9 Elements of Digital Citizenship

Panduan 9 elemen Digital Citizenship ini pas banget sebagai pengantar sebelum dan sembari berinternet. Baik untuk digital native maupun digital immigrant.

Selisih usia saya dengan Anak Dua di rumah hampir 30 tahun. Banyak sekali yang berbeda.

Dulu, di usia mereka yang sekarang, hiburan saya hanya televisi; kami tidak bisa memilih konten yang kami tonton. Jadwalnya pun sudah ditetapkan. Kami hanya bisa manut.

Mereka sekarang ada YouTube; kontennya bisa dipilih dan menontonnya bisa kapan saja.

Sekarang saya bisa WFH dengan modal internet+komputer+ bahasa gado-gado Indonesia – English dengan rekan-rekan di Asia Tenggara.

Entah bagaimana 30 tahun lagi. Mungkin sudah Bahasa Cina/Mandarin dengan jam kerja yang tidak lagi 9-5. Tapi 24/7.

Yang jelas, dunia sekarang sudah sangat terkoneksi dan sangat ditentukan oleh teknologi digital.

Omong-omong soal mempersiapkan anak-anak menjadi warganegara digital, ada 9 elemen yang wajib kita tekuni bersama dengan mereka.

By definition, arti kewarganegaraan digital (Digital Citizenship) adalah kebisaan untuk menggunakan teknologi digital dengan cara-cara yang tepat. Salah satu ke-tepat-an tersebut, misalnya adalah dengan bijak.

As we know, semakin berkembang teknologi digital, maka semakin meluas pula potensi buruknya yang meliputi perundungan (bullying) maupun penyalahgunaan (abusing). Jadi, ya harus bijak saja.

Nah, ada elemen apa saja dalam Digital Citizenship? Mari bahas satu demi satu.

Digital Citizenship
https://francisjimtuscano.com/2017/10/19/why-digital-citizenship-matters/

Digital Access

Menemukan informasi yang aman dan bermanfaat.

Di internet ada pornografi dengan berbagai bentuknya di berbagai media. Pornografi adalah salah satu konten yang tidak aman dan tidak ada manfaatnya.

Digital Etiquette

Memperlakukan pengguna Internet lainnya dengan hormat dan menghindari perilaku yang tidak pantas.

Paling sering saya temui dari generasi Z, misalnya penggunaan emoticon atau kata-kata semacam “haha”, “hehe”, untuk memperhalus pernyataan. Supaya gak terkesan galak, gitu.

Hal buruk paling sering terjadi ya bullying atas seseorang di social media.

Paling dekat yang saya tahu adalah yang terjadi ke salah satu member JKT48. Dia jelas salah atas unggahannya, tetapi semestinya ada penanganan (treatment) yang lebih tepat daripada cyberbullying.

Digital Commerce

Perdagangan digital mengacu pada pembelian dan penjualan secara bertanggung jawab.

Sebagai penjual, tidak boleh menipu. Berikan deskripsi dan gambar yang memang nyata adanya.

Sebagai pembeli, tidak boleh sembarang membayar atau mentransfer sebelum memastikan keamanan pembayaran tersebut. Jangan sampai kita sudah keluar uang namun tidak mendapat barang.

Digital Rights and Responsibilities

Hak istimewa (privileges) yang dimiliki semua orang saat menggunakan internet, contohnya adalah kebebasan berbicara.

Untuk memastikan bahwa hak-hak ini tetap tersedia untuk semua orang adalah dengan memperlakukan pengguna digital lain secara adil dan menghormati privasi mereka.

Sebenarnya, Rights and Responsibilities ini masih beririsan ya dengan pencegahan bullying.

Digital Literacy

Kemampuan untuk mempelajari cara menggunakan teknologi dan mengakses informasi secara online.

Contoh literasi digital di antaranya termasuk mengetahui bagaimana menggunakan tetikus (mouse) atau bagaimana menemukan jawaban di mesin pencari. Tidak mudah lho merumuskan keyword yang tepat di mesin pencari. Itu contoh yang bisa diberikan oleh orang tua di rumah kepada anak.

