Apa Saja Pertanyaan Umum tentang Blog?

Tulisan kali ini membahas frequently asked questions (FAQ) seputar blogging

Bagaimana cara mulai ngeblog?

Ya mulai saja dengan bikin akun. Di wordpress.com, blogspot.com atau yang belakangan lagi naik daun: medium.com.

  • Kalau sudah punya akun, akan sayang kalau akunnya tidak dipakai mengisi blog.
  • Kalau sudah ada sedikit artikel, akan sayang untuk tidak diteruskan hingga menjadi banyak.
  • Kalau sudah mulai banyak tulisannya, akan sayang untuk tidak dilakukan secara konsisten,
  • dan seterusnya.

Dari mana ide datang?

Pastinya bisa dari mana saja. Habis baca buku, bisa jadi ide ulasan (review) buku. Ke toko buku, bisa dapat ide tulisan juga. Lakukan aktivitas yang baru sama sekali bisa jadi ide juga: mulai dari mengapa dilakukan, perencanaan seperti apa, pengalaman (experience) bagaimana, hasil apa yang didapat, dan seterusnya.

Platform blog apa yang cocok?

Saya pertama sekali membuat blog di blogspot.com. Entah bagaimana ceritanya, saya hijrah ke wordpress.com. Setelah 10 tahun bersama wordpress.com sekarang saya gunakan mesin WordPress berbayar dengan domain berakhiran .com. Target saya dengan blog baru https://ikhwanalim.com ini setidaknya akan saya gunakan selama 10 tahun ke depan.

Bisa dikatakan, saya cocoknya dengan WordPress. Tapi belakangan ini mulai ada CMS (Content Management System) baru bermerek Medium. Cukup menarik juga. Tapi tidak cukup membuat saya hijrah dari WP.

Bagaimana supaya blognya rame?

  • Perbanyak tulisannya.
  • Menulis yang panjang di setiap artikelnya.
  • Bikin pancingan di tiap akhir paragraf, supaya reader tidak stop membaca dan meneruskan ke paragraf yang baru.
  • Lakukan promosi ke akun social media (facebook, instagram, fan page). Saya bikin fan page Authentic Marketing di sini. Tolong di-follow ya 🙂
  • Pelajari statistiknya. Kenali siapa yang datang, dia datang karena kata kunci (keyword) yang mana, artikel (post) apa yang paling sering dikunjungi?
  • Bikin perencanaan konten. Terutama berdasarkan wawasan (insight) dari statistik yang sudah dipelajari. Riset Content Marketing ini bisa kamu pelajari.

Bagaimana caranya supaya bisa konsisten?

Bagaimana cara mulai menghasilkan dari blog?

  • Mulai menulis
  • Fokus di niche tertentu
  • Bermain Google AdSense
  • Membuat halaman profil dengan kontak email yang bisa dihubungi
  • Rutin gerilya mencari dan menawarkan kepada calon pembeli/pembayar, yaitu jasa paid/sponsorship content. Yakni kontennya di blog kita, dengan mereka mensponsori konten tersebut.

Anyway, saya meyakini tiap orang punya jalannya sendiri untuk sukses di dunia online. Terus terang, saya tidak menjalankan strategi tersebut. Blogging adalah cara saya membangun kompetensi menulis dan branding selaku penulis. Dan itu dengan sendirinya membangun channel untuk menghasilkan uang.

Gimana caranya supaya blog saya tampak keren?

  • Cari dan pilih theme yang bagus. Tidak heran, yang bagus biasanya berbayar.
  • Belajar teknologi Front-End (FE). Di antaranya adalah HTML, JavaScript, dan terutama CSS.

Ide tulisan dicatat di mana biar gampang dilihat lagi?

Kalau sudah publish, gimana cara terbaik untuk promosi kontennya? Saya pengin dapat PV banyak.

  • Lakukan promosi ke akun social media (facebook, instagram, fan page). Saya bikin fan page Authentic Marketing di sini. Tolong di-follow ya 🙂
  • Congkak juga di komunitas menulis kamu. Saya ikut 1minggu1cerita.

Lifestyle atau niche?

Lifestyle boleh, niche boleh. Masing-masing ada plus minusnya. Dengan strategi lifestyle berarti topik kita cenderung luas dan tidak terlalu sulit untuk bisa konsisten. Tapi ya itu, sulit berbeda dari kebanyakan blogger lain. Menurut pengamatan, saya melihat banyak emak-emak yang nge-blog tidak memiliki perbedaan yang signifikan di antara mereka. Jadi, proses diferensiasi yang dilakukan lewat personal experience-nya maupun teknik stroytelling-nya (penguatan karakter, plot cerita, dll).

Dengan strategi niche, maka konsisten akan lebih sulit. Karena segala prosesnya harus benar-benar kita pikirkan. Mulai dari perencanaan konten, penelusuran target pembaca, pendalaman kata kunci (keywords), dan lain sebagainya. Namun dari sisi pemasaran (marketing), strategi STP-nya sudah benar. Segmenting, Targeting, dan Positioning. STP yang benar dan konsisten, akan membawa kita pada kesuksesan. Cepat atau lambat.

Teknologi untuk Penulis. Yay or Nay?

Teknologi berkembang pesat. Developer harus catch up terus. Sementara teknologi digital yang berkembang cenderung mudah digunakan oleh penulis. Padahal, pasar penulis kode berkembang lebih cepat dan besar. Bagaimana penulis sungguhan menyikapi ini?

Di perusahaan-perusahaan IT (information technology), baik berupa perusahaan system integrator yang mainnya proyek-proyek temporer IT maupun perusahaan rintisan (start-up) yang fokus ke produk-produk IT (name it Go-Jek, Tokopedia, Bukalapak, Traveloka, dlsb) saya mengamati sesungguhnya teman-teman developer (pengembang) berjuang mati-matian untuk beradaptasi dengan teknologi.

Artinya, dua-tiga tahun saja tidak menyentuh teknologi-teknologi tersebut, maka akan sulit untuk catch-up. Why? Simply karena versioning-nya berkembang terus. Sederhananya, dari 1.0 bergerak terus menuju 2.0, 3.0 hingga 4.0. Itu baru satu versioning.

Belum termasuk lahirnya bahasa-bahasa pemrograman yang baru. Yang terbaru saya dengar Go Languange (Bahasa Go) alias Go-Lang yang notabene dibesut oleh Go(ogle). Itu satu jenis bahasa Back-End ya. Belum bahasa Front-End engineering (untuk transisi, animasi, static content, dll), maupun teknologi-teknologi DevOps.

