Video Marketing

Video marketing semakin marak. Penggunaannya juga di berbagai platform social media. Harus masuk dari sekarang supaya tidak ketinggalan.

Mestinya video marketing itu dibahas dengan video ya. Namun, saya itu penggemar berat teks. Saya suka bermain dengan kata-kata.

Although I believe in SEO dan long content, gak ada salahnya juga kita bahas pemasaran via gambar gerak bersuara.

Kenyataannya, setelah era gambar dan teks, kini audiens memilih untuk menonton lebih banyak video saja.

Kombinasi gambar bergerak dan audio menghemat waktu para audiens; yang untuk teks saja, sekarang ini lebih suka skimming daripada membaca seksama.

video marketing
Gambar berasal dari https://www.askmedigi.com/video-marketing-statistics-2020/

Data dan Fakta

Menurut majalah Forbes tahun 2017:

  • Menambahkan video dalam email marketing terbukti bisa menaikkan CTR hingga 300%.
  • Menyematkan video pada lading page bisa menaikkan konversi sebanyak 80%.
  • 64% konsumen menjadi semakin tertarik membeli produk secara online setelah menonton video.
  • Konsumsi YouTube lewat mobile berkembang hingga 100% setiap tahun.

Menurut riset yang dilakukan oleh HubSpot Research,

  • 54% konsumen ingin melihat video dari brand yang mereka dukung dibandingkan dengan bentuk konten email newsletter (46%) atau gambar (41%),
  • konten video adalah yang paling berkesan bagi pasar (43%) dibandingkan dengan teks (18%) dan gambar (36%).
  • konsumen dan pelanggan sebenarnya lebih memilih video yang “autentik” (meskipun kualitasnya lebih rendah) daripada video berkualitas tinggi yang kelewat artifisial dan tidak autentik.

Video marketing tuh bisa dilakukan via YouTube, Tiktok, maupun Instagram (Stories, IGTV), dan berbagai social media lainnya.

YouTube

Seiring dengan bertumbuhnya penonton YouTube, maka men-drive user ke website kita juga membutuhkan video sebagai konten iklan. Selain itu, membesarnya porsi video yang ditonton, maka engagement pun bergeser ke bentuk-bentuk video. Sepengamatan saya, Facebook pun memberikan atensi berbeda terhadap video yang diiklankan. Makin mantap lha engagement-nya.

Bila Anda membuat website, hostingnya bisa diakali supaya tidak berat dengan cara menaruh link (embedded) di web Anda. Videonya sendiri tetap di-hosted di Youtube.

Selain yang benar-benar disimpan di Youtube, ada juga video marketing yang sifatnya temporer. Di IG, kita kenal sebagai Stories. Lucunya, kini semua juga punya ya. Facebook ada, WhatsApp, Twitter, bahkan Linkedin juga ada.

Salah satu yang menyebabkan video marketing makin marak adalah attention span yang sekarang ini sudah pendek banget. Membaca teks terasa lama, makanya skimming saja. Nonton video, kalau tidak menarik banget, akhirnya di-skip-skip juga.

Video dalam Buyer Journey

Berikut beberapa contoh bagaimana video bisa berperan dalam perjalanan seorang pembeli, dari tidak tahu, membeli, sampai dengan berlangganan:

  • Advertising Video
  • Marketing Campaign Video (e.g. customer stories)
  • Company Profile Video
  • Documentation Video (e.g. onboarding, knowledge management, how to)
  • Events Video
  • Infographics Video
  • Product Knowledge Video
  • Short Films
  • Social Media Teaser Video
  • TVC
  • YouTube Advertising Video

Terdapat berbagai pilihan untuk merilis video marketing Anda. Platform dipilih berdasar riset, lho. Yaitu riset yang menyatakan di social media yang manakah, target audiens kita paling banyak berada. Dengan merilis video di platform yang tepat, kemungkinan untuk mendapatkan konsumen lebih besar.

87% online marketer kekinian pun sudah jamak mengggunakan konten video dalam strategi pemasaran digitalnya, lho.

Produksi Video Marketing

Sudah beberapa kali saya jadi “otak” dalam pembuatan video marketing. Sama seperti produksi konten yang lain, kita wajib start dari riset. Baik riset mempelajari kontennya, maupun riset terhadap fase buyer journey yang dikehendaki (fase perkenalankah, fase berlangganankah, dst).

Script dan Storyboard

Bikin naskah (script) dan storyboard, supaya proses produksinya efisien dan hasilnya enggak kacau. Di script, semua teks harus lengkap. Baik yang diucapkan oleh pemerannya, yang dinarasikan oleh naratornya (yaitu voice over), maupun teks-teks pendukung semisal terjemahannya (subtitle).

Sedangkan storyboard adalah naskah dalam versi yang lebih visual. Jadi detil-detilnya kelihatan jelas. Ini penting juga untuk tim logistik menyiapkan segala perlengkapan terkait (pakaian, furnitur, dan set-set lainnya).

Baik script maupun storyboard harus mencirikan adanya tokoh/karakter, masalah yang ditemui, lalu plot (alur cerita) hingga solusinya berhasil membantu si tokoh menuntaskan masalah tersebut atau mencapai tujuannya.

Produksi tidak perlu dijelaskan ya. Intinya lebih ke pengambilan gambar. Durasi pengambilan gambar sebaiknya diperpanjang. Jadi ada jeda yang lega untuk memudahkan penyuntingan. Baik pemotongan maupun penyambungannya.

Penyuntingan Video Marketing

Lalu masuk ke tahap penyuntingan (editing). Tidak hanya menjahit gambar bergerak dan audio (baik human maupun non human) menjadi satu. Namun juga memastikan kerapihannya. Kerapihan ini yang pekerjaan ‘tukang’ banget. Dan biasanya hanya yang sehari-hari mengerjakannya yang hasilnya bagus, a.k.a Video Editor.

FYI, Peralatannya Makin Terjangkau

Pembuatan video, sebenarnya tidak pernah semudah ini. Teknologi serendah smartphone di tahun 2021 pun sudah menghasilkan video resolusi tinggi. Setidaknya, tetap akan tajam bila dilihat di smartphone juga.

Pencahayaan (lighting) juga semakin terjangkau peralatannya. Bukan standardnya yang menurun. Tetapi spesifikasinya pun semakin beragam. Studio berukuran kecil makin mudah dibuat. Yang mahal-mahal dan canggih pastinya tetap ada.

Aplikasi digital untuk menyunting video juga sudah tersedia secara online. Tidak perlu mengunduh dan menginstal. Semua bisa dikerjakan dari peramban. Salah satu contohnya adalah animoto.com.

Simpulan

Yang belum, coba segera dimulai.

Yang sudah, coba pertajam skill-mu.

Yang sudah tajam, rutinkan rilis di social media.


Baca juga tulisan lain saya soal DIGITAL MARKETING.

Domain, Engine, dan Hosting

Pahami perbedaan domain, engine dan hosting. Supaya tidak bingung dan bisa mengoptimalkan ketiganya untuk blog atau website kamu.

Saya coba menuangkan ke dalam tulisan ini karena pertanyaan seputar Domain dan Hosting rupanya tidak ada habisnya di antara para blogger.

Dua analogi yang biasa dipakai:

  • Plat mobil dan mesin mobil
  • Kotak pos dan rumah

Sejauh pembahasan seputar WordPress dan Blogspot, kedua analogi tersebut tidak apa-apa dipakai.

Dengan domain dianalogikan seperti plat mobil atau kotak pos. Sedangkan hosting adalah mesin mobilnya, atau rumahnya.

Sebelum lanjut, kita wajib ketahui dua hal ini mengenai keduanya:

  • Di WP, ada wordpress.com (sebuah hosting) dan wordpress.org (sebuah engine). Ketika nge-host di wordpress.com, kita juga ditawarkan layanan untuk beli dan pasang domain, kok. Harga domainnya bagaimana? Sangat mahal dibanding kita beli di Indonesia.
  • Di blogspot, ada hosting dan engine-nya juga. Blogger nama engine-nya kalo gak salah.
  • Perbandingan WordPress (.org dan .com) dengan Blogger sudah dibahas kakak Reisha ya.

CMS

Ketika teman-teman blogger mulai menanyakan platform lain, katakanlah medium.com, atau Kompasiana, atau tumblr, di sinilah kita perlu mengenalkan “Engine”.

Engine atau disebut CMS (Content Management System) sebenarnya sudah ada sejak awal. Sesuai namanya, ini adalah aplikasi digital untuk mengelola (to manage) konten.

Berhubung CMS dan hosting di WP maupun Blogspot bisa dikatakan sudah menjadi satu, maka Engine ini kurang disebut dan dibahas. Padahal ya sudah ada sejak awal.

Sebagai pengguna WP, izinkan saya promosi WP ya.

Selain ada versi gratis, WordPress juga relatif murah; terutama bagi blogger. Dibandingkan dengan CMS yang banyak digunakan di pasar korporat, semisal: Sitefinity atau Sitecore.

WordPress juga relatif modular. Ibarat lego, dia terdiri dari building blocks kecil-kecil yang bisa dipasangkan dan disambungkan satu sama lain. Kekuatan dari merek WP adalah plugins yang mudah ditempel dan tinggal dikonfigurasi dengan sistem WP utamanya. Plugins ini banyak dari pihak ketiga. Yang tentu sudah mendalami kebutuhan para penggunanya.

Contoh adalah plugin Elementor. Plugin ini bisa digunakan untuk mendesain Landing Page. Yakni, suatu halaman tempat user “mendarat”.

Hosting

Terus hosting yang dianalogikan dengan mobil atau rumah ini apa?

Kalau sebelum zaman internet, kita menyimpan semua data di dalam hardisk di dalam personal computer (PC) kan? Di mana, kalau kita ingin memindahkan ke laptop/desktop lain, via flashdisk.

Nah di zaman internet yang serba terhubung, kita tidak perlu menjadikan PC kita sebagai komputer server (penyedia). PC kita sebagai pengguna saja. Siapa penyedianya? Ya jasa hosting tersebut.

Jadi, semua data konten kita, maupun CMS yang menjadi aplikasi digitalnya, disimpan di hosting tersebut. Biasanya para penyedia hosting menggunakan aplikasi CPanel (suatu portal digital) untuk memudahkan user bermanuver ke sana ke mari.

Contoh jasa hosting: idcloudhost, niagahoster, rumahweb, qwords, dan lain sebagainya.

Kalau mau berbaik hati membeli via affiliate saya dan mendukung blog ini, bisa ke link afiliasi ya.

Hosting Unlimited Indonesia

Penyedia jasa hosting, selalu menyediakan jasa domain juga. Belinya bisa jadi satu, bisa terpisah juga.

Ingin mempelajari lebih detail soal hosting? Bisa ke penasihat hosting aja.

Domain

Beberapa minggu lalu, saya tidak bisa transfer domain ke penyedia hosting yang berbeda, karena ternyata kalau mau pindah itu, setidaknya punya cadangan usia sebanyak 90 hari ke depan. Padahal, inginnya mempermudah pembayaran dengan membeli jasa domain+hosting di pedagang yang sama.

Akhirnya hosting sudah aktif setelah transfer, tetapi domainnya belum bisa ditransfer. Akhirnya perpanjang di tempat lama, deh. Supaya ikhwanalim.com-nya bisa diakses oleh teman-teman sekalian. Jadi, hosting dan domain saya saat ini, berasal dari penyedia yang berbeda.

FYI, biasanya kan sewa domain tuh setahun, ya.

Nah, domain yang sering dianalogikan dengan plat mobil atau kotak pos ini ibarat muka-nya suatu hosting. Sekaligus menjadi cara singkat untuk menuju si interface (antarmuka) yang namanya blog kita.

Kenapa cara singkat? Karena kalau ingat domain/URL-nya kan tinggal ketik aja di browser (peramban) fave kita. Dengan kata lain, domain juga untuk branding kita. Punya (dan memelihara) domain adalah bagian dari personal branding ya, tho?

Bagaimana implementasi domain sebagai personal branding? Saya kutip dari kakak Reisha lagi ya:

… dulu domain itu pilihannya dikit bgt, .com, .net, .org, .gov gt2, dan dulu tergantung peruntukan. Misal .com utk bisnis, .org utk organisasi.

.gov tuh hanya untuk situs pemerintah (yang tentu saja harus dibuktikan ke-pemerintah-annya ke si penyedia hosting). Domain .id divalidasi dengan no KTP. Untuk keperluan perusahaan, juga ada beberapa dokumen perusahaan yang diperlukan.

Tp skrg2 domain udah banyak bgt. .club .fun .design .site .blog, macam2 bgt.

Iya. Utk branding jg bs. Misal nih si budi designer. Bs aja dia bikin web portfolio budidesign.com, tp budi.design tampak lbh ok

Kesimpulan.

Cari domain, CMS dan hosting yang cocok relatif mudah, kok. Meski mungkin harus bermanuver ke berbagai jasa hosting dulu. Biasanya untuk cari yang lagi diskon, hehe. Gapapa. Manuvernya satu tahun sekali.

Di sisi lain, transfer hosting/domain juga engga susah-susah banget. Yang susah adalah konsisten “mengamankan” semua konten kita demi jaga-jaga kalau migrasi dari satu jasa hosting ke jasa hosting yang lain gagal berbuah keberhasilan.

Ada pengalaman lain perihal domain, engine atau hosting? Boleh banget dibagikan di kolom komentar.

Baca juga tulisan lain saya perihal Blogging/Writing ya. Terima kasih.