Air Purifier

Air Purifier adalah pemurni udara untuk ruang tidur atau ruang kerja. Dilengkapi dengan Ultraviolet-C, ozone generator, humidifier, dan bluetooth speaker. Dimensi 167x145x162 mm. Berat 0.946 kg.

Air Purifier adalah Alat pembersih udara adalah alat yang menghilangkan kontaminan dari udara di dalam ruangan untuk meningkatkan kualitas udara dalam ruangan.

Beda air purifier dengan humidifier

Secara teknis, purifier adalah penyaring udara. Alat ini menghisap, menyaring, lalu merilis kembali udara yang lebih bersih.

HEPA filter, yakni filter yang memenuhi standard HEPA (High-Efficiency Particulate Air). Filter ini bekerja dengan memaksa udara melalui jaring halus yang memerangkap partikel berbahaya seperti serbuk sari, bulu hewan peliharaan, tungau debu, dan asap tembakau. Air purifier biasanya menggunakan HEPA filter sebagai penyaring.

HEPA filter dirancang untuk menangkap 99,97% partikel berukuran 0,3 mikron atau lebih besar. Beberapa studi tentang pembersih udara portabel menunjukkan bahwa menggunakan filter HEPA menghasilkan pengurangan materi partikulat sebesar 50 persen atau lebih tinggi.

Karbon aktif menawarkan jenis filter lain, yang menangkap bau dan polutan gas (berukuran lebih kecil) yang dapat lolos dari filter HEPA.

Humidifier, di sisi lain, hanya berfungsi untuk mengontrol tingkat kelembapan di dalam ruangan. Mereka tidak melakukan apapun untuk mengontrol kualitas udara atau jumlah partikel di udara. Secara teknis, humidifier adalah kipas angin yang disemprotkan pelembab (terutama air) sehingga udara bergerak yang dihasilkan memiliki kelembaban yang lebih tinggi.

Bagaimana dengan Diffuser?

Perbedaannya adalah bahwa diffuser (tag: diffuser) umumnya merupakan perangkat yang lebih kecil yang dirancang untuk digunakan dengan minyak esensial.

Kategori ini disukai oleh orang-orang yang biasanya tinggal sendiri atau dengan orang-orang yang tidak memiliki masalah dengan bau minyak esensial. Diffuser terutama digunakan untuk menyegarkan aroma ruangan. Perhatikan bahwa Anda hanya akan mendapatkan keuntungan dari diffuser jika Anda menggunakan minyak esensial yang tepat untuk Anda.

Pengguna Wajib Air Purifier

Asma

Gejala asma meliputi mengi (nafas berbunyi), batuk, sakit dada, dan sesak napas. Penyakit ini mungkin terjadi beberapa kali sehari atau beberapa kali per minggu. Bergantung pada orangnya, gejala asma bisa menjadi lebih buruk di malam hari atau saat berolahraga. Asma diduga disebabkan oleh kombinasi faktor genetik dan lingkungan. Faktor lingkungan termasuk paparan polusi udara dan alergen. Pemurni udara (air purifier) memurnikan udara dari alergen (serbuk sari, bulu hewan peliharaan, tungau debu, asap roko), dan berbagai polusi udara. Faktor lingkungan dapat dikelola, salah satunya dengan air purifier.

Perokok Pasif

Ini terjadi ketika asap tembakau memasuki lingkungan, menyebabkan terhirup oleh orang-orang di dalam lingkungan itu. Paparan asap rokok secara pasif dapat menyebabkan penyakit, cacat, hingga kematian.

Pemurni Udara Mini 5 in 1

Dilengkapi dengan HEPA filter, sinar UV-C, Ozon Ionizer Generator. Efektif untuk melindungi anda dari bahaya virus, bakteri atau partikel-partikel kecil. Cocok untuk memurnikan ruangan kerja atau kamar, atau di mobil pribadi.

Sudah termasuk Humidifier dan Bluetooth speaker. Dengan dimensi 167x145x162 mm dengan berat 0.946 kg.

air purifier
air purifier
air purifier

References:

  • https://www.consumerreports.org/cro/air-purifiers/buying-guide/index.htm
  • https://pulptastic.com/humidifier-vs-diffuser/
  • https://www.cnet.com/news/best-air-purifiers-for-2020-from-molekule-to-honeywell/

Productivity Hack: Barang yang Wajib Ada di Meja Kerja

Kerja jadi lebih efisien, dengan 11 barang yang wajib aja di meja kerja. Baik untuk bekerja di kantor, maupun bekerja dari rumah.

Lagi zaman WFH begini, mendesain ruang kerja seperti di kantor bukan lagi sebatas keinginan. Malah sudah menjadi kebutuhan. Supaya productivity rate tercapai, minimal sama dengan ketika berada di kantor.

Barang wajib di meja kerja

Mungkin tidak harus persis sama dengan ruang kantor, ya — yang punya ruang meeting, papan tulis, proyektor, dan lain sebagainya. Untuk di rumah, setidaknya, semua yang dibutuhkan oleh kita pribadi, ada di meja kerja kita. Ada barang apa saja yang wajib ada di meja kerja kita?

Personal Computer (PC)

Tidak perlu dibahas mengapa dibutuhkan, ya. Opsinya bisa desktop, laptop, atau all-in-one PC.

Additional Monitor

Satu layar saja masih kurang. Butuh setidaknya dua. Bahkan ada yang harus tiga. Gunakan fitur ekstensi ke layar tambahan via tombol windows + huruf P.

Jurnal

Tentu tidak sama dengan jurnal pribadi. Tapi ini khusus mencatat rencana dan perkembangan pekerjaan. Bisa juga jadwal pertemuan. Kalau kamu masih mencatat rencana meeting secara manual, ini cocok untukmu. As we already know, sudah banyak di antara kita yang move on (baca: migrasi) ke Google Calendar.

Botol minum atau gelas.

Duduk seharian rentan dengan penyakit ambeien. Bisa dicegah dengan rutin minum. Cukupkan minum air putih untuk mencegah datangnya penyakit ginjal. Mengacu pada warna air seni, jangan sampai air seni kita berwarna pekat. Yang (salah satunya) disebabkan oleh minuman berwarna dan bergula seperti teh, kopi instan, softdrink, dan sebagainya.

Minum kopi sebagai penahan kantuk, atau minuman bergula lainnya untuk ‘mendongkrak’ gula ke otak yang dipakai berpikir, memang tidak terhindarkan. Namun, “dosis harian”-nya itu yang wajib kita kendalikan.

Headphone

Untuk call meeting, gunakan headphone supaya tidak polusi suara. Selain untuk meeting, gunakan pula Headphone untuk mendengarkan musik. Lagi-lagi supaya kerjanya bersemangat. Pilih lagu-lagu bertempo cepat untuk mendorong kamu sampai ke pace pekerjaan yang tinggi. Saya biasa mengawali hari dengan mood booster yang ini.

Charger HP

Rasanya tidak mungkin kalau smartphone berada jauh dari kita. Meski dalam status sedang di-charge sekalipun. Barangkali ada telpon penting atau mendesak, ‘kan. Jadi, siapkan charger HP di meja kerja.

Diffuser

Kombinasi diffuser + essential oil oke banget untuk membuat pernafasan, pikiran, dan mood siap bekerja. Saya biasa belanja dari natureessence.oil

Terminal

Sepaket dengan kabel colokan PC dan monitor, charger HP, dan diffuser, maka kita wajib punya terminal steker di meja kerja. Terminal wajib diletakkan di tempat yang aman (safe). Minimal menghindarkan dari kemungkinan basah kalau minuman kita tumpah.

