Double Espresso

Kami sudah lama tidak bertemu. Seorang anak SD bahkan bisa menamatkan SMA selama kami tidak bercengkrama sama sekali. Di suatu sore yang mendung ini, kami bersepakat “reuni” lagi. Kurang pas disebut reuni. Karena hanya berdua, di tempat yang itu-itu lagi. Sebuah toko buku yang merangkap kafe kecil.

Ku hampir kuyup tatkala tiba di sana. Untung hanya gerimis. Deras sedikit, dan lebih lama sedikit, maka jalan besar itu pasti banjir. Dan warga kota akan memaki-maki sang gubernurnya.

Kupikir, aku yang akan menunggu. Seperti biasa, seperti dulu. Di luar dugaan, dia duluan sampai. Bahkan sudah bosan, katanya. Ku terkejut. Cukup waktu untuk menghabiskan double espresso rupanya jarak kedatangan kami. Kuputuskan nanti sajalah melihat buku-buku di rak best seller di toko tersebut. Barangkali dia bahkan sudah bosan menunggu.

“Kau tak melihat-lihat ke dalam?”, tanyanya. Ku menggeleng. Tersenyum.

“Baru pekan lalu aku ke sini”, balasku. “Tentu koleksi best seller-nya tidak berubah banyak. Kau? Apa yang kau beli?”

“Tidak ada. Bosan aku dengan novel. Padahal ku ingin cerita baru”, Dia membalas sambil menghela nafas.

“Kau ingat penulis best seller yang karakter prianya akan dibuat taman itu? Yang karakter perempuannya baru difilmkan. Dia menulis roman yang baru, lho”.

“Ku ingin membaca cerita. Tidak mau roman. Tidak cinta yang dimurah-murahkan.”, Dia menjelaskan.

“Kau berubah. Mengapa? Dulu tergila-gila dengan teenlit dan chicklit. Rak bukumu lebih penuh keduanya daripada buku pelajaran”.

“Pada suatu waktu lalu, ku tersadar. Untuk apa kita menikmati cerita orang lain? Padahal kita sangat berhak menulis cerita kita sendiri”.

“Maksudmu?”

“Ku tidak ingin seperti beberapa orang teman sekolah kita. Berprasangka dirinya lah yang dikisahkan dalam novel-novel tersebut. Merasa dirinya sama dengan karakter dalam fiksi. Padahal, huh, itu kan hanya kebetulan semata.”

“Iya juga, sih. Tapi… Itu kan hanya cerita. Kita bisa memilih jadi penikmat sekaligus korban, atau sekedar membaca, kemudian merancang romansa kita sendiri.”

“Persoalannya adalah, aku menjadi terbawa seperti karakter perempuan dalam fiksi-fiksi itu. Dan itu bukan sesuatu yang kuinginkan.”

Keramahan pelayan kafe membuyarkan lamunanku, “Mau pesan apa?”

Ku terkesiap. Terkejut. Membuyarkan lamunanku. kemudian ku terdiam dan merenung lama setelah dia berkata begitu. Ah, jangan sampai kami hanya mengobrol di sini tanpa membayar barang sedikit.

“Saya Latte saja, mas. Pakai gula merah ya. No sugar. Kau?”

“Double espresso saja, Mas”.

“Pesananmu tidak berubah ya, timpalku. Tambahlah menu yang lain.”

“Dia menggeleng. Nanti dulu”, katanya.

Pelayan kafe menuliskan pesanan. Setelah mengulang pesanan, dia memohon menunggu, lalu segera beringsut dari hadapan.

Ku membuka topik yang baru. “Jadi, sesaat setelah kejadian itu, apa yang kau lakukan?”

Ku menyebut “itu” tanpa spesifik menyebutkan. Mestinya dia langsung paham arah pertanyaanku.

“Kau tahu, ku mencarimu. Tapi kau menghilang”. Dia memulai cerita.

“Maafkan, aku sedang sibuk dengan masalahku sendiri saat itu”. Kuharap dia mengerti.

“Tidak apa. Kemudian, ku berbagi kesedihan. Dengan seseorang. Yang lebih punya waktu daripada kamu. Singkat cerita, aku sudah move on dari kejadian itu.”

“Ku percaya, waktu akan menyembuhkan segalanya. Kamu akan melanjutkan hidupmu. Dan sedikit demi sedikit, kamu akan lupa pernah mengenal dirinya.”

“Tapi… bukan itu masalahnya.”

Permisi, ini pesanannya sudah datang. Pelayan kafe menginterupsi. Untungnya bukan di bagian yang paling tidak boleh tersebar. Apalagi sampai viral. “Satu latte with brown sugar ya. Sama satu lagi double espresso.” Pasca meletakkan minuman, dia beranjak pergi.

Huft…, pikirku. Untung si pelayan itu tidak sempat mendengarnya. “Tapi apa?” Ku mendesak.

“Dia.. dia datang lagi.”

“Hah? Sejak kapan?”

“Sudah beberapa minggu ini dia menghubungi. Awalnya tidak ingin kujawab. Tapi dia bersikeras.”

“Begitu ya. Mengapa? Mau apa lagi? Dia sudah menikah.”  

“Iya, tapi ternyata mereka berpisah. Aku jadi bingung harus bagaimana.”

Ku terdiam. Pelik juga ya, pikirku.

“Ku pikir, setelah kamu move on itu, kamu tidak pernah mengingatnya lagi.”

“Memang. Itu dia masalahnya. Ku sudah memberi jarak. Pikiran dan perasaanku tidak lagi ke dia.”, Dia terdiam sejenak. “Tapi, ku belum pernah dekat lagi dengan siapapun sejak dengannya. Ku kira, bertemu denganmu bisa sedikit menemukan pencerahan”.

“Rumit”, tanggapku cepat.

Dia diam sesaat. “Ku cukup yakin punya opsi untuk melanjutkan yang dulu; dengannya”, lanjutnya. Kemudian dia diam lagi sekian detik.

“Tapi apa? Pasti ada tapinya, ‘kan?”, ku mengejar.

“Bagaimana jika harus berpisah lagi? Dulu, dia yang pergi. Ku takkan tahan jika dia memilih pergi lagi. Lagipula, ku belum tahu mengapa Dia dan istrinya berpisah.”, setengah terisak Dia menjelaskan.

“Kau tidak perlu sedih. Apalagi sampai menangis. Apa yang memang untukmu, tidak akan pergi darimu. Dan yang bukan untukmu, tidak akan sampai padamu. Bukan begitu?”

“Iya, tetapi..”

“Mungkin kamu hanya butuh waktu.”

“Aku tidak tahu apa aku punya cukup waktu”.

“Maka berilah waktu.”

“Berapa banyak waktuku harus kuhabiskan lagi? Ku sudah menghabiskan bertahun-tahun menunggunya. Cukup untuk menyelesaikan cicilan motor dilanjut cicilan mobil.”

“Entahlah. Pikirkan kemungkinan bahwa, kalau kamu terburu-buru, maka kamu tidak sempat mengetahui apa kalian benar-benar pasangan yang tepat atau tidak.”

“Maksudmu?”

“Mungkin kalian cocok, tetapi kalian berada di waktu yang salah.”

Dia segera menenggak double espresso-nya yang sangat pahit itu. Tanpa diguyur segelas air putih yang menyertai pesanannya. Kupikir, itu lebih terasa manis baginya. Daripada kalimat terakhirku barusan.

Mengapa Millennial Memilih Bekerja di Startup?

Nyata sekali millennial cenderung bekerja di startup. Tulisan kali ini coba otak-atik gathuk menjawab fenomena tersebut.

Saya termasuk millennial. Meski bukan core of the core-nya, tapi termasuk angkatan-angkatan awal. Sebagai angkatan awal, saya pernah lho nyoba warnet di mall. Saking belum menjadi magnet independen, warnet nya masih numpang di mall, lho. Itu juga banyak gagalnya buka web AC Milan. Lebih lama nunggunya daripada bacanya. Sempat juga merasakan internet di rumah sendiri. Tapi kalau internet menyala, telepon rumah gak bisa dihubungi. Dan habisnya bisa Rp500ribu per bulan. Pastinya angka segitu lebih bernilai daripada angka segitu saat ini. Wkwkwk.

Di tahun-tahun saya kuliah, internet sudah lebih terjangkau. Belum sampai di hape, memang. Tetapi warnet sudah banyak, harganya lebih ramah di kantong. Cuma, kontributor di internet yang belum banyak. Jadi mau cari apapun, banyak yang belum ada. Pernah punya akun Friendster, tapi saya lebih aktif di facebook (padahal lebih baru tapi lebih cool) karena mainnya lebih enak. Akhirnya saya juga lebih banyak “bersembunyi” di blog. Facebook maupun Twitter, terasa terlalu hingar-bingar.

Too much information, kayaknya. Oke, back to topic.

Instant dan Tidak Sabar.

Alasan pertama, Millennial itu suka yang instant. Teknologi digital menyebabkan user-nya tidak bisa sabar dan selalu ingin mendapat response cepat — seperti menerima response setelah melakukan satu kali klik beberapa milisecond yang lalu. Demikian pula dengan target-target dalam hidup—termasuk karir. Millennial ingin target karirnya segera terwujud. Tidak sabar menaiki tangga korporasi. Memilih bergabung dengan perusahaan yang masih kecil. Atau, mendirikan usaha sendiri. Kita tahu, kedua macamnya bisa disebut sebagai startup, ‘kan?

Social media berperan besar dalam hal ini. Kita millennial takut untuk ketinggalan. Ya ketinggalan mengkonsumsi/menikmati, maupun terlibat dalam ikut membuatnya. Sebutannya FOMO (Fear of Missing Out). Takut untuk tidak perform, tidak deliver dan membuat impact. Startup memberikan kemungkinan untuk mengelola banyak hal, menciptakan pertumbuhan, dan membuat impact yang bisa dipamerkan di social media.

Yang jelas, social media harus disikapi secara bijak. Segala konten dan cerita di dalamnya, mungkin memang terlihat bagus, baik, positif dan seterusnya. Namun kita harus terus mengingatkan diri kita bahwa everybody has their own struggle. Yang kita lihat di social media nya tentu yang indah-indah ya. Pastinya, dia juga punya perjuangannya sendiri.

Optimis

Mungkin, millennial merasa hebat? Yang jelas, millennial itu optimis. Pekerja tertua millennial sekalipun mungkin baru 20 tahun berkarya, ya. Sudah banyak yang experienced, tapi ada juga yang baru 2 tahun experienced (Millennial terakhir lahir tahun 1996).

Di era digital seperti sekarang, data, angka, dan fakta ada di semua lini kehidupan (dan bisa diakses, tentunya). Tidak seperti dulu, tidak semua orang tahu, karena tidak semua dibuka, disebar dan bisa diakses.

Sekarang, dua-tiga titik dalam grafik kecil sekalipun sudah memberikan informasi. Lebih banyak data malah sudah jadi insight. Data à Informasi à Insight. Millennial sudah bisa memilih untuk mau optimis di data-data yang sebelah mana.

Generasi sebelumnya, lebih mengandalkan insting dan lebih sabar menunggu. Mungkin, millennial tidak punya waktu untuk menunggu. Hehehe.

Flexibility

Wujudnya bermacam-macam. Jam masuk (dan jam pulang) yang bisa diplih, model kerja yang full-time atau part-time, kebolehan bekerja remote (ini memang priviledge yang tidak bisa disediakan oleh semua industri). Semuanya berkat kemudahan jaringan internet untuk mengirim dokumen, teknologi email dan cloud computing. Tinggal security-nya saja diatur.

Di sisi lain, memang sudah zamannya untuk bekerja berdasar deliverable. Empat puluh jam bekerja di kantor selama sepekan memang masih ada dan beberapa perusahaan/industri sulit untuk menghilangkan faktor tersebut (tidak harus dihilangkan sih, karena beberapa industri seperti manufaktur memang harus demikian). Deliverable adalah output dari aktifitas/proses yang dilakukan oleh si karyawan. Which is, sudah didefinisikan ‘kan dalam proses bisnisnya perusahaan. Millennial memang makin pintar kok memahami alur bisnis. Mereka sudah tahu mana yang jadi deliverable langsung (sehingga bisa jadi key performance indicator) maupun yang tidak langsung.

But, Milennial-Style Office is Overrated

Ini yang keempat. Kalau kata Samuel Amarta, seorang konsultan HR, interior maupun fasilitas kantor yang memenuhi selera millennial itu overrated. Permintaannya kan memang dari pekerja milennial. Namun, dari sisi HR yang aktifitasnya seputar recruitment, retention dan growing para karyawan, sebenarnya hal-hal tersebut tidak berpengaruh banyak. Retention rate-nya belum tentu jadi rendah. 

Malah banyak millennial yang berpikiran, mumpung masih single, berpindah sesering mungkin demi mendapat experience sebanyak-banyaknya. YOLO (You Only live Once) adalah mantra dalam berpindah-pindah perusahaan dan industri.

Menanggapi hal tersebut, saya, sebagai seorang millennial yang sudah berkeluarga dan memiliki anak, malah berorientasi pada benefit-benefit karyawan semisal BPJS, asuransi swasta, dan sebagainya yang memberikan manfaat pada keluarga kecil saya. Ada lebih banyak faktor yang harus dipertimbangkan oleh orang seperti saya sebelum memutuskan pindah perusahaan. Seiring dengan menuanya pekerja milennial kita, benefits tersebut terbukti valid. 

Lantas, bagaimana perusahaan-perusahaan yang bukan IT Startup seharusnya menanggapi fenomena tersebut?

Terlalu permukaan apabila sekedar mengikuti interior ruang kerja perusahaan IT Startup. Masih di tingkat permukaan juga apabila, sekedar memberikan fleksibilitas waktu dan tempat bekerja. Baik dalam bentuk remote working, part-time, masuk kantor boleh lebih siang, dan sebagainya. Sementara, terlalu fleksibel malah sedikit-banyak –tergantung orangnya– menurunkan produktifitas bahkan memperlemah koordinasi dan komunikasi antar anggota tim.

Inovasi

Menurut saya, di dunia yang semakin hypercompetitive dan menuntut kita untuk bergerak lincah ini, yang patut ditiru dari para startup IT adalah budaya inovasinya. Budaya untuk terus-menerus meriset, mencoba (trial), implementasi, solve new problem from that implementation, dan seterusnya.

Knowledge Management

Inovasi sendiri tidak bisa dipisahkan dari knowledge management, menurut saya. Kita tidak bisa mencoba inovasi baru, kalau kita tidak mengakses dokumen knowledge internal. Seseorang, secepatnya, sebelumnya harus sudah menulisnya untuk bisa kita akses hari ini. Jadi kebiasaan untuk mengelola data, informasi, dan insight secara tertulis ini juga makin penting untuk dibudayakan.

Mengapa semua ini penting untuk, setidaknya, kita pikirkan?

Sebab, generasi-generasi kita sedikit demi sedikit mulai berganti. Customer, supplier, vendor perlahan tapi pasti mulai regenerasi. Tidak ada salahnya memberikan posisi-posisi strategis kepada para millennial di perusahaan. Karena customer, supplier, vendor kita juga semakin diisi oleh para millennial.