Tagline Blog

Tagline pada blog akan memberikan ‘penjelasan lebih lanjut’ tentang apa yang bisa didapatkan oleh pembaca dari blog tersebut.

Estimated reading time: 3 minutes

Definisi Tagline

Tagline is a catchphrase or slogan, especially as used in advertising, or the punchline of a joke.

https://www.lexico.com/en/definition/tag_line
Tagline pada blog akan menggambarkan lebih jauh tentang apa blog anda.

Menurut saya, tagline adalah untaian kata yang bisa menempatkan atau memosisikan suatu brand pada konteks pemasaran yang dikehendaki.

Kecuali untuk memantik penjualan secara langsung, tagline lebih pada membuat si brand tersebut menjadi lebih memorable. Baik karena rima si tagline maupun karena pengucapan yang catchy.

Sebagai sebuah pesan, tagline punya peran memberikan ‘penjelasan lebih lanjut’. Misalnya pesan bahwa positioning yang berbeda terhadap brand kompetitor, ataupun komitmen/janji untuk menyolusikan masalah pelanggan.

Berikut ini beberapa contoh tagline sesuai yang saya definisikan di atas.

  1. MasterCard: ‘There are some things money can’t buy. For everything else, there’s MasterCard.’
  2. M&M: ‘Melts in Your Mouth, Not in Your Hands’
  3. Nike: ‘Just Do It.’
  4. Apple: ‘Think Different.’
  5. L’Oréal Paris: ‘Because You’re Worth It.’
  6. McDonald’s: ‘I’m Lovin’ It’

Tagline Bisa Diubah

Jadi kalau brand itu selamanya, nah tagline lebih pendek durasinya. Secara visual, logo brand itu bisa digantikan. Jadi lebih jarang mengubah logo brand daripada mengubah tagline.

Tetapi name of brand hampir tidak mungkin diubah. Soal nama, biasanya berubah sehabis merger atau akuisisi, maupun berubah karena ekspansi ke pasar yang lebih besar. (Jadi ingat Hoka-Hoka Bento yang berubah jadi Hokben, karena pelanggan menyebutnya seperti itu.)

Perubahan tagline bisa kita pelajari dari kasus Tokopedia.

Tagline yang digunakan oleh Tokopedia misalnya #MulaiAjaDulu yang dikampanyekan sejak tahun 2018. Kemudian berganti menjadi #ciptakanpeluangmu (tahun 2016) #selaluadaselalubisa (2020) Ada juga kampanye lewat tagline #jagaekonomiindonesia yang mengambil momentum pandemi.

Bagaimana Cara Membuat Tagline?

Pertama adalah menyusun serangkaian kata yang merupakan ‘perpanjangan’ dari brand. Bisa dipilih salah satu dari berikut:

  1. Janji untuk menyolusikan masalah pelanggan
  2. Perbedaan dengan brand lain, atau
  3. Sekedar tampil berbeda

Selanjutnya adalah pemilihan dan penggunaan kata-kata yang punya ‘power’. Yaitu bagaimana sebuah kata mempengaruhi orang yang membacanya. Tentu di sini ada kemungkinan bahwa kata yang satu kurang disukai daripada kata yang lainnya. Yang harus dilakukan adalah bersikap seobjektif mungkin.

Kasus: Tagline Blog

Blog ini sebagai studi kasus ya.

Pertama kali dilahirkan, tagline blog ini adalah “Know What, Why, and How”. Maksudnya sih berjanji untuk memberikan informasi berupa apa, mengapa, dan bagaimana sesuatu itu bisa terjadi.

Tagline berikutnya adalah “Authentic Marketing”. Di tahun-tahun ini saya memang sedang menggeluti perihal pemasaran. Tidak sekedar membaca, tetapi juga menuangkan analisis atau bentuk pemikiran saya yang lain. Menariknya, ada yang mendarat di blog ini karena mencari “pemasaran yang otentik”.

Tagline yang saat ini digunakan, “Simplify Complexity”. Mirip dengan tagline yang pertama. Namun fokusnya adalah men-simplifikasi hal-hal yang –mungkin– di mata orang-orang atau para pembaca sebagai sesuatu yang rumit (kompleks). Simplify Complexity adalah suatu peran yang sedang saya kerjakan di kantor yang sekarang.

Bisa disimpulkan bahwa tagline blog ini kebetulan ada hubungannya dengan peran maupun fase hidup yang saysa jalani.Mungkin kamu sebagai blogger juga bisa menggunakan cara ini untuk memberikan tagline pada blog kamu, hehe.

Semoga ada manfaatnya.

Anxiety of Technical Writer

Setiap pekerjaan tentu saja ada dinamikanya ya. Naik dan turunnya. Plus dan minusnya. Keuntungan dan kerugian yang harus ditelan mentah-mentah. Dengan mengetahui hal-hal tersebut, akan membantu kita mengelola harapan (setting expectation). Sehingga kita bisa lebih legowo dalam menerima peran dan fungsi profesi masing-masing serta bisa memberikan karya yang terbaik.

Demikian pula dengan profesi Technical Writer (TW) yang tidak luput dari advantages maupun disadvantages.

Reality Check from User Experience

Sebagai technical writer, saya ada perasaan bahwa dokumentasi teknis (technical document) yang saya buat itu tidak sepenuhnya dibaca oleh pengguna (user).

Apalagi seiring dengan berkembangnya ilmu dan praktik User Experience (UX) ya. Manual-manual penggunaan yang dulu dibaca oleh pengguna kini sudah “diatasi” lebih dulu oleh desain yang user-friendly. Dapat dikatakan UX ini “mencegah” user membaca manual yang saya buat.

Unik ya, hehe. Karena kita menuliskan sesuatu yang wajib ada, tetapi tidak dibaca oleh penggunanya. Hehe.

Jadi, instead of menjadi petunjuk/manual penggunaan, maka arah dokumentasi yang saya buat lebih kepada menyelesaikan masalah (problem) yang andaikata terjadi tatkala aplikasi digital tersebut digunakan. Misalnya lewat halaman Help dan Frequently Asked Questions (FAQ).

Sebenarnya, UX tidak seburuk yang saya ilustrasikan di atas. Justru menjadi bidang baru yang perlu kita kuasai juga. Minimal untuk mengklasifikan mana yang masuk ranah UX design sehingga mengarahkan desain yang kita berikan kepada user. Maupun memberikan petunjuk (clue) kepada kita mana saja dokumen pemecah masalah yang akan berperan seperti Help dan FAQ.

Articulating User Requirement

Di samping itu, pekerjaan saya adalah menuangkan kebutuhan pengguna (user requirement). Baik yang bersifat fungsional maupun teknikal menjadi Requirement Specification (Spesifikasi Kebutuhan) dan Technical Specification (Spesifikasi Teknikal). Yang kedua ini biasa juga disebut sebagai Design Specification atau Technical Design Specification.

Selain yang sudah disebut di atas, ada juga dokumen-dokumen terkait Manajemen Proyek/Produk. Product Management kalau perusahaannya lebih banyak mengandalkan produk untuk melayani penggunanya dan Project Management kalau layanannya didominasi mengerjakan proyek milik klien.

Kenyataannya, dokumen-dokumen tersebut memang bagian dari deliverables yang harus kami sediakan mengiringi aplikasi digital itu sendiri. Dan memang sudah satu paket dengan proses yang perusahaan janjikan sebelumnya. Benar adanya bahwa kami dibayar atas aktifitas dan barang jadi tersebut.

Kembali ke kenyataan pahit di atas. Dokumennya wajib ada, tetapi belum tentu akan dibaca.

Real Conflict

Konflik yang saya rasakan adalah itu semua “hanya”-lah pekerjaan. Bekerja demi menyambung nyawa. Atau, istilah zaman now “demi segenggam berlian”. Sehinnga pekerjaan di kantor bukan suatu aktifitas yang “menyenangkan”.

TW harus bisa memberikan batas ya. Bukan karena suka dan bisa menulis, lantas semua harus dituangkan ke dalam dokumen. Kapan harus meriset (dan berhenti meriset), kapan waktunya menulis, kapan waktunya untuk menyunting (dan membuang kata-kalimat-paragraf yang hanya membuat penuh sesak).

Blogging

Kontras bagi saya, yang menyenangkan adalah kegiatan yang memupuk rasa ingin tahu (curiosity) dan memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan (questions) tersebut. Semisal ya aktifitas blogging ini.

Yeah, harus diakui kenyataannya bahwa apa yang saya ingin tahu belum tentu sama dengan apa yang ingin pembaca tahu dari blog ini. Apalagi dengan aspirasi dari warganet (netizen) yang tercermin di mesin pencari seperti Google lewat queries dari “people also search” atau Latent Semantic Indexing (LSI).

Sebagai blogger kita harus bisa membaca maksud (intention) para pembaca. Apakah sekedar mendapat informasi, mencari perbandingan antara para penyedia, maupun user intention yang lain.

Jadi, mencari jawaban dari segala pertanyaan sudah menyenangkan bagi saya. Apalagi setelah menuangkannya ke dalam blog ini. Hal tersebut kadang-kadang berimbas kepada Pageview (PV) yang tinggi. Seringkali juga tidak.

Tiga Tipe Artikel yang Harus Ada di Blog Kamu.

Bagaimanapun juga, dalam blogging yang utama adalah menuliskannya, bukan? Instead of melihat PV-nya tinggi atau tidak.

Kacamata lain yang bisa kita gunakan adalah “dokumentasi”. Layak atau tidak, penting atau tidak untuk didokumentasikan.

Dokumentasi

Always Benchmark-ing

Pekerjaan saya di kantor terkait dengan mendokumentasikan proyek-proyek milik perusahaan yang sifatnya eksternal maupun proyek-proyek internal.

Keduanya ibarat dua roda berbeda yang saling terhubung lewat suatu rantai yang penggerak utamanya adalah roda “internal”. Jadi bagaimana menggerakkan roda internal (dengan usaha seminimum mungkin) agar roda eksternal ikut bergerak membawa kita mencapai tujuan. Dalam proses tersebut, roda eksternal wajib memberikan umpan balik (feedback) kepada roda internal mengenai masalah, hambatan atau tantangan yang dihadapi. Sehingga, roda internal bisa menyesuaikan diri. Misalnya dengan menyediakan cetakan (template), membuat standard, atau aktifitas lainnya.

Dapat disimpulkan bahwa dokumentasi di perusahaan tuh sifatnya harus terus diperbaharui, khususnya dengan cara benchmarking ke praktik terbaik (best practices).

Make it Romantic

Hal yang sama juga saya lakukan sebagai blogger: merekam (to record) apa-apa yang saya pikirkan, lakukan, dan rasakan sendiri untuk dibaca oleh orang lain sebagai sesuatu yang bermanfaat.

Pun tatkala saya membaca tulisan saya sendiri akan berarti sebagai nostalgia bahwa oh ternyata saya pernah memikirkan hal-hal receh ini, oh ternyata pernah melakukan ini.

Sekedar perbandingan dengan khalayak kebanyakan, banyak juga lho yang menitipkan memori visualnya di Instagram (IG).

Karena penitipan memori baik berupa visual maupun teks di medium seperti IG maupun blog itu sifatnya seringkali personal dan privat serta minim maksud bisnis, maka tolok ukur (benchmark) ke luar seringkali salah sasaran.

Sama sederhananya dengan fakta bahwa perjalanan hidup tiap orang tidak sama dan tidak layak untuk membandingkan serta menentukan mana yang hidupnya lebih baik daripada orang lain.

Merekam dan memutarkembali memori kehidupan itu kan sifatnya manusia yang punya kepekaan ya. Alias romantisasi tersebut lebih karena manusia itu peka dan punya perasaan.

Idratherbewriting: Avoiding Burnout as Technical Writer

Tiga Tipe Artikel yang Harus Ada di Blog Kamu

Untuk membuat konten blog kamu lebih bervariasi dan semakin lengkap, ini ada tiga tipe artikel yang sebaiknya rutin ada di blog kamu.

Artikel blog yang harus ada itu tiga macam banyaknya. Yaitu artikel ekspresif, artikel SEO-friendly, dan artikel cuan.

Tujuan blogging ‘kan macam-macam ya. Ada yang se-santai mengekspresikan isi hati dan pikiran, ada yang se-serius membangun personal brand, ada yang se-pragmatis cari duit, dan lain sebagainya.

Dan antara narablog yang satu dengan yang lain, sangat mungkin berbeda. Bisa ada yang hanya punya satu tujuan, bisa juga semua tujuan menjadi targetnya.

Nah, kalau kamu ingin meraih semua tujuan-tujuan ngeblog yang sudah saya sebut di atas, mari kita ekstrapolasikan ke dalam jenis-jenis blog post yang sifatnya “must have” berikut ini ya:

Artikel Blog

Artikel Ekspresif

Artikel yang mengekspresikan siapa diri kamu. Bukan hanya mengekspresikan emosi, tetapi juga menceritakan kepada dunia siapa kamu sesungguhnya dan apa yang kamu kerjakan untuk hidup. Apakah blogger, penulis, arsitek, dokter, dan lain sebagainya. Tentu saja tidak sepenuhnya salah bila dalam mengkampanyekan profesi tersebut, kita sedikit menyelipkan kisah-kisah tentang diri sendiri untuk memperkuat storytelling kita.

Ekspresifitas ini sejalan dengan memberikan peran pada blog sebagai medium untuk personal branding. Namanya juga branding, ciri khas alias pembeda wajib dimunculkan dan diulang-ulang secara rutin.

Artikel SEO-Friendly

Kenapa SEO-friendly? Supaya dapat traffic.

Tidak perlu bersikap “anti ini, anti itu” ya terhadap cara internet bekerja. Khususnya kepada Google. Saya mengajak kita pragmatis aja. Karena se-idealis apapun, kita tetap butuh keramaian (traffic).

Poin saya soal SEO-friendly ini sebenarnya soal traffic. Bahwa traffic tidak melulu datang karena SEO, itu betul. Traffic bisa datang karena gagasannya memang menarik dan kontekstual atau tersebar luas berkat dipromosikan oleh sese-selebgram, dll.

Saya melihat SEO-friendly adalah jalan tengah antara “mengekspresikan profesi” kita dengan “mengejar traffic“. Oleh sebab itu, saya merekomendasikan kategori ini sebagai kategori must have yang kedua.

Artikel Blog Cuan

Kategori must have ketiga adalah tipe blog post yang memberikan penghasilan.

Berkat kategori pertama, kita sudah punya ciri khas yang membedakan kita dengan orang-orang yang kita anggap “kompetitor”. Karena kategori kedua, kita sudah punya traffic sendiri.

Jadi ketika sudah punya ciri khas dan traffic, mestinya sudah bisa nih mendatangkan yang nomor tiga, yaitu cuan. Pragmatis saja, hosting dan domain harus terus dibayar setiap tahunnya, ‘kan.

Dengan catatan, bukan sekedar asal beda, dan bukan sekedar ramai, tapi memang memberikan manfaat. Ini yang harus terus kita coba dan eksplorasi:


Ketiga jenis blog post yang saya sebut “must have” di atas, bukan berarti asal ada saja, ya. Melainkan harus secara rutin nongol di blog kita.

Demikian blog post kali ini. Semoga sukses, ya.

LIHAT JUGA: 10 Tips Hasilkan Artikel Blog Menarik.

Finding Your Writing Voice

To develop further your career as a writer, you shall have a writing voice. Either in form of writing style or perspective, you must have it. This simple post reminds us to focus more on important writing voice.

Depending on who you ask, the writer’s voice can be:

  • A. Your style of writing
  • B. Your perspective
  • C. Your tone in writing
  • D. All of the above that you bring it consistently

Importance of Writing Voice

Why we as writers shall have our own ‘writing voice’? As part of marketing and Branding. It means we develop our followers and community that love our works/crafts.

A writer’s voice is a stamp on your writing that makes your work personal and recognizable, so much so that your audience can identify a sample of writing as yours without ever seeing your name.

Having a voice of our own is analogous to be a media. As we already know the universal truth, that every media has its own ‘voice’. Whenever we create content for that ‘media institution’ we must follow their style or their uniqueness.

What about you? As yourself is a ‘walking media’, do you have any writing voice?

Having a voice of our own is analogous to being a medium. As we already know the universal truth, that every media has its own ‘voice’. Whenever we create content for that ‘media institution’ we must follow their style or their uniqueness.

How To Have Writing Voice

As simple (or complicated) as to keep writing, that’s why I start and continue this blog. To push me to write consistently even though no one to read it.

I used to give it the tagline ‘authentic marketing’. As I love and always think about marketing. It is such a promise of what I would like to deliver by my writing.

It turns out that ‘simplify complexity ‘ is more appropriate at the moment. Due to not only marketing, but things like ‘parenting’ and ‘freelance’ are complex as well. And I love to research further to break it into smaller pieces and rewrite it becoming more simple to ‘be bite by readers.

10 Steps to Find Writing Voice

  1. Describe yourself in three adjectivesExample: snarky, fun, and flirty.
  2. Ask (and answer) the question: “Is this how I talk?”
  3. Imagine your ideal reader. Describe him in detail. Then, write to him, and only him. Example: My ideal reader is smart. He has a sense of humor, a short attention span, and is pretty savvy when it comes to technology and pop culture. He’s sarcastic and fun but doesn’t like to waste time. And he loves pizza.
  4. Jot down at least five books, articles, or blogs you like to read. Spend some time examining them. How are they alike? How are they different? What about how they’re written intrigues you? Often what we admire is what we aspire to be. Example: Copyblogger, Chris Brogan, Seth Godin, Ernest Hemingway, and C.S. Lewis. I like these writers because their writing is intelligent, pithy, and poignant.
  5. List your favorite artistic and cultural influences. Are you using these as references in your writing, or avoiding them? Because you don’t think people would understand them. Example: I use some of my favorite bands’ music in my writing to teach deeper lessons.
  6. Ask other people: “What’s my voice? What do I sound like?” Take notes of the answers you get.
  7. Free-write. Just go nuts. Write in a way that’s most comfortable to you, without editing. Then go back and read it, asking yourself, “Do I publish stuff that sounds like this?”
  8. Read something you’ve recently written, and honestly ask yourself, “Is this something I would read?” If not, you must change your voice.
  9. Ask yourself: “Do I enjoy what I’m writing as I’m writing it?” If it feels like work, you may not be writing like yourself. (Caveat: Not every writer loves the act of writing, but it’s at least worth asking.)
  10. Pay attention to how you’re feeling. How do you feel before publishing? Afraid? Nervous? Worried? Good. You’re on the right track. If you’re completely calm, then you probably aren’t being vulnerable. Try writing something dangerous, something a little more you. Fear can be good. It motivates you to make your writing matter.

Writing is never-ending learning, I guess. The more you write, the better your writing will be. As your quantity increase, it shall make your qualities getting better.

Honing our writing skills means making perfect of our writing voice as well.

Baca juga:

Tips Mengembangkan Fashion Blog Seperti Sonia Eryka, Olivia Lazuardy, dan Diana Rikasari

Fashion blog kamu akan berkembang ketika mengulas tren fesyen yang akan berkembang, membahas tokoh penting industri fesyen, dll.

Tips mengembangkan fashion blog untuk pemula.

Bisnis fashion memang selalu menjadi tren. Kami pikir, ini lah saat yang tepat bagi kamu untuk memulainya.

Untuk memulai fesyen blog sendiri tidaklah rumit. Yang rumit adalah mempertahankannya. Di sini kita akan bahas cara-cara serta tips menjadi fashion blogger sekaligus monetisasinya.

Tanpa basa-basi, mari bahas cara memulai bisnis fashion sekarang.

Mengulas tokoh-tokoh penting dalam dunia fesyen seperti tren terbaru, desainer adalah salah satu cara dalam mengembangkan fashion blog.

Cara Membuat Fashion Blog

Sebelum memasuki tips berbisnisnya, kamu harus memulai dengan fondasi yang kuat, yaitu: Domain, CMS, dan Hosting. Untuk itu mari mulai dengan langkah yang paling dasar.

1. Buat Nama Domain

Pikirkan sebuah nama yang unik, mudah diingat, mudah untuk diucapkan dan singkat. Paling mudah ya nama brand sebagai nama domain.

Atau, jika kamu merasa blog fashion serta bisnis fashion ini begitu personal, menggunakan nama sendiri juga merupakan ide yang bagus.

Contohnya adalah Sonia Eryka, Olivia Lazuardy, dan Diana Rikasari.

Masing-masing dari mereka membangun sebuah blog fashion yang eye-catching.

2. Memilih Hosting

Hosting juga tidak kalah penting. Karena performa blog (speed, availability, dll) lebih banyak ditentukan dari hosting yang dipilih.

Pilihlah layanan hosting yang stabil, memiliki availability di atas 99,9% sekaligus memiliki support yang aktif 24/7. Jadi kapanpun dihubungi mereka siap untuk menjawab. Jangan heran bila mereka mengarahkan kamu ke suatu artikel tertentu, karena itu juga memudahkan kamu untuk mengakses suatu jawaban in case problem yang sama terjadi lagi.

Selain mengutamakan kecepatan, ingat juga untuk memilih layanan hosting yang aman (secured). Penggunaan https itu lebih aman daripada http, lho.

Sertifikat SSL juga tidak kalah pentingnya. Meskipun belum pada tahap wajib, tapi audience akan membandingkan apakah blog kamu dengan blog lainnya. Termasuk pada kepemilikan Sertifikat SSL.

3. Pilih CMS

Setelah memiliki domain dan hosting yang powerful, saatnya menjatuhkan pilihan ke CMS untuk mengelola konten bisnis fashion blog.

Saya pribadi sangat menyarankan untuk menggunakan WordPress, karena

  • User-friendly
  • SEO-friendly
  • Mudah digunakan
  • Tersedia ribuan tema dan plugin untuk menunjang fashion blog kamu
  • Dapat berintegrasi dengan berbagai sosial media dan app
  • Dan lain-lain

WordPress juga mudah diinstal dari panel layanan milik Niagahoster. Jika kamu memiliki beberapa website sekaligus, kamu bisa menggunakan hosting yang sama dengan beberapa domain di atasnya. Selama performa masih terjaga, kamu tidak perlu meng-upgrade layanan hosting kamu.

4. Pilih Tema

Ketika berbicara tentang fashion blog, kamu harus serius dalam memilih tema yang sesuai dan sekiranya menonjolkan konten fashion yang ada di dalam blog.

Pilih tema yang sekiranya juga dapat meningkatkan User Experience (UX) pengunjung. Tipsnya adalah pilih tema yang,

  • Loadingnya cepat
  • Memiliki layout yang solid dan rapi
  • Menggunakan tipografi yang tidak terlalu heboh
  • Dan skema warnanya nyaman di mata

Selain itu, carilah tema yang memiliki tim support dan mendukung kustomisasi yang fleksibel.

5. Instal Plugin

Salah satu alasan saya merekomendasikan WordPress adalah karena CMS ini memiliki banyak plugin yang akan menunjang performa website. Berikut ini adalah beberapa di antaranya yang penting dan segera harus diinstal:

  • Yoast SEO – untuk memandu kamu dalam membuat konten yang SEO-friendly
  • Jetpack – menambah keamanan website dapat dilakukan dengan plugin ini
  • Cache Enabler – untuk caching website agar loading lebih cepat
  • Imagify – plugin image optimizer untuk kompresi gambar tanpa harus mengurangi kualitasnya
  • VaultPress – plugin untuk backup website WordPress
  • Akismet – plugin anti-spam agar website bebas dari komentar spam
  • Easy Social Share Buttons – untuk terhubung ke sosial media kamu

Selain itu, kamu akan membutuhkan plugin e-commerce jika pada akhirnya kamu akan menjual produk kamu sendiri atau brand lain yang bekerja sama dengan kamu selaku fashion blogger. Yang terintegrasi dengan WordPress dan cukup populer, ada plugin WooCommerce.

Setelah siap dengan weblog kamu, saatnya mengetahui tips bagaimana cara mengembangkannya menjadi bisnis fashion blog.

Tips Mengembangkan Bisnis Fashion Blog

Menghasilkan uang dari blog fashion bukanlah hal yang mustahil. Kamu punya banyak opsi monetisasi sebagai fashion blogger, di antaranya:

  • Sponsored Posts – membuat postingan khusus untuk sponsorship
  • Revenue Ads – jika trafik sudah banyak, manfaatkan blog fashion kamu sebagai media pengiklanan
  • Menjual produk digital – jual e-book, course, membership dan lainnya
  • Menjadi Penulis Buku – alias jualan buku.

Nah, untuk itu kamu harus mematangkan strategi mengembangkan isi blog.

Ada beberapa hal yang bisa kamu lakukan seperti m

  • Membuat konten menarik
    • Salah satu konten menarik adalah yang membicarakan persona. Misalnya bahas seorang desainer atau model atau tokoh lain di bidang fashion. Beberapa contohnya bisa dilihat di https://ikhwanalim.com/modest-id
  • Menyusun jadwal posting blog. Tujuannya adalah menjanjikan kepastian kapan konten baru akan rilis, sekaligus juga membangun harapan bagi pembaca. Agar semakin banyak orang berkunjung ke blog fashion kamu.
  • Lakukan riset dan analisis keyword, konten dan backlink milik kompetitor.
  • Bergabung dengan komunitas fashion blogger. Yaitu sebagai sarana belajar, riset, dan melakukan perbandingan dengan fashion blogger yang lain.
  • Eksekusi strategi membangun visitor secara organik dengan SEO. Utamanya adalah Technical SEO dan SEO On-Page.
  • Gunakan social media untuk memperkenalkan sekaligus membangun pembaca sekaligus followers brand fashion blog kamu.
  • Enjoy dalam membangun fashion blog. Karena mengembangkan fashion blog secara serius pastinya sangat menantang.

Demikian tips dan trick mengembangkan weblog khusus dengan topik seputar fashion. Ingin diskusi lebih lanjut? Yuk sharing aja di kolom komentar

Dua Tipe Penulis. Kamu Tipe yang Mana?

Bagi kamu yang ingin berprofesi sebagai penulis, salah satu fase yang akan dilalui adalah bertanya-tanya ke diri sendiri, tentang pola, cara, metode yang paling tepat dalam menulis.

Secara umum, saya melihat penulis itu ada dua tipe. Tidak ada benar atau salah di antara keduanya. Hanya cocok-cocokan saja dengan penulis itu sendiri. Setidaknya, dengan mengenali kita termasuk kelompok yang mana, maka harapan saya kita bisa menjadi lebih produktif.

Pertama, tipe yang sistematis. Tipe ini start-nya adalah kerangka buku (outline). Atau, bisa juga kita sebut ‘daftar isi’. Karena orangnya sistematis, tipe ini membutuhkan sesuatu yang berperan sebagai navigator. Di sanalah outline berkontribusi dalam memberikan petunjuk arah ke mana penulis harus bergerak menyusun konten demi konten.

Karena pola menulisnya sedemikian rapi, begitu pula dengan ‘manajemen proyek’-nya. Tipe penulis pertama ini wajib diberikan target waktu (dateline) kapan naskah harus selesai ditulis sebelum serahkan kepada penerbit.

Kedua, tipe yang ‘acak’ atau ‘random‘. Namanya juga random, jadi penulis tipe ini berangkat dari isi tulisan yang mana saja dan selanjutnya bisa bergerak acak ke mana saja.

Kelebihan (sekaligus kekurangan) dari tipe penulis ini adalah mereka harus menuangkan ide ke dalam tulisan kapan saja begitu ide tersebut datang. Ke-acak-an tersebut tidak hanya soal timing penulisan, tetapi juga medium penulisannya. Salah satu penulis yang saya kenal, mencorat-coret gagasannya lewat aplikasi speech-to-text dulu baru kemudian dirapikan supaya lebih enak dibaca. Bahkan, ada juga yang mewajibkan dirinya menulis di atas kertas dulu, lalu dipindahkan ke komputer.

Klasifikasi menjadi dua tipe penulis yang sudah disebut di atas, sesungguhnya merupakan pemodelan saja. Saya yakin, tidak ada penulis ‘sistematis’ yang tidak acak sama sekali. Karena keteracakan adalah wajah lain dari kreatifitas. Demikian pula, penulis yang ‘acak’ pun pada akhirnya harus merevisi tulisannya agar sistematis dan enak dibaca.

How I’ve learned to be better Writer

Rutin menulis di platform online seperti blog melatih kemampuan menulis: mencari referensi, mengambangkan naskah, menyunting, dll

Saya itu belajar menulis secara otodidak. Paling sering, lewat nge-blog ini.

Mereka yang kuliah ilmu komunikasi (ilkom), mungkin lebih beruntung ya. Dapat asupan teori yang cukup untuk memulai pekerjaannya sebagai penulis di berbagai ruang kepenulisan. Para mahasiswa ilkom setahu saya lebih banyak mempraktikkan peran-peran jurnalis di ruang-ruang kampus.

Berikut di antaranya yang mereka lakukan: Mencari sumber berita dan mewawancarai narasumber. Melakukan desk research. Menulis berita berdasar kerangka 5W+1H. Menulis feature, dan lain sebagainya.

Tempat lain untuk belajar mempraktikkan (sekaligus diajarkan berteori) adalah unit kegiatan mahasiswa (UKM) jurnalistik. Hampir tiap kampus punya UKM jenis tersebut. Secara nasional, yang paling dikenal adalah Balairung-nya UGM.

Memasuki kehidupan pasca kampus, saya mendapati bahwa self-learning menulis lewat blogging saja gak cukup, gaez. Ya nggak, sih? Rajin dan fokus itu gak kalah pentingnya. Sudah sering kita dengar mereka yang cinta dengan bidangnya, sekalipun bukan di sana pendidikannya, nyatanya bukan sekedar survive aja, tapi juga bisa memberi makan keluarganya.

Selingan: Youtuber yang populer tuh seringkali bukan jurnalis yang baik. Produk videonya pun bukan produk jurnalisme yang baik. Khususnya yang lebih fokus pada isu-isu kehidupan pribadi selebriti (bukan pada karyanya).

Saya mengapresiasi karya/konten di internet yang telah menerapkan kaidah-kaidah jurnalistik yang baik.

Mengapa ini bisa terjadi?

Saya berpendapat, seringkali kampus-kampus sekarang tuh mentok dalam menyambungkan rantai nilai di industri. Banyak banget posisi pekerjaan yang ternyata hanya menerapkan ilmu kuliah sebanyak 20% atau bahkan kurang. Tidak heran gak harus kuliah di jurusan tersebut untuk bisa bekerja di bidang itu. Mungkin ini fenomena global ya. Di negara yang pendidikannya lebih baik seperti Amerika Serikat, “salah jurusan” lebih sering terjadi.

(Ini agak kurang berlaku untuk mereka yang kuliah kedokteran lanjut menjadi dokter, kuliah farmasi meneruskan sebagai apoteker, dan profesi-profesi lain dengan kode etik dan harus disumpah, ya. Tidak lama lagi profesi insinyur yang merupakan kelanjutan dari sarjana teknik juga akan ditegakkan melalui penerapan sertifikasi, pendidikan keinsinyuran, dan lain sebagainya)

Mungkin karena jurusannya kurang sering mengadakan lokakarya (workshop) bersama para pelaku industri ya. Untuk menemukan insight terbaru mengenai industri tersebut. Kalau kita zoom out dan menengok 20-30 tahun ke belakang, perubahannya telah terjadi secara signifikan.

Sesekali melakukan lokakarya (workshop) jelas diperlukan ya. Mungkin bukan 2-3 tahun sekali. Tetapi per 5 tahun, saya rasa sudah cukup.

Wah, malah OOT, deh. Back to topic.

Blogging itu langkah yang tepat untuk mulai belajar menulis ya. Ada dua kata kunci: memulai dan belajar. Kenapa “memulai”? Karena platformnya bersifat personal. Kita bisa mengekspresikan isi kepala dan hati. Analisis hasil overthinking semalaman mungkin menarik untuk dituangkan dan dibaca orang lain. Hehehe.

Dikatakan “belajar” karena lambat laun tiap tulisan (dan penulis) akan menemukan pembacanya sendiri. Sekian persen di antara pembaca kemudian bertransformasi menjadi commentator atau bahkan fans setia yang menunggu rilisan terbaru.

Fakta sekaligus “kelemahan” dari blogging, di sisi yang berlawanan, adalah dia bukan media massa. Tidak ada standard yang harus dipenuhi oleh rilisan blog, sebagaimana suatu opini/gagasan harus lolos dari editor di media massa.

Blog jadi sangat bervariasi kan. Yang ancur-ancuran ada. Yang rilis (posting) semau gue ya, ada. Yang gak mau fokus di topik-topik tertentu (niche) ya ada juga. Alias sagala aya (semua ada).

Di titik ini, kita sebagai blogger perlu mengecek perkembangan dan relevansinya terhadap kita sebagai blogger terus-menerus ya. Mesin blog berkembang terus. Google selaku mesin pencari juga terus memperbaharui algoritmanya. Secara konten, terus muncul topik dan niche yang baru. Alat bantu nge-blog juga semakin beragam; mulai dari social media sampai piranti pendukung seperti canva.

Beruntungnya (atau kurangnya?), saya tidak belajar menjadi penulis dari berkuliah S1 di Ilkom, bukan juga aktif di UKM jurnalistik. Melainkan tatkala bekerja di kantor konsultan, dan kini sebagai writer di IT company. Dan yang paling utama adalah dari nge-blog.

Karena blogging sudah terbukti, saya berkomitmen untuk melanjutkan aktifitas setidaknya sampai 10 tahun ke depan.

Basics of Script Writing

This post contains the steps for writing a script. There is no script format here. You can find it yourself.

Who says bloggers’ work are very limited?

With our creativity and consistency in blogging, bloggers can also be scriptwriters, you know.

Don’t just exalt the director and underestimate the scriptwriter, huh. As all positions have a role in video production, we shall not underestimate the scriptwriter works.

Even though scriptwriter’s work is invisible to the eye, the work is truly real!

Not only artists, but also the entire team must need the script.

The following are examples of how each role treat and use a script:

  • Director: knows and understands the layout of the set,
  • Artist: know and how to act out the script
  • Logistics: know what properties to prepare. Including clothing that must be prepared. As we know, clothes represent the role of the character,
  • Finance: know how much money to prepare. Then make a fundraising or sponsorship plan (and if necessary debt). This plan needs a written proposal, as well.
  • Etc.

So, the scriptwriter must be able to put his imagination and visualization out (which may be the result of discussions with the director and producer as well), into the text; according to the needs of the roles above. As we know, MILES FILM always empower Mira Lesmana as producer and Riri Riza as director. Collaboration from both of them always produce great films to watch.

Casts need text that is concise, concise, and appropriate to spoken conversation (this is relatively similar to writing conversations in fiction, but not quite the same).
FYI, writing in short sentences and paragraphs is the same as technical writing. Just feel the difference, hehe.
Upon writing a story, according to the standard of the story: there is a CHARACTER who usually does what, then experiences the PROBLEMS, and how he/she explores, finds, then implements the SOLUTION.

In the following list, I put out my perspective in thinking and writing on blogs, into a script.

Research

Writing can indeed come from personal experience. But it will be more valid if we ask questions or find out more about similar experiences from other people..

In addition to validating these personal experiences or problems, this activity will help us find a bright spot (or answer) to the question “How to make the audience of this story feel connected to that premise?”

As a product or work, it is imperative that we shall recognise and acknowledge the difference compared to similar products/works. Sufficient research shall helpful.

A little difference is better than a little bit better.

Pandji Pragiwaksono

The abovementioned quote shows us that, it is important for us to search and find keywords or key points that must exist and then concoct them into the script.

Research must be carried out, but it cannot be forced to be completed first and then move on to the next activity. As writing a script is agile activity, you often have to go forward first, then go back a little to finish the pending homework.

Writing

Write down everything you want to write first. Whether it’s about the character, the situation/atmosphere of the set, the plot, the problems faced, and so on. Put in all from your mind until there is nothing left.

After all the materials are available, let’s connect them one by one into a complete storyline. If you find a “hole” that doesn’t make sense, fix it one by one.

If the storyline is completed, is it really finished? No, it’s not. But it may depend. Let’s include the audience element.

I mean, this work still has to be entertaining, right? Yes. It should be noted, entertaining (to entertain) doesn’t have to provoke laughter (make laugh), huh. It can also be entertaining in other forms.

And thank God, thank God if there is a memorable part. How to write it is as important as the storyline itself.

Let us continue to edit (editing) part. Later on, we can return to writing if deemed necessary.

Editing

Of course, the story must be written in a concise form. There should be no unnecessary parts. All components must work seamlessly and coherent to build a robust story.

This is where editing comes in to scrape off those annoying fats.

We remember, visualize, and re-validate the function of each part of the story we have written. Which one acts as a message giver, which one presents entertainment, which one is deliberately made so that this work is easy to remember, and so on.

CLOSING

That is what I have written, step-by-step what I have done when compiling a video script for a company introduction and product marketing video.

Eits, make no mistake. Even though things are as serious as the company and the business, it still needs characterizations and storylines, you know.

Do you have similar experiences? Please share in the comments column ya. Thank you.


Reference:

You can also read my other writings in WRITING category.

Menulis Naskah Video

Tulisan ini memuat langkah-langkah menulis naskah ya. Tidak ada format naskah di sini. Kamu bisa mencarinya sendiri.

Masih tersambung dengan post Video Marketing yang waktu itu.


English version.

Siapa bilang blogger hanya bisa bikin konten dalam bentuk yang terbatas?

Dengan kreatifitas dan konsistensi kita nge-blog, blogger pun bisa jadi scriptwriter, lho.

Jangan hanya meninggikan sutradara dan meremehkan penulis naskah, ya. Sebagaimana semua posisi punya peran dalam produksi video, maka penulis naskah pun tidak bisa dipandang sebelah mata.

Meskipun tidak terlihat mata, tapi karyanya benar-benar nyata!

Naskah itu ada dan dibutuhkan bukan oleh para pemain/artis saja, tetapi juga keseluruhan anggota tim.

  • Sutradara: tahu dan paham tata letak properti dalam set, serta bagaimana para artis akan berakting,
  • Logistik: tahu properti apa yang mesti disiapkan. Termasuk busana yang harus disiapkan. Pakaian ‘kan juga merepresentasikan peran dari tokoh yang dibangun,
  • Keuangan: tahu berapa uang yang harus disiapkan. Lalu membuat rencana pencarian dana (dan bila perlu utang),
  • Dll.

Jadi, sang penulis naskah harus bisa menuangkan imajinasi dan visualisasinya (yang mungkin merupakan hasil diskusi dengan sutradara dan produser juga), ke dalam teks; sesuai kebutuhan peran-peran di atas.

  • Pemeran butuh teks yang ringkas, padat, dan sesuai percakapan lisan (ini mirip dengan menulis percakapan dalam fiksi, tetapi tidak persis sama)
  • Menulis dengan kalimat dan paragraf yang pendek itu sama dengan Technical Writing. Beda yang dirasakannya saja, hehe.
  • Namanya menulis cerita, sesuai standard cerita saja: ada TOKOH yang biasanya melakukan apa, kemudian mengalami MASALAH apa, dan bagaimana dia mengeksplorasi, menemukan, lalu melaksanakan SOLUSI tersebut.

Berikut ini saya tuangkan, bagaimana kita membawa perspektif kita dalam berpikir dan menulis di blog, menjadi sebuah naskah.

Riset

Menulis memang bisa berangkat dari pengalaman pribadi. Tapi lebih valid kalau kita bertanya atau mencari tahu lebih lanjut mengenai pengalaman sejenis dari orang lain.

Selain memvalidasi pengalaman atau masalah pribadi tersebut, aktifitas ini akan membantu kita menemukan titik terang (atau jawaban) dari pertanyaan “Bagaimana membuat penonton cerita ini merasa terhubung dengan premis tersebut?”

Sebagai sebuah produk atau karya, wajib banget kita merumuskan perbedaannya dibanding produk/karya sejenis. Dan itu dibantu oleh riset yang cukup. Seperti Pandji bilang,

Sedikit beda lebih baik daripada sedikit lebih baik.

Pandji Pragiwaksono

Menilik perihal diferensiasi di atas, itulah pentingnya kita mencari dan menemukan keyword atau keypoint yang harus ada untuk kemudian diramu ke dalam naskah.

Riset itu harus dilakukan, tapi juga tidak bisa dipaksakan harus selesai dulu baru lanjut ke aktifitas berikutnya. Namanya project management, seringkali harus maju dulu, nanti mundur sedikit menyelesaikan PR yang tertunda.

Penulisan

Tulis dulu semua yang ingin ditulis. Baik soal tokoh, situasi/suasana set, alur, hal-hal yang dihadapi, dst. Sampai kering isi kepala, hehehe.

Setelah semua bahan tersedia, mari kita sambungkan satu demi satu menjadi sebuah alur cerita yang utuh. Kalau ketemu sesuatu “lubang” yang tidak masuk akal, benahi satu demi satu.

Kalau alur cerita sudah jadi, apakah selesai? Tidak juga. Tergantung. Mari masukkan elemen penonton.

Maksud saya, karya ini tetap harus menghibur, ‘kan? Iya. Perlu dicatat, menghibur (to entertain) tidak harus memancing tawa (make laugh), ya. Bisa juga menghibur dalam bentuk lain.

Dan syukur alhamdulillah kalau ada part yang memorable. Di sanalah peran penulisan yang tidak kalah pentingnya di luar alur cerita.

Kita lanjutkan ke penyuntingan (editing), nanti kita bisa kembali ke penulisan bila dirasa perlu.

Penyuntingan

Tentu cerita harus ditulis secara padat (concise) ya. Tidak ada bagian yang tidak perlu.

Di sinilah penyuntingan berperan mengikis lemak-lemak yang mengganggu.

Kita ingat, visualisasi, dan validasi kembali fungsi dari masing-masing bagian dari cerita yang sudah kita tulis. Mana yang berperan sebagai pemberi pesan, mana yang menghadirkan hiburan, mana yang sengaja dibuat supaya karya ini mudah diingat, dst.

PENUTUP

Demikian saya tuangkan langkah-demi-langkah yang pernah saya lakukan ketika menyusun naskah video untuk pengenalan perusahaan (company introduction).

Eits, jangan salah. Meski hal seserius perusahaan dan bisnisnya, tetap dibutuhkan penokohan dan alur cerita, lho.

Kamu ada pengalaman sejenis? Tuangkan di kolom komentar ya.

Baca juga tulisan lain saya seputar WRITING ya.

Belajar Copywriting

Belajar copywriting itu penting banget. Implementasinya bisa di mana-mana: facebook, instagram, tokopedia, shopee dan content writing.

Copywriting adalah teknik menulis bertujuan untuk memasarkan dan menjual sesuatu, pada medium dengan kapasitas terbatas. Dengan kata lain, belajar copywriting adalah mempelajari teknik menulis dalam pembuatan iklan.

FYI, di agensi pembuat iklan, posisi penulis tersebut diberi nama copywriter.

Medium untuk menempatkan copywriting bisa di mana saja. Dua yang cukup sering di era digital sekarang ini adalah Facebook dan Instagram.

Belajar Copywriting Facebook

Salah satu tekniknya adalah menuangkan kerentanan (vulnerability) kita di facebook. Lalu menutupnya dengan suatu kalimat penawaran.

Contohnya adalah kerentanan kita untuk terkena radang tenggorokan, sariawan, dan penyakit sejenisnya. Kita tutup dengan konklusi penawaran untuk menggunakan produk sejenis vitamin C, misalnya. Supaya kerentanan kita tidak terealisasi menjadi penyakit.

Tentu saja polanya tidak harus seperti itu. Algoritma Facebook menuntut kita untuk nge-post sesering mungkin (facebook menghendaki engagement kita yang tinggi). Jadi, rutin nge-post, meskipun kontennya tidak melulu kerentanan+solusi. Alias tidak harus selalu jualan.

Teknik Copywriting Instagram

Terbatas hanya 2.200 karakter.

Di Instagram tuh ada yang “bercerita” lewat gambar (minim teks), ada pula yang memberikan cerita (mengandung karakter + plot) pada gambar yang sudah ada.

Ada juga metode PPB dari Brian Dean.

P – Preview: beri tahu pengguna apa yang akan mereka dapatkan dari Anda.
P – Promise: ceritakan bagaimana si “apa” itu akan menyelesaikan masalah pengguna/pembeli.
B – Bridge: gunakan frase transisi untuk membangun jembatan logis ke CTA (Call to Action) Anda.

Contoh – Produk Vitamin C.

Preview: manfaat vit C adalah bla, bla.
Promise: bagaimana menggunakan si vit C. Kapan digunakan, aturan pakai bagaimana, dst.
Bridge: Apabila anda sedang merasa tidak enak badan, gunakan vit C sesuai dosis. Jangan diabaikan perasaan tidak enak badan tersebut, jangan juga minum vit C berlebihan.

Belajar Copywriting Marketplace

Kuncinya ada 3: penempatan produk di kategori yang tepat, pemberian judul, dan pengisian deskripsi.

Misalnya, “mainan anak perempuan” diletakkan di kategori “mainan anak”, saja, maka hasilnya akan lebih buruk daripada disimpan di kategori “mainan anak perempuan”.

Baik di Tokopedia maupun Shopee, fokus memberikan “Judul” yang mengandung keywords yang dicari oleh pengguna. Ini pentingnya melakukan riset produk dan kata-kata yang digunakan ya. Produk yang sama, bisa saja ditawarkan di toko lain dengan judul berbeda. Misalnya “baju olahraga muslimah” adalah produk yang sama dengan judul “kaos olahraga wanita”.

Contoh lain: “daster ibu-ibu” atau “ibu daster” tetap dibaca sebagai “daster ibu”.

Di samping itu, kolo Deskripsi harus diisi selengkap dan sedetil mungkin. Selain informasi yang benar-benar berasal dari produk itu sendiri, bisa juga diinspirasi oleh kata-kata kunci terkait. Insipirasinya dari mana? Bisa dari kata kunci yang disarankan oleh ubersuggest.

Mengapa demikian? Karena mesin pencari di marketplace bekerja dengan cara yang relatif sama dengan Google, yaitu: crawling, indexing, dan ranking. Kapan-kapan kita bahas ini ya.

SEO Copywriting for Content Writer

Beda Copywriter dengan Content Writer. Kalau Copywriter fokus pada wording untuk pemasaran, maka Content Writer fokus memberikan manfaat berupa konten yang panjang dan lengkap isinya kepada pengguna. Yang pada akhirnya, kita berharap kesetiaan pengguna pada merek produk atau layanan kita.

Salah satu caranya adalah mengimplementasikan teknik-teknik SEO dan copywriting ke dalam tulisan-tulisan yang dibuat. Teknik SEO membantu tulisan kita mencapai peringkat puncak di SERP (Search Engine Result Page).

Sebagai pengguna WordPress, saya menginstal plugin Yoast SEO. Dan berusaha memenuhi parameter-parameter yang diberikan oleh plugin tersebut dalam tiap konten yang saya buat. Di antaranya adalah:

  • Text length
  • Outbound and internal link
  • Key phrase in introduction, title, and slug
  • Key phrase length and density
  • Key phrase in meta description
  • Meta description length
  • SEO title width

Freelance Writer

Dua bidang freelance writer yang saya tahu cukup populer adalah media fesyen dan gaya hidup (lifestyle).

Fashion content writer

As we know, fesyen adalah etalase untuk menampilkan siapa diri kita dan di mana posisi sosial ekonomi kita. Media fesyen berperan penting dan dirujuk oleh para konsumen yang memberikan perhatian lebih pada apa dan bagaimana mereka berpakaian.

Kurang lebih selama setahun, saya pernah menjadi kontributor di media online fesyen, yaitu modest.id. Koleksi tulisan saya bisa dilihat di sini.

Lifestyle content writer

Istilah ‘gaya hidup’ mengacu pada perilaku manusia yang timbul akibat modernisasi. Mulai dari entertainment (seperti musik, olahraga, games), travelling (baik destinasi maupun transportasinya), kuliner, serta kendaraan (mobil, motor) . Bahkan fesyen bisa masuk dalam lifestyle, tergantung bagaimana menggolongkannya.

Travelling content writer

Kategori travelling pun sudah beberapa tahun terakhir menjadi primadona untuk dibuatkan kontennya. Terutama sejak keberadaan Online Travel Agent (OTA) seperti Traveloka, Agoda, Pegipegi, Booking.com, Tiket.com, dll.


Dapat disimpulkan bahwa belajar copywriting itu penting. Dengan mengimplementasikan copywriting, membantu kita untuk memberikan informasi dan pengalaman yang lebih baik bagi pembaca. Copywriting bisa diimplementasikan di status facebook, caption Instagram, judul dan deskripsi produk marketplace, hingga konten artikel yang panjang dengan pembahasan mendalam.