Pelembab

Saya kadang jijik dengan bapak-bapak di masjid yang kulit kakinya kering dan pecah-pecah sedemikian rupa. That’s why saya stok pelembab di meja. Biasanya siy dipakai setelah sholat. Cukup sekali sehari.

Mungkin kebutuhanmu bukan pelembab seperti saya ya. Tapi coba dipikirkan, deh. Pasti ada produk toiletris atau kosmetik yang sangat personal untukmu dan harus ada di meja kerjamu.

Obat Sakit Kepala

It depends on kamu punya penyakit kambuhan apa. Kalau saya, paling sering ya sakit kepala. Misal karena insomnia malamnya (akibat overthinking), atau sebab-sebab minor yang lain. Biasanya kantor ada kotak obat ya. Meskipun itu hak karyawan, tapi tahu diri lha ya kalo konsumsinya sudah melebihi batas kewajaran. Akhirnya stok sendiri, deh. Hehe.

Apa saja jenis obat yang biasa ada di kotak obat? Obat maag, penghilang nyeri haid, obat diare (serius!), balsem otot, dan lain-lain.

Sandal

Mengingat tidak semua peran butuh untuk berinteraksi dengan orang di luar divisi, atau bahkan di luar perusahaan, boleh donk kita memakai sandal di bilik/meja kerja kita sendiri. Jadi, siapkan sandal ya. Saya juga memaki sandal yang sama kok untuk ke masjid.

Demikian ulasan saya mengenai barang meja kerja. Semua yang saya sebutkan di atas, terbukti meningkatkan produktifitas saya. Mudah-mudahan hal yang sama bisa berlaku untukmu, ya.

Baca juga: Work from Home, dari Terpaksa sampai Biasa Saja.

Work From Home, dari Terpaksa menjadi Biasa

Awalnya terpaksa. Rasanya berat sekali. Lima bulan berjalan, WFH sudah semakin biasa saja. Dalam artikel ini, ada beberapa cerita dan saran soal WFH.

Pernah tiga sampai empat kali dalam dua minggu terakhir, para ortu dan mertua menanyakan ke saya dan istri, “Kerja di rumah atau di kantor?”. Dan jawabannya masih sama seperti pekan-pekan sebelumnya, “Iya, masih di rumah.” Paling tambahannya, “Kalau mau ke kantor, dibolehkan. Tapi tetap dianjurkan di rumah.”

Kantor kami juga masih was-was dan mengambil sikap hati-hati soal “memulangkan” para karyawan ke gedung kantor. Topologinya mirip pabrik gitu. Luas, tanpa sekat, dengan udara yang bersirkulasi dalam bangunan saja. Which is, ini risiko banget menyebarkan virus. Apalagi, kami tidak menggunakan jasa asuransi. Bisa jebol kantong perusahaan kalau banyak yang sakit, periksa ke dokter, dan berobat dalam satu periode sekaligus ketika ada wabah–persis seperti sekarang ini.


Pada awalnya, Work From Home (WFH) disambut dengan gembira. Tidak menghabiskan waktu, uang bensin dan energi untuk commuting pergi-pulang rumah-kantor. Perasaan juga lebih lega. Kita kan tidak tahu persis ya rekan sekantor pergi ke mana saja. Sebab eksposur dari kantor juga sampai ke rumah kita — yang ujung-ujungnya pakai mampir ke anggota keluarga tersayang. Perlahan, rasa was-was lenyap.

Sirnanya kekhawatiran tersebut ternyata ilusi belaka. Sebab, orang yang positif/reaktif covid-19 juga tidak kunjung turun. Bahkan terus bertambah. Apalagi colaps-nya sistem kesehatan nasional kita seakan menunggu waktu. Yang akan terjadi kira-kira 6 bulan dari sekarang.

Indikatornya adalah menurunnya jumlah tenaga kesehatan (nakes) karena sakit dan diistirahatkan, hingga yang paling buruk: meninggal dunia. Okupansi (parameter yang biasanya dipakai hotel maupun tempat menginap lainnya) rumah sakit maupun puskesmas semakin meningkat. Bila ini terus terjadi, lama-lama fasilitas kesehatan akan menolak pasien. Fenomena yang sebenarnya sudah mulai terjadi, terutama di daerah-daerah.

FYI, saya follow akun twitter @firdaradiany karena di pandemi ini beliau menghimpun dan mengkompilasi berita-berita pandemi covid-19.

Kembali ke topik WFH. Kondisi yang memburuk akhirnya “menahan” saya untuk tetap di rumah. Baik untuk bekerja, maupun menghindari pertemuan atau interaksi yang kurang produktif di luar rumah. Sebelum pandemi ini, saya mudah sekali meng-iya-kan ajakan ngopi-ngopi dari rekan. Alias hangout yang sebenarnya tidak penting.

Terpaksa WFH

Namanya rumah ya lebih untuk tempat tinggal ‘kan. Kantor tempat bekerja. Fasilitasnya jelas beda. Kantor didesain dan direkayasa supaya “penghuni”-nya lebih produktif. Terutama lewat fasilitas kantor yang menunjang: meja dan kursi kerja, hingga cemilan supaya gak boring. Bila di rumah, terpaksa bekerja dengan fasilitas seadanya. Setidaknya di awal-awal WFH.

Bagi kebanyakan karyawan, bekerja jarak jauh (remote) itu terasa sendirian (feeling lonely). Rasanya seperti bekerja tanpa pengawasan oleh supervisor (atau team leader). Di sisi lain, tidak bisa komunikasi lisan secara langsung dengan rekan kerja. Jadi rasanya seperti bekerja seorang diri. Ini bisa berimbas pada turunnya produktifitas. Baik individu, tim, maupun perusahaan. Yang sangat mungkin terjadi pada perusahaan yang belum pernah membuka diri pada opsi flexible working.

Tantangan WFH

Tantangan utama WFH adalah bagaimana mempertahankan produktifitas tetap tinggi sebagaimana di kantor. Cara pertama dengan mempersiapkan diri dan perlengkapan sejak pagi hari. Misalnya dengan mandi pagi supaya segar, makan pagi supaya gak kelaparan ketika pekerjaan dimulai, maupun hal-hal remeh semisal menyapa rekan-rekan dengan ucapan selamat pagi atau selamat bekerja.

Dari saya pribadi, biasanya mempersiapkan pekerjaan, minimal dari disiplin menuliskan rencana kerja di pagi hari, dan menuliskan perkembangan (progress) maupun hasil kerja di sore harinya di jurnal pribadi saya yang khusus untuk pekerjaan.

Membiasakan WFH

Ketika WFH, saya amati ada dua hal yang sering terjadi. Ini bisa dijadikan tolok ukur apakah WFH benar-benar sudah terinternalisasi atau belum. Hehehe.

Pertama, lupa hari kerja. Rekan saya baru menyadari hari tersebut adalah tanggal merah setelah bekerja selama 4 jam. Cerita dari senior dosen: bikin event online, yang ternyata jatuh di tanggal merah.

Kedua, tidak mengetahui progress pekerjaan tim maupun perusahaan. Di sinilah pentingnya berbagi info mengenai apa yang sudah dan akan dikerjakan. Dalam bentuk standup meeting, aplikasi kolaborasi pekerjaan (salah satunya Trello), atau medium lainnya.


Meskipun opsi bekerja di kantor boleh diambil, namun kami sekeluarga memutuskan supaya saya tetap bekerja dari rumah. Ini adalah privilege yang kami tidak boleh lupa untuk syukuri. Sebab tidak semua pekerjaan bisa dilakukan dari rumah.

Pada akhirnya, kami kembali pada kesimpulan bahwa tiap-tiap pekerjaan memiliki challenge-nya masing-masing. Yang harus turun ke lapangan, semisal para penjaja (salesman), tantangannya adalah soal disiplin memakai masker dan menjaga jarak. Sementara yang sudah WFH selama 6 bulan, tantangannya adalah bagaimana menyikapi ketidaksabaran diri sendiri.

Mudah-mudahan di Desember nanti ada kabar baik ya, mengenai vaksin untuk covid-19. Masih 4 bulan lagi. Aamiin.

Baca juga ya:

Work From Home https://infografik.bisnis.com/read/20200318/547/1215188/waktunya-bekerja-dari-rumah
Ini ada infografik yang menarik sekali dari @bisniscom mengenai Work From Home

Sebelum Pindah Kerja

Insight saja: konon katanya pindah kerja yang baik itu setiap 3-4 tahun sekali.

Realitanya, pindah kerja itu tidak semudah keinginan. Di sisi posisi pekerjaan, kita akan berhadapan dengan supply and demand tenaga kerja.

Kalau sudah berkeluarga, ada tambahan beberapa hal yang harus dipertimbangkan juga — lebih banyak dibandingkan mereka yang belum ada pasangan/anak.

Teks yang berwarna merah adalah logika yang –menurut saya– akan dipakai perusahaan dalam merekrut karyawan. Namanya juga logika, sifatnya ideal. Which is, perusahaan –notabene isinya manusia– tidak akan pernah 100% ideal.

(1) Alasan pindah kerja.

Apakah pindah karena mencari posisi yang lebih tinggi? Posisi yang lebih tinggi, tentu “bayaran”-nya lebih baik. Atau sekedar pindah ke company yang lebih baik —in terms of gengsi, paket remunerasi, dll? Atau mungkin pindah untuk lebih dekat dengan keluarga inti, atau orangtua/mertua.

HR tidak terlalu memperhatikan alasan mengapa seseorang pindah kerja. Itu ranah personal. Yang dilihat oleh company adalah: (1) Apakah orang tersebut secara kultural memang cocok di perusahan (2) Biaya bulanan seorang karyawan di posisi tersebut sudah sesuai dengan harga pasar, maupun standard internal.

Ada siy yang namanya uang pindah (moving cost) yang bisa di-reimburse ke kantor baru, kalau memang program tersebut ada. Dari HR, ini tujuannya supaya lebih atraktif lagi dalam menarik kandidat untuk bergabung.

(2) Jarak tempat tinggal ke kantor

Jarak yang jauh menuntut perjalanan yang lebih lama. Sementara jenis transportasi akan mempengaruhi ongkos perjalanan. Naik mobil pribadi, cenderung mahal secara bensin, butuh waktu lebih lama, tapi memang lebih nyaman, siy. Ongkos transportasi tidak boleh luput dari pertimbangan ya.

Perusahaan yang mengambil lokasi strategis itu biasanya demi gengsi. Ya di hadapan pelanggan, maupun karyawan –IT startup biasanya modern, minimalis dan homey. Perusahaan yang berlokasi di segitiga emas Jakarta, selain posisinya memang di tengah kota, gengsinya juga dapat. Namun, ongkosnya memang besar.

Lain halnya dengan tipe perusahaan/pekerjaan yang lebih banyak berada di luar kantor, alias “mengukur jalan seharian”. Anggaran sewa kantor bisa ditekan.

Satu lagi. Pemberdayaan coworking space untuk karyawan sangat mungkin menekan biaya. Apalagi, cost-nya relatif flexible. Bisa bulanan, bahkan harian. Beda dengan sewa ruko atau rumah yang term-nya minimal satu tahun.

Apalagi di era flexible working seperti sekarang. Tuntutan bekerja tidak melulu di waktu dan tempat tertentu (yaitu kantor). Sudah ada internet yang mendukung, aplikasi korporat yang mendukung pekerjaan untuk skala ratusan bahkan ribuan karyawan, application’s security yang semakin baik, dan lain sebagainya yang mendukung flexible working.

(3) Kenaikan Gaji

Kata rekan yang head hunter, kenaikan gaji untuk posisi yang sama di perusahaan berbeda, berkisar antara 25%-30%. Jadi kalau kamu pindah, pertimbangkan persen kenaikan tersebut. Kalau posisinya lebih tinggi? Tentu saja lihat lagi aturan nomor satu di atas.

Kalau kepindahanmu hanya menaikkan sekitar 10% gaji, sebaiknya jangan pindah, deh. Apalagi kalau tawaran kenaikannya tidak lebih tinggi daripada inflasi tahunan.

Bandingkan gaji dan benefit di calon kantor baru dengan total pengeluaran kantor untuk kamu di company yang lama. Misalnya, uang makan, snack, tunjangan transportasi, dan lain sebagainya. Premi asuransi untuk pasangan dan anak-anak jangan lupa dimasukkan. Terlihat sepele, padahal jadi biaya yang signifikan untuk keluarga dengan 3 anak.

Tergantung fase di mana perusahaan sedang berada, HR akan menentukan apakah suatu posisi diisi oleh fresh graduate (FG), junior, atau senior. FG relatif murah, kebiasaannya bisa sambil dibentuk, tetapi minim pengalaman.

Sementara yang senior bisa bernilai beberapa orang FG dalam sebulan. Mungkin pula membawa kebiasaan buruk dari perusahaan lama.

Supaya lebih paham, ilustrasinya begini: suatu IT company punya anggaran 120 juta sebulan untuk gaji. Pertanyaannya: pilih 20 junior programmer bergaji 6 juta, atau 4 orang senior programmer bergaji 30 juta? Tentu ada permutasi maupun kombinasi dalam menentukan hal tersebut.

(4) Analisis Keberlangsungan Perusahaan Target

Meskipun mendapat penawaran gaji dan benefit yang menarik, analisis lebih dulu keberlangsungan perusahaan dan industri tersebut. Sangat mungkin tawarannya menarik, tetapi perusahaan hanya berumur 1-2 tahun saja.

Seperti kebanyakan IT startup belakangan ini. Kompetisinya ketat. Tuntutannya growth or die. Saya tidak menyarankan untuk dihindari ya, tetapi dijadikan bahan pertimbangan saja. Apakah yang didapat (bayaran, pengalaman, posisi) akan sebanding dengan risiko-risikonya.

Makanya di IT startup ada yang remunerasinya luar biasa besar. Karena planning dan eksekusinya meminta target dicapai dalam waktu sesingkat-singkatnya –sebelum dicapai duluan oleh kompetitor. Jika tidak, rawan dilibas (atau diakuisisi, hehehe).

Ini kasus IT startup memang naik-turunnya roller-coaster banget. Tentu bisa diekstrapolasi ke industri yang pergerakannya lebih santuy.


Sebelum pindah kerja, baiknya pikirkan masak-masak kelebihan dan kekurangan tempat kerja baru dibanding tempat kerja lama. Seperti saya katakan di atas, single masih lebih mudah untuk berpindah-pindah daripada setelah sudah menikah.

Alasan terbanyak seseorang pindah kerja adalah karena tidak nyaman dengan atasan langsung-nya. Daripada mempersoalkan hal tersebut, lebih baik fokuskan ke karir (baik primary maupun secondary/side job, ya).

In general, people leave their jobs because they don’t like their boss, don’t see opportunities for promotion or growth, or are offered a better gig (and often higher pay); these reasons have held steady for years.

Why People Quit Their Jobs https://hbr.org/2016/09/why-people-quit-their-jobs

Tidak enak bila salah memilih. Karena ketika menyesal dengan tempat kerja yang baru, bisa jadi tidak enak untuk kembali ke mantan tempat lama. Akhirnya, harus mencari yang lebih baru lagi — which is belum tentu menyelesaikan akar masalah, yaitu si alasan pindah kerja itu sendiri.


Anyway, apapun pilihanmu, tetap bertahan atau jadi pindah, mudah-mudahan itu yang terbaik untukmu, ya.. Good luck!

Fakultas Ambil Hikmahnya

“Ikhwan tuh gak suka/cocok di jurusan ini. Tapi dia diam-diam aja.”, demikian gosip yang saya dengar. Hahaha. Bukan tipe gosip yang wajib saya klarifikasi siy, ya. Apalagi di channel YouTube-nya Mas Deddy yang tersohor itu. Itu mah cocoknya untuk yang lagi sengketa keluarga saja. Mengenai gosip tersebut, cukuplah jadi TST (Tau Sama Tau) sahaja. Karena ya memang demikian adanya. Hahaha. 

Tidak banyak memang yang bisa saya ambil, ya. Apalagi saya jadikan pengepul dapur. Cukup ambil silaturahminya saja. Sesuai dengan nama WhatsApp Group (WAG) kami. Lagipula, pasca kuliah tatap muka dengan dosen + nge-laboratorium yang saking panjangnya jadi sekalian ngabuburit di bulan Ramadhan itu, saya lebih banyak menghabiskan waktu di kegiatan kemahasiswaan. 

Status saya waktu itu memang mahasiswa. Instead of menomor-satukan akademik, malah saya jadikan prioritas ke sekian. Ini jangan ditiru ya, adik-adik. Waktu dulu saya terpaksa menerima pilihan kedua ini, saya pikir belajar itu bisa di jurusan mana saja. Kampusnya yang tidak bisa di mana saja, menurut saya. Yang saya kira penting adalah Anda akan menjadi alumni darimana. 

Bukan semata karena “cap”-nya suatu kampus “membantu” Anda mendapatkan pekerjaan pertama. Tetapi juga yang dijual oleh suatu kampus adalah lingkungan manusianya. 

Saya katakan “membantu”, karena brand kan sifatnya memuluskan keputusan “pembelian”. Dalam konteks, perusahaan yang Anda lamar sebagai tempat bekerja, menerima Anda karena kampus sudah memiliki “cap” berusia puluhan tahun. 

Kedua, lingkungan manusia. Ini adalah ekosistem besar yang terdiri dari unit-unit yang saling terhubung di dalamnya. Di antaranya adalah ikatan alumni (institusional), jejaring alumni (sosial kultural), rekan-rekan seangkatan masuk, sesama generasi (ini istilah saya saja, yaitu rekan-rekan dari dua angkatan atas kita hingga dua angkatan ke bawah).

Pas banget dengan momentum 100 tahun pendidikan tingi teknik, di laman facebook saya kemarin saya menuangkan 10 poin berikut ini: 

1. Jurusannya apa aja deh. Asal di kampus yang ini. Meski pilihan kedua, lanjut aja. Baru tahu cewenya bnyk pas OSKM. Jurusan saya tuh 1:4 cowo cewe. Teknik Penyehatan 1:3. 

2. “yang di depan (danlap) ga sopan uy. Ngomongnya aku-aku. Egois banget. Ngomongnya patah2 pula.”, pikir saya pas pembukaan orientasi kampus. . 

3. Ketemu banyak anak (SMA) 3. Untungnya gak jadi sekolah di 3. Gak pernah lupa, via wartel (iya, warung telekomunikasi) di almamater, pasca pembukaan pendidikan, memohon bantuan kakak di Bandung untuk mengambil berkas pendaftaran di SMA 3. #eehhh 

4. Unit Koperasi Mahasiswa. Paling berkesan, pinjamkan modal merchandise ke mahasiswa yang mudik untuk presentasi kampus/jurusan di SMA favorit di kampung. Merchandise-nya untuk apa? Ya untuk jualan, lha. Anda ini pakai, bertanya. Hehehe.  Ada temen jurusan kaget pas mau pinjam merchandise, karna yang ngurus ternyata temen kelompok nge-lab sendiri. Hehehe. Kita sebut “pinjam” karena memang kembalikan barang yang tidak laku, berikut uang penjualan yang laku. Hehehe. 

5. Sibuk di jurusan. Pagi kuliah. Jeda makan siang 11-13 aja. Praktikum 3-4 kali seminggu. Puasa Ramadhan terasa singkat karna ngabuburit nya nge-lab. Sebelum masuk lab, bawa jurnal yang ditulis tangan. Kadang-kadang ada quiz pendahuluan di awal. Praktikum bisa ditutup dengan quiz. Setelah praktikum buat laporan yang diketik dan diprint. Gak bohong kan saya, kalau kuliahnya sibuk? Hehe.  

6. Kampanye + jadi pengurus himpunan.

7. “Orang kota masuk desa” dengan kemasan KKN (Kuliah Kerja Nyata) tahun 2008. Kurang lebih seminggu menginap di rumah warga. Toples snack dipenuhi terus oleh tuan rumah. Bak mandi bela-belain diisi air terus sama mereka. Kami tahu diri untuk tidak meminta. Baik banget warga desa tuh. Mereka juga enggak setiap hari mandi, soalnya. 

8. Campaign “Indonesia Tersenyum”. Nge-design + copywriting-nya si baliho berisi teks dua kalimat yang “menyihir” banget. 

9. Science and Engineering Fair 2010. Core idea-nya “community development”. Cari sponsor ke jakarta. Terima duit puluhan juta dalam amplop. 

10. Februari sidang skripsi. Penelitian saya waktu itu soal bagaimana mengoptimalkan proses ekstraksi dari rimpang Curcuma Xanthorriza. Suhu, ukuran serbuk, jenis pelarut, dan waktu adalah parameter-paremeternya. Meski cuma mendapat dan mengambil hikmahnya, saya masih ingat donk penelitian waktu itu.Serah terima ke pengurus baru hanya 3-4 hari sebelum di-Wisuda April. 

Kesimpulan: 4.5 tahun yang penuh hikmahya. Fakultasnya bagaimana? Wes, sudah. Sesuai judul saja. Hehehe. 

Copywriting

Copywriting adalah teknik penulisan (kata, kalimat, paragraf) untuk mempengaruhi konsumen agar mau membeli dari kita.

Copywriting adalah teknik penulisan (kata, kalimat, paragraf) untuk mempengaruhi konsumen agar mau membeli dari kita.

Copywriting

1 Karakteristik Konsumen

Pelajari karakteristik hadirin konsumen (para pembaca, atau yang menjadi target iklan) tersebut. Framework-nya bisa terdiri dari demografi, psikografi, dan (yang lebih membumi) kebiasaan (behavior).

  • Demografi: usia, tempat tinggal, jenis kelamin, dst.
  • Psikografi: ingin tampil keren, ingin menekuni passion, peran sebagai sandwich generation, dll.
  • Kebiasaan: menggunakan mobile app, aktif di social media, ikut komunitas, dll.

Setelah karakteristik konsumen, kenali dahulu beberapa jenis manfaat yang bisa ditransfer dari seller kepada buyer.

2 Hierarki Manfaat

Manfaat Fungsional, Emosional (termasuk self-expression), Spiritual.

  • Manfaat fungsional adalah manfaat yang didasarkan pada atribut produk yang menyediakan penggunaan fungsional pada pelanggan.
  • Manfaat emosional memberi pelanggan perasaan positif ketika mereka membeli atau menggunakan merek tertentu. Manfaat yang satu ini membuat pembeli/pengguna merasakan pengalaman yang lebih kaya atau lebih dalam tatkala membeli atau menggunakan merek tersebut.
    • Ada satu lagi yang disebut self-expression benefit, yaitu manfaat yang memberikan kesempatan pada penggunanya untuk mengkomunikasikan citra dirinya. Self-expression benefit meningkatkan hubungan antara merek dan pelanggan dengan berfokus pada sesuatu yang terkait dengan kepribadiannya. Manfaat mengekspresikan diri fokus pada tindakan menggunakan produk.
  • Manfaat spiritual adalah perasaan lebih dekat kepada Tuhan (termasuk perasaan mendapat pahala) tatkala membeli, menggunakan, atau berinteraksi dengan suatu merek tertentu.

