Dua Tipe Penulis. Kamu Tipe yang Mana?

Bagi kamu yang ingin berprofesi sebagai penulis, salah satu fase yang akan dilalui adalah bertanya-tanya ke diri sendiri, tentang pola, cara, metode yang paling tepat dalam menulis.

Secara umum, saya melihat penulis itu ada dua tipe. Tidak ada benar atau salah di antara keduanya. Hanya cocok-cocokan saja dengan penulis itu sendiri. Setidaknya, dengan mengenali kita termasuk kelompok yang mana, maka harapan saya kita bisa menjadi lebih produktif.

Pertama, tipe yang sistematis. Tipe ini start-nya adalah kerangka buku (outline). Atau, bisa juga kita sebut ‘daftar isi’. Karena orangnya sistematis, tipe ini membutuhkan sesuatu yang berperan sebagai navigator. Di sanalah outline berkontribusi dalam memberikan petunjuk arah ke mana penulis harus bergerak menyusun konten demi konten.

Karena pola menulisnya sedemikian rapi, begitu pula dengan ‘manajemen proyek’-nya. Tipe penulis pertama ini wajib diberikan target waktu (dateline) kapan naskah harus selesai ditulis sebelum serahkan kepada penerbit.

Kedua, tipe yang ‘acak’ atau ‘random‘. Namanya juga random, jadi penulis tipe ini berangkat dari isi tulisan yang mana saja dan selanjutnya bisa bergerak acak ke mana saja.

Kelebihan (sekaligus kekurangan) dari tipe penulis ini adalah mereka harus menuangkan ide ke dalam tulisan kapan saja begitu ide tersebut datang. Ke-acak-an tersebut tidak hanya soal timing penulisan, tetapi juga medium penulisannya. Salah satu penulis yang saya kenal, mencorat-coret gagasannya lewat aplikasi speech-to-text dulu baru kemudian dirapikan supaya lebih enak dibaca. Bahkan, ada juga yang mewajibkan dirinya menulis di atas kertas dulu, lalu dipindahkan ke komputer.

Klasifikasi menjadi dua tipe penulis yang sudah disebut di atas, sesungguhnya merupakan pemodelan saja. Saya yakin, tidak ada penulis ‘sistematis’ yang tidak acak sama sekali. Karena keteracakan adalah wajah lain dari kreatifitas. Demikian pula, penulis yang ‘acak’ pun pada akhirnya harus merevisi tulisannya agar sistematis dan enak dibaca.

Menulis Naskah Video

Tulisan ini memuat langkah-langkah menulis naskah ya. Tidak ada format naskah di sini. Kamu bisa mencarinya sendiri.

Masih tersambung dengan post Video Marketing yang waktu itu.


Siapa bilang blogger hanya bisa bikin konten dalam bentuk yang terbatas?

Dengan kreatifitas dan konsistensi kita nge-blog, blogger pun bisa jadi scriptwriter, lho.

Jangan hanya meninggikan sutradara dan meremehkan penulis naskah, ya. Sebagaimana semua posisi punya peran dalam produksi video, maka penulis naskah pun tidak bisa dipandang sebelah mata.

Meskipun tidak terlihat mata, tapi karyanya benar-benar nyata!

Naskah itu ada dan dibutuhkan bukan oleh para pemain/artis saja, tetapi juga keseluruhan anggota tim.

  • Sutradara: tahu dan paham tata letak properti dalam set, serta bagaimana para artis akan berakting,
  • Logistik: tahu properti apa yang mesti disiapkan. Termasuk busana yang harus disiapkan. Pakaian ‘kan juga merepresentasikan peran dari tokoh yang dibangun,
  • Keuangan: tahu berapa uang yang harus disiapkan. Lalu membuat rencana pencarian dana (dan bila perlu utang),
  • Dll.

Jadi, sang penulis naskah harus bisa menuangkan imajinasi dan visualisasinya (yang mungkin merupakan hasil diskusi dengan sutradara dan produser juga), ke dalam teks; sesuai kebutuhan peran-peran di atas.

  • Pemeran butuh teks yang ringkas, padat, dan sesuai percakapan lisan (ini mirip dengan menulis percakapan dalam fiksi, tetapi tidak persis sama)
  • Menulis dengan kalimat dan paragraf yang pendek itu sama dengan Technical Writing. Beda yang dirasakannya saja, hehe.
  • Namanya menulis cerita, sesuai standard cerita saja: ada TOKOH yang biasanya melakukan apa, kemudian mengalami MASALAH apa, dan bagaimana dia mengeksplorasi, menemukan, lalu melaksanakan SOLUSI tersebut.

Berikut ini saya tuangkan, bagaimana kita membawa perspektif kita dalam berpikir dan menulis di blog, menjadi sebuah naskah.

Riset

Menulis memang bisa berangkat dari pengalaman pribadi. Tapi lebih valid kalau kita bertanya atau mencari tahu lebih lanjut mengenai pengalaman sejenis dari orang lain.

Selain memvalidasi pengalaman atau masalah pribadi tersebut, aktifitas ini akan membantu kita menemukan titik terang (atau jawaban) dari pertanyaan “Bagaimana membuat penonton cerita ini merasa terhubung dengan premis tersebut?”

Sebagai sebuah produk atau karya, wajib banget kita merumuskan perbedaannya dibanding produk/karya sejenis. Dan itu dibantu oleh riset yang cukup. Seperti Pandji bilang,

Sedikit beda lebih baik daripada sedikit lebih baik.

Pandji Pragiwaksono

Menilik perihal diferensiasi di atas, itulah pentingnya kita mencari dan menemukan keyword atau keypoint yang harus ada untuk kemudian diramu ke dalam naskah.

Riset itu harus dilakukan, tapi juga tidak bisa dipaksakan harus selesai dulu baru lanjut ke aktifitas berikutnya. Namanya project management, seringkali harus maju dulu, nanti mundur sedikit menyelesaikan PR yang tertunda.

Penulisan

Tulis dulu semua yang ingin ditulis. Baik soal tokoh, situasi/suasana set, alur, hal-hal yang dihadapi, dst. Sampai kering isi kepala, hehehe.

Setelah semua bahan tersedia, mari kita sambungkan satu demi satu menjadi sebuah alur cerita yang utuh. Kalau ketemu sesuatu “lubang” yang tidak masuk akal, benahi satu demi satu.

Kalau alur cerita sudah jadi, apakah selesai? Tidak juga. Tergantung. Mari masukkan elemen penonton.

Maksud saya, karya ini tetap harus menghibur, ‘kan? Iya. Perlu dicatat, menghibur (to entertain) tidak harus memancing tawa (make laugh), ya. Bisa juga menghibur dalam bentuk lain.

Dan syukur alhamdulillah kalau ada part yang memorable. Di sanalah peran penulisan yang tidak kalah pentingnya di luar alur cerita.

Kita lanjutkan ke penyuntingan (editing), nanti kita bisa kembali ke penulisan bila dirasa perlu.

Penyuntingan

Tentu cerita harus ditulis secara padat (concise) ya. Tidak ada bagian yang tidak perlu.

Di sinilah penyuntingan berperan mengikis lemak-lemak yang mengganggu.

Kita ingat, visualisasi, dan validasi kembali fungsi dari masing-masing bagian dari cerita yang sudah kita tulis. Mana yang berperan sebagai pemberi pesan, mana yang menghadirkan hiburan, mana yang sengaja dibuat supaya karya ini mudah diingat, dst.

PENUTUP

Demikian saya tuangkan langkah-demi-langkah yang pernah saya lakukan ketika menyusun naskah video untuk pengenalan perusahaan (company introduction).

Eits, jangan salah. Meski hal seserius perusahaan dan bisnisnya, tetap dibutuhkan penokohan dan alur cerita, lho.

Kamu ada pengalaman sejenis? Tuangkan di kolom komentar ya.

Baca juga tulisan lain saya seputar WRITING ya.

Belajar Copywriting

Belajar copywriting itu penting banget. Implementasinya bisa di mana-mana: facebook, instagram, tokopedia, shopee dan content writing.

Copywriting adalah teknik menulis bertujuan untuk memasarkan dan menjual sesuatu, pada medium dengan kapasitas terbatas. Dengan kata lain, belajar copywriting adalah mempelajari teknik menulis dalam pembuatan iklan.

FYI, di agensi pembuat iklan, posisi penulis tersebut diberi nama copywriter.

Medium untuk menempatkan copywriting bisa di mana saja. Dua yang cukup sering di era digital sekarang ini adalah Facebook dan Instagram.

Belajar Copywriting Facebook

Salah satu tekniknya adalah menuangkan kerentanan (vulnerability) kita di facebook. Lalu menutupnya dengan suatu kalimat penawaran.

Contohnya adalah kerentanan kita untuk terkena radang tenggorokan, sariawan, dan penyakit sejenisnya. Kita tutup dengan konklusi penawaran untuk menggunakan produk sejenis vitamin C, misalnya. Supaya kerentanan kita tidak terealisasi menjadi penyakit.

Tentu saja polanya tidak harus seperti itu. Algoritma Facebook menuntut kita untuk nge-post sesering mungkin (facebook menghendaki engagement kita yang tinggi). Jadi, rutin nge-post, meskipun kontennya tidak melulu kerentanan+solusi. Alias tidak harus selalu jualan.

Teknik Copywriting Instagram

Terbatas hanya 2.200 karakter.

Di Instagram tuh ada yang “bercerita” lewat gambar (minim teks), ada pula yang memberikan cerita (mengandung karakter + plot) pada gambar yang sudah ada.

Ada juga metode PPB dari Brian Dean.

P – Preview: beri tahu pengguna apa yang akan mereka dapatkan dari Anda.
P – Promise: ceritakan bagaimana si “apa” itu akan menyelesaikan masalah pengguna/pembeli.
B – Bridge: gunakan frase transisi untuk membangun jembatan logis ke CTA (Call to Action) Anda.

Contoh – Produk Vitamin C.

Preview: manfaat vit C adalah bla, bla.
Promise: bagaimana menggunakan si vit C. Kapan digunakan, aturan pakai bagaimana, dst.
Bridge: Apabila anda sedang merasa tidak enak badan, gunakan vit C sesuai dosis. Jangan diabaikan perasaan tidak enak badan tersebut, jangan juga minum vit C berlebihan.

Belajar Copywriting Marketplace

Kuncinya ada 3: penempatan produk di kategori yang tepat, pemberian judul, dan pengisian deskripsi.

Misalnya, “mainan anak perempuan” diletakkan di kategori “mainan anak”, saja, maka hasilnya akan lebih buruk daripada disimpan di kategori “mainan anak perempuan”.

Baik di Tokopedia maupun Shopee, fokus memberikan “Judul” yang mengandung keywords yang dicari oleh pengguna. Ini pentingnya melakukan riset produk dan kata-kata yang digunakan ya. Produk yang sama, bisa saja ditawarkan di toko lain dengan judul berbeda. Misalnya “baju olahraga muslimah” adalah produk yang sama dengan judul “kaos olahraga wanita”.

Contoh lain: “daster ibu-ibu” atau “ibu daster” tetap dibaca sebagai “daster ibu”.

Di samping itu, kolo Deskripsi harus diisi selengkap dan sedetil mungkin. Selain informasi yang benar-benar berasal dari produk itu sendiri, bisa juga diinspirasi oleh kata-kata kunci terkait. Insipirasinya dari mana? Bisa dari kata kunci yang disarankan oleh ubersuggest.

Mengapa demikian? Karena mesin pencari di marketplace bekerja dengan cara yang relatif sama dengan Google, yaitu: crawling, indexing, dan ranking. Kapan-kapan kita bahas ini ya.

SEO Copywriting for Content Writer

Beda Copywriter dengan Content Writer. Kalau Copywriter fokus pada wording untuk pemasaran, maka Content Writer fokus memberikan manfaat berupa konten yang panjang dan lengkap isinya kepada pengguna. Yang pada akhirnya, kita berharap kesetiaan pengguna pada merek produk atau layanan kita.

Salah satu caranya adalah mengimplementasikan teknik-teknik SEO dan copywriting ke dalam tulisan-tulisan yang dibuat. Teknik SEO membantu tulisan kita mencapai peringkat puncak di SERP (Search Engine Result Page).

Sebagai pengguna WordPress, saya menginstal plugin Yoast SEO. Dan berusaha memenuhi parameter-parameter yang diberikan oleh plugin tersebut dalam tiap konten yang saya buat. Di antaranya adalah:

  • Text length
  • Outbound and internal link
  • Key phrase in introduction, title, and slug
  • Key phrase length and density
  • Key phrase in meta description
  • Meta description length
  • SEO title width

Freelance Writer

Dua bidang freelance writer yang saya tahu cukup populer adalah media fesyen dan gaya hidup (lifestyle).

Fashion content writer

As we know, fesyen adalah etalase untuk menampilkan siapa diri kita dan di mana posisi sosial ekonomi kita. Media fesyen berperan penting dan dirujuk oleh para konsumen yang memberikan perhatian lebih pada apa dan bagaimana mereka berpakaian.

Kurang lebih selama setahun, saya pernah menjadi kontributor di media online fesyen, yaitu modest.id. Koleksi tulisan saya bisa dilihat di sini.

Lifestyle content writer

Istilah ‘gaya hidup’ mengacu pada perilaku manusia yang timbul akibat modernisasi. Mulai dari entertainment (seperti musik, olahraga, games), travelling (baik destinasi maupun transportasinya), kuliner, serta kendaraan (mobil, motor) . Bahkan fesyen bisa masuk dalam lifestyle, tergantung bagaimana menggolongkannya.

Travelling content writer

Kategori travelling pun sudah beberapa tahun terakhir menjadi primadona untuk dibuatkan kontennya. Terutama sejak keberadaan Online Travel Agent (OTA) seperti Traveloka, Agoda, Pegipegi, Booking.com, Tiket.com, dll.


Dapat disimpulkan bahwa belajar copywriting itu penting. Dengan mengimplementasikan copywriting, membantu kita untuk memberikan informasi dan pengalaman yang lebih baik bagi pembaca. Copywriting bisa diimplementasikan di status facebook, caption Instagram, judul dan deskripsi produk marketplace, hingga konten artikel yang panjang dengan pembahasan mendalam.

Domain, CMS, dan Hosting

Pahami perbedaan domain, engine dan hosting. Supaya tidak bingung dan bisa mengoptimalkan ketiganya untuk blog atau website kamu.

Saya coba menuangkan ke dalam tulisan ini karena pertanyaan seputar Domain dan Hosting rupanya tidak ada habisnya di antara para blogger.

Dua analogi yang biasa dipakai:

  • Plat mobil dan mesin mobil
  • Kotak pos dan rumah

Sejauh pembahasan seputar WordPress dan Blogspot, kedua analogi tersebut tidak apa-apa dipakai.

Dengan domain dianalogikan seperti plat mobil atau kotak pos. Sedangkan hosting adalah mesin mobilnya, atau rumahnya.

Sebelum lanjut, kita wajib ketahui dua hal ini mengenai keduanya:

  • Di WP, ada wordpress.com (sebuah hosting) dan wordpress.org (sebuah engine). Ketika nge-host di wordpress.com, kita juga ditawarkan layanan untuk beli dan pasang domain, kok. Harga domainnya bagaimana? Sangat mahal dibanding kita beli di Indonesia.
  • Di blogspot, ada hosting dan engine-nya juga. Blogger nama engine-nya kalo gak salah.
  • Perbandingan WordPress (.org dan .com) dengan Blogger sudah dibahas kakak Reisha ya.

CMS

Ketika teman-teman blogger mulai menanyakan platform lain, katakanlah medium.com, atau Kompasiana, atau tumblr, di sinilah kita perlu mengenalkan “Engine”.

Engine atau disebut CMS (Content Management System) sebenarnya sudah ada sejak awal. Sesuai namanya, ini adalah aplikasi digital untuk mengelola (to manage) konten.

Berhubung CMS dan hosting di WP maupun Blogspot bisa dikatakan sudah menjadi satu, maka Engine ini kurang disebut dan dibahas. Padahal ya sudah ada sejak awal.

Sebagai pengguna WP, izinkan saya promosi WP ya.

Selain ada versi gratis, WordPress juga relatif murah; terutama bagi blogger. Dibandingkan dengan CMS yang banyak digunakan di pasar korporat, semisal: Sitefinity atau Sitecore.

WordPress juga relatif modular. Ibarat lego, dia terdiri dari building blocks kecil-kecil yang bisa dipasangkan dan disambungkan satu sama lain. Kekuatan dari merek WP adalah plugins yang mudah ditempel dan tinggal dikonfigurasi dengan sistem WP utamanya. Plugins ini banyak dari pihak ketiga. Yang tentu sudah mendalami kebutuhan para penggunanya.

Contoh adalah plugin Elementor. Plugin ini bisa digunakan untuk mendesain Landing Page. Yakni, suatu halaman tempat user “mendarat”.

Hosting

Terus hosting yang dianalogikan dengan mobil atau rumah ini apa?

Kalau sebelum zaman internet, kita menyimpan semua data di dalam hardisk di dalam personal computer (PC) kan? Di mana, kalau kita ingin memindahkan ke laptop/desktop lain, via flashdisk.

Nah di zaman internet yang serba terhubung, kita tidak perlu menjadikan PC kita sebagai komputer server (penyedia). PC kita sebagai pengguna saja. Siapa penyedianya? Ya jasa hosting tersebut.

Jadi, semua data konten kita, maupun CMS yang menjadi aplikasi digitalnya, disimpan di hosting tersebut. Biasanya para penyedia hosting menggunakan aplikasi CPanel (suatu portal digital) untuk memudahkan user bermanuver ke sana ke mari.

Contoh jasa hosting: idcloudhost, niagahoster, rumahweb, qwords, dan lain sebagainya.

Kalau mau berbaik hati membeli via affiliate saya dan mendukung blog ini, bisa ke link afiliasi ya.

Hosting Unlimited Indonesia

Penyedia jasa hosting, selalu menyediakan jasa domain juga. Belinya bisa jadi satu, bisa terpisah juga.

Ingin mempelajari lebih detail soal hosting? Bisa ke penasihat hosting aja.

Domain

Beberapa minggu lalu, saya tidak bisa transfer domain ke penyedia hosting yang berbeda, karena ternyata kalau mau pindah itu, setidaknya punya cadangan usia sebanyak 90 hari ke depan. Padahal, inginnya mempermudah pembayaran dengan membeli jasa domain+hosting di pedagang yang sama.

Akhirnya hosting sudah aktif setelah transfer, tetapi domainnya belum bisa ditransfer. Akhirnya perpanjang di tempat lama, deh. Supaya ikhwanalim.com-nya bisa diakses oleh teman-teman sekalian. Jadi, hosting dan domain saya saat ini, berasal dari penyedia yang berbeda.

FYI, biasanya kan sewa domain tuh setahun, ya.

Nah, domain yang sering dianalogikan dengan plat mobil atau kotak pos ini ibarat muka-nya suatu hosting. Sekaligus menjadi cara singkat untuk menuju si interface (antarmuka) yang namanya blog kita.

Kenapa cara singkat? Karena kalau ingat domain/URL-nya kan tinggal ketik aja di browser (peramban) fave kita. Dengan kata lain, domain juga untuk branding kita. Punya (dan memelihara) domain adalah bagian dari personal branding ya, tho?

Bagaimana implementasi domain sebagai personal branding? Saya kutip dari kakak Reisha lagi ya:

… dulu domain itu pilihannya dikit bgt, .com, .net, .org, .gov gt2, dan dulu tergantung peruntukan. Misal .com utk bisnis, .org utk organisasi.

.gov tuh hanya untuk situs pemerintah (yang tentu saja harus dibuktikan ke-pemerintah-annya ke si penyedia hosting). Domain .id divalidasi dengan no KTP. Untuk keperluan perusahaan, juga ada beberapa dokumen perusahaan yang diperlukan.

Tp skrg2 domain udah banyak bgt. .club .fun .design .site .blog, macam2 bgt.

Iya. Utk branding jg bs. Misal nih si budi designer. Bs aja dia bikin web portfolio budidesign.com, tp budi.design tampak lbh ok

Kesimpulan.

Cari domain, CMS dan hosting yang cocok relatif mudah, kok. Meski mungkin harus bermanuver ke berbagai jasa hosting dulu. Biasanya untuk cari yang lagi diskon, hehe. Gapapa. Manuvernya satu tahun sekali.

Di sisi lain, transfer hosting/domain juga engga susah-susah banget. Yang susah adalah konsisten “mengamankan” semua konten kita demi jaga-jaga kalau migrasi dari satu jasa hosting ke jasa hosting yang lain gagal berbuah keberhasilan.

Ada pengalaman lain perihal domain, engine atau hosting? Boleh banget dibagikan di kolom komentar.

Baca juga tulisan lain saya perihal Blogging/Writing ya. Terima kasih.

Interview 101

Tatkala mencari tips mewawancara narasumber rupanya masih sedikit ya di internet. Ada teori jurnalistik juga. Namun didominasi oleh tips wawancara kerja. Sebab itu, saya menuangkan temuan dan pikiran saya dalam tulisan ini.

Dalam proses membuat konten, riset adalah elemen penting yang biasa saya lakukan. Ada macam-macam teknik riset, baik riset primer maupun sekunder (lewat referensi). Riset primer berupa survei responden (kuantitatif), wawancara dan diskusi fokus grup (kualitatif). Saya biasa melakukan untuk penulisan artikel maupun buku (ghost writing). Tulisan kali ini membahas teknik wawancara narasumber (narsum) saja.

tips mewawancara narasumber

Bagi saya, tips mewawancara bisa dibagi dua, sebelum dan pada wawancara itu sendiri.

Sebelum Wawancara

Berusaha menggali informasi tentang narasumber. Latar belakang (pendidikan, profesi, orang tua) maupun karya/aktifitas terbaru atau belum lama ini dilakukan. Apabila Anda mengerjakan tahap ini dengan baik, berarti sudah separuh kesuksesan dalam mengambil data/informasi, atau wawasan (insight) melalui wawancara.

Menggali informasi ini harus above-average ya daripada netizen kebanyakan. Kalau telusuri akun twitter, instagram, linkedin, facebook seseorang juga sudah sering dilakukan oleh netijen. Jadi harus lebih smart ya.

Pesan Pandji dan Helmy Yahya: jangan sampai menanyakan pertanyaan yang banyak ditanyakan oleh orang lain; dengan kata lain: jangan mengulang pertanyaan media.

Caranya gak susah sebenarnya, yaitu cari tahu saja dia biasanya ditanya apa oleh wartawan. Lucunya, yang begini bisa diriset langsung ke narasumber, hehehe.

Perlu kita ketahui bahwa, narasumber sendiri inginnya ‘mengobrol’. Bukan sekaku tanya-jawab-tanya-jawab, ya. Jadi, tidak ada salahnya juga kita bridging dengan berbagai pengantar –berfungsi juga untuk membuat pendengar tahu. Bagi audience yang belum paham, kesannya kita menghabiskan waktu ya. Padahal kita hanya ingin narasumber merasa nyaman dengan kita, lalu bisa plong menceritakan pengalamannya.

Ketika Wawancara

Secara umum: Jangan terlalu kaku. Perbanyak humor atau basa-basi sebelum memasuki inti pertanyaan yang serius.

Untuk setiap pertanyaan wawancara, sebaiknya Anda minimal punya dua kalimat. Kalimat pertama sebagai pengantar, kalimat kedua untuk pertanyaan itu sendiri. Pentingnya persiapan sebelum wawancara adalah untuk mengembangkan para pengantar ini.

Pilihan kata-kalimat yang baik untuk menjembatani pertanyaan, juga akan lahir dengan sendirinya tatkala kita “berperan” sebagai teman yang baik (apalagi kalau kita memang sudah mengenal baik narsum sebagai kolega kita ya). Dengan kata lain, keterampilan “building rapport” atau membangun keakraban adalah penting untuk dikuasai oleh pewawancara.

Keakraban yang dibangun belum tentu sama semua, ya. Bagaimana berhubungan dengan yang lebih tua/senior, seusia/segenerasi, maupun dengan yang lebih muda/junior/newbie di bidangnya.

Saat ini, wawancara bukan lagi dominan periset maupun jurnalis. Wawancara sudah bertransformasi menjadi bentuk hiburan (entertainment) yang baru.

Kalau sepuluh tahun lalu, wawancara dilakukan oleh para jurnalis di program berita, lalu oleh jurnalis di program talkshow, kini mulai banyak non jurnalis yang melakukannya di talkshow. Sebut saja Deddy (Cahyadi) Corbuzier dan Pandji Pragiwaksono. Simply karena mereka belajar dan menguasai teknik mewawancara yang baik. As you know, Deddy memulai di program Hitam Putih, sebelum akhirnya menjalankan podcast-nya sendiri.

Dalam konteks podcast sebagai entertainment content, pewawancara sebenarnya/biasanya sudah tahu jawaban dari narasumber. Namun, seninya adalah mengkonversi “ketidaktahuan” pewawancara tersebut menjadi “pengetahuan” bersama audience.

Kalimat-kalimat bridging juga wajb direncanakan ya. Supaya wawancara tetap mengalir. Bukannya melompat dari satu pasang pertanyaan-jawaban ke pasangan-pasangan berikutnya.

Sekian “remah-remah” pagi ini. Semoga bermanfaat
Kalau ada pengalaman lain, mohon dibagikan di kolom komentar ya. Terima kasih 🙏🙏

Omong-omong, ini ada beberapa podcast soal wawancara narsum yang bisa kamu nikmati juga:

Baca juga tulisan BLOGGING-WRITING saya yang lain, ya.

Perbedaan Content Writing, Copywriting, dan Content Strategy

Memahami perbedaan content writing, copywriting, dan content strategy serta bagaimana mengaplikasikannya dalam aktifitas blogging harian.

Mari bahas persamaan dan perbedaan tiga jenis sebutan di atas. Yang pada akhirnya akan merefleksikan perbedaan peran, posisi, dan fungsi dari Content Writer, Copywriter, dan Content Strategist.

Content Writer

Konten disebut berkualitas kalau sukses membuat user rajin mengunjungi website tersebut dan betah berlama-lama di dalamnya. Saya betah dengan website niagahoster.co.id karena kontennya lengkap dan mencerdaskan. Mojok dengan imajinasinya yang nakal juga menghibur. Baca informasi di Tirto juga bikin kita menelusuri pranala lain yang disediakan.

Untuk aspek kuantitas, ukurannya tidak hanya panjang tulisan. Minimum disarankan 300 kata yah. Ada blogger yang sharing standardnya di kisaran 2500 kata. Selain panjang tulisan, banyak tulisan dalam media online tersebut juga ikut menentukan.

Belajar dari Mojok. Weblog ini “menghamba” pada Alexa. Sesuai tagline-nya yang Sedikit Nakal Banyak Akal, pembaca senang membaca beberapa tulisan setiap kali berkunjung, termasuk saya. Panjang tulisannya “hanya” 700-1000 kata. Cukup pendek, namun plotnya tetap ada. Alias tulisan-tulisan di Mojok tuh bernas, padat berisi.

SEO paling berperan di konten artikel tipe ini. Sebagai pengguna WordPress, laksanakan saja saran-saran dari Yoast supaya kontenmu lebih findable di jagat internet raya.

Copywriting

Menulis untuk iklan. Tujuannya mulai dari memperkenalkan, mengingatkan konsumen kembali akan merek tersebut, hingga mendorong terjadinya penjualan lewat promosi diskon, atau saluran (biasa disebut channel) tertentu.

Medium iklan yang berbeda-beda ruangnya, menuntut copywriting harus koheren meski tidak wajib sama. Di sinilah kejelian copywriter dalam menyusun kata dan menyiasati ruang teks yang serba terbatas.

Di dunia digital, ada namanya Landing Page. Sebuah page di mana user mendarat (to land). Landing Page dengan komponen yang komplit akan meyakinkan user untuk membeli. Komponen tersebut di antaranya adalah:

  • Masalah yang dihadapi oleh calon konsumen
  • Solusi apa yang Anda berikan
  • Bagaimana solusi tersebut bekerja
  • Testimoni dari pembeli/pelanggan
  • Tombol Add to Chart (ATC)

Content Strategy

Eksekusi tanpa strategi ibarat berjalan tanpa mata dan tujuan. Sedangkan strategi tanpa eksekusi, analog dengan mengkhayal ke mana-mana tanpa berpindah tempat.

Jadi, sembari crafting konten, strategi tetap harus diperhatikan. Mulai dari tujuan (objektif), minimum target, alat pengukuran ketercapaian target, dan pengembangan konten itu sendiri. Yang terakhir ini meliputi beberapa langkah eksekusi ke depan. Termasuk perubahan jadwal rilis apabila ada kebutuhan untuk segera merilis suatu konten lebih cepat daripada jadwal.

Sikap Blogger

Menurut hemat saya, jalankan saja ketiga peran tersebut.

Ya, kita secara rutin mengeksekusi pelaksanaan pembuatan konten. Mulai dari riset, menyusun draft, mengisi dengan word craftmanship, melakukan penyuntingan, proofread, dan sebagainya. Semuanya kita kerjakan.

Terus, copywriting-nya di mana? Tentu copywriting berlaku bila ada produk/layanan yang dipasarkan. Semakin ada produk baru untuk dipasarkan, maka bisa setiap artikel kita tanam copywriting. Hal ini tergantung pada communication stage-nya juga. Masing-masing fase AISAS kan berbeda-beda objektifnya.

Secara rutin, blogger perlu mengevaluasi strateginya. Yang saya lakukan secara sederhana adalah mengamati statistik dari Google Analytics. Dari sana muncul ide konten apa (di tingkat post maupun categories) yang perlu saya kembangkan. Contohnya di Analytics 2019 ini. Sebagai blogger yang gak niat-niat amat, saya fokus di metrik Page/Session dan Session Duration saja.

Cukup sekian sharing kali ini. Ada pendapat lain? Boleh dituliskan di kolom komentar, ya.

Cara Membuat Infografis

Apakah membuat infografis itu harus bisa (visual) desain? Sebenarnya tidak. Tapi harus paham information architecture.

Infografis berasal dari kata infographic, alias singkatan Bahasa Inggris yaitu information dan graphics.

Sesuai namanya, infografis adalah informasi yang disajikan dalam bentuk teks yang dipadukan dengan elemen visual seperti grafik, gambar, ilustrasi, atau tipografi.

Secara psikologi, 90% bagian otak manusia lebih cepat menyerap informasi dalam bentuk visual dibandingkan teks. 

Memang, mendapatkan perhatian audiens hari ini semakin sulit. Rentang perhatian (attention span) yang mereka miliki sangat pendek.

Mendapatkan perhatiannya saja sudah sulit, apalagi membuat mereka paham pesan yang ingin kita sampaikan.

Tidak heran, bentuk visual menjadi kompromi bersama antara komunikator dengan komunikan (audiens).

Yang sulit, adalah memperkuat visual tersebut dengan data dan informasi yang tidak hanya menarik, tapi juga meaningful.

Saya yakin, salah satu caranya –masih belum tahu cara yang lain, sebenarnya– adalah dengan storytelling.

Dalam membuat infografis, pengembangan tokoh (ingat Pak Blangkon di infografik tirto.id), situasi (set up?), dan plot akan menentukan seberapa meaningful infografis kita.

Infografis

Darimana datangnya cerita? Sesuai gambar di atas, cerita adalah keterhubungan (connectedness) antara data, informasi, pengetahuan, dan kebijaksanaan.

Wisdom, misalnya adalah kita men-zoom-out suatu fenomena, lalu mencari fenomena serupa. Misalnya kita mempertanyakan kapan kira-kira covid-19 akan berakhir. Kita men-zoom-out fenomena tersebut dengan cara mengkomparasinya dengan kapan Flu Spanyol berakhir.

Nah, bagaimana caranya? Salah satu pohon ilmu yang saya tahu adalah information architecture. Yaitu, bagaimana meng-arsitektur-kan beberapa info (dalam berbagai skala) tersebut sehingga bisa memberikan pemahaman kepada audiens tentang: ada set up apa, ke mana (atau selanjutnya bagaimana), dan berakhir bagaimana (atau kesimpulan).

Sebenarnya, mirip dengan membuat diagram, siy.

Membuat diagram itu kan menemukan meaning antara minimal dua data yang terhubung. Jadi temukan dulu hubungannya, baru kita cari meaning-nya apa.

Hubungan itu bisa ditemukan antara lain, dengan mencari: perbandingan (comparison), perubahan dari waktu ke waktu (change from time-to-time), klasifikasi (classification) yaitu membuat kelompok berdasar persamaan dan perbedaan, serta masih banyak yang lainnya.

Dalam membuat klasifikasi, saya paling suka memulai dengan table 2×2 atau 3×3. Mind Map juga membantu kita memvisualkan persamaan dan perbedaan.

Btw, pergerakan data dari waktu ke waktu itu ibarat menyusun lini masa (timeline), lho.

Membuat Infografis

  1. Mengumpulkan segala data/referensi
  2. Menentukan audiens. Profil audiens (latar belakang pendidikan, tingkat usia, kegelisahan (anxiety), hasrat (desire)) akan mengarahkan kita untuk mendapat taste yang tepat.
  3. Menerjemahkan topik ke satu bentuk visual yang kongkrit. Misalnya infografis tentang covid-19, menggunakan bentuk kongkrit berupa corona (mahkota).
  4. Memvisualisasikan data ke infografis. Jadi ada yang berupa visual, ada yang berupa teks (kata, kalimat, angka, dll).
  5. Menyusun hubungan antar elemen. Yang tiap elemen terdiri dari visual/teks.
  6. Merapikan visual style, yakni konsisten dalam menerapkan font, white space, colour, dan sebagainya.

Tentu saja kita tidak wajib membuat template baru. Bisa saja kita menggunakan template infografis yang siap pakai (ready to use).

Soal style, karena kita (mungkin) bukan desainernya, bisa diserahkan kepada desainer itu sendiri.

Platform desain berbasis website yang paling populer digunakan adalah Canva.

Bagaimana pengalaman kamu menyusun infografis? Barangkali ada pengalaman menarik. Mohon bagikan di kolom komentar ya.

Baca juga tulisan JOURNAL saya yang lain, ya.

Blog Analytics

Hasil mengobservasi rekan-rekan blogger, dikombinasikan dengan memahami parameter yang diberikan oleh Google Analytics, dan sedikit refleksi diri.

Beberapa waktu lalu, saya bertanya-tanya (wondering) soal parameter apa ya (blog analytics) yang cocok untuk kita pakai dalam nge-blog.

Nge-blog itu kan hobi ya. Apa iya yang namanya hobi perlu diukur? Pikiran ini pernah saya tuangkan di Betapa tidak pentingnya nge-blog itu ya, gaez. Ada beberapa pros and cons di sana.

Sebagai awal mula pembahasan, mari lihat grafik di bawah ini yang berasal dari SEMrush.com mengenai faktor-faktor apa saja yang paling penting dalam Search Engine Result Page (SERP). Simak urut-urutannya.

blog analytics
https://neilpatel.com/blog/bounce-rate-analytics/

Domain Authority (DA)

Tidak ada DA dalam daftar di atas.

Akan tetapi, teman-teman blogger di komunitas, paling hobi mengukur pakai DA/PA. Somehow, saya kurang berminat memakai parameter tersebut. Kenyataannya, angka-angka tersebut lebih banyak diacu oleh blogger yang menjual sponsored content atau placement content. Ya karena para pemberi sponsor juga sudah jamak menggunakan DA/PA.

Kalau kita mengacu ke referensi Niagahoster, dapat disimpulkan bahwa DA/PA adalah parameter yang mendeskripsikan seberapa searchengine-friendly si website tersebut. Skalanya 1-100; makin dekat 100 maka makin ramah ke google.com. Begitulah menurut si pengembang DA/PA, yaitu Moz.com.

Kira-kira kenapa Moz ini mengembangkan mesin digital tersebut? Tentu karena mereka menjual jasa yang terkait dengan parameter itu sendiri. Hehehe. Yaitu, jasa konsultasi supaya lebih terlihat (visible) di mata mesin pencari sehingga traffic dan ranking si website tersebut bisa naik.

Oke, selain Moz dengan DA/PA, ada siapa lagi? Ada Domain Rank dari ahrefs, CitationFlow dan TrustFlow. Demikian kata Moz selaku market leader di industri website analytic ini.

Bounce Rate

Untuk web secara umum, saya lihat banyak juga yang mengacu ke bounce rate. Yang mengukur bounce rate adalah Google Analytic. Kalau begitu, kita pakai definisi GA donk…

A website’s bounce rate is calculated by dividing the number of single-page sessions by the number of total sessions on the site.

https://www.hotjar.com/google-analytics/glossary/bounces/

Berarti, bounce rate adalah skor perbandingan antara jumlah pengunjung (visitor) yang langsung ‘cabut’ (alias satu page saja dalam satu session) dibandingkan dengan jumlah visitor yang melakukan kunjungan ke beberapa page dalam satu session.

Berapa bounce rate yang baik? Dari riset saya, tidak ada jawaban pasti yang berlaku untuk semua. Bergantung jenis web Anda. Ini satu yang bisa dijadikan acuan (dari gorocketfuel.com):

  • Bounce rates from 25% to 30% are most likely as low as you’ll see them with everything working correctly
  • The bounce rate for the average website is more likely to dance to the tune of 40 to 55 per cent.
  • Even a bounce rate of over 60% might not be bad. It all depends on the website, which is why it is important to set your own baseline.
  • A bounce rate below 20% or over 90% is usually a bad sign.

Time on site

Anything under 20 seconds is a major red flag, as that’s barely enough time for a visitor to look at the page, much less read its content. 40-50 seconds is a great start, as it means you have their attention. In general, anything over 2 minutes is the accepted standard for websites.

https://rankmonsters.org/website-analytics-benchmarks/

Page per session

Satu session itu satu kali kedatangan ke suatu website. Pengguna yang sama, datang dua kali ke suatu website, akan dihitung dua kali session. Jadi, page per session adalah angka rata-rata dari jumlah page yang dikunjungi di setiap session-nya.

The unofficial industry standard is 2 pages per session.

https://www.spinutech.com/digital-marketing/analytics/analysis/7-website-analytics-that-matter-most/

Lebih banyak halaman per sesi menunjukkan bahwa pengguna Anda sangat terlibat dan ingin menjelajahi lebih banyak situs Anda.

Di sinilah pentingnya memberikan beberapa internal link dalam 2 bentuk: SEO internal link dan plugin Inline Related Posts.


Jadi, apa kesimpulannya? Apa blog analytics yang paling pas dipakai? Tergantung tujuan blognya.

  • Kalau tujuannya cari sponsor, menaikkan DA/PA adalah segalanya. Sudah jadi acuan industri, baik pemain maupun sponsor.
  • Kalau ingin jadi blogger biasa saja, atau menjadi penulis yang lebih baik, saya kira adalah Page/Session dan Session Duration.
Catatan: Di “one year”, Bounce Rate-nya sebesar 62.72%.

Effective Proofreading

Kiat melaksanakan proofreading yang efektif. Agar naskah kita bebas typo dan kesalahan lainnya, serta enak dibaca oleh para pembaca.

Salah satu tugas penulis, adalah menyunting tulisannya sendiri. Penyuntingan ini dilakukan setelah setelah proses penulisan – supaya proses penuangan ide tidak bercampur-aduk dengan penyempurnaan naskah itu sendiri. Selanjutnya, penyuntingan dilakukan oleh copyeditor/proofreader

proofreading
Flow-nya tulisan tidak disebutkan di gambar ini. Padahal, flow tulisan juga termasuk yang perlu diperiksa ulang.

Satu aktifitas yang dilakukan dalam proses penyuntingan adalah proofreading. Yaitu upaya menemukan kesalahan dalam naskah –sehingga kemudian bisa disunting menjadi naskah yang lebih baik. Kesalahan yang dimaksud di sini termasuk kesalahan penggunaan tanda baca, ejaan, konsistensi dalam penggunaan nama atau istilah, hingga pemenggalan kata –di sinilah manfaat belajar suku kata di Sekolah Dasar (SD) dulu.

Maaf karena saya belum menemukan padanan proofreading dalam bahasa Indonesia, ya. Ada siy, yang menyebutnya uji-baca

Secara umum, tugas penyunting agak unik, memang. Satu di antaranya adalah berperan sebagai “ahli nujum” yang berupaya menemukan “apa yang tidak ada”. Misalnya, antar kalimat, paragraf, atau bagian lain dari naskah yang tidak masuk di akal, atau diskontinyu alias berhenti atau gak nyambung dengan bagian lainnya.

Proofreading Tools

Peralatan (tools) apa saja yang dipakai untuk proofread? Untuk naskah berbahasa Inggris, ada Grammarly.com (bisa diekstensi ke browser dan langsung proofreading naskah kita di Google Docs), Dictionary.com, Google Translate, Thesaurus.com, Oxford Dictionary. Yang terakhir saya sebut ini adalah buku kamus cetak English-to-English 4th edition (tahun 2011) milik saya. 

Dalam menggunakan berbagai perangkat tersebut, kita perlu mengenali elemen-elemen berbahasa yang dirasakan penting dalam suatu bahasa. Sebagai contoh, di Bahasa Inggris, perihal singular (tunggal) dan plural (jamak) ini penting untuk diperhatikan. Salah penggunaan, bisa disemprot oleh Grammar Nazi; sebutan untuk mereka yang menegur/memarahi orang yang salah dalam penggunaan grammar. Bahkan yang bukan Grammar Nazi pun, cukup memperhatikan perihal singular-plural ini. 

Untuk Bahasa Indonesia ada KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) dan PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia, dahulu EYD, Ejaan Yang Disempurnakan). Semua perlengkapan tersebut di atas merupakan alat bantu dalam menulis dan menyunting. 

Prinsipnya, bahasa adalah alat berkomunikasi. Poin utamanya bukan soal baku atau tidak baku yang mana kita bisa mengacu pada peralatan-peralatan tersebut. Namun seni berbahasa adalah bagaimana menyampaikan gagasan dengan kata dan kalimat yang dipahami oleh kedua pihak yang sedang berkomunikasi. 

Menarik memang sih, kalau memerhatikan bagaimana kita berbahasa di social media. Di instagram, facebook, twitter, blog, dan lain sebagainya, sering banget kita mengabaikan tata bahasa yang baku. Meski demikian, yang tidak baku demikian gak sepenuhnya salah, kok. Itu kan medium bersosialisasi. 

Pentingnya Tata Bahasa 

Mengapa dokumen -tertulis- hampir wajib hukumnya memiliki tata bahasa yang baik? Karena sesudah tertulis di sana, kita tidak akan tahu akan menyebar ke mana. Tidak hanya dokumen, konten blog yang ditulis dengan baik juga enak untuk kita sebarkan pranala-nya ke manapun juga. 

Bagi para pelaku usaha, wajib juga hukumnya memiliki proses penatabahasaan yang baik. Ini kaitannya dengan citra (image) profesional si perusahaan. Seberapa serius sebuah perusahaan dalam mengeksekusi proyek/produk, sedikit-banyak bisa terukur dari dokumentasi dan penulisannya. Misalnya, proposal penawaran, laporan proyek, laporan akhir tahun, dan lain dokumen-dokumen sebagainya. 

Di beberapa penerbit, ada kepala penyunting (editor-in-chief) yang ditargetkan untuk mencari naskah tambahan dari luar. Posisi ini biasanya cukup senior atau dicari yang berpengalaman. Karena harus punya perasaan dan intuisi yang valid terhadap potensi bisnis dari suatu naskah. Profesi ini sedikit sekali atau bahkan tidak lagi berkutat dengan tata bahasa suatu naskah.

Omong-omong, beberapa di antara kita masih keliru membedakan beberapa profesi yang sering tertukar definisinya satu sama lain: copywriter, copyeditor/editor/proofreader, dan editor-in-chief.

  • Copywriter : penulis periklanan, 
  • Proofreader : pemeriksa naskah 
  • Editor-in-chief : pemimpin tim editor, serta pencari naskah baru 

Tipografi 

Kata lainnya adalah komposisi. Jadi bagaimana suatu teks disusun: panjang kalimat, jumlah baris dalam paragraf, dan lain sebagainya agar koheren satu sama lain dan enak dibaca. Tipografi termasuk hal yang wajib diperhatikan para proofreader. Tulisan yang terlampau padat kata, belum tentu jadi sarat makna. Menjadi tugas para proofreader untuk mengefektifkan kalimat tersebut. Jarak antar paragraf yang terlampu dekat juga bisa menyulitkan pembaca.

Tipografi juga meliputi bagaimana penggunaan bullet points dalam menyampaikan gagasan kita. Senada dengan bullet points, image juga bisa dipakai untuk memberikan komposisi yang cantik dalam artikel kita. Di medium yang bisa dipercantik seperti blog, tipografi atau komposisi akan memberikan keterbacaan yang tinggi.

Lihat juga tulisan lain yang terkait: 

Mengulas Karya-Karya Iqbal Aji Daryono

Post kali ini mengulas buku dan profil seorang esais bernama Iqbal Aji Daryono. Termasuk bagaimana teknik penulisan yang biasa dia lakukan

Mari kita mengulas karya buku dari sese-penulis bernama Iqbal Aji Daryono, ya. Kebetulan beberapa minggu lalu saya baru tuntas mengikuti kelasnya. Mudah-mudahan ada kesempatan lain untuk mengulas kelas menulis online (KMO) tersebut.

Sependek pengetahuan saya, bukunya beliau ini ada lima. Ada dua karya buku hasil dari “menemani istri”-nya selama di Australia: Out of the Truck Box dan Tak Ada Kernet di Australia. Yang Out of the Lunch Box adalah kumpulan esai. Kamu mungkin tahu beliau awalnya populer dari mojok.co tetapi esai-esai beliau kemudian banyak kita temukan di detik, geotimes, dan lain sebagainya. Lalu, ada kompilasi artikel+komik yang dikemas “Apakah Seorang Pendosa Tak Boleh Lagi Berkarya?” dan renungan-renungan singkat tentang berbahasa dalam Berbahasa Indonesia dengan Logis dan Gembira. Rangkaian karya yang saya sebut mungkin tidak sesuai urutan penerbitan. Sentilan Iqbal Aji Daryono.

Beliau ini alumnus Balairung UGM. Itu adalah unit kegiatan mahasiswa (UKM) jurnalistiknya kampus gajah mada tersebut. Saya tentu tidak hafal siapa saja alumninya -saya aja gak sekolah di sana, kok – namun tiga orang di mantan kantor saya pernah aktif di Balairung. Setidaknya, para alumnus ini ada jejak sejarah pernah belajar, berlatih dan berpraktik menulis berita. Ya, namanya juga jurnalistik, ‘kan. Bukan youtuber yang mengaku hanya mewawancara tapi tidak mau bertanggung jawab atas isi kontennya. Hehehe.

Sebagai wirausaha di bidang penulisan, yang beberapa orang menyebutnya ‘writerpreneur‘ — saya agak nganu gimana gitu ya sama istilah ini– rupanya beliau ini sempat memulai usaha penerbitan di Jogja. Selain kota tugu tersebut, Bandung juga lumayan banyak penerbit indie-nya setahu saya.

Yang jelas, takdir beliau rupanya bukan sebagai orang ‘pabrik’ buku. Melainkan ‘public figure‘ di bidang kepenulisan. Beliau menyebutnya ‘esais’, yaitu menulis esai-esai yang kemudian dimuat di berbagai media digital. Iya, media digital. Media yang belum tentu berupa koran atau majalah layaknya media massa pada umumnya.

Beliau beropini kepada kami peserta KMO bahwa postingan di facebook maupun media digital pada umumnya, menuntut penanganan yang berbeda dari kita para penulis. Praktik-praktik penulisan yang memudahkan pembaca untuk skimming (instead of reading), format tulisan yang diberi jeda tiap berapa baris, dan seterusnya adalah serangkaian upaya media-media digital (termasuk kita di jendela facebook kita sendiri), untuk mempertahankan para pembaca guna tetap bertahan menelusuri kata demi kata yang kita ungkapkan. Ingin tahu lebih jelas, tentu kamu harus mendaftar dan ikut sebagai peserta KMO. Hehehe. Saya bantu promosikan ya, pak guru.

Yang hebat -dan layak kita tiru- adalah keterampilan beliau dalam menuangkan hal-hal yang mungkin tidak dipikirkan oleh kebanyakan orang. Pengalaman 4 tahun di Australia sebagai sopir truk/box saja bisa menjadi 2 buku. Ini butuh perenungan dan jam terbang ya, kata saya. Meskipun beliau meragukan bahwa kumpulan tulisan tidak seharusnya disebut buku kenyataannya artikel-artikel tersebut memang dijahit rapi dalam satu tema. Lagipula, sudah sekitar satu dekade barangkali ya, praktik penerbit dalam menyusun dan mengemas tulisan-tulisan di blog menjadi naskah buku yang kemudian dijilid (dibukukan).

Mungkin bisa jadi inspirasi kamu para narablog (blogger) ya untuk konsisten menulis sebanyak 35-40 blogpost dalam tema yang sama untuk kemudian dibukukan.

Sebagai public figure, beliau banyak menerima undangan ceramah maupun diskusi mengenai kepenulisan, literasi, per-buku-an, dan sejenisnya. Sedikit di antara kita menyadari, bahwa yang biasa menulis ternyata gak biasa ngomong di depan orang banyak (public speaking). Dan demikian pula sebaliknya. Jadi, beliau ini paket lengkap, sebenarnya. Eh, untungnya.


Membaca dan menulis itu ‘kan bagian dari beradab dan berbudaya ya. Di mana, tidak seharusnya KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) mengungkung dan mengekang kita dalam berbudaya itu sendiri. Saya sependapat dengan Mas Iqbal, bahwasanya KBBI adalah panduan dalam berbahasa; khususnya mengenai mana yang baku dan tidak baku. Jadi, KBBI tidak boleh menjadi kompas moral kita dalam berbahasa; yang menghakimi kita –sebagai pengguna dan penikmat berbahasa– atas yang benar atau salah. Ini adalah pesan yang saya dapatkan dari buku berwarna kuning dalam gambar di atas.

Hal lain yang menarik untuk kita teladani dari teknik penulisan mas Iqbal adalah bumbu-bumbunya. Ini perlu ada. Lagi-lagi supaya pembaca betah dengan rangkaian teks dari kita. Ibarat masak sayur, gak ada asin atau asam sama sekali malah gak enak; karena hambar membuat sayurnya tidak dikonsumsi. Jadi, pesan-pesan serius maupun bumbu-bumbu bercanda harus diformulasikan sedemikian rupa sehingga menjadi menu yang menggiurkan untuk disantap.

Apabila rekan-rekan pembaca sekalian bertanya, apakah buku-buku di atas perlu dikoleksi dan dibaca berulang-ulang? Saya menjawab, iya jelas. Kalau berminat dengan penulisan non-fiksi. Khususnya bagi anda-anda yang ingin menyampaikan gagasan serius dengan kemasan yang lebih menghibur. Yang terakhir ini memang seringkali dibutuhkan oleh para pendidik ya. Semisal dosen, guru, pelatih (trainer), atau pengajar.

Yang jelas, karya-karya tersebut merupakan kumpulan esai. Yakni pemikiran dan pengalaman yang direnungkan mendalam. Bukan suatu fiksi dengan karakter-karater imajinatif yang menjalani plot cerita tertentu.


Akhir kata, sebagaimana banyak membaca akan memperluas pengetahuan dan memberi bahan bakar untuk aktifitas menulis, maka menambah referensi penulis favorit juga sama pentingnya guna meningkatkan kapasitas kita sebagai penulis.

Baca juga ya, review buku Filosofi Teras.