Mitos dan Fakta Anak Kembar

Sejak mereka bayi, seiring waktu berjalan, kami mendengar dan dikonfirmasi beberapa mitos seputar anak kembar.

Anak Dua sekarang sudah sekolah TK. Sudah bertahun-tahun bertumbuh bersama kami. Sejak mereka bayi, seiring waktu berjalan, kami mendengar dan dikonfirmasi oleh kolega kami, mengenai beberapa mitos seputar anak kembar.

Berikut adalah beberapa tanggapan ‘fakta-fakta’ dari kami, perihal mitos-mitos tersebut.

Mitos 1: Anak Kembar Bisa Lahir Beda Waktu

Fakta 1: Tentu tidak ‘rilis’ bersamaan ke dunia ya. Anak Dua, sebagaimana kami biasa menyebutnya, berjarak 5 menit antara satu dengan yang lain.

Mitos 2: Lahir Duluan Berarti Jadi Kakak.

Fakta 2: Itulah yang kami lakukan. Kami panggilnya ‘Mas’ dan ‘Adek’. Kebiasaan Jawa yang menyatakan, lahir belakangan disebut ‘kakak’ karena mempersilakan ‘adek’-nya duluan rilis. Kami tidak sependapat dengan kebiasaan tersebut.

Mitos 3: Jika yang satu sakit, maka lainnya akan sakit.

Fakta 3: Iya. Dan kata yang lebih tepat adalah ‘menyusul sakit’. Tapi bukan karena kembar. Melainkan karena makan, tidur, mandi, dan bermain nyaris selalu bersama-sama. Jadi karena intensitas dan frekuensi ke-bersamaan-nya sangat tinggi. Bagaimana dengan kakak-adik selisih kurang dari satu tahun, yang segala aktifitasnya selalu ber-barengan? Peluangnya kira-kira akan mirip.

Mitos 4: Anak kembar punya sidik jari yang sama.

Fakta 4: Tentu saja tidak. Bukan hanya sidik jari yang tidak sama. Seluruh manusia pun, menurut info dari salah satu dokter anak yang kami dengar langsung, tidak ada telinga yang sama.

Mitos 5: Harus memakai pakaian yang sama.

Fakta 5: Kenyataannya, kami sebagai orang tua dan berbagai kerabat atau keluarga yang lain, selalu membelikan model atau warna yang sama. Bukan karena preferensi si anak. Melainkan preferensi dari pembelinya. Sebenarnya, lebih sering satu model daripada satu model-satu warna ya.

Mitos 6: Lahiran harus operasi sesar.

Fakta 6: Yang kami dengar dari dokter anak, dua dari tiga kelahiran kembar adalah lewat operasi sesar.

Mitos 7: Punya anak kembar itu orang tuanya akan double effort.

Fakta 7: Berlaku selama awal kelahiran saja ya. Selanjutnya, anak akan punya ‘teman’ belajar dan bermain. Sehingga ortunya ‘relatif lebih ringan’ dalam meluangkan waktu untuk menemani anak-anak belajar dan bermain.

Fakta-fakta dari kami ini juga diinspirasi oleh mitos-mitos yang terdapat dalam: https://www.klikdokter.com/info-sehat/read/3648719/mitos-seputar-anak-kembar-yang-tak-perlu-dipercaya

Kalau Kartini hidup hari ini, Apa yang akan dia lakukan?

Disclaimer: tulisan ini hanya kombinasi fakta dan imajinasi.

Saya berimajinasi andaikata Kartini hidup di era sekarang.

Mungkin dia adalah seorang blogger yang rutin menuangkan apa yang dipikirkannya ke dalam rangkaian kata. Tentu tidak hanya angan-angannya saja ya. Tetapi juga pengalaman-pengalaman hidupnya. Yang tujuannya bukan hanya mendokumentasikan, namun sekaligus berbagi dan menginspirasi.

Sudut pandang penulisannya lebih bersifat personal; bagaimana dia memandang sesuatu hal. Dia pemikir kritis yang punya pendapat pada hampir setiap hal. Bahkan, ke-agama-annya sendiri pun akan dia kritisi. Dia lahir sebagai seorang muslimah sejak lahir dari keturunan yang beragama Islam. Yang menarik, dia mempertanyakan kenapa dia harus tetap dalam agama tauhid tersebut. Untungnya, dia bertemu dan belajar dari sese-ustadz.

Kartini lahir dengan privileged. Tidak semua orang bisa seperti dia yang seorang bangsawan. Artinya sebagai keturunan ningrat, keluarganya diberkahi dengan bahan bacaan, isi pembicaraan maupun perilaku yang kental dengan intelektualitas. Di saat masih ada perempuan yang tidak punya makanan untuk disantap, Kartini sudah selesai dengan urusan-urusan mendasar seperti itu.

Dia menggemari pendidikan. Artinya, dia meyakini pendidikan adalah kunci penting untuk membuka akses ke tangga sosial dan ekonomi bagi para perempuan. Pendidikan sebagai jalan untuk ‘membebaskan’ perempuan untuk tidak hanya berkutat di domestik rumah tangga saja.

Kartini adalah aktifis pendidikan. Bangun sekolah, aktif mengikuti diskursus pendidikan (termasuk kurikulum yang sering berubah itu), sekaligus menjadi panelis di berbagai forum pendidikan.

Sebagai tokoh publik yang punya weblog pribadi, Kartini juga akan punya twitter dan instagram. Selain memperkuat amplifikasi tulisan-tulisannya lewat dua social media tersebut dan facebook, tentunya social media tersebut diberikan beban tambahan untuk turut membantu personal branding-nya sebagai seorang aktifis pendidikan.

Kita tidak bisa mengabaikan bahwa memang ada endorsement dan sponsorship dari asing, katakanlah saja Belanda, demi menarik simpati masyarakat di sini yang sedang berjuang meraih kemerdekaan. Tanpa menafikan fakta tersebut, kenyataannya tidak semua orang suka dengan Kartini dan apa yang dia perjuangkan. Meskipun, dalam kontrak pendanaannya tertuang kewajiban untuk nge-vlog di YouTube dengan judul “Tour Sekolah Bersponsor dan Berstandard Internasional”.

Ya, selain punya fans, Kartini juga punya haters. Para pembenci ini bahkan lebih updated daripada fans itu sendiri. Tentang Kartini ke mana, bicara tentang apa, dan seterusnya. Sebagai bahan serangan –bukan haters kalau tidak menyerang ya– adalah fakta bahwa Kartini terlibat dalam poligami.

Kartini bukan anak dari istri yang “diutamakan” oleh ayahnya yang seorang pejabat publik, correct me if I am wrong. Kartini sendiri merupakan istri ketiga dari seorang pejabat publik juga. Seiring dengan personanya sebagai aktifis pendidikan, dia adalah ‘pelaku’ poligami juga.

Kartini ‘dituduh’ bertindak lebih dari yang seharusnya. Dia adalah perempuan yang harusnya hilir mudik kasur dan dapur. Sebagaimana dia sebagai anak dan istri dari keluarga yang berpoligami. Kodrat ke-perempuan-annya sangat melekat di situ.

Meski berkali-kali dirundung di twitter hingga menjadi trending topic, Kartini tetap pada pendiriannya. Api semangatnya terus menyala. Dia tetap berjuang menyuarakan aspirasinya di berbagai kanal online maupun offline.

Di kemudian hari, sebuah penerbit kenamaan menghubunginya lewat pesan WhatsApp, “Bu, berkenan enggak, kalau tulisan-tulisan Ibu di kartini.com kita kompilasi dan terbitkan sebagai buku? Nanti judulnya ‘Habis Gelap, Terbitlah Terang”.


Referensi:

How to Becomes a Digital Talent?

Selain mahir dalam bidangnya, digital talent juga perlu ‘visible’ di internet. Update dengan perkembangan app juga tak kalah penting.

Digital talent adalah talenta/individu dengan keterampilan digital. Sebagaimana kita tahu, digitalisasi terjadi di semua bidang. Kita manusia semakin banyak bekerja maupun berinteraksi via aplikasi digital.

Dengan sendirinya tenaga kerja yang dibutuhkan saat ini, adalah talenta digital atau dengan kemampuan digital. Seperti content writer, youtuber, business/system analyst, developer/programmer, terkait data (data engineer, data analyst, dll), social media (analyst, strategist, dll).

Sound engineering juga dilakukan secara digital. Banyak dipuja-puji tuh sound engineer-nya .NET TV. Padi Reborn Sang Penghibur jadi nikmat banget didengar. Lebih seimbang gitarnya Piyu dengan gitarnya Ari Homer.

Dulu untuk membuat materi tulisan, seorang penulis harus ke perpustakaan, membuka banyak buku untuk melakukan riset, baru bisa membuat tulisan. Sekarang, penulis digital bukan lagi kekurangan informasi, bahkan kebanjiran informasi. Kalau sebelumnya bingung karena tidak pernah konten yang memuat hasil riset atau interpretasinya, sekarang bingung memilah mana informasi yang benar atau hoax.

Dulu bikin desain, paling keren kalau pake keluarganya Adobe: Photoshop maupun Illustrator. Cupu sedikit, pakenya PowerPoint. Sekarang, buat begitu bisa pakai canva.com saja. Tiba-tiba, semua orang bisa mendesain dengan lebih cepat sekarang.

Profesi penulis, visual designer, atau profesi-profesi lainnya sebenarnya masih ada. Bukan tergilas dan tergantikan akibat digitalisasi atau robot. Tetapi, perlu diingat bahwa tanggung jawab, deskripsi pekerjaan, dan tetek-bengek yang disusun oleh recruiter jadi bergeser. Digital talent wajib adaptif terhadap pergeseran tersebut.

Pergeseran ini sebenarnya yang paling signifikan terjadi. Yang sedikit lebih kecil adalah hilangnya suatu pekerjaan karena automasi; digantikan oleh roles (peran-peran) yang baru.

Sebagai contoh, orang dulu menduga keberadaan Anjungan Tunai Mandiri (ATM) baik berupa mesin maupun kartunya, akan menggilas pekerjaan teller. Kenyataannya, peran teller-nya tetap ada, tetapi bagian yang bisa swalayan (self-service) oleh nasabah dihilangkan dari job description-nya.

Teller maupun Customer Service (CS), sekarang lebih berupaya pada menyelesaikan persoalan nasabah, menawarkan produk baru, dan lain sebagainya. Karena itu tadi, persoalan yang bisa diselesaikan secara automatic maupun self-service diserahkan pada mesin/robot bernama ATM.

Jadi, di masa yang lebih depan sedikit, manusia akan mengerjakan apa – berdampingan dengan bantuan dari berbagai mesin/robot – dan bagaimana para digital talent bisa memperoleh pekerjaan-pekerjaan tersebut?

Rise of Online Learning

Tren terbaru dalam rekrutmen tenaga kerja adalah mengutamakan pengalaman ketimbang pendidikan dari si calon karyawan.

Nah, saran saja nih kepada pencari kerja: pengalaman bisa didapat dari magang (internship) maupun eksplorasi sendiri terhadap aplikasi-aplikasi digital. Lebih keren lagi di mata pemberi kerja (employer) kalau eksplorasi tersebut kita berikan ‘judul’ proyek.

Sekarang kalau butuh partner belajar juga lebih terjangkau. Sudah banyak platform untuk belajar secara online dengan berbagai materi yang tersedia. Waktu yang lebih singkat, harga yang lebih terjangkau.

*Uni Hicha Aquino sempat menulis Review Online Learning Platform.*

Saya sendiri baru sekali belajar di platform semacam itu. Dibayari kantor untuk belajar di Udemy, materinya tentang technical documentation. Kalo yang bayar sendiri dan dari lokal Indonesia, lebih banyak โ€˜manualโ€™-nya. Pakai zoom, rekaman video, tugas online, WhatsApp Group, dst.

Kursus-kursus singkat ini bisa banget mendorong/memaksa kita untuk belajar newer version of a digital app. Namanya aplikasi digital kan, versi barunya akan terus ada. Atau, paid version-nya lebih kompleks daripada gratisannya. Menuntut kita untuk lebih advanced terus. Selain lewat kursus, ini bisa lewat komunitas juga, kok.

Soal online learning ini, kita sebagai buyer, customer, atau user harus sering berhati-hati dalam memilih dan menggunakan layanan pembelajaran daring. Sebab ada yang namanya fake gurus. Detailnya bisa disimak di post tersebut.

Saya tidak ingin menabrakkan kursus singkat dengan pendidikan tinggi (PT). Keduanya sama baiknya dan punya porsinya masing-masing. Namun, dalam perspektif pemberi kerja, alangkah baiknya ‘lulusan’ kursus atau PT memiliki pemahaman fundamental dalam pekerjaannya. Sehingga bisa beralih mengoperasikan mesin/alat/robot yang berbeda.

Perlu kita ingat, lulusan kursus belum tentu terampil dan tidak semua lulusan PT memiliki fondasi keilmuan yang baik. Apapun pendidikannya, pekerjaan-pekerjaan kita semestinya bisa mengantar kita untuk semakin punya pemahaman yang mantap/kokoh (fundamental). Sehingga pindah-pindah alat, mesin, platform, tidak menjadi masalah besar.

Journaling: A Content Project

Klise banget kalo blogger merekomendasikan blogging ya. Tidak spesifik nge-blog di blog, maksud saya. Tetapi journaling mungkin lebih tepat. Alias secara rutin nge-post tentang topik-topik yang kita pikirkan – secara terus menerus. Mediumnya bisa facebook, instagram, twitter. Kebetulan, saya lebih suka format keluarannya berupa teks yang panjang, yaitu blog.

Ada tiga alasan mengapa saya merekomendasikan blogging sebagai proyek konten kita:

Pertama, ini bagian dari berinvestasi dalam keahlian kita. Apapun pekerjaan kita, do blogging. Ini semacam retrospeksi terhadap apa yang kita lakukan. Merefleksikan apa yang kita lakukan. Bisa berupa mempertanyakan teori yang kita ketahui. Mengartikulasikan teori untuk lebih mudah dipahami – lewat pemberian contoh.

Kedua, mengembangkan sudut pandang (developing personal point of view). Blog itu semacam PR ya. Pekerjaan rumah yang membuat saya tampak lebih baik atau lebih profesional di luaran. Kenapa? Karena lewat ngeblog, saya jadi punya “prinsip”. Bisa prinsip dalam kehidupan, atau minimal prinsip dalam berpikir. Blog juga menunjukkan ke luar bahwa, saya “berpijak” pada sesuatu (stand for something).

Ketiga, menjadikan kita lebih mudah ditemukan. Saya tahu, mencari orang atau topik bisa dilakukan di kolom search twitter, facebook, instagram. Tapi SEO bekerja hanya di google.com atau youtube.com. Maksud saya, kita akan lebih ‘bertahan lama’ dalam cache-nya Google atau YouTube kalau kita membuat konten di sana. Alias bikin weblog atau channel sendiri.

Alangkah indahnya kalau kita sebagai digital talent, mudah ditemukan di jagat internet ๐Ÿ˜€

Sejak saya nge-blog, alur berpikir saya relatif lebih sistematis dan “rapih”. Membedakan gejala dengan akar masalah. Menemukan dan mengurutkan aktifitas atau proses ke dalam runtutan yang baik. Menunjukkan kepada dunia siapa saya dan apa yang senang saya lakukan. Merek-merek yang merepresentasikan saya, dan lain sebagainya.

Yang terakhir, dan paling utama, blog juga mengantarkan saya ke pekerjaan-pekerjaan saya sekarang.

Barangkali kamu ada pengalaman, bagaimana mengembangkan diri sebagai digital talent? Bagikan di kolom komentar, ya ๐Ÿ™‚

Reference:

Podcast

Memulai podcast sebagai hobi baru. Mudah-mudahan bisa konsisten dan sustain ya.

Kayaknya saya ketemu ‘mainan’ baru, deh. Mainan baru yang saya perlu merencanakan dan meluangkan waktu. Bisa disebut juga sebagai passion atau hobi. Hehe.

podcast

Hal ini berawal dari hobi saya menyimak podcast sambil bekerja. Not all the working time ya. Podcast tuh bikin exhausted juga. Jadi selang-seling antara musik dengan podcast.

Setelah hobi mendengarkan podcast selama beberapa waktu, terlintas di pikiran saya, “Kenapa gak buat podcast aja sekalian?”. Dari puluhan kali melihat podcast-nya Pandji, End Game-nya Pak Gita Wirjawan, dan Raditya Dika –3 podcast yang paling sering saya dengarkan, tentu ada cara-cara ngobrol/interview yang bisa saya tiru dan modifikasi lha ya.

Pertama, antusiasme sebagai bahan bakar ya. Terutama rasa ingin tahu. Basic saya sebagai seseorang yang suka mengamati (observing), maka pertanyaan-pertanyaan semisal, ‘Why this happened?’ atau ‘How do you that?’ jadi sering berseliweran di dalam kepala saya.

Selain menetapkan waktu untuk interview/podcast, outline pembicaraan jelas wajib dipersiapkan. Gak perlu terlalu kaku, tapi arah pertanyaan wajib ada. Minimal temanya jelas deh, untuk episode tersebut.

Dalam podcast #BincangProfesi, arahnya memang pembahasan soal title pekerjaan ya. Bahkan ketika mengerjakan 2 episode pertama, saya belum tahu ini akan jadi apa yang diberi nama apa. Bahkan di sana, saya mengaku terus-terang bahwa ‘belum ada judul’-nya. Hehehe.

Tahu, enggak? Title pekerjaan sering menipu lho. Judulnya manager, tapi belum pasti ada karyawan lain sebagai anggota timnya. Product manager, sales manager tuh belum tentu punya bawahan yang membantu pekerjaan.

Info tipis-tipis, baik yang sengaja saya cari tahu maupun yang tidak sengaja saya dapatkan itulah, yang mengantar saya menyusun outline, arah ataupun tema pembicaraan. Gak pernah tertulis, memang. Namun ngendon di kepala saya selama beberapa hari atau pekan.

Ep.1 Drilling Fluid Engineer

Dari title, saya biasanya zoom out ke industri ya. Kompetitor produk atau perusahaannya siapa, market yang dilayani yang mana, produk/layanan substitusinya apa, dan seterusnya.

Ep.2 Corrosion Engineer

Terakhir adalah soal masa depan dari profesi tersebut. Misalnya, ada opportunity apa sehingga profesi ini cerah masa depannya? Kalau ingin terjun ke profesi tersebut, persiapan pendidikan atau sertifikasinya bisa dilakukan di mana saja? Dan seterusnya.

Ep.3 Farmasis

Koridornya saya sejauh ini adalah tidak sebut merek produk atau perusahaan ya. Memang bukan sarana promosi ya. Jadi sekalian tidak boleh sebut sama sekali. Tapi, kalo ada yang ingin support channel ini, boleh banget tuh kita kerja sama. Hahaha #iklan.

Support tuh maksudnya supaya saya tetap bisa sustain untuk mempromosikan profesi rekan-rekan sekalian. Kepada mereka yang menjadi narasumber, saya yakin ini adalah cara untuk memperingan beban pekerjaan mereka. Sedikit atau banyak, pekerjaan itu membuat stress juga kan ya.

Selain demi ngonten, podcast ini saya jadikan sarana untuk silaturahmi juga dengan teman-teman lama. Lumayan ya, jadi tahu siapa sedang di mana, bersama siapa, sedang berbuat apa, dst. Hehehe.