Cara Menulis Kritik Buku

Kritik buku adalah ulasan yang menilai kualitas karya kepenulisan -yang berupa buku- secara objektif, kebaikan dan kelemahan karya tersebut, serta ke-pengarang-annya.

Kritik buku, menurut saya sama seperti kritik pada film maupun karya-karya sejenis, yaitu untuk memberikan apresiasi terhadap karya tersebut. Baik gagasannya maupun cara gagasan tersebut disampaikan. Karena dikritik berarti sudah dinikmati (dibaca/ditonton). Pasca aktivitas menikmati kemudian diikuti dengan umpan balik kepada para pekarya di luar sana mengenai keberterimaan -maupun penolakan- terhadap ide dan cara penyampaiannya. Penolakan tidak hanya penolakan semata ya tetapi baiknya juga diikuti oleh saran perbaikannya.

Kelebihan Buku

Kamu cukup mengungkapkan apa yang kamu sukai dari buku tersebut. Di antara hal-hal yang kita sukai, bisa jadi merupakan sebuah kesamaan antara pengalaman atau pikiran kita pribadi dengan gagasan yang disampaikan oleh penulis. Tentunya kamu perlu mengambil cuplikan kalimat atau paragraf dari buku tersebut sebagai bukti dari opini kamu tersebut.

Tentunya apa yang kita opinikan sebagai kelebihan, belum tentu sama di mata pembaca atau pengkritik lain. Bahkan bisa jadi apa yang kita sukai, malah dilihat oleh orang lain sebagai suatu kelemahan atau keterbatasan.

Kelemahan Buku

Buku yang lemah, menurut saya, adalah buku yang gagal menyajikan argumentasinya dengan cara yang bisa diterima oleh akal sehat. Bisa jadi gagal menyajikan data atau fakta yang mendukung gagasannya. Bisa pula karena kelemahan interpretasi atau analisis terhadap data/fakta tersebut.

Kelemahan Buku Nonfiksi

Ketika menulis buku nonfiksi, tantangan yang harus diatasi adalah sudah adanya tingkat pemahaman tertentu oleh para pembaca yang ditargetkan. Dengan kata lain, pembaca buku nonfiksi sudah ada segmen yang cenderung terbatas. Kecuali gagasan tersebut mau dibentuk lebih populer supaya mentarget segmen pembaca awam yang -tentu saja- lebih luas pasarnya. Caranya adalah dengan penyederhanaan/simplifikasi penyampaian maupun contoh-contoh yang lebih ‘relate’.

Dan “gagasan yang bisa diterima akal sehat” ini berlaku tidak hanya di buku nonfiksi semata, tetapi juga di buku fiksi, yang salah satu di antaranya adalah novel.

Kelemahan Buku Fiksi

Gaya kepenulisan adalah salah satu yang bisa dikritik dari buku-buku fiksi, termasuk novel. Saya duga, novel termasuk yang paling lebih sulit karena novel adalah fiksi yang ditargetkan untuk pembaca dewasa -bukan lagi kanak-kanak. Sebagaimana kita tahu, ada fabel, komik, dan bentuk-bentuk lain yang LEBIH ditargetkan ke pembaca anak-anak.

Jadi, gaya penulisan yang se-riil mungkin, kemudian bagaimana penulis mengajak pembaca untuk turut berimajinasi lewat kata-kata merupakan titik kritis penulisan fiksi. Saya sebut titik kritis karena ‘make or break‘-nya sebuah novel adalah pada kemampuan penulis itu sendiri dalam menyajikan plot ceritanya.

Kelemahan dan Kelebihan Novel

Contoh kalimat yang mengungkapkan kelemahan novel, “Sayang sekali banyak sekali kata-kata yang sulit sehingga para pembaca sulit menangkap makna yang ingin disampaikan.”

Contoh kalimat yang menyiratkan kelebihan novel, seperti diulas oleh Mega Putri “Buku ini memang berlatar pada situasi peperangan tetapi Sakae Tsuboi sebagai penulis tidak menjadikan latar tersebut sebagai hal utama yang diceritakan, melainkan dampak peperangan itu terhadap tokoh-tokoh dalam buku.”

Ke-Pengarang-an dalam Kritik Buku

Kepengarangan mengulas tentang pengarang atau penulis buku dalam hubungan dengan karya yang sedang dikritik atau diresensi. Menjelaskan tentang si penulis mulai dari latar belakang, keahlian, sampai karya-karyanya. Bagian ini adalah unsur yang penting di dalam resensi karena track record penulis dapat memunculkan rasa penasaran pembaca.

Pembaca akan penasaran dengan mengapa penulis menulis buku tersebut, bagaimana relasi gagasan yang dibawa di buku tersebut relatif terhadap buku-buku sebelumnya.

Contohnya ketika saya mengulas sastra kontemporer yang pernah mampir di hidup saya, seperti misalnya Raditya Dika, dia selalu menggunakan jenis-jenis binatang (kambing, marmut, brontosaurus, koala) yang kemudian diasosiakan dengan sifat-sifat manusia (kumal, perasaan cinta, warna merah jambu). Pengibaratan karakter yang diceritakan dalam novel dan filmnya, diasosiasikan dengan binatang yang punya sifat tersebut.

Kalau Adhitya Mulya, kepenulisannya mengalir seiring dengan pengalaman hidupnya. Tergambar dari novel Jomblo, lalu Sabtu Bersama Bapak. Kedua novel tersebut memiliki latar belakang yang berbeda: satu sebagai lajang, yang satunya sebagai orang yang berkeluarga. Latar cerita yang dialami oleh Adhitya Mulya sendiri -dan kita semua, sebenarnya- secara berturutan. Kedua cerita tersebut pun ikut diangkat ke layar lebar.

Referensi: https://ruangbuku.id/artikel/5-cara-mengkritik-buku-dengan-baik-dan-benar/

Baca juga: Keterbatasan Buku sebagai Sumber Pengetahuan.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.