From Brand Writer to Technical Editor

Metamorfosis (sesuai pekan ber tema dari komunitas blog yang saya ikuti) dari penulis pemasaran menjadi penyunting teknis.

Waktu saya masih culun dulu, saya meminati topik management dan marketing. How to manage and how to market something. Keduanya seperti dua hal yang sangat powerful. Selemah-lemahnya hal yang dikelola, selama dikelola (to be managed) dan dipasarkan (to be marketed) dengan tepat, maka akan berhasil.

Demikian keyakinan saya, hingga saya lebih sering mempelajari (dan menulis) topik-topik tersebut daripada pelajaran-pelajaran kuliah saya sendiri. Apalagi dulu saya kuliah di kampus teknik, ya. Tentu saja materi-materi tersebut sangat jauh berbeda –dan ada human factor-nya juga. Kalau di sains dan rekayasa (science and engineering) kita cenderung untuk mengeliminasi sama sekali faktor manusia, maka khusus topik manajemen dan pemasaran faktor tersebut sama sekali tidak bisa diabaikan. Bahkan cenderung, berpusat pada si manusia (dan organisasinya) itu sendiri.

Jadi kedua topik tersebut, wabil khusus topik pemasaran semakin saya pelajari dengan tekun. Bagaimana cara melakukan riset pasar, bagaimana mempelajari permasalahan klien lalu menyusun rekomendasi yang tokcer untuk mereka implementasikan, sampai menyusun materi pelatihan guna memberi inspirasi dan technical how-to bagi para peserta training.

Brand-ing

Dan satu irisan besar dengan marketing adalah branding. Bicara marketing, ya topiknya pasti branding. Wacana branding juga membahas marketing. Apa itu brand-ing? Yaitu, suatu upaya tanpa henti (continous process) dalam membangun merek. Sebagai penulis di bidang per-merek-an (brand writer), wajib hukumnya untuk mempelajari siapa calon pelanggan dari suatu merek.

Empathy: Putting our feet into their shoes.

Modal dasarnya adalah empati. Yaitu menempatkan diri ke dalam personal si pelanggan, untuk dapat memahami kebutuhan (needs) dan keinginan (wants) mereka. Keduanya dapat berwujud macam-macam dalam psikologi manusia. Salah dua di antaranya adalah kegelisahan (anxiety) dan hasrat (desire). Sederhananya: penuhi anxiety dan desire mereka, maka merek kita akan sukses dalam menepati komitmen yang sudah dijanjikan serta mungkin berhasil menjadi nomor satu di pikiran atau hati pelanggan. Itu contoh algoritma umum dari brand writer.

Persoalan dengan pelanggan sebagai “partner” kita dalam membangun merek adalah: pelanggan itu moving target. Target bidikan yang selalu bergerak. Dinamika produk dan layanan dari merek kompetitor yang memberikan opsi berbeda dari merek kita, dan dari pelanggan itu sendiri yang seringkali “galau”, “resah”, “bingung” menjadikan pekerjaan brand writer selalu dinamis. Kalau tidak mau disebut demikian, bisa dilihat sebagai tidak ada resep yang selalu berhasil. Dengan kata lain, semua kunci sukses bersifat temporer. Sehingga, kesuksesan tersebut bergantung pada kreatifitas kita dalam memandang, mempersepsikan dan mengeksekusi layanan-layanan riset, konsultasi dan pelatihan.

Internet Era

Di atas tahun 2010, kreatifitas yang saya sebutkan diatas ditantang lagi oleh medium yang namanya internet. Sejak internet semakin menjadi-jadi, semua informasi ada di dalamnya. Dengan kecanggihan dan perkembangan robot Google dalam menyajikan hasil pencarian, hampir semua (saya belum berani bilang “semua”, ya) ilmu pengetahuan ada di internet. Konsekuensinya, kliennya para konsultan bertambah pintar dibanding sebelumnya. Dengan kata kunci (keyword) dan kecenderungan (intention) yang tepat, klien akan menemukan wawasan (insight) yang mereka cari.

Berakhir di kantor konsultan sebagai penyedia layanan. Jasa konsultasi, sebagai layanan “meminjamkan otak” untuk berpikir, tidak lagi semudah dahulu dalam menghantarkan layanannya. Sederhananya, klien telah mengambil kesimpulan bahwa tidak semua proses berpikir perlu dialihdayakan (be outsourced) kepada konsultan.

Technical Documentation

Dahulu, dokumen teknis semisal “User Guide” atau “Manual Guide” sangat berpusat pada pengguna (user-centric). Term ini analog dengan konsep customer-centric (berpusat pada pelanggan) yang digaungkan para konsultan, khususnya konsultan pemasaran. Yang menarik pada saat itu adalah, pengguna adalah mereka yang memiliki literasi pemrograman atau literasi teknikal di atas rata-rata. Sebab, aplikasi digital masih banyak digunakan oleh mereka yang menjalankan fungsi-fungsi bisnis di perusahaan. Akuntansi, rantai suplai, dan lain sebagainya. Jadi, Manual/Guide yang dibuat masih sangat teknikal. Untung bagi saya, tatkala saya bergabung dengan sebuah IT company, saya tidak lagi bersentuhan dengan detil-detil yang sangat kental kerekayasaannya ini.

Manual/Guide yang sangat teknis tidak mungkin diberikan kepada dan digunakan oleh masyarakat umum seperti sekarang ini yang sudah sangat familiar dengan mobile application dari iOS/Android, seperti aplikasi Tokopedia, Bukalapak, Traveloka, dan Go-Jek.

Keberadaan para perusahaan unicorn tersebut lha dan ribuan perusahaan rintisan (start-up) lainnya, yang mulai menggeser dan menspesifikasi bidang dokumentasi teknis menjadi hanya pada pengoperasi-pengguna (user-operator) dengan suatu bidang yang kini kita sebut UX (user experience). Topik ini bisa kita bahas lain kali ya.

Being Editor

Alih-alih menjadi penulis dokumen-dokumen teknis tersebut, saya menjadi penyunting. Tidak hanya menyeragamkan penggunaan bahasanya, namun saya juga menyusun topik-topik yang wajib ada di setiap jenis dokumen. Mengingat dokumennya sendiri sangat beragam, mulai dari dokumen yang memetakan kebutuhan klien, dokumen yang menspesifikasi aspek-aspek teknis dari aplikasi yang akan dihantarkan, dokumen perencanaan proyek, dokumen-dokumen penunjang keberjalanan proyek, dan sebagainya.

Sebagai yang pernah belajar di kampus teknik, ternyata masa mendayagunakan kembali logika-logika sains dan rekayasa telah datang kembali pada diri saya. Tentu tidak sepenuhnya sama, karena dulu saya lebih banyak belajar material dari sisi saintifiknya, bukan dari sisi kerekayasaannya. Namun demikian, saya bergabung dengan nyaris tanpa cacat (seamless). Mungkin karena saya sedikit teknikal tapi mengerti bahasa. Atau banyak paham tentang bahasa (dan penulisan), tapi bisa nyambung kalau bicara teknikal.

Pamer

Pamer pencapaian di social media malah bikin pertemanan jadi berjarak, benar gak sih?

Sekarang ini, pamer makin gampang, yah. Berkat social media. Terutama instagram (IG). Itu yang paling kekinian. Dulu ada facebook dengan fitur post with image dan photos. Sekarang, facebook jadi serba ada. Akun personal, fan page, grup, dan sebagainya sampai fesbuk nya sendiri bingung mau menjadi apa. Semacam politisi di tahun 2009, 2014, 2019 ya. Berubah sana, berubah sini. Hanya dalam rentang 5 tahun.

Akhirnya orang-orang lebih fokus ke IG. Fokusnya user pada visual yang disajikan. Caption ibarat gula. Pemanisnya aja. Tapi bahan dasarnya ya si post utamanya itu. Caption bisa aja di-halus-kan. Atau dibikin beda sedikit lha, dari impresi pertama si follower. Yang jelas, sublime message-nya dapat dari visual post-nya. Yeah, tapi gak semua user IG kayak begitu, siy.

Ah ya, sekarang ada story. Tidak cuma gambar diam. Namun juga gamger (gambar bergerak). Namanya video kan, ada audionya pula lha, ya. Dengan teks dan suara yang bisa ditambahkan, makin lengkap racikan koki si owner akun IG tersebut. Story ini main “scarcity“. Alias ke-jarang-an. Makin jarang, makin terbatas, makin berharga. Hanya 24 jam saja, lho.

Pergi ke tempat-tempat wisata yang lagi hits. Restoran atau kafe yang baru. Yang instagrammable.

Bikin para followers makin gak mau ketinggalan. FOMO. Fear of Missing Out. Atau gak mau sampai kelewatan dengan alasan YOLO. You Only Live Once.

“Pokoknya gue harus ikutan. Gue gak boleh kudet (kurang updet). “

Habis kena di-pamer-in, pokoknya kudu pamer balik.

Toh pamer juga makin gampang karena ada beragam cara pembayaran.

Dulu, pamer itu disponsori kartu kredit (CC, Credit Card). Tinggal gesek, gak harus ke ATM ambil uang tunai. CC disangka sebagai dewa baru. Mendatangkan uang kontan di saat paling tidak dibutuhkan: belanja yang tidak diperlukan.

Alhamdulillah masih ada yang sadar. CC sebagai pemberi utangan aja. Kalau sudah masanya (tagihan) datang ya dibayarlah. Harus disiplin. Entah yang seperti ini mungkin makin langka juga. Sebagian yang lain hanya bayar minimalnya aja. Masih sekitar 10%, kan? Ada juga yang bayar pokok dulu, bunganya enggak.

Habis CC, terbitlah KTA. Kalau bikin CC diawali dengan memiliki penghasilan (atau saya salah?) sebagai bukti bahwa mampu membayar, maka KTA adalah Kredit Tanpa Agunan. Tanpa ukuran, bukti, apalagi jaminan bahwa yang bersangkutan memang mampu membayar si kredit tersebut.

Nah, di era serba online macam begini. Apalagi, online nya bukan level browser lagi, maka lahir lah KTA versi mobile application. Ini ya ngeri, pake akun socmed lho, si pinjol (pinjaman online) ini.

Default di pinjol pertama, maka bikin akun baru di pinjol kedua, untuk menutupi gagal bayar yang pertama. Gali lubang tutup lubang. Begitu terus sampai sudah lebih dari 20 jenis pinjol digunakan. Yang karena gak menemukan pinjol yang baru lagi, maka si penagih utang mulai menggunakan jurus-jurus kasar: merusak nama baik si peminjam dengan cerita yang buruk-buruk ke kolega di social media.

Padahal ya, gak semua friends/followers di social media adalah keluarga atau teman dekat, ‘kan? Bayangkan betapa malunya bila dicitrakan buruk di hadapan orang-orang yang sekedar tahu aja, bukan kenal.

Itulah, karena pamer, pertemanan bisa rusak juga.

Beberapa orang ternyata sungkan bertemu dengan teman-temannya yang dulu akrab. Baik memang karena satu geng, atau berteman dan bekerja bersama dalam suatu organisasi. Kenapa sungkan? Karena di social media pada “memamerkan” pencapaian masing-masing.

Ya pencapaian harta, ya pencapaian karya.

Dari jauh, saya melihat pamer-pameran via socmed ini bikin pertemanan malah jadi berjarak ya. Entah karena sibuk, kemudian lupa meluangkan waktu untuk silaturahmi dengan kawan lama. Atau mungkin menghindari pertemuan demi menghindari topik soal pencapaian? Entah lha. Metode validasi apapun takkan bisa membuktikannya.