Framework (kategori yang relatif lebih easy-peasy lemon-squeezy daripada bahasa karena lebih siap pakai) juga demikian. Ada framework ini dan itu yang berkembang sedemikian rupa. CMS (Content Management System) juga begitu. CMS ini lebih siap pakai lagi. Namun, perkembangan manajemen konten menuntut penggunaan CMS yang part-partnya bisa dikoding di sana dan di sini. Demi statistik-nya lha, untuk diimplementasi search engine lha, and so on, and so on.

Intinya, semua tidak jauh beda dengan programming language yang terus-menerus berkembang namun tidak mau berhenti barang sejenak.

Intinya, bagi developer (dan system engineer) teknologi berkembang sedemikian cepat hingga sulit dikejar. Tidak heran, kebanyakan programmer yang sudah senior, mulai stop being programmer. Instead of mengikuti perkembangan teknologi yang begitu cepat, mereka memilih menjadi business/system analyst (pembuat requirement) atau project manager (PM; manusia yes-man yang running implementasi proyek di situs klien).

Sementara, para penulis (writer) kita cenderung bisa mengikuti teknologi yang ada. Mulai dari aplikasi Microsoft Word, CMS (yang populer ada Blogspot dan WordPress —Sitefinity lebih susah sedikit) lalu Google Docs (yang menuntut kita bisa kerja bareng dengan penulis lain di laman yang sama; karena mekanisme automated saving-nya; thanks to internet).

Bagi yang lebih teknikal sedikit, berurusan dengan ClickHelp atau Flare (dari MadCap) atau sejenisnya dalam rangka mengembangkan online documentation atau sejenis-jenis User Manual. Level kesulitan kategori ini hanya satu level di atas CMS-CMS blog, ceuk saya mah ya. Haha.

Because being writer is more like artist rather than scientist or engineers.

Kita penulis mah lebih dekat dengan urusan selera daripada printilan-printilan logika yang sekuensial ala-ala developer.

Ada kalanya kita penulis berpikir beda (dan cenderung kreatif) terhadap suatu produk tulisan. Sementara kreativitas engineer diuji dengan desain dan implementasi suatu algoritma yang cocok untuk fungsi yang dikehendaki oleh requirement-nya client.

Kalau penulis harus berpikir urut semata karena plot yang disajikan kepada pemirsa. Sementara di sisi lain, kedua jenis makhluk (scientist dan engineer) harus berpikir runtut sedemikian rupa; tidak heran karena mereka menulis kode yang wajib bisa dibaca oleh mesin (dan oleh manusia juga).

Siklus seorang penulis, bisa jadi akan lebih panjang daripada developer ya. Simply karena di atas 35, 40, atau bahkan 50 tahun, kurasa para penulis masih bisa mengikuti tren-tren teknologi kekinian.

At the end, the conclusion is… technology is quite easy for writer to adapt.

Tapi Tuhan itu adil, kok.

Job market for developer is much bigger (and grow faster) than writer 🙂

Simpulan saya, “jatah”-nya penulis adalah berpindah dari satu medium ke medium lain. Dari blog (yang notabene artikel) menjadi buku. Lalu beralih ke caption Instagram (berhubung skill desain/ilustrasi yang ala kadar, jadinya pakai Canva, deh), kalo wajahnya tjakep dikit boleh lha beralih ke Vlogger (YouTuber). Kalo pede suara gak cempreng, main Podcast.

That’s all. Kalau ada insight menarik dari kamu, silakan komen di bawah ya! Cheers 😀

Netiquette dan Cyberbullying

Netiquette berarti internet+etiquette. etiket (dari kata etiquette) adalah peraturan/norma yang mengatur apa yang secara sosial dapat diterima. Ini memang tergantung nilai-nilai yang dianut oleh kelompok sosial tersebut. sekarang, di dunia internet kita berbicara dengan manusia ‘kan? maka, apakah kamu akan mengatakan hal yang sama kepada lawan bicara? seharusnya iya. Terutama yang baik-baik.

Maka ikutilah standar perilaku yang sama dengan di dunia nyata. Karena, etika di cyberspace tidak lebih rendah daripada etika di dunia nyata. bukan karena tidak bertemu muka, maka standar menjadi lebih rendah. Bukan karena usia tidak lagi menjadi persoalan penting di awal percakapan, maka etika tidak lagi penting. Tapi etika dunia internet akan sama tingginya dengan etika di dunia nyata.

Netiket di dunia internet relatif sama. Tetapi secara teknis, netiket di berbagai komunitas justru berbeda-beda. Kenali bahasa yang mereka gunakan. pakailah kata-kata yang memang biasa digunakan di komunitas tersebut. Ikuti aturan yang dibuat admin. Siap-siap diberikan sangsi bila anda melanggarnya. Be sensitive secara online.

Jangan sok artis. Hormati follower/friend kamu. Hormati waktu dan bandwidth orang lain. Kamu bukan satu-satunya pemilik dan pengguna dunia maya. kita semua adalah pengguna, dan kita memiliki kesetaraan yang sama. Remember, you are not the center of cyberspace. Tetapi, tetaplah berusaha tampil menarik saat online. ambil keuntungan secukupnya dari anonimitas. Berikan nasihat yang baik. Bersedia untuk diajak berdiskusi. Kamu akan dinilai dari apa yang kamu tulis/bagi. Dan jangan takut untuk berbagi apa yang kamu tahu.

Hormati privasi orang lain. jangan karena kedekatan, tetapi tanpa izin, lalu kamu membaca email pacar kamu. Untuk admin, sekalipun sudah menjadi admin, jangan bersikap sewenang-wenang. maafkan kesalahan orang lain. Jangan arogan dan jangan sok suci. Admin juga manusia, bisa benar bisa salah. Yang penting terus belajar dan bantu mengarahkan komunitas ke arah yang lebih baik.

Sedangkan cyberbullying maksudnya, menggunakan teknologi komunikasi seperti email, handphone, chat rooms, instant messaging,  blog atau personal website fitnah untuk mengirimkan dan memposting, sengaja dan berulang kali, teks atau gambar yang kejam dan merusak (shek, 2004; belsey ,www.cyberbullying.ca)

Bagaimana berjaga-jaga terhadap ancaman cyberbully:

  • Jangan membagi-bagikan informasi/gambar/video yang dapat digunakan orang lain
  • Jaga privasi, kamu tidak bisa mengontrol materi yang sudah berada di internet
  • Introspeksi diri, bagaimana cara kamu berkomunikasi di internet

Jangan memberi kepuasan pada bullies:

  • Tenang, dan jangan membuat bullies lebih senang untuk mem-bully kamu terus-terusan
  • Tidak ada yang sebenarnya melihat reaksi awal kamu. Tetap tenang dan jangan emosional
  • Tidak perlu langsung merespon, tidak perlu buru-buru, pikirkan baik-baik
  • Jangan membalas! Jangan menjadi bully!

Yang perlu dilakukan:

  • Selalu kumpulkan bukti-bukti. Screenshots, save emails, save chatting log
  • Perlu melibatkan orang lain?
  • Katakan STOP!
  • Jangan pedulikan
  • Orang tua?
  • Keluhan pada penyedia layanan internet
  • Hubungi sekolah/universitas
  • Hubungi pengacara/polisi
  • Bantu korban lain dengan speak up!

*) artikel ini adalah versi tulisan dari presentasi kang Enda Nasution di Aula Fasilkom UI pada 3 Mei 2008

cek juga artikel ini.

Review Blog Anak Dagang

Selain menjadi blogger professional, ada cara lain lho untuk mengembangkan blog kamu. Kalau yang saya ulas sebelumnya berfokus ke niche tertentu, maka cara lain yang akan kita bahas kali ini yaitu dengan merambah topik-topik lainnya. Alias, scope blog-nya meluas menjadi seakan-akan sebuah portal berita.

Di post kali ini, saya coba review sebuah blog yang memosisikan dirinya sebagai “anak dagang”. Pada mulanya, blog ini fokus membahas hal-hal seputar peluang bisnis. Baik peluang bisnis online, maupun offline. As we know, online itu ada lewat social media (instagram, facebook). Kalo offline misalnya peluang bisnis dari buka toko ritel di pinggir jalan, usaha workshop yang fokus memproduksi barang, dan jenis-jenis peluang bisnis lainnya.

Nah, setelah fokus membedakan diri dengan blog-blog lainnya, serta memberikan manfaat pada para pembacanya, blog ini memiliki positioning yang mantap sebagai blog untuk para pencari peluang usaha. Targeting-nya jelas, yaitu pembaca yang sedang mencari-cari peluang usaha. Jadi butuh usaha mikro (modal kecil) yang relatif tidak sulit dimulai.

Tidak puas dengan positioning tersebut, blog ini melakukan ekspansi konten ke kategori-kategori lain. Yaitu, gadget/aplikasi, SEO (Search Engine Optimisation), dan blogging. Ya, namanya topik seputar peluang bisnis online lewat social media, tentu tidak sulit untuk masuk ke blogging ya. Kan blog juga satu bentuk social media. As its name, social media adalah media untuk bersosialisasi.

Dan di era yang semakin mobile ini –meninggalkan personal computer berbentuk desktop dan laptop, maka dekat juga donk kalau mau bahas gadget mobile berupa smartphone atau tablet. Gak kelewat jauh juga untuk membahas mobile application / aplikasi.

Optimasi mesin pencari (SEO), ini peluang-peluang bisnisnya agak berbeda dibanding yang melalui social media. Karena basis bisnisnya adalah sebanyak apa orang mencari barang tersebut. Serta kecenderungan user setelah mendapat informasi tersebut. Apakah sekedar untuk tahu, atau bahkan mungkin melakukan pembelian.

Untuk diketahui teman-teman blogger sekalian, si Anak Dagang ini bukan dari Jakarta, lho. Melainkan Penajam Paser Utara (PPU) di Kalimantan Timur. Membuka mata kita bahwa internet sesungguhnya sudah menghubungkan dengan lokasi-lokasi terpencil (PPU gak terpencil banget, cuma naik kapal ferry dari Balikpapan). Dan peluang-peluang bisnis tidak melulu hanya ada di Jakarta atau Pulau Jawa pada umumnya. Tetapi di seluruh dunia, selama sudah ada listrik dan internet yang terhubung ke sana.

Demikian review blog kali ini. Semoga bermanfaat.

Cara Menjadi Blogger Profesional dan Menjadi Bos Diri Sendiri

Kayaknya kedengaran keren ya kalau jadi professional blogger. Sudah keren, dibayar pula. Namun, menjadi blogger profesional itu tidak gampang dan tidak akan pernah mudah.

Alasan pertama adalah, mendapatkan uang dari blog tidak semudah dulu lagi. Sebabnya adalah kompetisi semakin ketat. Konten berwujud blog tidak lagi menjadi satu-satunya konten. Social media selain blog seperti Twitter, Facebook, Instagram (IG), dll justru menggerogoti pangsa pasar pembaca blog. 

Contohnya sebagai berikut. Di waktu yang bersamaan sekarang ini, sedang ada gerakan #30haribercerita di IG. Mirip nge-blog, tapi di caption IG. Dari judul, jelas setidaknya satu cerita per hari selama 30 hari. Dan gerakan ini begitu diterima oleh netizen. Konon, ada enam ribuan tagar #30haribercerita masuk setiap harinya. Bisa dikatakan sebagai blog tetapi di platform IG. Ini “penggerogotan” dari sisi pembuat konten.  

Dari sisi pembayar konten, mereka lebih memilih untuk mendistribusikan anggarannya ke beberapa tipe social media. Sekian untuk blog, berapa untuk IG, sejumlah uang untuk facebook, dan seterusnya. Sebab masing-masing social media punya pengguna setia. 

Balik lagi ke topik professional blogger. 

Saya lihat sih, kebanyakan teman-teman blogger mengambil segmen dari 3F-nya dulu, yaitu friends/fans/followers dari akun social media. As u may already know, caranya adalah dengan membagikan link artikel blog (terutama yang baru saja dirilis) ke berbagai jenis sosial media yang dimiliki. Seiring waktu dan konsistensi nge-blog, lingkaran 3F kita akan semakin membesar. Kita bisa memulai profesi blogger dengan cara ini. 

Dan ini sama seperti pekerjaan pada umumnya: harus ditekuni dengan serius, supaya menghasilkan dan makin terpercaya (trusted).

Berikut ini beberapa hal yang saya kira, perlu diperhatikan supaya blog kita bisa menghasilkan income terus-menerus.

Niche Content 

Namun, professional blogger berbeda. Harus menunjukkan area of expertise-nya. Kalau sudah memulai dengan 3F, berarti harus mulai fokus dengan konten di niche-niche tertentu. Namanya juga professional. Berasal dari bahasa latin, yaitu proficio. Yang artinya, kira-kira adalah to make/to advance. Kita kan gak bisa jadi advanced di semua topik blog. Jadi harus memilih niche konten kita sendiri. 

Dua niche content dengan penghasilan paling lumayan, setahu saya adalah food blogging dan travel blogging.  

Bagaimana dengan penempatan konten; di mana konten tersebut dipasang? Placement tidak harus di blog sendiri ya. Blog sendiri itu jadi etalase (showcase) saja. Proyeknya bisa dari mana saja. Baik perorangan, institusi non-profit, atau korporat. Placement kontennya tidak harus di web institusinya, bisa saja ada media lain. Saya sendiri berperan sebagai content manager untuk satu institusi non-profit dan satu produk elektronik untuk pendidikan.

