Kilas Balik 2021

Bagi saya, tahun 2021 adalah tahun yang menukik tajam lalu mendaki sedikit secara perlahan.

Alhamdulillah masih hidup dan masih bertahan hingga akhir tahun 2021 ini.

Meski gak kayak roller coaster yang naik turun, tapi tahun ini memang banyak down-nya.

Pandemi tahun ini, masih sama seperti pandemi di tahun sebelumnya. Mengerikan dan kita harus berhati-hati.

Alhamdulillah masih punya pekerjaan. Selalu bersyukur kalau mengingat bahwa saya ini punya kerjaan. Karena masih banyak banget yang gak punya kerjaan dan membutuhkan pekerjaan.

Salah seorang rekan saya, Iqbal namanya, yang profesinya di industri pariwisata terhempas habis-habisan akibat pandemi, berpendapat,

Kerja itu memang capek, tapi lebih capek gak kerja.

Iqbal, 2021.

Matur suwun Iqbal, atas nasihatnya. Jadi bersyukur masih punya pekerjaan dan selalu bersabar atas tantangan apapun dalam pekerjaan. Termasuk di antaranya adalah mengikuti vaksinasi supaya bisa melanjutkan hidup.

Suntik Vaksin

Saya vaksin pertama dan kedua di Rukun Warga (RW) tempat tinggal kami. Saya di bulan Februari dan April. Istri pasca melahirkan alias dalam peran sebagai ibu menyusui. Vaksinnya jenis Sinovac. Tidak ada KIPI berarti yang kami rasakan.

Cacar Air

Seingat saya, gak pernah tuh saya Cacar Air. Tapi saya pernah Cacar Api. Berhubung istri belum pernah, maka dia terserang dari anak-anak. Jadi sempat ada tiga pasien cacar di rumah.

Diagnosisnya baru tegak hanya dua pekan sebelum lahiran dan itu mengubah semuanya. Dari berharap lahiran normal, menjadi terpaksa menjalani operasi caesar.

Lahir

Paruh pertama tahun ini kami isi dengan ‘menunggu’ lahiran kedua. Periksa kandungan sebulan sekali bersama Anak Dua ke dokter Okky Haribudiman di RS Melinda 2.

Tetapi kami lahiran di RS yang berbeda. Baca: Pengalaman Melahirkan di RS Grha Bunda. Bersukacita karena ada yang datang dan berdukacita tatkala ada yang pergi.

Meninggal Dunia

Sebulan lebih pasca kedatangan anak bayi, rupanya ada yang “kontrak”-nya sudah habis. Dan kami harus merelakan kepergian beliau. Hebatnya, beliau rasanya masih hadir di tengah-tengah kami ini. Omong-omong, beliau suka dengan sembilan karena angka tersebut memiliki keberuntungan (hoki) tersendiri. Baca: Jumlah Sembilan.

Baca juga: Pengalaman Mengurus Akta Kematian dan Pengalaman Sidang Penetapan Ahli Waris.

Saya merasa kurang sering dan kurang banyak mengobrol dengan beliau (baca: Call Your Parents). Meskipun tidak bisa mengajari saya dengan baik, namun tetap saja saya banyak mengambil hikmah dari beliau. Khususnya pasca saya menikah, pasca punya anak, bahkan pasca beliau meninggal pun, selalu ada hikmah yang saya petik.

Saya bertekad, supaya saya juga menjadi pengajar yang baik bagi anak-anak di rumah.

Cerita hidup saya pun dilanjutkan dengan pulang kampung dahulu selama satu pekan disebabkan peristiwa besar tersebut. Rupanya, setelah cacar-lahir-meninggal, masih ada satu lagi.

Demam Berdarah

Hari Senin tersebut saya sudah tidak nyaman bekerja. Akhirnya minta izin supaya bisa istirahat sehari esoknya. Di Hari Selasa, tidak tahan dengan gejala demam dan sakit kepala, saya memaksakan diri ke dokter. Kata dokter, istirahat tiga hari ya: Rabu, Kami, Jumat. Namun, pengambilan sampel harus dilakukan Hari Rabu demi menegakkan diagnosis.

Kamis bertemu dokter lagi, ditanyakan masih bisa lanjut istirahat di rumah atau mau opname saja? Rupanya si penyakit belum mencapai puncaknya. Kalau di rumah akan ramai sekali dan sulit beristirahat. Kalau di RS maka sendirian tidak ada yang bisa menemani.

Akhirnya rawat inap selama empat malam. Kamis sore periksa darah untuk penegakan diagnosis: apakah demam typhoid (tipes) atau demam berdarah. Kamis malam ada rontgen untuk pengecekan covid atau tidak.

Jumat dan Sabtu saya ada mengkonsumsi Psidii Syrup 60 mL. Selain sudah bisa beristirahat panjang dengan nyaman dan menu bergizi dari RS, saya kira ekstrak tersebut juga membantu menaikkan trombosit saya.

Alhamdulillah Senin pagi saya bisa meninggalkan RS. Total 5 hari 4 malam di RS. Yang paling saya syukuri adalah, saya lebih dahulu menginap di RS bahkan sebelum penyakit mencapai puncaknya.

Mudik

Hampir dua tahun tidak pulang kampung karena pandemi, kali ini kami memaksakan mudik. Tidak dengan kereta api karena masih banyak kekhawatiran, khususnya karena membawa bayi, maka kami memutuskan lewat jalur tol saja. Baca: Pengalaman Menempuh Tol Trans Jawa.

Selain melepas rindu, si “anak baru” juga diperkenalkan dengan Yangti (eyang putri) dan Yangkung (eyang kakung). Selanjutnya saya mudik sendiri untuk menemani seorang janda yang baru saja ditinggalkan oleh suaminya. Ini harus saya lakukan, karena surga-nya saya di bawah telapak kaki beliau.

Mudik yang ini direncanakan 2-3 bulan ke depan hingga melewati pergantian tahun.

Kesimpulan saya tentang tahun 2021 adalah tahun yang menukik tajam lalu mendaki sedikit secara perlahan. Mudah-mudahan badai lekas berlalu. Karena tidak ada kesulitan yang tidak diikuti dengan kemudahan.

Dan di penghujung tahun inilah, kita sama-sama menanti pergantian ke tahun yang baru. Sampai jumpa di 2022!

Tertipu (Investasi) Dulu Belajar Kemudian

Bagaimana saya menjadi lebih bijak dalam berinvestasi, pasca terjerat skema ponzi.

Pengalaman saya perihal penipuan investasi.

Peristiwa ini terjadi hampir 10 tahun lalu. Zaman masih bodoh dan naif. Hahaha.

Waktu itu baru memulai bekerja di perusahaan. Masih meraba sana-sini soal bisnis. Industri apa, produknya apa, kira-kira berapa marjin keuntungannya.

Jadi, sudahlah masih belajar (baca: bodoh), naif (baca: serakah) pula.

Uangnya banyak banget sampai gak masuk koper ya? Tunggu dulu, apa benar itu semua uang dia?

Cerita penipuan investasi ini berawal dari saya dapat kenalan dari seseorang yang saya juga belum terlalu kenal, sebetulnya.

Orang ini butuh modal untuk membiayai proyeknya. Produknya pesanan/orderan busana muslim. Kalimat andalannya,

“Ada PO nih, kang. Mau ikutan, tidak?”

Dia menjanjikan laba 10%. Jadi kalau setor modal Rp2juta, baliknya Rp2,1juta. Kalau Rp5juta, kembalinya Rp5,5juta. Komitmennya dia dalam sebulan hasil sudah dibagikan.

Saya bertemu si beliau ini di warung ramen miliknya di lokasi kost-kostan yang dekat dengan suatu universitas swasta di Bandung. Dia bercerita tentang proyek fesyen yang digelutinya.

Singkat cerita, saya tandatangani kontrak lalu saya transfer ke rekening bank miliknya.

Sesuai komitmen, sebulan kemudian dia mengontak saya untuk pengembalian modal berikut bagi hasilnya. Dan seperti janjinya, hasilnya menggiurkan. Sepuluh persen dalam 30 hari saja. Tetapi diikuti dengan tawaran lain,

“Mau dilanjut gak, kang?”

atau,

“Mau tambah modalnya gak, kang? Sama. 10% per bulan”

Kalau belum waktunya si duit dipakai, saya setuju untuk diputar lagi.

Sesekali, jika ada dana menganggur, saya memasukkan tambahan modal ke “usaha”-nya dia.

Tapi jika sedang ada kebutuhan, saya menarik modal berikut hasilnya tersebut. Lebih sering via transfer, tapi 2-3 kali saya terima kontan (cash). Salah satu tempat saya bertransaksi adalah warung ramen miliknya. Bukan di tempat yang pertama, tapi di dekat kampus swasta yang lain. Jadi, hanya dalam 2-3 bulan saja, rupanya dia sudah membuka cabang yang baru.

Pada suatu malam, saya masih di kantor, tiba-tiba saya dapat kabar mengejutkan. Bahwa, si beliau ini mulai tidak bisa membayar. Alias “mengembalikan” modal berikut hasil yang dijanjikan.

Memang sih, belakangan itu mulai telat. Dari beberapa hari menjadi 1 pekan, lalu menjadi 2 pekan.

Nah dari sanalah mulai terkuak bahwa saya dan seorang teman (yang saya ajak sendiri) mengetahui bahwa “korban” yang seperti kami ada banyak. Ada puluhan orang dengan kumulatif outstanding (yaitu total rupiah yang harus dikembalikan) sebesar 2-3 milyar rupiah. Ada yang berani meminjam saudara/keluarga hingga menyetor lebih dari Rp100juta. Saya sendiri terjerat di kisaran puluhan juta.

Pada suatu weekend, rekan-rekan “investor” yang sudah tidak sabar lagi datang menyerbu rumah beliau yang notabene masih tinggal bersama orang tua. Rekan-rekan yang kalut tersebut menyerang dengan kata-kata dan mencaci orang tua si pengelola dana ini.

Saya lebih banyak diam. Saya lebih banyak merenungi sikap dan tindakan saya sendiri terhadap dana yang menjadi kelolaan saya. Yang seharusnya bisa saya pertanggung-jawabkan dengan lebih baik untuk saya, keluarga, dan rekan-rekan yang menitipkan modal dan kepercayaannya.

Teman-teman yang paham situasinya akhirnya memilih untuk merelakan. Lain halnya dengan yang tidak menerima penjelasan saya, memilih agar saya menggantikan uang yang hilang tersebut. Saya berusaha menyelesaikan tanggung jawab tersebut. Alhamdulillah lunas semua tidak lama kemudian.

Antisipasi Penipuan Investasi

Sebenarnya, saya sudah punya feeling sejak bertamu ke warung ramen cabang kedua. Tetapi, saya terlalu positive thinking untuk mempertanyakan kenapa bisa secepat itu membuka cabang kedua. Seharusnya saya bisa lebih kritis dalam mencari tahu duitnya dipakai untuk belanja apa dan berapa sebenarnya hasil dari semua perputaran tersebut.

Pelajaran yang Diambil Pasca Mengalami Penipuan Investasi

Berikut adalah beberapa pelajaran keuangan, khususnya mata pelajaran investasi yang bisa dipetik:

Kenali apa itu Ponzi

Apa itu skema Ponzi, siapa itu Charles Ponzi, dan skema apa yang dilakukannya. Referensi tentang Ponzi sudah terlampau banyak sehingga teman-teman bisa membacanya sendiri.

Sekedar contoh, ini juga termasuk skema Ponzi:

Hal ini berangkat dari Jiwasraya yang menjanjikan fixed return kepada nasabah dengan rate sampai dengan 14 persen dan memberikan garansi jangka panjang untuk nasabahnya yang membeli produk JS Saving Plan. Menurut Hexana, skema ini membuat perusahaan harus menggunakan setoran premi dari anggota untuk membayarkan klaim yang jatuh tempo setiap hari.

https://www.republika.co.id/berita/qrs83n318/generasi-instan-dan-fenomena-ponzinomics-di-indonesia

Belajar Sabar

Seperti saya sudah bilang di atas, referensinya sudah banyak banget. Baik tentang Ponzi maupun skema-skema penipuan lainnya. Namun, yang gak bisa dipelajari tetapi harus dipraktikkan adalah belajar sabar.

Ini tantangan berat sebenarnya ya. Mengingat internet dan generasi milennial sudah pula lahir bersama, tumbuh-besarnya juga bersama-sama. Dan salah satu ciri khasnya adalah suka yang instant-instant. Alias, tidak mau bersabar.

Padahal, kunci dari investasi adalah sabar. Sebagaimana Warren Buffet bilang, bunga yang berbunga-bunga (compound interest) adalah teman baiknya investor. Tetapi, investor butuh waktu. Alias investor harus belajar sabar.

Mengelola Harapan

Sabar itu bukan hanya sabar menunggu dan menjalani waktunya ya. Tetapi yang termasuk dalam sabar adalah dalam mengelola harapan (set the expectation).

Bahasa keuangannya adalah “kenali instrumen investasi yang anda pilih“. Maksudnya adalah ketahui segala keuntungan, stabilitas, dan risiko dari produk investasi tersebut.

Dari sisi pemberi dana, kita bisa membagi dua ya. Ada kreditur (pemberi hutang) dan ada investor. Pemberi hutang, seperti bank, biasanya meminta pengembalian yang pasti jumlah dan pasti (terjadwal) waktunya.

Sementara itu, apa yang seharusnya diterima oleh investor? Yaitu kenaikan harga saham (ketika dijual kembali) dan dividen (sisa hasil usaha setelah dikurangi dengan laba ditahan).

Itulah mengapa saya berikan tanda kutip pada salah satu kata “investor” di atas. Karena menyebut dirinya investor, tetapi menghendaki hasil yang tetap dan diterima sesuai jadwal.

Bagaimana Saya Sekarang?

Lama sudah sejak peristiwa yang saya ceritakan di atas, yang terjadi saat ini adalah:

  • Saya yang sekarang lebih santai, alias lebih sabar, dan tentu saja tidak bersikap instant dalam menunggu dan menjalani investasi.
  • Dan semakin saya mengenal profil risiko saya pribadi, saya akhirnya lebih banyak memilih instrumen investasi yang lebih aman. Ada kriteria aman yang puluhan tahun digunakan, yaitu 5C: Charater, Capacity, Capital, Condition, dan Collatera.
  • Seiring dengan semakin paham dan bijaknya saya melihat suatu peluang bisnis, saya jadi lebih “egois” juga untuk tidak berbagi risiko dengan orang lain. Iya, donk. Kalau berkolaborasi dalam investasi, hendaknya rugi sama-sama dan untung juga bersama-sama. Kalau hanya mau untungnya saja, tapi tidak mau ruginya, itu namanya serakah.

Demikian cerita saya kali ini, semoga ada hikmah yang bisa diambil ya.

Oiya, di bawah ini ada beberapa insight soal financial planning. Mudahan-mudahan bisa bermanfaat juga.


Pengalaman Sidang Penetapan Ahli Waris

Meskipun tidak sebanyak sidang perceraian, tetapi saya coba bagikan pengalaman saya menjalani sidang penetapan ahli waris.

Di Pengadilan Agama (PA) ada beberapa jenis sidang, tiga di antaranya adalah sidang perceraian (cerai), sidang hak asuh anak, dan sidang penetapan ahli waris.

Dua yang pertama, ada “lawan”-nya. Sementara yang terakhir saya sebut, bisa jadi “tanpa lawan” ketika semua ahli waris bersepakat untuk menyelesaikannya secara kekeluargaan/damai alias tanpa sengketa.

Ilustrasi sidang penetapan ahli waris: pakai timbangan dan palu. Kita mengharapkan ketetapan sidang yang seadil-adilnya menurut ajaran Agama Islam.

Pengadilan Agama yang berlokasi di tingkat kota/kabupaten, hanya menangani perkara-perkara dalam lingkup Agama Islam saja. Di luar itu, dilakukan di Pengadilan Negeri (PN).

Secara umum, proses sidang penetapan ahli waris hanya terbagi 3 tahap:

  1. Pendaftaran/Pengajuan Sidang
  2. Sidang Pertama
  3. Sidang Kedua (bersama saksi) sekaligus pembacaan ketetapan.

Jadi, keluaran (output) dari suatu sidang adalah dokumen tertulis yang selanjutnya kita sebut “ketetapan”.

Sidang Penetapan Ahli Waris

1 Pendaftaran Sidang

Pada prinsipnya, sebelum berkas dinyatakan “diterima” oleh pihak PA, kita lengkapi sedetil-detilnya berkas yang dibutuhkan yang di antaranya adalah:

  • Akta kematian dari kelurahan-kecamatan. Surat ini dibuat berdasar surat kematian dari rumah sakit atau lembaga yang berwenang.
  • Identitas terakhir dari almarhum(ah), yaitu Kartu Keluarga (KK) dan Kartu Tanda Penduduk (KTP).
  • Akta Kelahiran almarhum(ah).
  • Bila almarhum(ah) meninggal dalam keadaan menikah, maka buktikan dengan Buku Nikah. Sebaliknya dalam keadaan sudah cerai, dibuktikan dengan Akta Perceraian.
  • Fotokopi KTP dan KK dari para ahli waris. Ingat, ahli waris belum tentu anak-anak dari yang meninggal saja ya. Bisa saja ada saudara kandung dari almarhum(ah) yang ternyata merupakan ahli waris.
  • Kalau almarhum(ah) sebelumnya pernah menikah (alias menikah dua kali atau lebih), maka lampirkan juga Buku Nikah dan Akta Cerai atas pernikahan-pernikahan yang sebelumnya. Kalau mantan pasangannya sudah meninggal juga, dibuktikan dengan Akta Kematian dari mantan pasangan tersebut.
  • Banyak materai Rp10.000,-

Biaya sidang ditentukan dari jarak pemanggilan oleh PA kepada para ahli waris. Jika Ahli Waris ada sepuluh orang, maka ada 10 pemanggilan/undangan. Lalu ditambah biaya administrasi. Bisa gunakan alamat surat-menyurat bila alamat domisili merepotkan dan menyebabkan pembengkakan biaya sidang.

Di PA Balikpapan, ada kok lembar yang memuat apa saja komponen biaya sidang itu (termasuk berapa biaya pemanggilan yang dibagi tiga menurut radius jaraknya). Lembar tersebut ‘kan ibarat “daftar menu” kalau di restoran. Terus terang, berkat lembar ini kami tidak ada mengeluarkan “dana siluman” yang se-ikhlas-nya itu sepeserpun. Malah, karena sidang hanya dua kali, ada sebagian dana yang dikembalikan. Kami mengambilnya di loket kasir.

2 Sidang Pertama

Sidang pertama berisi pengecekan oleh majelis hakim, yang terdiri dari dua hakim, satu panitera, dan dipimpin oleh hakim ketua mengenai data dan informasi yang diberikan secara tertulis maupun tanya-jawab secara lisan.

Yang perlu saya garis bawahi adalah adanya pertanyaan-pertanyaan seputar orang tua dari almarhum. Standard saja: nama, masih ada atau tidak, kalau sudah meninggal, tahun berapa meninggalnya. Informasi ini tentu diperiksa kesesuaiannya dengan Akta Kelahiran almarhum.

Apakah semua ahli waris harus hadir? Secara teori, iya. Tetapi pada praktiknya tidak mudah ‘kan. Di era internet ini, apalagi dalam situasi pandemi, sangat mungkin ahli waris “dihadirkan” via whatsapp atau zoom. Makanya, cantumkan alamat surat-menyurat saja, jangan alamat sesuai KTP. Sehingga di hari-h sidang, apabila diperlukan, bisa video call saja dengan ahli waris yang nun jauh di sana.

Pada prinsipnya, persiapkan diri saja apabila majelis hakim ingin mendalami lewat pertanyaan-pertanyaan yang lebih detil. Namun, mengingat terbatasnya waktu (di sidang kedua kami, ada 31 sidang yang harus diselesaikan oleh majelis hakim di hari tersebut), sangat mungkin majelis hakim melewati hal-hal yang dirasa tidak perlu tetapi kita sudah siapkan dokumennya.

3 Sidang Kedua

Secara konten, sidang kedua sama dengan sidang pertama.

Hanya saja kesesuaian dokumen tertulis dan pernyataan lisan di sidang pertama, diperiksakan kepada 2 (dua) orang saksi yang sudah dihadirkan oleh para ahli waris. Majelis hakim menghendaki sebisa mungkin, kedua saksi tersebut merupakan keluarga dan satu generasi dengan almarhum(ah). Tentu saja syarat tersebut tidak wajib. Dan pastinya, saksi disumpah terlebih dahulu –secara agama islam– sebelum memberikan kesaksian.

Saran: lakukan briefing kepada para saksi sebelum sidang kedua. Terkait dengan kebenaran data dan informasi yang dikumpulkan secara tertulis maupun lisan. Tidak ada salahnya menyiapkan sedikit corat-coret untuk memudahkan para saksi mengingat tahun-tahun penting. Iya, sidang ini sedikit mirip dengan ujian.

4 Sidang Penetapan Ahli Waris: Ketetapan Sidang

Sidang pertama hanya berjarak 1-2 pekan dari pengumpulan berkas. Kami sempat bolak-balik tiga kali perihal menanyakan kelengkapan berkas. Di kesempatan keempat, baru kami berhasil mengumpulkan sesuai persyaratan.

Sidang kedua berjarak satu pekan saja dari sidang pertama. Kedua sidang sama-sama di hari kami.

Kami mengambil ketetapan sidang (yang sudah dibacakan dan diketuk palu di sidang kedua), pada hari Senin berikutnya.


Demikian sharing dari saya perihal Sidang Penetapan Ahli Waris. Seperti saya bilang, kalau tidak ada “lawan”-nya maka dua kali sidang sudah cukup.

Tetapi berbeda jika pihak “lawan” tidak menghendaki alias menolak tuntutan dari penuntut. Semisal sidang gugatan cerai, atau perebutan hak asuh anak yang sangat mungkin berbuntut panjang. Di hari kami sidang kedua tersebut, ada satu sidang talak yang akan bersidang untuk ke-8 kalinya.

Mudah-mudahan artikel ini bermanfaat. Bila ada pertanyaan atau hal lain ingin dibagikan, boleh banget mengisi kolom komentar.

BACA JUGA: Pengalaman Mendaftar Haji di Bandung

Daftar Payment Gateway Termurah dan Terbaik

Masalah bagi toko online pemula adalah toko tersebut belum memiliki mekanisme pembayaran yang menyebabkan pembayaran oleh pelanggan menjadi lebih murah. Pembei enggan membayar biaya tambahan untuk transfer pembayaran berbeda bank. Dengan payment gateway maka tidak ada lagi biaya tambahan untuk pembeli, meski berbeda bank.

Definisi Payment Gateway

Payment gateway merupakan gerbang perantara untuk transaksi jual beli secara online menggunakan aplikasi yang bisa melakukan otorisasi proses pembayaran melalui:

  • kartu kredit
  • pembayaran langsung
  • dompet elektronik (e-wallet)
  • transfer antar bank
Proses pembayaran (payment) saat ini bisa dilakukan di antaranya adalah melalui smartphone dan EDC (Electronic Data Capture).

Kelebihan Payment Gateway

  • Pembeli tidak lagi membayarkan uang dengan cara cash melainkan melalui aplikasi baik dari bank maupun akun virtual.
  • Payment Gateway dapat memberikan kemudahan serta jaminan kepercayaan untuk sistem pembayaran online.
  • Sistem payment tersebut juga membuat sistem enskripsi dengan kode khusus sebagai upaya meningkatkan keamanan transaksi e-commerce.
  • Adapun kelebihan tersebut yaitu sebuah toko online semakin dipercaya oleh para pelanggan.

Pemain Payment Gateway

Merek-merek Payment Gateway terbaik atau termurah di Indonesia:

perantara pembayaran yang aman dan nyaman sehingga dapat menghindarkan Anda dari penipuan.

Dalam list berikut ini, adalah beberapa fitur yang mungkin disediakan oleh Payment Gateway (PG). Saya katakan mungkin, karena tidak semua fitur ada dalam satu PG. Jadi selalu ada PG yang unggul dengan satu atau beberapa fitur, tapi tidak punya fitur yang lain.

  • Dashboard
  • Disbursement (pembayaran/pengeluaran)
  • Pembayaran gaji
  • Metode pembayaran lebih variatif (kartu kredit, e-wallet, gerai minimarket, virtual account, kartu debit, dll)
  • Instalasinya relatif mudah
  • Proses transaksi lebih cepat
  • Jangkauan hingga mancanegara

Aspek Keamanan (Security)

Standar keamanan PG sangat ketat kok, termasuk PG yang ada di Indonesia. Informasi penting dari customer, toko online dan bank akan dijaga dengan sangat baik agar tidak keluar dari lingkungan PG itu sendiri.

Standar keamanan yang harus dimiliki oleh sebuah PG:

  • Address Verification System. Dengan sistem ini, rincian tagihan customer akan diperiksa dan disesuaikan dengan alamat kartu yang sudah resmi terdaftar. Jadi, tidak perlu takut salah tagih.
  • Card Security Code. Setiap proses transaksi hanya akan diproses kalau memiliki tiga digit terakhir nomor kartu kredit/debit.
  • 3D Secure Password. Pengguna akan selalu menggunakan password yang aman ketika transaksi online dijalankan. 

Demikian informasi tentang PG ini. Semoga bermanfaat.

Baca juga: Review Xfers, Wallet Payment yang Lengkap Banget Fiturnya

Kiat Memilih Nama Perusahaan yang Bagus dan Unik bersama Legistra

Kriteria memilih nama perusahaan yang bagus supaya memiliki identitas yang unik dan terwujud sesuai dengan cita-cita penamaan tersebut.

Nama adalah do’a. Jadi berikanlah nama sesuai dengan kebaikan yang dikehendaki akan terwujud oleh do’a. Selain itu, nama adalah identitas yang menjadikan pemilik nama menjadi berbeda dari lainnya. Pemberian nama yang baik itu berlaku tidak hanya untuk pribadi manusia saja. Tetapi juga berlaku dalam memilih nama perusahaan yang bagus.  

PepsiCola adalah sebuah merek produk minuman berkarbonasi.

Berikut ini adalah beberapa tips umum dalam memilih kata yang akan digunakan untuk memilih nama perusahaan yang bagus: 

  • Tidak apa memilih nama perusahaan dengan nama orang. Hal ini bertujuan membangun cerita (story) kepahlawanan akan kerja keras sang pendiri. Beberapa grup usaha di Indonesia menggunakan nama sang pendiri. Misalnya, “Bakrie” dari Achmad Bakrie, atau “Tanoto” dari Sukanto Tanoto. 
  • Singkat, mudah dieja, serta ejaan (pelafalan) sama dengan penulisan. Nama-nama seperti Komodo, Toyota, Yamaha

Memilih Nama Perusahaan yang Bagus

Bermakna dan Punya Harapan 

Kesejahteraan ekonomi

Nama-nama semisal “Sentosa”, “Sejahtera” memberikan harapan agar para pemilik dan karyawan perusahaan tersebut mengalami apa yang kesejahteraan, alias ekonomi yang cukup untuk menjalani kehidupan. 

Kestabilan ekonomi

Sementara nama-nama semisal “Jaya”, “Abadi” menggambarkan harapan agar perusahaan tempat pemilik dan karyawan berkarya tersebut, dapat memberikan kestabilan secara ekonomi. Pengharapan yang demikian muncul bisa jadi disebabkan oleh trauma masa lalu si pemilik yang mengalami ombang-ambing kehidupan karena pendapatan yang tidak stabil.

Berbeda dari yang sudah ada 

Maka dari itu, kita harus riset dengan layak (proper) untuk mendapatkan nama yang berbeda. Misalnya dengan riset di mesin pencari seperti Google, apakah nama tersebut sudah digunakan. Yang bisa jadi bermasalah adalah apabila nama yang sama digunakan oleh dua perusahaan yang bergerak di industri yang sama. Pengaturan lengkap tentang pemakaian nama PT diatur dalam PP 43/2011 tentang Tata Cara Pengajuan Dan Pemakaian Nama Perseroan Terbatas.

Syarat pengajuan nama PT di antaranya adalah: 

  • Minimal terdiri dari tiga kata 
  • Tidak boleh menggunakan bahasa asing; harus berbahasa Indonesia. Misalnya menggunakan tulisan arab. 
  • Tidak menggunakan nama PT yang sudah ada
  • Tidak Bertentangan dengan Ketertiban Umum dan/atau Kesusilaan. Misalnya nama-nama yang berbau SARA sehingga memungkinkan terjadinya keributan atau perpecahan. 
  • Tidak Sama atau Tidak Mirip dengan Nama Lembaga Negara, Pemerintah atau Internasional
  • Sesuai dengan Tujuan dan Bidang Usaha Perusahaan. Akan membingungkan banyak orang jika terdapat PT Sejahtera Abadi Medika yang seharusnya bergerak di bidang usaha medis, tapi ternyata berbisnis di bidang otomotif. 

Contoh Nama yang Terlalu Unik, tapi Tidak Mengapa 

  • PT Pendekar Bodoh (merek D’Cost) 
  • PT Bocuan Gapapa (merek D’Stupid Baker) 
  • PT Karya Anak Bangsa (merek Gojek) 
  • PT Ruang Guru Raya Indonesia (merek Ruang Guru)

BACA JUGA: BISNIS ONLINE

Demikian uraian singkat mengenai memilih nama perusahaan yang bagus, bermakna dan punya harapan, serta berbeda dari yang sudah ada.