mempelajari cara menggunakan teknologi dan mengakses informasi secara online.

Contoh literasi digital di antaranya termasuk mengetahui bagaimana menggunakan tetikus (mouse) atau bagaimana menemukan jawaban di mesin pencari. Tidak mudah lho merumuskan keyword yang tepat di mesin pencari. Itu contoh yang bisa diberikan oleh orang tua di rumah kepada anak.

Bagaimana dengan di sekolah? Tidak semua siswa memulai sekolah dengan kemampuan teknologi yang sama. Tidak semua punya komputer. Tidak semua punya kuota tak terbatas. Mengajar keterampilan berinternet di kelas dapat membantu menjembatani kesenjangan dalam literasi digital.

Ini mengapa pandemi covid-19 menjadi pendorong terjadinya digital literacy di sekolah-sekolah. Meskipun masih tergagap-gagap.

Berkait dengan ini, berita yang mengenaskan di masa pandemi ini misalnya ada orang tua yang sampai mencuri demi mendapatkan smartphone untuk anaknya gunakan belajar secara daring.

Digital Law

Aturan digital mencakup aturan atau pedoman yang ditetapkan untuk menggunakan Internet. Baik kebijakan yang tertulis maupun tidak tertulis.

Kalau di rumah/keluarga, misalnya aturan tentang screen time.

Di sekolah, kita dapat membuat aturan digital, misalnya untuk mencegah plagiarisme atau cara penggunaan ponsel di kelas.

Di perusahaan, sebagai contoh ada aturan soal implementasi aplikasi Manajemen Identitas dan Akses (Identity & Access Management, IAM).

Digital Communication

Rasanya sudah clear. Sebagian tentu beririsan dengan Digital Etiquette di atas.

Digital Health and Wellness

Melibatkan pengajaran kepada siswa bagaimana melindungi psikologis dan fisik mereka saat menggunakan Internet. Fisik, lagi-lagi screen time untuk melindungi mata. Baik karena paparan cahaya dari perangkat, maupun mencegah mata lelah, mata merah, penglihatan buram, mata kering, hingga iritasi ringan.

Contoh lain, termasuk berlatih cara duduk dengan benar di kursi saat menggunakan komputer dan menghindari terlalu banyak screen time. Jadi, gunakan meja dan kursi yang ergonomis tatkala berinternet.

Di referensi safesitter.org digital citizenship, ada yang disebut Digital Downtime. Supaya kita ga online terus, tetap berinteraksi dan menghabiskan waktu dengan makhluk riil.

Digital Security

Wajib tahu cara menghindari virus, penipuan, atau orang asing saat online. Ajarkan keamanan internet kepada anak-anak. Yang di antaranya meliputi kerahasiaan identitas (jangan gunakan password yang mudah ditebak), hingga bagaimana berinteraksi dengan orang asing maupun penindas daring. Phising: jangan sembarang menyebarkan pranala (link) di whatsapp, email, maupun SMS.


Dengan mengajarkan dan membiasakan praktik berinternet yang sehat, itu berarti kita juga menciptakan ruang yang lebih baik bagi setiap pengguna internet untuk berinteraksi satu sama lain.

Baca juga artikel saya yang lain terkait FATHERING ya.

Referensi:

Menjauhi Sikap dan Tindakan Ortu Toksik

Bertahun-tahun menganalisis dalam diam, saya berkesimpulan bahwa saya adalah anak dalam hubungan ortu-anak yang tidak sehat. Menyadari hal tersebut (dan sebagai bagian dari self-relief), saya coba tuangkan dalam tulisan ini.

Tidak semua hubungan keluarga yang tampak baik di permukaan, benar-benar baik, lho. Anak yang sabar dan penurut. Anak yang menjalani kehidupan apa-adanya; mengalir saja ibarat air dari mata air melalui sungai menuju laut. Contoh anak-anak seperti itu, belum tentu hubungannya baik-baik saja dengan orang tuanya. 

Bisa jadi, di balik “yang baik-baik saja” tersebut ada racun yang diam-diam melumpuhkan. Pelan tapi pasti menjalar dan berakibat buruk ke hubungan-hubungan di luar rumah. Lebih dari itu, ternyata menghambat perkembangan emosional si anak. Yang tertanam semasa kecil, mulai tampak di usia remaja, dan fatal akibatnya baru tampak sesudah menjadi dewasa. 

Kita perlu memberi jarak terhadap anggota keluarga yang rentan memberi pengaruh buruk. Tatkala masih anak-anak, kita jelas kesulitan menegaskan batas-batas tersebut. Namun, seiring bertambahnya usia dan kedewasaan, kita semakin memiliki kekuatan untuk, setidaknya, menghindarinya. Sebagai buktinya, saya yang pernah ber-SMA di asrama yang jauh dari orang tua ini, menemukan bahwasanya salah satu alasan kami-kami ini memilih sekolah tersebut adalah, untuk menghindari interaksi yang intens dengan orang tua yang –sebut saja– toksik. . 

“Kengototan” yang mulai tampak di usia remaja tersebut, tiba di persimpangan jalan ketika usia benar-benar tiba di gerbang kedewasaan. Apakah memilih terjebak dengan masa lalu? Alias memilih menyalahkan masa lalu atas apa yang terjadi sekarang. Atau, memilih berkehendak untuk memutus mata rantai toksik dari generasi ke generasi tersebut? 

Saya yakin kita semua orang baik. Apabila ditanya, tentu kita menjawab dengan mantap akan memilih yang kedua. 

Jadi, bagaimana mencegah diri kita menjadi ortu yang toksik? Kita bisa memulai dengan bersikap awas terhadap hubungan antara kita sebagai orang tua (baik ayah maupun ibu) dengan anak. Jelas lebih mudah mengatakannya daripada melakukan. Sebab, orang-orang lain di luar keluarga kecil kita, semisal tetangga, kolega, maupun para guru di sekolah yang melihat dari permukaan, sangat mungkin tidak menemukan “racun” yang dimaksud. 

Sebab, toksik bukan sesuatu yang terlihat kasat mata. Sudah terpendam sejak lama; bahkan mungkin puluhan tahun dari keluarga kecil kita yang dulu. Dalam kondisi kebutuhan fisik (pangan, sandang, papan) telah terpenuhi dan berbagai materi yang kita peroleh, jelas kita menyangkal dan tidak menyadaari bahwa kita telah dilecehkan secara emosional. Tumbuh dalam pengasuhan yang tidak sebagaimana mestinya, kita mungkin tidak mengenali dan menyadarinya. Rasanya akrab dan normal. 

Berikut ini, saya menguraikan pendapat saya tentang hubungan ortu yang bersifat toksik terhadap anak. Refleksi ini penting bagi saya, karena saya sendiri juga seorang ayah. 

Pertama adalah, tidak menghormati (to respect) anak sebagai pribadi. Baik ketika anak masih kecil, maupun sudah dewasa. Tentunya bentuk respek kita kepada anak kecil maupun orang dewasa, berbeda ya. Kepada anak kecil, kita bisa berdiskusi sambil memberikan arah. Seiring menuanya usia mereka, anak mulai membuat target sendiri, ‘kan. Diskusi kita fokuskan pada realistis atau tidaknya target-target tersebut. Tentu saja, seninya adalah bagaimana mengarahhkan diskusi tersebut sesuai dengan usia maupun tingkat pendidikannya.

Kedua, tidak berkompromi dengan anak. Seiring waktu berjalan, anak mulai berkehendak. Mengikuti seluruhnya jelas tidak tepat, tidak dituruti juga berdampak kurang baik. Berkompromi adalah jalan tengahnya. 

Ketiga, tidak menyadari bahwa tiap tindakan akan menjadi contoh yang dilihat oleh anak. Berangkat dari ketidaktahuan anak, semua yang mereka lihat pada dasarnya dianggap boleh. Dalam pikirannya, anak menggumam, “Ortuku melakukan A, berarti A bukan hal buruk, aku pun boleh melakukannya”.

Keempat, tidak bereaksi secara berlebihan atau bertindak terlampau cepat. Menanggapi anak tentu suatu kewajiban ya. Hanya saja, kita perlu melihat dalam horizon yang lebih panjang. Beberapa hal perlu kita pertimbangkan sebelum menanggapi anak: apakah saya akan konsisten? Apakah ini berdampak kecil atau besar? Dan pertimbangan sejenis yang bersifat strategis. 

Kelima, tidak membandingkan anak dengan orang lain. Baik dengan saudara kandungnya, sepupunya, tetangganya, atau teman sekolahnya. Membandingkan anakhanya boleh dilakukan  secara proporsional. Misalnya dengan tujuan memotivasi dia. Sebab setiap anak manusia pasti unik. Penanganannya juga disesuaikan (be customised) dengan karakternya. Keunikan (dan kecerdasan) anak manusia itu berbeda-beda. Howard Gardner saja berhipotesis bahwa ada 8 jenis kecerdasan majemuk. 

Keenam, mengharap anak menjadi dewasa begitu saja dalam berpikir dan bertindak. Orang tua seharusnya menginisiasi kasih sayang, memberi maaf, atau sikap-sikap positif lainnya dalam hubungan ortu-anak. Mengapa kita mengharap dari ayah lebih dulu? Sebab sang ayah adalah individu yang lebih dewasa dan stabil sementara sang putra/putri masih mencari tahu apa yang berhasil dan apa yang tidak ada dalam hubungan tersebut.

Ketujuh, hanya menghendaki kesempurnaan dari diri sang anak. Ortu sepatutnya mengakui kelemahan dan berbagi atas kelemahan tersebut. Bahwasanya manusia menjadi dewasa dengan mengalami naik turunnya kehidupan. Baik dalam pekerjaan, hubungan percintaan, ekonomi, dan lain sebagainya. Membagikan hal-hal tersebut kepada anak akan membuatnya lebih bijaksana dalam mempertimbangkan berbagai alternatif dalam kehidupan. 

Terakhir, hanya memberi dukungan pada anak apabila sesuai dengan ego kita. Selayaknya ortu mendukung berbagai pilihan yang dia ambil. Idealnya, sebelum dia mengambil pilihan-pilihan tersebut, kita sudah mendiskusikan hasil potensial yang mungkin dia raih. Apapun pilihan tersebut, dan bagaimanapun berseberangan dengan kita, hendaknya kita tetap mendukungnya.

Demikian beberapa pergulatan ide dalam pikiran saya. Ekstrak dari bacaan maupun pengalaman.