Pentingnya Financial Planning

Lama berkutat mempelajari dengan financial planning, masih aja bingung ini-itunya. Akhirnya ambil online course dari rekan. Insight lengkap di post ini.

Financial Planning ini kelas online kedua yang saya ikuti tahun ini. Baru tadi pagi “graduation“, alias wisuda.

Karena upgrade diri kan penting, ya. Budget-nya untuk setahun sudah diadakan. Tinggal prioritasnya aja. Karena ada training untuk karir profesional, ada juga untuk keluarga (misalnya materi ke-ayah-an).

https://tirto.id/menghindar-kena-jebakan-dompet-bokek-di-awal-tahun-cCYN

Selama ini saya kontinyu belajar soal financial management. Tapi secara otodidak. Baru yang 2 pekan terakhir ini saya berguru. Target saya adalah memvalidasi apa yang sudah kita ketahui, sekaligus update wawasan yang sifatnya baru. Khususnya kasus-kasus yang muncul karena buruknya pengelolaan keuangan. Karena,

Resource is limited.

Sumberdaya (salah satunya uang) itu sifatnya terbatas. Dan perlu dikelola (to be managed) dengan tepat.

Pada satu titik, ketika kita semakin dewasa (baca: menjadi lebih tua), peran kita semakin banyak. Menjadi suami, orang tua, hingga turut membantu keuangan orang tua yang sudah pensiun. Jadi, tidak hanya financial management yang harus dilakukan. Tapi juga financial planning.

Apa target perencanaan keuangan? Yaitu adalah menyiapkan sumber daya keuangan guna mendukung tercapainya tujuan-tujuan hidup kita. Tujuan kita bukan lagi sekedar beli permen di warung depan, beli pulpen di toko alat tulis, tetapi sudah jauh lebih besar: daftar ibadah haji, menabung untuk kuliah anak, dan lain sebagainya.

Berdasar waktunya, tujuan-tujuan tersebut bisa kita klasifikasikan ke dalam tiga jenis: pendek, menengah, dan panjang. Mewujudkannya tidak mudah. Selain karena sumber daya tidak terbatas, juga adanya inflasi dan hambatan/risiko keuangan lainnya.

Masalah Keuangan Kekinian

Fakta umum perihal keuangan keluarga di masyarakat Indonesia, ada dalam daftar berikut ini:

  • 46% orang Indonesia memiliki Dana Darurat hanya untuk seminggu ke depan (Survei OECD tahun 2020). Seharusnya, minimum 6 bulan.
  • 28,2% penyebab perceraian adalah faktor ekonomi (Badan Peradilan Agama, Mahkamah Agung, 2016-2018),
  • Indeks literasi keuangan Indonesia 38% (sementara Singapura 96%),

Itu yang kuantitasnya terukur, ya. Untuk kualitatifnya ada fenomena ini di sekitar kita:

  • Generasi Sandwich, tidak hanya bekerja untuk anak sendiri, melainkan juga masih berjuang demi orang tua yang sudah pensiun
  • Fenomena YOLO (You Only Live Once) dan FOMO (Fear of Missing Out) yang cenderung menghabiskan isi dompet para milennial.
  • Terjerat pinjaman online. Bahkan ada yang sampai meminjam di 141 aplikasi.
  • Imbal produk keuangan yang tidak sesuai ekspektasi. Seringnya akibat kesalahan dalam pembelian jenis produk keuangan, yaitu asuransi atau investasi.

Inflasi vs Compound Interest

Pemahaman saya, ada dua asumsi paling mendasar yang mendasari financial planning kita: inflasi dan compound interest.

Pertama adalah adanya inflasi. Bukan sekedar inflasi yang tiap bulan dan tahun dirilis oleh Biro Pusat Statistik (BPS). Namun juga inflasi pada kategori tertentu, misal pendidikan. Contoh: kuliah tahun 2005, per semesternya masih Rp1.850.000,-. Sementara tahun 2020 sudah Rp12.500.000,-. Dalam financial planning untuk dana pendidikan anak, asumsinya tidak lebih rendah dari 10%. Bahkan seringnya 15% atau 20%.

Nah, inflasi ini harus dilawan dengan investasi ber-compound interest. Kenapa harus investasi? Karena saving dalam bentuk uang saja tidak cukup. Masih akan dimakan oleh inflasi. Compound interest dalam deposito, reksadana, maupun saham menyebabkan nilai investasi dapat berlipat-lipat. Itulah dahsyatnya compund interest (bunga yang dapat berbunga-bunga lagi).

Jadi, segala kebutuhan kita di masa depan (naik haji, uang kuliah anak, uang pensiun, dll) angka uangnya akan tidak sama dengan hari ini. Akan naik seiring dengan inflasi. Untuk “mengejar”-nya, kita gunakan produk investasi ber-compound interest.

Emas

Bagaimana dengan emas? Apakah emas memiliki compound interest? Apakah emas bisa berlipat ganda? Nyatanya tidak. Lima gram emas yang disimpan akan tetap 5 gram.

Namun, kelebihan emas adalah sifatnya yang bisa melindungi daya beli suatu nilai uang. Dengan menyimpan emas, maka nilainya akan naik seiring inflasi.

Apalagi emas 5 gram atau 10 gram mudah sekali diuangkan. Berbeda dengan properti yang tidak bisa langsung laku.

Jangka Waktu dan Likuiditas

Sudah disebutkan di atas, ada 2 atau 3 jangka waktu realisasi kebutuhan. Sehingga, investasi juga ada jangka waktunya. Bisa pendek (<1 tahun), menengah(1-3 tahun, atau 1-5 tahun), maupun panjang (3-10 tahun, atau 5-10 tahun). Ada juga siy mengklasifikasikan jadi “pendek” dan “panjang” saja.

Misal butuh uang ratusan juta untuk salah satu kebutuhan. Tidak bisa serta-merta kita menjual properti (tanah, atau tanah dan bangunan di atasnya). Paling tidak, 2 tahun sebelumnya sudah mulai kita jual.

Jadi, properti itu likuiditasnya rendah. Berbeda dengan emas, reksadana, atau saham yang bisa diuangkan kapan saja. Namun, kelebihan properti adalah kenaikan harganya yang cukup baik untuk berinvestasi.

80% Kebiasaan

Financial planning, sebagaimana planning yang lain adalah hal stratejik. Artinya, hal-hal besar yang direncanakan hari ini untuk jangka 3, 5, bahkan 10 tahun ke depan.

Namun, yang stratejik ini hanya 20%-nya saja. Delapan puluh persen sisanya berakar pada kebiasaan keuangan kita. Yang terutama berakar pada dua hal: pencatatan pengeluaran dan penganggaran (budgeting).

Mengapa pengeluaran perlu dicatat? Karena es kopi-susu-gula merah setiap hari selama 30 hari itu bisa senilai Rp600.000,-. Jumlah yang lumayan untuk dibelikan reksadana atau saham, ‘kan?

Kalau sudah dicatat terus-menerus, kita bisa menelusuri (to track) dan mengevaluasi (to evaluate) ke mana larinya uang-uang kita. Bermanfaat atau tidak, boros atau tidak, sesuai anggaran atau tidak.

Nah, di sinilah peran budgeting. Supaya segala kegiatan kita jelas maksimal uang keluarnya berapa. Bukan hanya angkanya, tapi juga perbandingan terhadap pengeluaran/pemasukan keseluruhan.

Sebagai contoh, ada lho parameter maksimal kita membayar cicilan. Yakni maksimal 30%-35% dari total pemasukan.

Monitoring

Setelah budgeting, pencatatan pengeluaran, sesungguhnya kesehatan keuangan kita bisa kita monitor (to monitor) terus lho, kakak-kakak. Selain satu yang sudah saya sebut di atas, lainnya ada Rasio Likuiditas, mengukur kemampuan harta lancar kita dalam menutupi pengeluaran. Lainnya ada Debt to Asset Ratio, Saving/Investment Ratio, dan Solvency Ratio.


Pemahaman atas rasio-rasio dan produk keuangan penting sekali untuk mencegah kita terjebak ke dalam masalah-masalah keuangan seperti yang terjerat oleh 141 aplikasi pinjaman online.

Demikian uraian singkat dari saya mengenai pentingnya dan mendesaknya (urgent) perencanaan keuangan. Ada pengalaman pribadi soal perencanaan keuangan? Boleh banget share di kolom komentar, ya 🙂

Baca juga tulisan JOURNAL saya yang lain, ya.

Call Your Parents

Sudah merantau, jangan sampai lupa Call Your Parents, ya. Minimal bertanya kabar dan kesibukan. Apalagi teknologi sudah sangat mendukung.

Terinspirasi dari blogger sebelah yang tulisannya bisa dinikmati di sini.


Dulu, saya biasa tuh merasa kesal sendiri kalau orang tua menelepon. Terutama telepon dari ayah saya.

Kesalnya ini, tatkala saya masih belum menikah dan dititipkan anak oleh Yang Punya.

Seringkali, saya merasa terganggu. Karena isi percakapannya “kurang penting”. Bukan sesuatu yang membutuhkan campur tangan saya, misalnya. Atau, bukan pula merencanakan (dan melakukan) sesuatu bersama saya.

Sebagai aktifis kampus dan jomblo kantor, saya memilih tenggelam dalam kesibukan.

Namun, semua berubah ketika negara api menyerang.

Pasca menikah dan dititipkan anak, saya jadi paham maksud dari Call from Parents tersebut.

Kan katanya, semua nasihat/pelajaran dari ayah kita baru terasa ketika kita sudah menjadi ayah, ya.

Jadi, bagaimana ayah saya ke saya tuh, paralel dengan hubungan saya ke Anak Dua.

Selama masih satu rumah kan, kita bisa lihat sendiri ya. Sudah makan atau belum, sudah mandi atau belum, mengerjakan tugas/pekerjaan apa, dst.

Saya pernah tinggal di Magelang, Jakarta, Surabaya, dan Bandung. Jelas sudah tidak terlihat lagi oleh orang tua, apa yang sedang saya lakukan.

Rupanya, segala pertanyaan tersebut memang basa-basi saja. Sebagai orang tua, kayaknya lega deh kalo sudah mendengar suara anaknya. Artinya kan, oh anaknya sehat-sehat saja.

Misalkan kita dalam perjalanan, menuju atau meninggalkan kotanya ortu, yang dikehendaki beliau berdua adalah kabar terbaru perihal posisi kita. Sedang menunggu di stasiun/bandara kah, dalam perjalanan kereta, atau sebentar lagi lepas landas, dan sebagainya.

Semuanya baru masuk akal di pikiran saya, dan terasa di hati saya, hanya setelah menjadi orang tua.

Dukungan Teknologi

Kakak-kakak saya kan sudah merantau sejak SMA ya. Jadi telepon belum secanggih sekarang. Saya pun masih mengalami.

Polanya begini. Ortu telepon dulu ke rumah kost. Kepada penjaga kost, dipesankan bahwa akan menelepon lagi 5 menit kemudian. Yang mau diajak bicara, diharapkan untuk bersiap-siap (stand by) di dekat telepon.

Empat tahun kemudian, pun masih sama polanya. Bedanya, karena sekolah saya meliputi perumahan guru juga, jadi terima teleponnya di rumah guru. Yang mana, terasa gak enak mengganggu yang punya rumah.

Lagipula, kitanya harus berpakaian rapi ala mau sekolah (padahal sudah malam hari). Itu lebih baik, daripada memakai pakaian training.

Akhirnya berlanjut pakai wartel di dalam kompleks sekolah. Tapi, masalahnya di harga siy. Interlokal itu mahal; kita gak bisa sering-sering telepon ke rumah. Saya lupa ya. Wartel bisa terima telepon atau tidak. Tolong dikoreksi.

Alhamdulillah, tahun 2004 sudah pegang handphone (HP). Masih monophonic alias satu macam nada suara saja. Namun, karena masih anak sekolah, gak boleh sembarangan menyimpan dan memakai HP. Bisa disita. Masih bisa berdalih dengan alasan untuk komunikasi ke orang tua perihal kelanjutan pendidikan demi menghindari penyitaan.

Di tahun-tahun tersebut, biaya roaming masih ada kali ya. Tolong koreksi misalnya keliru. Itu adalah biaya yang wajib dikeluarkan si pengguna karena ada perbedaan jaringan atau wilayah. Tentu dibebankan ke pulsa yang ketika itu masih didominasi pasca bayar.

Menurut bills.alterra.id, roaming adalah pergantian layanan dari home network ke other network.

Telepon Internet

Sebenarnya, sebelum telepon internet, ada era SMS. Pengecekan sinyal dari HP ke BTS (Base Transceiver Station) setiap 6 detik (CMIIW), bisa ditumpangi sama yang kita sebut SMS.

Setelah SMS, lalu eranya BlackBerry. Sudah seperti chatting dengan WhatsApp (WA) yang kita gunakan sekarang.

Namun, teleponnya masih lewat jalur biasa.

Telepon internet baru marak ya via WA. Sebelumnya hanya berupa call via aplikasi Skype di komputer.

Apalagi sekarang, call juga bisa via Zoom atau Google.

Di Indonesia ini, saya lihat masalahnya di harga. Karena di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Papua masih didominasi oleh Telkomsel. The thing is, harga paket datanya belum mengalami demokratisasi. Alias masih mahal.


Jadi, di atas sudah saya paparkan ya. Mengapa kita harus sebisa mungkin rutin Call Your Parents. Apalagi sudah ada dukungan teknologi berupa telepon internet kan.

Dan tidak harus membicarakan hal-hal serius semata. Sekadar bertanya kabar dan sedang sibuk (proyek) apa, itu sudah sangat sangat cukup.

Ada pengalaman menarik soal Call Your Parents? Share di kolom komentar, ya!


Baca juga artikel saya yang lain terkait FATHERING ya.

Baca Ini Dulu Sebelum Membeli Kasur. No.6 Membuat Anda Terkejut.

Kasur anda terbuat dari memory foam, lateks, atau kombinasi keduanya? Penting lho mengenali perbedaannya sebelum membeli kasur.

Ini tulisan istri saya. Perihal memilih kasur tidur. Silakan disimak ya.


Malam semakin larut dan aku masih berkutat di depan laptop maupun HP. Agak aneh ya untuk seorang ibu rumah tangga, yang sama sekali nggak ada pekerjaan kantoran ataupun side job menulis, untuk berkutat di depan laptop maupun handphone terlalu lama.

Bukan, bukan karena memantau berita soal ricuhnya UU Cipta Kerja yang baru saja disahkan. Beberapa hari ini, saya memang jadi lebih sering ber-laptop maupun ber-HP ria, demi mengakses marketplace, Youtube, maupun Google, dalam rangka survey kecil-kecilan mencari bunk bed dan kasur untuk si kembar. Yang tepat guna dan tepat budget tentunya.

Dua hari ini full survey tentang matras untuk si kecil. Matras yang saya cari berukuran 90 x 200 cm dengan ketebalan maksimal 11 cm. Nah, setelah melakukan survey harga di marketplace, ada nih satu produk yang bikin pengen buru-buru check out keranjang belanjaan aja. Tapi survey belum selesai.

Hal yang perlu kita pastikan saat berbelanja online bukan hanya harga, namun deskripsi produk yang akan kita beli. Di tulisan ini saya ingin mencatatkan kembali point-point penting agar tidak terlupa.

Sejujurnya, saat saya mulai tergoda untuk check out barang dari toko A tadi, ada point yang lupa tidak saya perjelas, karena informasi yang tercantum dalam deskripsi masih ambigu.

Berikut hal-hal yang perlu kita perhatikan dalam memilih kasur:

1. Beli kasur matras, atau topper?

Apa bedanya kasur, matras, maupun topper? Kasur biasanya sudah termasuk “kaki” kasur ataupun dipannya. Meski tidak semua brand mengartikan seperti itu. Sedangkan yang dimaksud matras adalah bagian kasur yang empuk (tidak termasuk dipan maupun kaki/ambalannya.

Lalu topper itu apa? Nah, sebagian kasur, terutama yang jenis springbed, biasanya membutuhkan tambahan berupa topper untuk memberikan kenyamanan lebih. Topper ini bisa terbuat dari memory foam, lateks, atau campuran keduanya.

Meskipun saat ini sudah banyak kasur hibrida, springbed dan lateks atau double memory foam pada bagian atasnya, banyak orang yang pilih menambahkan topper untuk mempertahankan kenyamanan saat tidur.

https://napcloud.in/latex-vs-memory-foam-mattress/

Tidak sulit untuk membedakan produk kasur, matras, maupun topper karena biasanya sudah dicantumkan dalam judul dan deskripsi produknya.

2. Pilih kasur apa: springbed, busa/foam, atau lateks?

Untuk menentukan matras apa yang kita cari, kita mesti menentukan dulu siapa yang akan menggunakannya. Apakah kita sendirian, atau berdua dengan pasangan atau saudara, atau justru beramai-ramai dengan anak, atau untuk anak-anak sendiri. Memangnya penting, ya? Tentu saja.

Misalnya, kasur springbed digunakan bersama dengan pasangan, ketika pasangan melakukan gerakan, maka pergerakan dari pasangan akan sampai ke kita. Sehingga dampaknya mungkin akan membuat kenyamanan saat tidur berkurang. Bayangkan kalau bobot pasangan di atas 100 kg, hehe 😀

Manakah bahan baku matras yang terbaik untuk tubuh? Tentu saja saya rekomendasikan lateks. Namun kasur full latex bisa jadi cukup mahal (umumnya 10 juta ke atas untuk ukuran 200 x 160).

Bagaimana dengan busa/foam dan springbed? Busa/foam dan springbed masih cukup nyaman digunakan oleh kita yang menggunakan kasur tersebut sendirian, dan memiliki berat badan cukup ideal.

Springbed kurang cocok untuk anak-anak, mengingat anak-anak sangat suka memfungsikan matras seperti trampolin. Pegasnya akan mudah rusak.

Sementara kasur busa tidak terlalu nyaman untuk melompat karena tipenya meredam gerakan. Selain itu, kasur busa banyak yang dibuat dari bahan kimia yang mungkin saja dapat memicu alergi pada anak.

Latex? Tidak mudah rusak jika anak-anak melompat-lompat di atasnya dan mampu menopang pengguna dengan berat badan berlebih.

3. Latex sepertinya pilihan terbaik, tapi cukup menguras kantong. Ada pilihan lain?

Saat ini banyak kasur hibrida — bahan bakunya campuran. Gabungan antara pegas, foam, dan latex, ada. Ada pula gabungan antara foam dan latex. Tinggal disesuaikan dengan siapa penggunanya, berat badan pengguna, serta anggaran (budget). Oh ya, juga sesuaikan dengan tempat tidurnya.

Misalkan, untuk tempat tidur bunkbed, sebaiknya gunakan matras ataupun topper berukuran tebal minimal 10 cm. Jika kita menggunakan matras dengan ketebalan 20-25 cm ke atas, tingginya dapat melebihi pagar ranjang dan terlalu berat untuk ranjang tipe bunkbed.

Bunkbed biasanya mampu menahan beban statis 100 kg per susunnya. Nah berat matras yang berukuran 20 cm ke atas (jika menggunakan material yang serba bagus seperti full latex atau pegas + foam + latex), biasanya berat matrasnya sudah 20 kilogram ke atas.

Begitu pula jika menggunakan dipan yang materialnya particle board (bukan kayu solid), akan kurang tepat jika kita menggunakan kasur full latex dengan ketebalan 20 cm.

Produk dengan harga tinggi biasanya membutuhkan produk komplemen dengan harga tinggi juga. Wow (sambil intip isi dompet)

4. Bagaimana cara memilih kasur busa yang bagus?

Ini penting namun jarang kita sadari. Biasanya saat memilih produk, yang pertama kita cek adalah harga, yang kedua adalah brand. Padahal spesifikasi produk juga sangat penting.

Permasalahannya, kadang di marketplace, tatkala memilih kasur kita menemukan suatu produk dengan brand sama, ketebalan sama, ukuran luasnya juga sama, tetapi harga berbeda jauh.

Jika terjadi yang seperti itu, sebaiknya cek lokasi tokonya dan konfirmasikan pada seller mengenai spesifikasi produk ya.

Misal, ada dua produk sama-sama brand Ino*c, ukurannya sama, dijual di toko yang sama maupun berbeda, tapi harganya berbeda jauh. Coba tanyakan pada seller, berapa nilai densitas (density) masing-masing produk.

Nilai density menunjukkan massa jenis busa yang digunakan. Makin tinggi nilainya, makin padat kasurnya, sehingga kemampuan menopang tubuhnya juga semakin baik.

Misalkan, latex memiliki nilai density 80 ke atas. Sementara kasur busa biasa, bisa memiliki nilai density mulai dari belasan hingga 40. Untuk busa rebonded, biasanya nilai densitynya dimulai dari 40.

Berapa nilai density kasur busa yang baik untuk tubuh? Sekali lagi, tergantung penggunanya. Beberapa orang memilih kasur busa dengan nilai density 30 keatas.

5. Tertarik membeli topper tapi yang latex? Cek dulu lapisannya!

Di awal saya mengatakan sempat tertarik ada suatu produk tapi jadi urung. Kenapa? Jadi, awalnya ada topper yang ukuran serta ketebalannya sudah sesuai dengan harapan saya. Disitu tertera keterangan 100% natural latex.

Saya pikir, Oh ketebalan 10 cm itu 100% latex ya? Hmm, murah juga ya harganya. Kemudian saya bandingkan dengan produk B yang merupakan topper latex juga, dengan harga selisih 500ribuan, ketebalan selisih 2 cm.

Di produk B ini saya mendapatkan informasi bahwa dari ketebalan 10 cm itu, lapisan latexnya 2 cm, dan sisanya adalah lapisan foam dan quit (sarungnya).

Disitu saya jadi bertanya-tanya, lantas yang produk A tadi, dengan ketebalan total 10 cm, berapakah ketebalan lapisan latex-nya? Dan setelah ditanyakan lebih detil lagi, saya baru tahu bahwa ketebalan lapisan latexnya juga 2 cm.

Apakah produk A lebih buruk dari produk B? Belum tentu. Apakah produk A jatuhnya lebih mahal dari produk B? Belum tentu juga! Kita bisa perjelas dengan menanyakan kualitas foam yang digunakan, berapa nilai densitynya. Makin tinggi nilai density, semakin tinggi pula harganya.

Apakah keterangan 100% natural latex di toko A itu pembohongan? Tidak. Toko yang menjual produk A memberikan deskripsi yang jujur, bahwa lateks yang digunakan 100% natural latex. Tapi bukan berarti ketebalan segitu itu full latex 100%. Dimengerti ya? 🙂

6. Point terakhir adalah budget. Berapa lama kita membutuhkan kasur atau matras ini?

Setiap kasus menghasilkan keputusan berbeda. Biasanya, jika kasur yang kita butuhkan berukuran 200 x 160 cm ke atas, itu berarti kita akan menggunakannya dalam jangka waktu cukup lama.

Membeli kasur yang memberikan jaminan garansi 12 tahun ataupun lebih, dengan spesifikasi yang mendekati sempurna, adalah keputusan yang baik. Untuk itu, survey dulu harganya. Jika dana masih kurang, kita bisa menunda dan menabung dulu.

Sedangkan untuk kasur berukuran single, kasur digunakan di lantai (biasanya untuk mencegah bayi jatuh dari tempat tidur yang tinggi), dan kasur untuk ranjang bunkbed anak-anak, biasanya tidak memerlukan kasur yang terlalu tebal dan hanya akan digunakan dalam waktu 5-10 tahun.

Untuk ini kita dapat memilih kasur dengan ketebalan 10 cm. Bisa menggunakan matras busa / kasur busa dengan nilai density yang cukup tinggi (26 ke atas, karena anak-anak biasanya tidak berat), atau menggunakan topper dengan ketebalan 8-10 cm yang lapisannya terdiri dari latex dan foam.


Nah sekian hasil survey saya selama beberapa hari ini. Semakin jelas informasi yang kita dapatkan, semakin kita tahu kasur tipe apa yang kita butuhkan. Semoga bermanfaat!

Baca juga tulisan lain dalam kategori JOURNAL ya.

Samudera Manfaat Bermain Lego

Meski harganya tidak murah, tapi setidaknya ada 3 (tiga) manfaat bermain lego yang menunjang perkembangan anak-anak.

Impian Masa Kecil

Lego (akronim dr Leg Logd; Let’s Play) tuh impian masa kecil saya. yang sekarang ini, saya agak gak punya waktu untuk mengakomodasinya 😀

Jadi saya beli tuh lego di usia dewasa sekarang ini, karena waktu kecil dulu, gak punya dana untuk memilikinya.

Hanya bisa melambai-lambai dari luar toko mainan kalau melihat lego di rak-rak 😀

Dulu siy, hanya main bongkar pasang ya. Yang variasinya hanya satu macam (alias gak variatif). Itu lho, modelnya hanya 2 titik x 4 titik saja. If you can imagine what I mean.

Kenapa hanya punya yang satu macam begitu, jelas karena lego tuh mahal.

Tidak mungkin rasanya beli lego terus untuk menambal part-part yang kurang. Yah, kami hobi lego enggak segitunya mampu keluar duit.

Kedalaman dompet kami gak sedalam Palung Mariana 😀

Manfaat Bermain Lego

Meski termasuk mainan mahal, tapi saya yakin lego itu bermanfaat. Dari pengagum, saya berubah jadi pembeli. Nah, saya lihat, manfaat bermain lego setidaknya ada di 3 aspek: kognitif, motorik, dan sosial.

Kognitif – Seeing things differently

Sering membongkar pasang lego, melatih anak untuk trial and error. Di sinilah mereka membiasakan diri (baca: belajar) untuk melihat sesuatu secara berbeda (seeing things differently). Dengan kata lain, bermain lego melatih kreatifitas.

Motorik Halus

Manfaat bermain lego di antaranya adalah melatih syaraf dan otot di jari-jemari untuk bisa familiar dan sinkron bekerja sama. Otak berimajinasi; perintah dikirim via syaraf ke otot; lalu otot yang melaksanakannya. Dari konsep imajiner sampai ke tataran eksekusi semuanya aktif ketika bermain lego.

Sosial – Memaksa Berkomunikasi

Bermain lego tuh, ada aspek kerja samanya. Yakni kalau sedang menyusun sesuatu bersama-sama.

Di sisi lain, ada aspek penyelesaian masalah (problem solving) yaitu ketika masing-masing pemain sedang menyusun dan ‘terpaksa’ bersaing memperebutkan sumber daya (resources) lego yang terbatas jumlahnya itu.

Dukungan Ortu

Yang perlu kita ketahui, bermain lego itu tidak di ruang vakum, ya. Maksud saya, pra dan pasca bermain lego butuh dukungan orang di sekitar (salah satunya ya orang tua). Bukan sekedar dukungan uang untuk membeli, tapi juga support berupa diskusi tentang:

  • Rencana
    • Apa rencana esok hari kamu ketika bermain lego?
    • Apa yang mau kamu buat?
  • Desain/Rekayasa
    • Bagaimana/mengapa kamu mendesainnya seperti itu?
    • Fitur ini tujuannya apa?

Dengan bertanya, mengobrol soal karya mereka, akan timbul kepercayaan diri mereka. Terutama terhadap karya yang mereka buat dengan pikiran imajinatif dan tangan yang terampil.

Baru berapa hari lalu belanja ini. Harga Rp180ribu. Eh per hari ini sudah Rp210ribu aja. Alhamdulillah, kemarin lucky aja dapat yang diskon. Cek di sini.

Apa Harus Lego?

Sebagai pemimpin pasar, Lego lha yang menyetir harga. Dan mereka memilih posisi sebagai yang termahal. Harga tinggi tersebut diimbangi dengan variasi part-part yang sangat beragam.

Lagipula, Lego tidak hanya bermain di pasar generik saja via Lego Classic. Tetapi sudah fokus ke tema-tema semisal konstruksi, perkotaan (via Lego City), Lego Technic, dan sebagainya maupun tema-tema berbasis film: Star Wars, Batman, dll.

Tidak heran ‘kan kenapa harganya melangit?

Kembali ke pertanyaan. Apa harus lego? Jawabannya: tentu tidak.

Kini sudah banyak beredar merek-merek lain di pasar, yang harganya lebih terjangkau serta sudah bisa memenuhi part-part yang sifatnya wajib.

Dan tetap bisa memberikan setidaknya tiga manfaat yang sudah disebut di atas.


Baca juga artikel saya yang lain terkait FATHERING ya.