Jasa Gudang Online Membantu Ekspansi Usaha Anda

Bisnis baru yang lahir pasca bermekarannya e-commerce ini sedang naik daun. Gudang ini mendekati customers sehingga menurunkan biaya perusahaan. Dan mempercept sampainya barang di tangan customer.

Mari bercerita soal jasa pergudangan yang sedang naik daun: Gudang Online.

Jasa ini muncul seiring dengan pertumbuhan toko online. Yang tadinya bertempat di rumah atau berawal di kamar kost, kini semakin membutuhkan ruang yang lebih besar untuk menyimpan barang. Mengikuti intensitas transaksi yang semakin tinggi.

Sekadar ilustrasi. Anda menjual kopi khas Lampung dari Bandar Lampung (BL). Rata-rata transaksi untuk Jabodetabek saja, katakanlah 100 transaksi per hari. Jadi ada 100 order, 100 pengemasan, dan 100 pengiriman dari BL ke DKI setiap harinya. Nah, ada celah untuk melakukan efisiensi di sini. Mengapa tidak kirim saja 100 paket ke DKI dalam satu kali pengiriman? Nanti ada aktifitas pengemasan dan pengiriman ritel ke customer. Celah inilah yang dilayani oleh jasa gudang online.

Selain kebutuhan ruang yang semakin meninggi, ada risiko juga yang terpapar pada produk yang dikonsentrasikan di gudang sendiri, seperti: banjir, kebakaran, pencurian, dan sebagainya.

Untuk setiap transaksi, aktifitas yang diberikan antara lain: mengambil produk dari rak, mengemas, dan mengirimnya. Aktifitas pengiriman memiliki ongkos sendiri yang bervariasi berdasar tujuannya. Sebab itu, pengiriman sebenarnya dapat dipisahkan dari penyimpanan dan pengemasan.

Namun, pengiriman ini sangat mungkin dikerja-samakan secara eksklusif dengan perusahaan kurir. Pengiriman jarak dekat atau same day bisa dengan GoSend/GrabExpress, pengiriman antar kota bisa dengan jasa kurir macam JNE, JNT, SiCepat, Wahana, dan sebagainya.

Ilustrasi gudang online. Gambar dari crewdible.com

Masalah Pergudangan

Masalah yang diselesaikan dengan bekerja sama dengan sebuah gudang online:

  • Meringkas proses bisnis, salah satunya dengan mengkonsolidasikan pesanan (order) dari beberapa marketplace sekaligus.
  • Menghindarkan dari risiko banjir, kebakaran, dan pencurian.
  • Ruang terbatas; karena masih menyewa kamar kos atau rumah kontrakan. Atau masih di rumah sendiri yang belum memiliki gudang penyimpanan produk.

Solusi Gudang Online

Tujuan bisnis yang terakomodasi dengan keberadaan gudang online:

  • Perluasan cabang toko atau wilayah pasar yang ditargetkan. Dalam ilustrasi kasus di atas, mendekatkan diri via pergudangan online di Jabodetabek berarti memperluas pasar target.
  • Cocok untuk yang masih sibuk bekerja sebagai karyawan di perusahaan lain, karena toko daring milik sendiri belum terurus dengan baik
  • Lokasi milik sendiri belum strategis; jauh dari pusat kota. Konsentrasi pembeli ada di DKI, Pulau Jawa, lalu luar Jawa.

Kelebihan bekerja sama dengan gudang online:

  • Pembayaran bisa Pay per use. Bayar hanya sebanyak space yang digunakan. Atau bayar per barang yang dikemas dan dikirim. Di luar ongkos kirim.
  • Secara total, ongkos kirim akan menurun. Ini meringankan konsumen untuk mengulangi pembelanjaan.
  • Biaya tersebut sudah termasuk premi asuransi yang dikeluarkan oleh Gudang Online.
  • Gudang Online dengan aplikasi WMS sangat mungkin membantu Anda mengklasifikasikan produk slow/fast moving. Sekaligus menerapkan prinsip First In First Out (FIFO).

Contoh Merek: Haistar

Brand Haistar sudah tersedia di kota Medan, Palembang, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, dan Makassar. FYI, pembelian ritel masih didominasi oleh pulau Jawa. Sekadar pengingat, sekitar 56% penduduk Indonesia bertempat tinggal di Pulau Jawa.

Rupanya merek ini tidak hanya menyediakan layanan gudang dan manajemen pengiriman, tetapi juga pengelolaan penjualan (unggah produk, balas chat, dan ada juga pengelolaan toko online).

Aplikasi digital yang menjadi dasar pengelolaan gudang online termasuk ke dalam kategori Warehouse Management System (WMS). Namun, ada juga pemain lain yang memberikan layanan Order Management System (OMS) dan Transport Management System (TMS) juga.

Berikut adalah pemain-pemain lain dalam industri pergudangan online: Storaza, Keeppack, Crewdible, Lodi, Stockhauz, Pakde, dan lain sebagainya.


Masih mempertimbangkan untuk menggunakan jasa gudang online? Coba bagikan kekhawatiran kamu di kolom komentar, ya.

Baca juga tulisan lain saya soal BISNIS DARING.

In-Depth Interview 101

Tatkala mencari tips mewawancara narasumber rupanya masih sedikit ya di internet. Ada teori jurnalistik juga. Namun didominasi oleh tips wawancara kerja. Sebab itu, saya menuangkan temuan dan pikiran saya dalam tulisan ini.

Dalam proses membuat konten, riset adalah elemen penting yang biasa saya lakukan. Ada macam-macam teknik riset, baik riset primer maupun sekunder (lewat referensi). Riset primer berupa survei responden (kuantitatif), wawancara dan diskusi fokus grup (kualitatif). Saya biasa melakukan untuk penulisan artikel maupun buku (ghost writing). Tulisan kali ini membahas teknik wawancara narasumber (narsum) saja.

Bagi saya, tips mewawancara bisa dibagi dua, sebelum dan pada wawancara itu sendiri.

Sebelum Wawancara

Berusaha menggali informasi tentang narasumber. Latar belakang (pendidikan, profesi, orang tua) maupun karya/aktifitas terbaru atau belum lama ini dilakukan. Apabila Anda mengerjakan tahap ini dengan baik, berarti sudah separuh kesuksesan dalam mengambil data/informasi, atau wawasan (insight) melalui wawancara.

Menggali informasi ini harus above-average ya daripada netizen kebanyakan. Kalau telusuri akun twitter, instagram, linkedin, facebook seseorang juga sudah sering dilakukan oleh netijen. Jadi harus lebih smart ya.

Pesan Pandji dan Helmy Yahya: jangan sampai menanyakan pertanyaan yang banyak ditanyakan oleh orang lain; dengan kata lain: jangan mengulang pertanyaan media.

Caranya gak susah sebenarnya, yaitu cari tahu saja dia biasanya ditanya apa oleh wartawan. Lucunya, yang begini bisa diriset langsung ke narasumber, hehehe.

Perlu kita ketahui bahwa, narasumber sendiri inginnya ‘mengobrol’. Bukan sekaku tanya-jawab-tanya-jawab, ya. Jadi, tidak ada salahnya juga kita bridging dengan berbagai pengantar –berfungsi juga untuk membuat pendengar tahu. Bagi audience yang belum paham, kesannya kita menghabiskan waktu ya. Padahal kita hanya ingin narasumber merasa nyaman dengan kita, lalu bisa plong menceritakan pengalamannya.

Ketika Wawancara

Secara umum: Jangan terlalu kaku. Perbanyak humor atau basa-basi sebelum memasuki inti pertanyaan yang serius.

Untuk setiap pertanyaan wawancara, sebaiknya Anda minimal punya dua kalimat. Kalimat pertama sebagai pengantar, kalimat kedua untuk pertanyaan itu sendiri. Pentingnya persiapan sebelum wawancara adalah untuk mengembangkan para pengantar ini.

Pilihan kata-kalimat yang baik untuk menjembatani pertanyaan, juga akan lahir dengan sendirinya tatkala kita “berperan” sebagai teman yang baik (apalagi kalau kita memang sudah mengenal baik narsum sebagai kolega kita ya). Dengan kata lain, keterampilan “building rapport” atau membangun keakraban adalah penting untuk dikuasai oleh pewawancara.

Keakraban yang dibangun belum tentu sama semua, ya. Bagaimana berhubungan dengan yang lebih tua/senior, seusia/segenerasi, maupun dengan yang lebih muda/junior/newbie di bidangnya.

Saat ini, wawancara bukan lagi dominan periset maupun jurnalis. Wawancara sudah bertransformasi menjadi bentuk hiburan (entertainment) yang baru.

Kalau sepuluh tahun lalu, wawancara dilakukan oleh para jurnalis di program berita, lalu oleh jurnalis di program talkshow, kini mulai banyak non jurnalis yang melakukannya di talkshow. Sebut saja Deddy (Cahyadi) Corbuzier dan Pandji Pragiwaksono. Simply karena mereka belajar dan menguasai teknik mewawancara yang baik. As you know, Deddy memulai di program Hitam Putih, sebelum akhirnya menjalankan podcast-nya sendiri.

Dalam konteks podcast sebagai entertainment content, pewawancara sebenarnya/biasanya sudah tahu jawaban dari narasumber. Namun, seninya adalah mengkonversi “ketidaktahuan” pewawancara tersebut menjadi “pengetahuan” bersama audience.

Kalimat-kalimat bridging juga wajb direncanakan ya. Supaya wawancara tetap mengalir. Bukannya melompat dari satu pasang pertanyaan-jawaban ke pasangan-pasangan berikutnya.

Sekian “remah-remah” pagi ini. Semoga bermanfaat
Kalau ada pengalaman lain, mohon dibagikan di kolom komentar ya. Terima kasih

Omong-omong, ini ada beberapa podcast soal wawancara narsum yang bisa kamu nikmati juga:

Baca juga tulisan BLOGGING-WRITING saya yang lain, ya.

Model Bisnis Media 2020

Sebuah pengakuan penikmat media gratisan.

Namanya konsumen, ‘kan seringkali kita membeli ya. Saya dulu sempat berlangganan harian Kontan; bayar supaya dapat informasi keuangan. Waktu kecil, saya pembaca setia majalah Bobo. Tapi yang bayar orang tua. Selain dari menjual tiap eksemplarnya –yang mungkin masih lebih rendah daripada biaya produksinya– perusahaan media hidup dari iklan.

Tidak hanya media cetak yang ‘makan’ dari uang iklan, tetapi juga media radio maupun televisi. Meski kita tidak membayar siaran radio maupun televisi, selalu ada broker (agensi?) media yang membeli slot iklan.

Nikmat gratis ini kemudian semakin bertambah di era internet. Daripada membayar koran Kompas atau tabloid Fantasi, lebih baik beli kuota internet kan. Apalagi sudah eranya citizen journalism, kan. Entah via twitter, blog, atau YouTube, kita sudah mendapatkan berita. Meskipun twitter bersifat amplifikasi instead of memproduksi berita ya. Beritanya bisa jadi dari tirto.id atau kumparan.com.

FYI, pandemi rupanya menimbulkan lubang besar yang menganga di jurnalisme kita. Laporan Remotivi menyampaikan demikian. Sebagaimana banyak perusahaan memutuskan hubungan kerja dengan para karyawannya.

Produk jurnalisme via Twitter, Blog, maupun YouTube kan seringkali dan banyak kali masih bersifat personal kan. Artinya, kegelisahannya masih seputar individu tersebut.

Hal tersebut, dalam kacamata industri media, berbeda dengan kita sebagai kesatuan masyarakat yang membutuhkan berita politik, ekonomi, sosial, dan lain sebagainya yang idealnya mampu disediakan oleh tim, brand, atau perusahaan media tertentu.

Informasi demikian adalah penting karena selain sebagai informasi itu sendiri, juga menjadi bahan analisis atau rujukan sebelum melakukan aktifitas. Apalagi negara kita masih mengaku sebagai negara demokrasi. Di mana, media adalah pilar keempat demokrasi yang keberlangsungannya (sustainability) sebagai industri wajib kita pertahankan di tengah berbagai disrupsi yang terjadi.

Internet-based Media

Media sudah, sedang, dan akan terus berdamai lalu berkawan dengan pendisrupsi seperti internet.

Dulu, kita bisa lenggang kangkung menikmati media secara “gratis”. Karena dibalik layar ada berbagai perusahaan yang mau membayar media cetak, radio maupun televisi demi mendapat slot iklan. Perusahaan media hidup dari iklan.

FYI, combo(?) internet+pandemi memaksa terjadinya PHK di beberapa perusahaan media. Terus, mereka pindah ke mana?

Haikel menemukan bahwa semakin banyak jurnalis pindah ke profesi “communication” atau dengan kata lain, berpindah dari wartawan menjadi communication officer di perusahaan swasta atau LSM.

Mengandalkan iklan tradisional saja sudah ditinggalkan oleh pemain media kita. Bahkan ada media digital yang engineering-nya saja sangat berbasis iklan (digital). Sebut saja detik.com dan tribunnews.com.

Adaptasi ke digital tersebut diikuti dengan kelemahan lain: terlalu banyak iklan akan membuat media tersebut “ditinggalkan” oleh pembacanya. Artinya, engagement yang terjadi tidak sampai ke hati pembaca. Sesuai promise-nya, hanya kecepatan yang mereka berikan; pembacanya pun hanya meminta kecepatan. Soal aktual, tajam dan terpercaya ya nanti dulu.

Saya lihat, kepercayaan (trust) konsumen media adalah buah dari ketajaman pemberitaan. Tantangan cost dari berita yang tajam adalah manhour/mandays-nya lebih tinggi daripada berita-berita 5W1H semata. Dalam ilmu bisnis secara umum, makin tinggi cost-nya, price tag-nya juga lebih tinggi, donk.

Strategi Media Online

Model bisnis (dan strategi harga) yang tepat untuk hybrid media (omnimedia) adalah freemium. Ada yang gratis (free) untuk menarik massa dan menaikkan ranking Alexa. Ada juga yang berbayar untuk menopang yang gratis.

Apa saja layanan yang mungkin berbayar atau menjadi alasan bagi konsumen untuk mengeluarkan uang? Berikut beberapa contohnya.

  • theguardian.com, ada opsi untuk sekali bayar “contribute“, atau bayar rutin “subscribe“.
  • remotivi, bisa kontribusi via kitabisa.com atau belanja produk merchandise di IG @tokoremotivi
  • lakukan funneling (register and login) dulu, monetisasi kemudian seperti kompas.com
  • dan lain sebagainya (event, grants, syndication, sponsored content, consulting and training)

Bagaimana dengan Blogger?

Blogger sebagai media dalam skala individu, maupun pelaku citizen journalism, juga tidak luput dari operational cost, ‘kan. Apalagi yang sudah menggunakan TLD (top level domain) dan paid hosting.

Apa saja yang bisa dilakukan blogger?

  • Punya produk/merchandise untuk dijual.
  • Punya jasa untuk dijual. Either jadi blogger dulu baru bangun keahlian, atau kamu adalah ahli yang kemudian masuk dunia blogging.
  • AdSense. Saya taruh nomor tiga karena nilainya tidak terlalu besar.
  • Open donation. Ini lebih mengenaskan daripada AdSense. Kalau bukan penulis dengan personal brand yang sudah jadi, mengapa pembaca harus membayar kamu?

Demikian sekelumit isi kepala saya di akhir pekan ini. Ada pertanyaan atau pengalaman terkait? Mohon dibagikan di kolom komentar, ya 🙂