Promosi Online Produk Kuliner yang Efektif

Teknik-teknik promosi produk kuliner secara daring yang tepat sasaran.

Dalam 10 tahun terakhir, revolusi belanja (dan berjualan) terjadi secara signfikan. Bagaimana promosi dilakukan, cara pembayaran, hingga pengiriman produk. Revolusi digital ini melingkupi banyak sekali industri. Lebih khusus, adalah Usaha Mikro. Di mana, salah satunya adalah makanan alias produk kuliner.

Secara produk dan layanan, kuliner kita klasifikasikan menjadi restoran (termasuk warung makan atau gerobak), cemilan (snack), dan frozen food. Yang nomor tiga adalah kategori terbaru yang berada di tengah-tengah.

Yakni, produknya bisa bertahan 1-2 hari di suhu ruang (lebih lama daripada produk restoran), meskipun tidak sampai awet bertahun-tahun (lebih sebentar daripada cemilan). 

Cara Promosi 

Untuk membangun brand (branding), gunakan Instagram. Ini adalah antarmuka antara kita dengan customer. Namanya main instagram (IG), harus aktif rilis post dan story, juga berkomentar di akun IG yang lain. Ini adalah cara organik (non iklan) untuk membangun followers dan engagement

promosi online
Ini adalah produk kami. Open Reseller. Pengiriman dari Surabaya atau Bandung. IG: https://www.instagram.com/zawasiomay/?hl=en WhatsApp 0812.3489.5278.

IG tidak berdiri sendirian. Didukung oleh Facebook Fan Page dan WhatsApp. Kalau IG sebagai front-end, maka Fan Page sebagai back-end. Fan Page kita perlukan, salah satunya bila sudah waktunya menggunakan iklan. Iklannya diatur di Fan Page, distribusi iklannya bisa ke facebook maupun IG. 

Lalu, WhatsApp (WA) sebagai titik terjadinya penjualan. Jadi, segala following dan engagement, harus berakhir ke WA. Pemegang WA berperan sebagai Customer Service (CS) yang melayani segala pertanyaan, pemesanan (order), dan pembayaran. FYI, WhatsApp bisa menyasar segala umur. Sementara, aplikasi LINE untuk menyasar segmen yang lebih muda. 

Cara Pembayaran

Sejak cara pembayaran dimudahkan dengan kemudahan transfer via mobile banking app, atau alat pembayaran semacam Shopee Pay, GoPay, OVO, Jenius, dan sejenisnya, transaksi online semakin mudah. Umumnya, calon pembeli diminta transfer dahulu, baru produk dikirim kemudian.  

Kapan pembayaran dilakukan, berubah 180 derajat sejak transaksi online dimungkinkan. Sebelum sekarang, pembayaran dilakukan di kasir, kemudian barang diserah-terimakan. Sekarang, pembeli bahkan membayar dahulu baru mendapatkan produk. 

Termasuk ketika berbelanja di e-commerce semacam Tokopedia, Bukalapak, Shopee, Blibli, dan sebagainya. Mereka ini bisa menjembatani pembeli dan penjual. Sebagaimana kita tahu, pembeli tidak ingin bayar duluan tapi tidak mendapat barang (alias kena tipu). Penjual pun tidak ingin sudah mengirim produk, tapi sulit melakukan penagihan. 

Begitu pentingnya membayar lebih dulu, hingga beberapa rekan pembeli saya pun beranggapan bahwa, “Belum halal dimakan kalau belum dibayar duluan”. 

Btw, ada trik-trik marketing agar produk kita tampil di halaman pertama mesin pencarinya marketplace. Sebutannya SEO Marketplace. Mudah-mudahan ada waktu untuk kita ulas di artikel yang lain, ya. 

Cara Pengiriman 

JNE sebagai pemain nomor satu di industri kurir (logistik ritel) memang berdiri 30 tahun lalu. Sebagai pemain yang infrastruktur jaringannya paling siap ketika online shopping mulai jamak dilakukan sepuluh tahun lalu, maka semakin masif transaksi di industri logistik ritel. 

Kurir semacam JNE yang mampu mengirim produk secara ritel hingga berhari-hari akan optimal untuk jenis camilan dan minuman bubuk (salah satunya kopi). Frozen food yang harus diterima customer esok hari, bisa menggunakan fitur “sehari sampai”. Nah, selain dari penyedia jasa yang sudah eksis, ada pula pemain baru dengan brand Paxel yang fokus di logistik frozen food. 

Kekuatan Paxel adalah keberanian merek tersebut untuk berinvestasi mesin pendingin (kulkas) di hub-hub maupun di truk-truk mereka. 

Promosi Online 

Di atas sudah dijelaskan ya apa peran dari masing-masing akun IG, Fan Page, dan WA. Terus apalagi yang dibutuhkan? Yaitu aplikasi Google My Business untuk usaha kuliner berbasis tempat (restoran, warung makan, rombong, dll). 

Ada tiga hal yang wajib dilakukan: (1) membuat titik lokasi di Google Maps, (2) merilis foto-foto tempat, menu, dan produk makanan-minuman. Ketiga adalah menghimpun bintang dan ulasan (review) sebanyak-banyaknya. Gunakan promo diskon untuk memancing pembeli memberikan bintang dan ulasan.

Buat Penawaran 

Penawaran bukan berarti foto doank. Tapi gambar dikombinasikan dengan tulisan (copywriting). Supaya lebih powerful, keduanya dipertemukan dengan momentum yang tepat. Misalnya hari besar tertentu, atau kampanye lain yang masif dikerjakan (misalnya HARBOLNAS, hari belanja online nasional).

Supaya lebih maksimal lagi, penawaran mesti memuat promo tertentu berupa diskon, bundling, cashback, dan sebagainya. Terakhir adalah, digencarkan dengan iklan. Namanya kuliner, paling utama ya di Instagram, level berikutnya di Facebook.

Pemodelannnya kira-kira berikut ini.

promosi online

Photo Shooting

Untuk produk kuliner UMKM, tidak wajib menggunakan jasa food photographer profesional. Demi menekan biaya, kita bisa membuat dan menggunakan photo box mini sendiri. Sebuah kotak (box) kecil dengan dua sinar lampu. Mengapa dua sinar lampu? Untuk meniadakan bayangan produk dari kedua sisi. 

Kalau ribet produksi sendiri, bisa cari di marketplace dengan kata kunci tersebut. Hehehe. 

Photo Editing 

Berikut adalah beberapa contoh Photo Editor di smartphone antara lain: PicsArt, Snapseed, Canva, Adobe Photoshop Lightroom, Photo Lab, Pixlr, dan lain-lain. Di lingkaran saya, paling banyak menggunakan aplikasi Canva. Baik di smartphone maupun di PC. 

Dua fitur paling sering digunakan dari aplikasi penyunting foto adalah contrast dan brightness. Tujuannya adalah supaya fokus utama kepada produk itu sendiri. 

Copywriting 

Silakan langsung saja ke artikel teknik copywriting saya. 


Demikian sedikit sharing saya mengenai Promosi Online Produk Kuliner yang Efektif. Semoga eksekusinya mudah dan berjalan lancar.

Btw, artikel ini diinspirasi oleh: Media Promosi Online Efektif dengan Foto Produk UKM Keren

Air Purifier

Air Purifier adalah pemurni udara untuk ruang tidur atau ruang kerja. Dilengkapi dengan Ultraviolet-C, ozone generator, humidifier, dan bluetooth speaker. Dimensi 167x145x162 mm. Berat 0.946 kg.

Air Purifier adalah Alat pembersih udara adalah alat yang menghilangkan kontaminan dari udara di dalam ruangan untuk meningkatkan kualitas udara dalam ruangan.

Beda air purifier dengan humidifier

Secara teknis, purifier adalah penyaring udara. Alat ini menghisap, menyaring, lalu merilis kembali udara yang lebih bersih.

HEPA filter, yakni filter yang memenuhi standard HEPA (High-Efficiency Particulate Air). Filter ini bekerja dengan memaksa udara melalui jaring halus yang memerangkap partikel berbahaya seperti serbuk sari, bulu hewan peliharaan, tungau debu, dan asap tembakau. Air purifier biasanya menggunakan HEPA filter sebagai penyaring.

HEPA filter dirancang untuk menangkap 99,97% partikel berukuran 0,3 mikron atau lebih besar. Beberapa studi tentang pembersih udara portabel menunjukkan bahwa menggunakan filter HEPA menghasilkan pengurangan materi partikulat sebesar 50 persen atau lebih tinggi.

Karbon aktif menawarkan jenis filter lain, yang menangkap bau dan polutan gas (berukuran lebih kecil) yang dapat lolos dari filter HEPA.

Humidifier, di sisi lain, hanya berfungsi untuk mengontrol tingkat kelembapan di dalam ruangan. Mereka tidak melakukan apapun untuk mengontrol kualitas udara atau jumlah partikel di udara. Secara teknis, humidifier adalah kipas angin yang disemprotkan pelembab (terutama air) sehingga udara bergerak yang dihasilkan memiliki kelembaban yang lebih tinggi.

Bagaimana dengan Diffuser?

Perbedaannya adalah bahwa diffuser (tag: diffuser) umumnya merupakan perangkat yang lebih kecil yang dirancang untuk digunakan dengan minyak esensial.

Kategori ini disukai oleh orang-orang yang biasanya tinggal sendiri atau dengan orang-orang yang tidak memiliki masalah dengan bau minyak esensial. Diffuser terutama digunakan untuk menyegarkan aroma ruangan. Perhatikan bahwa Anda hanya akan mendapatkan keuntungan dari diffuser jika Anda menggunakan minyak esensial yang tepat untuk Anda.

Pengguna Wajib Air Purifier

Asma

Gejala asma meliputi mengi (nafas berbunyi), batuk, sakit dada, dan sesak napas. Penyakit ini mungkin terjadi beberapa kali sehari atau beberapa kali per minggu. Bergantung pada orangnya, gejala asma bisa menjadi lebih buruk di malam hari atau saat berolahraga. Asma diduga disebabkan oleh kombinasi faktor genetik dan lingkungan. Faktor lingkungan termasuk paparan polusi udara dan alergen. Pemurni udara (air purifier) memurnikan udara dari alergen (serbuk sari, bulu hewan peliharaan, tungau debu, asap roko), dan berbagai polusi udara. Faktor lingkungan dapat dikelola, salah satunya dengan air purifier.

Perokok Pasif

Ini terjadi ketika asap tembakau memasuki lingkungan, menyebabkan terhirup oleh orang-orang di dalam lingkungan itu. Paparan asap rokok secara pasif dapat menyebabkan penyakit, cacat, hingga kematian.

Pemurni Udara Mini 5 in 1

Dilengkapi dengan HEPA filter, sinar UV-C, Ozon Ionizer Generator. Efektif untuk melindungi anda dari bahaya virus, bakteri atau partikel-partikel kecil. Cocok untuk memurnikan ruangan kerja atau kamar, atau di mobil pribadi.

Sudah termasuk Humidifier dan Bluetooth speaker. Dengan dimensi 167x145x162 mm dengan berat 0.946 kg.

air purifier
air purifier
air purifier

References:

  • https://www.consumerreports.org/cro/air-purifiers/buying-guide/index.htm
  • https://pulptastic.com/humidifier-vs-diffuser/
  • https://www.cnet.com/news/best-air-purifiers-for-2020-from-molekule-to-honeywell/

Productivity Hack: Barang yang Wajib Ada di Meja Kerja

Kerja jadi lebih efisien, dengan 11 barang yang wajib aja di meja kerja. Baik untuk bekerja di kantor, maupun bekerja dari rumah.

Lagi zaman WFH begini, mendesain ruang kerja seperti di kantor bukan lagi sebatas keinginan. Malah sudah menjadi kebutuhan. Supaya productivity rate tercapai, minimal sama dengan ketika berada di kantor.

Barang wajib di meja kerja

Mungkin tidak harus persis sama dengan ruang kantor, ya — yang punya ruang meeting, papan tulis, proyektor, dan lain sebagainya. Untuk di rumah, setidaknya, semua yang dibutuhkan oleh kita pribadi, ada di meja kerja kita. Ada barang apa saja yang wajib ada di meja kerja kita?

Personal Computer (PC)

Tidak perlu dibahas mengapa dibutuhkan, ya. Opsinya bisa desktop, laptop, atau all-in-one PC.

Additional Monitor

Satu layar saja masih kurang. Butuh setidaknya dua. Bahkan ada yang harus tiga. Gunakan fitur ekstensi ke layar tambahan via tombol windows + huruf P.

Jurnal

Tentu tidak sama dengan jurnal pribadi. Tapi ini khusus mencatat rencana dan perkembangan pekerjaan. Bisa juga jadwal pertemuan. Kalau kamu masih mencatat rencana meeting secara manual, ini cocok untukmu. As we already know, sudah banyak di antara kita yang move on (baca: migrasi) ke Google Calendar.

Botol minum atau gelas.

Duduk seharian rentan dengan penyakit ambeien. Bisa dicegah dengan rutin minum. Cukupkan minum air putih untuk mencegah datangnya penyakit ginjal. Mengacu pada warna air seni, jangan sampai air seni kita berwarna pekat. Yang (salah satunya) disebabkan oleh minuman berwarna dan bergula seperti teh, kopi instan, softdrink, dan sebagainya.

Minum kopi sebagai penahan kantuk, atau minuman bergula lainnya untuk ‘mendongkrak’ gula ke otak yang dipakai berpikir, memang tidak terhindarkan. Namun, “dosis harian”-nya itu yang wajib kita kendalikan.

Headphone

Untuk call meeting, gunakan headphone supaya tidak polusi suara. Selain untuk meeting, gunakan pula Headphone untuk mendengarkan musik. Lagi-lagi supaya kerjanya bersemangat. Pilih lagu-lagu bertempo cepat untuk mendorong kamu sampai ke pace pekerjaan yang tinggi. Saya biasa mengawali hari dengan mood booster yang ini.

Charger HP

Rasanya tidak mungkin kalau smartphone berada jauh dari kita. Meski dalam status sedang di-charge sekalipun. Barangkali ada telpon penting atau mendesak, ‘kan. Jadi, siapkan charger HP di meja kerja.

Diffuser

Kombinasi diffuser + essential oil oke banget untuk membuat pernafasan, pikiran, dan mood siap bekerja. Saya biasa belanja dari natureessence.oil

Terminal

Sepaket dengan kabel colokan PC dan monitor, charger HP, dan diffuser, maka kita wajib punya terminal steker di meja kerja. Terminal wajib diletakkan di tempat yang aman (safe). Minimal menghindarkan dari kemungkinan basah kalau minuman kita tumpah.

Pelembab

Saya kadang jijik dengan bapak-bapak di masjid yang kulit kakinya kering dan pecah-pecah sedemikian rupa. That’s why saya stok pelembab di meja. Biasanya siy dipakai setelah sholat. Cukup sekali sehari.

Mungkin kebutuhanmu bukan pelembab seperti saya ya. Tapi coba dipikirkan, deh. Pasti ada produk toiletris atau kosmetik yang sangat personal untukmu dan harus ada di meja kerjamu.

Obat Sakit Kepala

It depends on kamu punya penyakit kambuhan apa. Kalau saya, paling sering ya sakit kepala. Misal karena insomnia malamnya (akibat overthinking), atau sebab-sebab minor yang lain. Biasanya kantor ada kotak obat ya. Meskipun itu hak karyawan, tapi tahu diri lha ya kalo konsumsinya sudah melebihi batas kewajaran. Akhirnya stok sendiri, deh. Hehe.

Apa saja jenis obat yang biasa ada di kotak obat? Obat maag, penghilang nyeri haid, obat diare (serius!), balsem otot, dan lain-lain.

Sandal

Mengingat tidak semua peran butuh untuk berinteraksi dengan orang di luar divisi, atau bahkan di luar perusahaan, boleh donk kita memakai sandal di bilik/meja kerja kita sendiri. Jadi, siapkan sandal ya. Saya juga memaki sandal yang sama kok untuk ke masjid.

Demikian ulasan saya mengenai barang meja kerja. Semua yang saya sebutkan di atas, terbukti meningkatkan produktifitas saya. Mudah-mudahan hal yang sama bisa berlaku untukmu, ya.

Baca juga: Work from Home, dari Terpaksa sampai Biasa Saja.

Work From Home, dari Terpaksa menjadi Biasa

Awalnya terpaksa. Rasanya berat sekali. Lima bulan berjalan, WFH sudah semakin biasa saja. Dalam artikel ini, ada beberapa cerita dan saran soal WFH.

Pernah tiga sampai empat kali dalam dua minggu terakhir, para ortu dan mertua menanyakan ke saya dan istri, “Kerja di rumah atau di kantor?”. Dan jawabannya masih sama seperti pekan-pekan sebelumnya, “Iya, masih di rumah.” Paling tambahannya, “Kalau mau ke kantor, dibolehkan. Tapi tetap dianjurkan di rumah.”

Kantor kami juga masih was-was dan mengambil sikap hati-hati soal “memulangkan” para karyawan ke gedung kantor. Topologinya mirip pabrik gitu. Luas, tanpa sekat, dengan udara yang bersirkulasi dalam bangunan saja. Which is, ini risiko banget menyebarkan virus. Apalagi, kami tidak menggunakan jasa asuransi. Bisa jebol kantong perusahaan kalau banyak yang sakit, periksa ke dokter, dan berobat dalam satu periode sekaligus ketika ada wabah–persis seperti sekarang ini.


Pada awalnya, Work From Home (WFH) disambut dengan gembira. Tidak menghabiskan waktu, uang bensin dan energi untuk commuting pergi-pulang rumah-kantor. Perasaan juga lebih lega. Kita kan tidak tahu persis ya rekan sekantor pergi ke mana saja. Sebab eksposur dari kantor juga sampai ke rumah kita — yang ujung-ujungnya pakai mampir ke anggota keluarga tersayang. Perlahan, rasa was-was lenyap.

Sirnanya kekhawatiran tersebut ternyata ilusi belaka. Sebab, orang yang positif/reaktif covid-19 juga tidak kunjung turun. Bahkan terus bertambah. Apalagi colaps-nya sistem kesehatan nasional kita seakan menunggu waktu. Yang akan terjadi kira-kira 6 bulan dari sekarang.

Indikatornya adalah menurunnya jumlah tenaga kesehatan (nakes) karena sakit dan diistirahatkan, hingga yang paling buruk: meninggal dunia. Okupansi (parameter yang biasanya dipakai hotel maupun tempat menginap lainnya) rumah sakit maupun puskesmas semakin meningkat. Bila ini terus terjadi, lama-lama fasilitas kesehatan akan menolak pasien. Fenomena yang sebenarnya sudah mulai terjadi, terutama di daerah-daerah.

FYI, saya follow akun twitter @firdaradiany karena di pandemi ini beliau menghimpun dan mengkompilasi berita-berita pandemi covid-19.

Kembali ke topik WFH. Kondisi yang memburuk akhirnya “menahan” saya untuk tetap di rumah. Baik untuk bekerja, maupun menghindari pertemuan atau interaksi yang kurang produktif di luar rumah. Sebelum pandemi ini, saya mudah sekali meng-iya-kan ajakan ngopi-ngopi dari rekan. Alias hangout yang sebenarnya tidak penting.

Terpaksa WFH

Namanya rumah ya lebih untuk tempat tinggal ‘kan. Kantor tempat bekerja. Fasilitasnya jelas beda. Kantor didesain dan direkayasa supaya “penghuni”-nya lebih produktif. Terutama lewat fasilitas kantor yang menunjang: meja dan kursi kerja, hingga cemilan supaya gak boring. Bila di rumah, terpaksa bekerja dengan fasilitas seadanya. Setidaknya di awal-awal WFH.

Bagi kebanyakan karyawan, bekerja jarak jauh (remote) itu terasa sendirian (feeling lonely). Rasanya seperti bekerja tanpa pengawasan oleh supervisor (atau team leader). Di sisi lain, tidak bisa komunikasi lisan secara langsung dengan rekan kerja. Jadi rasanya seperti bekerja seorang diri. Ini bisa berimbas pada turunnya produktifitas. Baik individu, tim, maupun perusahaan. Yang sangat mungkin terjadi pada perusahaan yang belum pernah membuka diri pada opsi flexible working.

Tantangan WFH

Tantangan utama WFH adalah bagaimana mempertahankan produktifitas tetap tinggi sebagaimana di kantor. Cara pertama dengan mempersiapkan diri dan perlengkapan sejak pagi hari. Misalnya dengan mandi pagi supaya segar, makan pagi supaya gak kelaparan ketika pekerjaan dimulai, maupun hal-hal remeh semisal menyapa rekan-rekan dengan ucapan selamat pagi atau selamat bekerja.

Dari saya pribadi, biasanya mempersiapkan pekerjaan, minimal dari disiplin menuliskan rencana kerja di pagi hari, dan menuliskan perkembangan (progress) maupun hasil kerja di sore harinya di jurnal pribadi saya yang khusus untuk pekerjaan.

Membiasakan WFH

Ketika WFH, saya amati ada dua hal yang sering terjadi. Ini bisa dijadikan tolok ukur apakah WFH benar-benar sudah terinternalisasi atau belum. Hehehe.

Pertama, lupa hari kerja. Rekan saya baru menyadari hari tersebut adalah tanggal merah setelah bekerja selama 4 jam. Cerita dari senior dosen: bikin event online, yang ternyata jatuh di tanggal merah.

Kedua, tidak mengetahui progress pekerjaan tim maupun perusahaan. Di sinilah pentingnya berbagi info mengenai apa yang sudah dan akan dikerjakan. Dalam bentuk standup meeting, aplikasi kolaborasi pekerjaan (salah satunya Trello), atau medium lainnya.


Meskipun opsi bekerja di kantor boleh diambil, namun kami sekeluarga memutuskan supaya saya tetap bekerja dari rumah. Ini adalah privilege yang kami tidak boleh lupa untuk syukuri. Sebab tidak semua pekerjaan bisa dilakukan dari rumah.

Pada akhirnya, kami kembali pada kesimpulan bahwa tiap-tiap pekerjaan memiliki challenge-nya masing-masing. Yang harus turun ke lapangan, semisal para penjaja (salesman), tantangannya adalah soal disiplin memakai masker dan menjaga jarak. Sementara yang sudah WFH selama 6 bulan, tantangannya adalah bagaimana menyikapi ketidaksabaran diri sendiri.

Mudah-mudahan di Desember nanti ada kabar baik ya, mengenai vaksin untuk covid-19. Masih 4 bulan lagi. Aamiin.

Baca juga ya:

Work From Home https://infografik.bisnis.com/read/20200318/547/1215188/waktunya-bekerja-dari-rumah
Ini ada infografik yang menarik sekali dari @bisniscom mengenai Work From Home

Ulasan Buku Iqbal Aji Daryono

Post kali ini mengulas buku dan profil seorang esais bernama Iqbal Aji Daryono. Termasuk bagaimana teknik penulisan yang biasa dia lakukan

Mari kita mengulas karya buku dari sese-penulis bernama Iqbal Aji Daryono, ya. Kebetulan beberapa minggu lalu saya baru tuntas mengikuti kelasnya. Mudah-mudahan ada kesempatan lain untuk mengulas kelas menulis online (KMO) tersebut.

Sependek pengetahuan saya, bukunya beliau ini ada lima. Ada dua karya buku hasil dari “menemani istri”-nya selama di Australia: Out of the Truck Box dan Tak Ada Kernet di Australia. Yang Out of the Lunch Box adalah kumpulan esai. Kamu mungkin tahu beliau awalnya populer dari mojok.co tetapi esai-esai beliau kemudian banyak kita temukan di detik, geotimes, dan lain sebagainya. Lalu, ada kompilasi artikel+komik yang dikemas “Apakah Seorang Pendosa Tak Boleh Lagi Berkarya?” dan renungan-renungan singkat tentang berbahasa dalam Berbahasa Indonesia dengan Logis dan Gembira. Rangkaian karya yang saya sebut mungkin tidak sesuai urutan penerbitan. Sentilan Iqbal Aji Daryono.

Beliau ini alumnus Balairung UGM. Itu adalah unit kegiatan mahasiswa (UKM) jurnalistiknya kampus gajah mada tersebut. Saya tentu tidak hafal siapa saja alumninya -saya aja gak sekolah di sana, kok – namun tiga orang di mantan kantor saya pernah aktif di Balairung. Setidaknya, para alumnus ini ada jejak sejarah pernah belajar, berlatih dan berpraktik menulis berita. Ya, namanya juga jurnalistik, ‘kan. Bukan youtuber yang mengaku hanya mewawancara tapi tidak mau bertanggung jawab atas isi kontennya. Hehehe.

Sebagai wirausaha di bidang penulisan, yang beberapa orang menyebutnya ‘writerpreneur‘ — saya agak nganu gimana gitu ya sama istilah ini– rupanya beliau ini sempat memulai usaha penerbitan di Jogja. Selain kota tugu tersebut, Bandung juga lumayan banyak penerbit indie-nya setahu saya.

Yang jelas, takdir beliau rupanya bukan sebagai orang ‘pabrik’ buku. Melainkan ‘public figure‘ di bidang kepenulisan. Beliau menyebutnya ‘esais’, yaitu menulis esai-esai yang kemudian dimuat di berbagai media digital. Iya, media digital. Media yang belum tentu berupa koran atau majalah layaknya media massa pada umumnya.

Beliau beropini kepada kami peserta KMO bahwa postingan di facebook maupun media digital pada umumnya, menuntut penanganan yang berbeda dari kita para penulis. Praktik-praktik penulisan yang memudahkan pembaca untuk skimming (instead of reading), format tulisan yang diberi jeda tiap berapa baris, dan seterusnya adalah serangkaian upaya media-media digital (termasuk kita di jendela facebook kita sendiri), untuk mempertahankan para pembaca guna tetap bertahan menelusuri kata demi kata yang kita ungkapkan. Ingin tahu lebih jelas, tentu kamu harus mendaftar dan ikut sebagai peserta KMO. Hehehe. Saya bantu promosikan ya, pak guru.

Yang hebat -dan layak kita tiru- adalah keterampilan beliau dalam menuangkan hal-hal yang mungkin tidak dipikirkan oleh kebanyakan orang. Pengalaman 4 tahun di Australia sebagai sopir truk/box saja bisa menjadi 2 buku. Ini butuh perenungan dan jam terbang ya, kata saya. Meskipun beliau meragukan bahwa kumpulan tulisan tidak seharusnya disebut buku kenyataannya artikel-artikel tersebut memang dijahit rapi dalam satu tema. Lagipula, sudah sekitar satu dekade barangkali ya, praktik penerbit dalam menyusun dan mengemas tulisan-tulisan di blog menjadi naskah buku yang kemudian dijilid (dibukukan).

Mungkin bisa jadi inspirasi kamu para narablog (blogger) ya untuk konsisten menulis sebanyak 35-40 blogpost dalam tema yang sama untuk kemudian dibukukan.

Sebagai public figure, beliau banyak menerima undangan ceramah maupun diskusi mengenai kepenulisan, literasi, per-buku-an, dan sejenisnya. Sedikit di antara kita menyadari, bahwa yang biasa menulis ternyata gak biasa ngomong di depan orang banyak (public speaking). Dan demikian pula sebaliknya. Jadi, beliau ini paket lengkap, sebenarnya. Eh, untungnya.


Membaca dan menulis itu ‘kan bagian dari beradab dan berbudaya ya. Di mana, tidak seharusnya KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) mengungkung dan mengekang kita dalam berbudaya itu sendiri. Saya sependapat dengan Mas Iqbal, bahwasanya KBBI adalah panduan dalam berbahasa; khususnya mengenai mana yang baku dan tidak baku. Jadi, KBBI tidak boleh menjadi kompas moral kita dalam berbahasa; yang menghakimi kita –sebagai pengguna dan penikmat berbahasa– atas yang benar atau salah. Ini adalah pesan yang saya dapatkan dari buku berwarna kuning dalam gambar di atas.

Hal lain yang menarik untuk kita teladani dari teknik penulisan mas Iqbal adalah bumbu-bumbunya. Ini perlu ada. Lagi-lagi supaya pembaca betah dengan rangkaian teks dari kita. Ibarat masak sayur, gak ada asin atau asam sama sekali malah gak enak; karena hambar membuat sayurnya tidak dikonsumsi. Jadi, pesan-pesan serius maupun bumbu-bumbu bercanda harus diformulasikan sedemikian rupa sehingga menjadi menu yang menggiurkan untuk disantap.

Apabila rekan-rekan pembaca sekalian bertanya, apakah buku-buku di atas perlu dikoleksi dan dibaca berulang-ulang? Saya menjawab, iya jelas. Kalau berminat dengan penulisan non-fiksi. Khususnya bagi anda-anda yang ingin menyampaikan gagasan serius dengan kemasan yang lebih menghibur. Yang terakhir ini memang seringkali dibutuhkan oleh para pendidik ya. Semisal dosen, guru, pelatih (trainer), atau pengajar.

Yang jelas, karya-karya tersebut merupakan kumpulan esai. Yakni pemikiran dan pengalaman yang direnungkan mendalam. Bukan suatu fiksi dengan karakter-karater imajinatif yang menjalani plot cerita tertentu.


Akhir kata, sebagaimana banyak membaca akan memperluas pengetahuan dan memberi bahan bakar untuk aktifitas menulis, maka menambah referensi penulis favorit juga sama pentingnya guna meningkatkan kapasitas kita sebagai penulis.

Baca juga ya, review buku Filosofi Teras.

Sebelum Pindah Kerja

Insight saja: konon katanya pindah kerja yang baik itu setiap 3-4 tahun sekali.

Realitanya, pindah kerja itu tidak semudah keinginan. Di sisi posisi pekerjaan, kita akan berhadapan dengan supply and demand tenaga kerja.

Kalau sudah berkeluarga, ada tambahan beberapa hal yang harus dipertimbangkan juga — lebih banyak dibandingkan mereka yang belum ada pasangan/anak.

Teks yang berwarna merah adalah logika yang –menurut saya– akan dipakai perusahaan dalam merekrut karyawan. Namanya juga logika, sifatnya ideal. Which is, perusahaan –notabene isinya manusia– tidak akan pernah 100% ideal.

(1) Alasan pindah kerja.

Apakah pindah karena mencari posisi yang lebih tinggi? Posisi yang lebih tinggi, tentu “bayaran”-nya lebih baik. Atau sekedar pindah ke company yang lebih baik —in terms of gengsi, paket remunerasi, dll? Atau mungkin pindah untuk lebih dekat dengan keluarga inti, atau orangtua/mertua.

HR tidak terlalu memperhatikan alasan mengapa seseorang pindah kerja. Itu ranah personal. Yang dilihat oleh company adalah: (1) Apakah orang tersebut secara kultural memang cocok di perusahan (2) Biaya bulanan seorang karyawan di posisi tersebut sudah sesuai dengan harga pasar, maupun standard internal.

Ada siy yang namanya uang pindah (moving cost) yang bisa di-reimburse ke kantor baru, kalau memang program tersebut ada. Dari HR, ini tujuannya supaya lebih atraktif lagi dalam menarik kandidat untuk bergabung.

(2) Jarak tempat tinggal ke kantor

Jarak yang jauh menuntut perjalanan yang lebih lama. Sementara jenis transportasi akan mempengaruhi ongkos perjalanan. Naik mobil pribadi, cenderung mahal secara bensin, butuh waktu lebih lama, tapi memang lebih nyaman, siy. Ongkos transportasi tidak boleh luput dari pertimbangan ya.

Perusahaan yang mengambil lokasi strategis itu biasanya demi gengsi. Ya di hadapan pelanggan, maupun karyawan –IT startup biasanya modern, minimalis dan homey. Perusahaan yang berlokasi di segitiga emas Jakarta, selain posisinya memang di tengah kota, gengsinya juga dapat. Namun, ongkosnya memang besar.

Lain halnya dengan tipe perusahaan/pekerjaan yang lebih banyak berada di luar kantor, alias “mengukur jalan seharian”. Anggaran sewa kantor bisa ditekan.

Satu lagi. Pemberdayaan coworking space untuk karyawan sangat mungkin menekan biaya. Apalagi, cost-nya relatif flexible. Bisa bulanan, bahkan harian. Beda dengan sewa ruko atau rumah yang term-nya minimal satu tahun.

Apalagi di era flexible working seperti sekarang. Tuntutan bekerja tidak melulu di waktu dan tempat tertentu (yaitu kantor). Sudah ada internet yang mendukung, aplikasi korporat yang mendukung pekerjaan untuk skala ratusan bahkan ribuan karyawan, application’s security yang semakin baik, dan lain sebagainya yang mendukung flexible working.

(3) Kenaikan Gaji

Kata rekan yang head hunter, kenaikan gaji untuk posisi yang sama di perusahaan berbeda, berkisar antara 25%-30%. Jadi kalau kamu pindah, pertimbangkan persen kenaikan tersebut. Kalau posisinya lebih tinggi? Tentu saja lihat lagi aturan nomor satu di atas.

Kalau kepindahanmu hanya menaikkan sekitar 10% gaji, sebaiknya jangan pindah, deh. Apalagi kalau tawaran kenaikannya tidak lebih tinggi daripada inflasi tahunan.

Bandingkan gaji dan benefit di calon kantor baru dengan total pengeluaran kantor untuk kamu di company yang lama. Misalnya, uang makan, snack, tunjangan transportasi, dan lain sebagainya. Premi asuransi untuk pasangan dan anak-anak jangan lupa dimasukkan. Terlihat sepele, padahal jadi biaya yang signifikan untuk keluarga dengan 3 anak.

Tergantung fase di mana perusahaan sedang berada, HR akan menentukan apakah suatu posisi diisi oleh fresh graduate (FG), junior, atau senior. FG relatif murah, kebiasaannya bisa sambil dibentuk, tetapi minim pengalaman.

Sementara yang senior bisa bernilai beberapa orang FG dalam sebulan. Mungkin pula membawa kebiasaan buruk dari perusahaan lama.

Supaya lebih paham, ilustrasinya begini: suatu IT company punya anggaran 120 juta sebulan untuk gaji. Pertanyaannya: pilih 20 junior programmer bergaji 6 juta, atau 4 orang senior programmer bergaji 30 juta? Tentu ada permutasi maupun kombinasi dalam menentukan hal tersebut.

(4) Analisis Keberlangsungan Perusahaan Target

Meskipun mendapat penawaran gaji dan benefit yang menarik, analisis lebih dulu keberlangsungan perusahaan dan industri tersebut. Sangat mungkin tawarannya menarik, tetapi perusahaan hanya berumur 1-2 tahun saja.

Seperti kebanyakan IT startup belakangan ini. Kompetisinya ketat. Tuntutannya growth or die. Saya tidak menyarankan untuk dihindari ya, tetapi dijadikan bahan pertimbangan saja. Apakah yang didapat (bayaran, pengalaman, posisi) akan sebanding dengan risiko-risikonya.

Makanya di IT startup ada yang remunerasinya luar biasa besar. Karena planning dan eksekusinya meminta target dicapai dalam waktu sesingkat-singkatnya –sebelum dicapai duluan oleh kompetitor. Jika tidak, rawan dilibas (atau diakuisisi, hehehe).

Ini kasus IT startup memang naik-turunnya roller-coaster banget. Tentu bisa diekstrapolasi ke industri yang pergerakannya lebih santuy.


Sebelum pindah kerja, baiknya pikirkan masak-masak kelebihan dan kekurangan tempat kerja baru dibanding tempat kerja lama. Seperti saya katakan di atas, single masih lebih mudah untuk berpindah-pindah daripada setelah sudah menikah.

Alasan terbanyak seseorang pindah kerja adalah karena tidak nyaman dengan atasan langsung-nya. Daripada mempersoalkan hal tersebut, lebih baik fokuskan ke karir (baik primary maupun secondary/side job, ya).

In general, people leave their jobs because they don’t like their boss, don’t see opportunities for promotion or growth, or are offered a better gig (and often higher pay); these reasons have held steady for years.

Why People Quit Their Jobs https://hbr.org/2016/09/why-people-quit-their-jobs

Tidak enak bila salah memilih. Karena ketika menyesal dengan tempat kerja yang baru, bisa jadi tidak enak untuk kembali ke mantan tempat lama. Akhirnya, harus mencari yang lebih baru lagi — which is belum tentu menyelesaikan akar masalah, yaitu si alasan pindah kerja itu sendiri.


Anyway, apapun pilihanmu, tetap bertahan atau jadi pindah, mudah-mudahan itu yang terbaik untukmu, ya.. Good luck!