Remembering My Time in Consulting

Habis baca consulting worklife, tiba-tiba teringat dengan masa saya jadi konsultan dulu.

Belum konsultan asli, karena masih analyst. Masih 2-3 level senioritas lagi untuk jadi konsultan sebenarnya. Saya dulu tiga tahun di kantor konsultan tersebut. Yang saya dapatkan lebih dari cukup. Meski saya mendapat berlebih, tapi mungkin saya tidak mau mengulanginya lagi. Mungkin lho, ya. Because I am raising my family now.

Sebagaimana dahulu saya belajar di SMA berasrama. Experience-nya luar biasa. Segala pengalaman buruk atau sedih, tergantikan dengan yang indah-indah. Ingin diulang? Tentu tidak. Dikurung mengajarkan saya arti kebebasan.

Baik, masuk ke topik utama. Ada tiga hal yang saya dapat di konsultan: pembelajaran, (sedikit) jejaring, dan jalan-jalan.

Pembelajaran (Learning)

Meski hanya di belakang layar laptop, bukan di hadapan audiens –ini peran bos saya yang sudah 15 tahun consulting ketika itu–, yang jabatannya bervariasi – mulai dari level direktur sampai salesman lapangan, tapi consulting memberikan pelajaran yang luar biasa banyak untuk saya. Karena yang saya pikirkan bukan lingkup pekerjaan yang se-kroco saya. Tapi masalah di tingkat perusahaan yang jadi beban pemikirannya direktur. Kita akan belajar untuk tidak memberikan solusi yang receh; alias solusi yang tidak kita pikirkan matang-matang plus dan minusnya.

Malah kita fokus memberikan solusi yang out of the box – ada dua alasannya sebenarnya: menjawab masalah klien sekaligus cari aman, hehe. Referensinya darimana? Ya dari buku-buku yang really deep thoughtful lha. Ditulis dalam bahasa Inggris oleh orang-orang bule Amerika. Ditambah utak-atik gathuk terhadap hasil searching di internet, hehe.

Karena saya konsultan di bidang strategic marketing, maka saya jadi cepat belajar tentang organisasi marketing and sales di beberapa perusahaan dan industri sekaligus. Pengetahuan ini membangun imajinasi saya tentang bagaimana proses bisnis yang mereka –seharusnya—lakukan, siapa target market mereka, siapa saja perusahaan kompetitornya, dan lain sebagainya.

Berjejaring (networking)

As former analyst in consulting office, I already know what is fun and how to be a fun person. Theoretically, at least. Tanpa menghilangkan karakter asli yang berhati-hati (baca: berpikir dua kali) sebelum berpendapat, alias thoughtful, saya sudah lebih “cair” dibanding sebelumnya. FYI, tidak mungkin donk kalau meminta data ke klien itu straight to the point. Kita butuh basa-basi dulu. Pembukaan yang fun and interesting ini juga perlu sebelum mewawancara orang lain. Harus bisa “menjual” diri. Sebagaimana teknik salesman yang paling kuno: cari kesamaan dengan lawan bicara, lalu mulailah perbincangan dari sana.

At that time, kantor tersebut juga membangun komunitasnya sendiri. Komunitas para pengusaha. Kecil-kecilan. Biar punya “massa” kalau bikin acara sendiri. Acara untuk meng-entertain para existing client yang lagi proyek sama kita. Plus, untuk menangkap “ikan-ikan” yang lebih baru. Nah, “massa” pendukung ini kita jadikan tamu-tamu dalam acara tersebut.

Traveling

Kantor konsultan tersebut tidak besar. Belum regional Asia Tenggara. Tapi cukup membuka kesempatan bagi saya untuk terbang –dengan alasan pekerjaan dan dibiayai oleh klien—ke beberapa kota di Indonesia. Palembang, Medan, Makassar, Surabaya, Yogyakarta. Pergi pagi pulang sore ke Jakarta. Kalau acara dua hari, berarti ada kesempatan kuliner malamnya.

