Remote Working, Agree or Disagree?

Berandai-andai tidak pandemi lagi rasanya mewah banget ya. Karena masih entah kapan pandemi ini berakhir. Sebelum ke sana, travelling pikiran dulu yuk: setuju atau tidak setuju dengan remote working?

Esensi kerja kan mengirim deliverable pada target waktu yang dikehendaki dan kepada pribadi yg ingin menerima deliverable tsb.

Yang di era digital sekaligus internet ini, bisa dikerjakan dari jauh (remote). Maka muncul istilah bekerja dari jauh (remote working).

Bagi saya, ada beberapa alasan untuk setuju atau tidak setuju dengan penyelenggaraan remote working.

Saya setuju karena bekerja on-site di kantor itu menuntut perjalanan (commuting) yang tidak sekedar 2-3 langkah dan pakaian (outfit) tertentu. However, preparation harus ada untuk keduanya, ‘kan. It takes certain process and time.

Capek fisik dan lapar ketika pulang dari bekerja di kantor juga ‘masalah’ lain bagi saya. Kalau bekerja di rumah, in shaa Allah tidak merasa lapar yg bagaimanapun pada jam berapapun. Capek secara fisik pun tidak, karena dalam pengalaman saya, lelah fisik itu karena commuting-nya itu sendiri. Capeknya di pikiran saja.

Banyak hal yang bisa saya lakukan di rumah. Khususnya terkait rumah tangga (RT) ya. Beli makanan, memasak, ikut mencuci piring dan pakaian (including menjemur dan melipatnya, tentu saja). Untuk keluarga dengan tiga anak, pastinya pekerjaan RT tersebut tidak sedikit dan memang komitmen kami untuk mengerjakannya sendiri tanpa bantuan asisten.

Termasuk di antara hal-hal yang kami kerjakan sendiri adalah mengantar dan menjemput anak di sekolah.

Membersamai anak belajar, bermain (kami main catur, lho!), dan mengantar-jemput mereka di usia mereka yang sekarang ini adalah rezeki yang saya syukuri ya. I mean, kesempatannya memang ada sekarang ini dan belum tentu terulang lagi. Kan gitu kalau belajar dari yang senior ya, “Jangan terlalu sibuk commuting dan) bekerja, nanti anak-anak tiba-tiba sudah besar aja, lho.”

Saya gak jujur kalau saya remote working sepenuhnya memenuhi harapan saya akan ‘bagaimana bekerja’. Ada sisi yang saya kurang setuju (disagree) terhadap remote working.

Pertama, ruang bekerja saya belum sepenuhnya nyaman untuk membuat saya produktif. Punya ruang kerja yang nyaman dan hening itu kemewahan menurut saya. Karena sebelum pandemi ini kan, rumah bukanlah tempat bekerja. Rumah, selain berisi dapur, kamar mandi dan ruang keluarga/tamu, adalah ruang tidur. Jadi punya ruangan yang hening dalam rumah berisi anak kecil adalah priviledge (meminjam bahasa anak Jaksel).

However, belum ada yang bisa menggantikan pertemanan dengan para bestie di kantor. Kalau ketemu circle yang cocok maka itu anugerah tersendiri untuk kita sebenarnya sebagai bagian dari bersosialisasi dengan rekan-rekan seprofesi. Ada healing part juga kan bersama mereka tuh.

Bagi saya pribadi, cost-benefit remote working masih lebih baik daripada work from office (WFO). Ada benarnya ya survey BBC beberapa bulan lalu. Bahwa Work from home (WFH) itu lebih dikehendaki daripada WFO. Meskipun tidak bisa full WFH juga. Responden menghendaki tetap ada bangunan kantor untuk dituju dan menjadi tempat bekerja.

So, I choose to both agree and disagree ya soal remote working.

BACA JUGA: Remote Working from Coffee Shop.

Customer Service Toko Online

Apa saja yang menjadi tugas customer service di toko online?

Customer Service Toko Online.

Salah satu yang wajib ada dalam bisnis adalah kepuasan pelanggan (customer satisfaction). Ini adalah indikator (metric) yang dimiliki oleh bisnis, bukan terbatas pada orang atau divisi tertentu.

Customer Satisfaction ini bisa terwujud dalam berbagai bentuk:

  • Konsumen merasa nyaman dalam berbelanja karena mendapat informasi yang lengkap soal produk (biasa disebut product knowledge)
  • Pengalaman berbelanja yang terasa lebih efektif dan efisien
  • Ketenangan bertransaksi karena toko online tersebut merupakan toko yang terpercaya
  • Lewat channel apapun menghubungi toko online tersebut, selalu ada petugas yang fast response dan solutif atas keluhan pelanggan

Salah satu ujung tombak dalam tercapainya customer satisfaction dengan skor yang tinggi adalah tim customer service (CS).

Kalau di toko online, CS identik dengan petugas yang membalas chat via whatsapp (WA). Tentunya tidak hanya di WA saja ya. Karena mungkin saja toko tersebut juga membuka channel lain di e-commerce, misalnya. Jadi CS juga yang bertugas membalas chat di sana.

Jadi, tergantung bisnis tersebut membuka omnichannel di mana saja, maka di tiap-tiap channel tersebut ada CS-nya. Bisa orang yang sama atau masing-masing channel ada dedicated CS-nya. Tergantung keramaian (traffic) di tiap-tiap channel tersebut.

CS tidak terbatas pada whatsapp, tetapi juga membalas chat di e-commerce.

Keterampilan yang harus dimiliki oleh seorang CS:

  • Paham product knowledge. Baik secara fungsional maupun teknis. Bahkan bisa memberikan rekomendasi produk kepada calon customer.
  • Fast response. Supaya bisa fast response, harus fokus. Tidak nonton YouTube, tidak buka-buka browser, dan hal-hal lain yang mengganggu pelayanan kepada konsumen.
  • Komunikatif. Meminta maaf bila melakukan kesalahan, mengucapkan terima kasih pasca bertransaksi, mengkonfirmasi rekapitulasi pesanan sehingga tidak keliru/lebih/kurang.

Keberhasilan seorang CS juga ditunjang oleh bagian-bagian lainnya di perusahaan. Misalnya, bagian produk/visual desain yang telaten dalam menyiapkan product knowledge. Lalu ada bagian marketing yang “mendatangkan” traffic calon pembeli ke channel-channel milik toko — seringkali pakai paid traffic lewat FB/IG Ads. Dan bagian packaging yang teliti dan rapi dalam mengemas produk-produk yang dipesan.

Tugas CS Toko Online

Berikut ini adalah tugas customer service toko online yang saya peroleh dari scaleup.club suatu situs pelatihan paid traffic. Saya kutip karena saya memang setuju dengan deskripsi di dalamnya.

So, job description CS toko online atau sales online ini adalah:

1. Melakukan greetings kepada leads (calon pembeli) yang datang

2. Menghampiri leads yang sudah mengisi formulir rencana pembelian

3. Mengajukan pertanyaan yang tepat kepada calon pembeli

4. Memberikan penjelasan yang tepat kepada calon pembeli sesuai dengan permasalahannya

5. Menghitung total pembelian calon pembeli

6. Memastikan calon pembeli melakukan transfer

7. Memastikan barang terkirim di waktu yang telah dijanjikan

8. Menginformasikan kepada pembeli bahwa barang telah dikirim disertai dengan nomor resi

9. Mengawal barang yang dikirim agar tiba di tangan pembeli

10. Membantu menyelesaikan permasalahan yang timbul pada saat pengiriman barang

11. Meminta feedback dari pembeli mengenai produk dan pelayanan

12. Menjawab pertanyaan dan komplain yang muncul dari pembeli mengenai produk

13. Membantu menyelesaikan komplain tersebut untuk menjaga standar kepuasan pelanggan

https://www.scaleup.club/job-description-cs-toko-online/

Gaji Customer Service Toko Online.

Gaji seorang CS relatif lebih tinggi daripada divisi lain karena CS adalah ujung tombak menghasilkan penjualan. Ada tipe-tipe tertentu dari seorang CS yang penjualannya tinggi, baik karena bakatnya maupun kerja kerasnya.

Sebagai insight, tidak semua orang yang ditempatkan sebagai CS akan berhasil, lho. Meskipun suatu produk sedang trending, atau product knowledge yang sudah lengkap, atau traffic yang diberikan sudah tinggi, belum tentu orang yang bersangkutan pasti sukses mencetak penjualan yang tinggi.

Baca juga tulisan saya soal Bisnis Online yang lain.

Daftar Pekerjaan Part-Time untuk Mahasiswa

Dalam artikel ini saya menganalisis pros dan cons dari beberapa jenis part time mahasiswa. Pilih part time yang paling cocok dengan kamu.

Part Time Mahasiswa.

Mengapa Ambil Pekerjaan Part Time?

Ada banyak alasan ya bagi mahasiswa untuk menambah uang jajan.

Pertama, pastinya karena gak semua dari kita punya priviledge sebagai anak dari crazy rich.

Kedua, kalau kita tidak tinggal bersama orang tua atau keluarga besar, maka pastinya kita akan nge-kost, ‘kan. Tempat tinggal ada biayanya, makan pun ada biaya (karena tidak menumpang di rumah orang tua atau keluarga besar).

Ketiga, uang bulanan yang dikirim orang tua pastinya terbatas ya. Sudah ditakar oleh beliau berdua itu lah. Cukup untuk internet, buku, dan modal belajar yang lainnya.

Tidak heran, sebagian di antara kita sebagai mahasiswa butuh uang tambahan. Baik untuk kebutuhan utama di tanah rantau (kost, makan, transport, dll) maupun sebagai tambahan uang jajan demi mengikuti gaya hidup mahasiswa kebanyakan.

Jenis-Jenis Pekerjaan Part Time Mahasiswa

Berikut ini adalah beberapa pekerjaan part-time (paruh waktu) yang cocok untuk mahasiswa:

(Oiya, saya tuliskan juga analisis pros dan cons-nya ya. Biar sesuai dengan keadaan kamu sebagai mahasiswa.)

Part Time Mahasiswa: Guru Les/Bimbel

Pros: Mudah dapat murid kalau kamu adalah mahasiswa/alumni dari kampus ternama di kota tersebut.

Cons: Karena jemput bola paling bagus, maka terasa “rugi” kalau tempat tinggal murid jauh dari kost kamu.

Penulis Lepas alias freelance writer

Pros: Modal laptop (doank) dan gak perlu keluar kamar. Sesekali keluar ketemu klien.

Cons: Harus belajar terus. Baik secara konten maupun metode writing-nya. Karena beda medium kan beda juga metodenya. Dan kalau menulis di website, SEO tuh berkembang terus.

BACA JUGA: Content Writer, Content Strategist, Copy Writer, UX Writer.

Designer

Pros: Modal laptop (doank) dan gak perlu keluar kamar. Sesekali keluar ketemu klien.

Cons: Semua orang “bisa” design sekarang. Berkat app Canva. Pakai app yang lebih advanced seperti Adobe Illustrator (bayaran bisa lebih mahal) belum tentu rame klien juga.

Illustrator

Pros: Modal laptop (doank) dan gak perlu keluar kamar. Sesekali keluar ketemu klien.

Cons: Butuh bakat atau punya selera (taste) desain. Soal selera ini sama dengan designer, sih.

Translator

Pros: Modal laptop (doank) dan gak perlu keluar kamar. Sesekali keluar ketemu klien.

Cons: Musuhmu adalah mesin penerjemah seperti Google Translate. Kuncinya harus bisa bikin hasil terjemahan yang enak dibaca. Jadinya ya harus bisa menulis juga.

Barista

Pros: Kalau punya keahlian atau sertifikasi, tentu lebih mudah dapat kerjaan.

Cons: Lebih mirip jadi karyawan daripada pengusaha. Ada jam kerja yang cenderung gak bisa diatur. Kecuali bisa tukar shift dengan rekan kerja.

Coffee Shop juga menjamur. Sangat mungkin tutup dalam 6 bulan sejak dibuka. Belum lagi tutup karena persaingan. Padahal pengunjung mungkin hanya 1-2 kali ke kafe yang sama.

Fotografer/Videographer

Pros: Pemainnya relatif lebih sedikit dibanding part-timer lainnya.

Cons: Jelas harus dikerjakan di luar kost. Kudu modal kamera.

Waiter

Pros: Pendapatannya jelas. Habis bulan dapat gaji. Kalau ramai, mungkin dikasih bonus.

Cons: Mirip Barista, tapi lebih buruk.

Video Editor

Pros: Modal laptop (doank) dan gak perlu keluar kamar. Sesekali keluar ketemu klien.

Cons: Butuh bakat atau pengalaman. Potong-memotong video yang baik, berikan bridge antar pergantian konteks, dll.

Web Developer

Pros: Modal laptop (doank) dan gak perlu keluar kamar. Sesekali keluar ketemu klien.

Cons: Ada jenis language, framework, atau CMS yang populer digunakan sehingga kompetisinya ketat. Yang kurang populer bisa jadi bayarannya mahal tetapi pasarnya juga kecil. Serupa dengan designer, kira-kira.

Socmed Admin

Pros: Cukup dengan smartphone. Advanced sedikit pake laptop. Tidak perlu keluar kamar. Sesekali keluar ketemu klien.

Cons: Ini demand-nya tinggi, tapi supply-nya lebih besar lagi. Jadi, pasarnya agak ketat. Kalau skill-nya average, portfolio-nya average, dapatnya juga average.

Ojek Online

Pros: Konsumen sudah dicarikan oleh perusahaan aplikasi. Waktu kerja bisa menyesuaikan.

Cons: Butuh modal, yaitu mobil atau motor. Ada target jumlah trip minimal untuk dapat bonus (karena baru worth it dikerjakan sampai dengan dapat bonus).

SPG/SPB

Pros: Tinggal bawa badan saja. Bayaran lumayan.

Cons: Waktu gak bisa diatur sesuka kita. Biasanya good looking jadi syarat.

Kesimpulan Part Time Mahasiswa

Pilih pekerjaan part time mahasiswa yang cocok dengan keadaan kamu. Baik kesediaan dan fleksibilitas waktunya, kemampuan kamu untuk men-deliver pekerjaan, apakah ada skill yang berkembang dari menekuni pekerjaan part time tersebut, dan seterusnya.

LIHAT JUGA: Situs Freelance Mahasiswa.

Beda Content Writer, Copy Writer, Content Strategist dan UX Writer

Bagaimana Content Writer sebagai posisi yang relatif baru di dunia digital dan sangat menarik untuk dipelajari, dieksplorasi, dan digeluti.

Mari bahas persamaan dan perbedaan tiga jenis sebutan di atas. Yang pada akhirnya akan merefleksikan perbedaan peran, posisi, dan fungsi dari Content Writer, Copywriter, dan Content Strategist.

Content Writer

Konten disebut berkualitas kalau sukses membuat user rajin mengunjungi website tersebut dan betah berlama-lama di dalamnya. Saya betah dengan website niagahoster.co.id karena kontennya lengkap dan mencerdaskan. Mojok dengan imajinasinya yang nakal juga menghibur. Baca informasi di Tirto juga bikin kita menelusuri pranala lain yang disediakan.

Untuk aspek kuantitas, ukurannya tidak hanya panjang tulisan. Minimum disarankan 300 kata yah. Ada blogger yang sharing standardnya di kisaran 2500 kata. Selain panjang tulisan, banyak tulisan dalam media online tersebut juga ikut menentukan.

Belajar dari Mojok. Weblog ini “menghamba” pada Alexa. Sesuai tagline-nya yang Sedikit Nakal Banyak Akal, pembaca senang membaca beberapa tulisan setiap kali berkunjung, termasuk saya. Panjang tulisannya “hanya” 700-1000 kata. Cukup pendek, namun plotnya tetap ada. Alias tulisan-tulisan di Mojok tuh bernas, padat berisi.

SEO paling berperan di konten artikel tipe ini. Sebagai pengguna WordPress, laksanakan saja saran-saran dari Yoast supaya kontenmu lebih findable di jagat internet raya. Selamat mencoba jadi Content Writer 🙂

Copy Writer

Menulis untuk iklan. Tujuannya mulai dari memperkenalkan, mengingatkan konsumen kembali akan merek tersebut, hingga mendorong terjadinya penjualan lewat promosi diskon, atau saluran (biasa disebut channel) tertentu.

Medium iklan yang berbeda-beda ruangnya, menuntut copywriting harus koheren meski tidak wajib sama. Di sinilah kejelian copywriter dalam menyusun kata dan menyiasati ruang teks yang serba terbatas.

Di dunia digital, ada namanya Landing Page. Sebuah page di mana user mendarat (to land). Landing Page dengan komponen yang komplit akan meyakinkan user untuk membeli. Komponen tersebut di antaranya adalah:

  • Masalah yang dihadapi oleh calon konsumen
  • Solusi apa yang Anda berikan
  • Bagaimana solusi tersebut bekerja
  • Testimoni dari pembeli/pelanggan
  • Tombol Add to Chart (ATC)

Content Strategist

Eksekusi tanpa strategi ibarat berjalan tanpa mata dan tujuan. Sedangkan strategi tanpa eksekusi, analog dengan mengkhayal ke mana-mana tanpa berpindah tempat.

Jadi, sembari crafting konten, strategi tetap harus diperhatikan. Mulai dari tujuan (objektif), minimum target, alat pengukuran ketercapaian target, dan pengembangan konten itu sendiri. Yang terakhir ini meliputi beberapa langkah eksekusi ke depan. Termasuk perubahan jadwal rilis apabila ada kebutuhan untuk segera merilis suatu konten lebih cepat daripada jadwal.

UX Writer


Lagi ingin membahas soal profesi UX Writer.

Bagaimana Content Writer sebagai posisi yang relatif baru di dunia digital dan sangat menarik untuk dipelajari, dieksplorasi, dan digeluti.

Saya menjalani profesi ini tidak sepenuhnya ya. Ini salah satu peran (role) saya di dalam title ‘Technical Writer’. Namun, jika kamu ingin tahu, ada sedikit yang bisa saya bagikan soal ini.

Pertama, ini tidak ubahnya dengan desainer ya. Kalau desainer merancang flow, experience, journey atau apapun namanya itu, nah posisi yang sedang kita bahas ini setidaknya harus menyelami hal yang sama.

Sebab, pekerjaan men-desain itu dekat dengan subyektifitas; that’s why kita perlu mendekatinya secara objektif dengan metode-metode riset maupun desain tertentu.

Dalam konteks penulisan, seorang penulis UX harus menjalani perannya se-objektif mungkin. Mulai dari membaca dan membawa referensi ke dalam ruang diskusi, sampai dengan menyediakan beberapa alternatif teks untuk dipilih anggota tim Product Management.

Dari konteks user flow, user experience (UX), user journey dan berbagai istilah lain untuk maksud yang sama, seorang UX Writer berfungsi menyediakan teks-teks pemandu atas visual yang sudah lebih dulu ada.

Sekilas, apa-apa yang dikerjakan oleh UX Writer tampak sedikit. Padahal, kalau kita zoom out dengan sebuah produk digital, maka UX Writer harus melakukan suatu upaya ‘penyeragaman’ terhadap semua kata-kata yang dia rilis.

Tujuannya supaya konsisten dan seakan-akan diucapkan oleh persona yang sama. Ini membawa kita ke tugas-tugas lain dari seorang UX Writer: terlibat dalam pengembangan brand persona dan melakukan ‘penurunan’ lebih lanjut dari brand persona tersebut dalam implementasi yang lebih luas ke halaman-halaman (pages) produk digital tempat dia bekerja.

In short, ada 4 tugas yang dilakukan oleh seorang UX Writer:

  • Terlibat dalam pengembangan brand persona
  • Melakukan ‘penurunan’ berupa apa dan bagaimana brand tersebut mengkomunikasikan sesuatu
  • Terlibat dalam pengembangan user journey
  • Merancang kata-kata pemandu agar user dapat menggunakan produk dengan lebih mudah

Pasar untuk profesi ini sebenarnya tidak terlalu luas ya. Masih lebih besar pasar untuk programmer (developer) ataupun desainer.

Perangkat digital sebagai alat bantunya juga tidak banyak, dengan fitur-fitur yang sedikit. Bahkan cenderung sama dengan yang digunakan oleh para desainer.

Jadi, variasi pekerjaan maupun dinamika karirnya akan begitu-gitu saja. Kali lain, saya bisa sharing soal bagaimana membuat karir kita sebagai penulis menjadi lebih bervariasi.

Nah, kalau kamu ada pertanyaan soal profesi ini, atau mungkin sudah tahu tentang profesi ini, silakan share di kolom komentar, ya 🙂

BACA JUGA: Perbedaan Content Writing, Copywriting, dan Content Strategy.

LIHAT JUGA: UX Writer di Era Digital

Kesehatan Mental Anak-Anak dan Remaja di Masa Pandemi

Topik kesehatan mental rupanya semakin dicari. Di samping yang bergejala bertambah banyak, kesadaran akan kesehatan mental terus meningkat.

Definisi

Mental yang sehat. Sehat secara mental adalah keadaan ketika seorang individu merasa sejahtera, baik secara psikologis, emosional, ataupun secara sosial.

Menurut WHO, mental yang sehat adalah kondisi dari kesejahteraan yang disadari individu, yang di dalamnya terdapat kemampuan-kemampuan untuk mengelola stres kehidupan yang wajar. Sederhananya, individu dapat bekerja secara produktif dan menghasilkan serta berperan di lingkungannya.

Kesehatan Mental di Masa Pandemi

UNICEF memperingatkan bahwa anak-anak dan remaja berpotensi mengalami dampak jangka panjang dari COVID-19 terhadap kesehatan mental mereka.

Membaca press release tersebut, saya kira hal tersebut diakibatkan oleh satu atau beberapa sebab berikut:

  • Sekolah online. Jadi jarang berinteraksi secara riil dengan teman-teman sekolah.
  • Kurangnya rasa kasih sayang. Yang mungkin di antaranya disebabkan oleh menurunnya kemampuan orang tua dalam memenuhi kebutuhan kasih sayang si anak. Secara fisik maupun non-fisik.

Pandemi, selain membuat sebagian besar kita jadi lebih memperhatikan kesehatan fisik, juga membuat kita lebih memperhatikan sisi mental.

Ada beragam cara sering dibagikan untuk membantu mengatasi masalah kesehatan mental secara individual, berikut beberapa di antaranya:

  • meditasi,
  • yoga,
  • afirmasi positif (pernyataan positif bagi diri sendiri maupun orang lain), 
  • self-compassion (sikap untuk memberikan kebaikan pada diri dan memahami diri sendiri), hingga
  • terapi dengan bantuan hewan (peliharaan) atau pet therapy.

BACA JUGA: Review Buku Filosofi Teras

Kesehatan Mental Remaja

Berdasarkan data terbaru, diperkirakan terdapat lebih dari 1 dari 7 remaja berusia 10-19 tahun di dunia yang hidup dengan diagnosis gangguan mental. Setiap tahun, tindakan bunuh diri merenggut nyawa hampir 46.000 anak muda – tindakan ini adalah satu dari lima penyebab utama kematian pada kelompok usia itu.

Gangguan terhadap rutinitas, pendidikan, rekreasi, serta kecemasan seputar keuangan keluarga dan kesehatan membuat banyak anak muda merasa takut, marah, sekaligus khawatir akan masa depan mereka.

Sementara itu, ada pula faktor-faktor yang berpengaruh positif seperti lingkungan pengasuhan yang penuh kasih sayang, sekolah yang aman, dan interaksi positif dengan teman sebaya.

Berikut sejumlah temuan data tentang anak muda di Indonesia yang tercakup dalam laporan State of the World Children:

  • Hampir satu dari tiga anak muda di Indonesia (29 persen) dilaporkan sering merasa tertekan atau memiliki sedikit minat dalam melakukan sesuatu, menurut survei yang dilakukan oleh UNICEF dan Gallup di 21 negara pada paruh pertama tahun 2021.
  • Penelitian terbaru menunjukkan bahwa program bantuan tunai bersyarat telah mengurangi angka bunuh diri sebesar 18 persen di Indonesia.

Bagaimana Cara Tes Kesehatan Mental

Perhatikan bahwa ada jarak atau rentang tertentu dari yang namanya mengalami gejala dengan sudah terdiagnosis mengalami penyakit kejiwaan. Jadi harus berhati-hati dalam melakukan asesmen. Dan hasilnya harus dikonsultasikan dengan ahlinya.

Jangan self-diagnose sendiri seperti yang dilakukan beberapa orang pasca menonton film Joker, hehehe.

Ada beberapa tes yang bisa dilakukan:

  • https://pijarpsikologi.org/tes-kesehatan-mental
  • https://satupersen.net/quiz/tes-sehat-mental
  • https://www.ibunda.id/tespsikologi/tes-kesehatan-mental-online

BACA JUGA: Quarter Life Crisis

Referensi: