Contoh Digital Marketing yang Sukses

Daripada berlelah-lelah melakukan eksperimen digital marketing demi menemukan cara terbaik, mari kita belajar dari beberapa contoh strategi digital marketing yang sukses.

Contoh digital marketing yang sukses:

1. Spotify: Menawarkan Pengalaman Pengguna yang Berbeda

Saat ini, Spotify adalah salah satu perusahaan global paling terkenal di planet ini. Tapi bagaimana merek Swedia ini bisa menaklukkan dunia?

Ada banyak layanan musik streaming, tetapi yang membuat Spotify unik adalah fokusnya membantu pengguna menemukan konten baru. Secara teknologi, hal ini dimungkinkan berkat adanya Machine Learning (ML) maupun Artificial Intelligence (AI).

Spotify berusaha berbeda dengan platform streaming musik biasa dan sebagai gantinya menawarkan pengalaman pengguna yang benar-benar baru kepada pendengar.

Misalnya, selain filter khas berdasarkan genre, Spotify juga memungkinkan pengguna untuk memilih musik berdasarkan suasana hati mereka, apakah Anda ingin berolahraga, tidur, atau bahkan membutuhkan beberapa lagu untuk dinyanyikan di kamar mandi.

Ini membantu pengguna menemukan lagu yang tidak pernah terpikir oleh mereka dan pada gilirannya, memperkuat hubungan mereka dengan merek. Mereka juga menjadi yang terdepan dalam menggunakan kecerdasan buatan untuk menyusun daftar putar secara khusus berdasarkan kebiasaan pengguna mereka, seperti Release Radar dan Discover Weekly.

Culture Eats Strategy for Breakfast

Peter Drucker

Untuk budaya, perusahaan Spotify membangun culture-nya lewat Spotify Model. Ini adalah Agile methodology yang dikustomisasi menurut Spotify sendiri. Jadi, instead of terpaku pada dokumentasi yang mendukung agile method, Spotify memilih membangun tim yang lincah lewat Squads, Tribes, Chapters, Guilds, dan Trio. Selengkapnya bisa dibaca di artikel Atlassian di link di atas.

2. Go-Jek, Kreatifitas Kampanye dengan Dukungan Finansial yang Kuat

Go-Jek berawal dari sebuah call center dengan 20 orang driver. Kini, Go-Jek adalah startup digital dengan lebih dari 2 juta mitra driver.

Dengan kekuatan finansial dan kreatifitas, memampukan (to enable) Go-Jek untuk unggul dalam digital marketing.

Sebagai startup yang berawal dari ride hailing, food delivery, dan fintech, Go-Jek selalu terdepan dalam mengedukasi masyarakat agar mengadopsi kebiasaan baru yang ‘ramah’ teknologi. Kampanye-kampanye mereka identik dengan edukasi pasar, di antaranya adalah: #pesandarirumah #kasihlebihan #udahwaktunya, dan lain sebagainya.

Iklan Go-Jek Cari Kebaikan menang penghargaan.

3. Jenius, Masuk di Waktu yang Tepat dan Segmen yang Baru

Dalam laporan tahunan BTPN (Bank Tabungan Pensiunan Nasional), konsep Jenius ada 3, yaitu Simple, Smart, and Safe.

  • Simple (Sederhana). Akses kehidupan keuangan dalam satu sentuhan. Kelola keuangan hidup dalam 3 langkah. Tabungan, pembayaran, dan transaksi terhubung semua dalam satu aplikasi digital.
  • Smart (Cerdas). Dapat disesuaikan berdasarkan kebutuhan dan preferensi nasabah. Terhubung secara cerdas dengan ekosistem perbankan Indonesia. Berkembang seiring dengan pertumbuhan hidup nasabah.
  • Safe (Aman). Didukung oleh BTPN, diatur oleh OJK, dan dijamin oleh LPS. Dijamin dengan enkripsi dan teknologi terbaru. otentikasi tingkat kedua untuk ketenangan pikiran.

Jenius dari BTPN adalah pemain pertama di kategori digital banking. Menemukan momentumnya di era disrupsi digital dan disrupsi milennial ini, Jenius memuncaki kepemilikan aset bank digital dengan angka Rp183,17 triliun sebagaimana dalam infografis dari lokadata berikut ini.

Jenius adalah brand yang bisa kita jadikan contoh digital marketing yang sukses.
https://lokadata.id/artikel/infografik-inilah-14-bank-digital-indonesia-versi-ojk per 15 Juni 2021

Tantangan Jenius hari ini adalah mengatasi peristiwa-peristiwa yang menyebabkan merek Jenius menjadi rusak. Di antaranya adalah penggunaan rekening Jenius untuk penipuan (banyak terjadi karena membuat rekening bank digital tidak perlu ke kantor cabang), dan hal-hal merusak sejenisnya.

4. Netflix, Algoritma yang Disukai Penonton

Sejarah Netflix berawal dari jasa menyewakan VCD-DVD. Ketika teknologi berubah menjadi digital, dengan sigap mereka memasukinya. Secara momentum dan start, langkah Netflix sudah tepat.

Apalagi pada masa pandemik ini mengharuskan kita di rumah, banyak yang menghabiskan waktu dengan menonton film maupun TV series. Pilihan film dan series yang disajikan oleh Netflix, khususnya yang word-of-mouth (WOM) maupun yang memenangkan penghargaan – tergolong lengkap.

Tidak hanya Film barat saja tetapi K-Drama dan Anime (animasi dari Jepang) pun tersedia sehingga membuat banyak peminat kedunya memilih ‘hijrah’ ke Netflix sebagai layanan streaming andalan mereka.

Baca: Sistem Rekomendasi Netflix.

Netflix tidak hanya memiliki algoritma untuk mencari film/serial yang diminati orang, tapi juga untuk membantu moviemaker (baik film maupun series) dalam membuat film yang sesuai dengan minat para subscriber Netflix. Alhasil, setiap konten di Netflix diminati banyak orang meski sistem ini membuat beberapa film jadi terlihat membosankan.

Menjadi tugas Netflix sendiri untuk ‘meramu’ sajian kepada pemirsa, agar lebih sering berhasil menyajikan hiburan namun di saat yang sama tidak menyediakan hiburan yang membosankan dan mudah ditebak jalan ceritanya.


Masing-masing merek yang disebut dalam contoh digital marketing yang sukses di atas, memiliki strategi dan keberuntungannya. Meskipun keberuntungan tidak mudah ditiru, tetapi strategi bisa digugu.

BACA JUGA: Strategi Pemasaran.

Anxiety of Technical Writer

Setiap pekerjaan tentu saja ada dinamikanya ya. Naik dan turunnya. Plus dan minusnya. Keuntungan dan kerugian yang harus ditelan mentah-mentah. Dengan mengetahui hal-hal tersebut, akan membantu kita mengelola harapan (setting expectation). Sehingga kita bisa lebih legowo dalam menerima peran dan fungsi profesi masing-masing serta bisa memberikan karya yang terbaik.

Demikian pula dengan profesi Technical Writer (TW) yang tidak luput dari advantages maupun disadvantages.

Reality Check from User Experience

Sebagai technical writer, saya ada perasaan bahwa dokumentasi teknis (technical document) yang saya buat itu tidak sepenuhnya dibaca oleh pengguna (user).

Apalagi seiring dengan berkembangnya ilmu dan praktik User Experience (UX) ya. Manual-manual penggunaan yang dulu dibaca oleh pengguna kini sudah “diatasi” lebih dulu oleh desain yang user-friendly. Dapat dikatakan UX ini “mencegah” user membaca manual yang saya buat.

Unik ya, hehe. Karena kita menuliskan sesuatu yang wajib ada, tetapi tidak dibaca oleh penggunanya. Hehe.

Jadi, instead of menjadi petunjuk/manual penggunaan, maka arah dokumentasi yang saya buat lebih kepada menyelesaikan masalah (problem) yang andaikata terjadi tatkala aplikasi digital tersebut digunakan. Misalnya lewat halaman Help dan Frequently Asked Questions (FAQ).

Sebenarnya, UX tidak seburuk yang saya ilustrasikan di atas. Justru menjadi bidang baru yang perlu kita kuasai juga. Minimal untuk mengklasifikan mana yang masuk ranah UX design sehingga mengarahkan desain yang kita berikan kepada user. Maupun memberikan petunjuk (clue) kepada kita mana saja dokumen pemecah masalah yang akan berperan seperti Help dan FAQ.

Articulating User Requirement

Di samping itu, pekerjaan saya adalah menuangkan kebutuhan pengguna (user requirement). Baik yang bersifat fungsional maupun teknikal menjadi Requirement Specification (Spesifikasi Kebutuhan) dan Technical Specification (Spesifikasi Teknikal). Yang kedua ini biasa juga disebut sebagai Design Specification atau Technical Design Specification.

Selain yang sudah disebut di atas, ada juga dokumen-dokumen terkait Manajemen Proyek/Produk. Product Management kalau perusahaannya lebih banyak mengandalkan produk untuk melayani penggunanya dan Project Management kalau layanannya didominasi mengerjakan proyek milik klien.

Kenyataannya, dokumen-dokumen tersebut memang bagian dari deliverables yang harus kami sediakan mengiringi aplikasi digital itu sendiri. Dan memang sudah satu paket dengan proses yang perusahaan janjikan sebelumnya. Benar adanya bahwa kami dibayar atas aktifitas dan barang jadi tersebut.

Kembali ke kenyataan pahit di atas. Dokumennya wajib ada, tetapi belum tentu akan dibaca.

Real Conflict

Konflik yang saya rasakan adalah itu semua “hanya”-lah pekerjaan. Bekerja demi menyambung nyawa. Atau, istilah zaman now “demi segenggam berlian”. Sehinnga pekerjaan di kantor bukan suatu aktifitas yang “menyenangkan”.

TW harus bisa memberikan batas ya. Bukan karena suka dan bisa menulis, lantas semua harus dituangkan ke dalam dokumen. Kapan harus meriset (dan berhenti meriset), kapan waktunya menulis, kapan waktunya untuk menyunting (dan membuang kata-kalimat-paragraf yang hanya membuat penuh sesak).

Blogging

Kontras bagi saya, yang menyenangkan adalah kegiatan yang memupuk rasa ingin tahu (curiosity) dan memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan (questions) tersebut. Semisal ya aktifitas blogging ini.

Yeah, harus diakui kenyataannya bahwa apa yang saya ingin tahu belum tentu sama dengan apa yang ingin pembaca tahu dari blog ini. Apalagi dengan aspirasi dari warganet (netizen) yang tercermin di mesin pencari seperti Google lewat queries dari “people also search” atau Latent Semantic Indexing (LSI).

Sebagai blogger kita harus bisa membaca maksud (intention) para pembaca. Apakah sekedar mendapat informasi, mencari perbandingan antara para penyedia, maupun user intention yang lain.

Jadi, mencari jawaban dari segala pertanyaan sudah menyenangkan bagi saya. Apalagi setelah menuangkannya ke dalam blog ini. Hal tersebut kadang-kadang berimbas kepada Pageview (PV) yang tinggi. Seringkali juga tidak.

Tiga Tipe Artikel yang Harus Ada di Blog Kamu.

Bagaimanapun juga, dalam blogging yang utama adalah menuliskannya, bukan? Instead of melihat PV-nya tinggi atau tidak.

Kacamata lain yang bisa kita gunakan adalah “dokumentasi”. Layak atau tidak, penting atau tidak untuk didokumentasikan.

Dokumentasi

Always Benchmark-ing

Pekerjaan saya di kantor terkait dengan mendokumentasikan proyek-proyek milik perusahaan yang sifatnya eksternal maupun proyek-proyek internal.

Keduanya ibarat dua roda berbeda yang saling terhubung lewat suatu rantai yang penggerak utamanya adalah roda “internal”. Jadi bagaimana menggerakkan roda internal (dengan usaha seminimum mungkin) agar roda eksternal ikut bergerak membawa kita mencapai tujuan. Dalam proses tersebut, roda eksternal wajib memberikan umpan balik (feedback) kepada roda internal mengenai masalah, hambatan atau tantangan yang dihadapi. Sehingga, roda internal bisa menyesuaikan diri. Misalnya dengan menyediakan cetakan (template), membuat standard, atau aktifitas lainnya.

Dapat disimpulkan bahwa dokumentasi di perusahaan tuh sifatnya harus terus diperbaharui, khususnya dengan cara benchmarking ke praktik terbaik (best practices).

Make it Romantic

Hal yang sama juga saya lakukan sebagai blogger: merekam (to record) apa-apa yang saya pikirkan, lakukan, dan rasakan sendiri untuk dibaca oleh orang lain sebagai sesuatu yang bermanfaat.

Pun tatkala saya membaca tulisan saya sendiri akan berarti sebagai nostalgia bahwa oh ternyata saya pernah memikirkan hal-hal receh ini, oh ternyata pernah melakukan ini.

Sekedar perbandingan dengan khalayak kebanyakan, banyak juga lho yang menitipkan memori visualnya di Instagram (IG).

Karena penitipan memori baik berupa visual maupun teks di medium seperti IG maupun blog itu sifatnya seringkali personal dan privat serta minim maksud bisnis, maka tolok ukur (benchmark) ke luar seringkali salah sasaran.

Sama sederhananya dengan fakta bahwa perjalanan hidup tiap orang tidak sama dan tidak layak untuk membandingkan serta menentukan mana yang hidupnya lebih baik daripada orang lain.

Merekam dan memutarkembali memori kehidupan itu kan sifatnya manusia yang punya kepekaan ya. Alias romantisasi tersebut lebih karena manusia itu peka dan punya perasaan.

Idratherbewriting: Avoiding Burnout as Technical Writer

Strategi Pemasaran

Mengapa perlu strategi pemasaran.

Konsep Strategi Pemasaran

Kita berbisnis tidak boleh tubruk sana, tabrak sini, belajar kemudian. Harus ada strateginya. Alias rencana bisnis yang dieksekusi dengan cermat dan konsisten.

Berikut ini adalah beberapa Strategi Pemasaran yang jelas bisa Anda terapkan untuk bisnis Anda:

Branding

branding bukan soal identity, logo, ataupun desain. Branding adalah persepsi yang tertinggal tentang produk/layanan/perusahaan kita yang menjadi alasan pelanggan untuk kembali bertransaksi dengan kita. Brand adalah “jalan pintas” bagi konsumen dalam melakukan keputusan pembelian.

4Ps atau 7Ps

Salah satu teori pemasaran paling sederhana yang selalu dipakai adalah 4Ps (product, price, place, promotion). Sementara untuk 7P adalah 4Ps yang ditambah People, Process, dan Physical Evidence. Ini adalah pendekatan untuk menajamkan penawaran (offering) kita kepada pasar yang kita targetkan.

Product. Dari sisi marketing, yang diurus adalah product lifecycle-nya. Bagaimana caranya supaya merek produk tersebut tetap tumbuh dan bertahan di dalam benak customer. Baik dari cara berkomunikasinya, maupun strategi distribusi dan ketersediaannya.

Eksekusi Strategi Pemasaran: Channel

Berikut ini adalah beberapa saluran pemasaran yang bisa digunakan untuk mempromosikan produk dan layanan dari bisnis Anda:

Social Media

Pertama, gunakan jenis Social Media yang tepat. Untuk para profesional atau perusahaan, pakai Linkedin. Yang banyak dipakai di seluruh dunia adalah Facebook dan Instagram. Twitter is okay tapi ada segmen pasarnya tersendiri. Yang bertumbuh signifikan dalam setahun terakhir adalah TikTok.

Pilih Channel Social Media yang sesuai dengan pasar yang ditargetkan

Influencer

Bekerja sama dengan para influencer.

Kita harus tahu terlebih dahulu bahwa influencer terdiri dari 4 macam menurut jumlah follower dan skala pengaruh.

  • Nano: 1.000 – 10.000
  • Micro: 10.001 – 100.000
  • Macro: 100.001 – 1.000.000
  • Mega: Lebih dari 1.000.000
Ilustrai Nano, Micro, Macro, dan Mega Influencers. https://sociabuzz.com/agency

Begini cara bekerja sama dengan influencer: klasifikasikan menjadi dua tujuan: awareness dan engagement yang berujung sales. Awal-awal bangun awareness, kalau sudah dapat perhatian pasar yang ditargetkan, lanjut dengan engagement supaya terjadi penjualan.

Google Bisnisku

Ini adalah layanan berbasis lokasi di peta oleh Google. Wajib juga dimanfaatkan, khususnya untuk tipe bisnis yang dikunjungi oleh customer-nya. Caranya relatif gampang. Pin titiknya di Google Map, lalu lengkapi profilnya. Selanjutnya secara berkala mengundang pelanggan untuk memberikan rating dan review. Bisa juga memancing pelanggan untuk menilai dan mengomentari dengan iming-iming bonus, hadiah atau diskon.

Content Marketing

Penggunaan content untuk pemasaran. Bisa berupa artikel atau post di social media. Terasa lebih organik serta lebih riil (bahkan mungkin bisa lebih murah) kalau kita berhasil mengajak para kontributor untuk terlibat. Ini namanya User Generated Content (UGC). Mungkin dengan iming-iming tertentu ya. Misalnya Give Away (GA).

Untuk tahun 2022, diprediksi bahwa short video akan lebih intensif dan booming. Persaingan dalam distribusinya akan terjadi di kanal-kanal YouTube Short, Instagram Reels, dan TikTok.

Baca juga: Video Marketing.

Search Engine

Bisnis yang Cocok Menggunakan SEO.

Paid Marketing

Yang saya klasifikan sebagai “berbayar” di sini adalah membayar platform search engine dan social media yang sudah disebut di atas. Di antaranya IG ads, FB ads, Twitter ads, Google AdWords. Jadi organic content yang sudah dibuat, diamplifikasi lebih lanjut lewat iklan.

Event Marketing

Menurut urutan lini masa, pemasaran berbasis internet (Internet Marketing) sebenarnya baru hadir baru-baru ini. Kurang lebih 15 tahun terakhir. Jauh sebelumnya, saluran pemasaran yang pertama hadir adalah membuat event di titik-titik keramaian.

Di masa yang sangat tradisional, memancing perhatian dilakukan di pasar (yaitu suatu titik keramaian). Sekarang, titik keramaian ada di mall, sekolah, pusat perbelanjaan, dan sebagainya. Jadi di sanalah kita perlu mengadakan event marketing berupa open table, buka booth, dan sebagainya. Tentu saja harus ada “pemanis” berupa potongan harga (diskon), bonus bila belanja hingga kuota tertentu, free product, dan lain sebagainya.

Bauran Pemasaran (Marketing Mix)

Karena marketing itu tidak bisa hanya mengandalkan satu channel saja, dan harus menggunakan beberapa channel, maka meramu saluran-saluran tersebut menjadi satu strategi pemasaran yang terintegrasi adalah seni dari marketing itu sendiri.

Mana channel yang mau kita prioritaskan sumber daya kita di sana, mana channel yang frekuensinya perlu kita tingkatkan, mana channel yang paling sukses membuat konsumen memperhatikan produk kita, dan lain sebagainya.

Bisa lihat juga di Investopedia.