Homeschooling sebagai Alternatif Pendidikan

Bedah singkat potensi homeschooling sebagai alternatif pendidikan.

Para orang tua kini sedang menimbang opsi homeschooling (HS), termasuk kami. Kalau tidak ada pandemi ini, seharusnya Anak Dua masuk TK. Sehingga dua tahun lagi bisa masuk SD. Namun, kami jadinya menghitung dan menimbang ulang kemungkinan untuk homsechooling dulu dan baru masuk TK di semester berikutnya.

homeschooling

FAQ Homeschooling

Beberapa pertanyaan yang sering diajukan mengenai HS adalah:

  • Adakah HS di kota saya? Di mana saya bisa mendaftar homeschooling?
  • Berapa biaya HS yang harus saya bayar?
  • Bagaimana ijazah anak HS? Apakah anak HS bisa melanjutkan ke Perguruan Tinggi?
  • Bagaimana sosialisasi anak HS?
  • Sejak usia berapa anak bisa HS?
  • Bagaimana standar dan kurikulum HS?
  • Apakah saya bisa melaksanakan HS sambil bekerja?
  • Bagaimana cara memulai HS?

Jawabannya ada di laman berikut: FAQ soal Homeschooling

Fyi, FAQ tersebut disusun oleh Rumah Inspirasi. Suatu komunitas HS yang mendokumentasi dan membagikan panduan dan pengalaman ber-HS. Format output-nya cukup lengkap, kok. Ada IG, email berlangganan, webminar, buku-buku, dan sebagainya.

Bukunya ada 2:

  • 55 Prinsip dan Gagasan Homeschooling
  • Pembelajar Mandiri (putra pertama keluarga Sumardiono)

Dapat dikatakan, Rumah Inspirasi bukanlah sekolah. Para orang tua praktisi HS berkumpul di sana. Saling berbagi online dan offline tentang apa masalah yang dihadapi, serta bagaimana solusinya. Untungnya, dokumentasi yang dibuat sudah ditata-ulang sedemikian rupa sehingga nyaman bagi kita mengkonsumsinya.

Konsumen Jasa Pendidikan

Dalam 5 tahun terakhir memang ada kenaikan pencarian search term atau topic HS. Artinya, banyak orang tua yang membutuhkan informasinya. Namun, apakah semua pencari tersebut mendapatkan informasi yang dibutuhkan, atau mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang dimiliki?

Tanpa bermaksud mengurangi upaya untuk mencari tahu, sejauh ini Rumah Inspirasi sepertinya yang paling konsisten dalam membagikan masalah dan solusi dalam HS.

Saya sendiri bersama istri, masih belum menemukan framework yang tepat untuk merumuskan jawaban apakah homeschooling merupakan alternatif yang benar-benar cocok untuk keluarga kami. Mengapa demikian?

Karena selama empat belas tahun bersekolah dari TK hingga SMA, ada dua hal yang tampaknya membuat kita, mewajibkan diri menjadi “konsumen” institusi pendidikan yang bernama sekolah:

  • Kita belum menemukan solusi lain atas kebutuhan bersosialisasi dan keinginan untuk berjejaring di usia sekolah
  • Bila tidak belajar di sekolah, maka kita tidak/belum mengikuti trend dunia soal “belajar di mana”

Sebagai konsumen jasa pendidikan, sekaligus orang tua yang (berusaha) responsible, tentu kita ingin donk mengetahui needs and wants-nya kita, lalu menetapkan ekspektasi kita terhadap jasa pendidikan yang akan diterima oleh anak-anak kita sebagai peserta didik.

Hal tersebut mendesak untuk kita pahami, demi mengoptimalkan best value dari pendidikan oleh guru di sekolah dan pendidikan oleh ortu di rumah.

Responsible, Accountable, and Consulted

Sejak menjadi orang tua, saya menginsyafi bahwa tanggung jawab (responsibilities) pendidikan –terutama karakter– berada di tangan dan pundak orang tua. Dalam hal ini, ortu bisa mengalihdayakan (to oursource) ke pihak-pihak lain:

  • Sekolah formal
  • Lembaga kursus
  • Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA),
  • Pengajar privat, dll

Keempatnya maupun sejenisnya, merupakan lembaga-lembaga yang bisa diandalkan (accountable) dalam melaksanakan kebutuhan si peserta didik.

