Domain, Engine, dan Hosting

Pahami perbedaan domain, engine dan hosting. Supaya tidak bingung dan bisa mengoptimalkan ketiganya untuk blog atau website kamu.

Saya coba menuangkan ke dalam tulisan ini karena pertanyaan seputar Domain dan Hosting rupanya tidak ada habisnya di antara para blogger.

Dua analogi yang biasa dipakai:

  • Plat mobil dan mesin mobil
  • Kotak pos dan rumah

Sejauh pembahasan seputar WordPress dan Blogspot, kedua analogi tersebut tidak apa-apa dipakai.

Dengan domain dianalogikan seperti plat mobil atau kotak pos. Sedangkan hosting adalah mesin mobilnya, atau rumahnya.

Sebelum lanjut, kita wajib ketahui dua hal ini mengenai keduanya:

  • Di WP, ada wordpress.com (sebuah hosting) dan wordpress.org (sebuah engine). Ketika nge-host di wordpress.com, kita juga ditawarkan layanan untuk beli dan pasang domain, kok. Harga domainnya bagaimana? Sangat mahal dibanding kita beli di Indonesia.
  • Di blogspot, ada hosting dan engine-nya juga. Blogger nama engine-nya kalo gak salah.
  • Perbandingan WordPress (.org dan .com) dengan Blogger sudah dibahas kakak Reisha ya.

CMS

Ketika teman-teman blogger mulai menanyakan platform lain, katakanlah medium.com, atau Kompasiana, atau tumblr, di sinilah kita perlu mengenalkan “Engine”.

Engine atau disebut CMS (Content Management System) sebenarnya sudah ada sejak awal. Sesuai namanya, ini adalah aplikasi digital untuk mengelola (to manage) konten.

Berhubung CMS dan hosting di WP maupun Blogspot bisa dikatakan sudah menjadi satu, maka Engine ini kurang disebut dan dibahas. Padahal ya sudah ada sejak awal.

Sebagai pengguna WP, izinkan saya promosi WP ya.

Selain ada versi gratis, WordPress juga relatif murah; terutama bagi blogger. Dibandingkan dengan CMS yang banyak digunakan di pasar korporat, semisal: Sitefinity atau Sitecore.

WordPress juga relatif modular. Ibarat lego, dia terdiri dari building blocks kecil-kecil yang bisa dipasangkan dan disambungkan satu sama lain. Kekuatan dari merek WP adalah plugins yang mudah ditempel dan tinggal dikonfigurasi dengan sistem WP utamanya. Plugins ini banyak dari pihak ketiga. Yang tentu sudah mendalami kebutuhan para penggunanya.

Contoh adalah plugin Elementor. Plugin ini bisa digunakan untuk mendesain Landing Page. Yakni, suatu halaman tempat user “mendarat”.

Hosting

Terus hosting yang dianalogikan dengan mobil atau rumah ini apa?

Kalau sebelum zaman internet, kita menyimpan semua data di dalam hardisk di dalam personal computer (PC) kan? Di mana, kalau kita ingin memindahkan ke laptop/desktop lain, via flashdisk.

Nah di zaman internet yang serba terhubung, kita tidak perlu menjadikan PC kita sebagai komputer server (penyedia). PC kita sebagai pengguna saja. Siapa penyedianya? Ya jasa hosting tersebut.

Jadi, semua data konten kita, maupun CMS yang menjadi aplikasi digitalnya, disimpan di hosting tersebut. Biasanya para penyedia hosting menggunakan aplikasi CPanel (suatu portal digital) untuk memudahkan user bermanuver ke sana ke mari.

Contoh jasa hosting: idcloudhost, niagahoster, rumahweb, qwords, dan lain sebagainya.

Kalau mau berbaik hati membeli via affiliate saya dan mendukung blog ini, bisa ke link afiliasi ya.

Hosting Unlimited Indonesia

Penyedia jasa hosting, selalu menyediakan jasa domain juga. Belinya bisa jadi satu, bisa terpisah juga.

Ingin mempelajari lebih detail soal hosting? Bisa ke penasihat hosting aja.

Domain

Beberapa minggu lalu, saya tidak bisa transfer domain ke penyedia hosting yang berbeda, karena ternyata kalau mau pindah itu, setidaknya punya cadangan usia sebanyak 90 hari ke depan. Padahal, inginnya mempermudah pembayaran dengan membeli jasa domain+hosting di pedagang yang sama.

Akhirnya hosting sudah aktif setelah transfer, tetapi domainnya belum bisa ditransfer. Akhirnya perpanjang di tempat lama, deh. Supaya ikhwanalim.com-nya bisa diakses oleh teman-teman sekalian. Jadi, hosting dan domain saya saat ini, berasal dari penyedia yang berbeda.

FYI, biasanya kan sewa domain tuh setahun, ya.

Nah, domain yang sering dianalogikan dengan plat mobil atau kotak pos ini ibarat muka-nya suatu hosting. Sekaligus menjadi cara singkat untuk menuju si interface (antarmuka) yang namanya blog kita.

Kenapa cara singkat? Karena kalau ingat domain/URL-nya kan tinggal ketik aja di browser (peramban) fave kita. Dengan kata lain, domain juga untuk branding kita. Punya (dan memelihara) domain adalah bagian dari personal branding ya, tho?

Bagaimana implementasi domain sebagai personal branding? Saya kutip dari kakak Reisha lagi ya:

… dulu domain itu pilihannya dikit bgt, .com, .net, .org, .gov gt2, dan dulu tergantung peruntukan. Misal .com utk bisnis, .org utk organisasi.

.gov tuh hanya untuk situs pemerintah (yang tentu saja harus dibuktikan ke-pemerintah-annya ke si penyedia hosting). Domain .id divalidasi dengan no KTP. Untuk keperluan perusahaan, juga ada beberapa dokumen perusahaan yang diperlukan.

Tp skrg2 domain udah banyak bgt. .club .fun .design .site .blog, macam2 bgt.

Iya. Utk branding jg bs. Misal nih si budi designer. Bs aja dia bikin web portfolio budidesign.com, tp budi.design tampak lbh ok

Kesimpulan.

Cari domain, CMS dan hosting yang cocok relatif mudah, kok. Meski mungkin harus bermanuver ke berbagai jasa hosting dulu. Biasanya untuk cari yang lagi diskon, hehe. Gapapa. Manuvernya satu tahun sekali.

Di sisi lain, transfer hosting/domain juga engga susah-susah banget. Yang susah adalah konsisten “mengamankan” semua konten kita demi jaga-jaga kalau migrasi dari satu jasa hosting ke jasa hosting yang lain gagal berbuah keberhasilan.

Ada pengalaman lain perihal domain, engine atau hosting? Boleh banget dibagikan di kolom komentar.

Baca juga tulisan lain saya perihal Blogging/Writing ya. Terima kasih.

Interview 101

Tatkala mencari tips mewawancara narasumber rupanya masih sedikit ya di internet. Ada teori jurnalistik juga. Namun didominasi oleh tips wawancara kerja. Sebab itu, saya menuangkan temuan dan pikiran saya dalam tulisan ini.

Dalam proses membuat konten, riset adalah elemen penting yang biasa saya lakukan. Ada macam-macam teknik riset, baik riset primer maupun sekunder (lewat referensi). Riset primer berupa survei responden (kuantitatif), wawancara dan diskusi fokus grup (kualitatif). Saya biasa melakukan untuk penulisan artikel maupun buku (ghost writing). Tulisan kali ini membahas teknik wawancara narasumber (narsum) saja.

tips mewawancara narasumber

Bagi saya, tips mewawancara bisa dibagi dua, sebelum dan pada wawancara itu sendiri.

Sebelum Wawancara

Berusaha menggali informasi tentang narasumber. Latar belakang (pendidikan, profesi, orang tua) maupun karya/aktifitas terbaru atau belum lama ini dilakukan. Apabila Anda mengerjakan tahap ini dengan baik, berarti sudah separuh kesuksesan dalam mengambil data/informasi, atau wawasan (insight) melalui wawancara.

Menggali informasi ini harus above-average ya daripada netizen kebanyakan. Kalau telusuri akun twitter, instagram, linkedin, facebook seseorang juga sudah sering dilakukan oleh netijen. Jadi harus lebih smart ya.

Pesan Pandji dan Helmy Yahya: jangan sampai menanyakan pertanyaan yang banyak ditanyakan oleh orang lain; dengan kata lain: jangan mengulang pertanyaan media.

Caranya gak susah sebenarnya, yaitu cari tahu saja dia biasanya ditanya apa oleh wartawan. Lucunya, yang begini bisa diriset langsung ke narasumber, hehehe.

Perlu kita ketahui bahwa, narasumber sendiri inginnya ‘mengobrol’. Bukan sekaku tanya-jawab-tanya-jawab, ya. Jadi, tidak ada salahnya juga kita bridging dengan berbagai pengantar –berfungsi juga untuk membuat pendengar tahu. Bagi audience yang belum paham, kesannya kita menghabiskan waktu ya. Padahal kita hanya ingin narasumber merasa nyaman dengan kita, lalu bisa plong menceritakan pengalamannya.

Ketika Wawancara

Secara umum: Jangan terlalu kaku. Perbanyak humor atau basa-basi sebelum memasuki inti pertanyaan yang serius.

Untuk setiap pertanyaan wawancara, sebaiknya Anda minimal punya dua kalimat. Kalimat pertama sebagai pengantar, kalimat kedua untuk pertanyaan itu sendiri. Pentingnya persiapan sebelum wawancara adalah untuk mengembangkan para pengantar ini.

Pilihan kata-kalimat yang baik untuk menjembatani pertanyaan, juga akan lahir dengan sendirinya tatkala kita “berperan” sebagai teman yang baik (apalagi kalau kita memang sudah mengenal baik narsum sebagai kolega kita ya). Dengan kata lain, keterampilan “building rapport” atau membangun keakraban adalah penting untuk dikuasai oleh pewawancara.

Keakraban yang dibangun belum tentu sama semua, ya. Bagaimana berhubungan dengan yang lebih tua/senior, seusia/segenerasi, maupun dengan yang lebih muda/junior/newbie di bidangnya.

Saat ini, wawancara bukan lagi dominan periset maupun jurnalis. Wawancara sudah bertransformasi menjadi bentuk hiburan (entertainment) yang baru.

Kalau sepuluh tahun lalu, wawancara dilakukan oleh para jurnalis di program berita, lalu oleh jurnalis di program talkshow, kini mulai banyak non jurnalis yang melakukannya di talkshow. Sebut saja Deddy (Cahyadi) Corbuzier dan Pandji Pragiwaksono. Simply karena mereka belajar dan menguasai teknik mewawancara yang baik. As you know, Deddy memulai di program Hitam Putih, sebelum akhirnya menjalankan podcast-nya sendiri.

Dalam konteks podcast sebagai entertainment content, pewawancara sebenarnya/biasanya sudah tahu jawaban dari narasumber. Namun, seninya adalah mengkonversi “ketidaktahuan” pewawancara tersebut menjadi “pengetahuan” bersama audience.

Kalimat-kalimat bridging juga wajb direncanakan ya. Supaya wawancara tetap mengalir. Bukannya melompat dari satu pasang pertanyaan-jawaban ke pasangan-pasangan berikutnya.

Sekian “remah-remah” pagi ini. Semoga bermanfaat
Kalau ada pengalaman lain, mohon dibagikan di kolom komentar ya. Terima kasih 🙏🙏

Omong-omong, ini ada beberapa podcast soal wawancara narsum yang bisa kamu nikmati juga:

Baca juga tulisan BLOGGING-WRITING saya yang lain, ya.

Perbedaan Content Writing, Copywriting, dan Content Strategy

Memahami perbedaan content writing, copywriting, dan content strategy serta bagaimana mengaplikasikannya dalam aktifitas blogging harian.

Mari bahas persamaan dan perbedaan tiga jenis sebutan di atas. Yang pada akhirnya akan merefleksikan perbedaan peran, posisi, dan fungsi dari Content Writer, Copywriter, dan Content Strategist.

Content Writer

Konten disebut berkualitas kalau sukses membuat user rajin mengunjungi website tersebut dan betah berlama-lama di dalamnya. Saya betah dengan website niagahoster.co.id karena kontennya lengkap dan mencerdaskan. Mojok dengan imajinasinya yang nakal juga menghibur. Baca informasi di Tirto juga bikin kita menelusuri pranala lain yang disediakan.

Untuk aspek kuantitas, ukurannya tidak hanya panjang tulisan. Minimum disarankan 300 kata yah. Ada blogger yang sharing standardnya di kisaran 2500 kata. Selain panjang tulisan, banyak tulisan dalam media online tersebut juga ikut menentukan.

Belajar dari Mojok. Weblog ini “menghamba” pada Alexa. Sesuai tagline-nya yang Sedikit Nakal Banyak Akal, pembaca senang membaca beberapa tulisan setiap kali berkunjung, termasuk saya. Panjang tulisannya “hanya” 700-1000 kata. Cukup pendek, namun plotnya tetap ada. Alias tulisan-tulisan di Mojok tuh bernas, padat berisi.

SEO paling berperan di konten artikel tipe ini. Sebagai pengguna WordPress, laksanakan saja saran-saran dari Yoast supaya kontenmu lebih findable di jagat internet raya.

Copywriting

Menulis untuk iklan. Tujuannya mulai dari memperkenalkan, mengingatkan konsumen kembali akan merek tersebut, hingga mendorong terjadinya penjualan lewat promosi diskon, atau saluran (biasa disebut channel) tertentu.

Medium iklan yang berbeda-beda ruangnya, menuntut copywriting harus koheren meski tidak wajib sama. Di sinilah kejelian copywriter dalam menyusun kata dan menyiasati ruang teks yang serba terbatas.

Di dunia digital, ada namanya Landing Page. Sebuah page di mana user mendarat (to land). Landing Page dengan komponen yang komplit akan meyakinkan user untuk membeli. Komponen tersebut di antaranya adalah:

  • Masalah yang dihadapi oleh calon konsumen
  • Solusi apa yang Anda berikan
  • Bagaimana solusi tersebut bekerja
  • Testimoni dari pembeli/pelanggan
  • Tombol Add to Chart (ATC)

Content Strategy

Eksekusi tanpa strategi ibarat berjalan tanpa mata dan tujuan. Sedangkan strategi tanpa eksekusi, analog dengan mengkhayal ke mana-mana tanpa berpindah tempat.

Jadi, sembari crafting konten, strategi tetap harus diperhatikan. Mulai dari tujuan (objektif), minimum target, alat pengukuran ketercapaian target, dan pengembangan konten itu sendiri. Yang terakhir ini meliputi beberapa langkah eksekusi ke depan. Termasuk perubahan jadwal rilis apabila ada kebutuhan untuk segera merilis suatu konten lebih cepat daripada jadwal.

Sikap Blogger

Menurut hemat saya, jalankan saja ketiga peran tersebut.

Ya, kita secara rutin mengeksekusi pelaksanaan pembuatan konten. Mulai dari riset, menyusun draft, mengisi dengan word craftmanship, melakukan penyuntingan, proofread, dan sebagainya. Semuanya kita kerjakan.

Terus, copywriting-nya di mana? Tentu copywriting berlaku bila ada produk/layanan yang dipasarkan. Semakin ada produk baru untuk dipasarkan, maka bisa setiap artikel kita tanam copywriting. Hal ini tergantung pada communication stage-nya juga. Masing-masing fase AISAS kan berbeda-beda objektifnya.

Secara rutin, blogger perlu mengevaluasi strateginya. Yang saya lakukan secara sederhana adalah mengamati statistik dari Google Analytics. Dari sana muncul ide konten apa (di tingkat post maupun categories) yang perlu saya kembangkan. Contohnya di Analytics 2019 ini. Sebagai blogger yang gak niat-niat amat, saya fokus di metrik Page/Session dan Session Duration saja.

Cukup sekian sharing kali ini. Ada pendapat lain? Boleh dituliskan di kolom komentar, ya.

Cara Membuat Infografis

Apakah membuat infografis itu harus bisa (visual) desain? Sebenarnya tidak. Tapi harus paham information architecture.

Infografis berasal dari kata infographic, alias singkatan Bahasa Inggris yaitu information dan graphics.

Sesuai namanya, infografis adalah informasi yang disajikan dalam bentuk teks yang dipadukan dengan elemen visual seperti grafik, gambar, ilustrasi, atau tipografi.

Secara psikologi, 90% bagian otak manusia lebih cepat menyerap informasi dalam bentuk visual dibandingkan teks. 

Memang, mendapatkan perhatian audiens hari ini semakin sulit. Rentang perhatian (attention span) yang mereka miliki sangat pendek.

Mendapatkan perhatiannya saja sudah sulit, apalagi membuat mereka paham pesan yang ingin kita sampaikan.

Tidak heran, bentuk visual menjadi kompromi bersama antara komunikator dengan komunikan (audiens).

Yang sulit, adalah memperkuat visual tersebut dengan data dan informasi yang tidak hanya menarik, tapi juga meaningful.

Saya yakin, salah satu caranya –masih belum tahu cara yang lain, sebenarnya– adalah dengan storytelling.

Dalam membuat infografis, pengembangan tokoh (ingat Pak Blangkon di infografik tirto.id), situasi (set up?), dan plot akan menentukan seberapa meaningful infografis kita.

Infografis

Darimana datangnya cerita? Sesuai gambar di atas, cerita adalah keterhubungan (connectedness) antara data, informasi, pengetahuan, dan kebijaksanaan.

Wisdom, misalnya adalah kita men-zoom-out suatu fenomena, lalu mencari fenomena serupa. Misalnya kita mempertanyakan kapan kira-kira covid-19 akan berakhir. Kita men-zoom-out fenomena tersebut dengan cara mengkomparasinya dengan kapan Flu Spanyol berakhir.

Nah, bagaimana caranya? Salah satu pohon ilmu yang saya tahu adalah information architecture. Yaitu, bagaimana meng-arsitektur-kan beberapa info (dalam berbagai skala) tersebut sehingga bisa memberikan pemahaman kepada audiens tentang: ada set up apa, ke mana (atau selanjutnya bagaimana), dan berakhir bagaimana (atau kesimpulan).

Sebenarnya, mirip dengan membuat diagram, siy.

Membuat diagram itu kan menemukan meaning antara minimal dua data yang terhubung. Jadi temukan dulu hubungannya, baru kita cari meaning-nya apa.

Hubungan itu bisa ditemukan antara lain, dengan mencari: perbandingan (comparison), perubahan dari waktu ke waktu (change from time-to-time), klasifikasi (classification) yaitu membuat kelompok berdasar persamaan dan perbedaan, serta masih banyak yang lainnya.

Dalam membuat klasifikasi, saya paling suka memulai dengan table 2×2 atau 3×3. Mind Map juga membantu kita memvisualkan persamaan dan perbedaan.

Btw, pergerakan data dari waktu ke waktu itu ibarat menyusun lini masa (timeline), lho.

Membuat Infografis

  1. Mengumpulkan segala data/referensi
  2. Menentukan audiens. Profil audiens (latar belakang pendidikan, tingkat usia, kegelisahan (anxiety), hasrat (desire)) akan mengarahkan kita untuk mendapat taste yang tepat.
  3. Menerjemahkan topik ke satu bentuk visual yang kongkrit. Misalnya infografis tentang covid-19, menggunakan bentuk kongkrit berupa corona (mahkota).
  4. Memvisualisasikan data ke infografis. Jadi ada yang berupa visual, ada yang berupa teks (kata, kalimat, angka, dll).
  5. Menyusun hubungan antar elemen. Yang tiap elemen terdiri dari visual/teks.
  6. Merapikan visual style, yakni konsisten dalam menerapkan font, white space, colour, dan sebagainya.

Tentu saja kita tidak wajib membuat template baru. Bisa saja kita menggunakan template infografis yang siap pakai (ready to use).

Soal style, karena kita (mungkin) bukan desainernya, bisa diserahkan kepada desainer itu sendiri.

Platform desain berbasis website yang paling populer digunakan adalah Canva.

Bagaimana pengalaman kamu menyusun infografis? Barangkali ada pengalaman menarik. Mohon bagikan di kolom komentar ya.

Baca juga tulisan JOURNAL saya yang lain, ya.

Blog Analytics

Hasil mengobservasi rekan-rekan blogger, dikombinasikan dengan memahami parameter yang diberikan oleh Google Analytics, dan sedikit refleksi diri.

Beberapa waktu lalu, saya bertanya-tanya (wondering) soal parameter apa ya (blog analytics) yang cocok untuk kita pakai dalam nge-blog.

Nge-blog itu kan hobi ya. Apa iya yang namanya hobi perlu diukur? Pikiran ini pernah saya tuangkan di Betapa tidak pentingnya nge-blog itu ya, gaez. Ada beberapa pros and cons di sana.

Sebagai awal mula pembahasan, mari lihat grafik di bawah ini yang berasal dari SEMrush.com mengenai faktor-faktor apa saja yang paling penting dalam Search Engine Result Page (SERP). Simak urut-urutannya.

blog analytics
https://neilpatel.com/blog/bounce-rate-analytics/

Domain Authority (DA)

Tidak ada DA dalam daftar di atas.

Akan tetapi, teman-teman blogger di komunitas, paling hobi mengukur pakai DA/PA. Somehow, saya kurang berminat memakai parameter tersebut. Kenyataannya, angka-angka tersebut lebih banyak diacu oleh blogger yang menjual sponsored content atau placement content. Ya karena para pemberi sponsor juga sudah jamak menggunakan DA/PA.

Kalau kita mengacu ke referensi Niagahoster, dapat disimpulkan bahwa DA/PA adalah parameter yang mendeskripsikan seberapa searchengine-friendly si website tersebut. Skalanya 1-100; makin dekat 100 maka makin ramah ke google.com. Begitulah menurut si pengembang DA/PA, yaitu Moz.com.

Kira-kira kenapa Moz ini mengembangkan mesin digital tersebut? Tentu karena mereka menjual jasa yang terkait dengan parameter itu sendiri. Hehehe. Yaitu, jasa konsultasi supaya lebih terlihat (visible) di mata mesin pencari sehingga traffic dan ranking si website tersebut bisa naik.

Oke, selain Moz dengan DA/PA, ada siapa lagi? Ada Domain Rank dari ahrefs, CitationFlow dan TrustFlow. Demikian kata Moz selaku market leader di industri website analytic ini.

Bounce Rate

Untuk web secara umum, saya lihat banyak juga yang mengacu ke bounce rate. Yang mengukur bounce rate adalah Google Analytic. Kalau begitu, kita pakai definisi GA donk…

A website’s bounce rate is calculated by dividing the number of single-page sessions by the number of total sessions on the site.

https://www.hotjar.com/google-analytics/glossary/bounces/

Berarti, bounce rate adalah skor perbandingan antara jumlah pengunjung (visitor) yang langsung ‘cabut’ (alias satu page saja dalam satu session) dibandingkan dengan jumlah visitor yang melakukan kunjungan ke beberapa page dalam satu session.

Berapa bounce rate yang baik? Dari riset saya, tidak ada jawaban pasti yang berlaku untuk semua. Bergantung jenis web Anda. Ini satu yang bisa dijadikan acuan (dari gorocketfuel.com):

  • Bounce rates from 25% to 30% are most likely as low as you’ll see them with everything working correctly
  • The bounce rate for the average website is more likely to dance to the tune of 40 to 55 per cent.
  • Even a bounce rate of over 60% might not be bad. It all depends on the website, which is why it is important to set your own baseline.
  • A bounce rate below 20% or over 90% is usually a bad sign.

Time on site

Anything under 20 seconds is a major red flag, as that’s barely enough time for a visitor to look at the page, much less read its content. 40-50 seconds is a great start, as it means you have their attention. In general, anything over 2 minutes is the accepted standard for websites.

https://rankmonsters.org/website-analytics-benchmarks/

Page per session

Satu session itu satu kali kedatangan ke suatu website. Pengguna yang sama, datang dua kali ke suatu website, akan dihitung dua kali session. Jadi, page per session adalah angka rata-rata dari jumlah page yang dikunjungi di setiap session-nya.

The unofficial industry standard is 2 pages per session.

https://www.spinutech.com/digital-marketing/analytics/analysis/7-website-analytics-that-matter-most/

Lebih banyak halaman per sesi menunjukkan bahwa pengguna Anda sangat terlibat dan ingin menjelajahi lebih banyak situs Anda.

Di sinilah pentingnya memberikan beberapa internal link dalam 2 bentuk: SEO internal link dan plugin Inline Related Posts.


Jadi, apa kesimpulannya? Apa blog analytics yang paling pas dipakai? Tergantung tujuan blognya.

  • Kalau tujuannya cari sponsor, menaikkan DA/PA adalah segalanya. Sudah jadi acuan industri, baik pemain maupun sponsor.
  • Kalau ingin jadi blogger biasa saja, atau menjadi penulis yang lebih baik, saya kira adalah Page/Session dan Session Duration.
Catatan: Di “one year”, Bounce Rate-nya sebesar 62.72%.

Effective Proofreading

Kiat melaksanakan proofreading yang efektif. Agar naskah kita bebas typo dan kesalahan lainnya, serta enak dibaca oleh para pembaca.

Salah satu tugas penulis, adalah menyunting tulisannya sendiri. Penyuntingan ini dilakukan setelah setelah proses penulisan – supaya proses penuangan ide tidak bercampur-aduk dengan penyempurnaan naskah itu sendiri. Selanjutnya, penyuntingan dilakukan oleh copyeditor/proofreader

proofreading
Flow-nya tulisan tidak disebutkan di gambar ini. Padahal, flow tulisan juga termasuk yang perlu diperiksa ulang.

Satu aktifitas yang dilakukan dalam proses penyuntingan adalah proofreading. Yaitu upaya menemukan kesalahan dalam naskah –sehingga kemudian bisa disunting menjadi naskah yang lebih baik. Kesalahan yang dimaksud di sini termasuk kesalahan penggunaan tanda baca, ejaan, konsistensi dalam penggunaan nama atau istilah, hingga pemenggalan kata –di sinilah manfaat belajar suku kata di Sekolah Dasar (SD) dulu.

Maaf karena saya belum menemukan padanan proofreading dalam bahasa Indonesia, ya. Ada siy, yang menyebutnya uji-baca

Secara umum, tugas penyunting agak unik, memang. Satu di antaranya adalah berperan sebagai “ahli nujum” yang berupaya menemukan “apa yang tidak ada”. Misalnya, antar kalimat, paragraf, atau bagian lain dari naskah yang tidak masuk di akal, atau diskontinyu alias berhenti atau gak nyambung dengan bagian lainnya.

Proofreading Tools

Peralatan (tools) apa saja yang dipakai untuk proofread? Untuk naskah berbahasa Inggris, ada Grammarly.com (bisa diekstensi ke browser dan langsung proofreading naskah kita di Google Docs), Dictionary.com, Google Translate, Thesaurus.com, Oxford Dictionary. Yang terakhir saya sebut ini adalah buku kamus cetak English-to-English 4th edition (tahun 2011) milik saya. 

Dalam menggunakan berbagai perangkat tersebut, kita perlu mengenali elemen-elemen berbahasa yang dirasakan penting dalam suatu bahasa. Sebagai contoh, di Bahasa Inggris, perihal singular (tunggal) dan plural (jamak) ini penting untuk diperhatikan. Salah penggunaan, bisa disemprot oleh Grammar Nazi; sebutan untuk mereka yang menegur/memarahi orang yang salah dalam penggunaan grammar. Bahkan yang bukan Grammar Nazi pun, cukup memperhatikan perihal singular-plural ini. 

Untuk Bahasa Indonesia ada KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) dan PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia, dahulu EYD, Ejaan Yang Disempurnakan). Semua perlengkapan tersebut di atas merupakan alat bantu dalam menulis dan menyunting. 

Prinsipnya, bahasa adalah alat berkomunikasi. Poin utamanya bukan soal baku atau tidak baku yang mana kita bisa mengacu pada peralatan-peralatan tersebut. Namun seni berbahasa adalah bagaimana menyampaikan gagasan dengan kata dan kalimat yang dipahami oleh kedua pihak yang sedang berkomunikasi. 

Menarik memang sih, kalau memerhatikan bagaimana kita berbahasa di social media. Di instagram, facebook, twitter, blog, dan lain sebagainya, sering banget kita mengabaikan tata bahasa yang baku. Meski demikian, yang tidak baku demikian gak sepenuhnya salah, kok. Itu kan medium bersosialisasi. 

Pentingnya Tata Bahasa 

Mengapa dokumen -tertulis- hampir wajib hukumnya memiliki tata bahasa yang baik? Karena sesudah tertulis di sana, kita tidak akan tahu akan menyebar ke mana. Tidak hanya dokumen, konten blog yang ditulis dengan baik juga enak untuk kita sebarkan pranala-nya ke manapun juga. 

Bagi para pelaku usaha, wajib juga hukumnya memiliki proses penatabahasaan yang baik. Ini kaitannya dengan citra (image) profesional si perusahaan. Seberapa serius sebuah perusahaan dalam mengeksekusi proyek/produk, sedikit-banyak bisa terukur dari dokumentasi dan penulisannya. Misalnya, proposal penawaran, laporan proyek, laporan akhir tahun, dan lain dokumen-dokumen sebagainya. 

Di beberapa penerbit, ada kepala penyunting (editor-in-chief) yang ditargetkan untuk mencari naskah tambahan dari luar. Posisi ini biasanya cukup senior atau dicari yang berpengalaman. Karena harus punya perasaan dan intuisi yang valid terhadap potensi bisnis dari suatu naskah. Profesi ini sedikit sekali atau bahkan tidak lagi berkutat dengan tata bahasa suatu naskah.

Omong-omong, beberapa di antara kita masih keliru membedakan beberapa profesi yang sering tertukar definisinya satu sama lain: copywriter, copyeditor/editor/proofreader, dan editor-in-chief.

  • Copywriter : penulis periklanan, 
  • Proofreader : pemeriksa naskah 
  • Editor-in-chief : pemimpin tim editor, serta pencari naskah baru 

Tipografi 

Kata lainnya adalah komposisi. Jadi bagaimana suatu teks disusun: panjang kalimat, jumlah baris dalam paragraf, dan lain sebagainya agar koheren satu sama lain dan enak dibaca. Tipografi termasuk hal yang wajib diperhatikan para proofreader. Tulisan yang terlampau padat kata, belum tentu jadi sarat makna. Menjadi tugas para proofreader untuk mengefektifkan kalimat tersebut. Jarak antar paragraf yang terlampu dekat juga bisa menyulitkan pembaca.

Tipografi juga meliputi bagaimana penggunaan bullet points dalam menyampaikan gagasan kita. Senada dengan bullet points, image juga bisa dipakai untuk memberikan komposisi yang cantik dalam artikel kita. Di medium yang bisa dipercantik seperti blog, tipografi atau komposisi akan memberikan keterbacaan yang tinggi.

Lihat juga tulisan lain yang terkait: 

Ulasan Buku Iqbal Aji Daryono

Post kali ini mengulas buku dan profil seorang esais bernama Iqbal Aji Daryono. Termasuk bagaimana teknik penulisan yang biasa dia lakukan

Mari kita mengulas karya buku dari sese-penulis bernama Iqbal Aji Daryono, ya. Kebetulan beberapa minggu lalu saya baru tuntas mengikuti kelasnya. Mudah-mudahan ada kesempatan lain untuk mengulas kelas menulis online (KMO) tersebut.

Sependek pengetahuan saya, bukunya beliau ini ada lima. Ada dua karya buku hasil dari “menemani istri”-nya selama di Australia: Out of the Truck Box dan Tak Ada Kernet di Australia. Yang Out of the Lunch Box adalah kumpulan esai. Kamu mungkin tahu beliau awalnya populer dari mojok.co tetapi esai-esai beliau kemudian banyak kita temukan di detik, geotimes, dan lain sebagainya. Lalu, ada kompilasi artikel+komik yang dikemas “Apakah Seorang Pendosa Tak Boleh Lagi Berkarya?” dan renungan-renungan singkat tentang berbahasa dalam Berbahasa Indonesia dengan Logis dan Gembira. Rangkaian karya yang saya sebut mungkin tidak sesuai urutan penerbitan. Sentilan Iqbal Aji Daryono.

Beliau ini alumnus Balairung UGM. Itu adalah unit kegiatan mahasiswa (UKM) jurnalistiknya kampus gajah mada tersebut. Saya tentu tidak hafal siapa saja alumninya -saya aja gak sekolah di sana, kok – namun tiga orang di mantan kantor saya pernah aktif di Balairung. Setidaknya, para alumnus ini ada jejak sejarah pernah belajar, berlatih dan berpraktik menulis berita. Ya, namanya juga jurnalistik, ‘kan. Bukan youtuber yang mengaku hanya mewawancara tapi tidak mau bertanggung jawab atas isi kontennya. Hehehe.

Sebagai wirausaha di bidang penulisan, yang beberapa orang menyebutnya ‘writerpreneur‘ — saya agak nganu gimana gitu ya sama istilah ini– rupanya beliau ini sempat memulai usaha penerbitan di Jogja. Selain kota tugu tersebut, Bandung juga lumayan banyak penerbit indie-nya setahu saya.

Yang jelas, takdir beliau rupanya bukan sebagai orang ‘pabrik’ buku. Melainkan ‘public figure‘ di bidang kepenulisan. Beliau menyebutnya ‘esais’, yaitu menulis esai-esai yang kemudian dimuat di berbagai media digital. Iya, media digital. Media yang belum tentu berupa koran atau majalah layaknya media massa pada umumnya.

Beliau beropini kepada kami peserta KMO bahwa postingan di facebook maupun media digital pada umumnya, menuntut penanganan yang berbeda dari kita para penulis. Praktik-praktik penulisan yang memudahkan pembaca untuk skimming (instead of reading), format tulisan yang diberi jeda tiap berapa baris, dan seterusnya adalah serangkaian upaya media-media digital (termasuk kita di jendela facebook kita sendiri), untuk mempertahankan para pembaca guna tetap bertahan menelusuri kata demi kata yang kita ungkapkan. Ingin tahu lebih jelas, tentu kamu harus mendaftar dan ikut sebagai peserta KMO. Hehehe. Saya bantu promosikan ya, pak guru.

Yang hebat -dan layak kita tiru- adalah keterampilan beliau dalam menuangkan hal-hal yang mungkin tidak dipikirkan oleh kebanyakan orang. Pengalaman 4 tahun di Australia sebagai sopir truk/box saja bisa menjadi 2 buku. Ini butuh perenungan dan jam terbang ya, kata saya. Meskipun beliau meragukan bahwa kumpulan tulisan tidak seharusnya disebut buku kenyataannya artikel-artikel tersebut memang dijahit rapi dalam satu tema. Lagipula, sudah sekitar satu dekade barangkali ya, praktik penerbit dalam menyusun dan mengemas tulisan-tulisan di blog menjadi naskah buku yang kemudian dijilid (dibukukan).

Mungkin bisa jadi inspirasi kamu para narablog (blogger) ya untuk konsisten menulis sebanyak 35-40 blogpost dalam tema yang sama untuk kemudian dibukukan.

Sebagai public figure, beliau banyak menerima undangan ceramah maupun diskusi mengenai kepenulisan, literasi, per-buku-an, dan sejenisnya. Sedikit di antara kita menyadari, bahwa yang biasa menulis ternyata gak biasa ngomong di depan orang banyak (public speaking). Dan demikian pula sebaliknya. Jadi, beliau ini paket lengkap, sebenarnya. Eh, untungnya.


Membaca dan menulis itu ‘kan bagian dari beradab dan berbudaya ya. Di mana, tidak seharusnya KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) mengungkung dan mengekang kita dalam berbudaya itu sendiri. Saya sependapat dengan Mas Iqbal, bahwasanya KBBI adalah panduan dalam berbahasa; khususnya mengenai mana yang baku dan tidak baku. Jadi, KBBI tidak boleh menjadi kompas moral kita dalam berbahasa; yang menghakimi kita –sebagai pengguna dan penikmat berbahasa– atas yang benar atau salah. Ini adalah pesan yang saya dapatkan dari buku berwarna kuning dalam gambar di atas.

Hal lain yang menarik untuk kita teladani dari teknik penulisan mas Iqbal adalah bumbu-bumbunya. Ini perlu ada. Lagi-lagi supaya pembaca betah dengan rangkaian teks dari kita. Ibarat masak sayur, gak ada asin atau asam sama sekali malah gak enak; karena hambar membuat sayurnya tidak dikonsumsi. Jadi, pesan-pesan serius maupun bumbu-bumbu bercanda harus diformulasikan sedemikian rupa sehingga menjadi menu yang menggiurkan untuk disantap.

Apabila rekan-rekan pembaca sekalian bertanya, apakah buku-buku di atas perlu dikoleksi dan dibaca berulang-ulang? Saya menjawab, iya jelas. Kalau berminat dengan penulisan non-fiksi. Khususnya bagi anda-anda yang ingin menyampaikan gagasan serius dengan kemasan yang lebih menghibur. Yang terakhir ini memang seringkali dibutuhkan oleh para pendidik ya. Semisal dosen, guru, pelatih (trainer), atau pengajar.

Yang jelas, karya-karya tersebut merupakan kumpulan esai. Yakni pemikiran dan pengalaman yang direnungkan mendalam. Bukan suatu fiksi dengan karakter-karater imajinatif yang menjalani plot cerita tertentu.


Akhir kata, sebagaimana banyak membaca akan memperluas pengetahuan dan memberi bahan bakar untuk aktifitas menulis, maka menambah referensi penulis favorit juga sama pentingnya guna meningkatkan kapasitas kita sebagai penulis.

Baca juga ya, review buku Filosofi Teras.

Betapa tidak pentingnya nge-blog itu ya, gaez

merefleksikan pertentangan blogging vs kirim artikel ke media

Target rilis satu post setiap pekan kadang jadi beban juga ya. Karena sudah dijadikan target, terasa penting dan mendesak untuk konsisten dilakukan.

Namun, berbagai dinamika dalam kehidupan yang multidimensi ini, yang menghendaki segala sesuatu dilakukan serba cepat, beberapa hal (selain blogging) terasa lebih mendesak dan (tentu saja) lebih menuntut.

Padahal nge-post yang bermanfaat dengan kemasan yang menarik ya butuh waktu dan persiapan, tho? Gak bisa hanya buka laptop, ketak-ketik sebentar lalu langsung jadi post yang berkualitas. Satu pekan kadang-kadang gak cukup.

Beberapa pekan terakhir saya memang lagi bertanya-tanya (wondering) mengenai hal ini.

Premisnya adalah blogging memang tidak pernah akan mati, namun bagaimana kita -dengan segala keterbatasan sumberdaya- bisa menempatkan blog -sebagai sebuah personal media- yang tepat sasaran (efektif) tapi juga dengan energi minimal (efisien).

Curiosity saya ini didorong dari situasi dan kondisi dalam pelatihan yang sedang saya ikuti. Yakni training menulis esai, yang menariknya, sebagian kecil dari para peserta, ternyata secara signifikan mempengaruhi anggota kelas keseluruhan untuk mengirimkan naskah esai sesering mungkin ke media massa. Baik yang lawas semisal Kompas, maupun media kekinian seperti detik, tirto, mojok, rahma.id, qureta, dan lain sebagainya.

Oh, oke. Jangan emosi dulu. Mungkin beberapa di antara Anda masih gak setuju kalau Detik saya klasifikasikan sebagai media kekinian. Hehehe.

Selain gengsi ketika esainya dimuat di media-media tersebut, mereka juga mempertimbangkan “uang jajan” yang mungkin diperoleh. Makin menggiurkan angkanya, seleksi dari redaktur juga semakin berat. Dengan kata lain, ujiannya juga semakin berat untuk menembus media tersebut.

Perkara “uang jajan” ini memang gampang susah-susah. Dibilang uangnya gak seberapa ya benar juga. Toh, bagi banyak orang menulis itu gratis, kok. Idenya gratis. Aktifitasnya juga bukan menguras energi yang banyak. Alias nyaris tanpa modal.

Namun, kalau mau lebih serius dan tampil, menulis itu kudu berbayar. Nge-blog aja, ya. Misalnya dengan blog yang TLD (Top Level Domain). Berlangganan domain dan hosting yang dibayar setiap tahun yang nilainya bisa ratusan ribu.

Mau jago menulis secara otodidak ya jelas bisa. Tapi kalau mau lebih cepat, bisa diungkit lewat pelatihan. Alias modal lagi untuk membangun kompetensi diri.

Modal yang paling fundamental tentu membaca ya. Which is, buku harus masuk ke dalam anggaran pengeluaran rutin. Hukum membeli buku turun dari “wajib” menjadi “sunnah” kalau kita bisa meluangkan waktu dan tempat untuk pergi ke perpustakaan.

Yang mau saya bilang, pada akhirnya menulis adalah hobi yang pada akhirnya menyedot duit juga. Meskipun gak bisa disandingkan dengan hobi lari, atau hobi sepeda ya.

Hobi lari kan ikut event race-nya aja hampir menyamai biaya hosting+domain dalam setahun. Belum lagi harga sepatu, baju dry fit, aksesori smartwatch, dan lain sebagainya.

Sepeda ya sami mawon. Helm, sarung jok, botol minum + holder, yang ditotal-total ya lumayan juga harganya. Tapi itu gak seberapa juga dibanding dengan harga sepeda yang pada kualitas tertentu lebih tahan tabrakan daripada mobil kaleng-kaleng.

Balik sedikit ke soal menulis esai untuk media massa. Dari kursus daring tersebut, saya seperti tertampar-tampar bahwa menulis esai untuk media itu “a whole different thing” daripada blogging. Selama bergahul-ria dengan sahabat-sahabat blogger, masih banyak di antara kami yang kelewat PD. Mengaku blogger lha, bisa menulis – padahal masih banyak copas, secara berlebihan menganggap ini profesi, dst.

Maksud saya, kualitas dan pembacanya beda banget gitu, lho. Ada relevansi ide (timeless atau recency sama-sama bisa jadi faktor pertimbangan), cara mengungkapkan dalam wujud tulisan, dan lain sebagainya. Di sisi pembaca, kelas dan kuantitasnya sudah jelas lebih dulu ada daripada visitor blog yang angin-anginan. Pendek kata, menulis untuk khalayak ramai yang notabene bukan friend, fans, follower kita sangat tidak mudah.

Rekan-rekan blogger, kecuali saya, tampaknya hidup berkecukupan dari adsense, giveaway, dan kompetisi blog. Da saya mah ga paham monetisasi begituan… kumaha atuh?? Saya ngertinya ya proyek tulisan. Jadi kalau sukses post tulisan di blog, mengindikasikan kalau saya lagi sepi gawe…. hahaha… Padahal setahun sekali kita kedatangan tagihan domain+hosting yang wajib dibayar.

Jadi yang mau saya katakan itu adalah, betapa ada variasi yang demikian lebar di antara para blogger sekalian. Ada yang blognya demikian bagus hingga bisa menghidupi tidak hanya domain+hosting, tetapi juga sang empunya blog. Ada juga yang masih wanna-be-but-already-started.

Jauh di lubuk hati, kita semua meyakini bahwa nge-blog itu sama dengan nge-journal. Menuangkan refleksi, catatan, atau dokumentasi ke wujud tulisan. Di mana, satu di antaranya bersifat self-healing. Menyembuhkan luka-luka lama. Memaafkan tanpa melupakan kenangan. Menulis untuk diri sendiri.

Tentu saja kita semua sedang berproses, ya.

Tulis Judul atau Konten Duluan?

Dalam membuat tulisan, ada kalanya kita bingung mulai dari judul atau isi. Tulisan kali ini akan membahas bagaimana memaksimalkan kelebihan yang satu, guna menekan kelamahan yang lain.

Konten duluan.

Konten duluan sampai pada titik di mana, tidak tahu lagi harus menambah apa. Seperti kampanye #mulaiajadulu. Kebanyakan dipikir (baca: diriset) ya tidak akan membawa ke mana-mana. Kata Dee Lestari (tidak sama persis ya), fitrah sebuah ide adalah di alam bebas. Di alam bebas, dia akan menemui beragam dukungan, bantahan, kritik, saran, dan sebagainya. Dengan kata lain, hakikat gagasan bukan sekadar bertahan di alam pikiran semata.

Sutradara kenamaan macam Ernest Prakasa, juga menyarankan hal yang senada. Jadi, beliau memisahkan proses menulis dengan proses perbaikan (revisi). Sepanjang masih punya ide cerita, dan belum memasuki fase perbaikan (salah satu alasannya adalah deadline belum mepet), maka menulis lha terus.

Tugas kita sebagai penulis adalah “mematangkan” gagasan tersebut. Ibarat sungai, di sinilah pentingnya hulu dan hilir sebuah tulisan. Hulu, proses di mana kita mengumpulkan premis-premisnya. Berupa aktifitas riset (mengumpulkan bahan, membaca, menganalisis, membuat hipotesis), mengingat dan menyelami peristiwa-peristiwa yang berlalu dalam hidup kita sendiri (maupun orang lain), sampai dengan mengingat pikiran-pikiran kita di masa lampau tentang apa yang ingin kita tuangkan. Jadi, ada tiga macam klasifikasi untuk hulu.

That’s why kita perlu beberapa medium untuk menulis. Karena menulis adalah praktik melepas gagasan ke alam di luar pikiran, maka saya kira kita tetap perlu membedakan mana alam yang benar-benar jauh dan tidak bisa kita kendalikan, dan mana alam yang masih terjangkau serta menjaga rahasia-rahasia kita dengan baik.

Di medium-medium seperti buku yang dicetak penerbit, artikel media massa, kita tidak bisa mengendalikan keliaran pendapat khalayak umum. Dalam bahasa internet seperti sekarang, yaitu kata netizen. Namun kita masih bisa menjaga rahasia sekaligus mencatat ide dan ilmu di medium personal. Sebut saja jurnal, buku diary, rencana dan evaluasi aktifitas, dan lainnya. ide-ide yang kita tuangkan di format terakhir, adalah aset yang bisa kita tengok kembali dan aplikasikan di suatu ruang dalam tulisan.

Bagi saya, menulis adalah berpikir. Mengapa demikian? Sebab sebelum menuangkan sebuah kalimat, kita akan berpikir 2-3 kalimat ke depan. Bagaimana kita membahasakan sebuah gagasan berukuran mikro, bergantung pada bagaimana kita melihat kalimat tersebut dalam sebuah paragraf. Lebih jauh, peran sebuah paragraf dalam artikel keseluruhan, fungsi sebuah bab atau bagian terhadap isi buku secara umum.

Nah, kelebihan memulai tulisan dengan judul adalah kita sudah memberikan batasan yang relatif tegas terhadap isi tulisan. Namanya relatif, bisa dilanggar. Baik menjadi lebih luas (atau general), atau menyempit (alias fokus pada bahasan tertentu). Yang jelas, judul adalah acuan dalam perjalanan menulis guna menyadari garis finish (batas selesai). Kalau sudah selesai, boleh lha kita menengok sang judul kembali. Sudah tepat kah, sudah merepresentasikan isi kah, sudah memancing pembaca untuk membaca kah, dan lain sebagainya.

Fungsi Editing dan Peran Editor

Hilir, yaitu pentingnya fungsi editing dan peran editor.

Sebelumnya, saya sebutkan bahwa tulis apapun yang muncul di kepala untuk ditulis. Mumpung masih ada dan belum mampet (stuck). Sebab, masa-masa untuk perbaikan, revisi atau sejenisnya akan datang dengan sendirinya. Itulah yang disebut editing. Editing pertama dari diri sendiri. Alokasikan waktu untuk melakukan proses edit. Misalnya, hanya 5% dari total waktu untuk menulis. Di sinilah kita dapat berperan sebagai pembaca, dan menjaga jarak dengan diri kita sebagai penulis. Keluaran yang diharapkan adalah objektifitas dalam memandang karya tulisan tersebut.

Tentu diri ini sebagai pembaca, dapat kita belah menjadi dua. Baik sebagai pembaca yang berharap kualitas tulisan dari sisi bahasa. Maupun pembaca yang merepresentasikan konsumen tulisan secara umum.

Profesi editor, sebagai lapis kedua (namun utama), juga menjalankan kedua peran tersebut di atas. Alias berperan sebagai pemeriksa (checker) yang menjamin mutu (quality assurance) dalam tata bahasa, serta mewakili pembaca yang punya ekspektasi dan harapan tertentu terhadap isi maupun alur (flow) tulisan.

Tidak hanya keduanya, di beberapa penerbit editor pun berperan di hulu. Yakni memberikan pandangan (visi) dan saran kepada para penulis, tentang selera pasar yang sedang tren (dan yang sedang turun pula).

Reflection on 2019 site analytics

Tahun 2019 adalah tahun pertama men-swasta-kan domain dan hosting. Tadinya masih negeri; alias menumpang ‘host’ di server gratis milik WordPress. Setelah setahun ini, ada sedikit angka, data, dan statistik lain yang bisa direfleksikan barang sejenak. Kita mulai ya.

Sepanjang tahun 2019 ada 44 post. Meningkat 7 post saja (19%, lumayan) dari tahun sebelumnya. Namun average words per post-nya menurun dari 927 ke 711 kata. Turun sebesar 23%. Signifikan juga ya. Namun, tidak terlalu masalah. target saya kalau menulis adalah minimal 800 kata. Saya bukan tipe yang mentarget minimal 1500 atau 2500 kata. Masih termaafkan lha ya kalau sekitar 700-an saja. 

Pernah rasanya saya share di suatu tempat di blog ini bahwa 300 kata, meski sudah layak secara SEO, namun terlampau pendek untuk menyajikan cerita. Di sisi lain, 2500 kata sudah oke banget untuk SEO. Tapi lebih baik dibelah saja untuk artikel di pekan berikutnya; ini menurut saya lho ya. 

Tahun 2019 itu ada 7,453 page views dari 4,677 visitors. Artinya, satu visitor melakukan 1,59 page views. Artinya tiap pengunjung rerata hanya melihat 1-2 post. Sumber traffic terbanyak dari search engine, yaitu sebesar 3,707 pageviews. Sementara yang datang dari facebook dan Instagram sebesar 195 dan 128 page views. Dapat disimpulkan, lebih banyak dari mesin pencari daripada followers-nya social media saya. Sepintas tadi menengok setting page, tampaknya ada error di social share-nya –share via facebook & linkedin. 

Dari list yang sudah menyetor tulisan di komunitas 1m1c, hanya ada 41 page views. Lumayan juga, karena keanggotaannya hanya sekitar 100 members. Dari komunitas yang sama –tetapi sumber link berbeda– ada 3 (tiga) tulisan saya yang sempat di-klik dari sana:

Di antara 10 tulisan dengan page view terbanyak, hanya ada dua yang ditulis di tahun 2019. Yaitu: Review Buku Filosofi Teras (441 views) dan Menyelami Filosofi Rumah Panggung Suku Bugis (120 views).

Tiga-puluh-tujuh (37) post di tahun 2018 sebenarnya copy paste dari blog saya yang lama: http://ikhwanalim.wordpress.com. Seingat saya, tidak banyak yang saya tuliskan di tahun tersebut. Sebab lebih sibuk migrasi konten daripada menulis baru. Alhamdulillah di tahun 2019 cukup banyak tulisan yang benar-benar baru. Bahkan, ada kategori personal journal dan blogging/writing yang cukup banyak saya tulis. Selain itu, ada sedikit dari kategori marriage/parenting/fathering.

Khittah-nya blog ini seharusnya membahas topik sales/marketing. Eh tapi kategorinya malah ke mana-mana, yah. Dilema ini sudah bertahun-tahun saya rasakan — selama 12 tahun nge-blog. Ragu untuk memilih fokus menulis ide yang muncul di pikiran, atau mau fokus di kategori tertentu yang kita kehendaki sebagai positioning/niche-nya kita.

At the end, I took my decision to not overthinking the branding part. Jadi, saya tuliskan saja pengalaman, pikiran dan gagasan yang ingin saya bagikan. Tanpa harus feeling guilty karena si blog ini entah mau dibawa ke mana (if you sing, then you lose). Hehehe.

Tahun 2019 tampak belum ada postingan juara yang view-nya tinggi. Karena yang tinggi berasal dari tahun sebelumnya: Posisi Kerja di Dealer Mobil. Post ini view-nya tinggi karena post sejenis sedikit sekali di jagat internet. Sementara di Indonesia, konsumen kendaraan bermotor seperti mobil dan sepeda motor tinggi sekali. Tidak heran lowongan kerjanya pun cukup melimpah, sehingga pertanyaan seputar posisi-posisi pekerjaan di dealer juga banyak:

  • jabatan di dealer mobil 
  • jabatan-jabatan kerja di diler mobil 
  • cara kerja dealer kendaraan
  • tugas marketing di dealer mobil honda 

Rencana 2020

Bagaimana dengan tahun 2020? Rencana saya adalah berusaha seproduktif mungkin dalam nge-blog. Kalau satu tahun ada 52 minggu, maka idealnya ada 52 post kali ya. Tahun 2019 sudah terwujud 85%-nya.

Mau produktif menulis topik/kategori apa? Seperti saya ceritakan tentang dilema di atas, maka topiknya akan bebas. Sebagai ortu, mungkin postingan seputar topik parenting akan hadir pula. Mengingat, yang bersangkutan mulai sekolah di tahun ini. Tentang strategic marketing, mungkin topik seputar milennial dan leisure bisa dieksplorasi lebih mendalam. Personal journal jangan ditanyakan lha, ya. Itu topik paling tidak terencana, tapi paling sering ditulis karena experience dan personal story-nya.

Itu sedikit refleksi dari saya seputar hikmah-hikmah yang bisa diambil dari analytic machine di situs blog ini. Bagaimana dengan refleksi dan rencana blogging kamu? Saya tunggu pendapatmu di kolom komentar, ya 🙂