Pengalaman Mengurus Akta Kematian di Kelurahan Sungai Nangka Kota Balikpapan

Dokumen terkait yang dibutuhkan dalam mengurus pembuatan Akta Kematian, serta manfaat dokumen Akta Kematian.

Setelah bermenye-menye tentang almarhum, meski masih terkenang dengan segala kebaikan beliau, dan tentu tidak ingin move on ya, maka izinkan saya menuliskan proses dan deliverable dalam menyiapkan dokumen Akta Kematian ya.

Pada dasarnya, Akta Kematian adalah dokumen dari negara yang menyatakan bahwa seseorang sudah meninggal dunia.

Ibarat kata, untuk urusan kenegaraan semisal waris, tanah/properti, kendaraan mobil/motor, maka harus didasarkan pada dokumen negara juga. Apakah seseorang yang sudah dinyatakan meninggal dunia oleh dokter di rumah sakit, lantas juga MD menurut negara? Belum tentu. Oleh sebab itulah kita wajib mengurus Akta Kematian ini.

Yang merilis Akta Kematian adalah kelurahan.

Namun, karena proses administrasi di negara kita ini berbasis kewilayahan, maka harus dimulai dari RT/RW tempat kita tinggal terlebih dahulu. Idealnya, segala yang terjadi di wilayah non-formal tersebut diketahui oleh RT/RW (lahir, meninggal, dsb). No wonder, harus “diantar” dengan Surat Pengantar dulu dari RT/RW ke Kelurahan, yaitu wilayah formal terkecil menurut negara.

Salah satu yang diantarkan adalah “Surat Keterangan Meninggal Dunia” yang bisa dikeluarkan oleh dokter di Rumah Sakit. Itu kalau MD di RS. Bagaimana jika MD ketika berkendara di jalan raya? Yang bisa merilis surat sejenis adalah kepolisian (mungkin Polantas, ya). Jika tidak keduanya, setidaknya ada surat sejenis dari wilayah tempat tinggal. Representasi negara dalam hal ini adalah Puskesmas. Jadi, dokter di Puskesmas perlu melakukan visum dan merilis surat tersebut. Saya kira, ini dilakukan kalau almarhum meninggal di rumah dan tidak dibawa ke rumah sakit.

Persyaratan Dokumen

Dokumen terkait yang dibutuhkan:

  • Surat Keterangan Meninggal Dunia
  • Kartu Keluarga (KK) almarhum
  • KTP almarhum
  • Form permohonan yang sudah diisi pemohon berikut fotokopi KTP pemohon
  • Pemohon juga membuat Surat Pernyataan bahwa sebelumnya, almarhum tidak pernah dibuatkan Akta Kematian
  • Dua saksi (nama dan tandatangan) berikut fotokopi KTP-nya

Syukur alhamdulillah, pengurusan tersebut semakin dimudahkan karena bisa dilakukan secara digital. Cukup dengan mengambil gambar (memfoto) dokumen-dokumen tersebut lalu mengunggahnya (upload) ke laman capil.balikpapan.go.id/layanan.

Manfaat Akta Kematian

Memangnya, dokumen Akta Kematian bisa dipakai untuk apa saja?

Jumlah Sembilan

Ayah saya suka dengan angka yang bila semua bagiannya dijumlah hingga menjadi satu digit, menghasilkan angka sembilan. Tulisan ini, adalah rangkuman hal-hal baik dari beliau yang saya teladani.

Bagi beliau, sembilan itu angka keberuntungan.

Selama bisa diusahakan, maka carilah kombinasi angka yang menghasilkan sembilan. Misalnya, plat nomor mobil. Lalu, nomor rumah.

Tentu tidak semua bisa diusahakan seperti itu. Beliau pernah punya rumah makan dan usaha ritel yang tempatnya berupa kios di pasar tradisional. Brand-nya adalah “78”. Angka tersebut, kebetulan adalah tahun yang sama beliau pertama kali merantau. Beliau juga bekerja sama dengan sebuah koperasi yang ada nama “78”-nya.

Yang menarik, nomor nisan beliau di pemakaman, ternyata juga berjumlah sembilan

“Angka keberuntungan” itu hanya satu di antara beberapa hal yang menjadi karakteristik beliau. Izinkan saya berbagi hal-hal baik tentang beliau di post ini.

Ad Dien

Beliau menekankan dan mengingatkan pentingnya shalat berjamaah khususnya bagi laki-laki di masjid.

Selain pahala 27 derajat, yang membedakan antara lelaki yang shalat di rumah dan di luar rumah adalah, dia lebih “eksis”. Terlihat gitu lho, dia berasal dari dan kembali ke rumah yang mana. Di sisi lain, shalat berjamaah di masjid juga berarti membangun silaturahmi dengan warga setempat.

Beliau itu rajin mengaji. As simple as “mengundang malaikat” dan “mendatangkan kebaikan” di tempat kita berada. Baik itu rumah, kios, maupun di dalam mobil sekalipun.

Bangun dan menjaga silaturahmi. Sama saya, beliau suka tanya gimana kabarnya teman-teman saya. Meskipun sedikit yang diingat oleh beliau, tapi setidaknya beliau mau berusaha. Jadinya saya juga biasa menyebut nama teman saya kepada para saudara-saudara kandung. Supaya saling mengenal. Minimal tahu.

Di tanah rantau, beliau juga menjalin silaturahmi dengan orang-orang satu suku – baik yang ada hubungan darah maupun bukan keluarga. Terakhir, beliau banyak aktif di komunitas pensiunan.

Believe. Beliau itu sering bilang, “memang sudah begitu jalannya”. Artinya, memang sudah begitu ketetapan/takdir-nya. Ya beliau meyakini itu.

Di sisi lain, beliau percaya dengan luck. Tapi keberuntungan bukan syirik ya. Hanya sekadar intuisi bahwa yang ada di hadapan ini –misalnya si jumlah sembilan tadi– akan mendatangkan keberuntungan.

Financial Management

  • Berbelanja konsumtif yang lebih kecil nilainya daripada pendapatan yang diperoleh.
  • Tidak berhutang. Tentu beliau pernah berhutang. Pada satu titik, semua hutangnya sudah lunas.
  • Menabung. Simpan uang di bank.
  • Membeli aset. Aset adalah sesuatu yang (kita yakini) harganya akan naik di kemudian hari.
  • Berdagang. Sesuatu barang sudah untung bahkan sejak dibeli. Artinya, kita sudah tahu/memprediksi bisa dijual di harga berapa barang tersebut. Berapa untung (berupa marjin atau rupiah) yang diperoleh.
  • Double, triple, atau lebih sumber pendapatan. Bekerja di kantor/perusahaan iya, punya sampingan juga iya.
  • Mengeluarkan uang di jalannya Allah subhanahu wa ta’ala. Bayar zakat, infak, dan sedekah. Ikut berqurban. Sumbang aqiqah untuk cucu yang baru lahir. Pergi haji, lalu umroh. Karena menjadi muslim itu pengeluarannya memang besar.

Selanjutnya,

Orang yang sudah meninggal itu, ya sudah berpulang ke tempat paling hakiki, meninggalkan kita yang masih berada di dunia fana ini.

Bahkan katanya, tidak ada lagi pahala yang bisa mengalir kepada almarhum/almarhumah kecuali 3 hal:

Karena “kontrak”-nya yang sudah habis itu, maka peristiwa sudah berpulang-nya seseorang ke rahmatullah itu mengingatkan kita bahwa kita pun punya “janji” yang sama. Dan hendaknya, kita menghabiskan waktu kita untuk hal-hal yang mendatangkan pahala saja.

Sembari berdo’a dan berharap agar kita mendapat syafa’at di hari akhir nanti.

Perihal almarhum/almarhumah, janganlah kita teringat akan keburukannya. Melainkan, ingatlah dan tirulah hal-hal baik darinya. Ya prinsipnya, caranya dia hidup, amal ibadahnya, dan kebaikan-kebaikan lainnya.

Saya menuangkan ke dalam blogpost ini, supaya bisa saya tengok-tengok lagi. Mencari sedikit semangat, karena beliau itu semangat sekali dalam hidupnya. Ya semangat mencari nafkah, ya semangat dalam beribadah.

Dan berdo’a lah untuknya, agar dilapangkan kuburnya, diampuni dosa-dosanya dan diterima pahalanya.

Alfatihah untuk almarhum H. Burhanuddin Saleh.

Di-Mudah-Kan

Dimudahkan: kata sederhana yang rupa-rupanya memiliki makna yang mendalam.

Awalnya, dimudahkan tuh kesannya seperti ada bantuan orang paling kuat se-negeri ber-flower seperti kita ini: orang dalam.

Tapi kemudian, dalam perjalanan pulang dari mengambil hasil RT-PCR tadi malam, saya jadi memaknai kembali apa itu “dimudahkan”.

Beberapa jam sebelumnya, istri mengingatkan tentang apa yg dimaksud “dimudahkan” itu. Karena gak ada yg benar-benar mudah ‘kan.

Malah dalam Alqur’an dinyatakan bahwa kesulitan itu seiring sejalan dengan kemudahan. “Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan”.

Reinterpretasi saya di atas kendaraan tadi malam, menjadi “Bersama tantangan ada ‘dimudahkan’ “.

Tantangan memang gak pernah habis ya. Karena hidup itu kan selalu dinamis. Terjadinya dinamika baik karena hidup yg berjalan terus ke fase-fase berikutnya, maupun faktor eksternal yg datang menghampiri dan memberikan hambatan maupun gangguan.

Baca Juga: My Life, My Adventure

Dalam pada itulah, kita perlu banget mengecek kembali “dukungan” Allah kepada kita. Adakah Tuhan sang pencipta, lewat semesta raya menunjukkan kemudahan (yaitu “kemudahan” yg disebut dalam ayat alquran di atas). Misalnya lewat proses yang lebih cepat, rintangan yg lebih sedikit, bala bantuan yg tiada henti, dan sebagainya.

Yang saya rasakan sendiri misalnya, 7 tahun lalu. Hanya kenal dengan seseorang selama 8 bulan, tahu-tahu sudah menjadi istri.

Peristiwa terbaru yang terjadi di hadapan adalah, betapa singkat dan “dimudahkan”-nya almarhum ayah kami menjalani sakaratul maut-nya. Hanya dua hari sejak masuk RS, beliau sudah berpulang ke Rahmatullah.

Beberapa pekan sebelumnya, beliau malah aktif banget berbagi ke rekan-rekan pensiunan dan para cucu. Ada sekian belas sajadah bulu tebal agar sholat semakin dimudahkan, dilancarkan, dan diperbanyak. Para cucu ada yg dihadiahi qurban, dibantu biaya lahiran, disponsori aqiqah, dan lain-lain.

Kami menginterpretasikan, mungkin beliau sudah menyadari waktunya yang semakin dekat. Ini adalah experience yg mungkin tidak bisa dialami oleh kita-kita yg masih hidup ya.

Di mana, kita banyak menyesali apa-apa yg tidak kita lakukan utk menyelamatkan beliau. Padahal di sisi almarhum, proses sakaratul maut yang tidak memakan waktu berminggu-minggu apalagi berbulan-bulan itu yg dinanti-nantikan oleh para muslim/muslimah seperti kita.

Akhir kata, perjalanan “pulang” menuju kampung akhirat bukanlah perjalanan sesaat. Melainkan persinggahan di dunia fana inilah yang seharusnya menjadi tempat kita mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya. Sebagaimana almarhum ayah saya yang selalu bersemangat dalam mencari nafkah, sholat ke masjid, mengaji Alqur’an di rumah, menyambung silaturahmi dengan keluarga besar maupun rekan seprofesi, hingga keringanan utk berbagi lewat sedekah.

Evolusi Komedi di Indonesia

Cara komedian memancing tawa memang berbeda-beda. Bukan karena orangnya saja. Tetapi dari waktu ke waktu pun juga berbeda. Tulisan kali ini membahas bagaimana komedi berevolusi dari satu bentuk ke bentuk lainnya.

Pada sharing session 1M1C yang terakhir, si narasumber, Mas Dimas Abi sempat menyinggung soal tren buku komedi bertahun-tahun yang lalu. Satu nama yang ketika itu populer adalah Hilman, yang terkenal karena “Lupus”-nya. Lupus adalah seorang anak muda (siswa SMA) dengan rambut berjambul yang suka memakan permen karet.

Justru bukan soal komedi, bahasan di sharing session tersebut adalah bagaimana kita memahami selera penerbit mayor. Kalau benar mau tahu soal tersebut, simak saja diskusinya di link YouTube berikut ini. Jangan lupa like, comment dan subscribe ya.

Maaf, maaf. Pembukaan posting ini kok ya gitu sih ya. Haha . Balik ke soal komedi.

Yang dulunya berupa novel ringan penuh canda ala Lupus, pelan-pelan berevolusi menjadi komedi dalam grup. Alias grup (me)lawak.

Sejauh bisa saya ingat, ada Bagito (Miing, Didin, Unang) dengan Ba-Sho (Bagito Show)-nya di layar kaca. Ada pula Empat Sekawan (Derry, Ginanjar, Eman, Komar) yang nama programnya saya lupa, tapi ditayangkan sore hari. Grup-grup layak ini lebih sering dilahirkan dari pertemanan sekaligus kontes (lomba) lawak. Dengan konsep konten/cerita dari mereka, kemudian dieksekusi oleh mereka pula.

Di tahun-tahun selanjutnya, masih menggunakan medium televisi. Belum layar kaca YouTube kamu yang rekomendasinya itu-itu saja Tapi grup lawak tersebut ‘berguguran’. Lebih karena para talenta di serial komedi (semisal Jin dan Jun, Tuyul dan Mba’ Yul) sudah diseleksi dan ditentukan. Penulis cerita yang sekaligus membuat set-up dan punch line, berasal dari Production House-nya.

Jadi di masa grup lawak, konsep dan eksekusi oleh mereka sendiri. Sementara di serial komedi di televisi, konseptor dan eksekutor adalah dua pihak yang berbeda.

Isi, format, dan pelaku adalah tiga komponen yang menyusun sekaligus menentukan arah tren komedi. Dinamika yang terjadi di ketiga komponen tersebut –selain selera pasar– ikut menyebabkan bentuk-bentuk akhir komedi jadi berbeda.

Di tahun-tahun berikutnya ada EXTRAVAGANZA yang mengambil format ‘sketsa’. Yang dibintangi Tora Sudiro, Mieke Amalia (kalian mungkin tahu apa yang terjadi dengan mereka berdua), Indra Birowo, Tike Priatnakusumah, Sogi Indra Dhuaja, Virnie Ismail, Aming, Ronal Surapradja, dll.

Sketsa adalah komedi yang identik dengan set-up yang berbeda-beda tergantung alur ceritanya.

Kalau Jin dan Jun, Tuyul dan Mba’ Yul ceritanya cenderung begitu-begitu saja dengan fokus dan detil pada punchline — sehingga membosankan karena pakem background and goal ceritanya ya itu-itu lagi. Maka di format sketsa, konsep dan alur cerita lebih beragam. Durasi tiap sketsa kurang dari 10 menit. Maka dari itu, dalam satu kali penayangan/episode, biasanya terdiri dari beberapa sketsa.

Sketsa yang belum lama ini ‘ditarik’ dari peredaran adalah PERISTAWA. Bintangnya ada Cak Lontong dan Denny Chandra. Konsep ‘sketsa’-nya sama dengan EXTRAVAGANZA.

Keduanya memang sering tampil bareng. Selain PERISTAWA, mereka juga join bersama di Indonesia Lawak Klub (ILK) dan Waktu Indonesia Bercanda (WIB). Konsep komedi di antara ketiga program tersebut berbeda-beda, meski dengan tokoh utama yang sama. Ya, Cak Lontong selain eksekutor, juga berperan sebagai konseptornya.

Dalam suatu podcast, Cak Lontong pernah membagikan masa lalunya di mana beliau sudah capek-capek membuat konsep, eh ternyata konsepnya diambil tetapi dirinya tidak ikut main. Belajar dari pengalaman yang mengenaskan tersebut, beliau berprinsip bahwa kalau ide programnya dari dia, maka eksekusinya juga harus melibatkan dia.

Baca Juga: Sang Penghibur

Stand Up Comedy

Nah, tipikal konseptor-eksekutor ini membawa kita lagi pada konsep komedi yang baru. Namanya Stand Up Comedy.

Saya senang dengan bentukan yang baru ini, karena kontennya segar dan autentik. Tiap komika (sebutan pelakunya) menghadirkan konten dan pengalaman pribadi. Jadi lebih orisinil. Tapi dengan ciri khas (atau personal branding) masing-masing.

Secara umum, terasanya lebih banyak dan beragam aja bagi kita penonton. Misal, kita menonton David Nurbianto yang banyak membahas per-ayah-an (tadinya per-betawi-an). Kemudian pindah ke Mongol Stress yang sering mengulas per-cucok-an. Kalau mau tau maksud “cucok”-nya gimana, lihat langsung penampilannya, deh. Hahaha

Jadi, konten komedinya tidak saling memakan, malah saling “melengkapi”. Maksudnya, memberi kesempatan bagi penikmat stand-up untuk memilah dan memilih tontonan komedi stand-up yang diinginkan.

Yang Tidak Berubah

Dari dulu sampai sekarang, yang belum berubah dari komedi adalah seninya dalam memancing tawa.

Kalau di Stand Up, istilahnya set-up, set-up, punch line. Correct me if I am wrong ya, haha.

Begitu pula di bentuk-bentuk komedi pra-Stand Up. Dan semua “setting-an” tersebut tentu dalam rencana. Eksekusinya yang kembali ke bakat dan jam terbang masing-masing komedian.

Intinya sih, kalau bagi kita belum lucu, mungkin ya memang konsep komedinya aja yang belum kita pahami. Seperti belum pahamnya penonton dengan komedi slapstick. Itu lho yang baru lucu ketika mulai lempar-lemparan atau pukul-pukulan dengan properti di panggung

Kalau ada opini soal komedi, boleh banget dibagikan di kolom komentar. Membecandai paragraf-paragraf yang sudah saya set-up di atas juga boleh. Hahaha

My Life My Adventures

Apakah suatu petualangan itu benar-benar adventurous rupanya kembali ke masing-masing ya.

Bos saya dulu, kerjanya bolak-balik Indonesia-India dan Indonesia-Cina. Kantornya yang utama membuat pabrik di kedua negara tersebut. Saya pikir itu pekerjaan dan petualangan yang menyenangkan. Masakan India yang lebih banyak memakai rempah daripada menu masakan Padang di kita. Atau segarnya sajian kuliner khas Chinese Food. Rupanya tidak. Berjam-jam terbang itu membosankan dan melelahkan, katanya.

Meskipun bukan anak pantai (son of a beach, ) dan bukan anak gunung, saya menilai keduanya bukan petualangan, lho. Dua kali naik gunung bukan perjalanan yang asli menyenangkan dan saya ingin ulangi. Soal pantai, tiap kali pulang kampung ke kota minyak, selalu ke pantai. Jadi pantai itu B aja, sebenarnya.

Saya malah benar merasa bertualang itu kalau main ke kota lain setidaknya selama beberapa hari. Ikut menginap di rumah orang adalah best choice. Tentu pilihan ini tidak selalu tersedia ya kalau kita bersama anak dan pasangan. Lalu menikmati dan menyesapi kuliner lokal.

Saya pernah ada pengalaman “buruk”. Pergi ke Batam tetapi menu lunch-nya ala-ala Sunda gitu. Lauk yang diungkep bumbu kuning, kemudian digoreng. Lengkap bersama lalapan + teh tawarnya. Rasa makanannya terasa masih seputaran Bandung+Garut.

Jadi petualangannya bukan di daerah wisatanya. Melainkan ketika mengobrol dan berinteraksi dengan warga yang memang tinggal di sana. Menyelami bagaimana mereka hidup: berekonomi dan makan.

Itu saran pertama saya, ya. Kalau mau “bertualang” sekalian, maka merantaulah. Pindah kota, gitu. Pasti lebih sedap daripada sekadar beberapa hari main ke kota lain.

Benar lho. Daripada ke mall yang dari kota ke kota isinya itu-itu saja. No wonder, mayoritas mall kan dimiliki sese-grup usaha yah. Saya lebih pilih ke pasar tradisionalnya. Apa komoditi yang ada, atau lebih banyak daripada pasar-pasar tradisional di kota lain. Brambang (bawang merah) yang lebih besar dan umbi-umbiannya gak bergerombol. Ikan-ikan yang unik khas daerah tersebut, dan lain sebagainya.

Saran kedua: pindah kerja. Bila perlu, pindah industri sekalian.

Ada yang bilang, pekerjaan kan begitu-gitu saja. Menurut saya, tidak. Dalam pekerjaan kan ada interaksi antar manusia pekerja ya. Beda manusia, maka terasa beda di pekerjaannya.

Beda perusahaan saja terasa beda corporate culture-nya. Apalagi kalau sudah pindah industri. Industri seperti konsultasi, atau craftmanship-based seperti IT, menuntut kreatifitas. Sementara, bila bertualang di manufaktur, ke-kaku-annya bakal kerasa banget.

Lebih asyik lagi kalo bertualang jadi expert ke luar negeri. Atau sekolah di LN dengan beasiswa juga bisa. Sudah bertualang di pekerjaan/sekolah, bertualang juga soal kuliner, kebiasaan dan ekonomi warga setempat.

Status sebagai pasangan dan orang tua juga petualangan, lho. Bagaimana kita juggling dengan mengasuh anak-anak yang berbeda usia. Yang masih bayi butuh banget diurusi fisiknya, sementara kakak-kakaknya butuh treatment yang berbeda.

Di sisi saya sebagai pribadi, menonton film sekaligus browsing data-fakta menarik seputar sejarah (history) juga tidak membosankan. Pasca menamatkan dua “The End”-nya Rurouni Kenshin, saya tidak henti-hentinya curious tentang masa-masa sebelum restorasi Meiji yang terkenal itu. Sembari membayangkan bagaimana jika saya hidup pada masa itu: kebahagiaan dan penderitaan macam apa yang akan saya alami juga. Saya end up with another movie named “Samurai Marathon” to watch.

Jadi meski saya ini di rumah aja, tetap “travelling” ke mana-mana, kok. Email-email dari Online Travel Agent (OTA) seringkali saya cuhkan bahkan saya hapus. Karena kok masih lebih menarik “petualangan” saya di rumah ya.

Kembali ke pernyataan saya di awal.

Adventurous-nya suatu petualangan itu balik lagi ke perasaan masing-masing. Yang dialami bisa sama, tetapi how high or how low yang dirasakan itu berbeda-beda.

Lack of Communication

Lack of communication itu dalam bahasa Indonesia berarti kurang komunikasi. Masalah dari frase tersebut adalah ‘kurang’-nya di mana juga masih ‘kurang’. Alias masih sangat belum jelas. Tulisan kali ini mengeksplorasi apa saja yang bisa kita lakukan guna mencegah dan mengatasi komunikasi yang tidak efektif.

Frase ‘kurang komunikasi’ ini tuh mengingatkan saya ketika dulu sebagai mahasiswa berorganisasi di kampus. Frase yang sering disebut adalah ‘kurang koordinasi’. Hal ini berujung pada komunikasi yang tidak efektif.

Ineffective Communication

Yes, tapi di detail yang mana kurangnya? Koordinasi ‘kan komunikasi juga ya. Apakah dari pihak yang menyampaikan, atau pihak yang mendengarkan. Atau bahkan isi pembicaraan yang mungkin tidak seharusnya dibicarakan karena, let say, sudah seharusnya tahu-sama-tahu.

Seiring dengan semakin lamanya saya bekerja di perusahaan–yang notabene menuntut berkomunikasi dengan rekan satu tim, dengan departemen-departemen lain di kantor, maupun dengan klien misalnya, saya in shaa Allah, semakin baik dalam mencegah maupun mengatasi lack of communication ini.

Berikut adalah beberapa poin yang saya amati, pelajari, dan terus lakukan demi menghindarkan terjadinya kesalah-pahaman. (Ditulis tidak dalam urutan atau hierarki tertentu ya. Jadi semua memiliki tingkatan yang sama.)

Fun before serious

Semua urusan dengan orang-orang di kantor adalah urusan serius. Nah, sebelum serius, kita perlu have fun dengan mereka. Mulai dari tahu nama, wajah dan posisi. Pernah ngobrol, bahkan yang lebih advanced lagi adalah pernah bercanda. Idealnya, semua terlalui sebelum kita bekerja bersama secara serius.

Confirmation

Pastikan apa yang kita pahami, adalah sama dengan apa yang dipahami oleh lawan bicara kita. Either kita menanyakan, “Sudah paham? Ada yang ingin ditanyakan?” setelah kita memaparkan sesuatu.

Atau dalam posisi sebaliknya, kita bisa bertanya, “Maksud kamu begini, begitu, bla-bla, gini, gitu, ‘kan?”

Dengan melakukan konfirmasi, kita jadi yakin dan mantap bahwa kita dan lawan komunikasi kita sudah berada di ‘halaman’ yang sama.

Written Request

Jangan mengerjakan suatu pekerjaan yang tidak tertulis. Kita berangkat dari fakta bahwa semua karyawan sudah sibuk di posisi dan tugas-tugasnya — yang notabene jam kerjanya ‘hanya’ 40 jam per pekan. Jadi, jangan sibukkan kita maupun rekan-rekan kerja kita dengan pekerjaan yang sifatnya belum pasti.

Tidak pasti misalnya karena hanya disampaikan secara lisan — bisa diinterpretasikan sebagai ketidak-seriusan. Bentuk lain ketidak-pastian misalnya ketika yang mendengar perintah/permintaan akan tugas tersebut ada banyak. Sehingga tidak jelas siapa yang akan bertanggung jawab.

Poin saya di sini adalah, pastikan bahwa segala request dan penunjukan siapa yang mengerjakan, ada bukti tertulisnya.

Be Straightforward

Jangan berputar-putar dalam menjelaskan sesuatu. Memberikan analogi itu bagus. Memberikan contoh juga bagus. Tapi jangan lupakan juga pesannya alias ‘the message‘ harus lugas juga. Sederhana, tidak ambigu, jelas dan mudah dipahami.

Ketika merumuskan pesan ini, pertimbangkan kembali relevansi hal tersebut dengan lawan bicara kita. Kalau sudah relevan dan terkait dengan dirinya, maka pesan yang sudah lugas tersebut akan lebih mudah diterima.


Saya itu berangkat dari keluarga yang biasa tidak berkomunikasi secara lugas dan terbuka. Masing-masing menyimpan ekspektasinya terhadap anggota keluarga yang lain.

Dan ini terbawa ke luar rumah. Baik di sekolah, maupun di kantor — terutama ketika awal berkarir dahulu.

Kini, sudah jauh lebih baik. Namun, komunikasi kan sesuatu yang berkembang terus ya. Jadi harus belajar terus.

Yang sudah saya pelajari, sudah saya tuangkan dalam poin-poin di atas. Kalau ada pelajaran baru, akan saya bagikan lagi di blog ini. In shaa Allah.

Dukung terus saja blog ini.

Jangan Mencari Bahagia

Ketika menulis post ini, vaksinasi sedang berlangsung. Tapi entah kapan tuntas mencapai herd immunity-nya. Bahkan, vaksin berbayar mulai ada. Start di jaringan Apotek Kimia Farma. Jadi, pandemi masih akan berlangsung dan masih akan lama baru tuntas.

Sebelum pandemi ini, banyak di antara kita berasumsi bahwa kepemilikan barang akan berdampak pada kebahagiaan. Rumah sendiri, mobil sendiri, dsb. Hal tersebut tidak sepenuhnya salah.

Yang mungkin menjadi kurang tepat adalah ketika keinginan memiliki tersebut didorong oleh keterdesakan. Alias perasaan ‘secepat-cepatnya’.

Kita tahu, bahwa industri keuangan kita memungkinkan ‘nafsu besar tenaga kurang’ tersebut lewat produk-produk yang mereka tawarkan: Kredit kepemilikan Rumah (KPR), kredit mobil, kredit perlengkapan rumah tangga (kulkas, dispenser, AC), dsb.

Namun, sifatnya yang ‘bayar di belakang, ketika uangnya sudah masuk’ ini akan bermasalah ketika datang masa di mana ‘uang tidak lagi mengalir’ masuk ke kantong kita.

Kapan itu? Ya sekarang ini. Ketika pandemi melanda seluruh dunia.

Barang dan uang mengalami perlambatan pergerakan. Imbasnya juga ke kita. Perusahaan dan dunia bisnis mulai tidak lancar menerima uang. Mulai ada PHK. Punya restoran atau usaha kecil atau mikro mulai mengalami penurunan pendapatan.

Akhirnya mulai sulit membayar cicilan, ‘kan.

Dari yang ingin bahagia dengan berbagai kepemilikan secara instan, berakhir dengan resah, gundah, galau karena macet dalam pembayaran.

Dari mana datangnya semua masalah ini?

Itu tadi. Ini diawali dari keinginan untuk memiliki berbagai barang pribadi secepat-cepatnya. Memanfaatkan apa yang disebut ‘hutang’.

Jadi instead of mengejar kebahagiaan, yang bisa kita lakukan sejak pandemi –dan mungkin seterusnya nanti– adalah berdamai dengan daya beli kita.

Alias, merasa cukup dengan yang ada.

Iya sih, ‘merasa cukup’ itu yang bagi beberapa orang, sulit untuk kita tahu. Karena ‘kan cukup yang pas itu beda-beda di tiap orang.

Kata saya, ini adalah dinamika perjalanan hidup juga ya. Bagaimana menyeimbangkan keinginan untuk bertumbuh (grow) di satu sisi kehidupan, dengan ‘merasa cukup’ di sisi yang lainnya.

Rasanya ‘kan grow juga ya. Kalau pindah dari kost ke kontrakan ke rumah sendiri. Atau dari angkoters – sepeda motor – mobil.

Hanya saja, ya itu, jangan terburu-buru dengan menggunakan hutang.

Kalau nasihatnya para financial planner adalah akumulasi cicilan utang jangan lebih dari kisaran 30%. Terhadap total pendapatan tetap ya. (Strateginya lain lagi kalau lebih banyak pendapatan tidak tetapnya. Ada di buku Freelancer 101).

Di sisi lain kehidupan pun, toh, kita pun bisa ‘merasa cukup’ dengan kontrakan. Sama-sama bernaung dari panas, hujan, dan dinginnya angin malam ‘kan.

Toh, angkot (atau public transport lainnya) juga membawa kita berpindah tempat dari satu titik ke titik yang lain. Apalagi sekarang ada ojek atau taksi daring ‘kan. Cukuplah ‘merasa cukup’ dengan itu semua.

Akhir kata, maksud dari judul kontroversial di atas adalah Jangan Mencari Bahagia dari dunia. Tapi, carilah kebahagiaan dari perasaan ‘merasa cukup’.

Bincang Profesi: UX Writer

Lagi ingin membahas soal profesi UX Writer.

Saya menjalani profesi ini tidak sepenuhnya ya. Ini salah satu peran (role) saya di dalam title ‘Technical Writer’. Namun, jika kamu ingin tahu, ada sedikit yang bisa saya bagikan soal ini.

Pertama, ini tidak ubahnya dengan desainer ya. Kalau desainer merancang flow, experience, journey atau apapun namanya itu, nah UX Writer setidaknya harus menyelami hal yang sama.

Sebab, pekerjaan men-desain itu dekat dengan subyektifitas; that’s why kita perlu mendekatinya secara objektif dengan metode-metode riset maupun desain tertentu.

Dalam konteks penulisan, seorang UX Writer harus menjalani perannya se-objektif mungkin. Mulai dari membaca dan membawa referensi ke dalam ruang diskusi, sampai dengan menyediakan beberapa alternatif teks untuk dipilih anggota tim Product Management.

Dari konteks user flow, user experience (UX), user journey dan berbagai istilah lain untuk maksud yang sama, seorang UX Writer berfungsi menyediakan teks-teks pemandu atas visual yang sudah lebih dulu ada.

Sekilas, apa-apa yang dikerjakan oleh UX Writer tampak sedikit. Padahal, kalau kita zoom out dengan sebuah produk digital, maka UX Writer harus melakukan suatu upaya ‘penyeragaman’ terhadap semua kata-kata yang dia rilis.

Tujuannya supaya konsisten dan seakan-akan diucapkan oleh persona yang sama. Ini membawa kita ke tugas-tugas lain dari seorang UX Writer: terlibat dalam pengembangan brand persona dan melakukan ‘penurunan’ lebih lanjut dari brand persona tersebut dalam implementasi yang lebih luas ke halaman-halaman (pages) produk digital tempat dia bekerja.

In short, ada 4 tugas yang dilakukan oleh seorang UX Writer:

  • Terlibat dalam pengembangan brand persona
  • Melakukan ‘penurunan’ berupa apa dan bagaimana brand tersebut mengkomunikasikan sesuatu
  • Terlibat dalam pengembangan user journey
  • Merancang kata-kata pemandu agar user dapat menggunakan produk dengan lebih mudah

Pasar untuk profesi ini sebenarnya tidak terlalu luas ya. Masih lebih besar pasar untuk programmer (developer) ataupun desainer.

Perangkat digital sebagai alat bantunya juga tidak banyak, dengan fitur-fitur yang sedikit. Bahkan cenderung sama dengan yang digunakan oleh para desainer.

Jadi, variasi pekerjaan maupun dinamika karirnya akan begitu-gitu saja. Kali lain, saya bisa sharing soal bagaimana membuat karir kita sebagai penulis menjadi lebih bervariasi.

Nah, kalau kamu ada pertanyaan soal profesi ini, atau mungkin sudah tahu tentang profesi ini, silakan share di kolom komentar, ya 🙂

Bersikap Baik di Komunitas

Anggota komunitas, apalagi di era digital seperti sekarang, punya latar belakang yang berbeda-beda. Menghindar percekcokan, bisa dimulai dengan bersikap baik kepada siapa saja di dalam komunitas tersebut.

Kita mengikuti komunitas kan tujuannya baik ya. Misalnya, biar ada partner, supaya saling menyemangati, saling berbagi wawasan, dan bisa sama-sama bertumbuh.

Ayo join komunitas blogger 1minggu1cerita. Satu-satunya komunitas blogger tersantai yang pernah ada. Ini bukan testimoni saya, ya. Melainkan dari rekan-rekan yang sudah masuk dan keluar ke berbagai komunitas blog, ya.

Sebagai suatu ekstrakurikuler di luar rumah dan di luar pekerjaan-pekerjaan yang menghasilkan pendapatan, inginnya ‘kan join komunitas supaya bahagia (happy) ya. Masalahnya, adakalanya komunitas malah mendatangkan masalah-masalah baru.

Berikut ini kita ulas beberapa masalah yang mungkin terjadi dari berkumpul dan berbuat sesuatu dengan hingga ratusan orang:

  • Kepemimpinan yang ‘tidak jelas’. Saya beri tanda kutip karena para pemimpinnya memang gak boleh directive terhadap para anggota. Sifat kepemimpinan di komunitas kan memang partisipatif, ya. Lebih mengajak; tidak memerintah.
  • Tidak setiap orang bisa diajak ke ‘tempat’ yang lebih tinggi. Nyatanya, ekspektasi tiap anggota tuh berbeda-beda. Sebagai bagian dari mengelola ekspektasi, para pendiri/pengelola/admin sebaiknya buat aturan tertulis yang bisa dibaca anggota baru. Kalau anggota lama kan sudah pintar membaca situasi.
  • Ketersinggungan. Kemungkinan terjadinya ini menuntut kita untuk lebih berhati-hati dalam berkomunikasi. Apa yang bagi orang lain biasa saja, bisa jadi dianggap menyinggung orang lain, lho. Ini yang kita sebut dengan ‘baper’. However, sebaiknya kita tidak menyepelekan perasaan orang lain, ya.
  • Apalagi di era digital seperti sekarang. Komunitas tuh tidak melulu online-offline. Banyak pula yang daring-nya saja. Sehingga para member berasal dari Indonesia paling timur maupun barat. Belum lagi berbagai daerah lain yang notabene cara berbahasanya berbeda-beda. Tidak heran, di 1m1c kita pakai ‘kak’, demi menghindari salah jenis kelamin dan salah umur. Selain itu, kita biasakan memakai singkatan yang wajar-wajar saja dan memang bisa diterima oleh warga komunitas tersebut. Yang penting, enggak bawa singkatan yang aneh-aneh.
  • Silang pendapat. Bauran antara ‘maju bersama’ dengan ‘masing-masing punya harapan’ rawan memunculkan silang pendapat. Yang satu ingin mengajak para member ke arah mana, sementara tiap orang juga sudah bawa target masing-masing di awal bergabung ke komunitas.

Potensi masalah memang tidak banyak ya di komunitas. Biasanya ya itu-itu aja problemnya. Sebagaimana disebutkan di atas. Sekarang, tinggal kita saja yang harus tahu cara mainnya. Bagaimana mencegah timbulnya konflik, sehingga berkomunitas akan semakin asyik 🙂

Punya pengalaman unik dengan komunitas kamu? Boleh banget dibagikan di kolom komentar, ya!

7 Prinsip Mengelola Keuangan Rumah Tangga

Menyisihkan uang dari pengelolaan keuangan rumah tangga untuk ditabung bukan perkara sulit. Tetapi membangun kebiasaannya yang berat. Berikut ini 7 saran untuk mengelola uang keluarga dengan lebih baik.

Uang bukan segalanya. Tapi segalanya butuh uang.

Keluarga adalah salah satu bentuk institusi juga ‘kan? Namanya institusi, harus pintar mengelola sumber daya donk ya. Supaya survive dan bisa achieve tujuan-tujuannya. Salah satu sumber daya tersebut adalah uang.

Gak sedikit yang bangkrut, atau tidak bisa mengakomodasi kebutuhan anak-anaknya, atau bahkan ‘bubar jalan masing-masing’ karena gagal merencanakan dan mengelola keuangan.

Nah, bagaimana prinsip-prinsip mengelola keuangan untuk keluarga? Berikut ini kita ulas satu-satu, yuk.

1. Fokus ke Biaya makan

Ini saya masukkan ke nomor satu, karena banyak yang bisa kita ubah dari kategori ini.

Meskipun harga bahan pokok atau makanan jadi terasa murah, tetapi faktor kali yang membuat biaya makan selalu tinggi. Dikalikan terhadap jumlah anggota keluarga, berapa kali makan, dan di mana makannya, bisa membuat total biaya makan menjadi selangit, lho.

Makanya untuk menaikkan ROI makan di luar, lebih penting “makan sama siapa” daripada “makan pakai apa”. Hehehe.

Puasa itu selain berpahala dan menyehatkan tubuh kita, juga membantu kita menghemat biaya makan lho, teman-teman.

Beli makanan jadi selalu lebih mahal daripada memasak sendiri. Beli snack selalu lebih boros daripada tidak jajan. Fokus juga pada frekuensi. Sekali seminggu tentu lebih hemat daripada setiap hari. Hehe.

2. Kendalikan biaya ulang tahun

Biaya ulang tahun itu perlu, bahkan wajib. Tetapi tidak usah berlebihan. Jangan terlalu pelit juga untuk memperingati berapa tahun kita hidup di dunia. Sembari merefleksikan apa yang sudah kita lakukan. Lagipula, kalau anggota keluarga sendiri yang ingin ulang tahun kita dirayakan, kita tidak bisa menolak, bukan?

Sehemat-hematnya ulang tahun, menurut saya beli kue saja secara online. Dirayakan di rumah, sembari mengucap syukur dan memanjatkan doa.

3. Gunakan barang bekas

Berburu barang bekas pakai, terutama fesyen menjadi tren di tahun 2020. Artinya, kita tidak perlu ragu dan malu dalam menggunakan produk-produk preloved. Apalagi jika produk tersebut termasuk kategori branded.

Beli kendaraan juga tidak harus baru. Baik sepeda, sepeda motor, maupun mobil. Karena pemilik pertamanya juga tidak menjual kendaraannya dalam keadaan performa yang sudah turun.

4. Pilih Kesenangan yang Tidak Menghabiskan Uang

Main ke taman kota saja. Bukan main ke mall terus. Duduk saja bayar, apalagi bermain di wahana. Selain hanya ada belanja dan ajakan untuk mengeluarkan uang, habisnya uang belum tentu membuat bahagia.

5. Jangan Liburan Asal-Asalan

Asal-asalan dalam hal waktu, itinerary, dan anggaran (budget).

Secara jadwal, jangan liburan mendadak. Rencanakan cuti setahun itu mau dipakai ke mana saja.

Untuk itinerary, lebih baik ke destinasi baru demi mendapat pengalaman baru. Daripada nongkrong dan mager di destinasi yang modal hype doank.

Tetapkan batas maksimal seluruh pengeluaran liburan: tiket, penginapan, oleh-oleh, dan lain sebagainya. Masing-masing pos pengeluaran harus dianggarkan maksimalnya berapa.

Hindari pembayaran dengan kartu kredit. Bukan melarang, tetapi cara pembayaran tersebut bisa membuat kita tak terkendali dalam hal uang.

6. Potong Biaya Rumah yang Rutin

Bila memungkinkan, ganti PDAM dengan air tanah. Di Bandung Raya, biaya mengebor sumur bisa sampai Rp500.000,- tetapi sekali bayar. Biaya rutinnya adalah listriknya pompa air.

Renovasi rumah supaya lebih banyak bukaan (jendela, ventilasi, void, dll) untuk mengurangi penggunaan AC maupun kipas angin. Untuk mensirkulasi udara dan panas, jenis renovasi yang mahal adalah meninggikan bangunan. Harapannya, biaya listrik bisa ditekan.

Supaya rumah bisa lebih terang sembari mengurangi penggunaan listrik, kita bisa memasang glass block dan mengganti sedikit atap dengan yang berwarna transparan.

7. Bicarakan anggaran dan tabungan dengan anak-anak

Anak-anak itu manusia dewasa yang belum sepenuhnya paham soal keuangan. Mulai dari uang sebagai alat tukar, adanya pemasukan rumah tangga, serta alternatif produk atau jasa yang lebih murah untuk dibeli.

Apa saja yang harus dilakukan?

Membuat tabungan khusus anak-anak. Tentu saja tabungan tersebut untuk masa depan mereka: sekolah dan kuliah.

Mengajarkan anak untuk membuat rencana dan anggaran. Tidak melulu berupa uang, ya. Anggaran bisa berarti jatah buku gambar A3 dalam satu pekan.

Saya yakin teman-teman di sini bisa membuat contoh-contoh lain dari analogi buku gambar tersebut.

Yang perlu kita ingat, di sekolah tidak ada kurikulum tentang perencanaan dan pengelolaan keuangan. Jadi, kita sendiri yang perlu belajar dan mengajari anak-anak kita tentang keuangan.

Demikian dari saya tentang tips mengatur keuangan rumah tangga supaya bisa menabung untuk masa depan. Dari teman-teman barangkali ada pengalaman serupa? Boleh dituangkan di kolom komentar ya.