Passion is Overrated

Kurang lebih beberapa belas tahun lalu, passion dipandang sangat penting. Bahkan, nyaris segalanya dalam berkarya. Lewat tulisan ini, mari pelajari cara memvalidasi passion supaya kita tidak terjebak dengan eutopia olehnya.

Katanya sih begitu. Passion is overrated. Tapi kini saya setuju. Awalnya saya sangat mendewa-dewakan passion. Bukan apa-apa. Kita menghabiskan berjam-jam waktu untuk bekerja (dan mencari uang), bagaimana bisa kita tidak bahagia setelah menghambur-hamburkan sekian jam tersebut setiap harinya? So, I conclude that passion is important for me, at least for my own happiness.

Sampai akhirnya kemudian saya mulai menyadari bahwa saya harus tumbuh. Bukan sekadar pribadi saya sendiri, tetapi juga menumbuhkan istri dan anak-anak saya. Dengan kata lain, menumbuhkan keluarga saya. Ada kewajiban-kewajiban sangat mendasar yang mereka butuhkan. Pangan, sandang, papan. Di sisi lain, ada kebutuhan maupun keinginan lain dari mereka yang datang kepada saya dengan nominal label harga tertentu. Bukan sekedar tertentu, melainkan harga mati yang tidak bisa ditawar lagi. Yang saya harus membayarnya.

Akhirnya, bagi saya sendiri, saya juga harus memiliki target kuantitatif yang jelas dan transparan. Untuk menutupi dan mencukupi berbagai kebutuhan dan keinginan tersebut tadi. Di sisi lain, mengakomodasi aspirasi keluarga kecil saya juga berarti bertumbuh dan berkembang bersama mereka secara sosial (dengan siapa kami berteman dan berhubungan) maupun ekonomi (bagaimana kami memperoleh uang dan mempertahankan gaya hidup).

Itulah alasan pertama passion is overrated. Karena bila kita egois hanya memikirkan passion dan kebahagiaan kita sendiri saja, maka kita sudah memberi nilai yang berlebihan (overrated) pada passion. Padahal, selaku suami dan ayah yang –katanya– bertanggung jawab, kita tidak boleh egois. Keluarga kita adalah pelanggan utama (prime customer) kita, yang harus kita rawat dan tumbuhkan. Dan passion tidak melakukan keduanya. Karya dan hasil nyata –berupa uang– yang mampu melakukannya.

Alasan kedua, adalah kita terlampau cepat menilai apa sebenarnya passion kita. Terlalu instant dalam menentukan dan memutuskan aktifitas/hobi apa yang ingin kita jalani. Terutama yang menghasilkan uang. Passion yang kira-kira menghabiskan banyak waktu, baik waktu sibuk maupun waktu senggang dan tetap menghasilkan.

Validasi Passion

Padahal validasi wajib dilakukan terhadap yang kita sebut “passion”. Beberapa periksa ulang yang harus dikerjakan:

  • Apakah ini passion sesaat (1-2 tahun saja) atau benar-benar yang ingin kita lakukan berpuluh-puluh tahun dalam hidup kita?
  • Apakah kita hanya ingin tampak keren (cool) dengan apa yang kita kerjakan, atau bahkan tidak ada masalah bila orang lain memandang dengan sebelah mata?
  • Apakah ini benar-benar menghasilkan uang yang lebih dari cukup –yang bisa membayar tagihan-tagihan kita– bila ditekuni terus-menerus?
  • Apakah kita benar-benar bahagia mengerjakan ini, atau apabila sedang dikejar tenggat waktu (deadline) atau sedang tertekan (stressed) kita akan tetap meneruskan passion ini?

Bila mengamati dan membandingkan Gen-X dan Gen-Y, saya menemukan bahwa Gen-X itu tidak ambil pusing dengan apa yang terjadi di tempat kerja mereka. Berbeda dengan Gen-Y yang bersikap sangat emosional terhadap segala yang dikerjakan. Sehingga, di mana saja dan kapan saja terus-menerus memikirkan apa yang sudah/sedang/akan dikerjakan. Gen-Y sangat terkoneksi dengan apa yang mereka kerjakan. Tidak heran Gen-Y benar-benar memilih apa yang ingin dikerjakan dalam hidup. Salah memilih sama artinya dengan melempar bumerang –yang kembali ke diri sendiri.

Salah satu sebabnya mungkin adalah betapa terkoneksinya kita dengan dunia digital, terutama social media. Dengannya, kita selalu membandingkan hidup kita dengan hidup orang lain. Seakan rumput tetangga selalu lebih hijau. Padahal, konten bisa direkayasa, ‘kan? Hanya yang indah-indah yang ditampilkan. Kita harus tahu dan yakin bahwasanya setiap orang memiliki masalah dan perjuangannya masing-masing. Di antaranya:

  • Ada yang sudah menemukan dan bekerja sesuai passion, ternyata hasil uangnya belum cukup untuknya. Apalagi sampai memuaskan keinginan ekonominya dan mengangkat gaya hidupnya.
  • Ada yang punya harta lebih dari cukup. Tapi jauh di dalam hatinya, tidak senang dengan apa yang dikerjakan.

Beruntunglah mereka yang sedang menjalani passion dan menghasilkan uang yang bisa membayar tagihan-tagihan mereka sendiri. Apalagi jika mereka menemukannya sudah sejak muda. Mudah-mudahan anda termasuk di dalamnya.

Dalam mencari dan menemukan passion itu kita harus menyediakan waktu yang banyak. Bertahun-tahun, bahkan. Tidak heran ada yang baru mantap menjalani passion-nya di atas usia 30 tahun. Berapa persisnya itu? 8 tahun setelah lulus kuliah. Atau malah 12 tahun sejak lulus SMA/SMK.

Simpulan

Sebagai kesimpulan, apa saja yang harus dikerjakan?

  • Fokus untuk memvalidasi sedikitnya 4 hal yang sudah disebut di pointer-pointer pertama.
  • Menyediakan waktu membangun keterampilan (skill) di bidang tersebut. Ini aspek internal, sebenarnya.

Silaturahmi dan berjejaring (networking). Selain sebagai bagian dari proses validasi, keduanya membantu kita mengembangkan pelanggan dan pasar kita. Di sinilah aspek eksternalnya.

Menyelami filosofi rumah panggung milik Suku Bugis

Desain rumah adat bukan sekadar karakteristik pembeda atau ciri khas semata. Melainkan ada fungsi-fungsi yang disediakan olehnya serta ada pula kebutuhan akan kecocokan dengan tipe aktifitas masyarakat setempat itu sendiri. Berikut ulasan saya mengenai rumah adat suku bugis.

Beberapa suku bangsa di Indonesia memiliki karakteristrik rumah adat tradisional masing-masing. Berhubung saya sedang berpariwisata sekaligus bersilaturahmi ke keluarga besar di tanah Sulawesi Selatan (Sulsel), izinkan saya mengulas filosofi dari rumah-rumah panggung yang menjadi tempat menginap kami selama beberapa hari. Sebisa mungkin saya lengkapi dengan referensi dari luar. Namun, sebagian besar tulisan ini merupakan eksplorasi dan eksploitasi saya pada fungsionalitas dari desain rumah-rumah panggung tersebut.

Rumah ini lumayan banyak betonnya. Padahal ya rumah panggung juga. Dinding rumahnya pun masih didominasi kayu. Bagian depannya saja yang diberi dak beton.

Namanya rumah panggung, penghuni maupun para tamu langsung “disambut” oleh tangga –yang terletak di depan rumah– menuju ke lantai dua. Beberapa rumah panggung bahkan memiliki dua tangga. Satu di depan, satu di samping. Jadi, rata-rata ruang tamunya berada di “panggung”-nya tersebut. Bagian kolong rumah menjadi gudang, kebun, kandang ayam, kamar mandi, dan lain-lain. Saya duga, rumah panggung ini didesain demikian karena suatu alasan khusus. Namun bukan alasan semisal banyaknya binatang buas, sehingga penghuninya harus diamankan dari binatang buas tersebut.

Bagian depan rumah panggung. Di sisi kiri, terlihat tangga depan ya. Biasanya tiap rumah ada dua tangga. Depan-samping atau depan-belakang. Lihat, semuanya didominasi kayu: lantai, tangga, plafon. Atap depan saja yang sudah menggunakan genteng metal + rangka baja ringan.

Kalau versi ‘mistis’ dari desain dan rancangan rumah panggung konon sebagai berikut ini. Dahulu, nenek moyang kita percaya dengan kekuatan-kekuatan alam. Di mana, ‘atas’ adalah alam Tuhan, ‘tengah’ adalah alam manusia, dan alam ‘bawah’. Tidak heran, hewan-hewan diternakkan di bawah panggung rumah, manusia di ‘tengah’ alias di panggung-nya, dengan bagian atap berperan sebagai lumbung padi perlambang anugerah pemberian Tuhan.

Struktur dan lantainya didominasi oleh kayu pohon ulin. Jadi bisa dikatakan, rumah-rumah panggung di sini didominasi oleh kayu dan perkayuan. Jangan meremehkan karakter kayu sebagai bahan dasar pembangunan rumah ya. Karena kayu memiliki kelebihan pada kelenturannya. Jadi meski dihuni oleh banyak orang, rumah panggung berbahan kayu pun tidak ambruk. Sebab, berbagai tekanan maupun getaran yang ditimbulkan akan diserap oleh kelenturan material kayu tersebut. Terasa sekali dari langkah-langkah kaki kita di atas rumah panggung, namun tanpa perlu diliputi oleh rasa kekhawatiran akan kemungkinan ‘terjeblosnya’ kita ke bawah.

(Mungkin foto kurang jelas) Di seberang sana ada mobil terlihat, ‘kan? Nah itu memang jalan raya. Jadi di perbatasan Parepare-Barru memang ada lembah sedikit di kanan-kiri jalan raya. Di lembah itulah rumah panggung dibangun. Memang dekat dengan pantai dan banyak sungai ya, jadi gak heran tanah tempat berdirinya rumah lebih rendah dari jalan raya.

Untuk cuci piring, kebanyakan melakukannya di lantai keramik (kira-kira luasnya 2×1 meter) yang diisolasi oleh dinding bata berkeramik setinggi kurang lebih 10-15 cm. Jadi ada keran di sini yang menarik air dari bawah ditemani dengan beberapa buah ember/waskom. Hanya sebagian kecil rumah panggung yang memiliki bak cuci (washtank).

Sebagaimana sudah disebut di atas, kamar mandi banyak pula yang berada di bagian bawah rumah. Alias dari ‘panggung’ harus menuruni tangga-tangga kayu menuju kamar mandi atau toilet; yang bila masih sangat tradisional, mengandalkan air dari sumur. Lebih canggih sedikit, akan menggunakan pompa air dan keran.

Wah, ini sebenarnya masih di rumah yg gambar pertama di atas. Rumah dominasi beton yg di seberang sana. Kalau dari tempat saya memotret ini, masih 95% kayu. Tuh, terlihat kan ya, tiang-tiang dari kayu ulin di rumah seberang. Ada pondasi kecilnya juga. Pondasinya gak disembunyikan di tanah. Jadi pondasinya memang terlihat begitu.

Di daerah keluarga saya banyak bertempat tinggal (dekat Kota Parepare tapi masih wilayah Barru, sudah cukup modern secara pengetahuan dan relatif mapan ekonomi masyarakat setempat. Meskipun rumah berbahan kayu, namun memiliki kendaraan pribadi (didominasi sepeda motor, sebagian kecil memiliki mobil) dan pemuda-pemudanya banyak yang sarjana –dari kota Makassar.

Karena hampir 100% didominasi oleh kayu –saya pakai kata ‘hampir’ karena saya gak yakin sepenuhnya rumah-rumah panggung ini benar-benar 100% kayu—maka bisa dikatakan rumah ini relatif ringan. Dan oleh sebab itu, rumah panggung tersebut dapat dipindahkan!

Dan ternyata pemindahan rumah panggung memang pernah terjadi di keluarga besar kami. Yaitu ketika nenek saya menjual bangunan rumahnya kepada seorang tetangga. Jadi bangunan tersebut dipindahkan oleh banyak warga masyarakat (tentu didominasi oleh tetangga setempat, ya) ke tanah milik tetangga tersebut yang berjarak hanya puluhan meter. Jadi, transaksi yang terjadi bukan jual beli tanah dan bangunan –seperti yang umum terjadi—namun, hanya meliputi bangunannya saja.

Berikut ini contoh pemindahan bangunan rumah panggung –yang ternyata ada upacaranya segala. https://www.youtube.com/watch?v=uXrzpGCebKw

Berhubung kebanyakan kota-kota di Sulsel masih didominasi oleh kabupaten (hanya tiga kotamadya, yaitu Makassar selaku Ibukota Provinsi, Parepare serta Palopo) yang mencerminkan pula tingkat perekonomian secara umum, maka bisa dikatakan harga tanah relatif belum mahal di kabupaten-kabupaten tersebut. Sehingga kepemilikan tanah pun relatif luas (di atas 150 meter persegi) yang berakibat pada luasnya bangunan rumah-rumah panggung tersebut di atas.

Nah, dalam pada tingkat keakraban antar warga yang masih kental, diikuti dengan aktifitas warga masyarakat yang tidak terlalu commute seperti di Jabodetabek, maka bangunan rumah panggung berfungsi ganda. Tidak hanya sekedar tempat tinggal, namun juga sebagai lokasi penyelenggaraan acara-acara besar keluarga seperti akad nikah, sunatan, dan acara-acara monumental lainnya.

Bangunan yang luas, didukung dengan keakraban dan bantuan dari tetangga-tetangga dalam penyelenggaraan acara, semakin mengokohkan posisi rumah panggung sebagai (1) tempat tinggal yang cocok untuk lingkungan kabupaten dengan jarak antar rumah yang tidak saling menempel, dan sebagai (2) infrastruktur yang menopang kokohnya kehidupan bermasyarakat warga bugis di Sulsel.

Sekedar perbandingan, semakin memasuki pusat Kota Parepare, maka kita akan semakin jarang menemukan keberadaan rumah panggung. Kurang lebih, perkiraan kasar hasil observasi saya, rumah panggung sudah berkurang hingga 20%-25% saja. Di dalam lingkungan perkotaan yang padat penduduk, dengan harga tanah relatif lebih mahal, maka rumah panggung bukan lagi solusi tempat tinggal yang wajib mendapat prioritas utama. Masih tetap ada yang mempertahankan rumah panggung di Kota Parepare, namun keberadaannya tidak sebanding dengan dominasi rumah batu (bata).

Demikian observasi kasar saya selama dua hari di Kabupaten Barru dan dua hari di Kota Parepare ini. Besok pagi kami akan menempuh perjalanan menuju Kota Makassar. Yang tentunya, dinamika tempat tinggalnya lebih tinggi daripada dua daerah tingkat II yang sudah disebutkan sebelumnya.

Tiga Sejarah yang Perlu Kita Ketahui terkait Sistem Per-Sekolah-an

Perihal sejarah sistem per-sekolah-an, yaitu playground, tes IQ dan homeschooling

PlayGroup (PG) atau lazimnya disebut Kelompok Bermain (KB)

Menurut sejarah, memasukkan anak ke playgroup adalah pilihan keterpaksaan daripada anak diasuh oleh pengasuh yang tidak berpengalaman dan terlatih. Latar belakangnya begini: Tahun 1960-an, Alvin Toffler pernah meramalkan bahwa nanti di Amerika akan terjadi Future Shock! Para ibu yang sebelumnya memiliki waktu untuk  mengasuh anak di rumah, akan menjadi ibu-ibu bekerja (Working Mom) seingga anak-anak tidak lagi ada yang mengasuh di rumah.

Oleh sebab itu, (mungkin kejadiannya di Amerika Serikat sana), perlu dibuat (dan diregulasikan) suatu institusi yang bisa “menggantikan” peran ibu – terutama ketika si ibu sedang bekerja. Jika tidak, akan terjadi generasi yang hilang (Lost Generation) karena perubahan gaya hidup di tingkat masyarakat tersebut. Pemerintah kemudian bereaksi. Dibuatlah sekolah untuk anak-anak batita (bawah tiga tahun, atau toddler). Yang tujuan utamanya sebagai langkah antisipasi agar tidak terjadi Lost Generation karena masa batita dan balita (bawah lima tahun) adalah masa emas pertumbuhan otak anak.

Komentar saya: mungkin fenomena ibu bekerja dan playgroup ini baru beberapa tahun terakhir masif terjadi di Indonesia secara umum, ya (kalau Jakarta jelas sudah lebih lama). Bermunculanlah banyak playgroup, termasuk yang franchise dari luar negeri. Kembali ke sejarah tersebut, jadi sesungguhnya playgroup hanyalah sebuah alternatif saja. Bukan keharusan di mana stay-at-home mom juga harus menitipkan putra-putrinya di Playground. Rekan-rekan saya yang pasutri bekerja pun menitipkan putra/putrinya di PG karena belum trust dengan ART/pengasuh mereka. Saya setuju dengan ustadz Bendri Jaisyurrahman yang menyatakan bahwa ibu adalah guru pertama bagi anak-anaknya dengan ayahnya sebagai kepala sekolahnya.

Tes IQ untuk penerimaan siswa sekolah.

Menurut sejarah, pada saat terjadi Perang Dunia I, Alfred Binet seorang psikolog berkebangsaan Prancis, diminta oleh pemerintahnya membuat tes untuk proses rekrutmen calon tentara. Tes ini memberikan legitimasi atau alasan siapa yang diterima dan tidak diterima sebagai calon prajurit.

Pada masa itu, belum ada riset mengenai otak dan cara kerja otak. Basis dalam mengukur kecerdasan bukan didasarkan pada cara otak manusia bekerja, melainkan data/fakta “Bell Curve”, alias kurva lonceng. Bahwa dengan tes IQ tersebut dan hasil kurva loncengnya, maka dapat dijadikan dasar memisahkan atau mengklasifikasikan kegagalan atau keberhasilan seseorang yang asumsinya akan turut menentukan kesuksesan karir seseorang. Put simply, kalau IQ-nya tinggi maka dia akan sukses sebagai tentara. Hhmmm, kayaknya gak gitu juga deh, ya? 🙂

Tes IQ untuk rekrutmen calon tentara tersebut dirasa berhasil (padahal mungkin belum ada tes pembanding yang sepadan dalam hal mengukur cara kerja otak), sehingga perlahan-lahan diujicobakan untuk penerimaan karyawan di dekade-dekade berikutnya. Tidak hanya di ketentaraan, maupun kepegawaian secara umum, namun juga mindset kurva lonceng tersebut juga terinstalasi di sekolah-sekolah kita.

