Stay Away from Toxic Person

I used to be a toxic person. But I have been healed from it. Even more, I have takeaways for you.

Toxic people make relationship jadi toxic. Pastinya ada banyak sebab kali ya. Salah satunya adalah “belum selesai sama diri sendiri”. I am still wondering itu istilah yang tepat atau tidak. Singkat kata, yang bersangkutan (karena belum selesai dengan dirinya atau masa lalunya) berpotensi being negative person untuk orang lain. Misalnya, curhat atau mengeluh terus-menerus mengenai masalah yang sama. At first, orang mau berempati dan mendengar. Second time, orang mulai memberi saran solusi. Third time, orang mulai terganggu bila dikeluhi hal yang sama terus-menerus.

Nah, when we are being negative person for others, most likely kita akan merusak hubungan dengan orang tersebut. The relationship become toxic. That’s why se-galau, se-gundah, se-gulana apapun juga, we should control it, we should drive ourself. Mulai dari ekspresi, perkataan yang keluar dari lisan, postingan di socmed, dst. The positivity shall start from ourselves.

Kembali ke “belum selesai sama diri sendiri”. Yeah, ini term yang luas banget, tapi yang bisa kita kelompokkan ke dalam sini, adalah mereka yang belum menerima masa lalunya atau masih tidak mengenal dirinya sendiri. Terhadap hal-hal yang terjadi dalam hidupnya, cenderung menyalahkan (blaming) bahkan menghendaki supaya orang lain bertanggung jawab (be responsible). Bila perlu orang lain tersebut ikut mengatasi masalahnya (to solve problem).

Kalau kita cuma teman kan mudah saja ya? Cukup tinggalkan teman-teman yang seperti itu. Tapi bagaimana bila si toxic relationship ini terjadi di hubungan internal peers / genk-genk-an? Atau statusnya masih sama-sama pacar? Belum jadi pasangan resmi saja sudah toxic, apa jadinya kalau beneran jadi pasangan seumur hidup?

Let’s explore further. Bagaimana bila si toxic person adalah saudara/keluarga sendiri, bahkan suami/istri sendiri? Tentu jadi repot banget kan. Karena hubungan kita dengannya malah jadi toxic beneran.

Btw, ada juga atasan-atasan di kantor yang tidak capable dalam kepemimpinan dan manajerialnya. Kuncinya sama sih. Manipulatif, menyalahkan kita sebagai bawahan / anggota tim, menghendaki tanggung jawab lebih (padahal dia yang seharusnya paling bertanggung jawab), menuntut sumber daya kita secara berlebih untuk terlibat mengatasi masalah. Yeah, sabar aja ya. Di luar sana memang ada atasan-atasan yang belum waktunya menjadi atasan 😊. Healthy relationship at work shall makes us feel secure, happy, cared (by HR), respected for our capabilities, and free to be ourselves in doing our work.

Bayangkan apabila dia memanipulasi fakta yang ada. Membohongi kita. Mengelabui kita. Menganggap kita bertanggung jawab atas hidupnya (kalau anak mungkin masih bergantung ya, tapi mestinya berbeda dengan orang dewasa). Bahkan lebih buruk: kita yang harus menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi atas perbuatannya sendiri.

Indeed, I do reflect so much when I am the one who act as toxic person.

Later on, saya sebagai pribadi dewasa mulai memberikan batasan pada keluarga dan pasangan. Artinya, ada peran dan aktifitas riil terkait dengan batasan-batasan tersebut. Dari saya, maupun dari mereka. Karena mereka keluarga, saya merasa wajib untuk berbagi dan berkonsultasi dengan keluarga dekat tersebut. Saya meminta dan mendengar pendapat mereka. Barangkali ada pengalaman terkait, atau perspektif berbeda. Namun demikian, bagaimanapun juga, saya sendiri yang akan mengambil keputusan dan merasakan dampak dari keputusan tersebut. At the end, I become more responsible for my life.

Di kemudian hari, saya mendengar Om Manampiring mengulas konsep stoic dalam bukunya. Saya merasa ada kesamaan frekuensi antara bagaimana para filsuf stoa memandang kejadian-kejadian dalam hidup (sebagai mana diulas Om Piring) dengan beberapa peristiwa dalam hidup saya yang sungguh saya tidak punya kekuatan untuk memaksakan perubahan sesuai kehendak saya.

Skenario kedua. Bagaimana jika, sumber toksisitas bukan diri kita, melainkan the other side of the relationship? Yang jelas, semua relationship menghadapi tantangan. Tapi, toxic relationship tidak akan berhasil melalui tantangan-tantangan tersebut. Saya kira, ada dua hal yang bisa kita lakukan, ya:

  • Cegah lack of communication. Selalu ceritakan apa yang kita kehendaki. Di saat yang sama, cobalah untuk memahami apa yang dia inginkan. Cari jalan tengah di antara keduanya. As we already know, relationship itu dua arah: saling memberi dan menerima. Hanya memberi akan membuatmu kehabisan energi dalam menjalani hubungan tersebut.
  • Timbal-balik secara seimbang. Segala jenis hubungan yang menghabiskan energi kita tanpa meninggalkan timbal-balik di kita, hanya akan menyisakan negativity. Untuk mencegahnya, pastikan kita selalu “membalas” perlakuan si dia.

Take away (kayak makanan aja ya 😊) dari saya ada tiga:

1. Stop become a toxic person. Those who do manipulation, lying, blaming others, asking other responsibilities and problem solving.

2. Be more responsible for your life. You plan, design, take decision but you are the only person who get those output, outcome, and impact.

3. Tidak semua peristiwa dalam hidup bisa kita atur. Manusia berencana, tuhan menentukan. Dalam agama saya, percaya kepada takdir juga salah satu rukun keimanan. So, apapun takdir tersebut, bila sudah kejadian (pasca kita berikhtiar keras), maka kita hanya perlu menerimanya dengan ikhlas dan lapang dada. Yang terakhir ini, lebih mudah diucapkan daripada dilakukan.

Sementara itu dulu ulasan dari saya. Apakah teman-teman pernah mengalami toxic relationship? Boleh banget kalau sharing pengalamannya di kolom komentar di bawah.

Quarter-Life Crisis

QLC itu masa-masa di persimpangan pilihan-pilihan kehidupan. Yang mengalami biasanya berada di rentang usia dua puluh-an sampai tiga puluh-an.

Kalau saya dulu, mengalami sejak usia lulus S1 kali ya. Belum tahu mau aktif dan fokus di bidang apa. Bukannya belum tahu sama sekali, tetapi saya jelas berminat dengan bidang marketing. Yeah, karena masih bingung, jadinya ambil S2 dulu. Rencana bergelar master jelas ada. Tapi berhubung life plan (rencana hidup) masih kacau, jadilah S2 disegerakan pasca lulus S1.

Belakangan saya baru menyadari, mahasiswa S2 kekinian itu makin muda. Alias belum lama lulus dari S1-nya. Bahkan banyak yang langsung S2 setelah lulus S1. Salah satu sebabnya menempuh pendidikan master adalah karena belum tahu apa yang mau dilakukan dalam hidup. Sad, but it’s true.

S2 kelar, tapi sadar jiwa ini butuh otoritas tinggi, jadinya ngotot gak mau di big company yang team, culture and business process-nya jelas-jelas sudah established selama puluhan tahun. That’s why kemudian saya bergabung dengan sebuah strategic marketing consultant (paham ‘kan ya mengapa memilih marketing) yang baru berdiri satu tahun oleh seorang yang berpengalaman lebih dari lima belas tahun.

Lega sudah untuk urusan pekerjaan; meskipun masa depan karirnya belum jelas benar. Berisiko banget memang saat itu. Karena kalau company-nya tumbuh, maka saya mungkin akan jadi satu di antara para “Dewa”-nya (meski bukan founder).

Urusan kerjaan udah fixed (dengan gaji gak sebesar multinational company tentu saja) namun urusan pernikahan dan berkeluarga malah kacau alias mundur. Yang ditargetkan menjadi pasangan ternyata bukan yang ditakdirkan.

Ketemu dengan calon yang sekarang jadi istri, akhirnya kami menikah dengan pekerjaan saya yang gak stabil-stabil amat, career path gak jelas, pendapatan juga masih pas-pasan, QLC belum berakhir juga. Faktanya, kami masih LDM. Bagaimana tidak dag-dig-dug terus setiap hari.

Alhamdulillah akhirnya “kembali” ke karir yang dicari-cari. Hidup berumah-tangga juga semakin baik: peran sebagai suami dan ayah semakin bisa dijalankan. Waktu habis tidak hanya untuk pekerjaan utama. Alhamdulillah bisa menabung dengan lumayan.

Intinya, semakin menua umur ini dan semakin bijaknya diri ini, maka semakin mampu menyadari dan mensyukuri apa-apa yang dimiliki. Tanpa harus iri atas apa yang tidak menjadi milik sendiri. Syukur bila punya, tidak mengapa bila tak berpunya. Coba baca juga tentang filosofi Stoic.

Maaf, curhatnya kebablasan. Back to topic.

Biasanya quarter-life crisis dipicu permasalahan finansial, relasi, karier, serta nilai-nilai yang diyakini (salah satu nilai-nilai ini seputar religiusitas/spiritualitas). Intinya adalah anxiety (kegelisahan) yang bisa disebut berlebihan. Bawaannya galau terus. Banyak topik sekaligus yang menjadi sumber kegalauan. Yang mana, tiap topik malah terkait dan bersifat sebab-akibat dengan topik-topik lainnya.

Saya seorang milenial. Kalau kamu juga milenial, kemungkinan, QLC kamu disebabkan satu di antara dua yang berikut:

  • Aneka fasilitas dan pilihan kemungkinan yang tersedia menyebabkan orang justru stagnan. Jika dibandingkan generasi-generasi terdahulu, milenial dan generasi setelahnya tergolong beruntung karena dapat mengecap beragam kemudahan atau akses yang membuat hidup lebih baik: dari segi peluang kerja, pendidikan, akses kesehatan, keamanan, dan sebagainya.
  • Soal pekerjaan, seperti ditulis Forbes, generasi terdahulu boleh jadi memandang tujuan bekerja utamanya adalah untuk mendapat uang semata, sementara sebagian milenial merasa pekerjaan adalah sesuatu yang mesti memenuhi kebutuhan aktualisasinya, harus terkait hal yang disuka atau bisa mewujudkan mimpi-mimpinya. https://tirto.id/quarter-life-crisis-kehidupan-dewasa-datang-krisis-pun-menghadang-dkvU

Lalu, apa saja persoalan yang khas dengan Quarter-Life Crisis?

  • [KARIR] Galau soal personal development. Mau ambil S2 atau kursus di mana? Termasuk soal biayanya dari mana dan kapan sebaiknya S2.
  • [RELASI] Nikah sama siapa, dan kapan nikahnya. Nikah sama teman yang sudah kenal lama ya gimana gitu ya, tapi nikah lewat cara ta’aruf ya gimana juga gitu. Masing-masing ada plus-minusnya. Kita yang biasanya kelamaan pilih-memilihnya sehingga jadi galau sendiri.
  • [KARIR] Kerja kantoran atau jalani passion? Boro-boro memilih ya, seringkali apa passion juga belum tahu since Passion is Overrated. Topik ini termasuk gaya hidup dan pendapatan. Passion erat dengan freelance yang awal-awal dijalani terasa berat dan feel lonely gitu. Kalo cari duit besar, ya kerja di kantor besar, meski belum tentu happy dengan peran yang didapatkan.
  • [FINANSIAL] Teman sekolah atau kuliah sudah memiliki (setidaknya masih mencicil) tempat tinggal (rumah, apartemen, dll) atau kendaraan (mobil, motor). Sudah travelling ke sana kemari, dalam dan luar negeri.

Terus, apa yang bisa saya sarankan?

  • [RELIGI] Jalani hidup dengan syukur dan sabar. Syukur kalau sudah punya, sabar kalau belum kesampaian.
  • [KARIR] Miliki rencana. Apa targetnya, dan kapan dicapainya. Tapi jangan kelewat baper, kalau melenceng sedikit, hatimu (bukan hatinya) yang akan sakit. Plan for the best, Prepare for the worst, Be ready for surprise. Saran lain: Don’t overmanage your career.
  • [RELASI] Kendalikan eksposur dari konten-konten socmed yang ambis(ius). Setir dan kendalikan hidupmu sendiri. Jangan biarkan konten socmed yang menyetirmu.
  • [RELASI] Perbanyak silaturahmi. Bukan dengan geng kantor, keluarga, atau tetangga. Salah satu target silaturahmi adalah mereka yang sekitar 10 tahun lebih tua. Mungkin mereka punya pendapat/nasihat untuk dibagikan denganmu. Supaya sehat psikismu.
  • [FINANSIAL] Miliki rencana keuangan (finansial plan). Utamakan menabung, lalu investasi. Tidak semua orang butuh travelling. Introvert seperti saya, malah lebih happy di rumah daripada keliling-keliling di weekend atau hari libur.
  • Jangan biarkan orang lain mengambil keputusan untuk Anda. Tentu kita harus mengambil referensi seluas-luasnya, meminta pertimbangan sebanyak-banyaknya. Namun keputusan harus kita yang ambil. Karena hanya kita yang merasakan akibatnya sendiri (atau sendirian).

Demikian, sedikit yang bisa saya bagikan ttg Quarter-Life Crisis. Apa kamu ada cerita juga? Yuk, berbagi lewat kolom komentar di bawah ini ya.