Sebelum Pindah Kerja

Insight saja: konon katanya pindah kerja yang baik itu setiap 3-4 tahun sekali.

Realitanya, pindah kerja itu tidak semudah keinginan. Di sisi posisi pekerjaan, kita akan berhadapan dengan supply and demand tenaga kerja. Kalau sudah berkeluarga, ada tambahan beberapa hal yang harus dipertimbangkan juga — lebih banyak dibandingkan mereka yang belum ada pasangan/anak.

Teks yang berwarna merah adalah logika yang –menurut saya– akan dipakai perusahaan dalam merekrut karyawan. Namanya juga logika, sifatnya ideal. Which is, perusahaan –notabene isinya manusia– tidak akan pernah 100% ideal.

(1) Alasan pindah kerja.

Apakah pindah karena mencari posisi yang lebih tinggi? Posisi yang lebih tinggi, tentu “bayaran”-nya lebih baik. Atau sekedar pindah ke company yang lebih baik —in terms of gengsi, paket remunerasi, dll? Atau mungkin pindah untuk lebih dekat dengan keluarga inti, atau orangtua/mertua.

HR tidak terlalu memperhatikan alasan mengapa seseorang pindah kerja. Itu ranah personal. Yang dilihat oleh company adalah: (1) Apakah orang tersebut secara kultural memang cocok di perusahan (2) Biaya bulanan seorang karyawan di posisi tersebut sudah sesuai dengan harga pasar, maupun standard internal.

(2) Jarak tempat tinggal ke kantor

Jarak yang jauh menuntut perjalanan yang lebih lama. Sementara jenis transportasi akan mempengaruhi ongkos perjalanan. Naik mobil pribadi, cenderung mahal secara bensin, butuh waktu lebih lama, tapi memang lebih nyaman, siy. Lagi-lagi ini adalah ongkos yang tidak boleh luput dari pertimbangan.

Perusahaan yang mengambil lokasi strategis itu biasanya demi gengsi. Ya di hadapan pelanggan, maupun karyawan –IT startup biasanya modern, minimalis dan homey. Perusahaan yang berlokasi di segitiga emas Jakarta, selain posisinya memang di tengah kota, gengsinya juga dapat. Namun, ongkosnya memang besar.

Lain halnya dengan tipe perusahaan/pekerjaan yang lebih banyak berada di luar kantor, alias “mengukur jalan seharian”. Anggaran sewa kantor bisa ditekan.

Satu lagi. Pemberdayaan coworking space untuk karyawan sangat mungkin menekan biaya. Apalagi, cost-nya relatif flexible. Bisa bulanan, bahkan harian. Beda dengan sewa ruko atau rumah yang term-nya minimal satu tahun.

Apalagi di era flexible working seperti sekarang. Tuntutan bekerja tidak melulu di waktu dan tempat tertentu (yaitu kantor). Sudah ada internet yang mendukung, aplikasi korporat yang mendukung pekerjaan untuk skala ratusan bahkan ribuan karyawan, application security yang semakin baik, dan lain sebagainya yang mendukung flexible working.

(3) Kenaikan Gaji

Kata rekan yang head hunter, kenaikan gaji untuk posisi yang sama di perusahaan berbeda, berkisar antara 25%-30%. Jadi kalau kamu pindah, pertimbangkan persen kenaikan tersebut. Kalau posisinya lebih tinggi? Tentu saja lihat lagi aturan nomor satu di atas.

Bandingkan gaji dan benefit di calon kantor baru dengan total pengeluaran kantor untuk kamu di company yang lama. Misalnya, uang makan, snack, tunjangan transportasi, dan lain sebagainya. Premi asuransi untuk pasangan dan anak-anak jangan lupa dimasukkan. Terlihat sepele, padahal signifikan untuk keluarga dengan 3 anak.

Tergantung fase di mana perusahaan sedang berada, HR akan menentukan apakah suatu posisi diisi oleh fresh graduate (FG), junior, atau senior. FG relatif murah, tetapi minim pengalaman. Sementara yang senior bisa bernilai beberapa orang FG dalam sebulan.

Supaya lebih paham, ilustrasinya begini: suatu IT company punya anggaran 120 juta sebulan untuk gaji. Pilih 20 programmer junior bergaji 6 juta, atau 4 orang programmer bergaji 30 juta? Tentu ada permutasi maupun kombinasi dalam menentukan hal tersebut.

(4) Analisis Keberlangsungan Perusahaan Target

Meskipun mendapat penawaran gaji dan benefit yang menarik, analisis lebih dulu keberlangsungan perusahaan dan industri tersebut. Sangat mungkin tawarannya menarik, tetapi perusahaan hanya berumur 1-2 tahun saja.

Seperti kebanyakan IT startup belakangan ini. Kompetisinya ketat. Tuntutannya growth or die. Saya tidak menyarankan untuk dihindari ya, tetapi dijadikan bahan pertimbangan saja. Apakah yang didapat (bayaran, pengalaman, posisi) akan sebanding dengan risiko-risikonya.

Makanya di IT startup ada yang remunerasinya luar biasa besar. Karena planning dan eksekusinya meminta target dicapai dalam waktu sesingkat-singkatnya –sebelum dicapai duluan oleh kompetitor. Jika tidak, rawan dilibas (atau diakuisisi, hehehe). Ini kasus IT startup yang naik-turunnya roller-coaster banget. Tentu bisa diekstrapolasi ke industri yang pergerakannya lebih santuy.


Sebelum pindah kerja, baiknya pikirkan masak-masak kelebihan dan kekurangan tempat kerja baru dibanding tempat kerja lama. Seperti saya katakan di atas, single masih lebih mudah untuk berpindah-pindah daripada setelah sudah menikah.

Alasan terbanyak seseorang pindah kerja adalah karena tidak nyaman dengan atasan langsung-nya. Daripada mempersoalkan hal tersebut, lebih baik fokuskan ke karir (baik primary maupun secondary/side job, ya).

Tidak enak bila salah memilih. Karena ketika menyesal dengan tempat kerja yang baru, bisa jadi tidak enak untuk kembali ke mantan tempat lama. Akhirnya, harus mencari yang lebih baru lagi — which is belum tentu menyelesaikan akar masalah, yaitu si alasan pindah kerja itu sendiri.