Blog Analytics

Hasil mengobservasi rekan-rekan blogger, dikombinasikan dengan memahami parameter yang diberikan oleh Google Analytics, dan sedikit refleksi diri.

Beberapa waktu lalu, saya bertanya-tanya (wondering) soal parameter apa ya (blog analytics) yang cocok untuk kita pakai dalam nge-blog.

Nge-blog itu kan hobi ya. Apa iya yang namanya hobi perlu diukur? Pikiran ini pernah saya tuangkan di Betapa tidak pentingnya nge-blog itu ya, gaez. Ada beberapa pros and cons di sana.

Sebagai awal mula pembahasan, mari lihat grafik di bawah ini yang berasal dari SEMrush.com mengenai faktor-faktor apa saja yang paling penting dalam Search Engine Result Page (SERP). Simak urut-urutannya.

blog analytics
https://neilpatel.com/blog/bounce-rate-analytics/

Domain Authority (DA)

Tidak ada DA dalam daftar di atas.

Akan tetapi, teman-teman blogger di komunitas, paling hobi mengukur pakai DA/PA. Somehow, saya kurang berminat memakai parameter tersebut. Kenyataannya, angka-angka tersebut lebih banyak diacu oleh blogger yang menjual sponsored content atau placement content. Ya karena para pemberi sponsor juga sudah jamak menggunakan DA/PA.

Kalau kita mengacu ke referensi Niagahoster, dapat disimpulkan bahwa DA/PA adalah parameter yang mendeskripsikan seberapa searchengine-friendly si website tersebut. Skalanya 1-100; makin dekat 100 maka makin ramah ke google.com. Begitulah menurut si pengembang DA/PA, yaitu Moz.com.

Kira-kira kenapa Moz ini mengembangkan mesin digital tersebut? Tentu karena mereka menjual jasa yang terkait dengan parameter itu sendiri. Hehehe. Yaitu, jasa konsultasi supaya lebih terlihat (visible) di mata mesin pencari sehingga traffic dan ranking si website tersebut bisa naik.

Oke, selain Moz dengan DA/PA, ada siapa lagi? Ada Domain Rank dari ahrefs, CitationFlow dan TrustFlow. Demikian kata Moz selaku market leader di industri website analytic ini.

Bounce Rate

Untuk web secara umum, saya lihat banyak juga yang mengacu ke bounce rate. Yang mengukur bounce rate adalah Google Analytic. Kalau begitu, kita pakai definisi GA donk…

A website’s bounce rate is calculated by dividing the number of single-page sessions by the number of total sessions on the site.

https://www.hotjar.com/google-analytics/glossary/bounces/

Berarti, bounce rate adalah skor perbandingan antara jumlah pengunjung (visitor) yang langsung ‘cabut’ (alias satu page saja dalam satu session) dibandingkan dengan jumlah visitor yang melakukan kunjungan ke beberapa page dalam satu session.

Berapa bounce rate yang baik? Dari riset saya, tidak ada jawaban pasti yang berlaku untuk semua. Bergantung jenis web Anda. Ini satu yang bisa dijadikan acuan (dari gorocketfuel.com):

  • Bounce rates from 25% to 30% are most likely as low as you’ll see them with everything working correctly
  • The bounce rate for the average website is more likely to dance to the tune of 40 to 55 per cent.
  • Even a bounce rate of over 60% might not be bad. It all depends on the website, which is why it is important to set your own baseline.
  • A bounce rate below 20% or over 90% is usually a bad sign.

Time on site

Anything under 20 seconds is a major red flag, as that’s barely enough time for a visitor to look at the page, much less read its content. 40-50 seconds is a great start, as it means you have their attention. In general, anything over 2 minutes is the accepted standard for websites.

https://rankmonsters.org/website-analytics-benchmarks/

Page per session

Satu session itu satu kali kedatangan ke suatu website. Pengguna yang sama, datang dua kali ke suatu website, akan dihitung dua kali session. Jadi, page per session adalah angka rata-rata dari jumlah page yang dikunjungi di setiap session-nya.

The unofficial industry standard is 2 pages per session.

https://www.spinutech.com/digital-marketing/analytics/analysis/7-website-analytics-that-matter-most/

Lebih banyak halaman per sesi menunjukkan bahwa pengguna Anda sangat terlibat dan ingin menjelajahi lebih banyak situs Anda.

Di sinilah pentingnya memberikan beberapa internal link dalam 2 bentuk: SEO internal link dan plugin Inline Related Posts.


Jadi, apa kesimpulannya? Apa blog analytics yang paling pas dipakai? Tergantung tujuan blognya.

  • Kalau tujuannya cari sponsor, menaikkan DA/PA adalah segalanya. Sudah jadi acuan industri, baik pemain maupun sponsor.
  • Kalau ingin jadi blogger biasa saja, atau menjadi penulis yang lebih baik, saya kira adalah Page/Session dan Session Duration.
Catatan: Di “one year”, Bounce Rate-nya sebesar 62.72%.

Effective Proofreading

Kiat melaksanakan proofreading yang efektif. Agar naskah kita bebas typo dan kesalahan lainnya, serta enak dibaca oleh para pembaca.

Salah satu tugas penulis, adalah menyunting tulisannya sendiri. Penyuntingan ini dilakukan setelah setelah proses penulisan – supaya proses penuangan ide tidak bercampur-aduk dengan penyempurnaan naskah itu sendiri. Selanjutnya, penyuntingan dilakukan oleh copyeditor/proofreader

proofreading
Flow-nya tulisan tidak disebutkan di gambar ini. Padahal, flow tulisan juga termasuk yang perlu diperiksa ulang.

Satu aktifitas yang dilakukan dalam proses penyuntingan adalah proofreading. Yaitu upaya menemukan kesalahan dalam naskah –sehingga kemudian bisa disunting menjadi naskah yang lebih baik. Kesalahan yang dimaksud di sini termasuk kesalahan penggunaan tanda baca, ejaan, konsistensi dalam penggunaan nama atau istilah, hingga pemenggalan kata –di sinilah manfaat belajar suku kata di Sekolah Dasar (SD) dulu.

Maaf karena saya belum menemukan padanan proofreading dalam bahasa Indonesia, ya. Ada siy, yang menyebutnya uji-baca

Secara umum, tugas penyunting agak unik, memang. Satu di antaranya adalah berperan sebagai “ahli nujum” yang berupaya menemukan “apa yang tidak ada”. Misalnya, antar kalimat, paragraf, atau bagian lain dari naskah yang tidak masuk di akal, atau diskontinyu alias berhenti atau gak nyambung dengan bagian lainnya.

Proofreading Tools

Peralatan (tools) apa saja yang dipakai untuk proofread? Untuk naskah berbahasa Inggris, ada Grammarly.com (bisa diekstensi ke browser dan langsung proofreading naskah kita di Google Docs), Dictionary.com, Google Translate, Thesaurus.com, Oxford Dictionary. Yang terakhir saya sebut ini adalah buku kamus cetak English-to-English 4th edition (tahun 2011) milik saya. 

Dalam menggunakan berbagai perangkat tersebut, kita perlu mengenali elemen-elemen berbahasa yang dirasakan penting dalam suatu bahasa. Sebagai contoh, di Bahasa Inggris, perihal singular (tunggal) dan plural (jamak) ini penting untuk diperhatikan. Salah penggunaan, bisa disemprot oleh Grammar Nazi; sebutan untuk mereka yang menegur/memarahi orang yang salah dalam penggunaan grammar. Bahkan yang bukan Grammar Nazi pun, cukup memperhatikan perihal singular-plural ini. 

Untuk Bahasa Indonesia ada KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) dan PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia, dahulu EYD, Ejaan Yang Disempurnakan). Semua perlengkapan tersebut di atas merupakan alat bantu dalam menulis dan menyunting. 

Prinsipnya, bahasa adalah alat berkomunikasi. Poin utamanya bukan soal baku atau tidak baku yang mana kita bisa mengacu pada peralatan-peralatan tersebut. Namun seni berbahasa adalah bagaimana menyampaikan gagasan dengan kata dan kalimat yang dipahami oleh kedua pihak yang sedang berkomunikasi. 

Menarik memang sih, kalau memerhatikan bagaimana kita berbahasa di social media. Di instagram, facebook, twitter, blog, dan lain sebagainya, sering banget kita mengabaikan tata bahasa yang baku. Meski demikian, yang tidak baku demikian gak sepenuhnya salah, kok. Itu kan medium bersosialisasi. 

Pentingnya Tata Bahasa 

Mengapa dokumen -tertulis- hampir wajib hukumnya memiliki tata bahasa yang baik? Karena sesudah tertulis di sana, kita tidak akan tahu akan menyebar ke mana. Tidak hanya dokumen, konten blog yang ditulis dengan baik juga enak untuk kita sebarkan pranala-nya ke manapun juga. 

Bagi para pelaku usaha, wajib juga hukumnya memiliki proses penatabahasaan yang baik. Ini kaitannya dengan citra (image) profesional si perusahaan. Seberapa serius sebuah perusahaan dalam mengeksekusi proyek/produk, sedikit-banyak bisa terukur dari dokumentasi dan penulisannya. Misalnya, proposal penawaran, laporan proyek, laporan akhir tahun, dan lain dokumen-dokumen sebagainya. 

Di beberapa penerbit, ada kepala penyunting (editor-in-chief) yang ditargetkan untuk mencari naskah tambahan dari luar. Posisi ini biasanya cukup senior atau dicari yang berpengalaman. Karena harus punya perasaan dan intuisi yang valid terhadap potensi bisnis dari suatu naskah. Profesi ini sedikit sekali atau bahkan tidak lagi berkutat dengan tata bahasa suatu naskah.

Omong-omong, beberapa di antara kita masih keliru membedakan beberapa profesi yang sering tertukar definisinya satu sama lain: copywriter, copyeditor/editor/proofreader, dan editor-in-chief.

  • Copywriter : penulis periklanan, 
  • Proofreader : pemeriksa naskah 
  • Editor-in-chief : pemimpin tim editor, serta pencari naskah baru 

Tipografi 

Kata lainnya adalah komposisi. Jadi bagaimana suatu teks disusun: panjang kalimat, jumlah baris dalam paragraf, dan lain sebagainya agar koheren satu sama lain dan enak dibaca. Tipografi termasuk hal yang wajib diperhatikan para proofreader. Tulisan yang terlampau padat kata, belum tentu jadi sarat makna. Menjadi tugas para proofreader untuk mengefektifkan kalimat tersebut. Jarak antar paragraf yang terlampu dekat juga bisa menyulitkan pembaca.

Tipografi juga meliputi bagaimana penggunaan bullet points dalam menyampaikan gagasan kita. Senada dengan bullet points, image juga bisa dipakai untuk memberikan komposisi yang cantik dalam artikel kita. Di medium yang bisa dipercantik seperti blog, tipografi atau komposisi akan memberikan keterbacaan yang tinggi.

Lihat juga tulisan lain yang terkait: 

Ulasan Buku Iqbal Aji Daryono

Post kali ini mengulas buku dan profil seorang esais bernama Iqbal Aji Daryono. Termasuk bagaimana teknik penulisan yang biasa dia lakukan

Mari kita mengulas karya buku dari sese-penulis bernama Iqbal Aji Daryono, ya. Kebetulan beberapa minggu lalu saya baru tuntas mengikuti kelasnya. Mudah-mudahan ada kesempatan lain untuk mengulas kelas menulis online (KMO) tersebut.

Sependek pengetahuan saya, bukunya beliau ini ada lima. Ada dua karya buku hasil dari “menemani istri”-nya selama di Australia: Out of the Truck Box dan Tak Ada Kernet di Australia. Yang Out of the Lunch Box adalah kumpulan esai. Kamu mungkin tahu beliau awalnya populer dari mojok.co tetapi esai-esai beliau kemudian banyak kita temukan di detik, geotimes, dan lain sebagainya. Lalu, ada kompilasi artikel+komik yang dikemas “Apakah Seorang Pendosa Tak Boleh Lagi Berkarya?” dan renungan-renungan singkat tentang berbahasa dalam Berbahasa Indonesia dengan Logis dan Gembira. Rangkaian karya yang saya sebut mungkin tidak sesuai urutan penerbitan. Sentilan Iqbal Aji Daryono.

Beliau ini alumnus Balairung UGM. Itu adalah unit kegiatan mahasiswa (UKM) jurnalistiknya kampus gajah mada tersebut. Saya tentu tidak hafal siapa saja alumninya -saya aja gak sekolah di sana, kok – namun tiga orang di mantan kantor saya pernah aktif di Balairung. Setidaknya, para alumnus ini ada jejak sejarah pernah belajar, berlatih dan berpraktik menulis berita. Ya, namanya juga jurnalistik, ‘kan. Bukan youtuber yang mengaku hanya mewawancara tapi tidak mau bertanggung jawab atas isi kontennya. Hehehe.

Sebagai wirausaha di bidang penulisan, yang beberapa orang menyebutnya ‘writerpreneur‘ — saya agak nganu gimana gitu ya sama istilah ini– rupanya beliau ini sempat memulai usaha penerbitan di Jogja. Selain kota tugu tersebut, Bandung juga lumayan banyak penerbit indie-nya setahu saya.

Yang jelas, takdir beliau rupanya bukan sebagai orang ‘pabrik’ buku. Melainkan ‘public figure‘ di bidang kepenulisan. Beliau menyebutnya ‘esais’, yaitu menulis esai-esai yang kemudian dimuat di berbagai media digital. Iya, media digital. Media yang belum tentu berupa koran atau majalah layaknya media massa pada umumnya.

Beliau beropini kepada kami peserta KMO bahwa postingan di facebook maupun media digital pada umumnya, menuntut penanganan yang berbeda dari kita para penulis. Praktik-praktik penulisan yang memudahkan pembaca untuk skimming (instead of reading), format tulisan yang diberi jeda tiap berapa baris, dan seterusnya adalah serangkaian upaya media-media digital (termasuk kita di jendela facebook kita sendiri), untuk mempertahankan para pembaca guna tetap bertahan menelusuri kata demi kata yang kita ungkapkan. Ingin tahu lebih jelas, tentu kamu harus mendaftar dan ikut sebagai peserta KMO. Hehehe. Saya bantu promosikan ya, pak guru.

Yang hebat -dan layak kita tiru- adalah keterampilan beliau dalam menuangkan hal-hal yang mungkin tidak dipikirkan oleh kebanyakan orang. Pengalaman 4 tahun di Australia sebagai sopir truk/box saja bisa menjadi 2 buku. Ini butuh perenungan dan jam terbang ya, kata saya. Meskipun beliau meragukan bahwa kumpulan tulisan tidak seharusnya disebut buku kenyataannya artikel-artikel tersebut memang dijahit rapi dalam satu tema. Lagipula, sudah sekitar satu dekade barangkali ya, praktik penerbit dalam menyusun dan mengemas tulisan-tulisan di blog menjadi naskah buku yang kemudian dijilid (dibukukan).

Mungkin bisa jadi inspirasi kamu para narablog (blogger) ya untuk konsisten menulis sebanyak 35-40 blogpost dalam tema yang sama untuk kemudian dibukukan.

Sebagai public figure, beliau banyak menerima undangan ceramah maupun diskusi mengenai kepenulisan, literasi, per-buku-an, dan sejenisnya. Sedikit di antara kita menyadari, bahwa yang biasa menulis ternyata gak biasa ngomong di depan orang banyak (public speaking). Dan demikian pula sebaliknya. Jadi, beliau ini paket lengkap, sebenarnya. Eh, untungnya.


Membaca dan menulis itu ‘kan bagian dari beradab dan berbudaya ya. Di mana, tidak seharusnya KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) mengungkung dan mengekang kita dalam berbudaya itu sendiri. Saya sependapat dengan Mas Iqbal, bahwasanya KBBI adalah panduan dalam berbahasa; khususnya mengenai mana yang baku dan tidak baku. Jadi, KBBI tidak boleh menjadi kompas moral kita dalam berbahasa; yang menghakimi kita –sebagai pengguna dan penikmat berbahasa– atas yang benar atau salah. Ini adalah pesan yang saya dapatkan dari buku berwarna kuning dalam gambar di atas.

Hal lain yang menarik untuk kita teladani dari teknik penulisan mas Iqbal adalah bumbu-bumbunya. Ini perlu ada. Lagi-lagi supaya pembaca betah dengan rangkaian teks dari kita. Ibarat masak sayur, gak ada asin atau asam sama sekali malah gak enak; karena hambar membuat sayurnya tidak dikonsumsi. Jadi, pesan-pesan serius maupun bumbu-bumbu bercanda harus diformulasikan sedemikian rupa sehingga menjadi menu yang menggiurkan untuk disantap.

Apabila rekan-rekan pembaca sekalian bertanya, apakah buku-buku di atas perlu dikoleksi dan dibaca berulang-ulang? Saya menjawab, iya jelas. Kalau berminat dengan penulisan non-fiksi. Khususnya bagi anda-anda yang ingin menyampaikan gagasan serius dengan kemasan yang lebih menghibur. Yang terakhir ini memang seringkali dibutuhkan oleh para pendidik ya. Semisal dosen, guru, pelatih (trainer), atau pengajar.

Yang jelas, karya-karya tersebut merupakan kumpulan esai. Yakni pemikiran dan pengalaman yang direnungkan mendalam. Bukan suatu fiksi dengan karakter-karater imajinatif yang menjalani plot cerita tertentu.


Akhir kata, sebagaimana banyak membaca akan memperluas pengetahuan dan memberi bahan bakar untuk aktifitas menulis, maka menambah referensi penulis favorit juga sama pentingnya guna meningkatkan kapasitas kita sebagai penulis.

Baca juga ya, review buku Filosofi Teras.

Betapa tidak pentingnya nge-blog itu ya, gaez

merefleksikan pertentangan blogging vs kirim artikel ke media

Target rilis satu post setiap pekan kadang jadi beban juga ya. Karena sudah dijadikan target, terasa penting dan mendesak untuk konsisten dilakukan.

Namun, berbagai dinamika dalam kehidupan yang multidimensi ini, yang menghendaki segala sesuatu dilakukan serba cepat, beberapa hal (selain blogging) terasa lebih mendesak dan (tentu saja) lebih menuntut.

Padahal nge-post yang bermanfaat dengan kemasan yang menarik ya butuh waktu dan persiapan, tho? Gak bisa hanya buka laptop, ketak-ketik sebentar lalu langsung jadi post yang berkualitas. Satu pekan kadang-kadang gak cukup.

Beberapa pekan terakhir saya memang lagi bertanya-tanya (wondering) mengenai hal ini.

Premisnya adalah blogging memang tidak pernah akan mati, namun bagaimana kita -dengan segala keterbatasan sumberdaya- bisa menempatkan blog -sebagai sebuah personal media- yang tepat sasaran (efektif) tapi juga dengan energi minimal (efisien).

Curiosity saya ini didorong dari situasi dan kondisi dalam pelatihan yang sedang saya ikuti. Yakni training menulis esai, yang menariknya, sebagian kecil dari para peserta, ternyata secara signifikan mempengaruhi anggota kelas keseluruhan untuk mengirimkan naskah esai sesering mungkin ke media massa. Baik yang lawas semisal Kompas, maupun media kekinian seperti detik, tirto, mojok, rahma.id, qureta, dan lain sebagainya.

Oh, oke. Jangan emosi dulu. Mungkin beberapa di antara Anda masih gak setuju kalau Detik saya klasifikasikan sebagai media kekinian. Hehehe.

Selain gengsi ketika esainya dimuat di media-media tersebut, mereka juga mempertimbangkan “uang jajan” yang mungkin diperoleh. Makin menggiurkan angkanya, seleksi dari redaktur juga semakin berat. Dengan kata lain, ujiannya juga semakin berat untuk menembus media tersebut.

Perkara “uang jajan” ini memang gampang susah-susah. Dibilang uangnya gak seberapa ya benar juga. Toh, bagi banyak orang menulis itu gratis, kok. Idenya gratis. Aktifitasnya juga bukan menguras energi yang banyak. Alias nyaris tanpa modal.

Namun, kalau mau lebih serius dan tampil, menulis itu kudu berbayar. Nge-blog aja, ya. Misalnya dengan blog yang TLD (Top Level Domain). Berlangganan domain dan hosting yang dibayar setiap tahun yang nilainya bisa ratusan ribu.

Mau jago menulis secara otodidak ya jelas bisa. Tapi kalau mau lebih cepat, bisa diungkit lewat pelatihan. Alias modal lagi untuk membangun kompetensi diri.

Modal yang paling fundamental tentu membaca ya. Which is, buku harus masuk ke dalam anggaran pengeluaran rutin. Hukum membeli buku turun dari “wajib” menjadi “sunnah” kalau kita bisa meluangkan waktu dan tempat untuk pergi ke perpustakaan.

Yang mau saya bilang, pada akhirnya menulis adalah hobi yang pada akhirnya menyedot duit juga. Meskipun gak bisa disandingkan dengan hobi lari, atau hobi sepeda ya.

Hobi lari kan ikut event race-nya aja hampir menyamai biaya hosting+domain dalam setahun. Belum lagi harga sepatu, baju dry fit, aksesori smartwatch, dan lain sebagainya.

Sepeda ya sami mawon. Helm, sarung jok, botol minum + holder, yang ditotal-total ya lumayan juga harganya. Tapi itu gak seberapa juga dibanding dengan harga sepeda yang pada kualitas tertentu lebih tahan tabrakan daripada mobil kaleng-kaleng.

Balik sedikit ke soal menulis esai untuk media massa. Dari kursus daring tersebut, saya seperti tertampar-tampar bahwa menulis esai untuk media itu “a whole different thing” daripada blogging. Selama bergahul-ria dengan sahabat-sahabat blogger, masih banyak di antara kami yang kelewat PD. Mengaku blogger lha, bisa menulis – padahal masih banyak copas, secara berlebihan menganggap ini profesi, dst.

Maksud saya, kualitas dan pembacanya beda banget gitu, lho. Ada relevansi ide (timeless atau recency sama-sama bisa jadi faktor pertimbangan), cara mengungkapkan dalam wujud tulisan, dan lain sebagainya. Di sisi pembaca, kelas dan kuantitasnya sudah jelas lebih dulu ada daripada visitor blog yang angin-anginan. Pendek kata, menulis untuk khalayak ramai yang notabene bukan friend, fans, follower kita sangat tidak mudah.

Rekan-rekan blogger, kecuali saya, tampaknya hidup berkecukupan dari adsense, giveaway, dan kompetisi blog. Da saya mah ga paham monetisasi begituan… kumaha atuh?? Saya ngertinya ya proyek tulisan. Jadi kalau sukses post tulisan di blog, mengindikasikan kalau saya lagi sepi gawe…. hahaha… Padahal setahun sekali kita kedatangan tagihan domain+hosting yang wajib dibayar.

Jadi yang mau saya katakan itu adalah, betapa ada variasi yang demikian lebar di antara para blogger sekalian. Ada yang blognya demikian bagus hingga bisa menghidupi tidak hanya domain+hosting, tetapi juga sang empunya blog. Ada juga yang masih wanna-be-but-already-started.

Jauh di lubuk hati, kita semua meyakini bahwa nge-blog itu sama dengan nge-journal. Menuangkan refleksi, catatan, atau dokumentasi ke wujud tulisan. Di mana, satu di antaranya bersifat self-healing. Menyembuhkan luka-luka lama. Memaafkan tanpa melupakan kenangan. Menulis untuk diri sendiri.

Tentu saja kita semua sedang berproses, ya.

Tulis Judul atau Konten Duluan?

Dalam membuat tulisan, ada kalanya kita bingung mulai dari judul atau isi. Tulisan kali ini akan membahas bagaimana memaksimalkan kelebihan yang satu, guna menekan kelamahan yang lain.

Konten duluan.

Konten duluan sampai pada titik di mana, tidak tahu lagi harus menambah apa. Seperti kampanye #mulaiajadulu. Kebanyakan dipikir (baca: diriset) ya tidak akan membawa ke mana-mana. Kata Dee Lestari (tidak sama persis ya), fitrah sebuah ide adalah di alam bebas. Di alam bebas, dia akan menemui beragam dukungan, bantahan, kritik, saran, dan sebagainya. Dengan kata lain, hakikat gagasan bukan sekadar bertahan di alam pikiran semata.

Sutradara kenamaan macam Ernest Prakasa, juga menyarankan hal yang senada. Jadi, beliau memisahkan proses menulis dengan proses perbaikan (revisi). Sepanjang masih punya ide cerita, dan belum memasuki fase perbaikan (salah satu alasannya adalah deadline belum mepet), maka menulis lha terus.

Tugas kita sebagai penulis adalah “mematangkan” gagasan tersebut. Ibarat sungai, di sinilah pentingnya hulu dan hilir sebuah tulisan. Hulu, proses di mana kita mengumpulkan premis-premisnya. Berupa aktifitas riset (mengumpulkan bahan, membaca, menganalisis, membuat hipotesis), mengingat dan menyelami peristiwa-peristiwa yang berlalu dalam hidup kita sendiri (maupun orang lain), sampai dengan mengingat pikiran-pikiran kita di masa lampau tentang apa yang ingin kita tuangkan. Jadi, ada tiga macam klasifikasi untuk hulu.

That’s why kita perlu beberapa medium untuk menulis. Karena menulis adalah praktik melepas gagasan ke alam di luar pikiran, maka saya kira kita tetap perlu membedakan mana alam yang benar-benar jauh dan tidak bisa kita kendalikan, dan mana alam yang masih terjangkau serta menjaga rahasia-rahasia kita dengan baik.

Di medium-medium seperti buku yang dicetak penerbit, artikel media massa, kita tidak bisa mengendalikan keliaran pendapat khalayak umum. Dalam bahasa internet seperti sekarang, yaitu kata netizen. Namun kita masih bisa menjaga rahasia sekaligus mencatat ide dan ilmu di medium personal. Sebut saja jurnal, buku diary, rencana dan evaluasi aktifitas, dan lainnya. ide-ide yang kita tuangkan di format terakhir, adalah aset yang bisa kita tengok kembali dan aplikasikan di suatu ruang dalam tulisan.

Bagi saya, menulis adalah berpikir. Mengapa demikian? Sebab sebelum menuangkan sebuah kalimat, kita akan berpikir 2-3 kalimat ke depan. Bagaimana kita membahasakan sebuah gagasan berukuran mikro, bergantung pada bagaimana kita melihat kalimat tersebut dalam sebuah paragraf. Lebih jauh, peran sebuah paragraf dalam artikel keseluruhan, fungsi sebuah bab atau bagian terhadap isi buku secara umum.

Nah, kelebihan memulai tulisan dengan judul adalah kita sudah memberikan batasan yang relatif tegas terhadap isi tulisan. Namanya relatif, bisa dilanggar. Baik menjadi lebih luas (atau general), atau menyempit (alias fokus pada bahasan tertentu). Yang jelas, judul adalah acuan dalam perjalanan menulis guna menyadari garis finish (batas selesai). Kalau sudah selesai, boleh lha kita menengok sang judul kembali. Sudah tepat kah, sudah merepresentasikan isi kah, sudah memancing pembaca untuk membaca kah, dan lain sebagainya.

Fungsi Editing dan Peran Editor

Hilir, yaitu pentingnya fungsi editing dan peran editor.

Sebelumnya, saya sebutkan bahwa tulis apapun yang muncul di kepala untuk ditulis. Mumpung masih ada dan belum mampet (stuck). Sebab, masa-masa untuk perbaikan, revisi atau sejenisnya akan datang dengan sendirinya. Itulah yang disebut editing. Editing pertama dari diri sendiri. Alokasikan waktu untuk melakukan proses edit. Misalnya, hanya 5% dari total waktu untuk menulis. Di sinilah kita dapat berperan sebagai pembaca, dan menjaga jarak dengan diri kita sebagai penulis. Keluaran yang diharapkan adalah objektifitas dalam memandang karya tulisan tersebut.

Tentu diri ini sebagai pembaca, dapat kita belah menjadi dua. Baik sebagai pembaca yang berharap kualitas tulisan dari sisi bahasa. Maupun pembaca yang merepresentasikan konsumen tulisan secara umum.

Profesi editor, sebagai lapis kedua (namun utama), juga menjalankan kedua peran tersebut di atas. Alias berperan sebagai pemeriksa (checker) yang menjamin mutu (quality assurance) dalam tata bahasa, serta mewakili pembaca yang punya ekspektasi dan harapan tertentu terhadap isi maupun alur (flow) tulisan.

Tidak hanya keduanya, di beberapa penerbit editor pun berperan di hulu. Yakni memberikan pandangan (visi) dan saran kepada para penulis, tentang selera pasar yang sedang tren (dan yang sedang turun pula).

Reflection on 2019 site analytics

Tahun 2019 adalah tahun pertama men-swasta-kan domain dan hosting. Tadinya masih negeri; alias menumpang ‘host’ di server gratis milik WordPress. Setelah setahun ini, ada sedikit angka, data, dan statistik lain yang bisa direfleksikan barang sejenak. Kita mulai ya.

Sepanjang tahun 2019 ada 44 post. Meningkat 7 post saja (19%, lumayan) dari tahun sebelumnya. Namun average words per post-nya menurun dari 927 ke 711 kata. Turun sebesar 23%. Signifikan juga ya. Namun, tidak terlalu masalah. target saya kalau menulis adalah minimal 800 kata. Saya bukan tipe yang mentarget minimal 1500 atau 2500 kata. Masih termaafkan lha ya kalau sekitar 700-an saja. 

Pernah rasanya saya share di suatu tempat di blog ini bahwa 300 kata, meski sudah layak secara SEO, namun terlampau pendek untuk menyajikan cerita. Di sisi lain, 2500 kata sudah oke banget untuk SEO. Tapi lebih baik dibelah saja untuk artikel di pekan berikutnya; ini menurut saya lho ya. 

Tahun 2019 itu ada 7,453 page views dari 4,677 visitors. Artinya, satu visitor melakukan 1,59 page views. Artinya tiap pengunjung rerata hanya melihat 1-2 post. Sumber traffic terbanyak dari search engine, yaitu sebesar 3,707 pageviews. Sementara yang datang dari facebook dan Instagram sebesar 195 dan 128 page views. Dapat disimpulkan, lebih banyak dari mesin pencari daripada followers-nya social media saya. Sepintas tadi menengok setting page, tampaknya ada error di social share-nya –share via facebook & linkedin. 

Dari list yang sudah menyetor tulisan di komunitas 1m1c, hanya ada 41 page views. Lumayan juga, karena keanggotaannya hanya sekitar 100 members. Dari komunitas yang sama –tetapi sumber link berbeda– ada 3 (tiga) tulisan saya yang sempat di-klik dari sana:

Di antara 10 tulisan dengan page view terbanyak, hanya ada dua yang ditulis di tahun 2019. Yaitu: Review Buku Filosofi Teras (441 views) dan Menyelami Filosofi Rumah Panggung Suku Bugis (120 views).

Tiga-puluh-tujuh (37) post di tahun 2018 sebenarnya copy paste dari blog saya yang lama: http://ikhwanalim.wordpress.com. Seingat saya, tidak banyak yang saya tuliskan di tahun tersebut. Sebab lebih sibuk migrasi konten daripada menulis baru. Alhamdulillah di tahun 2019 cukup banyak tulisan yang benar-benar baru. Bahkan, ada kategori personal journal dan blogging/writing yang cukup banyak saya tulis. Selain itu, ada sedikit dari kategori marriage/parenting/fathering.

Khittah-nya blog ini seharusnya membahas topik sales/marketing. Eh tapi kategorinya malah ke mana-mana, yah. Dilema ini sudah bertahun-tahun saya rasakan — selama 12 tahun nge-blog. Ragu untuk memilih fokus menulis ide yang muncul di pikiran, atau mau fokus di kategori tertentu yang kita kehendaki sebagai positioning/niche-nya kita.

At the end, I took my decision to not overthinking the branding part. Jadi, saya tuliskan saja pengalaman, pikiran dan gagasan yang ingin saya bagikan. Tanpa harus feeling guilty karena si blog ini entah mau dibawa ke mana (if you sing, then you lose). Hehehe.

Tahun 2019 tampak belum ada postingan juara yang view-nya tinggi. Karena yang tinggi berasal dari tahun sebelumnya: Posisi Kerja di Dealer Mobil. Post ini view-nya tinggi karena post sejenis sedikit sekali di jagat internet. Sementara di Indonesia, konsumen kendaraan bermotor seperti mobil dan sepeda motor tinggi sekali. Tidak heran lowongan kerjanya pun cukup melimpah, sehingga pertanyaan seputar posisi-posisi pekerjaan di dealer juga banyak:

  • jabatan di dealer mobil 
  • jabatan-jabatan kerja di diler mobil 
  • cara kerja dealer kendaraan
  • tugas marketing di dealer mobil honda 

Rencana 2020

Bagaimana dengan tahun 2020? Rencana saya adalah berusaha seproduktif mungkin dalam nge-blog. Kalau satu tahun ada 52 minggu, maka idealnya ada 52 post kali ya. Tahun 2019 sudah terwujud 85%-nya.

Mau produktif menulis topik/kategori apa? Seperti saya ceritakan tentang dilema di atas, maka topiknya akan bebas. Sebagai ortu, mungkin postingan seputar topik parenting akan hadir pula. Mengingat, yang bersangkutan mulai sekolah di tahun ini. Tentang strategic marketing, mungkin topik seputar milennial dan leisure bisa dieksplorasi lebih mendalam. Personal journal jangan ditanyakan lha, ya. Itu topik paling tidak terencana, tapi paling sering ditulis karena experience dan personal story-nya.

Itu sedikit refleksi dari saya seputar hikmah-hikmah yang bisa diambil dari analytic machine di situs blog ini. Bagaimana dengan refleksi dan rencana blogging kamu? Saya tunggu pendapatmu di kolom komentar, ya 🙂

How to treat writer’s block

Saya merasakan, dua kali menunda menulis dan nge-post tulisan, maka selanjutnya akan lebih malas lagi. That’s why ada blog yang berdebu dan bersarang laba-laba kan? (Lebay banget).

Simpel. Karena sekali tidak nge-post, maka ghiroh untuk menulis juga menghilang. Perasaan excited setelah sudah posting, ikut menghilang. Seakan kita “lupa” rasanya, “lupa” pula jalan untuk kembali ke sana. Kalau mengaku sebagai penulis, sudah sepatutnya tahu cara untuk kembali ke sana dan merasakannya lagi.

Itu dari sisi “feeling” ya. Beda lagi dari sisi “konten”. Ada topik-topik tertentu, yang kita dengan mudah menuangkannya dalam bentuk tulisan. Dalam hal ini, perencanaan dan proses produksinya bisa sekali jalan. Katakanlah, hanya butuh Lead. Itu adalah sebuah kalimat atau paragraf pertama yang menjadi pancingan, dan entah bagaimana menunjukkan (to show) kepada kita akan “cara” untuk mencapai akhir (finish) dari tulisan. Seiring dengan terbiasa menulis, maka cara-cara tersebut akan semakin familiar.

Bagaimana dengan content planning? Ini adalah teknik lain ya untuk tetap produktif. Ada yang merencanakan kontennya di jurnal masing-masing secara offline ya. Ada juga yang tanpa rencana, langsung mengembangkan draft di blog masing-masing. Jangan heran kalau ada blogger yang punya puluhan draft tanpa deadline rilis yang pasti. Kalau saya, first draft-nya saya buat di Trello, sebuah mobile app, lalu saya pindahkan dan kembangkan lebih lanjut di Ms Word. Versi finalnya harus dalam bentuk Ms Word. Sekalian jaga-jaga ya kan, kalau harus migrasi blog (lagi).

Kelebihan dari planning the content adalah kita jadi punya kesempatan untuk melakukan riset lebih mendalam. Mencari, memperbanyak, dan menuangkan lebih lanjut beberapa perspektif terhadap suatu topik. Kita juga bisa menambahkan beberapa detil, angka, atau contoh yang memperkuat argumen atau gagasan kita. Kelemahannya jelas: riset itu tidak pernah mudah dan selalu memakan waktu. Banyak tidaknya waktu yang dihabiskan, tergantung seberapa panjang dan kokoh konten yang kita targetkan. Apakah sekedar artikel, atau bahkan dalam wujud buku.

Ikut komunitas

Yang saya rasakan, memulai untuk menulis lagi terasa lebih berat ketika kita terakhir melakukannya berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan yang lalu.

How to treat this type of writer’s block? Cara lainnya adalah dengan ikut komunitas. Di komunitas 1Minggu1Cerita (1M1C), grouping-nya ada dua. Di WhatsApp Group (WAG) dan di web www.1minggu1cerita.id. Kita akan di-kick secara otomatis dari web kalau tidak “melapor” atau “setor” (dalam bahasa anggota komunitas tersebut) pranala (link) artikel terbaru di blog, selama 6 (enam) minggu berturut-turut. Kalau sudah demikian, tinggal tunggu saya di-remove oleh admin dari WAG. Btw, saya salah satu adminnya. Tapi bukan saya yang nge-kick. Itu terlalu tega bagiku. Huhuhuhu 😀

Where to post my thought?

Untuk tulisan curhat (curahan hati, untuk yang belum tahu) yang biasanya bersifat “internal” saja, saya tidak post ke blog. Melainkan sekedar merangkai kata dan kalimat di Ms Word, lalu disimpan di laptop. Atau, dengan menuangkannya di personal journal saya. Jurnal tersebut tidak sebatas curhatan ya, berbagai rencana dan evaluasi juga saya tuangkan di sana. Dengan melakukan semua ini, saya seakan-akan sedang “berpikir, berbicara, dan berdiskusi” dengan diri saya sendiri. Sesuatu yang selalu dilakukan oleh seorang introvert.

Mengapa demikian? Saya kira tiap manusia punya dua dimensi ya. Dalam dan luar. Internal dan eksternal. Tidak semuanya bisa secara sembarangan ditempatkan. Ada yang bisa, ada yang tidak. Salah satu teknik yang mem-bisa-kan adalah dengan membagi tulisan tersebut ke dalam dua bagian. Pertama, bagian “curhat”-nya. Bagian kedua, tips and trick menangani situasi dan kondisi yang demikian. Sesuatu yang sebenarnya tidak selalu saya lakukan. Tapi bisa dilakukan kalau hatimu butuh wadah untuk menuangkan. Di sisi lain, tidak ingin memalukan diri sendiri. Bahkan, malah fight back dengan memberikan tips and trick mengatasi hal tersebut.

So, each of my thought has its own channel to publish. I hope you, too.

As for myself, saya melihat segala “eksternal” dan “luar” yang saya sebut di atas, sebagai suatu saluran yang seharusnya mem-branding diri kita. Untuk terlihat smart, cool, atau berbagai atribut keren lainnya. Yang mungkin ujung-ujungnya, tanpa bermaksud naif atau munafik, ternyata adalah “jualan”. Baik itu jualan produk, promosi event, atau semacamnya. Di sisi lain, saluran-saluran eksternal ini bisa juga kita optimalkan untuk hal yang sesederhana “berbagi kebaikan”.

Salah satu tantangan dalam ber-blogging ria, menurut saya adalah, bagaimana memisahkan ranah privat dengan ranah publik. Ada lho, blogger yang “dituduh” kelewat mengumbar kehidupan rumah tangganya. Sesuatu topik yang bagi blogger-blogger lain, tidak perlu diceritakan di medium blog. Topik-topik yang sekalipun kamu ingin sekali menuangkannya, tapi kamu tidak perlu merilisnya. Biarlah itu ditulis dan disimpan untuk dirimu sendiri.

Meskipun, harus diakui bahwa, sebagaimana saya katakan di awal, rutin menulis itu nyaris wajib hukumnya (hehehe), namun rutin nge-posting? Mungkin harus dilihat lagi ya. Mana yang bisa diposting di internet dan dibiarkan abadi berada di dalam sana. Dan mana yang didokumentasikan untuk dikonsumsi oleh diri sendiri, lagi, di suatu waktu nanti. Mohon maaf post ini tidak persis sama dengan judulnya. Tapi itu pendapat saya. Barangkali kamu punya pikiran lain? Silakan share di kolom komentar, ya.

Menyoal Minat Baca Kita Yang (Katanya) Rendah Itu

Katanya, minat baca kita rendah. Apa iya? Padahal event BBW di Jakarta, Bandung, Surabaya ramai terus. Bahkan mau diadakan juga di Balikpapan. Mari kita ulas dari daya beli maupun kemauan membaca kita.

Katanya, minat baca kita rendah. Tapi kok event Big Bad Wolf (BBW) di Jakarta, Bandung, dan Surabaya ramai dikunjungi? Surabaya sudah 2x lho. Bandung (raya) sekali, Jakarta satu kali. Tidak lama lagi, malah BBW akan diselenggarakan di Balikpapan di Kalimantan Timur.

Katanya minat baca kita rendah. Tapi event pameran buku di Jalan Braga saban tahun saya masuk Bandung, kok selalu ada ya? Penyelenggaraan yang konsisten berarti ‘kan memang pasarnya ada ya. Baik dari penerbit/distributor yang mengisi stand pameran, maupun masyarakat umum yang mengunjungi dan berbelanja di sana.

Katanya kita malas membaca. Tapi kok sepengamatan saya ke keluarga dan teman-teman, kita semua suka mengikuti keriuh-rendahan dan dinamika di grup Whatsapp (WAG), ya?

Tidak hanya WAG, teks-teks di facebook maupun Instagram (IG) pun ramai dibaca dan dikomentari. Bahkan di-share sedemikian rupa. Buktinya, user IG naik terus. Engagement nya pun terus ada. Facebook juga tidak kunjung mati. Bahkan semakin stabil posisinya pasca mengakuisisi perusahaannya WA dan IG.

Baru beberapa hari ini ramai (belum viral) suatu berita tentang politisi-politisi di seluruh dunia mengelola (tentu membayar) buzzer-buzzer (para pendengung) untuk membuat dengungan-dengungan yang relevan. Relevansinya bisa dua bentuk: dengungan yang cenderung mengaburkan berupa hoax yang membutuhkan usaha –dan waktu—untuk mengecek kebenarannya, serta mengamplikasi –syukur bisa sampai viral—keberhasilan dari politisi atau partai politik atau pemerintahan terkait.

Tidak Suka Baca Buku

Omong-omong, ada seorang teman di kantor yang mengaku tidak suka baca buku. Tapi saya yakin sekali, dia yang satu tim dengan saya ini, bukan malas membaca. Seperti saya, dia juga biasa melakukan riset. Tentu biasa membaca literatur (terutama artikel di blog atau situs macam Medium) donk yang diikuti dengan komparasi satu sama lain, dan diakhiri dengan sintesis atau desain ide tertentu. Dalam hal ini, proses bisnis.

Hal yang mungkin bisa ditanyakan ke dia adalah, kenapa bacanya artikel, bukan baca buku?

Fenomena yang lebih besar, adalah mengecilnya industri perbukuan. Gramedia, selain buku yang dicetak, sudah sejak lama memasuki buku elektronik (e-book). Bahkan punya toko daring sendiri di gramediaonline.com

Kita mengamini sendiri bahwa yang dulunya mengaku Toko Buku Gramedia kini brand-nya tidak lagi (sekedar) toko buku. Sudah jadi toko macam-macam. Ya alat musik, alat olahraga, setelah Alat Tulis Kantor (ATK). Tahu tidak, usaha non-buku ini sudah lebih besar omzetnya daripada usaha bukunya itu sendiri. Jadi jangan kaget ya kalau suatu waktu Gramedia juga menjual penggorengan di sana (setengah bercanda sembari mengutip pernyataan salah seorang rekan dahulu).

Di salah satu artikel di buku “Out of The Box”, Iqbal Aji Daryono berpendapat bahwa orang Indonesia itu bukan malas membaca. Segala statistik yang menyatakan bahwa literasi atau minat baca masyarakat kita itu rendah, sebenarnya bisa dibantah, begitu pendapat Iqbal. Menurutnya, bukan begitu rendahnya literasi kita, melainkan daya ekonominya yang tidak ada.

Mungkin, ini mungkin lho ya, ini pendapat pribadi. Daya ekonomi yang ewueh (Sunda: tidak ada) itu bisa berarti daya (kemampuan) belinya memang gak ada atau daya (kemauan) bayarnya yang tiada. Yang pertama, dasar ekonominya yang gak ada. Untuk makan saja sulit, boro-boro bayar sekolah atau pendidikan yang lain (salah satunya bacaan yang berbobot). Saya kira di Indonesia, masalah besarnya masih di sini. Yang kedua, uangnya ada tapi gak bikin anggaran untuk itu. Maunya yang gratis aja. Ya dari FB, WA, IG semuanya yang gratis (eh gak gratis juga sih, kuotanya kan bayar ya. Kecuali kuota gratisan dari Wi-Fi cafe atau kantor. Hihihi).

Kalau bercermin atau menganalogikan dengan pertelevisian kita (sorry agak melebar) yang free-to-air, ini ibarat mau nonton sinetron aja. Tidak bayar ini, kok. Hanya bayar listriknya TV saja sekalian dengan listriknya kulkas, mesin cuci, pompa air, lampu, dsb. Konsekuensinya ya harus mau menelan iklan-iklannya mentah-mentah. Ada yang bilang kalau iklan salurannya digeser saja. Sekaligus dengan konten-konten yang gak berkualitas dan cenderung mematikan logika. Padahal pindah channel ya dapatnya kulit-kulit berita, atau komedi slapstick (eh bener tulisannya gak, ya?) atau sinetron lain yang jalan ceritanya saja mengeryitkan dahi. Pendek kata, gratis kok njaluk quality. Bukan berarti konten-konten TV berbayar (paid TV) itu semuanya bagus. Yang jelek juga ada. Namun, kembali ke kita untuk menyeleksinya.

Poin saya adalah, yang berbayar saja tetap perlu usaha dari kita untuk mencari dan memilihnya, bagaimana dengan yang gratisan dan sulit difilter?

Paid TV awalnya berasal dari negara-negara maju di Barat. Di Eropa dan Amerika Utara sana, permintaan (demand) atas pendidikan sudah sedemikian rupa tingginya hingga institusi keuangan menjembatani user (pengguna) dan provider (penyedia) pendidikan lewat produk pinjaman siswa (personal loan).

Prioritas kita terhadap konten (sebenarnya konten apa pun masuk ranah pendidikan, ‘kan?) berkualitas mungkin belum tinggi ya. Tidak heran, komitmen kita untuk mengkompensasinya dengan sejumlah nilai rupiah tertentu juga masih rendah.

Tapi bisa saja bukan di sana masalahnya.

Superficial Thinking

Saya menduga akar masalah dan fondasi sebabnya berawal di kedalaman berpikir kita. Yeah, ini mirip dan menyerempet kedalaman membaca juga, sih. Karena membaca topik-topik yang dipikirkan dengan seksama, maka turut memikirkan topik tersebut hingga mendalam. Berlaku pula sebaliknya. Dalamnya apa yang dipikirkan berdampak pada kehendak untuk mengkonsumsi bacaan yang mendalam (atau tidak sama sekali).

So, ngalor-ngidul pagi ini bisa diakhiri dengan kesimpulan pentingnya membaca dan berpikir mendalam (deep reading and thinking).

Apa Saja Pertanyaan Umum tentang Blog?

Tulisan kali ini membahas frequently asked questions (FAQ) seputar blogging

Artikel kali ini membahas pertanyaan-pertanyaan yang sering ditanyakan (namun masih di area permukaan) tentang blog.

Bagaimana cara mulai ngeblog?

Ya mulai saja dengan bikin akun. Di wordpress.com, blogspot.com atau yang belakangan lagi naik daun: medium.com.

  • Kalau sudah punya akun, akan sayang kalau akunnya tidak dipakai mengisi blog.
  • Kalau sudah ada sedikit artikel, akan sayang untuk tidak diteruskan hingga menjadi banyak.
  • Kalau sudah mulai banyak tulisannya, akan sayang untuk tidak dilakukan secara konsisten,
  • dan seterusnya.

Dari mana ide datang?

Pastinya bisa dari mana saja. Habis baca buku, bisa jadi ide ulasan (review) buku. Ke toko buku, bisa dapat ide tulisan juga. Lakukan aktivitas yang baru sama sekali bisa jadi ide juga: mulai dari mengapa dilakukan, perencanaan seperti apa, pengalaman (experience) bagaimana, hasil apa yang didapat, dan seterusnya.

Platform blog apa yang cocok?

Saya pertama sekali membuat blog di blogspot.com. Entah bagaimana ceritanya, saya hijrah ke wordpress.com. Setelah 10 tahun bersama wordpress.com sekarang saya gunakan mesin WordPress berbayar dengan domain berakhiran .com. Target saya dengan blog baru https://ikhwanalim.com ini setidaknya akan saya gunakan selama 10 tahun ke depan.

Bisa dikatakan, saya cocoknya dengan WordPress. Tapi belakangan ini mulai ada CMS (Content Management System) baru bermerek Medium. Cukup menarik juga. Tapi tidak cukup membuat saya hijrah dari WP.

Bagaimana supaya blognya rame?

  • Perbanyak tulisannya.
  • Menulis yang panjang di setiap artikelnya.
  • Bikin pancingan di tiap akhir paragraf, supaya reader tidak stop membaca dan meneruskan ke paragraf yang baru.
  • Lakukan promosi ke akun social media (facebook, instagram, fan page). Saya bikin fan page Authentic Marketing di sini. Tolong di-follow ya 🙂
  • Pelajari statistiknya. Kenali siapa yang datang, dia datang karena kata kunci (keyword) yang mana, artikel (post) apa yang paling sering dikunjungi?
  • Bikin perencanaan konten. Terutama berdasarkan wawasan (insight) dari statistik yang sudah dipelajari. Riset Content Marketing ini bisa kamu pelajari.

Bagaimana caranya supaya bisa konsisten?

Bagaimana cara mulai menghasilkan dari blog?

  • Mulai menulis
  • Fokus di niche tertentu
  • Bermain Google AdSense
  • Membuat halaman profil dengan kontak email yang bisa dihubungi
  • Rutin gerilya mencari dan menawarkan kepada calon pembeli/pembayar, yaitu jasa paid/sponsorship content. Yakni kontennya di blog kita, dengan mereka mensponsori konten tersebut.

Anyway, saya meyakini tiap orang punya jalannya sendiri untuk sukses di dunia online. Terus terang, saya tidak menjalankan strategi tersebut. Blogging adalah cara saya membangun kompetensi menulis dan branding selaku penulis. Dan itu dengan sendirinya membangun channel untuk menghasilkan uang.

Gimana caranya supaya blog saya tampak keren?

  • Cari dan pilih theme yang bagus. Tidak heran, yang bagus biasanya berbayar.
  • Belajar teknologi Front-End (FE). Di antaranya adalah HTML, JavaScript, dan terutama CSS.

Ide tulisan dicatat di mana biar gampang dilihat lagi?

Kalau sudah publish, gimana cara terbaik untuk promosi kontennya? Saya pengin dapat PV banyak.

  • Lakukan promosi ke akun social media (facebook, instagram, fan page). Saya bikin fan page Authentic Marketing di sini. Tolong di-follow ya 🙂
  • Congkak juga di komunitas menulis kamu. Saya ikut 1minggu1cerita.

Lifestyle atau niche?

Lifestyle boleh, niche boleh. Masing-masing ada plus minusnya. Dengan strategi lifestyle berarti topik kita cenderung luas dan tidak terlalu sulit untuk bisa konsisten. Tapi ya itu, sulit berbeda dari kebanyakan blogger lain. Menurut pengamatan, saya melihat banyak emak-emak yang nge-blog tidak memiliki perbedaan yang signifikan di antara mereka. Jadi, proses diferensiasi yang dilakukan lewat personal experience-nya maupun teknik stroytelling-nya (penguatan karakter, plot cerita, dll).

Dengan strategi niche, maka konsisten akan lebih sulit. Karena segala prosesnya harus benar-benar kita pikirkan. Mulai dari perencanaan konten, penelusuran target pembaca, pendalaman kata kunci (keywords), dan lain sebagainya. Namun dari sisi pemasaran (marketing), strategi STP-nya sudah benar. Segmenting, Targeting, dan Positioning. STP yang benar dan konsisten, akan membawa kita pada kesuksesan. Cepat atau lambat.

From Brand Writer to Technical Editor

Metamorfosis (sesuai pekan ber tema dari komunitas blog yang saya ikuti) dari penulis pemasaran menjadi penyunting teknis.

Waktu saya masih culun dulu, saya meminati topik management dan marketing. How to manage and how to market something. Keduanya seperti dua hal yang sangat powerful. Selemah-lemahnya hal yang dikelola, selama dikelola (to be managed) dan dipasarkan (to be marketed) dengan tepat, maka akan berhasil.

Demikian keyakinan saya, hingga saya lebih sering mempelajari (dan menulis) topik-topik tersebut daripada pelajaran-pelajaran kuliah saya sendiri. Apalagi dulu saya kuliah di kampus teknik, ya. Tentu saja materi-materi tersebut sangat jauh berbeda –dan ada human factor-nya juga. Kalau di sains dan rekayasa (science and engineering) kita cenderung untuk mengeliminasi sama sekali faktor manusia, maka khusus topik manajemen dan pemasaran faktor tersebut sama sekali tidak bisa diabaikan. Bahkan cenderung, berpusat pada si manusia (dan organisasinya) itu sendiri.

Jadi kedua topik tersebut, wabil khusus topik pemasaran semakin saya pelajari dengan tekun. Bagaimana cara melakukan riset pasar, bagaimana mempelajari permasalahan klien lalu menyusun rekomendasi yang tokcer untuk mereka implementasikan, sampai menyusun materi pelatihan guna memberi inspirasi dan technical how-to bagi para peserta training.

Brand-ing

Dan satu irisan besar dengan marketing adalah branding. Bicara marketing, ya topiknya pasti branding. Wacana branding juga membahas marketing. Apa itu brand-ing? Yaitu, suatu upaya tanpa henti (continous process) dalam membangun merek. Sebagai penulis di bidang per-merek-an (brand writer), wajib hukumnya untuk mempelajari siapa calon pelanggan dari suatu merek.

Empathy: Putting our feet into their shoes.

Modal dasarnya adalah empati. Yaitu menempatkan diri ke dalam personal si pelanggan, untuk dapat memahami kebutuhan (needs) dan keinginan (wants) mereka. Keduanya dapat berwujud macam-macam dalam psikologi manusia. Salah dua di antaranya adalah kegelisahan (anxiety) dan hasrat (desire). Sederhananya: penuhi anxiety dan desire mereka, maka merek kita akan sukses dalam menepati komitmen yang sudah dijanjikan serta mungkin berhasil menjadi nomor satu di pikiran atau hati pelanggan. Itu contoh algoritma umum dari brand writer.

Persoalan dengan pelanggan sebagai “partner” kita dalam membangun merek adalah: pelanggan itu moving target. Target bidikan yang selalu bergerak. Dinamika produk dan layanan dari merek kompetitor yang memberikan opsi berbeda dari merek kita, dan dari pelanggan itu sendiri yang seringkali “galau”, “resah”, “bingung” menjadikan pekerjaan brand writer selalu dinamis. Kalau tidak mau disebut demikian, bisa dilihat sebagai tidak ada resep yang selalu berhasil. Dengan kata lain, semua kunci sukses bersifat temporer. Sehingga, kesuksesan tersebut bergantung pada kreatifitas kita dalam memandang, mempersepsikan dan mengeksekusi layanan-layanan riset, konsultasi dan pelatihan.

Internet Era

Di atas tahun 2010, kreatifitas yang saya sebutkan diatas ditantang lagi oleh medium yang namanya internet. Sejak internet semakin menjadi-jadi, semua informasi ada di dalamnya. Dengan kecanggihan dan perkembangan robot Google dalam menyajikan hasil pencarian, hampir semua (saya belum berani bilang “semua”, ya) ilmu pengetahuan ada di internet. Konsekuensinya, kliennya para konsultan bertambah pintar dibanding sebelumnya. Dengan kata kunci (keyword) dan kecenderungan (intention) yang tepat, klien akan menemukan wawasan (insight) yang mereka cari.

Berakhir di kantor konsultan sebagai penyedia layanan. Jasa konsultasi, sebagai layanan “meminjamkan otak” untuk berpikir, tidak lagi semudah dahulu dalam menghantarkan layanannya. Sederhananya, klien telah mengambil kesimpulan bahwa tidak semua proses berpikir perlu dialihdayakan (be outsourced) kepada konsultan.

Technical Documentation

Dahulu, dokumen teknis semisal “User Guide” atau “Manual Guide” sangat berpusat pada pengguna (user-centric). Term ini analog dengan konsep customer-centric (berpusat pada pelanggan) yang digaungkan para konsultan, khususnya konsultan pemasaran. Yang menarik pada saat itu adalah, pengguna adalah mereka yang memiliki literasi pemrograman atau literasi teknikal di atas rata-rata. Sebab, aplikasi digital masih banyak digunakan oleh mereka yang menjalankan fungsi-fungsi bisnis di perusahaan. Akuntansi, rantai suplai, dan lain sebagainya. Jadi, Manual/Guide yang dibuat masih sangat teknikal. Untung bagi saya, tatkala saya bergabung dengan sebuah IT company, saya tidak lagi bersentuhan dengan detil-detil yang sangat kental kerekayasaannya ini.

Manual/Guide yang sangat teknis tidak mungkin diberikan kepada dan digunakan oleh masyarakat umum seperti sekarang ini yang sudah sangat familiar dengan mobile application dari iOS/Android, seperti aplikasi Tokopedia, Bukalapak, Traveloka, dan Go-Jek.

Keberadaan para perusahaan unicorn tersebut lha dan ribuan perusahaan rintisan (start-up) lainnya, yang mulai menggeser dan menspesifikasi bidang dokumentasi teknis menjadi hanya pada pengoperasi-pengguna (user-operator) dengan suatu bidang yang kini kita sebut UX (user experience). Topik ini bisa kita bahas lain kali ya.

Being Editor

Alih-alih menjadi penulis dokumen-dokumen teknis tersebut, saya menjadi penyunting. Tidak hanya menyeragamkan penggunaan bahasanya, namun saya juga menyusun topik-topik yang wajib ada di setiap jenis dokumen. Mengingat dokumennya sendiri sangat beragam, mulai dari dokumen yang memetakan kebutuhan klien, dokumen yang menspesifikasi aspek-aspek teknis dari aplikasi yang akan dihantarkan, dokumen perencanaan proyek, dokumen-dokumen penunjang keberjalanan proyek, dan sebagainya.

Sebagai yang pernah belajar di kampus teknik, ternyata masa mendayagunakan kembali logika-logika sains dan rekayasa telah datang kembali pada diri saya. Tentu tidak sepenuhnya sama, karena dulu saya lebih banyak belajar material dari sisi saintifiknya, bukan dari sisi kerekayasaannya. Namun demikian, saya bergabung dengan nyaris tanpa cacat (seamless). Mungkin karena saya sedikit teknikal tapi mengerti bahasa. Atau banyak paham tentang bahasa (dan penulisan), tapi bisa nyambung kalau bicara teknikal.