Bagaimana dengan di sekolah? Tidak semua siswa memulai sekolah dengan kemampuan teknologi yang sama. Tidak semua punya komputer. Tidak semua punya kuota tak terbatas. Mengajar keterampilan berinternet di kelas dapat membantu menjembatani kesenjangan dalam literasi digital.

Ini mengapa pandemi covid-19 menjadi pendorong terjadinya digital literacy di sekolah-sekolah. Meskipun masih tergagap-gagap.

Berkait dengan ini, berita yang mengenaskan di masa pandemi ini misalnya ada orang tua yang sampai mencuri demi mendapatkan smartphone untuk anaknya gunakan belajar secara daring.

Digital Law

Aturan digital mencakup aturan atau pedoman yang ditetapkan untuk menggunakan Internet. Baik kebijakan yang tertulis maupun tidak tertulis.

Kalau di rumah/keluarga, misalnya aturan tentang screen time.

Di sekolah, kita dapat membuat aturan digital, misalnya untuk mencegah plagiarisme atau cara penggunaan ponsel di kelas.

Di perusahaan, sebagai contoh ada aturan soal implementasi aplikasi Manajemen Identitas dan Akses (Identity & Access Management, IAM).

Digital Communication

Rasanya sudah clear. Sebagian tentu beririsan dengan Digital Etiquette di atas.

Digital Health and Wellness

Melibatkan pengajaran kepada siswa bagaimana melindungi psikologis dan fisik mereka saat menggunakan Internet. Fisik, lagi-lagi screen time untuk melindungi mata. Baik karena paparan cahaya dari perangkat, maupun mencegah mata lelah, mata merah, penglihatan buram, mata kering, hingga iritasi ringan.

Contoh lain, termasuk berlatih cara duduk dengan benar di kursi saat menggunakan komputer dan menghindari terlalu banyak screen time. Jadi, gunakan meja dan kursi yang ergonomis tatkala berinternet.

Di referensi safesitter.org digital citizenship, ada yang disebut Digital Downtime. Supaya kita ga online terus, tetap berinteraksi dan menghabiskan waktu dengan makhluk riil.

Digital Security

Wajib tahu cara menghindari virus, penipuan, atau orang asing saat online. Ajarkan keamanan internet kepada anak-anak. Yang di antaranya meliputi kerahasiaan identitas (jangan gunakan password yang mudah ditebak), hingga bagaimana berinteraksi dengan orang asing maupun penindas daring. Phising: jangan sembarang menyebarkan pranala (link) di whatsapp, email, maupun SMS.


Dengan mengajarkan dan membiasakan praktik berinternet yang sehat, itu berarti kita juga menciptakan ruang yang lebih baik bagi setiap pengguna internet untuk berinteraksi satu sama lain.

Baca juga artikel saya yang lain terkait FATHERING ya.

Referensi:

Blog Analytics

Hasil mengobservasi rekan-rekan blogger, dikombinasikan dengan memahami parameter yang diberikan oleh Google Analytics, dan sedikit refleksi diri.

Beberapa waktu lalu, saya bertanya-tanya (wondering) soal parameter apa ya (blog analytics) yang cocok untuk kita pakai dalam nge-blog.

Nge-blog itu kan hobi ya. Apa iya yang namanya hobi perlu diukur? Pikiran ini pernah saya tuangkan di Betapa tidak pentingnya nge-blog itu ya, gaez. Ada beberapa pros and cons di sana.

Sebagai awal mula pembahasan, mari lihat grafik di bawah ini yang berasal dari SEMrush.com mengenai faktor-faktor apa saja yang paling penting dalam Search Engine Result Page (SERP). Simak urut-urutannya.

blog analytics
https://neilpatel.com/blog/bounce-rate-analytics/

Domain Authority (DA)

Tidak ada DA dalam daftar di atas.

Akan tetapi, teman-teman blogger di komunitas, paling hobi mengukur pakai DA/PA. Somehow, saya kurang berminat memakai parameter tersebut. Kenyataannya, angka-angka tersebut lebih banyak diacu oleh blogger yang menjual sponsored content atau placement content. Ya karena para pemberi sponsor juga sudah jamak menggunakan DA/PA.

Kalau kita mengacu ke referensi Niagahoster, dapat disimpulkan bahwa DA/PA adalah parameter yang mendeskripsikan seberapa searchengine-friendly si website tersebut. Skalanya 1-100; makin dekat 100 maka makin ramah ke google.com. Begitulah menurut si pengembang DA/PA, yaitu Moz.com.

Kira-kira kenapa Moz ini mengembangkan mesin digital tersebut? Tentu karena mereka menjual jasa yang terkait dengan parameter itu sendiri. Hehehe. Yaitu, jasa konsultasi supaya lebih terlihat (visible) di mata mesin pencari sehingga traffic dan ranking si website tersebut bisa naik.

Oke, selain Moz dengan DA/PA, ada siapa lagi? Ada Domain Rank dari ahrefs, CitationFlow dan TrustFlow. Demikian kata Moz selaku market leader di industri website analytic ini.

Bounce Rate

Untuk web secara umum, saya lihat banyak juga yang mengacu ke bounce rate. Yang mengukur bounce rate adalah Google Analytic. Kalau begitu, kita pakai definisi GA donk…

A website’s bounce rate is calculated by dividing the number of single-page sessions by the number of total sessions on the site.

https://www.hotjar.com/google-analytics/glossary/bounces/

Berarti, bounce rate adalah skor perbandingan antara jumlah pengunjung (visitor) yang langsung ‘cabut’ (alias satu page saja dalam satu session) dibandingkan dengan jumlah visitor yang melakukan kunjungan ke beberapa page dalam satu session.

Berapa bounce rate yang baik? Dari riset saya, tidak ada jawaban pasti yang berlaku untuk semua. Bergantung jenis web Anda. Ini satu yang bisa dijadikan acuan (dari gorocketfuel.com):

  • Bounce rates from 25% to 30% are most likely as low as you’ll see them with everything working correctly
  • The bounce rate for the average website is more likely to dance to the tune of 40 to 55 per cent.
  • Even a bounce rate of over 60% might not be bad. It all depends on the website, which is why it is important to set your own baseline.
  • A bounce rate below 20% or over 90% is usually a bad sign.

Time on site

Anything under 20 seconds is a major red flag, as that’s barely enough time for a visitor to look at the page, much less read its content. 40-50 seconds is a great start, as it means you have their attention. In general, anything over 2 minutes is the accepted standard for websites.

https://rankmonsters.org/website-analytics-benchmarks/

Page per session

Satu session itu satu kali kedatangan ke suatu website. Pengguna yang sama, datang dua kali ke suatu website, akan dihitung dua kali session. Jadi, page per session adalah angka rata-rata dari jumlah page yang dikunjungi di setiap session-nya.

The unofficial industry standard is 2 pages per session.

https://www.spinutech.com/digital-marketing/analytics/analysis/7-website-analytics-that-matter-most/

Lebih banyak halaman per sesi menunjukkan bahwa pengguna Anda sangat terlibat dan ingin menjelajahi lebih banyak situs Anda.

Di sinilah pentingnya memberikan beberapa internal link dalam 2 bentuk: SEO internal link dan plugin Inline Related Posts.


Jadi, apa kesimpulannya? Apa blog analytics yang paling pas dipakai? Tergantung tujuan blognya.

  • Kalau tujuannya cari sponsor, menaikkan DA/PA adalah segalanya. Sudah jadi acuan industri, baik pemain maupun sponsor.
  • Kalau ingin jadi blogger biasa saja, atau menjadi penulis yang lebih baik, saya kira adalah Page/Session dan Session Duration.
Catatan: Di “one year”, Bounce Rate-nya sebesar 62.72%.

Sang Penghibur

Sang Penghibur: Inspirasi dalam Harmoni. Satu di antara sekian gebrakan pemasaran group band Padi Reborn.

Tiap Jumat malam, kini ada program di .NET TV, Sang Penghibur: Inspirasi dalam Harmoni yang di-host oleh Padi Reborn. Ini konsep baru ya.

Kalau seringnya individu/pasangan musisi yang membawakan program (David Naif di Berpacu dalam Melodi, Vincent-Desta di Tonight Show, dll), baru kali ini host-nya sebuah group band.

Konten program tersebut (selain talkshow) ada tiga: lagu dari Padi Reborn itu sendiri, lagu Padi Reborn yang di-cover oleh musisi tamu, serta lagu dari musisi tamu itu sendiri.

Gebrakan Pemasaran

Program ini, adalah gebrakan pemasaran yang ke-sekian dari Padi, ya. Di antaranya pernah ada: peluncuran (launching) album di lokasi yang unik: McDonald Sarinah (album Save My Soul), KRI Teluk Mandar 514 (album Tak Hanya Diam).

Pernah juga membuat mini series bertajuk “Menanti Sebuah Jawaban” yang tayang di SCTV, film pendek “Menanti Keajaiban” bersama sutradara Angga Dwimas Sasongko, dan lain sebagainya.


Sejak awal, Padi declare bahwa genre-nya adalah Pop-Rock.

Yang saya pribadi tidak suka, industri musik komersil di Indonesia sangat fokus di percintaan yang menye-menye (melankolis, galau, sedih).

Daripada bermain di samudera merah macam begitu, Padi melakukan zoom out pada pasar yang digarap: tidak hanya percintaan, tapi juga persahabatan, perjalanan hidup, dan tema-tema lain yang tidak termasuk arus utama (mainstream).

Menurut saya, lagu-lagunya Padi itu menerapkan konsep positioning yang tepat.

Maksudnya, tidak merilis jenis lagu yang banyak dibuat oleh band-band lain. Lagu semacam “Sang Penghibur”, “Sobat”, “Harmoni”, itu lagu-lagu yang jelas jarang atau bahkan tidak pernah dibuat oleh musisi-musisi tanah air.

As you may already know, Sang Penghibur berkisah soal profesi seniman, Sobat soal teman yang menikung kita dan merebut pasangan, hehehe.

Di sisi lain, lagu semacam “Kasih Tak Sampai” tuh sebenarnya banyak banget dirilis oleh musisi tanah air.

Ingat Jikustik? Populer kok, pada masanya. Popularitasnya terutama disebabkan lagu-lagu patah hati.

“Kasih Tak Sampai” yang merupakan judul novel karya Marah Rusli dengan lakon utama Sitti Nurbaya, sebenarnya kisah klasik yang terjadi di mana-mana, ‘kan?

Yang membedakan hanyalah eksekusi dari Mas Piyu dkk memang ciamik.

Dari Padi sendiri, “Kasih Tak Sampai”-nya Padi bisa dianalogikan dengan “Love of My Life”-nya Queen.

Yakni lagu yang diposisikan khusus untuk memberikan ciri yang khas pada band tersebut.

Jualan Dulu, Baru Berkarya

Sedikit lebih beda, lebih baik daripada sedikit lebih baik.

Pandji Pragiwaksono Wongsoyudo

Maksudnya Mas Pandji tuh, sebagai pemasar, tidak harus membuat karya yang lebih baik.

Namun, membuat karya yang sedikit berbeda, akan lebih menolong kita dalam memasarkan sekaligus menjualnya.

Padi tuh setau saya, lebih sering membuat musiknya dulu baru lirik. Konsep musiknya dimatangkan dulu, baru dicarikan lirik yang tepat.

Seperti peran teks dalam aplikasi digital: flow/experience/message untuk si user harus clear dan dapat konteksnya dulu, baru diberikan teks yang pas dan representatif.

Tanpa teks, terasa bingung tanpa arah.

Dengan teks, menguatkan maksud dan tujuan konsep musik yang sudah dibangun.

Peran Orisinalitas

Musik itu kan salah satu cara berekspresi ya. Menyuarakan hati para penikmat musik, adalah salah satu strategi berkarya para musisi.

Which is, sengaja tidak sengaja, by design or not, arah industri musik komersil kita saat ini seakan-akan hanya pada tema percintaan semata — sempat saya sebutkan di atas.

Di tengah-tengah samudera yang semakin memerah –kompetisi semakin ketat–, tampil beda adalah kewajiban. Dan ini semakin tidak mudah. Sebab, asal beda belum tentu laku.

Akhirnya, satu-satunya jawaban adalah menjadi diri sendiri. Bagaimana mengeksplorasi ke dalam diri untuk menghasilkan karya yang orisinil.

Jadi, daripada sekedar membuat karya musik yang disukai dan dinyanyikan, serta menjadi sarana berekspresi para penikmat musik secara umum dan fans secara khusus, jelas tidak salah menjadi egois dalam berkarya.

Inilah yang tampaknya dilakukan oleh Padi, di album Save My Soul.

Album ketiga tersebut, menjadi “ujian” sekaligus filter bagi mereka yang mentasbihkan diri sebagai “Sobat Padi”. Apakah benar-benar fans, atau sekedar penikmat musik secara umum.

Kenyataannya memang, bagi kebanyakan Label Mayor, album ketiga adalah titik kritis apakah sebuah group band akan terbang tinggi atau tetap biasa-biasa saja.

Kita semua tahu, Padi Reborn masuk kelompok yang mana.

Tantangan Pasca Vakum

Tujuh tahun waktu yang cukup panjang.

Ibarat terakhir ketemu pas kelas 6 SD, tau-tau sekarang sudah tingkat 1 kuliah saja.

Pasca vakum, ada dua tantangan yang dihadapi oleh Padi Reborn.

Besar atau kecilnya tantangan tersebut tentu relatif, tetapi ada 2 yang jelas signifikan: (1) Pendekatan berkomunikasi dan pemasaran yang serba digital: vlog, IG stories, twitter, dan sebagainya.

Kedua adalah pasar (yang tadinya masih balita, TK, atau SD) menghendaki jenis musik yang lebih “santai” daripada pop-rock Padi yang dulu.

Tantangan kedua ini, setidaknya dihadapi dengan re-aransemen yang lebih akustik dan penggunaan warna string pada musik pada album “Indra Keenam”.


Dari uraian di atas, Sang Penghibur benar-benar mentasbihkan diri sebagai “Sang Penghibur”.

Bukan sekedar bermusik, menunjukkan orisinalitas karya, tetapi juga menghibur (to entertain) dengan konten dan medium yang berbeda-beda.

Baca juga: Padi Reborn, Piyu, dan Jualan Musik Zaman Now.

Effective Proofreading

Kiat melaksanakan proofreading yang efektif. Agar naskah kita bebas typo dan kesalahan lainnya, serta enak dibaca oleh para pembaca.

Salah satu tugas penulis, adalah menyunting tulisannya sendiri. Penyuntingan ini dilakukan setelah setelah proses penulisan – supaya proses penuangan ide tidak bercampur-aduk dengan penyempurnaan naskah itu sendiri. Selanjutnya, penyuntingan dilakukan oleh copyeditor/proofreader

proofreading
Flow-nya tulisan tidak disebutkan di gambar ini. Padahal, flow tulisan juga termasuk yang perlu diperiksa ulang.

Satu aktifitas yang dilakukan dalam proses penyuntingan adalah proofreading. Yaitu upaya menemukan kesalahan dalam naskah –sehingga kemudian bisa disunting menjadi naskah yang lebih baik. Kesalahan yang dimaksud di sini termasuk kesalahan penggunaan tanda baca, ejaan, konsistensi dalam penggunaan nama atau istilah, hingga pemenggalan kata –di sinilah manfaat belajar suku kata di Sekolah Dasar (SD) dulu.

Maaf karena saya belum menemukan padanan proofreading dalam bahasa Indonesia, ya. Ada siy, yang menyebutnya uji-baca

Secara umum, tugas penyunting agak unik, memang. Satu di antaranya adalah berperan sebagai “ahli nujum” yang berupaya menemukan “apa yang tidak ada”. Misalnya, antar kalimat, paragraf, atau bagian lain dari naskah yang tidak masuk di akal, atau diskontinyu alias berhenti atau gak nyambung dengan bagian lainnya.

Proofreading Tools

Peralatan (tools) apa saja yang dipakai untuk proofread? Untuk naskah berbahasa Inggris, ada Grammarly.com (bisa diekstensi ke browser dan langsung proofreading naskah kita di Google Docs), Dictionary.com, Google Translate, Thesaurus.com, Oxford Dictionary. Yang terakhir saya sebut ini adalah buku kamus cetak English-to-English 4th edition (tahun 2011) milik saya. 

Dalam menggunakan berbagai perangkat tersebut, kita perlu mengenali elemen-elemen berbahasa yang dirasakan penting dalam suatu bahasa. Sebagai contoh, di Bahasa Inggris, perihal singular (tunggal) dan plural (jamak) ini penting untuk diperhatikan. Salah penggunaan, bisa disemprot oleh Grammar Nazi; sebutan untuk mereka yang menegur/memarahi orang yang salah dalam penggunaan grammar. Bahkan yang bukan Grammar Nazi pun, cukup memperhatikan perihal singular-plural ini. 

Untuk Bahasa Indonesia ada KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) dan PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia, dahulu EYD, Ejaan Yang Disempurnakan). Semua perlengkapan tersebut di atas merupakan alat bantu dalam menulis dan menyunting. 

Prinsipnya, bahasa adalah alat berkomunikasi. Poin utamanya bukan soal baku atau tidak baku yang mana kita bisa mengacu pada peralatan-peralatan tersebut. Namun seni berbahasa adalah bagaimana menyampaikan gagasan dengan kata dan kalimat yang dipahami oleh kedua pihak yang sedang berkomunikasi. 

Menarik memang sih, kalau memerhatikan bagaimana kita berbahasa di social media. Di instagram, facebook, twitter, blog, dan lain sebagainya, sering banget kita mengabaikan tata bahasa yang baku. Meski demikian, yang tidak baku demikian gak sepenuhnya salah, kok. Itu kan medium bersosialisasi. 

Pentingnya Tata Bahasa 

Mengapa dokumen -tertulis- hampir wajib hukumnya memiliki tata bahasa yang baik? Karena sesudah tertulis di sana, kita tidak akan tahu akan menyebar ke mana. Tidak hanya dokumen, konten blog yang ditulis dengan baik juga enak untuk kita sebarkan pranala-nya ke manapun juga. 

Bagi para pelaku usaha, wajib juga hukumnya memiliki proses penatabahasaan yang baik. Ini kaitannya dengan citra (image) profesional si perusahaan. Seberapa serius sebuah perusahaan dalam mengeksekusi proyek/produk, sedikit-banyak bisa terukur dari dokumentasi dan penulisannya. Misalnya, proposal penawaran, laporan proyek, laporan akhir tahun, dan lain dokumen-dokumen sebagainya. 

Di beberapa penerbit, ada kepala penyunting (editor-in-chief) yang ditargetkan untuk mencari naskah tambahan dari luar. Posisi ini biasanya cukup senior atau dicari yang berpengalaman. Karena harus punya perasaan dan intuisi yang valid terhadap potensi bisnis dari suatu naskah. Profesi ini sedikit sekali atau bahkan tidak lagi berkutat dengan tata bahasa suatu naskah.

Omong-omong, beberapa di antara kita masih keliru membedakan beberapa profesi yang sering tertukar definisinya satu sama lain: copywriter, copyeditor/editor/proofreader, dan editor-in-chief.

  • Copywriter : penulis periklanan, 
  • Proofreader : pemeriksa naskah 
  • Editor-in-chief : pemimpin tim editor, serta pencari naskah baru 

Tipografi 

Kata lainnya adalah komposisi. Jadi bagaimana suatu teks disusun: panjang kalimat, jumlah baris dalam paragraf, dan lain sebagainya agar koheren satu sama lain dan enak dibaca. Tipografi termasuk hal yang wajib diperhatikan para proofreader. Tulisan yang terlampau padat kata, belum tentu jadi sarat makna. Menjadi tugas para proofreader untuk mengefektifkan kalimat tersebut. Jarak antar paragraf yang terlampu dekat juga bisa menyulitkan pembaca.

Tipografi juga meliputi bagaimana penggunaan bullet points dalam menyampaikan gagasan kita. Senada dengan bullet points, image juga bisa dipakai untuk memberikan komposisi yang cantik dalam artikel kita. Di medium yang bisa dipercantik seperti blog, tipografi atau komposisi akan memberikan keterbacaan yang tinggi.

Lihat juga tulisan lain yang terkait: 

Cara Mengelola Uang Supaya Hutang Hampir Nol

Hutang ini tidak diinginkan, tapi sulit dihindari. Inginnya nol, tapi susah sekali. Jadinya hampir nol saja.

Kalau harus berhutang, mau berapa, ke mana, dan berapa lama? Untuk diri saya, pertanyaannya saya balik: berapa lama, berapa kemampuan saya mencicil, dan dari keduanya baru akan ketahuan: berapa banyak? 

Lama Pinjaman 

Kita kan tidak tahu ya, kita akan hidup berapa lama. Jadi durasi hutang menurut saya harus sesingkat mungkin. Dari sana, baru dikalikan dengan kemampuan kita membayar cicilan. Akan ketemu berapa nilai uang yang layak kita pinjam. 

Kemampuan Mencicil 

Dalam persentase, ada yang menyarankan 30% untuk cicilan. Atau sepertiga, alias 33.33%. Dengan 33% yang lain untuk pengeluaran rutin, dan sepertiga sisanya tabungan dan investasi. 

Serba sepertiga ini hanya salah satu aliran pengelolaan keuangan, ya. Masih banyak aliran yang lainnya. Yang saya berikan contoh, hanya aliran yang saya praktikkan saja. 

Di suatu bank, pernah ada yang promo ke kantor kami, untuk gaji di atas 15 juta, cicilan KPR-nya dibolehkan hingga 50%. 

Jumlah Hutang 

Dari sini, dapat kita hitung, berapa jumlah uang yang layak kita pinjam, yaitu hutang yang mampu kita lunasi. Yaitu, mengalikan lama pinjaman dengan kemampuan mencicil tersebut. Sebagai catatan, mengambil hutang di Bank itu bisa jadi dikenakan biaya tambahan semacam biaya provisi (secara bahasa, provisi berarti pengadaan ya), biaya administrasi (urusan hitam di atas putih ini dikenakan biaya), dan lain sebagainya. 

Cara menagih hutang kepada teman

Kalau dari saya, prinsip saya memberi piutang, saya harus melihat kemampuan saya dulu. Artinya, berapa banyak yang bisa saya ikhlaskan, andaikan uang tersebut tidak kembali sama sekali. Jadi memang, niat memberi pinjaman untuk menolong. Bukan untuk mendapat keuntungan. Sependek pemahaman saya, untung dari pinjaman adalah riba. Dan itu yang dilarang dalam agama saya. Saya berusaha istiqomah menjalankan hal tersebut. 

Raditya Dika, dalam salah satu konten YouTube-nya, pernah menyatakan bahwa dirinya merasa lebih baik berjual-beli sesuatu dari si teman, daripada harus meminjamkan uang kepada teman. Paham, tidak? Ilustrasinya begini. Misal si teman butuh satu juta rupiah. Instead of meminjamkan, Bang Radit merasa lebih baik memberi pekerjaan kepada si teman senilai satu juta rupiah. 

Kembali ke soal teman yang punya hutang kepada kita. Tentu kita tagih dengan seramah mungkin. Tidak perlu galak. Bila dia membutuhkan tambahan waktu, sebaiknya kita berikan. Sudah seharusnya dia akan mengembalikan yang dipinjam, ‘kan? 

Soal ini, sependek pemahaman saya, mereka yang membebaskan hutang, akan mendapatkan naungan ‘Arsy di hari kiamat. Baca juga: memudahkan orang yang berhutang

hutang

Supaya lebih ikhlas perihal hutang yang tidak dibayar, saya biasanya mengingatkan diri saya untuk bekerja lebih keras. Di antaranya adalah bersilaturahmi dengan wajah-wajah baru. Barangkali dari hubungan tersebut ada rezeki yang bisa menggantikan nilai hutang yang tak terbayar. Selain itu, juga “mempertajam” penawaran (offering) barang/jasa ke pelanggan. 

Sebelum memberi pinjaman, boleh donk kita berpikir seperti Bank. Ada prinsip 5C yang biasanya diagung-agungkan: character, capacity, capital, collateral, condition. Untuk hutang pribadi, saya lihatnya dua saja. Karakter: orangnya bertanggung-jawab (amanah) atau tidak. Orangnya juga harus bisa kita hubungi/temui. Jadi kita tahu rumahnya. Kolateral, tidak mesti barang fisik sebagai jaminan ya. Tapi kestabilan pendapatan dan nilai pendapatannya. 

Utamakan Hutang Produktif 

Hindari hutang konsumtif. Ini aplikasinya beda-beda ya di setiap orang. Kalau saya, rasanya adalah dengan tidak menggunakan kartu kredit (CC). Karena belanja mudah sekali dengan menggunakan CC. Bisa lupa batas (limit) anggaran. Lagipula, saya bukan yang detil soal diskon, cashback, dan sejenisnya itu. “Pancingan” memakai CC kan promo potongan tersebut, ya. Kalau saya butuh/ingin, ya langsung saya bayar, hehe. 

Hutang pribadi atau rumah tangga yang produktif, mungkin hutang KPR ya. Karena harga tanah dan bangunan -biasanya- naik terus. Tapi produktif atau tidak sebenarnya case-by-case, siy. Salah beli tanah/bangunan, ekstrimnya bisa rugi juga. Lagipula, benar-benar menghasilkan kan kalau tanah tersebut dijual lagi. Which is, dalam kebanyakan kasus di wilayah yang sudah ramai penduduknya, harga tanah sudah sedemikian tinggi sehingga calon pembeli semakin sedikit. Alias, nilai di atas kertas doang yang tinggi, tapi menjualnya ya susah, hehehe. 

Konon, investor macam Robert Kiyosaki -selain game Cashflow Quadrant, dia ada perusahaan properti– hanya membeli satu dari seribu tanah/bangunan yang dia tengok. 

Bagaimana dengan hutang untuk usaha/bisnis? Mengambil hutang begini tidak boleh untuk sembarang belanja modal (capital expenditure) atau belanja rutin (operational expenditure, opex). Karena harus dihitung benar efeknya terhadap pertumbuhan (growth) omzet, klien, dsb. Kalau cuma tambal sulam, lebih baik tidak hutang sekalian. 

Simpulan menurut saya siy, kalau mau hutang produktif, sekalian aja bikin tim, bikin badan hukum (PT/CV), rencana yang detil, target yang terukur, eksekusi yang mantap, dan seterusnya. 

Baca juga: Hierarki Pengelolaan Keuangan