Meramal Masa Depan Pengasuhan Kita

Bagaimana dunia digital dan dunia kerja kekinian akan mempengaruhi pengasuhan kita di masa datang?

Saya meyakini bahwa pendidikan anak-anak kita adalah tanggung jawab kita, yakni para orang tua. Maksud saya, tanggung jawab tersebut di masa sekarang ini (tahun 2019 dan seterusnya) lebih berat pada orang tua daripada 20-30 tahun yang lalu.

Saya sendiri termasuk produk pendidikan ala orang tua yang meyakini bahwa sekolah adalah pihak ketiga dalam proses pendidikan anak, di mana apa yang dilakukan atau diberikan oleh sekolah pada anak semata wewenang dan ruang lingkup sekolah yang tidak perlu dicampur-tangani oleh orang tua. Saya ingat di suatu masa, ayah saya bilang malah senang kalau guru menghukum saya. Maksud beliau, saya pernah salah dan hukuman tersebut akan membuat saya mengenali kesalahan tersebut untuk tidak terulang.

Alhamdulillah, pada masa-masa sekolah tersebut, saya dimasukkan di tempat-tempat yang baik. Secara proses pendidikan maupun sosio-kultural masyarakat sekolah tersebut.

Namun belakangan ini, kesadaran dan perhatian orang tua akan ‘parenting’ terasa semakin nyata. By language structuring, parenting kan proses mem-parent-kan si anak-anak secara terus-menerus (continous). Alias proses pengasuhan itu sendiri. Institusi sekolah di mata para orang tua, bukan lagi pihak ketiga di mana para orang tua menitipkan anak-anak, lalu membebaskan proses pendidikan pada si sekolah tersebut – tentu ada proses ‘pengambilan keputusan pembelian’ di awal di mana orang tua menyeleksi sekolah berdasar fitur-fitur yang ditawarkan. Misalnya kurikulum tambahan yang digunakan, materi-materi lain yang diajarkan selain yang diwabijkan, makan siang atau snack, antar jemput anak, dan lain sebagainya.

Pendek kata, kesadaran orang tua akan pengasuhan semakin meninggi, ditunjang oleh berbagai konten digital dari berita, website maupun media sosial dalam topik-topik #parenting. Sehingga sekolah kekinian berperan sebagai partner bagi orang tua dalam proses pendidikan dan pengasuhan yang keterlibatannya sudah dalam orde harian atau mingguan; bukan lagi pelaporan kuartal.

Mari lihat dunia kerja kita sekarang ini.

Digitalisasi dan Robotisasi

Karena dunia kita tidak lagi sama seperti dulu, 20-30 tahun yang lalu atau lebih ke belakang lagi. Sekarang eranya 4.0 Semakin ke sini, hidup kita akan semakin otonom (autonomous). Simply karena sekarang dan ke depan, adalah era digitalisasi dan robotisasi. Kalau bisa digital, ya digital saja. Pangkas jarak dan waktu. Termasuk mengurangi penggunaan kertas. Kalau bisa dilakukan oleh robot (dengan segala terminologi apa itu robot), ya dilakukan saja oleh robot (alias bukan oleh manusia).

Terus di mana peran manusia? Saya berpendapat, manusia akan menjadi semakin manusia – setelah peran-peran yang bisa dijalankan secara digital oleh robot mulai diambil alih oleh mereka. Dan mulai dari sanalah pendidikan kita secara perlahan-lahan mulai harus berubah—atau diubah.

Sebab, tantangan kehidupan dan pekerjaan anak manusia ke depan, akan berjalan sedemikian cepatnya yang bahkan belum pernah terjadi dalam sejarah manusia itu sendiri. Manusia akan merancang (to design) sistem yang cepat atau lambat akan bisa dijalankan secara digital oleh manusia, yang selanjutnya akan dieksekusi oleh robot secara otomatis – selanjutnya, manusia hanya diberikan peran sebagai pengawasnya. Bahkan, pengawas dari pengawas robot.

Tantangan demi tantangan berubah sedemikian cepatnya, sehingga anak-anak manusia yang akan bertahan (to survive) adalah mereka yang mampu bergerak lincah (agile) dari sistem ke sistem dalam peran sebagai designer (termasuk engineer) maupun controller.

Agility

Siklus lama dalam proses pendidikan adalah belajar, lalu ujian. Bahkan begitu seriusnya ujian sebagai mekanisme pengujian, hingga semua pemangku kepentingan (stakeholder) pendidikan, baik orang tua maupun guru, mewajibkan para siswa untuk belajar menjelang ujian. Hingga ujian menjadi momok yang sedemikian menakutkan bagi para siswa: (sebagai contoh) bahwa gagal Ujian Nasional (UN) maka hidup akan terasa hampa. Tidak lulus SBMPTN untuk memasuki Perguruan Tinggi Negeri (PTN) berarti musnah sudah separuh jalan hidup. Di masa saya Ujian Nasional (UN) SMA, ancaman tidak lulus membayangi sedemikian rupa. Karena, harus mengulangi ujian via Paket C bila gagal lulus UN.

Padahal di era baru, yang semakin ditengok adalah portfolio and pengalaman (experience). Bukan lagi ijazah atau asal sekolah. Beberapa perusahaan multinasional mulai memandang rekrutmen karyawan baru (yang fresh graduate) dalam perspektif seperti ini. Meskipun fresh graduate dari SMA/SMK/PT, experience semakin dipertimbangkan. Di sisi lain, begitu diperhatikannya pengalaman (dalam waktu tertentu) oleh dunia kerja yang baru, sehingga stuck terlalu lama di suatu perusahaan, bisa dipersepsi kurang lincah (less agile) oleh para rekruter dalam mencari karyawan berpengalaman.

Demikian pula dengan portfolio. Sebagai akumulasi karya, portfolio menunjukkan how well you perform as an artist. Baik secara kualitas, maupun produktifitas. Di era digitalisasi dan robotisasi, yang tidak tersentuh oleh keduanya adalah manusia sebagai seniman (human as an artist).

Jadi sejak masa sekarang, kita harus melihat setiap pekerjaan kita sebagai sebuah karya. Karya yang seperti apa? Karya yang tidak berulang (atau tidak akan terulang). Mengapa demikian? Karena segala yang akan dan bisa berulang, cepat atau lambat, akan diotomatisasi secara digital oleh para robot. Setuju atau tidak?

Education for Being an Artist

Dari beberapa uraian di atas, semakin tampak bahwa kita umat manusia semakin menjauhi yang namanya industrialisasi, revolusi industri, dan berbagai tetek-bengek manufakturisasi lainnya. Bukan akan hilang sama sekali, namun peran dan posisi manusia di dalamnya akan semakin berkurang. Sebagaimana pabrik yang semakin banyak dioperasikan oleh mesin dan robot, instead of manusia. Atau proyek-proyek konstruksi yang tenaga-tenaga buruh bangunannya semakin berkurang seiring dengan penggunaan material-material siap pakai semisal beton-beton precast.

Maka pendidikan di masa depan, adalah pendidikan yang membawa anak-anak kita menjadi seniman. Atau minimal memandang setiap pekerjaannya dalam perspektif karya yang customised (sesuai kebutuhan pengguna) dan sophisticated (kerumitannya juga mengikuti keperluan pengguna).  

Untuk mudahnya, saya tuliskan dalam format bullet point yang mudah dipahami, dieksekusi dan diukur sebagai berikut:

  • Jangan berpatokan sama ujian. Apalagi ujian yang harus belajar dulu baru ujian. Karena ujian itu tidak autentik. Yang autentik itu adalah karya.
  • Tidak belajar dan berkarya sendirian. Kenyataannya, di dunia kekinian, karya tidak dibuat sendirian. Ada proses usaha atau proses yang mengiringi pembuatan sebuah karya. Baik di fase sebelumnya maupun sesudahnya. Berkawanlah dengan mereka yang bisa berperan sebagai ‘hulu’ atau ‘hilir’ dari karyamu.
  • Perbanyak kolaborasi sejak kecil. Bukan dengan yang sejenis, melainkan yang berbeda jenis (profesi, hobi, kompetensi, dll). Ini adalah kelanjutan dari poin dua. Program-program magang untuk anak SMP/SMA itu termasuk kolaborasi, lho.
  • Ajarkan anak mengenai proyek. Judulnya ya manajemen proyek. Mulai dari perencanaan (termasuk desain), pelaksanaan, kontrol/kendali, sampai evaluasi. Karena segala karya akan dikerjakan dalam perspektif manajemen proyek. Sampaikan dengan bahasa anak-anak, ya.

Sementara demikian dahulu renungan ini. Mudah-mudahan memberi manfaat.

Kalau kamu ada pendapat lain, boleh share di kolom komentar, ya 🙂

Menyoal Minat Baca Kita Yang (Katanya) Rendah Itu

Katanya, minat baca kita rendah. Apa iya? Padahal event BBW di Jakarta, Bandung, Surabaya ramai terus. Bahkan mau diadakan juga di Balikpapan. Mari kita ulas dari daya beli maupun kemauan membaca kita.

Katanya, minat baca kita rendah. Tapi kok event Big Bad Wolf (BBW) di Jakarta, Bandung, dan Surabaya ramai dikunjungi? Surabaya sudah 2x lho. Bandung (raya) sekali, Jakarta satu kali. Tidak lama lagi, malah BBW akan diselenggarakan di Balikpapan di Kalimantan Timur.

Katanya minat baca kita rendah. Tapi event pameran buku di Jalan Braga saban tahun saya masuk Bandung, kok selalu ada ya? Penyelenggaraan yang konsisten berarti ‘kan memang pasarnya ada ya. Baik dari penerbit/distributor yang mengisi stand pameran, maupun masyarakat umum yang mengunjungi dan berbelanja di sana.

Katanya kita malas membaca. Tapi kok sepengamatan saya ke keluarga dan teman-teman, kita semua suka mengikuti keriuh-rendahan dan dinamika di grup Whatsapp (WAG), ya?

Tidak hanya WAG, teks-teks di facebook maupun Instagram (IG) pun ramai dibaca dan dikomentari. Bahkan di-share sedemikian rupa. Buktinya, user IG naik terus. Engagement nya pun terus ada. Facebook juga tidak kunjung mati. Bahkan semakin stabil posisinya pasca mengakuisisi perusahaannya WA dan IG.

Baru beberapa hari ini ramai (belum viral) suatu berita tentang politisi-politisi di seluruh dunia mengelola (tentu membayar) buzzer-buzzer (para pendengung) untuk membuat dengungan-dengungan yang relevan. Relevansinya bisa dua bentuk: dengungan yang cenderung mengaburkan berupa hoax yang membutuhkan usaha –dan waktu—untuk mengecek kebenarannya, serta mengamplikasi –syukur bisa sampai viral—keberhasilan dari politisi atau partai politik atau pemerintahan terkait.

Tidak Suka Baca Buku

Omong-omong, ada seorang teman di kantor yang mengaku tidak suka baca buku. Tapi saya yakin sekali, dia yang satu tim dengan saya ini, bukan malas membaca. Seperti saya, dia juga biasa melakukan riset. Tentu biasa membaca literatur (terutama artikel di blog atau situs macam Medium) donk yang diikuti dengan komparasi satu sama lain, dan diakhiri dengan sintesis atau desain ide tertentu. Dalam hal ini, proses bisnis.

Hal yang mungkin bisa ditanyakan ke dia adalah, kenapa bacanya artikel, bukan baca buku?

Fenomena yang lebih besar, adalah mengecilnya industri perbukuan. Gramedia, selain buku yang dicetak, sudah sejak lama memasuki buku elektronik (e-book). Bahkan punya toko daring sendiri di gramediaonline.com

Kita mengamini sendiri bahwa yang dulunya mengaku Toko Buku Gramedia kini brand-nya tidak lagi (sekedar) toko buku. Sudah jadi toko macam-macam. Ya alat musik, alat olahraga, setelah Alat Tulis Kantor (ATK). Tahu tidak, usaha non-buku ini sudah lebih besar omzetnya daripada usaha bukunya itu sendiri. Jadi jangan kaget ya kalau suatu waktu Gramedia juga menjual penggorengan di sana (setengah bercanda sembari mengutip pernyataan salah seorang rekan dahulu).

Di salah satu artikel di buku “Out of The Box”, Iqbal Aji Daryono berpendapat bahwa orang Indonesia itu bukan malas membaca. Segala statistik yang menyatakan bahwa literasi atau minat baca masyarakat kita itu rendah, sebenarnya bisa dibantah, begitu pendapat Iqbal. Menurutnya, bukan begitu rendahnya literasi kita, melainkan daya ekonominya yang tidak ada.

Mungkin, ini mungkin lho ya, ini pendapat pribadi. Daya ekonomi yang ewueh (Sunda: tidak ada) itu bisa berarti daya (kemampuan) belinya memang gak ada atau daya (kemauan) bayarnya yang tiada. Yang pertama, dasar ekonominya yang gak ada. Untuk makan saja sulit, boro-boro bayar sekolah atau pendidikan yang lain (salah satunya bacaan yang berbobot). Saya kira di Indonesia, masalah besarnya masih di sini. Yang kedua, uangnya ada tapi gak bikin anggaran untuk itu. Maunya yang gratis aja. Ya dari FB, WA, IG semuanya yang gratis (eh gak gratis juga sih, kuotanya kan bayar ya. Kecuali kuota gratisan dari Wi-Fi cafe atau kantor. Hihihi).

Kalau bercermin atau menganalogikan dengan pertelevisian kita (sorry agak melebar) yang free-to-air, ini ibarat mau nonton sinetron aja. Tidak bayar ini, kok. Hanya bayar listriknya TV saja sekalian dengan listriknya kulkas, mesin cuci, pompa air, lampu, dsb. Konsekuensinya ya harus mau menelan iklan-iklannya mentah-mentah. Ada yang bilang kalau iklan salurannya digeser saja. Sekaligus dengan konten-konten yang gak berkualitas dan cenderung mematikan logika. Padahal pindah channel ya dapatnya kulit-kulit berita, atau komedi slapstick (eh bener tulisannya gak, ya?) atau sinetron lain yang jalan ceritanya saja mengeryitkan dahi. Pendek kata, gratis kok njaluk quality. Bukan berarti konten-konten TV berbayar (paid TV) itu semuanya bagus. Yang jelek juga ada. Namun, kembali ke kita untuk menyeleksinya.

Poin saya adalah, yang berbayar saja tetap perlu usaha dari kita untuk mencari dan memilihnya, bagaimana dengan yang gratisan dan sulit difilter?

Paid TV awalnya berasal dari negara-negara maju di Barat. Di Eropa dan Amerika Utara sana, permintaan (demand) atas pendidikan sudah sedemikian rupa tingginya hingga institusi keuangan menjembatani user (pengguna) dan provider (penyedia) pendidikan lewat produk pinjaman siswa (personal loan).

Prioritas kita terhadap konten (sebenarnya konten apa pun masuk ranah pendidikan, ‘kan?) berkualitas mungkin belum tinggi ya. Tidak heran, komitmen kita untuk mengkompensasinya dengan sejumlah nilai rupiah tertentu juga masih rendah.

Tapi bisa saja bukan di sana masalahnya.

Superficial Thinking

Saya menduga akar masalah dan fondasi sebabnya berawal di kedalaman berpikir kita. Yeah, ini mirip dan menyerempet kedalaman membaca juga, sih. Karena membaca topik-topik yang dipikirkan dengan seksama, maka turut memikirkan topik tersebut hingga mendalam. Berlaku pula sebaliknya. Dalamnya apa yang dipikirkan berdampak pada kehendak untuk mengkonsumsi bacaan yang mendalam (atau tidak sama sekali).

So, ngalor-ngidul pagi ini bisa diakhiri dengan kesimpulan pentingnya membaca dan berpikir mendalam (deep reading and thinking).

Week-End

Akhir pekan (week end) adalah sesuatu yang ditunggu-tunggu oleh hampir semua orang. Tidak terkecuali saya. Namun, bagaimana saya menghabiskannya sangat berbeda dengan orang kebanyakan. Simak di tulisan akhir pekan ini.

Week end is end of the week. Yeah, it should be like that. At the end of certain period (like a week), what should we do?

Family Time

Waktunya berkumpul dengan anggota keluarga yang lain. Waktunya quality time. Tiap pagi dan malam sih ketemu. Tapi kuantitasnya kurang banyak, jadilah kurang berkualitas.

Satu cara saya (dan kami) supaya waktunya berkualitas adalah …. mengurangi keluar rumah. Terlalu lama di jalan tidak baik untuk kesehatan jiwa. Begitu pun dengan terlalu lama di tempat tujuan.

Hampir tidak bisa itu “enggak keluar rumah”. Di akhir pekan, memang waktunya untuk ke mall, belanja, atau sekedar makan. Ke taman kota atau bahkan ke toko buku (iya euy, langganan majalah anak saja masih kurang. Suplemen bacaan dan aktifitas mereka harus ditambah tiap bulannya).

Alhamdulillah kami juga baru pekan lalu liburan bersama keluarga besar. Kalau hanya berempat, dalam kota saja lebih baik. Kalau ke luar kota, mungkin sama keluarga besar ya lebih enak. Perjalanan tersebut bertajuk “Explore Sul-Sel 2019” yang berbuah tulisan ini lengkap dengan gambar-gambarnya.

Me Time

Terlalu banyak waktu untuk kantor, maupun untuk keluarga, bisa menyedot waktu untuk diri sendiri (Me Time).

Padahal mengabaikan Me Time berarti menurunkan produktifitas kita untuk perusahaan dan untuk keluarga.

Saya penganut work-life balance. Empat puluh (40) jam seminggu untuk kantor. Kalau kurang, berarti lembur. Tapi lembur hanyalah tambahan. Yang di-“tambah”-kan bila memang dirasa “kurang”.

Saya pernah bela-belain kerja di atas 8 jam sehari. Many times, it is not worth it. Kampeni-nya gak tumbuh. Organisasi tidak membesar. Posisi tidak naik. Untuk apa menaikkan gaji? Apa pantas kita berkorban satu sumber daya, demi mendapat target lain (yang belum tentu berhasil didapat)?

Bukan menyuruh tarik tangan dari taruhan. Gambling is ok. But be smart with your risk management. Do not risk your time to only one activity. As you don’t put your eggs in one basket.

Hidup bukan soal mencapat satu target saja, ‘kan? Bagi saya, mereka yang sukses adalah yang bisa meraih beberapa target sekaligus dalam waktu berdekatan. Sementara tidak semua target soal karir atau soal uang.

Balik ke me-time. Saya senang menghabiskan waktu dengan mengenali diri saya sendiri. Seperti sekarang ini. Berpikir, berkontemplasi, sambil menulis. Blogging is adventuring and exploring your thought through writing. And that is quite relieving.

Sebagaimana saya menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga (ehm, untung rumah saya beneran ada tangganya, ya) semisal belanja ke pasar, mencuci baju dan piring kotor, menjemur pakaian, atau memasak. Iya, kami mengerjakan belanja dan masaknya sendiri. Karena ini rumah tangga, bukan rumah makan. Taraktakdungces!

Dan itu semua, cukup melegakan dan memberi energi untuk kembali ke hari Senin-Jumat di pekan berikutnya.

Do Your Hobby

Pulang kantor itu lelah fisik dan mental. Bahkan setelah mandi air dingin (atau panas) sekalipun, lelah mental masih ada. Setelah bermain dengan anak-anak, capeknya juga masih ada. Mental, bukan fisik. Jadi, waktu optimalnya adalah at the end of the week. Lagi, lagi dan lagi.

Karena itu kita wajib mengoptimalkannya untuk mengerjakan hobi. Namanya hobi, lebih baik daripada tidur. Karena tidur bukan hobi.

Satu hobi saya membaca. Seperti nge-blog, dengan membaca maka perasaan saya lebih lega. Pikiran saya pun lebih rileks, karena peregangan (stretching) dengan topik lain. Bukan mentok lagi dengan teknikalitas-nya technical writing.

Topik yang saya baca belakangan ini adalah parenting (because I’m a parent and a father), history (bukan segala sejarah, tapi yang berkaitan dengan sejarah hidup saya sendiri selaku muslim dan atribut lainnya semisal sekolah maupun kota asal saya).

Sembari membaca, saya jadinya memutar ulang memori-memori tentang buku atau tulisan yang pernah saya baca. Misalkan saya jadi ingat topik introvert yang beberapa kali saya tuliskan di sini dan di sini.

Evaluate and Plan

Jangan habiskan waktu dengan menjalani hidup begitu saja dan datar-datar saja. Setidaknya saya sedang berbicara kepada dan mengingatkan diri sendiri. Evaluasi seminggu terakhir melakukan apa saja. Rencanakan seminggu ke depan mau ngapain aja.

Journalling juga bagus banget. Karena sambil ditulis, ‘kan? Sudah bikin apa aja, mana yang belum sempat, atau belum beres. Planning juga mau dilanjutkan/diulangi lagi atau tunda dulu, dst.

Watch Chelsea

Si Biru yang dulu saya suka karena warnanya. Namun sekarang, semakin saya mengidolakan karna banyak kesamaan dengan diri saya.

Chelsea tidak hanya main di akhir pekan sih. Tengah pekan juga. Namun, yang paling tepat untuk disaksikan memang yang English Premier League itu.

Kabar terbarunya, mereka menjembatani kesuksesan masa lalu (past achievement) via Frank Lampard (manajer tim) dan Petr Cech (Performance and Technical Advisor) dengan pemuda-pemuda 18-22 tahun yang berasal dari akademi mereka. Sukses juara Piala Eropa tengah tahun ini menginspirasi tulisan yang ini.

Mulai low-battery nih laptop. Mendekati akhir. Sudah waktunya juga untuk mengakhiri.

I’m happy to have activities outside the house at the weekend. But as far as I know myself, the outdoor activities just getting better when I have finished my personal and family processes inside the home. And then, I’m ready to face my Monday to Friday.