Being a Husband

Being a husband is not only to work and bring money to your home for your wife and children (if any). But other than working, what else?

Being a husband is not just about going to work and bring money to your home for your wife and children (if any).

But also to be the head of family (Kepala Keluarga). Meaning, as the leader of the family. You know, being leader is know the way, show the way, but also goes the way. So as the head, we should have stated our goal and direction. Many times, just a small steps into the right direction means more than big step but direct to wrong/bad goal.

From men-women literature, men tends to be more logic (rational) and consistent in his behavior. That’s why men being the family head. But not lower the role of women in family, we need kindness and other positive emotions from women. Which is, women are the more expressive one than men.

In Finance

In financial dimension, men are the salesman. The one who search and find more money, revenue, or even profit. At the same time, men needs to understand a bit about the bookeeping and budgeting. For last two topics, I thought women are more appropriate in the administrative role. So, men as the salesman and women as the accountant.

Last discussion with my wife, we conclude the significant role of liabilities in form of payable (hutang) and receiveable (piutang). In either side you may lies at the particular time, both of them representing the unstability of cashflow and revenue/spending. This needs to be managed and controlled. The one we often missing in financial management for family is: do spending with current money while thinking that we must receive the exact amount of money from our receiveables. In reality, it is not happen as our wants right? The money we need may not come at the expected time and amount.

So, there are three (3) roles of a husband, at least: (1) head of family (2) salesman (3) father (if has any children).

Roles of Father

According to ustadz Bendri, there are several hats should be father’s hat each time he face his children:

  • Father must engage and make bonding with children’s heart
  • Always provide time (quantitatively and qualitatively) for children. Every morning before go to work or every night before sleep for daily engagement and for certain occasions, such as week end, or something that last once in a month, or others.
  • Father has to execute his role as “charger” for his children. Like a low-battery smartphone need to be charged, then a child also need to be charged or enlightened by his/her father.
  • Father needs to be an entertainer for his children. Make them laugh.
  • Father not only push children to learn, study, or work hard. But also to play (harder) together. By the end of life, I guess children will remember more about happy things such as playing together rather than things as studying with father as teacher.
  • Father must tell stories to children. Stories means there is a premis that consist of three things: character, goal, and obstacle. These three (3) things will generate the plot (flow of the story).
  • Father must seems as a knowledgeable person. Not only to answer his/her child question, but also to deep dive and explore the curiosity of the respective child.
  • Every child activities/project/initiative must need a “booster” in form of donation. It must not a money, but as important as time, support, spirit, etc. So, father comes as first donatur for every child needs.
  • Father must “promote” each child of his own. Because there lies the strength and weakness of each child. And our assignment is to promote the strength of our children.

Conclusion

I conclude three (3) important things from every life of being a husband. They are:

  • Husband as “Salesman” of the family. To get adequate resources in fulfiling the needs of passanger.
  • Husband as head of the family. Husband set the direction where the family want to fo. What their’s core values to be followed and implemented.
  • Husband becomes father when having child to be raised. Not only take the happiness from “making a family” activities, but also to provide responsibility in handling the further consequence of that “making a family” things.

Membawa Anak Ke Kantor

Hari kemarin, anak-anak ikut ke kantor ayahnya. Kebetulan ibunya sedang butuh me-time sekalian bertemu teman lamanya. Bagaimana seharusnya perihal ajak-mengajak anak ke kantor ini?

Sewaktu kecil, saya yang belum lama sekolah, bertanya ke Ayah saya, “Ayah di kantor mengerjakan apa? Tugas dari bosnya ayah, ya?”. Beliau tidak menjawab, seingat saya. Atau mungkin, jawabannya tidak saya pahami.

Saya bertanya demikian, karena di sekolah saya merasakan, bahwasanya menjadi siswa itu mengerjakan tugas-tugas yang diperintahkan oleh guru. Atau, guru memberikan PR (Pekerjaan Rumah) kepada siswa untuk dikerjakan di rumah.

Tidak mungkin rasanya, seorang atasan mengajari pekerjanya (sebagaimana guru mengajari murid), atau atasan memberikan PR kepada stafnya untuk dikerjakan di rumah. Setidaknya, tidak dengan ayah saya. Belakangan saya baru tahu itu namanya lembur atau in English: Over Time (OT).

Sepertinya banyak anak juga curious dengan apa yang dikerjakan oleh orang tuanya di kantor. Tidak hanya saya seorang. Bahkan di usia 23-24, waktu saya tanya rekan yang seusia, dia juga bahkan tidak tahu apa yang dikerjakan oleh ayahnya di sebuah perusahaan consumer goods pada saat itu.

Kalau dari sisi keuangan perusahaan, punya karyawan kan berarti biaya ya. Sepanjang karyawan tersebut berkontribusi terhadap pendapatan perusahaan, tidak masalah donk punya karyawan di posisi-posisi tersebut. Sampai dengan suatu hari saya menyadari bahwa ada konsep dan analisis proses bisnis dahulu sebelum menetapkan suatu posisi pekerjaan berikut dengan deskripsi pekerjaannya (position & job description).

Dari sisi employment, mempertahankan karyawan juga tidak mudah. Kaitan dengan keluarga (pasangan & anak) karyawan, manfaat-manfaat (benefits) juga harus diberikan oleh perusahaan. Kantor sendiri. memfasilitasi kebutuhan keluarga karyawan dalam wujud program seperti asuransi (termasuk BPJS & BPJSTK), family outing, dan lain sebagainya yang berupaya menyenangkan keluarga karyawan.

Sebuah contoh dari Maybank Indonesia ajak karyawan bawa anak ke kantor ketika pra dan pasca lebaran di tahun 2018 sekaligus mengenalkan kepada anak-anak karyawan perihal apa-apa yang dikerjakan oleh orang tuanya selama berada di kantor.

Irvandi Ferizal, Direktur Human Capital Maybank Indonesia mengatakan, melalui inisiatif ini, perseroan mewujudkan kepedulian kepada karyawan beserta keluarga dengan ikut hadir di tengah keluarga karyawan, termasuk menekan beban biaya yang timbul dari pelaksanaan daycare dengan memberikan solusi yang dapat langsung membantu karyawan dalam menangani anak-anak, yang terkena dampak libur Hari Raya, terutama karena ditinggal mudik asisten rumah tangga.

Lewat pergulatan pemikiran tatkala pillow talks (..ceilah..) saya dan istri tampak bersepakat bahwa penting bagi anak-anak untuk tahu dan engage dengan apa yang dikerjakan oleh orang tuanya. Ini bagian dari parenting/fathering juga.

Bukan sekadar menjawab curiosity nya anak-anak semata, tetapi juga menunjukkan bagaimana sebenarnya hidup itu dijalankan (..berat euy!..). Maksudnya begini, di usia-usia sebelum balita ‘kan mulai ada yang bertanya tuh, “Ayah kerja nggak hari ini?”, atau “Ayah pergi ke kantor jam berapa?”. Kita bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut sembari menceritakan kepada anak-anak bahwa pergi bekerja ke kantor di hari senin-jumat itu berkorelasi dengan apa-apa yang mereka belanjakan. Baik di minimarket, pasar tradisional, toko buku, mall, dan beberapa lokasi lainnya.

Intensitas pengajaran dari kami masih seputar topik-topik tersebut. Belum masuk ke bagaimana mengajarkan soal keuangan kepada anak-anak. Celengan untuk belajar menabung sudah ada, tapi belum rutin mengisinya. Apalagi sampai merencanakan isi tabungan akan dipakai untuk berbelanja apa di masa depan.

Sebelum menjalani yang berat-berat, kami mulai menunjukkan kepada anak-anak apa yang dilakukan oleh orang tuanya di kantor. Mereka melihat bagaimana dalamnya kantor yang dipenuhi para pekerja itu. Sebelumnya mereka sudah berkunjung pula ketika weekend. Di kunjungan pertama, tentu hanya bisa menemui bapak-bapak security.

Ikut “kerja” ke kantor. Bekalnya mainan, HVS + crayon. Ikut jumatan, ngisi kotak amal, jajan ke “Si Merah”, order jejepangan food, tegur sapa dengan beberapa om dan tante. Sempat nyari si ibu, end up exhausted, but happy. From 10 AM to 5 PM.

Selanjutnya banyak bertegur sapa dengan para pekerja lain yang relatif satu usia dengan ortunya. Ketika di rumah, sudah dikasih briefing bahwa kalau bertemu orang dewasa di kantor untuk di-“salim”, penggunaan kamar mandi mungkin ada antrian, dan hal-hal lainnya yang jelas berbeda dengan di rumah.

Sebagai kesimpulan, anak-anak tidak perlu diproteksi sedemikian rupa. Misalnya secara sengaja, “Anak-anak di rumah saja. Gak perlu ikut ke kantor”. Padahal sesekali ke kantor ya tidak apa. Namanya juga membersamai anak-anak, ‘kan? Demikian pendapat saya.

Bagaimana, apakah ada teman-teman pembaca yang membawa anak ke tempat bekerja? Ditunggu komentarnya di bawah, ya.