Menyoal Minat Baca Kita Yang (Katanya) Rendah Itu

Katanya, minat baca kita rendah. Apa iya? Padahal event BBW di Jakarta, Bandung, Surabaya ramai terus. Bahkan mau diadakan juga di Balikpapan. Mari kita ulas dari daya beli maupun kemauan membaca kita.

Katanya, minat baca kita rendah. Tapi kok event Big Bad Wolf (BBW) di Jakarta, Bandung, dan Surabaya ramai dikunjungi? Surabaya sudah 2x lho. Bandung (raya) sekali, Jakarta satu kali. Tidak lama lagi, malah BBW akan diselenggarakan di Balikpapan di Kalimantan Timur.

Katanya minat baca kita rendah. Tapi event pameran buku di Jalan Braga saban tahun saya masuk Bandung, kok selalu ada ya? Penyelenggaraan yang konsisten berarti ‘kan memang pasarnya ada ya. Baik dari penerbit/distributor yang mengisi stand pameran, maupun masyarakat umum yang mengunjungi dan berbelanja di sana.

Katanya kita malas membaca. Tapi kok sepengamatan saya ke keluarga dan teman-teman, kita semua suka mengikuti keriuh-rendahan dan dinamika di grup Whatsapp (WAG), ya?

Tidak hanya WAG, teks-teks di facebook maupun Instagram (IG) pun ramai dibaca dan dikomentari. Bahkan di-share sedemikian rupa. Buktinya, user IG naik terus. Engagement nya pun terus ada. Facebook juga tidak kunjung mati. Bahkan semakin stabil posisinya pasca mengakuisisi perusahaannya WA dan IG.

Baru beberapa hari ini ramai (belum viral) suatu berita tentang politisi-politisi di seluruh dunia mengelola (tentu membayar) buzzer-buzzer (para pendengung) untuk membuat dengungan-dengungan yang relevan. Relevansinya bisa dua bentuk: dengungan yang cenderung mengaburkan berupa hoax yang membutuhkan usaha –dan waktu—untuk mengecek kebenarannya, serta mengamplikasi –syukur bisa sampai viral—keberhasilan dari politisi atau partai politik atau pemerintahan terkait.

Tidak Suka Baca Buku

Omong-omong, ada seorang teman di kantor yang mengaku tidak suka baca buku. Tapi saya yakin sekali, dia yang satu tim dengan saya ini, bukan malas membaca. Seperti saya, dia juga biasa melakukan riset. Tentu biasa membaca literatur (terutama artikel di blog atau situs macam Medium) donk yang diikuti dengan komparasi satu sama lain, dan diakhiri dengan sintesis atau desain ide tertentu. Dalam hal ini, proses bisnis.

Hal yang mungkin bisa ditanyakan ke dia adalah, kenapa bacanya artikel, bukan baca buku?

Fenomena yang lebih besar, adalah mengecilnya industri perbukuan. Gramedia, selain buku yang dicetak, sudah sejak lama memasuki buku elektronik (e-book). Bahkan punya toko daring sendiri di gramediaonline.com

Kita mengamini sendiri bahwa yang dulunya mengaku Toko Buku Gramedia kini brand-nya tidak lagi (sekedar) toko buku. Sudah jadi toko macam-macam. Ya alat musik, alat olahraga, setelah Alat Tulis Kantor (ATK). Tahu tidak, usaha non-buku ini sudah lebih besar omzetnya daripada usaha bukunya itu sendiri. Jadi jangan kaget ya kalau suatu waktu Gramedia juga menjual penggorengan di sana (setengah bercanda sembari mengutip pernyataan salah seorang rekan dahulu).

Di salah satu artikel di buku “Out of The Box”, Iqbal Aji Daryono berpendapat bahwa orang Indonesia itu bukan malas membaca. Segala statistik yang menyatakan bahwa literasi atau minat baca masyarakat kita itu rendah, sebenarnya bisa dibantah, begitu pendapat Iqbal. Menurutnya, bukan begitu rendahnya literasi kita, melainkan daya ekonominya yang tidak ada.

Mungkin, ini mungkin lho ya, ini pendapat pribadi. Daya ekonomi yang ewueh (Sunda: tidak ada) itu bisa berarti daya (kemampuan) belinya memang gak ada atau daya (kemauan) bayarnya yang tiada. Yang pertama, dasar ekonominya yang gak ada. Untuk makan saja sulit, boro-boro bayar sekolah atau pendidikan yang lain (salah satunya bacaan yang berbobot). Saya kira di Indonesia, masalah besarnya masih di sini. Yang kedua, uangnya ada tapi gak bikin anggaran untuk itu. Maunya yang gratis aja. Ya dari FB, WA, IG semuanya yang gratis (eh gak gratis juga sih, kuotanya kan bayar ya. Kecuali kuota gratisan dari Wi-Fi cafe atau kantor. Hihihi).

Kalau bercermin atau menganalogikan dengan pertelevisian kita (sorry agak melebar) yang free-to-air, ini ibarat mau nonton sinetron aja. Tidak bayar ini, kok. Hanya bayar listriknya TV saja sekalian dengan listriknya kulkas, mesin cuci, pompa air, lampu, dsb. Konsekuensinya ya harus mau menelan iklan-iklannya mentah-mentah. Ada yang bilang kalau iklan salurannya digeser saja. Sekaligus dengan konten-konten yang gak berkualitas dan cenderung mematikan logika. Padahal pindah channel ya dapatnya kulit-kulit berita, atau komedi slapstick (eh bener tulisannya gak, ya?) atau sinetron lain yang jalan ceritanya saja mengeryitkan dahi. Pendek kata, gratis kok njaluk quality. Bukan berarti konten-konten TV berbayar (paid TV) itu semuanya bagus. Yang jelek juga ada. Namun, kembali ke kita untuk menyeleksinya.

Poin saya adalah, yang berbayar saja tetap perlu usaha dari kita untuk mencari dan memilihnya, bagaimana dengan yang gratisan dan sulit difilter?

Paid TV awalnya berasal dari negara-negara maju di Barat. Di Eropa dan Amerika Utara sana, permintaan (demand) atas pendidikan sudah sedemikian rupa tingginya hingga institusi keuangan menjembatani user (pengguna) dan provider (penyedia) pendidikan lewat produk pinjaman siswa (personal loan).

Prioritas kita terhadap konten (sebenarnya konten apa pun masuk ranah pendidikan, ‘kan?) berkualitas mungkin belum tinggi ya. Tidak heran, komitmen kita untuk mengkompensasinya dengan sejumlah nilai rupiah tertentu juga masih rendah.

Tapi bisa saja bukan di sana masalahnya.

Superficial Thinking

Saya menduga akar masalah dan fondasi sebabnya berawal di kedalaman berpikir kita. Yeah, ini mirip dan menyerempet kedalaman membaca juga, sih. Karena membaca topik-topik yang dipikirkan dengan seksama, maka turut memikirkan topik tersebut hingga mendalam. Berlaku pula sebaliknya. Dalamnya apa yang dipikirkan berdampak pada kehendak untuk mengkonsumsi bacaan yang mendalam (atau tidak sama sekali).

So, ngalor-ngidul pagi ini bisa diakhiri dengan kesimpulan pentingnya membaca dan berpikir mendalam (deep reading and thinking).

Week-End

Akhir pekan (week end) adalah sesuatu yang ditunggu-tunggu oleh hampir semua orang. Tidak terkecuali saya. Namun, bagaimana saya menghabiskannya sangat berbeda dengan orang kebanyakan. Simak di tulisan akhir pekan ini.

Week end is end of the week. Yeah, it should be like that. At the end of certain period (like a week), what should we do?

Family Time

Waktunya berkumpul dengan anggota keluarga yang lain. Waktunya quality time. Tiap pagi dan malam sih ketemu. Tapi kuantitasnya kurang banyak, jadilah kurang berkualitas.

Satu cara saya (dan kami) supaya waktunya berkualitas adalah …. mengurangi keluar rumah. Terlalu lama di jalan tidak baik untuk kesehatan jiwa. Begitu pun dengan terlalu lama di tempat tujuan.

Hampir tidak bisa itu “enggak keluar rumah”. Di akhir pekan, memang waktunya untuk ke mall, belanja, atau sekedar makan. Ke taman kota atau bahkan ke toko buku (iya euy, langganan majalah anak saja masih kurang. Suplemen bacaan dan aktifitas mereka harus ditambah tiap bulannya).

Alhamdulillah kami juga baru pekan lalu liburan bersama keluarga besar. Kalau hanya berempat, dalam kota saja lebih baik. Kalau ke luar kota, mungkin sama keluarga besar ya lebih enak. Perjalanan tersebut bertajuk “Explore Sul-Sel 2019” yang berbuah tulisan ini lengkap dengan gambar-gambarnya.

Me Time

Terlalu banyak waktu untuk kantor, maupun untuk keluarga, bisa menyedot waktu untuk diri sendiri (Me Time).

Padahal mengabaikan Me Time berarti menurunkan produktifitas kita untuk perusahaan dan untuk keluarga.

Saya penganut work-life balance. Empat puluh (40) jam seminggu untuk kantor. Kalau kurang, berarti lembur. Tapi lembur hanyalah tambahan. Yang di-“tambah”-kan bila memang dirasa “kurang”.

Saya pernah bela-belain kerja di atas 8 jam sehari. Many times, it is not worth it. Kampeni-nya gak tumbuh. Organisasi tidak membesar. Posisi tidak naik. Untuk apa menaikkan gaji? Apa pantas kita berkorban satu sumber daya, demi mendapat target lain (yang belum tentu berhasil didapat)?

Bukan menyuruh tarik tangan dari taruhan. Gambling is ok. But be smart with your risk management. Do not risk your time to only one activity. As you don’t put your eggs in one basket.

Hidup bukan soal mencapat satu target saja, ‘kan? Bagi saya, mereka yang sukses adalah yang bisa meraih beberapa target sekaligus dalam waktu berdekatan. Sementara tidak semua target soal karir atau soal uang.

Balik ke me-time. Saya senang menghabiskan waktu dengan mengenali diri saya sendiri. Seperti sekarang ini. Berpikir, berkontemplasi, sambil menulis. Blogging is adventuring and exploring your thought through writing. And that is quite relieving.

Sebagaimana saya menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga (ehm, untung rumah saya beneran ada tangganya, ya) semisal belanja ke pasar, mencuci baju dan piring kotor, menjemur pakaian, atau memasak. Iya, kami mengerjakan belanja dan masaknya sendiri. Karena ini rumah tangga, bukan rumah makan. Taraktakdungces!

Dan itu semua, cukup melegakan dan memberi energi untuk kembali ke hari Senin-Jumat di pekan berikutnya.

Do Your Hobby

Pulang kantor itu lelah fisik dan mental. Bahkan setelah mandi air dingin (atau panas) sekalipun, lelah mental masih ada. Setelah bermain dengan anak-anak, capeknya juga masih ada. Mental, bukan fisik. Jadi, waktu optimalnya adalah at the end of the week. Lagi, lagi dan lagi.

Karena itu kita wajib mengoptimalkannya untuk mengerjakan hobi. Namanya hobi, lebih baik daripada tidur. Karena tidur bukan hobi.

Satu hobi saya membaca. Seperti nge-blog, dengan membaca maka perasaan saya lebih lega. Pikiran saya pun lebih rileks, karena peregangan (stretching) dengan topik lain. Bukan mentok lagi dengan teknikalitas-nya technical writing.

Topik yang saya baca belakangan ini adalah parenting (because I’m a parent and a father), history (bukan segala sejarah, tapi yang berkaitan dengan sejarah hidup saya sendiri selaku muslim dan atribut lainnya semisal sekolah maupun kota asal saya).

Sembari membaca, saya jadinya memutar ulang memori-memori tentang buku atau tulisan yang pernah saya baca. Misalkan saya jadi ingat topik introvert yang beberapa kali saya tuliskan di sini dan di sini.

Evaluate and Plan

Jangan habiskan waktu dengan menjalani hidup begitu saja dan datar-datar saja. Setidaknya saya sedang berbicara kepada dan mengingatkan diri sendiri. Evaluasi seminggu terakhir melakukan apa saja. Rencanakan seminggu ke depan mau ngapain aja.

Journalling juga bagus banget. Karena sambil ditulis, ‘kan? Sudah bikin apa aja, mana yang belum sempat, atau belum beres. Planning juga mau dilanjutkan/diulangi lagi atau tunda dulu, dst.

Watch Chelsea

Si Biru yang dulu saya suka karena warnanya. Namun sekarang, semakin saya mengidolakan karna banyak kesamaan dengan diri saya.

Chelsea tidak hanya main di akhir pekan sih. Tengah pekan juga. Namun, yang paling tepat untuk disaksikan memang yang English Premier League itu.

Kabar terbarunya, mereka menjembatani kesuksesan masa lalu (past achievement) via Frank Lampard (manajer tim) dan Petr Cech (Performance and Technical Advisor) dengan pemuda-pemuda 18-22 tahun yang berasal dari akademi mereka. Sukses juara Piala Eropa tengah tahun ini menginspirasi tulisan yang ini.

Mulai low-battery nih laptop. Mendekati akhir. Sudah waktunya juga untuk mengakhiri.

I’m happy to have activities outside the house at the weekend. But as far as I know myself, the outdoor activities just getting better when I have finished my personal and family processes inside the home. And then, I’m ready to face my Monday to Friday.