Bukan hanya soal terbang. Namun jam kerja konsultan cukup fleksibel. Bukan berarti santai karena bekerja >40 jam seminggu. Masuk bisa lebih siang, tapi mungkin kamu akan pulang malam –bahkan menginap—dan tanpa uang lembur. Buat saya yang waktu itu belum lama menikah dan anak-anak sudah berusia beberapa bulan, tampaknya saya butuh rehat. I was burnout at that time. Di kantor konsultan yang lebih besar, duitnya lebih dari cukup untuk “mengobati” burnout-nya. Jadinya mereka bisa bekerja lagi; mencari uang untuk mengobati burnout sebelumnya. Hehehe.

See? Tidak semua orang cocok menjadi konsultan.

Takeaways

Mengalami roller-coaster kehidupan ala konsultan sangat menarik lho. Experienced and memorable. Saya sarankan kamu mencobanya. Tidak wajib lama. Cukup 2-3 tahun saja. Lebih awal mencobanya, lebih baik. Tapi seperti saya katakan di atas, ada tiga thread-off nya. Learning, networking, and travelling.

  • Tidak semua orang cocok menjadi learner ala konsultan di sepanjang hidup mereka. “Belajar” dari direktur, membaca dan membedah buku atau kasus-kasus bisnis, menulis di koran membangun personal brand, dan seterusnya.
  • Network itu ibarat buah. Selama masih di pohon, dia belum bermanfaat. “Menabung” network tapi tidak mengupayakan “memetik”-nya, rasanya kurang tepat juga. Ingat, semakin senior seorang konsultan, kerjanya hanya membangun relationship di sana-sini sebelum mengekstraknya sebagai proyek. At least, I know how to be fun and interesting person/friend when meeting someone new.
  • Travelling quite a lot itu prasyarat menjadi konsultan. Dalam kota, maupun antar kota antar provinsi (AKAP donk!). Dalam hal ini, kamu tidak akan menjadi ayah yang reguler. Pulang setelah anak kelelahan bermain seharian. Atau masih sibuk dengan pekerjaan tatkala mereka meminta weekend-mu untuk bermain bersama.

Jadi, apakah ini berarti saya benar-benar berhenti dari being a consultant? Maybe yes, maybe no. Kalau saya tidak bertemu dengan pekerjaan tetap yang sukses memaksa saya bertahan di situ, mungkin saya akan pindah. Dan satu-satunya jalan mungkin hanya konsultan.

Itu ceritaku. Apa kamu ada cerita tentang bekerja sebagai konsultan atau agensi? Kalau ada, mohon bagikan ceritamu di kolom komentar ya.

Tulis Judul atau Konten Duluan?

Dalam membuat tulisan, ada kalanya kita bingung mulai dari judul atau isi. Tulisan kali ini akan membahas bagaimana memaksimalkan kelebihan yang satu, guna menekan kelamahan yang lain.

Konten duluan.

Konten duluan sampai pada titik di mana, tidak tahu lagi harus menambah apa. Seperti kampanye #mulaiajadulu. Kebanyakan dipikir (baca: diriset) ya tidak akan membawa ke mana-mana. Kata Dee Lestari (tidak sama persis ya), fitrah sebuah ide adalah di alam bebas. Di alam bebas, dia akan menemui beragam dukungan, bantahan, kritik, saran, dan sebagainya. Dengan kata lain, hakikat gagasan bukan sekadar bertahan di alam pikiran semata.

Sutradara kenamaan macam Ernest Prakasa, juga menyarankan hal yang senada. Jadi, beliau memisahkan proses menulis dengan proses perbaikan (revisi). Sepanjang masih punya ide cerita, dan belum memasuki fase perbaikan (salah satu alasannya adalah deadline belum mepet), maka menulis lha terus.

Tugas kita sebagai penulis adalah “mematangkan” gagasan tersebut. Ibarat sungai, di sinilah pentingnya hulu dan hilir sebuah tulisan. Hulu, proses di mana kita mengumpulkan premis-premisnya. Berupa aktifitas riset (mengumpulkan bahan, membaca, menganalisis, membuat hipotesis), mengingat dan menyelami peristiwa-peristiwa yang berlalu dalam hidup kita sendiri (maupun orang lain), sampai dengan mengingat pikiran-pikiran kita di masa lampau tentang apa yang ingin kita tuangkan. Jadi, ada tiga macam klasifikasi untuk hulu.

That’s why kita perlu beberapa medium untuk menulis. Karena menulis adalah praktik melepas gagasan ke alam di luar pikiran, maka saya kira kita tetap perlu membedakan mana alam yang benar-benar jauh dan tidak bisa kita kendalikan, dan mana alam yang masih terjangkau serta menjaga rahasia-rahasia kita dengan baik.

Di medium-medium seperti buku yang dicetak penerbit, artikel media massa, kita tidak bisa mengendalikan keliaran pendapat khalayak umum. Dalam bahasa internet seperti sekarang, yaitu kata netizen. Namun kita masih bisa menjaga rahasia sekaligus mencatat ide dan ilmu di medium personal. Sebut saja jurnal, buku diary, rencana dan evaluasi aktifitas, dan lainnya. ide-ide yang kita tuangkan di format terakhir, adalah aset yang bisa kita tengok kembali dan aplikasikan di suatu ruang dalam tulisan.

Bagi saya, menulis adalah berpikir. Mengapa demikian? Sebab sebelum menuangkan sebuah kalimat, kita akan berpikir 2-3 kalimat ke depan. Bagaimana kita membahasakan sebuah gagasan berukuran mikro, bergantung pada bagaimana kita melihat kalimat tersebut dalam sebuah paragraf. Lebih jauh, peran sebuah paragraf dalam artikel keseluruhan, fungsi sebuah bab atau bagian terhadap isi buku secara umum.

Nah, kelebihan memulai tulisan dengan judul adalah kita sudah memberikan batasan yang relatif tegas terhadap isi tulisan. Namanya relatif, bisa dilanggar. Baik menjadi lebih luas (atau general), atau menyempit (alias fokus pada bahasan tertentu). Yang jelas, judul adalah acuan dalam perjalanan menulis guna menyadari garis finish (batas selesai). Kalau sudah selesai, boleh lha kita menengok sang judul kembali. Sudah tepat kah, sudah merepresentasikan isi kah, sudah memancing pembaca untuk membaca kah, dan lain sebagainya.

Fungsi Editing dan Peran Editor

Hilir, yaitu pentingnya fungsi editing dan peran editor.

Sebelumnya, saya sebutkan bahwa tulis apapun yang muncul di kepala untuk ditulis. Mumpung masih ada dan belum mampet (stuck). Sebab, masa-masa untuk perbaikan, revisi atau sejenisnya akan datang dengan sendirinya. Itulah yang disebut editing. Editing pertama dari diri sendiri. Alokasikan waktu untuk melakukan proses edit. Misalnya, hanya 5% dari total waktu untuk menulis. Di sinilah kita dapat berperan sebagai pembaca, dan menjaga jarak dengan diri kita sebagai penulis. Keluaran yang diharapkan adalah objektifitas dalam memandang karya tulisan tersebut.

Tentu diri ini sebagai pembaca, dapat kita belah menjadi dua. Baik sebagai pembaca yang berharap kualitas tulisan dari sisi bahasa. Maupun pembaca yang merepresentasikan konsumen tulisan secara umum.

Profesi editor, sebagai lapis kedua (namun utama), juga menjalankan kedua peran tersebut di atas. Alias berperan sebagai pemeriksa (checker) yang menjamin mutu (quality assurance) dalam tata bahasa, serta mewakili pembaca yang punya ekspektasi dan harapan tertentu terhadap isi maupun alur (flow) tulisan.

Tidak hanya keduanya, di beberapa penerbit editor pun berperan di hulu. Yakni memberikan pandangan (visi) dan saran kepada para penulis, tentang selera pasar yang sedang tren (dan yang sedang turun pula).

Reflection on 2019 site analytics

Tahun 2019 adalah tahun pertama men-swasta-kan domain dan hosting. Tadinya masih negeri; alias menumpang ‘host’ di server gratis milik WordPress. Setelah setahun ini, ada sedikit angka, data, dan statistik lain yang bisa direfleksikan barang sejenak. Kita mulai ya.

Sepanjang tahun 2019 ada 44 post. Meningkat 7 post saja (19%, lumayan) dari tahun sebelumnya. Namun average words per post-nya menurun dari 927 ke 711 kata. Turun sebesar 23%. Signifikan juga ya. Namun, tidak terlalu masalah. target saya kalau menulis adalah minimal 800 kata. Saya bukan tipe yang mentarget minimal 1500 atau 2500 kata. Masih termaafkan lha ya kalau sekitar 700-an saja. 

Pernah rasanya saya share di suatu tempat di blog ini bahwa 300 kata, meski sudah layak secara SEO, namun terlampau pendek untuk menyajikan cerita. Di sisi lain, 2500 kata sudah oke banget untuk SEO. Tapi lebih baik dibelah saja untuk artikel di pekan berikutnya; ini menurut saya lho ya. 

Tahun 2019 itu ada 7,453 page views dari 4,677 visitors. Artinya, satu visitor melakukan 1,59 page views. Artinya tiap pengunjung rerata hanya melihat 1-2 post. Sumber traffic terbanyak dari search engine, yaitu sebesar 3,707 pageviews. Sementara yang datang dari facebook dan Instagram sebesar 195 dan 128 page views. Dapat disimpulkan, lebih banyak dari mesin pencari daripada followers-nya social media saya. Sepintas tadi menengok setting page, tampaknya ada error di social share-nya –share via facebook & linkedin. 

Dari list yang sudah menyetor tulisan di komunitas 1m1c, hanya ada 41 page views. Lumayan juga, karena keanggotaannya hanya sekitar 100 members. Dari komunitas yang sama –tetapi sumber link berbeda– ada 3 (tiga) tulisan saya yang sempat di-klik dari sana:

Di antara 10 tulisan dengan page view terbanyak, hanya ada dua yang ditulis di tahun 2019. Yaitu: Review Buku Filosofi Teras (441 views) dan Menyelami Filosofi Rumah Panggung Suku Bugis (120 views).

Tiga-puluh-tujuh (37) post di tahun 2018 sebenarnya copy paste dari blog saya yang lama: http://ikhwanalim.wordpress.com. Seingat saya, tidak banyak yang saya tuliskan di tahun tersebut. Sebab lebih sibuk migrasi konten daripada menulis baru. Alhamdulillah di tahun 2019 cukup banyak tulisan yang benar-benar baru. Bahkan, ada kategori personal journal dan blogging/writing yang cukup banyak saya tulis. Selain itu, ada sedikit dari kategori marriage/parenting/fathering.

Khittah-nya blog ini seharusnya membahas topik sales/marketing. Eh tapi kategorinya malah ke mana-mana, yah. Dilema ini sudah bertahun-tahun saya rasakan — selama 12 tahun nge-blog. Ragu untuk memilih fokus menulis ide yang muncul di pikiran, atau mau fokus di kategori tertentu yang kita kehendaki sebagai positioning/niche-nya kita.

At the end, I took my decision to not overthinking the branding part. Jadi, saya tuliskan saja pengalaman, pikiran dan gagasan yang ingin saya bagikan. Tanpa harus feeling guilty karena si blog ini entah mau dibawa ke mana (if you sing, then you lose). Hehehe.

Tahun 2019 tampak belum ada postingan juara yang view-nya tinggi. Karena yang tinggi berasal dari tahun sebelumnya: Posisi Kerja di Dealer Mobil. Post ini view-nya tinggi karena post sejenis sedikit sekali di jagat internet. Sementara di Indonesia, konsumen kendaraan bermotor seperti mobil dan sepeda motor tinggi sekali. Tidak heran lowongan kerjanya pun cukup melimpah, sehingga pertanyaan seputar posisi-posisi pekerjaan di dealer juga banyak:

  • jabatan di dealer mobil 
  • jabatan-jabatan kerja di diler mobil 
  • cara kerja dealer kendaraan
  • tugas marketing di dealer mobil honda 

Rencana 2020

Bagaimana dengan tahun 2020? Rencana saya adalah berusaha seproduktif mungkin dalam nge-blog. Kalau satu tahun ada 52 minggu, maka idealnya ada 52 post kali ya. Tahun 2019 sudah terwujud 85%-nya.

Mau produktif menulis topik/kategori apa? Seperti saya ceritakan tentang dilema di atas, maka topiknya akan bebas. Sebagai ortu, mungkin postingan seputar topik parenting akan hadir pula. Mengingat, yang bersangkutan mulai sekolah di tahun ini. Tentang strategic marketing, mungkin topik seputar milennial dan leisure bisa dieksplorasi lebih mendalam. Personal journal jangan ditanyakan lha, ya. Itu topik paling tidak terencana, tapi paling sering ditulis karena experience dan personal story-nya.

Itu sedikit refleksi dari saya seputar hikmah-hikmah yang bisa diambil dari analytic machine di situs blog ini. Bagaimana dengan refleksi dan rencana blogging kamu? Saya tunggu pendapatmu di kolom komentar, ya 🙂

Artisan Brand. Leisure Economy.

Kembali ke khittah dulu ya. Kembali ke topik marketing.

Blog ini tajuknya “Authentic Marketing”, tapi sudah lama tidak bahas marketing, ya 😀 Tentang Marketing, terakhir mengulas soal pindah profesi dari Sales ke Marketing. Soal Sales, terakhir menganalisis bagaimana mengajari anak berdagang.

Sejak setengah tahun yang lalu, malah membahas yang lain-lain, semisal topik tentang blogging/writing, fathering, marriage, dan personal journal.

So, let’s start it.

Dari topik branding, yang kekinian adalah lahirnya brand-brand artisan. Paling menonjol adalah branding tidak lagi ranahnya pemain-pemain bermodal besar. Hanya dengan modal finansial yang kecil sekalipun, sudah bisa memulai branding. Tapi cara bermainnya sangat jauh berbeda. Tidak jorjoran membayar media televisi, media cetak, billboard, dan media-media lainnya.

Yang khas sekarang itu adalah menawarkan misi-misi problem solving lewat storytelling guna mengumpulkan fans—bukan lagi pelanggan (customer), apalagi pembeli (buyer). Jadi si co-founder –atau si orang branding–kudu sharing (berbagi) tentang problem apa yang mereka temui di masyarakat, dan usaha-usaha apa yang mereka sedang lakukan guna menyelesaikan masalah tersebut. Sharing is Branding. Namanya juga fans ya, mereka bukan lagi sekedar menikmati hasil saja, melainkan ingin terlibat banyak dalam usaha-usaha tersebut.

That’s why Mas Handoko Hendroyono lewat bukunya “Brand Artisan” merekomendasikan untuk membangun public spaces (ruang-ruang publik). Tidak harus ada fisik bangunan atau lokasi tertentu, namun bisa dimulai dengan mengembangkan komunitas. Jadi, fans di sini identik juga dengan komunitas. Bersama fans –dan institusi atau komunitas lain—si brand berkolaborasi membangun story. Narasi-narasi yang dibangun bersama ini yang kemudian dibagikan ke khalayak lain. Istilah kekiniannya adalah di-viral-keun. So, nowadayas, branding is done through sharing.

Berhubung social media juga sudah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari, maka semuanya bisa dimulai dari kecil. Bahkan dari personal story kita sendiri. Ya, personal branding is matter now. Saling menguatkan juga dengan brand itu sendiri. Brand-nya “dijual” oleh si personnel. Di sisi lain, personal brand-nya juga ikut dikenal seiring meluasnya si brand tadi.

Bicara Start-Up, co-founder macam Fajrin Rasyid bersama Bukalapak berkampanye ke mana-mana seputar misi membangkitkan ekonomi para UMKM melalui teknologi digital.

Leontinus Alpha Edison, co-founder Tokopedia berkisah tentang minimnya kesempatan berusaha di kota asalnya dahulu, Pontianak, sehingga corporate mission Tokopedia adalah memberikan kesempatan “berdaya” bagi pemuda-pemudi di kota-kota, terutama di luar Pulau Jawa.

Marchella FP, biasa berdiskusi dan berbagi dalam tajuk Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (NKCTHI). Bukunya ada dan laku sampai 150ribu eksmplar. Filmnya juga belum lama ini dirilis di bioskop. Komunitas fans NKCTHI dibangun lewat dialog intens di akun instagram. Kemasannya itu lho yang mengena banget bagi generasi milennial.

Startup AirBnB membantu fans-nya menemukan penginapan di seluruh penjuru dunia. Semangat berbagi dan memberdayakan para pemilik rumah maupun apartemen. Kemajuannya memberi dampak ekonomi dan kesejahteraan.

Dalam bukunya, Mas Handoko juga menyebut KlinikKopi. Personnel-nya adalah Pepeng. Namanya klinik, tiap pengunjung adalah “pasien” yang wajib di-“diagnosa” secara personal, satu-persatu. Lewat percakapan intens, Pepeng menceritakan dan menawarkan kopi racikannya. Sesuai hasil diagnosa.

Kalau PasarPapringan adalah event pasar dua-mingguan dari founder RadioMagno, Singgih Kartono. Awalnya pasar, namun kini telah menjadi public space juga. Bahkan tujuan pariwisata yang ramai dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara. Oiya, beliau si founder ini juga membesut brand Spedagi—sebuah sepeda bambu. Memang, di pinggiran daerah Temanggung ini ada banyak sekali kebun bambu sebagai material dominan radio dan sepeda.

Kalau saya pribadi, saya adalah fans-nya Upnormal. Bukan komunitas tertentu, memang. Namun mereka menyajikan “spaces” yang lokasinya dekat dari mana-mana. Dan dengan brand-nya, saya meyakini ada standard yang sama di setiap titiknya. Semangat yang diusung, menurut saya, adalah semangat freelancer yang “bisa bekerja di mana saja dan kapan saja”. Suatu titik Upnormal bahkan mengkampanyekan ketersediaan “100 colokan” alias stop kontak. Supaya betah berlama-lama dan selalu menyesap es-kopi-susu-gulmer itu.

Selain mengamati dan memformulasikan semua ide dan konsep di atas, Mas Handoko sendiri mengeksekusi gagasan Filosofi Kopi. Yang kini bukan sekedar coffee shop. Melainkan sudah jadi intellectual property (IP) dalam wujud film, merchandise, dan bentuk-bentuk lainnya.

Setidaknya ada tiga coffee shop saya sebut di atas ya. Belakangan, kategori coffee shop ini juga menyasar para milennial “galau”. Brand-brand seperti Janji Jiwa, Kopi Kenangan, dan beberapa lainnya berbagi cerita tentang kegalauan masing-masing.

Selain lahirnya brand-brand artisan, ekonomi dari leisure juga sedang tumbuh berkembang.

Leisure Disruption

Meningkatnya kemakmuran dan kualitas hidup konsumen Indonesia mendorong mereka untuk mulai mengonsumsi produk dan layanan yang menciptakan kesejahteraan (well-being) dan kebahagiaan (happiness) untuk mewujudkan kualitas hidup yang lebih baik.

Itu sebabnya konsumsi leiser seperti berlibur, nongkrong dan berkulineran, menonton konser musik, berolahraga, hingga kegiatan mindfulness seperti yoga tumbuh pesat.

Leisure disruption adalah perubahan pola konsumsi konsumen dari konsumsi berbasis barang (goods-based consumption) menjadi pengalaman (experience-based consumption).

Di sektor ritel, department store, hypermarket/supermarket hingga trade center mulai berguguran. Namun di sisi lain minimarket, online shopping, artisan shop/store, digital POS, hingga leisure retail justru tumbuh pesat.

Sementara di sektor pariwisata perilaku millennial travellers juga mulai bergeser. Biro perjalanan konvensional, tour guide tradisional, losmen, hingga group tour mulai ditinggalkan. Sebaliknya staycation, instagramable destination, hotel butik, nomad tourism, hingga akomodasi berbasis apps seperti Airy atau OYO kian menjamur.

(yang berwarna merah dari blog Mas Siwo). Saya lihatnya ya, tidak hanya milennial yang suka travelling. Bahkan generasi ortu saya pun juga semakin rajin travelling.

Demikian fenomena dan strategi marketing dari praktisi dan pengamat kita. Bagaimana menurut kamu? Silakan ikut berkomentar di bawah, ya!

Referensi: