Tulis Judul atau Konten Duluan?

Dalam membuat tulisan, ada kalanya kita bingung mulai dari judul atau isi. Tulisan kali ini akan membahas bagaimana memaksimalkan kelebihan yang satu, guna menekan kelamahan yang lain.

Konten duluan.

Konten duluan sampai pada titik di mana, tidak tahu lagi harus menambah apa. Seperti kampanye #mulaiajadulu. Kebanyakan dipikir (baca: diriset) ya tidak akan membawa ke mana-mana. Kata Dee Lestari (tidak sama persis ya), fitrah sebuah ide adalah di alam bebas. Di alam bebas, dia akan menemui beragam dukungan, bantahan, kritik, saran, dan sebagainya. Dengan kata lain, hakikat gagasan bukan sekadar bertahan di alam pikiran semata.

Sutradara kenamaan macam Ernest Prakasa, juga menyarankan hal yang senada. Jadi, beliau memisahkan proses menulis dengan proses perbaikan (revisi). Sepanjang masih punya ide cerita, dan belum memasuki fase perbaikan (salah satu alasannya adalah deadline belum mepet), maka menulis lha terus.

Tugas kita sebagai penulis adalah “mematangkan” gagasan tersebut. Ibarat sungai, di sinilah pentingnya hulu dan hilir sebuah tulisan. Hulu, proses di mana kita mengumpulkan premis-premisnya. Berupa aktifitas riset (mengumpulkan bahan, membaca, menganalisis, membuat hipotesis), mengingat dan menyelami peristiwa-peristiwa yang berlalu dalam hidup kita sendiri (maupun orang lain), sampai dengan mengingat pikiran-pikiran kita di masa lampau tentang apa yang ingin kita tuangkan. Jadi, ada tiga macam klasifikasi untuk hulu.

That’s why kita perlu beberapa medium untuk menulis. Karena menulis adalah praktik melepas gagasan ke alam di luar pikiran, maka saya kira kita tetap perlu membedakan mana alam yang benar-benar jauh dan tidak bisa kita kendalikan, dan mana alam yang masih terjangkau serta menjaga rahasia-rahasia kita dengan baik.

Di medium-medium seperti buku yang dicetak penerbit, artikel media massa, kita tidak bisa mengendalikan keliaran pendapat khalayak umum. Dalam bahasa internet seperti sekarang, yaitu kata netizen. Namun kita masih bisa menjaga rahasia sekaligus mencatat ide dan ilmu di medium personal. Sebut saja jurnal, buku diary, rencana dan evaluasi aktifitas, dan lainnya. ide-ide yang kita tuangkan di format terakhir, adalah aset yang bisa kita tengok kembali dan aplikasikan di suatu ruang dalam tulisan.

Bagi saya, menulis adalah berpikir. Mengapa demikian? Sebab sebelum menuangkan sebuah kalimat, kita akan berpikir 2-3 kalimat ke depan. Bagaimana kita membahasakan sebuah gagasan berukuran mikro, bergantung pada bagaimana kita melihat kalimat tersebut dalam sebuah paragraf. Lebih jauh, peran sebuah paragraf dalam artikel keseluruhan, fungsi sebuah bab atau bagian terhadap isi buku secara umum.

Nah, kelebihan memulai tulisan dengan judul adalah kita sudah memberikan batasan yang relatif tegas terhadap isi tulisan. Namanya relatif, bisa dilanggar. Baik menjadi lebih luas (atau general), atau menyempit (alias fokus pada bahasan tertentu). Yang jelas, judul adalah acuan dalam perjalanan menulis guna menyadari garis finish (batas selesai). Kalau sudah selesai, boleh lha kita menengok sang judul kembali. Sudah tepat kah, sudah merepresentasikan isi kah, sudah memancing pembaca untuk membaca kah, dan lain sebagainya.

Fungsi Editing dan Peran Editor

Hilir, yaitu pentingnya fungsi editing dan peran editor.

Sebelumnya, saya sebutkan bahwa tulis apapun yang muncul di kepala untuk ditulis. Mumpung masih ada dan belum mampet (stuck). Sebab, masa-masa untuk perbaikan, revisi atau sejenisnya akan datang dengan sendirinya. Itulah yang disebut editing. Editing pertama dari diri sendiri. Alokasikan waktu untuk melakukan proses edit. Misalnya, hanya 5% dari total waktu untuk menulis. Di sinilah kita dapat berperan sebagai pembaca, dan menjaga jarak dengan diri kita sebagai penulis. Keluaran yang diharapkan adalah objektifitas dalam memandang karya tulisan tersebut.

Tentu diri ini sebagai pembaca, dapat kita belah menjadi dua. Baik sebagai pembaca yang berharap kualitas tulisan dari sisi bahasa. Maupun pembaca yang merepresentasikan konsumen tulisan secara umum.

Profesi editor, sebagai lapis kedua (namun utama), juga menjalankan kedua peran tersebut di atas. Alias berperan sebagai pemeriksa (checker) yang menjamin mutu (quality assurance) dalam tata bahasa, serta mewakili pembaca yang punya ekspektasi dan harapan tertentu terhadap isi maupun alur (flow) tulisan.

Tidak hanya keduanya, di beberapa penerbit editor pun berperan di hulu. Yakni memberikan pandangan (visi) dan saran kepada para penulis, tentang selera pasar yang sedang tren (dan yang sedang turun pula).

Reflection on 2019 site analytics

Tahun 2019 adalah tahun pertama men-swasta-kan domain dan hosting. Tadinya masih negeri; alias menumpang ‘host’ di server gratis milik WordPress. Setelah setahun ini, ada sedikit angka, data, dan statistik lain yang bisa direfleksikan barang sejenak. Kita mulai ya.

Sepanjang tahun 2019 ada 44 post. Meningkat 7 post saja (19%, lumayan) dari tahun sebelumnya. Namun average words per post-nya menurun dari 927 ke 711 kata. Turun sebesar 23%. Signifikan juga ya. Namun, tidak terlalu masalah. target saya kalau menulis adalah minimal 800 kata. Saya bukan tipe yang mentarget minimal 1500 atau 2500 kata. Masih termaafkan lha ya kalau sekitar 700-an saja. 

Pernah rasanya saya share di suatu tempat di blog ini bahwa 300 kata, meski sudah layak secara SEO, namun terlampau pendek untuk menyajikan cerita. Di sisi lain, 2500 kata sudah oke banget untuk SEO. Tapi lebih baik dibelah saja untuk artikel di pekan berikutnya; ini menurut saya lho ya. 

Tahun 2019 itu ada 7,453 page views dari 4,677 visitors. Artinya, satu visitor melakukan 1,59 page views. Artinya tiap pengunjung rerata hanya melihat 1-2 post. Sumber traffic terbanyak dari search engine, yaitu sebesar 3,707 pageviews. Sementara yang datang dari facebook dan Instagram sebesar 195 dan 128 page views. Dapat disimpulkan, lebih banyak dari mesin pencari daripada followers-nya social media saya. Sepintas tadi menengok setting page, tampaknya ada error di social share-nya –share via facebook & linkedin. 

Dari list yang sudah menyetor tulisan di komunitas 1m1c, hanya ada 41 page views. Lumayan juga, karena keanggotaannya hanya sekitar 100 members. Dari komunitas yang sama –tetapi sumber link berbeda– ada 3 (tiga) tulisan saya yang sempat di-klik dari sana:

Di antara 10 tulisan dengan page view terbanyak, hanya ada dua yang ditulis di tahun 2019. Yaitu: Review Buku Filosofi Teras (441 views) dan Menyelami Filosofi Rumah Panggung Suku Bugis (120 views).

Tiga-puluh-tujuh (37) post di tahun 2018 sebenarnya copy paste dari blog saya yang lama: http://ikhwanalim.wordpress.com. Seingat saya, tidak banyak yang saya tuliskan di tahun tersebut. Sebab lebih sibuk migrasi konten daripada menulis baru. Alhamdulillah di tahun 2019 cukup banyak tulisan yang benar-benar baru. Bahkan, ada kategori personal journal dan blogging/writing yang cukup banyak saya tulis. Selain itu, ada sedikit dari kategori marriage/parenting/fathering.

Khittah-nya blog ini seharusnya membahas topik sales/marketing. Eh tapi kategorinya malah ke mana-mana, yah. Dilema ini sudah bertahun-tahun saya rasakan — selama 12 tahun nge-blog. Ragu untuk memilih fokus menulis ide yang muncul di pikiran, atau mau fokus di kategori tertentu yang kita kehendaki sebagai positioning/niche-nya kita.

At the end, I took my decision to not overthinking the branding part. Jadi, saya tuliskan saja pengalaman, pikiran dan gagasan yang ingin saya bagikan. Tanpa harus feeling guilty karena si blog ini entah mau dibawa ke mana (if you sing, then you lose). Hehehe.

Tahun 2019 tampak belum ada postingan juara yang view-nya tinggi. Karena yang tinggi berasal dari tahun sebelumnya: Posisi Kerja di Dealer Mobil. Post ini view-nya tinggi karena post sejenis sedikit sekali di jagat internet. Sementara di Indonesia, konsumen kendaraan bermotor seperti mobil dan sepeda motor tinggi sekali. Tidak heran lowongan kerjanya pun cukup melimpah, sehingga pertanyaan seputar posisi-posisi pekerjaan di dealer juga banyak:

  • jabatan di dealer mobil 
  • jabatan-jabatan kerja di diler mobil 
  • cara kerja dealer kendaraan
  • tugas marketing di dealer mobil honda 

Rencana 2020

Bagaimana dengan tahun 2020? Rencana saya adalah berusaha seproduktif mungkin dalam nge-blog. Kalau satu tahun ada 52 minggu, maka idealnya ada 52 post kali ya. Tahun 2019 sudah terwujud 85%-nya.

Mau produktif menulis topik/kategori apa? Seperti saya ceritakan tentang dilema di atas, maka topiknya akan bebas. Sebagai ortu, mungkin postingan seputar topik parenting akan hadir pula. Mengingat, yang bersangkutan mulai sekolah di tahun ini. Tentang strategic marketing, mungkin topik seputar milennial dan leisure bisa dieksplorasi lebih mendalam. Personal journal jangan ditanyakan lha, ya. Itu topik paling tidak terencana, tapi paling sering ditulis karena experience dan personal story-nya.

Itu sedikit refleksi dari saya seputar hikmah-hikmah yang bisa diambil dari analytic machine di situs blog ini. Bagaimana dengan refleksi dan rencana blogging kamu? Saya tunggu pendapatmu di kolom komentar, ya 🙂

How to treat writer’s block

Saya merasakan, dua kali menunda menulis dan nge-post tulisan, maka selanjutnya akan lebih malas lagi. That’s why ada blog yang berdebu dan bersarang laba-laba kan? (Lebay banget).

Simpel. Karena sekali tidak nge-post, maka ghiroh untuk menulis juga menghilang. Perasaan excited setelah sudah posting, ikut menghilang. Seakan kita “lupa” rasanya, “lupa” pula jalan untuk kembali ke sana. Kalau mengaku sebagai penulis, sudah sepatutnya tahu cara untuk kembali ke sana dan merasakannya lagi.

Itu dari sisi “feeling” ya. Beda lagi dari sisi “konten”. Ada topik-topik tertentu, yang kita dengan mudah menuangkannya dalam bentuk tulisan. Dalam hal ini, perencanaan dan proses produksinya bisa sekali jalan. Katakanlah, hanya butuh Lead. Itu adalah sebuah kalimat atau paragraf pertama yang menjadi pancingan, dan entah bagaimana menunjukkan (to show) kepada kita akan “cara” untuk mencapai akhir (finish) dari tulisan. Seiring dengan terbiasa menulis, maka cara-cara tersebut akan semakin familiar.

Bagaimana dengan content planning? Ini adalah teknik lain ya untuk tetap produktif. Ada yang merencanakan kontennya di jurnal masing-masing secara offline ya. Ada juga yang tanpa rencana, langsung mengembangkan draft di blog masing-masing. Jangan heran kalau ada blogger yang punya puluhan draft tanpa deadline rilis yang pasti. Kalau saya, first draft-nya saya buat di Trello, sebuah mobile app, lalu saya pindahkan dan kembangkan lebih lanjut di Ms Word. Versi finalnya harus dalam bentuk Ms Word. Sekalian jaga-jaga ya kan, kalau harus migrasi blog (lagi).

Kelebihan dari planning the content adalah kita jadi punya kesempatan untuk melakukan riset lebih mendalam. Mencari, memperbanyak, dan menuangkan lebih lanjut beberapa perspektif terhadap suatu topik. Kita juga bisa menambahkan beberapa detil, angka, atau contoh yang memperkuat argumen atau gagasan kita. Kelemahannya jelas: riset itu tidak pernah mudah dan selalu memakan waktu. Banyak tidaknya waktu yang dihabiskan, tergantung seberapa panjang dan kokoh konten yang kita targetkan. Apakah sekedar artikel, atau bahkan dalam wujud buku.

Ikut komunitas

Yang saya rasakan, memulai untuk menulis lagi terasa lebih berat ketika kita terakhir melakukannya berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan yang lalu.

How to treat this type of writer’s block? Cara lainnya adalah dengan ikut komunitas. Di komunitas 1Minggu1Cerita (1M1C), grouping-nya ada dua. Di WhatsApp Group (WAG) dan di web www.1minggu1cerita.id. Kita akan di-kick secara otomatis dari web kalau tidak “melapor” atau “setor” (dalam bahasa anggota komunitas tersebut) pranala (link) artikel terbaru di blog, selama 6 (enam) minggu berturut-turut. Kalau sudah demikian, tinggal tunggu saya di-remove oleh admin dari WAG. Btw, saya salah satu adminnya. Tapi bukan saya yang nge-kick. Itu terlalu tega bagiku. Huhuhuhu 😀

Where to post my thought?

Untuk tulisan curhat (curahan hati, untuk yang belum tahu) yang biasanya bersifat “internal” saja, saya tidak post ke blog. Melainkan sekedar merangkai kata dan kalimat di Ms Word, lalu disimpan di laptop. Atau, dengan menuangkannya di personal journal saya. Jurnal tersebut tidak sebatas curhatan ya, berbagai rencana dan evaluasi juga saya tuangkan di sana. Dengan melakukan semua ini, saya seakan-akan sedang “berpikir, berbicara, dan berdiskusi” dengan diri saya sendiri. Sesuatu yang selalu dilakukan oleh seorang introvert.

Mengapa demikian? Saya kira tiap manusia punya dua dimensi ya. Dalam dan luar. Internal dan eksternal. Tidak semuanya bisa secara sembarangan ditempatkan. Ada yang bisa, ada yang tidak. Salah satu teknik yang mem-bisa-kan adalah dengan membagi tulisan tersebut ke dalam dua bagian. Pertama, bagian “curhat”-nya. Bagian kedua, tips and trick menangani situasi dan kondisi yang demikian. Sesuatu yang sebenarnya tidak selalu saya lakukan. Tapi bisa dilakukan kalau hatimu butuh wadah untuk menuangkan. Di sisi lain, tidak ingin memalukan diri sendiri. Bahkan, malah fight back dengan memberikan tips and trick mengatasi hal tersebut.

So, each of my thought has its own channel to publish. I hope you, too.

As for myself, saya melihat segala “eksternal” dan “luar” yang saya sebut di atas, sebagai suatu saluran yang seharusnya mem-branding diri kita. Untuk terlihat smart, cool, atau berbagai atribut keren lainnya. Yang mungkin ujung-ujungnya, tanpa bermaksud naif atau munafik, ternyata adalah “jualan”. Baik itu jualan produk, promosi event, atau semacamnya. Di sisi lain, saluran-saluran eksternal ini bisa juga kita optimalkan untuk hal yang sesederhana “berbagi kebaikan”.

Salah satu tantangan dalam ber-blogging ria, menurut saya adalah, bagaimana memisahkan ranah privat dengan ranah publik. Ada lho, blogger yang “dituduh” kelewat mengumbar kehidupan rumah tangganya. Sesuatu topik yang bagi blogger-blogger lain, tidak perlu diceritakan di medium blog. Topik-topik yang sekalipun kamu ingin sekali menuangkannya, tapi kamu tidak perlu merilisnya. Biarlah itu ditulis dan disimpan untuk dirimu sendiri.

Meskipun, harus diakui bahwa, sebagaimana saya katakan di awal, rutin menulis itu nyaris wajib hukumnya (hehehe), namun rutin nge-posting? Mungkin harus dilihat lagi ya. Mana yang bisa diposting di internet dan dibiarkan abadi berada di dalam sana. Dan mana yang didokumentasikan untuk dikonsumsi oleh diri sendiri, lagi, di suatu waktu nanti. Mohon maaf post ini tidak persis sama dengan judulnya. Tapi itu pendapat saya. Barangkali kamu punya pikiran lain? Silakan share di kolom komentar, ya.

Menyoal Minat Baca Kita Yang (Katanya) Rendah Itu

Katanya, minat baca kita rendah. Apa iya? Padahal event BBW di Jakarta, Bandung, Surabaya ramai terus. Bahkan mau diadakan juga di Balikpapan. Mari kita ulas dari daya beli maupun kemauan membaca kita.

Katanya, minat baca kita rendah. Tapi kok event Big Bad Wolf (BBW) di Jakarta, Bandung, dan Surabaya ramai dikunjungi? Surabaya sudah 2x lho. Bandung (raya) sekali, Jakarta satu kali. Tidak lama lagi, malah BBW akan diselenggarakan di Balikpapan di Kalimantan Timur.

Katanya minat baca kita rendah. Tapi event pameran buku di Jalan Braga saban tahun saya masuk Bandung, kok selalu ada ya? Penyelenggaraan yang konsisten berarti ‘kan memang pasarnya ada ya. Baik dari penerbit/distributor yang mengisi stand pameran, maupun masyarakat umum yang mengunjungi dan berbelanja di sana.

Katanya kita malas membaca. Tapi kok sepengamatan saya ke keluarga dan teman-teman, kita semua suka mengikuti keriuh-rendahan dan dinamika di grup Whatsapp (WAG), ya?

Tidak hanya WAG, teks-teks di facebook maupun Instagram (IG) pun ramai dibaca dan dikomentari. Bahkan di-share sedemikian rupa. Buktinya, user IG naik terus. Engagement nya pun terus ada. Facebook juga tidak kunjung mati. Bahkan semakin stabil posisinya pasca mengakuisisi perusahaannya WA dan IG.

Baru beberapa hari ini ramai (belum viral) suatu berita tentang politisi-politisi di seluruh dunia mengelola (tentu membayar) buzzer-buzzer (para pendengung) untuk membuat dengungan-dengungan yang relevan. Relevansinya bisa dua bentuk: dengungan yang cenderung mengaburkan berupa hoax yang membutuhkan usaha –dan waktu—untuk mengecek kebenarannya, serta mengamplikasi –syukur bisa sampai viral—keberhasilan dari politisi atau partai politik atau pemerintahan terkait.

Tidak Suka Baca Buku

Omong-omong, ada seorang teman di kantor yang mengaku tidak suka baca buku. Tapi saya yakin sekali, dia yang satu tim dengan saya ini, bukan malas membaca. Seperti saya, dia juga biasa melakukan riset. Tentu biasa membaca literatur (terutama artikel di blog atau situs macam Medium) donk yang diikuti dengan komparasi satu sama lain, dan diakhiri dengan sintesis atau desain ide tertentu. Dalam hal ini, proses bisnis.

Hal yang mungkin bisa ditanyakan ke dia adalah, kenapa bacanya artikel, bukan baca buku?

Fenomena yang lebih besar, adalah mengecilnya industri perbukuan. Gramedia, selain buku yang dicetak, sudah sejak lama memasuki buku elektronik (e-book). Bahkan punya toko daring sendiri di gramediaonline.com

Kita mengamini sendiri bahwa yang dulunya mengaku Toko Buku Gramedia kini brand-nya tidak lagi (sekedar) toko buku. Sudah jadi toko macam-macam. Ya alat musik, alat olahraga, setelah Alat Tulis Kantor (ATK). Tahu tidak, usaha non-buku ini sudah lebih besar omzetnya daripada usaha bukunya itu sendiri. Jadi jangan kaget ya kalau suatu waktu Gramedia juga menjual penggorengan di sana (setengah bercanda sembari mengutip pernyataan salah seorang rekan dahulu).

Di salah satu artikel di buku “Out of The Box”, Iqbal Aji Daryono berpendapat bahwa orang Indonesia itu bukan malas membaca. Segala statistik yang menyatakan bahwa literasi atau minat baca masyarakat kita itu rendah, sebenarnya bisa dibantah, begitu pendapat Iqbal. Menurutnya, bukan begitu rendahnya literasi kita, melainkan daya ekonominya yang tidak ada.

Mungkin, ini mungkin lho ya, ini pendapat pribadi. Daya ekonomi yang ewueh (Sunda: tidak ada) itu bisa berarti daya (kemampuan) belinya memang gak ada atau daya (kemauan) bayarnya yang tiada. Yang pertama, dasar ekonominya yang gak ada. Untuk makan saja sulit, boro-boro bayar sekolah atau pendidikan yang lain (salah satunya bacaan yang berbobot). Saya kira di Indonesia, masalah besarnya masih di sini. Yang kedua, uangnya ada tapi gak bikin anggaran untuk itu. Maunya yang gratis aja. Ya dari FB, WA, IG semuanya yang gratis (eh gak gratis juga sih, kuotanya kan bayar ya. Kecuali kuota gratisan dari Wi-Fi cafe atau kantor. Hihihi).

Kalau bercermin atau menganalogikan dengan pertelevisian kita (sorry agak melebar) yang free-to-air, ini ibarat mau nonton sinetron aja. Tidak bayar ini, kok. Hanya bayar listriknya TV saja sekalian dengan listriknya kulkas, mesin cuci, pompa air, lampu, dsb. Konsekuensinya ya harus mau menelan iklan-iklannya mentah-mentah. Ada yang bilang kalau iklan salurannya digeser saja. Sekaligus dengan konten-konten yang gak berkualitas dan cenderung mematikan logika. Padahal pindah channel ya dapatnya kulit-kulit berita, atau komedi slapstick (eh bener tulisannya gak, ya?) atau sinetron lain yang jalan ceritanya saja mengeryitkan dahi. Pendek kata, gratis kok njaluk quality. Bukan berarti konten-konten TV berbayar (paid TV) itu semuanya bagus. Yang jelek juga ada. Namun, kembali ke kita untuk menyeleksinya.

Poin saya adalah, yang berbayar saja tetap perlu usaha dari kita untuk mencari dan memilihnya, bagaimana dengan yang gratisan dan sulit difilter?

Paid TV awalnya berasal dari negara-negara maju di Barat. Di Eropa dan Amerika Utara sana, permintaan (demand) atas pendidikan sudah sedemikian rupa tingginya hingga institusi keuangan menjembatani user (pengguna) dan provider (penyedia) pendidikan lewat produk pinjaman siswa (personal loan).

Prioritas kita terhadap konten (sebenarnya konten apa pun masuk ranah pendidikan, ‘kan?) berkualitas mungkin belum tinggi ya. Tidak heran, komitmen kita untuk mengkompensasinya dengan sejumlah nilai rupiah tertentu juga masih rendah.

Tapi bisa saja bukan di sana masalahnya.

Superficial Thinking

Saya menduga akar masalah dan fondasi sebabnya berawal di kedalaman berpikir kita. Yeah, ini mirip dan menyerempet kedalaman membaca juga, sih. Karena membaca topik-topik yang dipikirkan dengan seksama, maka turut memikirkan topik tersebut hingga mendalam. Berlaku pula sebaliknya. Dalamnya apa yang dipikirkan berdampak pada kehendak untuk mengkonsumsi bacaan yang mendalam (atau tidak sama sekali).

So, ngalor-ngidul pagi ini bisa diakhiri dengan kesimpulan pentingnya membaca dan berpikir mendalam (deep reading and thinking).

Apa Saja Pertanyaan Umum tentang Blog?

Tulisan kali ini membahas frequently asked questions (FAQ) seputar blogging

Artikel kali ini membahas pertanyaan-pertanyaan yang sering ditanyakan (namun masih di area permukaan) tentang blog.

Bagaimana cara mulai ngeblog?

Ya mulai saja dengan bikin akun. Di wordpress.com, blogspot.com atau yang belakangan lagi naik daun: medium.com.

  • Kalau sudah punya akun, akan sayang kalau akunnya tidak dipakai mengisi blog.
  • Kalau sudah ada sedikit artikel, akan sayang untuk tidak diteruskan hingga menjadi banyak.
  • Kalau sudah mulai banyak tulisannya, akan sayang untuk tidak dilakukan secara konsisten,
  • dan seterusnya.

Dari mana ide datang?

Pastinya bisa dari mana saja. Habis baca buku, bisa jadi ide ulasan (review) buku. Ke toko buku, bisa dapat ide tulisan juga. Lakukan aktivitas yang baru sama sekali bisa jadi ide juga: mulai dari mengapa dilakukan, perencanaan seperti apa, pengalaman (experience) bagaimana, hasil apa yang didapat, dan seterusnya.

Platform blog apa yang cocok?

Saya pertama sekali membuat blog di blogspot.com. Entah bagaimana ceritanya, saya hijrah ke wordpress.com. Setelah 10 tahun bersama wordpress.com sekarang saya gunakan mesin WordPress berbayar dengan domain berakhiran .com. Target saya dengan blog baru https://ikhwanalim.com ini setidaknya akan saya gunakan selama 10 tahun ke depan.

Bisa dikatakan, saya cocoknya dengan WordPress. Tapi belakangan ini mulai ada CMS (Content Management System) baru bermerek Medium. Cukup menarik juga. Tapi tidak cukup membuat saya hijrah dari WP.

Bagaimana supaya blognya rame?

  • Perbanyak tulisannya.
  • Menulis yang panjang di setiap artikelnya.
  • Bikin pancingan di tiap akhir paragraf, supaya reader tidak stop membaca dan meneruskan ke paragraf yang baru.
  • Lakukan promosi ke akun social media (facebook, instagram, fan page). Saya bikin fan page Authentic Marketing di sini. Tolong di-follow ya 🙂
  • Pelajari statistiknya. Kenali siapa yang datang, dia datang karena kata kunci (keyword) yang mana, artikel (post) apa yang paling sering dikunjungi?
  • Bikin perencanaan konten. Terutama berdasarkan wawasan (insight) dari statistik yang sudah dipelajari. Riset Content Marketing ini bisa kamu pelajari.

Bagaimana caranya supaya bisa konsisten?

Bagaimana cara mulai menghasilkan dari blog?

  • Mulai menulis
  • Fokus di niche tertentu
  • Bermain Google AdSense
  • Membuat halaman profil dengan kontak email yang bisa dihubungi
  • Rutin gerilya mencari dan menawarkan kepada calon pembeli/pembayar, yaitu jasa paid/sponsorship content. Yakni kontennya di blog kita, dengan mereka mensponsori konten tersebut.

Anyway, saya meyakini tiap orang punya jalannya sendiri untuk sukses di dunia online. Terus terang, saya tidak menjalankan strategi tersebut. Blogging adalah cara saya membangun kompetensi menulis dan branding selaku penulis. Dan itu dengan sendirinya membangun channel untuk menghasilkan uang.

Gimana caranya supaya blog saya tampak keren?

  • Cari dan pilih theme yang bagus. Tidak heran, yang bagus biasanya berbayar.
  • Belajar teknologi Front-End (FE). Di antaranya adalah HTML, JavaScript, dan terutama CSS.

Ide tulisan dicatat di mana biar gampang dilihat lagi?

Kalau sudah publish, gimana cara terbaik untuk promosi kontennya? Saya pengin dapat PV banyak.

  • Lakukan promosi ke akun social media (facebook, instagram, fan page). Saya bikin fan page Authentic Marketing di sini. Tolong di-follow ya 🙂
  • Congkak juga di komunitas menulis kamu. Saya ikut 1minggu1cerita.

Lifestyle atau niche?

Lifestyle boleh, niche boleh. Masing-masing ada plus minusnya. Dengan strategi lifestyle berarti topik kita cenderung luas dan tidak terlalu sulit untuk bisa konsisten. Tapi ya itu, sulit berbeda dari kebanyakan blogger lain. Menurut pengamatan, saya melihat banyak emak-emak yang nge-blog tidak memiliki perbedaan yang signifikan di antara mereka. Jadi, proses diferensiasi yang dilakukan lewat personal experience-nya maupun teknik stroytelling-nya (penguatan karakter, plot cerita, dll).

Dengan strategi niche, maka konsisten akan lebih sulit. Karena segala prosesnya harus benar-benar kita pikirkan. Mulai dari perencanaan konten, penelusuran target pembaca, pendalaman kata kunci (keywords), dan lain sebagainya. Namun dari sisi pemasaran (marketing), strategi STP-nya sudah benar. Segmenting, Targeting, dan Positioning. STP yang benar dan konsisten, akan membawa kita pada kesuksesan. Cepat atau lambat.

From Brand Writer to Technical Editor

Metamorfosis (sesuai pekan ber tema dari komunitas blog yang saya ikuti) dari penulis pemasaran menjadi penyunting teknis.

Waktu saya masih culun dulu, saya meminati topik management dan marketing. How to manage and how to market something. Keduanya seperti dua hal yang sangat powerful. Selemah-lemahnya hal yang dikelola, selama dikelola (to be managed) dan dipasarkan (to be marketed) dengan tepat, maka akan berhasil.

Demikian keyakinan saya, hingga saya lebih sering mempelajari (dan menulis) topik-topik tersebut daripada pelajaran-pelajaran kuliah saya sendiri. Apalagi dulu saya kuliah di kampus teknik, ya. Tentu saja materi-materi tersebut sangat jauh berbeda –dan ada human factor-nya juga. Kalau di sains dan rekayasa (science and engineering) kita cenderung untuk mengeliminasi sama sekali faktor manusia, maka khusus topik manajemen dan pemasaran faktor tersebut sama sekali tidak bisa diabaikan. Bahkan cenderung, berpusat pada si manusia (dan organisasinya) itu sendiri.

Jadi kedua topik tersebut, wabil khusus topik pemasaran semakin saya pelajari dengan tekun. Bagaimana cara melakukan riset pasar, bagaimana mempelajari permasalahan klien lalu menyusun rekomendasi yang tokcer untuk mereka implementasikan, sampai menyusun materi pelatihan guna memberi inspirasi dan technical how-to bagi para peserta training.

Brand-ing

Dan satu irisan besar dengan marketing adalah branding. Bicara marketing, ya topiknya pasti branding. Wacana branding juga membahas marketing. Apa itu brand-ing? Yaitu, suatu upaya tanpa henti (continous process) dalam membangun merek. Sebagai penulis di bidang per-merek-an (brand writer), wajib hukumnya untuk mempelajari siapa calon pelanggan dari suatu merek.

Empathy: Putting our feet into their shoes.

Modal dasarnya adalah empati. Yaitu menempatkan diri ke dalam personal si pelanggan, untuk dapat memahami kebutuhan (needs) dan keinginan (wants) mereka. Keduanya dapat berwujud macam-macam dalam psikologi manusia. Salah dua di antaranya adalah kegelisahan (anxiety) dan hasrat (desire). Sederhananya: penuhi anxiety dan desire mereka, maka merek kita akan sukses dalam menepati komitmen yang sudah dijanjikan serta mungkin berhasil menjadi nomor satu di pikiran atau hati pelanggan. Itu contoh algoritma umum dari brand writer.

Persoalan dengan pelanggan sebagai “partner” kita dalam membangun merek adalah: pelanggan itu moving target. Target bidikan yang selalu bergerak. Dinamika produk dan layanan dari merek kompetitor yang memberikan opsi berbeda dari merek kita, dan dari pelanggan itu sendiri yang seringkali “galau”, “resah”, “bingung” menjadikan pekerjaan brand writer selalu dinamis. Kalau tidak mau disebut demikian, bisa dilihat sebagai tidak ada resep yang selalu berhasil. Dengan kata lain, semua kunci sukses bersifat temporer. Sehingga, kesuksesan tersebut bergantung pada kreatifitas kita dalam memandang, mempersepsikan dan mengeksekusi layanan-layanan riset, konsultasi dan pelatihan.

Internet Era

Di atas tahun 2010, kreatifitas yang saya sebutkan diatas ditantang lagi oleh medium yang namanya internet. Sejak internet semakin menjadi-jadi, semua informasi ada di dalamnya. Dengan kecanggihan dan perkembangan robot Google dalam menyajikan hasil pencarian, hampir semua (saya belum berani bilang “semua”, ya) ilmu pengetahuan ada di internet. Konsekuensinya, kliennya para konsultan bertambah pintar dibanding sebelumnya. Dengan kata kunci (keyword) dan kecenderungan (intention) yang tepat, klien akan menemukan wawasan (insight) yang mereka cari.

Berakhir di kantor konsultan sebagai penyedia layanan. Jasa konsultasi, sebagai layanan “meminjamkan otak” untuk berpikir, tidak lagi semudah dahulu dalam menghantarkan layanannya. Sederhananya, klien telah mengambil kesimpulan bahwa tidak semua proses berpikir perlu dialihdayakan (be outsourced) kepada konsultan.

Technical Documentation

Dahulu, dokumen teknis semisal “User Guide” atau “Manual Guide” sangat berpusat pada pengguna (user-centric). Term ini analog dengan konsep customer-centric (berpusat pada pelanggan) yang digaungkan para konsultan, khususnya konsultan pemasaran. Yang menarik pada saat itu adalah, pengguna adalah mereka yang memiliki literasi pemrograman atau literasi teknikal di atas rata-rata. Sebab, aplikasi digital masih banyak digunakan oleh mereka yang menjalankan fungsi-fungsi bisnis di perusahaan. Akuntansi, rantai suplai, dan lain sebagainya. Jadi, Manual/Guide yang dibuat masih sangat teknikal. Untung bagi saya, tatkala saya bergabung dengan sebuah IT company, saya tidak lagi bersentuhan dengan detil-detil yang sangat kental kerekayasaannya ini.

Manual/Guide yang sangat teknis tidak mungkin diberikan kepada dan digunakan oleh masyarakat umum seperti sekarang ini yang sudah sangat familiar dengan mobile application dari iOS/Android, seperti aplikasi Tokopedia, Bukalapak, Traveloka, dan Go-Jek.

Keberadaan para perusahaan unicorn tersebut lha dan ribuan perusahaan rintisan (start-up) lainnya, yang mulai menggeser dan menspesifikasi bidang dokumentasi teknis menjadi hanya pada pengoperasi-pengguna (user-operator) dengan suatu bidang yang kini kita sebut UX (user experience). Topik ini bisa kita bahas lain kali ya.

Being Editor

Alih-alih menjadi penulis dokumen-dokumen teknis tersebut, saya menjadi penyunting. Tidak hanya menyeragamkan penggunaan bahasanya, namun saya juga menyusun topik-topik yang wajib ada di setiap jenis dokumen. Mengingat dokumennya sendiri sangat beragam, mulai dari dokumen yang memetakan kebutuhan klien, dokumen yang menspesifikasi aspek-aspek teknis dari aplikasi yang akan dihantarkan, dokumen perencanaan proyek, dokumen-dokumen penunjang keberjalanan proyek, dan sebagainya.

Sebagai yang pernah belajar di kampus teknik, ternyata masa mendayagunakan kembali logika-logika sains dan rekayasa telah datang kembali pada diri saya. Tentu tidak sepenuhnya sama, karena dulu saya lebih banyak belajar material dari sisi saintifiknya, bukan dari sisi kerekayasaannya. Namun demikian, saya bergabung dengan nyaris tanpa cacat (seamless). Mungkin karena saya sedikit teknikal tapi mengerti bahasa. Atau banyak paham tentang bahasa (dan penulisan), tapi bisa nyambung kalau bicara teknikal.

Teknologi untuk Penulis. Yay or Nay?

Teknologi berkembang pesat. Developer harus catch up terus. Sementara teknologi digital yang berkembang cenderung mudah digunakan oleh penulis. Padahal, pasar penulis kode berkembang lebih cepat dan besar. Bagaimana penulis sungguhan menyikapi ini?

Di perusahaan-perusahaan IT (information technology), baik berupa perusahaan system integrator yang mainnya proyek-proyek temporer IT maupun perusahaan rintisan (start-up) yang fokus ke produk-produk IT (name it Go-Jek, Tokopedia, Bukalapak, Traveloka, dlsb) saya mengamati sesungguhnya teman-teman developer (pengembang) berjuang mati-matian untuk beradaptasi dengan teknologi.

Artinya, dua-tiga tahun saja tidak menyentuh teknologi-teknologi tersebut, maka akan sulit untuk catch-up. Why? Simply karena versioning-nya berkembang terus. Sederhananya, dari 1.0 bergerak terus menuju 2.0, 3.0 hingga 4.0. Itu baru satu versioning.

Belum termasuk lahirnya bahasa-bahasa pemrograman yang baru. Yang terbaru saya dengar Go Languange (Bahasa Go) alias Go-Lang yang notabene dibesut oleh Go(ogle). Itu satu jenis bahasa Back-End ya. Belum bahasa Front-End engineering (untuk transisi, animasi, static content, dll), maupun teknologi-teknologi DevOps.

Framework (kategori yang relatif lebih easy-peasy lemon-squeezy daripada bahasa karena lebih siap pakai) juga demikian. Ada framework ini dan itu yang berkembang sedemikian rupa. CMS (Content Management System) juga begitu. CMS ini lebih siap pakai lagi. Namun, perkembangan manajemen konten menuntut penggunaan CMS yang part-partnya bisa dikoding di sana dan di sini. Demi statistik-nya lha, untuk diimplementasi search engine lha, and so on, and so on.

Intinya, semua tidak jauh beda dengan programming language yang terus-menerus berkembang namun tidak mau berhenti barang sejenak.

Intinya, bagi developer (dan system engineer) teknologi berkembang sedemikian cepat hingga sulit dikejar. Tidak heran, kebanyakan programmer yang sudah senior, mulai stop being programmer. Instead of mengikuti perkembangan teknologi yang begitu cepat, mereka memilih menjadi business/system analyst (pembuat requirement) atau project manager (PM; manusia yes-man yang running implementasi proyek di situs klien).

Sementara, para penulis (writer) kita cenderung bisa mengikuti teknologi yang ada. Mulai dari aplikasi Microsoft Word, CMS (yang populer ada Blogspot dan WordPress —Sitefinity lebih susah sedikit) lalu Google Docs (yang menuntut kita bisa kerja bareng dengan penulis lain di laman yang sama; karena mekanisme automated saving-nya; thanks to internet).

Bagi yang lebih teknikal sedikit, berurusan dengan ClickHelp atau Flare (dari MadCap) atau sejenisnya dalam rangka mengembangkan online documentation atau sejenis-jenis User Manual. Level kesulitan kategori ini hanya satu level di atas CMS-CMS blog, ceuk saya mah ya. Haha.

Because being writer is more like artist rather than scientist or engineers.

Kita penulis mah lebih dekat dengan urusan selera daripada printilan-printilan logika yang sekuensial ala-ala developer.

Ada kalanya kita penulis berpikir beda (dan cenderung kreatif) terhadap suatu produk tulisan. Sementara kreativitas engineer diuji dengan desain dan implementasi suatu algoritma yang cocok untuk fungsi yang dikehendaki oleh requirement-nya client.

Kalau penulis harus berpikir urut semata karena plot yang disajikan kepada pemirsa. Sementara di sisi lain, kedua jenis makhluk (scientist dan engineer) harus berpikir runtut sedemikian rupa; tidak heran karena mereka menulis kode yang wajib bisa dibaca oleh mesin (dan oleh manusia juga).

Siklus seorang penulis, bisa jadi akan lebih panjang daripada developer ya. Simply karena di atas 35, 40, atau bahkan 50 tahun, kurasa para penulis masih bisa mengikuti tren-tren teknologi kekinian.

At the end, the conclusion is… technology is quite easy for writer to adapt.

Tapi Tuhan itu adil, kok.

Job market for developer is much bigger (and grow faster) than writer 🙂

Simpulan saya, “jatah”-nya penulis adalah berpindah dari satu medium ke medium lain. Dari blog (yang notabene artikel) menjadi buku. Lalu beralih ke caption Instagram (berhubung skill desain/ilustrasi yang ala kadar, jadinya pakai Canva, deh), kalo wajahnya tjakep dikit boleh lha beralih ke Vlogger (YouTuber). Kalo pede suara gak cempreng, main Podcast.

That’s all. Kalau ada insight menarik dari kamu, silakan komen di bawah ya! Cheers 😀

Majalah, Riwayatmu Kini

Sembari mengenang masa silam perihal majalah-majalah yang pernah menyertai jalan hidup saya. Dan bagaimana majalah semakin menghilang dari hidup saya.

Waktu kecil di-langgan-kan majalah Bobo sama ortu. Di saat yang sama, juga langganan koran Suara Karya. Korannya sampai di rumah sore, tapi koran pagi. Jadi agak basi juga beritanya, hehe. Masa-masa non-digital dulu. Namanya anak kecil ketemu koran, ‘kan ya. Ya saling lihat doang. Kagak saling sapa sama sekali. Si anak kecil lebih berminat sama Bobo yang berkaos merah berinisial ‘b’, Bona, Rongrong dan Nirmala. Ada beberapa teaser atau spoiler juga untuk serial yang akan tayang di TV. Alhamdulillah, serial Ksatria Baja Hitam RX tersebut hanya tayang di RCTI. Daannnn, RCTI nya juga belum masuk di wilayah kami. Hahahahaha…. (ketawa miris).

Di rumah juga ada majalah hidayatullah. Entah dibeli, atau dapat gratis karena member. Majalah dari pesantren ternama dengan nama yang sama di Balikpapan. Ternama-nya pun saya baru tahu di kemudian hari. Bahwa pusatnya, pesantren terbesarnya itu ya di Balikpapan. Pas tinggal di Surabaya, baru tahu ada minimarket lokal dengan merek “Sakinah” yang ternyata termasuk grupnya Hidayatullah juga. Sakinah ini sebagian besar size-nya minimarket. Tapi ada juga yang berformat supermarket di dekat ITS (Institut Teknologi Sepuluh November, bukan Institut Teknologi Surabaya, ya).

Selama “penjara” SMA, konten yang diekspos ke kami sangat dibatasi. TV hanya ada di ruang baca kelas. Satu TV untuk seluruh angkatan. Dan hanya boleh ditonton setelah jam belajar malam. Wicis wicis, itu sudah jam 9 malam. Demikian pula dengan kording (koran dinding). Tiap hari diganti, tapi satu koran untuk satu angkatan. Hehehe. Alhamdulillah jadi fokus belajar (iya, gitu?).

Jadinya, urusan majalah-majalah ini pinjam-baca ke teman. Ada majalah M2 (Movie Monthly), Cinemagz, tapi paling sering ya Majalah Hai. Maklum kami-kami dulu kan remaja tanggung yang lagi cari panduan tampil Masteng (mas-mas sok ganteng) di depan Mbatik (mbak-mbak sok cantik). Dua majalah pertama yang disebut, ya cuxtaw ajalah, ya. ‘Kan nonton bioskopnya juga entah kapan (palingan pas libur semester). Harap maklum, di kota tersebut belum ada mall. Urusan novel, yang paling diingat adalah Eiffel, I’m in Love dulu yang kami sempat baca bergiliran. Sampai ada yang fotokopi segala (padahal ‘kan gak boleh, ya?).

Pas pindah sekolah ke Bandung, interest-nya mulai bergeser. Awal-awal sukanya baca Majalah MIX. Yang satu grup sama Majalah SWA (dulu namanya SWASEMBADA). MIX ini fokusnya di komunikasi pemasaran. Pemasaran, tapi terbatas di komunikasinya saja. Bukan meliputi urusan distribusi dan channel penjualan gitu. Kalau lagi bosan sama MIX, pindah ke lain hati eh majalah bentar deh: SWA. Si ortu-nya MIX ini bahasannya lebih beragam. Tidak hanya pemasaran. Tetapi juga finance, supply chain, dan lain sebagainya.

Namun, saya kemudian menyadari bahwa bagaimanapun juga, MIX dan SWA adalah majalah. Selalu mengkaver soal berita yang kemudian dikemas dalam wujud cerita. Kalau cari ilmu, bukan di majalah tempatnya. Bukan tidak bisa sama sekali, tetapi harus baca puluhan edisi dulu baru (kira-kira) understanding (pemahaman) dan framework-nya akan terbentuk. Sejak itu, saya mulai stop membaca majalah dan mulai membaca buku.

Yang saya ingat, buku-buku pertama yang saya baca adalah: Toyota Way, Change-nya RK (Rhenald Kasali, bukan Ridwan Kamil). Shorten long story, ternyata buku adalah pergulatan ilmu dalam horizon yang lebih panjang daripada publikasi, majalah, apalagi artikel. Kalau sebuah fenomena dalam rentang sebulan bisa di-frame dalam sebuah artikel, maka buku adalah versi 5-10 tahunnya. Sehingga dalam satu dekade berikutnya, bisa jadi sebuah buku malah usang karena teori-teorinya  tergantikan oleh teori/hipotesis baru (yang juga diturunkan dari fenomena-fenomena yang lebih baru).

Artikel-artikel  di majalah Harvard Business Review (HBR) oke punya. Relatif lebih long-lasting karena analisis yang mendalam membuat artikel tersebut punya positioning (posisi) yang lebih stabil terhadap satu-sama-lain. Buktinya, masih sering disitasi (eh, benar ini bukan Bahasa Indonesianya, ya?) dan jadi rujukan di sekolah-sekolah bisnis di dunia.

Terus, masih baca majalah, enggak?

Sudah tidak lagi. Perubahan zaman, terutama internet dan digitalisasi, menggilas industri media yang menerbitkan majalah. Sudah bertahun-tahun yang lalu, iklan di majalah tidak lagi jadi sumber pendapatan. Media kini lebih mengandalkan dari pelaksanaan training (jatuhnya memang mirip event organizer, sih), event lain, atau sumber lain seperti pengelolaan media internal suatu perusahaan.

Aktivitas membaca majalah yang saya lakukan dahulu sewaktu kecil sampai kuliah kini bergeser menjadi membaca artikel-artikel di website kenamaan. Bukan website media/berita, tetapi versi blog dari suatu website. Pola belanjanya juga bukan lagi belanja per eksmplar majalah/koran. Melainkan jadi berlangganan per waktu tertentu. Yang biasa ditawarkan adalah bulanan, tetapi ada diskon tambahan kalau langsung satu tahun.

Review Buku Filosofi Teras

Buku ini bagus banget untuk dibaca. Sudah cetak ulang 5-6 kali hanya dalam beberapa bulan sejak terbit perdana. Karena buku ini mengulas prinsip-prinsip sederhana perihal Filosofi Teras alias filosofi stoic.

Ada dua alasan saya tertarik sama buku ini. Pertama adalah Henry Manampiring-nya sendiri. Beliau suka nge-twit di @newsplatter. Tapi pertama saya tahu beliau dari blognya “The Laughing Phoenix“. Entah ya kenapa blognya dikasi nama demikian. As we know, Phoenix itu kan burung yang bangkit hidup kembali dari api kematian. Paradox karena si Phoenix ini tertawa (laughing). Yang membuat saya mampir pertama kali ke blog tersebut adalah survey dan hasil surveynya yang insightful (penuh wawasan), lucu, namun ya miris juga. Sebab, surveynya seputar LDR (Long-Distance Relationship), ke-jomblo-an, dan hal-hal sejenisnya.

Oiya, Om Piring ini lulus kuliahnya dari Akuntansi Unpad. Tapi sekitar dua puluh tahun karirnya dihabiskan di industri periklanan. Peran dia, as strategic planner. Which is, memahami target audience dari suatu brand (ya secara demografi, psikografi, dan perilaku) sampai dengan objective dari kampanye si brand itu sendiri. Nah, keluar-an dari pekerjaan dan peran dia adalah rencana penggunaan budget si brand terhadap media-media yang sudah dipetakan sebelumnya. Tentu tidak hanya plan-nya doang, donk. Tetapi juga laporan-nya, analisisnya, insight-nya, dan seterusnya.

Yang kedua, adalah dari rasa prihatin saya –sebagaimana sudah saya tuangkan di artikel sebelumnya di sini— mengenai tingginya angka bunuh diri generasi muda kita saat ini. Eling, yang kebetulan saya gak sengaja ketemu dia pas bedah buku Filosofi Teras ini Gramedia Bandung –yang jalan Merdeka, bukan yang baru di Jalan Supratman–berpendapat bahwa, generasi kami dulu ya tough aja sama ujian-ujian hidup semacam putus cinta dan skripsi yang tak kunjung usai.

Ok, masuk ke review buku ya.

Om Piring ini banyak mengutip pendapat filsuf-filsuf stoic kenamaan yang quote-nya sudah sedjak dua ribu-an tahun lalu, kemudian memberikan interpretasi kekinian terhadap pendapat-pendapat filsuf tersebut. Which is, namanya umat manusia, ya. Biar kata era internet nya juga sudah 4G, industrialisasi juga sampai 4.0, social media yang sudah sedemikian rupa ini, ternyata masalah-masalah hidup dan takdir manusia ya masih ada juga.

Interpretasi perdana yang saya kutip di sini perihal bahwasanya tidak semua hal dalam hidup bisa kita atur. Iya sih, ada yang bisa kita atur, tetapi banyak juga yang tidak. Termasuk dengan fakta-fakta seperti mantan beserta dengan kenangan masa lalu kita bersamanya. Yang bisa kita atur itu hal-hal semacam masa depan yang masih kita bisa rencanakan, perilaku dan persepsi pribadi yang masih bisa kita kendalikan, dan hal-hal semacamnya.

Nilai kuliah dan IP, di semester-semester berikutnya masih bisa kita ikhtiarkan. Kita masih bisa memperbaiki dan merencanakan ulang perkuliahan kita di semester depan. Tapi ikhtiar ada batasnya juga, yaitu takdir. Hal-hal semacam dosen killer, kebagian asisten praktikum yang tidak mengenal kompromi, termasuk hal-hal yang tidak bisa kita atur seenak djidat. Menurut para filsuf stoic, hal-hal terlingkupi takdir ini tidak usah terlalu dipikirkan. Toh kita juga tidak bisa berbuat apa-apa terhadapnya.

Misalnya, hal-hal semacam lahir tahun berapa –apakah masuk generasi baby boomers, X, Y, Milennial, atau Z–, lahir dari orang tua seperti apa –berbakat secara akademik atau punya warisan aset-aset perusahaan atau keturunan ningrat, dst– adalah termasuk kepada hal-hal yang tidak bisa kita atur. Oleh sebab itu, jangan sampai yang demikian ini malah ikut menentukan perasaan-perasaan kita sendiri. Yang wujudnya bisa berupa: tidak bahagia, sikap menyalahkan orang lain, dst.

Perihal hal-hal yang bisa kita kendalikan ini, memang menancap banget di saya. Karena memang, baru beberapa minggu lalu mendiskusikan hal ini dengan istri. Dan kesimpulan diskusi kami adalah –persis sama dengan buku Filosofi Teras ini– bahwasanya jangan sampai hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan justru mengontrol ketat pikiran dan persepsi kita terhadap sesuatu. Mari fokus saja pada apa yang bisa kita kendalikan.

Somehow, pesan-pesan dari para filsuf stoic –yang dirangkum dengan sangat baik oleh Om Piring dalam buku ini–sangat beririsan dengan pesan-pesan dari kepercayaan yang saya anut.

  • Misalnya, bahwa manusia itu kendalinya pada ikhtiar, sisanya diserahkan kepada alam (atau kepada Sang Pencipta–kalau kita meyakini teori penciptaan).
  • Contoh lain, bahwasanya masa lalu adalah sesuatu yang sangat jauh. Begitu jauh hingga dia tidak pernah kembali (silakan koreksi ya, kalau tidak salah ini adalah hadist).
  • Hidup ini bukannya tidak pernah berakhir. Masih ada kehidupan setelah kematian. Tidak perlu terlalu ditakuti atau dikhawatirkan. Justru karena hidup ini ada batasnya, maka kita wajib menjalani peran kita selaku manusia, yaitu berupaya maksimal memaksimalkan hidup yang terbatas ini.
  • Harta kekayaan orang lain. Tidak perlu dibanding-bandingkan dengan milik pribadi. Cuxtaw (cukup tahu saja) ya. Saya berpandangan demikian –dan diafirmasi oleh buku ini– karena toh kita juga gak lihat balance sheet-nya; kita gak tahu sebanyak apa laba dia tahun lalu, apakah mobilnya sudah selesai dicicil atau belum, dst. Apalagi, di ujung hidup kita dan dia, ternyata kita akan sama-sama menggunakan bilik kecil berukuran 2x2x1 meter.

Filosofi Teras juga membahas terkait parenting, lho. Parenting ini memang isu yang semakin seksi, ya. Semakin dibahas dimana-mana. Para orang tua juga semakin peduli, mencari tahu dan belajar mengenai parenting. Di sisi lain, para penggiat-nya –dan termasuk public speaker-nya– juga semakin banyak. Tidak heran, Om Piring juga mengkaitkan dengan topik parenting tersebut. Daaann, prinsipnya relatif sama bila dihubungkan ke kita selaku orang tua: do the best, let god do the rest. Serta, jangan ambil pusing, terhadap hal-hal yang memang di luar kendali kita selaku orang tua.

Overall, saya kira memang dua itu inti dari Filosofi Teras, yang sudah beberapa tahun terakhir saya pribadi coba terapkan.

Ulas sedikit soal bedah buku yang lalu, ya. Kita sebagai generasi Y atau Milenial yang beda tipis-tipis sama generasi yang sedikit di bawah kita –mungkin masih termasuk milenial juga– perlu untuk memahami dan berempati terhadap kesusahan-kesusahan yang mereka alami. Buktinya, dalam sesi Q&A, lebih banyak curhatan ketimbang diskusi ilmiah mengenai buku Filosofi Teras-nya. Curhatan semisal pekerjaan yang berbeda dengan jurusan sewaktu kuliah. Baru dua bulan kerja sudah ingin resign –padahal probation tiga bulan; tinggal gak usah lanjut setelah probation, kan? Dan banyak contoh lainnya yang saya yakin jumlahnya tidak sedikit.

Netiquette dan Cyberbullying

Netiquette berarti internet+etiquette. etiket (dari kata etiquette) adalah peraturan/norma yang mengatur apa yang secara sosial dapat diterima. Ini memang tergantung nilai-nilai yang dianut oleh kelompok sosial tersebut. sekarang, di dunia internet kita berbicara dengan manusia ‘kan? maka, apakah kamu akan mengatakan hal yang sama kepada lawan bicara? seharusnya iya. Terutama yang baik-baik.

Maka ikutilah standar perilaku yang sama dengan di dunia nyata. Karena, etika di cyberspace tidak lebih rendah daripada etika di dunia nyata. bukan karena tidak bertemu muka, maka standar menjadi lebih rendah. Bukan karena usia tidak lagi menjadi persoalan penting di awal percakapan, maka etika tidak lagi penting. Tapi etika dunia internet akan sama tingginya dengan etika di dunia nyata.

Netiket di dunia internet relatif sama. Tetapi secara teknis, netiket di berbagai komunitas justru berbeda-beda. Kenali bahasa yang mereka gunakan. pakailah kata-kata yang memang biasa digunakan di komunitas tersebut. Ikuti aturan yang dibuat admin. Siap-siap diberikan sangsi bila anda melanggarnya. Be sensitive secara online.

Jangan sok artis. Hormati follower/friend kamu. Hormati waktu dan bandwidth orang lain. Kamu bukan satu-satunya pemilik dan pengguna dunia maya. kita semua adalah pengguna, dan kita memiliki kesetaraan yang sama. Remember, you are not the center of cyberspace. Tetapi, tetaplah berusaha tampil menarik saat online. ambil keuntungan secukupnya dari anonimitas. Berikan nasihat yang baik. Bersedia untuk diajak berdiskusi. Kamu akan dinilai dari apa yang kamu tulis/bagi. Dan jangan takut untuk berbagi apa yang kamu tahu.

Hormati privasi orang lain. jangan karena kedekatan, tetapi tanpa izin, lalu kamu membaca email pacar kamu. Untuk admin, sekalipun sudah menjadi admin, jangan bersikap sewenang-wenang. maafkan kesalahan orang lain. Jangan arogan dan jangan sok suci. Admin juga manusia, bisa benar bisa salah. Yang penting terus belajar dan bantu mengarahkan komunitas ke arah yang lebih baik.

Sedangkan cyberbullying maksudnya, menggunakan teknologi komunikasi seperti email, handphone, chat rooms, instant messaging,  blog atau personal website fitnah untuk mengirimkan dan memposting, sengaja dan berulang kali, teks atau gambar yang kejam dan merusak (shek, 2004; belsey ,www.cyberbullying.ca)

Bagaimana berjaga-jaga terhadap ancaman cyberbully:

  • Jangan membagi-bagikan informasi/gambar/video yang dapat digunakan orang lain
  • Jaga privasi, kamu tidak bisa mengontrol materi yang sudah berada di internet
  • Introspeksi diri, bagaimana cara kamu berkomunikasi di internet

Jangan memberi kepuasan pada bullies:

  • Tenang, dan jangan membuat bullies lebih senang untuk mem-bully kamu terus-terusan
  • Tidak ada yang sebenarnya melihat reaksi awal kamu. Tetap tenang dan jangan emosional
  • Tidak perlu langsung merespon, tidak perlu buru-buru, pikirkan baik-baik
  • Jangan membalas! Jangan menjadi bully!

Yang perlu dilakukan:

  • Selalu kumpulkan bukti-bukti. Screenshots, save emails, save chatting log
  • Perlu melibatkan orang lain?
  • Katakan STOP!
  • Jangan pedulikan
  • Orang tua?
  • Keluhan pada penyedia layanan internet
  • Hubungi sekolah/universitas
  • Hubungi pengacara/polisi
  • Bantu korban lain dengan speak up!

*) artikel ini adalah versi tulisan dari presentasi kang Enda Nasution di Aula Fasilkom UI pada 3 Mei 2008

cek juga artikel ini.