Mengatasi Anak Kecanduan Gadget

Di zaman saya sebagai anak-anak, tantangan tersulit mungkin TV ya. Tetapi, di zaman now, tantangan dalam parenting datang setidaknya dari empat hal: TV, komputer, smartphone dan internet.

Bagaimana menumbuhkan minat baca pada anak?

Pertanyaannya mungkin kurang tepat kali ya. Menurut saya, pertanyaan yang tepat adalah, “Topik apa yang diminati oleh anak untuk dieksplorasi lebih lanjut?”

Pada dasarnya anak sudah punya rasa ingin tahu (curiosity) secara alami. Salah satu cara memenuhi keingintahuan tersebut bisa dengan membaca. Nah, orang tua perlu menyelami si anak, untuk mengetahui topik apa yang ingin didalami. Cara yang selalu berhasil adalah dengan bertanya terlebih dahulu kepada yang bersangkutan.

Pengalaman pribadi saya, topik-topik yang pernah melintasi pikiran dan kemudian dieksplorasi oleh Anak Dua di antaranya adalah: dinosaurus (berikut perkembangan zaman), tata surya (planet, satelit, dll), negara (bendera, bahasa, dll)). Tentu ini contoh saja. Karena ‘pancingan’ dari orang tua berbeda-beda, dan apa yang terpapar kepada masing-masing anak juga tidak sama.

Jadi yang bisa orang tua lakukan adalah memberikan sumber atau referensi yang bisa mereka eksplorasi lebih lanjut — di antaranya buku yang bisa dibaca. Kita perlu mengingat juga bahwasanya buku bukanlah satu-satunya sumber. Di era internet ini, banyak sekali sumber pengetahuan. Kenyataan bahwa kita harus bisa melakukan penapisan (filtering) itu adalah sebuah keahlian yang akan saya bahas di pertanyaan lainnya.

Bagaimana membatasi waktu anak untuk menonton TV?

Televisi (TV) bukan lagi satu-satunya alat informasi dan hiburan. Sekarang semua konten tersebut bisa terakses lewat komputer maupun handphone. Yang notebene, ketiganya sudah dimiliki oleh sebagian besar di antara kita, khususnya kelas menengah kita di Indonesia.

Nah, Bagaimana membatasi waktu anak dalam mengakses satu atau ketiga macam perangkat tersebut?

Namun, kuncinya adalah dengan menyampaikan pengantar (brief) kepada anak bahwa mengakses perangkat tersebut bukan satu-satunya hal yang bisa mereka lakukan.

Masih banyak aktifitas lain yang bisa dieksplor. Untuk anak balita, mengasah motorik halus dan kasar merupakan kewajiban orang tua. Anak-anak yang lebih besar bisa kita arahkan untuk mengeksplorasi kegiatan ekstrakurikuler yang memancing minat mereka, semisal musik, olahraga, bela diri, dan sebagainya.

Adakah batasan waktu bagi anak untuk bermain game di komputer atau internet?

Bermain adalah satu bentuk rekreasi. Tujuan rekreasi adalah menghilangkan kepenatan. Cara lain menghilangkan kelelahan/kejenuhan adalah memaparkan diri pada hiburan (entertainment).

Lagi-lagi, TV, komputer, internet, smartphone adalah alat hiburan (selain alat informasi). Seyogyanya, tidak perlu berlama-lama. Antara 2-4 jam saja per hari seharusnya sudah cukup.

Anak-anak yang menghabiskan waktu di luar kewajaran, karena merasa engaged dengan gamifikasi oleh game, lalu mencapai prestasi tertentu yang ditargetkan oleh permainan tersebut, perlu kita berikan tantangan lebih sulit untuk mereka capai.

Bagaimana mengawasi perilaku anak di rumah agar tidak tergantung pada TV, internet, ataupun handphone?

Semua bentuk hiburan rekreatif tujuannya adalah menghilangkan kepenatan. Selama penatnya sudah hilang, maka anak tidak perlu lagi bergantung pada TV, internet, maupun handphone.

Nah, yang perlu kita sadari, produktifitas pun bisa dilakukan dari barang sekecil smartphone. Merekam video, menyunting gambar, mendesain visual sudah bisa dilakukan dari handphone dengan ribuan aplikasi digital yang tersedia.

Yang perlu kita tekankan kepada anak-anak kita di rumah adalah pencarian hiburan dari ketiga perangkat di atas sifatnya sementara saja. Kalau sudah tidak lelah secara psikis, anak-anak harus didukung untuk sibuk menghabiskan waktu dan produktif membuat sesuatu karya.

Untuk beberapa hal, internet juga diperlukan. Bagaimana pendapat Ayah dan Ibu?

Internet adalah ‘pisau’. Tergantung penggunanya dan untuk apa alat tersebut digunakan. Digunakan untuk mencari dan menggunakan informasi jelas bisa. Seperti banyak video-video DIY (Do It Yourself) di YouTube. Ulasan (review) produk atau jasa. Namun keburukan, kejahatan, pornografi ya juga ada di internet.

Baca juga: 9 Elemen Kewargaan Digital

Salah satu cara mengatasi pornografi adalah dengan mengarahkan diskusi pornografi ke ranah yang lebih ilmiah dan pendidikan gender (sex education). Di antaranya adalah topik reproduksi, mengapa manusia berkembang biak, pembagian peran dan kewajiban di antara lelaki dan perempuan, dst.

Saya kira, hal serupa juga berlaku untuk anak-anak yang terlanjur keranjingan main game online.

Kapan waktu yang tepat untuk memberikan handphone kepada anak?

Dalam konteks orang tua memberikan handphone kepada anak, fungsi handphone adalah alat berkomunikasi antara anak dan orang tua. Fungsi utama ini yang harus dijalankan. Misalnya, mengabari orang tua bahwa sekolah sudah usai dan minta dijemput atau menginformasikan si anak mau berangkat ke tempat les sehingga terlambat pulang ke rumah.

Di sisi lain, handphone bisa memberikan hiburan lewat media sosial seperti YouTube, Instagram, Tiktok itu adalah fungsi sekunder yang tentu saja tidak boleh menyalahi fungsi utamanya.

Nah, seiring dengan akses anak kepada media sosial, kita juga perlu mengingatkan bahwa identitas kita dengan sendirinya terekspos ke dunia luar. Oleh sebab itu, kita wajib menekankan secara berkala bahwasanya identitas kita harus dijaga kerahasiaannya. Mulai dari password, informasi pribadi dan keluarga yang tidak perlu diungkap ke publik, dan lain sebagainya.

Bincang Profesi: UX Writer

Lagi ingin membahas soal profesi UX Writer.

Saya menjalani profesi ini tidak sepenuhnya ya. Ini salah satu peran (role) saya di dalam title ‘Technical Writer’. Namun, jika kamu ingin tahu, ada sedikit yang bisa saya bagikan soal ini.

Pertama, ini tidak ubahnya dengan desainer ya. Kalau desainer merancang flow, experience, journey atau apapun namanya itu, nah UX Writer setidaknya harus menyelami hal yang sama.

Sebab, pekerjaan men-desain itu dekat dengan subyektifitas; that’s why kita perlu mendekatinya secara objektif dengan metode-metode riset maupun desain tertentu.

Dalam konteks penulisan, seorang UX Writer harus menjalani perannya se-objektif mungkin. Mulai dari membaca dan membawa referensi ke dalam ruang diskusi, sampai dengan menyediakan beberapa alternatif teks untuk dipilih anggota tim Product Management.

Dari konteks user flow, user experience (UX), user journey dan berbagai istilah lain untuk maksud yang sama, seorang UX Writer berfungsi menyediakan teks-teks pemandu atas visual yang sudah lebih dulu ada.

Sekilas, apa-apa yang dikerjakan oleh UX Writer tampak sedikit. Padahal, kalau kita zoom out dengan sebuah produk digital, maka UX Writer harus melakukan suatu upaya ‘penyeragaman’ terhadap semua kata-kata yang dia rilis.

Tujuannya supaya konsisten dan seakan-akan diucapkan oleh persona yang sama. Ini membawa kita ke tugas-tugas lain dari seorang UX Writer: terlibat dalam pengembangan brand persona dan melakukan ‘penurunan’ lebih lanjut dari brand persona tersebut dalam implementasi yang lebih luas ke halaman-halaman (pages) produk digital tempat dia bekerja.

In short, ada 4 tugas yang dilakukan oleh seorang UX Writer:

  • Terlibat dalam pengembangan brand persona
  • Melakukan ‘penurunan’ berupa apa dan bagaimana brand tersebut mengkomunikasikan sesuatu
  • Terlibat dalam pengembangan user journey
  • Merancang kata-kata pemandu agar user dapat menggunakan produk dengan lebih mudah

Pasar untuk profesi ini sebenarnya tidak terlalu luas ya. Masih lebih besar pasar untuk programmer (developer) ataupun desainer.

Perangkat digital sebagai alat bantunya juga tidak banyak, dengan fitur-fitur yang sedikit. Bahkan cenderung sama dengan yang digunakan oleh para desainer.

Jadi, variasi pekerjaan maupun dinamika karirnya akan begitu-gitu saja. Kali lain, saya bisa sharing soal bagaimana membuat karir kita sebagai penulis menjadi lebih bervariasi.

Nah, kalau kamu ada pertanyaan soal profesi ini, atau mungkin sudah tahu tentang profesi ini, silakan share di kolom komentar, ya 🙂

Freelance Kurir

Kurir adalah salah satu pekerjaan yang bisa dikerjakan secara paruh waktu (part time) atau lepas (freelance).

Disclaimer: Tulisan ini adalah bagian dari rangkaian tulisan saya seputar freelance. Tulisan lainnya bisa dibaca di categories: freelance. Buku ‘Freelance 101‘ juga bisa dipesan lewat direct Message (DM) ke saya.

Saat ini industri jasa pengiriman kita berkembang pesat. Khususnya pengiriman ritel yang ke rumah-rumah. Sebagian kecil di antara para perusahaan yang bermain di jasa pengiriman ini adalah JNE, Shopee (iya, sekarang Shopee memiliki jasa kurir tersendiri), J&T, AnterAja, Ninja Express, dan lain sebagainya.

Tidak heran, kebutuhan akan tenaga kerja kurir ikut meningkat pesat. Di sisi lain, suplai tenaga kerja untuk menjadi kurir sudah lebih dulu melimpah.

Namun, permintaan tenaga kerja tersebut belum diikuti dengan kapasitas perusahaan untuk membayar kewajiban-kewajiban lain semisal BPJS Kesehatan, BPJS Ketenagakerjaan, dan lain-lain.

Akibatnya, muncul mekanisme baru dalam pemberdayaan (employment) tenaga kerja kurir, yaitu freelance kurir dan kurir part time.

Freelance Kurir

Jadi tenaga lepas (freelance) ini bertugas mengirimkan barang dari gudang perusahaan jasa pengiriman menuju rumah konsumen. Hanya saja employment-nya bersifat kontrak untuk jangka waktu tertentu maupun jumlah pekerjaan tertentu.

Kontraknya ini mungkin agak mirip dengan mekanisme PKWT (Perjanjian Kerja Waktu Tertentu) ya.

Sebagai insight, ada periode-periode semisal Ramadhan dan Lebaran yang barang kiriman sangat membludak, sehingga diperlukan tenaga lepas untuk bekerja pada minggu-minggu tersebut.

Kurir Part Time

Sementara, kurir paruh waktu (part time) hanya bekerja pada sebagian dari waktu penuh (full time) saja. Waktu yang tersedia, bisa jadi hari sabtu-minggu, maupun malam hari di hari-hari kerja (Senin-Jumat).

Bisa dikatakan, baik freelance maupun part-time, sebenarnya dikaryakan dengan kontrak yang sama, yaitu PKWT.

Cara Menjadi Kurir Freelance

Tentu saja melamar ke perusahaan jasa pengiriman yang membutuhkan.

Persyaratan menjadi kurir, SETIDAKNYA adalah sebagai berikut:

  • Usia 18 – 50 tahun
  • Minimal Lulusan SMA atau sederajat
  • Mempunyai kendaraan motor pribadi
  • Mempunyai SIM C
  • Memiliki handphone
  • Bisa berkomunikasi dengan baik

Sangat mungkin, perusahaan juga meminta agar calon pelamar juga memiliki SIM A, agar secara berkala dapat mengemudikan mobil box bergantian dengan driver yang lain.

Wilayah yang Membutuhkan Tenaga Kurir Lepas

Ada tiga besar wilayah yang memiliki kepadatan pengiriman tertinggi: Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi), Gerbangkertosusilo (Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, dan Lamongan), serta Bandung (Bandung, Bandung Barat, dan Kabupaten Bandung).

Di tiga wilayah tersebut, kebutuhan akan tenaga kurir sangat tinggi.

Gaji Freelance Kurir

Secara umum, total penghasilan masing-masing kurir bisa mencapai Rp 2.000.000 hingga Rp 3.000.000-an per bulannya. Dan angka ini relatif sama antara satu jasa pengiriman dengan jasa pengiriman lainnya. Apabila ingin mengetahui lebih dan kurangnya untuk standard hidup di suatu kota/kabupaten, bisa dibandingkan dengan UMK/UMR di mana agen jasa pengiriman tersebut berada.

Berbeda dengan freelance atau part-time, nilai pendapatan yang diperoleh tidak akan sebesar itu — karena sifatnya yang memang tidak dipekerjakan di waktu yang penuh (full-time).

Perhitungannya bisa jadi didasarkan pada jumlah paket yang dikirim setiap harinya. Dengan upah sebesar Rp1.800,- untuk Shopee Express per paket di Jakarta.

Bila mitra pengemudi bisa membawa paket sebanyak 80 paket sehari, maka bisa mendapatkan insentif rata-rata sebesar Rp 2.213 per paket. Sementara, menurut dia, rata-rata upah per paket di pasaran saat ini di kisaran Rp 1.700 hingg Rp 2.000 per paket untuk jasa logistik lain.

https://money.kompas.com/read/2021/04/14/063835326/besaran-gaji-kurir-shopee-express-2021-dan-cara-mendaftarnya?page=all

Tentu angka ini sifatnya bervariasi antar jasa pengiriman. Di daerah yang lebih sepi dan jarang penduduk, tentu angkanya berbeda lagi.

Bersikap Baik di Komunitas

Anggota komunitas, apalagi di era digital seperti sekarang, punya latar belakang yang berbeda-beda. Menghindar percekcokan, bisa dimulai dengan bersikap baik kepada siapa saja di dalam komunitas tersebut.

Kita mengikuti komunitas kan tujuannya baik ya. Misalnya, biar ada partner, supaya saling menyemangati, saling berbagi wawasan, dan bisa sama-sama bertumbuh.

Ayo join komunitas blogger 1minggu1cerita. Satu-satunya komunitas blogger tersantai yang pernah ada. Ini bukan testimoni saya, ya. Melainkan dari rekan-rekan yang sudah masuk dan keluar ke berbagai komunitas blog, ya.

Sebagai suatu ekstrakurikuler di luar rumah dan di luar pekerjaan-pekerjaan yang menghasilkan pendapatan, inginnya ‘kan join komunitas supaya bahagia (happy) ya. Masalahnya, adakalanya komunitas malah mendatangkan masalah-masalah baru.

Berikut ini kita ulas beberapa masalah yang mungkin terjadi dari berkumpul dan berbuat sesuatu dengan hingga ratusan orang:

  • Kepemimpinan yang ‘tidak jelas’. Saya beri tanda kutip karena para pemimpinnya memang gak boleh directive terhadap para anggota. Sifat kepemimpinan di komunitas kan memang partisipatif, ya. Lebih mengajak; tidak memerintah.
  • Tidak setiap orang bisa diajak ke ‘tempat’ yang lebih tinggi. Nyatanya, ekspektasi tiap anggota tuh berbeda-beda. Sebagai bagian dari mengelola ekspektasi, para pendiri/pengelola/admin sebaiknya buat aturan tertulis yang bisa dibaca anggota baru. Kalau anggota lama kan sudah pintar membaca situasi.
  • Ketersinggungan. Kemungkinan terjadinya ini menuntut kita untuk lebih berhati-hati dalam berkomunikasi. Apa yang bagi orang lain biasa saja, bisa jadi dianggap menyinggung orang lain, lho. Ini yang kita sebut dengan ‘baper’. However, sebaiknya kita tidak menyepelekan perasaan orang lain, ya.
  • Apalagi di era digital seperti sekarang. Komunitas tuh tidak melulu online-offline. Banyak pula yang daring-nya saja. Sehingga para member berasal dari Indonesia paling timur maupun barat. Belum lagi berbagai daerah lain yang notabene cara berbahasanya berbeda-beda. Tidak heran, di 1m1c kita pakai ‘kak’, demi menghindari salah jenis kelamin dan salah umur. Selain itu, kita biasakan memakai singkatan yang wajar-wajar saja dan memang bisa diterima oleh warga komunitas tersebut. Yang penting, enggak bawa singkatan yang aneh-aneh.
  • Silang pendapat. Bauran antara ‘maju bersama’ dengan ‘masing-masing punya harapan’ rawan memunculkan silang pendapat. Yang satu ingin mengajak para member ke arah mana, sementara tiap orang juga sudah bawa target masing-masing di awal bergabung ke komunitas.

Potensi masalah memang tidak banyak ya di komunitas. Biasanya ya itu-itu aja problemnya. Sebagaimana disebutkan di atas. Sekarang, tinggal kita saja yang harus tahu cara mainnya. Bagaimana mencegah timbulnya konflik, sehingga berkomunitas akan semakin asyik 🙂

Punya pengalaman unik dengan komunitas kamu? Boleh banget dibagikan di kolom komentar, ya!

Anak dan Interaksi Sosial

Beberapa lapis orang di luar keluarga inti, menuntut interaksi sosial yang berbeda dengan anak-anak. Kita perlu mengajarkan dan mencontohkan bagaimana kita bisa membangun hubungan dengan lapisan-lapisan keluarga besar maupun anggota masyarakat tersebut.

Sejak bayi, anak itu mengenali orang-orang mana yang dekat dengannya. Mana yang dia temui sejak membuka mata (bangun tidur), sering berada di sekitarnya, hingga dia menutup mata (tidur) kembali.

Karena ‘terlalu’ sering bertemu, maka nyaris tiada batas dalam berhubungan/berkomunikasi. Namanya juga orang tua dengan anak ‘kan. Apa saja bisa dilakukan oleh anak dengan orang tuanya; apa saja bisa disampaikan oleh si anak kepada orang tuanya.

Seiring dengan semua interaksi tersebut, kewajiban orang tua malah meningkat –sebagaimana seharusnya– yaitu menjadi madrasah (guru) pertama bagi si anak.

Tetangga

Di lingkaran yang lebih luas dari rumah, ada tetangga kanan-kiri dan depan-belakang. Mereka ini adalah orang terdekat yang berada di sekitar kita di tempat kita biasa tinggal. Yang karena kedekatannya secara fisik, memungkinkan kita bisa saling menolong satu sama lain.

Yang biasa saya dan istri lakukan, adalah berbagi makanan –yang biasa kami makan– dengan para tetangga tersebut. Sooner or later, pasti akan ada bantuan yang sangat mungkin kami request dari mereka. Sebelum kebutuhan tersebut ada, kami memastikan bahwa kami sudah membangun hubungan terlebih dulu.

Saudara / Keluarga

Secara ikatan darah, ada namanya om-tante dan pakdhe-budhe yang kami perkenalkan kepada Anak Dua. Namun, secara fisik belum tentu mereka ini dekat dan bisa dijangkau dengan mudah. Takdir rezeki menuntun kami untuk berjauhan satu sama lain.

Yang biasa kami lakukan, apalagi pandemi begini, adalah rutin video call dengan mereka. Supaya ‘pertemanan’-nya tetap terasa. Kalau sebelum pandemi, masih ada kesempatan untuk saling berkunjung –tidak lupa membawa panganan. Yang paling utama di antara Anak Dua dengan para sepupunya adalah berinteraksi atau bermain bersama.

Sekolah

Di sekolah, ada guru dan teman-teman. Yakni pengajar dan rekan-rekan satu institusi yang sebenarnya, mungkin tidak akan benar-benar lama dan panjang. TK 2 tahun, SMP-SMA masing-masing 3 tahun. Yang benar-benar panjang adalah SD: 6 tahun. Tapi perasaan saya, tidak banyak memori dengan rekan-rekan dari SD yang sama.

Meskipun masih pandemi dan jarang bertemu langsung dengan Bu Guru, kami tetap menekankan untuk menghormati para guru. Ucapkan salam ketika bertemu di sekolah. Izin untuk pamit ke WC ketika sedang pertemuan video call. Dan lain sebagainya. Tentang teman-teman mereka, pesan kami supaya mengingat wajah dan panggilannya.

Observasi kami ya, karena masih pandemi, jadi belum bisa berteman dan bermain dengan rekan-rekannya yang lain. Ketika bertemu langsung pun, mereka masih saling melihat dan menilai situasinya dulu. Bisa dikatakan, mereka masih bermain sendiri-sendiri di tempat yang sama; belum bermain bersama-sama. Catatan: Anak Dua masih TK saat ini.

Ada berlapis-lapis hubungan dengan orang-orang di luar rumah. Sehingga wujud interaksi sosialnya pun beragam. Tipe-tipenya ditentukan oleh kedekatan fisik, hubungan darah, dan kesamaan institusi. Klasifikasi demikian memudahkan kita untuk mengenali dan berinteraksi secara sosial dengan tepat dan sewajarnya.

Evolusi Minat Anak

Kesukaan anak-anak pada sesuatu itu berevolusi terus. Kita orang dewasa melihatnya kok enggak fokus ya. Apakah anak-anak memang alamiah seperti itu, ataukah kita orang dewasa yang terlampau serius menyikapi fenomena tersebut?

Sejauh ingatan saya, Anak Dua itu awalnya berminat pada Ultraman. Iya, Ultraman yang produksinya relatif lebih murah tetapi lebih populer daripada Kamen Rider itu. Dari mereka, aktifitasnya seputar ‘menirukan pertarungan’ dan menonton serialnya di YouTube.

Baca juga : Mitos dan Fakta Anak Kembar.

Lebih lanjut, ibunya pernah membelikan satu set kartu Ultraman. Yang abal-abal tentu saja, karena yang asli harganya tidak worth it untuk yang bukan pehobi seperti kami.

FYI, kartu-kartu ini rupanya diperuntukkan bermain game di console yang ada di mal-mal. Console tersebut juga ikut mengeluarkan kartu kalau berhasil menang. Pertanyaannya, ‘modal’ kartu untuk main di mal itu, dapatnya darimana? Ternyata produsernya Ultraman sudah punya ritel khusus yang menjual kartu tersebut juga. Hehehe. Jadi kita sudah tahu cara main bisnisnya ya 😀

Minat dan kesukaan pada Ultraman ini, seingat saya bukan yang terbaru. Setelah Ultraman, ada lagi kok yang mereka sukai. Yang baru bisa kami lakukan hanyalah sebatas ‘memfasilitasi’. Sekilas, terlihat ‘konsumtif’ dan belum jelas arah produktifnya ke mana. Namun, kami masih trial dan observasi terus.

Pada suatu titik, yang diminati tersebut memang tidak lagi bisa memberikan apa-apa lagi. Anak Dua jenuh dengan hobi tersebut – mereka gak pernah mengekspresikannya – dan kami baru menyadari kemudian ketika mereka sudah berpindah ke minat yang lain.

Timbul pertanyaan, “Apakah mereka tidak fokus? Mau jadi apa kalau berpindah-pindah terus?”

Ada masa di mana mereka ‘rajin’ menonton Sisi Terang atau Bright Side di YouTube. Suatu channel yang secara saintifik berusaha menjelaskan fenomena alam berikut dengan data faktanya. Pasca menonton, atau kapanpun mereka tiba-tiba teringat dengan data fakta yang disajikan sebelumnya, mereka menyampaikan ulang kepada kami. Berlanjut menjadi diskusi yang durasinya bisa sebentar atau lama. Berlaku sama dengan channel lain yang mereka tonton, semisal Dunia Binatang Liar.

Di antara hobi yang terus berevolusi tersebut, satu yang konsisten selama ini adalah mereka merefleksikan dan mengekspresikan di atas kertas gambar. Jumat adalah hari di mana masing-masing dari mereka mendapat satu eksmplar baru yang lembar demi lembarnya masih kosong: bersiap memulai petualangan imajiner yang baru.

Kenapa tiap Jumat? Karena kami cinta lingkungan. Menggunakan kertas berarti menebang pohon dan itu merusak daya dukung lingkungan. Bukan, itu alasan idealisnya saja. Hehehehe. Alasan pragmatisnya hanyalah high cost kalau frekuensinya lebih tinggi daripada itu.

Sekarang ini, mereka sedang getol menggeluti olahraga sepak bola dan catur. Main catur iya – kami membelikan papannya – tendang-tendang bola di halaman depan juga iya. Nonton pertandingan catur di YouTube juga dilakukan. Soal sepakbola, biasanya nonton highlight bareng saya. Mereka mulai tahu yang namanya Chelsea, Manchester City, N’golo Kante, dan lain sebagainya tentang sepakbola. Sebagaimana mereka mulai tahu Daniil Dubov, Ali Reza, dan para pecatur dunia lainnya.

Catur: olahraga yang sedang diminati Anak Dua saat ini.

Sooner or later, ini mungkin akan berakhir ya. Evolusi minat melanjutkan tugasnya.

Dari saya selaku orang tua, saya masih belum tahu ini akan membawa kami ke mana. Apakah yang kami lakukan ini benar, dari perspektif teori maupun filosofi parenting?

Sebagai sebuah ‘petualangan’, pastinya kami akan melanjutkan dulu perjalanan ini. Sambil terus mengobservasi dan menemukan sesuatu yang baru untuk dipelajari. Ada kalanya kami akan berhenti untuk sejenak menikmati ‘hidangan’ yang disediakan. Bila sudah waktunya, kami akan bersiap-siap memulai petualangan yang baru.

Mudah-mudahan kami akan sampai juga di tujuan. Pada saatnya Anak Dua sudah dewasa, mereka sudah menemukan minat yang akan mereka tekuni dan menjadi produktif atas hobinya tersebut.

Demikian cerita saya. Barangkali kamu ada pengalaman serupa? Boleh dibagikan di kolom komentar, ya.