Komentar saya: mereka yang mengalami proses pendidikan dan pencerahan pikiran lewat sekolah (termasuk saya) menyadari dan mengakui bahwasanya sekolah bukanlah tempat berkompetisi. Dalam kisah mengenai tes IQ di atas, bahkan “kompetisi” tersebut sudah dimulai sebelum masuk sekolah. Pasca proses pembelajaran berlangsung, hasil evaluasi kumulatifnya para siswa dengan nilai terbaik (biasanya tiga besar) diurutkan di antara 30-an siswa di kelasnya. Makin kental lah unsur kompetisi di sekolah. Padahal minat, bakat, serta cara kerja otak antara siswa yang satu dengan siswa lainnya bisa jadi sangat berbeda. Kita mengkompetisikan mereka pada bidang yang start-nya saja tidak sama, bagaimana bisa? Menurut Howard Gardner, ada 9 tipe kecerdasan. Dan siswa-siswa kita, sebagaimana kita semua, memiliki dua atau tiga kecerdasan di antaranya yang berkembang jauh lebih baik dibandingkan dengan kecerdasan-kecerdasan lainnya. Fokus pendidikan kita via sistem sekolah, (mungkin) seharusnya didasarkan pada dua atau tiga kecerdasan utama tersebut.

Homeschooling.

Awalnya, homeschooling lahir di Eropa, sekitar tahun 1980-an, ketika sebagian orangtua di Inggris kecewa dengan sistem sekolah yang ada. Menurut mereka, sistem pendidikan yang ada tidak mengakomodasikan keunikan masing-masing anak. Tidak semua pandai Matematika atau Fisika. Ada yang berminat dan berbakat di bidang menulis, menggambar, musik, menari atau lainnya.

Kalau sistem sekolah masih mengagungkan anak-anak yang pandai Matematika, Fisika, dan sejenisnya itu, bagaimana nasib anak-anak lain? Apakah mereka akan terpinggirkan atau dianggap gagal?

Dari sana, muncullah ide membuat sekolah di rumah (school at home) yang diajarkan oleh orangtua sendiri. Jadi, di Eropa, homeschooling justru dipelopori oleh kaum intelektual yang sudah berpengalaman di sekolah, memiliki waktu luang cukup banyak, mampu secara keuangan, tetapi kurang percaya dengan sistem sekolah yang ada.

Flash Back

Kami ada putra-putra usia 4,5 tahun di rumah. Bila dibandingkan yang seusia dengan mereka, ada yang sudah sekolah sejak PG, ada yang baru memulai sekolah dengan TK di tahun ini, ada pula yang seperti mereka–masih belum sekolah.

Beberapa bulan lalu, kami galau soal kapan sebaiknya menyekolahkan mereka ke TK. Sempat kami merencanakan untuk tahun ini memulai TK-nya. Pada akhirnya, dengan berbagai pertimbangan kami menetapkan bahwa TK-nya tahun depan saja. Dalam beberapa bulan ini memang kami jadi semakin memahami dan mengakui aspek-aspek perkembangan mental dan sosial mereka serta kapan dan bagaimana seharusnya pihak eksternal seperti sekolah harus mulai dilibatkan dalam proses pendidikan yang akan mereka jalani.

Yeah, dalam pada itu, diskursus seputar playground (PG, alias Kelompok Bermain, atau KB), 9 kecerdasan ala Howard Gardner, dan Homeschooling (sebagaimana sudah disebut-sebut dan dijelaskan di atas) menjadi ranah riset, diskusi dan perdebatan kami selaku orang tua.

Apalagi beberapa desas-desus menyatakan bahwa sekolah dasar (SD) negeri wajib menerima siswa di atas 7 tahun. Kalau kami menyekolah TK-kan sekarang, maka nanti TK B nya perlu diulang lagi sembari menunggu 7 tahun. Di sisi lain, seseorang (yah, banyak dari kita mengalami) yang mulai sekolah, tidak akan berhenti –atau rehat sejenak– dari sekolah sampai dengan lulus kuliah.