Ibarat belanja bahan pokok di pasar tradisional, semua menawarkan manfaat fungsional yang relatif sama. Namun beberapa pedagang di pasar, membangun hubungan personal yang lebih akrab dengan pelanggan. Ini adalah salah satu teknik memberikan manfaat emosional.

Contoh manfaat spiritual: perasaan lebih dekat kepada Tuhan yang dirasakan ketika membayar zakat. Dalam hal lembaga zakat, manfaat semacam ini yang wajib dikomunikasikan.

Copywriting harus melibatkan EMOSI. Karena 80% penjualan, melibatkan emosi. Sudah terlalu umum (generic) bila hanya menawarkan manfaat fungsional semata. Harus dikombinasikan dengan manfaat emosional.

3 AIDA Copywriting

Ada teknik menulis dan struktur tulisan yang mempengaruhi konsumen, yang salah satu metodenya adalah AIDA (marketing). AIDA adalah kependekan dari Attention, Interest, Desire, dan Action.

Attention

Target kita adalah mendapatkan perhatian (attention) mereka. Kalau mereka sudah memperhatikan, pilihannya antara 2: berminat atau tidak.

Interest

Berminat (interested) berarti ingin mengetahui lebih lanjut. Jadi dari kita, memang sudah harus melakukan klasifikasi: konten mana untuk mendapatkan perhatian, konten mana untuk menjelaskan lebih lanjut (hanya kepada yang berminat). Kepada yang sudah menerima penjelasan kita, terbagi lagi menjadi 2: berkehendak atau tidak.

Desire

Yang sudah berkehendak (desire) membeli, akan mengecek kembali kemampuan mereka. Hal-hal yang akan dipertimbangkan: berapa harganya (termasuk apakah worth it atau tidak), bagaimana cara membayarnya, dan bagaimana memperoleh produk/layanan tersebut (diambil di tempat, di antar ke rumah, mendapat link download, dan sebagainya).

Action

Action adalah tahap terakhir yang dipikirkan dan dilakukan oleh konsumen. Yakni mengeksekusi (to act) pembelanjaan tersebut. Bentuknya bisa mengisi formulir Purchase Order (PO), membawa barang ke kasir, add to cart kalau di e-commerce, dan lain sebagainya.

4 Hypno Copywriting

Tanpa perlu menuliskan ulang, karena saya sudah setuju dengan apa yang didefinisikan oleh maxmanroe.com mengenai hypno copywriting, berikut ini:

Kata hipnotis mungkin terkadang didefinisikan sebagai suatu perilaku persuasif yang membuat seseorang atau sekelompok orang menjadi tidak sadar dan berada di bawah pengaruh pihak-pihak tertentu. Pun hampir serupa konsep hypnotic writing sebenarnya mengadopsi maksud yang sama, namun dilakukan secara bertanggung jawab daripada teknik hipnotis yang sering dilakukan sebagai metode kejahatan.

Hypnotic writing adalah suatu teknik pemilihan kata-kata yang sengaja digunakan untuk mengarahkan pembaca kepada maksud tertentu. Biasanya teknik hypnotic writing ini digunakan dalam dunia bisnis untuk mengarahkan ketertarikan dan keinginan seseorang akan produk atau jasa tertentu. Hasilnya, penjualan suatu produk atau jasa memiliki tingkat keberhasilan yang lebih tinggi bila salah satu teknik pemasarannya mengandalkan hypnotic writing.

Pemilihan kata dalam teknik hypnotic writing harus dilakukan secara seksama untuk mengarahkan seseorang ke dalam situasi ingin membeli atau mencoba suatu produk atau jasa yang kita tawarkan. Secara ilmiah, hypnotic writing bisa dijelaskan sebagai pemilihan kata-kata yang mampu memicu sekresi hormon endorfin dan serotonin dalam tubuh.

Sekresi kedua jenis hormon ini kemudian memberikan efek perasaan senang pada seseorang. Sehingga rasa senang dan tertarik tersebut membuat seseorang jadi tergerak untuk melakukan atau mencoba apa yang dijelaskan pada sebuah tulisan.

Kalau maxmanroe bilang soal dua hormon, Darmawan Aji bilang ada FILTER KRITIS pada manusia. Hpyno writing harus bisa menembus filter tersebut. Sesuai latar belakangnya, konsumen akan kritis terhadap informasi yang diberikan. Jadi dengan memahami karakteristik audience, akan membantu kita memilih dan menentukan kata yang tepat.

Mudah-mudahan semua informasi tersebut bisa dimanfaatkan ya oleh teman-teman pembaca sekalian. Kalau ada pertanyaan atau pendapat, sangat ditunggu partisipasinya di kolom komentar.

Terima kasih.


Omong-omong, saya masih mempromosikan buku Freelance 101. Berikut ini informasinya:

Lebaran ala Covid-19

Setelah Ramadhan combo covid-19, kali ini bagaimana Lebaran di pandemi yg sama?

Sejak semalam, yakni di malam lebaran (notabene sudah 1 Syawal), sudah gelisah duluan. Kudu nge-briefing and coaching si Anak Dua. Apa 30 hari yang sudah lewat, dan apa yang akan kita lakukan di pagi harinya (Shalat Ied). Coaching-nya meliputi 8 kali takbir di rakaat pertama (termasuk takbir pertama banget), 6 kali takbir (include setelah bangun dari sujud) di rakaat kedua, dan apa yang dibaca (subhanallah, wa alhamdulillah, wa laa ilaha illahu, allahu akbar).

Kalau bukan Lebaran Covid-19 ini, saya juga gak belajar bahwa ada sunnahnya untuk membaca Al A’la (Sabbihisma rabbikal a’la) di rakaat pertama dan Al Ghashiyah (Hal ‘ataka haditsul ghasiyah) di rakaat kedua.

Masjid RW di RT saya sebenarnya menyelenggarakan Shalat Ied, bahkan sejak beberapa malam terakhir mengadakan tarawih — harap maklum ya, banyak pensiunannya, tampaknya kehilangan pertemanan sekali kalau tidak ‘bermain’ di masjid.

Namun, kami memilih untuk ‘Ied di rumah saja. That’s why saya belajar jadi imam.

Rindu Ramadhan

Jadi, sejak magrib kemarin sampai sholat tadi masih galaw-galaw gitu. Phhysically, Ramadhan memang tidak nyaman ya. Bangun sebelum subuh, masak, makan sahur, harus ditahan sampai beres subuh-an. Bahkan jangan tidur sampai matahari terbit, deh. Bangunnya gak akan enak kalau tidurnya di jam-jam tersebut.

Di sisi lain, bulan Ramadhan adalah satu-satunya momentum dan medium untuk melatih kita meningkatkan intensitas ibadah. Ya lewat tarawih, tilawah Al Quran, iktikaf, dll.

Jelas berat untuk meraih semuanya dalam satu Ramadhan. Setidaknya, kita bisa meningkatkan satu aspek di satu Ramadhan, kemudian aspek lainnya di Ramadhan.

Makanya kita diajarkan untuk berdoa agar tetap dipertemukan dengan Ramadhan tahun depan, ‘kan? Simply karena Ramadhan bisa membantu meningkatkan amal ibadah.

Physical Distancing

Ramadhan + Lebaran di musim pandemi begini memang sangat berbeda rasanya. Sebagai negara bangsa dengan kebiasaan guyub, alias apa-apa kudu bareng, ‘mengekor’ ke satu informal leader tertentu, lebih ramai lebih enak/nyaman, dst-nya, lebaran kali ini terasa sekali sepinya. Dalam skala tertentu, sepi = sedih.

Kalau selama Ramadhan, loneliness untuk introvert seperti saya malah membuat produktif lho. Ngajinya jadi lebih banyak, tarawih gak harus di masjid, dsb.

Tapi beda sekali dengan tahun-tahun sebelumnya di mana kita bisa mudik, puasa, tarawih, dan lebaran bareng dengan keluarga. Crowd attract happiness indeed. But physical distancing keep us apart and make us feel lonely. Buat apa mudik kalau malah menyebarkan virus. Jadinya hanya bisa mengirim doa (and hampers!) dari sini.

Lebaran ini unik di tiap negara. Kalau Indonesia unik dengan crowd dan keguyubannya, maka di negara-negara Arab malah sepi di tanggal 1 Syawalnya. Bahkan, tanggal 2 Syawal langsung menggeber puasa Syawal sepanjang 6 hari berturut-turut. Link Kumparan berikut ini mengulasnya.

Pasca Lebaran

Di New Normal, saya singgung bahwa banyak hal sedang bergeser (shifting). Begitu kuatnya hingga menjadi sesuatu yang biasa/normal.

WFH akan kita jalani dengan fisik yang lebih nyaman. Kapanpun lapar/hausnya bisa makan/minum. Tidak menunggu adzan magrib.

Anak Dua yang mestinya Juli ini mulai sekolah, kayaknya perlu kami tunda dulu. Setidaknya satu semester. Kita kurang paham dampak Covid-19 ke anak-anak ini sebenarnya gimana. Only conservative thinking applied.

Frozen food makin eksis juga. Bagian dari New Normal yang apabila menunggu vaksin saja, paling cepat sedikitnya 2-3 tahun.

Pendapatan yang lebih rendah bagi masyarakat kita, setidaknya juga berlangsung 2-3 tahun ke depan. Implementasi protokol-protokol kesehatan pasti berdampak pada perekonomian. New Normal-nya adalah, membiasakan diri untuk lebih ketat mengelola keuangan.

FYI, perputaran ekonomi dari yang didorong oleh THR untuk mudik, belanja baju lebaran, kirim hampers, adalah perputaran yang sesaat sifatnya. Di sisi lain, sedihanya adalah crowds tersebut akan menjadi bibit-bibit cluster covid-19 yang baru.

Show atau entertainment macam sepakbola di musim yang baru, belum tentu akan dilanjutkan. English Premier League (EPL) sebagai yang paling bergengsi, juga masih bimbang. Makin ke sini, perkembangan antara negara semakin berbeda-beda. Liga Jerman (Bundesliga) termasuk yang beruntung karena tampaknya berjalan baik. Hari ini sudah pekan kedua berjalan pasca pandemi.

Selamat merayakan hari raya idulfitri 114 Hijriyah. Mohon maaf lahir dan batin. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menerima amal ibadah kita di bulan Ramadhan yang lalu, dan semoga kita dipertemukan kembali dengan Ramadhan tahun depan. Aamiin.

NB: Pre-Order buku terbaru saya, “Freelance 101” telah dibuka. Buku ini memperkenalkan topik-topik umum seputar pekerjaan lepas (freelancing):

  1. Ada peluang apa saja untuk menjadi pekerja lepas
  2. Bagaimana cara memulai freelancing
  3. Bagaiaman para freelance beroperasi sehari-hari
  4. Mengatasi tantang freelance banyak sekali
  5. Meningkatkan produktifitas
  6. Kerja jarak jauh

Untuk ikut memesan, silakan tombol di bawah ini:

Harapan untuk Ramadhan Tahun Depan

Ramadhan 1441 H yang akan kita kenang sepanjang masa. Combo-nya dengan Covid-19 menghadirkan experience unik ber-Ramadhan-ria.

Tidak setiap tahun saya menulis tentang Ramadhan, rupanya. Masih ada jejak di blog lama tulisan dengan tag tersebut: My Ramadhan Eating. Itu tulisan tahun 2015. Waktu itu, saya sudah menikah, tetapi masih long distance dengan keluarga. Saya di Jakarta, istri dan anak dua (waktu itu baru 2 bulan banget) di Surabaya. Masih jomblo lokal, lha. Ramadhannya masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya.

Hampir gak pernah menulis tentang bulan puasa, mudah-mudahan bisa saya ingat sebagai “berusaha untuk fokus beribadah”, ya. Instead of Ramadhannya tak teringat dan tak berkesan sama sekali.

Ramadhan yang Unik

Ramadhan tahun ini, tentu akan menjadi Ramadhan yang akan kita kenang seumur hidup kita. Betapa tidak, Ramadhan plus pandemi. Atau sebaliknya. Pokoknya, Combo banget.

Terasa banget kontrasnya, karena di Indonesia yang masyarakatnya guyub banget, bulan Syahrul Quran (bulan yang di dalamnya diturunkan permulaan Alquran) adalah momen kumpul-kumpul. Buka bareng sama si alumni ini dan komunitas itu, tarawih di masjid ini, qiyamul lail (QL) (alias iktikaf) di masjid itu, dan sebagainya.

Kontras sekali dengan ramadhan tahun ini. Yang seakan memerdekakan para introvert yang suka menyendiri. Membebaskan dari aktifitas buka bareng yang gak wajib-wajib amat, atau tarawih yang crowded. Atau mudik yang sesak dan melelahkan.

Sudah seharusnya, kita refleksikan ke ibadah Ramadhan ya. Di bulan latihan yang penuh berkah ini, seberapa mampu kita menaikkan frekuensi dan kualitas ibadah. Saya bermaksud bertanya ke diri sendiri, daripada menanyakan hal tersebut ke teman-teman pembaca sekalian. Peluangnya ada di depan mata ya. Kita tidak kemana-mana. ‘Kan kita sedang physical distancing.

Harapan untuk Tahun Depan

Cukup standard. Meskipun masih ada beberapa hari menuju final, doanya masih sama dari tahun-tahun lalu: semoga dipertemukan dengan bulannya Al-Qur’an di tahun depan. Ini yang pertama.

Kedua, supaya saya dan keluarga lebih khusyuk dan intens beribadah. Mulai dari sekarang dan seterusnya. Untuk semua jenis ibadah.

Bulan suci sebagai “gong” menyediakan momentum yang tepat untuk memotivasi anak dua untuk beribadah. Mulai dari (latihan) wudhu, iqomat, surat pendek (masih seputar tiga qul), bacaan shalat, sahur, puasa dan niatnya, berbuka dan doanya.

Bulan ini hanya sebulan di antara 12 bulan. Masih ada 11 bulan selain bulan ini. Satu bulan ini hanya ‘reminder‘. Perjuangan sebenarnya di sebelas bulan yang lain.

Kalau ada yang salah atau kurang tepat, datangnya dari saya. Sedangkan yang benar hanya dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Bandung, hari ke-23 Ramadhan 1441 H. Mei ke-16, 2020 M.

Hilangnya Sepak bola selama pandemi

Why I love football so much and lost them even more during this pandemic.

Di masa pandemi begini, weekend kita diisi tanpa hiburan. Biasanya hiburan saya seputar sepak bola. Baca preview/prediksi, nonton live, mengulangi highlight, baca review, dst. Ampun-ampun deh kalau sudah jadi fans bola, tuh. Begini ya, Jumat baca prediksi, Sabtu-Minggu nonton, Senin baca review + ulang highlight, Selasa baca prediksi liga internasional, Rabu + Kamis nonton liga tengah pekan, Kamis + Jumat menikmati review liga tengah pekan. Eh tiba-tiba sudah jumat lagi. Siklus berulang demikian rupa sampai dengan pandemi covid-19 datang.

Dan banyak di antara kita merasa kehilangan.

But, why I love football so much?

sepak bola

Pas kapan waktu, gak sengaja main ke mantan blog lama, ketemu beberapa tulisan soal sepak bola. Sedikitnya ada 6 tulisan. Jangan malu-malu untuk klik dan baca ya, hehe. Bukan terlalu sedikit untuk dibilang have no interest. I must admit that I have loved football for almost 20 years.

Awalnya, suka pada umumnya fans bola, lha. Ada pemain dan klub favorit, skill individu, dan lain-lain yang lebih pada aspek teknis invidualnya.

Seiring waktu berjalan, tidak hanya pada tersebut di atas yang menjadi concern dan berlanjut menjadi objek observasi saya. Tapi lebih pada aspek-aspek team play dan bisnis (strategi dan keuangan). Keenam tulisan di atas merefleksikan ke mana interest saya, sebenarnya.

Team Play

Okay, team play salah satu yang menarik. Meskipun gak terlihat di keenam link di atas, ya. Haha.

Football itu mainnya 11 orang di lapangan. Tugas-tugas individu dan tim, hanya dua: bertahan dan menyerang. Mencetak gol ke gawang lawan lebih banyak daripada lawan menjebol jala kita.

Teorinya bertahan itu gampang, kamu dan tim tidak boleh bergerak sedikit pun, jarak di antara kalian harus cukup sempit supaya lawan dan bolanya tidak bisa menembus. Baik dari bawah, maupun atas.

Sebaliknya, menyerang itu mudah dipahami: sebagai kumpulan individu, kalian harus bergerak sedinamis (dynamicity) dan secair (fluidity) mungkin. Supaya pertahanan lawan kebingungan dan mudah ditembus.

Dua teori di atas tampak mudah. Namun begitu dikombinasikan, alternatif dan variasinya sangat beragam:

  • Back (belakang) bisa 3-4 orang.
  • Gelandang (tengah) dari 3-5 orang
  • Penyerang (depan) 1-3 orang.
  • totalnya harus 10 (exclude kiper)

Ketiganya, menuntut klub memiliki pemain dengan spesifikasi posisi tertentu:

  • Tiga orang di belakang, menuntut 2-4 orang bisa bermain sebagai wing back (namanya back, tapi posisinya di tengah/gelandang). Di kanan dan di kiri.
  • Tengah menuntut beberapa jenis posisi: regista (playmaker tapi dari belakang), mezzala (gelandang, tapi bisa jadi sayap, punya power dan pace), trequartista (playmaker yang lebih menyerang), holding midfielder (gelandang bertahan), hingga box-to-box. Saya sebut 5 jenis posisi, padahal kebutuhannya hanya 3-5 orang, dengan total pemain masih 11 orang (termasuk kiper). Jadi berapa orang untuk belakang dan depan?
  • Depan yang butuh 1-3 orang bisa diisi posisi: centre forward, false nine, inside forward, penyerang sayap. Yang disebut ada 4 peran, tapi maksimal hanya 3 orang. Gimana tuh?
  • Btw, posisi-posisi yang mengernyitkan dahi di atas, in total ada 12 posisi. Fyi, tim senior biasanya beranggotakan 33 pemain. Tiga di antaranya sudah menjadi jatah kiper.

Supaya bisa kompak, padat, dan jarak antar pemain sangat pendek, maka garis belakang bisa dinaik-turunkan. Ada yang memilih high defensive line (menuntut taktik semacam tiki-taka jadinya). Ada juga yang memilih direct football plus counter attacking, tapi suka kehabisan tenaga dan konsentrasi jelang akhir pertandingan.

Pilihan yang rumit, bagi pelatih. Tapi merupakan masalah stratejik bagi klub. Mengapa? Kita bahas di berikutnya.

Bisnis

Ada sekitar 33 pemain di tim utama. Sekilas, tampak cukup untuk memenuhi alternatif dan variasi taktik yang sudah disebut di atas. Kenyataannya, pengeluaran perusahaan (klub) untuk mereka semua berkisar 60%-75% dari pendapatan tahunan.

Yes, gaji dan benefit lain dalam kontrak antara klub dengan pemain, sebenarnya sangat-sangat besar pengaruhnya terhadap keuangan perusahaan.

Ingin punya marjin laba yang besar –tersirat di atas, marjin laba sekitar 25%-40%–? Mudah saja, tidak usah punya pemain bintang. Gajinya kecil, kok.

Tapi pemain bukan bintang, tidak signifikan perannya terhadap performa tim. Dia gak cukup populer juga untuk mendatangkan para penonton ke stadion –dan televisi. Hanya stadion yang penuh dan siaran televisi yang mengundang sponsor untuk memberi pemasukan pada klub.

Dari sisi usia, semakin tua seorang pemain, power dan pace-nya semakin menurun. Tapi pemain senior tetap signifikan perannya, meski tidak di lapangan, tetapi di ruang ganti dan tim di internal. In terms of leadership and example/modelling. He must be a role model, as well.

Pemain muda jelas dibutuhkan. Masih kuat, masih cepat. Tapi minim pengalaman. Bukan soal mainnya doang, tapi juga soal mental. Dari sisi usia, kita wajib mengkombinasikan pemain muda dan tua. Tim dengan average age di 28 tahun, sudah ideal banget. Persoalannya, klub gak bisa ideal di sepanjang waktu.

Sebab, sisa kontrak masing-masing pemain berbeda-beda. Ada yang tengah tahun ini habis dan bisa pindah ke klub lain tanpa klub sekarang dapat sepeserpun. Ada yang masih sisa satu tahun dan harus dijual secepatnya dengan harga terbaik. Sisa dua tahun masih menyisakan ketenangan: antara perpanjang (kalau dia main bagus) atau jual (sebelum harganya lebih turun lagi). Di sisi lain, ada yang baru 1 tahun masuk (menyisakan kontrak 3-4 tahun lagi), tetapi belum memberikan performa yang diharapkan.

Technical Director

That’s why butuh direktur teknik (Technical Director). Atau semacamnya. Yang tugasnya menjembatani pelatih yang mengurusi day-to-day tim di tempat latihan dan pertandingan, dengan klub yang menangani scouting, rekrutmen, dan pelatihan pemain muda dalam horison menengah (3-5 tahun). Sponsorship juga stratejik lho.

Di Chelsea, jabatan Petr Cech adalah Technical and Performance Advisor. Tugasnya mirip: menilai dan menganalisis pemain-pemain sekarang (individu dan tim) di mana kelebihan dan kekurangannya serta mengusulkan nama-nama yang potensial untuk direkrut. Baik mengisi celah yang lemah, maupun menggantikan pemain yang pensiun –tidak sampai mencarikan ya; jadi dari database yang ada saja.

Pendapat saya siy, tugas pelatih hanya menentukan siapa yang akan main di lapangan pas weekend atau tengah pekan. Wewenangnya terhadap 33 pemain, sebaiknya dia hanya memberikan saran saja. Kekuasaan harus dibagi-bagi. Supaya tidak terjadi kasus semacam Manchester United pasca ditinggal Sir Alex.

Sponsorship

Sponsorship juga stratejik lho. Sebagian besar kontrak sponsor tuh berdurasi 3 tahun. istilahnya, sekali teken kontrak hari ini, pendapatan klub aman untuk tiga tahun ke depan. Bagaimana dengan tahun ke empat dari hari ini? Itulah tugasnya Commercial Director mencari dan menemukan sponsor di tahun depan. Supaya pemasukan klub bisa meningkat dan stabil pemasukannya.

Bagaimana menjual klub supaya sponsor pada berdatangan dan antri? Permainan harus menarik ditonton, dong. Dan harus sering menang. Kadang, menang aja enggak cukup. Harus bisa juara. Dan yang begini ‘kan, horisonnya tahunan, ya. Menjadi tanggung jawab pelatih dan pemain untuk bermain cantik, menang, dan mempersembahkan trofi. Semua itu untuk apa? ya supaya bisa dijual ke sponsor, donk.

Eksposur klub secara geografis juga menentukan, lho. Kalau cuma bisa main di satu negara, tentu beda dengan yang main di level benua. Makin luas eksposurnya, makin bisa ditawarkan ke sponsor tertinggi.

Komersialisasi sepak bola itu menguntungkan klub. Posisi tawar ada di mereka. Sebab lebih sedikit klub untuk disponsori daripada jumlah sponsornya.

Mudah-mudahan pandemi ini segera berakhir. Kasihan klub, pemain, sponsor dan penonton –yang kehabisan hiburan– seperti saya. FYI, Bundesliga start lagi per tanggal 16 Mei.

Anyway, this is a bit too much. If you have any experience, analysis, or others please provide in the following comments ya! Thank you

New Normal

Akibat Covid-19, banyak hal di sekitar kita berubah dengan sangat cepat. Jangan cengeng, jangan lupa bersyukur. Mari beradaptasi dengan kenormalan yang baru ini.

Lagi pengen ngomongin #dirumahaja #stayathome

Kenapa? Because it shall pass, too. Sebagaimana proyek-proyek kehidupan pada umumnya. And I would like to document it here.

Yang sedikit-namun-membedakan, proyek ini agak jangka panjang. Dan memunculkan beberapa ke-new-normal-an yang baru. Jadi, bagi saya ini cukup penting untuk saya rekam di blog ini. Biasanya, akan ditengok kembali suatu waktu nanti.

Covid-19 + Ramadhan

Yang paling baru banget terasa adalah kombinasi covid-19 plus ramadhan ini. Kita masyarakat Indonesia ‘kan in many aspects, butuh berkumpul. Karena dengan berkumpul, kita semakin niat dan enjoy melakukan sesuatu. Sahur bersama keluarga, Ngabuburit, BukBer/BuBar, hingga pengalaman Tarawih bareng di Masjid. Yang terakhir ini experience yang dominan anak-anak saja, tetapi juga para orang tua.

Yang terjadi saat ini, detik ini, di bulan ini adalah everything must be done at home. Sahur ya di rumah, tak bisa ke restoran yang 24hours. Work From Home / School From Home, sudah sejak 4-5 minggu terakhir. Semakin ‘New Normal’ lha aktifitas kerja dan belajar di rumah – Iya sih, tidak semua industri dan pekerjaan bisa demikian. Buka puasa tidak lagi bisa di masjid, kafe, restoran, mall, dan sebagainya. Harus di rumah. Kemudian ‘terpaksa’ muncul imam-imam tarawih yang baru di rumah-rumah. Bapak-bapak, maupun anak lelaki di rumah ‘dipaksa’ membuka kembali Juz 30 untuk me-refresh kembali hafalan suratnya. At least, 13 surat berbeda wajib diulang setiap malam. Untung ada ketiga ‘Qul’ sangat membantu. Bukan hanya sang imam yang menarik nafas lega, demikian pula para makmum.

This is hard and hurting. But, life must go on.

Saya cuma bisa bilang ke diri sendiri, “Jangan cengeng. Dan jangan lupa bersyukur”.

Jangan Cengeng, Jangan Lupa Bersyukur

Jangan cengeng ketika hidup memaksamu berubah. Makin besar company-nya, makin dahsyat goncangannya. Restoran dine-in berubah jadi take away + delivery frozen food atau menu siap masak. Beberapa kurir yang biasa berhubungan dengan kami, mulai “menambah” portfolio dagangannya: hape, rumah, susu segar, telur, dll. Rekan yang di-layoff dari konsultan lingkungan, pindah haluan jadi take order + delivery bahan baku masakan.

Sudah kesekian kali WA saya berdering dan salah satu isi yang cukup berulang adalah ketiadaan empati kepada para pengusaha. Pekan ini harus bayar gaji. Satu-dua pekan lagi bayar THR. Dua pekan berikutnya bayar gaji lagi. Padahal usaha sedang morat-marit. Inventory menumpuk. Piutang ditunda bayar oleh customer. Padahal tagihan dari bank masih tetap berdatangan.

Ada lawyer sekaligus pengusaha hotel yang tetap bayar gaji karyawan hotelnya. Padahal kita tahu pariwisata sedang sepi. Alhamdulillah dia punya pemasukan berlebih ya. Suatu kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh masyarakat kita. Mungkin dia termasuk yang rajin bersyukur. Sehingga tatkala diberikan ujian kemelimpahan, tetap mampu melaluinya.

New Normal

Mereka yang merawat para ortu berusia kepala 7 ikut ambil pusing. Musababnya, “pertemanan” para ortu mereka mulai “menghilang”. Tadinya beliau-beliau para kakek-nenek ini happy dengan aktifitas pengajian beserta pada member di dalamnya. Sejak Corona datang, pertemuan offline tersebut berubah jadi zoom meeting. Which is, tidak semua orang mampu. Yang aktif bekerja seperti kita saja merasa zoom lebih melelahkan daripada bekerja biasa, apalagi di usia yang sulit adaptasi dengan teknologi, ya.

Ada yang mengajari saja terasa berat bagi mereka. Bayangkan kalau mereka seorang diri. Tinggal sendiri di rumah (masih lumayan kalau ada ART), jauh dari anak dan cucu, berteman hanya dengan tetangga yang juga masih seusia, dan seterusnya. I realized this. At least, dua teman sekolah, ternyata orang tuanya tinggal satu dan memilih hidup seorang diri saja.

But, It depends, sebenarnya. Artinya, pertemanannya masih ada, kok. Hanya saja, berubah wujud. Ke wujud yang tidak semua orang merasa nyaman dengannya. This is something new and becomes normal: New Normal. Mungkin, kita hanya harus “get used to it” alias mencoba membiasakan diri sejak sekarang agar “merasa” terbiasa nantinya.

Apa yang dialami kakek-nenek tersebut hanya salah satu contoh saja. Di segala tingkat usia, wilayah tempat tinggal, jenis industri, jenis pekerjaan, semua orang sedang mengalami perubahan-perubahan menuju kenormalan yang baru.

Kita bisa mengeluh sih dengan paksaan-paksaan untuk berubah tersebut. Tapi kita juga punya pilihan lain. Yaitu untuk tidak mengeluh dan beradaptasi secepat mungkin. Ingat, wabah ini tidak akan sebentar. Secara ekonomi, dampaknya terasa sampai 2-3 tahun akan datang.

Lebih baik berubah sekarang. Mumpung semua juga sedang berusaha berubah. By the time kita baru mau berubah, sementara dunia jauh berubah, maka kita hanya akan menjadi orang yang tertinggal dan ketinggalan.

Akhir kata, hanya mau bilang, “Jangan cengeng. Jangan lupa bersyukur”. Itu nasihat paling utama untuk diri saya sendiri.

Kalau ada kisah-kisah lain, boleh dibagikan di kolom komentar, ya. Saya janji, akan saya masukkan ke post ini juga.