Ada pula pribadi maupun lembaga yang bisa dijadikan rujukan atau tempat berkonsultasi mengenai pendidikan anak-anak. Sebutan umumnya Psikolog Pendidikan. Butuh berkonsultasi? Silakan tanya mbah Google, misalnya dengan format “Psikolog Pendidikan” + nama kotamu.

Untuk pendidikan strata satu maupun yang lebih tinggi, ada lembaga Konsultan Pendidikan. Perannya lebih kepada menghubungkan kampus di luar negeri dengan calon pesertanya.

Dengan keberadaan kedua jenis lembaga tersebut, kita sebagai orang tua sekaligus konsumen jasa pendidikan, sebenarnya bisa berkonsultasi mengenai pendidikan yang tepat untuk putra-putri kita.

Mengingat, tanggung jawab kita bukan sekedar menyediakan pendidikan. Tetapi juga meramu dengan cermat jasa-jasa pendidikan tersebut, agar anak-anak dapat menemukan fitrahnya.

Kalau kita benar akan menerapkan HS, bagaimana mengevaluasinya? Sebagaimana jasa-jasa pendidikan dari eksternal pun turut melakukan evaluasi.

Evaluasi Homeschooling

Evaluasi HS juga mengacu pada Standard Nasional Pendidikan.

Bila kita ingin mengacu kepada standard pendidikan di masyarakat, pertanyaan para ortu adalah, kalau tidak belajar di sekolah, lantas bagaimana mengevaluasi proses belajarnya? Via sekolah atau bukan sekolah, tentunya adalah standard minimal yang idealnya bisa dipenuhi para peserta didik, dong?

Jawabannya sudah tersedia di Ujian Paket. Ada tiga macam: Ujian Paket A (setara SD), Ujian Paket B (setara SMP), dan Ujian Paket C (setara SMA). Ujian-ujian ini melengkapi Kejar (Kelompok belajar) untuk masing-masing paket. Modul-modul Kejar bisa diakses di sini.

Apakah peserta kejar (kelompok belajar) paket C tidak ada yang kuliah di kampus ternama? Subjek di buku “Pembelajar Mandiri” di atas, kuliahnya di Universitas Indonesia (UI), kok. Ada juga rekan saya tahun 2004 lalu, kuliah di ITB sampai lulus. Beliau juga lulus dari paket C. Jadi, bukan berarti peserta kejar paket tidak bisa menempuh pendidikan tinggi.

Okay, kembali ke konteks pandemi yang membuat kita mempertimbangkan ulang pendidikan anak-anak di paruh kedua tahun 2020 ini. Yang mana, kita sudah 2-3 bulan terakhir melaksanakan secara jarak jauh (remote) dengan bantuan berbagai aplikasi online.

Tren Online Education

Pandemi Covid-19 ini mendorong kita pada percepatan 4.0 yang memungkinkan segala aktifitas kehidupan bisa dilakukan serba online. Termasuk pendidikan, berikut beberapa bentuknya yang sudah new normal:

  • Sebelum memulai kelas, pengajar bisa berbagi materi bacaan terlebih dahulu. Format bisa docs, pdf, slides, dsb. Peserta sebaiknya mempelajarinya dahulu sebelum mendengarkan penjelasannya.
  • Segala bentuk ceramah, presentasi, penjelasan, dsb. bisa direkam dan diunggah di Youtube, atau podcast. Peserta pendidikan tinggal mendengarkan/menonton.
  • Diskusi atau tanya jawab seputar topik yang dipresentasikan, bisa diselenggarakan di WhatApp Group (WAG), Zoom, atau Google Meet. Bukan sekedar ada siswa bertanya kemudian dijawab oleh guru. Yang tidak kalah pentingnya adalah keberadaan siswa lain dalam tanya-jawab tersebut. Fungsinya, untuk memaksimalkan tanya-jawab guna memahamkan siswa-siswa yang tidak bertanya, serta mengefisienkan peran guru agar tidak menjawab yang sama berkali-kali atas pertanyaan yang sama. Intensitas tertinggi dari interaksi antara guru dan siswa, idealnya terjadi di fase ini.
  • Evaluasi pengajaran kekinian pun sudah bisa dilakukan secara online, lho. Guru bisa menggunakan Google Form, atau sekolah bisa berlangganan aplikasi ujian semisal Edubox.

Penutup.

Pada awalnya, saya bimbang terhadap potensi HS sebagai alternatif pendidikan. Saya yakin, pendidikan bukan hanya untuk anak sebagai peserta didik saja. Pendidikan juga untuk orang tua si peserta. Dan poin terakhir ini yang menghadirkan keraguan saya terhadap konsep HS. Karena waktu orang tua sudah tersita untuk bekerja maupun aktifitas lainya.

Seiring berjalannya saya meriset dan menulis artikel ini, saya menemukan bahwa HS bukan sekedar alternatif biasa, setidaknya untuk saya. Yaitu, HS memang sangat mungkin untuk menggantikan peran sekolah sebagai institusi pendidikan.

The devil is in detail. Tinggal bagaimana menemukan dan meramu eksekusi/pelaksanaan HS yang memang tepat dengan situasi dan kondisi si orang tua, sekaligus bentuk dan metode pendidikan yang mengarahkan si anak (sebagai peserta) untuk menemukan fitrahnya.

Lebaran ala Covid-19

Setelah Ramadhan combo covid-19, kali ini bagaimana Lebaran di pandemi yg sama?

Sejak semalam, yakni di malam lebaran (notabene sudah 1 Syawal), sudah gelisah duluan. Kudu nge-briefing and coaching si Anak Dua. Apa 30 hari yang sudah lewat, dan apa yang akan kita lakukan di pagi harinya (Shalat Ied). Coaching-nya meliputi 8 kali takbir di rakaat pertama (termasuk takbir pertama banget), 6 kali takbir (include setelah bangun dari sujud) di rakaat kedua, dan apa yang dibaca (subhanallah, wa alhamdulillah, wa laa ilaha illahu, allahu akbar).

Kalau bukan Lebaran Covid-19 ini, saya juga gak belajar bahwa ada sunnahnya untuk membaca Al A’la (Sabbihisma rabbikal a’la) di rakaat pertama dan Al Ghashiyah (Hal ‘ataka haditsul ghasiyah) di rakaat kedua.

Masjid RW di RT saya sebenarnya menyelenggarakan Shalat Ied, bahkan sejak beberapa malam terakhir mengadakan tarawih — harap maklum ya, banyak pensiunannya, tampaknya kehilangan pertemanan sekali kalau tidak ‘bermain’ di masjid.

Namun, kami memilih untuk ‘Ied di rumah saja. That’s why saya belajar jadi imam.

Rindu Ramadhan

Jadi, sejak magrib kemarin sampai sholat tadi masih galaw-galaw gitu. Phhysically, Ramadhan memang tidak nyaman ya. Bangun sebelum subuh, masak, makan sahur, harus ditahan sampai beres subuh-an. Bahkan jangan tidur sampai matahari terbit, deh. Bangunnya gak akan enak kalau tidurnya di jam-jam tersebut.

Di sisi lain, bulan Ramadhan adalah satu-satunya momentum dan medium untuk melatih kita meningkatkan intensitas ibadah. Ya lewat tarawih, tilawah Al Quran, iktikaf, dll.

Jelas berat untuk meraih semuanya dalam satu Ramadhan. Setidaknya, kita bisa meningkatkan satu aspek di satu Ramadhan, kemudian aspek lainnya di Ramadhan.

Makanya kita diajarkan untuk berdoa agar tetap dipertemukan dengan Ramadhan tahun depan, ‘kan? Simply karena Ramadhan bisa membantu meningkatkan amal ibadah.

Physical Distancing

Ramadhan + Lebaran di musim pandemi begini memang sangat berbeda rasanya. Sebagai negara bangsa dengan kebiasaan guyub, alias apa-apa kudu bareng, ‘mengekor’ ke satu informal leader tertentu, lebih ramai lebih enak/nyaman, dst-nya, lebaran kali ini terasa sekali sepinya. Dalam skala tertentu, sepi = sedih.

Kalau selama Ramadhan, loneliness untuk introvert seperti saya malah membuat produktif lho. Ngajinya jadi lebih banyak, tarawih gak harus di masjid, dsb.

Tapi beda sekali dengan tahun-tahun sebelumnya di mana kita bisa mudik, puasa, tarawih, dan lebaran bareng dengan keluarga. Crowd attract happiness indeed. But physical distancing keep us apart and make us feel lonely. Buat apa mudik kalau malah menyebarkan virus. Jadinya hanya bisa mengirim doa (and hampers!) dari sini.

Lebaran ini unik di tiap negara. Kalau Indonesia unik dengan crowd dan keguyubannya, maka di negara-negara Arab malah sepi di tanggal 1 Syawalnya. Bahkan, tanggal 2 Syawal langsung menggeber puasa Syawal sepanjang 6 hari berturut-turut. Link Kumparan berikut ini mengulasnya.

Pasca Lebaran

Di New Normal, saya singgung bahwa banyak hal sedang bergeser (shifting). Begitu kuatnya hingga menjadi sesuatu yang biasa/normal.

WFH akan kita jalani dengan fisik yang lebih nyaman. Kapanpun lapar/hausnya bisa makan/minum. Tidak menunggu adzan magrib.

Anak Dua yang mestinya Juli ini mulai sekolah, kayaknya perlu kami tunda dulu. Setidaknya satu semester. Kita kurang paham dampak Covid-19 ke anak-anak ini sebenarnya gimana. Only conservative thinking applied.

Frozen food makin eksis juga. Bagian dari New Normal yang apabila menunggu vaksin saja, paling cepat sedikitnya 2-3 tahun.

Pendapatan yang lebih rendah bagi masyarakat kita, setidaknya juga berlangsung 2-3 tahun ke depan. Implementasi protokol-protokol kesehatan pasti berdampak pada perekonomian. New Normal-nya adalah, membiasakan diri untuk lebih ketat mengelola keuangan.

FYI, perputaran ekonomi dari yang didorong oleh THR untuk mudik, belanja baju lebaran, kirim hampers, adalah perputaran yang sesaat sifatnya. Di sisi lain, sedihanya adalah crowds tersebut akan menjadi bibit-bibit cluster covid-19 yang baru.

Show atau entertainment macam sepakbola di musim yang baru, belum tentu akan dilanjutkan. English Premier League (EPL) sebagai yang paling bergengsi, juga masih bimbang. Makin ke sini, perkembangan antara negara semakin berbeda-beda. Liga Jerman (Bundesliga) termasuk yang beruntung karena tampaknya berjalan baik. Hari ini sudah pekan kedua berjalan pasca pandemi.

Selamat merayakan hari raya idulfitri 114 Hijriyah. Mohon maaf lahir dan batin. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menerima amal ibadah kita di bulan Ramadhan yang lalu, dan semoga kita dipertemukan kembali dengan Ramadhan tahun depan. Aamiin.

NB: Pre-Order buku terbaru saya, “Freelance 101” telah dibuka. Buku ini memperkenalkan topik-topik umum seputar pekerjaan lepas (freelancing):

  1. Ada peluang apa saja untuk menjadi pekerja lepas
  2. Bagaimana cara memulai freelancing
  3. Bagaiaman para freelance beroperasi sehari-hari
  4. Mengatasi tantang freelance banyak sekali
  5. Meningkatkan produktifitas
  6. Kerja jarak jauh

Untuk ikut memesan, silakan tombol di bawah ini:

Harapan untuk Ramadhan Tahun Depan

Ramadhan 1441 H yang akan kita kenang sepanjang masa. Combo-nya dengan Covid-19 menghadirkan experience unik ber-Ramadhan-ria.

Tidak setiap tahun saya menulis tentang Ramadhan, rupanya. Masih ada jejak di blog lama tulisan dengan tag tersebut: My Ramadhan Eating. Itu tulisan tahun 2015. Waktu itu, saya sudah menikah, tetapi masih long distance dengan keluarga. Saya di Jakarta, istri dan anak dua (waktu itu baru 2 bulan banget) di Surabaya. Masih jomblo lokal, lha. Ramadhannya masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya.

Hampir gak pernah menulis tentang bulan puasa, mudah-mudahan bisa saya ingat sebagai “berusaha untuk fokus beribadah”, ya. Instead of Ramadhannya tak teringat dan tak berkesan sama sekali.

Ramadhan yang Unik

Ramadhan tahun ini, tentu akan menjadi Ramadhan yang akan kita kenang seumur hidup kita. Betapa tidak, Ramadhan plus pandemi. Atau sebaliknya. Pokoknya, Combo banget.

Terasa banget kontrasnya, karena di Indonesia yang masyarakatnya guyub banget, bulan Syahrul Quran (bulan yang di dalamnya diturunkan permulaan Alquran) adalah momen kumpul-kumpul. Buka bareng sama si alumni ini dan komunitas itu, tarawih di masjid ini, qiyamul lail (QL) (alias iktikaf) di masjid itu, dan sebagainya.

Kontras sekali dengan ramadhan tahun ini. Yang seakan memerdekakan para introvert yang suka menyendiri. Membebaskan dari aktifitas buka bareng yang gak wajib-wajib amat, atau tarawih yang crowded. Atau mudik yang sesak dan melelahkan.

Sudah seharusnya, kita refleksikan ke ibadah Ramadhan ya. Di bulan latihan yang penuh berkah ini, seberapa mampu kita menaikkan frekuensi dan kualitas ibadah. Saya bermaksud bertanya ke diri sendiri, daripada menanyakan hal tersebut ke teman-teman pembaca sekalian. Peluangnya ada di depan mata ya. Kita tidak kemana-mana. ‘Kan kita sedang physical distancing.

Harapan untuk Tahun Depan

Cukup standard. Meskipun masih ada beberapa hari menuju final, doanya masih sama dari tahun-tahun lalu: semoga dipertemukan dengan bulannya Al-Qur’an di tahun depan. Ini yang pertama.

Kedua, supaya saya dan keluarga lebih khusyuk dan intens beribadah. Mulai dari sekarang dan seterusnya. Untuk semua jenis ibadah.

Bulan suci sebagai “gong” menyediakan momentum yang tepat untuk memotivasi anak dua untuk beribadah. Mulai dari (latihan) wudhu, iqomat, surat pendek (masih seputar tiga qul), bacaan shalat, sahur, puasa dan niatnya, berbuka dan doanya.

Bulan ini hanya sebulan di antara 12 bulan. Masih ada 11 bulan selain bulan ini. Satu bulan ini hanya ‘reminder‘. Perjuangan sebenarnya di sebelas bulan yang lain.

Kalau ada yang salah atau kurang tepat, datangnya dari saya. Sedangkan yang benar hanya dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Bandung, hari ke-23 Ramadhan 1441 H. Mei ke-16, 2020 M.

Hilangnya Sepak bola selama pandemi

Why I love football so much and lost them even more during this pandemic.

Di masa pandemi begini, weekend kita diisi tanpa hiburan. Biasanya hiburan saya seputar sepak bola. Baca preview/prediksi, nonton live, mengulangi highlight, baca review, dst. Ampun-ampun deh kalau sudah jadi fans bola, tuh. Begini ya, Jumat baca prediksi, Sabtu-Minggu nonton, Senin baca review + ulang highlight, Selasa baca prediksi liga internasional, Rabu + Kamis nonton liga tengah pekan, Kamis + Jumat menikmati review liga tengah pekan. Eh tiba-tiba sudah jumat lagi. Siklus berulang demikian rupa sampai dengan pandemi covid-19 datang.

Dan banyak di antara kita merasa kehilangan.

But, why I love football so much?

sepak bola

Pas kapan waktu, gak sengaja main ke mantan blog lama, ketemu beberapa tulisan soal sepak bola. Sedikitnya ada 6 tulisan. Jangan malu-malu untuk klik dan baca ya, hehe. Bukan terlalu sedikit untuk dibilang have no interest. I must admit that I have loved football for almost 20 years.

Awalnya, suka pada umumnya fans bola, lha. Ada pemain dan klub favorit, skill individu, dan lain-lain yang lebih pada aspek teknis invidualnya.

Seiring waktu berjalan, tidak hanya pada tersebut di atas yang menjadi concern dan berlanjut menjadi objek observasi saya. Tapi lebih pada aspek-aspek team play dan bisnis (strategi dan keuangan). Keenam tulisan di atas merefleksikan ke mana interest saya, sebenarnya.

Team Play

Okay, team play salah satu yang menarik. Meskipun gak terlihat di keenam link di atas, ya. Haha.

Football itu mainnya 11 orang di lapangan. Tugas-tugas individu dan tim, hanya dua: bertahan dan menyerang. Mencetak gol ke gawang lawan lebih banyak daripada lawan menjebol jala kita.

Teorinya bertahan itu gampang, kamu dan tim tidak boleh bergerak sedikit pun, jarak di antara kalian harus cukup sempit supaya lawan dan bolanya tidak bisa menembus. Baik dari bawah, maupun atas.

Sebaliknya, menyerang itu mudah dipahami: sebagai kumpulan individu, kalian harus bergerak sedinamis (dynamicity) dan secair (fluidity) mungkin. Supaya pertahanan lawan kebingungan dan mudah ditembus.

Dua teori di atas tampak mudah. Namun begitu dikombinasikan, alternatif dan variasinya sangat beragam:

  • Back (belakang) bisa 3-4 orang.
  • Gelandang (tengah) dari 3-5 orang
  • Penyerang (depan) 1-3 orang.
  • totalnya harus 10 (exclude kiper)

Ketiganya, menuntut klub memiliki pemain dengan spesifikasi posisi tertentu:

  • Tiga orang di belakang, menuntut 2-4 orang bisa bermain sebagai wing back (namanya back, tapi posisinya di tengah/gelandang). Di kanan dan di kiri.
  • Tengah menuntut beberapa jenis posisi: regista (playmaker tapi dari belakang), mezzala (gelandang, tapi bisa jadi sayap, punya power dan pace), trequartista (playmaker yang lebih menyerang), holding midfielder (gelandang bertahan), hingga box-to-box. Saya sebut 5 jenis posisi, padahal kebutuhannya hanya 3-5 orang, dengan total pemain masih 11 orang (termasuk kiper). Jadi berapa orang untuk belakang dan depan?
  • Depan yang butuh 1-3 orang bisa diisi posisi: centre forward, false nine, inside forward, penyerang sayap. Yang disebut ada 4 peran, tapi maksimal hanya 3 orang. Gimana tuh?
  • Btw, posisi-posisi yang mengernyitkan dahi di atas, in total ada 12 posisi. Fyi, tim senior biasanya beranggotakan 33 pemain. Tiga di antaranya sudah menjadi jatah kiper.

Supaya bisa kompak, padat, dan jarak antar pemain sangat pendek, maka garis belakang bisa dinaik-turunkan. Ada yang memilih high defensive line (menuntut taktik semacam tiki-taka jadinya). Ada juga yang memilih direct football plus counter attacking, tapi suka kehabisan tenaga dan konsentrasi jelang akhir pertandingan.

Pilihan yang rumit, bagi pelatih. Tapi merupakan masalah stratejik bagi klub. Mengapa? Kita bahas di berikutnya.

Bisnis

Ada sekitar 33 pemain di tim utama. Sekilas, tampak cukup untuk memenuhi alternatif dan variasi taktik yang sudah disebut di atas. Kenyataannya, pengeluaran perusahaan (klub) untuk mereka semua berkisar 60%-75% dari pendapatan tahunan.

Yes, gaji dan benefit lain dalam kontrak antara klub dengan pemain, sebenarnya sangat-sangat besar pengaruhnya terhadap keuangan perusahaan.

Ingin punya marjin laba yang besar –tersirat di atas, marjin laba sekitar 25%-40%–? Mudah saja, tidak usah punya pemain bintang. Gajinya kecil, kok.

Tapi pemain bukan bintang, tidak signifikan perannya terhadap performa tim. Dia gak cukup populer juga untuk mendatangkan para penonton ke stadion –dan televisi. Hanya stadion yang penuh dan siaran televisi yang mengundang sponsor untuk memberi pemasukan pada klub.

Dari sisi usia, semakin tua seorang pemain, power dan pace-nya semakin menurun. Tapi pemain senior tetap signifikan perannya, meski tidak di lapangan, tetapi di ruang ganti dan tim di internal. In terms of leadership and example/modelling. He must be a role model, as well.

Pemain muda jelas dibutuhkan. Masih kuat, masih cepat. Tapi minim pengalaman. Bukan soal mainnya doang, tapi juga soal mental. Dari sisi usia, kita wajib mengkombinasikan pemain muda dan tua. Tim dengan average age di 28 tahun, sudah ideal banget. Persoalannya, klub gak bisa ideal di sepanjang waktu.

Sebab, sisa kontrak masing-masing pemain berbeda-beda. Ada yang tengah tahun ini habis dan bisa pindah ke klub lain tanpa klub sekarang dapat sepeserpun. Ada yang masih sisa satu tahun dan harus dijual secepatnya dengan harga terbaik. Sisa dua tahun masih menyisakan ketenangan: antara perpanjang (kalau dia main bagus) atau jual (sebelum harganya lebih turun lagi). Di sisi lain, ada yang baru 1 tahun masuk (menyisakan kontrak 3-4 tahun lagi), tetapi belum memberikan performa yang diharapkan.

Technical Director

That’s why butuh direktur teknik (Technical Director). Atau semacamnya. Yang tugasnya menjembatani pelatih yang mengurusi day-to-day tim di tempat latihan dan pertandingan, dengan klub yang menangani scouting, rekrutmen, dan pelatihan pemain muda dalam horison menengah (3-5 tahun). Sponsorship juga stratejik lho.

Di Chelsea, jabatan Petr Cech adalah Technical and Performance Advisor. Tugasnya mirip: menilai dan menganalisis pemain-pemain sekarang (individu dan tim) di mana kelebihan dan kekurangannya serta mengusulkan nama-nama yang potensial untuk direkrut. Baik mengisi celah yang lemah, maupun menggantikan pemain yang pensiun –tidak sampai mencarikan ya; jadi dari database yang ada saja.

Pendapat saya siy, tugas pelatih hanya menentukan siapa yang akan main di lapangan pas weekend atau tengah pekan. Wewenangnya terhadap 33 pemain, sebaiknya dia hanya memberikan saran saja. Kekuasaan harus dibagi-bagi. Supaya tidak terjadi kasus semacam Manchester United pasca ditinggal Sir Alex.

Sponsorship

Sponsorship juga stratejik lho. Sebagian besar kontrak sponsor tuh berdurasi 3 tahun. istilahnya, sekali teken kontrak hari ini, pendapatan klub aman untuk tiga tahun ke depan. Bagaimana dengan tahun ke empat dari hari ini? Itulah tugasnya Commercial Director mencari dan menemukan sponsor di tahun depan. Supaya pemasukan klub bisa meningkat dan stabil pemasukannya.

Bagaimana menjual klub supaya sponsor pada berdatangan dan antri? Permainan harus menarik ditonton, dong. Dan harus sering menang. Kadang, menang aja enggak cukup. Harus bisa juara. Dan yang begini ‘kan, horisonnya tahunan, ya. Menjadi tanggung jawab pelatih dan pemain untuk bermain cantik, menang, dan mempersembahkan trofi. Semua itu untuk apa? ya supaya bisa dijual ke sponsor, donk.

Eksposur klub secara geografis juga menentukan, lho. Kalau cuma bisa main di satu negara, tentu beda dengan yang main di level benua. Makin luas eksposurnya, makin bisa ditawarkan ke sponsor tertinggi.

Komersialisasi sepak bola itu menguntungkan klub. Posisi tawar ada di mereka. Sebab lebih sedikit klub untuk disponsori daripada jumlah sponsornya.

Mudah-mudahan pandemi ini segera berakhir. Kasihan klub, pemain, sponsor dan penonton –yang kehabisan hiburan– seperti saya. FYI, Bundesliga start lagi per tanggal 16 Mei.

Anyway, this is a bit too much. If you have any experience, analysis, or others please provide in the following comments ya! Thank you

Segmentasi Masjid di Indonesia

Pahami segmennya. Analisis targetnya. Petakan strateginya. Demi kemakmuran masjid bersama.

Sudah lama ingin berutak-atik-gathuk soal analisis STP terhadap masjid-masjid di negeri ini. Selama ini, sok sibuk kejar tenggat waktu (deadline) pekerjaan. Nge-blog seadanya seminggu sekali.

Nah, Mumpung lagi Ramadhan 1441 Hijriyah, lagi ingin menindaklanjuti konten lama di blog lama juga: https://ikhwanalim.wordpress.com/2015/07/16/masjidpreneurship/

Dilihat dari perspektif strategic marketing, ada beberapa segmen bangunan ibadah tersebut di Indonesia. Pendekatan primer dalam kategorisasi berikut ini adalah berdasar demografi dan perilaku (behaviour) para jama’ahnya.

Masjid Perumahan

Tentu saja jamaah utamanya warga setempat. Demografinya mengikuti usia perumahan tersebut. Saya lihat, ada dua subkategori. Masing-masing subkategori membutuhkan pendekatan yang berbeda.

Perumahan Baru.

Isinya keluarga-keluarga muda. Dengan anak-anak yang masih kecil.

Materi Islamic Parenting cocok untuk lingkungan tersebut.

Perumahan Lama

Perumahan yang sudah berusia 3-4 dekade. Penghuni utamanya didominasi pensiunan. Banyak kakek-nenek. Anak-anak kecil adalah cucu-cucu mereka. Sedikit sekali keluarga muda.

Masjid Perkantoran

Menurut JK, kantor-kantor boleh membangunnya sendiri. Karena ibadah Jumat masih dilakukan di hari kerja. Untuk mempersingkat jarak dan waktu, kantor boleh menyediakan masjid dan menyelenggarakan shalat Jumat.

Jama’ah segmen kantor nyaris tidak ada anak kecil. Paling tua di usia sekitar pensiun (sebelum maupun sesudahnya, karena masih ada yang dikontrak kerja pasca pensiun). Pemuda-pemudi yang baru bergabung di perusahaan, bisa ditarget dengan materi seputar persiapan pernikahan. Contoh materinya: memilih dan mendidik pasangan menuju keluarga sakinah, mawaddah, dan warahmah.

Masjid Perkantoran
An-Nuur, Masjid Kantor Bio Farma di Kota Bandung

Masjid Pusat Perbelanjaan

Pusat belanja, baik modern atau semi modern, buka di empat (4) waktu sholat. Dhuhur sampai Isya. Tidak heran ‘kan pusat perbelanjaan harus ada tempat ibadah yang cukup secara kapasitas, nyaman digunakan oleh banyak orang secara bergantian, dan buka di rentang waktu yang panjang.

Masjid Pusat Perbelanjaan
Masjid Nurul Iman, di lantai 7 Blok M Square, Jakarta Selatan

Masjid Kampus

Diramaikan oleh mahasiswa, civitas akademika, hingga pedagang-pedagang di sekitar.

Sebelum kehadiran Masjid Salman (1972), warga ITB memanfaatkan Aula Barat untuk melaksanakan Shalat Jumat. Masjid Salman ITB kini memosisikan diri (“positioning“) sebagai “pembina” bagi masjid-masjid lainnya. Infografis berikut menyajikan pembinaan tersebut dalam angka.

Masjid Agung

Selain kapasitasnya yang memang besar, yang biasanya masuk ke dalam klasifikasi ini juga menjadi simbol suatu kota/kabupaten.

Terletak di pusat keramaian dan belanja kota Bandung: Jalan Asia Afrika. http://humas.bandung.go.id/humas/profil/riwayat-denyut-kota-bandung

Pemberian Nama

Nama adalah do’a. Jadi berikanlah nama sesuai dengan kebaikan yang dikehendaki akan terwujud oleh do’a. Selain itu, nama adalah identitas yang menjadikan pemilik nama (termasuk bangunan ibadah umat muslim) menjadi berbeda dari lainnya.

Tidak apa memberi nama dengan nama orang. Maksudnya bukan untuk mengkultuskan orang tersebut. Termasuk ketika dibangun dari wakafnya seseorang. Cek link ini untuk lebih paham https://konsultasisyariah.com/33421-memberi-nama-masjid-dengan-nama-orang.html

Atau beri nama sesuai data-fakta/karakter masjid tersebut. Misalnya, Al-Muhajirin, karena memang menjadi persinggahan sementara oleh orang-orang yang tidak tinggal atau bekerja di wilayah tersebut. Kebetulan, di perumahan saya maupun perumahan ortu saya, nama masjidnya sama-sama Al-Muhajirin.

Cara ketiga adalah memberi nama sesuai dengan nama daerah,seperti misalnya Masjid Jogokariyan. Jogokariyan adalah nama kampung. Bukan ofisial nama kelurahan atau kecamatan. CMIIW.

Yang disebut terakhir ini unik, karena selalu berupaya agar pada tiap pengumuman, saldo infaq hanya setara nol rupiah. Alasannya sederhana, saldo yang sangat besar akan menyakiti saat ada sebagian warga yang sakit namun tak bisa ke rumah sakit karena tak punya biaya, atau ada warga miskin yang tidak bisa bersekolah, dan dan sebagainya.

Ramah Anak

Reposisi dari “masjid yang menganggap anak-anak sebagai pengganggu kekhusyukan beribadah” menjadi “masjid sayang anak”

Selain itu, anggapan bahwa anak-anak tidak boleh berada di shaf depan. Padahal hak ada di shaf depan adalah yang datang duluan, bukan berdasarkan usia.

Pusat Ekonomi

Pencipta keramaian (crowd). Di mana ada crowd, saya yakin di sana ada pasar. Dengan sendirinya, masjid yang ramai adalah pusat perputaran ekonomi. Manajemen wajib berbuat adil dengan tidak mengusahakan suatu kegiatan ekonomi yang sudah dilakukan oleh salah satu jama’ahnya. Contohnya adalah warung makan, minimarket, printing/photocopy, konter HP dan pulsa, busana muslim, percetakan, penerbit, atau kios buku merupakan salah satu usaha riil yang bisa ditempuh dalam rangka membangun kewirausahaan.

Menuju Kemakmuran

Yang utama bukanlah kemegahan bangunan fisiknya. Melainkan kemakmuran di dalam dan luarnya. Segmentasi yang sudah disusun di atas, hanyalah salah satu strategi “pemasaran” menuju kemakmuran masjid yang lebih baik dari waktu ke waktu.