Kesulitan Kerja Remote

Blogpost ini diinspirasi dari blogpost Pak BR tempo hari. Linknya di sini. Habis ngasi komen di sana, langsung kepikiran untuk bikin blogpost sejenis.

So, kesulitan kerja remote tersebut masih ada hubungannya dengan produktivitas. Kapan hari sempat saya ulas di sini juga. Produktifitas juga ada hubungannya dengan punya teman-teman yang sepemikiran dan punya kesamaan minat.

Scale-of-remote-working-2

Disiplin

Setuju banget dengan perihal disiplin ini, Pak. Sebagai pemberi kerja, maupun pekerja, saya gak sepenuhnya yakin 100% dengan konsep remote working ini.

Salah satu yang melatarbelakanginya adalah kenyataan bahwa budaya kita dikenal sebagai low-trust society. Simply put, kita belum bisa meletakkan trust kepada orang lain sebelum kontrak tertulis atau uang muka proyek, dan bentuk-bentuk sejenisnya. Bukan sekedar si pemberi kerja belum percaya kepada pekerja, tapi juga sebaliknya: si pekerja belum yakin si pemberi kerja akan komitmen terhadap janji-janjinya. Termasuk di antaranya adalah pembayaran yang on-time.

Sebagai pekerja tatkala melakukan kerja remote, saya sudah yakin gak bisa sepenuhnya tidak diawasi atau tidak dikontrol oleh atasan. Baik berupa keikutsertaan di meeting, laporan yang ontime, maupun deliverables pekerjaan yang tidak melebihi deadline. Belum lagi, tatkala jenuh kita orang Indonesia cenderung buka social media (facebook, instagram, twitter, dlsb).

Remote dari rumah jelas menurun produktifitasnya. Istilah kerja 8 jam, mungkin efektif 7 jam. Ambil minum lha, chat sebentar sama ortu lha, dst. Belum termasuk ketidakpercayaan generasi ortu terhadap kita, yang tatkala ketak-ketik di laptop, disangka malah main game. Yang demikian jelas duduk nyaman di kursi dan komputer di atas meja saja menurun produktifitasnya, apalagi yang duduk bekerja sekenanya di karpet.

Coworking Space

Di sinilah coworking space jadi bermanfaat. Sewa ruang kerja dengan harga Rp50-100ribu per hari dijamin lebih produktif. At least, karena sesama rekan juga bekerja, maka kecenderungan ngobrol dengan juga akan berkurang. Apalagi kalo bisa berkolaborasi sesama desainer-fotografer-penulis-developer, dlsb.

Riset dari https://www.visualcapitalist.com/visualizing-rise-co-working-spaces/ bilang bahwa:

  • 25% responden menyatakan coworking space menghasilkan kolaborasi spontan (apalagi kalo ada orang sales yang mau jualan, makin mantap)
  • 22% memberikan networking/personal growth.
  • 18% menyatakan soal lingkugnan kerja yang lebih produktif.

Tidak heran pertumbuhannya coworking space-nya juga ada. Di UK (United Kingdom) saja sekitar 10% growth-nya per tahun lalu.

Tulisan dari Mas Zulkaida Akbar di bawah akan menceritakan betapa tidak efisiennya si Indonesia. Sebab di antara sekian jam kerja yang seharusnya dipakai bekerja, juga ada untuk YouTube-an maupun Facebook-an. Tidak heran orang Indonesia, seperti saya, masih juga membuka laptop dan bekerja di akhir pekan. Looks hard work, but actually not that efficient. Kalau sudah hard work plus efficient, kita pasti bisa rock the world juga, mestinya.

Balik lagi ke kerjaan remote. Kalau saya memberikan pekerjaan kepada orang lain, sebisa mungkin saya memberikan kepada yang saya tahu betul track-recordnya.

Atau, rekomendasi orang yang saya percayai. Terkadang, yg terakhir ini pun gak selalu berhasil. Atau minimal, saya bisa bertemu dengannya. Jadi, bisa kita rencanakan atau evaluasi bersama lewat offline meeting.

Berikut saya kutipkan status facebook dari seorang rekan, Zulkaida Akbar. Masih seputar fokus dan produktivitas. Sekarang menjalani profesi peneliti (fisikawan) di sebuah kampus di Amerika Serikat. Yang bisa saya ceritakan tentang beliau adalah, beliau orangnya fokus. Kebetulan, sudah menggeluti fisika sejak jadi peserta Olimpiade Fisika. Kemudian dibimbing Prof Yohanes Surya, lalu berlomba fisika (lagi) hingga tingkat internasional. Sempat menjadi aktivis kampus, tapi kembali lagi ke core-nya dia sendiri, yaitu Fisika. Sudah master, sudah pula doktoral. Sekarang menjadi fisikawan.

Fokus

Namanya Kathrina, seorang Jerman yang sempat singgah di Florida selama satu bulan untuk riset dibawah bimbingan Prof. Saya (yang juga seorang Jerman.)

Kathrina selalu datang jam 8 pagi, lantas menghidupkan komputernya dan mulai bekerja. Yang istimewa adalah detik mulai Ia bekerja, kepalanya seakan terpatri kuat pada layar monitor, jarang sekali terlihat menengok ke kanan dan ke kiri. Seluruh perhatiannya tersedot untuk pekerjaannya.

Kawan-kawan di kantor pun jadi segan untuk menyapanya.

Kathrina memang berbeda dengan kawan-kawan sekantor saya atau kolega satu group. Brad sering kedapatan membuka Channel olahraga saat bekerja. Chris si Veteran Iraq menyelingi pekerjaanya dengan me”Like” berita-berita republikan, atau berdebat tentang Israel-Palestina dengan Hussein. Sementara Hiram si Puertoriqan selalu terlihat tidur di sudut kantor.

Bagaimana dengan Si Indonesian? Mudah diterka, karena  bisa dipastikan tab Facebook dan Youtube-nya selalu terbuka. Terkadang ia juga menyempatkan untuk bergosip dengan kawan-kawannya di group WA.

Jam 12 teng Kathrina beranjak menuju Microwave, kemudian menghangatkan makan siangnya. Selepas santap siang, dia akan bekerja hingga jam 5 teng, lalu pulang.

Beberapa saat kemudian, ketika kami sama-sama menghadiri suatu pesta, baru saya sadari bahwa Kathrina ternyata manusia “normal” juga. Bagi dia, jamnya kerja ya harus kerja. Jamnya pesta ya pesta. Merupakan sebuah aib bagi dia jika Ia melakukan hal Non-kerja saat jamnya bekerja atau sebaliknya ; bekerja ketika jamnya untuk berpesta.
…………..

Sebut saja namanya H, si Tukang mabok tapi papernya bejibun ini mendapat gelar masternya di Stratsbourg (perbatasan Jerman-Prancis). Dia berangkat kerja di waktu normal, pulang juga di waktu normal.

Namun yang menarik adalah meskipun H perokok berat, tapi H tidak pernah membawa rokoknya ke Kantor, melainkan menggantinya dengan permen Nikotin. Alasannya sederhana, H tidak ingin membuang waktu kerjanya sekedar untuk keluar ruangan dan merokok. Sama seperti Kathrina, bagi H jam kerja ya harus dilalui dengan Full bekerja.

Bagaimana dengan Si Indonesian? Dia sering bekerja siang dan malam, belasan jam perhari. Weekday juga weekend. Ketika si Indonesian bertemu dengan H, dengan penuh kekaguman H berkata :”If I can work as hard as you, I will rock the world.” Si Indonesian kemudian menjawab :”If I can work as efficient as you, I  will also rock the world.”

Mengapa Si Indonesian menjawab demikian? Karena si Indonesian ini sadar, bahwa diantara belasan jam yang ia “klaim”, terdapat sekian jam untuk FaceBookan, Youtubean dan an an yang lainnya.

Apakah efek akhirnya sama dengan si Jerman?

Nyatanya tidak. Karena si Indonesian ini meski sudah 3 tahun ngaji kepada Prof. Jerman, tetap belum bisa memenuhi standar beliau : paling lambat satu minggu sebelum conference, slide sudah siap (juga sudah berlatih). Hampir 1 tahun sebelum menyelenggarakan konferensi, web sudah dibikin, lantas kami dminta untuk mengirim email dan abstrak hanya untuk memastikan bahwa sistem web berjalan. Juga printilan2 lain seperti Tas, map dll. Semuanya betul2 dipersiapkan sejak dini.

Saya yang terbiasa dengan kepanitiaan raksasa saat dikampus (OSKM=2000 panitia) terkejut bahwa satu gawe konferensi internasional yg diselenggarakan FSU nyatanya bisa dimanage dengan baik hanya oleh seuprit orang.

Kata2 Favorit Prof. Saya : Check List, prioritas, Be Carefull with your promise! Give me reasonable time estimation!

Diantara Negara2 dgn GDP terbesar seperti US, China; Orang Jerman paling sedikit jam kerjanya. Namun mereka sangat efisien dan terukur. Semua serba well organized. Weekend bagi Prof. Saya adalah family time, saat email tidak disentuh dan saat berlatih irish trap dance bersama istri dan anaknya.

Freelance Marketing

Is she/he a freelance marketing? 

Tanyakan saja dia terikat kontrak/pekerjaan dengan pemberi produk/jasa yang harus dia jual. Kalau dia terikat, berarti dia bukan freelance. Biasa disebut juga sebagai pegawai organik.

Keuntungan paling utama di perusahaan dalam mempekerjakan para freelancer marketing adalah punya karyawan sales saat dibutuhkan dan tidak punya saat tidak dibutuhkan.

Maksudnya bagaimana? Maksudnya begini. Ada masa di mana produk sedang melimpah dan (tentu saja) harus dibuat laku sesegera mungkin. Misalnya, perumahan tapak atau rumah susun yang baru saja selesai dibangun. Produknya sudah tersedia, semestinya bisa laku dengan cepat. Untuk mengantisipasi demand atau kedatangan calon buyer yang membludak, maka diberdayakanlah para freelance marketing tadi.

Dalam contoh ini, tiada gaji tetap pun tak apa. Karena calon pembeli sudah banyak yang datang ‘kan? Tinggal di-closing-kan saja, maka pendapatan untuk freelance marketing akan berupa komisi penjualan.

Pilih Niche

Tidak semua produk bisa dijajakan oleh freelance marketing. Bukan karena freelance marketing-nya tidak jago, melainkan tiap produk dan jasa memiliki karakteristik masing-masing. Sehingga kala meng-hire freelance marketing, harus diketahui pula pengalamannya dalam menjajakan barang tersebut.

Apakah barang fast moving?
Bayar di tempat atau transfer?
Cash atau credit? Dst.

Konsekuensinya adalah freelance marketing harus memilih dia akan fokus di industri/produk apa. Freelance marketing di industri properti, harus kompeten menjajakan rumah tapak, apartemen, kontrakan, dsb. Karena sifatnya seringkali kredit, dia harus membantu pula perusahaan dalam melakukan pengecekan terhadap kemampuan mencicil si pembeli. Jangan sampai sudah akad, ternyata yang bersangkutan malah gagal bayar/melunasi properti yang dia beli.

Apalagi nilai pembeliannya besar. Calon pembeli harus terus di-follow up. Sebab banyak hal yang harus dia diskusikan. Dengan pasangan suami/istrinya, dengan orang tua dan mertua, jarak dengan lokasi pekerjaan atau sekolah anak-anak, dst. Untuk buyer yang belum nyata yes/no pembeliannya, hukumnya wajib ditindaklanjuti. Minimal ditanyakan, kapan ada waktu untuk melihat purwarupa/contoh dari produk properti yang ditawarkan.

Freelance / Agency?

Freelance itu bagus untuk mengawali karir. Terutama pasca lulus atau resign dari tempat kerja lama. Tapi apa mau selamanya freelance? Mestinya tidak.

Kita semua pasti mau tumbuh dong. Tumbuh omzetnya, pekerjanya juga bertumbuh alias bertambah, dan tumbuh pada hal-hal lainnya juga. Tidak mungkin rasanya semua stuck dengan status freelance. Selain capek dan bosan mengerjakan end-to-end seluruh pekerjaan (dari cari klien, sampai dengan mengeksekusi pekerjaan tersebut sendirian), kita tentunya ingin fokus pada aspek tertentu pada pekerjaan kita sehingga kita bisa fokus pada dimensi-dimensi lain dalam kehidupan kita (baca: rumah tangga, parenting, kegiatan sosial, dan sebagainya).

Mungkin awalnya jadi outsource untuk mengerjakan online marketing. Mulai dari membuat desain diskon promosi, membuat copywriting iklan, sampai dengan menanggapi engagement (comment, message, etc). Tetapi lama-lama bisa menerima dan mengerjakan lebih banyak proyek dari banyak klien. Dari awalnya bekerja sendirian, kini sudah bisa bercerita ke calon-calon klien yang lain bahwa sudah mempunyai tim dan memiliki agensi sendiri.

(digital/online agency ini, sekedar contoh saja ya).

Value = Benefit/Cost

Kalau sudah mulai grow, tentu harus bisa mengkomunikasikan secara jelas value yang didapat oleh buyer kita. Value = Benefit/Cost. Artinya adalah benefit (manfaat) apa yang dia dapatkan atas kebutuhan/keinginan dia. Dibandingkan dengan cost (biaya) yang harus dia keluarkan untuk mendapat benefit tersebut. Tidak hanya berupa uang ya, melainkan juga waktu, tenaga, dan sebagainya yang harus dia korbankan.

Inilah yang namanya standard produk/layanan. Sebagai contoh. Bayar sekian, dapatnya ini, ini, dan ini. Mungkin bayar ke kita lebih tinggi dibanding yang dia bayar ke toko/lapak/kompetitor sebelah, tetapi dengan manfaat yang lebih besar tentunya. Contohnya seperti itu. Selanjutnya silakan dikembalikan kepada anda, ingin memposisikan produk/layanan anda seperti apa.

Ada yang namanya SLA (Service Level Agreement). Service adalah layanan-layanan yang melengkapi produk yang dihantarkan kepada klien. Jadi klien tidak hanya mendapat benefit produk saja, melainkan juga layanan yang meliputi dan melingkupi produk tersebut. Namanya saja agreement, jadi semacam standardisasi yang harus diberikan karena sudah disepakati dengan si pembeli.

Bagaimana jika sudah berjanji macam-macam, terus minta harga jual yang tinggi, ternyata gagal menghantarkan benefit-nya? Ini namanya over promise under deliver.

Bahas yang lain lagi, yuk.

Freelance Social Media Manager

Pengelolaan sosial media tidak hanya taktik semata. Tetapi juga stratejik. Artinya, kalau mau jadi freelance sosial media manager yang sukses, harus bisa menguasai keduanya.

Taktik, artinya dengan skill yang kamu miliki, kamu sukses mengeksekusi pekerjaan terkait social media. Kita buat list-nya dulu:

Pekerjaan:

  • Mengelola keberadaan brand produk atau institusi di social media
  • Mengukur dan menganalisis perubahan persepsi produk/institusi ini menggunakan alat-alat pengukuran yang tersedia
  • Berinteraksi dengan pelanggan sesuai dengan standard institusi/brand
  • Membuat materi promosi dan iklan yang mewujudkan target jangka pendek dari institusi/brand
  • Mengukur perubahan persepsi publik mengenai brand produk/institusi
  • Mendistribusikan materi promosi dan iklan ke berbagai saluran social media

Skill:

  • Menulis: manajer social media harus tahu dan bisa membuat materi iklan yang efektif. Lebih baik bila menguasai Search Engine Optimization (SEO)
  • Riset: update dengan tren di internet dan social media
  • Problem solving: mempu menjadi representasi brand/institusi yang mampu menangani permasalahan, mengkomunikasikan secara baik kepada stakeholder internal dan external, terutama kepada audiens social media
  • Organizational: berkomunikasi efektif dengan pelanggan dan pihak yang bertanggung jawab terhadap brand (biasanya product manager/brand manager) atau institusi (divisi hubungan masyarakat)

Karena terkait dengan saluran yang tidak mengenal waktu, yaitu 24 jam sehari dan 7 hari seminggu, tentu saja freelance social media manager harus selalu bisa diakses dari manapun dan kapanpun. Sehingga bisa sekedar menghimpun informasi terkait masalah yang terjadi, maupun menanggapi masalah tersebut dengan cepat.

Meski social media bukan tempat di mana transaksi biasa terjadi, namun social media harus mampu mengarahkan audiens atau pelanggan agar bertransaksi. Di sinilah kepiawaian manajer social media dituntut, bahwa tugasnya tidak melulu menghabiskan dana untuk membangun brand. Melainkan juga menjadikan aktivitas social media tersebut turut berimpak pada pendapatan institusi/brand.

Dan sebagai bagian dari fungsi pemasaran, hendaknya manajer social media juga mampu mewujudkan fungsi-fungsi Segmenting and Targeting secara tepat. Jadi bukan menghambur-hamburkan anggaran secara percuma, melainkan perlahan-lahan mampu mengefektifkan penggunaan budget. Melalui pemahaman yang semakin mendalam terhadap segmen-segmen yang ada di pasar berikut tren dan dinamikanya (segmenting) serta penetapan target yang semakin tajam seperti laser (targeting).

(22/07/2018) Semakin ke sini, saya semakin meyakini bahwa pengelolaan social media sebaiknya dilakukan oleh tim di internal alias karyawan tetap atau pegawai organik. Mengapa demikian? Karena dinamika di dalam internal organisasi (konteks: employer branding) atau dinamika di brand management merupakan bahan baku paling berharga dalam menstrategikan konten-konten yang salah satu saluran komunikasinya adalah social media.

Related Post:

  • https://ikhwanalim.wordpress.com/2015/11/16/freelance/
  • https://ikhwanalim.wordpress.com/2015/09/18/berapa-fee-untuk-freelancer/

Kerja Efisien dengan Digital Tools

Kalau sebelumnya saya menulis soal produktifitas, sekarang ingin menulis soal efisiensi.

Belakangan ini pikiran saya selalu soal efisiensi. Jadi, tetap mengejar target-target yang sudah direncanakan/ditetapkan. Hanya saja, berusaha meminimkan sumber daya yang ada.

Minimkan Sumber Daya

Target semisal di toko online, yaitu pasang iklan dan launch produk baru. Iklan saya pasang dengan anggaran terendah. Nanti kalau sudah habis, baru diisi lagi. Indikator kedua yang saya pakai, misalnya anggaran iklan itu harus sekian persen dari omzet. Kalau sudah lebih dari itu, berarti kita gagal. Mengantisipasi hal ini, makanya iklan selalu saya tweak terus. Selalu ada iklan baru yang saya coba, serta iklan-iklan lama saya optimalkan lagi. Yang gagal performa nya, saya matikan. Daripada menghabiskan anggaran. Yang sudah berhasil, saya tambah terus keyword-nya.

Batas Bawah Anggaran Iklan

Meskipun di sisi lain, mindset biaya nol untuk pemasaran sudah hampir saya tinggalkan. Ini saya kasi batas juga. Jangan sampai mengharap ada order, tanpa melakukan aktivitas pemasaran via iklan. Memang ada yang namanya word-of-mouth (WOM). Tapi ternyata itu lebih pas disebut kebetulan daripada berhasil. Yang berhasil tentu saja yang dirancang matang, beneran dieksekusi, diukur sejak awal, dan di-tweak terus-menerus. Sama gak boleh kapok juga, barangkali waktu itu kebetulan aja gak mujur sama sekali. Kali lain harus dicoba lagi. Apalagi ketika teman-teman kompetitor ternyata masih berhasil menggunakan medium iklan yang sama.

Zero Inventory

Dulu saya itu mindset-nya, “Gapapa dianggarkan banyak-banyak. Toh pasti habis juga”. Pikiran yang sama berlaku di inventori, “Toh ini bukan makanan. Gak akan busuk. Gapapa beli banyak juga. Meski belum ada yang order. In shaa Allah laku.” Dua tiga tahun yang lalu saya berpikir seperti. Padahal ya gak juga, kenyataannya belum habis juga itu barang sampai saat ini.

Pakai Alat Digital

Enaknya digital itu, apa-apa terukur. Seperti saya bilang di atas, bisa diukur sejak awal. Karena hasil ukurnya cepat didapat, maka bisa di-tweak kapan saja begitu sudah terasa enggak berhasil. Setidaknya itu yang saya lakukan dengan iklan. Di blog juga bisa begitu. Kelihatan kan keyword-nya apa aja yang selanjutnya bisa dipakai. Kelihatan kan view hari ini berapa. Bahkan dalam sehari, wawasan (insight) sudah bisa kita terima.

Kalau untuk catat-mencatat, saya pakai Trello. Efisien karena bisa dibuka di smartphone, saya pakai mobile app-nya. Sudah disinkronisasi dengan trello.com. Jadi tiap kali memperbaharui (update) to do, on going, sama done-nya sudah langsung sikronisasi satu sama lain. Bedanya dengan tools dari Google semisal Docs, Sheet, Slide yang ini tanpa versioning sama sekali.

Ingat banget di jaman kantor lama. Harus pakai Word/Excel/PowerPoint. Jadinya cuma dikerjain berdua sama boss. Itu pun, harus save dulu, lalu di-attach ke email, baru bisa dikirim. Efisien banget memang kalo kolaborasi pakai Google Docs/Sheet/Slide ini. Apa yang di-update, langsung kelihatan hasilnya di layar si rekan kerja. Bisa back ke version yang sebelumnya, kalau diperlukan. Dikeroyok sampai sepuluh orang pun, masih tetap oke. Minimal, udah peningkatan 5x lipat daripada di kantor dulu.

Support dengan Manual

Saya lagi terjun ke bullet journal nih. Buat yang belum mengerti, bisa main ke web bulletjournal.com. Atau visualnya bisa dilihat di akun IG @bulletjournal. Jadi begini nih. Kalau semacam Google Docs/Sheet/Slide, Trello, Evernote saya lihatnya lebih cocok untuk pekerjaan. Sifatnya detil, bisa kolaborasi sama yang lain, dan time frame-nya relatif pendek. Fix kalo yang digital, menurut saya, di situ perannya.

Beda dengan yang manual note ala ala bullet journal ini. Bisa memang difungsikan untuk pekerjaan. Malah cocok banget untuk business owner atau blogger gitu. Atau profesi lainnya yang berkutat dengan kreatifitas.

Kalau di saya, bullet journal ini saya pakai untuk catatan pribadi perihal pekerjaan dalam sudut pandang yang lebih strategic: bigger vision. Tentu teman-teman di kantor gak bisa melihat perihal pekerjaan kantor di sini ya. Karena hanya pekerjaan pribadi yang saya masukkan di sini. Jadi bukan yang berkolaborasi dengan teman lain. Sehingga yang bersangkutan, tidak perlu menengok catatan pribadi ini.

Ketiga adalah soal time frame. Perspektif yang saya pakai lebih panjang: tiga tahun ke depan. Jadi bullet journal tidak menggantikan trello. Tidak juga sebaliknya. Malah melengkapi satu sama lain. Karena di antara keduanya, saya lakukan penyelarasan (alignment). Trello ada di part-part yang detilnya. BuJo menyediakan part-part strategic-nya (bigger/longer). Berikut ini pola-pola pemakaiannya:

  • Rencana-rencana dalam tiga tahun ada di BuJo, detil eksekusinya ada di Trello
  • Ada yang lagi dikerjain di Trello sekarang ini, saya bikin ekstensinya di BuJo. Kira-kira, hal tersebut bisa dipanjangkan atau seperti apa bisa dibuat lebih besar lagi.

Tren digitalisasi ini ternyata bisa kita manfaatkan untuk melakukan efisiensi lebih terhadap pekerjaan-pekerjaan.

Seluk-Beluk Freelance Marketing

Institusi bisnis mempekerjakan freelance marketing tentu ada latar belakang dan tujuannya. Baik itu yang berfungsi untuk menjual (yaitu, sales) maupun membangun brand (marketing).

Tentu saja, pengisi posisi freelance marketing tersebut harus menjawab tujuan dan tantangan pemberi kerjanya. Dia harus berkompeten/jago dalam menjalankan fungsi penjualan atau pemasaran.

Sedikit saja gambaran mengenai contoh-contoh freelance marketing:

  • Property freelance. Kategori produk yang tidak diproduksi dan dipasarkan terus-menerus, salah satunya adalah properti. Terutama properti perumahan. Pengembang tidak mungkin mempekerjakan secara tetap tenaga penjualan, kecuali mereka memiliki land bank (tanah tanpa bangunan yang menjadi tabungan pengembang untuk proyek properti berikutnya) yang banyak. Posisi ini bekerja di kantor pemasaran kompleks perumahan yang masih baru, atau ikut pameran perumahan yang biasanya berlokasi di mall-mall. Strategi marketing perusahaan properti utamanya dua itu, on site melalui kantor pemasaran, atau ikut pameran yang crowd-nya sudah jelas ada. Sebagian kecil beriklan di media seperti koran.
  • Social media freelancer. Contoh jenis usaha yang memerlukan freelancer dalam mengelola akun-akun media sosial: restoran, atau makanan (kebab, pie, dll) yang bisa di-delivery. Ini adalah salah satu bisnis freelance yang bisa dikerjakan dari rumah serta relatif mudah untuk para pemula. Tahun 2017, siapa coba yang tidak mengelola akun social media? Paling tidak, dia mengelola akun pribadinya ‘kan 🙂
  • Sales freelance kredit elektronik

Kalau Sales Promotion Girl (SPG), saya kira tidak termasuk freelance ya. Sebab pekerjaannya dihitung dalam paket per sekian hari dengan gaji sekian. Untuk SPG+Supervisor kategori produk rokok, di samping ada nilai gaji yang tetap, ada juga bonus kinerja bila mencapai target penjualan tertentu. Menjual produk yang baru diluncurkan, dan tentu saja belum dikenal, itu tidak mudah lho.

SPG yang membantu eksekusi program promosi di lapangan. Biasanya para SPG + supervisor, paling sering membantu pengenalan sebuah consumer brand yang baru diluncurkan.

Berapa gaji (fee) untuk seorang marketing freelance? Atau Bagaimana Perhitungannya?

  • Property freelancer, tidak ada gaji tetap. Yang ada adalah komisi. Kalau berhasil menjual produk berharga tinggi seperti rumah, tentu komisinya tidak sedikit ‘kan. Apalagi menjual rumah sangat memerlukan keterampilan membujuk calon pembeli. Karena pada dasarnya database calon pembeli relatif lebih sedikit dibandingkan dengan kategori-kategori produk lain.
  • Untuk SPG, tentu sudah ada standard tetap dari agensi penyedia SPG. Harganya sudah terbentuk mengingat ada banyak para buyer (yaitu perusahaan yang memerlukan SPG untuk memperkenalkan brand baru mereka) dan ada banyak agensi yang menyediakan jasa tersebut. Agensi-agensi sudah memperhitungkan fee yang tepat untuk mereka yang butuh/ingin menjadi SPG: butuh uang di tengah ketatnya kompetisi tenaga kerja, serta para mahasiswi yang ingin mengisi waktu luang di sela-sela kuliah.
  • Freelance akun media sosial. Terserah anggaran dari yang mau memberikan pekerjaan. Banyak sekali kemudahan dalam menjalankan profesi ini, sehingga dibayar tidak tinggi pun tidak apa-apa. Bisa dikerjakan dari rumah, merilis konten juga tidak sulit dilakukan. Yang penting akunnya aktif, ‘kan.

Sebagai freelance social media account, Sekedar aktif menerbitkan konten memang mudah. Namun menjalankannya sebagai sebuah fungsi bisnis yang signifikan itulah yang tidak mudah.

Fungsi bisnis yang dimaksud:

  1. Menghimpun 3F (friends, fans, followers)  baru yang potensial menjadi calon pembeli. Kenaikan jumlah 3F adalah target paling utama.
  2. Membangun engagement dengan 3F –> melakukan riset, menganalisis hasil, membuat konten yang disukai (like), dibagikan (share), atau ditanggapi (comment). Jumlah 3F yang tinggi tidak akan berarti apa-apa bila engagement level-nya ternyata rendah.
  3. Menjadi saluran penjualan. Tidak semua produk bisa bertransaksi via social media. Tetapi menjadi salah satu saluran penjualan, adalah salah satu objektif paling menarik dalam mengelola akun-akun tersebut.
  4. Terlibat dalam proses-proses bisnis secara keseluruhan. Pengembangan produk, pemberian diskon promosi, dan lain sebagainya.

Dalam industri consumer goods, ada rule of thumb (yaitu 5% dari omzet) yang bisa kita jadikan benchmark terkait anggaran komunikasi. Termasuk anggaran untuk social media yang di dalamnya meliputi fee marketing media sosial. Bisa digunakan dalam dua cara:

  • Misal, target Rp1 miliar, maka owner harus bersedia “membuang uang” sebesar Rp50 juta. Atau,
  • Target penjualan yang terealisasi tahun lalu adalah 2 miliar, maka untuk tahun ini boleh dianggarkan sebesar 100 juta.

Patut dicatat bahwa terkait pengelolaan akun social media, anggaran tidak hanya untuk fee freelance saja, melainkan juga untuk riset pembuatan konten (mungkin harus terjun observasi langsung ke lapangan), membayar freelance visual designer/video maker, budget diskon promosi, dan seterusnya.

Misal target penjualan sebuah restoran adalah 100 juta, maka total anggarannya adalah 5 juta. Nilai tersebut misalnya adalah 3 juta untuk fee, dengan 2 juta sisanya untuk keperluan pengembangn konten. Tentu saja harus dievaluasi. Misal target omzet belum tercapai, maka anggaran dikecilkan. Atau sebaliknya, ketika realisasi melebih target, maka anggaran ditambah.

Strategi Perekrutan Marketing Freelance

Ada kalanya perusahaan bukannya bertujuan memasarkan atau menjual, melainkan sekedar menekan biaya gaji dari anggota tim marketing dan sales. Bisa saja dilakukan. Dengan contoh mempekerjakan mahasiswa magang. Untuk desain komunikasi visual, atau pengembangan konten website. Atau menerima freelance dari mereka yang baru saja lulus dari perguruan tinggi sembari dalam proses penerimaan kerja tetap di perusahaan lain.

Dengan strategi demikian, maka anggaran bisa ditekan. Tanpa perlu mengkhawatirkan “cabut”-nya salah seorang anggota tim. Sebab perusahaan akan dapat dengan mudah menemukan tenaga magang atau tenaga freelance yang lain.

Ini adalah pandangan pemberi pekerjaan freelance. Bagaimana pendapat para freelancer?

Tidak ada yang mau menjadi tenaga freelancer selamanya. Cepat atau lambat, pekerjaan freelance akan berakhir. Ada beberapa skenario yang mungkin terjadi:

  • Pekerjaan freelance sebagai tambahan atau sampingan semata. Terutama oleh ibu rumah tangga yang punya suami dengan pekerjaan tetap.
  • Freelance hanya sementara sampai dengan mendapat pekerjaan yang lebih permanen. Semisal menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), atau pekerjaan lain di kantor swasta yang terjamin hingga masa pensiun tiba.
  • Begitu banyaknya order freelance, sehingga sang freelance sendiri bisa menaikkan status sosial dan ekonominya. Dari sekedar freelance, menjadi business owner. Sehingga dia mulai membangun tim, serta membagi-bagi tanggung jawab menurut proses bisnisnya.

===

Related Post: