New Normal

Akibat Covid-19, banyak hal di sekitar kita berubah dengan sangat cepat. Jangan cengeng, jangan lupa bersyukur. Mari beradaptasi dengan kenormalan yang baru ini.

Lagi pengen ngomongin #dirumahaja #stayathome

Kenapa? Because it shall pass, too. Sebagaimana proyek-proyek kehidupan pada umumnya. And I would like to document it here.

Yang sedikit-namun-membedakan, proyek ini agak jangka panjang. Dan memunculkan beberapa ke-new-normal-an yang baru. Jadi, bagi saya ini cukup penting untuk saya rekam di blog ini. Biasanya, akan ditengok kembali suatu waktu nanti.

Covid-19 + Ramadhan

Yang paling baru banget terasa adalah kombinasi covid-19 plus ramadhan ini. Kita masyarakat Indonesia ‘kan in many aspects, butuh berkumpul. Karena dengan berkumpul, kita semakin niat dan enjoy melakukan sesuatu. Sahur bersama keluarga, Ngabuburit, BukBer/BuBar, hingga pengalaman Tarawih bareng di Masjid. Yang terakhir ini experience yang dominan anak-anak saja, tetapi juga para orang tua.

Yang terjadi saat ini, detik ini, di bulan ini adalah everything must be done at home. Sahur ya di rumah, tak bisa ke restoran yang 24hours. Work From Home / School From Home, sudah sejak 4-5 minggu terakhir. Semakin ‘New Normal’ lha aktifitas kerja dan belajar di rumah – Iya sih, tidak semua industri dan pekerjaan bisa demikian. Buka puasa tidak lagi bisa di masjid, kafe, restoran, mall, dan sebagainya. Harus di rumah. Kemudian ‘terpaksa’ muncul imam-imam tarawih yang baru di rumah-rumah. Bapak-bapak, maupun anak lelaki di rumah ‘dipaksa’ membuka kembali Juz 30 untuk me-refresh kembali hafalan suratnya. At least, 13 surat berbeda wajib diulang setiap malam. Untung ada ketiga ‘Qul’ sangat membantu. Bukan hanya sang imam yang menarik nafas lega, demikian pula para makmum.

This is hard and hurting. But, life must go on.

Saya cuma bisa bilang ke diri sendiri, “Jangan cengeng. Dan jangan lupa bersyukur”.

Jangan Cengeng, Jangan Lupa Bersyukur

Jangan cengeng ketika hidup memaksamu berubah. Makin besar company-nya, makin dahsyat goncangannya. Restoran dine-in berubah jadi take away + delivery frozen food atau menu siap masak. Beberapa kurir yang biasa berhubungan dengan kami, mulai “menambah” portfolio dagangannya: hape, rumah, susu segar, telur, dll. Rekan yang di-layoff dari konsultan lingkungan, pindah haluan jadi take order + delivery bahan baku masakan.

Sudah kesekian kali WA saya berdering dan salah satu isi yang cukup berulang adalah ketiadaan empati kepada para pengusaha. Pekan ini harus bayar gaji. Satu-dua pekan lagi bayar THR. Dua pekan berikutnya bayar gaji lagi. Padahal usaha sedang morat-marit. Inventory menumpuk. Piutang ditunda bayar oleh customer. Padahal tagihan dari bank masih tetap berdatangan.

Ada lawyer sekaligus pengusaha hotel yang tetap bayar gaji karyawan hotelnya. Padahal kita tahu pariwisata sedang sepi. Alhamdulillah dia punya pemasukan berlebih ya. Suatu kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh masyarakat kita. Mungkin dia termasuk yang rajin bersyukur. Sehingga tatkala diberikan ujian kemelimpahan, tetap mampu melaluinya.

New Normal

Mereka yang merawat para ortu berusia kepala 7 ikut ambil pusing. Musababnya, “pertemanan” para ortu mereka mulai “menghilang”. Tadinya beliau-beliau para kakek-nenek ini happy dengan aktifitas pengajian beserta pada member di dalamnya. Sejak Corona datang, pertemuan offline tersebut berubah jadi zoom meeting. Which is, tidak semua orang mampu. Yang aktif bekerja seperti kita saja merasa zoom lebih melelahkan daripada bekerja biasa, apalagi di usia yang sulit adaptasi dengan teknologi, ya.

Ada yang mengajari saja terasa berat bagi mereka. Bayangkan kalau mereka seorang diri. Tinggal sendiri di rumah (masih lumayan kalau ada ART), jauh dari anak dan cucu, berteman hanya dengan tetangga yang juga masih seusia, dan seterusnya. I realized this. At least, dua teman sekolah, ternyata orang tuanya tinggal satu dan memilih hidup seorang diri saja.

But, It depends, sebenarnya. Artinya, pertemanannya masih ada, kok. Hanya saja, berubah wujud. Ke wujud yang tidak semua orang merasa nyaman dengannya. This is something new and becomes normal: New Normal. Mungkin, kita hanya harus “get used to it” alias mencoba membiasakan diri sejak sekarang agar “merasa” terbiasa nantinya.

Apa yang dialami kakek-nenek tersebut hanya salah satu contoh saja. Di segala tingkat usia, wilayah tempat tinggal, jenis industri, jenis pekerjaan, semua orang sedang mengalami perubahan-perubahan menuju kenormalan yang baru.

Kita bisa mengeluh sih dengan paksaan-paksaan untuk berubah tersebut. Tapi kita juga punya pilihan lain. Yaitu untuk tidak mengeluh dan beradaptasi secepat mungkin. Ingat, wabah ini tidak akan sebentar. Secara ekonomi, dampaknya terasa sampai 2-3 tahun akan datang.

Lebih baik berubah sekarang. Mumpung semua juga sedang berusaha berubah. By the time kita baru mau berubah, sementara dunia jauh berubah, maka kita hanya akan menjadi orang yang tertinggal dan ketinggalan.

Akhir kata, hanya mau bilang, “Jangan cengeng. Jangan lupa bersyukur”. Itu nasihat paling utama untuk diri saya sendiri.

Kalau ada kisah-kisah lain, boleh dibagikan di kolom komentar, ya. Saya janji, akan saya masukkan ke post ini juga.

Strategi Omnilytics selama Pandemi Covid-19

Omnilytics adalah platform data ritel, yang menggerakkan bisnis pengambilan keputusan dengan wawasan yang mendalam dan dapat ditindaklanjuti.

Introduksi

Omnilytics: Peritel busana di seluruh dunia sedang berebut bertahan.  Perdana Menteri Italia Giuseppe Conte mengumumkan pada 21 Maret bahwa manufaktur untuk barang mewah harus dihentikan, sehingga mengganggu industri senilai $ 107,9 miliar dolar ini. Pada saat laporan ini dibuat oleh Omnilytics, pandemi ini telah menyebar di 167 negara, dengan kasus yang dilaporkan meningkat secara eksponensial di negara-negara seperti Italia, Iran dan Amerika Serikat (termasuk Cina, negara di mana pekerjaan alih daya –outsourcing—banyak diterima). Merek-merek seperti seperti Prada dan Ferragamo menurunkan skala produksi untuk mengurangi risiko. Di sisi sebaliknya, penjualan digital Nike mengalahkan prediksi, yaitu terjadi peningkatan sebesar 36%.

Dengan cepat, Zara -pemilik Inditex- mengumumkan turunnya penjualan sebesar 24%. Dikhawatirkan, ini baru puncak gunung es. Dengan pembatalan Musim NBA, penundaan Copa Amerika, dan toko-toko yang dipaksa-tutup di Kanada dan AS, para ahli memprediksi penjualan Under Armor dan Adidas akan suram. Karena kekurangan bahan baku bahan dari Cina, pabrik garmen di Bangladesh, Kamboja dan Vietnam telah ditutup – secara efektif menyisakan jutaan pekerja tanpa sumber penghasilan.

Menurut sebuah survei oleh komite desain Altagamma, perusahaan konsultan BCG dan firma manajemen aset Bernstein, merek-merek mewah akan kehilangan laba sebesar € 10 miliar. Dalam beberapa minggu terakhir, pasar produk-produk mewah telah merasakan dampak dari terlalu mengandalkan konsumen Cina. Rumah mode mewah Prada baru-baru ini mengumumkan bahwa wabah telah “menghentikan lintasan pertumbuhannya”.

Secara global, Cina mewakili 33% konsumen untuk pembelian barang mewah, dan menurut laporan Bain & Company,  proyek pertumbuhan 20% untuk barang-barang mewah di tahun 2018 dan 2019 di Cina. “Orang Cina telah menjadi pembalap tunggal terbesar dalam kemewahan dan mode dalam 10 tahun terakhir, ”kata Pauline Brown, mantan ketua LVMH regional Amerika Utara.

Pasar barang mewah kini harus memikirkan ulang strateginya. Layanan sangat personal –yang menjadi ciri khas– sekarang menjadi lapuk. Dalam pandemi, prioritas berubah. Pauline Brown menambahkan bahwa para konsumen kini semakin fokus pada kesehatan, dan mengurangi belanja barang mewah.

Untuk saat ini, pemain barang mewah mengambil tindakan pencegahan dalam rantai pasokan mereka. Louis Vuitton, Prada dan Ferragamo dilaporkan telah mengurangi produksi guna mengurangi dampak.

Ada 5 (lima) strategi besar dari Omnilytics dalam rangka menyelamatkan usaha, staf, dan pelanggan melewati pandemi Covid-19 yang berat ini:

  • Penstabilan Penjualan dan Pengurangan Inventori
  • Mitigasi Kejutan Suplai
  • Penguatan Operasional
  • Navigasi Pergeseran Pelanggan
  • Peninjuan Kembali Pemasaran

Penstabilan Penjualan dan Penurunan Inventori

Omnilytics:

  • Memaksimalkan peningkatan pengeluaran untuk aktifitas online. Karena toko ditutup atau boleh beroperasi untuk jam yang terbatas, sebagian besar konsumen beralih ke belanja online. Pengecer harus memanfaatkan peluang online ini untuk mengimbangi kemerosotan ritel fisik.
  • Uji distribusi omnichannel secara maksimal. Gunakan periode percobaan ini pada berbagai distribusi saluran. Tetap gesit, memastikan visibilitas penuh pada kinerja penjualan dan secara konstan memonitor penjualan. Tambah atau kurangi biaya pemasaran berdasarkan penjualan yang dihasilkan.
  • Stabilkan inventaris yang mudah berubah level. Banyak pengecer berisiko kekurangan stok karena gangguan rantai pasokan. Dalam situasi ini, pengecer harus menerapkan perlindungan terhadap persediaan yang semakin menipis.
  • Bersikap fleksibel dengan margin keuntungan. Penurunan harga mungkin diperlukan untuk mendorong selera konsumen dan belanja awal.
  • Amankan stok tambahan atau stok strategis melalui pemasok yang baru. Mempertahankan arus kas sangat penting saat ini. Tingkatkan persediaan pada produk-produk inti –seperti t-shirt dan jeans– yang dapat dengan mudah direproduksi bersama pemasok lain.

Mitigasi Kejutan Suplai

Di sisi sebaliknya, baju santai (loungewear) akan menjadi kategori yang potensial sejak mayoritas populasi diperintahkan untuk tinggal rumah. Hal yang sama berlaku untuk pakaian olahraga (active wear). Merek yang bermain di kategori ini, kemungkinan besar invetarisnya akan rendah karena orang akan cenderung berolahraga di rumah.

  • Analisis implikasi jangka pendek dan panjang. Kemungkinan jangka pendek implikasinya termasuk tenggat waktu yang terlewat, tingkat produk yang tidak memadai untuk meluncurkan tantangan baru atau logistik. Implikasi jangka panjang bisa berdampak pada biaya atau masalah dalam perencanaan permintaan. Nilai semua pro dan kontra sebelum mengambil keputusan.
  • Nilai polis asuransi untuk memastikan perlindungan keterlambatan produksi. Ini dapat menghilangkan biaya tambahan terjadi karena logistik dan tarif yang dialihkan.
  • Jelajahi peluang pemasok atau manufaktur yang berlokasi dekat pantai. Meskipun strategi ini dapat berisiko peningkatan HPP, produksi lokal memungkinkan respon yang lebih cepat.

Penguatan Operasional

Dengan masalah saat ini, pengecer akan menghadapi masalah understocking dan overstocking. “Penguatan Operasional” berupaya mengejar posisi di tengah-tengah kedua ekstrim tersebut.

  • Mempersiapkan rantai pasok dan merencanakan “Plan B” yang tepat.
  • Perluas saluran e-commerce segera. Pada saat ini, sumber daya harus diarahkan memperluas kemampuan e-commerce, memastikan platform e-commerce berfungsi penuh, stabil dan dilengkapi dengan alat dan pelacakan yang diperlukan untuk pemantauan kinerja.
  • Mengurangi jam operasi dan menutup toko di daerah pejalan kaki yang kurang ramai.

Navigasi Pergeseran Pelanggan

Pengecer, tergantung pada level mereka melakukan digitalisasi, masing-masing akan memiliki satu set tantangan untuk dipecahkan. Untuk toko pinggir-jalan tradisional, mereka akan memasuki pasar online; untuk pengecer omnichannel, berupaya untuk tetap kompetitif secara online. Merek-merek E-commerce, di sisi lain, akan menghadapi masuknya pesaing lama di lanskap digital.

Acara-acara Run Way banyak yang dibatalkan atau ditunda, sehingga para pemain kehilangan peluang penjualan. Di Asia Tenggara dan Timur Tengah, penyebaran Virus mengganggu Idul Fitri, sebuah pesta yang meriah dirayakan oleh umat Islam di wilayah tersebut. Di Indonesia, para pemain mempersiapkan idul Fitri bahkan sejak setahun sebelumnya.

  • Antisipasi bagaimana konsumen akan bereaksi selama dan sesudah krisis ini. Krisis ini kemungkinan akan menyebabkan resesi global. Sehingga para pemain harus melakukan penilaian ulang terhadap motivasi pelanggan, menyelaraskan diri dengan nilai-nilai pelanggan yang baru, serta membangun ulang loyalitas pelanggan.
  • Antisipasi perubahan nilai. Penelitian dari pemulihan di Cina menunjukkan kesehatan sekarang menjadi prioritas utama. Ini menunjukkan penjualan kelas atas (barang mewah) akan menurun. Sebagaimana fokus akan bergeser ke kesehatan dan kebugaran, maka  kategori active wear adalah peluang paling cemerlang.

Pertimbangkan Ulang Pemasaran

Perubahan yang paling jelas adalah konsentrasi pada digitalisasi, karena semua orang ada di dunia kini bekerja, berbelanja, beraktifitas seputar kesehatan dan kebugaran dengan bantuan online.

Masalah yang lebih besar lagi adalah terbaharuinya selera konsumen. Jika situasi ini bertambah buruk, maka ritel fesyen mungkin tidak lagi menjadi yang paling penting. Terutama untuk individu dan keluarga yang kekurangan uang; mereka akan lebih memprioritaskan pada barang-barang yang lebih esensial untuk bertahan hidup.

Bertahun-tahun ini, kategori barang mewah telah menjadi yang paling lambat mengadopsi e-commerce. Masalah paling mudah ditemukan di dunia online adalah barang palsu dari merek-merek mewah tersebut. Pemain barang mewah kini dilema; sebab berjualan secara online malah menginspirasi peniruan dan produksi barang palsu.

  • Menemukan cara baru untuk terhubung dengan audiens. Bukan hanya harus mereka memperhatikan pergeseran pelanggan dalam cara mereka berbelanja, tetapi juga bagaimana mereka mengkonsumsi konten. Sebagaimana kita ketahui, Run Way sedang minim sekali diselenggarakan.
  • Tampil berbeda di dunia online. Karena mayoritas populasi –dan kompetitor– akan menjadi online, maka tampil dan memberikan penglaman berbeda menjadi sangat penting saat ini.
  • Mengevaluasi anggaran pemasaran dan pengeluaran media. Hentikan pemasaran yang belum mendesak di saat pandemi ini, seperti kampanye dan acara offline.
  • Aktifkan strategi media sosial. Karena sosial distancing dan remote working “mengunci” orang-orang di rumah, maka meningkatkan aktifitas di media sosial menjadi penting. Investasikan kembali anggaran pemasaran offline ke upaya-upaya pemasaran digital.

Mengelola tenaga kerja

  • Kunci untuk selamat dari krisis ini adalah kelincahan dan fleksibilitas dalam organisasi perusahaan
  • Menerapkan kerja jarak jauh dan menghentikan perjalanan bisnis sesuai dengan kaidah-kidah physical distancing.
  • Tunjuk penanggung jawab untuk memberikan informasi dan menjawab pertanyaan staf. Salah satunya dengan membangun komunikasi dua arah langsung antara manajemen dan staf untuk menghindari kepanikan dan kebingungan di antara staf.
  • Temukan cara untuk meningkatkan moral staf. Pastikan kepentingan dan kesehatan karyawan adalah prioritas utama.

Demikian 5 (lima) strategi dari Omnilytics guna menghadapi dan melalui pandemi dan krisis global ini. Omnilytics adalah platform data ritel, yang menggerakkan bisnis pengambilan keputusan dengan wawasan yang mendalam dan dapat ditindaklanjuti.

Alasan Memilih Olahraga Lari

Dari menyukai futsal, tidak pernah berolahraga, hingga jatuh cinta pada olahraga lari.

Malas lari pas masih sekolah, jiwa sosial masih tinggi. Anti-anti individualis. Olahraganya sepak bola. Sama teman sekelas aja. Mainnya di lapangan punya perusahaan.

Sebelah sekolah ada tiga lapangan besar. Macam alun-alun kota gitu, lha. Dipakai upacara bendera sama pemerintah kota (pemkot) pas 17-an. Tapi main di sana engga enak. Namanya lapangan bersama ya, kan. Kudu saling permisi dan tahu “garis maya” antar tim yang lagi main. Tentu, siapa yang duluan datang bisa “atur” luas lapangan yang mereka pakai sebesar apa. Info lebih lengkap, cari #lapanganmerdeka di Instagram ya. Sekarang ramainya dari pagi sampai sore kalau Hari Minggu.

Meskipun kami anak kampung sekolah sini, tetap harus “kulo nuwun” donk. Kan lapangan bersama warga kota. Jadilah kami cari lapangan yang lebih privat.

Olahraga Anak Rantau

Pas merantau demi sekolah lagi, kebetulan ada fasilitas komplit. Lapangan bola ada, track lari juga ada. Rajinnya pas kelas 1-2 aja. Olahraga lari pagi wajib tiap hari Rabu dan Sabtu. Yang setelah sarapan, seringnya malah tidur di kelas. Kelelahan dan kekenyangan. Kelas tiga sudah malas lari pagi/sore. Rajinnya malah main bola di antara Asrama 2 dan Asrama 3. Sampai dimarahi pamong Matematika. Beliau ya ekspektasinya kita rajin belajar pagi-siang-sore-malam. Al Fatihah untuk beliau.

“Kewajiban” olahraga pas kuliah, hanya dua semester. Di semeter pertama (masih per kelas) dan semester kedua olahraga pilihan. Saya pilih renang saja. Yang saya ingat, sebagian besar gaya bebas. Saya hanya mampu gaya katak. Sisanya? Engga pernah olahraga lagi, kecuali 2 (dua) kali main futsal pas semester 8 dan 9.

Sepanjang tahun 2010-2012, ada sekelompok teman kuliah yang biasa main futsal. Itulah olahraga saya selama 2 (dua) tahun tersebut.

Bisa dikatakan, tiga tahun sejak 2012 tersebut, saya hampir enggak pernah olahraga sama sekali.

Healthy Month

Mulai tahun 2015 kalau tidak salah, alumni SMA mulai bikin kontes lari selama sebulan. Larinya masing-masing, tapi harus menyalakan aplikasi onde mande Endomondo. Jadi datanya tersimpan. Kompetisinya antar angkatan. Jadi masing-masing angkatan mengakumulasi mileage (jarak lari) sebanyak-banyaknya.

https://ikhwanalim.wordpress.com/2015/05/04/ikastarun-challenge/

Namanya tahun pertama, ada yang “memaksakan” diri hingga 500-600 km kumulatif selama sebulan. Jelas overtraining. Tidak sedikit yang cedera. Akhirnya di tahun kedua, mulai diatur mileage maksimal per orang. Maksimal per minggu 100 km, maksimal selama kontes adalah 400 km. Semakin ke sini, aturan juga semakin ketat. Misalnya tidak boleh FM (Full Marathon, 42 km) lebih dari sekali dalam seminggu.

Di tahun pertama, saya tembus 100 km lebih saja selama bulan tersebut. Dan itu tidak pernah tercapai lagi di tahun-tahun berikutnya. Lebih karena malas, persiapan (peregangan) dan istirahat yang tidak kalah pentingnya dari lari itu sendiri.

Paling heran sama mereka yang bisa tembus 400km selama sebulan. Jadwalnya sebenarnya tidak yang terlalu gimana-gimana gitu. Habis shalat subuh, langsung cus 7-10 km. Pulang kerja dengan jarak yang kurang lebih sama. Dapatkan HM dan FM masing-masing sekali setiap pekan. Mudah, bukan? Hahahahahahaha (tertawa miris).

Kalau boleh disimpulkan, di tahun 2015 itu lha saya mulai fokus dengan olahraga lari ya.

Alasan Memilih Olahraga Lari

Cukup, cukup. Preambule-nya sudah kebanyakan. Jadi langsung saja ke beberapa alasan memilih olahraga lari:

  • Olahraga yang paling mudah dilakukan. Karena tempat olahraganya cukup di jalan raya atau track lari di pusat kota. Dari kita sendiri, pakaian relatif mudah. Paling gampang, pakai kaos + celana kargo saja. Mau rumit sedikit, kaos lari yang bahannya ringan dan berpori-pori itu. Sehingga keringat cepat menguap dan tidak menambah beban saat berlari. Teman? Tidak harus ada temannya. Dengan teman, malah wajib bikin waktu dan tempat bertemu – bisa sebelum untuk lari bersama atau sesudah lari guna carbo loading bareng.
  • Lari itu sama kayak nge-blog: stress-releasing. Bahasa kerennya: runner’s high. Ini ketika hormon endorfin sudah sedemikian banyak pasca berlari sekian kilometer atau sekian puluh menit, kita akan merasakan “kelegaan” yang luar biasa enak dan nyaman.
  • Menguatkan Jantung. Jantung tuh tidak pernah berhenti bekerja sejak kita lahir hingga meninggal nanti. That’s why dia perlu diberikan latihan secara teratur dan terukur. Teratur artinya rutin. Tidak ada manfaatnya kalau hanya sesekali. Terukur artinya ada target minimal dan maksimal yang harus dicapai mengikuti hasil latihan sebelumnya.
  • Running is lonely sport. Dari preambule sebelumnya, saya belum cerita ya kenapa saya bisa dibilang stop main futsal? Because it is a team sport. Sama seperti basket, sepak bola dan olahraga tim lainnya. Kamu tidak boleh berhenti berlari karena teman kamu satu tim, butuh kamu untuk berlari. Di sepak bola, bukan hanya yang mendribel bola yang berlari, tetapi yang tidak sedang memegang bola bahkan wajib bergerak lebih cepat dan lebih jauh. Istilah populernya off-the-ball movement.
  • Me-time. Sebagai pekerja kantoran, ayah dan suami, I almost have no time. Jadi salah satu me-time saya itu ya berlari ini. Pikiran saya bisa bebas berkeliaran tanpa perlu memikirkan, menganalisis atau memutuskan sesuatu, ya ketika berlari ini.

Event Lari

Begitulah teori-teori mengapa memilih olahraga lagi. Tapi saya juga belum sekonsisten itu meski sudah sejak lima tahun lalu. Buktinya saja, setelah PSBM 2019 yang HM itu, saya belum pernah lari lagi hingga Sanlex Mewarnai yang 10 km. Padahal jaraknya kurang lebih 5-6 bulan. Sudah untung bisa finish (tanpa pernah latihan) di event lari akhir tahun tersebut. Saya sudah janji ke Anak Dua, untuk gak memaksa diri dan pulang dengan selamat. Bukan dipulangkan dengan diangkut.

Tahun 2018 sempat ikutan Ultra Marathon. Total sekitar 200 km tapi dibagi ke 16 peserta. Saya kebagian hampir 10 km dari Rajamandala di Kabupaten Bandung Barat (KBB) menuju kota Bandung. Entah apa yang saya pikirkan untuk ikut event tersebut. Sudah bayar sekitar 200ribu-300ribu, larinya malam (saya kebagian ba’da magrib) di jalan raya besar yang lampu jalannya saja belum ada, tanpa ada pengawalan, berikut probabilitas dibegal dan lain sebagainya.

Menyesal sih, tapi belum tentu ditolak kalau diajak lagi. Hehehe. Qadarullah, saya sakit pas hari-h di tahun 2019-nya. Sehingga tidak ikut tim manapun. Tahun ini event tersebut juga terancam tidak jadi karena wabah Covid-19 ini.

Biaya Olahraga Lari

Olahraga lari relatif murah. Tapi kalau sudah jadi hobi, kayak ngeblog, sangat bisa menjadi olahraga mahal. Sepatu untuk olahraga, Rp100ribu pun dapat. Tapi kalau mau sepatu yang proper, bisa di angka Rp400ribu. Itu bukan yang paling mahal ya. Masih bisa berjuta-juta rupiah untuk sepasang sepatu lari. Sepatu untuk lari di kota, tidak akan memberikan kinerja lari yang maksimal kalau dipakai untuk trail run, alias lari-lari di perbukitan, gunung, yang alamnya naik-turun dan tanahnya bervariasi dari pasir sampai batu.

Belum termasuk “kecandungan” event lari. Pocari Sweat Bandung Marathon (PSBM) menghargai Half-Marathon, 21 km sekitar Rp500ribu. Itu baru event City Marathon ya. Yang katakanlah, masih di sekitar tempat tinggal. Bayangkan kalau larinya di Bali (Maybank Bali Marathon, MBM) atau BorMar (Borobudur Marathon) yang harus naik pesawat ke Jogja, cari penginapan, dan lain sebagainya. Belum termasuk Marathon di negara lain ya.

Dengan kata lain, tidak ada batas harga untuk perlengkapan dan event lari. Sky is the limit.

Ibarat event lari, sejak awal saya menulis post ini saya mencoba “bergerak” terus tanpa henti. Pokoknya gak boleh diam. Harus bergerak terus, minimal jalan. Kalau ada sedikit energi atau semangat, harus dipaksa berlari lagi. Dan dengan demikian, sooner or later, garis finish akan tiba di hadapan dan siap kita rengkuh.

Demikian pengalaman saya soal lari, kalau kamu ada pengalaman menarik juga soal berlari, mohon dibagikan di kolom komentar di bawah, ya!

Marketing to Gen Z

Milennial (atau disebut Generasi Y) lahir di antara tahun 1980 – 1994. Sedangkan, Generasi Z lahir di antara tahun 1995 – 2012. Milennial sudah memiliki anak; bahkan anak-anaknya sudah belajar di SD. Sedangkan Gen Z baru memasuki dunia kerja. Tulisan kali ini membahas tidak hanya bagaimana memasarkan kepada Gen Z yang kantongnya mulai tebal. Tetapi juga bagaimana bekerja bersama mereka di dunia kerja.

Generasi Milennial saat ini banyak yang sudah berusia lebih dari 30 tahun. Banyak di antaranya yang sudah menikah dan dikaruniai putra-putri. Secara umum, tentu saja mereka sudah lebih matang (bijaksana) dalam menjalani hidup. Punya lebih banyak dimensi dalam kehidupannya ketimbang Generasi Z: dimensi karir dan pekerjaan, keluarga dan rumah tangga, hobi dan hiburan, serta lain sebagainya.

Sedangkan Generasi Z paling tua, baru saja memasuki dunia kerja. Ada juga yang masih SMP-SMA. Tergantung dari mana anda mengambil referensi. Tentu saja, kebanyakan di antara mereka belum menikah. Jadi, kebanyakan masih memikirkan diri masing-masing saja. Sekalipun sudah memiliki calon pasangan resmi.

Generasi Milennial seperti saya masih mengenal kaset pita, walkman, dan mendengarkan musik via radio tape. Jadi kami adalah pendatang di dunia digital (digital immigrant). Berbeda dengan generasi yang lebih muda dari kami, mereka sejak SD bahkan sudah bersentuhan dengan dunia digital. Tidak heran mereka seakan-akan adalah penduduk asli digital (digital native).

Karena kami adalah pendatang, sementara mereka adalah penghuni asli, tentu saja mereka lebih lama menghabiskan waktu harian di dunia digital. Kami mungkin hanya 7,5 jam per hari. Mereka bisa sampai dengan 10 jam per hari.

Generasi Milennial bersikap optimis terhadap masa depan. Tidak heran banyak yang memilih berwirausaha atau berjuang di startup, ‘kan? Secara umum, karena kami (karena saya termasuk di dalamnya) dibesarkan dengan “hanya” krisis tahun 1998. Sisanya, ekonomi bertumbuh stabil.

Gen Z

Beda dengan Generasi Z yang lahir di sekitar krisis yang sama, dan 10 tahun kemudian mengalami lagi krisis tahun 2008. Beberapa di antara mereka bahkan lulus dari perguruan tinggi tanpa mengalami yang disebut wisuda. Corona hurts everything, including graduation. Mereka kemudian cenderung pragmatis dalam menyikapi kehidupan. Yang realistis-realistis sajalah.

Karena hidup sudah sulit untuk diapa-apakan, alias tinggal dijalani dengan prinsip “let it flow”, maka Gen Z lebih memilih konten hiburan di dunia digitalnya. Aplikasi yang membantu adalah Instagram, Youtube dan TikTok. Beda dengan Milennial yang optimis dan mau berusaha lebih (go extra mile) demi masa depan, maka aplikasi yang rutin digunakan adalah Facebook, Linkedin, dan Twitter. Kami Milennial siap “bertempur” dengan gagah berani di TwitWar.

Pada dasarnya, kedua generasi memiliki banyak kesamaan. Anda bisa saja melakukan satu stategi pemasaran yang ditujukan untuk kedua generasi. Akan tetapi, kalau Anda bersedia meluangkan lebih banyak waktu, pemasaran yang lebih spesifik untuk masing-masing generasi akan menghasilkan output yang lebih optimal.

Khusus untuk Gen Z, berikut adalah beberapa karakteristik mereka:

Phygital

Physical and Digital. Artinya, melakukan pendekatan terhadap generasi ini wajib secara fisik maupun digital. Karena bagi mereka yang lahir ketika internet sudah ada, digital adalah bagian dari realitas fisik. Awareness kekinian dibangkitkan via website, app, dan social media. Sedangkan pertemuan fisik memperdalam engagement. Kombinasi keduanya pasti powerful.

Hyper-Customisation

Melakukan penyesuaian (to customise) identitas dalam setiap bentuk komunikasi. Karena Z adalah generasi yang memiliki banyak identitas. Dan cenderung untuk  mengekspresikan beragam identitas tersebut.

Menurut buku Generation Z, oleh David and Jonah Stillman, Gen Z adalah generasi terbaru yang bisa diajak diskusi dan bekerja sama guna merumuskan nama jabatan dan uraian pekerjaan (job description). Okay, tentu dari company ada arahan stratejik dulu tentang analisis kebutuhan SDM. Nah, bersama Gen Z yang melamar pekerjaan dan mengisi posisi tersebut, keduanya bisa didiskusikan dan dikembangkan lebih lanjut.

Kedua pihak, perusahaan dan individu yang bersangkutan akan menerima manfaat masing-masing. Bagi perusahaan, kepemilikan (ownership)  atas pekerjaan dan perusahaan akan muncul dari sang pekerja. Ini membantu meningkatkan retention rate. Di samping itu, ini merupakan bottom-up approach dalam mengembangkan organisasi perusahaan (ilmunya adalah organization development). Dari sisi karyawan, hal ini merupakan bagian dari pengembangan karir mereka sendiri.

Realistic

Pragmatis dalam mengeksekusi idealismenya; realistis terhadap kelemahan (weakness) maupun ancaman (threat) yang ada. Ingat, tahun 1998, 2008, dan 2020 adalah tahun-tahun yang berat. Bersikap realistis adalah cara yang paling waras dalam menjalani hidup.

Fear of Missing Out (FOMO)

Hidup cuma sekali. Banyak kesempatan hadir di hadapan. Kalau tidak FOMO, semua yang menggiurkan tersebut bisa terlewatkan. Contoh lain: memiliki usaha atau pekerjaan sampingan di luar pekerjaan kantor. Double, or even triple role, are okay.

Self-Encouraged

Hidup semakin berat; generasi ini mengambil sikap menjadi lebih kompetitif. Oleh sebab itu, mereka terbuka terhadap perubahan. More competitive and open to change. Supaya bisa keduanya, harus bisa meng-encourage diri sendiri.

Do-It-Yourself

Jejak tradisional (traditional path) yang ditinggalkan oleh generasi yang lebih lawas tidak wajib diikuti. Toh, panduan atau tutorial sudah banyak tersedia. Salah satunya dari YouTube. Lakukan semuanya sendiri atau bersama sahabat terdekat.

We-Economist

To contribute to society/environment. Jika institusi/brand kamu turut berkontribusi untuk sosial-kemasyarakatan atau lingkungan hidup, maka mereka lebih berminat untuk membangun relasi dengan kalian. Di samping itu, generasi ini lebih suka berbagi dalam berbelanja dan menggunakan. Alias ekonomi berbagi (sharing economy).

Demikian beberapa ciri khas Gen Z. Awalan ini bisa jadi panduan dalam memahami mereka lalu menyusun strategi. Sangat-sangat berminat untuk mengetahui pendapat kamu. Mohon dibagikan di kolom komentar, ya.

Referensi:

Lupa Lapar

Begitu melimpahnya makanan (di semua ruang dan waktu) sampai lupa bahwa ada mekanisme di mana menurunnya volume makanan di dalam perut yang kemudian mengirim sinyal ke otak bahwa kita sedang lapar. Ada juga sejarah awal mula lahirnya Lunch dibahas di sini.

Makanan (rasanya) ada di mana-mana. Di kantor banyak snack+minuman sachet. Pulang dari masjid (dekat kantor) melewati minimarket merah. Karena di jalan raya besar penghubung bagian utara-selatan kota, maka jalur tersebut ramai pedagang makanan. Tenda maupun warung makan. Paling banyak tentu yang gerobak-an. Mereka cari nafkah di sana, salah satunya karena ada Rumah Sakit negeri yang menopang warga satu provinsi berjumlah penduduk terbesar di negeri ini.

Di rumah juga ada makanan. Di kulkas, hampir selalu ada bahan makanan. Minimal telur ayam, deh. Alhamdulillah selalu ada rezeki untuk dibelanjakan bahan pangan. Di meja makan setidaknya ada abon (daging) sapi. Stok beras ada terus.

Pasar relatif dekat dari rumah. Bolak-balik lima ratus meter. Saya gak pintar masak. Tapi untuk tumis-menumis bisa lha. Apalagi hanya sekedar masak nasi (kan sudah ada rice cooker) dan goreng-menggoreng. Bosan sama lauk? ada toko frozen food dekat rumah. Kami sendiri beli/produksi-jual kebab, siomay, dan batagor. Semuanya frozen.

Begitu mudahnya menemui makanan; sampai lupa rasanya lapar 😀 Bahkan angka timbangan pun lupa juga untuk turun 😀 😀

Fasting

Padahal kalau mengingat mereka –yang seharusnya kita teladani segala perkataan dan perbuatannya– memberi contoh intermittent fasting dua kali sepekan. Konon katanya, malaikat nge-jurnal amal perbuatan kita di tiap dua hari tersebut. Jadi pas banget jurnal amal tersebut mau di-submit, pas ada catatan bahwa kita sedang berpuasa. Ada lagi yang beratus tahun sebelumnya, mencontohkan sehari makan sehari tidak.

Dari kedua manusia yang sangat mulia akal dan perbuatannya tersebut, tentunya berarti puasa adalah suatu aktifitas yang sangat mendatangkan kesehatan pada kita. Ini pengingat juga ya, karena Ramadhan 1441 Hijriyah tinggal 21 hari lagi. Simak kesimpulan suatu penelitian berikut ini:

Puasa merupakan cara yang terbaik untuk membersihkan racun yang tertumpuk di dalam tubuh ataupun racun yang baru masuk melalui makanan yang terkontaminasi. Karena ketika berpuasa, zat beracun yang tersimpan berpindah ke hati dalam jumlah besar. Disanalah zat-zat tersebut mengalami oksidasi (peristiwa pelepasan elektron, baik melibatkan oksigen ataupun tidak) dan bisa dimanfaatkan dengan mengeluarkan unsur racun dari zat-zat tersebut. Maka hilanglah racun yang ada dan langsung dikeluarkan dari tubuh melalui saluran pembuangan.

Ulfah, Zakiah. 2016. Manfaat Puasa dalam Perspektif Sunnah dan Kesehatan. Medan: Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam Universitas Islam Negeri Sumatera Utara.

Dalam agama saya, disyariatkan bahwa puasa hendaknya dilakukan sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Karena ini merupakan waktu-waktu di mana seseorang sangat aktif –jadi bukan berpuasa di malam hari ya– dimana proses kerja tenaga yang tersimpan dalam bentuk lemak dan glikogen juga terjadi di siang hari. Terus, otak diberi makan dari mana? Dari pemecahan dan penaikkan glukosa dalam darah hasil pemecahan di organ hati.

Lunch

Bicara soal timeline makan yang pagi-siang-malam itu, konon makan siang itu baru ada di sejak masa revolusi industri, lho. Produksi massal mulai jadi bisnis yang baru dan membutuhkan mass employee juga. Jadwal dibuat: jam masuk, lama kerja, jam pulang. Tidak terkecuali kuota waktu khusus makan siang. Jadi, makan siang sebenarnya baru ada sejak revolusi industri.

Saya sebisa mungkin menuruti suara hati perut. Tatkala lapar, baru cari makan siang. Namun, tidak semudah itu, Ferguso. Seringkali, lelah dan jenuh dengan pekerjaan sejak pagi, yang kita cari adalah obrolan hangat dengan rekan-rekan. Dan itu adanya sembari makan siang. Jadilah, dengan pura-pura sangat terpaksa, ikut beli dan makan siang bersama rekan-rekan XD. Sambil mengelus perut yang tidak kunjung mengempis.

Ada satu filosofi makan yang menarik dari teman saya. Masih di kantor yang sama. Bahwasanya mengusahakan untuk makan mengikuti jadwal. Kalau ditanya kenapa, orang-orang yang saya temui biasanya akan menjawab ada sakit maag, menghindari munculnya maag, dan seterusnya. Berbeda dengan filosofi si teman yang ternyata “sekedar” mengusahakan keteraturan saja. You know ya, beberapa orang memfokuskan pikiran dan energinya untuk hal-hal lain yang lebih dia prioritaskan. Sehingga, di luar itu, dia berusaha seadanya saja, sekedarnya saja, atau ikuti saja jadwal yang ada.

Paradoks

Di tahun 2016-2018, menurut riset ADB dan IFPRI, ternyata 22 juta orang di Indonesia menderita kelaparan kronis. Jumlah penduduk 2018 secara data Ditjen Dukcapil pada Triwulan II 2018 mencapai 263,9 juta jiwa. Jadi ada sekitar 8% penduduk yang menderita kelaparan kronis.

Mari bersyukur apabila kita tidak termasuk satu di antaranya.

Dari sisi ketahanan pangan, akses tidak merata terjadi di Indonesia. Dan kerawanan pangan tetap menjadi masalah. Sebab, Indonesia menempati urutan ke-65 di antara 113 negara dalam Indeks Keamanan Pangan Global (GFSI) yang diterbitkan oleh EIU [Economist Intelligence Unit]. Untuk diketahui, GFSI ini terdiri dari 3 (tiga) komponen: keberdayaan konsumen untuk menjangkau/memperoleh makanan (affordability), ketersediaan suplai pangan secara nasional (availability), dan kualitas serta keselamatan (quality & safety) pangan itu sendiri.

Key Take Away

Balik ke cerita awal. (Gedung) kantor saya sekarang berpindah ke daerah yang lebih sepi. Daerah pabrik. Praktis, warung makan maupun toko/minimarket yang terjangkau sama kami, berkurang drastis. Mau keluar pikir-pikir dulu, karena jaraknya gak dekat. Jajan jadi lebih terkendali. Dompet jadi lebih sehat.

Apalagi di tengah-tengah pandemi corona seperti sekarang ini. Saya menuruti ibu direktur keuangan dan pembelanjaan (finance and purchasing) di rumah soal apa dan di mana beli makan. Beliau berprinsip untuk (sementara) menahan diri dulu dari belanja yang-siap-makan (readytoeat). Lebih baik beli dari katering yang mengirim bahan mentah saja, atau ke pasar tradisional sekalian.

Ini ceritaku tentang Lupa Lapar. Kalau kamu ada cerita apa? Share di kolom komentar, ya.

Reference: