Bisnis yang cocok menggunakan SEO

Lima kriteria produk/usaha yang cocok dipasarkan dengan teknik-teknik SEO

SEO (Search Engine Optimisation) adalah salah satu tools dalam digital marketing. Sebagaimana tools lainnya, tidak semua produk atau bisnis, cocok dengan metode pemasaran ini. Sebab, tidak ada satu peluru (atau senjata) marketing yang sukses di semua pasar, produk/jasa, atau tipe usaha.

Berikut ini, saya sarikan 5 (lima) kriteria dari produk atau usaha yang cocok menggunakan teknik-teknik SEO.

Ada yang mencari di mesin pencari.

Bukan sekedar mencari untuk lebih tahu, sebenarnya. Tapi cenderung untuk membeli.

Kalau untuk tahu, ada yang mencari di internet untuk mendapatkan letak toko terdekat, menemukan kelebihan-kekurangan produknya (mencari konten review produk), membuat produknya sendiri (DIY – Do It Yourself), dan lain sebagainya.

Yang perlu kita temukan adalah pembeli-pembeli yang sudah melalui fase di atas, ingin merasakan solusi, serta bersedia membayar.

Jadi, yang mencari pasti ada. Namun, validasi adalah aktifitas lanjutan yang wajib kita lakukan untuk menyaring para pencari sehingga kita mendapatkan para calon pembeli.

Ada dua tools yang saya gunakan. Yaitu perangkat yang bisa merekomendasikan kata kunci (keyword) untuk dibidik, serta perangkat trends.google.com untuk memahami tren penggunaan keyword tersebut oleh para calon pembeli.

Produknya tidak identik dengan marketplace.

Apa saja produk yang bisa dijual di marketplace seperti Tokopedia, Lazada, Bukalapak, Shopee, Blibli, dan sejenisnya?

Makanan, pakaian, perlengkapan, dan sebagainya yang pembeli dan penggunaanya adalah orang yang sama. Kemungkinan besar, dia yang membeli, dia yang membayar, dan dia juga yang menggunakan.

Ada cara kedua untuk mengidentifikasi. Yaitu, bagaimana pengiriman produk akan dilakukan. Apa mungkin produk tersebut dikirim melalui jasa kurir seperti JNE, JNT, Paxel, SiCepat, dan sejenisnya?

Bila ya, itu artinya produk tersebut cukup kecil atau ringkas untuk dikirim menggunakan sepeda motor, dan bisa sampai ke pengguna dalam waktu singkat (2-3 hari). Bukan barang yang berat, sehingga harus kurir dengan volume besar (mobil box antar kota, kapal antar pulau).

Produk/layanan masih baru

Karena kalau sudah agak lama, dia akan berada di marketplace. Mengapa?

Kalau market sudah memahami spesifikasi dan harga produk tersebut, maka akan ada produsen yang membuatnya secara massal. Ini berjalan dua arah, sebenarnya. Market paham, permintaan meningkat. Suplier paham, penawaran produk ikut meningkat. Jadi sama-sama mempengaruhi, sebenarnya.

Produk atau jasa yang bisa di-SEO-kan adalah produk dengan pengguna relatif terbatas (belum tentu nilai market-nya kecil, ya) atau produk yang sulit disediakan karena kerumitan spesifikasinya. “Terbatas” juga bisa berarti produk tersebut sulit/mahal untuk dikirim jarak jauh.

Siap menunggu 6-12 bulan

SEO tidak menghasilkan secara instant. Harus bersedia keluar uang dulu untuk “mengedukasi” pasar. Hasil berupa leads, apalagi omzet tidak datang dalam seminggu, apalagi sehari. Kita wajib menunggu 6-12 bulan hingga calon pembeli yang bertanya, atau bahkan hingga benar-benar mengeksekusi pembelian. Paling cepat pun sekitar 4 bulan.

Marjin laba (profit margin) lebih dari cukup

Karena harus investasi dulu 4-6 bulan sebelum menemukan pembeli, maka keuntungan dari lini produk tersebut harus cukup untuk membiayai jasa SEO.

Kalau di marketplace, harga sudah terbentuk. Persaingan bukan lagi sekedar harga terendah. Yes, laba dan marjinnya tergerus tajam. Melainkan di layanan (service) apa yang diberikan oleh toko (termasuk diskon atau bentuk potongan harga yang lain), dan efisiensi rantai suplai (supply chain).


Lima kriteria di atas mulai menunjukkan titik terang menuju jalan yang lurus dalam menggunakan teknik SEO.

Yaitu, produk atau usaha Anda merupakan usaha bisnis yang sifatnya business-to-business (B2B). Atau, merupakan jasa yang dicari dalam radius tertentu (skala kecamata, kota, atau jarak tertentu).

Anda sudah paham apa itu B2B. Seringkali, pengguna produk/jasanya tidak sama dengan yang membayar (alias bagian keuangan). Demikian pula yang menghendaki/memutuskan pembelian; dia bukan technical user, bukan pula finance. Minimum, kita harus mengedukasi ketiga pihak tersebut lewat konten-konten kita.

Terima kasih. Semoga bermanfaat.

Betapa tidak pentingnya nge-blog itu ya, gaez

merefleksikan pertentangan blogging vs kirim artikel ke media

Target rilis satu post setiap pekan kadang jadi beban juga ya. Karena sudah dijadikan target, terasa penting dan mendesak untuk konsisten dilakukan.

Namun, berbagai dinamika dalam kehidupan yang multidimensi ini, yang menghendaki segala sesuatu dilakukan serba cepat, beberapa hal (selain blogging) terasa lebih mendesak dan (tentu saja) lebih menuntut.

Padahal nge-post yang bermanfaat dengan kemasan yang menarik ya butuh waktu dan persiapan, tho? Gak bisa hanya buka laptop, ketak-ketik sebentar lalu langsung jadi post yang berkualitas. Satu pekan kadang-kadang gak cukup.

Beberapa pekan terakhir saya memang lagi bertanya-tanya (wondering) mengenai hal ini.

Premisnya adalah blogging memang tidak pernah akan mati, namun bagaimana kita -dengan segala keterbatasan sumberdaya- bisa menempatkan blog -sebagai sebuah personal media- yang tepat sasaran (efektif) tapi juga dengan energi minimal (efisien).

Curiosity saya ini didorong dari situasi dan kondisi dalam pelatihan yang sedang saya ikuti. Yakni training menulis esai, yang menariknya, sebagian kecil dari para peserta, ternyata secara signifikan mempengaruhi anggota kelas keseluruhan untuk mengirimkan naskah esai sesering mungkin ke media massa. Baik yang lawas semisal Kompas, maupun media kekinian seperti detik, tirto, mojok, rahma.id, qureta, dan lain sebagainya.

Oh, oke. Jangan emosi dulu. Mungkin beberapa di antara Anda masih gak setuju kalau Detik saya klasifikasikan sebagai media kekinian. Hehehe.

Selain gengsi ketika esainya dimuat di media-media tersebut, mereka juga mempertimbangkan “uang jajan” yang mungkin diperoleh. Makin menggiurkan angkanya, seleksi dari redaktur juga semakin berat. Dengan kata lain, ujiannya juga semakin berat untuk menembus media tersebut.

Perkara “uang jajan” ini memang gampang susah-susah. Dibilang uangnya gak seberapa ya benar juga. Toh, bagi banyak orang menulis itu gratis, kok. Idenya gratis. Aktifitasnya juga bukan menguras energi yang banyak. Alias nyaris tanpa modal.

Namun, kalau mau lebih serius dan tampil, menulis itu kudu berbayar. Nge-blog aja, ya. Misalnya dengan blog yang TLD (Top Level Domain). Berlangganan domain dan hosting yang dibayar setiap tahun yang nilainya bisa ratusan ribu.

Mau jago menulis secara otodidak ya jelas bisa. Tapi kalau mau lebih cepat, bisa diungkit lewat pelatihan. Alias modal lagi untuk membangun kompetensi diri.

Modal yang paling fundamental tentu membaca ya. Which is, buku harus masuk ke dalam anggaran pengeluaran rutin. Hukum membeli buku turun dari “wajib” menjadi “sunnah” kalau kita bisa meluangkan waktu dan tempat untuk pergi ke perpustakaan.

Yang mau saya bilang, pada akhirnya menulis adalah hobi yang pada akhirnya menyedot duit juga. Meskipun gak bisa disandingkan dengan hobi lari, atau hobi sepeda ya.

Hobi lari kan ikut event race-nya aja hampir menyamai biaya hosting+domain dalam setahun. Belum lagi harga sepatu, baju dry fit, aksesori smartwatch, dan lain sebagainya.

Sepeda ya sami mawon. Helm, sarung jok, botol minum + holder, yang ditotal-total ya lumayan juga harganya. Tapi itu gak seberapa juga dibanding dengan harga sepeda yang pada kualitas tertentu lebih tahan tabrakan daripada mobil kaleng-kaleng.

Balik sedikit ke soal menulis esai untuk media massa. Dari kursus daring tersebut, saya seperti tertampar-tampar bahwa menulis esai untuk media itu “a whole different thing” daripada blogging. Selama bergahul-ria dengan sahabat-sahabat blogger, masih banyak di antara kami yang kelewat PD. Mengaku blogger lha, bisa menulis – padahal masih banyak copas, secara berlebihan menganggap ini profesi, dst.

Maksud saya, kualitas dan pembacanya beda banget gitu, lho. Ada relevansi ide (timeless atau recency sama-sama bisa jadi faktor pertimbangan), cara mengungkapkan dalam wujud tulisan, dan lain sebagainya. Di sisi pembaca, kelas dan kuantitasnya sudah jelas lebih dulu ada daripada visitor blog yang angin-anginan. Pendek kata, menulis untuk khalayak ramai yang notabene bukan friend, fans, follower kita sangat tidak mudah.

Rekan-rekan blogger, kecuali saya, tampaknya hidup berkecukupan dari adsense, giveaway, dan kompetisi blog. Da saya mah ga paham monetisasi begituan… kumaha atuh?? Saya ngertinya ya proyek tulisan. Jadi kalau sukses post tulisan di blog, mengindikasikan kalau saya lagi sepi gawe…. hahaha… Padahal setahun sekali kita kedatangan tagihan domain+hosting yang wajib dibayar.

Jadi yang mau saya katakan itu adalah, betapa ada variasi yang demikian lebar di antara para blogger sekalian. Ada yang blognya demikian bagus hingga bisa menghidupi tidak hanya domain+hosting, tetapi juga sang empunya blog. Ada juga yang masih wanna-be-but-already-started.

Jauh di lubuk hati, kita semua meyakini bahwa nge-blog itu sama dengan nge-journal. Menuangkan refleksi, catatan, atau dokumentasi ke wujud tulisan. Di mana, satu di antaranya bersifat self-healing. Menyembuhkan luka-luka lama. Memaafkan tanpa melupakan kenangan. Menulis untuk diri sendiri.

Tentu saja kita semua sedang berproses, ya.

Fakultas Ambil Hikmahnya

“Ikhwan tuh gak suka/cocok di jurusan ini. Tapi dia diam-diam aja.”, demikian gosip yang saya dengar. Hahaha. Bukan tipe gosip yang wajib saya klarifikasi siy, ya. Apalagi di channel YouTube-nya Mas Deddy yang tersohor itu. Itu mah cocoknya untuk yang lagi sengketa keluarga saja. Mengenai gosip tersebut, cukuplah jadi TST (Tau Sama Tau) sahaja. Karena ya memang demikian adanya. Hahaha. 

Tidak banyak memang yang bisa saya ambil, ya. Apalagi saya jadikan pengepul dapur. Cukup ambil silaturahminya saja. Sesuai dengan nama WhatsApp Group (WAG) kami. Lagipula, pasca kuliah tatap muka dengan dosen + nge-laboratorium yang saking panjangnya jadi sekalian ngabuburit di bulan Ramadhan itu, saya lebih banyak menghabiskan waktu di kegiatan kemahasiswaan. 

Status saya waktu itu memang mahasiswa. Instead of menomor-satukan akademik, malah saya jadikan prioritas ke sekian. Ini jangan ditiru ya, adik-adik. Waktu dulu saya terpaksa menerima pilihan kedua ini, saya pikir belajar itu bisa di jurusan mana saja. Kampusnya yang tidak bisa di mana saja, menurut saya. Yang saya kira penting adalah Anda akan menjadi alumni darimana. 

Bukan semata karena “cap”-nya suatu kampus “membantu” Anda mendapatkan pekerjaan pertama. Tetapi juga yang dijual oleh suatu kampus adalah lingkungan manusianya. 

Saya katakan “membantu”, karena brand kan sifatnya memuluskan keputusan “pembelian”. Dalam konteks, perusahaan yang Anda lamar sebagai tempat bekerja, menerima Anda karena kampus sudah memiliki “cap” berusia puluhan tahun. 

Kedua, lingkungan manusia. Ini adalah ekosistem besar yang terdiri dari unit-unit yang saling terhubung di dalamnya. Di antaranya adalah ikatan alumni (institusional), jejaring alumni (sosial kultural), rekan-rekan seangkatan masuk, sesama generasi (ini istilah saya saja, yaitu rekan-rekan dari dua angkatan atas kita hingga dua angkatan ke bawah).

Pas banget dengan momentum 100 tahun pendidikan tingi teknik, di laman facebook saya kemarin saya menuangkan 10 poin berikut ini: 

1. Jurusannya apa aja deh. Asal di kampus yang ini. Meski pilihan kedua, lanjut aja. Baru tahu cewenya bnyk pas OSKM. Jurusan saya tuh 1:4 cowo cewe. Teknik Penyehatan 1:3. 

2. “yang di depan (danlap) ga sopan uy. Ngomongnya aku-aku. Egois banget. Ngomongnya patah2 pula.”, pikir saya pas pembukaan orientasi kampus. . 

3. Ketemu banyak anak (SMA) 3. Untungnya gak jadi sekolah di 3. Gak pernah lupa, via wartel (iya, warung telekomunikasi) di almamater, pasca pembukaan pendidikan, memohon bantuan kakak di Bandung untuk mengambil berkas pendaftaran di SMA 3. #eehhh 

4. Unit Koperasi Mahasiswa. Paling berkesan, pinjamkan modal merchandise ke mahasiswa yang mudik untuk presentasi kampus/jurusan di SMA favorit di kampung. Merchandise-nya untuk apa? Ya untuk jualan, lha. Anda ini pakai, bertanya. Hehehe.  Ada temen jurusan kaget pas mau pinjam merchandise, karna yang ngurus ternyata temen kelompok nge-lab sendiri. Hehehe. Kita sebut “pinjam” karena memang kembalikan barang yang tidak laku, berikut uang penjualan yang laku. Hehehe. 

5. Sibuk di jurusan. Pagi kuliah. Jeda makan siang 11-13 aja. Praktikum 3-4 kali seminggu. Puasa Ramadhan terasa singkat karna ngabuburit nya nge-lab. Sebelum masuk lab, bawa jurnal yang ditulis tangan. Kadang-kadang ada quiz pendahuluan di awal. Praktikum bisa ditutup dengan quiz. Setelah praktikum buat laporan yang diketik dan diprint. Gak bohong kan saya, kalau kuliahnya sibuk? Hehe.  

6. Kampanye + jadi pengurus himpunan.

7. “Orang kota masuk desa” dengan kemasan KKN (Kuliah Kerja Nyata) tahun 2008. Kurang lebih seminggu menginap di rumah warga. Toples snack dipenuhi terus oleh tuan rumah. Bak mandi bela-belain diisi air terus sama mereka. Kami tahu diri untuk tidak meminta. Baik banget warga desa tuh. Mereka juga enggak setiap hari mandi, soalnya. 

8. Campaign “Indonesia Tersenyum”. Nge-design + copywriting-nya si baliho berisi teks dua kalimat yang “menyihir” banget. 

9. Science and Engineering Fair 2010. Core idea-nya “community development”. Cari sponsor ke jakarta. Terima duit puluhan juta dalam amplop. 

10. Februari sidang skripsi. Penelitian saya waktu itu soal bagaimana mengoptimalkan proses ekstraksi dari rimpang Curcuma Xanthorriza. Suhu, ukuran serbuk, jenis pelarut, dan waktu adalah parameter-paremeternya. Meski cuma mendapat dan mengambil hikmahnya, saya masih ingat donk penelitian waktu itu.Serah terima ke pengurus baru hanya 3-4 hari sebelum di-Wisuda April. 

Kesimpulan: 4.5 tahun yang penuh hikmahya. Fakultasnya bagaimana? Wes, sudah. Sesuai judul saja. Hehehe. 

Menjauhi Sikap dan Tindakan Ortu Toksik

Bertahun-tahun menganalisis dalam diam, saya berkesimpulan bahwa saya adalah anak dalam hubungan ortu-anak yang tidak sehat. Menyadari hal tersebut (dan sebagai bagian dari self-relief), saya coba tuangkan dalam tulisan ini.

Tidak semua hubungan keluarga yang tampak baik di permukaan, benar-benar baik, lho. Anak yang sabar dan penurut. Anak yang menjalani kehidupan apa-adanya; mengalir saja ibarat air dari mata air melalui sungai menuju laut. Contoh anak-anak seperti itu, belum tentu hubungannya baik-baik saja dengan orang tuanya. 

Bisa jadi, di balik “yang baik-baik saja” tersebut ada racun yang diam-diam melumpuhkan. Pelan tapi pasti menjalar dan berakibat buruk ke hubungan-hubungan di luar rumah. Lebih dari itu, ternyata menghambat perkembangan emosional si anak. Yang tertanam semasa kecil, mulai tampak di usia remaja, dan fatal akibatnya baru tampak sesudah menjadi dewasa. 

Kita perlu memberi jarak terhadap anggota keluarga yang rentan memberi pengaruh buruk. Tatkala masih anak-anak, kita jelas kesulitan menegaskan batas-batas tersebut. Namun, seiring bertambahnya usia dan kedewasaan, kita semakin memiliki kekuatan untuk, setidaknya, menghindarinya. Sebagai buktinya, saya yang pernah ber-SMA di asrama yang jauh dari orang tua ini, menemukan bahwasanya salah satu alasan kami-kami ini memilih sekolah tersebut adalah, untuk menghindari interaksi yang intens dengan orang tua yang –sebut saja– toksik. . 

“Kengototan” yang mulai tampak di usia remaja tersebut, tiba di persimpangan jalan ketika usia benar-benar tiba di gerbang kedewasaan. Apakah memilih terjebak dengan masa lalu? Alias memilih menyalahkan masa lalu atas apa yang terjadi sekarang. Atau, memilih berkehendak untuk memutus mata rantai toksik dari generasi ke generasi tersebut? 

Saya yakin kita semua orang baik. Apabila ditanya, tentu kita menjawab dengan mantap akan memilih yang kedua. 

Jadi, bagaimana mencegah diri kita menjadi ortu yang toksik? Kita bisa memulai dengan bersikap awas terhadap hubungan antara kita sebagai orang tua (baik ayah maupun ibu) dengan anak. Jelas lebih mudah mengatakannya daripada melakukan. Sebab, orang-orang lain di luar keluarga kecil kita, semisal tetangga, kolega, maupun para guru di sekolah yang melihat dari permukaan, sangat mungkin tidak menemukan “racun” yang dimaksud. 

Sebab, toksik bukan sesuatu yang terlihat kasat mata. Sudah terpendam sejak lama; bahkan mungkin puluhan tahun dari keluarga kecil kita yang dulu. Dalam kondisi kebutuhan fisik (pangan, sandang, papan) telah terpenuhi dan berbagai materi yang kita peroleh, jelas kita menyangkal dan tidak menyadaari bahwa kita telah dilecehkan secara emosional. Tumbuh dalam pengasuhan yang tidak sebagaimana mestinya, kita mungkin tidak mengenali dan menyadarinya. Rasanya akrab dan normal. 

Berikut ini, saya menguraikan pendapat saya tentang hubungan ortu yang bersifat toksik terhadap anak. Refleksi ini penting bagi saya, karena saya sendiri juga seorang ayah. 

Pertama adalah, tidak menghormati (to respect) anak sebagai pribadi. Baik ketika anak masih kecil, maupun sudah dewasa. Tentunya bentuk respek kita kepada anak kecil maupun orang dewasa, berbeda ya. Kepada anak kecil, kita bisa berdiskusi sambil memberikan arah. Seiring menuanya usia mereka, anak mulai membuat target sendiri, ‘kan. Diskusi kita fokuskan pada realistis atau tidaknya target-target tersebut. Tentu saja, seninya adalah bagaimana mengarahhkan diskusi tersebut sesuai dengan usia maupun tingkat pendidikannya.

Kedua, tidak berkompromi dengan anak. Seiring waktu berjalan, anak mulai berkehendak. Mengikuti seluruhnya jelas tidak tepat, tidak dituruti juga berdampak kurang baik. Berkompromi adalah jalan tengahnya. 

Ketiga, tidak menyadari bahwa tiap tindakan akan menjadi contoh yang dilihat oleh anak. Berangkat dari ketidaktahuan anak, semua yang mereka lihat pada dasarnya dianggap boleh. Dalam pikirannya, anak menggumam, “Ortuku melakukan A, berarti A bukan hal buruk, aku pun boleh melakukannya”.

Keempat, tidak bereaksi secara berlebihan atau bertindak terlampau cepat. Menanggapi anak tentu suatu kewajiban ya. Hanya saja, kita perlu melihat dalam horizon yang lebih panjang. Beberapa hal perlu kita pertimbangkan sebelum menanggapi anak: apakah saya akan konsisten? Apakah ini berdampak kecil atau besar? Dan pertimbangan sejenis yang bersifat strategis. 

Kelima, tidak membandingkan anak dengan orang lain. Baik dengan saudara kandungnya, sepupunya, tetangganya, atau teman sekolahnya. Membandingkan anakhanya boleh dilakukan  secara proporsional. Misalnya dengan tujuan memotivasi dia. Sebab setiap anak manusia pasti unik. Penanganannya juga disesuaikan (be customised) dengan karakternya. Keunikan (dan kecerdasan) anak manusia itu berbeda-beda. Howard Gardner saja berhipotesis bahwa ada 8 jenis kecerdasan majemuk. 

Keenam, mengharap anak menjadi dewasa begitu saja dalam berpikir dan bertindak. Orang tua seharusnya menginisiasi kasih sayang, memberi maaf, atau sikap-sikap positif lainnya dalam hubungan ortu-anak. Mengapa kita mengharap dari ayah lebih dulu? Sebab sang ayah adalah individu yang lebih dewasa dan stabil sementara sang putra/putri masih mencari tahu apa yang berhasil dan apa yang tidak ada dalam hubungan tersebut.

Ketujuh, hanya menghendaki kesempurnaan dari diri sang anak. Ortu sepatutnya mengakui kelemahan dan berbagi atas kelemahan tersebut. Bahwasanya manusia menjadi dewasa dengan mengalami naik turunnya kehidupan. Baik dalam pekerjaan, hubungan percintaan, ekonomi, dan lain sebagainya. Membagikan hal-hal tersebut kepada anak akan membuatnya lebih bijaksana dalam mempertimbangkan berbagai alternatif dalam kehidupan. 

Terakhir, hanya memberi dukungan pada anak apabila sesuai dengan ego kita. Selayaknya ortu mendukung berbagai pilihan yang dia ambil. Idealnya, sebelum dia mengambil pilihan-pilihan tersebut, kita sudah mendiskusikan hasil potensial yang mungkin dia raih. Apapun pilihan tersebut, dan bagaimanapun berseberangan dengan kita, hendaknya kita tetap mendukungnya.

Demikian beberapa pergulatan ide dalam pikiran saya. Ekstrak dari bacaan maupun pengalaman.

Copywriting

Copywriting adalah teknik penulisan (kata, kalimat, paragraf) untuk mempengaruhi konsumen agar mau membeli dari kita.

Copywriting

1 Karakteristik Konsumen

Pelajari karakteristik hadirin konsumen (para pembaca, atau yang menjadi target iklan) tersebut. Framework-nya bisa terdiri dari demografi, psikografi, dan (yang lebih membumi) kebiasaan (behavior).

  • Demografi: usia, tempat tinggal, jenis kelamin, dst.
  • Psikografi: ingin tampil keren, ingin menekuni passion, peran sebagai sandwich generation, dll.
  • Kebiasaan: menggunakan mobile app, aktif di social media, ikut komunitas, dll.

Setelah karakteristik konsumen, kenali dahulu beberapa jenis manfaat yang bisa ditransfer dari seller kepada buyer.

2 Hierarki Manfaat

Manfaat Fungsional, Emosional (termasuk self-expression), Spiritual.

  • Manfaat fungsional adalah manfaat yang didasarkan pada atribut produk yang menyediakan penggunaan fungsional pada pelanggan.
  • Manfaat emosional memberi pelanggan perasaan positif ketika mereka membeli atau menggunakan merek tertentu. Manfaat yang satu ini membuat pembeli/pengguna merasakan pengalaman yang lebih kaya atau lebih dalam tatkala membeli atau menggunakan merek tersebut.
    • Ada satu lagi yang disebut self-expression benefit, yaitu manfaat yang memberikan kesempatan pada penggunanya untuk mengkomunikasikan citra dirinya. Self-expression benefit meningkatkan hubungan antara merek dan pelanggan dengan berfokus pada sesuatu yang terkait dengan kepribadiannya. Manfaat mengekspresikan diri fokus pada tindakan menggunakan produk.
  • Manfaat spiritual adalah perasaan lebih dekat kepada Tuhan (termasuk perasaan mendapat pahala) tatkala membeli, menggunakan, atau berinteraksi dengan suatu merek tertentu.

Ibarat belanja bahan pokok di pasar tradisional, semua menawarkan manfaat fungsional yang relatif sama. Namun beberapa pedagang di pasar, membangun hubungan personal yang lebih akrab dengan pelanggan. Ini adalah salah satu teknik memberikan manfaat emosional.

Contoh manfaat spiritual: perasaan lebih dekat kepada Tuhan yang dirasakan ketika membayar zakat. Dalam hal lembaga zakat, manfaat semacam ini yang wajib dikomunikasikan.

Copywriting harus melibatkan EMOSI. Karena 80% penjualan, melibatkan emosi. Sudah terlalu umum (generic) bila hanya menawarkan manfaat fungsional semata. Harus dikombinasikan dengan manfaat emosional.

3 AIDA Copywriting

Ada teknik menulis dan struktur tulisan yang mempengaruhi konsumen, yang salah satu metodenya adalah AIDA (marketing). AIDA adalah kependekan dari Attention, Interest, Desire, dan Action.

Attention

Target kita adalah mendapatkan perhatian (attention) mereka. Kalau mereka sudah memperhatikan, pilihannya antara 2: berminat atau tidak.

Interest

Berminat (interested) berarti ingin mengetahui lebih lanjut. Jadi dari kita, memang sudah harus melakukan klasifikasi: konten mana untuk mendapatkan perhatian, konten mana untuk menjelaskan lebih lanjut (hanya kepada yang berminat). Kepada yang sudah menerima penjelasan kita, terbagi lagi menjadi 2: berkehendak atau tidak.

Desire

Yang sudah berkehendak (desire) membeli, akan mengecek kembali kemampuan mereka. Hal-hal yang akan dipertimbangkan: berapa harganya (termasuk apakah worth it atau tidak), bagaimana cara membayarnya, dan bagaimana memperoleh produk/layanan tersebut (diambil di tempat, di antar ke rumah, mendapat link download, dan sebagainya).

Action

Action adalah tahap terakhir yang dipikirkan dan dilakukan oleh konsumen. Yakni mengeksekusi (to act) pembelanjaan tersebut. Bentuknya bisa mengisi formulir Purchase Order (PO), membawa barang ke kasir, add to cart kalau di e-commerce, dan lain sebagainya.

4 Hypno Copywriting

Tanpa perlu menuliskan ulang, karena saya sudah setuju dengan apa yang didefinisikan oleh maxmanroe.com mengenai hypno copywriting, berikut ini:

Kata hipnotis mungkin terkadang didefinisikan sebagai suatu perilaku persuasif yang membuat seseorang atau sekelompok orang menjadi tidak sadar dan berada di bawah pengaruh pihak-pihak tertentu. Pun hampir serupa konsep hypnotic writing sebenarnya mengadopsi maksud yang sama, namun dilakukan secara bertanggung jawab daripada teknik hipnotis yang sering dilakukan sebagai metode kejahatan.

Hypnotic writing adalah suatu teknik pemilihan kata-kata yang sengaja digunakan untuk mengarahkan pembaca kepada maksud tertentu. Biasanya teknik hypnotic writing ini digunakan dalam dunia bisnis untuk mengarahkan ketertarikan dan keinginan seseorang akan produk atau jasa tertentu. Hasilnya, penjualan suatu produk atau jasa memiliki tingkat keberhasilan yang lebih tinggi bila salah satu teknik pemasarannya mengandalkan hypnotic writing.

Pemilihan kata dalam teknik hypnotic writing harus dilakukan secara seksama untuk mengarahkan seseorang ke dalam situasi ingin membeli atau mencoba suatu produk atau jasa yang kita tawarkan. Secara ilmiah, hypnotic writing bisa dijelaskan sebagai pemilihan kata-kata yang mampu memicu sekresi hormon endorfin dan serotonin dalam tubuh.

Sekresi kedua jenis hormon ini kemudian memberikan efek perasaan senang pada seseorang. Sehingga rasa senang dan tertarik tersebut membuat seseorang jadi tergerak untuk melakukan atau mencoba apa yang dijelaskan pada sebuah tulisan.

Kalau maxmanroe bilang soal dua hormon, Darmawan Aji bilang ada FILTER KRITIS pada manusia. Hpyno writing harus bisa menembus filter tersebut. Sesuai latar belakangnya, konsumen akan kritis terhadap informasi yang diberikan. Jadi dengan memahami karakteristik audience, akan membantu kita memilih dan menentukan kata yang tepat.

Mudah-mudahan semua informasi tersebut bisa dimanfaatkan ya oleh teman-teman pembaca sekalian. Kalau ada pertanyaan atau pendapat, sangat ditunggu partisipasinya di kolom komentar.

Terima kasih.


Omong-omong, saya masih mempromosikan buku Freelance 101. Berikut ini informasinya: