Jasa Pembasmi Kecoa di Jakarta

Fumida adalah jasa pembasmi kecoa di jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia. Dengan Fumida, pembasmian kecoa pasti tuntas.

Halo, jumpa lagi di rubrik review bisnis. Kali ini kita akan mengulas sebuah jasa pembasmi kecoa yang berlokasi di Jakarta, ya.


Jakarta adalah provinsi terpadat di Indonesia. Per tahun 2020, jumlah penduduknya 10,56 juta. Penduduk yang sangat banyak ini tentu membutuhkan tempat tinggal yang tidak sedikit.

Seiring dengan kepadatan dan pertumbuhan tempat tinggal, baik itu rumah tapak, apartemen, perkantoran, dan sebagainya, tidak heran hewan-hewan yang mendampingi manusia-manusia jakarta juga semakin banyak jumlah dan jenisnya. Dua jenis hewan yang paling banyak ‘menghampiri’ adalah tikus dan kecoa.

Khusus kecoa sendiri, setidaknya ada 3 alasan yang menyebabkan kecoa ‘mampir’ di hunian kita, yaitu: makanan, air, dan kehangatan.

Makanan

Di mana ada makanan, atau sisa makanan, sangat mungkin didatangi kecoa. Namanya juga makhluk hidup yang membutuhkan makanan ‘kan, ya. Nah, yang bisa kita lakukan –di antaranya– adalah selalu menutup wadah makanan atau membersihkan remah-remah makanan yang tersisa di meja ataupun di lantai.

Tidak terkecuali tempat sampah. Kuncinya adalah memastikan tempat sampah memiliki penutup dan membuang/mengelola sampah makanan secara rutin. Kita tahu kan ya, sekarang ini sampah organik sudah bisa kita kelola sendiri menjadi pupuk, media tanam, atau fungsi-fungsi lainnya.

Air

Kecoak mudah berkembang biak di mana mereka memiliki akses ke air. Inilah sebabnya mengapa kecoak dapat ditemukan di tempat-tempat yang terdapat sumber air seperti pipa pembuangan, pengembunan di sekitarnya, mangkuk air hewan peliharaan, wadah tanaman, dan bahkan piring tetes di bawah lemari es.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “7 Penyebab Kecoak Muncul Tiba-tiba di Dalam Rumah “, Klik untuk baca: https://www.kompas.com/homey/read/2021/04/15/170512376/7-penyebab-kecoak-muncul-tiba-tiba-di-dalam-rumah?page=all.
Penulis : Aniza Pratiwi
Editor : Sakina Rakhma Diah Setiawan

Lokasi lain seperti di bawah bak cuci juga wajib dijaga tetap kering setiap saat. Pipa bocor harus diperbaiki dan dirawat, serta saluran pembuangan tidak boleh memiliki celah sedikitpun demi mencegah akses kecoa.

Kehangatan

Ruang-ruang yang terperangkap panas sangat mungkin menjadi tempat kecoa bersarang juga. Semisal ruang-ruang di bawah meja dapur atau cucian piring yang memiliki pintu penutup. Atau misalnya loteng atau bagian-bagian lain dalam rumah yang sirkulasi udaranya kurang.

Yang menjadi pertanyaan, setelah semua saran di atas dilakukan, tapi kecoa masih terus ada, apa yang bisa dilakukan?

Jasa Pembasmi Kecoa di Jakarta

Nah, sekarang sudah ada nih, jasa pembasmi kecoa di Jakarta. Tidak hanya untuk hunian seperti rumah tapak atau apartemen, tetapi juga restoran dan mobil.

Fumida adalah penyedia layanan jasa pembasmi kecoa profesional yang melayani rumah dan kantor dengan pengalaman dari ribuan klien yang puas dengan jasa Fumida, yaitu jasa pembasmi kecoa.

Dengan hanya menghubungi FUMIDA di 0822-1123-1123 / 021-29049130, maka anda bisa langsung konsultasi dan bisa segera ditindak lanjuti.

Dua Tipe Penulis. Kamu Tipe yang Mana?

Bagi kamu yang ingin berprofesi sebagai penulis, salah satu fase yang akan dilalui adalah bertanya-tanya ke diri sendiri, tentang pola, cara, metode yang paling tepat dalam menulis.

Secara umum, saya melihat penulis itu ada dua tipe. Tidak ada benar atau salah di antara keduanya. Hanya cocok-cocokan saja dengan penulis itu sendiri. Setidaknya, dengan mengenali kita termasuk kelompok yang mana, maka harapan saya kita bisa menjadi lebih produktif.

Pertama, tipe yang sistematis. Tipe ini start-nya adalah kerangka buku (outline). Atau, bisa juga kita sebut ‘daftar isi’. Karena orangnya sistematis, tipe ini membutuhkan sesuatu yang berperan sebagai navigator. Di sanalah outline berkontribusi dalam memberikan petunjuk arah ke mana penulis harus bergerak menyusun konten demi konten.

Karena pola menulisnya sedemikian rapi, begitu pula dengan ‘manajemen proyek’-nya. Tipe penulis pertama ini wajib diberikan target waktu (dateline) kapan naskah harus selesai ditulis sebelum serahkan kepada penerbit.

Kedua, tipe yang ‘acak’ atau ‘random‘. Namanya juga random, jadi penulis tipe ini berangkat dari isi tulisan yang mana saja dan selanjutnya bisa bergerak acak ke mana saja.

Kelebihan (sekaligus kekurangan) dari tipe penulis ini adalah mereka harus menuangkan ide ke dalam tulisan kapan saja begitu ide tersebut datang. Ke-acak-an tersebut tidak hanya soal timing penulisan, tetapi juga medium penulisannya. Salah satu penulis yang saya kenal, mencorat-coret gagasannya lewat aplikasi speech-to-text dulu baru kemudian dirapikan supaya lebih enak dibaca. Bahkan, ada juga yang mewajibkan dirinya menulis di atas kertas dulu, lalu dipindahkan ke komputer.

Klasifikasi menjadi dua tipe penulis yang sudah disebut di atas, sesungguhnya merupakan pemodelan saja. Saya yakin, tidak ada penulis ‘sistematis’ yang tidak acak sama sekali. Karena keteracakan adalah wajah lain dari kreatifitas. Demikian pula, penulis yang ‘acak’ pun pada akhirnya harus merevisi tulisannya agar sistematis dan enak dibaca.

7 Prinsip Mengelola Keuangan Rumah Tangga

Menyisihkan uang dari pengelolaan keuangan rumah tangga untuk ditabung bukan perkara sulit. Tetapi membangun kebiasaannya yang berat. Berikut ini 7 saran untuk mengelola uang keluarga dengan lebih baik.

Uang bukan segalanya. Tapi segalanya butuh uang.

Keluarga adalah salah satu bentuk institusi juga ‘kan? Namanya institusi, harus pintar mengelola sumber daya donk ya. Supaya survive dan bisa achieve tujuan-tujuannya. Salah satu sumber daya tersebut adalah uang.

Gak sedikit yang bangkrut, atau tidak bisa mengakomodasi kebutuhan anak-anaknya, atau bahkan ‘bubar jalan masing-masing’ karena gagal merencanakan dan mengelola keuangan.

Nah, bagaimana prinsip-prinsip mengelola keuangan untuk keluarga? Berikut ini kita ulas satu-satu, yuk.

1. Fokus ke Biaya makan

Ini saya masukkan ke nomor satu, karena banyak yang bisa kita ubah dari kategori ini.

Meskipun harga bahan pokok atau makanan jadi terasa murah, tetapi faktor kali yang membuat biaya makan selalu tinggi. Dikalikan terhadap jumlah anggota keluarga, berapa kali makan, dan di mana makannya, bisa membuat total biaya makan menjadi selangit, lho.

Makanya untuk menaikkan ROI makan di luar, lebih penting “makan sama siapa” daripada “makan pakai apa”. Hehehe.

Puasa itu selain berpahala dan menyehatkan tubuh kita, juga membantu kita menghemat biaya makan lho, teman-teman.

Beli makanan jadi selalu lebih mahal daripada memasak sendiri. Beli snack selalu lebih boros daripada tidak jajan. Fokus juga pada frekuensi. Sekali seminggu tentu lebih hemat daripada setiap hari. Hehe.

2. Kendalikan biaya ulang tahun

Biaya ulang tahun itu perlu, bahkan wajib. Tetapi tidak usah berlebihan. Jangan terlalu pelit juga untuk memperingati berapa tahun kita hidup di dunia. Sembari merefleksikan apa yang sudah kita lakukan. Lagipula, kalau anggota keluarga sendiri yang ingin ulang tahun kita dirayakan, kita tidak bisa menolak, bukan?

Sehemat-hematnya ulang tahun, menurut saya beli kue saja secara online. Dirayakan di rumah, sembari mengucap syukur dan memanjatkan doa.

3. Gunakan barang bekas

Berburu barang bekas pakai, terutama fesyen menjadi tren di tahun 2020. Artinya, kita tidak perlu ragu dan malu dalam menggunakan produk-produk preloved. Apalagi jika produk tersebut termasuk kategori branded.

Beli kendaraan juga tidak harus baru. Baik sepeda, sepeda motor, maupun mobil. Karena pemilik pertamanya juga tidak menjual kendaraannya dalam keadaan performa yang sudah turun.

4. Pilih Kesenangan yang Tidak Menghabiskan Uang

Main ke taman kota saja. Bukan main ke mall terus. Duduk saja bayar, apalagi bermain di wahana. Selain hanya ada belanja dan ajakan untuk mengeluarkan uang, habisnya uang belum tentu membuat bahagia.

5. Jangan Liburan Asal-Asalan

Asal-asalan dalam hal waktu, itinerary, dan anggaran (budget).

Secara jadwal, jangan liburan mendadak. Rencanakan cuti setahun itu mau dipakai ke mana saja.

Untuk itinerary, lebih baik ke destinasi baru demi mendapat pengalaman baru. Daripada nongkrong dan mager di destinasi yang modal hype doank.

Tetapkan batas maksimal seluruh pengeluaran liburan: tiket, penginapan, oleh-oleh, dan lain sebagainya. Masing-masing pos pengeluaran harus dianggarkan maksimalnya berapa.

Hindari pembayaran dengan kartu kredit. Bukan melarang, tetapi cara pembayaran tersebut bisa membuat kita tak terkendali dalam hal uang.

6. Potong Biaya Rumah yang Rutin

Bila memungkinkan, ganti PDAM dengan air tanah. Di Bandung Raya, biaya mengebor sumur bisa sampai Rp500.000,- tetapi sekali bayar. Biaya rutinnya adalah listriknya pompa air.

Renovasi rumah supaya lebih banyak bukaan (jendela, ventilasi, void, dll) untuk mengurangi penggunaan AC maupun kipas angin. Untuk mensirkulasi udara dan panas, jenis renovasi yang mahal adalah meninggikan bangunan. Harapannya, biaya listrik bisa ditekan.

Supaya rumah bisa lebih terang sembari mengurangi penggunaan listrik, kita bisa memasang glass block dan mengganti sedikit atap dengan yang berwarna transparan.

7. Bicarakan anggaran dan tabungan dengan anak-anak

Anak-anak itu manusia dewasa yang belum sepenuhnya paham soal keuangan. Mulai dari uang sebagai alat tukar, adanya pemasukan rumah tangga, serta alternatif produk atau jasa yang lebih murah untuk dibeli.

Apa saja yang harus dilakukan?

Membuat tabungan khusus anak-anak. Tentu saja tabungan tersebut untuk masa depan mereka: sekolah dan kuliah.

Mengajarkan anak untuk membuat rencana dan anggaran. Tidak melulu berupa uang, ya. Anggaran bisa berarti jatah buku gambar A3 dalam satu pekan.

Saya yakin teman-teman di sini bisa membuat contoh-contoh lain dari analogi buku gambar tersebut.

Yang perlu kita ingat, di sekolah tidak ada kurikulum tentang perencanaan dan pengelolaan keuangan. Jadi, kita sendiri yang perlu belajar dan mengajari anak-anak kita tentang keuangan.

Demikian dari saya tentang tips mengatur keuangan rumah tangga supaya bisa menabung untuk masa depan. Dari teman-teman barangkali ada pengalaman serupa? Boleh dituangkan di kolom komentar ya.

Setelah Lebaran, Selanjutnya Apa?

Refleksi Ramadhan tahun ini dan hal-hal yang perlu disyukuri. Mudah-mudahan masih dipanjangkan usia untuk bertemu Ramadhan tahun depan.

Tahun 2021 ini, alias 1442 Hijriyah ini, adalah tahun kedua kita berpuasa Ramadhan dan Lebaran dalam suasana pandemi.

Tahun lalu, perdebatannya adalah mudik vs pulang kampung. Tahun ini, polemiknya adalah mudik dilarang, tapi boleh berwisata.

Pemerintah melarang mudik – meski kemudian menyatakan tidak apa-apa berwisata dalam tingkat aglomerasi kota. Cuti bersama untuk ASN dan karyawan BUMN, hanya berlaku sehari, yaitu H-1 lebaran. Tidak lain untuk mencegah mudik yang massive ya.

Itu perihal mudik ya. Suatu kebiasaan orang kita untuk pulang kampung demi merayakan hari raya bersama keluarga. Rangkaian acaranya meliputi shalat Ied di lapangan, berziarah ke makam para sesepuh keluarga besar, hingga silaturahmi ke tetangga dan anggota keluarga yang lain — silaturahmi ini bisa dari kota ke kota, lho. Berpotensi menyebarkan covid juga, sebenarnya.

Kami sekeluarga tidak mudik dahulu. Selain karena masih pandemi dengan anak-anak kami yang relatif muda, ada agenda besar di akhir Juli nanti. Mudik terpaksa ditunda dulu, menunggu hajatan tersebut tuntas. Lagipula, biasanya juga kami tidak mempedulikan mudik di hari raya atau bukan, ya. Kapan saja soal mudik, mah.

Ramadhan 1442H Bagi Kami

Puasa Ramadhan kali kedua di tengah-tengah pandemi ini yang rasa-rasanya semakin berat dijalani. Kita kan bukan anak kecil yang hanya puasa saja ya. Tetapi sebagai muslim dewasa, kita juga mengejar pahala dari rutinitas ibadah yang lain: tilawah dan tarawih, misalnya.

Untuk saya pribadi, ditambah dengan adanya pergeseran peran di kantor, menyebabkan jam kerja lebih panjang dengan beberapa di antaranya harus lembur (overtime). Kondisi ini yang semakin menantang dan menyulitkan dalam ibadah ramadhan: sahur, puasa, tilawah, tarawih, dll.

Secara hasil, jauh menurun dibandingkan dengan tahun lalu. Satu hari puasa sempat dibatalkan saja karena harus menjalani bedah mulut untuk mengangkat geraham bungsu. Kapan-kapan saya coba share soal ‘operasi geraham bungsu’ ini ya.

However, tidak sedikit hal yang saya syukuri di Ramadhan kali ini.

Begini, tilawah Al-Qur’an itu kan satu hal di antara ‘beriman kepada kitab-kitab Allah’. Sepanjang Ramadhan lalu, saya beberapa kali browsing dan mencari tahu apa itu Taurat, Injil, Perjanjian Lama (Old Testament) dan Perjanjian Baru (New Testament). Ini tidak bisa dipisahkan dari mempelajari sejarah para nabi dan Rasul (Isa Alaihissalam, Daud Alaihissalam, Sulaiman Alaihissalam, dll) – yang topiknya adalah ‘Iman kepada Rasul-rasul Allah’ selain Nabi Muhammad Shallalahu Alaihi Wassalam.

Sampainya saya ke topik-topik tersebut, tidak lain dari mengeksplorasi berita-berita tentang mereka yang baru menjadi muallaf. Rasanya jadi berempati kepada mereka. Maaf, salah. Harusnya kita berempati kepada kita yang muslim sejak lahir ya. Betapa kita seharusnya kagum dan meniru semangat belajar mereka para muallaf yang melakukan pencarian terhadap Tuhan, keyakinan dan Ibadah, karena tidak dibesarkan dalam keadaan Islam.

Di antaranya ada nama-nama, drg.Carissa Grani, Annisa Theresia (dulu penyanyi ‘Awal Yang Indah’ dan anggota DPR), dan Zahra Jasmine (mantan DJ). Kebetulan perempuan semua. Hanny Kristianto, seorang muallaf pria yang belum saya eksplor.

Dari sisi parenting, alhamdulillah Anak Dua bisa shaum hingga 30 dan 28 hari. Ada yang kurang 2 hari karena sempat sakit. Alhamdulillah ibadah sahur juga diikuti terus oleh mereka. Minim drama. Kayaknya karena sudah di-sounding/di-briefing sejak semalam. Pasca tarawih kan kita bareng-bareng berniat puasa, sambil mengingatkan mereka untuk bangun jam 3 pagi.

Pernah juga kami ceritakan peristiwa masa kecil semisal, saya yang ketika itu buka puasa tinggal 30 menit lagi, saya nangis meminta buka puasa. Merengeknya berhenti karena minum air mata, hehe. Kisah lain, tidak sengaja makan pisang tapi karena kelupaan, puasanya lanjut terus. Kisah-kisah ini sebagai penyemangat untuk mereka.

Sedikit banyak, kesuksesan berpuasa Anak Dua tuh karena masing-masing ada partner sekaligus kompetitornya. Hehe. Alhamdulillah. Berkah anak kembar yang kami tidak berhenti mensyukurinya. Mudah-mudahan mereka berusia panjang ya.

Saya dan Ramadhan 1443H

So, Ramadhan sudah usai, terus ‘saya dan Ramadhan’ ini kelanjutannya gimana?

Judul besarnya masih sama ya: Memperdalam Ilmu Agama. Sampai dengan Ramadhan tahun depan, yang realistis adalah mempelajari kitab Azbabun Nuzul (link tokopedia). Realistis karena sudah pasrah dengan target-target lain dalam hidup: target pekerjaan, target pengasuhan, dan seterusnya.

Sebagaimana bidang-bidang lain dalam hidup, saya mulai dengan dan selalu melanjutkan dari yang saya suka atau berminat untuk saya pelajari. Kitab yang saya sebut di atas adalah ‘kelanjutan’ dari belajar Alquran.

Targetnya satu ini aja dulu. Karena belajar agama kan seumur hidup ya. Meski kita gak tahu usia kita sampai di mana, perlu banget mengatur ritme dalam ‘bernafas’. Karena perjuangan ini ‘kan ibarat lari marathon ya. Butuh semangat dan nafas yang panjang.

Demikian pengalaman dari saya mengenai Ramadhan tahun ini. Dari kamu, barangkali ada cerita yang ingin dibagikan? Ditunggu ya ceritanya di kolom komentar.

Menemukan Fokus

Tema umum dalam setahun terakhir adalah bagaimana mengatasi kebosanan di tengah-tengah pandemi dan dompet yang lebih tipis (dibanding tahun-tahun sebelumnya). Bagaimana mengatasi kebosanan sekaligus menemukan fokus yang baru?

Fokus tuh bantu banget kita untuk menemukan dan mencapai kesuksesan. Masalah dari fokus adalah fokus itu membosankan. Tidak variatif. Sensasi berpetualangnya tidak ada. Persoalan dari petualangan adalah bisa jadi kita tidak ke mana-mana.

Berlaku sama di content creation. Ya blog, ya YouTube. (Baru tadi sore saya rilis #Journal Ep.1 soal transportasi lawas dan telekomunikasi jadoel).

Saya tuh berusaha banget bisa konsisten rilis tulisan di blog ini. Setidaknya seminggu sekali. Meski aturan komunitas blogger 1Minggu1Cerita adalah 6 pekan sekali, tetapi berusaha fokus dan tekun merilis konten secara berkala seminggu sekali itu banyak banget godaannya.

Bikin konten tuh kadang-kadang rasanya gak punya tujuan (aimless) dan tidak menyenangkan (joyless). Bisa gila kalau mikirin dan kepikiran target rilis konten terus. As u know, konten gak hanya dibuat lalu langsung rilis saja. Tapi apapun kontennya, mesti dikonsep dan disunting.

Konsisten itu membosankan.

Eksplorasi materi atau topik baru itu yang menyenangkan.

Membuka kotak-kotak memori kita, mengecek satu demi satu ada memori apa saja yang berada dalam kotak tersebut. Ini tuh proses yang adventurous sebenarnya. Rasanya sama banget dengan duduk berdua bersama pasangan di ruang tamu menceritakan masa lalu masing-masing. Konon, Pakdhe Piyu juga begitu caranya dalam menulis lirik dan menuangkan nuansa lagu.

Blog yang adventurous kayaknya gak disukai sama Google ya. Topiknya ke mana-mana. Gak ada fokusnya. Gak sepenuhnya salah, siy. Tapi, kalau teknik saya adalah, tiap ada berapa tulisan dengan topik yang sama, dibuatkan kategori baru.

Di blog ini ada categories fathering yang baru sepekan lalu saya tulis Mitos dan Fakta tentang Anak Kembar. Ada juga categories marriage yang sudah lama enggak diperbarui. Sebagai mantan business analyst, saya masih hobi mengulik konten-konten seputar Strategic Marketing. Kalau belum masuk ke mana-mana, berarti harus ngendon di categories Journal dulu.

Makanya YouTube saya, topik yang akan diutamakan adalah #BincangProfesi. Prosesnya relatif gak sulit, hanya tinggal mewawancarai rekan-rekan mengenai profesi atau karirnya. Saya yang hobi mengobservasi pekerjaan orang lain, tidak kesulitan menggali apa yang mereka kerjakan sehari-hari, mengapa dan bagaimana mereka bertahan di profesi tersebut.

Bertualang dengan tema baru pasti menyenangkan. Tetapi membuat blog/vlog kita terkesan tidak punya positioning atau direction yang jelas.

Eksplorasi materi dalam setahun terakhir ini, banyak dipengaruhi oleh pandemi (dan resesi) tentu saja, ya.

Yang suka eksplor pariwisata, lagi gak bisa jalan-jalan sama sekali atau terpaksa harus mengurangi. Yang suka belanja dan bikin konten unboxing atau review, kebetulan ekonomi lagi sulit dan konsumsi harus dikurangi.

Gak heran pandemi ini memunculkan hobi baru. Yang dalam kasus saya, ngulak-ngulik YouTube dan software terkait (Photos atau Video Editor di Windows 10) jadi aktifitas baru yang saya alokasikan waktu secara khusus. Kurang lebih setahun lalu, menulis buku berjudul Freelance 101. Ulasannya di sini dan di sana. Tentu order bukunya bisa ke saya. Ihik #celahpromosi

Sindonews pernah meriset hal ini dan menemukan 6 hobi baru selama pandemi: memasak, membaca, berkebun, menonton, melukis, dan bersepeda.

Bisa disimpulkan sementara ini, bahwa menemukan fokus yang baru itu, di antaranya adalah dengan menemukan hobi yang baru. Hobi bukan sesuatu yang kita kerjakan di waktu-waktu sisa, ya. Melainkan kita secara sengaja mengalokasikan waktu untuk mengerjakannya. Ada 7 hobi yang bisa dipilih berdasar popularitasnya yang menanjak selama pandemi.