Mempromosikan Konten 

Menulis konten sesuai niche yang dipilih saja tidak cukup. Professional blogger harus smart dalam memasarkan kontennya. Alias promosi. Mindset yang seringkali salah adalah melakukan promosi hanya sekali di awal rilis konten. Cara paling sederhana ya share di social media masing-masing. Namun demikian, promosi konten sebaiknya dilakukan beberapa kali untuk sebuah konten. Tidak ada salahnya memasang iklan (facebook ads, google adwords) bagi si konten agar terekspos ke pembaca yang lebih banyak. 

Ikut Community 

Bangun kehadiran anda secara online. Karena kita pembuat konten ini tidak hidup dalam ruang hampa. Alias ruang angkasa galaksi lain seperti Bekasi. Apa sih. Gagasan  itu sudah seharusnya dinamis dan berinteraksi dengan ide-ide dari orang lain. Meminjam kata Dewi ‘Dee’ Lestari, “Hakikat sebuah gagasan adalah hidup di alam bebas” atau quote lain, “Tulisan yang sempurna adalah tulisan yang tidak dipublikasikan”. Mungkin tidak sama persis, tapi intinya gagasan itu ditumbuh-kembangkan via komunitas. 

Semakin intens kita menghadirkan diri, berarti semakin kuat pula personal branding yang kita bangun di sana. 

Kalau niche content kita itu serieus banget nget semisal soal pekerjaan kantor, cocok tuh kalo ikut community di LinkedIn. Saya sendiri masih ngulik ya, bagaimana supaya bisa sukses di sana. Tapi saya yakin pasti ada caranya. 

Cari Proyek 

Tidak sepanjang waktu proyek berjalan terus. Adakalanya klien sedang sepi, sehingga kita harus mencari proyek yang baru. Bisa menghubungi atau menemui klien lama, atau bertanya-tanya di network yang sudah terjalin (ini pentingnya ikut komunitas!). Di sinilah pentingnya belajar menulis proposal dan menjual/menawarkan pekerjaan. 

Tunjukkan Nilai Tambah 

Professional blogger harus membuat konten yang bermanfaat tapi tidak usang bagi pembacanya. Di samping itu, dia harus terlihat atau dikenal berwawasan di topik tersebut. Demonstrasikan bahwa dengan merekrut anda, atau memberikan anda sebuah proyek lepas (dahulu), maka anda akan memberikan nilai tambah pada keseluruhan pekerjaan klien. 

Be Professional. 

Jadi profesional (saja). Buktikan dengan memiliki kualitas (berupa nilai tambah untuk klien) dan tepat memenuhi tenggat waktu. Manajemen pekerjaan/proyek dan waktu. Latihan dan berkarya terus untuk melatih kualitas pekerjaan kita. Salah satu ukuran penulis profesional juga bisa dilihat dari penggunaan tanda baca. Apakah dia teliti terhadap penggunaan tanda baca seperti titik, koma, titik koma, garis miring, dan lain sebagainya. 

Konklusinya adalah professional blogger itu berat jadi biar aku saja. Tapi kalau personal brand dan niche content-nya sudah dapat, maka semua upaya, latihan, uang dan waktu yang dilakukan akan terbayar lunas. 

Menulis Untuk Diri Sendiri

Yang baca tulisan ini mungkin seorang sarjana, mungkin juga sedang menempuh Pendidikan (alias masih mahasiswa/anak sekolah). Sudah biasa menulis, terutama di sekolah. Karena kita belasan tahun belajar (membaca dan menulis), sudah seharusnya menulis adalah sesuatu yang bisa kita lakukan. Logika umumnya begitu. Bahkan, banyak sekali anggapan bahwa semua orang bisa menulis.

Yang kedua adalah bahwa seakan-akan pembaca dari tulisan kita selalu orang-orang di luar kita. Hampir gak ada tuh yang namanya diri sendiri sebagai pembaca.

Saya, terus terang berada di pihak yang berseberangan dengan kedua pendapat tersebut.

Dan saya ada tiga alasan mengapa kita sesekali butuh untuk menjadikan diri kita sebagai pembaca dari tulisan kita sendiri.

menulis 1

Pertama, menulis itu menyembuhkan diri sendiri.

Kehidupan modern jaman now ini, banyak menyebabkan iri hati. Apalagi ada social media sebagai amplifier alias penguat message. Teman yang lanjut sekolah, lha. Kita belum ada waktu dan uang untuk meneruskan pendidikan. Teman yang jalan-jalan ke luar negeri, lha. Sama: belum ada waktu dan uangnya. Haha. Teman yang karirnya bagus, teman yang mengumumkan akad dan resepsi pernikahannya, teman yang keluarganya berbahagia dari kelahiran putra/putri pertama, kedua, dan seterusnya. Sementara kita masih single/jomblo/you name it. Semua itu bisa menyebabkan kegalauan. Memang sih, pilihannya kembali ke diri sendiri. Tergantung kamu mau memilih untuk galau atau tidak.

Salah satu cara menghindari kegalauan adalah dengan menulis. Menulis untuk diri sendiri. Mengapa menulis? Karena menulis itu menuangkan kegelisahan kita. Tapi kita tidak membuat diri sendiri malu, kok. Karena hanya kita seorang diri yang membaca. Menulisnya juga jangan di sembarang tempat. Kalau dulu -puluhan tahun yang lalu- ada namanya diary, sekarang diary-nya bisa digital. Bahkan di wordpress.com pun, bisa di-setting supaya tidak tayang.

Kedua, menulis itu untuk berekspresi.

Ada public area, ada private area. Orang-orang suka lupa membedakan keduanya. Apalagi di jaman socmed begini. Sering lupa juga dia berada di area yang mana. Atau, ada orang yang terlampau sering berada di public area. Sehingga lupa bahwa dia punya private area yang seharusnya menjadi tempat dia kembali ke dirinya sendiri. Saya menyebut orang-orang yang tidak punya hobi itu, sebagai tidak punya private area. Hahaha. Atau, terlampau asyik dengan dirinya sendiri sehingga lupa berbicara dengan para khalayak di public area.

Yang ingin saya sampaikan adalah menulislah untuk mengekspresikan perasaan (isi hati) maupun pikiran/pengetahuan (isi kepala) di area privat anda. Lagi-lagi, menulis untuk diri sendiri.

Social media itu ruang publik. Bisa menjadi sarana berekspresi. Kapan sebaiknya tidak berekspresi? Kalau yang kita ingin ekspresikan itu penuh dendam, memuat konten SARA, sesuatu yang membuat diri kita malu, dst.

Misalnya kamu seorang singlelillah atau jomblo fii sabilillah, mungkin kamu belum punya orang yang tepat untuk mendengarkan perasaan atau ekspresi kamu sendiri. Maka menulislah untuk mengekspresikan perasaan yang hanya akan didengarkan oleh dirimu sendiri.

Ketiga, menulis itu untuk merapikan pengetahuan.

Menulis itu cara lain, sih. Cara paling utama merapikan isi kepala itu adalah dengan tidur cukup dan tepat waktu. Cukup artinya, minimal enam (6) jam. Tepat waktu artinya, tidak tidur terlalu larut sehingga bisa bangun sebelum adzan subuh. Itu cara pertama mengorganisasikan dan menyusun ulang isi kepala kita. Di samping itu, tidur tepat waktu dan tepat jumlah adalah cara menetralisir racun-racun dalam tubuh. Memang, organ hati kita bekerja maksimal di malam hari.

Tidak harus kamu adalah siswa/mahasiswa yang belajar di sekolah/kampus sehingga kamu berkewajiban merapikan pemahaman kamu, mumpung ujian masih lama. Sehingga tidak SKS (sistem kebut semalam). Tidak harus juga kamu adalah karyawan di kantor yang learning by doing atau sedang dalam OJT (On Job Training) sehingga kamu harus mengelola ilmu/pengetahuan dengan baik.

Tapi simply karena segala aktivitas harian kita itu ada ilmu, ada renungan yang bisa kita ambil, maka menulislah. Menulis untuk diri sendiri. Terutama dalam bentuk diary, ya. Ketika kita sudah menulis, lalu flashback ke tulisan-tulisan sebelumnya kita jadi tahu kita pernah melakukan apa. Banyak orang tidak reflektif dalam hidupnya. Lupa dia pernah mengerjakan apa. Tidak tahu apa yang dia capai. Sehingga, dia lupa merencanakan apa-apa yang mau dia raih. You understand what I mean, didn’t you?

Bisa saya katakan, menuliskan ulang informasi atau pengetahuan yang kita dapat, itu sangat bermanfaat untuk karir kita ke depan. Bisa juga kita menuliskan angan-angan/rencana/mimpi-mimpi yang kita targetkan untuk bisa terwujud dalam beberapa waktu ke depan. Apakah kita pekarya atau pekerja, menulis tentang ilmu pekerjaan sendiri, pasti akan ada manfaatnya dalam pekerjaan/profesi yang kita geluti.

Langkah-Langkah Mengembangkan Konten yang Search Engine Friendly Namun Memuaskan Para Pembaca

Tuntutan pada pembuat content marketing semakin berat. Konten tidak hanya harus berhasil menembus halaman pertama SERP (search engine result page) saja (alias artikel SEO), namun juga harus memuaskan para pembaca.

Bagaimana melakukannya? Update kali ini coba membahas bagaimana merealisasikan dua target tersebut. Yakni konten muncul di halaman pertama serta pembaca mendapat manfaat dari konten tersebut.

Ada dua aspek. SEO dan copywriting.

SEO itu adalah seni membuat konten tampil di halaman pertama hasil pencarian.

Kita sudah tahu bahwa SEO bertujuan meningkatkan relevansi artikel di mata mesin pencari sehingga bisa menempati peringkat teratas dari search result. Selanjutnya, artikel ramah SEO kita sebut artikel SEO ya.

Sedangkan copywriting adalah seni menuliskan konten sehingga konten tersebut memuaskan, mencerahkan, atau menghibur pembacanya.

Jadi, SEO Copywriting berarti seni menuliskan konten sehingga tidak hanya memberikan pengalaman membaca yang terbaik, tetapi juga konten tersebut sukses muncul di urutan teratas hasil pencarian.

Yaitu memformulasikan kata demi kata, hingga kalimat demi kalimat, sehingga berhasil mempersuasi pembacanya untuk melakukan aksi-aksi tertentu (membeli, berlangganan melalui email, dsb) namun tetap akrab dengan mesin pencari.

Berkawan akrab dengan mesin pencari, adalah sebuah awal menuju rangking yang lebih tinggi dibandingkan dengan konten dari kompetitor yang mentargetkan hasil pencarian sejenis.

Nah, bagaimana caranya? Dalam artikel ini kita akan membahas secara lengkap dan detil beberapa tips-tips utama dalam membuat artikel blog yang ramah terhadap SEO – Search Engine Optimization (SEO) sekaligus pembaca.

(1) Tidak terlampau banyak keyword (kata kunci) langsung; melainkan buatlah tulisan yang manusiawi -bukan untuk menipu mesin– tetapi untuk pembaca.

Kreatif memanfaatkan bentuk lain dari keyword, seperti sinonim, definisi, variasi kosakata, dan lain sebagainya dari keyword yang kita targetkan.

Penempatan kata kunci bisa dengan kata kunci tersebut, atau gunakan kosakata/frase berbeda yang tetap merepresentasikan maksud yang sama. Sebenarnya, makin beragam kosakata yang digunakan, akan semakin disukai oleh Google.

Ingat kembali bahwa pengguna internet yang datang ke Google itu belum persis tahu apa solusi untuk kebutuhan atau masalah dia. Jadi dia akan mencari tahu. Mulai dari produk/layanan apa yang tepat, produk/layanan dengan harga terjangkau, dan lain sebagainya.

Harus kita ketahui bahwa keyword merupakan bentuk upaya kita untuk melakukan targeting (sebagai bagian dari STP) terhadap (calon) pelanggan. Sehingga keberadaan keyword dengan sendirinya akan meng-efisien-kan aktivitas dan proses pemasaran.

Mengenai keyword, instead of berperang di keyword yang hanya sedikit kata (short tail keyword), yang semakin lama persaingannya semakin ketat. Makanya sudah waktunya berpaling ke long tail keyword.

Contoh. Daripada hanya “service AC”, lebih baik “jasa service AC di Jogja”, misalnya. Atau “jasa service AC murah di Jogja”, dst. Jadi gunakan paling sedikit 4 kata. Konsekuensinya adalah kita harus lebih banyak mentarget long tail keyword. Tapi tidak apa. Yang penting kan berumur panjang. Artikel SEO yang berat dikerjakan hari ini, tapi efektifitasnya long lasting (more than three years).

Keyword-nya harus konsisten dan masuk dalam berbagai elemen dalam artikel ya. Misalnya di judul artikel, di slug, hingga di dalam artikel itu sendiri. Berapa jumlahnya? Sebanyak keyword density yang disarankan saja.

Keyword density. Mesin Google punya word counter. Jumlah keyword dibandingkan terhadap jumlah kata dalam konten tersebut. Targetnya sekitar 2%-3%. Terlalu banyak akan membuat Google menganggap konten tersebut adalah “sampah”.

(2) Menurut sebuah sumber –saya sampai lupa sumbernya, tetapi saya memang berulangkali menemukan this figure— rerata panjang artikel dari artikel-artikel yang menempati halaman pertama adalah sebanyak kurang lebih 2,000 kata.

Maksudnya adalah kita perlu menjunjung tinggi kualitas tulisan serta memperbanyak volume tulisan (jumlah kata) lewat analisis/pembahasan mendalam tentang gagasan yang kita tuangkan ke dalam artikel tersebut.

Fokuskan tulisan sebagai sebuah jawaban utuh atas pertanyaan yang merupakan rasa keingintahuan calon pembaca yang kita target.

Dalam proses membuat tulisan yang mendalam, riset harus dilakukan secara intensif. Situs seperti www.quora.com dapat menjadi referensi untuk mencari tahu pertanyaan relevan terkait dengan topik yang kita kemukakan.

Rahasia lain untuk mendapat konten berkualitas adalah dengan melakukan wawancara mendalam (in-depth interview) dengan seorang expert mengenai bidang yang digelutinya.

Jangan lupakan juga tulisan sebagai media untuk menghibur, menyampaikan informasi, atau mencerahkan pembaca kita.

Sebelumnya, saya pernah menuliskan di sini bahwa paling tidak, artikel SEO yang bagus untuk blog adalah 500 kata. Tujuh ratus kata sudah oke. Volume 700 kata itu ibarat menulis di majalah sepanjang satu halaman.

Intinya, lebih banyak kata akan lebih baik di mata mesin pencari Google. Bukan kata/kalimat yang berulang dan sengaja diulang-ulang lho ya. Melainkan narasi utuh yang gagasannya saling melengkapi satu sama lain.

Do you want to survive? Tulislah lebih panjang hingga minimal 1500 kata. Supaya relevansi di mata mesin pencari akan lebih baik. Sehingga tulisan kita tidak mudah tergeser dari tulisan-tulisan bervolume sedikit yang lebih baru dirilis.

Mengapa? Sebab menulis 300 kata itu relatif tidak sulit. Demikian pula dengan 500, 700, hingga 1000 kata. Dan sudah banyak sekali yang melakukannya. Bersamaan dengan anda menerbitkan sebuah postingan, ada puluhan bahkan bisa ratusan orang melakukan hal yang sama. Cobalah untuk riset lebih mendalam sehingga bisa menulis lebih panjang.

Jadi, lebih baik menerbitkan satu artikel dalam satu pekan tapi dengan proses dan kualitas yang terbaik. 

Blog seperti www.waitandwhy.com tidak banyak menerbitkan artikel baru, namun setiap artikelnya ditulis sepanjang 1500-2000 kata. Panjang artikel inilah yang menyebabkan blog ini kuat sekali di search engine result page (SERP).

Prioritaskan kualitas tulisan daripada kuantitas jumlah tulisan yang ingin di-publish. Dengan kata lain, tidak perlu memaksa diri setiap hari membuat postingan dengan mengorbankan kualitas.

Ini biasanya yang jadi penyakit blogger pemula. Kurang konsisten. Di satu waktu mem-publish demikian banyak posting. Selanjutnya belum ada postingan baru selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan.

(3) Headline semakin penting. Bahkan lebih penting dibanding dengan era sebelum internet. Karena itulah yang membedakan artikel biasa dengan artikel SEO. Mengapa? Sebab ketertarikan pembaca dimulai dari headline yang menarik, bombastis, atau sangat menjual janji kepada pembacanya.

Bagaimana caranya? Sertakan angka dalam judul, atau gunakan kata sifat yang bombastis. Bisa juga “janji” yang memberi solusi atas kebutuhan/permasalahan/pertanyaan calon pembaca.

Namun hindari headline yang hanya memancing klik saja. Biasa disebut click bait. Jadi artikel dengan judul menarik, namun membuat pembaca merasa tertipu dengan konten di dalamnya yang jelas-jelas berbeda dengan judul headline.

Alangkah indahnya bila kita jujur mengenai konten yang kita sampaikan. Yaitu melalui headline yang benar-benar merepresentasikan konten yang di bawahnya.

(4) Terkait tipografi. Tulisan yang terlampau padat kata, belum tentu jadi sarat makna. Sebab tiadanya jarak di antara paragrafnya. Maka dari itu berilah ruang yang cukup setelah 3-4 baris kalimat.

Tipografi juga bagaimana kita memakai bullet points dalam menyampaikan gagasan kita. Senada dengan bullet points, image juga bisa dipakai untuk memberikan komposisi yang cantik dalam artikel kita.

Kesimpulan.

Jadi si mesin pencari benar-benar melihat karya kita sebagai sebuah tulisan yang baik, bukan tulisan ala kadar yang hanya ingin nongkrong di halaman pertama SERP.

Google juga mempertimbangkan seberapa sering suatu website dikunjungi. Makin sering dikunjungi, makin mengangkat relevansi website tersebut terhadap keyword yang diketikkan oleh pengguna internet.

Buatlah blog atau website anda bukan yang sekedar dikunjungi kemudian terlupa. Melainkan pengunjung betah berlama-lama di sana. Pancing agar pengunjung melakukan klik demi klik di blog anda untuk menelusuri postingan yang lain.

Bagi Google, relevansi adalah segalanya. Makin relevan, makin tinggi letaknya dalam hasil pencarian. Bila di dalam artikel tersebut ada beberapa link, kemudian CTR-nya tinggi, ini juga menjadi faktor yang akan dipertimbangkan oleh Google dalam menempatkan artikel tersebut ke dalam SERP.

CTR=Click-Through-Rate, yakni seberapa sering klik dilakukan oleh pengunjung website dalam artikel tersebut.

Semoga tulisan ini padat manfaat, serta memberi manfaat.

Related Post(s):

11 Kesalahan Blogger Pemula

Anda yang membaca postingan ini pastinya beruntung sekali. Saya dulu meraba-raba bagaimana meningkatkan kemampuan saya dalam blogging. Saat itu referensinya belum banyak. Nah, harapan saya adalah tips menulis blog ini bermanfaat untuk kamu para blogger pemula.

  1. Kurang fokus pada tujuan blogging itu sendiri. Blogger pemula memposting segala yang ingin ditulis. Padahal konten perlu konsistensi topik. Apa jadinya kalau tidak konsisten? Brand dari blog jadi tidak terbangun. Kenapa saya harus baca blog anda untuk topik tersebut, dan bukannya membaca blog yang lain? So, tips menulis blog yang pertama adalah blogger pemula harus punya tujuan nge-blog supaya brand blognya terbangun.
  2. Bingung mentarget audiens. Audiens kan ada beragam ya. Expert banget ada, sampai level pemula juga ada. Tidak bisa semuanya dilayani. Jika tidak demikian, nantinya ada expert memandang rendah blog Anda karena masih ada konten untuk pemula. Sebaliknya, level pemula belum waktunya untuk diberikan konten yang “berat”. Tips menulis blog yang kedua adalah memperbanyak konten yang relatif sederhana, sehingga mudah ditemukan oleh mesin pencari. Kalau konten yang berat, cocoknya untuk “penikmat konten” alias pengunjung langganan.
  3. Lupa –atau malah terlalu sering– mengekspresikan diri. Penghadiran diri Anda dalam tulisan jelas penting. Setidaknya itulah ciri bahwa tulisan tersebut adalah Anda. Namun demikian, terlalu sering mengekspresikan diri berarti narsisme tingkat tinggi. Begini tips menulis blog yang terbaik dari saya: Tulislah seakan-akan kamu sedang bercakap-cakap dengan seseorang.
  4. Abai terhadap SEO — Search Engine Optimization. Entah terlalu fokus dengan konten, sehingga lupa si SEO. Atau terlalu SEO sehingga konten malah kurang menarik. Alias tidak memberi nilai manfaat ke pembaca — yang menemukan banyak teks tanpa hubungan satu sama lain. Tips menulis blog yang berikutnya adalah berikan perhatian yang cukup (tidak berlebihan) terhadap SEO.
  5. Tidak mengorganisasikan konten. Ini bukan konten tidak boleh mengalir ya — justru itu harus. Melainkan harus jelas yang mana pembuka — atau latar belakang mengapa konten tersebut ditulis, isi, hingga penutup — atau berisi tentang bagaimana mengaplikasikan poin-poin yang disarankan dalam kehidupan sehari-hari. Tips menulis blog: structure, structure, structure. Since structure is everything.
  6. Main tulis saja, tapi melupakan editing. Salah ketik (typo) itu akan menunjukkan ke-amatir-an Anda. Blogger pemula harus belajar menjadi profesional sejak awal, dong. Kesalahan-kesalahan tersebut juga mengganggu pembaca — karena mereka malah akan fokus pada kesalahan Anda. Ingat kembali proses penulisan: researchdraftpublishedit.
  7. Sering ingin sempurna (perfect). Akibatnya jarang merilis (publish) tulisan. Terlalu banyak riset. Jadi bingung menuangkan ide-ide ke dalam suatu tulisan utuh. Atau sudah mulai menulis draft. Sarannya adalah tidak usah sempurna. Ada quote yang menarik bahwa, “Tulisan yang sempurna adalah tulisan yang tidak pernah ditulis”. Namun, untuk menyempurnakan, silakan rilis tulisan tersebut. Dan lihat bagaimana para pembaca anda memberikan komentar. Seiring waktu, Anda bisa memperbaikinya. Atau bahkan menghasilkan ide tulisan utuh yang baru.
  8. Inkonsistensi. Ada dua yang harus konsisten: (1) konsisten menerbitkan konten, dan (2) konsisten pada kualitas konten. Untuk yang kedua, kata lainnya adalah standard kualitas. Proses kontrol harus dijalankan sebelum tulisan terbit. Di sinilah pentingnya proses editing sebagai sebuah bentuk kontrol kualitas tulisan.
  9. Tidak promosi konten. Di era internet –sekaligus social media–promotion is a must. Bahkan promosi telah menjadi proses ke-5 yang harus dilakukan setelah research-draft-publish-edit.
  10. Belum menghimpun leads. Asumsi dasarnya adalah tidak semua orang cocok dengan konten kita. Dengan kata lain, konten kita pasti ada target pasarnya. Nah untuk target pasar kita, kita bisa mengoptimalkan hubungan antara konten kita dengan target pasar tersebut. Caranya adalah melalui berlangganan konten dari kita. Para pelanggan inilah yang kita sebut sebagai leads. Jadi dia harus submit email sehingga dapat menjadi pelanggan tetap kita. Plugin SumoMe yang membantu saya dalam menghimpun leads.
  11. Belum paham tipografi. Konten di blog tidak bisa hanya teks saja. Full text hanya membuat kita sakit mata. Sehingga pengunjung jadi malas membaca. Harus ada pembagian paragraf. Di mesin WordPress, sekali enter saja sudah cukup memberikan jarak antar paragraf yang baik. Jumlah baris maksimal dalam paragraf adalah lima baris. Dan lain sebagainya.

Demikian 11 pelajaran yang harus kita kuasai sehingga kita dapat beranjak dari sekedar blogger pemula menjadi blogger yang lebih profesional.

6 cara konsisten nge-blog

Di bawah ini ada 6 cara supaya sukses konsisten nge-blog. Cara (1), (2) dan (3) udah jadi saran yang banyak banget. Dan itu tetap “koentji” utama supaya bisa konsisten nge-blog. Saya coba tambahkan 3 cara yang lain ya di cara (4), (5), dan (6).

(1) Nge-blog terkait hobi. Karena hobi, maka langsung/tidak langsung akan melakukan pencarian bahan (riset) terkait tema tersebut. Hasil riset merupakan sumber bahan yang kuat dalam nge-blog.

(2) Topik gado-gado. Biasanya berasal dari pengalaman pribadi blogger. Kelebihannya adalah bahan yang luas untuk dijadikan artikel. Tapi kelemahannya adalah jadi kurang konsisten pada suatu topik tertentu.

(3) Tekad yang kuat. Pastinya harus ada niat dan tekad yang kuat untuk terus-menerus menulis dan mem-posting tulisan. Minimal niat semacam “biar gak kelamaan gak update”. Atau “kan udah bikin target satu minggu satu tulisan”, dst.

Nge-blog dalam suatu waktu itu ibarat lari –dalam suatu waktu tertentu–, menurut saya. Harus dimulai, dan harus sampai finish. Dalam bahasa saya, finish itu adalah mencapai jumlah kata tertentu. Contohnya ya 500-an kata tadi.

Kalau sedang ada ide, tapi tidak di depan komputer? Lebih baik ditulis dulu di smartphone kesayangan kamu –cie, yang ditengokin tiap saat selama 24 jam penuh, dari bangun pagi sampai tidur lagi, hehe–. Bisa di aplikasi notes biasa, atau yang siap synchronize kapan saja ketika ketemu internet –semisal Evernote atau Google Keep.

Minimal poin-poinnya dulu. Pengembangan lebih lanjut sebagai draft bisa pas sudah bertemu dengan wordpress.

(4) Kumpulan postingan. Bahas semua postingan kamu sebelumnya dalam sebuah artikel. Contohnya bisa dilihat di postingan saya yang (short) story of my life. Atau di new year resolution marketing. Keduanya coba merangkum beberapa postingan terkait dalam satu judul artikel.

(5) Pengembangan kata kunci. Cari inspirasi dari keyword apa yang pernah dicari oleh pengguna internet, sehingga dia kemudian menemukan blog anda. Nah tentu ada keyword yang ternyata sering muncul di suatu pekan, atau bulan tertentu.

Saya lihat postingan tentang nikah atau S2 ini banyak yang menyimak. Jadi saya dapat ide postingan lain yang masih terkait dengan postingan tersebut. Hasilnya adalah Kuliah S2 sambil Kerja dan Cara Menabung untuk S2.

Gunakan keyword tersebut untuk mengembangkan tulisan serta mengejar panjang tulisan. IMHO (Ini Mah Hanya Opini), artikel blog bisa kuat menyampaikan gagasannya jika disampaikan dalam minimal 500-an kata.

Di sisi lain, suatu tulisan bisa jadi pilar sebuah blog, konon ketika panjang tulisannya mencapai minimal 1000-an kata. Ini masih tantangan bagi saya dalam memenuhi target volume kata tersebut.

Untuk mengejar target, seringkali saya kaitkan dengan hal-hal lain. Seperti misal dalam postingan Sedikit tentang Sales dan Gap Komunikasi Pemasaran.

(6) Content planning. Nge-blog yang konsisten itu berarti nge-blog yang serius. Mungkin kontennya tidak serius, banyak fun, lucu dan penuh canda. Tapi ternyata blogger tersebut melakukan perencanaan konten.

Inilah nge-blog yang serius. Jadi di samping serius menulis, punya rencana penulisan juga. Setelah membuat rencana penulisan, yang harus dicicil berikutnya adalah draft tulisan. Kebetulan wordpress sangat membantu sekali dengan tombol “save draft”.

Jadi begitu ada ide, bisa dituliskan dulu sebagian. Minimal sebagai draft, syukur bila memang ada waktu dan bisa langsung klik tombol “publish”.

Nge-blog yang pakai content planning itu udah mirip organisasi media beneran. Mereka pasti tetap berusaha aktual ya. Ada peristiwa apa yang baru terjadi, dan berusaha diliput lengkap, detil, berikut analisisnya.

Akan tetapi, supaya bisa survive perusahaan media harus punya content plan. Semua media massa (majalah, koran, TV, dll) punya rencana materi dalam beberapa edisi ke depan. Minimal ada content plan (dan draft) sebagai pegangan dulu. Rilis materi bisa mengikuti wants (keinginan) audience saat itu.

Sudah ada 6 cara supaya bisa konsisten nge-blog. Mungkin dari kamu ada tambahan yang lain? Silakan komentar di bawah ya 🙂

Apa Itu Profesional Blogger

Akan datang saat di mana media massa tidak lagi dikonsumsi sebagai sumber berita yang paling dominan. Saat di mana surat kabar mengalami penurunan jumlah cetak produksi per harinya. Saat di mana berita televisi mengalami penurunan jumlah penontonnya. Saat di mana berita radio dan sumber berita yang lain mengalami penurunan jumlah konsumennya.

Karena sumber berita dan media itu semakin banyak, dan siapa saja bisa mengakses informasi (khususnya yang melalui internet). Media massa tidak akan hilang sama sekali, tetapi berita di media massa menjadi konten conversation di social media. Dan berita baru di social media bisa saja ikut di-publish oleh media massa karena popularitasnya. Di-retweet, di-share, hingga re-blog oleh banyak pengguna social media.

Akan datang saat di mana profesi wartawan tidak lagi dihargai seperti sekarang. Saat di mana profesi wartawan menemukan titik lemahnya. Titik lemah profesi wartawan yang tanpa kompetensi jelas di satu bidang tertentu, yang menulis berita tanpa dilatarbelakangi satu disiplin ilmu tertentu. Menuliskan berita secara umum saja, tidak mendetail hingga tataran filosofis.

Di era internet seperti sekarang, kecepatan pemberitaan semakin dituntut. Persoalan hadir manakala kecepatan pemberitaan berakibat pada kesalahan pemberitaan. Sebabnya adalah minimnya verifikasi terhadap informasi yang dituangkan sebagai berita. Wartawan sebagai pencari dan penulis berita terdesak waktu sehingga gagal menghasilkan berita yang benar, detil, dan mendalam.

Jurnalisme 2.0 adalah ketika aktivitas-aktivitas jurnalis dapat dilakukan dalam bentuk 2.0, atau melalui internet. Antarmuka (interface) web yang kini memungkinkan pengguna internet merilis konten jurnalisme dalam bentuk video, gambar atau tulisan. Anggota masyarakat yang semakin pintar tentu ingin menuangkan gagasan-gagasannya dalam ketiga bentuk konten di atas, ke dunia maya. Dan ini melahirkan para profesional dengan jenis aktivitas yang baru: aktivitas jurnalisme 2.0

Passion terhadap profesi yang ditekuni adalah satu dari sekian banyak alasan yang paling banyak dikemukakan oleh mereka, ketika kita menanyakan hal ini. Rasa cinta terhadap pekerjaan yang ditekuni mendorong mereka untuk berbagi. Forum/event rutin mungkin tidak selalu ada. Sebab itu mereka memaksimalkan media yang ada. Bisa lewat blog seperti wordpress atau blogspot. Atau situs microblogging seperti twitter, atau bisa hanya lewat notes facebook.

Yang hadir sekarang adalah para profesional di bidang masing-masing yang mengeksplorasi bidang pengetahuan yang dikuasainya untuk :

  • Menganalisis permasalahan yang ditemui di sekitarnya,
  • Memberikan solusi atas permasalahan yang terjadi, ataupun hanya sekedar
  • Memberikan komentar sesuai dengan latar belakang pengetahuannya.

Knowledge Worker. Saat ini adalah era dimana pekerja pengetahuan sangat diandalkan di bidangnya masing-masing. Mereka menjadi pencari berita dan penulis berita itu sendiri. Khususnya di bidang yang mereka tekuni. Media yang mereka gunakan adalah blog internet. Blog mereka dikunjungi banyak orang yang ingin mengetahui secara mendalam tentang bidang yang mereka kuasai. Mereka disebut Professional Blogger.

Personal Branding. Di samping memberi dan berbagi mengenai passion sekaligus karir/profesi, mereka juga membangun personal branding di ranah maya. Sebagaimana kita tahu, penetrasi internet yang semakin tinggi menjadikan dunia maya sebagai “dunia nyata” juga sebagaimana yang dunia yang sudah ada. Maya dan nyata semakin tidak ada bedanya dan eksistensi pribadi di dua dunia tersebut semakin penting. Lewat eksistensi di dunia maya, maka personal brand juga ikut terangkat.

Berikut adalah dua contoh fenomenal yang mungkin menginspirasi kita semua. Romi Satria Wahono adalah profesional di bidang komputer dan informatika. Situs pribadinya, http://www.romisatriawahono.net, berisi wawasannya tentang berbagai hal di dunia komputer dan informatika : internet business, knowledge management, opensource, dll. Triharyo “Hengky” Susilo adalah profesional di bidang rancang pabrik industri kimia. Kebetulan beliau juga CEO PT. Rekayasa Industri. Tulisan-tulisannya dapat dibaca di http://www.triharyo.com

romi-hengky

Mau jadi professional blogger? 🙂